Nagabumi Eps 102: Para Pencuri Kitab

Eps 102: Para Pencuri Kitab

MENURUT cerita yang kudengar, peristiwa ini terjadi sebelum terdapatnya Pahoman Sembilan Naga, yang meski berkedudukan di Jawadwipa, berlaku sebagai wibawa yang memengaruhi se luruh wilayah Suvarnadvipa, yakni ketika kejayaan dan kegemilangan dalam dunia persilatan tergenggam di tangan tiga kakak beradik Harimau Putih, Harimau Hitam, dan Harimau Merah, yang mendapatkan ilmu silat dari ayah mereka, Harimau Kencana. Setelah ayah mereka meninggal dunia, menuruti was iat ayahnya, kitab rahasia ilmu s ilat perguruan dibagi tiga di antara mereka untuk disimpan, dan masing-masing hanya diberi hak untuk menurunkan sepertiga dari ilmu silat yang mereka, sesuai dengan bagian kitab yang mereka miliki. Kebijakan ini akan membuat ketiganya tidak terkalahkan oleh siapa pun, karena ilmu silat Harimau Kencana saat itu hanya dapat dikalahkan oleh ilmu s ilat Harimau Kencana juga.

Perguruan Harimau Kencana terletak di lereng Gunung Semeru di bagian timur Jawadwipa yang jarang didatangi manusia. Meskipun terletak di lereng, tidak berarti perguruan itu mudah dicari dan apabila sudah diketahui tempatnya akan mudah dicapai, karena letak perguruan itu seolah sengaja menyembunyikan diri di tengah hutan yang begitu lebat. Kelebatan hutan itu membuat orang mudah tersesat, dan tersesat maupun tidak tersesat binatang buas yang berkeliaran lebih banyak membuat manusia yang merambahi hutan tersebut tidak se lamat. Mereka yang pandai mencari jalan ke arah yang sedikit tepat, biasanya akan menemukan tulang belulang manusia di sana-sini, yang masih utuh maupun sudah berserakan, karena jika pun manusia dapat meloloskan diri dari sergapan binatang buas, apakah itu diterkam harimau atau ditelan ular hidup-hidup, maka ia masih harus menghadapi para Pengawal Harimau, yakni murid-murid Perguruan Harimau Kencana yang ditugaskan membunuh siapa pun orangnya yang mendekati perguruan.

Bermaksud baik atau tidak baik, bermaksud berguru maupun bertarung, selalu diberikan sambutan yang sama, itulah serangan memastikan kematian yang disebut pembunuhan. Kenapa demikian? Dalam dunia persilatan memang berlaku suatu kebiasaan, bahwa orang-orang yang menempuh jalan persilatan untuk menjadi seorang pendekar akan mencari guru terbaik yang ilmunya tidak pernah terkalahkan. Pada masa itu Harimau Kencana, sampai ajal menjemputnya, memang belum pernah kalah dalam pertarungan mana pun, dan demikian pula dengan ketiga anaknya yang kemudian membuka perguruan itu.

Namun ternyata kebijakan yang dibuat tidaklah bertujuan membagi ilmu, melainkan sebaliknya, menguasai dunia persilatan. Dengan tujuan ini, apa yang berlangsung dalam kepekatan hutan rimba di lereng Gunung Semeru dapat dipahami sebagai berikut: Pertama, mereka yang lolos dari serangan mematikan para Pengawal Harimau maupun sergapan binatang buas boleh dianggap sebagai bakat-bakat terbaik dari dunia persilatan saat itu, karena sebagai tokoh- tokoh tidak terkalahkan mereka akan didatangi orang-orang yang menyoren pedang dari segala penjuru, baik untuk menjadi murid maupun menantang bertarung; kedua, siapa pun yang lolos dan berhak diterima sebagai murid, betapapun cerdas, berbakat, dan tekun orangnya, hanya akan mendapatkan sepertiga Ilmu Silat Harimau Kencana, karena setiap murid hanya boleh diajar oleh satu orang dari Harimau Putih, Harimau Hitam, dan Harimau Merah tersebut.

