Mencari Tombak Kiai Bungsu Jilid 10 (Tamat)

Jilid 10 (Tamat)

- GILA, mulutmu amat kotor.

Ken Rati marah dan menyerang penjaga itu tanpa memberi kesempatan membela diri. Maka tak ampun muka penjaga itu jadi sasaran pukulan si gadis yang cepat dan kuat. Dan Ken Rati menggerakkan kaki pula, maka

- buk! 

Tubuh penjaga itu tersungkur mencium tanah dan menggerang kesakitan.

- Aduh ! Aduh Ugh ! kau.ugh!

Kawan penjaga itu kaget melihat tindakan Ken Rati. bengong ketakutan. Ia tak bergerak dengan mata mendelik. Ken Rati bergerak pula, dan sekali tangannya menyambar, kepala penjaga itupun kena dipegang dan segera muka itu bengkak dan biru akibat pukulan Ken Rati yang marah, dan dibanting menyusul temannya yang masih menggerang kesakitan. Namun rupanya mendengar

suara-suara kesakitan dan suara Ken Rati yang mengumpat keras, muncul puluhan orang prajurit ditempat itu. Mereka kaget melihat kedua wanita yang telah membikin kedua penjaga regol itu tak berkutik dengan sekali gebrakan. Maka prajurit-prajurit itu mengepung dengan senjata mengancam. Mirah Sekar mundur, ia dekati Ken Rati dan bersiap menghadapi para prajurit itu.

- Kau terburu napsu Rati. kita jadi repot sekarang.

- Ah, mereka pantas dihajar begitu!- Ken Rati membantah perkataan.

Ketika itulah loncat kemuka seorang diantara prajurit yang mengepung, rupanya pemimpinnya.

- Kalian siapa ? Tanya Prajurit itu.

- Sungguh berani mati mengganggu istana pada saat begini. Nah, menyerahlah agar kami tak kesalahan tangan membunuh kalian yang masih muda.

Mirah Sekar girang. Dengan ditanya ia merasa mempunyai alasan menjelaskan perkara itu. Maka ia membungkuk memberi hormat dan berkata

- Maafkan kami kisanak, bukan kami bermaksud mengganggu kalian atau mengganggu siapapun disini. Kami adalah pejalan jauh yang bermaksud menghadap tuanku Trenggana, tetapi kedua penjaga itu telah berkata kasar dan tak sopan, sehingga adikku marah dan lupa diri memukul mereka.-

- Adikmu memukul mereka ?-

Prajurit itu bagai tak percaya. Ia menatap Ken Rati dengan pandang tak percaya. Gadis semuda itu?

Pikirnya. Tetapi melibat roman muka para prajurit yang telah tak berdaya itu ia harus mempercayai juga. Maka orang itu memerintahkan prajurit yang mengepung untuk mundur.

- Kalian siapa dan ada kepentingan apakah mencari Tuanku Trenggana ? Tanyanya kemudian.

Mirah Sekar tersenyum, ia maju dan sambil masih dengan sikap menghormati ia berkata pula

- Ya, kami mencari tuanku Trenggana. Tentu saja ingin menyumbangkan darma bakti. Bukankah Demak bermaksud menyerang ke tlatah timur ?

Prajurit itu heran juga mendengar jawaban yang demikian, tetapi setelahnya mengetahui kemampuan dua wanita itu, terbit juga kepercayaan disamping rasa kagum dihati. 

- Tapi sayang, sayang sekali. - Jawab Prajurit itu kemudian

- Tuanku Trenggana telah berangkat membawa tentara Demak ketimur. Kalau kalian ingin menyusul. boleh dan sesukamu.

Mirah Sekar berpandangan sejenak dengan Ken Rati. Dugaan mereka terbukti. Tentara Demak telah berangkat ke timur

- Yang tinggal di istana ?- Sekar bertanya.

- Hanya tuanku Mukmin berdua Pangeran Timur.-

- Kalau demikian, tolong antarkan kami menghadap.

Kepala prajurit itu terdiam beberapa saat. Hatinya diliputi kebimbangan. Menurut perintah yang diterima ia dilarang membawa orang asing yang tidak berkepentingan untuk masuk menghadap diistana. Akan, tetapi melihat kedua wanita muda itu, entah apa pula yang menyebabkan, timbul kepercayaan dalam hatinya. Make setelah menimbang-nimbang akhirnya berkata

- Baik, kalian ikuti kami !

Mirah Sekar tersenyum dan menggamit Ken Rati untuk mengikuti langkah prajurit-prajurit yang mengiringkan memasuki istana.

Munculnya kedua wanita muda diiringkan oleh kepala prajurit itu membuat kaget dan heran Pangeran Mukmin.

- Kalian ingin bertemu dengan kakanda Trenggana? Tanya Pangeran itu. Mirah Sekar mengiyakan.

Pangeran Mukmin dengan sikap curiga berkata

- Ada kepentingan apakah

Mirah Sekar menoleh menatap Ken Rati. Ketika gadis itu mengangguk barulah ia berkata

- Kami adalah orang-orang dusun yang jauh dari Kotaraja ini tuanku. Hamba sendiri sesungguhnya ingin mencari seorang prajurit tuanku yang bernama Sentanu, yang menurut pendengaran hamba berada di Demak...

- Sentanu ?!

Pangeran Mukmin kaget. Bahkan Pangeran Timur yang ada didekatnya tak kurang pula kagetnya.

- Jadi.. jadi kau mencari Sentanu ?

Mirah Sekar menjadi gugup juga. Tak diduganya kedua bangsawan itu akan kaget mendengar perkataannya. Hatinya berdebar. Terasa ada sesuatu yang tidak sewajarnya dalam sikap kedua pangeran itu. Namun Sekar tak memperlihatkan perasaan heran dan curiga itu. Ia lanjutkan perkataannya 

- Dan ini adik hamba tuanku, ia sengaja datang ke kotaraja untuk mencari ayahnya_

- Siapa pula ini ? Siapa yang kau cari ? - Pangeran Mukmin bertanya.

- Hamba sendiri masih belum mengetahui tuanku. Jawab Ken Rati.

- Hanya menurut kakek, ayah hamba itu berada di Demak, menjadi prajurit tuanku

Diam-diam Pangeran Mukmin tercengang dan kaget. Semula ia telah merasa aneh dua wanita muda itu memasuki istana bahkan telah merobohkan penjaga. Dan kini menanyakan hal-hal yg menurut kata hatinya aneh dan mengejutkan.

- Kalian jangan mengada-ada.- Kata pangeran mukmin.

- jangan mencoba mengganggu Demak dalam keadaan demikian. Aku bisa perintahkan agar kalian dihukum kisas.

- Ampun tuanku! Mirah Sekar maju.

- Sekali-kali bukan kehendak kami melakukan yang demikian. Percayalah tuanku, kami adalah orang padusunan yang tidak mempunyai niat buruk terhadap tuanku.

Namun sementara itu kedua pangeran Demak itu diam-diam mengagumi kecantikan Ken Rati dan Mirah Sekar. Ada getaran aneh merayap dalam dada keduanya manakala pandangannya menatap kedua wanita muda itu. Lebih-lebih terhadap Ken Rati. Roman si gadis yang membayangkan keras hati ternyata masih kalah oleh cahaya kecantikan muka itu.

- Jadi kau mencari ayahmu! Eh. kau katakan ia prajurit Demak ? Siapa ? katakan, tentu aku akan tahu kalau benar ia ada dalam lingkungan kaprajuritan Demak.

Kata Pangeran Mukmin kemudian seraya matanya menatap dengan pandang menggoda.

- Ampun tuanku, menurut kakek hamba, benar ayah hamba itu ada dalam lingkungan Demak, orang tua hamba adalah Raden Sasadara, itu menurut keterangan kakek hamba, Tuanku.

- He, kau Aneh-

Sahut Pangeran itu, pula.

- Kau sebutkan nama yang begitu asing. Tentu saja nama Sasadara tak akan ada dilingkungan prajurit Demak. Mungkin, aku bisa menolongmu dengan memanggil kepala prajurit dan menanyakan orang tuamu. Tetapi dengan nama Sasadara, aku sudah bisa memastikan bahwa nama itu bukan nama seorang prajurit Demak. Mungkin kau keliru, atau kakekmu keliru menyebutkan.

Ken Rati Kaget mendengar jawaban demikian. Tapi ia lebih percaya perkataan kakeknya. Maka dengan masih menatap pangeran itu ia berkata pula

- Tetapi tidak mungkin kakek hamba keliru tuanku. sebab ayah hamba benar bernama demikian. 

Dulunya ia datang berguru kepada kakek dan mengambil ibu hamba Ken Sanggit, lalu meninggalkan hamba sewaktu masih dalam kandungan.

- Ha... ha... ha... kau lucu! Pangeran Mukmin tertawa.

- Tentu telah tertipu, juga ibumu. Sasadara tentu nama palsu. Ia sengaja menipu kakek dan ibumu, lalu pergi meninggalkan kalian secara pengecut. Dan kalau ia mengaku sebagai prajurit Demak kemudian aku tahu siapa ,dia tentu kuhabisi nyawanya... ah... sadarlah, di Demak tak akan dapat kau temui orang itu. Tidak mungkin!--

Ken Rati berdiri dan meradang.

- Kakekku tidak mungkin tertipu oleh ayah. Kakek adalah seorang yang banyak berpengalaman, kakek tentu tahu kalau ayah seorang jahat. Tidak !

Pangeran Mukmin kaget juga melihat tingkah gadis itu. Mukanya merah. Ia merasa tersinggung dengan kelakuan Ken Rati yang dianggapnya tidak mengenal tata krama.

- Diam

Bentaknya dengan keras membuat Mirah Sekar dan Ken Rati terkejut.

- Kalian jangan kurang ajar di tempat ini. Kalian tahu tengah berhadapan dengan siapa ? Tahu bukan ? Kalian tengah berhadapan dengan penguasa Demak ?-

Ken Rati berpandangan dengan Mirah Sekar. Dan Sekar menggelengkan kepala perlahan memberi tanda agar Ken Rati tidak memancing keributan dengan Pangeran itu. Tetapi Ken Rati bertindak lain. Ia berdiri dan maju lalu telunjuknya menuding Pangeran Demak itu sambil berkata:

- Sombong! Kau sombong mengandalkan kekuasaanmu. Jangan anggap kami jerih dengan gertakanmu.

- Gila! Kalian benar kurang ajar dan berani!

Bentaknya kemudian. Mirah Sekar cemas hati menyaksikan kemarahan itu. Ia tak menghendaki yang demikian, sebab dengan sekali salah langkah melawan kedua Pangeran itu ia bisa dicap memberontak dan jika Raden Trenggana menganggap ia pemberontak, maka berbahayalah jadinya.

- Maafkan tuanku. adik hamba kurang sopan terhadap tuan- ku, ia masih terlalu muda. -

Kata Sekar kemudian. Tapi yang diharap menjadi lain. Pangeran Timur yang sejak tadi berdiam membisu tiba-tiba berdiri dan menghampiri Ken Rati dengan sorot mata marah. Namun Ken Rati tak bergerak, menanti apa yang akan dilakukan oleh Pangeran itu.

- Tahan!

Terdengar Pangeran Mukmin berseru mencegah hingga Pangeran Timur menahan langkah mendekati gadis itu. Kemudian terdengar tepukan tangan Pangeran Mukmin. Bertepatan dengan itu muncul sepuluh pengawal bersenjata.

- Tangkap gadis itu !- 

Perintahnya. Kesepuluh pengawal bergerak maju. Tetapi hati mereka diliputi tanda tanya dengan perintah yang dirasa janggal itu. Seorang gadis cantik yang nampak demikian lemah lembut disuruh tangkap oleh kesepuluh pengawal?

Ah. Namun perintah telah dilakukan, mereka tak lagi peroleh kesempatan berpikir ataupun menimbang- nimbang. Tiga orang diantaranya bergerak menangkap lengan Ken Rati. Sudah barang tentu gadis itu tak akan mau ditangkap dengan cara begitu. Ia berkelit dengan sigap sekaligus kedua kepalan tangannya bergerak pula maka terdengar seruan-seruan kaget ketiga pengawal yang

tiba-tiba saja merasakan bahu mereka sakit dan panas. Ketiganya tak menduga ketika tengah berusaha manangkap gadis itu Ken Rati melancarkan serangan menyerang bahu dan lengan mereka. Dan akibat kecepatan serangan sigadis pengawal-pengawal itu tak sempat berkelit hingga rasa sakit disertai panas pada bahu tiba-tiba saja hinggap. Ketiganya meringis dan melangkah mundur dengan heran. Pengawal lain yang menyaksikan kejadian itu tak kurang pula kagetnya. Mereka tanpa diperintah bergerak pula maju dan mengepung. Mirah Sekar melihat gelagat yang tidak menguntungkan cepat menggamit Ken Rati seraya ia melompat maju dan mengangkat tangan berkata :

- Tahan! Kalian jangan salah paham. Kami bukan penjahat yang harus ditangkap. Kami menghadap tuanku Trenggana dengan maksud mencari Suamiku Sentanu.

Kagetlah para pengawal mendengar pengakuan itu. Demikian juga kedua Pangeran yang tadi tidak terlalu memperhatikan. Siapa tidak mengenal Sentanu?

Maka pengawal-pengawal itu semakin ragu untuk menyerang.

- Ada hubungan apa kau dengan Sentanu ? Jangan mengecoh dan mencoba mengelabuhi kami.

Pangeran Timur membentak dengan keras. Mirah Sekar tertawa. Timbul marahnya .orang Demak itu tak percaya bahkan menuduh ia berdusta. Namun ditahan marahnya dengan tertawa.

- Sudahlah tuanku. kami boleh tidak dipercayai, semula maksud kami adalah ingin menghadap tuanku Trenggana. Dan karena Tuanku tidak berada di istana, ijinkan kami keluar tanpa diganggu. Kami akan menyusul tentara Demak ketimur.

- Enaknya kau bicara!

Pangeran Timur tertawa. - Kalian telah berani bersikap kurangajar diistana, harus berani pula membayar kekurang ajaranmu itu,_

Para pengawal yang mendengar perkatan itu kaget. Apalagi melihat kerling mata Pangeran itu, mereka tahu pangeran itu memendam niat jahat kepada kedua wanita muda itu. Hampir setiap prajurit telah mengetabui watak kedua Pangeran yang gemar dengan gadis-gadis muda.

- He, mengapa kalian mematung ?! Hayo tangkap dan masukkan mereka kedalam kurungan.

Pangeran Mukmin berseru. Para pengawal kaget. Mereka masih diliputi keraguan untuk turun tangan. Kalau benar wanita itu adalah orangnya Sentanu, mereka bisa membayar mahal untuk 

menebus perbuatannya.

- Gila! Kalian berani menentang perintah ha?!-

Pangeran itu berseru keras membuat para pengawal cepat bergerak dan menyerang Sekar berdua Ken Rati. Berkelebatan senjata mereka. Namun kedua wanita yang cukup tangguh dalam ulah kanuragan itu tidak menjadi gentar. Keduanya beradu punggung dan bergerak menghindar dari kepungan senjata para pengawal. Terdengarlah kemudian gemerincing suara senjata yang beradu diantara mereka. Namun para pengawal yang semakin sadar bahwa orang-orang yang hendak ditangkap ternyata berilmu, tidak lagi ragu. Mereka mengepung semakin rapat dan menggerakkan senjata dengan gencar. Sedang yang diserang masih berloncatan mengelakkan babatan senjata lawan yang meluruk dari berbagai arah. Sampai beberapa lama kepungan itu masih belum mampu mendesak kedua lawannya, dan Mirah Sekar sejak semula telah berpesan pada Ken Rati untuk tidak melukai para pengawal, menjadi berubah pikiran..

Sekalipun keduanya tak mungkin dapat disentuh senjata, namun untuk lolos dari kepungan tak mungkin tanpa merobohkan mereka. Itupun akan memakan waktu yang cukup lama. Maka berpikir demikian, Mirah Sekar berkata:

- Keluarkan senjatamu!

Dan Mirah Sekar mencabut keluar pedang yang sejak tadi ia sembunyikan dibalik baju. lalu gunakan senjata itu untuk menangkis senjata lawan-lawannya. Demikian pula Ken Rati mencabut badiknya yang terselip dipinggang, lalu balas menyerang para pengawal. Maka terjadilah benturan-benturan senjata

- Trang ! Trang !

Diantaranya terlempar dengan keras akibat-akibat gempuran senjata kedua wanita muda itu.

Para pengawal yang senjatanya terlepas melompat mundur. Tapak tangan mereka terasa sakit dan panas. Namun sementara itu Ken Rati dan Mirah sekar bergerak lebih cepat. Tentu saja kemampuan para pengawal yang jauh dibawah kepandaian keduanya dengan mudah menyudutkan mereka sendiri. Akibatnya dalam waktu cepat kepungan mengendor. Kesempatan itu dengan tanpa berunding, digunakan oleh Sekar dan Ken Rati untuk lompat keluar dari kepungan. Dalam pada itu Pangeran Mukmin dengan saudaranya kaget sebab Ken Rati dan Mirah Sekar dalam waktu bersamaan telah loncat kearah mereka dengan senjata telanjang.

- He, tahan!

Pangeran Mukmin berseru dengan kaget, membuat Sekar dan Ken Rati merandek lalu berdiri menatap tajam kearah kedua pangeran itu. Pangeran Mukmin maju. Semula ia ingin menghindar dari kedua gadis itu. Tetapi ketika matanya melihat sesuatu. Pangeran Mukmin kaget dan heran melihat Ken Rati memegang badik, sebab senjata itu mirip benar dengan milik Raden Trenggana.

Maka ia berseru keras : 

- Tahan! Kau tentu penjahat yang sengaja mencari dalih untuk memusuhi kami.

- Huh -

Ken Rati mendengus lewat hidung. Tapi Pangeran Mukmin tertawa,

- Jangan ingkar. Kau membawa-bawa badik milik Kanda Trenggana, kalau bukan karena kau mencurinya, tentu kau peroleh dengan licik dan curang.

Ken Rati kaget.

- Gila ! Siapa bilang aku mencuri. Ini adalah senjata pemberian kakekku!

- Ha... ha... ha... kau jangan mencoba menipu kami. Kami tahu satu-satunya orang Demak yang memiliki cudrik semacam itu hanyalah Kanda Trenggana, Sultan Demak. Bagaimana kau berani tidak tahu malu mengaku pemilik senjata itu !-

Ken Rati melototkan mata dengan marah. Ia tudingkan badik yang dibawanya sambil berkata keras:

- Kalian memang sombong dan gegabah. Jangan anggap aku takut karena kalian penguasa Demak. Ketahuilah kakekku Mpu Sugati tak akan sembarangan memberikan badik ini kalau ia benda curian

Dan Ken Rati menghentikan kata-katanya dengan tiba-tiba. Terbuka pikirannya. Ia ingat kakeknya berpesan dalam ia mencari orang tuanya badik itulah sebagai tanda bukti ia sebagai anak jika ayahnya berhasil diketemukan. Sebab Mpu Sugati telah sengaja membuat dua badik kembar. Satu diberikan kepada Raden Sasadara, sedang sebuah lagi kembaran senjata itu diberikan Ken Sanggit yang kemudian menyerahkan pada Ken Rati. Gadis itu ingat pesan Mpu Sugati agar ia memperlihatkan badik itu manakala bertemu dengan orang yang dicari. Maka mendengar Pangeran Mukmin menyebut badiknya adalah milik Raden Trenggana, Ken Rati berdebar.

