-->

Nagabumi Eps 113: Petaka Kecantikan

Eps 113: Petaka Kecantikan

SAAT mereka ternganga melihat aku mengambang di udara itulah kujejakkan kakiku seperti memang menjejak sesuatu, tetapi sesungguhnyalah membuat diriku meluncur di antara hujan panah ke arah Amrita, tentu dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata.

Keputusanku tiba-tiba membulat. Jika pengepungan berlanjut, bukan saja puluhan bahkan ratusan ribu korban akan jatuh, tetapi negara pun berkemungkinan lumpuh. Suatu harga yang terlalu mahal untuk penangkapan seorang Amrita Vighnesvara Jadi biar aku sajalah yang melumpuhkan Amrita, agar pembantaian berhenti dan se laksa manusia kembali ke desanya dan melanjutjkan kehidupannya. Itu pun setelah kehilangan berpuluh bahkan beratus ribu nyawa. Bila malam sempat tiba, aku tak akan tahu lagi akibatnya jika Amrita berlindung di balik kegelapan dan berkelebat mencabuti nyawa seenaknya.

Saat aku meluncur ke arahnya, Amrita masih melindungi dirinya dengan Jurus Kipas Menelan Matahari, karena hujan anak panah yang memang sedang melesat ke arahnya dari segala penjuru. Aku mendengus dan berkelebat lebih cepat mendahului ribuan anak panah itu. Dengan ilmunya yang tinggi, meski aku bergerak dengan kecepatan yang bagi awam tidak dapat diikuti oleh mata, maka Amrita dapat melihatku datang; tetapi karena ternyata betapapun ilmu silatku lebih tinggi, aku tetap terlalu cepat baginya, sehingga cukup dengan selembar daun dapat kutotok jalan darahnya menembus Jurus Kipas Menelan Matahari. Pada saat ribuan anak panah dari segala arah itu serempak menancap, aku dan Amrita sudah tidak kelihatan lagi di tempat itu.

(Oo-dwkz-oO)

TENTU saja aku mesti melalui mereka, melejit dan melenting di atas pundak dan kepala mereka sambil membopong Amrita yang takberdaya karena telah kutotok jalan darahnya. Baru kutahu bahwa kedua kipasnya terikat ke kedua pergelangan tangannya, sehingga tetap terbawa ketika tubuhnya yang mendadak lunglai itu kusambar pergi. Dengan kecepatan melebihi kilat aku berkelit dan berkelebat di antara hujan anak panah, yang ketika tertancap di tempatku menyambar Amrita, kami telah berada jauh di tepi hutan.

KUPILIH untuk masuk ke dalam hutan, karena di atasnya, pada pucuk-pucuk pepohonan terlalu banyak pengawal rahasia istana yang akan lebih menyulitkan, daripada para prajurit di dalam hutan yang kerimbunan dan kekelamannya sudah lebih dulu kupahamkan ketika merambahnya menuju Puncak Tiga Rembulan. Di dalam hutan, meski di luar senja baru saja menjelang, pekatnya kelam bagaikan lebih gelap dari kegelapan, karena bukan saja ketiadaan cahaya membuat kerimbunan menyaratkan kekelaman, melainkan juga karena batang-batang pohon raksasa dan payung dedaunan di atasnya bagaikan dinding hitam yang tidak memantulkan cahaya dari mana pun jua.

Kupejamkan mataku dan tidak menghentikan laju kecepatanku sama sekali karena kutancap ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang. Dengan begini meskipun hutan rimba gelap gulita, segenap lekuk tubuh dalam keterpejamanku menyala sebagai garis hijau terang, segalanya jelas seperti mataku terbuka dalam terang siang. Aku berkelebat di antara mereka tanpa mereka tahu aku melewatinya, meski jalur perintah telah menyampaikan betapa aku pasti menuju ke arah mereka. Aku melayang dari dahan ke dahan dengan mata terpejam, melompati mereka yang menyalangkan matanya dengan sia-sia berjuang menembus kegelapan. Hanya daun-daun berguguran tiba-tiba saja menyentuh pundak atau kepala mereka.

