-->

Nagabumi Eps 103: Murid yang Datang Pagi Hari

Eps 103: Murid yang Datang Pagi Hari

PEREMPUAN pendekar itu masih membutuhkan waktu sehari semalam untuk mencapai Perguruan Harimau Kencana, bukan saja karena binatang-binatang buas aneka rupa masih terus berusaha menyergapnya di dalam hutan gelap nan pekat apalagi kalau malam itu, tetapi karena setelah murid-muridnya habis terbunuh Tiga Harimau telah menempatkan Penjaga Bayangan yang diciptakan me lalui mantra sihir. Para Penjaga Bayangan akan berlaku seperti Pengawal Harimau, yakni mencegat dan menyerang setiap orang yang memasuki hutan dengan tujuan mencari jalan ke Perguruan Harimau Kencana. Sebagaimana layaknya ciptaan sihir, Penjaga Bayangan ini akan tampak dengan sendirinya dan langsung menyerang begitu wilayah penjagaannya dimasuki orang asing. Meski hanya ciptaan sihir dan disebut Penjaga Bayangan, mereka yang ilmu silatnya lebih rendah tetap akan terbunuh oleh senjata para Penjaga Bayangan. Sebaliknya, jika ilmu silat para perambah hutan lebih tinggi, pada saat kelemahan terbuka para Penjaga Bayangan menjadi sasaran, mereka akan lenyap begitu saja.

Demikianlah perempuan pendekar ini telah berjalan dalam kegelapan dan kerapatan hutan semalaman sembari setiap kali memapaskan kedua senjatanya menghadapi para Penjaga Bayangan. Mereka menyerang satu persatu dari segala sudut dan segala penjuru dengan jurus-jurus mematikan yang semuanya dapat ditangkal sang perempuan pendekar. Sepanjang malam ia hanya berjalan ke satu arah, lurus dan mendaki, karena semua orang tahu Perguruan Harimau Kencana terletak di lereng gunung berapi. Ia berjalan, berjalan, dan berjalan sembari terus menyabet dan menghindar ke kiri dan ke kanan. Para Penjaga Bayangan begitu lincah karena memang hanya bayangan, tetapi ilmu silat perempuan pendekar ini tampaknya begitu tinggi, sehingga secepat apa pun para Penjaga Bayangan bergerak, perempuan pendekar itu berkelebat lebih cepat lagi. Dengan kecepatan seperti itu ia selalu lebih dulu mampu menyentuh titik lemah para Penjaga Bayangan, yang segera lenyap menguap tiada tentu rimbanya.

Kadang pedangnya lebih dulu mencapai jantung, kadang kapaknya lebih dulu mencapai leher, semua itu dilakukannya sambil terus melangkah maju. Para Penjaga Bayangan hanyalah sosok-sosok hitam seperti orang, tetapi tiada berwajah sama sekali. Mungkinkah karena itu pula sang pendekar perempuan bertempur tanpa merasa perlu melihat wajah mereka sama sekali? Ia bergerak sangat amat cepat, yang hanya memancing secara terus-menerus para Penjaga Bayangan ini, karena setiap kali yang satu mati segera muncul yang lain lagi. Ketika pagi tiba, tidak kurang dari 3000 sosok Penjaga Bayangan yang telah dibunuhnya. Seandainya semua itu manusia sesungguhnya, bisakah dibayangkan betapa darah akan bersimbah pada senjata dan sekujur tubuhnya? Sihir ada batasnya. Masing-masing dari Tiga Harimau itu telah menciptakan 1000 sosok Penjaga Bayangan yang semuanya telah dikalahkan. Maka tidak ada lagi yang bisa menghalangi langkah perempuan pendekar ini.

Matahari telah muncul dari balik Gunung Semeru ketika perempuan pendekar ini akhirnya muncul dari dalam hutan, melangkah ke tengah lapangan yang dikelilingi tiga rumah panjang itu. Dari dalam rumah-panjangnya masing-masing, Harimau Putih, Harimau Hitam, dan Harimau Merah yang baru saja membuka mata dari samadhi pagi menyaksikan seorang perempuan yang ditimpa cahaya. Dari ketiga sisi, cahaya menyepuh tubuh tembaga perempuan itu, yang telah mengatasi 3.000 sosok Penjaga Bayangan sepanjang malam, yang kini melangkah ke tengah lapangan dengan pedang di tangan kanan dan kapak tergantung di pinggang. Sampai di tengah lapangan ia lepaskan kedua senjatanya ke tanah sebagai tanda tak ingin bermusuhan, lantas duduk bersimpuh sebagai tanda permohonan untuk menjadi murid perguruan.