- Jadi Raja Demak itukah orang yang dicari. Jadi, raja Demak itu ayahnya?

Ken Rati ragu-ragu. Sementara itu Pangeran Mukmin dengan Pangeran Timur pun tak kurang kagetnya. Begitu Ken Rati menyebut Mpu Sugati sebagai kakek sadarlah keduanya. Raden Trenggana pernah menceritakan bahwa ia memperoleh badik pusaka adalah dari seorang linuwih bernama Mpu Sugati. Maka keduanya berpandangan. Timbul dugaan dan keyakinan bahwa Ken Rati yang tengah mencari ayah itu adalah anak dari Raden Trenggana, kakanda mereka sendiri.

- Ken Rati, lekas kita keluar dari tempat ini!-

Mirah Sekar berbisik melihat Ken Rati ragu-ragu. Dan Ken Rati sadar. Ia tak menyahut tetapi loncat pergi kemudian dikuti olch Mirah Sekar. Tak seorangpun pengawal yang mencegah. Lebih-lebih ketika kedua Pangeran tak memerintahkan mengejar. Hingga keduanya lolos dari istana dengan selamat.

- Mereka kabur ! Pangeran Timur sadar. 

- Biarkan adimas.-

Jawab Pangeran Mukmin. Lalu-ia memberi isyarat kepada para pengawal untuk meninggalkan mereka berdua.

- Kau tahu apa yang terjadi adimas?--

Tanya Pangeran Mukmin ketika para pengawal telah keluar dari ruangan itu.

- Jadi benar gadis itu anak turun Kakanda Sultan ?- Jawab Pangeran Mukmin pula. itu.

- Aku merasa benar ia adalah anak Kakanda Trenggana. _

- Menitik dari perkataannya, lagi pula senjata yang dibawanya Kalau benar, ia akan merepotkan kita.

Gumam Pangeran mukmin pula.

- Lalu ?

- Kita halangi pertemuan gadis itu dengan Kanda Trenggana-.

- Tidak mungkin, gadis itu berilmu tinggi, kita berduapun belum tentu dapat mengalahkan.

- Jangan dilawan dengan kekerasan !

- Ha ?-

- Aku akan menyusul Kanda Trenggana mendahului gadis itu dan katakan bahwa gadis itu telah mengacau istana dan tengah berusaha menipu dengan mengaku-aku sebagai anak kanda Trenggana

Pangeran Timur mengangguk-anggukkan kepala

- Rencana bagus. Sahutnya kemudian.

- Kalau demikian secepatnya Kanda meninggalkan istana sebelum gadis itu mendahului bertemu dengan kanda sultan.

- Aku segera bersiap, kau berhati-hati diistana adimas.

Kedua saudara itu segera melakukan apa yang mereka rundingkan itu. Adalah tidak mengherankan jika mereka menjadi tak senang jika Ken Rati bertemu dengan Raden Trenggana. Sebab diam-diam kedua pangeran itu memendam niat untuk dapat mewarisi tahta Demak. Jadi manakala Trenggana mengenal Ken Rati yang ternyata berilmu tinggi, sama dengan artinya ia menambah jumlah musuh yang akan menghalangi niatnya. Maka Pangeran Mukmin dengan tiga orang pengawal beranghat meninggalkan Demak menuju tlatah Timur menyusul Raja Demak yang sedang berusaha merebut beteng terakhir Negri Majapahit di Supit Urang.

Pangeran Mukmin merasa yakin dengan perkataannya ia akan dapat mempengaruhi Raden Trenggana. Sebab sejak lama Raja Demak itu telah menaruh kepercayaan besar kepadanya. Demikian pula kepada Pangeran Timur hingga ia mendapat kekuasaan memerintah Demak bagian selatan.

Sedang kepada Pangeran Timur, Raden Trenggana memberikan kepercayaan menguasai Kadipaten 

Madiun yang telah menjadi wilayah Demak pula. Sementara itu dalam usaha mempertahankan tlatah Majapahit dan kebesaran Negri itu, Prabu Udhara telah menyerahkan sepenuhnya kepada Rangga Permana. Dan hanya daerah Sengguruh Supit Urang sajalah yang masih mampu bertahan dari kekuatan Demak. Menurut catatan riwayat, satu demi satu daerah-daerah di tlatah timur jatuh kedalam pengaruh dan kekuasaan Demak. Majapahit semakin terdesak dan sempit wilayahnya.

Pengaruh kebesaran Demak telah merembes sampai jauh kedalam kekuasaan Majapahit. Tinggallah daerah Sengguruh Supit Urang dan sebagian wilayah Pasuruan yang masih belum berhasil dihancurkan oleh tentara Demak. Maka Rangga Permana telah menarik seluruh kekuatannya untuk bertahan dibeteng terakhir yang masih aman dari gangguan kekuatan lawan. Bahkan Pangeran Madi Alit telah berada pula dalam barisan Majapahit di Supit Urang bersama-sama dengan tokoh-tokoh Majapahit lain. Dan sementara itu pula, Raden Trenggana yang telah membawa tentaranya ke timur, dalam sepanjang perjalanannya telah berhasil menguasai daerah timur yang lain. Tentara Demak datang bagai air bah menyapu bersih segala yang menghalang di jalan. Satu demi satu tentara itu merebut kekuatan lawan. Dapatlah dipastikan Majapahit dalam beberapa saat lagi akan hanyut bersih pula oleh membanjirnya tentara Demak. Dari darat orang Demak maju ke timur dan menjepit daerah kekuatan lawannya, sedangkan dari laut muncul tentara Banten yang telah dikirimkan oleh Sultan Banten membantu gerakan Demak membersihkan negri-negri yang dianggapnya masih kafir. Dua kekuatan besar, Demak dan tentara Banten yang bergabung terlihat sebagai kekuatan yang tak terpatahkan. Lebih-lebih Banten yang memiliki kecakapan tempur dan keberanian bermain senjata telah membikin gentar tentara Majapahit yang semenjak lama runtuh keberanian dan hilang kepercayaan pada diri sendiri. Maka dengan mudah Demak merembes ke timur dan merebut satu demi satu wilayah negri itu. Dengan kemenangan-kemenangan yang berhasil dicapainya, tentara Demak semakin bertambah semangat . Bahkan ratusan tawanan perang berhasil pula di tangkap. Maka dengan kejadian itu daerah -daerah Majapahit yang berada diluar Kotaraja sungguh telah kehabisan akal dan kekuatannya. Peluang untuk menyelamatkan diri telah tertutup. Dari seluruh daratan selangkahpun mereka bergerak, di sana tentara Demak akan menyapunya. Sedang yang berusaha melarikan diri dengan menggunakan perahu-perahu dan melewati pantai utara, tertangkap oleh tentara Banten yang juga mengepung kekuatan mereka. Maka tak ada lagi harapan bagi orang-orang Majapahit untuk bertahan dengan selamat, kecuali menyerah. Namun dalam pada itu, kecerdikan Rangga Permana masih mampu mempertahankan kekuatan Supit Urang dan beberapa daerah disekitar Pasuruan. Sekalipun diluar Majapahit telah jatuh, namun kekuatan yang dimiliki masih dapat diandalkan. Bagi Rangga Permana telah merasa tak ada lagi kekuatan Majapahit selain yang di punyainya di Supit Urang. Dan rupanya itulah Kekuatannya yang maha dahsyat yang masih belum pecah oleh gempuran tentara Demak. Bukan disebabkan kehebatan tentara itu dengan jumlahnya yang cukup besar, tetapi karena keuntungan daerah Supit Urang sukar ditembus membuat tentara 

Demak masih tak berdaya merebut dan menghancurkan. Rangga Permana bergirang hati.

Sebaliknya Raden Trenggana jadi marah. Berkali-kali serangan terhadap Supit Urang dilakukan, namun dalam setiap serangan, tentara Demak harus mengalami kekalahan, bahkan ratusan prajurit gugur dalam penyerangan itu. Supit Urang dikepung dan digempur dengan kekuatan besar, namun begitu serbuan dilakukan, begitu pula Demak harus mundur dan kembali dengan hampa tangan.

Rangga Permana beruntung memiliki Supit Urang, kelompok- kelompok prajurit yang tidak terlalu banyak dipimpin oleh orang orang yang dapat diandalkan. Lebih-lebih setelah bergabungnya Pangeran Madi Alit dengan tentara Majapahit yang dipimpinnya, Supit Urang bertambah kuat. Maka sekalipun Demak berkali-kali melakukan gempuran, beteng Majapahit yang tangguh itu masih tak mampu diruntuhkan lawannya.

Raden Trenggana telah merasa kehabisan akal. Setiap kali serangan dilakukan, tentu ratusan tentaranya mundur dan luka-luka. Raja Demak itu mengetahui lawannya telah memusatkan seluruh sisa kekuatan yang ada untuk mempertahankan Supit Urang. Bukan itu saja. Juga kedudukan daerah itu sendirilah yang amat menguntungkan lawannya. Berkali-kali serangan yang gagal itu menjengkelkan Raden Trenggana. Maka kekuatan Demak di pusatkan ditempat itu. Demak membuat beteng dan kubu-kubu mengepung Supit Urang. Demikian rapat dan ketatnya pengepungan itu, sehingga menurut perhitungan tak akan satupun diantara tentara Majapahit dapat keluar dari daerah itu. Namun selama tiga pekan tentara Demak masih tak mampu memecahkan pertahanan mereka.

- Hamba berdua akan mencoba menggempur pintu pertahanan itu, Tuanku! - Pamasa berkata ketika Raden Trenggana mengajak berunding mengatur siasat penyerangan. Mendengar kesediaan Pamasa yang demikian, Sentanu menganggukkan kepala. Diam-diam ia yang telah mengetahui bekas kepala begal memiliki banyak muslihat dan pengalaman tempur itu menyetujui keinginan Pamasa.

- Bagaimana pendapatmu Sentanu ? Raden Trenggana bertanya.

- Hamba rasa saudara hamba itu bisa diajukan sebagai pimpinan penyerangan. Jawab Sentanu

- Baik, aku percaya. Tetapi coba kau utarakan rencanamu,pamasa! Pamasa membungkuk memberi hormat, lalu berkata:

- Pada hemat hamba tuanku. Barisan lawan telah mulai payah. Tiga pekan mereka tidak dapat keluar dari kubu mereka itu. Tentunya persediaan makan telah menipis. Hamba juga percaya, jumlah mereka tidak seberapa. dibandingkan dengan tentara tuanku mereka tidak separuhnya. Hanya karena tempat pertahanan mereka yang bagus dan aneh itulah yang menyebabkan tentara tuanku masih tak mampu merobohkan tempat itu.

- Ya, ya, mereka memang cerdik dan beruntung Pamasa. Lalu apa yang akan kau lakukan ?- Bertanya Raden Trengana memotong perkataan. 

- Kita lawan dengan akal lain, tuanku. Malam nanti hamba akan masuk berdua adik hamba Wijaya ke pintu Supit Urang dengan diam-diam. Di sanalah hamba akan mencoba membujuk orang-orang mereka untuk membukakan rahasia dan jalan masuk kedalam. -

Raden Trenggana mengangguk-anggukkan kepala mendengar rencana itu. Sebab Raden Trenggana tahu bahwa ratusan prajurit tak akan mampu memecah Supit Urang. Tempat itu terlalu rumit dan banyak rahasia. Dilalui ratusan prajurit, akan sulit karena jalan dan lorong yang sempit dicelah-celah gunung memaksa harus dilewati sata persatu. Hingga prajurit Demak hanya akan habis tanpa dapat melawan dengan baik. Mereka terbiasa dilatih di tempat luas dan terbuka. Maka sungguh diluar dugaan Supit Urang yang memiliki jalan dan tempat-tempat rahasia. Supit Urang yang terjadi dengan sendirinya karena ciptaan alam di celah pegunungan itu amat menguntungkan tentara Majapahit yang masih bertahan di sana. Maka Raja Demak itu mendengar rencana Pamasa segera menyetujui dan memerintahkan Sentanu memilih orang-orang yang akan menyertai Pamasa dengan Wijaya. Pamasa bertindak dengan hati-hati ketika malam harinya ia keluar dari tenda dan melakukan kuwajibannya. Ketujuh prajurit Demak itu dengan sembunyi-sembunyi berjalan, kadang berloncatan dengan tangkas dan cekatan di jalan gunung kearah Supit Urang. Dengan kepandaian yang mereka miliki tak terlalu banyak mengalami kesukaran berlari-lari di jalan pegunungan. Ketika malam telah semakin sempurna, Pamasa telah tiba diatas sebuah tebing. Ia memberi isyarat pada enam kawannya yang berjalan di sebelahnya untuk berhenti dan berjongkok.

Di bawah terlihat celah pebukitan dan kubu-kubu yang dibuat oleh tentara Majapahit. Dari

kejauhan masih tertangkap mata bahwa pertahanan itu cukup mengagumkan. Diam-diam Pamasa berdebar. Adalah suatu keajaiban alam bahwa Supit Urang terjadi dengan sedemikian rumit dan ajaib. Bahkan bagi yang belum mengetahuinya, tempat itu hanya merupakan bukit-bukit kecil tanpa arti.

Namun dari Supit Urang itu kalau saja berhasil dirobohkan pertahanan lawan, maka tentara Demak akan dapat merembes ke utara dan menyerbu Pasuruan. Dua tempat pertahanan Majapahit yang masih sisa. Namun dua tempat yang juga telah menyebabkan gugurnya ratusan tentara Demak.

- Kita turun, hati-hati-

Pamasa memberi perintah. Dan dengan diikuti oleh Wijaya serta lima orang kawannya ia meloncat turun dari tebing. Lalu mengendap-endap ke bawah.

- Ingat,

Kata Pamasa ketika mereka telah mulai mendekati pinta pertama dari tempat itu.

- Jangan sekali-kali berpisah. Pengalaman telah membuktikan dengan masuk ke pintu yang nampak kosong tanpa penjaga itu, ternyata kita dibikin bingung hingga masing-masing berpisah melewati pintu yang berbeda. Sebab jika terjadi yang demikian, akan sia-sialah kita karena kekuatan jadi terpecah.

Keenam kawannya mengangguk dan mengerti. Maka mereka bersiap dengan waspada dan tak 

mau selangkahpun berpisah dari yang lain. Pintu batu pertama telah ada didepan hidung mereka. Nampak jalan lurus menuju ke dalam diterangi obor yang terang samar-samar

- Awas ! Jangan masuk dulu.

Pamasa berseru kaget ketika Wijaya mencoba masuk. Tapi segera diurungkan niat itu sebab Pamasa keburu telah menjambret lengan saudaranya ditarik keluar.

- Jangan gegabah

kata pamasa pula. Maka yang lain terdiam. Kemudian Pamasa mendekati sebuah batu sebesar kelapa dan membawanya menuju pintu itu. Lalu dilemparnya batu itu yang dengan keras membentur dinding batu gunung yang ada didalam lorong. Akibat benturan itu terdengar suara gemuruh serta getaran hebat seakan terjadi gempa ditempat itu. Pamasa tak bergerak. Demikian juga keenam kawannya. Mereka menunggu apa yang terjadi. Rupanya akibat benturan itulah tiba-tiba membuka lima buah pintu masuk disekeliling pintu pertama yang kini telah tertutup oleh pintu batu pula. Maka dapat di- pastikan jika Wijaya benar meloncat masuk, ia akan tertutup oleh pintu sedang kawan yang lain akan terdorong memasuki pintu-pintu yang telah membuka dengan tiba-tiba tadi.

- Kalian lihat ! Jika kita tanpa menunggu telah berada di dalam, kita akan terpisah dan digiring masuk kedalam. Sementara di- ujung lorong itu telah menunggu ujung tombak orang Majapahit yang siap merajah tubuh-tubuh kita.

Keenam kawannya tak lagi berkata. Mereka telah merasakan bulu kuduknya meremang, Diam-diam timbul juga perasaan gentar hatinya menyaksikan kehebatan pintu-pintu batu itu.

- Kang Pamasa, kau dapat mengetahui rahasia tempat ini ? - Tanya Wijaya heran. Tapi Pamasa tertawa.

- O, tentu saja. Dalam penyerbuan pekan lalu aku memperhatikan seluk beluk tempat ini. Maka aku tak sempat mengikuti tentara yang masuk dan menjadi korban keganasan tempat ini. Berapa pun banyaknya tentara Demak, dengan memasuki tempat ini mereka hanya bagai kambing-kambing yang terjun kedalam laut. Habis di telan secara aneh. Mereka akan diaduk dan memasuki ratusan lorong tanpa dapat saling membantu._

- Dan kau tahu diujung lorong ada prajurit lawan menunggu ?

- Itu dugaanku saja. Sebab kalau tidak kemana prajurit kita yang telah kena terjerat perangkap ini ? Tentu mereka dibunuh secara mudah. Lagipula, aku pernah mendengar guru menceritakan Riwayat Supit Urang ini. Selain bentuknya yang memang berbentuk sebagai supit Urang juga tempat ini terjadi oleh kemauan alam sendiri. Namun kehebatan yang dipunyai itu, telah menjadi bertambah pada masa Mpu Mada hidup. Mpu Madalah yang merintahkan penambahan jebakan-jebakan ini. Maka siapa yang mampu memecahkan rahasia ciptaan Mpu Mada?

Mereka terdiam mendengar penuturan Pamasa. Rata-rata mereka telah mendengar nama Mpu Mada yang pernah membawa Majapahit kepada puncak kemegahan dan kebesaran. 

- Lalu bagaimana kita ? Bertanya Wijaya.

- Kita tunggu. Aku berharap ada prajurit yang keluar. Kalau benar, kita ringkus orang itu dan kita paksa untuk menceritakan keadaan di dalam.

- Tentu, tentu ada yang keluar setelahnya mendengar jebakan-jebakan bergerak Kang !

- Ah, tunggu dulu. Belum tentu. Rangga Permana orangnya cerdik dan licik. Supit Urang dibuat sengaja untuk mengelabui lawan, Maka sulit diharapkan ada seorang yang akan keluar dari tempat itu. Sebab jika terjadi. bukan mereka menjebak kita, tetapi kita yang menjebak mereka. Kau mengerti, maksudku ?-

Yang lain mengangguk oleh penuturan Pamasa. Namun Pamasa dengan enam orang itu hampir menjadi putus asa dan kesal. Ketika malam telah semakin menipis dan angin fajar telah meniup, masih belum juga kelihatan ada seorang prajurit yang keluar

- Benar katamu kang Pamasa, tak seorangpun keluar !- Gumam Wijaya.

- Ya, sudah kuduga. Kalau terang tanah, kita harus selekasnya menyingkir. -

- Kembali dengan tangan kosong, kang? - Pamasa mengangkat pundak.

- Apa daya ? Kita ulang esok malamnya.-

- Gila ! Mereka benar beruntung memiliki tempat itu !-

Namun sewaktu Pamasa telah memberi tanda agar mereka kembali, tiba-tiba terlihat dua bayangan muncul dan keluar dari pintu yang telah menutup tadi.

