-->

Nagabumi Eps 107: Panah-panah Asmara

Eps 107: Panah-panah Asmara

BURUNG-BURUNG elang kelabu dengan kekuatan sayap sekeras besi. Hmm. Keduanya tentu diperintahkan Pangeran Kelelawar yang telah tertancap kedua pedang hitam di bawah itu untuk menyerang siapa pun yang menuju ke atas, untuk melindungi Puteri Amrita yang belum kuketahui nasibnya. Apakah kedua elang yang sungguh-sungguh perkasa itu harus juga kubunuh? Namun jika t idak kubunuh, tentu bukan hanya aku yang akan mati terbunuh, melainkan juga Puteri Amrita akan semakin jauh dari pertolongan meski aku sendiri belum tahu pasti pertolongan macam apa yang dibutuhkannya. Ia bisa menjadi lemah takberdaya, dan agaknya bahkan takbisa disembuhkan oleh kesaktian Pangeran Kelelawar, karena sentuhanku di tempat yang terlemah, tetapi bisa pula terutama akibat pembelajaran dari kitab curian.

Aku belum tahu, karena itu aku menjadi semakin penasaran, dan karena itu haruslah kuselesaikan kedua burung e lang pengawal ini. Namun membunuh kedua elang ini bukan perkara mudah, bahkan sebaliknya adalah mereka berdua yang berkemungkinan lebih besar untuk membunuhku, karena ruang pertarungan ini adalah ruang mereka dan bukan ruangku. Mereka selalu me layang-layang di Puncak Tiga Rembulan ini, tetapi aku baru untuk kali pertama tiba di sini, setelah semalaman bertarung melawan I lmu Silat Kelelawar yang ajaib itu. Namun bahwa sebelum menghadapi kedua burung elang ini aku telah menghadapi Pangeran Kelelawar, dan bahwa dalam pertarungan itu telah kugunakan Jurus Bayangan Cermin untuk menyerap Ilmu Silat Kelelawar, ternyata sangat berguna untuk membaca dan menghadapi berbagai bentuk serangan kedua burung elang itu.

Mereka terus menyerbu bergantian dengan sambaran cakar, paruh, dan kibasan sayap yang sangat berbahaya. Aku hanya dapat bertahan dengan kedua kaki menempel dan tentu tidak bisa lama-lama bertahan dengan kedudukan seperti itu. Serangan mereka bukan jurus manusia, jadi tidak bisa dihadapi dengan jurus-jurus silat yang dipelajari dari pengamatan terhadap burung elang. Ilmu Silat Kelelawar tidaklah mengamati gerak kelelawar dari luar, melainkan menyerap segenap sifat gerakannya dengan menghayati kehidupan kelelawar itu sendiri, sehingga jurus-jurusnya tetap bersifat kelelawar yang mampu berkelebat dengan mata tertutup dalam kegelapan. Namun Ilmu Silat Kelelawar itu hanya mungkin dimainkan dengan sempurna jika pelakunya bersayap kelelawar seperti Pangeran Kelelawar.

Maka sungguh kupertaruhkan nyawaku ketika kujejakkan kakiku ke dinding, melepaskan diri dari ilmu cicak, meluncur dengan kecepatan sangat tinggi seperti gerak kelelawar menyambut serangan elang itu, menghindari sambarannya tetapi meminjam tubuhnya untuk kujejak agar bisa melenting ketika sambaran elang yang satu lagi datang. Aku bisa melayang karena gerakanku sangat cepat, yang berarti aku dapat bergerak banyak sebelum tubuhku mestinya jatuh ke bumi. Bukankah ini yang dilakukan anak-anak desa, jika mereka memperagakan gerak indah ketika meloncat dari atas tebing, sebelum jatuh ke bawah, di sebuah kolam, sungai, atau air terjun?

Sebelum itu terjadi aku dapat menjejak punggung burung itu agar dapat me lenting, sama seperti aku biasa melenting meski hanya menjejak pucuk-pucuk daun, tetapi kali ini melenting agar dapat menghindari serangan burung elang yang datang kemudian.

BURUNG elang yang datang kemudian ini berkelebat dengan cakarnya dan mengibaskan sayapnya sepenuh tenaga, tetapi yang hanya menyambar udara karena seperti setiap kelelawar aku pun kini dapat menghindarinya. Saat itulah kujejakkan kakiku ke punggungnya sebagai tendangan maut yang langsung mematikannya, sekaligus mendorong diriku sendiri kembali kepada burung elang yang sebelumnya telah menyerangku.

