-->

Nagabumi Eps 127: Di Hutan Larangan

Eps 127: Di Hutan Larangan

Dengan bahasa Sansekerta yang tidak terlalu banyak dikuasai di wilayah yang dikuasai Negeri Atap Langit ini, sembari berkuda di sebelahku Amrita menceritakan secara singkat apa yang penting kuketahui sebelum dan sesudah penculikan dirinya oleh Naga Kecil. 

Pertama, saat menengahi pertarunganku dengan Naga Kecil di lorong gua di dalam danau, ia memang tidak membunuh Naga Kecil. Hubungan cinta keduanya di masa lalu, dan bahwa keduanya merupakan saudara seperguruan, sungguh tidak memungkinkan keduanya saling membunuh.

Mereka memang bertarung dengan keras saat kutinggalkan mengambil napas di permukaan air yang berada di ujung lorong itu, tetapi adalah Naga Kecil yang berkelebat menghilang, karena kesungguhan Amrita melindungi diriku telah sangat melukai hatinya.

"Meskipun ia tidak berbicara seperti kita, tetapi kuketahui segala sesuatu yang dipikirkannya, bahkan bisa berbicara kepadanya melalui pikiranku sendiri tanpa harus mengucapkannya. Begitu terluka hatinya sehingga ia tiada berdaya melakukan sesuatu apa. Perasaannya menghancurkan tubuhnya, sehingga tubuhnya itu melebur dengan air, menguap bersama udara, dan hanya membentuk tubuh Naga Kecil kembali ketika perasaannya itu sudah pergi. Perasaannya pergi, tetapi lukanya membekas selama-lamanya."

Amrita terus bercerita di tengah derai hujan. Ia tidak lagi menampakkan diri sebagai putri istana yang harus dituruti segala kehendaknya, yang bila marah bisa membunuh ribuan manusia. Tentu ia tetap cantik dan tetap jelita, tetapi ia kini jauh lebih sederhana, dan tampak lebih sebagai pemimpin daripada kehendak ingin dilayani. Baju tebal musim dingin yang dikenakannya memang lusuh, tetapi justru memberinya wibawa kepemimpinan yang dibutuhkan di tengah perasaan tertekan sebagai pihak yang diburu untuk dimusnahkan. Bagaimana caranya Amrita bisa menjadi pemimpin pasukan pemberontak di Daerah Perlindungan An Nam ini, sementara ia masih diburu para pemburu hadiah yang disediakan ayahnya sendiri dalam usaha bersikap ksatria dalam penyatuan kerajaan Angkor ?

"Dari luka hatinya itu keluarlah lendir yang membunuh ikan-ikan dan segenap kehidupan di dalam air. Maka Naga Bawah Tanah menganjurkannya pergi, karena jika tidak air di dalam danau itu seluruhnya akan jadi beracun. Begitulah Naga Bawah Tanah menganjurkan Naga Kecil pergi sebetulnya hanya untuk sementara, karena meskipun lukanya akan tetap membekas, lendir beracun akan bisa berhenti, yakni ketika kesakitannya tiada terasa lagi. Namun dalam keadaan seperti itu, Naga Kecil menerima anjuran Naga Bawah Tanah sebagai pengusiran. Hatinya dua kali terluka dan penyebaran lendir menjadi-jadi, sehingga tiada jalan bagi Naga Kecil selain pergi.

"Di dunia awam, Naga Kecil yang tubuhnya bersisik menjadi tontonan, dan memang hanya sebagai tontonan itulah Naga Kecil mendapatkan uang yang dapat ditukarkannya dengan sekadar makanan. Selama luka hatinya masih mengeluarkan lendir, ia tidak diperkenankan masuk air oleh Naga Bawah Tanah, dan karena hidup di dunia ramai di atas daratan yang hanya menjadikannya tontonan. Namun orang-orang dari dunia persilatan tentu saja mengerti siapa Naga Kecil, dan orang-orang persilatan yang telah menjual jiwanya kepada kekuasaan segera menemukan cara untuk memanfaatkan kesaktian Naga Kecil yang sedang tenggelam dalam kegalauan.

"Di wilayah Khmer ayahku Jayavarman II berusaha membangun dan menyatukan Kerajaan Angkor dengan menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, termasuk kerajaan orang-orang Campa; sementara di wilayah An Nam, berlangsung tekanan Negeri Atap Langit yang menjadikan wilayah ini penuh dengan pemberontak yang terdesak ke selatan. Maka, demikianlah, di pegunungan para pemberontak di utara bersaling-silang dengan para pemberontak di se latan yang terdesak ke utara. Dalam keadaan seperti itu, mereka membutuhkan orang-orang yang tangguh untuk mengatasi tekanan.

