Gembong Kartasura Jilid 7

Jilid VII

“Itulah jadinya kalau orang tak mau percaya omongan penyambut tamu. Bukankah aku sudah meagatakan, supaya pergi saja supaya tak mendapat malu. Kalian tidak mau mendengar kata, malah membandel dan mengejek kemampuan kampung kami. Kini kalian tak boleh menyalahkan orang lain, karena salahmu sendiri kalau kalian terpaksa tidak mungkin menggunakan tenaga sakti kalian dalam batas tiga bulan, sebagai peringatan pertama untuk dapat memperbaiki sikap hidup kalian. Dengar sekarang nasehatku, Tenaga kalian akan pulih kembali, setelah dilatih dua jam setiap hari dalam tiga bulan. Cukuplah rasanya waktu itu untuk merenungi kehidupan gelap kalian. Tinggalkan cara hidup busuk itu kembalilah kejalan yang benar, pastilah kalian bisa hidup berbabagia. Tetapi bila kalian masih merasa penasaran tunggulah aku sampai datang meninjau kalian setelah waktu itu sudah lewat.

Bapak Suradipa, perkenankan anak berpamitan melanjutkan perjalanan petualangan anak sekarang juga. Anggaplah peristiwa ini persembahanku kepada bapak dan teman, yang sudah sangat berbaik hati terhadap aku, sebagai pembalasan budi sedarh~a, Selamat tmggal kakek Yang baik.

“Pergilah dengan dao-restu penduduk kampung nelayan sederhana ini anak baik, ingatiah selalu bahwa rumah bobrok bapak Sura selalu terbuka lebar untuk kuperluanmu nak setiap saat,” kata pak Sura yang masih terdengar oleh Putut Punung dari kejauhan, karena ia sudah. melesat lari jauh dari tempat pertempuran tadi, dengan tujuan kearah pegugungan Dieng.

******

Baru setelah mencari ubek-ubekan seminggu lamanya, dapatlah Putut Punung menemukan saudaranya beserta Putut Pamuk. Kini mereka dapat leluasa bertukar pikiran apakah jaag sebaiknya dilakukan Den Mas Suryakusuma telah terlanjur menjatuhkan sumpah berat tidak akan bertemu lagi dengan keluarga berserta keluarga yang sudah mendapat malu karena tindakannya.

Juga tak hendak ia menampakkan diri lagi di Kartasura …. Ia telah bertekad bulat untuk menjadi pertapa, dan mengabdi kepada masarakat terdekat. Sedang Putut ~am~ ingin melanjutkan masa bertapanya, untuk menjadi abdi masarakat Yang agak lumajan.

Apa yang masih dapat dikerjakan oleh Punung, tak ada lain lagi kecuali menjetujuinya, memberi petunjuk-petunjuk berbarga kepada mereka, mengajarkan jurus-jurus sakti tambahan sebagai penjagaan diri dalam bahaya besar. Dalam jangka waktu lima tahun kemudian, mereka akan pertemu kembali dipuncak gunung Slamet.

Demikianlah ceritera Punung kepada calon isterinya….

****

NYATA benar bahwa ceritera Putut Pummg itu dinikmati penuh oleh pendengarnya yang hanya seorang itu, Nampak juga tidak rela hatinya ceritera tadi dihabiskan sampai disitu saja, tetapi apa hendak disesalkan, karena bahan ceriteranya memang hanya sekian. Kelanjutarmja dapat diselesaikan sendiri dalam bentuk beberapa baris perkataan saja ..... setelah Putut Punung meninggalkan mereka dipegunungan Dieng, Punung lalu kembali kearah ibukota dan mempergoki kejadian yang dialami oleh niken Suwami di pintu gerbang kota ..

Kemudian ia menguntit pengejaran prajurit kusumatali lima orang tersebut dan dapat menolongi kerepotan sipemuda pesolek, yang bukan lain ialah sang calon isterinya itu.

“Nah, habislah ceriteraku sekarang, kini tibalah giliranmu untuk menceriterakan kejadian didalam keraton Kartasura, hingga keluarnya ayahkn dari kota-kata Putut Punung, sa_m_bil menggapai yanggut kekasihnya yang masih memandanginya.

Baru saja dara itu hendak mengatakan sesuatu tertelan kembalilah perkataannya karena sudah disambar Putut Punung, dibawa melesat kesamping, menghinelari pukulan-pukulan hebat sekali dari semak belukar yang berada dibelakangnya. Terdengarlah suara pelepas. pukulan sakti tersebut: “Serahkan jiwamu, penculik wamta hina-dina!”

Muncul dari gerumbulan tiga orang berbadan kuat-kuat dengan muka marah dan garang sekali mengejar Punung sambil menghujani pukulan-pukulan ulangan jaug dahsjat. Angin pukulan mereka keliwat sanrer dan ganas, mampu mengguncang keras pepohonan disekirarnya, merontokkan dahan dan ranting. ~eserta. daun daunnya. Apa bila Punung kurang waspada sedikit saja, atau belum mencapai tingkat penjempumaan ilmunya seperti sekarang itu, janganlah harap dapat menghadapi keroyokan tiga orang asing yang baru muncul tadi. Mau tidak mau ia harus mengerahkan tenaga dan mempertinggi kesebatan bergeraknya dalam jurus pembelaan Palwa-ranu dipadu dengan gerak Kilat tatit bersambaran .. baru ia dapat berlincaban diantara pukulanf dahsyat tersebut, dengan membawa serta kekasihnya. Tetapi sulitiah baginya untuk dapat membalas menyerang lawannya. maka sambil membisiki calon isterinya, cara menyelamatkan diri, dilontarkan gadis itu kesamping “Turun berjumpalitan adik, kemudian pukulkan tangan kedua kearah tanah !” seru Punung.

Ia sendiri sudah berbalik arah memapaki pukulan-pukulan lawan•lawannya “Blaanggg” terdengar suara benturan-benturan tenaga sakti yang luar-biasa hebatnya nampak Putut Punung berdiri tegak, dalam sikap kuda-kudanya yang menjadi andalannya. Syukur ia tidak berani menggunakan seluruh tenaga saktinya, untuk m".'nahm serangan lawan. Biarpun ia hanya menyambutnya dengan setengah kekuatan saja sudah cukup untuk membuat lawan tidak sanggup bertahan. Ketika penjerang gelapnya jatuh terkapar duanah, memuntahkan darah segar segelagakan.

“Orang pandai dari mana menyerang orang dengan cara menggelap dari belakang .....!” bentak Punung, tetapi sejenak kemudian ia mengangkat kedua tangannya sambil berseru “Hyaaa

…. celaka, celaka, mungkin aku salah tangan.!”

“Ada apa kak, siapakah mereka itu?” tanya Suwami mendekat.

Mungkin sekali aku membuat kesalahan. Kedua penyerang itu memakai pukulan serupa dengan pukulan kakak seperguruanmu, si Bisiu. Pastilah mereka itu saudara seperguruan denganmu juga. Yang seorang lagi sudah setengah tua, tetapi gayanya berbeda sekali, biarpun tenaganya agak lebih kuat. Coba periksalah lekas- lekas!” kata Punung menerangkan sikapnya yang agak aneh itu.

Dengan sekilas pandang saja tahulah Niken Suwami, bahwa ketiga orang itu adalah keluarganya sendiri. Sambil menjerit keras gadis itu menubruk orang setengah tua tersebut, yang ternyata ayahnya sendiri “Ayah-ayah ….. parahkah lukamu?!”

Sekali berkelebat, Puanng sudah berada disamping kekasih- nya untuk memeriksa keadaan siorang tua. Alhamdulilah …. orang tua itu hanya pingsan saja, terkena pukulannya sendiri yang membalik karena membentur tenaga jang lebih kuat dari tenaga pukulannya. Demikian pula terjadi kepada kedua penyerang lainnya yang ternyata kakak-kakak Suwami sendiri. Syukur mereka selamat tak mengalami cedera patah tulang dan lain sebagainya, kecuali menerima gempuran pemusatan tenaga pukulan mereka didalam dada, hingga mereka melontak darah itu. Biarpun ia hanya menyambutnya dengan setengah kekuatan saja sudah cukup untuk membuat lawan tidak sanggup bertahan. Ketiga penyerang gelapnya jatuh terkapar ditanah, memuntahkan darah segar segelegakan, “Kak, mereka itu keluargaku semua, ayah dan kedua kakakku, parahkah lukanya ...?”

