Nagabumi Eps 126: Para Pemberontak

Eps 126: Para Pemberontak

Api masih berkobar. Wajah orang-orang yang kalang kabut dan tercerai berai itu merah menyala karena api. Bukan hanya gubuk-gubuk dibakar tetapi orang-orang yang sudah tidak berdaya juga dianiaya sebelum akhirnya dibinasakan pula. Ratusan korban banjir bandang yang kemungkinan belum makan setelah membangun gubuk-gubuk takberdaya menghadapi para penyoren pedang berilmu tinggi. Mayat- mayat bergelimpangan dan masih terlempar dari dalam gubuk di sana-sini dalam keadaan mengenaskan. Darahku mendidih. Apakah kesalahan para pengungsi yang malang ini?

NAMUN rupanya aku tidak usah mencari mereka karena pada saat kedatanganku aku sudah langsung diserang. Demikianlah aku langsung terlibat pertarungan di antara gubuk-gubuk darurat yang hampir semuanya kini sudah terbakar dan menyala. Lima bayangan berkelebat dari lima arah dengan jurus-jurus mematikan, aku berkelebat menghindar ke balik api, dan menyerang balik dengan I lmu Pedang Tangan Sebelah setelah menyambar golok pembelah kayu yang tergeletak di dekatku. Dengan Ilmu Pedang Tangan Sebelah keamanan bayi di tangan kiriku yang masih juga menangis itu lebih terjamin, karena memang diciptakan seorang pendekar di Jawadwipa pada masa lalu yang hanya memiliki tangan kanan, untuk menutupi segenap kelemahan yang ditimbulkan karena tidak bertangan kiri. Maka, meskipun jurus-jurus mereka sungguh mematikan, kini kelima orang itu yang kebingungan karena jurus-jurus Ilmu Pedang Tangan Sebelah yang tidak mereka kenal.

Aku telah melenting ke atas atap untuk menjauhkan mereka dari orang-orang yang berlarian kian kemari menambah kekacauan, selain untuk menghadapinya tanpa terlalu banyak kerumitan. Bertarung di antara api yang berkobar, meski dengan bayi di tangan kiri, jauh lebih bisa kuterima daripada di tengah orang banyak, karena pusaran pertarungan tingkat tinggi bagaikan pusaran maut yang selalu siap merenggut nyawa siapa pun yang tersesat ke dalamnya. Apalagi I lmu Pedang Tangan Sebelah menuntut kecepatan dua kali daripada ilmu pedang mana pun yang dihadapinya, sehingga suatu kekeliruan arah pedang tidaklah mudah ditarik kembali.

Begitulah aku memanfaatkan kobaran dan panasnya api, muncul dari balik api dan menghilang kembali, dan setiap kali menghilang tentu terdengar jeritan karena sabetan golokku. Kekurangan karena hanya sebelah tangan yang bergerak diganti kecepatan pergerakan luar biasa dari tangan yang memegang golok, dan kekurangan tangan kiri -yang dalam hal diriku adalah menggendong bayi-sungguh mengecoh karena setiap orang selalu mengiranya sebagai titik lemah pertahanan. Demikianlah setiap orang mengincar bayi itu untuk memecahkan perhatianku, dan mereka tetap meneruskan gerakannya meski aku tampak tak peduli. Pada saat ujung pedang mereka yang pipih panjang dan berkilat itu nyaris menusuknya, golokku telah menebas leher mereka. Satu orang kutendang ke bawah dan bergulingan di tanah becek tanpa kepala, yang lain terdorong oleh tenaganya sendiri saat mau membantai bayi dan masuk ke dalam api, satu lagi tiada menyadari betapa tangan kanannya yang memegang pedang telah terbabat putus ketika bermaksud menusuk bayi. Ilmu Pedang Tangan Sebelah membuatku tampak seolah selalu berputar, tetapi tidak berputar seperti gas ing melainkan dalam segala kemungkinan dari gerak dan kecepatan dalam perputaran. Adapun perputaran ini memang bisa sangat mengecoh, karena bukan dari kanan ke kiri seperti yang seharusnya jika bermaksud melindungi bayi, melainkan dari kiri ke kanan sehingga seolah-olah bayi itu begitu mudah dibacok. Namun dengan Ilmu Pedang Tangan Sebelah set iap ancaman mempercepat pergerakan berputar dua kali lipat, yang menjamin setiap penusuk akan terbacok dari belakang ketika mengira tusukan pedangnya itu mengenai sasarannya. Dengan cara yang sama kedua penyerang yang tersisa tewas oleh golok pembelah kayu yang kupegang dan sekarang bersimbah darah ini.