Agaknya mereka mengetahui bagaimana kita telah diburu ke segala penjuru, bagaikan tiada tempat lagi di kerajaan ayahku, yang mengerahkan para pembunuh bayaran dan pemburu hadiah ke titik mana pun yang bisa dituju. Mereka mau membantuku dengan pasukan besar, asal daku membantu mereka menjatuhkan kekuasaan Negeri Atap Langit. Masalahnya, bagaimana cara menemui dan membujukku? Maka kemunculan Naga Kecil yang jadi tontonan telah membuat orang-orang dunia persilatan mendapat gagasan: bahwa dengan daya batinnya Naga Kecil akan mampu menemukan diriku, dan memang hanya Naga Kecil yang akan mampu menculikku dari dirimu, yang mereka ketahui tidak terkalahkan selama berada di tanah ini."

Aku mengerti sekarang, bagaimana dunia persilatan yang hanya terdengar seperti dongeng kini menjadi bagian dari pertarungan kekuasaan duniawi di atas bumi. Naga Kecil yang dongeng percintaannya dengan Amrita telah banyak diketahui orang, dianggap akan mudah dipengaruhi oleh apapun yang terhubungkan dengan Amrita. Segala sesuatu yang dianggapnya baik bagi Amrita, pasti akan dilakukannya, apapun syarat dan pengorbanan yang dibutuhkan untuk itu. Jadi, dalam segala sesuatu yang tidak kuketahui, jika kenyataan baru pertama adalah Naga Kecil tak pernah terbunuh oleh Amrita; yang kedua adalah kenyataan bahwa Amrita sendiri tenggelam dalam permainan kekuasaan dari sebuah keadaan yang sungguh penuh jebakan tipu daya dalam kekacauan.

Amrita t idak bodoh. Barangkali ia juga ingin memanfaatkan sesuatu di situ. Aku tidak tahu apa yang berada dalam kepalanya. Lagipula perang siasat dan muslihat dalam saling bersilangnya kekacauan di selatan dan di utara ini selalu menampilkan segala sesuatu yang berada di luar dugaan.

Namun sudah jelas bagaimana Naga Kecil te lah diseret oleh sesuatu yang tidak terlalu diketahuinya. Baginya adalah baik jika Amrita memiliki pasukan sendiri untuk menggulingkan kekuasaan ayahnya; tetapi tidak diketahuinya seperti apakah kekuatan Negeri Atap Langit itu, dalam peperangan panjang yang tidak hanya mengandalkan pertempuran antarmanusia bersenjata, tetapi dengan segala cara penguasaan yang dikenal manusia. Dalam hal itu, Negeri Atap Langit hanya dapat ditandingi oleh kerajaan-kerajaan dari Jambhudvipa. Tanpa mengirim balatentara, pengaruh keduanya turut membentuk kebudayaan di mana-mana, dari Kambuja sampai Suvarnadvipa.

Dalam hal Amrita, tidak juga diketahuinya bahwa meski bukan takmungkin, tetapi mengalahkan pasukan manapun dari Negeri Atap Langit tidaklah mudah; itu pun jika Amrita mampu melakukannya, siapa berani menjamin bahwa perjanjian taktertulis itu akan dipenuhi dengan santun? Demikianlah Naga Kecil dihubungi, tentu saja melalui suatu daya pengerahan batin seseorang dari dunia persilatan. Tidak dapat kubayangkan betapa dengan kekuatan batinnya Naga Kecil tidak dapat menangkap pesan-pesan yang ditangkapnya sebagai bagian saja dari tujuan yang lebih besar. Dunia persilatan memberi kesempatan manusia menjadi sakti mandraguna, tetapi agaknya belum cukup juga membuatnya peka terhadap segala daya muslihat yang begitu merajalela di atas dunia. Itulah sebabnya aku pun tidak ingin terkungkung oleh cerita dan perburuan ilmu tentang silat sahaja, melainkan juga segala ilmu tentang manusia dan dunia, yang tanpa itu diriku hanyalah akan menjadi gentong nasi yang terbutakan dari kenyataan bahwa dunia ini begitu kaya.

