Gembong Kartasura Jilid 8 (Tamat)

Jilid VIII (Tamat)

Kelima hantu gunung Kendeng itu maju berbareng dalam formasi segi-lima beraturan yang bergerak saling menolong. Bila yang saru bergerak, bergeraklah keempat orang lainnya bertukar tempat, dengan ijepat dan lincah sekali.

Orang berada kebetulan dimuka lawan selalu mengadakan gerak serangan memancing perlawanan musuh. Kalau musuh menyerangnya, orang yang diserang itu tanpa menghiraukan keselamatan diri, lekas beralih terapat ... sedang dua orang dibelakang musuh laksana kilat menyerangnya. Dengan sendirinya, batallah serangan lawan yang tertuju kepada teman mereka itu.

Namun kali ini kelima iblis itu berhadapan dengan seorang ahli gerak nomor utama, hingga harus menelan kenyataan ... keampuhan serangan serangan mereka kandas sebelum tengah jalan.

Mereka itu tidak hanya merasa kacewa saja, tetapi juga merasa kuatir akan kesudahannya. Sudah terang sekali mereka tidak dapat berbuat banyak terhadap orang tua yang tengah dikroyok ini .. sebaliknya harus merasa kuatir terhadap pukulan-pukulan geledegnya yang kadang-kadang dilamcarkan kepada mereka. Kelima hantu gunung Kendeng itu maju berbareng dalam formasi segi-lima beraturan yang bergerak saling menolong. Bila yang satu bergerak, bergeraklah keempat orang lainnya bertukar tempat, dengan cepat dan lincah sekali. Pukulan orang atau gaudarwa tua ini benar-benar tidak boleh dipandang enteng oleh siapapun.

Karena rasa kuatir itu, mereka menjadi makin gelisah, akibatnya merosotlah keampuhan permainan gabungan panca-golok tersebut yang biasa dimalui lawan dan diagulkan teman. Betum lagi mereka bertempur lima belas menit, Panca-Barong itu sudah mandi keringat, sedang nafasnyapun mulai terdengar tidak teratur lagi. Tibalah sekarang gilfran si gandarwa. untuk balas membentak lantang, “Kalau tidak sekarang, kapan akan menggelinding keluar

...... rasakanlah kaengkeran Pangeran Puger..!!”

Dengan membentak demikian llang gandarwa melancarkan pukulan sakti BUMI GENJOT dan BUMI GONJING, yang dilaucarkan kepada tanah antara diri sendiri dan lawan-lawannya. Kontan, bumi terasa bergoncang keras ... gumpalan-gumpalan tanah berhamburan kesegala arah, melanggar dan menaburi musuh-musuh secara tidak langsung. Itulah bentuk kemurahan ajar Cemara Tunggal yang tidak hendak membunuh mati musuh.

Bila pukulan dahsjat itu langsung tertuju kepada orangnya ... pastilah tulang tulang mereka tidak ada satu yang masih utuh ... Demikian saja tinggal Barong tertua yang masih dapat memegang goloknya dengan menggunakan kekuatan seluruhnya. Tiga diantara mereka terpaksa jatuh mendekam ditanah munta h darah, karena terlanggar gumpalan tanah, telak mengenai dada meraka.

Pecahlah barisan panca-golok yang mereka bangga- banggakan itu. Kedua Barong yang masih selamat meloncat dua laudeyan kebelakang. Berserulah Barong tertua : “Malam ini kami mengaku kalah .. beranikah tuan memberi jaIan hidup kami lima bersaudara untuk berlatih lagi lima tahun, supaya kami dapat menebus kekalahan ini?” “Mengapa tidak berani ... hayo, menggelinding keluar lah kalian, bawa saudara-saudaramu itu. Lima tahun kemudian pastilah aku yang akan mengunjungi kalian digunung Kendeng!”

Terima kasih, dan ... sampai jumpa lagi ditempat pertapaan kami-kata Barong 'tertua, lalu memondong dua saudaranya dibawa keluar melewati pintu butulan, di-iringi Barong yang satunya dengan memondong seorang teman.

****

.