Syukur tidak dik, mereka hanya mendapat tenaga membalik saja, karena aku tidak mempergunakan tenaga penuh. Mari aku tolong satu demi satu, untuk melancarkan jalan darah mereka kembali, pastilah mereka segera bebas dari segala rasa yang kurang menyenangkan . . . jangan cemas. -

Setelah di urut beberapa kali pada dada dan punggungnya ki Bekel Samakaton dan kedua anaknya. segera pulihlah mereka seperti keadaan biasanya. Dengan pandangan yang masih beringas berkatalah salah satu dari pemuda yang baru disembuhkan.

“Bunuh sajalah kami ini, mengapa ditolong segala, Adakah kamu bermasud menghina orang ...... Kami mengaku tidak ungkulan menghadapi kamu, tetapi kami ini bukan orang untuk dihina oleh sembarang orang!”

“Kakak Sarasa dan Sasana.... mengapa kalian menjerang tanpa memberi penjelasan dahulu. Sudah pasti benarkah tindakaumu itu?” tanya Suwami,

“Perempuan hina perempuan tiada tahu malu, waktu didesa kamu mengatakan, hanya mau diperisteri oleh denmas Purbaja, yang sudah melebur diri dalam alam rakyat biasa dan bernama Putut Punung. Kini kau mengadakan perhubungan gelap dengan pemuda jembel ini ...... apakah kamu masih mempunyai muka untuk bertemu dengan keluargamu, ha-a-ah,-

“Apakah kakak juga sudah bertanya siapakah pemuda jembel yang berada dimukamu ini? ...... belum bukan? Apakah orang sembarangan kiranya dapat menahan pukulan-pukulan sakti kalian dengan selamat? Aku benar heran mengapa menjadi demikian iolol, hingga suka main serudug saja!”

Seketika itu nampak wajah mereka menjadi agak pucat keheran heranan. Bertanyalah akhirnya bagus Sarasa dengan nada suara rendah : “Apa katamu Si..siapakah pemuda jembel ini?”

“Orangnya berada dimuka hidungmu, mengapa tidak berranya sendiri kepadanya? Silahkanlah!”

“Eh kisanak, eh tuan siapakah tuan ini sebenarnya?” kata Sarasa keragu raguan.

“Akulah Putut Punung kakang, dahulu namaku memang Purbaya, tetapi nama itu sudah lama aku relakan kepada adikku yang ke-enam, Sasangka!”

Kini terdengar ketiga orang itu mengeluarkan desah ke• Heranan. “Aaakhhh begitukah?!”

Majulah kyai Bekel Samakaton dengan muka keragu-raguan, demikian pula nada perkataan yang keluar dari mulutnya,

“Jadinya anak .. eh, tuan eh, den mas … ya denmas, adalah putra pangeran yang tersohor diseluruh bumi Mataram itu?!”

“Benar bapak, dan sekarang perkenankan anak melakukan sembah lutut kepada bapak sehagai biasanya seorang menantu menghormat yang tua,-kata Putut Punung sambil maju hendak menjembah-Iutut orang setengah tua itu.

Tetapi buru-buru ki-Bekel meloncat kebelakang dengan mata membelalak, katanya mencegah, “Jangan … jangan mana boleh aku menerima sembah dari denmas itu. Menurut pantas akulah yang seharusnya menjembah seorang dari keluarga agung. Jangan denmas sekalipun aku sangat setuju anak perempuanku denmas perisrertri!” “Bapak, jangan menolak sembahku, apabila bapak tidak menolak aku sebagai menantumu Tidak seorangpun yang akan menyalahkan seorang mertua mendapat sembah dari menantunya. Mau tidak mau aku harus menjembahmu itu!”

Baru setelah dibujuk oleh ketiga anaknya, Bekel Samakaton itu mau menerima penghormatan menantunya, malahan lain mengecup ubun-ubun sang menantu tiga kali disertai puja- manteranya.

Berkatalah orang setengah tua itu: “Mulai hari ini aku merestui perjodohanmu dengan Sasanti-Suwami, semoga kalian selalu dalam lindungan rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Kedua abang-abangmu itulah saksi utama dalam perkawinan kalian!”

Walaupun belum melalui sarak agama, dalam waktu da.rurat dan masih serba sulit itu, perjodohan mereka sudah dapat dikarakan syah, karena telah mendapat perkenan dari orang tua dan dikuatkan oleh dua orang saksi utama.

Mungkin karena terpengaruh oleh rasa haru yang berlebihan, kelima orang itu duduk mematung dengan perasaan masng-masing. Yang kemudian menemukan suaranya kembali paling dahulu adalah niken Suwami: “Sebenarnya aku tidak menduga tiba-tiba dapat bertemu dengan kalian ada ditengah hutan ini. Adakah kabar keributan kota sudah sampai didesa kita ajah?”

“Memang, kami mendengar dari salah seorang dari Samakaton yang baru saja pulang dari kota menjenguk anaknya. Betulkah Kanjeng Pangeran Puger sudah meninggalkan kota, karena tidak lagi dapat menahan hinaan dari raja yang baru. Suasana didalam kota sekarang ini sedang panas membara, orang sedang bingung hendak menetapkan kiblat kepada siapa berpihak ancaman- ancaman maut terdengar dimana-mana, bila orang berani memihak kepada pangeran Puger. Orang orang besar yang dicurigai ditangkap dan dijebloskan kedalam penyara, Pendeknya kacaulah keadaan dikota. Maka sudah barang tentu kami memikirkan nasibmu yang berada didalam lingkungan keraton …… maka tidak terduga pula dapat bertemu disini.”

“A-ahh, mengertilah aku sekarang. Jadi kalian belum terang apakah yang sebenarnya terjadi didalam kota belakanan ini. Nah, sekarang dengarlah ceriteraku yang adi hendak kumulai, tetapi terpaksa ditunda karena serangan kalian yang membuta tuli itu.

Sebenarnya aku segan untuk menceriterakan sejelas-jelasnya, karena peristiwa ini adalah suatu noda kemesuman dalam kalangan keraton Maaf bila ada yang samar-samar kuhidangkan, terserah tanggapan kalian masing-masing.

Ceritera ini dimulai dengan selamatan seratus hari wafatnya sri Sunan Amangkurat II, yang diadakan secara besar-besaran, diluar dan didalam keraton. Para pembesar Mancapraja, bupati- bupati (sebenarnya mereka itu dicurigai karena besarnya daerah dan kekuasaan mereka yang sejak geringnya baginda sudah didatangkan di ibu kota, semua hadiir diselamatan Siti-inggil, dan paseban, sedang isteri-isteri mereka diharuskan ikut serta berkenduri didalam keraton. Sudah barang tentu Sri Sunan muda lebih suka berkenduri bersama•sama dengan para putri didalam keraton. Setelah memperlihatkan diri di Siti-inggil dan paseban, baginda segera masuk kekedaton ...... maaf, setengah memamerkan tampang yang cakap, kepada para putri seluruhnya. Siapakah yang tidak tahu bahwa sunan muda itu berwajah cakap dan gagah. Pasti pula semua orang memandang kepada baginda, dan bagindapun tak henti- hentinya mengobral senyum ramahnya.

Malam itu, adalah malam terkutuk bagi Raden Ayu PAKU• WATI, isteri pangeran Cakraningrat dari Sampang. Harus

diakui, bahwa radenaju tersebut pada malam itu nampak sangat ayu- manis, melebihi wanita-wanita lainnya yang berada disekitarnya. Sekali Sri Sunan melihat wajah cantik raden aju Pakuwati tersebut dan menangkap senyumnya yang man is sebagai penghormaian kepada rajanya ...... menjadi baurlah penglihatan baginda. Baginda lupa bahwa wanita itu adalah isteri seorang pegawainya yang menghormat kepada rajanya.

Maka bersoraklah iblis-setan berkasaan, yang selalu mencari kesempatan menjerumuskan mangsanya. Kini baginda rajalah yang menjadi makanan empuk baai mereka ...... terguncang keraslah hati sunan muda itu melihat kecantikan denaju Pakuwati dari Sampang, isteri kedua dari pangeran yang gagah perkasa itu.