- Sst, cepat sembunyi !-

Pamasa berbisik dan telungkup di tanah. Perbuatan itu diikuti kawannya, mereka berloncatan dengan sigap menyembunyikan diri. Dua orang yang baru saja keluar itu berhenti sejenak, lalu melangkah keluar. Saat itulah salah seorang diantaranya berkata

- Tidak ada seorangpun. Bagaimana prajurit jaga itu memberitahukan ada lawan menyerang pintu ini ?-

- Uh bodohnya! Jawab kawannya itu.

- Kita tertipu prajurit jaga itu. Ha... ha... ha... tahulah aku sekarang! Tahu aku

Kata prajurit itu sambil tertawa keras-keras hingga suara tertawa itu terdengar nyaring dan jelas ditengah kegelapan dan kesunyian tempat itu.

- He... ha... mereka menipu memberitahu ada lawan menyerang dengan maksud kita menggantikan kuwajiban mereka jaga. Gila !-

- Ya, benar katamu 

Jawab seorang lagi.

- Sudahlah hayo kita pasang lagi pintu-pintu seperti semula dan kita buka pintu paling luar itu._ Pamasa girang dalam hati. Ia masih belum bergerak. Ia gembira sebab niatnya meringkus prajurit

lawan akan berhasil. Mereka akan dipaksa untuk memberitahu dan menunjukkan tempat-tempat rahasia dalam tempat pertahanan itu. Lebih-lebih nampaknya kedua prajurit itu tak mengetahui tidak jauh dari tempat mereka bersembunyi tujuh orang lawan yang siap menerkam keduanya. Hal itu membuktikan bahwa kedua prajurit itu berilmu rendah. Sebab sedikit saja mereka berilmu lumayan, tentu akan mengetahui ada orang-orang bersembunyi. Dari suara tarikan napas saja kalau seorang telah memiliki kepandaian, tentu akan mengetahuinya. Maka dibiarkan sampai kedua prajurit itu menutup kembali pintu-pintu dalam yang tadi terbuka akibat gempuran batu yang dilempar Pamasa.

Pamasa memberi isyarat. Dan begitu kedua prajurit itu keluar, dengan hampir berbareng mereka berseru keras seraya menyerang.

- Hai, kalian siapa?!

Prajurit itu berseru kaget. Tetapi Pamasa dengan Wijaya telah menyerang mereka, diikuti oleh enam kawan yang lain. Maka dengan mudah kedua orang diringkus oleh orang orang Demak itu

- Kalian jangan melawan kalau masih ingin hidup. Kata Pamasa.

- Kalian curang, menyerang dengan licik!-

Seru salah seorang diantaranya prajurit itu. Pamasa terpukul. Ia malu didamprat sedemikian rupa. Karena sekalipun ia bekas kepala begal, tetapi menyerang lawan belum pernah ia lakukan secara sembunyi. Apalagi terhadap dua prajurit yang ia anggap rendah kepandaiannya. Tetapi mengingat kesempatan yang sulit diperoleh, Pamasa tidak perdulikan lagi perasaan hati yang tak enak.

- Tidak apa. Sekali waktu aku berlaku curang menyerang dari belakang. Tetapi demi kemenangan Demak harus kulakukan.

- Kau lepaskan dulu kami - Kata prajurit itu pula.

- Kulepas, tapi kau harus memberitahu kami jalan-jalan yang dimiliki Supit Urang ini berikut segala rahasia didalamnya.

- Huh ! Kau kira aku sudi memberitahukan itu? Bentak prajurit yang lebih muda.

- Kau tak mau ? Tentu saja kau harus mengganti dengan kepalamu yang indah ini-

Lalu Pamasa memerintahkan kepada dua orang prajurit itu di tarik rambutnya, lalu leher keduanya dikalungi pedang-pedang orang Demak itu

- Nah, kau boleh memilih !-- 

Kata Pamasa.

-Agh agh sudah ya, aku akan beritahu !-

- Lekas katakan, jangan membuang waktu. Darimana kami harus memasuki mula2 agar tak kena oleh jebakan itu.

Prajurit yang lebih muda berkata dengan muka cemas dan takut-

- Ya, kalian coba lima orang masuk pintu itu, kuberitahu rahasia untuk dapat memasuki dengan aman jebakan di dalam ini,-

- Kau mau menipu kami ? !

- Tidak ! tidak ! Kalau kalian tak percaya, biar kawanku itu yang memberitahu dan aku tinggal disini.

Jawab prajurit yang muda.

Pamasa loncat dan memegang leher prajurit itu.

- Kau masuk!-

Perintahnya kemudian kepada prajurit yg lebih tua. Lalu Pamasa memerintahkan kelima kawannya mengikut prajurit itu. Sedang Wijaya ia perintahkan menunggu di luar seraya mengawasi sekeliling. Ketika kelima prajurit Demak telah masuk mengikuti prajurit tadi, tiba-tiba pintu tertutup dengan keras hingga tempat itu bergetar. Pamasa berdebar.

- Awas, kalau kawanmu menipu dan mencelakakan kami, kau jadi gantinya. Katanya pada tawanan yang masih dicengkeram lehernya ,beberapa saat kemudian, sebuah pintu lain terbuka,

- Hei, apa yang kau lakukan? Mana kawan kami?- Wijaya berseru.

Prajurit itu berkata:

- Kalian berdua ikut masuk bersama kami, kawan-kawanmu menunggu di dalam !_ Sementara itu Pamasa telah timbul curiga.

- Tidak bisa ! Kau tentu menipu. Keluarkan lebih dulu lima kawan kami itu, baru kami akan ikut masuk, atau kawanmu ini ku tabas putus lehernya.-

Namun Pamasa kaget. terperanjat ketika tiba-tiba prajurit yang masih berdiri dimuka pintu tertawa mengejek padanya.

- Ternyata bodoh juga. Ha... ha.. . ha... tentu saja kelima kawanmu itu telah menjadi tawanan kami.

- Kurang ajar !-

Pamasa berseru keras dan menyeret prajurit yang dicengkeram olehnya.

- Keluarkan mereka atau kau minta aku bunuh kawanmu ini?! Namun prajurit itu tertawa pula seraya berkata tak kalah keras.

- Kau boleh berbuat sesukamu. Ketahuilah, Aku adalah Rangga Permana orang kepercayaan 

tuanku Prabu Udhara. Kalau kau benar berkepandaian maju dan hadapi kami. Dan Kalau kau memang berniat membunuh kawanku itu, boleh ! Boleh kau lakukan ! Itupun kalau kau mampu, sebab ia bukan prajurit biasa. Tawananmu itu adalah Pangeran Madi Alit Putra Pajajaran. Nah, lakukanlah

Pamasa kaget mendengar perkataan itu. Dan sebelum ia sadar, tiba-tiba dengan gerakan aneh Pangeran Madi Alit yang ia cengkekeram lehernya bergerak dan lepas. Pamasa loncat mengejar.

Pedangnya ia gerakkan menyerang Madi Alit dengan hebat. Sementara itu Wijaya yang telah sadar dengan apa yang terjadi telah bergerak lebih dahulu. Ia serang Rangga Permana dengan gencar.

Namun tentu saja Madi Alit dan Rangga Permana bukan lawan mereka. Maka hanya dalam beberapa kali gerakkan Pamasa berdua Wijaya telah kewalahan. Lagipula rupanya Madi Alit ingin cepat menyelesaikan pertempuran. Terbukti ia tidak banyak cakap bahkan mengerahkan ilmu dengan serangan-serangan mematikan. Demikian pula Rangga Permana. Pada suatu ketika kedua pedang Pamasa dan Wijaya terpental hampir berbareng dan lepas dari tangan. Pada saat itulah tanpa diketahui bagaimana asalnya, tahu-tahu keduanya terlempar membentur dinding dengan menyandang luka-luka dalam yang hebat. Tidak itu saja, bersamaan dengan robohnya Pamasa dan Wijaya, pintu batu yang semula tertutup terbuka dengan tiba-tiba, dan lima tubuh kawan yang datang bersama Pamasa terlempar keluar bergulingan membentur Pamasa dan Wijaya. Dan muncul ditempat itu seorang tua memegang tongkat hitam panjang.

Dialah Ki Ageng Semanding yang telah dikenal oleh Pamasa. Akan tetapi agaknya orang-orang Majapahit itu tak ingin membunuh, sebab begitu lawan-lawannya telah dibikin tak berdaya, ketiganya berlompatan masuk kembali melewati pintu-pintu yang semula mereka lewati.

Pamasa bangkit dengan geram dan marah. Tak diduga ia akan tertipu oleh lawan. Ia tak menduga sedikitpun bahwa kedua prajurit yang nampak bodoh itu adalah Rangga Permana dan Madi Alit. Maka dengan muka merah menahan marah ia perintahkan kawan- kawannya kembali ke tempat tentara Demak berdiam membuat pertahanan.

- Kali ini, mereka tak dapat dianggap ringan.

Kata Raden Trenggana mendengar penuturan Pamasa perihal kegagalan usaha mereka

- Tapi tuanku, hamba yakin mereka akan dapat kita taklukkan.

- Ya, ya, tapi tinggal siapa dan bagimana kita memulai. Sebab kita telah terlalu lama berada ditempat ini.

Seluruh yang ada terdiam.

- Supit Urang adalah batas terakhir penyerangan Demak ke tlatah timur. Kemenangan Demak akan sempurna manakala Supit Urang berhasil direbut. Tetapi siapa yang akan mampu memecahkan rahasia pertahanan yang kuat itu ?

Saat seluruh tokoh Demak berada dalam kebingungan itu, muncul prajurit jaga menyampaikan sembah dan kata ingin menghadap. 

- Ampun tuanku diluar ada dua orang perempuan muda Raden Trenggana kaget.

- Siapa mereka dan apa kepentingannya menghadap? Bertanya Raja Demak itu.

- Ampun tuanku, mereka hanya mengatakan, sebagai saudara dari ki sanak Sentanu dan ingin menghadap sekarang juga.

- Sentanu? Kau punya saudara perempuan?

Jawab Sentanu. - Ampun tuanku, hamba merasa tidak memiliki dua saudara perempuan.

- Sudahlah!

Raden Trenggana memotong.

- Perintahkan mereka masuk kemari!

Tidak lama muncul dihadapan Raden Trenggana kedua wanita muda itu yang tak lain adalah Mirah Sekar dan Ken Rati.

Sentanu hampir terlonjak dari tempat duduknya ketika matanya melihat Mirah Sekar. Dikucaknya kedua matanya. Ia tak percaya pemandangan itu.

- Sekar ? Benarkah Sekar? Bukankah kau telah tewas terjatuh ke dalam jurang itu?

Sentanu ragu-ragu. Tapi ia tak salah lihat. Yang tengah berada didepannya adalah Mirah Sekar, saudara Taruna adipati Wanabaya yang pernah bersama-sama dengannya.

- Kang Sentanu...!

Mirah Sekar terbata dan sendat suaranya menyebut nama Sentanu ketika dilihatnya anak muda yang dirindukannya itu berada disitu.

- Sekar....

Sentanu berbisik manyebut nama itu dengan perlahan pula. Tapi ditahan-tahan hatinya yang ingin berlari dan menubruk Mirah Sekar.

- Kalian telah saling mengenal?

Raden Trenggana ber- seru, membuat Sekar berdua Ken Rati terpaksa tunduk dan memberi hormat kepada Raja Demak itu.

- Ampun tuanku, hamba lancang dan berlaku kurang sopan dihadapan tuanku. Katanya.

- Tidak, kalian jangan berlebihan. Tunduklah dihadapan yang maha Kuasa. Jadi kau telah mengenal Sentanu?

- Benar tuanku.

Sentanu cepat menyahut. Maka ia paparkan segala peristiwa yang ia alami bersama Mirah Sekar sampai ketika gadis itu terjatuh kedalam jurang dan disangkanya tewas. Raden Trenggana mengangguk-angguk. 

- Bagus! kebetulan sekali, Demak membutuhkan orang-orang seperti kalian. Tinggallah kalian bersama kami.

Ken Rati menggelengkan kepala ketika Sekar memberi isyarat agar ia menceritakan niatnya mencari orang tuanya. Rati ragu-ragu sebab ia terpengaruh oleh perkataan Pangeran Mukmin yang menyebut-nyebut badik yang dibawanya mirip dengan milik Raja Demak. Maka ia masih ingin menunggu kesempatan untuk memaparkan hal itu. Maka ia diam saja. Bahkan ketika Raden Trenggana menyebut dan bertanya padanya Ken Rati mengaku sebagai saudara Mirah Sekar, hingga Raja Demak itu tidak memperpanjang pertanyaan. Dan ketika Mirah Sekar mengutarakan niat untuk bergabung dengan tentara Demak, Raden Trenggana menyatakan kegirangannya lalu memerintahkan pengawal untuk menyiapkan tempat bagi keduanya.

- Sekar, bagaimana kau bisa datang kemari?

Sentanu bertanya sewaktu Mirah Sekar telah berada ditempat yang diberikan oleh pengawal, tidak jauh dari tenda Raden Trenggana sendiri

- Tentu kau heran. Tapi yang pasti, aku telah berbeda dengan semasa masih berkumpul denganmu. Bahkan guruku Nyi Ageng Maloka pun tak mengetahui hal ini.

Sentanu termangu-mangu mendengar perkataan itu. Ia ingin banyak berkata. Tetapi mulutnya serasa terkunci. Tak sepotongpun perkataannya keluar. Hanya bayangan-bayangan masa lalu bermunculan dalam angan-angan Sentanu. Sedang dalam hati diam-diam anak muda itu mengakui Mirah Sekar telah berubah banyak. Sifat keras yang dulu pernah tergambar dimukanya telah lenyap. Bahkan nampak Mirah Sekar yang kini telah matang lahir dan batinnya.

- Kau berubah Sekar, hampir aku tak percaya kau adalah Sekar murid Nyi Ageng Maloka.

Katanya kemudian. Tapi Sentanu segera heran sebab Mirah Sekar tiba-tiba tersenyum aneh seraya berkata pula:

- Ya, tentu saja karena segala yang kupunyai dahulunya telah berpindah kepada anakmu Sentanu. Ah, ia segagah ayahnya pula, berani dan mengagumkan. Dan Paman Guru telah memberikan warisan ilmu dan watak berbudi. Kau tak akan menduganya, bukan?

- Apa katamu? Anak turunku? Siapa, apa maksudmu?-

Sentanu terlonjak mendengar penuturan itu. Mukanya menegang dan tanpa disadarinya ia telah meloncat maju.

- Ya, anakmu. Tentu kau telah melupakan pertemuan kita sebelum aku mengambil buah merah itu. Tapi Yang Maha Agung rupanya memberikan buah pertemuan itu seorang anak lelaki, segagah kau

!_

- Sekar!-

Sentanu menjerit lirh, dan kedua tangannya telah memegang pundak Mirah Sekar.

- Ya, ia anakmu! 

- Ah, Sekar benarkah itu ?

Sentanu tiba-tiba saja telah memeluk Mirah Sekar yang segera diterkam oleh perasaannya yang melambung dan debaran aneh menjalar dalam dadanya. Sementara itu Raden Trenggana terus menerus melakukan perundingan dengan orang-orang kepercayaannya. Bagaimanapun Raja Demak telah memutuskan untuk merebut tlatah timur tanpa sisa. Bahkan tentara Banten yang semula berada di daerah pantai telah merembes masuk dan membantu di pertahanan yang dibuat disekitar Supit Urang.

- Tuanku.

Berkata Pamasa yang baru saja mengalami kegagalan masuk Supit Urang.

- Kali ini hamba mempunyai muslihat lain. Menurut perhitungan hamba, kali ini kita pasti akan berhasil menguasai beteng mereka.

- Apa pula Pamasa?-

Bertanya Raden Trenggana. . Kendati Pamasa gagal bahkan hampir celaka ketika berusaha masuk Supit Urang, namun Raden Trenggana tahu Pamasa sebagai bekas kepala begal banyak muslihat dan cerdik. Hal itu telah berkali-kali dibuktikan dalam setiap panyerbuan ke timur selama ini. Maka Raden Trenggana amat percaya kepada saudara angkat Sentanu itu.

- Tuanku, berdasar kenyataan ini bahwa tentara tuanku tak akan mampu menembus pertahanan mereka. Namun sebaliknya hamba percaya lawan pun tak lagi memiliki kekuatan untuk mengusir tentara tuanku dari tempat ini. Maka jika hal ini berlarut-larut akan memakan waktu lama. Sedang perbekalan tentara tuanku akan menipis. Padahal tentara kafir itu entah bagaimana caranya, mereka tidak nampak telah kehabisan bekal makan. Tentu ada jalan rahasia yang membuat mereka bisa menambah perbekalan itu. Maka tuanku, hamba percaya mereka pun seperti kita, mencari peluang untuk menyerang. Dari itu tentu mereka mengincar pula segala cara yang bisa dilakukan. Oleh karenanya dengan kedatangan kedua Ajeng Sekar dan Ken Rati, tuanku bisa menggunakan.

- Eh, tunggu apa maksudmu Pamasa ?-- Raden Trenggana memotong. Pamasa tertawa.

- Begini tuanku. Ajeng Mirah Sekar supaya masuk kedalam lingkungan tentara Majapahit itu. Ia wanita, tentu mudah.-

- Caranya Pamasa?

Bertanya pula Raden Trenggana.

- Menurut pendapat hamba, Tuanku sendirilah yang harus turun tangan. Tuanku berdua Ajeng Mirah Sekar datang kedekat pertahanan itu. Tuanku berpura-pura mengejar Mirah Sekar dengan maksud mengganggu. Maka Ajeng Sekar pun harus berpura-pura menjerit-jerit serta ketakutan dan berlari-lari disekitar pintu dan celah pertahanan lawan. Tentu mereka akan melihat tuanku, sebab hamba percaya disekeliling perbetengan mereka diawasi dengan diam-diam. Dari situlah mereka akan 

mengira Ajeng Sekar sebagai lawan dari Demak. Maka Ajeng Sekar kemudian berhasil masuk, akan dianggap sebagai kawan mereka. Dengan masuknya Sekar kesana, tuanku dapat menduga bagaimana maksud hamba.

- Bagus Pamasa ! Akal bagus Raden Trenggana berseru girang.

- Tapi kau yakin akan berhasil Pamasa?

Sentanu bertanya dengan mengerutkan kening. Ia cemas kalau-kalau Sekar terjerumus dalam bahaya ditangan lawan.

- ha, kau jangan cemas kang Sentanu. Bukankah Ajeng Sekar dapat menjaga diri sendiri ? Dan sementara Tuanku Trenggana berpura-pura mengejar kita secara diam mengawasi dari kejauhan dan melindungi.

Sentanu terdiam. Ia tahu maksud Pamasa agar Mirah Sekar mengorek rahasia pertahanan manakala telah berhasil masuk ke dalam Supit Urang. Maka ia tak membantah dan Pamasa segera mempersiapkan orang-orangnya untuk melakukan persiapan. Dan kepada Mirah Sekar telah di berikan petunjuk apabila berhasil masuk untuk menghubungi tentara Demak, sementara Pamasa sendiri akan membantunya

- Kalau gagal Pamasa? Sentanu bertanya pula.

- Aku tidak tahu kang Sentanu, tapi kita coba dahulu baru tahu gagal atau tidak._ Raden Trenggana mengangguk-anggukkan kepala.

