-->

Nagabumi Eps 101: Orang yang Terasing

Eps 101: Orang yang Terasing

Pembaca yang budiman, kita harus kembali ke pertarunganku melawan Putri Khmer yang cantik jelita, menawan, dan memesona, dan sangat amat berbahya ini. Pagi pertama di tanah Khmer. Kudengar semuanya, tetes embun, semut berjalan di antara rumputan, cacing menggeliat dalam serbuan barisan semut api. Pagi masih dingin tetapi bunuh-membunuh sudah berlangsung sebagai bagian dari kewajaran alam. Kabut masih mengambang di atas sungai. Kapal-kapal saling bersentuhan karena arus sungai yang tersibak oleh kapal-kapal lain yang baru tiba dari pedalaman pada pagi yang sedikit demi sedikit menjadi semakin terang. Lawanku belum juga bergerak. Aku tak akan bergerak selama ia belum bergerak. Berapa lama pun ia tak bergerak aku juga harus tidak bergerak.

SEANDAINYA pagi menjadi siang, siang menjadi sore, sore menjadi malam, dan malam menjadi gelap berkepanjangan sampai begitu gelap segelap-gelapnya malam, dengan atau tanpa rembulan, dengan atau tanpa burung hantu yang berkelebat di tengah hutan menyambar tikus bagaikan malam hanyalah s iang karena bagi matanya kegelapan malam adalah terang seterang-terangnya siang, dengan atau tanpa ular yang menjulur diam-diam di pepohonan dan menyambar telor burung elang yang begitu siap menetas bahkan dari balik dinding telur sudah terlihat paruh kecil anak elang, dengan atau tanpa segala makhluk yang bergerak dalam kegelapan malam, aku harus tetap bertahan.

Aku tak tahu sampai berapa lama perempuan itu akan bertahan tetapi ia tampak sungguh sakti dan menawan, paduan yang mendebarkan dan penuh dengan ancaman, karena setiap pesona adalah bahaya dalam pertarungan yang sangat membutuhkan ketenangan. Dalam pertarungan tanpa gerak ketenangan sangat dibutuhkan, dan hanya yang lebih tenang akan dapat memenangkan pertarungan. Persoalannya sekarang, dalam sebuah adu tatapan, tidaklah mungkin kuingkari pesonanya dengan menghindari pandangan, sebaliknya haruslah kuhadapi tatapan dengan segala pesona yang terdapat di dalamnya, karena jika tidak maka aku akan terkalahkan.

Namun siapakah kiranya ia di dunia ini yang akan berdaya menghadapi pandangan penuh pesona seperti matanya yang maya? Kutahu betapa sekejap kukedipkan mata untuk menghindari tatapan maka pada kejap itulah leherku akan putus dengan sangat halus oleh pedang lentur itu, yang seolah begitu ringan tanpa daya tusuk tetapi kutahu betapa rambut pun bisa dibelah ketebalannya, bukan panjangnya, menjadi tujuh bagian. Memang benar betapa Jurus Penjerat Naga tiada akan mengizinkan penggunanya, betapapun, untuk menyerang lebih dulu, seberapa lemah dan tanpa dayanya sang lawan itu, tetapi s iapa yang bisa tahu bahwa perempuan pendekar ini sedang mengecohku? Bukankah merupakan siasat yang sangat tepat, bahwa ia mampu membuat aku mengira dirinya sedang menggunakan Jurus Penjerat Naga, sehingga betapapun aku tidak akan pernah menyerang? Tetapi apa pun kemungkinannya, aku tidak akan pernah menyerang, karena terhadap jurus yang bahkan tak bisa dikenal, Jurus Penjerat Naga semakin menekankan pentingnya menanti terbukanya kelengahan lawan.

