-->

Nagabumi Eps 106: Buddha dan Dua Pedang

Eps 106: Buddha dan Dua Pedang

SEKARANG aku tahu kenapa tempat ini disebut Puncak T iga Rembulan, entah gejala alam macam apa telah menggandakan rembulan yang purnama menjadi tiga, hanya pada malam bulan purnama, dan hanya setelah seseorang melihat ketiga tiang itu menjadi satu dari sebuah titik dengan sudut pandang tertentu, yakni ketika tiga tiang tersebut berada dalam satu garis lurus.

Namun, pada malam bulan purnama di Puncak Tiga Rembulan, bukan hanya rembulan yang tergandakan menjadi tiga. Pengetahuan atas perubahan yang dimungkinkan selama malam bulan purnama, telah dimanfaatkan adik seperguruan Naga Bawah Tanah yang ternyata disebut Pangeran Kelelawar itu, untuk menggandakan dirinya juga menjadi tiga. Ketika perasaan terpesonaku belum lagi hilang, tiga titik hitam melayang ke bawah, langsung ke arahku dengan kedua tangan terkembang. Sepasang pedang hitam muncul sendiri dari kedua tanganku. Sebentar kemudian, tiga titik hitam itu menjelma tiga sosok yang berkelebat cepat menyerangku tanpa pernah menyentuh permukaan bumi.

"Pendekar Tanpa Nama," ujarnya dalam bahasa Sansekerta, "Pangeran Kelelawar menyambutmu dan memohon sedikit pelajaran."

"Pangeran Kelelawar terlalu merendah," kataku, "daku yang tiada bernama tak mengenal peradaban, sepantasnya diberi sekadar pelajaran."

Dalam kegelapan, ketiga sosok bergerak cepat, sangat cepat, terlalu cepat, karena bagai tak terlihat dalam bayangan malam. Karena hanya merupakan penggandaan, kedua sosok yang lain mengikuti saja gerakan Pangeran Kelelawar, meski wujud rupanya sungguh bagai pinang dibagi tiga, sehingga memang tiada jelas siapa yang mengikuti dan siapa yang diikuti. Begitulah aku menghadapi satu orang, tetapi yang telah tergandakan menjadi tiga orang dengan ilmu silat yang sama tingginya, ilmu silat yang aneh pula, yakni kemampuan untuk bertarung tanpa menyentuh tanah dalam dingin malam.

Telah banyak kuhadapi pendekar silat dengan tingkat ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi, tetapi setinggi apapun ilmu meringankan tubuh seorang pendekar, tetap saja perlu menyentuh dan menjejak apa pun agar tubuhnya dapat melenting kembali, sehingga dalam kecepatan tinggi ia akan terkesan terbang dan tidak menyentuh tanah meski kenyataannya tetap membutuhkan sesuatu untuk tetap melayang. Maka kutingkatkan kecepatanku agar dapat kusaksikan bagaimana caranya ketiga Pangeran Kelelawar ini terbang melayang dan selalu menyerangku dari atas kepala. Dengan menjadi sama cepat, bahkan lebih cepat, kusaksikan segala sesuatunya dengan lebih jelas.

Setiap orang ternyata memiliki selaput kulit yang terpasang dari pergelangan tangan sampai ke pinggangnya, membentuk sayap yang membuatnya bisa terbang. Mereka bertarung dengan mata tertutup, bukan karena mengandalkan pendengaran, melainkan karena melalui telinganya mereka membaca ruang melalui getaran suara yang terpantul kembali sehingga dapat menandai benda di sekitarnya. Suara yang dikirimkan itu sendiri tidak terdengar, karena matranya di luar wilayah pendengaran manusia.