BARU SAJA Panca Barong itu meninggalkan halaman dalem pangeran Puger, belum lagi gandarwa tua yang bukan lain ki-ajar Cemara Tunggal, kembali kedalam persembunyiannya, menyambar datang kesiur angin lembut yang bampir tidak terdengar oleh kyai Kunjuk Sakti,

Karena mengira diserang oleh lawan sakti lagi, malka cepat sekali orang tua itu mereaksi menyambut kedatangan lawan dengan jurus cengkeraman yang ampuhnya mudah dibayangkan.

Pada waktu itu pula terdengar suara berbisik, “Guru, aku, Putut Punung!” Karena yang datang kali ini adalah si•pemuda desa tersebut.

Namun suara bisikan itu datang agak terlambat, jurus cengkeraman tadi sudah tidak dapat ditarik lagi, mendarat dengan hebatnya pada punggung yang diserangnya. Sebenarnya pastilah Punung dapat menghindari cengkeraman gurunya, tetapi ia takut kalau sang guru mendapat malu karenanya, maka dengan mengerahkan tenaga sakri dengan mengandal kekuatan baju kotang rajah sasra, diterimalah cengkeraman maut gurunya itu.

“Hajaaaa…!” jengek kiajar waktu melihat siapa yang diserangnya. Segera ditarik kembali serangannya itu, namun barang sudah terlanjur ... sulit untuk dilaksanakan seluruhnya sekallgus.

Untung yang diserang tagi murid yang digembleng sendiri, hingga pasti tahu kedahsyatan jurus itu, untuk dapat mengimbanginya, menjaga keselamatannya.

Terasa benar bagi orang tua itu, bahwa murid kesajangan itu tidak hanya dapat mengimbangi serangan melulu, malahan dapat memunahkannya. Kuda-kudanya tergempur keras waktu ia menjentuh badan pemuda itu, oleh kekuatan maha dahsyat gaya tolak yang keluar dari badannya, cengkeramannya meleset, bagai mencengkeram baja yang dilumuri gajih (lemak). Maka bukan main rasa takjubnya, mengalami kenyataan ini.

“Paman guru, terimalah sembah sujud murid dan perkenankanlah aku mengucap terimakasih yang takterhi.ngga atas kemurahan hati paman melindungi kewibawaan kaum kerabat murid,!” kata Putut Punung terharu.

Haaaaa aaak baik. muridku sayang … kiranya kau sudah

berhaail melatih ilmu kebal yang sangat berharga itu, bukan??” kata ki Kunjuk Sakti menjimpangkan pembicaraan,

“Bukan anak telah berhasil mempelajari ilmu kebal seperti dikatakan paman itu, tetapi murid berhasil menemukan gua kuburan seorang sakti dari jaman Majapahit, dan mendapat peninggalannya berupa NAGASURA-JANUR dan sehelai Rompi Rajah Sasra yang kini murid kenakan. Rompi itulah yang metindungi murid dari segala senjata tajam atau runcing dan segala macam pukulan sakti.” “Ahhh, babagia benar kau ini denmas, dan rasa-rasaanya tenaga saktimupun menjadi lebih kuat berlipatan, adalah karena itu pula sebabnya.”

“Tidak paman . .. tenagaku menjadi lebih besar itu, karena murid pernaht minum darah harimau doreng yang sangat besar dalam gua itu.”

“Anak baik, itulah suratan takdir Tuhan. Kini tak dapat disangkal lagi bahwa kaulah sipendekar nomor satu diseluruh jagad Mataram ini. Maka tugasmulah untuk menegakkan keadilan dan kebenaran dikemudian hari. Ketahuilah, bahwa rakyat pada umumnya menghendaki pangeran Puger yang harus memegang pusara keraton Mataram sekarang ini. Beliaulah yang harus menjadi raja. Maka tugasmu yang paling dekat adalah menjaga keselamatan dan kewibawaan ayahmu.

Malam hari ini juga denmas harus berangkat ke Semarang secepat-cepatnya .... guna melindungi sang pangeran dari bahaya pembunuhan yang mulai dilancarkan oleh pihak lawan. Nah, anak kau berangkatlah dan waspadalah selalu!”

