Nagabumi Eps 117: Sambil Menganyam Tikar Pandan

Eps 117: Sambil Menganyam Tikar Pandan

CAMBUK yang meledak-ledak itu tampaknya memang sengaja dibuat untuk diperdengarkan suaranya. Adalah suara itu yang mencambuk para pekerja dan bukan cambuk itu sendiri. Tikar pandan selalu dibutuhkan oleh pasar, sehingga bagi para pedagang semakin banyak tikar yang siap dijual semakin baik. Harga tikar pandan tentu jauh lebih murah daripada tikar rotan, yang hanya dimiliki para petinggi karena harganya yang mahal, dan karena itu tikar pandan harus dijual dalam jumlah besar jika ingin sekadar mendapat keuntungan - dan sebaiknya jumlah yang besar itu tercapai dalam waktu yang tidak terlalu lama. Maka para perajin yang dibayar harian seperti selalu harus dilecut agar mereka menghasilkan tikar sebanyak mungkin. Adapun besarnya jumlah tikar rotan tidak mungkin menyamai jumlah tikar pandan, karena dalam usaha membuat tikar rotan itu layak menjadi mahal, dilakukan berbagai perumitan sebagai syarat kemahalannya tersebut, dengan akibat tidak terlalu banyak orang yang menguasai pembuatannya. Maka tikar rotan pun menjadi barang seni yang jumlahnya terbatas dan menjadi suatu kepantasan tertentu untuk berada di rumah para pejabat tinggi negara, atau siapa pun itu, apakah orang berada, apakah tokoh di antara khalayak, yang memaknainya sebagai penanda kehormatan.

Cambuk itu meledak lagi di telingaku, seperti sengaja memancing kemarahan. Kami tertunduk dengan tangan terus menganyam. Barangkali yang memainkan cambuk itu adalah petugas yang bertanggung jawab atas jumlah tikar pandan yang siap untuk dijual setiap harinya. Karena menunduk terus, aku tidak dapat melihatnya, sehingga tidak bisa melakukan penilaian. Namun aku melihat tangan itu terangkat siap membuat bunyi dengan cambuk itu lagi.

''TAHAN!''

Terdengar suara yang memang menghentikan cambuk itu, tergantung di udara bagaikan kena sihir, ''Dua orang ini memang diam seperti patung tetapi tangannya tak henti bekerja seperti kincir air, tikar yang tiap harinya dihasilkan mereka berdua saja sudah separo dari keseluruhan jum lah hasil tikar kita setiap hari.''

''Kulihat ia melamun tadi, dan terus menerus melamun,'' kata pemegang cambuk itu, ''kita tidak tahu apa yang berada di dalam kepalanya.''

''Untuk apa kita tahu isi kepalanya? Kita hanya perlu tikar dari mereka. Selama mereka menghasilkan tikar, kita akan membayarnya seperti yang lain. Kenapa kita harus selalu curiga kepada setiap pengembara yang tentu saja tak dikenal dan melewati kita.'' ''Dikau seperti tidak belajar dari sejarah, betapa peradaban yang asing sekarang menguasai dunia kita.''

''Daku suka dengan peradaban asing, apa salahnya?''

Mereka telah melupakan kami, tetapi aku tahu mereka sedang bicara tentang Negeri Atap Langit, yang pengaruhnya terasa di mana-mana sejak lama. Meskipun mereka bicara dalam bahasa Khmer, sedikit-sedikit bisa kuikuti perbincangan mereka yang membuat aku sambil terus menganyam terpaksa ikut memikirkannya. Bangunan tertua di Kambuja, yang kulihat dalam perjalananku bersama Amrita di seluruh wilayah yang sedang menyatukan dirinya dalam Kerajaan Angkor, adalah menara bata di Preah Theat Touch dan bangunan aneh dari batu pas ir di Asram Maha Rosei. Kuduga yang terakhir ini berasal dari masa Kerajaan Fu-nan. Kukatakan dugaan, karena menurut Amrita bangunan disebut meniru seni bangunan wangsa Pallawa, seperti Candi Panamalai yang dibangun seratus tahun sebelumnya, yang konon mirip bangunan itu.

