Nagabumi Eps 111: Demi Sebuah Penangkapan

Eps 111: Demi Sebuah Penangkapan

SELAKSA prajurit menyerang bagaikan gelombang pasang dari dalam hutan dengan pekik peperangan yang menggetarkan langit dan membuyarkan awan. Kami yang hanya berdua bagaikan menjadi sekadar noktah di lautan, dengan segera kukepakkan sayap kulit kambing yang membuat tubuhku mengambang ke atas, lantas kugerakkan tubuhku naik dan turun seperti kelelawar menyambar- nyambar buah di dalam hutan. Sayap itu membuat aku dapat bergerak jungkir balik dan berguling-guling di udara tanpa menyentuh sesuatupun di atas bum i, menghindari usaha penangkapan membabi buta karena pembunuhan gelap Amrita yang nyaris melumpuhkan pemerintahan. Kulirik Amrita yang dengan kedua kipasnya bergerak seperti menari tetapi yang setiap gerakannya mendatangkan kematian. Korban-korban Amrita inilah yang menjadi penanda gerakan takkelihatan. Ia bergerak sangat cepat, terlalu cepat, secepat-cepatnya cepat karena gelombang pasang pasukan kerajaan ini memberikan jum lah manusia yang seolah-olah di luar perhitungan dalam jarak yang begitu dekatnya sehingga tiada ruang bagi penghindaran dan penyelamatan. Dalam sekejap ratusan nyawa telah tercerabut sepasang kipas Amrita yang dapat kulihat telah menjadi merah sepenuhnya karena darah para penyerang. Perempuan pendekar ini bergerak dengan sangat tenang, terlalu tenang, sangat amat tenang, tetapi dengan kecepatan taktertatap dan hanya korban-korban berpentalan tanpa nyawa sajalah membuat para pengepungnya dapat menandai kedudukan.

Para pengepung ini tidak sembarang mengepung, di antara para prajurit bersenjatakan tombak dan parang yang menyerang dengan teriakan selalu dise lipkan seorang perwira berilmu tinggi yang diharapkan mendapat sekejap kesempatan. Dalam pertempuran beratus ribu orang juga berlaku dalil dunia persilatan, bahwa hanya diperlukan set itik kelemahan dalam sekejap kelengahan untuk menyentuh bagian yang paling me lumpuhkan. Namun siapakah orangnya yang dapat melumpuhkan Amrita Vighnesvara sang dewi penghancur murid Naga Bawah Tanah yang kesaktiannya bagaikan dewa, tanpa Jurus Penjerat Naga yang telah dipelajarinya pula meski dari kitab curian yang nyaris mencelakakannya?

Para perwira dise lundupkan di antara barisan untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan, tetapi Amrita te lah menyiapkan pisau-pisau terbang dalam ikat pinggangnya hanya untuk menyambut mereka itu sahaja. Begitu cepatnya gerakan Amrita, sangat amat cepat sampai tiada terlihat, sehingga dapat dilihatnya segenap gerak penyerangan sebagai sesuatu yang amat sangat lambat, bahkan terlalu lambat, sehingga dapat dilumpuhkannya setiap penyerang dengan terlalu mudah, bagaikan menepuk nyamuk yang sedang kekenyangan. Namun dengan mata awam tentu saja ini menjadi pembantaian mengerikan.

ALIH-ALIH pasukan kerajaan bermaksud merajam, sebaliknya Amrita melapangkan jalan bagi setiap sukma yang hari itu tiba saatnya berpulang. Untuk set iap perwira yang menyerang dalam kesempitan dilayangkannya pisau terbang yang bagaikan bermata untuk segera menancap pada setiap tenggorokan tanpa perlindungan.

Pengepungan ini betapapun terlihat kacau balau sungguh penuh perhitungan, meski perhitungan yang manapun sangat mungkin mengalami kesalahan. Perhitungannya sendiri memang tampak sederhana, karena setelah menyadari kesaktian Amrita, diduga bahwa ia bisa ditenggelamkan oleh lautan manusia. Tidaklah terduga tentu bahwa ilmu silat Amrita jauh lebih tinggi dari yang dapat dibayangkan manusia. Naga Bawah Tanah tentu tidak mendapatkan namanya dengan begitu saja, dan jika akhirnya Amrita diterima sebagai murid satu-satunya tentu karena dapat menerima segenap ilmu yang diturunkannya. Inilah memang yang membuatku bertanya-tanya: Jika Naga Bawah Tanah tidak pernah memperlihatkan diri, bagaimanakah caranya Amrita dapat menjadi muridnya?