Tiga Harimau menyadari betapa calon murid yang datang kali ini bukanlah sembarang orang yang menyoren pedang.

"SEHARUSNYA ia datang untuk meminta pertarungan," pikir Harimau Putih, "bukan datang untuk berguru. Benarkah ia memang ingin berguru?"

"Seorang perempuan yang telah menembus hutan dan mengalahkan 3.000 sosok Penjaga Bayangan adalah hal terbaik bagi sebuah perguruan di dalam hutan," pikir Harimau Hitam, yang merasa sangat berminat untuk memberi pelajaran.

"Perempuan pendekar yang gagah perkasa dan menarik pula, semoga Kakak Harimau Putih menyerahkannya kepadaku, siapa tahu aku bisa menidurinya." Malang bagi Perguruan Harimau Kencana, karena calon murid yang datang pagi hari ini sebenarnya seorang pencuri kitab tingkat tinggi, yang demi pekerjaannya bersedia memberikan segala-galanya demi keberhasilan tugasnya.

Betapa Tiga Harimau tidak akan mengangkatnya jadi murid, jika setelah tiga hari dan tiga malam perempuan berkulit tembaga ini masih juga bertahan dan bersimpuh di tempatnya dalam panas maupun hujan?

"Jika dia masih tahan sehari lagi, aku sendiri yang akan mengambilnya sebagai murid," ujar Harimau Putih yang sangat terkesan kepada perempuan ini.

Biasanya siapa pun yang muncul dari dalam hutan setelah mengalahkan para Pengawal Harimau langsung diterima sebagai murid, tetapi yang dikalahkan perempuan ini adalah

3.000 sosok Penjaga Bayangan, mungkin Harimau Putih

merasa untuk orang hebat harus diberikan ujian yang lebih berat.

Di antara Tiga Harimau, sebetulnya Harimau Putih adalah yang paling bijak dan paling hati-hati, tetapi rupanya ia telah jatuh hati.

"Mungkin karena inilah perempuan pertama yang tiba di Perguruan Harimau Kencana," ujar pencerita di dalam kedai itu.

Tidak kuingat apakah ia bercerita juga tentang perempuan yang melahirkan anak-anak Harimau Kencana.

Demikianlah, karena perempuan itu masih juga bersimpuh tanpa bergerak sedikit pun di tengah lapangan setelah hujan semalaman, yang berarti telah dilampaui malam keempat, Harimau Putih menepati janji kepada dirinya sendiri. Apalagi perempuan itu memang rela melepaskan segenap ilmu silat yang telah dikuasa inya, yang merupakan syarat pembelajaran Ilmu Silat Harimau Kencana. (Oo-dwkz-oO)

SELAMA menjadi murid Harimau Putih, perempuan itu tinggal di rumah-panjang Harimau Putih pula yang menghadap langsung ke hutan. Seperti murid yang lain ia pun mendapat tugas untuk berlaku sebagai Pengawal Harimau, yakni menyergap dan menyerang siapa pun yang memasuki hutan dan mencari-cari jalan menuju ke perguruan. Kemampuannya yang tinggi te lah membuat ia selalu berhasil dengan tugasnya. Meskipun sudah dilepaskannya ilmu pedang dan kapak yang dikuasainya sebelum menerima Ilmu Silat Harimau Kencana, apa pun yang telah dipelajarinya dengan cepat lebih dari cukup untuk mengalahkan dan menamatkan riwayat mereka yang sedang mencari jalan, sehingga untuk beberapa lama tiada lagi yang merambah hutan di lereng Gunung Semeru itu.

Kepandaiannya yang tinggi sempat membuat Tiga Harimau waswas. Mereka pernah membicarakan masalah tersebut.