Tidak menjadi masalah apakah membopong atau tidak membopong Amrita, dengan ringan aku tetap dapat melompat dari dahan ke dahan tanpa kehilangan keseimbangan. Namun meski aku telah bergerak begitu cepat, tidak segera juga aku bisa keluar dari hutan, selain karena hutan ini memang luas bagai takbertepi, juga karena aku ingin keluar di tempat yang paling kurang ketat kepungannya. Di tengah perjalanan aku teringat Ilmu Silat Kelelawar yang telah kuserap dengan Jurus Bayangan Cermin ketika bertarung melawan Pangeran Kelelawar. Tidakkah gabungan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Lubang dengan I lmu Silat Kelelawar tidak bisa lebih tepat lagi untuk berkelebat dalam kegelapan? Meskipun tanpa sayap, ternyata aku tetap bisa melakukannya dengan sesekali menjejak tanpa suara di sana-sini. Seperti kelelawar beterbangan dalam kegelapan di antara pepohonan, kali ini aku pun berkelebat tanpa pernah menggugurkan sehelai daun sama sekali.

Namun aku melayang dengan kehalusan gerak yang lebih terjaga daripada kelelawar, aku menikmatinya seperti tarian di udara yang tenang, ketika kegelapan dalam keterpejaman terasa bagaikan keluasan semesta yang terarungi dengan keterpesonaan. Bahkan Amrita yang jelas menghalangi gerak tanganku karena aku harus membopongnya bagaikan menyatu dengan tubuhku, tidak mengganggu gerakanku sama sekali. Padahal kecepatanku telah menjadi lebih dari cepat, yang bagi telinga dengan ketajaman telinga naga telah menjadi ledakan dahsyat karenanya...

Saat itu teramati segala sesuatu yang lebih lambat dariku sebagai sesuatu yang mengenaskan. Para prajurit di bawah pohon yang telah berada di sana begitu lama tanpa peristiwa apapun jua, menanti dan menanti tanpa kepastian yang menyesakkan. Dengan keremangan hutan menjelang malam, segenap daya luar biasa yang telah dikerahkan menghadapi kesia-siaan. Syukurlah dengan lenyapnya Amrita mereka akan segera dipulangkan, karena tidak mungkin memburu dua manusia dengan selaksa pasukan. Apalagi jika akan menghilang ke dalam keramaian. Aku berkelebat menembus hutan, ingin segera lenyap dan menghilang, tetapi di tepi hutan pada tempat yang dengan tepat kuduga pengepungannya akan lebih jarang, ternyata dijaga oleh sejumlah pendekar berilmu tinggi!

Agaknya telah disadari betapa pengepungan yang mengerahkan tenaga manusia berlebihan adalah kesia-siaan, memang hanyalah kemarahan membabibuta telah menyebabkan selaksa pasukan mengepung Puncak Tiga Rembulan. Kini di luar hutan memang masih terlalu banyak  pasukan, tetapi mereka hanya berjaga di pinggiran dan para pendekar itulah yang menyerang dengan penuh perhitungan.

"Pendekar Tanpa Nama dari Jawadwipa! I lmu kami memang belum setinggi Naga Bawah Tanah yang seperti dewa, tetapi justru karena itu kami ingin mendapat pelajaran!"

Ia berbicara dalam bahasa Malayu, tetapi mungkin hanya dia yang menguasai bahasa itu, karena yang lain-lain menyampaikan sa lamnya dalam bahasa Khmer yang bagiku masih terdengar seperti bahasa burung meski telah menggunakan sepatah dua patah dalam perjalanan.

Mungkinkah aku menghadapi mereka sembari tetap membopong Amrita? Jelas aku tidak akan pernah melepaskannya, selain karena aku tidak mungkin melepaskan totokanku, yang akan membuatnya lebih dari sekadar mengamuk, jika kulepaskan tanpa menotok kembali agar peredaran darahnya kembali seperti semula, ia hanya akan menjadi makanan empuk siapa pun yang ingin menghabisinya.

PEREMPUAN secantik Amrita, betapa banyak musuhnya, benarkah kecantikan seorang perempuan lebih sering membawa petaka bagi pemiliknya ketimbang sebaliknya?

Mereka menyerang serempak dan aku melejit ke atas sebisanya dengan beban Amrita pada kedua tanganku. Dari atas, setiap orang yang senjatanya berbeda itu kulihat menanti dengan incaran atas setiap titik mematikan pada tubuhku. Lantas tubuhku taktertahan lagi turun, tetapi aku masih turun berkelebat seperti kelelawar yang menjatuhkan diri sebelum mengangkasa kembali. Saat itulah sejak tadi kulihat sepasang kipas Amrita yang terikat di pergelangan Amrita bergoyang-goyang dengan hukumnya sendiri. Mendadak saja aku seperti mendapat akal.

