Nagabumi Eps 114: Pertapaan Naga Bawah Tanah

Eps 114: Pertapaan Naga Bawah Tanah

Alangkah mengerikannya sergapan seperti ini. Tangan terkunci, gigi taring menancap pada tengkuk, terjadi dalam gua di dalam air, dalam keadaan lapar pula. Jika aku dengan panik mengerahkan tenaga terlalu besar, udara dalam paru- paruku tentu akan lebih cepat habisnya, tetapi tidaklah mungkin bagiku untuk diam saja, karena gigitan seperti ini tentulah dilakukan karena dayanya untuk mematikan melalui racun.

Ternyata, bahkan sebelum aku mengingatnya, segenap ilmu racun yang tertanam dalam diriku berkat pewarisan Raja Pembantai dari Selatan telah dengan sendirinya memberi perlawanan tanpa dim inta. Racun yang mengalir lewat gigitan berbisa penyergap yang menyekap itu dipunahkan dan kemudian bahkan diserang.

''Grrrllllkkk!''

GIGITAN itu lepas sejenak tetapi lantas menancap kembali dengan serangan racun yang berbeda. Agaknya penyerang ini bagaikan tersodok oleh perlawanan racun dari dalam diriku sehingga terpaksa melepaskan gigitannya sebentar, meski ia terbukti mampu langsung menancapkannya kembali. Namun untuk ini pun segenap daya ilmu racun yang telah tertanam dalam diriku balas menyerang dan setiap kali pula telingaku di dalam air ini mendengar suara grrrllllkk ketika gigitannya terlepas, tetapi setiap kali pula untuk segera menancap kembali. Terdapat ribuan ilmu racun dalam diriku yang akan dengan sendirinya menangkal dan memunahkan setiap serangan racun, seperti juga yang berlaku terhadap setiap serangan ilmu sihir, tergantung dari jenis racun yang menyerang itu, tetapi aku tentu saja tidak dapat membayangkan betapa ribuan kali pula gigi taring itu akan menancap, terlepas, dan menancap lagi pada tengkukku.

Segera kuputar tubuhku seperti baling-baling, dengan setiap kali membenturkan entah siapa yang baru kuperhatikan tangannya bersisik itu ke dinding-dinding gua yang berbatu tajam. Namun gigitan manusia bersisik ini tidak kunjung lepas jua dan ini tidak kukehendaki sama sekali. Dengan benturan- benturan keras dan perputaran luar biasa baling-baling kuandaikan penyerang yang menyekap dan menancapkan taring ini akan kehabisan tenaga, dan juga udara, sehingga akan terpaksa melepaskan diriku untuk mengambil napas ke permukaan air, tetapi sepasang tangannya yang bersisik itu membuatku berpikir barangkali ia bernapas dengan insang.

Maka keadaanku sungguhlah berbahaya adanya, karena dengan lemasnya tubuhku yang kehabisan udara dalam paru- paru, segenap daya penangkal racun juga akan melemah karenanya. Padahal perputaran diriku bagai baling-baling dalam air ini adalah pengerahan tenaga yang tidak sembarangan pula. Sesungguhnyalah kedudukanku sangat rawan dan aku berada dalam bahaya, tidak lain karena kelaparan telah membuatku kehilangan kewaspadaan ketika seekor ikan berkelebat memancing seperti siap dibakar dan disantap dengan penuh kenikmatan. Kuingat selintas cerita tentang kesaktian mereka yang dapat memberi perintah kepada binatang, tak lain karena daya batin tingkat tinggi yang hanya dapat dicapai dalam kesempurnaan.

Tanganku yang terkunci juga jelas merupakan sumber kelemahan. Aku hanya bisa melirik tangan bersisik seperti ikan, tetapi yang sisiknya begitu besar tidak seperti ikan manapun. Jika kugunakan ilmu-ilmu racun yang diwariskan Raja Pembantai dari Selatan, aku ragu apakah tidak mencemari air danau dan membunuh segenap isinya yang tidak bersalah. Sungguh tidak mudah bertempur di dalam air dengan banyak pertimbangan. Sementara manusia bersisik ini bisa bernapas dengan insang, aku tidak mungkin selama- lamanya bertarung, dalam keadaan terkunci pula di dalam air seperti ini.

Maka setelah berputar seperti baling-baling dan membentur-benturkannya ke berbagai dinding karang tanpa hasil, aku berusaha keluar dari gua di dalam danau itu dan kupikir meski dalam keadaan terjepit dapat mengambil napas di atas permukaan. Namun lawanku tentu takmau diriku mendapat daya tambahan yang penting itu, sehingga alih-alih menuju ke atas sebaliknya aku terseret masuk ke lorong yang semakin ke dalam ternyata semakin gelap. Aku memberontak hebat, tetapi bukan saja kunciannya tak terlepaskan, melainkan gigi taringnya di tengkukku menancap makin dalam, seolah-olah gigi taring itu bisa bertambah panjang. Jelas diriku berada dalam bahaya.