Maka aku pun harus tetap menatapnya, seperti yang telah kulakukan sepanjang malam sampai pagi terang begini. Tak dapat kuperiksa lagi s iapa saja yang telah datang berkerumun melihat kami. Tampaknya mereka semua mengenal putri istana ini, karena tampak seperti maklum saja tentang apa yang terjadi. Hanya setelah mendengar nada ucapan mereka yang meninggi dan dengan sudut mata meraba-raba apa yang terjadi, kuyakini betapa dirikulah perbincangan mereka yang seperti kicau burung itu, meski kicaunya tidak sama dengan bahasa orang-orang Negeri Atap Langit. Begitulah bahasa yang hanya terdengar seperti kicau burung itu memberiku perasaan yang sangat terasing. Siapakah aku di sini dan untuk apa aku di sini? Semangat pengembaraan kadang tercairkan oleh kesepian dan keterasingan. Tentu aku merasa terkejut ketika ternyata diriku dikenali, sampai kepada hal yang sangat pribadi. Bagaimana caranya kuterima diriku dikenali sebagai anak Sepasang Naga dari Celah Kledung, yang tiada pernah kusampaikan kepada siapa pun jua?

Siapa pun dia, aku tidak mengenalinya, meski ia kemudian mengenaliku. Hanya satu penghubung yang membuatku terus menerus berpikir sepanjang malam: Jika ia memang menguasai Jurus Penjerat Naga, dari manakah ia telah mempelajarinya? Namun ia tidak mempelajari Jurus Penjerat Naga seperti yang kupelajari, karena jurusnya masih seperti jurus, bahkan jurus yang digambarkan hanya untuk disebutkan sebagai jurus yang tidak akan pernah digunakan oleh Pendekar Satu Jurus. Ada berapakah kitab yang menyimpan Jurus Penjerat Naga ini? Ketika aku menemukannya di dalam peti kayu, aku tidak tahu dengan pasti apakah pasangan pendekar yang mengasuhku itu sudah mempelajarinya, karena untuk menghadapi para naga, mereka telah menciptakan Ilmu Pedang Naga Kembar yang juga sudah kukuasai. Bahkan bukannya takmungkin kitab itu mereka baca bukan karena tertarik kepada ilmu silatnya, sebaliknya justru untuk mencari kelemahan Jurus Penjerat Naga itu.

Mereka memang tidak memerlukan Jurus Penjerat Naga lagi, karena bahkan Pahoman Sembilan Naga telah meminta keduanya secara bersama menggenapinya sebagai naga kesepuluh, meskipun Sepasang Naga dari Celah Kledung itu menolaknya, dengan cara tidak memenuhi undangan Pahoman Sembilan Naga tersebut. Penolakan itu bisa menjadi pertanda kerendahan hati, tetapi bisa juga keyakinan betapa mereka berada di atas segala naga.

SEJAUH kukenali kedua orangtua asuhku itu, mungkin saja mereka tidak mempelajari Jurus Penjerat Naga, antara lain karena mereka juga tidak akan rnempelajari ilmu-ilmu silat yang dipelajari orang lain. Jadi benar, terdapat beberapa kitab Jurus Penjerat Naga yang ditulis Pendekar Satu Jurus, dan kini dua orang yang sama-sama mempelajari kitab itu berhadapan sebagai lawan. Bagaimanakah kitab itu dapat berlayar sampai ke tanah orang-orang Khmer ini? Aku memikirkan sesuatu, tetapi aku tidak boleh terlalu lama asyik dengan pikiranku, karena sekejap kelengahan saja akan menyebabkan tercerabutnya nyawaku.

Kudengar suara-suara di sekelilingku tanpa memejamkan mata, karena jurus ini mewajibkan aku menatap matanya. Namun mata itu tidak bisa kutatap tanpa menimbulkan persoalan baru, yakni betapa aku tidak akan bisa melepaskan diri dari tatapan mata itu. Tanpa melepaskan pandangan kudengar segalanya di tanah yang asing bagiku ini. Kemudian kudengar suara Naga Laut dan anak buahnya.

"Tidak mungkinkah ia berhenti daripada mematung terus menerus seperti itu?"

