Nagabumi Eps 02: Maut Berkelebat di Balik Kelam

Eps 02:  Maut Berkelebat di Balik Kelam

PEDANG itu belum tercabut dari sarungnya ketika terdengar jeritan memecah kesunyian. Sesosok bayangan terdengar jatuh terbanting dan menjerit berguling-guling di dasar gua. "Aaaaaahhh! Mataku! Mataku!"

Sekejap kemudian terdengar kepak sayap ribuan kelelawar dengan cericitnya yang sangat dikenal. Mataku masih terpejam dalam sikap bersamadi, tetapi samadiku sebenarnya sudah selesai. Aku tetap mematung dalam sikap dhyana- mudra ketika tanpa suara aku meludah ke mata penyerbu yang sedang menarik pedangnya di atasku. Ludah itu mengandung rasa buah yang tajam dan bagi kelelawar rasa semacam itu tak boleh mereka lewatkan. Mereka mencaplok mata yang mereka kira semacam buah yang kini berdarah. Jeritan itu belum selesai ketika hampir semua mata di balik kerudung hitam itu telah kuludahi dengan cepat sekali. Regu pembunuh ini memang menyamarkan tubuhnya begitu rupa sehingga hanya matanya yang sekilas memantulkan cahaya terlemah dan tetap saja bernama cahaya. Segenap rasa buah kuciptakan dalam ludahku. Rasa mangga, rasa manggis, rasa papaya, rasa durian, dan rasa kesemek. Cericit kelelawar kini dise ling dengan jeritan manusia yang semuanya berguling?guling sambil memegangi matanya.

"Tolong! Mataku! Mataku! Tolong!"

Pertolongan apa yang diharapkan oleh mereka yang datang dengan niat membunuh? Kepak ribuan kelelawar yang terus menerus mencericit berse lang-seling dengan suara jeritan putus asa. Mereka semua akan binasa di dalam gua ini, tetapi aku tidak perlu menyaksikannya karena telah melesat keluar memburu pemimpinnya yang pasti berada di luar gua. Umurku memang sudah 100 tahun, mengapa mereka begitu tak sabar menanti kematianku yang pasti tak akan terlalu lama lagi?

Meskipun sudah uzur dan kenyang bersamadi, darahku tetaplah naik ke kepala -di luar gua aku segera disambut ribuan anak panah yang seharusnyalah mencabik tubuhku, tinggal menyisakan gumpalan daging berdarah di setiap mata anak panah itu. Panah-panah yang dilepaskan dari balik setiap batang pohon di dalam hutan itu menembus tubuhku tetapi tidak membawa sepotong daging pun, karena aku telah menggunakan Jurus Tanpa Bentuk yang telah mempermainkan pikiran mereka.

Para pembokong itu bersembunyi di balik batang?batang pohon. Satu pasukan tentara agaknya telah dikerahkan untuk menangkapku. Siapa gerangan yang telah memerintahkan dan apakah kiranya yang telah terjadi di dunia? Sudah 50 tahun aku menghilang dari dunia persilatan dan 25 tahun terakhir aku tak berjumpa manusia, apakah yang masih mungkin menjadi urusanku dengan para pengepung yang usia tertingginya hanyalah 25?

Aku berkelebat seperti bayangan sepanjang hutan. Mencabuti nyawa mereka seperti malaikat maut menjalankan pekerjaan. Kesalahan terbesar siapa pun yang berusaha mengatasi Jurus Tanpa Bentuk adalah menghadapinya tetap sebagai bentuk. Siapa pun mereka berusaha mengingat, mencatat, dan membahas segala gerakanku, segalanya sebagai suatu bentuk dan berdasarkan bentuk itu mencari kelemahan ilmuku. Mereka membahas bentuk dan mempertimbangkan urutan gerakannya, agar dengan begitu dapat menciptakan ilmu silat yang baru hanya untuk menghadapiku. Tentu saja pendekatan semacam itu hanya akan menjadi sia-sia, karena Jurus Tanpa Bentuk akan selalu menyesuaikan dirinya dengan jurus -jurus yang dihadapinya. Jurus Tanpa Bentuk adalah jurus yang tidak terdapat dalam dirinya sendiri, melainkan selalu sudah ada dalam jurus -jurus yang dihadapinya. Ibarat kata jurus ilmu s ilat adalah suatu isi, maka Jurus Tanpa Bentuk akan menjadi kekosongan -ini membuat setiap serangan maut bagaikan membuka kelemahan dirinya sendiri.

