-->

Nagabumi Eps 118: Pendekar Cahaya Senja

Eps 118: Pendekar Cahaya Senja

KAMI adalah orang terakhir dalam antrian, sehingga majikan rumah penganyaman tikar pandan itu, yang kukira telah menyadari keberadaan Amrita sejak tadi, berani nekat bersujud seperti itu, yang jika siapa pun mengetahuinya tentu akan membuka penyamaran. Betapapun kami terpaksa menganggap penyamaran kami telah terbuka, meskipun bapak yang bersujud itu kami percaya tidak akan mengatakannya kepada siapa pun juga.

"Bapak, berdirilah, kami sedang menyamar, Bapak akan membuka samaran kami jika menyembah seperti ini."

"Ampunilah sahaya!" "Sudahlah Bapak, berdirilah, kami akan sangat berterima kasih jika Bapak berdiri sekarang juga," ujar Amrita.

Majikan kami berdiri sambil menyerahkan upah kami. Namun setelah menerima upah mata uang logam itu, Amrita mengibaskan tangannya.

Mataku dengan cepat menangkap mata uang itu me lesat dan menembus tiang rumah, dan menancap pada dahi seseorang yang bersembunyi sejak tadi mendengarkan perbincangan kami.

Lelaki yang memegang cambuk itu ambruk ke lantai tanah. Pada saat majikan kami terkejut dan menoleh ke arah tubuh yang terguling sebagai mayat, kami sudah berada lima ribu langkah jauhnya dari tempat penganyaman itu.

Kami terus melejit dengan ilmu meringankan tubuh dalam senja yang seperti tiba-tiba saja menjadi gemilang. Kami berkelebat di antara cahaya keemasan, melesat dan melesat mencari kota lain yang cukup besar dan cukup ramai untuk bersembunyi dan menyadap segala perbincangan. Telapak kaki kami tiada lagi menyentuh tanah, cukup menyentuh pucuk rerumputan, kami pun terbang. Semakin tinggi rerumputan, semakin tinggi semak-semak, semakin tinggi padang alang-alang, semakin tinggi kedudukan tubuh kami, sehingga ketika tiba di tepi hutan, kami pun terbang di atas pucuk-pucuk pepohonan.

Ketika matahari kemudian terbenam dan cahaya yang ditinggalkannya memoles langit dengan warna darah, saat itulah ribuan kelelawar bagaikan serentak bangkit keluar dari dalam gua-gua yang berada di dalam hutan, memenuhi langit dan pergi entah ke mana untuk mencari makan. Demikianlah untuk sementara kami berkelebat di antara ribuan kelelawar yang berhamburan dari dalam hutan dan mengangkasa dengan kepakan nan anggun. Saat mereka semua berada di langit dan menjauh entah ke mana, kami pun merasakan kesunyian dalam kelam langit yang telah semakin tua merahnya, dan semakin lama semakin menggelap. Namun langit sungguh belum menjadi gelap, bumilah yang gelap dan di bawah kami kekelaman hutan.

Saat itulah berkelebat suatu bayangan yang bisa kurasakan desirnya tetapi tak dapat kutegaskan sosoknya. Aku dan Amrita hanya bisa mengandalkan kecepatan untuk menghindarkan serangannya yang ganas, sebelum akhirnya mengambil jarak dan hinggap di puncak sebuah pohon. Ia berbusana seperti pendeta Buddha aliran Yogachara, tetapi kepalanya tidak gundul me lainkan panjang sampai ke bahu. Mungkin ia memang pendeta, tetapi yang kemudian menyempal dan menolak tata cara yang biasa, bahkan tampaknya kemudian menempuh jalan persilatan untuk mencapai kesempurnaan.

"Pendekar Cahaya Senja," bisik Amrita kepadaku.