Tidaklah terlalu jelas apa jawabannya, tetapi tampaknya ia kesal sekali.

Barangkali karena ia memang ingin segera berangkat ke Indrapura.

"Pertarungan ini bisa lama sekali," ujar Dhawa kepadanya, "jika salah satu berhenti begitu saja, saat itu pula

nyawanya bisa melayang."

"Sudah daku katakan kepadanya agar tidak terlibat dengan apa pun," Kudengar lagi nakhoda berkata, "angkat sauh, kita berangkat sekarang!"

Dhawa mungkin mengatakan sesuatu, tetapi nakhoda menukas.

"Dia seorang pendekar pengembara, tidak penting benar baginya terus bersama kita atau tidak. Rencana perjalanan tidak perlu ditunda demi kepentingan satu orang saja. Anak muda tanpa nama itu akan mengerti."

Kulepaskan pendengaranku dari percakapan itu dan menyelusuri khalayak yang berbisik-bisik takut mengganggu pertarungan. Apakah mereka mengerti sifat pertarungan ini? Aku sendiri hanya mengetahui dari pembacaan Riwayat Pendekar Satu Jurus, kini setelah kualam i sendiri, dan baru berlangsung semalam, lawanku masih juga bergeming, tak bergerak seperti patung. I lmu yang dilatih dalam Jurus Penjerat Naga adalah jurus-jurus yang tidak seperti jurus, antara lain berdiri tanpa kuda-kuda apapun seperti memang hanya mau berdiri tanpa maksud lain lagi. Perempuan pendekar itu jelas menggelar sebuah jurus. Apakah pikiranku yang ingin diperma inkannya?

Sekarang rambutnya berkibar ditiup angin pagi yang masih dingin. Maka ketiak yang semula tertutup rambut panjang hitam kelam, dengan jurus pembukaan mengangkat pedang seperti itu, tampak terbuka dengan segenap bulu-bulunya yang subur. Namun matahari yang merambat naik bagaikan muncul dari balik punggungnya, membuat cahaya dari balik seluruh tubuhnya melesat-lesat berkilauan.

Kewaspadaanku sangat amat meninggi, karena kedudukannya yang membelakangi matahari pagi menguntungkan sekali. Ibarat kata aku hanya melihat sosok hitam dengan bayangan rambut melambai-lambai, dan begitu juga kain yang samar-samar memperlihatkan segala sesuatu di baliknya itu. Aku tidak melihat apa pun akhirnya, hanya kesilauan cahaya luar biasa, kini kutahu apa yang dinantinya sepanjang malam! Kelengahan sekejap yang ditunggu adalah saat munculnya matahari itu, yang telah ia ketahui benar dengan kedudukannya yang sekarang ini. Ia berpikir sama seperti aku, seorang petarung yang tidak memanfaatkan keuntungan ini tidak akan mendapat kesempatan kedua. Ia melesat!

Ini berarti ia tidak membaca dan tidak mengetahui Riwayat Pendekar Satu Jurus, karena siapa pun yang membacanya pasti tahu betapa Pendekar Lautan Tombak menemui ajalnya justru ketika menyerang di balik cahaya berkilatan yang menerpa pandangan Pendekar Satu Jurus. Itu hal pertama. Adapun hal kedua, kitab yang dibaca dan dipelajarinya mungkin adalah kitab yang telah dipalsukan dan sengaja dikelirukan, untuk menjaga seandainya saja kitab itu hilang dicuri orang. Dengan kata lain, puteri Khmer yang tubuhnya meruapkan aroma setanggi itu telah mempelajari Jurus Penjerat Naga dari sebuah kitab curian!

