Nagabumi Eps 122: Pertunjukan Naga Kecil

Eps 122: Pertunjukan Naga Kecil

DALAM sekali pandang kusapu deretan pengemis bercaping yang berjongkok di depan kedai itu. Setidaknya dua belas pengemis kudisan, lelaki maupun perempuan, orang tua maupun kanak-kanak bergeletakan seperti biasanya kaum pengemis yang menadahkan tangan, menjulurkan batok, atau berwajah pasrah meminta sedekah kepada sesama warga miskin yang tidak bisa dibedakan dengan para pengungsi banjir yang belum pulang kembali ke desa mereka.

Sebelum musim dingin rupanya berlangsung banjir besar sepanjang Sungai Merah yang akibatnya belum pulih sampai sekarang. Gejala yang sama juga berlangsung di Negeri Atap Langit, tepatnya di Sungai Kuning, sehingga dikenal orang- orang yang bergerombol ke sana kemari, mengungsi sampai jauh di luar wilayahnya, dan memang harus begitu jauh, karena banjir yang melebar dari tepi-tepi sungai itu bisa menelan berpuluh-puluh ribu kampung dengan sawah dan ladangnya, menggenangi wilayah yang luas sekali.

DENGAN bisa dipastikannya kedatangan banjir itu setiap tahun, maka peristiwa alam itu pun membentuk kehidupan yang tersesuaikan dengan banjir, yakni bahwa pada musim banjir akan bertebaran para pengungsi ke segala penjuru, terutama ke kota-kota besar yang jauh, tetapi yang sungainya tidak banjir. Tentu saja sungai tidak pandang bulu, bukan hanya desa, melainkan kota besar pun dapat dibanjirinya.

Pengungsi dari Sungai Kuning sebagian kecil sampai pula ke pemukiman di sepanjang tepi Sungai Merah, karena setidaknya mereka perlu waktu enam bulan sebelum bisa pulang ke tempat asal mereka kembali, jadi bagi yang suka bepergian akan menggunakan waktunya untuk merantau. Apabila kemudian Sungai Merah itu sendiri meluap, maka meleburlah pengungsi Sungai Kuning dan pengungsi Sungai Merah, bertebaran sebagai rombongan demi rombongan, yang memenuhi kota-kota dengan segala busana mereka yang dekil.

Namun para pengemis itu bukan pengungsi yang hanya sementara saja tak punya tempat tinggal tetap, mereka selamanya bergelandangan dan seperti tidak pernah berm inat memiliki rumahnya sendiri. Mereka bersikap bahwa rumah mereka adalah dunia ini. Jadi sikap dan pandangan mereka pun berbeda dari para pengungsi. Meskipun busana pengemis dan pengungsi sama-sama dekil, busana pengemis kedekilannya luar biasa sehingga tiada dapat dibersihkan kembali. Busana para pengungsi yang dekil hanya karena tidak sempat mengganti baju, karena kehidupan dalam pengembaraan, jika dicuci akan segera bersih kembali seperti semula. Sedangkan busana para pengemis, yang entah merupakan busana atau kain lusuh bertambal-tambal yang dilibat-libatkan, jika dicuci bersih pun pengaruhnya tidak akan terlalu besar, karena kotoran dan daki yang lengket hasil tumpukan bertahun-tahun yang bagai tak terlepaskan lagi.

Lantas apa bedanya tatapan para pengemis di muka kedai itu? Bagiku tidak as ing lagi sebenarnya, bahwa tatapan itu adalah tatapan seorang petarung di rimba hijau! Tak lain tak bukan dua belas pengemis itu berasal dari dunia persilatan! Aku bersikap tidak tahu menahu kenyataan itu. Seperti biasa kuletakkan tongkat dengan kain buntalan pada bahu kananku dan kulangkahkan kakiku menuju ke kota. Bersama itu kuketahui pula bahwa duabelas pengemis tersebut telah menghilang tanpa suara, meski kutahu mereka pasti mengikuti diriku.