Lorong itu makin lama makin sempit dan kegelapannya sungguh mencekam. Aku tidak bisa lagi berpikir  panjang, karena bahkan jika aku terlepas dari kuncian ini sekarang, belum tentu cukup waktu untuk naik kembali ke atas dan mengambil napas. Aku hampir saja sampai kepada keputusan untuk menyerangnya dengan zat beracun melalui pori-pori kulitku, sekadar untuk melepaskan diri, tanpa peduli dengan tercemarnya kolam yang akan bisa membuat seluruh makhluk hidup di dalamnya langsung mati, ketika mendadak saja kurasakan gigitannya terlepas. Bukan saja gigitan itu yang terlepas, tetapi juga kunciannya, dan betapa tubuhnya terlepas dari tubuhku karena jelas diseret seseorang.

Aku mencoba berbalik untuk keluar lagi, tetapi selain lorong itu sudah semakin sempit, jalan yang harus kulalui dipenuhi dua manusia yang sedang bertarung cepat sekali di dalam a ir. Dalam kegelapan masih dapat kukenali dari bentuk tubuhnya. Amrita! Dengan cepat sekali di dalam air itu mereka saling bertukar pukulan, tetapi di antaranya Amrita masih sempat memberi tanda agar aku terus saja jalan. Tentu saja aku sangat terkejut dengan kenyataan betapa sosok yang telah membuatku takperlu mengeluarkan racun itu memang Amrita. Bukan karena ia segera menjadi begitu bugar setelah kubebaskan dari totokan jalan darah, tetapi karena diketahuinya aku berada di gua dalam kolam, dan mampu bertempur dalam air dengan jurus-jurus serupa dengan manusia bersisik itu.

PERTUKARAN pukulan yang saling tertangkis tak berlangsung lama. Berlanjut dengan pertarungan bagai dua ekor ular yang saling melibat, saling menjepit, bahkan saling menggigit, bukan sebagai sembarang pergulatan, melainkan agaknya terdapat jurus-jurus pertarungan yang berlaku di dalam air dan karena itu menimba gagasan dari pertarungan makhluk-makhluk air. Amrita taklagi mengenakan kain tembus pandangnya, bagai takpercaya aku melihat tubuhnya yang seperti menerangi gua itu memang bukan sedang bercinta melainkan saling melibat dengan ketat antara hidup dan mati melawan manusia yang seluruh tubuhnya bersisik. Darimanakah Amrita mendapatkan ilmu silat yang baru kusadari saat itu dapat dan hanya berlaku bagi pertarungan di dalam air?

Aku tidak mungkin lagi menunda untuk mengambil napas ke permukaan, dan aku harus percaya betapa pada lorong yang ditunjuk Amrita itu memang terdapat jalan bagiku untuk mengambil napas yang sangat kubutuhkan. Aku meluncur secepatnya dalam lorong yang sempit itu ke depan, ke depan, dan ke depan seperti ikan lumba-lumba. Tentu tidaklah lama aku meluncur seperti itu dalam kegelapan, tetapi untuk orang yang butuh udara untuk bernapas segera, sungguh terasa sangat amat terlalu lama. Namun kemudian terlihat bahwa lorong ini dasarnya bertambah tinggi sehingga aku pun harus berenang lebih ke atas. Tidakkah kepalaku nanti akan membentur langit-langit lorong? Ternyata tidak, bahkan kepalaku seperti tiba-tiba saja sudah melewati permukaan air!

Segera kutarik napas dalam-dalam, sedalam-dalamnya, seperti aku akan menyelam lagi sepuluh tahun lamanya -dan memang kurasa aku harus segera menyelam kembali. Aku tidak bisa membiarkan Amrita bertarung antara hidup dan mati melawan makhluk bersisik yang gigitannya sangat berbisa. Saat itu badanku separuh berada di permukaan dan separuhnya masih berada di dalam air, aku rebah tengkurap seperti lumba-lumba yang terdampar di pantai. Aku sedang akan beranjak ketika mendadak Amrita terempas di sampingku, tengkurap di atas lantai batu yang berada di bibir permukaan air itu. Baru kusadari aku telah muncul di sebuah gua yang rupanya terdapat di dasar kolam, dan hanya karena lorong yang menuju gua ini semakin naik, maka gua ini tetap kering, menjadikannya tempat persembunyian terbaik sebagai hasil keajaiban alam. Namun memandang gua itu selintas, kurasakan sentuhan tangan-tangan manusia di dalamnya, seperti yang selalu terawat dengan baik sekali. Bahkan pada dindingnya, meski dalam gelap, kulihat ukiran yang membentuk gambar naga. Amrita beranjak lebih dulu dariku. Air menetes-netes dari tubuhnya yang terbuka, langsung berjalan ke arah gua dan masuk ke dalamnya. Keadaan tentu gelap, tetapi dalam kegelapan kami masih dapat saling melihat, sehingga aku tahu ketika keluar lagi dari dalamnya, kulihat Amrita telah mengenakan kain ki-pei. Ia telah mengeringkan dirinya dengan kain ki-pei yang lain, yang lantas diulurkannya dari kejauhan itu.