Daerah Sambor Prei Kuk memungkinkan diriku mengamati terbentuknya seni bangunan Khmer dengan keragaman dan kekayaan dalam susunannya yang mengagumkan. Namun bangunan yang menegaskan keberadaan seorang empu di belakangnya, apakah empu kesenian atau empu ketatanegaraan, tetap saja harus dilihat sebagai lanjutan bangunan-bangunan sebelumnya dalam kurun empat ratus tahun, baik di Fu-nan maupun Tchen-la. Semakin cermat pengamatan, semakin meyakinkan betapa bangunan- bangunan itu merupakan tiruan bangunan-bangunan dari masa setelah wangsa Gupta. Tentu saja saat memikirkan ini, diriku belum pernah menginjak Jambhudvipa sehingga dapat membandingkan sendiri bangunan di Jambhudvipa dan di Kambuja, tetapi seorang pengembara dari Jambhudvipa yang pernah duduk makan di bawah pohon bersama kami memberitahukan betapa bangunan kayu di Jambhudvipa sendiri sudah hilang. Di sana, demikian katanya saat itu, tinggal tempat-tempat pemujaan di dalam gua-gua atau bangunan meruncing ke atas seperti candi-candi sekarang.

Tanganku menganyam, tetapi aku tidak ingin melepaskan kilas kenangan yang berkelebat di benakku. Jejak perubahan untuk meninggalkan peniruan seni bangunan Jambhudvipa yang mengandalkan kayu pada masa Fu-nan itu, tak dapat kutemui lagi tentunya karena terbuat dari kayu juga. Namun masih dapat kutemukan dua kelompok bangunan di utara dan selatan di Sambor, yang berkelompok dalam suatu bekas kota yang telah ditinggalkan, dan kota itu sungguh besar sekali. Kulihat benteng tanah dan paritnya, dialiri air sungai dengan cara istimewa Tchen-la yang pernah kuceritakan dahulu.

Di selatan, terlihat kelompok bangunan yang didirikan semasa Isanavarman yang dikelilingi oleh dua lapis benteng; baik yang sesungguhnya melindungi candi di sebelah dalam, yang sungguh indah dengan tatahan gambar berbagai adegan, maupun yang tinggal batu bata berderet dalam tanah, membentuk suatu gambaran tentang bagaimana bangunan itu dulu berdiri dengan megah. Kusaksikan pintu benteng dari bata merah di sebelah timur, yang atapnya dari batu pasir, yang kunyatakan sebagai seni Khmer terindah.

''Dulu ada Lembu Nandi dari emas di sini,'' ujar Amrita yang mendapat cerita itu dari nenek moyangnya dari Tchen-la.

Lembu Nandi, kendaraan Siva, terletak di tempat suci utama, yang tampak sebagai menara anggun dari bata, pada sebuah teras kecil dengan ketepatan dan penataaan ruang yang mengesankan. Menurut Amrita sepengetahuannya di dalam tempat itu terdapat arca yang disebut Siva yang Sedang Tersenyum, dibangun oleh Isanavarman, yang saat ini lenyap entah ke mana. Menara ini dikelilingi lima menara lain yang memberi kesan kemegahan dan membuat siapa pun yang melihatnya terpesona.

Di kelompok bagian utara terdapat bangunan-bangunan dari berbagai zaman, dengan tempat suci utama yang berasal dari masa pemerintahan Isanavarman. Bangunan yang nyaris hancur ini terdiri dari menara tengah, di atas sebuah teras tinggi yang dikelilingi empat candi kecil. Menurut Amrita, yang telah mempelajari sejarah kebudayaan Khmer sebagai bagian dari pendidikan keluarga raja, kemungkinan bangunan ini juga dikelillingi sejumlah arca, yang ketiga kami berada di sana tinggal lapiknya saja dari batu pasir, yang juga dihias i dengan bagus sekali.