Jarak dari pelabuhan ke kota dekat sekali, karena selepas dari gerbang sebetulnya sudah masuk ke tengah kota, artinya pelabuhan itu memang menjadi bagian, jika tidak merupakan bagian terbesar dari kota. Ini memang sebuah kota pelabuhan di muara sungai saja, tetapi karena merupakan penghubung langsung ke Hoa-lu dan Thang-long, atau sebaliknya merupakan pelabuhan sungai terakhir jika ingin menuju Campa, maka pelabuhan ini menjadi ramai oleh manusia segala bangsa. Banyak orang lalu lalang di jalan dengan pikulan, gerobak, maupun barang-barang di punggungnya. Karena belum kupahami bahasa orang-orang Viet, segala percakapan mereka terdengar sebagai bahasa burung. Bila kemudian juga kudengar percakapan orang-orang Negeri Atap Langit, meskipun tidak tahu di sebelah mana bedanya, aku merasa itu bagaikan percakapan burung-burung yang banyak sekali.

Untungnya, sejauh orang Viet mengenal bahasa Cam, maka tidak sulit bagi mereka memahami bahasa Malayu, atau bahkan bahasa Sansekerta. Namun tidak semua orang Viet mengenal bahasa Cam, dan bahasa mereka sendiri seperti mendekati bahasa orang-orang Negeri Atap Langit itu. Tentu saja ini pikiran orang yang tidak mengerti bahasa keduanya, jadi tidak dapat dipertanggungjawabkan. Aku hanya tahu, semakin aku menuju ke hulu Sungai Merah, akan semakin sulit menjumpai orang yang mengerti bahasa Malayu, selain orang- orang Cam.

Musim dingin semacam ini adalah yang pertama bagiku. Meskipun aku pernah mengalami suhu yang begitu dingin di Puncak Tiga Rembulan, mengalaminya sebagai bagian dari musim dingin dalam kehidupan sehari-hari tidaklah sama. Semua orang berbaju tebal dan semua orang mengenakan apa yang disebut sebagai sepatu. Aku pun menggulung tubuhku dengan kain dan membungkus pula kakiku dengan kulit terikat dan membuatnya seperti sepatu. Dengan begitu suasana menjadi serba kelabu, bukan hanya karena langit selalu mendung, tetapi karena semua orang seperti mengenakan busana yang sama tebal dan sama kumalnya di mana-mana, yang karena warnanya serba kusam maka dalam langit mendung segalanya jadi seperti serba kelabu.

Tidak berarti tak kulihat para pengemis itu berkelebat dan berpencar mengikuti langkahku dari berbagai sudut. Mereka setidaknya berada di delapan penjuru dan mengawasi arah langkah-langkahku yang sama sekali belum terarah. Namun kuikuti terdapatnya suatu keramaian, dari suara riuh rendahnya tempat hiburan di lapangan. Kulihat banyak orang, seperti ada perayaan, dengan seisi rumah berbondong- bondong ke lapangan itu. Terdengar gong kecil ditabuh bertalu-talu ditingkah suara terompet yang berloncatan seperti mengiringi orang menari. Kupercepat langkahku tanpa peduli kepada duabelas orang yang menyamar sebagai keluarga pengemis, karena aku dapat membaca bahwa mereka tidak dapat mengukur kemampuanku. DI lapangan itu, yang ternyata sebuah alun-alun kecil, terdapat banyak tontonan terbuka. Di antara yang segera tampak adalah keterampilan sejumlah anak yang saling menaiki punggung sampai tinggi sekali, dan ketika sudah tinggi ternyata rubuh karena agaknya memang terlalu tinggi. Penonton tertawa terbahak-bahak dan melempar uang. Sayang tak bisa kuikuti penjelasan penabuh gong itu, tetapi kulihat sejumlah orang menunjuk-nunjuk ke suatu tempat, bahkan anak-anak kecil berkepala gundul menarik-narik baju orang tuanya sambil menunjuk ke tempat yang sama. Aku pun membawa langkahku ke sana.