Sembari menghindari serangan dari tiga jurusan di atas kepala, aku teringat Kitab I lmu Silat Kelelawar dari dalam peti kotak kayu yang pernah kubaca. Aku memang membaca dan memahaminya, tetapi tidak pernah kubayangkan Ilmu Silat Kelelawar akan mungkin dikuasai manusia, karena persyaratan berat yang mesti dilaluinya, antara lain bertapa menggantungkan diri dengan tubuh terbalik seperti kelelawar di atas pohon. Selama masa penggantungan terbalik itulah, berkat ramuan tertentu yang harus dim inum, akan tumbuh selaput kulit di antara pergelangan tangan sampai pinggang, yang akan membuat seseorang memiliki sayap seperti kelelawar. Dengan ilmu meringankan tubuh dan sayap seperti itu manusia dapat memenuhi impiannya untuk terbangODalam hal pemilik Ilmu Silat Kelelawar itu bermukim di Puncak Tiga Rembulan, pada malam bulan purnama ia dapat menggandakan dirinya menjadi tiga dengan cara yang juga telah membuat bulan yang sedang purnama itu menjadi tiga. Kenapa ia menamakan diri atau dinamakan orang sebagai Pangeran? Teringat Amrita, dan kerajaan Fu-nan maupun Tchen-la yang sudah terhapuskan, kuduga mereka sisa-sisa golongan darah biru dari kerajaan yang sudah hilang. Namun setelah mengingat lagi para pengawal yang mengiringi Amrita, tidak mungkin pula Amrita adalah bagian dari bangsawan yang sudah terhapuskan itu.

Kuduga Amrita adalah puteri bangsawan Angkor, jika bukan putri raja yang berguru kepada para pendekar berdarah biru dari kerajaan yang tersingkir. Kerajaan boleh timbul tenggelam di tanah Khmer, tetapi persekutuan antarbangsawan membuat ilmu-ilmu silat langka hanya beredar di antara mereka saja. Dalam beberapa hal, ilmu s ilat juga menjadi syarat dalam pengukuhan kekuasaan. Aku berguling-guling di atas dataran batu untuk menghindari berbagai serangan di bagian atas tubuhku. Kuduga mereka akan kesulitan terbang rendah di atas tanah, tetapi bukan saja mereka mampu melakukannya, bahkan mereka mampu melakukannya dengan kepala di bawah dan kaki di atas. Semula mereka mengandalkan cakar pada jari-jarinya, tetapi kini di kedua tangan masing-masing tergenggam belati panjang yang berkilatan dalam cahaya bulan purnama.

Lentik api dari benturan logam berkilatan bagaikan pesta kembang dan suara dentingannya meruyak kebekuan Puncak Tiga Rembulan. Hmm. Jika yang mengaku adik seperguruannya saja sudah begitu sakti seperti ini, bagaimana pula jika Naga Bawah Tanah mengambil keputusan untuk menampakkan diri? "Pendekar Tanpa Nama, dikau sungguh sakti mandraguna, pantaslah Amrita tak berdaya!iiPangeran Kelelawar sungguh terlalu memuji! Hanya yang sakti mandraguna bisa terbang dan menggandakan dirinya menjadi tiga!iSebetulnya aku malas bertempur sambil berbicara, karena pemusatan pikiran bisa pecah dan titik lemah segera terbuka. Namun kali ini aku senang melayaninya, karena ingin kuketahui sosok yang asal dari ketiganya, sosok yang semula satu dan kini menjadi tiga. Begitu kuketahui sosok mana yang berbicara, dengan kecepatan kilat kuubah permainanku, dari Ilmu Pedang Cahaya Naga menjadi Ilmu Pedang Naga Kembar, dengan tujuan mendesak kedua sosok yang hanya bayangan itu dan menyelesaikannya.