Aku membisikkan sesuatu di telinga Amrita, dan meski wajahnya tampak kurang senang, ia mengedipkan matanya tanda mengerti. Maka di antara kesibukan berkelebat seperti kelelawar naik dan turun, kulemparkan sebentar tubuh Amrita, sekadar agar tanganku dapat bebas sebentar untuk melakukan totokan secepat kilat, lantas tentu saja kutangkap kembali. Setelah itu aku bergerak melaju, dan tidak menghindari tebasan pedang maupun tetakan maut kapak lagi, karena kedua pergelangan tangan Amrita yang telah kuhidupkan dari totokan melumpuhkan, membuatnya dapat memegang kipas dan menggerakkannya dengan jurus-jurus mematikan. Artinya meskipun tanganku mati karena mesti membopong Amrita, kedua tangan Amrita dengan kebutan kipas mautnya lebih dari cukup untuk menggantikannya. Bisa lah dibayangkan jika kulepaskan seluruh totokannya, tidak mungkin Amrita bersedia kuajak pergi, karena mencabuti nyawa baginya bagaikan pekerjaan yang terlalu menyenangkan. Itulah bahayanya belajar ilmu silat, jika tidak diikuti pembelajaran filsafat.

Bahkan dalam keadaannya yang sekarang pun, Amrita tak pernah berhenti berusaha, mengembangkan jurus sambil mencari korban. Maka kedudukanku sebagai pembopong tubuh Amrita kumanfaatkan, untuk mengatur agar kedua kipas Amrita tidak lebih banyak lagi memusnahkan. Dengan begitu meski Amrita berusaha melaksanakan pembunuhan dengan kipasnya, aku tetap dapat mengaturnya agar tetap tidak menjadi pembantaian. Apabila masing-masing ujung kipasnya siap menghancurkan kepala seseorang, kedua tanganku yang membopongnya dapat membelokkan tubuhnya sehingga pukulannya tidak mengenai sasaran, tetapi berguna mementalkan senjata sang penyerang. Dengan cara ini lawan bergelimpangan dengan nyawa tetap dikandung badan supaya dapat meneruskan kehidupan.

Tentulah pertempuran ini tergolong ajaib, karena aku menanggapi serangan dengan berputar-putar naik turun seperti kelelawar sembari membopong Amrita, sementara kedua tangan Amrita memainkan kedua kipas itu dengan jurus-jurus mematikan yang syukurlah bisa kubelokkan. Tidakkah kini para pendekar itu mendapatkan pelajaran yang mereka inginkan? Begitulah semua ini berlangsung dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti mata, dan dalam sekejap kami telah melewati mereka dengan segala pukulan melumpuhkan tanpa menyebabkan kematian. Aku melesat turun ke jurang untuk memotong jalan, dan memang lebih baik melompat dari pohon ke pohon di tepi jurang daripada menyusuri jalan setapak di pegunungan yang hanya akan memperlambat perjalanan.

Dengan Amrita yang telah memerah bersimbah darah korban dalam bopongan, aku tak bisa sembarang bertemu orang apalagi masuk ke dalam kerumunan, karena tentu saja seorang lelaki dengan bahasa Khmer yang terpatah-patah dan membopong perempuan terindah tetapi memerah darah akan sangat menarik perhatian. Aku harus mencari tempat persembunyian. Masalahnya, tempat persembunyian macam apakah yang sebaiknya kucari dalam keadaanku yang seperti sekarang ini?

Aku masih melenting-lenting dari pucuk pohon satu ke pucuk pohon ketika kuketahui dua sosok bayangan berkelebat mengejarku. Menilik gerakan dan kecepatannya ilmu silatnya tentulah jauh lebih tinggi daripada segenap pendekar yang berusaha mencegahku tadi. Bahkan busananya yang rapat menutupi se luruh tubuh membuatku berpikir keduanya bukanlah orang Khmer melainkan Negeri Atap Langit. Bukankah selalu ada saja petualang dengan ilmu silat tinggi yang bersedia melakukan tugas apapun asal dibayar? Mereka berkelebat lebih cepat dan menyerang! Aku berbalik dengan kipas Amrita yang telah berputar kencang seperti baling-baling yang menyampok pedang mereka masing-masing yang menyerang dari kiri dan kanan.

''Aaaaahhhkkkk!''

Terdengar mereka memekik kesakitan, karena dengan kecepatan mereka yang luar biasa aku tak sempat mengatur jarak kedua tangan Amrita dari keduanya. Agaknya tangan mereka masing-masing yang memegang pedang itu telah ikut terpotong, atau sengaja dipotong Amrita pada pergelangan tangan. Saat itu aku telanjur berputar dan menyepak sekaligus ke kiri dan ke kanan, sehingga keduanya terus meluncur ke dalam jurang, tanpa mampu menyentuh pohon manapun untuk melenting-lenting, karena saat itu kemungkinan keduanya sudah pingsan.