Raja muda yang rakus itu tidak dapat menahan gelora hatinya, maka malam itu juga setelah habis kenduri dan para tamu melangsungkan tirakatannya dengan permainan kartu nyai menggung Reksanala pengasuh baginda diwaktu kecil, mendekati denaju Pakuwati untuk menyampaikan panggilan baginda supaya menghadap baginda sebentar, Siapakah yang tidak senang dan bangga mendapat panggilan baginda itu karena mengira pastilah

ada sesuatu yang penting untuk dipesankan kepada suami mereka nanti. Maka sekalipun dengan hati berdebaran kurang wajar, denaju Pakuwati pergi menghadap sri-baginda yang berada didalam kamar pribadinya.

Bagi orang dalam keraton kamar itu adalah kamar yang sangat dihargai oleh setiap orang. Entah apa yang terjadi dikamar itu, tetapi orang tahu bahwa tiap orang yang keluar dari kamar itu, boleh dipastikan membawa anugerah raja yang tidak sembarangan.

Demikianlah denaju itu masuk kedalam kamar tersebut. Mendadak hatinya tercekat ….. karena kamar itu hanya diterangi lampu yang sinarnya samar-samar saja, sedang nyai menggung Resanala segera mengundurkan diri melalui pintu samping. Isi kamar itu sudah barang tentu serba bagus dan serba menyenangkan.

Sri Sunan duduk tersenyum-senyum dibelakang meja persegi panjang yang rendah pada permadani tebal-hangat, yang mengalasi seluruh lantai kamar tersebut. Diatas meja pendek itu nampak aneka ragam hidangan beserta minuman tiga•empat macam. Dari segala macam perabotan yang bagus itu sebuah dipan berukir, komplit dengan tilam-bantalnya serba sutera-dewangga-lah yang sangat menarik perhatian.

“Ah, bibi Pakuwati bukan, silakan duduk bibi. Jangan sungkan-sungkan, dikamar tidak ada orang lainnya, bebaslah bibi dari segala adat-istiadat kedaton yang sok kaku itu. Mari mari silahkan duduk seenaknya. Ei ei, mengapa demikian jauh dari mejaku, mendekatiah, jangan kuatir, dalam kamar ini bibi diperkenankan meninggalkan tata-cara yang biasa diperhatikan diluar!” titah baginda sebagai pembukaan kata,

. Jawab denaju agak ketakutan: “Terima kasih, baginda biarlah bibi duduk disini saja. Ada titah apakah kangjeng sinuhun menitahkan hambamu menghadap ini. Apakah yang harus bibi sampaikan kepada suami bibi nanti dipemondokan kami?!”

Pada saat itu kedua tangan yang halus denaju Pakuwati sedang melakukan sembah, tahu tahu sudah disambar oleh Sri- Sunan, ditarik kedepan sambil bersabda: “Ai-ai ... bibi jangan duduk disitu, mengapa terlalu jauh, hingga orang tidak leluasa berbicara lunak lirih. Nah, duduklah disini, dimuka meja kerjaku ini!”

Waktu menarik tangan denayJu Pakuwati tadi, baginda sengaya menarik keras keras, hingga yang ditarik terpaka setengah terjerumuk kedepan, dan mau tidak mau harus menggabrus kepada dada sribaginda, yang telah bersedia untuk merangkulnya, Kini dengan muka merah jengah dan hati berontak berdebaran duduklah denaju itu dimuka meja, yang disebut meja kerja baginda. Pasti juga denaju tidak berani lagi memandang kepada raja ... malu ... dan marah merisaukan perasaannya, Apakah yang harus diperbuatnya? Cara bagaimana dapat segera keluar dari sarang buaja ini? Dan cara bagaimana pula dapat menghindari malapetaka yang kini mengancam badannya juga keluarganya kemudian,

Terdengarlah suara baginda membisik rendah : “Bibi ....

mengapa nampak takut-takut dihadapanku sebagai orang yang berelosa. Sekalipun bibi berbuat dosa besar misalnya, masakan aku juga menghukum bibi, setelah sekali melihat senyuman bibi, yang sangat manis itu. Jangan kuatir bibi duduklah tenang-tenang saja.

“Ampunilah bibi ini sinuhun, dan perkenankanlah hamba segera keluar, untuk ikut serta dalam tirakaran seratus hari wafat almarhum baginda.” kata denaju itu dengan suara gemetar keiakutan.

“Boleh-boleh bibi, nanti pada saatnya pastilah bibi diperkenankan keluar, Namun sekarang ini aku ada kepentingan sedikit dengan bibi!”

“Berikan titah itu sinuhun, untuk segera disampaikan kepada suami hamba.”

“Eheh ... djangan tergesa-gesa dulu. Yang sebenarnya aku tidak bermaksud untuk menyampaikan sesuatu pesan kepada suami bibi, paman Cakraningkrat. Bibilah yang bertugas langsung dalam

soal ini. Jangan kuatir mendapat tugas berat bibi, .. tugasmu pasti ringan tetapi membutuhkan keluwesan. Tadi sore, di Siti-Inggil dan Paseban aku terkena serangan angin, yang menjelinap dipunggungku, membuat aku merasa kaku tak leluasa bergerak. Pastilah sudah, aku kerasukan angin jahat, mungkin yang berembus dari Sampang, hingga ... ja-a ah begitulah.

Pendeknya, apabila bukan bibi yang turun tangan menggosok•gosok punggungku ini, angin jahat itu pasti tidak akan dapat di usir dari tubuhku. Maka kasihanilah aku bibi, ulurkanlah tangan halus bibi untuk mengobatiku!”

“Sinuhun, masakan bibi ini pantas, mendapat tugas sekurang- ajar itu terhadap gustinya, Bibi ini orang apakah, tidak lain hanya seorang isteri pegawai rendahan saja.” jawab denaju itu berlagak kurang mengerti maksud Sri Sunan yang sebenarnya.

“Kurasa permintaanku itu cukup terang bagi siapapun. Apabia aku tidak melihat senyuman bibi yang sangat manis tertuju padaku tadi masakan aku lalu menjadi kerasukan angin Sampang itu. Maka kini terpaksa aku minta obatnya, supaya tidak terlalu lama menderita.-

“Hamba hanya berbuat penghormatan terhadap baginda . . . . .

tidak ada maksud dan pikiran yang bukan-bukan ”

“Mungkin begitu bibi, tetapi aku yang melihat dan menerima penghormatan itu mempunyai tafsir sendiri, yang tak akan kunjung puas, bila tidak terlaksana, begitulah kehendakku!”

“Ijinkan hamba segera meninggalkan kamar ini sinuhun!” kata denaju Pakuwati menjadi gugup.

“Hmmm jadi tidak berartikah perintah raja jaman sekarang

ini. Tidak lagi raja berwibawa dalam negaranya betulkah

perkataanku ini bibi ? Baiklah kita buktikan dulu nanti. Bila bibi

berani meninggalkan kamar ini tanpa ijin baginda, tiga tindak setelah melewati ambang pintu, mungkin sekali ada kepala bupati atau pangeran Sampang sekalipun, menggelinding ditengah alun- alun, untuk dipertontonkan kepada umum bahwasanya masih terlalu awal untuk membangkang perintah raja. Silahkan berbuat demikian. Apabila ada orang melihat geledeg menyambar pada hari cerah tanpa mendung tanpa hujan dan angin dikala itu, maka orang itu adalah denaju Pakuwati, isteri kedua pangeran Sampang. Sudah barang; tentu seketika itu juga wanita cantik itu hampir roboh pingsan ditenipat. Alangkah celaka nasib denaju tersebut, samalah kiranya seperti keadaan seseorang yang harus memilih diantara dua maha celaka, dimakan ayah mati, ditolak, ibulah yang binasa .....

apakah harus diperbuatnya.

Malam seram tiada berbulan, angin dingin merata mencekam perasaan setiap insan Alangkah beratnya orang bernafas, karena

tekanan udara dingin tidak ringan dan tidak wajar meliputi suasana. Malam itu adalah malam paling terkutuk dalam kehidupan denaju Pakuwati.

Pagi itu kira-kira jam delapan setelah menikmati santapan pagi bersama didalam keraton, para isteri pembesar yang bertirakatan dikeraton diperkenankan bersama-sama meninggalkan kedaton pulang kepondokan masing-masing. Juga denaju dipati Sampang nampak bersama-sama dengan mereka menuju kepemondokkan ... suaminya, ja-a-a suaminya.