Telah kuceritakan tentunya betapa pencurian kitab ilm u silat pada masa itu merupakan sesuatu yang jamak. Jika bukan karena seorang murid yang kurang sabar dan sangat bernafsu menguasai ilmu silat sang guru akan mencuri kitab pusaka perguruannya, tentunya dari seorang pencuri sakti yang mempertaruhkan hidupnya memang untuk mencuri kitab-kitab ilmu silat, baik untuk dipelajari sendiri, maupun diperjual belikan dengan harga yang tinggi. Bahkan para pencuri kitab ilmu silat ini berani menerima pesanan atas kitab-kitab tertentu, yakni kitab ilmu silat yang termasyhur tetapi belum pernah dilihat orang.

Kiranya keadaan semacam inilah yang membuat kitab-kitab tertentu pula sengaja disalin untuk dikelirukan.

SAY ANG sekali puteri tercinta yang penuh pesona itu telah mempelajari kitab yang salah, karena sudah jelas Jurus Penjerat Naga tidak memiliki jurus yang masih seperti jurus dan apa pun yang terjadi Jurus Penjerat Naga tidak akan digunakan untuk menyerang. Dalam keadaan biasa serangan sang putri dari balik cahaya ini sudah pasti menelan korban, tetapi bagiku yang telah mempelajari Jurus Penjerat Naga yang sebenarnya, serangan itu tiada lebih dan tiada kurang merupakan kelengahan yang sangat terbuka. Maka dalam sekejap setelah putri itu me lesat, pedang lenturnya yang luar biasa itu sudah terpotong-potong menjadi sepuluh bagian, sementara tubuh putri itu sendiri terpaksa kusentuh dengan angin pukulan begitu rupa sehingga terpental dan melayang ke atas tanpa daya....

Tubuhnya menggeliat ketika terputar di atas, tampak begitu lambat dalam mataku, kain samar-samar itu tersibak, dan segalanya menjadi begitu jelas dalam cahaya keemasan. Semua ini berlangsung sangat cepat, melebihi kecepatan kilat, sehingga tidak seorang pun akan dapat melihatnya. Namun saat itu berkelebat sesosok bayangan menyambarnya sebelum aku menyangga tubuhnya. Kubiarkan dia menolongnya, karena meskipun kusadari kemudian cukup banyak orang dari wilayah Suvarnadvipa berkeliaran dari wilayah ini, apakah itu dari Mataram di bawah wangsa Syailendra, apakah itu dari kedatuan Sriv ijaya, tidak kukenal siapa pun dengan urusan apa pun di tanah orang-orang Khmer ini.

Sosok itu berkepala gundul, dan tubuhnya dibalut jubah yang kumal sekali, yang karena hanya dikenakannya menyamping, maka dapat kulihat dengan jelas tubuhnya yang sangat kurus ibarat hanyalah tulang dibalut kulit, itu pun tampaknya bongkok pula. Ia memunggungi aku sembari membopong putri bangsawan yang tampaknya pingsan itu, kemudian berbicara dalam bahasa Sansekerta.

"Amrita memang masih terlalu muda dan tidak mau mendengar kata-kata gurunya. Aku, paman gurunya, kebetulan lewat untuk mempelajari filsafat Hindu Sankara ajarah brahmana Siwasoma di kota ini . Apakah yang akan terjadi jika aku tidak kebetulan lewat di sini? Gurunya, Naga Bawah Tanah, kakak seperguruanku yang tidak pernah menampakkan diri, telah lama memperingatkan muridnya yang haus ilmu ini, betapa sangat berbahayanya belajar dari kitab curian tanpa kesahihan. Telah disampaikannya betapa ilmu-ilmu silat yang langka telah dilindungi dengan cara sebegitu rupa, sehingga banyak dibuat kitab palsu untuk mengelirukannya, karena pencurian ilmu-ilmu silat telah semakin jadi gejala. Namun Amrita bahkan bersedia membayar dengan apapun yang dim ilikinya dan entah siapa pula telah menipunya. Kini ia harus membayar kenekatan melanggar peringatan gurunya. Datanglah ke Puncak Tiga Rembulan pada malam bulan purnama, wahai Pendekar Tanpa Nama dari Jawadwipa. Telah kami saksikan kedua pedang iblis yang telah membantai bangsa ini. Datanglah sekadar mencicipi ilm u silat yang sebenarnya dari tanah ini, semoga saat itu Amrita telah diiz inkan gurunya keluar dari perguruan dan mengucapkan terima kasih bahwa dirimu tidak membunuhnya."