''Selamat datang di pertapaan Naga Bawah Tanah,'' katanya tersenyum.

Aku yang masih tengkurap, sembari menyambut kain itu merasa tercengang mendengar nadanya yang begitu tenang.

''Mana lawanmu?''

''Oh, Naga Kecil? Dia sudah mati.'' ''Naga Kecil?''

Amrita tersenyum cerah, mengapakah tak harus betah berada di dekat seorang perempuan yang begitu indah, dengan bibir merah merekah?

''Kuceritakan semuanya kepada dikau nanti, wahai Pendekar Tanpa Nama, tetapi baiklah kini daku cari makanan kita sejenak. Tinggallah di s ini dan beristirahatlah. Amrita akan kembali dengan makanan terenak.''

Ia melepas ki-pei yang baru saja dikenakan itu, meninggalkannya di atas batu besar, dan hilang ke dalam air. Tinggal permukaannya bergoyang-goyang, menyadarkan diriku kepada kesendirian dalam kesunyian, tempat segala sesuatu lantas mendapat tempat untuk direnungkan. Tentu saja dunia dalam gua ini sangat gelap, tetapi manusia sangat cepat menyesuaikan diri, dan aku sendiri berpengalaman tinggal sepuluh tahun dalam gua tanpa pernah keluar se lama sepuluh tahun itu. Jadi aku dapat melihat segalanya di dalam gua, segala yang tertata, segala yang terukir, segala yang tersimpan aman di dalamnya.

Kulihat tumpukan ki-pei yang terlipat rapi. Kuambil satu setelah kukeringkan tubuhku dengan ki-pei yang diberikan Amrita tadi, dan kuganti pula kancutku yang basah dan tiada lagi jelas warnanya.

AKU tidak mengenakannya seperti kancut, melainkan seperti Amrita telah mengenakannya, yakni mengitarkannya dari pinggang ke bawah, lantas menggulungnya pada pinggang itu. Da lam gelap tak dapat kulihat warnanya dengan jelas, tetapi masih kuingat warna-warna ki-pei sepanjang perjalananku dari segala jenisnya, antara cokelat tua dan merah darah, dengan ragam hiasan garis-garis benang kuning, biasanya dilengkapi selendang, dan cara melipat ki-pei maupun selendang itu yang sangat menentukan keserasian. Hiasan garis-garis benang kuning itu lebih tampak dari yang lain, bahkan seolah-olah meneranginya, sehingga kuduga benang itu bukan sekadar berwarna kuning, me lainkan kuning emas.

Namun tentu saja ini sebuah gua yang gelap, meski kemudian dapat kulihat juga betapa pada dinding gua itu terbentuk rongga-rongga kotak yang rapi, tempat menyimpan segala peralatan, untuk makan, mengukir, maupun menulis, gulungan lontar, juga kain-kain ki-pei tersebut. Terdapat sebuah batu datar yang ketika kuraba terasa sangat halus, sehingga kuduga tempat itulah yang digunakan Naga Bawah Tanah jika melakukan samadhi.

Pintu masuk gua ini terdapat di dasar danau. Air tidak masuk karena rupa-rupanya lorong panjang yang sedikit demi sedikit naik itu akhirnya mengatasi ketinggian permukaan danau. Kubah gua seperti tertutup dinding batu yang rapat, tetapi udara yang sejuk menunjukkan bahwa betapapun tentu ada celah, setidaknya semacam pori-pori yang merembeskan udara. Pantaslah Naga Bawah Tanah tidak pernah menampakkan diri! Tapi s iapakah Naga Kecil, manusia bersisik yang telah dibunuh Amrita itu, yang bahkan hampir membunuh diriku? Kuraba tengkukku, masih terdapat lubang bekas taring berbisa yang terasa panas di situ, meski ilmu racun akan terus-menerus memunahkannya sampai bersih sama sekali. Apakah hubungannya dengan Naga Bawah Tanah yang menurut Amrita pertapaannya adalah gua ini? Di manakah Naga Bawah Tanah sekarang?