Aku terkesiap, baru kusadari betapa jubahnya itu, yang berwarna merah darah dan kuning, memang merupakan warna langit senja setelah matahari terbenam, yang telah membuat kami hanya dapat mendengar desiran jubahnya itu mendekat dan tak dapat menegaskan sosoknya. Secara sepintas Amrita pernah bercerita kepadaku tentang seorang pendekar yang hanya muncul untuk bertarung pada saat matahari terbenam, tepatnya setelah matahari terbenam, ketika matahari menjadi merah keemasan dan berkobar bagaikan api membakar langit, tetapi yang kemudian dengan lambat dan pasti dari saat ke saat berubah, sampai akhirnya menjadi gelap.

"Ia hanya muncul setelah matahari terbenam dan menghilang sebelum gelap tiba, karena ilmu silatnya memang berhubungan dengan cahaya, saat siapa pun tidak dapat menegaskan keberadaannya, selain ketika sebilah pedang perak yang bagaikan cermin memantulkan cahaya kuning senja menembusi tubuhnya," kisah Amrita waktu itu. Ia mendapatkan gelarnya bukan sekadar karena hanya muncul untuk bertarung dan ilmunya berhubungan dengan cahaya senja, melainkan karena sangat menikmati pertarungan dalam suasana senja itu sendiri.

"Pendekar Cahaya Senja sangat mencintai senja dan suka menikmati sosok-sosok yang bertarung sebagai bayangan hitam dalam latar belakang langit yang kemerah-merahan, dan katanya pula kematian terindah adalah kematian pada saat langit semburat jingga, apakah itu keemas-emasan, kemerah-merahan, ataupun keungu-unguan menjelang malam," ujar Amrita pula.

MESKI Amrita bercerita dengan sambil lalu, aku masih mengingatnya, bagaimana Pendekar Cahaya Senja menikmati pertarungan sebagai peristiwa yang penuh keindahan. Bahkan ia tak akan muncul jika langit mendung dan kelabu tanpa cahaya jingga sama sekali. Baginya senja yang terindah adalah mutlak bagi pertarungannya, juga apabila dalam pertarungan itu dirinya harus kalah dan karenanya akan mati.

''Jika tiba saat kematian dalam puncak kesempurnaan, apakah kiranya yang mesti disesalkan, dan bagiku tiada yang lebih sempurna selain kematian karena bertarung dalam puncak keindahan,'' ujarnya suatu ketika, yang tersebar dari mulut ke mulut dari kedai ke kedai di seluruh Kambuja.

Adapun puncak keindahan baginya adalah senja yang terindah, saat ia menampakkan diri di antara cahaya keemasan seperti kemunculannya kali ini, dengan jubah pendeta merah kuning yang masih dikenakannya meski ia bukan pendeta lagi, bukan demi keinginan tampak sebagai pendeta, tetapi demi kepentingannya ilmunya, yang memang berhubungan dengan keadaan senja yang terindah, tetapi yang selama ini berarti kematian bagi lawan-lawannya.

Kini ia di sana, melipat tangan di dada, membelakangi sisa cahaya matahari yang masih menyala. ''Kalian berkelebat di tengah senja terindah. Iri hatiku hanya bisa melihatnya, dan maafkan daku yang tak bisa membiarkan kalian berlalu. Kutahu siapa Putri Amrita karena gerakannya mengingatkanku kepada Naga Bawah Tanah yang ternama, tetapi siapakah yang menemaninya aku tak mengenalnya, bisakah kiranya ia memperkenalkan dirinya''

Bahasa Khmer yang kukuasai sungguh parah, tetapi tetap saja kuusahakan menjawabnya.

''Daku yang tanpa nama tiadalah artinya dibanding Pendekar Cahaya Senja.''

Ia tampak tertegun.

''Hmm. Kudengar angin berbisik tentang Amrita yang dikalahkan Pendekar Tanpa Nama dari Jawadwipa. Kiranya dikaulah orangnya yang menguasai Jurus Penjerat Naga. Hahahahaha! Amrita! Bagaimana dikau bisa tertipu oleh pencuri-pencuri kitab itu? Huahahahahaha!''

