-->

Nagabumi Eps 105: Puncak Tiga Rembulan

Eps 105: Puncak Tiga Rembulan

PANTAI Fu-nan hanya memiliki dua pelabuhan alam i, yaitu muara-muaranya; selebihnya rendah dan berawa-rawa sehingga bukan tempat berlabuh yang bagus. Kota-kota tidak dapat dibangun di tanah yang lembab itu. Supaya para pengembara, penjelajah, dan pedagang-pedagang dapat hidup, bahan makanan mereka harus dibawa dari luar. Jadi dasar seluruh pengaturan dan kemudian perluasan Fu-nan adalah penataan daerah pedalaman negeri itu serta pemanfaatannya dalam pertanian. Mereka yang dianggap guru dalam pertanian didatangkan dari Jambhudvipa, tepatnya dari negeri Tamil di bawa wangsa Pallavas. Atas nasehat mereka orang-orang Fu-nan dapat menggunakan bidang-bidang tanah endapan antara Sungai Bassac dan pantai Teluk Siam. Dari sungai ke arah laut terdapat jaringan berbentuk bintang terdiri atas kanal-kanal yang serba lurus, saling berhubungan dan menuruti kerangka umum timur laut-barat daya.

Kuperhatikan memang air laut dengan mudah masuk ke sungai me lalui muaranya yang lamban arusnya dan melapisi tanah dengan garam, sehingga akibatnya tidak dapat ditanami. Maka jaringan sa luran-sa luran di Funan itu digunakan untuk mengalirkan alur sungai ke arah laut dan sekaligus mencuci tanahnya, sambil membuang air as in dan dengan demikian memberi kemungkinan untuk bertanam padi terapung. Bersama dengan itu, saluran-saluran dibuka untuk angkutan melalui sungai yang melayani se luruh negeri; pokoknya kapal-kapal besar dapat langsung mencapai kota- kota yang didirikan jauh di pedalaman, bahkan mungkin melalui Sungai Bassac dan Sungai Mekong mencapai pantai- pantai di sebelah timur Tanjung Ca-Mau. Di pusat-pusat jaringan yang rum it berdirilah kota-kota besar yang pada masa lalu menimbun se luruh kekayaan Fu- nan. Kota-kota itu dikelilingi oleh beberapa benteng tanah dan parit, yang penuh dengan buaya. Kanal-kanal memasuki kota dan membagi-baginya dalam kampung-kampung kecil, tempat keberadaan rumah-rumah dan toko-toko panggung di samping deretan kapal-kapal, dan mereka semua berserikat sebagai anggota persekutuan dagang. Kini, meskipun Fu-nan telah ditaklukkan Tchen-la, yang pada gilirannya ditaklukkan Angkor pula, masih dapat kubayangkan kebesaran kekuatan dagangnya dan bahwa masyarakatnya terpusat di kota-kota, yang menunjukkan pula betapa besar kekuasaannya. 2

Demikianlah aku memperhatikan dan mempelajari segala sesuatu, selama mencari dan menempuh perjalanan ke Puncak Tiga Rembulan. Perjalanan kemudian lebih sering kutempuh dengan kapal. Berhari-hari kapal berlayar tanpa henti dan perjalanan dengan kapal yang berkelak-kelok menyusuri sungai sering membuat aku melamun. Dalam lamunan itu kadang-kadang aku teringat kembali Amrita dengan jurus takterpakai dalam Jurus Penjerat Naga yang justru dipakainya, yang tidak pernah kuketahui apakah kiranya yang menjadi sebab, apakah ia sekadar mencoba-coba, ataukah memang mendapatkan salinan kitab yang salah. Merajalelanya pencurian kitab ilmu silat di mana-mana di Jawadwipa, telah membuat para penyalin melindungi kitab- kitab langka dari pembelajaran yang tidak dikehendaki dengan cara penulisan rahasia, sehingga pembaca yang tidak mengenali kunci-kunci rahasia tersebut bukan hanya terkecoh, tetapi juga mempelajari dengan cara yang akan mencelakakan dirinya dalam saat-saat genting.