Kedua perkara ini saja telah membuat Perguruan Harimau Kencana akan selalu berjaya, karena bahkan murid-muridnya yang terbaik pun akan mati oleh calon murid yang lebih baik lagi, dan demikianlah seterusnya, sehingga kemungkinan pengkhianatan pun dengan sendirinya sudah ditepis. Sebegitu jauh, penantang mana pun yang sudah berhasil melewati hutan, menewaskan segala binatang buas yang menyergap maupun segenap Pengawal Harimau yang menyerang dengan tujuan mencabut nyawa, ketika akhirnya berhadapan dengan salah satu dari ketiga tokoh Perguruan Harimau Kencana, apalagi ketiganya sekaligus, hanyalah menemui ajal dalam keadaan mengenaskan. Bukankah Ilmu Silat Harimau Kencana sampai saat itu memang tidak terkalahkan?

Kebijakan itu telah menghabiskan pendekar-pendekar terbaik dunia persilatan dari golongan putih maupun golongan merdeka, karena mereka semua memang akhirnya dikalahkan; orang-orang golongan hitam, yang selamanya licik, jahat, dan hanya mementingkan diri sendiri, tidak tertarik sama sekali menyabung nyawa atas nama kehormatan dan kesempurnaan, bahkan tidak juga kejantanan, yang biasanya sangat menyinggung perasaan, bukan sekadar karena kekalahan dan kematian bisa dipastikan, melainkan juga karena jalan menuju kematiannya yang sangat mengerikan.

TULAH cara Perguruan Harimau Kencana menguasai dunia persilatan, karena akhirnya memang tersisa orang-orang yang datang hanya untuk menjadi murid, tiada lagi yang datang untuk menantang. Mereka yang datang dengan tujuan menimba ilmu ini sudah dapat dibatasi ilmunya dengan cara yang sudah kuceritakan tadi, sehingga jika memang bermaksud menantang gurunya, menurut perhitungan akan dapat diatasi.

Pernah adakah seorang murid yang begitu nekat menantang ketiga guru ini? Memang pernah terjadi, seorang murid yang tidak menyadari bahwa keharusan untuk belajar kepada hanya satu guru dari Tiga Harimau itu maksudnya membagi ilmu, suatu ketika merasa cukup pantas untuk menantang gurunya sendiri untuk bertarung. Kebetulan ia menjadi murid Harimau Merah yang terkenal paling kejam di antara Tiga Harimau, meski yang disebut kurang daripada kejamnya Harimau Putih dan Harimau Hitam itu tiada lebih dan tiada kurang kejam jualah adanya.

Memang tidak bisa dimengerti mengapa murid satu ini begitu berani menantang Harimau Merah yang tampangnya saja sudah begitu seram bukan buatan. Di antara ketiga anak Harimau Kencana, anak bungsu inilah yang wajahnya paling mendekati macan, terutama berkat bulu-bulu cambang nan kaku dan keras yang tumbuh kedua pipinya, sementara rambut panjangnya yang merah juga begitu tebal seperti singa. Mereka bertarung di halaman perguruan yang luas, disaksikan Harimau Putih dan Harimau Hitam yang sudah dipastikan akan turun tangan jika terjadi sesuatu dengan adik bungsu mereka itu, meski hal itu tidak mungkin terjadi -karena bukankah kepada murid mana pun hanya sepertiga ilmu silat Harimau Kencana yang diturunkan kepadanya?

Harimau Merah berkacak pinggang di bawah bulan purnama menghadapi muridnya yang bersimpuh di hadapannya dengan sangat sopan, meski tetap menantang.

"Hai murid! Mengapa dikau begitu nekat menantang daku, gurumu sendiri yang telah menurunkan kepadamu segala ilmu dengan sepenuh hati?"

"Ampunilah muridmu yang lancang ini, duhai guruku yang sahaya junjung tinggi," ujarnya sembari membungkuk dalam sekali, "tiada lain hanyalah kehormatan dalam jalan persilatan yang sahaya butuhkan, betapa kematian yang terindah akan tercapai dalam puncak kesempurnaan seorang pendekar."

"Hmm, jadi apa alasanmu bahwa gurumu yang harus dikau tantang sebagai balas budi segenap ilmu yang telah diturunkan kepadamu itu?" "Maafkan sahaya guru, tetapi apalah artinya sahaya mengalahkan segala pendekar di seantero Yawabhumipala jika belum mengalahkan satu dari atau semuanya Tiga Harimau sekaligus? Sebaliknya, karena ilmu silat Harimau Kencana belum terkalahkan, maka cukuplah dengan menantang dan mengalahkan guru, maka itu berarti segenap ilmu silat yang lain akan dapat juga sahaya atasi."