Kulihat orang banyak berkerumun, begitu banyaknya sehingga yang ditonton sudah tidak kelihatan lagi. Kulihat yang paling belakang susah payah berjinjit, bahkan meloncat- loncat agar dapat melihat yang berada di tengah gelanggang. Anak-anak kecil yang baru saja datang harus diangkat para orang ke atas bahu mereka. Lelaki maupun perempuan, tua maupun muda sama saja, semuanya saling menyeruak untuk melihat. Bahkan kemudian kulihat pohon-pohon di sekitar lapangan penuh manusia yang memanjat agar dapat melihat. Anak kecil yang cerdas, menyelip lincah di antara kaki-kaki orang dewasa agar dapat menyaksikan dengan jelas.

Angin berembus begitu dingin, tetapi orang-orang ini seperti lupa betapa udara membekukan tulang. Mereka berdesak-desak menyodok ke depan. Terdengar berkali-kali desah menahan nafas tanda kekaguman. Aku menjadi semakin penasaran dan menyodok ke depan. Di negeri as ing, sungguh suara percakapan seperti kicau burung yang riuh rendah. Namun mendadak suara-suara itu senyap. Semua orang menahan napas. Keheningan menyapu lapangan. Ingin rasanya melesat ke atas pohon agar segera dapat menyaksikan apa yang terjadi, tetapi sebisa mungkin aku menahan diri, dan berusaha terus maju ke depan sambil mendongak-dongakkan kepala. Apa yang kulihat ternyata memang sangat mengejutkan, tentu terutama bagiku sendiri, karena yang tampak berada di lapangan itu adalah Naga Kecil!

''Pergilah ke Sungai Merah...,'' kata orang bersenjatakan cambuk dan kupaksa bicara itu.

Ketika kusaksikan sendiri betapa besarnya Sungai Merah ini, dengan segala keterbatasan bahasaku tentu aku tak tahu pasti kemana Naga Kecil bisa kucari.

Keadaan Naga Kecil tidak mengherankan jika membuat orang banyak terbelalak. Kuperhatikan dengan lebih baik sekarang bahwa memang tubuhnya bersisik, tetapi yang membuat aku lebih terheran-heran lagi adalah betapa dari balik sisik menyala pijar cahaya kebiru-biruan, bertambah jelas karena cuaca mendung dengan langit gelap menghitam, membentuk garis cahaya biru indah pada tepi sisik-sisiknya itu. Aku teringat pertemuanku yang pertama kali dengan Naga Kecil, kenapa cahaya pada tepi sisik-sisik itu tidak menyala saat ia menyekap dan melibatku dari belakang, sementara sepasang taringnya menancap di tengkukku? Mungkinkah cahaya biru di balik sisik yang semestinya menyala di kedalaman gua bawah danau itu sengaja dan memang dapat untuk tidak , agar aku bertambah panik menerima serangan dalam kegelapan?

Namun bagi banyak orang di lapangan itu, agaknya bukanlah terutama sisik itu yang membuat mereka menahan napas, melainkan apa yang dilakukannya. Kulihat di hadapan Naga Kecil seorang anak kecil sekitar tiga tahun, yang tertawa-tawa dalam keadaan mengambang seperti terbang! Anak kecil itu memang seperti bermain terbang, mengepak- epakkan kedua tangannya seolah sayap burung, dan dengan kekuatan batinnya Naga Kecil membuat anak kecil itu terbang berkeliling-keliling. Sekali lagi terdengar suara nafas tertahan serempak, ketika di sekitar Naga Kecil muncul sejumlah orang yang melempari anak kecil itu dengan pisau terbang! Namun Naga Kecil membuat anak itu dapat menghindar sambil tetap mengambang di udara sambil tertawa terkekeh-kekeh. Seperti geli melihat pisau-pisau terbang yang berkelebatan menyambarnya itu tidak bisa mengenai dirinya.