“Lapangkan hatimu paman, murid akan berbuat menurut petunjuk paman guru ... Guru, aku berangkat dedengan restumu... !” Setelah menyembah gurunya melesatlah Putut Punung melampaui tembok lalu menghilnug ditelan sang malam,

Negara Mataram Jaja, yang suda h berpulu-puluh tahun, mengenyam tata-tentrem kertara harja lagi, setelah huru-hara kraman Trunajaya, sekali lagi mengalami terguncang sampai kepada alasnya, dengan lolosnya kangjeng pangeran Puger dari Kartasura, Siapakah yang tidak tahu apa artinya, seorang berpengaruh besar meninggalkan kota tidak dengan seijin Baginda itu. Siapakah yang tidak mengerti bahwa orang itu menentang kekuasaan pemerintah, melawan kekuasaan raja .. Karena peristiwa jengkarnya sang pangeran itu tidak dapar dihalangi dan dicegah seketika, maka pastilah akan terjadi huru•hara peperangan lagi dengan segala konsekwensinya.

Mudah dimengerti bahwa pekabarannya segera tersiar secara merata, lebih-lebih karena dalam waktu dekat ini banyak orang kola datang mengungsi, membawa segala kekayaan yang dapat dibawanya, Mereka itulah pembawa kabar utama. Oleh karenanya kesibukan orang dikota, segera berimbas dengan cepatnya. Tak lama kemudian disusul datangnya para petugas pemerintah, memanggil para pemuda wajib bakti dan para pemuda sukarelawan, untuk menjadi bayangkara atau tamtama negara sebagai tentara

cadangan laskar-laskar yang diberangkatkan kemedan paling depan, yang garis pertahanannya disekitar Salatiga.

“Memang, sekalipun sulit dimengerti, namun terbukti kenyataannya. Dalam beberapa minggu saja, kabupaten mancapraja disekitar Semarang, terpaksa harus mengakui keunggulan dan kedigdayaan para putra gembong Kartasura itu, lebih lebih nama den mas Sasangka yang kini bergelar pangeran PURBAYA, setelah kangjeng pangeran Puger dinobatkan oleh para bupati pendukungnya sebagai raja tandingan raja Kartasura, bergelar Susuhunan PAKUBUWANA I (hingga para putra berhak mendapat gelar Pangeran), pangeran muda itulah yang selalu menempati garis paling depan dalam menaklukan daerah Kendal. Pekalongan, Demak, Kudus dan Pati, hanya dalam waktu sebulan saja.

Bagaikan angin pujuh pemuda sakti itu menerjang kesegala arah, untuk mengkonsolidir kedudukan ayahnya.

Maka termashurlah nama pangeran muda itu bersama prajurit berkudanya yang dua ratus orang dalam pimpinannya. Dalam tiap pertempuran pangeran Purbaya nampak dikawal oleh tiga orang pemuda pengawal pribadinya yang hebat luar biasa terjangannya. sekalipun mereka itu hanya orang-orang tidak bernama saja.

Mungkin hanya beberapa orang saja mengetahui, siapa ketiga kawal itu, ialah sang pangeran sendiri dan ajabnya, Sri Sunan PAKUBUWANA bahwasanya mereka itu adalah Putut Punung, niken Suwami yang menyaru pria, dan bagus Sarasa.

Datang kemudian bala bantuan dari Madura pangeran Cakraningrat mendatangkan prajuritnya Dulang Mangap seribu lima ratus orang lengkap dengan peralatannya. Disusul datangnya prajurit bantuan dari Surabaya dalam jumlah orang serba lengkap pula. Cukup kuatiah kini barisan Sri Sunan Paku Buwana I. untuk berhadapan secara besar-besaran dengan kekuatan Kartasura.

Maka waktu barisan laskar Semarang, yang dipimpin oleh Panembahan Cakraningrat (gelar baru yang diperolehnya dari Sri Sunan Paku Buwana I). dipelopori oleh pangeran Purbaya, masuk daerah Salatiga, seminggu yang lalu, sama sekali tidak menemui perlawanan.

Sikap bupati Salatiga dan para penjaga benteng Kompeni dikota itu, yang semula masih menyangsikan akan kemampua pangeran yang lolos tersebut, kini sudah berubah sama sekali.