Terdengar kecipak ombak pada mulut lorong tempat kami terdampar tadi. Amrita muncul dengan seekor ikan yang panjang pada tangannya, nyaris seperti seekor belut besar, yang mungkin cukup untuk memberi makan enam orang.

''Pendekar Tanpa Nama, adakah ikan semacam ini di Jawadwipa?''

Ia tersenyum, keceriaannya menembus kegelapan. Tubuhnya yang putih dise laputi keremangan ketika ia melemparkan ikan itu kepadaku, sementara melangkah mengambil ki-pei yang tersampir pada batu.

''Bakar sajalah, Pendekar,'' katanya tanpa menunggu jawaban, ''bukankah kita sangat lapar?''

Para pendekar dalam dunia persilatan, yang selalu berada dalam pengembaraan dan lebih sering menjauhi keramaian, tidaklah asing dengan segala macam cara membakar ikan, karena seorang pendekar harus mampu mencari makanan dan memasaknya sendiri di tengah perjalanan. Di dalam kota ia bisa memasuki kedai, dan di berbagai perempatan jalan antara berbagai pemukiman yang ramai juga biasanya terdapat kedai dan penginapan, tetapi pengembaraan seorang pendekar tidaklah selalu melewati tempat makanan yang selalu tersedia untuk dibayar. Para pendekar dalam sungai telaga persilatan mendaki gunung, menuruni lembah, menyusuri pantai, menjelajah hutan, dan menyeberangi rawa-rawa dalam menempuh jalan pedang, mencari lawan untuk menguji dan mencapai kesempurnaan dalam ilmu silat. Bukan berarti di sebuah kota yang dimaksudkan sebagai pusat peradaban pastilah tidak terdapat lawan, karena pada dasarnya para empu persilatan terdapat di setiap pojok kehidupan, tetapi karena di perkotaan orang tidak lagi berpikir tentang mencari kesempurnaan melalui ilmu persilatan. Akibatnya suatu pertarungan tidak diterima sebagai ujian kesempurnaan, melainkan sekadar gangguan atas ketertiban, dan tewasnya seorang pendekar yang bertarung dianggap sebagai korban pembunuhan, sementara pendekar yang menewaskannya menjadi pembunuh yang harus ditangkap dan menerima hukuman.

Inilah yang membuat para pendekar yang ketika meninggalkan dan menjauhi keramaian menjadi sangat terbiasa berburu dan memasak makanan dalam perjalanan. Ikan yang dibakar begitu saja, ikan yang dibakar dengan bungkus daun, ikan yang dibakar dengan taburan rempah- rempah, ikan yang dibakar dengan olesan madu, lantas direndam di dalam santan. Di antara semua itu, membakar ikan begitu saja maupun membakarnya setelah dibungkus daun-daunan menjadi paling sering dilakukan, karena bagaimanakah caranya mendapatkan rempah-rempah, madu, apalagi santan di dalam hutan? Di gua ini, bahkan dedaunan yang dapat memengaruhi rasa ikan, seperti menghilangkan amisnya, tidak ada sama sekali, sehingga dibakar begitu saja, tentu setelah dibersihkan sisiknya, menjadi satu-satunya pilihan.

KULIHAT tiga susun batu membentuk tungku di depan gua, bahkan di atasnya sudah terdapat tempat pemanggangan. Dengan batu api dan kawung untuk menyalakan ranting- ranting kering yang sudah ada di sana, berhasil kunyalakan api, yang selain akan memanggang ikan panjang tangkapan Amrita, juga ternyata menerangi gua ini. Ketika kucari ke mana asapnya pergi, seperti menghilang begitu saja di atap gua. "Ada celah di atas sana, yang juga telah memberi udara, tempat asap terserap pori-pori tanah di atasnya," ujar Amrita, yang seperti mendekat tiba-tiba, dan telah mengenakan kembali itu kain ki-pei.

Rambutnya yang masih basah, lurus panjang dan tampak terawat, jatuh ke bahunya dengan lemas dan menawan.

Ikan sudah dipanggang, dengan tusukan ranting dari moncongnya sampai ke luar di bagian ekor. Betapapun baunya ternyata sangat merangsang selera. Kami bagaikan berebut setelah ikan yang malang itu siap kami te lan.

Rasa ikan ini begitu lezat, dan dagingnya begitu banyak, sehingga kami masih mengambilnya dari panggangan meski perut telah menjadi kenyang.

"Ceritakanlah kepadaku tentang Naga Kecil," kataku sambil makan.

Maka Amrita pun bercerita tentang sebuah percintaan.

(Oo-dwkz-oO)