Pertarungan berlangsung lebih cepat dari kata-kata. Belum lagi dua orang yang tewas menggelinding dalam kobaran api itu sampai ke tanah, sepuluh orang melesat secepat kilat ke atas atap gubuk darurat yang ternyata sedang rubuh. Tanpa menunggu gubuk sampai ke tanah aku berkelebat di antara nyala api yang segera berubah menjadi semburan bara. Lentik bara api bercampur dengan lentik api benturan pedang dan golok berkeradapan mengiringi suara benturan yang benturan yang berdentang-dentang tanpa pergerakannya kelihatan. Masih dengan I lmu Pedang Tangan Sebelah yang bergerak dua kali lebih cepat dari set iap penyerangnya, kutamatkan riwayat mereka satu persatu tanpa harus membuat orang mengerang karena lukanya, karena kutebas mereka di tempat yang paling mematikan agar mereka menerima kematian bagaikan suatu mimpi tanpa akhir.

Sebetulnya aku memikirkan suatu akhir kehidupan menyakitkan seperti yang layak diterima para pembunuh terkejam yang menganiaya para korban sebelum kematian, yang sedikit banyak telah kulakukan kepada lima pengepung pertama itu, yang entah kenapa jerit kematiannya membuatku tersadar bahwa pembalasan dendam tiada pernah teriz inkan menjadi tujuan.

"Seorang pendekar tidak membunuh karena dendam," kata ibuku, "karena dendam akan membuatnya melakukan pembunuhan dan bukannya melaksanakan kewajiban. Seorang pendekar melaksanakan kewajiban berdasarkan keyakinan atas segala sesuatu yang dianggapnya tidak bisa lebih tepat lagi, seperti keyakinannya bahwa kejahatan harus dilenyapkan dari muka bum i, meski terjamin akan selalu muncul kembali. Dendam hanya melahirkan penyiksaan dan dendam baru, jauhilah itu selalu, anakku..."

PADA saat bara api lenyap dan api padam, pada saat kegelapan kembali menerkam, barulah gerimis dari balik pegunungan yang kudengar tadi tiba dan telah berubah menjadi hujan yang lebat. Saat itulah sesosok bayangan berkelebat menyerangku dengan dua pedang dan gerakannya begitu as ing sehingga untuk sementara aku hanya bisa menghindar, menghindar, dan menghindar. Tanganku mulai pegal menggendong bayi ini di tangan kiri, jadi kupindahkan ke tangan kanan dan golok pun berpindah ke tangan kiri. Sembari menghindar dan menangkis dengan golok di tangan kiri, kuterapkan Jurus Bayangan Cermin yang dalam setiap kesempatan kususun kembali sebagai I lmu Bayangan Cermin yang mandiri, sampai se luruh jurusnya terserap dan kukembalikan kepadanya dalam bentuk terbalik, masih kuselipkan di dalamnya Ilmu Pedang Tangan Sebelah yang telah terbalik pula karena golok kini kupegang di tangan kiri.

Dalam kebingungan yang amat sangat ia melenting ke atas agar dapat lepas dari kerumitan ini, dan dari atas itulah berkelebat pisau-pisau terbangnya secepat kilat. Setidaknya lima pisau terbang meluncur ke arah empat titik mematikan di tubuhku, sedangkan yang satu menuju ke arah bayi itu. Maka kuteruskan gerakanku dengan Ilmu Pedang Tangan Sebelah, tetapi yang kali ini tidak sekedar dua kali lebih cepat pergerakannya dari pisau-pisau terbang itu, tetapi empat kali lebih cepat, yang membuat pisau-pisau terbang itu tampak sangat amat lambat, dan begitu lambat sehingga aku dapat menangkis sembari mengubah arahnya. Pisau yang bermaksud membunuh si bayu kuarahkan kembali ke jantung pelemparnya yang masih berada di udara, sementara empat pisau terbang yang mengarah ke empat titik mematikan di tubuhku, kubelokkan arahnya dalam sekali sapu, melesat dengan sangat cepat dan tak terduga ke arah empat kawannya yang tersisa, yang semenjak tadi mengepungku.