Ketergandaan tiga sosok kuhadapi dengan ketergandaan permainan pedang. Kedua pedang terasa bagaikan empat pedang, sehingga aku masih memiliki sebuah, yang bebas memilih dan menentukan korban. Empat belati panjang segera terlempar dari kedua sosok bayangan, tetapi ketika sembari masih berbaring kedua pedang hitamku melesak ke dalam jantung masing-masing dari keduanya, yang menyembur keluar adalah darah yang sebenarnya. Jadi keduanya bukanlah bayangan ciptaan sihir. Dengan segera pula kedua pedang hitam warisan Raja Pembantai dari Selatan itu telah mengurung Pangeran Kelelawar dengan kedua belati panjangnya. Jika kumasuki Jurus Dua Pedang Menulis Kematian sekarang juga, niscaya riwayatnya segera dapat kutamatkan. Namun kunantikan jurus-jurus pamungkasnya, agar dapat kuserap dengan jurus-jurus yang kelak akan terkenal sebagai Jurus Bayangan Cermin.

Seperti yang kuduga, ia menyerang dengan memanfaatkan kedua sayapnya. Diriku bagaikan terkurung jala hitam dan kedua pedang yang kuayun untuk merobek selaput kulit yang menjadi sayap itu selalu luput mengenainya. Maka kugabungkan Jurus Bayangan Cermin dan Jurus Penjerat Naga. Dengan Jurus Bayangan Cermin terseraplah sudah segenap jurus dalam ilmunya, dan dengan Jurus Penjerat Naga meski aku tetap bergerak membuat ia mengira aku dalam kelemahan terbuka. Saat kedua belatinya bermaksud menggunting leherku, kedua pedangku malah masuk kembali dalam tanganku, karena aku hanya perlu menyorongkan tangan ke depan memberikan kepadanya pukulan Telapak Darah. Ia terlempar ke atas memuntahkan darah. Namun bukannya jatuh, ia mengepakkan sayapnya, terbang ke atas. Aku melesat ke atas dengan kedua pedang yang sudah muncul kembali dari dalam tanganku. Setiap kali sambaran pedangku ditangkisnya, kugunakan dorongan tenaganya sebagai daya melenting ke atas, dengan demikian Pangeran Kelelawar itu selalu bisa kukejar ke atas. Jadi sebetulnya pedangku tidak menyambar untuk membunuh, melainkan untuk ditangkis agar aku bisa melayang ke atas tanpa harus memijak sesuatu. Meski siasatku ini sebetulnya gampang dibaca, tetapi pukulan Telapak Darah telah membuatnya tidak bisa berpikir. Ia seperti menghindariku, seperti ada yang menunggunya di atas, meski dalam pertarungan tingkat tinggi seperti ini tentu aku tidak bisa berpikir terlalu panjang. Pada saat kedua tangannya terbuka kutusukkan pedang hitam yang kehitamannya disebabkan ramuan racun bercampur darah korban. Begitu kuat tusukan pedang di tangan kananku itu ke dadanya, sampai tembus ke punggung, dan menancap pada dinding tiang penyangga bulan. Lantas kutancapkan pula pedang di sebelah kiriku, sehingga ia tertancap makin di dinding itu.

Masalahnya, bagaimana aku bisa melepaskan pedang itu? Selama ini kedua pedang itu me lekat tanpa dim inta, yang membuat aku berpikir tidak akan bisa menganggap diriku sempurna selama keduanya masih mengendon di dalam kedua tanganku. Maka dalam sekejap kuselusuri perbendaharaan ribuan mantra yang berada dalam diriku. Kucari mantra semacam mantra pelepas pedang jika memang kemampuan menyimpan pedang dalam tangan itu merupakan kemampuan sihir. Namun rasanya tidak kutemukan mantra itu. Bagaimana caranya Raja Pembantai dari Selatan memasukkan dan mengeluarkannya, sebelum kemudian memindahkannya ke dalam diriku berikut segenap mantra sihir itu? Aku nyaris merasa putus asa dalam usaha melepaskan sepasang pedang yang setiap kali selalu gagal. Padahal kalau pedang itu masuk kembali ke dalam tanganku, tubuh Pangeran Kelelawar tentu jatuh melayang ke bawah, padahal ia belum lagi mati.