Kalau Raden Tumenggung Suranegara mendukung gerakan sang Pangeran, pihak Kompeni bersikap manis dan lunak sekali terhadap para pemberontak, sekurang-kurangnya pihak Belanda tidak akan memusuhi Sri Sunan Paku Buwana I.

Itulah pula perintah yang mereka terima dari pembesar di Semarang . . . .. supaya pihak Belanda bersikap hati-hatr sekali sambil melihat gelagat. Maklumlah taktik pedagang bangsa asing yang selalu mencari enak sendiri, jangan sampai keliru memilih pihak yang kalah.

Kota Salatiga sekarang menjadi benteng pertahanan pertama dari Sri Sunan Paku Buwana I untnk menghadapi lawan. Laskar yang sudah dimukimkan dikota itu tidak kurang dari lima ribu prajurit. Maka biarpun laskar Kartasura cukup kuat dan seimbang jumlah kekuatan orangnya .... terpaksa belum berani menerjang maju, tanpa komando dari pusat.

Konon pepatih dalem sendiri akan datang dengan membawa laskar inti, guna menggempur musuh. Sebelum beliau datang ketiga senapati perang, ietindih Iaskar laskar, seperti Pangeran Natakusuma Tumenggung Wirajuda dan Tumenggung Natajuda tidak diperkenankan menyerang lawan dulu.

Dua askar raksasa berhadap-hadapan dua kekuatan maha

dahsyat pasti akan bertumbukan .... siapakah yang tidak menjadi tegang perasaannya …. siapakah yang tidak akan menjadi giris- miris dalam hati memikirinya.

Itulah yang sama-sama dirasakan oleh setiap orang yang bersangkutan.

****

NUN disana .... ditempat penjagaan yang sepi sunyi, dimana orang tidak mengehawatirkan sama sekali karena ditepi jurang terjal, tidak mudah dilewati orang, hingga hanya ditempatkan disitu dua orang penjaga saja terjadi sesuatu yang agak suram.

Karena menunggu giliran bingga pukul dua belas malam nanti dipinggir jurang dalam hutan itu, mereka sudah sejak tadi mengumpulkan daun-daun kering dan ranting atau dahan secukupnya guna membuat perapian pemanas badan.

Tidak lupa singkong dan ketela rambatpun direnggutnya dari pategalan tadi siang, Maka malam dingin itu mereka dapat menikmati perbekalannya tersebut, sambil memasang omong.

“Kata orang Sri Sunan Paku Buwana I, tadi pagi sudah menginjak perbatasan Kota Salatiga, berserta para pengikutnya. Kalau kabar itu betul, agaknya tak lama lagi kita akan mengalami pertempuran yang menentukan, bukan?” tanya seorang diantaranya.

“Uwah, masakan aku yang dapat menjawab pertanyaan macam itu ... Tetapi secara menebak-nebak, aku dapat ikut serta dengan gagasanmu itu, Hai, alangkah akan hebatnya pertempuran kedua laskar yang konon sama kuat itu nanti. Namun aku percaya akau kesanggupan Sri Sunan dan putraputranya, beserta para pendukungnya. Kehadiran Pangeran Sampang Panembahan Cakraningrat, Dipati Surabaya Raden Adipati Judanegara, Kangjeng Bupati Salatiga ….. kiranya cukup dibuat bangga.”

“Kau benar kawan, belum lagi kau sebut-sebut Pangeran muda sakti Purbaja, Arja Balitar, dan lain-lain yang telah membuktikan kesanggupannya, meruntuhkan pertahanan para Bupati mancapraja baru-baru ini ….. hanya dalam beberapa minggu saja.”

Nampak seorang diantaranya meloncat dari duduknya, namun demikian berdiri …“hukk”… mengaeleparlah orang itu jatuh ditanah kembali dalam keadaan pingsm, kareaa punggungnya digablok orang. Keruan saja temannya terkejut kelabakan hendak menyambar tombak yang ditancapkan di tanah sebelahaja.

Tetapi baru saja hendak bergerak kedua lengannya sudah diringkus oleh pendatang yang tidak diinginkan tadi. Lengan itu dipuntir kedalam keras sekali, hingga pemiliknya mengulun desah kesakitan. sedang badannya ikut serta berjengat jengit dalam gerak puntirannya.