Amrita membalas ejekan itu dengan serangan maut. Pendekar Cahaya Senja menghilang ke balik kelam dan hanya kembali sebagai desiran tipis yang nyaris tiada beda dengan desiran angin dan memang secara demikianlah lawan- lawannya dengan mudah terkalahkan. Jubahnya yang kuning dan merah berubah menjadi merah kekuningan dan kuning kemerahan, menjadi jingga seperti langit senja yang karena kecepatan geraknya bagaikan menjadi bagian dari langit senja itu sendiri padahal begitu nyata sebagai serangan yang berbahaya.

Namun yang dikatakan tentang Amrita tidaklah keliru sehingga tiada mungkin Amrita menggunakan Jurus Penjerat Naga terhadapnya. Menimbulkan pertanyaan kepada diriku juga tentang siapa tepatnya pencuri kitab yang telah menipunya itu, yang mungkin sebenarnya sudah tertipu oleh penyalin Kitab Jurus Penjerat Naga, karena memang kerahasiaan adalah bagian dari kelahiran kitab-kitab ilmu silat terpenting.

Senja belum menjadi malam. Pendekar Cahaya Senja selalu muncul pada senja hari dan se lalu menyelesaikannya sebelum malam tiba. Apabila ia masih muncul di bawah langit yang kemerah-merahan sekarang ini artinya ia tidak terkalahkan dan setiap lawannya berhasil ditewaskan. Dalam pertarungan tingkat tinggi seperti ini, hanya hidup atau mati, karena pendekar yang mencari kesempurnaan dalam ilmu silat memang akan menantang pendekar dengan ilmu yang tertinggi. Belumlah pendekar namanya jika mencari lawan yang lebih rendah ilm unya, karena kesempurnaan tiada akan tercapai dalam ujian di bawah tingkatannya, meski jika berada di atas tingkatannya tentu akan berhasil menewaskannya. Demikianlah pencarian kesempurnaan dalam ilmu silat, yang hanya akan mencapai puncaknya pada kematian dalam pertarungan.

Sangat bisa dimengerti mengapa pendekar ini, yang mendapat gelar Pendekar Cahaya Senja, memilih senja sebagai saat-saat pertarungan yang memungkinkan kematiannya.

Tidaklah keliru ia memburu kami yang berkelebat dengan kecepatan kilat. Adalah kekeliruan kami sendiri bahwa kami berkelebat seperti yang hanya dimungkinkan oleh pencapaian ilmu silat dalam tingkat tertentu. Kami bermaksud menyamar dan kami telah membuka penyamaran kami sendiri. Begitulah kehidupan siapapun yang mengarungi sungai telaga dunia persilatan, begitu seperti kami ia berkelebat meninggalkan dunia awam, berarti ia masuk kembali ke dalam rimba hujau yang penuh tantangan. Seperti sekarang kami berkelebat pergi, tetapi ternyata memasuki dunia senja pendekar ini.

Kucoba membaca pertarungan yang sulit dijabarkan ini, karena Pendekar Cahaya Senja bagaikan senja itu sendiri. JUBAHNYA yang merah dan kuning semakin terlihat penting sebagai bagian ilmunya yang memuja keindahan. Kuingat sebuah syair:

indah seperti darah

menyiprat semburat di langit merah membubungkan nyawa

meregang tubuh yang

masih

memegang pedang

Sepintas lalu Amrita yang juga berkelebat tanpa bisa dilihat seperti bertarung sendirian. Namun Pendekar Cahaya Senja memang sama sekali tidak menghilang, ia berkelebat dan akan tampak sebagai bayang-bayang hitam dengan latar bekakang langit kemerah-merahan. Itulah ilmu silat Pendekar Cahaya Senja yang sangat mengecoh, karena dengan kecepatan bergeraknya yang luar biasa tinggi, seolah-olah dapat melepaskan diri bayang-bayangnya. Bayang-bayang hitam itu sendiri dengan latar belakang langit merahnya tampak sangat lamban, begitu lamban, bagaikan membawakan tarian yang paling pelan dan begitu pelahannya bagaikan tiada lagi yang lebih pelan. Namun meski tampak lamban janganlah mencoba melakukan sesuatu terhadapnya, seperti membacoknya, karena ketika bayang-bayang hitam itu tampak begitu indah, saat itu Pendekar Cahaya Senja tiada lagi di situ.

Mungkin lawannya pun tak sempat lagi mencari, karena itulah saat nyawanya tercabut dan melesat pergi. Mungkin Amrita akan bernasib sama jika tidak set inggi itu tingkat ilmu silatnya -tetapi sampai kapan ia bisa bertahan? Pendekar Cahaya Senja selama ini menamatkan riwayat lawannya, siapa pun lawannya itu, selalu sebelum malam tiba. Dapatkah Amrita memecahkan rahasia ilmunya? Meski telah ia mainkan Ilmu Silat Kipas Maut yang luar biasa itu, kulihat Amrita sejauh ini hanya bisa bertahan. Adapun langit yang merah keemas- emasan telah menjadi merah darah, seolah-olah menegaskan tuntutan atas tercipratnya darah!

Kuingat busana para pendeta Yogachara yang dikenakannya. Adakah ia mengembangkan ilmu silatnya juga dari suatu pemahaman filsafat? Meski jika ia memang mengembangkan ilmu silatnya melalui pendalaman filsafat, maka tiada yang dapat kulihat secara langsung dari hubungan itu, setidaknya aku akan mempunyai dasar untuk sekadar menduga, daripada tidak berbuat sesuatu dan melihat Amrita ditewaskan selewat senja.

Sementara Amrita telah semakin terdesak dalam keremangan, kuingat kembali segala sesuatu yang kuketahui tentang Yogachara, seperti yang kudapatkan ketika mencuri dengar perbincangan Sepasang Naga dari Celah Kledung dengan tamu-tamunya. Sejauh bisa kuingat, Yogachara merupakan suatu bentuk dari Buddha Mahayana yang menekankan pentingnya ketenangan dan samadhi sebagai jalan menuju pencerahan. Pemikiran aliran Yogachara berkembang menuju tatanan rumit, yang pada dasarnya menempatkan diri di antara kaum pemakul Sarvastisada dan pehampa Shunyatavada. Segala sesuatu temasuk benda- benda zat padat tidak dianggap sesungguhnya ada, tetapi beberapa hal memang ada, terutama dalam kebenaran tertinggi dan kesadaran dalam dirinya sendiri.

Kadangkala Yogachara juga disebut Chittamatra, atau hanya pikiran, karena paham bahwa Buddha diadakan oleh pikiran, meskipun dalam ajaran Mahayana secara umum, keberadaan pikiran itu sendiri tidak dianggap nyata. Kadangkala juga Yogachara diacukan kepada alayavijnana, semacam jiwa semesta sebagai sumber pengalaman yang memancar dalam dunia. Akibatnya, apa yang dianggap nyata hanyalah cermin dari sesuatu yang diciptakan pikiran. Aliran filsafat ini berakibat luas kepada nalar dan kebersyaratan ilmu dalam Hindu maupun Buddha.