Harimau Merah meraung, benar-benar mirip raungan harimau yang memendam kemarahan bukan alang kepalang.

"Kalau begitu bersiaplah untuk mati, wahai murid, untuk mendapatkan kehormatan yang dikau inginkan!"

Sembari berkata begitu tangannya yang bercakar kuku- kuku macan menyentak ke depan, mengirim angin pukulan ke arah murid yang bersimpuh itu, yang segera melenting ke atas dengan ringan ke udara. Namun belum lagi turun ke bumi, Harimau Merah telah me leasat ke arahnya dengan dua cakar terkembang.

Ilmu Silat Harimau Kencana sungguh dahsyat. Pertarungan guru murid itu segera tidak terlihat oleh pandangan mata orang biasa, meski bagi kedua kakak Harimau Merah bukanlah persoalan sama sekali. Segera terlihat oleh mereka berdua, betapa murid yang telah berani menantang gurunya ini memang memiliki bakat luar biasa, yang jika dikuasa inya Ilmu Silat Harimau Kencana secara utuh, bukan tidak mungkin taksatupun dari Tiga Harimau tersebut bisa menang terhadapnya. Terbukti perhitungan Harimau Kencana benar belaka. Dengan hanya memberikan sepertiga ilmu kepada murid manapun, Ilmu Silat Harimau Kencana terjamin dikuasai keturunan Harimau Kencana tanpa pernah terkalahkan, dan dengan begitu berarti merajai dunia persilatan.

Seluruh I lmu Silat Harimau Kencana hanya terdiri atas 30 jurus, tetapi gabungan jurus satu dengan jurus yang lain memungkinkan lahir ribuan jurus baru yang tidak pernah terduga dan tidak mungkin ditebak kapan munculnya, kecuali sering-sering bertarung dengan lawan yang sama, yang tidak mungkin terjadi, karena pertarungan silat se lalu berakhir dengan kematian. Murid yang berbakat itu tentu mendapatkan hanya sepuluh jurus, tetapi yang dapat dikembangkan setidaknya menjadi 900 jurus baru, juga dengan ketentuan yang sama, yakni tidak pernah dapat diduga dan tidak dapat ditebak kapan munculnya.

INI membuat sang murid untuk sementara bukan hanya dapat bertahan, melainkan menyerang dan mendesak Harimau Merah, bahkan mencakar dadanya dengan jurus Cakar Harimau Mengibas ke Selatan.

"Arrrgghhhh!!!"

Harimau Merah meraung dan merenggangkan rompi kulit harimaunya. Lima garis merah menyilang di dada, yang segera mengucurkan darah pula. Ia segera meraung.

"Grrruuuiaahh! Murid! Bersiaplah menerima kematianmu!"

Harimau Merah berkelebat ke arah muridnya yang baru saja mau membuka mulut untuk m inta maaf. Harimau Putih dan Harimau Hitam yang mengikuti pertarungan itu mengerti, bahwa Harimau Merah kini menggunakan jurus-jurus dari sisa duapertiga Ilmu Silat Harimau Kencana yang tidak pernah diturunkan kepada siapa pun di luar diri mereka bertiga. Dengan segera terdengar suara-suara kain robek, kemudian kulit tersayat, lantas desah kesakitan tertahan-tahan.

"Tahankanlah kesakitan ini murid! Seorang pendekar tidak menangis!"

Namun agaknya Harimau Merah memang sengaja menyiksa muridnya itu dengan sengaja tidak segera membunuhnya. Murid berbakat ini agaknya segera tahu, betapa belum semua ilmu telah diturunkan kepadanya. Di tengah hujan cakar dan pukulan yang telah membuat tubuhnya merah penuh darah, murid penuh bakat yang belum berkesempatan membuat nama bagi dirinya itu, berujar dengan marah bercampur pilu. "Guru tidak menurunkan segenap ilmu! Jurus-jurus ini tidak kukenal!"

"Dasar tolol! Apa yang membuat dikau berpikir kami akan menurunkan semua ilmu kepada seseorang yang akhirnya akan menantang kami?"

Dalam kelebat dua bayangan di tengah ma lam, Harimau Putih dan Harimau Hitam mendengar percakapan itu.