Dengan hati remuk-redam, perasaan berantakan wanita cantik itu masuk kedalam halaman rumah yang ditumpangi keluarganya dari Madura. Bukan kepalang deras debar jantung denaju tersebut, waktu melihat sang suami tengah berjongkok dimuka pendapa mengelus-elus burung gemak kesajangannya. Beranikah ia menatap wajah suaminya itu nanti? Dapatkah ia menjembunyikan perasaan kekecewaan hatinya itu ?

Asal pangeran Sampang tidak menegurnya ...... dan bertanya dari hal yang tidak-tidak, rasanya masih ada harapan untuk menghindarkan malapetaka besar ini, Maka dengan hati tetap berehawatir, denaju dipati itu berjalan torus tanpa berkata apapun kepada suaminya, yang melirik sejenak kepadanya.

Tiba tiba meloncatiah pangeran Sampang itu dari sikap jongkoknya, menyambar tangan isterinya yang cantik manis, mungkin karena rindu dan hendak berkelakar saja.

Namun alangkah terkejut hatinya melihat isterinya mengembang air mata jang sudah hampir meleleh dipipiuja yang nampak kucal. Tiba-tiba melototiah mata pangeran Cakraningrat, sambil memperkeras pegangannya katanya seperti menggeram rendah :

“Ha ... apa yang terjadi atas dirimu didalam keraton ... hajo ceriterakan seutuhnya ... aku ingin mendengarnya ….. jangan kau berdusta!”

Denaju Pakuwati tidak dapat berbuat lain kecuali mengatakan apa yang terjadi atas dirinya semalam, dengan suara serak bercampur isak-tangisnya yang mengenaskan. Terdengar disela-sela ceritera denaju, geram dan gertak gigi suaminya karena amarahnya meluap luap. Setelah selesai ceriteranya, segera wanita celaka itu masuk kedalam kamar, untuk menangis dan menyesali hidupnya sepuas hati.

Dengan suara menggeledeg berkatalah pangeran Sampang: “Suramenggala …. kau kemari!”

Orang yang dipanggil itu adalah pepatihnya sendiri. Segera muncul orang setengah tua yang kekar badannya, berwajah keren berwibawa. Datang dimuka gustinya ia berbuat sembah lalu duduk didepan sang junjungan. “Gusti ada perintah apa?”

“Suramenggala, lekas kau siapkan prajurit bawaan semua dari Madura . . . siap untuk bertempur, Kancing rapat•rapat mulutmu ... nanti malam aku bermaksud untuk merangsang Balowarti kedaton!” “Gus-ah-gusti ….!” Sura menegas. “Kau dengar perintah tadi atau tidak?” “Dengar gusti ... akan dikerjakan.”

Hari itu nampak kesibukan secara diam-diam dalam perkemahan pemondokan prajurit dari Madura. Sekalipun mereka sibuk bekerja namun mulutnya hampir tidak mengatakan sesuatu bila tidak sangat perlu yang tak mungkin dapat dikerjakan dengan isjarat mata atau anggota badan. Wajah mereka kelihatan sangat sungguh-sungguh mendekati seram ... hanya diluar perkemahan mereka masih nampak biasa seperti sediakala,

Setengah harian pangeran Sampang duduk termenung ditengah pendapa pemondokannya dengan kedua tangan dikepal- kepalkan seolah olah ia hendak menghancurkan sesuatu.

Kadang-kadang terdengar ia menggeretakkan gigi yang disambung dengan dahan nafas panelyang sambil mengurut-urut dadanya yang lapang, Gumamnya menjesali nasibnya yang sial. “Ai-hh ...... sedumuk batuk. senyari bumi ... (setotol dahi, se inci bumi), dapat menghancurkan negara ... Mengapa sejak dahulu hingga sekarang para agung tidak mengambil teladan dari sejarah dan ceritera-cerita kuna, bahwasannya kekuasaan yang dan keagungan banyak yang lebu• karena bermain wanita ... lebih-lebih dengan isteri orang lain. Merusak pagar hayu, adalab dosa yang agaknya tiada berampun, mengapa masih ada saja manusia yang melanggarnya. Sekalipun orang itu raja, ya bahkan raja diraja …. bolehkah ia berbuat sekehendak hatinya sendiri, merusak perasaan orang, demi kesenangan sendiri. Hem .... raja, apakah sebenarnya raja itu? Apabila tidak ada orang banyak ini beserta para punggawanya, apanya yang hendak dirajai itu. Benar-benar sialan nasib pangeran Cakraningrat ini, apabila tidak dapat menghimpas sakit hati sebesar gunung Semeru itu. Keparat raja lalim serakah yang tak tahu-diri!, masakan hendak menjadi orang sendiri, Rasakanlah kemudian pembalasanku.”

Waktu itu sudah kira-kira pukul dua siang Suramenggala nampak menghadap gustinya dengan wajah muram, nyata benar bahwa ada sesuatu yang tengah dipikirnya, suatu soal yang agaknya sangat sulit untuk dipecahkan.

“Sudah kau kerjakan Sura?!” tanya sang pangeran seraya menatap pepatihnya dengan pandangan penuh arti.

“Gusti tidak akan kecewa ... tidak nanti ada seorang prajurit akan lari dari tempatnya masing-masing. Tak seorangpun mengharap masih hidup keluar dari neraka daratan ini!” jawab Sura.

“Bagus Sura ... aku suka mendengar laporanmu. Memang orang-orang kita bukanlah sebangsa tempe yang seharusnya mudah dilalap orang. Hanya saja sekarang aku menanyamu, apakah yang sebaiknya aku perbuat. ingat, aku tidak seorang diri, tetapi harus

mengingat juga kaselamatan orang-orang pengikutku semua Dapatkah kiranya aku berbuat menurut sekeheadak hatiku, demi kemurkaan dalam hatiku ini, bolehkah aku mengorbankan sekian banyak kawan?”

“Aduh gusti, siapakah yang tidak menjadi kalap karena hinaan ini ierhadap kita ...... tetapi gusti, pantas pula kita mempertimbangkan keadaan dan tempat kita berada Kecewa

dan pahit benar mengatakan serba kekurangan pada pihak kita, serba kelebihan pada pihak lainnya. Andaikan kita, bersayap dan dapat terbang kelangit, belum tentu kita bisa selamat keluar, karena orang ada dirumah sendiri, jumlah berIipat, alat dan senjata tinggal meraih saja ..... apa sulitnya menghancurkan lawan yang sakti sekalipun. Oleh karera itu bila ada jalan lain yang memenuhi syarat: tidak terlalu merugikan dan dapat membalas sakit hati ini, pastilah jalan itu lebih sempuma, biarpun agak memakan waktu yang lama. Terapi gusti, kita ini bangsa prajurit yang tidak gentar menghadapi apapun bersama gusti, a pa pun kehendak gusti, itulah pula Yang akan kita kerj.ikan tanpa tawar-menawar ...... terserah kepada putusan gustilah segala galanya.”

“Kau benar Sura, perintahku tadi pagi kiranya sangat tergesa- gesa, karena hatiku seperti terbakar. Setelah kupikir setengah hari bolak-balik, terasalah olehku, bahwa tindakan acam itu adalah sama artinya dengan membunuh diri. Aku memang sudah memilih jalan yang kau tunjukkan itu. Biar agak memakan waktu, tetapi kemenangan terakhirlah yang akan membuktikan. Baiklah Sura, suruh anak buahmu mengendorkan ketegangannya lagi, tetapi jangan berlengah-lengah juga. Nanti malam, kau sendiri ikut aku bersama-sama adi dipati Surabaya menghadap pangeran Puger. Rahasiakan pembicaraan ini, tak seorangpun boleh mendengarnya!”

“Sendika gusti…” jawab Suramenggala, lalu mengundurkan diri dengan hati lega tiada terperi.

****

HINGGA disitu niken Suwami berhenti sejenak berceritera untuk meluruskan pemafasannya sendiri, karena dalam menceriterakan kisah yang mendebarkan itu, mau tidak mau ia sendiri terpengaruh oleh jalan ceriteranya. Beberapa kali dara jelita itu menarik nafas dalam-dalam, menikmati udara segar yang dapat mengendorkan ketegangan perasaannya. Demikian pula ke-empat prija yang mendengarkan kisah itu, merasa benar bagaimana urat- uratnya menegang. Maka ada baiknya untuk heristirahat sejenak, guna memulihkan perasaan mereka.