Telah kukatakan bahwa hubungan antara ilmu silat tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi pemahaman atas apa pun yang menjadi latar belakang filsafat bagi ilmu s ilat, tetap sahih dimanfaatkan dalam penafsiran, termasuk untuk memecahkan rahasia ilmu s ilat itu sendiri. Seharusnya diriku mengumpulkan lebih banyak penjelasan dari kenanganku untuk dapat memecahkan rahasia ilmu silat Pendekar Cahaya Senja dengan lebih baik, tetapi sisa waktu sebelum malam tidak memungkinkannya lagi. Aku harus memecahkan rahasia ilmu silatnya dengan sekelumit kenangan itu saja, sebelum mempelajarinya lebih mendalam seandainya kelak masih dibutuhkan, karena jika dalam keadaan yang sudah sangat mendesak ini aku bertahan untuk merenung-renung saja, niscaya nyawa Amrita akan melayang. Meskipun nyawa Amrita akan melayang dalam puncak kesempurnaannya, aku tidaklah merelakannya.

KUTAFSIRKAN untuk sementara bahwa jika ilmu silat Pendekar Cahaya Senja mungkin saja mengacu kepada Buddha Mahayana aliran Yogachara, maka segala sesuatu yang terpikirkan oleh Amrita tidak mungkin merupakan sesuatu yang nyata, sebaliknya ia dapat mempercayai apa pun yang sedang dirasakannya, karena ilmu silat Pendekar Cahaya Senja hanya mengecoh pikiran tetapi bukan perasaan. Ini berarti Pendekar Cahaya Senja membalikkan siasat ilmu silat, yang biasanya menggunakan akal untuk mengecoh perasaan, menjadi perasaan sebagai dasar untuk menghindari pengecohan akal. Jika pikiran terbentuk oleh susunan kebiasaan yang menjadi kuasa tertentu, maka suatu jiwa semesta yang menjadi sumber segala jiwa dalam diri set iap orang menjadi satu-satunya pedoman atas kenyataan yang bisa dipegang. Itulah, dalam penafsiranku, yang diajarkan aliran Yogachara, sehingga amatlah penting untuk melatih dan mengutamakan ketenangan dan samadhi, agar pemusatan pikiran tak terkecoh oleh pancaindera, yang sangatlah tidak mudah kiranya, selama jiwa masih tetap menjadi bagian dari tubuh. Justru karena itu, kuanggap ilmu silat Pendekar Cahaya Senja dalam kesadarannya tetap terikat kepada ketubuhannya, sehingga selama lawannya masih manusia, siapa pun ia dapat mengandaikan betapa pengaruh pancaindera yang membuat pemusatan pikirannya kurang sempurna berlangsung pula terhadap Pendekar Cahaya Senja. Jadi siapa pun lawannya boleh mengandalkan tanggapan jiwanya terhadap serangan Pendekar Cahaya Senja, karena pancaindera tubuh yang memengaruhi jiwa juga terdapat pada pendekar yang mengandalkan pesona keindahan untuk mencapai kemenangan itu.

Bumi telah menjadi gelap. Namun langit masih semburat kemerah-merahan, meski memang tiada lagi keemas-emasan dan mega-mega telah berubah menjadi gumpalan-gumpalan hitam. Inilah saat yang rawan karena dengan hilangnya sisa cahaya itu akan selesai pula perlawanan Amrita dalam kesempurnaan ilmu silat Pendekar Cahaya Senja. Aku tidak boleh berpikir terlalu lama, meski memikirkan pemecahan ilmu silat itu dengan tergesa memang sungguh gegabah kiranya. Kuyakinkan diriku betapa ilmu silatnya memang berhubungan dengan filsafat aliran Yogachara. Bahkan kuduga pilihan atas jalan persilatan telah membuatnya bertentangan dengan para pendeta aliran itu, dan membuatnya menempuh jalan sendiri dengan menerapkan ajaran Yogachara sebagai cara pencapaian kesempurnaan dalam ilmu silatnya, sehingga tetap dikenakannya jubah para pendeta Yogachara, meski tidak lagi menggunduli kepalanya. Kulihat ia berkelebat di balik kelam, memang tampak indah dalam keberlambanan, tetapi itulah bayangan yang ditinggalkan, karena dengan kecepatannya yang tinggi ia telah berada di belakang lawan. Apa yang harus kulakukan? Apa pun itu haruslah cepat dan segera. Amrita haruslah bertarung dengan mata tertutup, karena pandangan mata siapa pun akan terpesonakan oleh segenap jurusnya yang bagaikan peragaan tarian di langit keindahan. Meskipun mata itu nanti tertutup, tidak berarti harus menggunakan ilmu pendengaran seperti diriku dengan ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, karena indera pendengaran adalah juga bagian dari kebertubuhan yang akan memengaruhi pikiran. Dengan memasuki jiwa semesta melalui jiwanya sendiri, segala kesaksian atas kenyataan terandaikan lebih dimungkinkan.