Lebih ke utara kami temukan tempat pemujaan yang wujudnya sebuah kamar, terbuat dari papan batu pasir dan dihias i secara sederhana dengan jendela-jendela semu berukuran kecil, mirip dengan yang terdapat di Fu-nan, meski di sini diukir pada dinding bangunan itu sendiri. Membandingkannya dengan bangunan baru abad VIII sekarang ini, kusaksikan betapa yang disebut pengaruh Jambhudvipa itu tinggal seperti gaung pada saat-saat terakhir. Hiasan semua bangunan tersebut mewah sekali. Hampir pada semua tempat stukonya sudah hilang dan aku harus membayangkannya berdasarkan garis-garis denah sederhana dari batu bata. Namun hiasan pada batu pasirnya tetap utuh. Ambang pintu atas termasuk yang paling indah dalam kesenian Khmer. Memperlihatkan sebuah bentuk lengkung yang mencontoh balok melintang dari kayu yang ada pada pintu di Jambhudvipa, tempat menggantungkan rangkaian bunga dan bangunan untuk sesajen.

Lengkung itu dihias i bentuk medali yang bidangnya diukir dengan tokoh-tokoh suci. Ujung-ujungnya melengkung ke dalam, ditelan makhluk dongeng bernama makara dari Jambhudvipa. Di atas dan di bawahnya masih ditemukan gambar-gambar suci maupun rerangkaian dedaunan yang dikelompokkan dalam adegan-adegan yang ditata secara mengagumkan. Contoh terakhir ini masih sering kulihat pada bangunan-bangunan baru sekarang, dan tampaknya masih akan berlanjut sebagai kesenian Khmer. Untuk menopang ambang pintu atas itu, dibuat tiang-tiang yang bulat kecil dan indah pada kedua sisi pintu. Adapun yang masih terlihat dari bentuk Jambhudvipa adalah bentuk umbi di sebelah atas yang mirip serban. Bagian bawah tiang-tiang kecil ini dihiasi rangkaian bunga yang halus dan sebuah cincin tengah pada batang yang licin. Pada bidang-bidang dinding terlihat pula sesuatu yang membentuk istana-terbang yang anggun, dipenuhi tokoh-tokoh suci yang menghidupkan dinding-dinding menara itu dengan sikap yang luwes.

Sambil menganyam tikar pandan, kupikirkan tentang bagaimana orang-orang Khmer ini menyebut pengaruh asing seolah-olah sebagai sesuatu yang harus dihindari, sementara bagiku tampak jelas betapa kebudayaan mereka sendiri terbentuk langsung melalui kesenian dan igama yang masuk dari Jambhudvipa. Namun jika kukatakan terbentuk langsung, tidak berarti bahwa orang-orang Jambhudvipa itu sengaja datang untuk mengajari. Waktu yang diperlukan untuk mengenal dan kemudian menghidupi suatu bentuk kebudayaan tentu lama sekali, bisa beratus-ratus tahun lamanya.

Dalam kata menghidupi kebudayaan, pengertian meniru dan terpengaruh sebetulnya tersingkir, karena dalam kenyataannya suatu kebudayaan itu pada dasarnya diterima dan dihidupkan memang karena dikehendaki. Para pedagang Jambhudvipa yang datang dengan kapal-kapalnya ke Tchen-la datang menjual dan membeli, tetapi adalah penduduk yang datang menjemput segala sesuatunya meski tidak diperjual belikan, seperti igama dengan segala upacara dan pengungkapannya yang berseni, yang kemudian mewakili kepentingan penduduk itu sendiri. Tidak mengherankan jika dalam perjalanan waktu yang panjang, dunia makna yang sebelumnya dipelajari kemudian justru diajarkan dengan penguasaan yang meyakinkan. Bukankah pusat kerajaan Srivijaya di Suvarnabhumi telah menjadi tempat ilmu-ilmu persiapan wajib dipelajari selama enam bulan, untuk igama Buddha yang tidak berasal dari Sriv ijaya sendiri, sebelum para mahasiswa Negeri Atap Langit bisa menerima ilmu-ilmu igama langsung dari Na landa di Jambhudvipa?