Setelah beristirahat beberapa saat, niken Suwami melanjutkan penuturannya:

“Hari telah larut malam ... malam gelap tiada berbulan juga tiada berbintang karena langit terrutup awan hitam bergulung- gulungan hingga kian menebal, Kadang-kadang kilat tatit bersamberan diiringi bunyi guruh mengguntur landung mengerikan.

Namun hujan tak kunjung datang, maka tekanan udara makin terasa berat membengap. Ibukota yang biasanya setiap waktu bernada hidup, kini nampak sunyi mati dalam segala segi. Tak seorangpun menampakkan diri dihalaman atau dijalanan.

Malam prihatin itu pangeran PUGER, yang digelari Gembong Kartasura, menerima tamu tiga orang lelaki, yang berdandan sebagai orang kebanyakan. Tiga orang tamu agak aneh itu, bukan lain orang ialah pangeran Cakraningkrat, adipati Surabaya raden Jajapuspita, diiringkan oleh Suramenggala, pepatih sampang.

Dengan sekilas pandang saja, tahulah pangeran agung itu, bahwa ketiga tamu itu membawa kabar atau berita yang luar dari biasanya, Dengan sorot mata sangat tajam tetapi juga dengan senyum ramah sebagai tuan rumah, ketiga tamu itu dipersilahkan masuk kedalam kamar samadi kangjeng pangeran yang pasti tidak akan diganggu oleh siapapun. Setelah mereka duduk bersila berhadap-hadapan, bertanyalah pangeran Puger.

“Kedatangan adimas berdua serta pengiringnya ini pastilah ada sesuatu yang sangat penting untuk dirundingkan dengan aku. Apakah kiranya yang dapat aku perbuat dalam soal adimas itu? Jangan sungkan adimas, pastilah adi•mas juga tahu, bahwa Puger ini bukan orang bocor mulut dan dapat dipercaya teman.” “Aduh kamas pangeran, masakan kami datang kepada kamas pangeran, apabila kami tidak tahu dan yakin akan kebesaran dan keluhuran pendirian kakangmas. Persoalan adi tumenggung Jajapuspita, siapapun sudah mengetahuinya, ialah tentang daerahnya yang akan dipecah menjadi dua. Apakah dalam hal ini pemerintah bertindak bijaksana dan adil, jangankan separoh daerah Surabaya, sekalipun hanya sejari (dim), pengurangannya itu, dapatkah itu diterima dengan ikhlas oleh pewarisnya ?”

Kemudian pangeran Sampang itu menceriterakan kejadian yang sangat membuat hatinya kecewa tidak terperi ….

“Kamas, agaknya dinegara kita ini tidak ada keadilan lagi, hingga seseorang harus sangat berehawatir akan nasibnya yang dapat diperlakukan sewenang-wenang oleh pihak yang berkuasa, sekalipun orang itu pemegang kekuasaan yang tertinggi dalam negara. Bolehkah kami orang-orang yang cukup makan garam, kenyang dengan segala macam peperangan, menerjang rimba golok, gerimis anak panah, dan lautan api, demi kebesaran negara dan raja…… bolehkah kami membiarkan negara menjadi berantakan tanpa kewibawaan, karena kebebalan, kedunguan dan kecerobohan orang yang mengemudikannya saja. Kamas pangeran, relakah adi tumenggung Surabaya daerahnya dipecah-peijah itu? Relakah

aku manda dihina dengan suatu kekurangajaran terhadap isteriku? Relakah kamas sendiri beserta keluarga meringkuk di pambetekan baru-baru ini? Relakah kamas dihina orang dalam kenaikan tahta

sunan muda tempo hari itu? …... Akm yang melihatnya hampir meledak diwaktu itu juga, karena tidak tega kamas mendapat hinaan sedemikian besar, Kamas, cukup banyaklah kiranya tindakan raja muda yang menyeleweng dari kebenaran dan kebijaksanaan …… Kini kami datang kepada kamas, untuk minta pertimbangan, apakah yang harus kami dan kita lakukan…!?” Setelah adipati Sampang itu berbicara, hening lelaplah keadaan dikamar pasamaden pangeran Puger tersebut, Nampak Sang pangeran memejamkan mata, menyatukan kedua tangan behau. Sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya yang tertutup rapat, Hanya dadanyalah yang nampak agak terguncang turun-naik sementara . . . namun segera pula nafas Gembong Kartasura itu halus kembali, suatu pertanda bahwasaaja pergolakan batinnya sudah dapat diatasi lagi.

Kini nampak orang sakti itu tersenyum getir memperdengarkan suaranya: “Maafkan kakakmu ini dimas berdua, persoalan yang sangat pelik ini, tidak dapat dijawab secara serampangan. Rasanya masih terlalu awal untuk dijawab sekarang, Maka mengusulkan, supaya lewatkan barang dua tiga malam lagi, untuk dapat masak-masak dipikirkan dan dipertimbangkan. Maka akulah yang sekarang ganti bertanya kepada adimas berdua ....

Apakah kehendak adimas berdua yang tertentu, Nah, bawalah pertanyaan ini kepemondokan kalian masing-masing untuk dipertimbangkan masak-masak juga. Mari kita berpisahan dahulu, untuk beberapa malam. Setelah bulatlah pendapat kalian mari kita oertemu kembali pada waktu yang sama dikamar pasamaden ini.”

“Baik kangmas kami menurut, tetapi sebenarnya sudah sejak tadi kami bertekad satu …. Tadi tekad itu, sekarangpun tekad itu pula dan selanjutnya juga tidak akan berubah ialah : pangeran PUGER-lah yang harus menjadi raja Mataram ini Itulah nurani

rakjat kebanyakan…..

Apabila kangamas pangeran tidak mengindahkan hal yang sangat gawat ini, hai ….. dalam dua-tiga bulan kemudian hampir dapat dipastikan timbulnya huru-hara pemberontakan dimana•mana, mungkin dari tiap daerah, hingga pastilah negara akan pecah berantakan. Bukanlah pantas kejadian semacam itu dicegah?. Siapakah yang berwibawa penuh dalam jagad Mataram mi kecuali kamas seorang. Tangan sakti kamas beserta kebijaksanaan tuanlah yang dapat menghalang-halangi morat-maritnya negara kita.

Pada waktu itu, hampir bersamaan keempat orang yang berkepandaian itu meloncat dari sikap duduknya, Malahan pangeran Puger tanpa berdiri langsung meloncat menerobos pintu yang memang tidak ditutup … tems melesat ketaman bunga yang berada di belakang rumah. Tak lama kemudian para tamupun sudah datang didalam petamanan itu,

Tadi mereka dikejurkan oleh bentakan orang didalam taman- bunga itu: “Jangan sesalkan pukulanku kelewat keras …. Mengakulah sekarang, kau orang dad mana, berani sembarangan memasuki halaman rumah orang diwaktu larut malam gelap semacam ini. Hajo lekas mengaku, siapa tidak tahu bahwa kedatanganmu itu tidak mengandung arti yang baik?”

“Kau lekas membunuh aku saja!... tetapi mengaku, huh~huh

... jangan harap keluar sepatah kata keteranganpun dari mulutku ini, dirobek sekalipun tidak nanti aku mengeluh!”

Pangeran Pugerlah yang bersuara sekarang: “Tahan dulu Sasangka, bawalah dia mendekat, aku ingin berbicara dengan orang itu.”

Denmas Sasangka, putera keenam kangjeng pangeran Puger, segera datang sambil menjinjing orang yang baru saja dibekuknya.

“Yah, anak belum tahu siapa dia ini, hanya saja anak sangat mencurigai gerak-geriknya sejak bersama-sama minum serbat diwarung luar kota tadi sore. Karena sudah petang dan tak mudah melewati pintu gerbang kota tanpa menjawab pertanyaan penjaga yang melit-melit, orang ini melompau pagar tembok kota. Karenanya aku teruskan menguntitnya. Didalam kota, ia menyelundup kesana dan kemari hanya memasang kuping tajam- tajam melulu, sampai ia dapat menemukan yang dikehendakinya ... ialah rumah pangeran Puger. Segera pula ia meloncat kedalam petamanan ini, akupun tidak ketinggalan melompat masuk.