Terdengar suara kasar membentaknya, “Ha-ha kalau kamu

dapat lepas dari kuncianku ini .... kau adalah orang nomor satu dalam dunla persilatan. Hajo …. bilang, dimana pemondokan Pangeran Purbaya .... awas kalau membohong, ku potes lenganmu dari persendiannya!”

“Ha-ikkktt ... jangan keras-keras dulu. hajaaa sesambat

orang itu. “Kau ini siapa dan apakah maksudmu mencari Pangeran Purbaja itu?”

“Goblog kau …. pastilah aku bukan temanmu, bukan sebangsa penjaga berotak beku seperlimu, kalau mencari Pangeran Purhnya, pastilah untuk dibunuhnya putera seorang pemberontak itu. Aku adalah murid kepala Kyai Tameng Waja, yang kini bertugas untuk menigas kepala Pangeran Puger.-

“Wah-wah itulah bebat sekali.” kata penjaga yang sedang

menderita itu, nampak tidak lagi menghiraukan siksaan orang.' “Apa yang hebat itu?”

“O banyak sekali yang hebat itu, misalnya sang kura-kura

yang hendak menerkam sidoreng raja rimba, bukankah itu seram hebat dan menggelikan sekali?!”

“Bangsat, kau berani menyindir guruku beserta para muridnya Tahukah kau, dibawah tebing ini, masih ada tiga orang adik seperguruanku, yang' pasti akan membereskan putra putra Pangeran Puger? Kau tidak percaya ...... Nab, temanilah mer !

Sebenarnya orang itu hendak melemparkan sipenjaga kurang ajar tadi kebawah jurang, namun kedua tangannya merasa kesemutan, hingga macet pula kata-katanya dan melepaskan puntirannya.

la mundur beberapa langkah, berhadapan dengan pemuda berpakaian acak-acakan, berbadan tinggi besar kukuh kekar tegap serasi bersenyum lebar seraya berkata, “Kau benar kawan, ….. dewasa ini banyak sekali sebangsa kura-kura berkeliaran didaratan yang hendak menangkap harimau dan banteng-banteng temberang Lucu bukan?”

“Ah,..” kata penjaga yang baru saja bebas dari puntiran orang menieringai iblis … “Kawan penolong ini bukankah kawal pribadi Pangeran Purbaya, yang hendak dicari orang itu?”

“Benar ….. hai, orang liar, kau dengar atau tidak. Apa perlumu hendak bertemu dengan junjunganku itu? Rasa-rasanya kau tidak mempunyai derajat untuk bertemu dengan beliau maka cukuplah kau sampaikan saja kepada aku!”

“Baik, …. kalau aku tidak pantas bertemu muka dengan Sang Pangeran, pastilah aku masih ada harganya unttuk berkelakar beberapa jurus dengan panakawannya. Cobalah dahulu golokku ini!”

“Majulah kalau kau ingin menemani adik-adikmu seperguruan yang kini sedang merintih-rintih dibawah jurang ini.”

“Setan alas ... kau apakan adik-adikku.?”

Membetak begitu, dibarengi dengan membabat lambung musnhnya secepat kilat, Namun goloknya menjereset lewat hanya berselisih setengah dim saja dari tujuannya, karena pemuda itu sudah mengegoskan badannya mengikuti samberan angin yang timbul karena perjalanan golok. Terjerumuk maju sebab goloknya tidak mengenai sasaran apapun, murid kepala kyai Tameng Waja yang biasanya sangat jumawa karena sukar bertemu tandingan serimpal, … menyusulkan jurus tendangan berantai kedua kakinya, Celaka … kedua tendangan itu banya menggasak udara kosong semata-mata, maka tak ampun lagi ia terpaksa turun diianah dengan kedua tangannya. Karena tangan kanannya memegang golok, tak dapat pula dicegah, golok itu menancap ditanah sampai agak dalam.

Baru ia hendak berdiri, lambungnya sudah digerayang orang, maka dengan mengerang panjang mentallah orang itu kedalam jurang. .

“Matikah orang itu?” tanya sipenjaga ketolol-tololan.

