-->

Nagabumi Eps 08: Tipu Daya dan Tipu Muslihat

Eps 08: Tipu Daya dan Tipu Muslihat

AKU dibawa menghadap Kepala Dinas Rahasia? Hmm. Aku lagi-lagi teringat nasehat Kautilya dalam Arthasastra, pada Bab

11 Bagian 7, tentang Pengangkatan Orang Dalam Dinas Rahasia.

Pasal 1 Ayat 1 adalah perihal "Membangun Mata-Mata". dengan dewan menteri-menteri yang terbukti jujur me lalui ujian rahasia, raja hendaknya mengangkat orang-orang dalam dinas rahasia kapatika chatra (murid yang cerdas)

udhasita (pendeta yang ingkar) grihapatika (yang menyamar sebagai pengurus rumahtangga) vaidehaka (yang menyamar sebagai pedagang)

tapasa (pertapa suci) satri (agen rahasia)

tikshna (pembunuh bayaran) rasada (pemberi racun) bhiksuki (pertapa wanita)

Pada bagian lain juga jelas disebutkan: Dilengkapi banyak uang dan pembantu-pembantunya, ia harus menyelesaikan pekerjaan di tempat yang ditentukan baginya, untuk menjalankan suatu tugas. Mereka yang menjadi pegawai negara tentu diajarkan ketata negaraan melalui Arthasastra, tetapi aku pernah membahasnya bersama seorang mahaguru tata negara, yang hanya memberi aku kesempatan satu malam untuk mempelajari kitab tebal itu. Karena bukan kitab ilmu silat, aku tidak terlalu bersemangat membacanya pada masa mudaku dahulu, meskipun kuakui ada juga pasal-pasal yang menyita perhatian seperti pada Bab 8 Bagian 83 tentang "Penyelidikan Melalui Interogasi dan Melalui Penyiksaan". Pada Ayat 22 tertulis:

dalam hal pelanggaran yang sangat berat

sembilan pukulan dengan tongkat, dua belas cambuk, dua pelingkaran paha, duapuluh pukulan dengan tongkat naktamala, tigapuluhdua tamparan, dua ikatan kalajengking, dan dua penggantungan, jarum di tangan,

membakar sendiri jari orang yang mabuk, membakar di matahari selama sehari orang yang minum lemak,

dan ranjang ujung balbaja pada malam musim dingin

MENURUT guruku saat itu, Kautilya yang juga bernama Wisnugupta adalah seorang brahmana yang menjadi ahli politik dan menteri negara, tetapi di India sana, sehingga disebutkan perkara musim dingin segala -barangkali para pedagang membawa kitabnya ke Yawabumi. Mungkin yang membawanya adalah salah satu anggota rombongan rohaniwan Vajrabodhi yang datang dari Sri Lanka pada 711, ketika ia terpaksa tinggal lima bulan di kerajaan Sriwijaya untuk menunggu angin, dalam perjalanan menuju Tiongkok. Bukan tidak mungkin ada anggota rombongan yang tetap tinggal di Suwarnadwipa, dan suatu hari menumpang kapal dagang Sriwijaya ke Yawabumi.

Kemungkinan besar gagasan-gagasan seperti dalam Arthasastra itulah yang menjadi pedoman para raja Yawabumi, dan karena itu guruku merasa aku harus mempelajarinya juga. "Tentu saja di Yawabumi banyak isinya disesuaikan, atau ditafsirkan sesuai keinginan yang mempunyai kepentingan," kata guruku.

Aku tidak tahu apa yang diinginkan Kepala Dinas Rahasia, tetapi kewaspadaanku sungguh bertambah. Tidak berlebihan jika aku menganggap perempuan-perempuan jelita berambut panjang beralis tebal dengan mata tajam menyala-nyala yang berbusana bagaikan bhiksuki ini adalah juga para tikshna dan rasada- dan itu jauh lebih berbahaya daripada menghadapi mereka dalam pertarungan terbuka.

Aku dibawa ke sebuah candi-bukur, paviliun di atas bukit yang sekaligus merupakan candi-bagajing atau rumah bertiang delapan. Bangunan berbubungan tanah bakar itu secara keseluruhan berwarna kuning, memiliki waruga, serambi yang ditinggikan baik di tengah maupun bagian belakang. Kulihat sekeliling, kain benanten terlihat di beberapa bagian rumah, sebagai tirai dan rumbai?rumbai di bagian atas. Tentu ada witana atau pendapa di sana, dan sudah menunggu seseorang yang dari caranya berbusana tentu seorang pejabat tinggi negara.