Aku tampak berkelebat cepat seperti bayangan, tetapi aku merasa diriku melayang ringan selambat cabikan kapas diterbangkan angin. Dalam waktu singkat seratus pemanah di balik pohon itu kutancapkan ke batang pohon dengan anak- anak panah mereka sendiri. Ada yang tertancap memeluk pohon, ada yang tertancap menghadapi kekelaman rimba. Mereka tidak akan langsung mati. Mereka merintih-rintih. Tiada seorang pun mempunyai cukup tenaga untuk mencabut panah itu lagi. Tubuh mereka tertancap begitu tinggi. Jika panah itu berhasil mereka cabut, tetap saja tubuh para serdadu yang barangkali tidak seorang pun mengenalku itu akan melayang jatuh dan tetap saja mati.

Kulihat lima pemimpin mereka berada di luar gua dan dari caranya berbusana aku tahu mereka menyandang jabatan militer dari suatu negara. Hmm. Kerajaan manakah kiranya di Yawabumi ini yang telah mengerahkan pasukannya untuk membunuh atau menangkapku. Aku hidup di dunia persilatan, tidak berurusan dengan kehidupan sehari-hari. Dunia persilatan memang hidup di bumi yang sama dengan dunia awam para pencari keselamatan diri, tetapi dunia persilatan memiliki kehidupannya sendiri yang tidak akan pernah diterima sebagai sesuatu yang nyata oleh masyarakat awam - karena bagi orang awam, dunia persilatan hanyalah suatu dongeng, suatu sastra.

Baiklah, itu berarti aku hidup di dalam sastra, atau tepatnya di dalam bahasa. Apakah yang telah menjadi begitu keliru dan begitu salah sehingga suatu negara di dunia nyata ingin membunuh seorang pelaku dari sebuah dongeng? Bagaimanakah dongeng bisa menjadi sangat berbahaya? Hmmm. Kelima pemimpin pasukan itu mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Aneh, bukannya takut, perasaanku malah menjadi riang. Sudah begitu lama aku tenggelam dalam samadi karena memang tidak ada yang bisa kulakukan lagi. Aku begitu siap untuk mati. Namun kini aku seperti dilahirkan kembali. Mereka bergerak mengepung tanpa kata-kata dan aku membiarkan diriku diserang begitu rupa seolah-olah akan begitu mudah mereka bisa membunuhku. Dalam gebrakan pertama saja kedua orang dari mereka sudah saling menikam dengan kelewang. Tinggal tiga orang sekarang. Mestinya aku bisa mengatasi mereka dengan mudah, tetapi bukankah aku membutuhkan penjelasan? Mereka menyerangku dengan kecepatan tinggi. Seorang di antaranya bersenjata cambuk yang meledak-ledak memekakkan telinga. Ini mungkin penemuan terbaru kelompok-kelompok yang bermaksud memecahkan rahasia Jurus Tanpa Bentuk. Mungkin mereka mencatat bahwa aku sering bertarung dengan mata terpejam dan itu berarti aku mengandalkan indera pendengaran. Mungkin mereka berpikir karena itu aku harus dilawan dengan mencari kelemahan atas pengandalan indera pendengaran itu. Maka meledak?ledaklah cambuk itu sampai burung-burung hutan beterbangan ke udara dan monyet-monyet melayang dari ranting ke ranting sambil menjerit -jerit menambah gaduh suasana. Begitu gaduh rupanya sehingga ledakan cambuk itu hanya menjadi salah satu di antaranya. Ia melenting dari batang pohon satu ke batang pohon lain dengan ilmu meringankan tubuh yang nyaris sempurna, tampaknya berupaya membingungkan aku dengan suara ledakan cambuknya, tetapi aku segera mengikuti se luruh gerakannya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Aku se lalu mendahuluinya, sehingga terlalu mudah bagiku, bahkan tanpa harus menggunakan Jurus Tanpa Bentuk untuk menepuk kepalanya sehingga kesadarannya hilang dan tidak akan pernah kembali lagi.

Kini tinggal dua orang berdiri menghadapi dengan napas tersengal. Ilmu mereka tampaknya berada di bawah orang yang memegang cambuk tadi, dan pangkat mereka pun barangkali lebih rendah. Keduanya melepaskan senjatanya ke tanah tanda menyerah. Sebuah pedang besar bergerigi dan sebuah kapak dua sisi. Wajah mereka pucat pasi.

"Katakan siapa nama kalian, dari mana kalian berasal, dan mengapa kalian memburuku jauh -jauh ke dalam rimba raya ini untuk membunuhku." Mereka tidak menjawab. Mereka saling berpandangan. Lantas tangan mereka bergerak cepat memasukkan sesuatu ke dalam mulut mereka.