Lima pisau terbang me lesat ke arah sasaranku lebih cepat dari semula. Pembunuh kejam yang masih berada di udara tak berdaya menangkis pisau terbangnya sendiri yang sudah dua kali lebih cepat dari semula itu. Ia tewas terjerembab di tanah becek sehingga pisau terbang yang menancap dijantungnya itu tertanam lebih dalam dan tembus sampai ke punggung. Empat kawannya yang mengepung bahkan masih tetap berdiri setelah pisau-pisau terbang itu menancap di dahi mereka, dan hanya jatuh satu persatu tanpa nyawa karena tersenggol para pengungsi yang tampak semakin panik, ketika sesuatu yang menakutkan muncul dari balik kegelapan malam.

(Oo-dwkz-oO)

AKU berdiri di antara mayat-mayat para pembantai yang telah membakar gubuk-gubuk darurat para pengungsi sampai habis tanpa sisa. Mereka tewas di antara mayat para korban yang sempat mereka aniaya. Dua puluh penyoren pedang berilmu tinggi sungguh terlalu mudah menghabisi para pengungsi yang lemah dan tanpa daya. Apakah maksudnya? Api telah padam bersama segenap gubuk darurat yang telah berubah menjadi abu. Sisa bara yang merah segera lenyap dalam genangan yang tercipta karena hujan. Untung caping yang tergantung di leherku cukup lebar, dan meski masih basah kukenakan juga agar baju tebalku tidak menjadi basah kembali setelah dikeringkan api. Bayi di tanganku masih menangis. Kubuang golokku. Kubopong dan kuayun-ayun dengan dua tangan seolah-olah percaya betapa bayi itu akan tertidur karenanya. Namun bayi itu tidak tertidur, bahkan makin keras menangis. Aku teringat betapa semenjak kutarik kakinya di sungai itu belum ada sesuatu pun yang telah memasuki mulut bayi itu.

Kuangkat kepalaku untuk mencari ibu susu yang semoga saja belum dibunuh. Kusaksikan para pengungsi itu semuanya sedang menatap ke suatu arah sambil berkali-kali menatapku. Hujan masih turun dengan deras, membuatku khawatir akan terjadi banjir bandang lagi, bahkan mungkin lebih besar sampai naik ke tempat ini. Namun agaknya bukan banjir yang kini menjadi perhatian para pengungsi itu, melainkan sesuatu yang rupanya sejak tadi tampak setiap kali halilintar berkilat, yang tak sempat kuperhatikan karena tangis bayi yang tiada henti-hentinya ini. Sesuatu yang sangat besar, dari segala penjuru, bergerak perlahan mengepung kami.

Aku menghela napas panjang. Tidaklah terlalu kupedulikan betapa hiruk-pikuk peristiwa yang berturut-turut kualami dalam waktu singkat, semenjak dua belas pengemis itu meringkusku dalam tikar pandan dan menjual diriku sebagai budak, belum memberiku kesempatan untuk sekadar menelan sesuatu. Melainkan kupedulikan bayi ini, entah anak siapa yang sejak kusambar kakinya tanpa hentinya terancam bahaya kematian yang takjuga mengenainya, tetapi sungguh-sungguh akan bisa mati jika tiada satu perempuan pun yang masih hidup dan mampu menyusui.

SEMENTARA itu yang sedang bergerak mendekat perlahan- lahan menampakkan diri dengan makin nyata. Aku terkesiap. Betapa lengah aku menyadari keberadaan mereka karena tangis bayi yang kini telah kupindahkan kembali ke tangan kiriku. Namun dengan alasan apa pun aku memang tidak dapat melepaskan bayi ini sejak dari sungai tadi. Apalagi sekarang ketika sesuatu yang belum jelas peranannya makin lama kian dekat. Halilintar berkeredap dan suara guntur dipantulkan dinding-dinding pegunungan berkali- kali. Saat cahaya kilat menerangi bumi terlihat oleh ratusan penunggang kuda maju perlahan-lahan mengepung tempat ini.