- Kita mulai petang nanti tuanku. -

Kata Pamasa.Maka Sentanu dengan disertai kedua saudara angkatnya. Pamasa dan Wijaya dan lima orang pengawal pilihan dengan sembunyi-sembunyi mengikuti Raden Trenggana dan Mirah Sekar menuju tlatah pertahanan lawan. Mereka tiba di hutan kecil yang tak jauh dari letak ketinggian yang diduga menjadi daerah pengawasan tentara Majapahit.

Mirah Sekar berjalan, dibelakangnya mengikuti Raden Trenggana. Sedang tidak jauh dengan bersembunyi Sentanu dengan orang orangnya mengawasi. Setelah keluar dari gerumbul itu

- Sekar !-

Pamasa memberi peringatan. Dan Mirah Sekar mengangguk perlahan. Sementara Raden Trenggana bersiap pula. Diam-diam hati Raja Demak ini memuji muslihat Pamasa. Sebab dengan Raja Demak yang melakukan perbuatan itu, akan lebih menimbulkan kepercayaan pada lawan- lawannya.

Maka begitu tanda diberikan, Mirah Sekar melompat berlari ke muka sambil menjerit-jerit, berpura-pura ketakutan. Sedang Raja Demak yang telah siap cepat bertindak pula. Ia berseru: _

- Berhenti sekar!-

Dan mengejar dengan garang. Lalu Mirah Sekar berlari keluar hutan kecil seraya masih 

menjerit-jerit ketakutan. Dan terlihat kedua orang itu berlari. Sedang suara-suara jeritan Mirah Sekar yang ketakutan minta tolong terdengar jelas ditengah kesunyian tempat itu. Rupanya muslihat Pamasa telah menjadi garis yang dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa. Sebab seperti yang telah diduga oleh bekas kepala Begal Pamasa, di arah ketinggian di mana Supit Urang berada. Berdiri Rangga Permana dengan para pengawalnya. Dari tempat itu Rangga Permana dapat melihat keseluruh daerah perbukitan sekeliling Supit Urang, hingga akan mudah melihat orang yg berada disekitar tempat itu. Maka ketika Mirah Sekar melompat keluar dari tepi hutan dan mendekati perbetengan, Rangga Permama telah melihat. Ia terkejut ketika mendengar jeritan-jeritan itu. Namun lebih terkejut lagi ketika dilihatnya Raja Demak mengejar wanita cantik. Maka timbul dugaan Raden Trenggana akan berbuat buruk. Lebih-lebih ketika dilihatnya Mirah Sekar ketakutan.

- Tuanku, bukankah ia Trenggana Bertanya salah seorang pengawalnya

- Ya Kita tangkap. Kebetulan sekali! Kata pengawal itu pula.

- Eh, jangan ! Tunggu dulu !-

Rangga Permana kaget dan cepat mencegah.

- Kita jangan gegabah. Tentu Trenggana tidak sendirian. Pasti ada pengawalnya. Kalau mereka mendengar suara pertempuran, kita akan kewalahan, lagipula rencana kita bisa gagal. Perhatikan dan biarkan.

Pada suatu saat, ketika Mirah Sekar telah merasa cukup melakukan tindakan itu, tiba-tiba ia melompat kedalam sebuah celah batu gunung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sementara dari tempatnya, Rangga Permana melihat pula Sekar lompat bersembunyi itu. Dan Dicarinya Sekar kesekeliling tempat itu. Tentu saja Raden Trenggana tahu dimana Mirah Sekar berada. Namun ia sengaja berputar lalu lompat berlari menuju arah lain makin lama Rangga Permana tak lagi melihat Raja Demak itu, sebab telah turun dan hilang dibawah jurang diarah barat. Diduganya Raden Trenggana masih mencari Wanita muda yeng dikejarnya. Hanya ia tak menduga bahwa Trenggana telah berlari kembali mengambil jalan memutar ketempat Pamasa dengan orang-orangnya menunggu.

- Kita tunggu prajurit kita yang mengawasi tempat itu tuanku, jika perhitungan kita tepat, tentu ada yang keluar mendekati Ajeng Sekar. - Kata Pamasa. Dugaan Pamasa tak meleset. Sebab Rangga Permana ketika memperhatikan Mirah Sekar dengan lebih teliti terperanjat dan heran. Wanita muda itu nampak cantik dan mengagumkan. Dan hatinya herdebar tiba-tiba. Timbul keinginan untuk mengetahui bagaimana awal mula ia dikejar Raden Trenggana. Maka Rangga Permana memerintahkan tiga orang pengawal untuk turun mengikutinya menuju tempat Mirah Sekar berada. Maka dengan menunggang kuda Rangga Permana turun dikuti para pengawal itu. 

- Jangan ! Jangan ganggu hamba tuanku, ampun !...

Mirah Sekar yang semula cemas dan berdebar karena tak yakin akan ada yang melihatnya, girang melihat munculnya Rangga Permana.

Maka ia berpura-pura ketakutan.

- Jangan, ampun.. jangan ganggu! -

- Eh kau siapa?

Rangga Permana membentak dengan suara keras. Tapi hatinya berdebar melihat kecantikan Mirah Sekar

- Jangan main Gila, kami bukan orang Demak. Rangga Permana berkata pula.

- Jangan takut, aku bukan macam mereka mengganggu wanitu lemah. Sekar berpura-pura kaget lalu mengawasi orang-orang

- Jangan takut, kami bukan orang Demak. Kata Rangga Permana pula.

- Oh, tapi siapakah kisanak semua ?-

Tanya Sekar dihadapannya dengan tatapan cemas dan kosong.

- Kau siapa dan mengapa terjadi yang demikian ?-

- Kami orang Majapahit.

- Oh, ampun. Hamba adalah anak seorang pertapa dari daerah barat. Mencari ayah hamba yang datang ke Demak. Tapi hamba tiba-tiba dipaksa untuk melayani kemauan tuanku Trenggana. Maka hamba melarikan diri

- He. bagaimana bisa terjadi begitu ?

- semula hamba diterima dengan baik-baik dan hamba di tempatkan disebuah gandok. Tetapi secara diam-diam tuanku Trenggana menginginkan hamba. Karena hamba tak menanggapi maka hamba disiksa, bahkan dikejar-kejar. Tapi hamba tak mengetahui kisanak semua ada ditempat ini.--

Rangga Permana tersenyum. Timbul niat lain dalam hatinya. Dan inilah sifat lelaki.

Bagaimanapun lelaki telah digariskan menjadi mahkluk yang gemar kepada paras cantik. Maka timbul suka di hatinya melihat kecantikan Mirah Sekar. Namun dalam pada itu timbul pula akal dalam kepalanya untuk meraih kemenangan bagi Majapahit yang dengan susah payah dipertahankan. Maka Rangga Parmana dengan suara halus berkata pula,

- Kalau demikian, tentunya kau akan senang untuk ikut pada kami, bukan ? Kami orang Majapahit tak akan menipumu. Bagaimana ?_

Mirah Sekar girang dalam hati. Perkataan itulah yang ia tunggu. Tetapi untuk tidak menimbulkan kecurigaan, ia berpura-pura kaget lalu berkata,

- Ampun tuanku, hamba pulang ke tempat hamba sendiri .. hamba ingin 

- He!

Rangga Permana tertawa lebar.

- Kau jangan takut, percayalah, kami tak akan mengganggumu. Kau kuajak karena kami membutuhkan pertolonganmu. Terimalah, mengapa takut ?

Mirah Sekar masih memperlihatkan sikap takut-takut serta menampakkan keraguan dimukanya. .

- Tuanku.. katanya

- Ah, mengapa takut?

Rangga Permana memotong perkataan itu.

- Kau ikutlah kami, malah kalau kau menolak juga, aku bisa menjadi marah dan kau akan celaka.

Terimalah!

Mirah Sekar merasa tak ada lagi perlunya berpura-pura terlalu

- Ya, tuanku,

Maka dengan pelahan akhirnya ia mengucap:

- hamba terima kebaikan tuanku.

- Nah.. .. begitu. Sekarang kuwajiban pertama untukmu. Kau kembalilah ke Kubu-kubu orang Demak itu. Berusahalah untuk menemui Trenggana. Kalau Trenggana masih menginginkan dirimu, layani dan bujuk dia agar mengikutimu ke tempat ini. Katakan Trenggana harus datang tanpa pengawal, kalau kau bisa membujuknya tentu ia akan menuruti kemauanmu._

- Tapi tuanku. hamba belum mengetahui tempat-tempat ini ? bagaimana hamba harus membawa kemari ? Dan lagi kalau hamba tak berhasil membawa? Hamba takut....

Rangga Permana tertawa.

- Kau ikuti saja perkataanku. Trenggana tentu menurut padamu asal kau berpura-pura melayani kemauannya. Kalau Trenggana berhasil kau bawa masuk ketempat ini, kau berhasil membalas dendam, bukan? Lalu akan hamba bawa kemana?

Tanya Sekar pula.

- Kami akan tunggu ditempat ini. Kau bawa masuk ke pintu yang akan kami bukakan dengan diam-diam.

Sahut Rangga Permana. Dan ketika Mirah Sekar mengangguk, Rangga Permana tertawa. Baginya tak ada ruginya menggunakan gadis itu. Andainya Mirah Sekar tak berhasil membawa

Trenggana, Majapahit tak mengalami kerugian. Bahkan jika Gadis itu tewas, juga tak ada kerugian bagi Majapahit. Tetapi sebaliknya kalau Trenggana berhasil digiring ke tempat itu. Rangga Permana merasa yakin akan dapat membunuhnya. Maka ia tersenyum.

- Nah, kau berangkatlah, setiap waktu kami akan menunggu ditempat ini. - 

Kata Rangga Permana kemudian. Dan Mirah Sekar segera berlalu dari tempat itu seraya memperlihatkan langkah-langkah kaki ragu dan sendat. Ia tak ingin menimbulkan kecurigaan di hati orang-orang Majapahit itu. Sebab Mirah Sekar tahu, bagi seorang yang memiliki ketajaman, dengan mudah akan mengenal dirinya yang memiliki kepandaian. Maka Mirah Sekar bertindak dengan

hati-hati. Ia berlalu dari hadapan orang-orang Majapahit itu dengan penuh perhitungan. Dan Pamasa berseru girang ketika Mirah Sekar muncul kembali dihadapan Raden Trenggana memaparkan pertemuannya dengan Rangga Permana.

- Kebetulan sekali, tuanku. Kata Pamasa.

- Ajeng Sekar boleh membawa tuanku masuk perbetengan mereka. Tentu mereka bermaksud membunuh tuanku manakala tuanku telah berada dalam lingkungan mereka._

- Aku harus mengikuti Mirah Sekar katamu? Lalu rencanamu apa Pamasa?-- Raden Trenggana bertanya.

- Bukan! Bukan demikian tuanku ! Sahut Pamasa.

- Tuanku tetap berada di sini bersama kita. Tuanku tetap akan memimpin tentara Demak. Tapi yang hamba maksudkan ialah Kang Sentanu, Tuanku! Kakang Sentanu akan hamba dandani sebagai Tuanku Trenggana. Ta harus menjadi Raja Demak tetiron.. Dan Ajeng Sekar membawa Raja Demak totiron itu memasuki beteng Supit Urang. Tetapi itu kalau tuanku Trenggana sependapat dengan hamba.

Raden Trenggana tersenyum.

- Lanjutkan! Lanjutkan perkataanmu! Kata Raja Demak itu.

- Tentu tuanku telah dapat menduga maksud hamba._ Jawab Pamasa pula.

- Dengan Kang Sentanu menyamar sebagai tuanku Trenggana, Ajeng Sekar bisa membawa masuk Supit Urang. Maka sementara kang Sentanu masih belum dicurigai sebagai samaran tuanku, tentu ia ditangkap. Namun dalam pada itu, bantuan Tentara Banten esok lusa sudah tiba ditempat ini sebagian dipantai utara. Kita gempur Supit Urang kembali dari luar, sedang dari dalam kang Sentanu berdua Ajeng Sekar bisa menggunting kekuatan mereka. Tentu banyak berhasil, tuanku!

- Tunggu dulu Pamasa! Raden Trenggana memotong

- Kau tidak memikirkan sikap lawan. Bagaimana kalau Sentanu masuk kedalam perangkap mereka. lantas ia dibunuh? Bukankah penyerangan kita akan sia-sia?

- Tidak, tidak demikian tuanku. - 

Sahut Pamasa.

- Menurut perhitungan hamba, tak mungkin mereka begitu cepat turun tangan dengan maksud membunuh. Karena hamba percaya mereka akan menggunakan Sentanu yang disangka sebagai tuanku Trenggana untuk melumpuhkan semangat tentara Demak. Sebab jika mereka berhasil memperlihatkan kepada tentara Demak bahwa Tuanku tertangkap dan jadi tawanan, tentu prajurit kita tak berdaya, bukan ? Itu maksud mereka.

- Tapi Pamasa, kalau mereka menurunkan tangan berniat membunuh Sentanu yang diduganya sebagai Raja Demak? Apa katamu ?-

- Kalaupun itu terjadi tuanku, Kang Sentanu akan dapat melindungi diri sendiri. Meskipun akan sukar melawan orang Majapahit di kandang mereka, namun hamba yakin kang Sentanu akan dapat menyelesaikan kuwajiban itu. Lebih-lebih berdua Ajeng Sekar.

Raden Trenggana mengangguk-anggukkan kepala mendengar

- Kau bagaimana Sentanu? Tanyanya kemudian.

- Hamba akan turuti nasehat Adi Pamasa, tuanku. Kini tinggal bagaimana tuanku saja.

- bagaimana dengan dirimu Sekar?-

- Hamba? Tentu hamba berani tuanku.-

Sahut Mirah Sekar. Dan semua yang hadir menarik napas lega.

- Kalau kau berani, juga Sekar, aku tidak berkeberatan,

Lalu Sentanu tersenyum.Mereka memuji wanita muda itu. Tentu saja mereka tak mengetahui, selain Mirah Sekar tidak merasa takut memasuki beteng lawan, berdua dengan Sentanu menambah semangat dan girangnya hati wanita muda itu.

Dan Pamasa segera memerintahkan diadakan persiapan. Dengan kepandaian dan pengalamannya sebagai bekas kepala begal, Pamasa memperlihatkan kemampuannya merubah Sentanu. Anak muda itu didandani. Wajahnya dengan ramuan daun obat yang ia kumpulkan ditempat berhasil diubah hingga mirip dengan Raden Trenggana. Kehebatan Pamasa membuat Raden Trenggana serta

orang-orang yang menyaksikan kagum dan ternganga. Dihadapan mereka berdiri dua orang Raja Demak. Mana Raden Trenggana yang sesungguhnya?

Akan sulit dibedakan kalau saja mereka tak menyaksikan sejak semula Pamasa menggarap Sentanu. Hanya sorot mata keduanyalah yang mambedakan. Kalau sorot mata Raden Trenggana memancar lembut dan tajam serta memancarkan kewibawaan, maka sebaliknya sorot mata Sentanu sekalipun tajam dan menimbulkan rasa gentar bagi yang menatap, namun mata itu lebih banyak bergerak daripada mata Raja Demak itu.

- Ah, Pamasa, tidak kuduga kau sehebat ini ! 

Gumam Raden Trenggana ketika ia menyaksikan Sentanu yang telah berubah..

Sementara itu di Supit Urang Rangga Permana telah memaparkan kepada Madi Alit rencananya menjebak Raja Demak. Dan kepada puaggawa yang dipercaya persiapan telah dipcrintahkan untuk dikerjakan. Rangga Permana merasa yakin bahwa ia akan dapat meringkus Raja Demak. Pangeran Madi Alit yang mengetahui segala persiapan itupun didalam hati diam-diam tumbuh keyakinan bahwa kemenangan akan bisa diraih oleh Majapahit. Sekalipun Kotaraja dan daerah daerah pantai telah direbut habis oleh tentara Banten, namun Supit Urang dan Pasuruan masih berdiri dengan kokoh.

Mengingat bantuan Tentara Banten yang tiba-tiba muncul menyerang Majapahit itu, Pangeran Madi Alit semakin gusar hatinya. Ia merasa lawan sengaja menghina negri-negri Hindu. Ia pun teringat kepada Pajajaran yang telah lama ia tinggalkan. Ia teringat kepada Saudara-saudaranya, kepada ibundanya dan kepada ayah- yang ia tinggalkan karena kemarahannya. Dan ingatan-ingatan yang demikian memancing kembali pada pertemuannya dengan seorang tua bernama Panembahan Seda Paningal yang ditemuinya ketika ia berdua Aria Jati Pananjung dihutan.

Pangeran Pajajaran ini ingat kepergiannya dari Pajajaran adalah semata-mata ingin mencari apa yang disebut oleh orang tua itu sebagai senjata Pusaka Tombak Kiai Bungsu. Madi Alit berdebar hatinya mengenang itu Tombak Pusaka Kiai Bungsu.

Ah, ia sedih dan terpukul hatinya. Semula ia ingin mencari senjata itu menuruti nasehat Panembahan Sedah Paningal yang ia temui secara aneh di Pajajaran. (Baca jilid satu).

Namun kini ia merasa telah menyeleweng jauh dari tujuan itu. Sebab setelah menyaksikan kekuatan Demak yang berniat menghancurkan negri-negri Hindu seperti Majapahit dan Pajajaran, ia tak merelakan itu. Maka ia menggabung kepada Rangga Permana dan melupakan tujuan mencari Tombak Kiai Bungsu. Tetapi pada saat- saat demikian ia teringat kembali. Maka diam-diam ia masih mengharap akan dapat mengetahui dimana adanya senjata.

Pusaka itu yang sesungguhnya. Karena Pangeran Pajajaran ini percaya orang tua yang ditemuinya di Pajajaran tak mungkin berdusta. Mengingat itu pula, Madi Alit membayangkan seseorang. Ia teringgat kepada seorang tua yang pernah ditemuinya pertama ketika ia mengembara ke timur. Yakni Aki Kerancang. Mengingat Aki Kerancang, pemburu yang memiliki kepandaian aneh itu, ia teringat pula anak si Aki yang bernama Sentanu.

Ya, Pangeran Madi Alit menjadi heran. Tiba-tiba timbul rindunya untuk bertemu dengan si Aki. Bagaimanakah gerangan nasib orang tua itu ?

Dan kalau ia tahu hahwa Madi Alit berada dipihak Majapahit dan Sentanu ada dalam tentara Demak?

Manakah akan ditempuh oleh si Aki? Memihak siapakah ia?

Katanya alam hati. Namun dalam pada itu, ketika Rangga Permana memaparkan rencananya 

menjebak Raden Trenggana dengan memasang umpan si gadis yang ditemuinya itu, Pangeran Madi Alit merasa ada sesuatu yang tiba-tiba mencemaskan hatinya, Pangeran ini memperoleh firasat tak srek. Lagi pula hari-hari belakangan ini ia menyaksikan Rangga Permana dimabuk oleh perasaan kemenangannya. Bahkan tokoh-tokoh tua yang ada dalam lingkungan itu tak sedikitpun memperlihatkan perhatian. Ki Ageng Semanding tidak berada ditempat ini. kini, Sebagian kekuatan Majapahit bersama Prabu Udhara telah berada di Pasuruan. Dalam beteng itu tinggal Rangga Permana dan Panggeran Madi Alit disertai pengawal-pengawal pilihan dan beberapa tokoh tertinggi lain.

Apa yang menyebabkan timbulnya perasaan cemas itu?