Ada kalanya aku turun dari kapal dan melakukan perjalanan di daratan sebelum naik kembali ke sebuah kapal di pelabuhan lain, karena seorang pengembara sejati memang sebaiknya menyerap sebanyak-banyaknya, dengan memasang telinga serta membuka mata selebar-lebarnya, jika ingin perjalanannya tidak terlalu sia-sia. Begitulah kupelajari bahwa tahun 503, raja yang bernama Kaundiya-Jayawarman mengirimkan sebuah arca Buddha dari batu karang dan sebuah stupa dari gading kepada maharaja Negeri Atap Langit, sedangkan seorang ratu Fu-nan mendirikan patung- patung dari perunggu yang dilapisi emas. Tentu juga menarik bagiku untuk melihat berbagai benda yang berasal dari luar Fu-nan, tetapi telah mengembangkan kesenian Fu-nan, di samping menunjukkan masalalu Fu-nan sebagai tempat persinggahan dan pertemuan antarbangsa, dalam suatu kegiatan dagang yang sibuk. 4) Karya-karya dari Jambhudvipa misalnya, sebuah kepala arca Buddha gaya Gandhara di Ba- the yang jelas tua, perhiasan emas, cincin-cincin yang dihiasi sapi berpunuk, atau juga cincin stempel yang ditulisi istilah- istilah dagang dalam bahasa Sansekerta berabjad brahmi.

BENDA-BENDA itu berasal dari masa 600 tahun sampai 200 tahun lalu, tulisannya terdapat pada batu yang keras, karena cara cukilan tampaknya pernah sangat digemari di wilayah itu. Dengan cara cukilan itu terbentuk juga gambar-gambar seperti seorang perempuan yang sedang mempersembahkan air suci di atas altar untuk memuja api atau sejumlah jimat dari timah, menunjukkan lambang ajaran Visnu atau Siva, sebagai tanda keberadaan igama-igama dari Jambhudvipa di Fu-nan. Selain benda-benda dari Jambhudvipa, juga kusaksikan benda-benda dari Negeri Atap Langit, seperti cermin dari perunggu semasa wangsa Han, patung-patung Buddha yang kecil, juga dari perunggu, tampaknya dari masa wangsa Wei; bahkan juga benda-benda dari suatu negeri jauh yang disebut Romawi, seperti medali emas cetakan tahun 152 dari Maharaja Antonius yang Saleh, maupun medali emas lain dari masa Maharaja Marcus-Aurelius. Tampak juga kemudian gambar cukilan pada batu seperti gambar ayam jago di atas kereta yang ditarik oleh tikus, dan kemudian gambar-gambar percumbuan, yang secara berturut-turut berasal dari masa 600 tahun sampai 400 tahun lalu. Tidak dapat kubayangkan betapa ramainya Fu-nan pada masa-masa itu, bahkan kulihat pula dari kejauhan di rumah seorang pejabat tinggi, sebentuk benda kaca biru memperlihatkan seorang tokoh kerajaan sedang mencium bunga, yang tampaknya berasal dari wangsa Sasan. Aku tidak perlu heran tentunya, jika sempat kulihat gerabah yang berasal dari sebuah negeri yang disebut Yunani di kapal Naga Laut waktu itu, yang katanya dibelinya di Semenanjung Melayu. Dhawa, yang telah meninggalkan aku karena mengikuti Naga Laut, pernah bercerita tentang lampu perunggu indah yang dihias i Silenos dari masa Ptolemaus, maupun lampu-lampu dari gerabah dari Romawi, di sebuah tempat bernama Pong Tuk di Siam. Aku menghela nafas, dunia bagai terpampatkan di Fu-nan.

Pada sebuah kapal, aku teringat Amrita. Bagaimanakah sebuah salinan dari Kitab Jurus Penjerat Naga sampai kepadanya? Kitab itu keterangan gambar-gambarnya ditulis dengan huruf Jawa, dalam bahasa Jawa pula. Pasti terdapat peranan seseorang yang berasal dari Jawadwipa dalam perjalanan kitab itu. Apakah itu seorang pencuri kitab? Dalam perjalanan di tanah Khmer ini aku mempelajari bahasanya sedikit demi sedikit, asal bisa untuk percakapan sehari-hari, sambil mempelajari aksaranya pula, dan tahu bahwa bahasa dan huruf Jawa bukan takdikenal di sana, setidaknya di kalangan mereka yang membaca dan menulis. Kuingat kembali poros jalur pelayaran yang hanya lurus saja dari Jawadwipa ke Teluk Siam. Sebenarnya aku tidak berada di sebuah negeri yang terlalu as ing, tetapi seberapa banyak orang Jawa menjelajah masuk sampai ke pedalamannya?