Kami menginjak tanah hampir bersamaan. Karena jakin akan kehendaknya yang tidak baik, maka demikian kami berdiri jegag berhadap-hadapan, kuseranglah dia. Akhjrnya dapat kubekuk dia, terserahlah selanjutuja. –

“Hai, rasanya tidak kecewalah menjadi putera gembong Kartasura. masih demikian muda namun suuah. membekal ilmu sedemikian tinggi, ... bukankah orang tinggi-besar ini hanya dalam dua gebragan saja denmas tundukkan?” celetuk dipati Surabaya, yang sangat tajam pendengarannya.

“Ei-ei .... paman dipati Surabaya dan paman pangeran Sampang, selamat malam, selamat malam ... hampir aku tidak mengenal kedua paman dalam pakaian demikian. Maafkan aku, bermata kurang tajam. Entahlah paman dalam berapa gebragan aku dapat melumpuhkan perlawanannya tadi, karena iidak menghitung gerakanku.”

“Anak baik kau terlalu sungkan mendapat pujian, bukan . . . ? Ketahuilah telinga pamanmu tumenggung Jaya•puspita itu biasanya dapat mendengar setan dan demit berkelakar masakan salah hitung, kesiuran angin gebragan orang! ... ha-ha ... sambung bupati Sampang, pangeran Cakraningrat dengan suara gembira serta keheran-heranan. Apabila pemuda ini tidak memiliki kesakrian yang berlebihan, agaknya sulitiah orang mau mengerti, mengapa ia dapat membekuk pendatang malam ini, yang pasti bukan orang sembarangan, hanya dengan dua kali bergerak saja.

Terdengar pangeran Puger bertanya kepada orang yang masih duduk numprah , belum dapat bergerak leluasa itu. “Kisanak, pastilah kisanak orang dari lain daerah. Mungkin sedang mengemban perintah rahasia yang tidak boleb dibocorkan sedikitpun kepada orang lain ... Baiklah simpan rahasiamu itu, aku hanya ingin tahu, mengapa kisanak mencari rumah•ku ini. Apakah kisanak hendak bertemu denaan aku, atau dengan orang didalam lingkunganku ini? Katakanlah, bila demikian ….. bila tak hendak mengatakanpun baik juga, kisanak boleh segera meninggalkan taman-bunga ini.”

“Ampuni dosa hambamu ini gusti ... bertemukah hamba ini dengan pangeran PUGER, yang bidjaksana lagi sakti mandraguna dari Kartasura?” jawab tamu tanpa undangan itu ... dengan wajah meringis karena masih menanggung sakit rupanya.

Nampak pangeran Puger juga keheranan melengak kepada puteranya denmas Sasangka, seraya bertanya : “Hai Sasangka .........

kau mempergunakan towelan, jari-sakti jurus hebat kyai Kunjuk- Sakti. Kapan kau bertemu dengan kakang Cemara tunggal itu?”

“Yah, aku mendapat petunjuk kamas Putut Punung, waktu dalam pambetekan dulu. Setiap malam aku selalu dijemput kamas untuk digembleng mati-matian, karena kangmmas takut akan datangnya kejadian yang belum dapat diperhitungkan dan diramalkan sebelumnya.”

Menjawab ayahnya demikian pemuda sakti itu melancarkan jentikan dengan tangan kirinya kearah punggung orang asing tadi, Seketika itu juga orang tersebut dapat bergerak seperti sediakala lagi.

“Hebat!” celetuk ketiga orang yang berdiri dibelakang pangeran Puger, hampir berbareng.

“Ah, begitulah kiranya ... kangmasmu memberikan namanya PURBAYA kepadamu, pastilah kau karus mendjaganya baik-baik. Kau kisanak ... memang sekarang kau berhadapan dengan Puger sendiri. Adakah sesuatu yang hendak dibicarakan dengan aku?”

“Ampun gusti, hamba tidak mengira ditegur oleh putera gusti sendiri, pasti hamba tidak berani membuka mulut mengaku siapakah hamba ini ... memenuhi pesan wanti-wanti dari junjungan hamba raden adipati JUDANEGARA dari Semarang. Hamba diharuskan berurusan sendiri dengan kangjen Pangeran seorang. Bila belum bertemu sendiri dengan gusti, dan menghaturkan surat ini, hamba dititahkan lebih baik membunuh diri daripada mengaku. Inilah surat itu.” Dengan berjalan jongkok orang itu menyampaikan sepucuk sural kepada sang Pangeran.

Setelah surat itu dibaca, bertanyalah Pangeran Puger kepada utusan Semarang itu: “Surat adi Dipati Semarang ini, berupa surat pengantarmu kisanak. Jadi maksud yang sebenarnya ki sanaklah yang akan menyampaikan bukan? Nah, mari-mari kita masuk kedadam rumah lagi saja. Sasangka, kau sambangilah seluruh pelosok halaman kita, jangan ada kejadian yang tidak diinginkan. Berhati-hatilah kamu!”

“Baik yah, legakan hatimu.”

Perundingan dibuka kembali. Kini dihadiri oleh orang kelima

... yang menyampaikan anjuran dipati Yudanegara kepada kangjeng pangeran, supaya beliau mau 'menjadi raja Mataram, Bupati Semarangpun takut akan terjadinya pemberontakan dimana-mana, karena tindakan raja muda yang baru itu selalu menimbulkan kekecewaan hati orang- orang yang bersangkutan. Buputi Semarang sendiri juga tidak luput dari rasa khawatir selalu, terancam bahaya kelaliman dan tindakan sewenang-wenang dari pihak pemerintah yang sekarang. Maka beliau sangat mengharap datangnya orang kuat, yang bijaksana lagi berwibawa diseluruh Mataram, untuk memegang pimpinan negara, supaya kesatuan negara Mataram tidak menjadi berantakan. Orang itu tidak bisa orang lain, kecuali kangjeng pangeran Puger sendiri.

"Bagus, adi dipati Semarang " ... jengek pangeran Sampang, tak sabaran lagi. “Nah, kamas Pangeran, apakah yang harus disangsikan lagi .. Sampang, Surabaya dan. Semarang, masakan belum cukup untuk menggempur kelaliman raja bebodoran itu.”

“Gusti pangeran,” menyela dipati Jajapuspita “Cukup masaklah rasanya waktu sekarang untuk menetapkan sikap tertentu. Sambutlah sumpah bupati Surabaya, satya dalam perjuangan menegakkan keadilan dan kebenaran, hingga negara menjadi adil dan makmur kembali dalam asuhan kangjeng pangeran PUGER seorang, sebagai rajanya.”

“Setuju adi Jajapuspita terimalah sumpah serupa dari bupati Sampang Cakraningrat ini, kakangmas " ujarnya menyambung pengutaraan tumenggung Jayapuspita.

Menjela utusan dari Semarang : “Gusti, raden adipati Judanegara, menjerahkan gedung kabupaten, untuk dipakai sebagai tempat menampung kekuatan kita menghadapi lawan, juga tempat darurat bersemayam paduka seketuarga.

Masih ada pesannya yang boleh dianggap meringankan pemikiran, ialah tentang sikap Belanda yang tidak menyukai pemerintah Mataram sekarang, hingga mudah diajak berunding, supaya jangan mengulurkan tangan kepada raja yang kini bertahta di Kartasura. Mereka itu bangsa pedagang, apabila kepentingan mereka berjual-beli mendapat perindahan ... masakan mereka tidak malah memberikan pertolongannya yang tak boleh diremehkan itu. tidak hendak menolongpun jadilah, asal tidak memusuhi kita saja, kiranya cukup baik. Dihujani pemikiran-pemikiran secara demikian, ditangisi juga daerah besar seperti Sampang Surabaya dan Semarang, maka mengeluhlah gembong Kartasura, memikirkan negara yaug sangat dicintainya, Demi keutuhan negara tercinta itu, bolehkah ia bersikap masa-bodoh saja. Pangeran agung itu nampak diam tidak bergerak dengan kedua tangan bersilang didadanya. Apakah yang tengah berkecamuk dalam batinnya ... Perasaan berat sebagai gunung menindih hatinia yang suci mumi. Merintihlah batin pangeran setengah tua itu.