Kain yang dipakainya halus, berprada emas dan berpola bunga teratai, hiasan rambutnya juga terbuat dari emas. Ia duduk di bangku kayu. Pada kedua tiang di belakangnya terdapat payung kuning tanda kebesaran. Di dekat bangku terdapat meja kecil tempat seperangkat peralatan makan sirih. Waktu kami tiba ia sedang mengunyah sirih-dan ketika melihatku ia langsung me ludah, begitu merah, melayang langsung ke jambangan tempat ludah yang terbuat dari perak berukir.

"Kami bermaksud membayar tikshna yang diperintahkan mengakhiri tugas para satri. Tetapi ia cukup bodoh untuk bisa dibuntuti orang tua ini sampai kemari. Kami tidak tahu siapa dia, gerombolan Tangan Besi bermaksud menculiknya, kami sudah selesaikan riwayat mereka."

Jadi mereka tidak tahu siapa aku. Namun mereka sempat melihat aku membuntuti pembunuh bayaran berpisau terbang itu. Mereka tentu melihatku hanya ketika mendekati kedai melalui lorong sempit, saat gerombolan Tangan Besi yang malang itu muncul hanya untuk menghilang lagi selama- lamanya. Kuingat guru mereka yang tangan besinya patah setelah memukulku sebagai patung. Jurus Tanpa Bentuk telah menerbitkan kecemburuan banyak orang. Mereka mengira aku mempelajarinya dari sebuah kitab ilmu silat. Padahal aku menemukannya berdasarkan suatu olah pemikiran.

"Siapa dikau orang tua, katakanlah dikau ini parivrajaka atau candala tak berharga. Berkatalah terus terang. Tapi jangan kami temukan bahwa dikau adalah mata-mata pengundang bala."

Aku tertegun tidak menjawab. Wajahku pasti tampak tolol. Kulihat mereka semua memandangku dengan curiga. Parivrajaka berarti pendeta kelana, agaknya aku masih tampak lusuh juga. Hanya menyangka aku pendeta kelana ataukah gelandangan yang lusuh tiada terkira, dan seorang gelandangan tanpa kejelasan kasta tentu saja dianggap candala.

Mata-mata? Pertentangan di antara para raja Mataram di Yawabumi memang hampir selalu ruwet, karena di dalam setiap pihak yang bertentangan masih terdapat berbagai pihak yang saling bertentangan lagi dengan alasannya masing- masing.

Aku mulai mengembara di sungai telaga dunia persilatan pada usia 25 pada tahun 796, saat itu Rakai Panunggalan sudah berkuasa 12 tahun dari pemerintahan yang berusia 19 tahun. Ketika aku meleburkan diri dengan dunia ramai pada usia 50, pada tahun 821 itu penggantinya, Rakai Warak, telah bercokol 18 tahun. Ia akan turun enam tahun kemudian. Digantikan Dyah Gula yang hanya berada di singgasana setahun, antara 827-828. Ketika aku menghilang tahun 846, Rakai Garung yang lebih dikenal sebagai Samarattungga, penggantinya, setahun kemudian turun dan Rakai Pikatan naik tahta. Aku tahu kisah perseteruannya dengan Balaputradewa,

yang menyeberang ke Suwarnadwipa dan secara tidak langsung mencoba minta bantuan Raja Dewapaladewa dari India untuk merebut tahta di Yawabumi; tetapi masa setelah itu bagiku ibarat kegelapan. Aku hanya tahu sekarang ini yang berkuasa adalah Lokapala yang bergelar Rakai Kayuwangi, sejauh kudengar adalah anak Pramodawardhani, permaisuri Rakai Pikatan yang dulu bernama Jatiningrat.

Raja-raja Mataram ada yang memerintah lebih dari 20 tahun, tetapi ada juga yang berkuasa kurang dari satu tahun. Namun masa pemerintahan yang panjang tidak selalu menunjukkan kekuasaannya mantap, sedangkan masa pemerintahan yang pendek tidak juga berarti sama dengan kekacauan. Pendiri kerajaan Mataram yang pertama, Sanjaya, hanya bisa bertakhta se lama 24 tahun,  setelah berperang dengan banyak kerajaan kecil di sekitarnya. Itu juga yang berlangsung se lama 38 tahun masa pemerintahan Rakai Panamkaran agar meraih puncak kedaulatan. Apakah masa pemerintahan Rakai Kayuwangi tergolong pemerintahan yang tenang di atas kekacauan ataukah yang akan berubah dan berganti dalam ketenangan belum dapat kupikirkan.

Lagipula aku tidak bisa membicarakannya kepada Kepala Dinas Rahasia ini.

Ia meludah langsung ke wajahku. "Bikin dia bicara!"