Aku teringat kembali gambar-gambar percumbuan itu, gambar-gambar yang tercukil pada batu itu dalam kepalaku sering bergerak dengan sosok Amrita sebagai gantinya. Kupertanyakan kepada diriku sendiri, apakah aku menjelajahi tanah Khmer ini untuk melayani tantangan adik seperguruan tokoh yang bernama Naga Bawah Tanah, ataukah karena kemungkinannya bertemu lagi dengan Amrita? Bagaimana jika ia berhasil memperbaiki kembali Jurus Penjerat Naga itu dan menantangku kembali? Perempuan muda seperti Amrita, kerasnya kepala mereka bukan pula perkara yang membuatku harus merasa asing pula. Entah kenapa aku teringat kedua orangtuaku, yang demi persiapan menghadapi naga yang manapun jua memilih untuk menciptakan Ilmu Pedang Naga Kembar daripada mempelajari dan menggunakan Jurus Penjerat Naga meskipun mereka memilikinya. Darimanakah kiranya mereka mendapatkan Kitab Jurus Penjerat Naga, yang semenjak sebelas tahun lalu kutinggalkan di Balinawang itu?

Aku belum selesai dengan pertanyaan-pertanyaanku, ketika kapal merapat di sebuah pelabuhan di tepi sungai.

"Dikau lihat tiga puncak itu? Berjalanlah lurus saja ke arahnya, maka akhirnya dikau akan tiba di Puncak Tiga Rembulan."

BULAN purnama masih lima hari lagi, apakah Puncak Tiga Rembulan dapat kucapai dalam lima hari perjalanan? Berjalan lurus dalam hal ini tidak berarti terdapat jalan yang betul-betul lurus. Namun kuturuti saja langkah kakiku, selama langkah kakiku mengarah ke tiga puncak tersebut. Tiada lagi sungai yang bisa dilayari menuju ke sana, karena arahnya yang semakin mendaki dan berbatu-batu pula. Meninggalkan sawah dan pemukiman, aku memasuki hutan dan mencari sungai untuk menyusurinya sampai ke atas. Apakah sebaiknya aku menggunakan Jurus Naga Berlari di Atas Langit? Dalam salah satu kitab ilmu silat yang pernah kubaca, disebutkan bahwa semakin cepat kita kenali gelanggang pertarungan, semakin lama kita berada di dekatnya, akan semakin berkurang pula perasaan terasing kita, ketika harus berada di tempat tak dikenal, menghadapi orang yang juga belum dikenal, dengan ilmu s ilat yang bahkan belum pernah terlihat.

Namun aku tetap saja berjalan seperti biasa, melangkahkan kaki satu persatu, sebentar tunduk sebentar terangkat, dan tertatap ketiga tiang batu yang menjulang ke langit, yang kadang tertutup kabut sehingga tidak kelihatan sampai lama sekali, tetapi sebentar kemudian muncul kembali. Puncak Tiga Rembulan memang tampak anggun, dan begitu hidup ketika matahari yang naik di belakang ketiga puncak itu membuat ketiga tiang itu bagaikan bergerak-gerak. Kilatan cahaya bagaikan berdenting. Hutan berderak-derak. Aku melangkah di atas tumpukan daun-daun yang basah, sembari mempertahankan jarakku dari sungai, dengan perkiraan berdasarkan pendengaranku sahaja. Apabila kemudian tiada lagi jalan yang bisa kutempuh, karena di hadapanku hanya terdapat dinding lereng yang penuh dengan lumut serba licin, kuturuti saja jalan sungai itu, dengan segala dahan melintang dan lorong gua yang harus kulewati karena itu.

Kukira hutan ini pun tidak pernah dirambah oleh orang- orang Khmer. Ini bukan soal Jawa atau Khmer. Ini soal manusia dan hutan. Ada hutan yang memang dirambah manusia untuk berburu, mencari kayu, dan tumbuh- tumbuhan; ada hutan ada kebudayaan, aku harus siap merasa kesepian dalam kesendirian di hutan tanpa jejak manusia selain jejak waktu yang menumbuhkan alam. Namun kapankah kiranya aku akan kesepian? Sudah kukatakan aku berjalan dengan kepala yang kadang tengadah dan kadang menunduk. Pada saat tengadah, tidak se lalu terlihat Puncak Tiga Rembulan karena semakin rapatnya hutan itu, tetapi apabila aku berhasil merayap ke tempat yang lebih tinggi, dan melampaui ketinggian hutan, tampaklah kembali tiang-tiang raksasa yang seolah menembus mega itu. Di manakah adik seperguruan Naga Bawah Tanah itu menantangku bertarung? Di bawah tiang atau di puncak tiang batu itu?