Tentu aku berada dekat sekali dengannya. Nafasnya tinggal satu-satu, karena tenaga dalamnya untuk sementara dapat melawan aliran racun kedua pedang itu. Matanya terus memandangku seperti berusaha mengatakan sesuatu. Namun aku sibuk berusaha melepaskan pedang itu dengan usaha yang sia-sia. Kedua kakiku sampai naik ke dinding batu di samping kiri dan kanan sepasang pedang yang masih menancap di tubuh Pangeran Kelelawar, kutekankan kaki ke dinding itu sambil menarik tubuhku sekuat-kuatnya, seolah- olah dengan cara itu kedua pedang itu bisa terlepas dari tanganku. Begitu kuatnya usahaku menarik diri, sampai kepalaku terdongak ke belakang, begitu rupa sehingga tampak olehku segala pemandangan di bawah.

Kami tertempel di dinding itu pada ketinggian setengah dari keseluruhan tinggi tiang. Rembulan masih purnama, tampak luar biasa luas bagaikan payung dari langit. Kiranya inilah yang menjadi sebab mengapa dari bawah tiang ini bagaikan menyangga rembulan. Namun aku tidak dapat menikmati keindahan itu sebab dipenuhi rasa putus asa karena tidak dapat melepaskan kedua pedang tersebut. Waktu kepalaku tersentak-sentak dalam usaha menarik diri itu terpandang bumi dan langit berganti-ganti. Dalam puncak keputus asaan aku berteriak: "Aaaaaaagggggggghhhhhhhh!"

Lantas aku tenggelam dalam sunyi. Dalam kesunyian segalanya menjadi jelas, begitu jelas, terlalu jelas, lebih jelas dari kejelasan itu sendir

pada tingkat yang murni

tiada pengertian keesaan atau kejamakan dari para Buddha

tiada keesaan

mulanya mereka berbadan tiada kejamakan mirip angkasa

tiada memiliki badan

Saat itulah aku terpental. Lepas! Aku melayang tanpa bobot, jadi meskipun lepas aku tidak jatuh ke bawah. Aku mengambang di hadapan Pangeran Kelelawar yang tertancap oleh kedua pedang itu di dalam dinding batu. Ia masih hidup, dan matanya masih memandangku seperti ingin mengatakan sesuatu. Aku segera menjejak udara dan kembali menempel ke dinding batu dengan ilmu cicak di sebelah Pangeran Kelelawar, karena aku tahu bobot tubuhku akan segera kembali bersama kembalinya kesadaranku.

Angin bertiup, amat sangat dingin. Setelah pertarungan usai alam menghadirkan dirinya kembali. Kami tenggelam dalam kabut. Meski malam bulan purnama, kabut tetap membuat kami taksaling dapat melihat. Kudengar napas- napas terakhirnya yang tersengal.

''Amrita di atas sana, tolonglah...''

Suaranya memang sangat lemah, dan ketika kabut itu pergi, agaknya ia pun ikut pergi. Tubuhnya tergantung dengan sayap kelelawar yang kuncup. Kepalanya tertunduk, darah yang semula mengucur dari tempat kedua pedang itu menancap telah membeku. Tempat ini memang sangat tinggi. Udara sangat tipis. Kulihat serpihan pada bulu mata, janggut, dan kumisnya. Saat menolong Amrita yang tak sadarkan diri waktu itu, kulihat seseorang berkepala botak, kurus kering seperti hanya tinggal kulit membalut tulang, dengan tubuh bongkok yang ditutupi jubah. Kini botaknya tampak sedikit berambut dan jubahnya terlihat berada di dalam, terbungkus busana hitam yang sewarna dengan sayap hitam kelam berbulu yang seperti tumbuh alami antara pergelangan tangan dan pinggangnya. Ia tidak bersayap dan tidak berselimutkan kain hitam ketika muncul di pelabuhan. Bagaimanakah caranya pendeta Buddha ini mengubah dirinya jadi Pangeran Kelelawar? Aku menduga ia mengubah dirinya melalui mantra, tetapi tentu saja aku tidak dapat memastikan.