“Wahai anak prabu Sunan-Mas ... mengapa anak tidak suka mendengar nasihat-nasihat orang baik, mengapa memilih orang orangmu yang sesat itu ... negaramu pasti haucur dalam tanganmu Yang selalu mengganas itu. Hmmm haruskah aku mengambil alih pusara negara (=kekuasaa) dari tanganmu itu, demi keselamatan negara Mataram ... Bukankah itu perilaku yang hina-dina merebut kekuasan dari tangan anak sendin, sekalipun sibocah telah beberapa kali berusaha untuk memusnahkan keluargaku.

Sebaliknya, lepas dari segala perasaan dendam pribadi, adakah orang membenarkan sikapku membiarkan negara menjadi hancur lebur tanpa berbuat sesuatu untuk mencegahnya? Negeri Mataram yang dibangun dan dibesarkan dengan jerih-payah nenek moyang, dari kangjeng Panembahan Senopati, kangjeng Sultan Agung dan iain-lainnya ... wajiblah dijaga. diperkembangkan dan disemarakkan kejajaannya oleh para keturunanya. Tidak benar bila aku bersikap dingin dan acuh tak acuh terhadap keruntuhannya. Apa boleh buat, aku harus mempertahankannya.”

Tegaklah sudah ketetapan hati kangjerng pangeran, maka berkatalah beliau dengan suara mantap:

“Adi tumenggung sekalian ... baiklah, aku akan menurut kehendak kalian demi negara yang terancam bahaya kerusakan ini. Besok lusa aku akan meninggalkan kota menuju ke Semarang. Maka marilah kita lekas-lekas mengadakan persiapan masing- masing, cara yang terbaik dapat meninggalkan kota ini dengan selamat. Pasti saja aku akan pergi diwaktu malam, melewati pintu gapura butulan.”

Tanpa disengaya keempat prija yang berada dimuka pangeran Puger itu, membungkuk dan menjembah bersama-sama, sebagai tanda penghormatan pertama kepada junjungan. Berkatalah dipati Sampang:

“Kini legalah rasa hatiku beserta kawan-kawan sehaluan ini, setelah kakangmas menjatuhkan ketetapan demikian! Biarlah orang- orangku yang menjergap penjaga gapura butulan besok lusa malam yang biasanya hanya dijaga oleh satu regu prajurit kesuma-tali saja.”

“Jangan… jangan dimas, serahkan saja kepada anak•anakku, jangan kalian segera nampak terlibat dalam peristiwa lolos ini. Mungkin bantuan kalian bergerak dalam selimut lebih berharga dari pada menolong aku berterang-terangan. Terserah kepada adik berdualah menyiasat orang-orang dalam kota nanti.”

“Baik gusti...kata dipati Surabaya ... hambalah nanti yang akan menjadi pelopor palsu dalam pengejaran pangeran yang lolos itu. ha-ha-haa.”

Menyela utusan dari Semarang: “Bolehkah hamba mendahului berangkat sekarang juga, untuk dapat segera bertemu dengan raden tumenggung Semarang, mengabarkan akan kedatangan gusti itu? Pastilah raden tumenggung segera akan mengelu-elukan kedatangan paduka sekeluarga, membawa prajurit bantuan.” “Mengasolah dahulu hingga pagi nanti, kemudian berangkatiah dengan mengendarai kuda dari istalku, supaya lebih lekas mencapai tujuan.”

Demikianlah segala sesuatu berjalan sebagai dijalankan oleh tangan gaib.

 “HAYO Suwami ….. teruskanlah ceriteramu itu, lalu bagaimana?” tegur kakaknya yang kedua, bagus Sarasa, tak sabar lagi, waktu adiknya masih menjusuti peluhnya, beristirahat sebentar.

“Biarkanlah adikmu beristirahat sebentar Rasa …. kau sendiri hampir mandi keringat ketegangan seperti kami ini semua. Ada baiknya diam beberapa saat, untuk memulihkan tarikan otot mengencang.” kata ki Bekel Samakaton sambil mengibas-kibaskan kepalanya. Kedua pemuda lainnya nampak tenang-tenang saja, namun tak luput dari rasa kepanasan, hingga mau tak mau terpaksa menyeka dahi dan lehemya, karena berpeluh banyak. Bukan karena niken Suwami pandai berceritera dengan mulutnya yang mungil itu, tetapi ceriteranya sendirilah yang memang menegangkan otot para pendengarnya, seolah-olah mereka sendiri pelaku-pelaku utama dalam riwajat itu.

Kali ini mereka beristirahat sepemakan sirih guna memulihkan segala ketenangan. Kemudian mulailah dara itu melanjutkan ceriteranya :

“Dapat dimengerti bagi orang-orang yang bersangkutan, bagaimana mereka merasakan ketegangan lahir-batin …. terutama keluarga ka-Pugeran beserta anak-buah kapangeranan tersebut. Tidak seorangpun mau ketinggalan untuk lolos dari kota nanti. Maka segala sesuatu yang mudah dibawa, mereka sediakan untuk diangkut bersama-sama kepergiaannya. Dalam segala kesibukan itu, mereka harus berhati-hati jangan sampai rahasia mereka pecah sebelum waktunya.

Tibalah kini saat yang sudah ditentukan untuk bergerak. Kelompok demi kelompok kira-kira sepuluh orang yang sudah ditentukan sebelumnya, mereka harus keluar dari kori butulan, menuju gapura butulan kota, setelah mendapat kabar jalan yang akan ditempuh sudah aman, dari perintis jalan. Perintis jalan itu bukan orang lain, adalah denmas Sasangka yang sudah mendapat kepercajaan penuh dari pangeran Puger, untuk membersihkan jalan dari segala gangguan, halangan dan pencegatan.

Sejak mulai menjadi lengang dijalan-jalan dalam kota, denmas Sasangka meninggalkan dalem ka Pugeran seorang diri, hanya berpakaian serba ringkas wama abu-abu sedang mukanyapun ditutup dengan kain serupa batas bawah mata. Siapapun tak mudah mengenal putera pangeran Puger yang keenam itu dalam penyamarannya. Sebagai hantu pemuda sakti tadi meluncur pesat dibantu kegelapan sang malam, menghindari lampu penerangan- jalan yang masih belum berarti sama sekali.

Walaupun gapura butulan kota sangat sepi dan hampir tak pemah dipergunakan lalu lalang penduduk, nanun selalu dijaga oleh satu regu prajurit berkuda. Pasti saja penjagaan disini tidak perlu mementingkan kewaspadaan yang berlebih-lebihan, Maka regu penjagaan yang bertugas disitu, selalu meremehkan tugasnya, mementingkan kelakar atau perjudiannya,

Tidaklah amat sulit bagi denmas Sasangka yang sudah meremjanakau penjergapannya sebelumnya. Dengan berani anak • muda itu membuka pintu gapura yang tidak dijaga, langsung meloncat keluar, sengaja dengan mengeluarkan suara berisik, untuk menarik perhatian mereka yang berada dipenjagaan,

Keruan para prajurit menjadi kelabakan, karena melihat terang ada orang lari keluar. Lima prajurit yang paling tangkas, sudah mengejar keluar dengan membekal pedang terhunus.

Denmas Sasangka tidak lari terus, melainkan justru hanya menjelinap ditepi jalan dibelakang pohon saja. Setelah kelima pengejarnya lewat, dialah yang segera mengejar mereka, mengerjakan jari saktinya. Tanpa mengeluarkan keluhan kelima prajurit itu, menggelepar ditanah tak dapat berkutik lagi, kehilangan kekuatan, sedang mulut mereka bagaikan terkunci tidak dapat dipergunakan, sekalipun mereka tidak kehilangan kesadarannya. Demikian pula masih enam orang teman mereka yang menjusul kemudian, mengalami kejadian atas dirinya yang serupa.

Dasar pemuda sakti itu masih bersifat kekanak-kanakan …. kesebelas penjaga tadi lalu diatur rapi duduk melingkari sebuah. pohon yang ada di dekat pintu butulan tersebut, Nampaknya mereka sedang berunding, bagaimana melewatkan malam penjagaan mereka dengan selamat ….. tetapi tak sepatah katapun keluar dari mulut mereka,

Maka tanpa menemui halangan sesuatu, berhaeillah rombongan keluarga ka-Pugeran meninggalkan Kartasura, melewati gapura. butulan tersebut, untuk kabur kearah Utara secepat mungkin.