Aku tak bersayap, tetapi kelelawar pun tidak selalu melayang dengan cara mengepak, melainkan seperti menjatuhkan diri dan hanya menggunakan sayapnya itu sebagai kemudi yang akan menentukan arahnya. Itulah yang kulakukan dengan berbagai cara meliukkan tubuhku, sehingga dalam sekejap aku telah berada di atas burung yang masih terdorong oleh jejakanku sebelumnya, hanya untuk kujejak sekali lagi, tetapi kali ini sebagai tendangan maut yang juga menamatkan riwayatnya.

Dengan daya dorong tendangan itu aku kembali meluncur menuju dinding, untuk langsung menempel kembali seperti cicak. Kulihat kedua elang perkasa yang dengan sangat menyesal harus kutewaskan itu me layang jatuh ke bawah tanpa nyawa lagi. Meninggalkan sejumlah bulu yang beterbangan dan menyusul jatuh dengan lebih lamban karena angin dingin yang membuatnya melayang-layang.

(Oo-dwkz-oO)

BERAPAKAH tinggi tiang raksasa yang seolah menyangga langit ini? Aku tidak tahu. Apabila kemudian tiang yang menjadi bagian dari Puncak Tiga Rembulan ini menembus mega, aku kembali berlari miring ke atas hanya dengan mengandalkan perasaanku saja, karena dalam kenyataannya sepanjang mata memandang aku tidak dapat melihat apa pun lagi, kecuali cahaya demi cahaya. Lapis demi lapis cahaya keemasan dari pagi yang sudah penuh sehingga tempat rembulan diganti matahari membuat segalanya hanyalah cahaya menyilaukan. Selepas mega hanya cahaya di atas dinding keemasan sehingga hanya kakiku yang telah terbungkus se laput kulit sayap  kelelawar dapat merasakan jalan ke atas dan hanya ke atas, tiada lain se lain ke atas, tempat kuyakini terdapatnya Amrita di atas sana dalam keadaan siap kehilangan nyawa.

Bayangan betapa Amrita terkapar di sana dalam keadaan lemah membuat aku mengerahkan segala daya untuk melejit ke atas tanpa terbendung lagi. Suhu memang tetap dingin, tetapi cahaya matahari menembus butiran-butiran udara dan berjuang mencairkan kebekuannya. Begitulah cahaya menjadikan dirinya sendiri sebagai harapan, berkilauan, dalam bentangan cahaya menyilaukan, ketika matahari bagaikan suatu payung cahaya di atas sana, yang tak mungkin kupandang berlama-lama, sehingga aku terus berlari tetapi sambil memejamkan mata. Dalam kecepatan tinggi kutancap ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Lubang, sekadar untuk memastikan pijakan berdasarkan desir angin yang menyapu sisi tiang. Berlari miring menuju ke atas tidaklah sama dengan berlari dalam keadaan biasa di tanah datar. Meskipun telah kugunakan Jurus Naga Berlari di Atas Langit yang membuat diriku sangat ringan dan mampu melesat seperti kilat, tetapi berlari pada dinding tegak lurus dengan ketinggian seperti itu menuntut pengerahan tenaga dalam yang lebih besar dari pertarungan selama berhari-hari. Mengerahkan tenaga dalam tanpa lawan seperti ini, aku berhadapan dengan segala kelemahanku sendiri. Makin ke atas makin tertantang daya tahanku sendiri. Hanya kesunyian kini, menembus dingin dalam sepuhan matahari.

biasakanlah menganggap bentuk dunia sebagai sunyata

tak terlihat bentuk badannya demikianlah uraian

tentang bentuk yang ditangkap dan bentuk yang menangkap

Mendadak saja kakiku lepas dari segala jejakan. Melenting ringan ke atas bagaikan telah diluncurkan oleh pengerahan tenaga sejak dari bawah. Aku meluncur ke atas, tapi kemudian berhenti dan melayang turun perlahan-lahan seperti tubuhku lebih ringan dari sesobek kapas.

Dari atas kulihat sa lah satu dari Puncak T iga Rembulan itu, yang tengah tepatnya, sebuah dataran batu melingkar tempat sesosok tubuh berbalut selimut kulit kambing sedang berbaring di atasnya. Itulah Puteri Amrita yang terkapar tanpa daya, tetapi ia masih berada jauh di bawah sana, karena aku melayang turun dengan sangat pelahan-lahan.