Madi Alit tak mengetahui dengan pasti, namun ia merasakan itu. Maka sambil mempersiapkan segala sesuatunya, ia perintahkan para prajurit untuk mengawasi seluruh sudut Supit Urang.

Kalau-kalau muncul yang diharap oleh Rangga Permana. Dan penantian itu telah berjalan sehari satu malam, tetapi tidak terlihat ada orang muncul mendekati Supit Urang. Keesokan harinya, menjelang fajar, Rangga Permana melihat sesuatu yang membuatnya girang. Dari arah kejauhan ia melihat munculnya dua orang yang tengah berjalan mendekati pintu pertahanan. Tak salah lagi, Rangga Permana menyaksikan Mirah Sekar sedang di belakang perempuan itu seorang laki-laki berjalan pula.

- Awas, bersiap kalian

Rangga Permana memerintahkan prajurit pengawal yang ada untuk melakukan persiapan.

- Biarkan pintu bawah terbuka, kalau Raja Demak itu telah masuk. Adimas Madi Alit akan menyelesaikan kuwajiban itu.-

Penglihatan Rangga Permana tak keliru. Kedua orang yang berjalan itu tak lain adalah Mirah Sekar. Dibelakangnya Sentanu yang telah menyamar sebagai Raden Trenggana berjalan mengikuti langkah kaki wanita muda itu.

- Eh, Sekar, kita akan tiba dimulut perbetengan mereka._ Kata Sentanu berbisik.

- Jangan terlalu keras berkata kang Sentanu, mereka banyak memasang mata dan telinga di sekitar sini.-

Tegur Mirah Sekar. Dan Sentanu senyum, ia benarkan pendapat Mirah Sekar.

- Kita mulai kang Sentanu!

Berkata pula perempuan itu. Dan Sentanu yang telah tahu apa yang harus dilakukan, segera berkata sedikit keras agar didengar oleh orang-orang Majapahit yang berada dibalik dinding.

- Sekar, mau kau ajak kemana aku?- Serunya.

- Sabarlah tuanku, bukankah tuanku telah berjanji untuk menuruti hamba?- 

Sahut Mirah Sekar

- Ya, ya, tapi berbahaya kalau aku berada ditempat ini. Hayo kita kembali. Terlalu lama disini para pengawal akan mencariku, Sekar!

- Sabarlah tuanku, sebentar lagi kita akan tiba di tempat yang hamba janjikan.

Dan Rangga Permana yang tentu saja mendengar percakapan itu tertawa dalam hati. Ia puji kecerdikan Mirah Sekar. Tak ia duga Raden Trenggana akan mudah saja terpancing datang ke tempat itu. Maka dengan tanpa pengawal dan prajurit, dengan mudah Raden Trenggana akan bisa diringkus. Demikian pemikiran Penguasa Majapahit di Supit Urang itu. Sekalipun ia tahu Raja Demak itu bukan sembarangan, bahkan memiliki ilmu yang tidak rendah, namun dengan akan majunya Pangeran Madi Alit. Rangga Permana yakin Raden Trenggana akan dapat dikalahkan, lebih-lebih dipihaknya terdapat orang-orang yang memiliki kepandaian.

- He, Sekar, jangan masuk!

Tiba-tiba terdengar suara Raden Trenggana tetiron. Dan Rangga Permana kaget. Ia berdebar.

- Jangan Sekar, kemarilah-

Terdengar lagi suara. Namun tiba-tiba saja terdengar bentakan keras. Hal itu terjadi ketika Sentanu yang telah menduga apa yang bakal terjadi meloncat masuk kedalam pintu yang terbuka. Pintu perangkap yang sengaja dipasang. Tentu saja Mirah Sekar telah mendahului dan begitu Sentanu melewati pintu itu, terdengar suara berderak, pintu menutup. Bersamaan dengan itu terdengar suara bentakan tadi. Ternyata adalah tiga orang pengawal Majapahit menyambut Sentanu dengan serangan senjatanya. Tige pedang panjang berkelebat namun Sentanu menggerakkan tubuh sedikit, ia berkelit dari serangan-serangan itu

- Kalian curang!

Terdengar Sentanu berseru dan sebelum ketiga orang prajurit itu tahu apa yang dilakukan Sentanu, Raden Trenggana ketiron itu telah bergerak sebat, dan ketiga prajurit itu terpental deras membentur dinding dan rubuh tanpa bangun kecuali menggerang kesakitan. Sentanu sengaja berseru dengan suara keras dan menyerang mereka untuk memperlihatkan bahwa ia belum mengetahui rencana lawan-lawannya.

- Sekar, kemana kau?-

Serunya pula. Namun Mirah Sekar telah menghilang ke balik pintu yang lain. Dan bersamaan dengan itu tiba-tiba pintu dari mana Sentanu masuk menyusul Mirah Sekar telah tertutup. Sentanu loncat kemuka, dan sebuah bayangan muncul menghadang di muka Sentanu.

- Tahan ! Kau menyerahlah

Kata orang yang baru muncul itu. Ia adalah Pangeran Madi Alit yang sengaja ingin menangkap Raja Demak. Maka Sentanu yang disangkanya Raden Trenggana itu ia dekati dengan senjata ditangan, sebilah keris pusaka terlihat ditangannya. 

- Ah, kalian curang. Menjebak dengan cara licik dan memalukan!-

Sentanu berpura-pura marah. Namun dalam hati Sentanu timbul rasa kagum dan hormatnya kepada orang muda yang mencegatnya itu. Ia menaksir usia Pangeran Madi Alit tidak terpaut jauh darinya. Dan menitik gerakannya, sewaktu loncat mendekat tadi, ia bisa menduga bahwa orang itu memiliki kematangan sikap tempur yang baik. Sentanu telah bersiap untuk menyerah. Ia akan sengaja berpura-pura kalah dalam perkelahian kalau saja Madi Alit ingin meringkusnya.

- Hm, Raja Demak yang gagah, kiranya tidak sebesar yang di sebut-sebut orang tentang kebesaran dan ketinggian budimu. Kau Raja besar yang demikian dimashurkan sebagai Maharaja, Sultan Demak. alangkah rendah budi itu setelah kau mengejar-ngejar wanita muda yang tak berdosa itu. Dan rupanya begitu mudah kau terjebak oleh akal kami dan masuk kedalam perangkap. Sayang! Sayang sekali.

Sentanu tak banyak berkata. Diam-diam ia kagum dengan perkataan itu. Sekalipun lawan, tetapi menilik perkataan ia bisa tahu seberapa jauh watak orang muda tampan yang berada dihadapannya. Tapi ia mengambil sikap lain dengan berkata:

- Jangan sebut soal remeh itu kisanak! Aku sudah masuk ke dalam perangkapmu. tetapi belum berarti Sultan Trenggana telah menyerah. Lakukanlah apa yang menurut pendapatmu pantas di lakukan !

Pangeran Madi Alit heran. Raja Demak itu menyebut "kisanak" padanya. Tanpa disadari timbul rasa sukanya kepada Sentanu. Ada yang menjalar dalam perasaannya menatap orang yang ada dihadapannya dan menyorotkan sikap batin yang teguh itu. Sesungguhnya dalam hati Pangeran Madi Alit tumbuh suatu kecurigaan yang amat halus. Sorot mata Sentanu dapat ia tangkap sebagai suatu yang luar biasa. Ia tahu dibalik yang nampak itu tersembunyi suatu kekuatan dahsyat. Dan ilmu orang muda itu tentu tinggi. Tetapi bagaimana bisa terjadi orang memiliki kemampuan semacam itu bisa terjatuh ke dalam watak rendah mengejar wanita muda yang tak mau melayani hasrat hatinya ?

Pangeran Madi Alit jadi ragu. Ketika itulah muncul Ranggga Permana disertai puluhan pengawal.

Dan ketika dilihatnya Raden Trenggana tetiron, ia berseru dengan garang: - Awas, jaga serangan Dan Rangga Permana telah menyerang dengan pedang panjang kepada Sentanu. Dan Sentanu

mencabut pedang yang dibawa, maka

- Trang !

Dua senjata beradu menimbulkan bunyi keras. Tapi senjata ditangan Sentanu terlepas dan melayang keudara lalu jatuh berdencing dibatu yang ada disitu. Melihat senjata ditangan lawan lepas, Rangga Permana loncat menyerang dengan lebih gencar. Ia girang ternyata Raja Demak yang diduga memiliki kepandaian tinggi hanya sedemikian kemampuannya. Dengan sekali gebrak senjatanya telah terlepas. Maka ia berbesar hati. Hanya tentu saja Rangga Permana tak menduga bahwa hal itu disengaja oleh Sentanu. Pedang Rangga Permana berkelebatan menyerang Sentanu yang berloncatan 

menghindarkan diri. Terlihatlah pertempuran yang tak seimbang. Sentanu berloncatan berpura-pura terdesak oleh serangan Rangga Permana yang gencar dan mengurung dengan garang.

- Kau menyerahlah!--

Rangga Permana berseru berulang- ulang.

- Tempat ini tak mungkin dapat ditembus olehmu. Meskipun kau lolos dari pedangku, kau tak akan dapat keluar dari tempat ini dengan selamat.-

- Pakai ini-

Terdengar suara berseru dan sebuah pedang melayang kearah Sentanu. Oleh anak muda itu pedang tadi ia sambut dan dipergunakan menangkis serangan Rangga Permana yang tepat datang ke lambungnya.

- Trang-trang

Terdengar kembali suara senjata beradu. Dan Sentanu tersenyum. Ia tahu yang melempar pedang kepadanya adalah Pangeran Madi Alit.

Ketika itu sebuah babatan senjata Rangga Permana berkelebat kearahnya. Sentanu bergerak menangkis, namun babatan itu tak urung menyerang dan pundak Sentanu termakan dan robek menganga hingga darah mengalir dari luka itu.

- Menyerahlah!--

Rangga Permana berseru. Ia girang Raja Demak terluka olehnya. Tentu saja ia masih belum menduga bahwa hal itu sengaja dilakukan oleh Sentanu yang membuat lowong pundaknya hingga diserang lawan dan terluka untuk tidak menimbulkan kecurigaan. Dalam pada itu Rangga Permana menjadi tak sabar. Ia berseru memberi isyarat para pengawal yang puluhan banyaknya ada di tempat itu. Dan hampir berbareng para pengawal maju mengurung Sentanu dengan panah-panah beracun.

- Menyerahlah! Atau kau akan tewas ditempat ini!-

Rangga Permana masih berseru sambil menyerang, Tapi Sentanu berpura-pura tak mau mengalah.

Bahkan ia melancarkan serangan balasan dengan lebih cepat.

- Maju!

Rangga Permana berseru, dan lima orang prajurit loncat dengan jala besar. Mereka mengurung Sentanu dan mengancam dengan jala itu. Dan anak murid Kiai Ageng Semu itu tahu mereka ingin menangkapnya hidup-hidup. Ia tertawa dalam hati.

- Awas ! -

Kelima prajurit tadi maju berbareng dan melemparkan jala itu kearah Sentanu. Tapi Sentanu tiba-tiba meloncat jauh seraya ia dorong Rangga Permana kearah jala yang telah berkembang kepadanya itu.

Tetapi Rangga Permana benar mengagumkan. Ketika ia merasa tubuhnya hampir masuk kedalam jala, ia meloncat berputar dan berjungkir balik kebelakang hingga jala itu mengenai tempat kosong. 

Bertepatan dengan itu Pangeran Madi Alit loncat sekaligus mendorong Sentanu. Sentanu tahu serangan itu. Ia bisa saja berkelit atau menghindar tetapi ia telah mengambil keputusan cepat. Tadipun ia melawan hanya ingin agar tak menimbulkan kecurigaan. Maka begitu gerakan Madi Alit tiba, ia berpura memutar tubuh berkelit. Namun tentu saja gerakan pelahan dan lamban itu membuat Madi Alit berhasil membentur pundaknya, hingga dorongan itu membuat Sentanu terlempar kemuka dengan keras. Bersamaan itu jala yang dipegang para pengawal kembali menyerang, maka tak ampun Sentanu masuk kedalam jala yang lantas ditarik hebat hingga tubuh Raden Trenggana tetiron itu tersungkur dan kena digulung kedalam jala. Merasa tubuhnya tergulung masuk jala, Sentanu masih berpura pura melawan, ia berusaha berdiri dan menarik jala itu. Tapi Pangeran Madi Alit telah loncat dan ikut memegang jala itu dan digulungnya jala dengan lebih kuat hingga Sentanu terbawa oleh putaran bergulingan ditanah, untuk akhirnya ia terpaksa berdiam dan menyerah. Rangga Permana girang, Sentanu diringkus dengan jala tali yang kuat dan liat. Sentanupun merasa tali-tali jala itu amat kuat dan lentur. Ia tahu dengan kekuatannya tak mungkinlah ia memutuskan tali-tali itu. Maka ia diam dan berpura-pura tak lagi memiliki kekuatan hingga ia digiring masuk kedalam perkubuan di Supit Urang itu. Begitu Sentanu digiring masuk, di tempat itu muncul seorang lelaki tua menunggang kuda. Dipundaknya terlihat anak-anak panah dalam kantungan kulit. Munculnya orang itu menimbulkan kekagetan para prajurit Majapahit. Maka mereka mengepung dan bersiap. Tentu saja Rangga Permanapun maju dan menegur,

- Siapa kau !

Ia kaget sebab orang bisa masuk kedalam pintu rahasia dengan mudah.

- Sabar kisanak, kita orang sendiri. Jawab orang tua itu. Dan ketika Pangeran Madi Alit menatap, hatinya berdebar. Ia merasa pernah melihat orang tua itu. Dan ketika merasa yakin dan mengenalnya, ia maju dan berseru:

- Paman Aki!

Lalu di tariknya tangan orang tua itu yang lalu loncat turun dari punggung kudanya.

- Ah, ah, kau masih mengenalku kisanak?

Orang tua itu menepuk nepuk pundak Pangeran Pajajaran.

- Oh, tentu saja kau selalu kuingat paman!

Madi Alit tertawa. Sebab ia tahu orang tua yang berdiri didepannya itu adalah Aki Kerancang, ayah Sentanu.

- Ah Kisanak, bagaimana kau bisa bergabung dengan orang Majapahit ini? Bertanya Aki Kerancang.

- Bukankah kau tengah berupaya mencari Tombak Pusaka Kiai Bungsu ?

Pangeran Madi Alit tak menjawab. Ia rasakan hatinya tak keruan. Ia sebenarnya gelisah tak keruan. 

- Tapi, ah, bagaimana pula paman bisa masuk ketempat ini Akhirnya ia mengalihkan pembicaraan.

- Oho, tentu saja aku mencari anakku Sentanu. Entah di nama anak itu. Sebab pada pendapatku, hukuman yang diberikan oleh Mpu Sugati seharusnya telah berakhir. Dalam aku berjalan, aku mendengar banyak tentang pecahnya pertempuran antara Majapahit dengan Demak, aku dengar Demak dibantu orang-orang Banten telah berhasil menguasai seluruh Pantai Utara. Tapi sudahlah, karena aku terlanjur bertemu denganmu, aku yakin dengan bersamamu, aku merasa berada dipihak yang benar. Maka aku akan bantu kalian melawan orang Demak. Nah, aku Aki Kerancang akan bergabung dengan kalian mulai saat ini !

Mendengar perkataan orang tua gagah itu seluruh prajurit yang sejak tadi mendengar percakapan mereka bersorak berbareng. Ketika itu Rangga Permana maju dan membungkuk memberi hormat seraya mengucapkan terimakasih. Meskipun dalam hati ia merasa heran Aki Kerancang dapat memasuki pintu rahasia itu.

- Tapi Rangga Permana

Kata Aki Karancang setelahnya mereka berada di dalam merundingkan siasat pertahanan.

- Aku merasa Demak benar-benar memiliki kekuatan besar. Sekalipun menurut keteranganmu, Sultan Demak telah tertawan, namun di antara mereka terdapat orang-orang linuwih. Aku tidak mengetahui siapa saja mereka. Tapi dugaanku pasti. Karena kalau tidak bagaimana bisa Demak memecahkan pertahanan Majapahit di Pantai Utara? Maka oleh sebab kita tinggal memiliki dua tempat bertahan- yakni Supit Urang dan Pasuruan, aku mempunyai pendapat, Kalau kalian menyetujui serta menerimanya. _

- Cobalah katakan Paman, kami ingin mendengar pendapat itu

Rangga Permana menyahut cepat. Dan Aki Kerancang menghela napas. Baru kemudian berkata.

- Anakmas Madi Alit tentu masih ingat Hutan Kalang di mana anakku Sentanu pernah dihukum oleh Mpu Sugati, bukan?-

Madi Alit mengangguk. Ia terbayang Hutan Kalang yang menyeramkan. Hutan yang penuh didiami oleh ratusan binatang dan ular berbisa. (Baca jilid 1).

- Nah, dihutan itu. Lanjut Aki Keraucang.

- Ada Kedung- bubak yang airnya mampu menghancur lumatkan tubuh manusia. Barang siapa terkena kubangan beracun kedung Bubak tubuhnya akan hancur meleleh menjadi air dan musnah terbakar oleh racun itu.

Madi Alit bergidig mendengar itu. Ia teringat ketika menyaksikan kehebatan Kubangan Beracun di Hutan Kalang dulu sewaktu ia mencari Sentanu.

- Maksudku, aku akan bawa setidaknya duaratus prajurit. Dan kita mengumpulkan akar-akar 

beracun dari hutan Kalang kemudian mencampurnya dengan air dari kubangan beracun itu. Lalu kita sebarkan cairan yang telah kita buat untuk melindungi beteng pertahanan di Supit Urang maupun Pasuruan. Ini jalan terakhir untuk mengusir orang Demak. Sebab barangsiapa berani menyentuh racun yang kita pasang, tentu tubuhnya akan hangus dan tewas dalam waktu cepat..

- Kejam!

Terdengar seruan. Dan ketika semua orang menoleh, ternyata Madi Alit yang berseru tanpa sadar.

Namun Aki Kerancang tertawa. Dan menyahut:

- Kau benar anakmas! Memang kejam. Tetapi dalam suatu pertempuran semacam ini, lebih-lebih ketika Majapahit diancam keruntuhan, jalan demikian dibenarkan oleh undang dan tata peraturan Negeri. Tidak ada jalan lain, karena menurut pengamatanku disepanjang jalan Tentara Demak amat besar dan mereka dalam semangat tempur yang tinggi dan tak terpatahkan.

- Sudahlah, kita terima pendapatmu Paman Aki Rangga Permana menyahut.

- Siapa akan membawa prajurit mencari akar hutan Kalang?

- Tentu saja aku sendiri akan membawanya!