"Kakak Harimau Putih, perempuan ini sangat pandai, dengan sangat cepat telah dikuasainya sepertiga ilmu yang Kakak turunkan. Mungkinkah ia seorang mata-mata yang sedang menipu kita?"

Ini diucapkan Harimau Hitam, yang sebetulnya sangat tertarik mengangkatnya sebagai murid.

"Adik Harimau Hitam sebaiknya bersikap tenang. Betapapun pandainya perempuan ini, ia hanya akan menguasai sepertiga kemampuan kita masing-masing. Bahkan jika ia ingin menikam kita dalam tidur pun, dalam keadaan tertidur itu kita masih dapat mengatasinya." 

"Bagaimana dengan ilmu silat yang dimiliki perempuan itu sebelumnya? Meski hanya sepertiga Ilmu Silat Harimau Kencana dikuasainya, jika ia mampu mengolah dan meleburkannya dengan jurus yang tidak kita kenal, tentu akan sangat berbahaya..."

Harimau Putih menukas. "Adik Harimau Merah! Sejak kapan I lmu Silat Harimau Kencana bisa dikalahkan? Kita telah menghapus ilmu silatnya yang lama dengan mantra, dan jika pun masih ada yang tersisa, peleburannya dengan sepertiga ilm u kita tetap belum cukup untuk mengatasi Ilmu Silat Harimau Kencana seutuhnya. Hanya yang mempelajari tiga bagian itu selengkapnya akan mampu mengalahkan salah satu dari kita. Ilmu Silat Harimau Kencana hanya dapat dikalahkan oleh I lmu Silat Harimau Kencana!"

HARIMAU Merah hanya manggut-manggut karena ia memang asal bicara. Semenjak perempuan yang datang untuk belajar silat itu menjadi murid Harimau Putih, pikirannya selalu terganggu dan jiwanya selalu gelisah, karena dari hari ke hari yang diinginkannya hanyalah meniduri perempuan itu saja. Namun tidak ada yang bisa dilakukannya, karena dalam hal tata susila, Perguruan Harimau Kencana mempunyai peraturan yang ketat. Jika menghendaki perempuan tersebut, ia hanya boleh langsung meminangnya, tetapi meskipun Harimau Merah tidak takut kepada siapapun di dunia ini, dalam hal pinangan ia sangat takut ditolak. Sebetulnya ia sama sekali tidak ingin menjadikan perempuan ini seorang istri, karena memang tidak memang tidak mencintainya. Ia hanya ingin meniduri seorang perempuan. Sudah bertahun-tahun ia membayangkan hal itu. Bayangan yang berkobar membara begitu perempuan itu memasuki lapangan pertarungan Perguruan Harimau Kencana.

Maka yang sering dilakukannya adalah mengendap-endap ke rumah-panjang Harimau Putih untuk mengintip perempuan itu tidur. Perempuan itu ditempatkan pada sebuah bilik yang luas, tempat dahulu banyak murid bergelimpangan di atas tikar sebelum akhirnya habis tanpa sisa. Sehabis meronda dalam hutan yang juga dilakukannya lewat tengah malam, perempuan itu akan mencuci kakinya dengan air yang memancur dari saluran bambu sebelum tidur. Dari celah dinding kayu, dengan nafas tertahan akan ditatapnya perempuan itu membuka kain penutup payudaranya, melepaskan kancut lelakinya sebelum menggantikannya dengan kain, yang rupanya memang hanya dipakainya untuk tidur. Saat itu perempuan tersebut tidak akan tampak sebagai orang yang menyoren pedang di sungai telaga dunia persilatan, melainkan seperti perempuan impian yang didambakan setiap lelaki.

Dalam cahaya api kemerahan, Harimau Merah masih akan terus menahan nafasnya menyaksikan di antara celah betapa perempuan itu me lepaskan ikatan rambutnya, sehingga rambutnya yang panjang dan tebal itu jatuh ke bahunya, juga payudaranya, yang akan disisirinya dengan jari-jari yang te lah berkuku panjang karena mempelajari Ilmu Silat Harimau Kencana. Namun yang paling dinantikannya adalah ketika perempuan itu merebahkan diri ke atas tikar, tepat di hadapannya, ketika kedua kaki perempuan itu tidak selalu ikut terbaring lurus, melainkan centang perenang ke sana dan ke sini. Apabila hal itu terjadi, bisa dipastikan betapa malam akan sangat menyiksa bagi Harimau Merah.