Betapapun kekuatan batin Naga Kecil itu sendiri tentu juga mengagumkan. Tentu memang telah dikerahkan ratusan mata-mata untuk melacak keberadaan kami, yang meski sudah sangat berhati-hati, bisa saja tetap mengundang kecurigaan seseorang, seperti yang telah berlangsung sepanjang penyamaran kami. Namun kurasa memang kekuatan batin Naga Kecil itulah yang dapat menemukan kami dengan tepat, karena saat itu kami sudah berada di hulu Sungai Mekong yang terpencil sekali, dan sudah lama berjalan kaki di dalam hutan naik turun gunung tidak berjumpa dengan satu pun manusianya. Jikalau pun ada yang menguntit, kujamin kami telah mengetahuinya, karena memang berhari- hari kami berjalan di wilayah yang tampaknya belum dirambah manusia, sebelum tiba di pangkalan perahu-perahu yang berangkat ke hilir itu.

Sebagai saudara seperguruan, keduanya telah mengetahui kelemahan masing-masing, dan itulah penjelasannya kenapa Amrita dapat diringkusnya dengan mudah.

"Ia menggunakan mantra yang diberikan guru kepadanya, dan tidak kepadaku," kata Amrita,"karena memang hanya bisa digumamkan oleh lidah yang bercabang. Waktu tersadar daku sudah dikerumuni banyak orang dan sangat marah karena kupikirkan selalu tentang dirimu.

Apakah yang dikau rasakan saat itu?"

Aku tidak menjawab, dan hanya tersenyum saja, menyadari semakin mustahilnya hubungan kami. Seorang pengembara dalam perjalanannya t idak berhenti untuk menikah dan punya anak. Ia bisa jatuh cinta, tetapi ia tidak mungkin setia. Seorang pengembara hanya bisa mencintai dan setia kepada perjalanan itu sendiri. Lagipula apakah yang bisa kulakukan dengan seorang perempuan yang kini memimpin sepasukan pemberontak seperti Amrita, yang juga sedang terlibat dalam permainan kekuasaan rumit yang tidak kukuasai sama sekali.

Amrita tampak kecewa aku tidak mengeluarkan suara, tetapi ia berusaha menutupinya.

"Namun setelah tertawan beberapa lama, diikat di atas kuda dan dibawa keluar masuk hutan, dan selama itu Naga Kecil menjelaskan dengan tenang keberadaan dunia yang lebih nyata, daku pertimbangkan tawaran orang-orang Viet untuk bergabung. Mereka janjikan padaku bantuan sepenuhnya untuk menyerang Angkor jika Thang-long bisa direbut, dan kemungkinannya besar karena Wangsa Tang sedang melemah. Suatu pasukan pemberontak yang besar jumlahnya telah berkumpul di Hoa-lu dari segala penjuru. Bergabunglah denganku pendekar, agar dapat kita bebaskan negeri ini dari penindasan Negeri Atap Langit!"

AMRITA terdidik bukan hanya dalam ilmu silat, tetapi juga cara mengatur siasat dalam pertempuran dengan pasukan berjumlah besar. Menghadapi balatentara Negeri Atap Langit yang sangat terlatih dalam pertempuran-pertempuran besar, pasukan pemberontak yang berasal dari berbagai macam golongan, tetapi sebagian besar adalah petani, sangat membutuhkan kepemimpinan seseorang seperti Amrita. Saat itu kami telah memasuki hutan. Hujan masih deras, tetapi di dalam hutan yang rimbun kederasannya sama sekali tidak terasa. Amrita masih sempat bercerita tentang Naga Kecil, yang mengaku ingin mengembara untuk mendapatkan pengalaman di dunia orang awam, tetapi tidak disangkanya sengaja menanti kedatanganku, dan melakukan segala usaha untuk memusnahkan aku, sembari melanggar larangan gurunya untuk tidak memasuki air sebelum luka hatinya sembuh. Maka aku tahu bukan hanya kemungkinan terbunuhnya bayi itu yang membuat Naga Bawah Tanah turun tangan, melainkan terbunuhnya makhluk-makhluk air takbersalah maupun manusia karena banjir bandang yang diarahkan kekuatan batinnya untuk menyapuku. Meski air pasang adalah bagian dari kehidupan sehari-hari di sepanjang tepian Sungai Merah, seorang mahasakti seperti Naga Bawah Tanah tidaklah dapat dikelabui oleh muridnya.

Namun setelah mendengar cerita Amrita aku merasa sangat iba kepada Naga Kecil dan kehidupannya, dan betapa secara tidak langsung aku telah menjadi penyebab akhir hidupnya yang mengenaskan, yakni mati di tangan guru yang dulu telah menyelamatkannya dari dalam perut ular sanca itu sendiri.

Tiba-tiba Amrita mengangkat tangannya, dan gerak barisan ini langsung berhenti. Dalam kegelapan hutan yang meruapkan bau kayu dan dedaunan basah, hanya terdengar suara tetesan hujan yang merayapi daun-daun lebar sebelum sampai ke tanah. Hujan lebat di luar hutan masih terdengar, tetapi jelas juga bagi kami semua terdengarnya ringkik kuda berkali-kali. Dengan berbagai macam gerakan tangan yang tidak kupahami maknanya, Amrita mengatur agar pasukan itu bersembunyi dalam suatu kedudukan tertentu.