“Mana gampang-gampang mati, benalu jahat semacam orang begituan. Dia hanya akan bertele-tele buat sementara waktu saja. Dalam sebulan dua bulan ini pasti dia tidak dapat mencelakai orang. Bagaimana dengan tanganmu, tetluka tidak?”

“O, tidak apa, kiranya akupun jenis benalu itu yang tak mudah menjadi rusak .. heh-heh-heh…!”

“Apakah kau tidak dapat membela dirimu hingga mudah saja ditangkap orang?”'

“Wah-ah, mana bisa aku membayar guru silat, yang mau mengajarkan kepandaiannya?”

“Kau mau ku-ajar bergerak membela diri tiga macam jurus saja?”

“Kau nanti tidak minta bayaran ... aku ini hanya seorang jagatirta desa Kepucangan, yang hanya bisa hidup sederhana dengan keluargaku.” “Huss …. orang jembel seperti kita ini, apa masih tega membuat golongannya lebih melarat lagi. Pendeknya, kau lihat aku bergerak dan meninggkan jejak agak dalam ditanah-guna turutanmu.”

“Liihat, … jurus yang pertama : satu-dua-tiga, menghindar- empat lima enam-tuju ….. kau bebas dari segala pukulan macam apa saja.

Jurus yang kedua: satu-dua-tiga, ….. menyelinap mendekati lawan, empat, mengancam muka lawan, lima menggaplok lambung atau punggung lawan.

Jurus ketiga, satu-dua, menjusul musuh, kalau gagal, tiga, mencengkeram pinggang musuh, empat, menjotos musuh. Pasti sudah berhasil. Bagaimana, kau sudah lihat?”

“Wah, sulit sulit, apa aku kiranya bisa?- gumam penjaga itu. “Jalankan saja, tolol...kau harus bisa!”

Mulailah orang itu berlatih, menginjakkan kakinya pada bekas inyakan pemuda hebat itu. Mula-mula Iambat, sambil ngoceh menghafalkan petunjuk-petunjuknya. Keruan saja dalam bergerak sepuluh kali, ia jatuh tersuogkur dengan nafas kempas-kempis, hampir kehabisan nafas.

“Kau ternyata pandai, sudah berhasil mencontoh ajaranku.

Mari aku tolong melancar jalan pemapasanmu.!”

Cjepat lagi tepat jari jari pemuda itu menari diatas badan ki- Rejasura. Dimana jari pemuda aneh itu menjentuh badannya, dirasakannya seluruh badannya tergetar tandas sampai kepada tulang-tulang .. Mula-mula ia berjengit kesakitan, tetapi sejenak kemudian dirasakan seluruh badannya semriwing-nyaman, seperti diterabas siliran angin hangat-hangat sejuk, hingga matanya merem- melek keenakan , Waktu Putut Punung menghentikan pijetannya, penjaga itu malahan berkata: “Hajo, hajo … lanjutkan pijet mujijatmu!”

“Huh, dasar sitolol tidak tahu malu .. Nah, berlatih teruslah, hingga kau hafal benar-benar, kalau sampai lupa dan salah menjalankan, masakan tidak copot semua anggota badanmu.”

“Wut-wut…” melesatlah pemuda ajaib itu dari sampingnya, lenyap seketika itu juga.

“Hai-hai, kau mau kemana?” menanya ki Rejasura sambil meloncat dari posismja semula. “Hlo-hlo, … bagaimana aku ini?”

Bukan main kagetnya waktu badanya melenting sampai dua meter tingginya. Dirasakan badannya enteng seperri kapas saja, Karena belum mengetahui bahwa nadi-nadi dalam badannya sekarang menjadi lurus rapi, hingga kekuatannya menjadi sangat besar, belum pula ia dapat mengatur penggunaannya.

la terpaksa jatuh menggabruk tanah pada seluruh badannya lagi, tetapi jatuhnya sangat enteng tanpa merasa sakit.

Buru-buru ia jongkok untuk berpikir sejenak, Sekalipun otaknya kurang encer tetapi akhirnya terasalah olehnya bahwa pemuda tadi sebenarnya memberi hadiah yang tak temilai harganya.