Aku teringat cerita Amrita tentang kemampuan Naga Kecil mengendalikan makhluk-makhluk di dalam danau. Jika seekor ikan saja mampu dikendalikannya agar memancingku memasuki lorong ke arah gua yang gelap, mengapa tidak pula anak kecil yang sedang terbang mengambang berayun-ayun ke sana dan kemari sambil tertawa terkekeh-kekeh ini? Teringat pula tentang kemampuannya untuk mengetahui apa pun yang dilakukan Amrita di tempat yang jauh, sehingga diketahuinya belaka apa yang terjadi antara diriku dan Amrita yang merupakan saudara seperguruannya itu.

Kemudian anak kecil itu seperti terangkat tinggi sekali, untuk turun menukik dan menghunjam ke tanah seperti nanti dirinya akan hancur terbanting. Nyaris secara bersamaan semua orang menjerit. Anak yang membentangkan tangan dan meluncur turun dengan kepala di bawah itu kasihan sekali kalau nanti mati dengan wajah remuk!

NAMUN, hanya sedepa sebelum ubun-ubunnya membentur batu, Naga Kecil mengajukan kedua tangannya, dan anak itu berhenti me luncur. Masih mengambang dan masih tertawa terkekeh-kekeh. Lantas Naga Kecil menggerakkan tangannya lagi, seolah-olah ada benang takterlihat yang menghubungkannya dengan anak kecil itu. Kemudian anak kecil itu berada dalam kedudukan berdiri, dan dengan masih mengambang di udara kini menari-nari, sementara tetabuhan terdengar berbunyi lagi ditingkah suara terompet yang lain lagi. Kesenyapan pecah oleh percakapan kicau burung yang penuh desah kekaguman. Kuperhatikan wajah-wajah lugu dengan mata yang seperti sulit dibuka dan mulut ternganga, menyaksikan Naga Kecil sendiri menari dengan gerakan seperti yang kuperkirakan dari gambar pahatan pada dinding- dinding candi. Demikianlah Naga Kecil dan anak kecil itu menari berpasangan dengan kaki tidak menyentuh tanah.

Aku terus menyeruak agar sampai di baris terdepan, meski dengan terhempit dan terjepit di sana-sini, dan akhirnya bisa menyaksikan dengan lebih jelas sosok Naga Kecil yang sepasang taringnya sempat menancap di tengkukku itu. Ia bergerak lambat, memang gerakannya sama dengan gerak anak kecil itu, yakni gerak seperti gambar pahatan di candi, tetapi kecepatan gerak keduanya sangat berbeda. Anehnya, meski sangat berbeda kecepatannya, selalu bisa berakhir dengan gerak yang rampak bersama. Tarian tanpa menginjak tanah, artinya memang tarian dengan gerak kaki yang tidak memperhitungkan adanya bumi tempat kaki berpijak, sehingga tarian keduanya seperti baru pertama kali kulihat. Aku menjadi sadar betapa tarian yang kulihat pada gambar pahatan sepanjang perjalanan dimaksudkan sebagai tarian para dewa, dan dewa-dewa kakinya tidak menyentuh tanah...

Betapapun aku juga terpesona oleh pertunjukan pada hari mendung ketika awan setiap saat seperti siap berubah menjadi hujan, kuperingatkan diriku sendiri bahwa Naga Kecil yang dibebaskan dari perut seekor ular sanca itu mampu membaca dan mengendalikan pikiran sampai jauh keluar wilayahnya, dan karena itu bukan tak mungkin tak hanya telah diketahuinya keberadaanku di sini, melainkan juga sebetulnya telah digiringnya diriku sampai ke tempat ini tanpa kusadari. Mungkinkah itu terjadi? Menurut Amrita kekuatan batin Naga Kecil yang lidahnya bercabang seperti ular sehingga membuatnya tidak bisa berbicara seperti manusia memang sangat berdaya. Suatu kemampuan yang diasah dan diturunkan oleh Naga Bawah Tanah, guru mereka yang tidak pernah menampakkan diri. Dengan daya yang dimilikinya itulah Naga Kecil dapat mewakili kepentingan Naga Bawah Tanah di dunia persilatan, bahkan kemudian mendapatkan namanya karena memang juga tak terkalahkan. Sambil memperhatikan berbagai gerak, yang jika kususun kembali dalam kepalaku, mengingatkan aku kepada jurus- jurus persilatan itu, kusadari bahwa Naga Kecil pun sebetulnya juga berada dalam penyamaran. Dunia persilatan mengenal siapa itu Naga Kecil, tetapi kini di dunia awam ia menampakkan diri sebagai makhluk aneh yang layak dipertontonkan. Apakah yang berada dalam pikirannya dan apakah yang terjadi dengan Amrita?