Pada saat berjalan menunduk kulihat sebagian dari diriku sendiri. Sepasang kaki tanpa alas, kancut kumal yang tidak berwarna lagi, dan sekadar kain penahan dingin yang kuselempangkan menutup bagian atas tubuhku. Tidak bisa kulihat diriku sendiri, tetapi dapat kuraba wajah dan kepalaku. Kukira wajahku sudah tidak bisa lagi dilihat secara langsung. Semenjak terapung-apung di laut bersama Puteri Asoka, aku belum pernah bersentuhan dengan pisau cukur sama sekali. Rambutku yang kasar kuikat dengan tali kulit seperti yang dikenakan awak kapal Naga Laut, tetapi karena sudah sangat panjang, ujung-ujungnya menjuntai di atas bahu, melebar liar bagaikan orang tidak beradab, yang tidak berkasta dan menjadi gelandangan di jalan-jalan kota.

Betapapun harus kuceritakan bahwa diriku ini tetap mandi setiap hari. Masalahnya, di tanah orang-orang Khmer ini aku tidak mudah menemukan daun lidah buaya, atau daun lain yang bisa menggantikan lidah buaya tersebut. Dalam perjalanan tidak dapat kutanyakan hal itu di sembarang tempat, karena jika keberadaan diriku sebagai orang asing terlalu kentara, hanya akan memancing pemerasan dan perampokan. Memang aku tidak memiliki harta benda lagi, semenjak peristiwa pecahnya kapal Samudragni, tetapi penangkapan manusia tak dikenal untuk dijadikan budak sangatlah mungkin. Adapun aku selalu menghindari keributan dengan orang awam, apalagi orang awam di sebuah negeri tempat diriku adalah seorang as ing. Jadi tidak ingin kupersulit diriku dengan pertanyaan tentang daun pencuci rambut.

Orang-orang asing hanya bebas di pelabuhan, penginapan, kedai, atau rumah-rumah pelacuran, yang semuanya berdekatan. Di luar pelabuhan, selama terdapat tempat- tempat tersebut, orang-orang asing tentu merasakan itu sebagai rumahnya.

MESKIPUN orang Jawa meninggalkan luka dalam serangan mereka yang kejam, tidak berarti semua orang Jawa yang sebelum dan sesudahnya berada di sana dimusuhi, bahkan tak jarang kulihat pengaruh seni arca dan gaya bangunan candi wangsa Syailendra di sana. Pada gilirannya mereka berbaur dan beranak pinak, dan tidak melupakan asal usul mereka. Ini membuat orang-orang Jawa maupun Sriwijaya dari Samudradwipa yang mereka samakan begitu saja, termasuk di antara orang-orang asing yang tidak dianggap terlalu asing di tempat-tempat pertemuan antarbangsa tersebut.

Masalahnya aku belum sempat tinggal terlalu lama di tempat-tempat itu selain untuk makan dan minum sekadarnya, antara lain karena aku terus-menerus memikirkan Amrita. Serasa masih terhirup olehku aroma yang meruap dari tubuhnya, dan meskipun sebagai pencari kesempurnaan di dunia persilatan seharusnya kupersiapkan diriku menghadapi adik seperguruan Naga Bawah Tanah, bahkan Naga Bawah Tanah itu sendiri, meski katanya tidak pernah menampakkan diri, aku hanya teringat kepada Amrita. Bukan dalam kedudukannya sebagai lawan dalam pertarungan yang belum usai, melainkan sebagai perempuan yang telah membuat diriku melupakan segala hal se lain kembali merasakan punya tubuh. Setiap kali teringat Amrita dengan perasaan masygul aku teringat juga kepada Harini yang telah membacakan dan menguji coba Kama Sutra. Alangkah jauhnya kini terasa Balinawang!

Namun kemudian, menjelang hari pertemuan, setelah merayapi sebuah jurang dengan ilmu cicak, karena tiada pijakan untuk kaki jika ingin melenting ringan dari batu ke batu maupun dari dahan ke dahan, bahkan bibir jurang itu melengkung begitu rupa sampai punggungku menghadap ke bumi, tibalah aku di Puncak Tiga Rembulan.