Kupungut kembali golok yang kubuang. Meski senjata sudah tiada artinya lagi bagiku semenjak kupelajari secara mendalam sebuah jurus yang bukan sihir tetapi menyerang pikiran, tetap saja kuayun-ayun golok itu seolah-olah siap kulempar dan jika kulakukan pasti mengenai satu atau beberapa dari orang-orang berkuda yang sedang mendatang itu. Barisan kuda mereka memberi kesan keteraturan yang kuat, tetapi melihat bermacam-macam busana dan hiasan tubuh mereka, kukira ini bukanlah pasukan yang mewakili suatu kekuasaan resmi tertentu.

Mereka berhenti dalam suatu jarak. Hujan masih saja menderas sehingga tidak ada sesuatu yang sebetulnya bisa dipandang dengan jelas. Suara dengus kuda yang banyak terdengar dari balik tiraihujan. Tanpa diperintah, para pengungsi berlindung dengan ketakutan di belakangku. Jumlah mereka telah banyak berkurang karena pembantaian dua puluh orang bersepatu dan berpedang pipih dengan dua sisi tajam itu. Mayat yang bergelimpangan mulai digenangi a ir, bukan dari sungai, me lainkan air hujan dari langit yang telah membuat segalanya sama sekali tiada tampak.

Aku menunggu dan mereka juga menunggu. Mereka semua berada di atas kuda dan tak seorang pun yang tidak menyandang senjata.

Pedang, kelewang, tombak, cambuk, rantai, bandul besi, kapak, toya, ruyung, panah, pisau panjang, dan pisau-pisau terbang selingkar pinggang terlintas di mataku dalam terang petir sekejap yang segera disusul guntur. Cukup bagiku untuk melihat mereka semua berbaju tebal, meski baju itu mungkin saja bertambal-tambal. Sebagian mengenakan caping, sebagian mengikatkan lembaran kulit untuk melindungi kepala dari hujan, sebagian lagi mengenakan anyaman daun pada kepala atau seluruh badan sebagai samaran. Sepintas lalu, menilik busananya, mereka bagaikan campuran segala macam suku bangsa di sekitar Teluk Siam sampai Teluk Tongking, bahkan sepintas lalu kulihat suatu regu yang seluruhnya terdiri atas orang-orang Pagan. Namun dari cara bersikap tertib di dalam barisan, kutahu ratusan penunggang kuda ini sudah terlatih dalam pertempuran bersama sebagai pasukan berkuda. Gerombolan perampok tidak memiliki ketertiban seperti itu. Jadi aku yakin mereka bukan gerombolan liar, meski tetap saja aku harus hati-hati.

Aku bersikap waspada. Dengan tangan kiri kuusahakan agar bayi itu diam. Separo tenaga dalamku te lah terkumpul di tangan kananku. Jika dua puluh pembunuh berilmu tinggi yang kini bergelimpangan ternyata bagian dari mereka dan maksud pengepungan ini untuk menangkapku, dengan Jurus Naga Mengibas Ekor set idaknya seluruh lapisan terdepan barisan itu akan jatuh bergelimpangan, cukup untuk sejenak mengejutkan mereka, sementara diriku berkelebat menghilang.

Di belakangku kudengar kaki-kaki kuda bergeser, barisan terkuak, dan seorang penunggang kuda mendekati diriku perlahan-lahan. Membunuh ular lebih baik memukul kepalanya lebih dahulu pikirku.

Namun selain belum kuketahui apakah penunggang kuda ini pemimpinnya, bukankah belum bisa dipastikan pula apakah pasukan berkuda ini memusuhi atau tidak memusuhiku?

Kudengar penunggang kuda itu me lompat turun. Ilmu silatnya pasti sangat tinggi. Aku berbalik untuk menghadapi setiap kemungkinan, dan...

Ah! Seseorang berambut panjang berlari dengan tangan terbentang siap memelukku! Seluruh tubuhnya tertutup baju tebal, sehingga memang tidak segera kukenali dengan seketika. Amrita! Di tengah hujan dan angin ia memeluk diriku dengan bersimbah air mata.

"Pendekar Tanpa Nama! Pendekar Tanpa Nama! Kutahu dikau akan menyusulku! Daku tahu! Meski berbulan-bulan hatiku selalu bimbang dan ragu! Tinggallah bersama Amrita selamanya, wahai pendekar! Janganlah pergi!"