Tubuh bongkok itu berkelebat menghilang, meninggalkan aroma setanggi dari tubuh perempuan yang dibopongnya. Pedang hitamku rupanya telah keluar masuk tanganku dengan sendirinya sesuai dengan kebutuhannya. Dalam pertarungan yang kecepatannya melebihi kilat, setelah berdiri mematung semalaman, gerakan tubuh bahkan lebih cepat dari pikiran. Itulah yang telah berlangsung tanpa bisa diikuti mata, sehingga tanpa kusadari pedang lenturnya yang luar biasa tajam dan indahnya berantakan di tanah dalam sepuluh potongan. Aku tidak terlalu suka bertarung dengan senjata, tetapi kedua pedang hitam Raja Pembantai dari Selatan itu telah tertanam dalam kedua tanganku melalui rapalan ilmu sihir yang tidak kuketahui pemecahannya. Dalam ilmu sihir, setiap mantra memiliki mantra pemudarnya. Aku tak tahu apakah mantra semacam itu ikut diwariskan kepadaku. Selama kedua pedang hitam ini tak bisa kulepaskan dari diriku, aku tak bisa menyebutkan diriku telah mencapai kesempurnaan dalam ilmu persilatan, meski memang telah membuat diriku semakin sulit dikalahkan.

(Oo-dwkz-oO)

FU-NAN adalah kata yang diberikan para sejarawan Negeri Atap Langit kepada kata Khmer bnam yang artinya adalah gunung. Para penguasanya pada masa lalu disebut Raja Gunung. Meski daya tariknya sebagai bandar antarbangsa sudah dilumpuhkan semenjak armada Srivijaya menguasai jalur perdagangan antara Negeri Atap Langit dan Jambhudvipa, penduduk Fu-nan yang berasal dari berbagai bangsa masih mencerminkan kejayaannya pada masa lalu itu.

DALAM perjalananku di wilayah itu, kusaksikan barang- barang asal Jambhudvipa yang bercampur dengan penemuan- penemuan masa lalu ketika manusia memanfaatkan bahan perunggu, tetapi dengan hasil yang sudah sangat maju sekali, meski sudah diketahui lagi asal-usul mereka yang membikinnya dahulu kala. Sebelum kapal-kapal dirakit dan candi-candi dibangun, agaknya manusia merupakan gerombolan yang mengembara dari tempat yang satu ke tempat lain tanpa pernah kembali lagi, yang memakan waktu ratusan bahkan ribuan tahun.

Di sebuah tempat tersembunyi, kutemukan tulang belulang yang dari bentuknya mirip juga dengan tulang belulang manusia purba yang pernah ayahku perlihatkan kepadaku, ketika mengajakku mengarungi wilayah pegunungan kapur pada masa kecilku. Gerombolan manusia masa lalu mengarungi dunia dengan cara menyusuri pantai, dari pantai satu ke pantai yang lain, barangkali sambil menunjuk dan berkata dalam bahasa yang belum pernah dituliskan: "Mari kita ke sana, melihat apa yang ada di baliknya." Pernah kudengar teman-teman sekapal bercerita tentang tulang belulang yang sama di pantai-pantai sepanjang Semenanjung Melayu. Dari apa yang kulihat di wilayah utara negeri itu, tempat kuduga terdapat pengaruh Mon-Khmer, kusaksikan Fu-nan semula dihuni penduduk dua lapisan yang berdampingan dan tak lama kemudian melebur dengan akrab satu sama lain. Orang-orang Fu-nan dianggap leluhur langsung raja-raja Kamboja yang berpusat di Angkor sekarang. Mereka telah berkenalan dengan budaya yang datang dari Jambhudvipa melalui pelabuhan, ketika para pelaut Jambhudvipa memperluas wilayah dagangnya ke mana-mana. Memang Fu- nan merupakan tempat persinggahan yang terbaik untuk menuju Suvarnadvipa. Daerah itu dapat dicapai melalui jalan darat sepanjang pantai Birma, lalu Siam, atau dengan memotong jalan menyeberangi Teluk Benggala ke arah Tanah Genting Kra, lalu dengan menyeberangi Teluk Siam; atau dengan mengitari Sumatra dari se latan untuk melintas di antara pulau tersebut dan Pulau Jawa.