Namun ini tentu bukan saat untuk memikirkannya, terutama ketika aku masih berkelebat seperti kelelawar di udara, menghindari hujan tombak dan anak panah yang datang bagaikan hujan, tanpa celah sama sekali untuk dapat menghindarinya. Maka terpaksalah aku tidak sekadar menghindar, melainkan juga menangkisnya, dan untuk itu kusambar sebuah pedang yang melayang, lantas menggerakkannya dalam perpaduan antara Ilmu Silat Kelelawar dan Ilmu Pedang Cahaya Naga. Dengan Ilmu Silat Kelelawar aku dapat bergerak di udara terus menerus tanpa menyentuh bumi, dengan Ilmu Pedang Cahaya Naga aku dapat menangkis seberapa banyak dan seberapa cepat pun setiap serangan yang mendatang, bahkan bila perlu membalasnya begitu rupa, sampai habis luluh lantak tanpa sisa, meski terhadap pasukan yang berasal dari golongan petani ini aku tidak tega melakukannya.

Seharusnya kugunakan sepasang belati panjang seperti Pangeran Kelelawar, tetapi menurutinya sesuai I lmu Silat Kelelawar tidak akan bisa tanpa menelan korban. Jadi kugunakan I lmu Pedang Cahaya Naga yang kecepatannya tidak dapat diikuti mata, begitu rupa cepatnya sehingga bukan saja aku dapat menangkis, melainkan dapat membabat ribuan senjata yang menyerang berbarengan pada punggung senjata-senjata itu. Kemudian, apabila begitu cepatnya gerakanku sehingga tak se lalu sempat para penyerang itu melempar senjata, maka kukurimkan sekadar angin pukulan untuk melontarkan mereka ke mana-mana. Jelas aku tidak tega menggunakan pukulan Telapak Darah yang merupakan puncak pencapaian angin pukulan itu, terutama karena seluruh urusan pengepungan dan penangkapan ini sungguh tidak menyangkut diriku.

Ini sungguh berbeda dari Amrita, yang menyadari dirinya akan dirajam, yang hanya membangkitkan kehendak untuk merajam pula. Telah kukatakan betapa kedua kipasnya telah menjadi merah karena darah. Setiap kali kipas di tangan kiri maupun kanan mengembang maupun menutup, darah memuncrat dari tubuh korban. Amrita tidak lagi tampak sebagai putri cantik jelita dengan mata mengerjap tajam yang dapat membuat setiap orang terkes iap, melainkan algojo pencabut nyawa yang seluruh tubuhnya bagaikan tercelup darah. Amrita hanya merah. Kain tembus pandangnya yang telah membuat aku terpesona dan mengejarnya sampai ke Puncak Tiga Rembulan telah menjadi kain yang basah kuyup oleh darah dan diikatkannya sebagai kancut seperti busana pria. Kakinya yang putih mulus juga merah sepenuhnya oleh darah yang bagaikan tiada pernah mengering karena setiap kali tersembur semprotan darah baru. Adalah juga darah yang terus menerus bercipratan membuncah-buncah ke se luruh tubuh bagian atasnya, yang meski tiada mengenakan apa pun kini tak ada yang bisa dilihat lagi selain dari merahnya darah.

Amrita mungkin tidak akan sempat menyadari keadaan dirinya, karena gelombang pasang yang kini sengaja tidak dihindarinya. Perempuan pendekar ini mengeluarkan Jurus Pendeta Mengipas Karena Kepanasan yang sangat kejam dan berbahaya, karena memang akan sangat mengecoh setiap lawannya. Jurus ini memperlihatkan gerak-gerik seorang pendeta yang tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya, dan asyik mengipasi dirinya sendiri sambil menikmati pemandangan alam. Jadi Amrita tidak melenting-lenting lagi, bahkan matanya mengerling genit seperti bhiksuni berganti pekerjaan menjadi muncikari. Maka sepintas lalu Amrita dengan seluruh tubuh yang telah memerah oleh darah itu bagaikan perempuan kehilangan kewarasan, karena berjalan melenggang sambil berkipas-kipas di tengah medan pertempuran.