Tahulah ia bahwa ia bukan Rejasura yang kemarin berangkat kepenjagaan terpencil ini.

“Ya Tuhan, limpahkanlah anugerah-Mu kepada pemuda ajaib itu, dan berilah aku jalan terang untuk menjadi orang baik seterusnya.”

**** HINGGA larut malam Sri Sunan Paku Buwana I masih duduk diserambi samping kanan dalem kabupaten Salatiga, merundingkan soal-soal siasat pertempuran dengan dipati Surabaya, dipati Salatiga dan pangeran Cakraningrat.

Para tetindih juda-pun tidak ada yang ketinggalan, semua menghadap Sri Sunan sambil memperhatikan penerangan- penerangan baginda,yang ternyata ahli siasat-perang dan seorang senapau yang sulit dicari tandingannya.

Betapa jelasnya keterangan baginda itu mengenai seluk beluk gelaring-juda, satu demi satu.

Tengah mereka berunding itu, baginda mengulapkan tangan, seraya bersabda : “Siapa berani mencuri dengar orang sedang berbicara, Turun kau!”

Hebat benar pendengaran baginda itu, beliau sudah menangkap suara sesuatu yang mencurigakan, sedang orang lain masih enak enak mendengarkan baginda melulu. Mau tidak mau mereka harus merasa agak malu, dan mengakui keunggulan baginda dalam ilmu kepandaian segala macam.

Baru mereka hendak beraksi serentak ...... blugg, orang laki- Iaki berjubah lamuk jatuh menggelinding dari atap serambi, mengga bruk ditanah, Namun orang itu segera melompat berdiri tegar, kira- kira tiga landeyan dari yang berada didalam gadri,

Berseru menggeledeglah orang itu, memamerkan tenaga saktinya yang sangat kuat : “Iblis dari mana berani mati membokong ki Tameng-Waja, seperti cecunguk gelandangan, Hayo, keluarlah kau, setan.

Sedang para hadirin masih terhenyak diam, karena anak telinganya terasa sakit seperti hendak pecahnampak sesosok

tubuh meluncur turun dari pohon kenanga didekat gadri tersebut, Kini jelaslah siapa yang terjun dari pohon tersebut, seorang pemuda berdandan serba ringkas, bertubuh tinggi kekar.

Cepat sekali ia berbuat sembah terhadap baginda raja, untuk segera berbalik hadap, menghadapi kyai Tameng-Waja, Berkatalah pemuda itu dengan suara tandes namun enak didengar, membujarkan pengaruh suara lawannya.

“Inilah putut Punung, murid tunggal ajar Cemara Tunggal. Hai, pendeta gadungan ...... baru kau terkena siliran nafasku, kau sudah kelabakan seperti ular kena gebug. Salahmu sendiri bila kau sampai jatuh dari tempat pengintaianmu. Jangan kau kira bahwa baginda Paku Buwana I tanpa wilalad. Ketahuilah, bahwa kau telah kubayangi sejak di Bayalali ….. Kau menyanggupkan diri hendak membunuh Sri Sunan Paku Buwana I seperti kedua teman chianattanmu kyai Kijing miring dan Resi Rajeg-wesi yang kini sudah pulang memelihara cideranya ... mampukah kau berbuat demikian. Kalau aku hendak membokongmu, dari tadi kau pasti sudah berkeliaran dineraka . . . . hitung-hitung, membalaskaa budi guruku yang pemah kau siksa lima tahun lamanya, karena akal- curangmu semata mata. Dosamu sudah bertumpuk mencakar angkasa, dengan menodai sekian banyak anak dara yang kemudian kau bunuhi semuanya ...... demi ilmu sesatmu itu. Kau hadapilah sekarang murid kiai Kunjuk-Sakti ini, yang menagih piutang jiwa atas nama beliau!”

“Kunjuk budug tua bangka kau mengapa tidak berani datang sendiri, menjuruh anak masih ingusan begini untuk menerima. binasa dariku, ha . . . . . . Anak setan, betul-betulkah kau hendak menagih-piulang gurumu itu? ... Baiklah, kalau tidak mendapat hajaran masakan kau mau mengerti betapa tebalnya bumi!