Begitu telah berlangsung di Suvarnadvipa, begitu pula dapat berlangsung di segenap wilayah Kambuja, yang seperti telah me lupakan betapa segenap pengungkapan seni mereka dapat dicari akarnya sampai ke Jambhudvipa, dan kini bicara tentang bahaya peradaban asing dari Negeri Atap Langit. Bahkan kini mencurigai diriku dan Amrita sebagai mata-mata penyebar peradaban asing, seolah-olah peradaban itu bisa membunuh seperti racun!

DIAM-DIAM aku mengangkat kepala, orang yang memegang cambuk itu mendekat ke arah kami! Aku pun batal mengangkat kepala, melanjutkan anyaman tikar pandanku. Kulihat kaki yang melangkah dan ujung cambuknya yang menyerabut. Sampai di hadapan kami ia berjongkok.

"Tidak pernah bicara he? Orang asing kalian?"

Dadaku berdegup. Apa yang harus kulakukan? Bukanlah karena aku atau Amrita takut menghadapinya, tetapi karena penyamaran yang harus dijaga supaya tidak terbuka. Kami telah mengenal terlalu banyak hal, yang hanya mungkin didapatkan dalam penyamaran sebagai rakyat jelata. Semakin kusadari sekarang betapa terasingnya kehidupan di rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan, tempat setiap saat nyawa dipertaruhkan demi kesempurnaan ilmu silat dan kesempurnaan manusia. Semakin terasa betapa terasingnya jalan kehidupan yang telah menjadi pilihan para pendekar, ketika kesempurnaan diterjemahkan ke dalam dua istilah yang bertentangan seperti hidup dan mati.

Di dunia awam tempat kami menyamar sebagai rakyat jelata, kesempurnaan hanyalah suatu kata dalam dongeng, sesuatu yang bisa diucapkan tetapi tidak mungkin dinyatakan, apalagi senyata hidup atau mati. Bagi rakyat jelata, kesempurnaan tidaklah penting, dan keselamatan hidup didapatkan kalau bisa tanpa pertaruhan sama sekali. Tidaklah terlalu mengherankan jika kemudian rakyat jelata ini dikerahkan untuk berperang, mereka akan berebut untuk mendapat tempat di lapisan paling belakang. Namun dunia awam adalah dunia yang menarik, karena hidup selalu dirayakan dengan sangat amat selayaknya, sehingga tidak pernah dipertaruhkan untuk ditinggalkan, sebagaimana sebaliknya telah dilakukan mereka yang menempuh jalan pedang.

"Biarkan mereka, apalah anehnya melihat orang as ing yang mengembara di Kambuja? Jangan kau ganggu mereka!"

Namun orang yang berjongkok itu tidak juga beranjak. Ia mendekati Amrita yang juga masih menganyam sambil menunduk. Aku berdebar, karena Amrita akan lebih mudah naik darah daripadaku. Memang adalah juga kehidupan orang persilatan yang selama ini dijalaninya, tetapi betapapun ia adalah putri istana, anak raja yang tidak pernah dibantah dan mengalami penghinaan dalam hidupnya. Dengan ilmu silatnya yang tinggi, sangat mudah baginya membuat pemegang cambuk itu berkalang tanah. Aku tetap menganyam dan meningkatkan kewaspadaan. Di luar terdapat jalanan ramai, di seberangnya terdapat pasar, tempat penganyaman tikar ini sendiri adalah sebuah tempat luas dalam satu atap yang menampung sekitar dua puluh pekerja. Sangat tidak menguntungkan jika terjadi keributan.