NAMUN akibat dari jurus ini tidak terbayangkan, karena bukan saja penyerang terkecoh oleh keberadaan Amrita yang melenggang penuh kelemah lembutan, tetapi sekian lapis barisan yang berada di belakangnya pun tewas bergelimpangan sebelum menyerang. Apakah yang telah terjadi? Aku teringat pernah membaca Kitab Pembahasan Jurus-Jurus Kipas Berbagai Aliran dan di sana disebutkan tentang Jurus Pendeta Mengipas Karena Kepanasan tersebut. Seingatku memang dikatakan di situ bahwa jurus-jurus ilmu kipas merupakan ilmu silat yang menggabungkan kelembutan dan kekerasan, dan karena itu mensyaratkan penguasaan ilmu meringankan tubuh maupun tenaga dalam yang tinggi. Dalam Jurus Pendeta Mengipas Karena Kepanasan, kelembutan itu terletak dalam gerakan lemah, ibarat pendeta yang sudah 40 hari berpuasa, tetapi yang dalam gerakan Amrita menjadi lemah gemulai penuh kerlingan; sedangkan kekerasannya terletak pada tenaga dalam yang disalurkan melalui kipas itu. Disebutkan bahwa dalam ilmu kipas, tenaga dalam akan membuat kipas kertas lebih kuat dari senjata logam manapun, bahkan angin pukulan kipas itu dapat menerbangkan siapapun dengan kuda-kuda begitu kuatnya sampai jatuh terguling- guling jika tidak membentur pohon dengan begitu keras sehingga tewas saat itu juga. Namun jurus yang satu ini, Jurus Pendeta Mengipas Karena Kepanasan, jauh lebih istimewa, karena tenaga dalam yang dikuasai bukan hanya harus mampu membuat kipas kertas lebih tajam dari logam, melainkan betapa zat udara yang meneruskan garis dan sisi bidang kipas itu pun menjadi zat padat dan tajam, setajam mata pisau belati yang lebih dari tajam. Tenaga dalam memadatkan udara sepanjang sisi bidang yang mengikuti kipas sejauh-jauhnya, sejauh daya tenaga dalam yang tersalur melalui kipasnya. Tenaga dalam yang biasa membuat kipas kertas sekuat logam, hanya tenaga dalam luar biasa membuat seorang pendekar mampu membelah pohon maupun batu, dari jarak seribu langkah dari pohon atau batu itu, hanya dengan menggerakkan kipas yang bagaikan disambung baja tertajam di dunia tanpa kelihatan.

Itulah yang sedang dilakukan Amrita sekarang dengan Jurus Pendeta Mengipas Karena Kepanasan. Di tengah medan pertempuran di bawah Puncak Tiga Rembulan yang tinggi menjulang ia tampak berkipas sambil me lenggang-lenggok, tetapi kibasannya ibarat irisan logam tajam bertenaga dahsyat yang membabat siapapun dalam garis lintasannya, dengan pencapaian sejauh-jauhnya. Bukan saja baris terdepan yang menyerang dengan segala pekikan jatuh bergelimpangan, tetapi juga empat sampai lima baris di belakangnya yang baru siap untuk menyerang terbabat bergelimpangan. Apapun yang menghalangi jalan dipatahkannya. Jika itu tombak, maka tombak itu akan patah; jika itu pedang, maka itu akan terbelah; jika itu perisa i, tak urung akan terpercik warna merah karena tangan yang memegangnya terdedah parah. Jangan ditanyakan lagi bagian tubuh manusia seperti perut, leher, dada, atau kepala yang berada dalam garis lintasan kipas yang dalam jarak seribu langkah tetap menyapu ganas.

Pemandangan yang sungguh aneh, tetapi sangat mengerikan. Kalau sebelumnya hanya yang berada dekat Amrita seperti mengantar nyawa segera bersimbah darah, kini semua orang di baris-baris belakangnya pun, sampai empat dan lima lapisan ikut bergelimpangan dengan luka terparah. Kipas itu sedang terbuka atau tertutup akibatnya berbeda, karena meski sama tajam dalam irisan, dalam keluasan sangat besarlah perbedaan. Bagaikan terdapat pisau jagal raksasa dari langit yang membelah ke kiri dan ke kanan, dan di sana Amrita berlenggang-lenggok sendiri bagaikan takpeduli, dengan sekujur tubuh, dari wajah sampai sepasang kaki, merah semrerah-merahnya merah karena darah.

"Amrita!"

Aku berteriak menyergah di antara serbuan membabibuta yang sebenarnya juga tidak memberi kesempatan.