"Apakah guru tidak bersedia mengakui s iapa pun yang lebih unggul daripada guru? Tidakkah seorang pendekar selalu siap mati dalam pertarungan secara ksatria? Tiga Harimau takut dikalahkan murid-muridnya sendiri, maka ilmu yang diturunkan sangat terbatas! Itu melanggar hubungan kepantasan guru dan murid, juga melanggar tata krama dunia persilatan!"

Namun karena kekecewaannya yang mendalam ia yang sudah terdesak menjadi sangat kurang waspada. Cakar Harimau Merah dengan kuku-kuku macan sekuat baja melesak masuk ke dalam perutnya.

"Ugh!"

Ketika ditarik keluar, seluruh isinya bagaikan sudah tergenggam oleh cakar Harimau Merah. Murid berbakat yang telah berguru dan menantang dengan penuh kejujuran itu, demi jalan yang ingin ditempuhnya untuk mencari kesempurnaan, terguling di tanah dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Seluruh kulit tubuhnya bagaikan telah dicabik-cabik cakar harimau, masing-masing dengan lima garis sayatan, sehingga semuanya berjumlah 500 sayatan, karena Harimau Merah telah mengeluarkan Jurus Seratus Harimau Menari yang jelas tidak diajarkan kepada murid yang malang itu. Jurus Seratus Harimau Menari akan membuat lawannya merasa diserang oleh seratus harimau dari segala arah sekaligus, yang tentu saja tidak akan bisa dihindari tanpa mengetahui rahasia penangkalnya. Sebenarnya dengan mempertahankan lingkar penguasaan Ilmu Silat Harimau Kencana dengan penipuan terhadap murid seperti itu, terhadap T iga Harimau layak diambil tindakan atas pelanggaran tata nilai kependekaran, tetapi siapakah yang berada dalam kedudukan untuk menilai dan mengambil tindakan? Pada masa itu belum terdapat Pahoman Sembilan Naga yang memang terbentuk untuk menjaga ketertiban dan tata nilai dunia persilatan, selain menjadi cara berbagi kekuasaan, meski kesempatan memperebutkannya secara ksatria sangat terbuka. Lagipula dalam hal Perguruan Harimau Kencana, siapakah kiranya dapat mengetahui kebijakan mereka, jika di luar Tiga Harimau itu murid-muridnya selalu berganti karena setiap kali mati terbunuh oleh pendatang yang akan menggantikannya dan seterusnya? Para murid pun, sekali menjadi bagian perguruan, tak akan bisa lari dan menembus hutan untuk memberi kabar kepada dunia.

Tiga Harimau itu se lalu saja bisa mencium usaha pelarian, dan hukuman untuk itu jangan ditanya lagi, karena kesalahannya dianggap jauh lebih besar daripada menantang guru. Mereka yang dilumpuhkan akan digantung hidup-hidup dengan kaki di atas dan kepala di bawah dan setelah itu nasibnya diserahkan kepada seisi rimba raya....

Syahdan, suatu ketika seorang murid ma lang yang masih tergantung, dan satu-satunya yang beruntung, melihat seorang perempuan yang menyoren pedang sedang mencari- cari jalan. Tentu perempuan pendekar itu dilihatnya dalam keadaan terbalik. Perempuan pendekar itu mengenakan kancut seperti lelaki, rambutnya digulung ke atas, dan sepasang payudaranya dibebat dengan kain yang melingkar ketat ke punggungnya. Di bahunya tergantung pedang menyilang dalam sarungnya dan di tangannya tergenggam sebuah kapak. Sepasang kakinya terlindungi kulit dengan ikatan tali pada betisnya. Ia sangat cantik, kulitnya gelap karena sering terbakar matahari, tubuhnya tegap dan rambutnya kemerah-merahan. Alisnya yang tebal membuat tatapannya tambah tajam dalam kerimbunan hutan menjelang malam. Masih terlihat darah pada mata kapaknya dan tangan kirinya menggenggam potongan tubuh seekor ular. Mulutnya masih mengunyah daging ular mentah-mentah.

Wajah orang yang digantung dengan kepala di bawah itu, dalam penderitaannya, menatap dengan pandangan bertanya- tanya.

''Ular ini mau memakan daku hidup-hidup,'' katanya dengan mulut belepotan, ''tidak ada salahnya dia yang kumakan setelah daku membunuhnya. Apa yang terjadi pada dikau?''

''Puan Pendekar,'' ujarnya dengan sisa tenaga, ''apakah Puan bermaksud mencari Perguruan Harimau Kencana?''

