-->

Nagabumi Eps 109: Perjuangan Orang Kalah

Eps 109: Perjuangan Orang Kalah

PANGERAN Kelelawar itu, kenapa dia disebut Pangeran? Bagiku ini agak membingungkan, karena semula, ketika datang berkelebat menolong Amrita di pelabuhan, ia tampak sebagai seorang biksu. Bukanlah rahas ia lagi bahwa ilmu silat merupakan bagian penting dari pembelajaran para biksu maupun biksuni, karena biara Buddha tidaklah sepi dari ancaman marabahaya. Sebaliknya, bersama dengan tersebarnya igama Buddha ke berbagai wilayah di sebelah timur dan selatan Jambhudvipa, tersebar pula berbagai bentuk ilmu silatnya, yang terutama dipelajari orang-orang persilatan golongan putih, dengan tujuan menghadapi dan membasmi golongan hitam yang terkenal ganas ilmu silatnya. Namun Ilmu Silat Kelelawar seperti yang diperagakan Pangeran Kelelawar tidaklah seperti ilmu silat para biksu yang kukenal. Seperti telah kuhadapi, Ilmu Silat Kelelawar ini bisa membuat penggunanya terbang, yang tentu saja tidak didapatkannya dengan mudah. Selain bahwa ilmu silat ini hanya dapat diperagakan secara sempurna jika pelakunya menggunakan selaput kulit yang tumbuh antara pergelangan tangan sampai pinggang, selaput kulit tersebut hanya mungkin tumbuh melalui tapabrata luar biasa yang mengikuti perilaku kelelawar, yakni menggantung di mana pun, di atas pohon, di dalam gua, atau pada tonjolan batu di tepi tebing, dengan kaki di atas dan kepala di bawah, pun masih dilengkapi mantra yang dibuat untuk itu.

Jadi jelas Pangeran Kelelawar bukan biksu, bahkan menurut Amrita, igama yang dianut pun bukan Buddha.

''Ia seorang Hindu,'' kisah Amrita. Berikut inilah kisah Amrita selanjutnya.

Mengikuti penyebutan yang diberikan oleh orang-orang Negeri Atap Langit, terdapatlah sebuah wilayah di dataran tengah Mekong pada poros Sungai Se Mun, dari Roi Et sampai wilayah Bassac, yang disebut Tchen-la. Negeri itu, ketika aku tiba di tanah Khmer, setidaknya telah berdiri sekitar 200 tahun. Prasasti-prasasti pertama dalam Khmer muncul di wilayah itu dalam pergantian abad sekitar 100 tahun lalu, dan belakangan, seperti juga asal-usul Fu Nan, tersebarlah suatu dongeng yang menempatkan Tchen-la sebagai tempat lahirnya orang-orang berdarah Kambuja, termasuk Khmer, yang kemudian sering membingungkan diriku sebagai orang asing, karena orang Khmer terkadang menyebut negeri mereka ini Kambuja juga.

Tiga ratus tahun yang lalu mungkin wilayah Tchen-la terbatas pada daerah yang dialiri Sungai Se Mun, sementara wilayah Bassac dikuasa i orang Cham. Memang Mi-son terletak tidak jauh dari situ, di arah timur, seberang daerah pegunungan yang dapat ditembus. Pada masa itu seorang raja Champa mendirikan sebuah lingga dalam sebuah candi, yang dipersembahkan kepada Siva, di sebuah gunung dekat Bassac, tempat belakangan akan didirikan Vat Phu, yang merupakan pusat pemerintahan Tchen-la.

''Dan Pangeran Kelelawar adalah keturunan raja Champa itu?''

''Bukan hanya keturunan, melainkan pewaris, tetapi dengarlah dahulu lanjutannya.''

Sekitar limapuluh tahun sebelum Tchen-la itu sendiri berdiri, jadi 250 tahun sebelum aku tiba, seorang raja bernama Bhavavarman, keturunan wangsa yang memerintah di Fu-nan, yang mungkin sekali cucu Rudravarman, menikah dengan seorang puteri Tchen-la dan mempersatukan negeri itu. Ia berusaha menaklukkan Fu-nan, mungkin untuk mendukung hak-hak keluarganya. Ketika ia meninggal setelah tahun 598, kedua negeri sudah tergabung dengan baik sekali. Adiknya, Chitrasena, yang kemudian menggantikannya dengan gelar Mahendravarman, menyelesaikan penaklukan Fu-nan dan memperbanyak bangunan Siva di wilayahnya.

NAMUN adalah putranya, Isanavarman, berjaya antara 611 sampai 635 dengan pemerintahan gemilang, sampai sanggup membangun ibu kota baru, yakni Isanapura.