Dengan gagang cambuknya ia mengangkat dagu Amrita, yang karenanya terpaksa berhenti menganyam.

"Kenapa daku seperti pernah mengenali wajah gembel kecil ini?"

Menyamar sebagai paria pengembara artinya memang berbusana seperti gembel. Kain ki-pei yang kami kenakan sengaja tidak pernah kami ganti, dan tubuh Amrita yang biasanya terlalu putih seperti pualam telah menjadi sawo matang karena terbakar matahari. Hanya wajahnya, karena jika melakukan perjalanan kami selalu bercaping, maka tidaklah tampak terlalu hangus seperti tubuh bagian atasnya.

Mungkin itu membuat pemegang cambuk yang tugasnya mengawasi penganyaman tikar seperti pernah melihatnya. Memang rakyat jelata mesti menundukkan kepala, bahkan bersujud di tanah, bila seorang pejabat tinggi, keluarga istana, apalagi raja berjalan dalam iring-iringan, tetapi siapa yang menjamin tiada satu pun yang nekat mencuri-curi untuk meliriknya? Jika tidak, bagaimana mungkin Putri Amrita Vighnesvara terkenal di seluruh Kambuja sebagai putri yang cantik jelita? Lagipula, dan ini lebih masuk akal, seperti yang kualami, tidak perlu dianggap terlalu mengejutkan betapa putri yang memburu kesempurnaan dalam jalan persilatan ini pertarungannya pernah disaksikan banyak orang. Kenapa tidak?

"Dari mana asalmu, Gadis?"

Dagu Amrita memang terangkat gagang cambuk, tetapi matanya tetap menatap ke bawah.

"Sahaya berasal dari Tongking, Tuan, ampunilah sahaya."

Amrita menjawab dalam bahasa Khmer, tetapi dengan logat yang belum pernah kudengar.

"Hmm. Orang-orang utara, kenapa aku tidak mesti menganggapmu mata-mata? Kenapa dikau sampai kemari, Gadis?"

"Ampunilah sahaya Tuan, daerah kami musnah ditelan banjir besar. Keluarga kami punah, tinggal sahaya dan sepupu sahaya yang bisu."

"Bisu? Huahahahaha! Pantas ia tidak pernah bicara." "BISU dan tuli, Tuan."

"Bisu dan tuli! Huahahahaha! Kukira hanya orang buta yang pandai menganyam! Huahahahahaha!" Putri istana ini memang pandai. Dengan mengatakan diriku bisu dan tuli, kecurigaan yang muncul karena diriku tidak pernah berbicara segera terhapus, dan dengan mengatakan dirinya berasal dari wilayah Tongking di utara Campa yang semula merupakan batas Kerajaan Lin-yi, keputihan wajahnya sebagai paria bagaikan menjadi kewajaran, apalagi Amrita agaknya telah menyuarakan logat berbicara wilayah tersebut. Meski ini tentu bukan jaminan persoalan berakhir, karena jika pun kecurigaannya hilang, bukan tak mungkin ia tetap menghendaki Amrita.

"Ampunilah suami saya ini Tuan, ampunilah kami yang malang ini, kepandaian kami hanyalah menganyam. Jika Tuan tidak menyukai keberadaan kami, biarlah kami pergi dari sini sekarang juga."

Pemegang cambuk itu menarik gagang cambuknya dan dagu Amrita langsung turun kembali. Amrita rambutnya terurai seperti layaknya kaum paria, tetapi entah disadarinya atau tidak, justru dengan rambut terurai seperti itu kecantikannya memancar tak tertutupi. Hanya jika orang percaya dirinya paria pengembara saja akan membuat kasta di atasnya berpikir dua kali untuk mendekatinya, karena bagi perempuan paria mempertahankan kehidupan sebagai pelacur bukanlah tabu untuk dijalani. Siapa pun yang mendekatinya mesti berpikir tentang penyakit kelamin rajas inga yang mungkin saja akan menimpa mereka.