Sahut orang tua itu pula. Maka segera disetujui pendapat itu. Rangga Permana memerintahkan duaratus orang prajurit untuk berangkat mengikuti Aki Kerancang. Dan Aki Kerancang pada esok harinya telah membawa keduaratus orang Majapahit itu menuju Kedung Bubak di Barat, Keduaratus tentara Majapahit itu membedal kuda mereka menuju Kedung Bubak hingga debu tebal mengepul akibat kaki-kaki kuda yang mengaduk disepanjang jalan kering dan gersang yang dilaluinya. Ada sesuatu yang menggerakkan Aki Kerancang membawa tentara itu. Semangat mudanya timbul. Semula ia hanya ingin mencari Sentanu. Namun disepanjang jalan ia banyak mendengar timbulnya pertempuran antara Demak dan Majapahit, dalam hati si Aki timbul rasa berpihak kepada Majapahit, sebab ia masih merasa sebagai keturunan Prajurit Majapahit. Maka secara tidak disengaja ia telah tiba di Supit Urang ketika Sentanu tengah berusaha masuk dengan menyamar sebagai Raden Trenggana. Dan Sentanu yang tidak beroleh kesempatan melihat ayahnya tentu saja tak mengetahui bahwa orang tua itu telah bergabung dengan Rangga Permana. Dan sementara Sentanu berada di tangan Rangga Permana sebagai orang tawanan, Aki Kerancang telah berangkat meninggalkan tempat itu menuju kedung Bubak di Hutan Kalang. Ketika Sentanu kemudian dibawa kepada Rangga Permana. Ia menarik bibir mengejek. Sementara Mirah Sekar telah duduk didekat Rangga Permana dengan tersenyum.

- Huh, rupanya kau adalah kaki tangan mereka ini! Kau adalah ular betina yang licik. Tunggulah

kalau tentara Demak menghancurkan tempat ini.

Kata Raden Trenggana tetiron itu pada Mirah Sekar. Dan Mirah Sekar hampir saja tak kuat menahan geli hatinya. Ia sudah ingin tertawa melihat Sentanu dalam pakaian Raja Demak dan ketika 

melontarkan kata-kata kasar itu mata Sentanu tak bisa memperlihatkan bayangan kemarahan yang sesungguhnya. Tapi Sekar menahan diri. Ia tak banyak berkata. Bahkan ketika Rangga Permana menggamit padanya untuk mendekat, Mirah Sekar tak menolak. Dan Sentanu yang memperhatikan gerak gerik Rangga Permana itu tahulah bahwa orang Majapahit itu telah terpikat oleh Sekar. Namun Sentanu juga percaya bahwa Sekar tentu telah mulai meneliti keadaan dan liku-liku yang ada dalam perbetengan di Supit Urang, sebab esok harinya adalah saat yang telah ditentukan oleh Raden Trenggana untuk melakukan penggempuran besar- besaran. Apa yang diduga Sentanu adalah benar belaka. Mirah Sekar sejak memasuki tempat itu telah melakukan penelitian dengan diam-diam. Ia menghapal tiap-tiap pintu yang terdapat didalam. Bukan itu saja malah Rangga Permana telah mengajaknya untuk mendengar perundingan yang dilakukan mereka. Maka Mirah Sekar menjadi tahu rencana yang akan dilakukan atas tentara Demak. Sementara itu Raden Trenggana telah mempersiapkan penyerangan kembali. Seluruh kekuatan telah di tempatkan dengan seksama. Pamasa yang banyak berpengalaman telah melakukan persiapan pula dengan sempurna. Barulah ketika tentara Demak telah merasa yakin akan kekuatan sendiri, Raden Trenggana menggerakkan barisan itu untuk menyerang Perbetengan Majapahit yang sejak beberapa lamanya masih berdiri dengan kuat.

Kali ini adalah kekuatan yang luar biasa. Demak telah merasa lawan tidak bisa dianggap ringan dengan bertahan di Supit Urang. Maka sekalipun Sentanu berdua Mirah Sekar telah masuk kedalam lingkungan lawan, tetapi Raja Demak itu masih belum merasa yakin benar akan keberhasilan mereka mengelabui Rangga Permana

- Hamba percaya Kang Sentanu tak akan diganggu keselamatannya, tuanku. - Kata Pamasa dalam perjalanan itu.

- Akupun percaya Pamasa, tetapi bukan mustahil pula jika hal itu terjadi. Sahut Raden Trenggana,

- Benar tuanku. Mereka tak akan mengetahui bahwa yang ada dalam lingkungan mereka adalah Raja Demak Palsu. Tentu begitu mereka tahu kita datang menyerang, Kang Sentanu akan dijadikan perisai dan dipergunakan menakuti tentara kita untuk menyerah.

Dengan cepat tentara Demak telah mengepung Supit Urang kembali. Dari arah muka Pamasa menggerakkan pasukan itu dengan sikap gagah. Membuat Supit Urang kembali terancam oleh kekuatan Demak yang meriap-riap bagai air bah melanda. Rangga Permana yang berada didalam telah menerima laporan perihal munculnya tentara Demak. Kali ini ia agak terkejut. Kekuatan Demak tidak seperti pada penyerangan-penyerangan sebelumnya. Terlihat oleh Rangga Permana sebagai kekuatan akhir yang dikerahkan tanpa sisa. Tetapi dalam hati penguasa Majapahit di Supit Urang itu telah menduga karena Raja Demak tertawan hingga lawan mengerahkan pasukan tanpa kepalang tanggung. Dan untuk itu Rangga Permana telah siapkan segala sesuatunya dengan baik. Ia 

perintahkan prajurit bersiap dan tak kurang dari sepertiga kekuatan yang ada padanya dihimpun untuk menahan tentara lawan di bagian dalam. Kali ini, seperti yang sudah, Rangga Permana masih utuh dengan keyakinannya bahwa Supit Urang tak akan dapat dipecah oleh musuh. Maka sekalipun ia siapkan pasukannya, tetapi dalam hati Rangga Permana menertawakan orang-orang Demak.

Kehebatan Supit Urang belum terpecahkan oleh mereka. Masih ditambah sekarang Raja Demak dalam kekuasaannya, maka apa akan dilakukan oleh musuh ?

Rangga Permana merasa girang dan geli. Tak ia duga ia akan memperoleh jalan kemenangan sedemikian mudahnya.

- He, kau bisa memegang senjata Sekar? -

Rangga Permana kaget ketika Mirah Sekar muncul mendekati dengan membawa pedang telanjang.

- Hanya sedikit-sedikit, tuanku. Hamba pernah belajar dari ayah hamba ketika didusun dulu. Jawab Sekar sambil ia mengerling tajam ke arah Rangga Permana.

- Ah, sudahlah, kau mundur dan tinggallah dengan kawan- kawanmu di Kaputrian Sekar. Ini pekerjaan kami para prajurit.-

- Ampun tuanku, hamba hanya sekedar ingin memperlihatkan rasa terimakasih hamba atas pertolongan tuanku. Maka biarkan hamba ikut menyambut musuh itu.

Rangga Permana menatap sejenak kepada Mirah Sekar. Diam- diam telah terpikat oleh wanita cantik dimukanya itu. Maka ia mengkhawatirkan keselamatannya.

- Jangan Sekar, kau mundurlah! Katanya kemudian.

- Tapi, bukankah tempat ini cukup aman bagi kita semua tuanku? Hamba mendengar beteng ini tak akan dapat ditembus oleh prajurit lawan. Mengapa tuanku harus cemas dengan keselamatan hamba ?

Rangga Permana tertawa. Untuk akhirnya ia mengangguk dan berkata,

- Baik kalau kau menginginkan demikian. Tetapi berhati-hatilah Sekar!_

Tentu saja Mirah Sekar girang. Karena itulah yang ia kehendaki. Maka ia bergabung dengan para prajurit itu. Dan sedikit demi sedikit diantara kesibukan pasukan Supit Urang, Mirah Sekar berusaha mendekati Pangeran Madi Alit. Ia tahu di Supit Urang hanya ada dua orang yang ia anggap berat.

Satu adalah Pangeran Pajajaran itu, satu lagi adalah Rangga Permana. Namun sementara itu Mirah Sekar juga semakin mendekat kearah Sentanu. Anak muda itu diikat pada sebatang Tonggak kayu pohon yang kuat.

Raja Demak tetiron itu diletakkan ditempat ketinggian, hingga mudah terlihat dari arah luar. Dan Sentanu dari tempat itu memuji kehebatan Supit Urang. Dengan berada di dalam ia bisa mengetahui 

tempat-tempat rahasia yang penuh dengan jebakan. Lalu dengan bantuan Mirah Sekar yang selalu memberitahukan kepadanya dengan diam-diam rahasia tempat itu hampir dikuasai oleh Sentanu. Baginya tak terlalu sulit memahami, sebab Sentanu pernah mengikuti Adipati Wilapribrata membangun Kadipaten Wanabaya dengan jebakan dan rahasia istana yang penuh tipuan dan pintu rahasia semacam itu. Sentanu mengangguk pelahan ketika dilihatnya Mirah Sekar semakin bergeser mendekat kearahnya. Dan Mirah Sekar pura-pura membantu prajurit yang ada didekat Sentanu berada. Lima orang prajurit pengawal pilihan menjaga Sentanu dengan senjata terhunus. Ketika Mirah Sekar makin mendekat, salah seorang diantaranya mencegat dan menegur;

- Tunggu, jangan mendekat, ia berbahaya! Tapi Sekar tertawa.

- Bukankah ia terikat? Mengapa takut ? - Tanyanya.

- Kau, mengapa ikut berada ditempat ini? Tanya. Prajurit pengawal itu pula dengan heran.

- Aku mau lihat kalian bertempur, tuanku Rangga Permana telah mengijinkan.

Jawab Mirah Sekar masih dengan tertawa. Dan ketika para prajurit tidak berkata lagi Mirah Sekar mendekat kearah Sentanu.

- Eh, apakah kau merasa betah ada ditempat itu?! Teriaknya dengan suara keras.

- Itulah hasil seorang Raja Demak yang berwatak rendah. Huh!-

Mirah Sekar sengaja membikin keras suaranya agar terdengar oleh para prajurit pengawal itu.

Tapi setelah ia dekat, mulutnya bergerak pelahan dan berbisik:

- Kang Sentanu, kau lihat tentara Demak diluar itu, bukan? Nah, kalau tiba saatnya, Pangeran Pajajaran itu bagianku. Kau serang Rangga Permana._

Dan Sentanu menutup mata dan membuang muka seakan tak sudi mendengar dan melihat Mirah Sekar. Tapi Sekar segera turun dan meninggalkan Sentanu. Diam-diam ia telah rencanakan matang segala sesuatunya. Para prajurit yang berada ditembok beteng tidak terlalu banyak, hanya puluhan banyaknya, masing-masing kelompok menjaga pintu rahasia siap untuk menjebak lawan. Sedang kekuatan terbesar ditempatkan ditengah serta di dalam. Rangga Permana tahu sekalipun kekuatan penjaga hanya sedikit, tetapi ia merasa pasti lawan tak akan mampu menembus masuk pintu-pintu jebakan yang ada disitu, seperti telah terbukti berkali-kali terjadi. Ketika itulah, tiba-tiba terdengar sorak sorai tentara Demak diluar beteng. Mereka menghujani orang-orang yang terlihat berada diatas dinding dengan anak panah. Namun tentu saja perbuatan itu tak banyak berarti, sebab beteng itu cukup hebat dan sulit di jangkau oleh senjata. Ketika tahu lawan mulai melancarkan serangan, Rangga Permana telah mendorong Sentanu kemuka. Maka semakin jelaslah Sentanu yang terikat oleh 

tali pada batang pohon kayu itu terlihat dari luar. Dan seperti telah diatur oleh Pamasa, tentara Demak terdiam ketika melihat junjungan mereka berada ditangan lawan. Maka tempat itu menjadi sunyi. Rangga Permana girang. Ia merasa pancingannya berhasil. Maka dengan suara lantang ia berseru keras.

- Hei. orang-orang Demak, mana pemimpinmu? Kau lihatlah orang yang menjadi panutanmu ini?

Dialah Trenggana yang telah menyerah untuk dibantai ditempat ini.

Ketika itu Pamasa yang berada dimuka majukan kuda dan berseru dengan suara tak kalah kerasnya.

- Kau curang ! Licik dan pengecut! Kau tipu junjungan kami hingga terpedaya dan masuk perangkapmu. Hayo kalau kau jantan lepaskan dan aku akan hancur leburkan tempat ini hingga rata dengan bumi-

Rangga Permana tertawa

- Kau pandai bicara. Sudahlah kalian mundur dan kembali untuk kemudian bersumpah tak akan mengganggu kami lagi, atau tuanmu ini kami lumatkan dihadapan kalian?_

Terdengar suara prajurit Demak saling bergumam. Mereka yang tidak mengetahui siapa sesungguhnya Raja Demak yang ada ditangan lawan menjadi cemas dan khawatir, sekaligus heran.

Bagaimana Raden Trenggana bisa berada ditangan lawan?

Suara bergumam yang ramai itu membuat Ranggga Permana merasa bertambah yakin pihaknya akan menang. Maka ia tatap Pamasa yang ada dibawah itu dengan pandang mengejek. Pamasa mengangkat tangan memberi isyarat agar prajurit Demak diam.

- Kalian tenang, He, Rangga Permana kalau kami mau menuruti permintaanmu, apakah junjungan kami Tuanku Trenggana akan dilepas dengan selamat ?!

Serunya.

- Tentu, tentu saja. Tetapi kalian harus bersumpah lebih dahulu tidak akan mengganggu kami lagi selamanya.--

- Ya, ya, kami berjanji. Lalu apa yang harus kami lakukan-

- Tunggu, aku akan mengundang kau masuk lewat pintu belakang. Tetapi sebelum menginjak tempat kami, kau dengan seluruh pemimpin Tentara Demak mengenakan pakaian putih dengan ikat kepala putih sebagai tanda kalian telah menyerah dan bersumpah untuk tidak mengganggu kami. Dan kalian kami tunggu lewat pintu belakang di timur itu!-

Pamasa tak banyak berkata. Menurut perhitungannya Mirah Sekar dengan Sentanu tentu, telah bersiap-siap. Maka ia sanggupi permintaan Rangga Permana. Ia ajak Raden Trenggana yang berpakaian prajurit, pengawal didekatnya, lalu dengan Wijaya dan tokoh Demak lain ia berunding .

- Kita berpura-pura menuruti permintaannya, tuanku.

Raden Trenggana segera memerintahkan prajurit pengawal untuk mencari pakaian putih seperti 

diminta oleh Rangga Permana sebagai tanda menyerah dan jalan perundingan dengannya.

Rangga Permana melihat empat orang Demak berganti pakaian putih dengan ikat kepala putih, girang. Dengan begitu terang- terangan lawan telah menyerah.

- Kalian berputar kepintu selatan, kami tunggu dipintu timur!

Seru Rangga Permana kemudian. Lalu ia loncat turun meninggalkan Sentanu.

- Kalian bawa sebentar lagi. kalau ada tanda perintah dariku.

Katanya kepada prajurit pengawal. Sementara itu Mirah Sekar begitu melihat Rangga Permana meninggalkan Sentanu ia loncat kedekat anak muda itu. Lalu dengan sebat pedang yang sejak semula ia genggam dibabatkan pada batang pohon kayu yang menjadi pengikat tubuh Sentanu. Maka terjadilah kegemparan, karena dengan cepat Sentanu telah terbebas dari ikatan batang kayu itu. Dan sebelum para prajurit bertindak, Mirah Sekar telah menyerang. Sedang Sentanu loncat menyerang penjaga pintu-pintu jebakan. Sudah barang tentu dengan kepandaian yang dimiiki kedua orang muda itu, prajurit Supit Urang tak mampu membendung mereka. Lebih-lebih jumlah mereka hanya sedikit karena sebagian besar berada dibagian dalam dinding lain yang membatasi tempat itu. Maka korban berjatuhan, Mirah Sekar dengan cepat telah berhasil melumpuhkan penyerang-penyerangnya. sedang Sentanu telah berhasil membuka seluruh pintu yang ada di tempat itu. Maka tentara Demak yang berada diluar, begitu melihat Sentanu muncul dalam pakaian Raden Trenggana itu bersorak gegap gempia dan Pamasa yang mengangkat tangan, disambut dengan sorakan hebat lantas tentara Demak itupun meluruk maju membanjiri beteng Supit Urang dan bagai air bah pasukan itu menyusup kedalam menyerang dengan dahsyatnya. Kini tak ada lagi pintu yang mampu membendung kekuatan itu. Sentanu telah berhasil mengetahui seluruh rahasia jebakan dan membawa tentara Demak masuk membanjiri tempat itu. Dengan muslihat dipecah dari dalam dan luar itulah Supit Urang ditembus oleh kekuatan Demak dan keruntuhan tengah berjalan bagi kekuatan Rangga Permana

Ketika pasukan Demak masuk tanpa putus-putusnya, Rangga Permana marah dan meluruk maju

seraya memerintahkan prajurit untuk menyerang. Tetapi Pangeran Madi Alit mencegah.

- Tunggu dulu. Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini secepatnya dengan sisa tentara kita. Kita bergabung ke Pasuruan dengan melewati jalan terakhir di pintu selatan. Hayo, sebelum mereka masuk kemari!

Dan Rangga Permana terpaksa menahan diri. Ia ikuti nasehat Madi Alit. Maka sebelum tentara Demak berhasil masuk lebih kedalam, seluruh sisa tentara yang ada disitu diperintahkan melarikan diri melalui jalan rahasia terakhir dipintu selatan. Sementara itu, Pamasa yang membawa

orang-orang Demak menyerang kedalam heran. Ditempat itu tak lagi terlihat manusia. Tidak seorang pun.

- Mereka lari tuanku.

Katanya kepada Raden Trenggana. - Kita susul,  lekas Wijaya berseru.

- Tidak usah!?

Raden Trenggana mencegah.

- Tak banyak berguna menyusul mereka. Kita telah berhasil merebut Supit Urang. Jangan ditinggal begitu saja. -

- Tetapi mereka akan selamat dan menghimpun kekuatan kembali._ bantah Wijaya pula.

- Dalam perjalanan mereka akan bertemu dengan tentara Banten yang tengah menuju kemari.

- Kau keliru Wijaya,

Raden Trenggana berkata pula.

Yang mendengar mengangguk mengerti.

- Nah, kita tempati perbetengan ini sambil menunggu kedatangan tentara Banten.

Perintah Raja Demak itu kemudian. Dan segera terlihat kesibukan ditempat itu. Disana sini terlihat prajurit Demak masih bersorak-sorak girang dengan kemenangan yang dicapai tanpa menimbulkan korban jiwa seorangpun. Maka dengan jatuhnya Supit Urang ketangan Demak itulah kekuatan Majapahit semakin menipis. Dan tentara Demak di dalam waktu singkat telah meratai hampir seluruh kekuasaan Majapahit sebelumnya. Raden Trenggana telah memerintahkan untuk menaklukkan tanpa sisa negri-negri dan taklukan yang dianggapnya masih kafir itu, agar masuk kedalam kekuasaan Demak yang besar. Untuk kemudian setelah memakan waktu yang cukup lama, setelahnya Supit Urang diserahkannya kepada para adipati Raden Trenggana menuju Pasuruan, dimana sisa kekuatan terakhir Majapahit masih bertahan dengan angkuhnya di tempat itu.

Dua kekuatan terakhir yang dimiliki Majapahit telah roboh satu. Tinggal pertahanan dan kekuatan di Pasuruan. Dan Raden Trenggana bukannya tidak mengetahui bahwa di Pasuruan itulah inti dari pemusatan sesungguhnya bagi Majapahit. Maka ketika Demak mempersiapkan penyerangan di tempat itu, seluruh perhitungan dikerahkan. Kekuatan Demak digabung secara teliti. Dan sementara tentara Banten masih melakukan penyerangan didaerah Pantai atas kekuatan Majapahit yang ada disepanjang pantai utara, Demak telah mendirikan kubu-kubu mengepung Pasuruan dengan kekuatan tentaranya yang berjumlah tak sedikit. Raden Trenggana tahu di Pasuruan berhimpun banyak tokoh kuat. Namun juga disadari jatuh atau tidaknya Pasuruan kedalam kekuasaan Demak akan menentukan nasib Demak selanjutnya. Dan dikepungnya Pasuruan bukan suatu sikap main-main lagi.