Dalam tiga jurus, bila kau ternyata dapat menyelamatkan dirimu ... sulitlah kiranya bagiku untuk menginjak dunia ini lebih lama.!”

“Bagus, apabila dalam satu jurus pembalasanku kau dapat

selamat, pasti aku tidak akan menghalangi lagi segala apa tindakanmu.!”

“Anak haram ... rubuh kau … !” seru Tameng Waja sambil melancarkan pukulan saktinya. Angin santer menyambar kearah Punung yang berdiri tegar tidak mengelak, tapi nampak memutar lengannya membuat lingkaran kearah pembuyarau dan amblaslah

pukulan kyai itu.

Terdengar ia mendengus keras seraya melakukan serangan yang kedua. Tangan kyai Tameng-Waja dirangkap menjadi satu didorongkan kemuka. Reaksi pemuda gagah itu masih gerak seperti tadi hanya sekarang lingkaran yang dibulatnya condong miring kesamping. .

Kembali pukulan kyai itu lenyap seperti ditelan semudera. Maka dengan memekik keras Tameng-Waja melancarkan jurusnya yang ketiga sambil menubruk mangsanya. Serangan itu ganas lagi ampuh dan kuat laksana gunung runtuh.

Namun justru itulah yang dikehendaki lawannya mengadu

kekuatan, Putut Punung menggunakan jurus ketiga, Bumi genjot- gonjang-ganjing dengan sepenuh tenaga saktinya,

“Buumm….!” dua tenaga raksasa bertemu lawan hebat

sekali akibatnya. Putut Punung nampak berdiri tidak bergeming, sekalipun kakinya melesak ditanah kering sampai batas mata-kaki. Tetapi lawannya mental terbang seperti tertumbuk tugu baja, hingga dua tombak jatuh ditanah tiada bernyawa lagi. Dari mulut, hidung dan telinganya keluar darah segar bergelegakan.

Waktu itu baginda berkenan untuk memeriksa keadaan berakhirnya pertempuran dahsjat tadi, Semua orang bergidig waktu melihat kenyataannya. Malam itu sri sunan mendengarkan laporan Putut Punung apakah yang sudah dirintisnya dihari-hari belakangan ini.

Di Bayalali pemuda itu bertemu dengan pamannya pangeran Harya MATARAM (adik pangeran PUGER), yang bertugas mempertahankan Bayalali. Paman itu menyampaikan pesan kepada Sri Sunan Paku Buwana I untuk segera menggebah pertahanan patih Sumabrata disekitar Salatiga, dan lekas lekas memasuki Bayalali, yang segera akan ditinggalkan oleh sang paman ..... pura-pura lari dari Bajalali, untuk memikat sang sunan Amangkurat segera meninggalkan kota, supaya jangan sampai teringkus musuh. Itulah pesan wanti-wanti dari sang adik, Sang pangeran sendiri segera akan mengumpul dipihak sang kakak.

Itulah kabar yang sangat menggembirakan pihak Sunan Paku buwana. Dan ...ya, apa lagi hendak dituturkan ….. Perlawanan pepatih dalem digaris paling depan pecah berantakan, malahan raden adipati Sumabrata sendiri hampir konyol tertawan musuh, bila tidak segera menukar pakaian, menghilang dilautan prajurit yang tengah lari mengungsi hidup.

Pertahanan di Bajalali tidak mampu bertahan hingga sejam penuh .... akhirnya kota Kartasura menjadi kalang kabut karena ancaman musuh kian mendekat. Sunan Mangkurat Mas terpaksa lolos dari keraton, mengungsi ke Jawa Timur, kepada dipati WIRANEGARA, (dahulu UNTUNG SURAPATI) dan akan melanjutkan bertahan bersama-sama dengan dipati tersebut. Demikianlah kisah GEMBONG KARTASURA, yang kemudian dinobatkan sebagai raja Mataram yang resmi, yang dapat menyatukan negara kambali menjadi tata-tentrem karta-raharja.

Pantas disebut sebut bahwa nama PANEMBAHAN PUNUNG, selalu menggema harum diseluruh bagian negara.

Beserta isteri tercinta sang panembahan sering berada di gua puncak gunung tersayang.

TAMAT