"Ceritakanlah kepadaku yang ada hubungannya dengan Pangeran Kelelawar sahaja, wahai Amrita yang jelita," kataku.

"Apakah yang tidak akan daku berikan kepada dikau, wahai Pendekar Tanpa Nama yang telah membuat Amrita untuk kali pertama jatuh cinta?"

Maka ia pun bercerita tentang raja pertama Champa, Bhadravarman, yang memerintah sekitar 400, dan membangun tempat pemujaan yang dipersembahkan kepada Siva di daerah pegunungan M i-son itu, yang akan menjadi pusat pemujaan raja-raja abad selanjutnya. Ia disebutkan membangun sebuah ibu kota, dan di sekitar tempat itulah akan ditemukan prasasti-prasasti dalam bahasa Sansekerta maupun bahasa Cham. Namun yang sekarang ini pun sudah tidak dapat ditemukan lagi, karena semuanya musnah terbakar.

"Siapa yang membakar?"

"Belum jelas apakah sengaja dibakar atau karena terbakar begitu saja, Pangeran Kelelawar pun tidak tahu pasti, kecuali bahwa seluruh keluarganya terlunta-lunta." 4)

Haruslah kujelaskan pula tentunya, bagaimana perubahan kekuasaan telah berlangsung perlahan-lahan di se luruh wilayah yang meliputi tanah Khmer dan Champa, tempat sejarah kerajaan-kerajaan Fu-nan, Tchen-la, dan Angkor, silih berganti meliputinya, yang ternyata juga dipengaruhi keadaan alam maupun gelombang kebudayaan yang datang dari arah Jambhudvipa.

Perubahan berlangsung di daerah selatan, ketika kekuasaan berpindah ke kerajaan Tchen-la, saat itu di Fu-nan telah terdapat penduduk yang hanya terdiri dari kelompok orang-orang Malayu di pinggir laut dan mencari nafkah hanya di laut. Terbuka, sebagai warga kota yang didatangi segala bangsa, penduduk tersebut menyambut segala pengaruh dan membagi-bagikannya lagi sedemikian rupa, sehingga wilayahnya menjadi pusat kebudayaan di kawasan selatan dari Negeri Atap Langit. Namun dengan Tchen-la sendiri, kita temukan bangsa yang murni Khmer, tertutup di dataran tinggi Mekong dan sama sekali tidak mengenal laut.

Sebagai petani, tetapi juga prajurit, orang-orang Tchen-la akan sigap menukar kemiskinan mereka dengan penaklukan dan perampokan. Sedangkan kebudayaan mereka, yang berasal dari Jambhudvipa, dan terlebih-lebih dari kebudayaan Fu-nan yang telah memiliki kepribadian sendiri, memang kemudian jadi cemerlang. Namun kebudayaan tersebut hanya sebatas negeri itu saja, yang memang terus menerus diperluas, tanpa menyebarkan pengaruh sendiri seperti Jambhudvipa dan dalam tingkatan yang dinilai lebih rendah dari kebudayaan Fu-nan.

"Nanti dulu, apa ukurannya kebudayaan Tchen-la dianggap lebih rendah daripada kebudayaan Fu-nan?"

Kudengar perbincangan seperti ini di sebuah perahu ketika memasuki pedalaman Khmer.

"Itu ukuran orang-orang Angkor sekarang, yang menganggap orang Fu-nan istimewa."

"Bagaimana kalau orang Tchen-la yang menolak untuk menirukan yang istimewa? Itu tidak sama dengan mengatakannya lebih rendah."

"Terserahlah apa pendapatmu, tetapi itulah yang dikatakan banyak orang."

"Dan tentu saja itu bukan pendapat orang Tchen-la. Tidak ada tinggi rendah dalam kebudayaan, yang ada hanyalah diberlangsungkan dan dibermaknai oleh banyak atau sedikit orang!"

SEJALAN dengan perbedaan tajam tersebut, terlihat perbedaan besar dalam cara pengolahan tanah, yang mungkin menjelaskan segala perbedaan yang lain. Orang Fu-nan terpaksa mengeringkan air delta dan lebih disibukkan dengan urusan kelebihan daripada kekurangan air. Lagipula kelihatannya mereka hanya bertanam padi terapung. Perdagangannya pasti merupakan sumber penghasilan yang sama pentingnya dengan pertanian.