Di dekatnya kulihat sisa unggun kayu yang sudah tidak menyala lagi. Tentu yang kemudian kukenal sebagai Pangeran Kelelawar itulah yang sangat mungkin telah membawa kayu bakar itu ke atas. Jika perlu sete lah digandakannya diri menjadi tiga, sehingga ia tidak perlu naik dan turun lagi beberapa kali. Aku turun perlahan-lahan seolah-olah tubuhku bergantung kepada sebuah payung, tetapi aku turun tanpa payung dan tetap saja turun perlahan-lahan sehingga dapat menikmati pemandangan, nun sampai ke batas cakrawala di sekitarnya. Hutan, jurang, dan persawahan, disusul pemukiman, dan gugusan candi-candi. Kulihat semuanya dari atas, kerbau yang digunakan untuk membajak, orang-orang menanam bibit, iring-iringan pendeta Buddha menuju ke tempat upacara, kerumunan atas tontonan, sejumlah orang memasang puncak candi, mengangkut batu, dan juga harimau yang mengejar kijang.

Kulihat sungai besar yang cokelat dengan anak-anak sungainya. Perahu-perahu yang menyusurinya dalam kesunyian, pemukiman yang dilewatinya, dan anak kecil berlari-lari di tepian. Kadang kulihat juga seorang perempuan dengan rambut terandam dengan dada terbuka berjalan sendirian dengan barang bawaan di atas kepala di jalan setapak di atas bukit. Dari atas terlihat betapa terpencilnya Puncak Tiga Rembulan dengan segala kesulitan untuk mencapainya. Namun bersama dengan itu tampaklah pula betapa Puncak Tiga Rembulan ibarat sebuah tempat yang tidak seharusnya berada di atas bumi karena seperti turun dari langit di bumi yang lain.

Pada tiang yang berada di tengah dari Puncak Tiga Rembulan itulah Amrita tergolek berbalut selimut dalam sapuan cahaya keemasan. Puncak tiang adalah dataran batu nan hitam melingkar yang panjang jari-jarinya sekitar limapuluh langkah, tetapi dari atas kulihat Amrita bagaikan sedang tidur di atas ranjangnya sendiri. Ia berbalik ke sana dan kemari, lantas meregangkan tangan, dan membuka mata. Kukira ia langsung melihatku yang sedang melayang-layang turun, karena meskipun jarak kami masih terlalu jauh, bagaikan terasa olehku betapa ia tersenyum. Semakin dekat jaraknya, semakin tampak kepadaku wajahnya sebagai wajah yang mungil. Wajah penuh kemurnian yang akan membuat siapapun lupa betapa Amrita Vighnesvara selain berarti dewi pendidikan dan ilmu pengetahuan, sebetulnya juga berarti dewi penghancur.

Aku melayang turun semakin dekat, dan perasaanku memang tidak keliru jika merasa ia tersenyum kepadaku. Aku tidak hanya merasakannya sekarang, tetapi juga melihatnya. Matahari membuat Amrita bagaikan bongkahan emas di tengah batu hitam. Angin nyaris membawaku kepada tiang Puncak Tiga Rembulan yang di sebelahnya, tetapi kukemudikan diriku dengan cara menyapu udara agar tetap mengarah kepada Amrita. Semakin jelas bahwa ia memang tersenyum. Perempuan pendekar yang semula kuhadapi dengan pertaruhan nyawa itu, yakni pertarungan yang mengiz inkan pembunuhan, kini menyambutku dengan pandangan kekanak-kanakan yang murni. Apakah itu benar suatu kemurnian, ataukah jebakan terakhir seorang petarung yang dengan segala cara ingin menang?

Itulah masalahnya dengan pertarungan para pendekar, apakah pertarungan hanya sahih di dalam gelanggang, ataukah dunia ini dianggap sebagai gelanggang pertarungan itu sendiri, tempat siapapun yang kurang waspada dapat tewas seketika karena serangan rahasia? Aku telah sampai kepada jarak tempat bisa kukirimkan angin pukulanku sekarang juga, karena sudah terlalu sering kudengar cerita tentang perempuan di balik selimut seperti itu, yang bagaikan menanti dengan penuh hasrat tetapi di balik selimutnya menggenggam belati melengkung siap menikam.

AKU turun semakin dekat, sedikit kuberatkan tubuhku agar diriku tidak kabur dibawa angin. Jadi dalam ilmu meringankan tubuh sebetulnya terdapat jurus pemberat badan, bahkan pernah kudengar cerita tentang seorang pendekar yang mempunyai ilmu pemberat badan, sehingga tubuhnya bergeming begitu rupa bagaikan seonggok batu gunung ketika menghadapi barisan gajah. Namun tentang hal itu biarkanlah kuceritakan nanti karena di bawah itu kulihat Amrita yang tergeletak di dalam selimut tampak pucat, begitu pucat, sangat pucat, bagaikan tiada lagi yang lebih pucat. Aku heran, mengapa tidak ada yang bisa dilakukan Pangeran Kelelawar itu untuk menolongnya? Tidakkah semestinya dengan penyaluran tenaga dalam maka Amrita dapat setidaknya terhangatkan dan bertahan di atas Puncak Tiga Rembulan yang betapapun memang dingin tak tertahankan itu?