Lelaki itu pun ternyata meloncat berdiri dengan ringan. "Astacandala tanpa kasta! Bagaimana mungkin ada seorang

pelacur Tongking di antara kita di sini?"

Ia menjauh sambil meledak-ledakkan cambuknya. "Ayo lanjutkan kerja!"

Kulirik secepat kilat majikan penganyaman tikar pandan yang sejak tadi telah membela kami. Ia tampak memperhatikan Amrita dengan tajam. Adakah sesuatu yang selama ini tidak dipikirkannya, karena kejadian ini lantas menimbulkan suatu gagasan? Dilihat sepintas lalu, sosok kami memang seperti kebanyakan paria pengembara biasa yang setiap kali berhenti untuk bekerja, yakni dekil, lusuh, dan berbau pula. Namun apabila seseorang memperhatikan dengan tajam, bagaimanakah caranya mengingkari keindahan mata Amrita? Ia telah menggimbalkan rambut, melusuhkan wajah, dan selalu menunduk, tetapi segenap sosoknya menyatakan suatu bahasa tubuh yang berbeda. Memang meskipun paria berada di luar kasta, ternyata di dalamnya tetap berlapis pula, seperti terdapatnya mleccha yang tidak bekerja dan hanya dapat meneruskan kehidupan dengan melakukan kejahatan saja. Sepintas lalu saja perbedaan paria pengembara yang sudi bekerja dan m leccha astacandala yang mencuri dan merampok bila kesempatan tiba cukup kentara, apalagi jika itu bukanlah paria pengembara yang sesungguhnya.

Kepalaku sudah tunduk kembali, tetapi diriku tahu belaka betapa mata sang majikan masih tetap menatap kami berdua. Kuharap ia t idak tiba-tiba tersadar oleh keindahan Amrita yang bagiku pun seperti baru tampak nyata dari sosoknya, meski ia tampak dekil, lusuh, dan selalu menunduk pula. Memanglah keindahan tidak bisa ditutupi, meski tubuh Amrita kecil tetapi kesosokannya sungguh sempurna, yang kadangkala kurasa Amrita sendiri tak terlalu menyadarinya. Aku masih menganyam dan aku tahu Amrita pun dalam ketertundukannya membaca keadaan yang sama.

Demikianlah kami terus menganyam dan baru berakhir sampai senja tiba. Sebelum keluar kami harus antri untuk menerima upah sebelum keluar, berdasarkan jum lah tikar yang kami se lesaikan hari ini. Dalam hal ini dengan terpaksa kami telah memanfaatkan kecepatan tangan yang hanya mampu dilakukan dengan ilmu silat, agar kami dapat terus mengumpulkan upah yang banyak, sehingga dapat melakukan perjalanan dengan perasaan aman. Dengan begitu jum lah tikar yang kami seleaikan menjadi paling banyak, dan entah kenapa dalam antrian itu kami berada di deretaan terakhir.

Majikan kami duduk pada sebuah bangku kecil, mengambil mata uang dari dalam tenggok setelah menghitung lembaran tikar yang kami serahkan.

"Enam," kata Amrita sambil mengajukan gulungan tikar.

Aku berdiri di belakangnya. Biasanya aku hanya menunjukkan dengan isyarat saja jumlah tikar yang selesai kuanyam.

Majikan itu semula menunduk karena mengambil mata uang, tetapi ketika menyerahkannya ke tangan Amrita, dan menatap wajahnya, rupanya ia tak tahan lagi menahan sesuatu yang agaknya sejak tadi telah diketahuinya. Ia bersujud mencium tanah.

"Putri Amrita! Ampunilah sahaya!"

(Oo-dwkz-oO)