Ia menggantung di sana, tentu tidak akan terlalu kelihatan dari bawah. Namun apabila kelak seseorang mendaki tebing ini, dengan ilmu c icak atau peralatan untuk mendaki, mungkin Pangeran Kelelawar ini sudah membatu bagaikan sebuah arca yang dipahatkan langsung pada dinding bukit yang sangat curam ini.

Aku menengok ke atas, Amrita berada di atas sana katanya. Jadi kedua elang yang kulihat mengelilingi Puncak Tiga Rembulan tadi siang, bukanlah sepasang elang yang sedang mengawasi anak-anaknya, melainkan seorang putri nan indah rupawan tiada terkira. Bahkan dengan segala ukuran, Puteri Amrita Vighnesvara masih selalu unggul sebagai wujud kecantikan. Di atas sana, yang jaraknya masih setengah bagian dari tempat kematian Pangeran Kelelawar, tidak mungkinkah ia sudah mati kedinginan?

KUINGAT lagi apa yang terjadi ketika berhadapan dengannya di pelabuhan. Titik lemahnya terbuka karena jebakan Jurus Penjerat Naga, yang memang akan membuka bagian terlemah, dan begitu lemahnya sehingga meski hanya kusentuh saja, tanpa tenaga dalam sama sekali, akan memberi akibat yang parah, yakni kematian. Namun karena terhadap Amrita diriku tidak berniat menamatkan riwayat hidupnya di muka bumi ini, maka sentuhanku itu sebenarnyalah merupakan selemah-lemahnya sentuhan, meski tetap saja telah membuat murid Naga Bawah Tanah itu kehilangan kesadaran.

Tentu aku tidak dapat menjamin apakah ia akan tetap hidup jika berada di atas sana, apalagi tanpa seorang pun mengetahuinya, karena kukira mereka memang menyembunyikan diri di sana. Tempat yang tidak akan pernah didatangi manusia, karena udaranya yang begitu tipis dan suhu yang sungguh terlalu dingin bagaikan mampu membekukan darah mengalir. Hmm. Bagaimanakah caranya aku ke sana secepatnya agar dapat menolong Amrita?

(Oo-dwkz-oO)

AKU tidak boleh berpikir terlalu lama. Suhu sedingin ini, yang bahkan embun pun segera membeku bagaikan salju, mungkin saja telah menewaskan Amrita sejak lama. Namun aku tidak dapat mengandalkan ilmu cicak untuk me-rayapi tiang penyangga langit ini, karena pasti masih akan lama untuk sampai ke sana. Jika hanya mengandalkan ilmu cicak, secepat-cepatnya merayap, besok pagi pun belum tentu aku mencapai puncaknya. Sementara itu, jika aku dengan ilmu meringankan tubuh berusaha melenting-lenting sampai ke puncaknya, seperti biasanya jika me layang ke atas jika bertemu dinding tebing yang curang, kini tiada sesuatu yang dapat diinjak untuk me lentingkan aku terus menerus sampai ke atas. Berarti satu-satunya jalan tinggal berlari, berlari miring sepanjang dinding sampai ke atas, dan jika kutancap Jurus Naga Berlari di Atas Langit, maka sebelum fajar kurasa aku sudah akan sampai ke puncak. Masalahnya, kakiku tidak akan berlari di atas dataran yang rata, karena sesungguhnyalah sepanjang tiang hanyalah serpihan batu tajam, yang begitu tajamnya sehingga jika kulit manusia menyentuhnya, meski tenaga dalam telah membuatnya sekeras besi dan ilmu meringankan tubuh membuatnya seringan kapas, tetap saja ketajaman serpihan itu akan menembusnya.