''Mengapa jika iya dan mengapa jika tidak, wahai orang yang terikat?''

''Jika iya, lepaskanlah sahaya, maka akan sahaya ceritakan segala sesuatu yang penting untuk Puan ketahui, untuk memutuskan berbalik arah maupun meneruskan perjalanan.''

Sekali tetak dengan kapak jatuhlah orang itu ke tanah, dan dengan sekali sabet lepaslah ikatan pada tangan maupun kakinya. Namun ketika ia mau berdiri, perempuan yang menyoren pedang dan masih mengunyah daging ular mentah itu menginjak dadanya.

''Ceritakanlah sekarang dan jangan membuat gerakan mencurigakan,'' katanya, ''aku sudah seminggu berputar-putar di hutan ini, dan aku sekarang sangat marah.''

Dengan dada terinjak, murid yang me larikan diri itu menceritakan semuanya.

Terbayanglah segalanya dengan segera di mata perempuan pendekar yang memegang kapak berdarah itu. Segalanya sebelum dirinya sendiri tiba. Betapa setelah kerimbunan hutan ini nanti akan berhasil dilewatinya dan mendaki sebuah tebing maka akan dilihatnya bangunan kayu Perguruan Harimau Kencana yang megah, tiga bangunan yang mengelilingi sebuah lapangan. Bangunan di sebelah kiri ditinggali Harimau Hitam, bangunan di sebelah kanan ditinggali Harimau Merah, dan bangunan yang berhadapan dengan hutan menjadi tempat bersemayam Harimau Putih. Setiap bangunan ditinggali bersama murid mereka masing-masing,

yang ruangannya mampu memuat seratus orang, karena memang merupakan rumah panjang dengan kayu serba pilihan.

Di belakang bangunan Harimau Putih terdapat tebing curam yang jika siapa pun menatap ke arahnya maka akan terlihat puncak Gunung Semeru yang kadang-kadang mengepulkan asap. Kedudukan bangunan-bangunan yang lebih tinggi ini memang menguntungkan, karena membuat siapa pun yang keluar dari hutan tersebut dapat diawas i. Bangunan-bangunan besar yang saat ini tentunya sepi karena murid-muridnya makin lama makin habis terbunuh oleh para calon murid baru yang berhasil menembus hadangan, yang kemudian juga akan terbunuh lagi dan seterusnya, sampai tinggal satu orang yang akhirnya melarikan diri dan ditemukan olehnya itu.

Sambil masih menjejak dada dan mengunyah daging ular mentah, dapat dibayangkannya betapa pada malam-malam yang telah menjadi larut, di bawah cahaya api yang remang, Tiga Harimau itu masing-masing menekuni sepertiga kitab yang menjadi bagian mereka. Namun saat itu ia tidak mengetahui bahwa masing-masing kitab itu hanyalah sepertiga dari keseluruhan Kitab Ilmu Silat Harimau Kencana, yang terbayangkan olehnya, seperti didengarnya dari murid yang bercerita, karena hanya yang menantang bertarung sajalah kiranya akan mengetahui terdapatnya jurus-jurus I lmu Silat Harimau Kencana yang belum diturunkan kepada merekaotentu mereka hanya akan mengetahuinya menjelang ajal tiba. Terbayangkan oleh perempuan pendekar yang memegang kapak itu betapa masing-masing dari Tiga Harimau itu akan mematangkan dan memperdalam ilmunya dari malam ke malam, setiap malam, karena memang tidak ada lagi yang akan dikerjakan siapa pun yang menempuh jalan persilatan selain menekuni ilmunya dengan semakin dalam.

TERBAYANGKAN olehnya betapa seusai menekuni segala sesuatu dari Kitab I lmu Silat Harimau, masing-masing dari Tiga Harimau itu akan meniup api dan ruangan mereka akan menggelap dan mereka akan merebahkan diri di atas tikar pandan di lantai kayu. Merebahkan diri dan tidur lurus, tanpa gerak sama sekali, dengan napas sangat teratur sampai ayam jantan berkokok karena melihat cahaya kemerah-merahan, dan hanya mereka yang dapat melihatnya, di ufuk timur yang jauh, nun di balik Gunung Semeru itu.

Membayangkan kehidupan semacam itu, perempuan pendekar tersebut tersenyum.

(Oo-dwkz-oO)