Sejenak kemudian mereka menggelepar dengan mulut berbusa.

(Oo-dwkz-oO)

JIKA mereka hanya berniat menangkapku, aku akan membiarkan diriku tertangkap agar bisa membongkar misteri ini. Namun mereka berniat membunuhku-dan meskipun bagi orang berumur 100 tahun jarak dengan kematian hanyalah selangkah ke kuburan, aku bukanlah pendeta yang akan membiarkan diriku terbunuh tanpa bayaran.

Aku melayang ke atas pohon, meloncat ke dinding tebing di atas gua, dan melenting dari ujung batu yang satu ke ujung batu yang lain untuk mencapai puncaknya. Di atas sana terdapat suatu dataran luas tempat aku bisa memandang ke mana-mana. Sudah 25 tahun aku bersembunyi di tempat ini dan aku tahu betapa tidak akan ada tempat yang lebih baik lagi untuk menghindari dunia ramai se lain di sini. Di dinding karang, kadang terdapat sarang burung elang. Hanya anak- anaknya yang baru menetas tinggal di sana sementara induknya melayang terbang mencari mangsa di atas bumi. Sering kulihat mereka datang mencengkeram tupai atau ikan untuk memberi makan anak-anaknya itu. Betapa kelanjutan hidup makhluk yang satu harus dibayar dengan kematian makhluk yang lain!

Aku masih terus melayang dengan ringan melalui jejakan di ujung batu yang bertonjolan di sana-sini. Angin bertiup kencang dalam cahaya sore.

Menjelang puncak, terdapatlah suatu gua yang dulu juga pernah kumasuki. Letaknya cukup dekat puncak yang berupa dataran itu, sehingga siapa pun dapat merayapi dinding dan menyusuri dinding untuk mencapainya -dan itu pula sebabnya aku tidak memilih untuk tetap tinggal di sana. Memang terlihat bekas-bekas kehidupan di sana. Tengkorak manusia, kapak batu, dan batu pipih yang digunakan manusia purba tampak bergeletakan. Apakah mereka bersilat?

Pernah kutemukan sejumlah gambar manusia bergerak di dinding gua. Namun kukira itu hanya gambaran orang?orang menari. Batu-batu pun tersusun begitu rupa menunjukkan sentuhan tangan manusia. Gua itu tersembunyi dan barangkali saja mereka menghindari sesuatu, sama saja seperti aku. Pemikiran itulah dulu yang membuat aku enggan menempatinya dan mencari tempat yang jauh lebih curam di bawah sana. Siapa nyana dua puluh lima tahun kemudian tempat persembunyianku ditemukan juga, justru dari bawah oleh pasukan pembunuh yang berani menyabung nyawa merambah hutan?

Tidak kumasuki lagi gua itu dan aku terus melayang ke atas. Udara sangat dingin di atas ini dan aku harus melenting- lenting menembus kabut. Angin bertiup menggigilkan, suaranya terdengar seperti siulan maut. Begitulah, meskipun aku sendirian saja, sebenarnyalah aku tidak pernah kesepian, karena segala sesuatunya dalam pandanganku bisa hadir sebagai suatu makna. Bahkan aku bisa belajar banyak dari dedaunan yang tampak basah, untuk ilmu silat maupun demi suatu filsafat pemahaman tentang dunia, karena bagiku hanya mereka yang mampu memberi makna keberadaan dunia akan mampu selamat dari keterserapan hidup yang semu. Bukankah sehari dan semalam hanyalah perputaran bola bumi? Namun terlalu sering kita lupa untuk menyadarinya, bersama kehidupan semu yang menyeret kita untuk betul- betul menjadi tua. Dalam kehidupanku sebagai pengembara di dunia ramai, aku menyadari bagaimana manusia telah ditelan oleh kehidupannya sehari-hari demi kebutuhan perutnya yang tidak pernah berhenti meminta diisi. Hidup tanpa kesadaran, bagaimanakah caranya kita masih tetap jadi manusia? Demikianlah aku si tua ini berkelebat di antara kabut mencari jalan ke atas sana, hanya untuk mendapat sambutan jarum -jarum beracun. Kudengar desingannya yang tajam menembus kabut, memaksaku bersalto tiga kali ke udara, karena serangan jarum -jarum beracun itu tidak kunjung berhenti jua.

Waktu mendarat kembali ke bumi aku masih tersekap kabut. Kaki bisa merasakan batu cadas yang datar di puncak itu, tetapi aku tidak bisa melihat apa pun, sekelilingku hanyalah kabut yang berjalan dalam embusan angin kencang dari seberang benua.