''Amrita! Jangan lihat semuanya!''

Teriakanku terdengar juga oleh Pendekar Cahaya Senja, tetapi aku bicara dalam bahasa Melayu yang belum tentu dikuasainya, sehingga ia tak mungkin mengubah apa pun. Tentu saja ini juga sebuah pertaruhan, karena jika ternyata ia mengerti belaka bahasa Melayu yang mungkin diketahuinya dari pesisir Campa, ia dapat berpura-pura tak paham dan tetap saja menjebak Amrita.

Segalanya berlangsung dengan amat sangat cepatnya, dan menceritakannya tentu butuh waktu yang lebih lama. Amrita masuk ke dalam jiwanya, sehingga hilanglah gelap dan hilanglah pula terang. Hilang pandangan dan hilang pula pendengaran. Tiada gambaran dan suara desiran apa pun yang akan tertangkap indera, karena ia telah menutupnya seperti dalam samadhi. Namun jiwanya yang telah melepaskan diri dari pancaindera membimbing kedua kipas yang dipegangnya ke belakang melalui bawah ketiaknya. Kedua kipas yang tertutup dan menjadi setajam pedang mustika dalam pengerahan tenaga dalam.

Terdengar jeritan melengking, tepat pada saat senja berubah menjadi malam, saat cahaya kemerah-merahan di langit menghitam dan sepenuhnya menjelma kegelapan. Kedua kipas itu menancap di dada kiri dan kanan Pendekar Cahaya Senja yang menyergap dengan serangan cakar maut dari belakang. Begitu cepatnya serangan itu, sehingga Amrita memang tidak akan mungkin menghindar seperti sebelumnya, yang berarti pula tamat perlawanannya, meski ternyata dengan tertutupnya segenap pancaindera, geraknya terbimbing jiwa kepada suatu tindakan yang takbisa lebih tepat lagi.

PENDEKAR Cahaya Senja langsung mati dengan tubuh terkulai seperti memeluk Amrita dari belakang. Darahnya menyembur dari dada, membasahi seluruh punggung Amrita, bahkan juga rambutnya. Agaknya menang dan kalahnya Pendekar Cahaya Senja, dalam puncak kesempurnaannya sebagai manusia dalam jalan persilatan, memang selalu terjadi pada saat senja. Biasanya ia mengalahkan lawan-lawannya sebelum senja menghilang, kali ini ia terkalahkan tepat ketika senja berubah menjadi ma lam. Mungkin pertarungan terlama yang pernah dilakukannya, terlama dan terakhir, karena memang tiada akan ada lagi pertarungan baginya. Tiada pendekar yang tiada terkalahkan. Pendekar Cahaya Senja menekuni filsafat aliran Yogachara untuk mengembangkan ilmu silatnya, tetapi ia mengembangkannya sebagai jurus dan bukan kedudukan jiwa. Maka meskipun ia sungguh telah berhasil menciptakan jurus-jurus yang penampakannya sungguh nyata dan karena itu sangat menjebak pula, ternyata tiada pengaruhnya terhadap jiwa yang telah melepaskan indera, juga sebagaimana diajarkan filsafat Yogachara yang dianutnya

(Oo-dwkz-oO)