Manusia biasa boleh membeku, tetapi untuk apa para pendekar memiliki tenaga dalam, jika tidak dapat menahan dingin melalui olah pernapasan mereka yang boleh dikatakan nyaris sempurna? Aku turun tepat di hadapan Amrita dan ia tetap saja hanya tersenyum, tetapi kini dengan air mata berlinang-linang... Aku mendekatinya dan memegang urat nadi di tangannya.

"Bagaimana keadaanmu?" aku bertanya dalam bahasa Sansekerta.

Sekali lagi ia hanya tersenyum lemah dengan air mata mengalir ke pipi. Astaga. Ia tidak dapat berbicara! Apakah yang telah terjadi?

Maka segera kulakukan penyapuan dengan tenaga prana ke seluruh tubuhnya. Penyapuan adalah cara pembersihan, tetapi juga dapat digunakan untuk memberi tenaga dan membagikan kelebihan prana. Pembersihan yang dilakukan ke seluruh darah dan daging tubuh disebut penyapuan umum, sedangkan yang berada di bagian tubuh tertentu disebut penyapuan setempat. Kulakukan penyapuan umum ke seluruh tubuh Amrita. Kubuka selimutnya, lantas kucakupkan tangan dalam jarak sejengkal di atas kepalanya. Aku tidak menyentuhnya, tetapi mempertahankan jarak yang lebih rendah lagi di se luruh tubuhnya ketika tanganku bergerak menyapu. Dengan tangan tetap melengkung, kusapukan tanganku perlahan-lahan ke bawah dari kepala ke kaki mengikuti suatu garis, kemudian kembali sampai ke lutut, lantas membuang limbah pembersihan itu ke bawah kaki. Begitulah diulang berkali-kali dengan cakupan kedua tangan yang setiap kali mengulang diperlebar jaraknya. Setiap kali lim bah pembersihan memang harus dibuang ke bawah kaki, untuk menghindari agar tidak masuk lagi dan menjadi racun ketika tangan kembali naik ke tubuh bagian atas. Jika tidak dilakukan, bahkan tubuhku sendiri akan keracunan oleh limbah penyapuan itu, yakni bahwa jari-jariku sendiri, juga tangan dan telapak tangan, akan menjadi sakit dan tubuh melemah, akan mengalami kesakitan yang sama seperti Amrita.

Lantas kubalikkan tubuhnya, kusapu lagi dengan tangan tetap berjarak dari tubuhnya pada punggung ke bawah, dengan cara yang masih sama. Kupusatkan perhatianku dan kuteguhkan niatku, karena hanya dengan pendekatan ini penyapuan akan berhasil. Setelah semua limbah terbuang ke bawah kaki, Amrita pun tertidur. Untuk itu kulakukan gerakan untuk membangunkannya kembali, dengan menyapukan kembali tangan ke atas, tetapi yang tidak lagi untuk melakukan pembersihan. Jika tadi limbah belum kubuang ke bawah kaki, limbah itu akan terbawa kembali saat tangan bergerak kembali ke atas, dan bisa berpindah atau menetap di daerah kepala, sehingga membuatnya bertambah sakit.

Penyapuanku itu telah menutup prana yang bocor. Agaknya dalam usaha penyembuhan Amrita, ketika menyalurkan tenaga dalamnya Pendekar Kelelawar tidak melakukan penyapuan dalam tubuh Amrita lebih dahulu. Sentuhanku pada titik terlemah yang menjadi terbuka karena Jurus Penjerat Naga telah membuka lubang yang dilalui prana yang bocor. Tanpa menutup lubang itu, penyembuhan sangat lambat, meskipun Amrita diberi daya dengan prana, karena prana hanya akan bocor keluar. Ini yang membuat kesakitan dan kelemahan akan kembali, hanya beberapa saat sesudah disembuhkan atau tenaganya dikembalikan.

BEGITU lemahnya Putri Amrita sehingga ia tidak dapat berbicara. Betapapun kelak kuketahui betapa Amrita sendiri tidak pernah mengampuni musuh-musuhnya, kurasa aku sama sekali tidak menyesal telah menyembuhkan dia. Sebaliknya, tidak dapat kubayangkan apa yang akan terjadi jika di Puncak Tiga Rembulan ini nyawanya pergi tanpa sempat kutolong lagi.