Kudengar suara tawa terkekeh-kekeh.

"Heheheheheheh! Sudah menjadi tua bangka dikau rupanya! Kenapa kamu tidak mati-mati juga?"

Kabut tiada juga tersibak, tetapi dari baliknya tiba-tiba terjulur sebatang pedang pipih dengan ketajaman pada dua sisi yang tampak ringan dan jelas sangat tajam langsung terarah ke leherku! Aku berkelebat dan sesosok bayangan juga berkelebat. Telapak tanganku bergerak cepat menampar- nampar sisi pedang untuk membelokkan arahnya. Namun gerakan pedang itu memang luar biasa cepat. Aku bergerak lebih cepat agar mendahului gerakannya, tetapi tanggapan itu agaknya sudah diduga. Hmm. Lawanku kali ini berilmu tinggi.

Kami bergerak sangat cepat di tengah kabut yang ternyata semakin lama semakin pekat. Aku hanya melihat sosok itu berbusana serbaputih. Bergerak cepat sekali menjadi hanya kelebat bayangan serbamemutih. Suara pedangnya bersiut- siut menjanjikan datangnya maut. Aku tidak menggunakan Jurus Tanpa Bentuk karena ingin melemaskan otot-ototku.

"Tua bangka! Engkau masih cepat juga!"

Siapakah dia? Kalimatnya menunjukkan betapa ia mengenalku. Kalaupun tidak berhadapan sebagai lawan bertarung, setidaknya ia pernah menyaksikan aku menghadapi lawan-lawanku. Pada masa mudaku aku adalah seorang petarung yang selalu mencari lawan, termasuk dengan menantangnya di tempat terbuka, karena kepongahan masa mudaku selalu membuat aku ingin ditonton saat menundukkan siapa pun yang menjadi lawanku.

Aku melakukan beberapa gebrakan untuk melumpuhkannya. Terasa tanganku menghajar dadanya. Ah! Seorang perempuan! Kenapa aku tidak bisa mengenali dari suaranya ketika ia berbicara? Aku melompat mundur dan berusaha menjauh. Sekarang aku mengerti kenapa aku selalu merasa berada di tengah keharuman. Ia seorang perempuan pendekar yang selalu berparfum! Samar-samar kuingat dari kenanganku, nama seorang perempuan pendekar yang terkenal karena wewangiannya itu, Pendekar Me lati. Dulu dia cantik sekali. Apakah kini dia sama berkeriputnya seperti aku?

Kudengar suara. Tentu saja ia muntah darah. Ia telah terkena pukulan Telapak Darah -jika ia masih bertahan hidup berarti tenaga dalamnya tergolong tinggi. Selama ini belum pernah ada lawanku yang bisa melanjutkan hidupnya lebih dari 24 jam, bahkan meski hanya terkena anginnya saja dari pukulan Telapak Darah tersebut.

Kabut belum juga berpendar. Ia pergi meninggalkan aroma melati.

Aku bahkan tidak pernah melihat dengan tegas sosok dan wajahnya.

Apa yang membuat perempuan pendekar yang ternama itu juga berniat membunuhku?

Ia termasuk pendekar golongan merdeka. Tidak akan memburu seseorang jika tidak dianggapnya mempunyai kesalahan yang berat.

Berbeda dengan golongan putih yang akan menumpas orang-orang golongan hitam tanpa pandang bulu, para pendekar golongan merdeka tidak terlalu peduli dengan baik dan buruk, benar dan salah, atau apakah seseorang itu termasuk golongan hitam atau putih.

Mereka hidup lebih untuk diri mereka sendiri, mengabdikan hidupnya untuk mencari dan meningkatkan ilmu, serta membela keadilan hanya jika para pendekar golongan putih sudah tidak bisa mengatasinya -itu pun lebih sering dengan cara tidak memperlihatkan diri.

Di tengah kabut yang dingin, aku terpaku merenungkan perkembangan yang mendadak dan berlangsung cepat sekali. Setelah dua puluh lima tahun hidup di dalam gua, aku harus memutuskan, apakah akan tetap meninggalkan dunia ramai dan diam-diam mati di suatu tempat; ataukah kembali memasukinya untuk mencari jawab: Mengapa begitu banyak orang mengejar dan memburu diriku?

Ketika kabut pergi, malam telah tiba. Tidak ada yang bisa kulakukan lagi se lain memasuki gua para manusia purba di bawah tadi untuk mencari sekadar kehangatan. Aku ini sudah uzur dan tua, meskipun aku seorang pendekar, musim kemarau yang dingin selalu membuat aku sangat tersiksa.

(Oo-dwkz-oO)