Esok paginya, apabila perempuan itu turun ke sungai untuk mandi, dapat dipastikan bahwa Harimau Merah telah siap mengintipnya pula. Harus dikatakan hal semacam ini sangat aneh, karena di luar perguruan, seperti di desa-desa di kaki gunung, ketelanjangan bukanlah sesuatu yang perlu diintipomelainkan terbuka tanpa harus menimbulkan getaran apa-apa. Mungkin karena banyak tabu susila di Perguruan Harimau Kencana, yang belum pernah terjalani karena tidak pernah menerima murid perempuan.

Maka alangkah terkejutnya Harimau Merah, ketika pada suatu malam disaksikannya Harimau Putih telah berada di dalam bilik perempuan tersebut. Hanya sepintas adegan itu disaksikannya, tetapi cukup untuk memberitahukan keadaannya, bahwa tiada batas lagi antara Harimau Putih dengan perempuan itu. Hanya sepintas, tetapi gambaran mata terpejam perempuan berambut panjang itu, yang tangannya menancap di punggung Harimau Putih, bagaikan akan bertahan selama-lamanya.

Saat itu Harimau Merah langsung berkelebat tanpa suara. Tak diketahuinya mata yang tadi bagaikan terpejam tanpa kesadaran dengan mulut terbuka, kini terbuka dengan wajah menyungging senyuman pula. Senyum seseorang yang merasa pasti dirinya akan menang.

(Oo-dwkz-oO)

DI tengah hutan, ketika sedang meronda, perempuan itu tahu belaka betapa Harimau Merah mengikutinya. Meski I lmu Silat Harimau Kencana yang dikuasa inya hanya sepertiga, lebih dari cukup untuk mengenali Jurus Harimau Melangkah di Atas Daun Teratai yang digunakan Harimau Merah untuk meringankan tubuhnya.

Tanpa menoleh perempuan itu berkata. "Paman Guru Harimau Merah, apakah dia sedang menguji pendengaranku sehingga diperlukannya ilmu meringankan tubuh untuk mengikutiku?"

Baru setelah itu ia menoleh sambil tersenyum. Harimau Merah melangkah maju dengan bibir bergetar. "Kakak Harimau Putih telah melanggar tabu perguruan yang telah ditentukannya sendiri, tiada lagi tabu bagiku untuk mendapatkan apa yang juga didapatkannya. Berikanlah juga kepadaku apa yang telah dikau berikan kepada Harimau Putih."

NAMUN perempuan itu menjulurkan tangan dengan telapak ke depan. Tangan itu sudah berwarna kemerahan bagai besi yang sedang ditempa, tanda pengerahan tenaga dalam.

"Tunggu dulu Paman Guru. Jangan terburu nafsu. Guruku Harimau Putih berhak atas apa yang didapatkan sebagai imbalan. Aku akan memberikan juga kepada Paman Guru, sebagai imbalan sepertiga Ilmu Silat Harimau Kencana yang paling dikuasa i Paman."

Harimau Merah tertegun. Ia menyadari apa artinya melanggar sumpah perguruan. Namun ia hanya berpikir jika Harimau Putih yang paling tua dan kini memimpin perguruan pun telah melanggar tabu itu, maka baginya pun ikatan tabu itu kini tidak berlaku.

"Berikanlah kepadaku apa yang dikau berikan kepada Kakak Harimau Putih, wahai murid, maka akan kuberikan kepadamu sepertiga dari I lmu Silat Harimau Kencana yang kukuasai."

Perempuan itu tersenyum.

"Berikanlah dahulu apa yang dikuasa i Paman Guru, setelah itu Paman Guru boleh mendapatkan seluruh tubuhku," ujarnya dengan pandangan mata yang menggugurkan segenap daya pertimbangan Harimau Merah.