Apakah aku sebaiknya pergi? Atau sudah seharusnya aku bersandiwara agar mendapat kejelasan yang menenangkan hati? Sepucuk pedang putih mendadak sudah berada di bawah daguku. Salah satu pengawal rahas ia istana itu mendekat. Harum tubuhnya nyaris membuat aku tidak bisa berpikir.

"Orang tua, dikau masih bisa hidup agak lebih lama jika bicara."

Aku memilih yang terakhir. "Sahaya... Sahaya. "

"Bicaralah terus terang! Cepat!"

"Sahaya hanya menurut perintah..." Perempuan- perempuan itu maju lebih dekat.

"Perintah siapa?"

Aku benar-benar harus bersandiwara. "Sahaya tidak bisa mengatakannya "

Ugh!

Sebuah tendangan bersarang di ulu hatiku, dan kepalaku yang tertunduk maju disambut lutut sekeras besi. Aku menerima semua ini dengan Jurus Pasir Menyerap Air, sehingga pukulan dan tendangan yang seperti apa pun kerasnya sama sekali tidak terasa. Aku menjatuhkan diri dan menggelinding di lantai batu. Punggawa berbaju mewah itu menginjak-injak dan menendang diriku.

"Katakan! Siapa! Siapa! Siapa!" Aku harus bersandiwara.

"Ampun, Tuanku! Ampunilah sahaya! Ampun! Sahaya hanya rakyat jelata!"

Dia terus menendang dan menginjak-injak, sementara aku berusaha terus tengkurap agar kepura-puraan tidak terbaca dari wajahku.

"Dikau sudah tua dan siap masuk neraka! Kurangilah dosamu dengan pengakuan sejujujurnya! Kecuali dikau ingin merasakan neraka hari ini juga! Katakan dikau bekerja untuk siapa!"

Entah dari mana Kepala Dinas Rahasia ini sudah memegang cambuk berduri yang akan merajam kulit manusia dengan sangat menyakitkan, sebelum akhirnya disiram air garam.

Aku berpikir keras. Jika aku tidak membiarkan kulitku terajam karena Jurus Pasir Menyerap Air, pasti akan sangat mengundang kecurigaan. Namun membiarkan cambuk itu merajamku juga akan menimbulkan persoalan.

Selain akan sangat menyakitkan, kulitku tidak akan terlalu mudah melakukan pemulihan karena umurku sudah 100 tahun. Rasa sakit bisa diatasi oleh tenaga dalam, tetapi waktu yang telah mengauskan kulitku tidak bisa kulawan.

Apakah aku harus mengorbankan diri begitu rupa demi penyamaran?

Punggawa itu mencambuk punggungku. Breeett! Kain busanaku robek dan duri-duri cambuk itu menembus kulitku. Sulit dibayangkan manusia akan mampu menahan kesakitan dan kepedihan seperti ini.

Saat itu aku mendapat akal. "Ampun!"

Aku berteriak seolah-olah sangat kesakitan, dan tentu

seolah-olah tidak tahu bahwa gendang telinga punggawa itu bergetar karena gelombang suara sangat tinggi yang kukirimkan bersama teriakanku.

"Ampun!"

Demikianlah setiap kali cambuk itu menyambar, teriakanku mungkin terdengar wajar, tetapi berkat tenaga dalamku dapat kutiup gendang telinganya dengan gelombang suara tinggi yang membuat kepalanya sakit. Aku tahu punggungku bersimbah darah karena tercacah. Kepala Dinas Rahasia ini akan mengiranya sebagai penyebab teriakanku.

Baru lima cambukan ia sudah berhenti.

"Orang tua, dikau telah berkata hanya mendapat perintah. Katakanlah siapa yang memerintahmu agar dikau tidak lebih menderita lagi!"

Aku sudah tahu apa yang akan kukatakan sejak tadi. Namun jika aku mengatakannya dengan terlalu mudah, tentu sangat mencurigakan. Aku harus mengulur waktu. Lagipula aku masih ingin mendapat lebih banyak kejelasan.

"Sahaya tidak berani mengatakannya Paduka, karena sahaya pasti akan mati jika mengatakannya."

Punggawa itu memilin kumisnya. Aku mencoba bangkit dan bersimpuh.

"Sama saja! Dikau juga akan mati jika tidak mengatakannya!"

"Ampuni sahaya Paduka!" "Dikau harus mengatakannya! Ataukah dikau menginginkan imbalan?"