"Sudahlah Amrita! K ita tinggalkan semua ini! T inggalkan!" Amrita mengerling dalam penghayatan jurusnya itu,

sembari menggerakkan kipasnya, dan kini para penyerangkulah yang bergelimpangan dan terlontar ke udara dengan tubuh-tubuh terbantai mengenaskan.

Tentulah sudah kuduga betapa tidaklah akan terlalu mudah meninggalkan gelanggang pertempuran, yang telah diperhitungkan demi berhasilnya penangkapan. Meskipun Amrita adalah puteri Jayavarman II sendiri, pembunuhan gelap adalah kesalahan tak berampun, yang karena itu pasti berlangsung oleh penyebab yang lebih besar dari sekadar kepentingan kekuasaan. Telah kusebutkan betapa selain prajurit yang mengempas bak gelombang pasang dari dalam hutan, di atas pucuk pepohonan telah menanti para pengawal rahasia istana, yang tentu saja paling tinggi ilmunya di antara segenap kesatuan dalam pasukan kerajaan. BERBEDA dengan pengawal rahas ia istana Mataram di Jawadwipa yang busana resminya serbaputih, dengan pedang lurus panjang yang berkilat keperakan, maka para pengawal rahasia istana raja Jayavarman II yang masih sedang menggalang kesatuan Angkor di seluruh Kambuja ini berbusana jauh lebih sederhana, taklebih dan takkurang karena mereka semua hanya berkancut abu-abu kecoklatan, yang memberi kesan lusuh, dengan ikatan kain kepala yang disimpulkan di depan. Hanya perhiasan seperti kalung dan kelat bahu menunjukkan kedudukan mereka yang lebih tinggi. Betapapun, ke sanalah aku melayang seperti kelelawar menyambar-buahan, tetapi dengan tangan memainkan I lmu Pedang Cahaya Naga.

Penghargaanku atas kesetiaan mereka kepada rajanya membuat aku tidak tega membunuh mereka. Namun apa daya serangan para pengawal rahas ia istana ini jauh lebih berbahaya dari gelombang manusia di bawah sana. Melenting di atas pucuk-pucuk pepohonan membuatku dapat memainkan paduan I lmu Silat Kelalawar dan I lmu Pedang Cahaya Naga dengan cara yang berbeda. Jika di bawah tadi Ilmu Silat Kelelawar membuat aku tidak perlu menapak bumi yang memang penuh dengan manusia bertombak, di atas pohon ini bisa kumanfaatkan pucuk-pucuk pepohonan untuk mengubah jurus-jurus Ilmu Silat Kelelawar yang agaknya telah mereka pelajari sebelum pengepungan. Memang tampak serangan serempak mereka tidak menemui sasaran, bahkan dengan kecepatan cahaya aku bergerak dengan mudah untuk membuat senjata mereka melayang berpentalan.

Telah kukatakan aku sama sekali tidak ingin membunuh, tetapi ini pun tidak dapat dilakukan tanpa kesulitan, terutama karena ilmu silat mereka yang tinggi dan ini membuat serangan mereka berbahaya, begitu berbahaya sehingga bagaikan tiada mungkin dihentikan atau dihindari tanpa membunuhnya. Padahal aku memindahkan gelanggang ke atas pucuk-pucuk pepohonan ini justru agar pembantaian Amrita mendapat cara untuk dihentikan, hanya dengan membuat jalan keluar aku dapat meyakinkan Amrita bahwa menghindari pertempuran bisa dilakukan. Masalahnya, bukan saja bahwa para pengawal rahasia istana jum lahnya bukan sekadar belasan atau puluhan orang, melainkan ratusan orang banyaknya, yang memenuhi pucuk-pucuk pepohonan seluruh wilayah hutan, karena memang dikerahkan dari berbagai istana seluruh Angkor; tetapi juga bahwa Puteri Amrita sama sekali tidak sudi menghindari pengepungan ini dan pergi.

Dugaanku tidaklah terlalu keliru, karena sementara aku berkelebat mengelak dari berbagai serangan yang begitu cepatnya, sempat kulirik Amrita yang setelah bosan dengan Jurus Pendeta Mengipas Karena Kepanasan kini me lenting- lenting dengan ringan di atas kepala dan pundak ribuan penyerangnya untuk menyebarkan maut melalui jarum-jarum beracunnya yang takpernah kutahu di mana disimpan. Seluruh tubuhnya masih penuh dengan darah, membuatnya seolah- olah bagaikan penampakan iblis yang terkejam dan terganas. Orang-orang tewas dengan tubuh tersentak dan menghijau. Apabila sebatang jarum saja lebih dari cukup untuk mengakhiri riwayat seseorang, apakah yang akan terjadi ketika Amrita ternyata cukup meraup saja jarum-jarum beracun itu, dan terus menerus menghamburkannya bagaikan tiada akan ada habisnya?