Hutan lebat tanpa manusia itu pun kemudian menjadi saksi, bagaimana Harimau Merah memberikan kunci-kunci sepertiga bagian terakhir dari I lmu Silat Harimau Kencana. Telah disebutkan bahwa meskipun Tiga Harimau itu mewarisi segenap ilmu warisan Harimau Kencana dengan sama baiknya, semenjak kitab ajaran ilmu silatnya dibagi tiga, masing-masing dari mereka dianjurkan memperdalam bagiannya. Apabila perempuan ini telah menguasai bagian pertama dari Harimau Putih, dan kini mempelajari bagian ketiga dari Harimau Merah, maka setelah menguasainya berarti ia tinggal mempelajari bagian tengah atau kedua yang diperdalam oleh Harimau Hitam untuk menguasai Ilmu Silat Harimau Kencana selengkapnya.

"Kini ikutilah gerakanku," ujar Harimau Merah, "dikau telah mengetahui kuncinya dan kini seraplah gerakannya."

Di tengah hutan, di sebuah petak agak lapang, perempuan itu memperdalam Jurus Seratus Harimau Menari yang mengandalkan cakar maut sebagai penghancur lawan. Ilmu Silat Harimau Kencana mendasarkan gerakannya kepada segenap gerak harimau dalam pertarungan yang dikembangkan dengan segala kemungkinan gerak tubuh manusia. Maka segera terlihat bagaimana perempuan itu mengikuti terkaman dan cakaran, geliat dan lompatan, elakan dan raungan, yang dari jauh bagaikan tarian berpasangan, tetapi bukan tarian halus mulus mengesankan melainkan ganas kejam tangkas buas sembari terus menggeram-geram.

Terlihat kemudian bagaimana kuku-kuku tangan keduanya menyala bagaikan besi membara yang sedang ditempa karena tenaga dalam yang dikerahkannya. Ilmu Silat Harimau Kencana memang sama sekali tidak mengandalkan senjata, tetapi kuku-kuku tangan mereka yang panjang menjadi sekuat baja dan sangat berbahaya. Adalah biasa bila pedang, tombak, panah, maupun trisula akan berkeping-keping disampoknya. Apabila kemudian Jurus Seratus Harimau Menari ini dibawakan dengan lambaran tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh, maka di dalam hutan yang remang memang hanya cahaya bara api dari kuku-kuku itu yang akan kelihatan, bergerak sesuai jurus-jurus cakaran tetapi orangnya tidak kelihatan.

Usai mengikuti se luruh gerakan, berarti usai pula Jurus Seratus Harimau Menari diserapkan, dan Harimau Merah menatap perempuan itu dengan pandangan penuh tuntutan. Perempuan yang kini telah menguasai duapertiga Ilmu Silat Harimau Kencana itu mengerti dan paham sepenuhnya betapa kini Harimau Merah menuntut imbalan. Dengan senyuman penuh pengertian, tetapi terkandung juga sedikit ejekan, perempuan itu pun serta merta mengundang.

Sembari melepaskan segenap kain di tubuhnya ia berkata. "Paman Guru yang perkasa, tidakkah Paman Guru kuasai

juga Jurus Harimau Bercinta di Tengah Hutan?" Tanpa membuang waktu lagi Harimau Merah menyergap perempuan yang kini menyeringai bagaikan harimau dalam berahi. Di atas pepohonan tinggi yang daun-daunnya menghalangi jalan cahaya matahari, burung-burung mencericit dan monyet-monyet mencerecek melihat sepasang manusia bercumbu seperti harimau bercumbu. Keduanya saling menggeram dan meraung, saling menyergap sampai tubuh mereka tersayat-sayat cakaran mesra.

SEGENAP taring, misa i, dan cakar berubah menjadi peralatan cinta. Bahkan harimau yang sesungguhnya pun tidak akan mempunyai gairah yang sama.

Di antara dahan dan ranting terlihat sesosok bayangan hitam seperti harimau kumbang, bergerak lincah tanpa suara dari dahan ke dahan. Gerakan itu berhenti di sana, menatap adegan di bawahnya dan menyeringaikan mulutnya. Dilihatnya perempuan itu, sementara adiknya menyergap. Ketika raungan sepasang harimau itu menguak langit, sosok yang mengendap seperti harimau kumbang itu, yang ternyata adalah Harimau Hitam, berkelebat menghilang...

(Oo-dwkz-oO)