Amrita membuka mata, dan segera terasakan adanya suatu getaran dalam dadaku. Ia mengulurkan tangannya dan kusambut tangan itu, yang ternyata ketika tersentuh begitu lembut seperti kapas. Itulah tangan terindah yang pernah kutemui di dunia ini, dengan jari-jari kecil yang bagaikan begitu mudah terkulai, dengan kuku-kuku bening di atas kulit kuning nan langsat, yang kini keemasan karena cahaya matahari. Kuangkat tangan kiriku dalam kedudukan Menggapai Langit dalam penyerapan prana matahari, sebagai chakra yang menyalurkannya ke tubuh Amrita melalui tangan kananku. Ia pun lantas memejamkan mata lagi, tetapi tidak untuk tidur melainkan agar prana mengalir ke dalam dirinya dengan lancar.

Namun kami hanyalah dua manusia saja di Puncak Tiga Rembulan yang sunyi dengan angin yang bertiup dingin dan sangat menggigilkan. Apakah yang harus menjadi alasan bagi kedua manusia itu, yang seorang lelaki dan yang lain perempuan, untuk tidak berbagi kehangatan? Aku memegang tangannya yang lembut halus mulus dengan maksud memberikan penyembuhan, tetapi tidaklah kuingkari betapa aku merasakan getaran manakala tangannya menyambutku dengan tatapan berbinar penuh kebahagiaan. Pikiran bahwa perempuan ini telah dan akan membunuh siapa pun yang kiranya dia anggap lawan menguap dari kepalaku. Aku hanya merasakan getaran, semacam kebahagiaan, yang tidak kutahu namanya dalam perbendaharaan bahasa, karena tentulah ada kata lain selain asmara...

Matahari bersinar terang, tetapi apakah yang masih diharapkan dari sebuah tempat di ketinggian yang begitu tingginya sehingga menembus mega-mega bagaikan tempat dewa-dewa bersemayam? Namun tidak ada dewa-dewa di sini, hanya kami berdua yang sedang berbagi kehangatan dengan tenaga prana, yang jika untuk pertama merupakan penyembuhan, maka yang kedua dengan prana matahari terang cuaca, adalah mengembalikan kekuatan. Demikianlah wajahnya yang semula pucat kini kembali bersemu merah, yang kemudian mengalir ke dadanya, ke perutnya, lantas kedua kakinya.

Ia masih memejamkan mata, dan kulihat wajahnya tersenyum, tetapi ini bukanlah senyuman seperti yang kulihat pertama kali dengan air mata membasahi pipi itu. Ini adalah senyuman karena memikirkan sesuatu yang menggelikan, mungkin membahagiakan, tetapi aku lebih merasakannya sebagai rencana petualangan.

Amrita yang pucat tanpa darah dan tidak berdaya tentu berbeda dari Amrita yang telah memiliki kembali segenap kekuatannya. Lubang kebocoran prana kutahu sudah tertutup, tiada lagi masalah bagi Amrita, meski matanya masih terpejam dengan tangan tetap memegang tanganku. Sebaliknya, kini kurasakan kehangatan tertentu merasuki se luruh tubuhku. Apa yang harus kulakukan di puncak tertinggi tanah Khmer ini, dengan seorang perempuan terkapar yang telah kusingkapkan selimutnya, tertatap dadanya, dan masih mengenakan busana seperti yang kusaksikan di pelabuhan, yakni terbuat dari cita nan tembus pandang?

Di Puncak Tiga Rembulan ini, aku hanyalah seorang lelaki yang sendirian saja, jauh di tanah terasing dan tiada mengenal seorang pun dalam perjalanan dari keterasingan yang satu ke keterasingan yang lain, tetapi kini seorang perempuan muda yang indah, perkasa, serta matang tubuhnya tergolek dan terbuka di hadapanku. Amrita meremas tanganku, kuremas pula tangannya. Tangannya menarikku dan tidak kulawan sama sekali sehingga aku terjerembab di atas tubuhnya. Kedua tangannya menekan punggungku dan aku tidak bisa bergerak lagi karena kedua kakinya menjepit dan mengunci pinggangku.

''Pendekar Tanpa Nama,'' katanya dalam bahasa Sansekerta, ''salurkanlah tenaga prana dari mulutmu melalui mulutku. ''

Maka bibirnya pun segera mengunci bibirku. Aku tidak berdaya, tetapi sungguh aku menyukainya.

(Oo-dwkz-oO)