Adapun orang Khmer menggarap dataran tinggi, yang tidak menahan air berkat kemiringannya sendiri. Sebaliknya harus menampung air sepanjang musim kering, menyiram sawah- sawahnya tempat ia bertanam padi gunung. Perbedaan- perbedaan tajam tersebut tentu membekas pada rakyat yang sangat ketat dipengaruhi cara hidup masing-masing. Tidak mengherankan jika kemudian orang-orang Khmer turun ke dataran rendah karena kagum melihat kekayaan Fu- nan, dan berlangsunglah perkara pertama dalam riwayat kebudayaan wilayah itu suatu gelombang perpindahan ke wilayah selatan, yang agaknya akan menjelaskan banyak hal di kemudian hari. Namun Tchen-la tidak menduduki wilayah Fu-nan, karena perubahan arus Sungai Mekong menimbulkan banjir yang membawa bencana besar, sehingga wilayah Fu- nan tengah yang lama, hampir tidak bisa dihuni. Kenyataan, kelompok-kelompok orang Khmer terpencil dan miskin, tetap bertahan di wilayah itu, terutama pada tanggul-tanggul tanah endapan dan tanah-tanah yang tinggi. Betapapun, Fu-nan menjadi tidak penting lagi bagi nasib Kambuja. Kemaharajaan Khmer, pewaris Tchen-la, terus berkembang ke utara, dan meski ibukotanya yang bernama Sambor terhubungkan dengan lautan melalui Sungai Mekong, tetapi lautan menjadi semakin tidak penting bagi kehidupan budaya tanah Khmer, untuk tidak mengatakan telah meninggalkannya sama sekali.

Terihat bahwa siapa pun yang berkuasa di Khmer akan berlindung di dataran tinggi tempat asalnya di ujung utara Kambuja dan dataran tinggi Korat sampai Roi Et, seperti kembali kepada asal-usulnya. Jadi orang-orang Khmer sama sekali tidak meniru cara menggarap tanah delta seperti yang diciptakan orang Fu-nan. Kota-kota Tchen-la merupakan lahan luas yang dikelilingi dinding tanah dan terutama oleh parit yang sangat lebar. Letak parit tersebut selalu diatur lebih rendah dari sebuah sungai yang terus menerus mengalir dan langsung dihubungkan dengannya. Maka parit itu terisi air dengan sendirinya selama musim hujan dan air pasang, dan menjadi tempat persediaan air pada musim kering, dan menghidupi penduduk dengan sawahnya.

Cara penampungan air yang cerdik ini cocok dengan iklim dan keadaan tanahnya, diciptakan di Tchen-la dan kemudian dibawa orang Khmer ke dataran rendah Kamboja. Itulah yang menjadi dasar kekuasaan Angkor hari ini. Cara-cara ini disaksikan orang Fu-nan langsung dari tempat pemukiman bundar pada masa pra-sejarah ribuan tahun s ilam yang masih terlihat di dekat tempat tinggal mereka, dan tampaknya mereka memang tidak pernah membuat pengairan tanah kering yang lebih maju dari itu. Sedangkan orang Khmer tidak akan menggarap delta Sungai Mekong, yang sebetulnya cocok sekali, tetapi menggunakan tanggul-tanggul yang muncul di antara dua air pasang untuk panen tambahan.

Dari kebiasaan ini terlihat perbedaan mendasar tentang pengaturan dan falsafah ruang, tetapi ada persamaan dari kedua kebiasaan ini, yakni bahwa pemusatan kekuasaan dianggap perlu oleh rakyatnya, demi penciptaan dan pengawasan aturan-aturan dalam berbagai cara pengairan tersebut. Dalam hal ini, Tchen-la langsung menggantikan Fu- nan dan berhasil mencapai penguasaan pengaruh me lalui jalan yang sama. Kedua kerajaan yang sama-sama mendapat pengaruh Jambhudvipa, yang dihidupkan terus oleh Tchen-la tanpa terlalu banyak perubahan, karena sebagian besar pengaruhnya sampai di situ melalui Fu-nan, sesuai kecenderungan jalannya nasib manusia, bahwa yang dikalahkan mengadabkan sang pemenang dan bertahan hidup melalui sang pemenang itu.

Aku segera mengerti bahwa jika Pangeran Kelelawar adalah seorang keturunan bangsawan Champa pemuja Siva dari Pegunungan M i-son, maka dalam diri Amrita agaknya masih mengalir darah bangsawan Tchen-la, yang mempertahankan kebudayaan Fu-nan, tetapi kini terjajah oleh Angkor. Kelak akan kuketahui mengapa keduanya dapat berkumpul di sekitar Naga Bawah Tanah yang tidak pernah menampakkan diri. Amrita, tinggal di istana karena ibunya yang keturunan Tchen- la menjadi sa lah satu isteri raja Angkor yang sekarang berkuasa, Jayavarman II. Menyadari bahwa ibunya dikawini secara paksa, Amrita menggalang segala usaha untuk menjatuhkan pemerintahan ayahandanya sendiri. UNTUK itu sejumlah pembunuhan gelap di istana telah dilakukannya. Di istana Indrapura, yang baru saja dibangun di sebelah timur Kompong Cham, dalam beberapa bulan terakhir sering berlangsung kematian mencurigakan atas warga istana. Mulai dari yang diracuni lewat makanan atau minuman, dicekik dan dibekap di bawah bantal ketika sedang tidur, ataupun diserang senjata rahasia dari jarak jauh. Baik lelaki maupun perempuan, yang ditewaskan adalah orang-orang penting yang memegang kendali laju penyatuan Angkor sebagai cita- cita Jayavarman II.