Sebelum Supit Urang jatuh, Demak telah mengalami banyak kegagalan. Sekalipun jumlah lawan

tidak seberapa berarti, namun kehebatan Supit Urang membawa tentara Majapahit mampu bertahan beberapa lama. Berbeda dengan itu Pasuruan bukan saja merupakan kehebatan tersendiri bagi 

Majepahit, juga disana berhimpunnya sisa-sisa yang tak bisa dianggap ringan. Karena menurut catatan sejarah justru di Pasuruan inilah nasib Demak digantungkan, bahkan juga nasib Raja Perkasa Sultan Trenggana yang gagah berani dan cerdik itu dipertaruhkan. Raja Demak telah membuat jepitan-jepitan penyerangan bagi lawannya. Dua kekuatan Demak dan Banten telah mulai tergabung menjadi satu.

Sementara itu Prabu Udhara yang mendengar jatuhnya Supit Urang bertambah cemas hatinya. Tetapi Rangga Permana yang meyakinkan Raja Majapahit itu tak merasa jerih, bahkan ia semakin bertambah yakin akan kemenangan yang bakal dicapai Majapahit. Dan ketika diingatkan oleh Pangeran Madi Alit perihal Aki Kerancang yang tengah membawa tentara Majapahit mengambil akar- akar pohon beracun di Hutan Kalang, Rangga Permana sadar. Maka ia perintahkan prajurit sandi untuk mencegat Aki Kerancang dan memerintahkan membawa mereka ke Pasuruan. Dan Aki Kerancang tertawa-tawa gembira ketika dengan kepandaian dan kecerdikannya berhasil membawa duaratus orang prajurit masuk ke Pasuruan pada tengah malam dengan membawa kantungan kulit yang mereka bawa sejak dari hutan Kalang.

- Aku berhasil Kisanak Madi Alit.

Kata orang tua itu dengan wajah cerah.

- Terimakasih paman, kau memang hebat.

Puji Rangga Permana. Dan Aki Kerancang tertawa. Lalu ia perintahkan membongkar keduaratus kantungan yang tergantung pada masing-masing kuda prajurit yang datang bersamanya.

- Awas jangan sentuh!-

Aki Kerancang berseru kaget ketika Rangga Permana meraih isi kantungan itu. Tapi Madi Alit lebih cepat. Sebelum tangan Rangga Permana menyentuh isi kantungan kulit itu ia telah pukul tangan itu hingga Ranggga Permana terpental mundur dan kaget.

- Berbahaya. Akar-akar dan tanah itu amat ganas dan berbisa. -

Kata Aki Keancang. Maka ia dengan pergunakan pedang memungut salah sebuah akar lalu dilumatnya, dicacah dengan pedang itu.

- Ambil air!-

Katanya. Dan seorang pengawal cepat membisa. Kata Aki Kerancang. Maka ia dengan pergunakan pedang memungut salah sebuah akar lalu dilumatnya, dicacah dengan pedang oleh Aki Kerancang dimasukkan kedalam air rendaman akar dan Rangga Permana serta orang-orang yang melihat terkejut ketika terdengar bunyi menceracas hebat dan tubuh kelinci yang kedalam air meleleh untuk kemudian larut kedalam air rendaman itu, hancur pelahan-lahan

- Berbahaya, bukan? Aki Kerancang berkata.

- Air yang direndam dengan akar-akar beracun dan bercampur dengan tanah hutan Kalang itu 

mampu melumatkan tubuh manusia tanpa sisa.

Rata-rata yang menyaksikan ternganga dan bergidig bulu kuduknya. Bahkan Pangeran Madi Alit yang pernah menyaksikan kejadian semacam itu di Hutan Kalang dulunya tak urung merasa ngeri dan meremang pula. Kedahsyatan akar beracun yang tumbuh disekitar Kubang beracun di Kedung Bubak Hutan Kalang itu benar-benar menimbulkan rasa gentar.

- Dengan mempergunakan kehebatan akar inilah kita akan buat beteng keliling. Kita tempatkan cairan-cairan yang telah kita rendam dengan akar itu disekeliling daerah pertahanan kita. Dengan demikian bisa dipastikan manakala prajurit Demak mendekat, sebelum berhasil menyerang mereka akan hancur dan lumat tanpa berkutik..

Yang mendengar rencana itu sekalipun girang, tetapi hati mereka merasa cemas dan ngeri membayangkan yang akan dialami oleh prajurit lawan kalau saja mereka menyentuh jebakan itu.

- Tunggulah, Demak tak akan mampu menyentuh kekuatan kita di tempat ini! --

Aki Kerancang berseru dengan semangat kemudian ia memimpin prajurit yang membawa

akar-akaran itu untuk mempersiapkan keperluannya mengatur jebakan maut bagi lawan- lawannya.

****

- Kedua orang itu amat tangguh tuanku,-

Kata Sentanu ketika memberitahukan siapa Pangeran Madi Alit dan Rangga Permana yang ditemuinya sewaktu mereka menyusup kedalam Supit Urang.

- Kalau saja dulu itu tuanku segera mengejar mereka, tak akan sesulit seperti sekarang ini. Raden Trenggana tertawa.

- Aku tahu maksudmu Sentanu. Akupun mempercayai Pangeran Pajajaran seperti yang kau katakan itu adalah seorang linuwih yang memiliki kemampuan tinggi. Tetapi dengan kekuatan kita, mengapa kau harus merasa bimbang Sentanu? Apalah artinya Pasuruan yang tinggal kecil itu? Demak telah meratai seluruh jajahan Majapahit semenjak dari tlatah barat hingga ketimur ini, Sentanu.

Percayalah. Demak akan kembali dengan seluruh kemenangan itu.

- Hamba percaya tuanku. tetapi hamba merasa ada ketidak enakan dalam perasaan hamba. Sejak waktu-waktu ini hamba selalu digoda oleh mimpi-mimpi buruk tentang diri tuanku. Maka hamba mempunyai pemikiran betapa baiknya kalau penyerangan ke Pasuruan ini ditunda untuk beberapa waktu lagi.

Raden Trenggana heran.

- Hatinya tak senang mendengar perkataan Sentanu.

Ia tatap anak muda yang menunduk dimukanya itu. Heran dan tidak mengerti akan perkataan yang baru saja di dengar.

- Aneh Sentanu.

Kata Raden Trenggana kemudian, 

- Kau begitu ganjil sekali ini. Kalau pada hari-hari yang lewat justru kaulah yang mendorongku untuk selalu melakukan penyerangan, sekali ini pada saat aku bersemangat kau malah melumpuhkan semangat itu. Aneh, bukan ? Tapi tidak Sentanu. Kita tetap harus menghancurkan Pasuruan sekarang ini. Menunggu apalagi? Bukankah tinggal sejengkal kita maju? Pasuruan jatuh, sama artinya kita telah mencapai kemenangan terakhir. Mengapa kau jadi mempunyai pemikiran sedemikian?

- Dia benar tuanku!-

Terdengar suara menyahut dari luar. Raden Trenggana kaget. Begitu pula Sentanu. Keduanya menoleh hampir berbareng. Dan dari luar tenda muncul seorang tua dengan muka memancarkan kewibawaan dan sorot mata yang tajem rasanya hampir menembus jantung Raden Trenggana ketika mata itu beradu pandang dengannya.

- Guru

Sentanu melompat kemuka lalu membungkuk memberi hormat kepada orang tua yang baru datang itu. Sedang Raden Trenggana tanpa sadar telah berdiri dan menuruti perbuatan Sentanu membungkuk memberi hormat.

- O, kau masih mengenal aku Sentanu?

Kata orang tua itu yang bukan lain adalah Mpu Sugati.

- Ya, aku masih ingat padamu Guru, tentu aku ingat.

- Hm, baik. Kau anak baik Sentanu. Aku tahu kau telah banyak memperoleh kemajuan setelahnya diambil murid oleh Ki Ageng Semu..

Lalu Mpu Sugati berpaling kepada Raden Trenggana.

- Mohon diampuni tuanku, aku yang tua telah berlaku kurang sopan dihadapanmu. Tetapi aku percaya tuanku masih mengenal diriku, bukan?-

Dan Raden Trenggana tentu saja harus mengangguk. Sebab ia telah mengetahui siapa Mpu Sugati.

- Jangan heran. Aku sengaja datang menemuimu. Kami orang tua kali ini telah berusaha untuk mencegah peperangan yang akan timbul antara Demak dan Pasuruan, sebab ada yang tidak menguntungkan Demak. Maka perintahkan barisan ini untuk mundur atau menunda penyerangan.-

Raden Trenggana termangu-mangu mendengar perkataan itu. Tetapi setelah menimbang beberapa lamanya berkatalah ia: - Aku mengerti perkataanmu Paman Sugati, tetapi tentara Demak telah terlanjur maju dan kini tinggal menggempur kekuatan terakhir yang ada didepan mata. Bagaimana aku harus mundurkan mereka ? Sudahlah biarkan kali ini Demak menyelesaikan kuwajibannya yang paling besar. Lawan terakhir bagi Demak tinggal memijat dari tempat ini. Janganlah aku diganggu.

Mohon diampuni kekasaranku, tetapi Demak tak bisa ditarik kembali. Pasuruan dalam pekan ini harus jatuh.

Mpu Sugati terdiam. Ia mengangguk-anggukkan kepala. Sentanu tidak pula banyak berkata. 

Rupanya Raja Demak itu tak mau merubah rencana.

- Baiklah tuanku. Maafkan kalau aku merepoti pertimbanganmu.- Kata Mpu Sugati kemudian.

- Namun Tuanku Jangan salah paham. Bukan aku saja yang berusaha mencegah timbulnya peperangan kali ini. Bahkan saudara-saudaraku Guru Bantu saat ini tengah menemui Prabu Udhara di Pasuruan bersama-sama dengan Nyi Ageng Maloka dan Ki Ageng Semu untuk mencairkan niat peperangan dihati orang-orang Majapahit. Tapi sudahlah. Aku mohon pamit. Hanya aku berharap tuanku akan merubah niat itu dalam sepekan ini.

Mpu Sugati membalikkan tubuh, diseretnya langkah kaki menuju keluar tenda.

- Paman Sugati! -

Raden Trenggana berseru dan memburu orang tua itu. Membuat Mpu Sugali menghentikan langkahnya.

- Ampunilah saya Paman

Raden Trenggana berlutut di hadapan orang itu. Tetapi Mpu Sugati cepat menarik pundak Raden Trenggana.

- Berdirilah tuanku, mengapa Raja Demak berlutut dihadapanku?

- Ampun Paman, kau benar. Tetapi Aku sebagai Sultan Demak sungguh sukar menumpas niat penyerangan itu. Kau tentu mengerti!

Mpu Sugati mengangguk-angguk.

- sasadara!-

Kata orang tua itu pula.

- Kau adalah Raja Demak, sudahlah. Tetapi aku masih merasa tuanku sebagai Raden Sasadara yang pernah berguru kepadaku. Kau ingatlah Sasadara, ada benih yang pernah kau tanam di Padepokanku sebelum tuanku meninggalkan pertapaan.

Raden Trenggana mengangguk-angguk.

- Aku mengerti, aku mengerti Paman Sugati. Tentu sudah besar anak itu. Ah bagaimana pula dia tidak kau perintahkan untuk mencariku Paman?

Mpu Sugati tertawa.

- Tentu, tentu saja aku tidak menyalahi perkataanku sendiri. Jauh-jauh anak itu telah mencari sang Ayah yang semula belum kuketahui secara pasti bahwa tuankulah adanya. Tetapi rasanya anak itu telah mendekati tuanku. Hanya dimanakah adanya aku orang tua ini masih belum mengetahuinya.

Mpu Sugati terdiam beberapa saat. Ia tahu Ken Rati yang tengah mencari ayah. Tetapi tak diduganya sama sekali bahwa saat itu cucunya telah berada dalam lingkungan Demak bersama-sama dengan Mirah Sekar.

- Sudahlah tuanku, masih ada waktu bagi tuanku untuk menimbang.Aku mohon pamit! 

Lalu orang tua itupun kembali melangkah dan keluar dari tenda Raden Trenggana. Demikianlah Raden Trenggana telah semakin bulat tekad dan niatnya untuk melakukan penyerangan

besar-besaran. Dan sebelum Raja Demak itu berkata lebih banyak, di tempat itu muncul Pamasa dengan para pengawal lain mengiringkan seseorang, yakni Pangeran Mukmin.

- He, ada kejadian apakah adimas datang kemari?- Tegur Raden Tronggana.

- Bukankah kau kuperintahkan menunggu istana bersama adimas Pangeran Timur ?!

Pangeran Mukmin membungkuk memberi hormat, lalu dengan singkat ia tuturkan perihal datangnya Ken Rati di Demak. Ia mengatakan:

- Kangmas Sultan, diistana telah datang seorang gadis jahat tetapi ia berilmu tinggi. Gadis liar itu mengganggu istana, membunuh prajurit-prajurit Demak di istana. Ia mengaku sebagai anak dari Kangmas Sultan dan saat ini tentu tengah mencari kangmas ditempat ini. Maka sebelum gadis liar yang telah merusak istana itu tiba, hamba mendahului untuk memberitahu.

Raden Trenggana terdiam mendengar perkataan itu. Tetapi setelah berdiam beberapa lamanya Raja Demak itu berkata:

- Baiklah adimas, pelapuranmu aku terima. Percayalah kalau benar ada yang muncul

mengaku-aku sebagai anak Sultan Demak, tentu aku akan dapat membedakan kebenaran perkataan.-

Pada saat perkataan Raden Trenggana habis, muncul pula di tempat itu Mirah Sekar, dibelakangnya Ken Rati mengiringkan dengan muka tertunduk. Gadis ini segan dan kikuk manakala berhadapan dengan Raja Demak itu. Karena telah timbul dugaan orang yang dicari adalah Raden Trenggana. Maka setiapkali ia berhadapan muka Ken Rati tak berani menatap berterang-terangan. Tetapi seseorang menjadi kaget begitu melihat munculnya Ken Rati. Dialah Pangeran Mukmin yang tidak menduga sedikitpun bahwa gadis itu telah berada ditempat itu. Maka tanpa sadar Pangeran Mukmin telah berdiri seraya menuding gadis itu dan berseru:

- Itulah orangnya tuanku. gadis pengacau yang akan menipu tuanku !

Raden Trenggana melengak heran. Ia telah termakan oleh perkataan Pangeran Mukmin. Dan seluruh perhatian Raja Demak yang telah dipusatkan pada rencana penyerangan terhadap lawannya bertambah kalut ketika Mpu Sugati mencoba mencegah niat penyerbuan itu. Dan ketika perasaan dan seluruh perhatian tengah demikian, muncul Ken Rati, maka Raden Trenggana berdiri dan menegur dengan suara keras:

- Kau kemarilah!

Ken Rati kaget. Tak menduga perkataan itu akan menjadi kasar demikian. Tetapi ia maju dan berlutut.

- Ah, benarlah rupanya perkataan adimas Mukmin. He! 

Yang ada ditempat itu kaget, sebab Raden Trenggana tiba-tiba memukul Ken Rati.

- Plak!

Dan gadis itu terpental bergulingan. Terjadilah suatu keanehan. Ken Rati tidak melakukan perlawanan. Dan Raden Trenggana tiba-tiba saja menyerang gadis itu dengan lebih gencar, dipukulnya Ken Rati bertubi-tubi hingga jatuh bergulingan dan terbanting-banting hebat.

Raden Trenggana bagai kemasukan iblis layaknya hingga seluruh yang ada ditempat itu kaget dan heran.

- Tuanku!

Sentanu mencoba mencegah. Namun Raden Trenggana tak mau sudah.

- Jangan mencampuri Sentanu. Ia harus dibunuh. Tentu anak ini suruhan Rangga Penuaan. Aku telah merasa sejak semula melihat ia takut dan gugup bila berhadapan denganku. Tentu ia memendam niat jahat. -

- Rati, menyingkirlah !

Mirah Sekar memperingatkan pula. Ia tahu, Ken Rati sengaja tidak melawan, hingga dengan leluasa Raden Trenggana melakukan serangan-serangan kepadanya.

Namun sesungguhnyalah hati gadis itu teiah hancur dan ia ingin menjerit keras. Nalurinya menyebut bahwa orang yang menyerang adalah ayah sendiri yang dicari sejak lama. Tetapi setelahnya bertemu malah melakukan penghinaan dan menyiksa demikian.

Ketika Raden Trenggana tak mau menyudahi serangan, tiba tiba Ken Rati loncat menghindar dan bertolak pinggang menentang pandang mata Raden Trenggana yang berapi-api. Tetapi semua yang menyaksikan tahu bahwa air mata, gadis itu mengalir deras.

- Baiklah tuanku.

Kata gadis itu kemudian.

- Kalau mau bunuh hamba boleh bunuh. Tetapi dengarlah aku adalah anak Ken Sanggit, Cucu kakekku Mpu Sugati yang sejak lama mencari orang tuaku bernama Sasadara. Tetapi hamba tidak mengetahui bahwa tuankulah yang bernama Sasadara itu. Hamba tahu tuanku, kemarin kakek telah menemui dan memaparkan bahwa tuankulah sebenarnya orang tua yang hamba cari. Tetapi kalau tuanku mau bunuh, kini hamba akan melawan. Bukan hamba mau melawan tuanku sebagai Raja Demak dan sebagai ayah hamba., tetapi hamba hanya ingin memberi hajaran pada Sasadara yang telah menyiksa ibu hamba Ken Sanggit dan tidak memperdulikan nasib dan perasaan hati ibu yang kini merana di Padepokan. Ingat tuanku, hamba akan hajar Sasadara, bukan Raja Demak. Nah, kini seranglah tuanku! -

- Ha. ha... ha... terbuka belangmu sekarang!

Raden Trenggana tertawa keras. - Benar perkataan dimas Mukmin. Kau ternyata penipu yang berniat menghancurkan Demak dari dalam. Siapa berkata kau adalah anak turunku?! Nah, siaplah 

unuk mati! -

Dan Raden Trenggana mencabut senjata dari ikat pinggangnya dan menyerang Ken Rati dengan hebat. Ken Ratipun loncat dan bergerak berbareng mencabut senjatanya pula.

Yang menyaksikan kaget dan heran. Senjata kedua orang itu serupa benar. Namun perhatian mereka segera terpecah ketika dengan gerakan hebat Raden Trenggana menyerang Rati dengan garang. Gerakan-gerakan itu amat mengejutkan, sebab yang melihat mengerti kali ini Raden Trenggana amat lain tindak tanduk dan sikapnya. Tidak biasanya Raja Demak itu berhal demikian, seakan kemasukan iblis ia menyerang.

- Perempuan rendah, mampuslah kau!

Seru Raja Demak berulang-ulang. Tetapi belum sekalipun senjatanya berhasil menyentuh Ken Rati yang berilmu tinggi.