Aku hanya mempertimbangkan, bahwa dengan memperlihatkan diri di muka umum seperti itu, Naga Kecil mempunyai suatu kepercayaan diri berkat perhitungan matang. Perhitungan seperti apakah kiranya, dan kepada siapa? Latar belakang pertarungan kekuasaan di se luruh wilayah telah kupelajari, dan tetap belum dapat kuperkirakan hubungannya dengan penculikan Amrita oleh Naga Kecil yang merupakan saudara seperguruannya sendiri. Segenap dugaanku akan gugur jika ini merupakan masalah perguruan, tetapi itu pun tidak terlalu menjadi masalah bagiku karena aku hanya berkepentingan dengan keselamatan Amrita.

Kuperhatikan lagi Naga Kecil. Tubuhnya seperti berubah- ubah sesuai tempat seperti bunglon, tetapi jika bunglon menyesuaikan warna tubuhnya demi keselamatan diri, maka tampaknya Naga Kecil mampu menyesuaikan tubuh demi keselamatan maupun keindahan. Kali ini tubuhnya tidak menjadi kelabu karena suasana mendung, sebaliknya bercahaya kebiru-biruan, membuat mata bagai tiada mampu melepaskan diri dari tubuhnya itu. Kini aku lebih memahami apa artinya tidak bisa menyampaikan sesuatu dengan kata- kata, yakni bahwa itu tidak berarti memang tak ada sesuatu pun yang ingin disampaikannya kepada dunia.

Seluruh tubuh Naga Kecil memang bersisik, bahkan sampai kepada wajahnya, yang apabila kuperhatikan tidaklah buruk. Bagaimana caranya ia bisa masuk ke dalam perut ular sanca, dan jika ia memang hanyalah bayi manusia biasa yang ditelan seekor ular sanca sebelum dibebaskan Naga Bawah Tanah, mengapa pula lantas tubuhnya harus menjadi bersisik dan lidahnya bercabang seperti ular?

PENGETAHUAN yang diberikan Amrita tentang Naga Kecil belum terlalu banyak sehingga bagiku pun pertanyaan- pertanyaan semacam ini bagai tiada akan pernah terjawab. Tubuhnya yang bersisik itu hanya berkancut, seperti udara musim dingin tidak memberi pengaruh apa pun kepadanya. Ia juga mengenakan gelang pada kedua lengannya, seperti gelang batu giok, tetapi warnanya biru. Konon gelang itu sudah ada bersamanya semenjak dibebaskan dari perut ular sebagai gelang yang juga kecil sahaja, tetapi yang lantas ikut tumbuh bersama perkembangan tubuhnya.

Riwayat Naga Kecil yang belum pernah diketahui siapa orangtuanya sebelum ditelan ular sanca itu mengingatkan diriku kepada riwayatku sendiri. Siapakah kiranya diriku sebelum akhirnya dise lamatkan Sepasang Naga dari Celah Kledung dari dalam gerobak yang kemudian jatuh ke jurang? Memang banyak bayang-bayang baur dari masa kecilku ketika aku belum mampu mengingatnya sebagai suatu gambaran yang utuh. Bayang-bayang baur, yang ada kalanya muncul kembali, meski aku tidak pernah ingin mempertahankannya di dalam kepala. Sebetulnyalah saat itu aku belum terlalu menyadari, betapa masa lalu bisa menjadi sangat penting dan berpengaruh kepada penghayatan hidup seseorang. Betapapun, bukankah masa laluku yang tidak jelas itulah yang membuat aku disebut sebagai Pendekar Tanpa Nama? Aku tidak pernah menyebut diriku dengan suatu gelar sebetulnya, hanya saja memang harus kukatakan betapa aku tidak memiliki nama.