Lantas kuhinggapkan diriku pada sebuah dahan yang menjulur, sementara kedua orang bayaran yang taksadarkan diri itu meneruskan kejatuhannya, entah akan tersangkut pepohonan atau semak-semak di tepi jurang, dan suatu saat siuman; ataukah terbentur ujung batu-batu besar yang menyeruak tajam, yang jika membenturnya tentu saja berarti kematian. Kuhinggapkan diriku pada dahan yang menjulur dan menjorok itu, yang karena berat tubuh Amrita menjadi tertekuk jauh ke bawah, sebelum akhirnya bergerak ke atas lagi melejitkan diriku yang telah menarik napas dalam ilmu meringankan tubuh, karena kudengar suara-suara...

Saat terlontar kembali ke atas itulah terlihat sumber suara tersebut, suara air terjun yang sebetulnyalah bergemuruh, tetapi yang karena letaknya di dalam celah dinding batu, maka terdengar hanya sebagai suara sayup-sayup sampai. Maka ketika aku turun dan kakiku menyentuh cukuplah ranting dan takusah dahan aku segera melenting kembali ke arah celah itu, memiringkan tubuh sedikit agar dapat memasukinya, lantas berhenti dengan cara membentangkan kakiku sehingga ujung telapak kakiku masing-masing menempel pada sisi kiri dan kanan dinding itu.

Aku berada di antara suatu celah yang hanya dapat diketahui keberadaannya pada ketinggian seperti ini. Di bawah celah ini tertutup membentuk dinding batu, jadi seperti dinding batu raksasa yang merekah di atas, dan di dalamnya terdapat rongga dengan sebuah danau dan air terjun. Namun karena rekahan itu menutup lagi di atasnya, maka memang hanya dari tempatku kebetulan itulah dapat kutemukan celah sempit tersebut, yang memperdengarkan suara air terjun sayup-sayup yang sampai ke telingaku. Hanya manusia yang mendaki sampai puncak tertinggi pegunungan ini, atau tentu saja dari suatu titik di Puncak Tiga Rembulan, akan dapat melihat danau dan air terjun ini dari atas. Dengan begitu kurasa memang belum pernah ada yang mengetahui keberadaan tempat ini, kecuali mungkin Pangeran Kelelawar yang sudah mati, sehingga kupikir untuk sementara akan aman bersembunyi di sini, terutama untuk menghindari perburuan para pembunuh bayaran yang biasanya sangat tabah dalam pencarian jejak dan ilmu silatnya tinggi.

Demikianlah kuarungi celah itu dengan kedua kaki menempel dinding setapak demi setapak sebelum terlalui sama sekali. Dengan tangan membopong Amrita seperti ini aku tidak bisa memanfaatkan ilmu cicak sepenuhnya. Sementara yang dibopong tampak kesal sekali tertotok jalan darahnya seperti itu. Apakah yang akan dilakukannya jika totokan itu kulepaskan? Namun teringat medan pertempuran yang telah menjadi ladang pembantaian perempuan pendekar sakti mandraguna ini, kuyakini betapa keputusanku tidaklah keliru.

Lagipula kudengar betapa Jayavarman II yang telah mempelajari seluk beluk kebudayaan dari wangsa Syailendra di Jawadwipa adalah raja yang segenap kebijakannya dapat dipertanggun jawabkan. Mengapa pula langkah-langkah kebijakannya itu harus tertunda atau gagal sama sekali karena dendam pribadi puterinya sendiri? Memang benar dendam itu terdengar sahih atas nama penderitaan ibunya yang tertindas, bahkan kemungkinan besar melahirkan Amrita tanpa dasar cinta sama sekali, yang memperbesar dendam Amrita berkali- kali lipatotetapi siapakah yang dipastikan bersalah dalam jatuhnya korban-korban sejarah seperti itu, tempat setiap kerajaan membangun kejayaan di atas kehancuran kerajaan yang lain?

Memandang wajah Amrita, kubayangkan paras ibunya yang berdarah keluarga istana Kemaharajaan Tchen-la, bukan takmungkin jauh lebih cantik dari Amrita, tetapi yang mengingatkanku kembali kepada perbincangan tentang kecantikan seorang perempuan, yang justru merupakan sumber petaka atas nasibnya yang malang...

Setelah nekat beringsut dengan setiap kali menjatuhkan diri ke depan, terlalui juga celah itu, bahkan kakiku menyentuh bumi kembali tepat di samping air terjun, sehingga dapat kulihat betapa di belakang air terjun tersebut terdapatlah sebuah gua. Sungguh tempat persembunyian yang sempurna!