Dalam desis angin dingin, aku menahan napas, mega-mega sedang berarak melewatinya. Begitu tinggikah tempat ini? Hanya mengandalkan kain yang bahkan tidak cukup untuk seluruh tubuhku, tentu saja aku bisa mati membeku. Hanya karena tenaga dalam yang kusalurkan melalui pernapasan ke seluruh tubuh saja lah, maka udara dingin ini bagaikan tiada berarti. Kulihat burung elang yang kelabu, melayang tanpa mengepakkan sayap mengelilingi Puncak Tiga Rembulan. Hari masih siang, tetapi cahaya matahari bagaikan dise laputi tabir, sehingga hanya kekelabuan yang pekat, sepekat-pekatnya kelabu yang paling kelabu yang paling mungkin dari kekelabuan yang membuat tempat itu menjadi serbakelabu.

Kukitari tempat itu dan kusadari betapa besar tiang-tiang raksasa yang membentuk Puncak Tiga Rembulan itu dan memanglah harus begitu besarnya karena dari zaman ke zaman tentu sempatlah suatu ketika gempa melewati dan menggoyangnya tetapi karena memang kokoh tiada terkira maka sampai hari ini kulihat tiang-tiang itu masih saja ada. Puncak Tiga Rembulan, bentuknya terjal, seluruh sisinya penuh batu-batu tajam menceruat, tetapi begitu curamnya dinding setiap tiang sehingga Puncak Tiga Rembulan benar- benar merupakan tiang yang menembus mega bagaikan menyangga langit. Hmm. Sementara ini aku merasa lebih tepat disebut Tiga Penyangga Langit. Aku mendekat dan meraba dindingnya, dalam dingin udara yang membekukan darah, kurasakan serpihan-serpihan batu itu tajam seperti pecahan gelas. Tanpa ilmu meringankan tubuh yang tinggi, kaki hanya akan melesak dalam ketajaman pisau.

KUTATAP ke atas. Burung elang itu masih melingkar-lingkar di sekitar tiga tiang, kini bahkan sepasang. Mungkinkah di puncaknya terdapat sarang anak-anak mereka? Jika di atas sana terdapat sarang burung elang dan anak-anaknya, tidak mungkinlah adik seperguruan Naga Bawah Tanah itu mengajakku bertarung di atas sana? Di manakah kami akan bertarung? Apakah kiranya keuntungan yang akan didapatkan adik seperguruan Naga Bawah Tanah itu di tempat ini?

Lantas malam tiba dan rembulan muncul. Kukelilingi tempat itu sekali lagi sebelum penantangku itu muncul, karena aku tidak tahu jenis ilmu silat macam apa kiranya yang akan kuhadapi. Gelar naga yang telah diterima Naga Bawah Tanah yang tak pernah muncul itu, kemungkinan karena tiada lagi tandingannya, menjelaskan kedigdayaannya. Jika ia mengaku sebagai adik seperguruan, tentu ilmunya tidak akan terpaut terlalu jauh. Adapun Amrita yang tentu ilmu silatnya masih berada di bawah paman gurunya saja sudah begitu saktinya, bagaimana pula harus kuhadapi paman gurunya ini?

Begitulah aku me lamun sembari melangkah berkeliling di daerah berbatu-batu itu. Kabut datang dan pergi menutupi cahaya bulan purnama. Kuperhatikan serat kabut yang mengertap lemah dalam sepuhan lembut purnama itu. Kemudian ketika mendongak ke atas kumengerti makna nama Puncak Tiga Rembulan tersebut. Kukira inilah keajaiban dunia yang tersembunyi dari mata manusia.

Jika kita mengelilingi tiga tiang sebesar bukit yang menjulang ke langit itu, terdapatlah suatu titik yang menempatkan ketiga tiang tersebut dalam satu garis lurus, dan dari sudut pandang tersebut tentu saja seolah-olah hanya terdapat satu tiang. Ketika bulan purnama tiba, maka dari sudut pandang ini akan terlihat pemandangan tiang menyangga rembulan. Betapapun indahnya pemandangan ini, di manakah kiranya keajaibannya?

Aku masih harus berjalan terus, meninggalkan titik yang membuat ketiga tiang itu berada dalam satu garis lurus dan tampak bagaikan satu tiang menyangga sebuah rembulan dalam keadaan purnama. Saat kutinggalkan titik itu, yang semula tampak sebagai satu tiang segera menjadi tiga kembali, tetapi kali ini masing-masing menyangga sebuah rembulan di atasnya...

(Oo-dwkz-oO)