Mendengar cerita itu keningku berkerut. Ia mengaku telah menggunakan jaringan rahasia dari Jawadwipa untuk menjamin kerahasiannya. Entah kenapa aku tidak merasa terkejut. Bukankah pada hari pertama kakiku menginjak pelabuhan bekas kerajaan Fu-nan, telah kudengar orang menyebut kresna-naga yang berarti Naga Hitam? Aku sungguh terkesiap dengan luasnya jaringan rahas ia yang menjual jasa pembunuhan ini, meski mengingat pengaruh kedatuan Srivijaya dan wangsa Syailendra di tanah Khmer ini, seharusnya aku tidak usah terlalu heran.

Tanpa Amrita harus menyebutnya, sudah semestinya aku menduga bahwa Naga Hitam juga menggunakan tenaga orang-orang setempat.

(Oo-dwkz-oO)

''JADI apa yang akan kita lakukan sekarang? Apakah kita akan tetap di sini dan bertahan tanpa makanan, ataukah turun melanjutkan pengembaraan?''

Mendengar ucapanku itu Amrita yang sejak tadi berkicau riang mendadak jadi muram dan matanya berlinang menatapku tajam.

Ah, siapakah yang akan tahan menghadapi tatapan seperti itu? ''Akan ke manakah kiranya Pendekar Tanpa Nama meneruskan perjalanan, meninggalkan Amrita sendirian dalam kesepian?''

Tentu aku sampai ke Puncak Tiga Rembulan ini pun karena Amrita. Namun apakah masih bisa disebut cinta jika dalam kenyataannya sekarang ini aku selalu ingin pergi saja? Rasanya memang bagaikan bisa kuserahkan jiwa ragaku bagi Amrita, tetapi apalah kemudian yang harus kukerjakan di tanah yang juga disebut Kambuja ini? Sebagai pengembara di rimba hijau dan sungai telaga persilatan, setelah mengatasi Ilmu Silat Kelelawar seharusnya kukeluarkan tantangan kepada Naga Bawah Tanah dan siap memberikan yang terbaik untuk kematian pada puncak kesempurnaan. Namun bukanlah karena aku takut dikalahkan semenjak memainkan dengan semakin baik Jurus Bayangan Cermin maupun Jurus Penjerat, bahkan telah kupikirkan suatu jurus yang tiada akan pernah terlawan karena meski bukan sihir yang diserangnya adalah pikiran, tetapi karena jika aku menang, hanyalah tangis Amrita akan kudengar berkepanjangan.

Keberadaan Amrita tampaknya menunjukkan keberadaan diriku yang selalu mendua, apakah aku akan hidup untuk cinta, ataukah mengalahkan semuanya demi cita-cita?

''Pendekar Tanpa Nama, janganlah pergi demi Amrita, atau ajaklah Amrita mengembara kemana pun dikau berkelana, meskipun keliling dunia!''

Perempuan yang sedang jatuh cinta. Hmm. Benarkah mereka bersedia mengorbankan apa saja? Jangankan perempuan, lelaki pun akan melakukan hal yang sama! Apakah ini berarti cinta membuat manusia buta? Nantilah kuperiksa ujaran-ujaran para bijak seperti Nagasena, Nagarjuna, maupun Sang Buddha sendiri tentang cinta, karena aku tidak percaya betapa cinta harus membuat manusia bodoh adanya. Sekarang aku memikirkan berbagai cara untuk kembali turun ke dunia. Betapapun keindahan Puncak Tiga Rembulan begitu ajaib sehingga tidak se lalu bisa dijelaskan, kurasa bukanlah keindahan demi keindahan itu sendiri yang kucari dalam pengembaraanku ini. Telah kukalahkan Pangeran Kelelawar dalam pertarungan untuk mencapai kesempurnaan dalam persilatan, dan Amrita yang sebelumnya terandaikan juga akan jadi lawanku ternyata bersikap sebagai yang tidak bisa ditinggalkan. Aku mesti turun dan pergi untuk berganti pandangan, darahku bagaikan menggelegak dan berdenyut memintaku untuk segera meneruskan perjalanan...

(Oo-dwkz-oO)