Mula-mula setiap orang yang turun membisikkan sesuatu ke telinga kudanya. Mungkinkah supaya kuda itu tidak meringkik bahkan jangan pula mendengus? Lantas setiap orang yang bersenjata panah melenting dengan ringan ke atas dahan yang serba melintang dengan dedaunan rimbun.

Malam begitu gelap. Aku tertegun. Ini bukan sembarang pasukan pemberontak yang hanya mengandalkan kemarahan dan perasaan diperlakukan tidak adil. Ini suatu pasukan yang sangat terlatih. Seusai pasukan panah, melesat pula para pelempar batu, termasuk dua perempuan yang agaknya sudah selesai tugasnya menyusui bayi.

"Kita akan menyergap mereka di s ini," bisik Amrita selintas, ketika melesat ke arah setiap regu dari pasukan besar dalam hutan itu.

Ratusan orang dalam pasukan itu bagaikan lenyap ditelan bumi. Semua kuda ditinggal, dan setelah mendapat bisikan, ratusan kuda juga tenang. Pernah kuketahui adanya mantra para pawang kuda, yang dapat digunakan untuk meminta kuda itu berlari lebih cepat, melompati jurang, menggigit, atau justru untuk diam seperti sekarang. Kukira Raja Pembantai dari Selatan juga mewariskan mantra-mantra untuk mengendalikan kuda, tetapi sampai sekarang pun aku belum sempat menengoknya.

"Ini sebetulnya hutan larangan," bisik Amrita setelah kembali ke dekatku, sembari menggamit tanganku, "para tetua desa pernah menyatakan hutan ini terlarang untuk dirambah, karena akan merusak kehidupan desa-desa di sekitarnya."

Aku tahu siasat orang-orang bijak yang menjadi tetua desa, juga di Jawadwipa, yang mengatakan suatu hutan adalah keramat, sehingga menjadi hutan larangan yang tidak akan dirambah manusia. Orang-orang bijak mempunyai pandangan jauh ke depan. Mereka mengetahui penduduk desa menebang pohon-pohon, menjadikannya tiang bangunan atau kayu bakar, dengan kecepatan yang tidak terimbangi oleh tumbuhnya pohon-pohon itu kembali. Para petugas kerajaan terkadang bahkan mengerahkan ratusan sampai ribuan orang untuk masuk ke dalam hutan dan menebang pohon, demi pembangunan istana-istana para penguasa, yang hanya akan habis dibakar manakala musuh berhasil menguasainya. Maka pada bagian-bagian tertentu dari sebuah hutan, mereka sebutlah hutan itu sebagai hutan yang terlarang untuk dirambah manusia. Dilarang untuk memburu binatang di hutan itu, dilarang untuk bahkan mematahkan sepotong ranting, apalagi menebang pohon. Dengan demikian memang tiada gunanya manusia masuk ke sana, kecuali untuk melakukan tapabrata atau bersamadhi, yang akibatnya tentu harus ditanggung sendiri.

Tidaklah jarang bahwa orang-orang sadhu dari pemuja Siva maupun Visnu masuk ke sana dan tidak pernah kembali. Ular dan harimau tentu taktahu menahu apakah makhluk di hadapannya adalah orang suci yang tinggal kulit dan tulang, karena dalam keadaan lapar hanya makhluk inilah yang tidak bergerak menghindar ketika di dekatinya. Dalam hal ular sanca yang besar, konon orang sadhu itu ditelan utuh begitu saja dalam samadhi, karena ketika dilibat dan diremukkan tulangnya barangkali memang rohnya telah menyatu dengan Roh Besar di luarnya, seperti udara dalam bambu yang menyatu dengan udara di luar bambu.

Jadi memang tidak ada hantu di hutan larangan, tetapi terlalu banyak cerita yang terlanjur dipercaya sebagai nyataosemua orang bijak tahu itu, dan orang bijak tidak selalu tua, tetapi juga bisa muda seperti Amrita, sehingga ia tidak punya beban untuk membawa masuk pasukannya bersembunyi si sana. Namun bagaimana kalau kepala pasukan pemerintah Daerah Perlindungan An Nam tidak kalah bijaknya dengan Amrita?

Amrita memberi tanda agar segenap pasukannya benar- benar takbersuara. Saat itu hujan telah berhenti sama sekali.

(Oo-dwkz-oO)