''Katakanlah kepadaku, wahai Amrita,'' aku berteriak sambil menghindari berbagai tetakan tajam yang sangat mematikan, ''bagaimana agar bisa daku bawa dikau keluar dari sini dan menghindarkan orang-orang tak bersalah ini dari pembantaian?''

Amrita hanya tertawa, tak lagi renyah seperti yang kukenal, melainkan terdengar getir tanpa kegembiraan. Maka aku pun tidak lagi merasa membutuhkan jawaban, apalagi ketika serangan para pengawal rahas ia istana berilmu tinggi itu semakin gencar dan menuntut terpusatnya perhatian. Sekali lagi aku merasa harus berterima kasih kepada I lmu Silat Kelelawar yang membuatku bisa tetap berputar dan berputar naik turun seperti kelelewar berkelebat di antara pepohonan. Para pengawal rahasia istana ini dengan cerdik sama sekali tidak berusaha mengepung dan menyerang serentak seperti ratusan ribu prajurit di bawah itu, melainkan hanya bergerak bila aku berada di petak yang mereka jaga, sehingga tiada ruang kosong yang digunakan Amrita karena perhatian tersita untuk menyerangku.

Seberapa besarkah daya tahan manusia? Dari waktu ke waktu gelombang manusia terus menerus menyerang Amrita di bawah sana. Jangan lupa betapa kami terjun dan turun melayang dari dataran Puncak Tiga Rembulan antara lain karena tiada lagi yang bisa dimakan. Amrita masih melenting- lenting dan terbang ke sana sini sambil menyebarkan maut dengan kipasnya, tetapi para kepala pasukan telah semakin cerdik dalam siasat pengepungan. Menyadari betapa lautan manusia ternyata tak juga dapat menenggelamkan Amrita, dan betapa bahkan dengan cara itu pun Amrita dapat menjadi lenyap mendadak tak kelihatan, tetapi segera muncul kembali dengan Jurus Kipas Menggunting dalam Lipatan sehingga korban jauh lebih banyak lagi berjatuhan, panglima pengepungan ini bersuit sebagai pertanda anak buahnya harus mundur.

MAKA sejak barisan lapis pertama mereka pun mundur seratus langkah. Kedudukan yang mundur digantikan barisan panah, bisa mencapai lima puluh ribu orang, yang meskipun saat melepaskan anak panahnya berbarengan, datangnya dari arah yang berlain-lainan. Sepuluhribu anak panah meluncur setinggi dada, sepuluh ribu yang lain setinggi paha, sepuluh ribu lagi meluncur setinggi mata kaki, dan dua puluh ribu sisanya mengancam rajaman dari atas kepala. Tentu tidaklah mungkin Amrita menghindarinya, bahkan jika ia bertiarap begitu rupa, tetaplah puluhan ribu anak panah akan mengenai sasarannya. Bagaimanakah caranya Amrita akan bisa menghindarinya? Agaknya Amrita menggunakan Jurus Kipas Menelan Matahari yang membuat seluruh tubuhnya bagaikan berada dalam kurungan, yang adalah gerak kipas yang membentengi seluruh badan.

Puluhan ribu anak panah pun mental kembali semuanya, semuanya dan semuanya tanpa sisa, dalam keadaan hancur, tetapi yang segera disusul lapis se lanjutnya dalam barisan yang sama. Demikianlah kipas yang membentengi Amrita menjadi bagaikan penggilingan yang menelan dan memuntahkan puluhan ribu anak panah terus berlesatan tiada habisnya. Sehabis panah, tombak atau tepatnya lembing dengan ujung yang pipih, dalam jumlah yang tiada terhitung pun melesat penuh semangat rajaman. Namun Amrita tak hanya sudi menerima serangan, ia pun menuntut haknya untuk ganti menyerang, sehingga alih-alih Amrita yang maksudnya dirajam, tetap saja di pihak penyerang yang banyaknya bukan alang kepalang itu bagaikan sawah disapu banjir bandang korban terlalu banyak berjatuhan.

Di bawah tekanan para pasukan pengawal rahasia istana yang terus juga masih menyerang, aku berpikir keras mencari pemecahan.

(Oo-dwkz-oO)