Terdengar gumam bagai suara lebah mendengung. Naga Kecil mengakhiri pertunjukan dengan mengirimkan anak kecil itu terbang mengambang sembari membentangkan tangan ke arah ibunya. Lantas apa yang membuat orang banyak bergumam? Ternyata dengan gerak kedua tangannya Naga Kecil juga te lah membuat ibu anak kecil itu pun mengambang dan melayang maju ketika menyambut anaknya. Aku merasa sedih tidak dapat mengerti pernyataan orang-orang banyak di sekitarku, dalam percakapan riuh rendah dengan mata berbinar-binar yang terdengar sebagai bahasa burung.

Aku sangat cepat belajar ilmu s ilat, juga masih cukup cepat untuk menerjemahkan pernyataan-pernyataan filsafat menjadi jurus-jurus silat. Namun aku merasa diriku cukup lambat dalam pembelajaran bahasa, yang di wilayah ini bagaikan setiap kali pindah tempat sudah berubah. Bahasa Khmer belum kukuasai, sudah memasuki wilayah bahasa Cam, yang meski seperti sekeluarga dengan bahasa Malayu, tidaklah berarti aku lantas langsung bisa bertukar pikiran. Memang untung bahasa Malayu merupakan bahasa penghubung antarbangsa di sepanjang wilayah ini, dan bahwa bahasa Sansekerta dipahami orang-orang terpelajar, tetapi di Daerah Perlindungan An Nam ini orang-orang Viet menggunakan bahasanya sendiri. Semakin ke utara, yang berarti semakin mendekati Negeri Atap Langit, semakin sulit kujumpai orang berbahasa Malayu, meski bukan berarti tidak ada sama sekali.

Serangan-serangan yang telah berlangsung dengan kapal- kapal Sriv ijaya di sepanjang pantai dari Phan Rang ke Tongking tidaklah berlangsung tanpa jejak. Ketika kapal- kapalnya disebutkan terusir kembali, sebetulnya masih tertinggal orang-orang Mataram dari Jawadwipa maupun orang-orang Sriv ijaya dari Samudradvipa. Jaringan mata-mata jelas telah bekerja sebelum serangan dilakukan, dan setelah pertempuran usai tidak berarti tiada lagi yang tertinggal di sini.

Aku melihat ke sekeliling, rasanya ingin sekali bercakap- cakap dengan seseorang, setidaknya mendengar satu dari beberapa bahasa yang sedikit kumengerti, apakah itu bahasa Cam atau bahasa Khmer, tentu baik juga jika terdapat yang mampu berbahasa Sansekerta atau Malayu, apalagi kalau bisa berbahasa Jawa. Orang-orang berteriak kagum. Aku menengok ke tengah lapangan lagi. Naga Kecil mengeluarkan api dari mulutnya. Apa yang harus dikagumi? Ternyata api itu tidak berasal dari sebuah obor yang dimasukkan ke dalam mulut, untuk kemudian disemburkan, seperti biasanya pertunjukan semacam itu kulihat di pasar-pasar, melainkan langsung keluar begitu saja dari mulutnya, dan berkobar terus menerus setinggi pohon kelapa.

Semua orang ternganga. Api itu bukan api yang merah, melainkan biru warnanya. Api itu kemudian dibuatnya menari- nari, yang tentu saja menambah kekaguman kiranya, juga kekagumanku, karena tubuh bersisik yang bercahaya kebiru- biruan yang dari mulutnya tersemprot api biru ke atas setinggi pohon kelapa tentulah menjadi pemandangan menawan.

Sampai kewaspadaanku sendiri hilang, karena entah dari mana asalnya sebilah badik yang sangat tajam telah menempel di leherku.

(Oo-dwkz-oO)