Maka, meskipun mampu berlari m iring sepanjang dinding ke arah langit, aku tidaklah mungkin melakukannya jika tidak ingin telapak kakiku hancur. Angin bertiup lagi bagaikan membawa bongkahan-bongkahan es. Aku berkutat menahan dingin. Di sebelahku Pangeran Kelelawar itu membeku. Kulihat sayapnya yang kuncup, dan aku segera mendapat akal. Kusalurkan tenaga dalam ke ujung jariku agar dapat memotong selaput kulit yang membentuk sayap kelelawar tersebut. Satu lembar dari sayap kanan dan satu lembar lagi dari sayap kiri. Kulit itu nyaris keras seperti batu, tetapi kusalurkan hawa panas untuk mencairkan es yang telah membekukannya. Dari selaput kulit yang bukan sembarang kulit itulah, yakni selaput kulit sayap Pangeran Kelelawar, kubuat alas bagi telapak kakiku, sehingga aku akan dapat berlari tanpa terluka sama sekali.

Dengan ilmu c icak, punggungku dapat menempel erat pada dinding curam sementara kedua tanganku mengerjakan lembaran-lembaran kulit tersebut, membuat tali daripadanya, dan mengenakan serta mengikatnya sebagai alas kaki yang membungkus serta menutupi sampai ke betisku. Meski terikat secara kasar begitu, selaput kulit tersebut enak jatuhnya di telapak kakiku dan segera kuketahui, bahwa meskipun selaput itu tampaknya lemas dan halus, begitu liat dan kuat sehingga senjata setajam apapun tak akan mampu menembusnya, seperti juga serpihan-serpihan batu setajam gelas sepanjang dinding ini tidak akan segaris pun dapat menggoresnya.

Setelah kujejak-jejakkan sebentar, aku merasa yakin, dan segera melejit berlari miring ke arah langit dengan perasaan berlari di atas dataran batu. Rembulan bagaikan payung raksasa keperakan ketika kabut akhirnya kutembus. Fajar sebentar lagi tiba dan aku berharap cahaya matahari akan sedikit mencairkan kebekuan Puncak Tiga Rembulan yang bagai tidak tertahankan ini. Aku yang berlari dengan Jurus Naga Berlari di Atas Awan ini saja, yang artinya melakukan pengerahan tenaga dalam, masih merasa kedinginan begini rupa, lantas bagaimana pula dengan Amrita yang hanya tergeletak saja dalam kesendirian di atas sana?

Ternyata berlari miring ke atas pada dinding curam Puncak Tiga Rembulan ini bukanlah hal terakhir yang bisa kulakukan sebelum dapat mencapai Amrita. SETENGAH perjalanan dari tempat Pangeran Kelelawar tertancap dua pedang pada dinding batu, artinya tiga perempat bagian jika dihitung dari bawah, saat rembulan memudar dan matahari menyingsing, kedua elang gunung abu-abu yang pernah kulihat terbang berputar-putar di puncaknya itu muncul dan menyambarku silih berganti. Bahwa kedua elang itu bukanlah elang sembarang elang segera bisa kuketahui dari kecepatan sambaran, kekuatan angin sambarannya yang mendesau, dan keras patukan, cakar, dan kibasan sayapnya yang bahkan menghancurkan batu-batu.

Tiada pernah kuduga betapa dalam perjalananku sebagai pencari kesempurnaan dalam dunia persilatan, harus kuhadapi sepasang burung elang terganas dengan sayap-sayap besi, yang memaksaku mengerahkan segenap jurus yang tidak pernah kupakai, karena memang tidak pernah mendapat serangan dalam bentuk seperti ini. Dalam kemiringan dinding curam, aku bertarung melawan dua burung elang ketika cahaya matahari melesat dengan cahayanya yang berkilauan, membuat ketiga tiang raksasa Puncak Tiga Rembulan berkeretap dalam cahaya keemas-emasan.

(Oo-dwkz-oO)