Dari pantai Fu-nan yang terlindung dari angin topan laut di selatan Negeri Atap Langit, setelah memuat perbekalan, dengan mudah orang dapat mencapai pantai timur sepanjang Khmer dan Champa melalui jalan sungai dan meluncur dengan dorongan angin musim yang menguntungkan ke arah Negeri Atap Langit, dan dengan demikian menghindari belokan yang panjang dan sulit di Tanjung Ca-mau. Di samping itu, Fu-nan terletak di pinggiran hutan Gunung-Gunung Kamboja yang kaya rempah-rempah dan dicari orang-orang Jambhudvipa dengan gigihnya. Fu-nan sendiri juga menghasilkan rempah- rempah dan emas dapat ditemukan jika rajin mencari di sungai-sungainya.

Kuduga seratus tahun yang lalu itu dengan cepat sekali pantainya menjadi sangat padat penduduk, sedangkan pantai- pantai lain di Teluk Siam itu sangat jarang penduduknya atau sama sekali takberpenduduk. Tidak aneh jika para pedagang Jambhudvipa membuka pasar mereka di sana. Di sebuah kedai, kudengar cerita ini, yang baru kuketahui setelah seseorang menerjemahkannya ke dalam bahasa Sansekerta kepadaku. Dibimbing mimpi, seorang Brahmana berlayar ke pantai-pantai itu, tempat ia bertemu dan menikahi seorang puteri penguasa setempat, yakni suatu raja naga. Sebagai bekal perkawinan puterinya, penguasa itu m inum air yang menggenangi negerinya, supaya anak-anaknya dapat bercocok tanam.

Cerita ini dapat kutafsirkan sebagai berikut, karena cerita macam ini memang bukan semacam pengantar tidur, melainkan cara menerjemahkan hubungan Fu-nan dengan Jambhudvipa: Pada mulanya adalah pembukaan pemukiman untuk urusan dagang, kemudian berlangsung perkawinan dengan penduduk setempat; lantas berkat pelajaran para guru Jambhudvipa dan kerja bersama, dilakukanlah penggarapan delta-delta yang terendam sebagai suatu kerja besar yang ditangani bersama.

Penduduk Fu-nan sudah terbiasa dengan adanya orang- orang asing. Anak-anak kecil tidak lari jika melihat orang asing, seperti ketika mereka melihatku. Bahkan mendekat, melihat dari dekat seolah-olah aku makhluk aneh, adakalanya sambil memegang-megang pula. Namun selalu kubiarkan mereka. Berkat petunjuk orang-orang aku mengetahui arah menuju Puncak Tiga Rembulan. Ternyata perjalananku memang masih jauh, jika aku ingin memenuhi undangan itu. Bukan sekadar undangan sebetulnya, melainkan suatu tantangan, dan terhadap suatu tantangan seorang pendekar tidak boleh menghindarinya -jika memang masih ingin menjadi pendekar.

Dalam perjalanan aku teringat para pencuri kitab. Bagaimana caranya mereka bekerja? Tentu sudah kudengar perihal para murid yang membunuh guru, tetapi bagiku yang lebih mengerikan adalah munculnya pencuri-pencuri bayaran yang menjadi sangat mahir dengan tugasnya, memanfaatkan apa pun yang bisa dilakukannya untuk mencapai tujuannya.

(Oo-dwkz-oO)