Sentanu, bahkan Mirah Sekar serta Pamasa dan hampir seluruhnya yang menyaksikan perkelahian amat cemas. Mereka tahu Raden Trenggana akan terdesak oleh gadis itu sebab jelas kepandaian yang dimiliki Ken Rati berada diatas Raja Demak. Namun untuk bertindak, mereka tak berani sebab bisa menimbulkan kemarahan Raden Trenggana. Maka tak satupun bergerak,hati mereka rata-rata diliputi rasa cemas dan gelisah. Dalam pada itu ketika Raden Trenggana dengan bernapsu menyerang Ken Rati, dari luar tenda muncul orang-orang Demak, puluhan pengawal bermunculan karena mendengar suara ribut-ribut di dalam. Tetapi begitu mengetahui kejadian yang sesungguhnya, merekapun tak berani bertindak. Ketika itulah, terdengar suara-suara ribut pula ketika di tempat itu muncul seorang kanak-kanak menunggang kuda gagah.

- Hei siapa kau?!-

Para pengawal berseru melihat anak itu tertawa-tawa menuju tempat perkelahian di dalam tenda.

- Jangan ganggu, aku mencari ibuku!-

Anak itu berkata keras. Tiga orang prajurit maju mencegah dengan menarik tali kendali kuda yang ditunggangi si anak. Tetapi aneh, anak itu menggerakkan tangan pelahan dan tiga orang itu menjerit keras, tangan- tangan mereka terpukul kepalan kecil anak itu.

- Tunggu sini lawung!--

Kata anak itu lalu loncat turun dan menyuruk masuk kedalam tenda luas yang ada dimukanya.

Ketika dua orang prajurit lain mencoba mencegah, keduanya terpental bergulingan oleh gerakan anak itu.

- Mundarang!

Mirah Sekar kaget melihat munculnya anak itu, lalu dirangkulnya Mundarang, dan anak itu dengan manja merangkul Mirah Sekar pula.

- Mana kakek ? Bagaimana kau bisa ada ditempat ini ? 

Bertanya Mirah Sekar.

- Kakek sedang berjalan kemari bersama Kakek Sugati! Jawab Mundarang.

Tetapi anak itu segera mengalihkan perhatian pada perkelahian yang ada di tempat itu.

- He, kau Ken Rati- Mundarang heran.

- Mana harimaumu yang dua itu? !

Ken Rati melirik, tahu Mundarang ,ia senyum tetapi tak menjawab perkataan. Sebab Raden Trenggana terus mendesak dengan garang tanpa memberi kesempatan ia membalas. Bukan karena Ken Rati terdesak, ia bisa saja lakukan serangan balasan, bahkan membunuhpun rasanya ia mampu. Namun hatinya ketika itu kembali dijangkiti kebimbangan. Maka gerakannya kembali menjadi lemah dan ragu-ragu. Karena itulah sebelum Mundarang muncul pakaian penutup gadis itu telah robek-robek akibat serangan Raden Trenggana. Setiap kali Raja Demak itu menyerang, Ken Rati tak kuasa berkelit dengan baik karena keraguan yang menyerang hatinya itu hingga tak urung senjata ditangan Raden Trenggana telah mencacah hancur pakaiannya. Pada suatu ketika Raden Trenggana menyerang pula, dan kali ini senjata itu kembali tanpa sengaja merobek pakaian si gadis hingga hampir separuh tubuh terbuka. Mundarang, sejak tadi cemas. Ia masih belum mengetahui kejadian yang sesungguhnya. Dan lagi anak itu tidak dapat membedakan siapa yang akan unggul dalam perkelahian. Hanya yang pasti dirasakan oleh Mundarang, ia merasa marah kepada Raden Trenggana karena anak itu dalam hati berpihak kepada Ken Rati yang telah di kenalnya. Hingga ketika berkali-kali Raden Trenggana berhasil menyerang, bahkan merobek-robek pakaian gadis itu, Mundarang mengepalkan tangan dengan geram.

Pada suatu ketika Ken Rati bergerak sebat, ia keraskan hati untuk balas menyerang, dan sebuah

gerakan hebat dirinya sekonyong-konyong berhasil melemparkan badik yang dipegang Raja Demak itu dan melayang ke dekat kaki Mundarang. Oleh Mundarang, Badik itu diambilnya. Tetapi begitu melihat senjata ditangan Raden Tronggana lepas, Ken Rati kembali diganggu keraguan. Terbayang wajah ibunya Ken Sanggit, di Padepokan yang meminta agar mencari ayahnya, Sasadara.

Hati gadis itu tercekat. Ia tahu Sasadara adalah orang yang kini tengah berusaha mati-matian mencelakakan dirinya. Berpikir demikian, Ken Rati merasa lemah hati, pcrasaannya terpukul hebat membuat lututnya gemetar hebat pula. Ketika itulah Raden Trenggana yang masih belum sadar akan kemarahannya, meloncat maju dan akibat Ken Rati telah pecah pertahanan hatinya, tak mampu lagi menghindar, pundaknya kena terpegang dan badik yang dibawa direbut oleh Raden Trenggana. Yang melihat terkejut, Ken Rati nampak telah tak berdaya, dan tak lagi melakukan perlawanan, namun tak seorangpun berani bergerak mencegah karena takut kemarahan Raja Demak akan menimpanya. Dan badik ditangan Raden Trenggana yang telah merah mukanya karena marah bergerak cepat dan 

dihunjamkan kedada Ken Rati dengan derasnya. Namun terjadilah suatu yang hebat. Tiba-tiba Raden Trenggana terpental kesamping, hingga serangan badik itu tidak mengenai dada Ken Rati. Ternyata seseorang menyerang dengan cepat. Dan sebelum kekagetan yang melihat habis, terjadilah kejadian lain yang lebih membuat gempar tempat itu. Raden Trenggana yang telah merah padam mukanya berseru tertahan ketika sebuah bayangan melesat ke arahnya dan menikamkan senjata dengan gerakan kilat, ia berusaha menghindar. namun terlambat. Bayangan itu yang tak lain adalah Mundarang telah menghunjamkan badik milik Raja Demak itu hingga Raden Trenggana tersungkur menebah dadanya.

- Mundarang!

Mirah Sekar berseru nyaring dan loncat menerkam anak itu. Demikian pula yang lain kaget dan berloncatan menolong Raden Trenggana yang tergolek menggerang pelahan. Badik pusakanya sendiri yang tadi terlempar dipungut Mundarang dan dipergunakan menikam dirinya. Bertepatan dengan robohnya Raja Demak itu, muncul Mpu Sugati diiringkan Guru Bantu, untuk kemudian muncul pula Ki Ageng Semu dan Nyi Ageng Maloka.

Rata-rata orang-orang tua itu kaget melihat kejadian yang tidak diduganya.

Raden Trenggana tersenyum. Sambil masih rebah ditolong para prajurit ia menatap Mundarang yang dipeluk Mirah Sekar. Kata Raja Demak itu pelahan. ia berkata

- Kau kemarilah anak baik, aku kagum terhadapmu . Mirah Sekar cepat menarik Mundarang dan sambil berlutut

- Ampunilah anak hamba tuanku, ia masih kanak-kanak dan belum mengetahui sebab musabab yang sesungguhnya. Karena anak hamba hanya mengetahui Tuanku ingin mencelakakan Ken Rati._

- Tidak, tidak demikian maksudku. Aku tahu. Ah, jadi dia anakmu bukan? Anak Sentanu yang gagah berani itu? Ah beruntunglah aku. Aku tidak malu terluka olehnya. Ia hebat dan berbakat baik.

- Tuanku. Mpu Sugati mendekat. Rupanya inilah yang harus terjadi. Dari tuanku salah paham terhadap Ken Rati. Ia benar benar adalah anak dagingmu sendiri. Rati adalah benih yang di kandung Ken Sanggit, tuanku.

Raden Trenggana terbatuk hebat. Baru ia kembali tenang .setelahnya Mpu Sugati memijat dadanya mengurangi rasa sakit akibat luka hebat yang dideritanya.

- Oh, maafkan aku, kau.. . Rati anakku... kemarilah!

Katanya. Dan Ken Rati yang berdiri bingung mematung, mendengar perkataan itu tanpa sadar maju melangkah, lalu menjatuhkan diri memeluk kaki Raja Demak itu.

- Maafkan aku Rati. kau anak baik. Sukur-sukur kau telah memiliki kepandaian tinggi sampai aku tak mampu melawanmu.

Terdengar isak si gadis.

Seorang Pengawal maju dan bertanya. 

- Apakah tuanku memberi ijin hamba menangkap anak itu ?

- He!-

Raden Trenggana hampir saja berdiri.

- Tidak! - Aku melarang kalian mengganggu anak itu. Ia benar. Anak itulah yang telah mengembalikan kesadaranku. Aku berdosa telah kesalahan tangan. Coba kalian bayangkan seorang ayah yang bernapsu ingin membunuh anak sendiri, apakah hukuman yang layak diterimanya? Aku melarang kalian mengganggu anak itu. Lagi pula, aku tahu anak itu berilmu tinggi. Kalau tidak bagaimana dengan sekali serang ia mampu melukaiku? Sudahlah, anggap tak ada persoalan. Hanya perintahkan kawan-kawanmu untuk tetap bertahan dan perintahkan yang lain untuk melanjutkan penyerangan kepada lawan._

Badik pusaka yang pernah dibuat oleh Mpu Sugati bukan benda sembarangan. Ia memiliki keampuhan hebat. Maka ketika Raden Trenggana tertikam senjata itu, senjata yang pernah diminta dari Mpu Sugati oleh Raden Trenggana yang pernah mengaku sebagai Raden Sasadara, Raja Demak tak kuat menahannya. Untuk beberapa waktu kemudian ia tewas menghembuskan napas penghabisan. Prajurit Demak jadi gempar. Mereka kaget mendengar berita yang tak diduganya.

Sentanu cemas, dan ketika itu munculnya orang-orang tua yang diharap akan membantu, telah menjadi lain. Ki Ageng Semu dan Mpu Sugati memerintahkan Sentanu untuk menarik kembali tentara Demak dan kembali mundur. Akibat dari itu Majapahit menjadi girang. Mereka bermaksud menggempur lebih dahulu. Tetapi sewaktu Rangga Permana memerintahkan mereka, Pangeran Madi Alit maju dan berkata

- Maafkan kelancanganku. Kalau selama ini aku tidak mau mencampuri peperangan dengan cara apapun. kali ini aku ada pemikiran. Ingat, dengan kekuatan kita, sesungguhnya tak mungkinlah kita mampu menggempur lawan. Tetapi untuk terus menyerang mereka, aku sangsi apakah dapat kita lakukan ? Sebab jika terdesak, akan timbul kesadaran mereka untuk melawan. Dan itu berbahaya !

Rangga Permana terdiam. Ia mengakui kebenaran perkataan itu. Hatinya menjadi ragu-ragu.

- Anakmas Madi Alit benar! - Terdengar Aki Kerancang berseru.

- Seyogyanya, biarkan aku yang tua ini memeriksa terlebih dahulu keadaan lawan, sambil aku berusaha mencari tempat tempat untuk memasang akar dan racun dari hutan Kalang itu. Dengan secara sembunyi, aku yakin mereka bisa dilumpuhkan.-

Rangga Permana mengangguk-angguk mendengar perkataan itu. Segera disepakati, Madi Alit berdua Aki Kerancang berangkat dengan sembunyi-sembunyi menyusup ke dalam perkubuan tentara Demak. Dalam pada itu Tentara Demak sedang bersiap-siap untuk kembali, dengan membawa kedukaan yang dalam, Jenasah Raden Trenggana telah dirawat baik-baik dan dengan iringan pasukan 

yang dapat diandalkan untuk kembali ke Demak. Ketika itulah Pangeran Madi Alit berdua Aki Kerancang telah berjalan dengan sembunyi-sembunyi. Dan ketika perkubuan tentara Demak telah dekat, keduanya berhenti dan lompat ketempat terlindung. Dari tempat itu dapatlah dilihat prajurit yang berjaga dengan kuatnya Namun tiba-tiba saja kedua orang itu dikejutkan oleh sesuatu yang datang dari arah kejauhan. Seseorang berpakaian serba putih muncul dengan menunggang kuda.

Orang itu memakai jubah panjang berwarna putih, kepalanya dililiti sorban putih pula. Tidak terlalu tua, tetapi roman mukanya gagah dan bercahaya. Pangeran Madi Alit loncat keluar menghadang si penunggang kuda yang telah tiba di tempat itu

Orang itu menghentikan kudanya dengan heran. Muncul pula Aki Kerancang dan ia bersiap melihat Pangeran Madi Alit nampak menegang mukanya.

- Kalian siapa kisanak? -

Bertanya orang berjubah putih itu. Tetapi Pangeran Madi Alit membungkuk memberi hormat lalu berkata.

- Tunggu dulu. apakah kau telah melupakan aku ?

Tanyanya. Orang itu semakin heran. Ia pandangi orang muda didepannya.

- Kau siapa ? Maafkanlah kalau aku khilaf dan mungkin pernah saling mengenal, tetapi aku yang tua sungguh tak mengenalmu.

Katanya. Dan Madi Alit tertawa.

- Oh, ampunilah kekeliruan saya yang muda.- Jawab Madi Alit.

- Tetapi sungguh aku tak akan salah melihat. Kaulah yang pernah mengaku sebagai Panembahan Seda Paningal yang pernah memberiku petunjuk untuk mencari adanya tombak Pusaka Kiai Bungsu yang akan dapat dipergunakan menolong kawula Pajajaran, bahkan, seluruh kawula di tanah Jawa ini untuk kembali pada kemuliaan dan keselamatannya.

Orang itu memandang Madi Alit dengan tatapan tajam. Baru sesudahnya berbuat demikian, ia turun dari kudanya dan menepuk pundak Pangeran itu pelahan lalu berkata

- O, rupanya kita memang berjodoh anak muda. Aku tahu yang kau maksudkan. Tetapi sudahlah, akupun telah memperoleh ilapat bahwa aku akan bertemu denganmu. Kalau benar dugaanku yang kudapat dari ilapat Yang Maha Kuasa itu, kau tentu seorang putra Pajajaran yang dikabarkan hilang dan lolos dari istana itu bukan ? Kalau benar, kita memang berjodoh dan sekaranglah saatnya kau mengikutiku untuk memperoleh adanya Kiai Bungsu yang kau maksudkan itu.

Mendengar itu Madi Alit tercekat. Ia kaget orang bisa menduga dengan tepat. Maka ia mengangguk-anggukkan kepala.

- Anak muda, inilah rahasia itu. Aku adalah Penguasa tanah Banten. Orang menyebutku sebagai Kanjeng Sultan Falatehan. Akulah yang menerima ilapat itu untuk memberi tahukan kepadamu. Bahwa 

yang dimaksud sebagai Tombak Pusaka Kiai Bungsu bukanlah berwujud lahir dan kasat mata. Ia adalah Kiai Bungsu, sebagai panutan paling akhir yang harus dikuti. Ia bungsu dengan arti sebagai panutan akhir yang pernah diturunkan oleh Yang Maha Kuasa kepada manusia. Kalau benar kau berjodoh. tentu kau akan mau mengikutiku untuk menerima penerangan batin lebih dalam dariku. Disanalah kau akan melihat Kiai Bungsu yang sesungguhnya. Ia adalah Nur yang Hak. Nur yang suci dalam wujud panutan yang paripurna.

Pangeran Madi Alit ternganga. Ia melihat orang berjubah serba putih itu bercahaya berkilat.

Maka ia tertunduk. Setelahnya demikian beberapa lama baru ia mengucap pula

- o, aku percaya perkataanmu dan bersedia untuk mengikutimu. Tetapi aku tengah mengemban kuwajiban menyelesaikan peperangan dengan tentara Demak.

- Hmm. itulah! Itulah yang aku maksudkan. Kau akan melihat kebenaran lebih jauh. Justru Demaklah berada di pihak kebenaran. Bukan Trenggana atau siapapun yang mengikuti jejaknya, tetapi ajaran yang dibawanya itulah. Demak tak ingin ada kafir lagi yang menduakan Allah yang tunggal.

- Bohong! Dia mau membujukmu anakmas Madi Alit !

Aki Kerancang berseru keras dan mengepalkan tangan dihadapan orang berjubah itu.

- Ia adalah orang Demak, Seru si Aki pula.

- Kau keliru -

Falatehan menjawab dengan tertawa.

- Aku bukan orang Demak. Aku adalah Sultan Banten.-

- Ya, tetapi kau membantu Demak menghancurkan Majapahit.

- Bukan menghancurkan Majapahit, tetapi  menghancurkan kekafiran.

Ketika si Aki akan membuka mulut pula terdengar seruan keras dan seseorang berlari mendekat tempat itu.

- Ayah! Ini aku anakmu, ayah!

Dan seorang muda berlari menubruk Aki Kerancang. Aki Kerancang kaget.

- Kau Sentanu?!

Dan dirangkulnya anak itu. Dan Sentanu segera melepaskan diri dari pelukan ayahnya.

- Dia benar ayah. Aku malah tengah membantu Demak.

Aki Kerancang kaget, namun tiba-tiba saja ia merasa dadanya diguyur air dingin. Ia termangu-mangu.

- Disana ada pula Guru Ki Ageng Semu, Nyi Ageng Maloka dan Paman Guru Bantu, mereka adalah saudara-saudaramu, bukan?

Kata Sentanu pula yang telah mengetahui bahwa ayahnya dengan orang-orang tua itu terikat 

seperguruan dari Ki Dalang Dharmapara. Maka hal itu semakin membuat Aki Kerancang termangu- mangu. Namun orang tua itu lebih kaget ketika Pangeran Madi Alit menjatuhkan diri dihadapan Sultan Banten dan berkata :

- Aku akui kabenaranmu Falatehan, maka bawalah aku masuk kedalam kaummu. Akan kubawa ke Pajajaran, aku percaya itu !

Pangeran Madi Alit terpejam matanya. Ia bayangkan bahwa Sultan Banten itulah yang pernah datang sebagai seorang tua yang mengaku bernama Panembahan Seda Paningal dan memerintahkan ia mencari adanya Kiai Bungsu. Tetapi Madi Alit kini sadar bahwa akibat dari tekunnya ia bertapa sewaktu hidup di Pajajaran dulunya, ia bertemu dengan Orang tua itu bukan dalam alam lahir tetapi ia melihat dalam alam batin sebagai suatu pemandangan gaib yang ia terima. (Baca jilid satu).

Tetapi ia baru sadar sekarang ini.

*****

- Lalu, bagaimana ayah? Akan ikutkah ke Demak?

Terdengar suara Sentanu. Dan Madi Alit mengangguk ketika Aki Kerancang berkata keras,

- Aku ikut kalau paman-pamanmu ada di sana!

Sentanu girang. Ketika itu muncul tentara berkuda dengan suara gemuruh mendekati mereka.

Sentanu dan Madi Alit kaget.

- Jangan takut, mereka adalah tentara Banten yang akan bergabung dengan Demak.- Jawab Sentanu.

- Ya, kami akan mengikuti ke Demak. Urusan Majapahit bisa diselesaikan lain waktu. Hayo kita berangkat.

- Kami akan membawa lebih dahulu jenasah tuanku Trenggana.

Dan Sentanu beranjak mengikuti Falatehan, diikuti Madi Alit dan Aki Kerancang dengan perasaan masih heran dan kagum atas kejadian yang baru dialaminya. Keduanya menjadi tahu seharusnya dipihak mana mereka berada.

SELESAI.