Kepalaku kuangkat, sempat kulihat ia memberikan isyarat kepada para pengawal rahasia istana. Kuingat kembali nas ihat Kautilya alias Canakya dalam Arthasastra tentang "Mengawasi Pihak-Pihak yang Dapat Dibujuk dan Tidak Terbujuk dalam Daerah Sendiri" yang merupakan Bab 13 di Bagian 9 dari kitab tersebut. Aku teringat Ayat 17 dan 25.

ia hendaknya mengambil hati mereka dengan hadiah- hadiah dan perdama ian kepada mereka yang tidak puas supaya mereka menjadi puas ia hendaknya menangani

mereka yang tidak puas

dengan cara perdamaian (sama) hadiah (dana), perselisihan (beda), atau kekerasan (danda)

Kiranya penting untuk memahami jalan pikiran mereka ini, supaya dapat mengambil sikap yang tepat. Dengan cara apa pun yang mereka gunakan, aku akan bersikap seolah-olah merupakan mata-mata yang membuka rahasia. Namun sebaiknya aku mengetahui lebih banyak hal lebih dahulu sebelum melakukan tipu daya yang satu tersebut.

Punggawa itu meninggalkan ruangan. Tinggal para pengawal rahas ia, pengawal pribadi raja, yang telah membuatku penasaran karena menguasai ilmu pedang Suksmabhuta. Mereka bersikap ramah.

"Bapak, maafkanlah Kepala Dinas Rahas ia itu, ia tidak mengerti bahaya yang mengancam Bapak -sekarang Bapak boleh pergi dengan bebas..."

Pergi dengan bebas? Padahal aku belum mendapatkan apa pun yang dapat menjelaskan keadaanku!

"Sekarang luka Bapak akan kami obati." Salah seorang perempuan itu menggamitku. "Mari Bapak, bajunya dibuka dulu."

Ah! Mereka mau mengobati lukaku -jika mereka membuka bajuku, akan terlihat pundi-pundi uang maupun gambarku sebagai Pendekar Tanpa Nama dalam lembaran lontar itu! Aku belum tahu apa yang bisa kulakukan jika itu menjadi masalah baru.

"Maafkanlah sahaya, Puan, biarkanlah saya pergi sahaja. Maafkanlah, sahaya sudah tidak tahan lebih lama lagi berada di s ini. Biarkanlah sahaya pergi..."

Mungkin aku berhasil memainkan peran sebagai orang yang sangat layak dikasihani. Namun aku lebih percaya mereka mempunyai siasat lain, ketika dengan mudahnya begitu saja mengiz inkan aku pergi. Aku cepat menangkap, mereka saling berpandangan dengan ilmu angavidya, yakni ilmu menafsirkan sentuhan tubuh.

"Baiklah Bapak, jika Bapak memang sudah tidak mampu menanggung penderitaan, kami tidak akan menahan Bapak lebih lama lagi, tetapi bawalah ramuan obat ini, oleskan pada luka Bapak, semoga akan segera pulih kembali."

Aku diantarkan sampai ke depan gerbang, mereka membiarkan aku melangkah dengan terseok-seok dan pergi. Aneh sekali. Seharusnya mereka tetap menahan aku dengan penuh kecurigaan. Mereka sudah mengetahui aku membuntuti pembunuh bayaran mereka di lorong sempit. Aku sudah memancing rasa ingin tahu mereka dengan berbuat seolah- olah memang ada yang memerintahkan aku berbuat seperti itu-dan bahwa yang memerintah itu tampaknya berkuasa sekali.

Seharusnya mereka masih menahanku, terus menerus bertanya dengan penasaran, kalau perlu dengan siksaan, karena hal itu memang dibenarkan oleh Arthasastra. Namun mereka melepaskan aku yang memang tidak siap mendapat pertanyaan tentang Pendekar Tanpa Nama dengan terlalu cepat. Aku memang ingin lepas karena lembar pengumuman tentang perburuan Pendekar Tanpa Nama itu, tetapi bahwa mereka melepaskan aku dengan terlalu mudah, sangat menimbulkan kecurigaanku.

Aku masih melangkah dan berpikir. Apakah Arthasastra masih bisa memberikan jawaban? Karena aku mempelajarinya ketika masih muda, masih cukup banyaklah yang bisa kuingat.

bila ia telah mempunyai mata-mata untuk para pejabat tinggi

hendaknya ia menetapkan mata-mata untuk para warga negara dan orang desa agen-agen rahasia, yang saling berlawanan hendaknya mengadakan perdebatan

di tempat-tempat suci, tempat rapat, perkumpulan masyarakat

dan pada kelompok-kelompok lain

Aku melangkah tertatih-tatih memasuki tempat keramaian. Orang-orang lalu lalang di jalan. Kurasa dunia makin sesak- dan bagiku berarti makin membingungkan. Apakah yang masih diberikan ilmu silat dalam keadaan seperti itu?

Aku melangkah, melenyapkan diri di antara banyak orang. Aku tidak sekalipun menoleh ke belakang. Namun aku tahu betapa aku dibuntuti orang.

(Oo-dwkz-oO)