Bayi itu semakin keras menangis, yang menyadarkan Amrita akan keberadaannya. Ia melonggarkan pelukan dan pandangan matanya menjadi tajam, antara bertanya dan menuduh jadi satu. Kujawab segera sebelum ia bertanya.

"Bayi ini membutuhkan susu, aku menyelamatkannya dari banjir, ibunya hilang tenggelam."

Amrita segera mengerti. Tadi ia berbicara kepadaku dalam bahasa Khmer, sekarang ia berteriak dalam bahasa burung. Direnggutnya bayi itu dari gendonganku. Maka terkuaklah dari balik pasukan berkuda itu dua perempuan berkuda. Mereka bersenjata pelontar batu yang tergantung di pinggangnya.

"Ia baru saja melahirkan, tetapi bayinya meninggal karena kesulitan hidup dalam perburuan bala tentara Negeri Atap Langit. Tentu ia bisa menyusui bayi ini," katanya.

Kemudian ia berteriak lagi dengan bahasa burung itu, dan terkuak lagi dari kerumunan pengungsi, para lelaki yang membawa bayi. Jumlah mereka tidak sebanyak yang kulihat sebelumnya.

Agaknya banyak di antara mereka tewas dibantai dan perempuan-perempuan yang menyumbangkan air susunya bahkan habis terbunuh maupun terbakar sehingga jika tidak teratasi tentu bayi-bayi itu pun akan menyusul mati.

Hujan membuat musim dingin seperti mampu membekukan darah, tetapi darahku mendidih karena rancangan kekejaman yang terbaca sebagai pemusnahan suatu bangsa. Kelak akan kuketahui terdapatnya suatu kelompok di Negeri Atap Langit yang menolak usaha penguasaan An Nam melalui kebudayaan, karena kebudayaan hanya akan memperkaya makna kehidupan.

Kepada musuh hanya layak diberikan kekerasan, dan jika mereka tiada tunduk, tentu saja harus dimusnahkan. Mereka menyebut dirinya sebagai Golongan Murni yang berkeyakinan bahwa hanyalah Negeri Atap Langit yang layak menguasai dunia di atas segala bangsa.

Bayi yang kubawa segera dibawa ibu susu yang menunggang kuda itu, tetapi di antara para lelaki yang mengajukan bayi, hanya dua yang bisa diterima ibu susu lainnya. Amrita berteriak dengan bahasa burung lagi, dan segera muncul dari dalam barisan itu sejumlah lelaki dan perempuan yang kemudian menjemput bayi-bayi tersebut.

Namun Amrita masih terus menerus berteriak, dan sebentar kemudian seorang penunggang kuda datang pula membawa seekor kuda hitam yang tegap.

"Naiklah ke atas kuda itu pendekar, kita sedang dikejar Pasukan Daerah Perlindungan An Nam, dan kita bermaksud memancing mereka masuk ke dalam hutan."u

Sebetulnya banyak sekali yang ingin kutanyakan kepada Amrita, terutama apa saja yang terjadi semenjak ia diculik Naga Kecil. Namun tampaknya untuk sementara aku memang harus menunda pertanyaan-pertanyaanku, meski aku memang penasaran melihat kenyataan bahwa ia jelas memimpin sebuah pasukan pemberontak. Apakah yang telah terjadi?

Apakah yang sedang dilakukannya?

"Bagaimana dengan para pengungsi ini?" Tanyaku. "Mereka tetap tinggal di sini," kata Amrita, "Pasukan pemerintah tidak akan mengusik para pengungsi, tidak sepertipara pembunuh dari Golongan Murni." Pasukan bergerak menuju ke hutan tempat aku telah menyalurkan prana pohon ke dalam tubuh bayi itu untuk menghentikan pendarahan dari hidungnya. Sejumlah orang ditinggal untuk membangun kembali gubuk secepatnya, sembari menanti selesa inya penyusuan bayi-bayi.

Nanti jika pasukan pemerintah datang, akan semakin banyak perbekalan mereka dapatkan, tetapi pada saat itu para anggota pasukan pemberontak sudah harus pergi, jika tidak ingin tertangkap dan dihukum mati!

(Oo-dwkz-oO)