AKU bermaksud memasuki gua, tetapi kusadari betapa darah yang menyimbahi se luruh tubuh Amrita bahkan mulai lengket ke tubuhku. Jadi dengan Amrita masih berada dalam bopongan, aku pergi ke bawah air terjun yang meskipun tidak terlalu besar tetap saja luar biasa deras karena jatuh dari tempat yang sangat tinggi itu. Kubiarkan air membersihkan seluruh tubuh kami, kuharapkan pula air dapat meluruhkan segenap kemarahan Amrita, baik kemarahan atas nasib ibunya, apa yang terjadi kepada para pengawalnya, maupun kepada diriku yang telah melumpuhkannya begitu rupa.

Kubalik-balik tubuh Amrita dalam boponganku, sehingga air yang deras dan juga terasa keras jatuhnya pada badan itu mengikis bukan saja darah yang mengering di bagian depan, yakni kaki, perut, dada, dan wajah, tetapi juga bagian belakang, seperti punggung, dan termasuk pula kain tembus pandangnya yang semula taktertembus pandangan lagi karena mengentalnya simbahan darah. Amrita tampaknya pasrah, sepasang kipasnya yang terikat pada pergelangan tangannya tergantung lemah, darahnya ikut terkikis, memunculkan kembali gambar-gambar dan huruf-huruf Sansekerta yang terdapat pada kipas itu. Kulihat sepintas lalu, rupanya pada kipas sebelah kiri terdapat gambar pendeta Nagasena dengan sepotong ujaran filsafatnya, dan pada kipas sebelah kanan terdapat gambaran pendeta Nagarjuna, juga dengan sepotong ujaran filsafatnya yang menghancurkan segala kebakuan itu. Meskipun sangat penasaran, tetapi membaca dan merenungkan makna kedua ujaran filsafat kedua pendeta Buddha yang ajaib dalam sepasang kipas senjata Amrita itu harus kutunda.

Dalam dingin udara senja, kumasuki gua dengan tubuh basah kuyup. Segera kubaringkan Amrita pada sebuah batu datar. Kulepaskan totokan jalan darahnya. Lantas keluar gua lagi untuk mencari makanan, tepatnya suatu bahan yang terhadapnya dapat kulakukan sesuatu supaya dapat menjadi makanan.

Sisa cahaya pada puncak tebing hanya memperlihatkan dinding batu yang tandus. Ini berarti jika ingin makan sayuran aku harus keluar melalui celah sempit itu lagi, yang dalam keadaan remang seperti ini tidaklah terlalu menarik hati. Maka aku pun memilih untuk menyelam ke dalam danau, sembari menyelidiki keadaannya, apalagi jika bukan berburu ikan. Senja yang telah menggelap membuatku tidak bisa melihat dengan jelas di dalam danau. Tak dapat kuandalkan ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang sehingga kuandalkan saja mataku mencari ikan dalam keremangan di bawah permukaan. Betapapun sisa cahaya adalah cahaya juga, yang meski dari saat ke saat berkurang tetap masih bisa kumanfaatkan.

Namun ikan adalah makhluk air yang lebih menguasai keadaan, mereka tentu jauh lebih mahir daripada aku dalam mencari tempat persembunyian. Padahal perutku sudah amat lapar bukan buatan. Bukankah kami turun dari Puncak Tiga Rembulan juga karena tiada lagi makanan, dan betapa sampai di bawah masih harus mencurahkan segala daya mengatasi kepungan yang sungguh berlebihan? Mendadak muncul seekor ikan menyalipku, seperti sengaja memancingku untuk mengejarnya. Aku pun memburunya dengan berenang seperti lumba-lumba, karena dengan sendirinya percaya ini bukan jebakan. Tidakkah ikan otaknya memang terlalu kecil untuk sekadar punya pikiran? Pendapatku tentang otaknya mungkin benar, tetapi mengira kelebat ikan yang seperti m inta dikejar itu bukan pancingan ternyata keliru.

Ketika ikan itu memasuki mulut sebuah gua di dasar danau dan aku tetap mengejarnya, begitu memasuki gua sesosok bayangan hitam berkelebat menyergap dan melibatku dari belakang. Semula kukira semacam ular besar, tetapi kulihat dalam kekelaman jelas tangan manusia yang telah mengunci kedua lenganku, sementara kurasakan sebuah gigitan pada tengkukku! Aku meronta dengan lengan terjepit, tetapi gigitan itu menancap makin dalam dan seperti tidak mungkin dilepaskan!

(Oo-dwkz-oO)