Para ibu, anak-anak dan orang yang sudah tua didahulukan, dibawah pimpinan putera sang pangeran yang ketiga dan ke-empat

...... sedang sang pangeran sendiri memimpin para jagabaja, dan anak buah ka-Pugeranan yang sigap-sigap, dalam rombongan belakang sebagai pelindung. Alangkah gagahnya, berwibawanya pangeran setengah tua itu, duduk mengendarai kuda kesajangannya ditengah- tengah barisan berani mati yang tidak besar jumlahnya itu

...... hanya kira enam-puluh orang saja.

Rombongan yang paling akhir, adalah kelompok denmas Sasangka, terdiri dari sebelas pemuda sebaja termasuk denmas sendiri. Kesebelas pemuda itu mengendarai kuda lengkap dengan perabotnya sebagai prajurit kusumatali. Memang mereka merampas kuda para penjaga gapura yang teugah dalam keadaan berunding mati-matian tadi, untuk dimanfaatkan. Paling tidak mereka itu masih harus duduk-duduk demikian selama tiga jam lagi, baru mereka dapat menggerakkan anggota badannya dan menemukan lidahnya kembali. •

Apabila tidak kebetulan ada peronda menyambangi penjagaan digapura butulan tersebut, tidak nanti kepergian pangeran Puger segera menggegerkan ibukota Kartasura dua jam kemudian. Peronda itu datang dipenjagaan butulan, maka segera pula ia merasa keajaiban dipondok penjagaan. Tak seorangpun terdapat disitu, sedang pintu gapura nampak terpentang lebar-lebar. Pastilah ada kejadian yang tidak wajar. Buru-buru peronda itu mengadakan penjelidikan keluar. Astaga ..... kiranya kesebelas orang itu sedang mengaaakan pembicaraan rahasia dibawah pohon asem di tepi jalan.

“Hai…!” tegur peronda itu, “Kalian sudah menjadi gila semuakah, berani meninggalkan penjagaan itu, hah?”

Beberapa kali ia menegur dengan suara lantang, malahan disertai maki-makian juga, namun tak seorangpun dari kesebelas penjaga itu yang menggubrisnya. “Setan alas …. kalian berani tidak mengacuhkan seorang petugas .... baiklah rasakan saja gebuganku ini, mungkin bisa membuka mulut kalian!”

Dengan hati panas peronda itu turun dari kudanya, hendak melakukan ancamannya .... Astaga, datang mendekat, barulah ia tahu bahwa kesebelas teman itu menderita siksaan menjadi patung patung hidup, yang kehilangan segalanya, kecuali kesadarannya melulu.

Tak urung peronda itu menjadi ketakutan juga, mengira bahwa musuh sakti itu masih berada disekitar tempat penjagaan, Tidak berani lagi ia berkata keras-keras, waktu memperdatangkan keadaan para pendiaga tersebut. Benar-benar mengenaskan keadaan mereka itn, mata mendelo, mulut menyeringai kesakitan, anggota badan kejang keempatnya, takdapat bergerak sedikitpun …..

“Hai, alangkah saktinya musuh yang dapat membuat mereka sekonyol itu, tanpa membunuhnya!"

Peronda tadi tak berani berbuat apa-apa, karena teman yang dirabanya, menjengit kesakitan tanpa dapat mengeluh. Tetapi setengah jam kemudian hampir bersamaan waktunya, mereka mulai mengeluarkan rintihan-rintihan lirih. Kira-kira seperempat jam kemudian, mereka berteriak keras mengaduh, tetapi dengan itu bebaslah mereka dari kekejangan anggota badannya ….. dan dapat bicara lagi.

“Aduh… aduh…. uwah-wah-wah….. belum matikah aku ini ?!”

keluh seseorang diantaranya.

“Kalian masih hidup …. apakah yang telah terjadi …. siapakah yang menjiksa saudara-saudara tadi?” tanya Peronda itu yang menjadi berani berkata agak keras.

Kangjeng pangeran Puger beserta keluarga dan anak buahnya, meninngalkan kota Kartasura. Pastilah beliau tidak akan kembali lagi, karena semua perabotan yang serba ringkas dibawa serta dalam rombongan itu, Mari kita segera melaporkan hal itu, supaya tidak mendapatkesalahan besar.” kata pemimpin penjaga. Namun betapa kecewa hatinya, waktu menginsjafi keadaan bahwasanya kuda-kuda tunggang mereka dipergunakan oleh rombongan terakhir dari pihak yang lolos.

“Sudahlah, aku saja yang akan melaporkan. Naiklah dibelakangku, kaulah yang akan menguatkan laporan itu sebagai saksi.” kata peronda tadi lalu meloncat keatas punggung kudanya. Pemimpin regu penjaga itupun segera membonceng dibelakangnya.

Malam pekat itu kira-kira pukul tiga, terdengar kempul dan beri ditatap bertubi-tubi, suatu tanda bahaya mengancam. Maka seluruh kota sekaligus menjadi geger luar biasa. Semua orang keluar dari rumah masing-masing, mengira ada kebakaran atau kota dilanda banjir ... Semua menjadi bingung tidak menentu karena belum tahu apakah yang sebenarnya terjadi.

Nampak para pembesar praja dan para bupati mancapraja yang masih berada didalam kota , buru-buru berkuda lengkap dengan persenjataannya, menuju ke alun-alun untuk berkumpul dan menerima penjelasan dari raden adipati papatih-dalem, Kusumabrata. Adapun yang terlihat datang dahuluan adalah paugeran Sampang dan dipati Surabaja ..... sekalipun mereka berpura-pura gugup dan tidak mengerti apa yang digegerkan penduduk ibukota itu. Kedua pembesar itu tampak selalu berdampingan ... mungkin mereka itu datang dari Jawa timur, karena segolongan semata-mata,

Baru setelah para pembesar berada di-alun-alun sebagian besar, muncul pula sri baginda yang juga sudah berpakaian lengkap, dikawal oleh pengawal-pengawal pribadinya, sedang kedua gandek (bitara) berjalan mendahului sri sunan, sebagai pelopor jalan. Pada waktu itulah papatih-dalem mmgumumkan kejadian yang sangat mengejutkan semua pendengarnya: “Ketahuilah, saudara-saudara sekalian ... malam ini, pangeran Puger beserta keluarga dan orang magersarinya, lolos dari kota. Nyatalah sudah bahwa pangeran itu membangkang pemerintah negeri Mataram, suatu kedosaan yang sangat besar, karena menghina raja dan kami semua. Menumpas biang keladi yang membahayakan negara janganlah ditunda tunda, hingga kelompoknya menjadi besar .... Maka malam ini juga kita akan melakukan pengejarannya. Baginda berkenan akan melimpahkan anugerahnya kepada siapapun yang dapat menangkap pemberontak mati a tau hidup.!”

“Bagus,..!” seru pangeran Sampang, “Disamping tugas masih ada harapan untuk mendapat hadiah baginda pula, Siapa ikut aku mengejar yang membangkang perintah negara. Adi Jajapuspita, mari kita berangkat dahuluan!”

Tanpa menunggu pengumuman selanjutnya dipati Sampang dan Surabaya, segera meloncat keatas punggung kudanya lagi, membawa prajurit bawaannya sebagian cepat-cepat menuju kegapura butulan , Demikian pula para bupati mancapraja yang kemaruk anugerah baginda, tidak mau ketinggalan mengadu nasib mencoba coba, biarpun mereka sebenarnya tidak berani gegabah menyerang pangeran yang dikabarkan sangat sakti itu. Siapakah nanti yang akan menghadapi gembong besar Mataram itu, setelah dapat mereka ketemukan.

Setelah mereka melalui gapura butulan dan mendapat keterangan dari para penjaga, kearah mana rombongan sang pangeran tersebut, dipati Surabayalah yang memimpin perjalanan pengejaran itu, Dapat dimengerti bahwa ia sengaja daalam. selewengan, serang-serong tidak menentu, kian lama kian tidak menuju ke utara lagi tanpa disadari oleh para pengikutnya. Pasti saja biarpun sampai hari kiamat, pengejaran itu tidak akan berhasil karena tidak searah dan sejurusan.

Baru sesudah fajar mulai menjingsing, orang tahu bahwa mereka telah terlanjur salah arah. Yang keliharan sangat menyesal adalah dipati Surabaya, berkali-kali ia menyalahkan diri, mengapa bisa sesat jalan hingga demikian jauh. Biarpun para bupati pengikutnya sangat ~angkal,

:etapi siapakah yang dapat menyalahkan orang sesat jalan, lebihz tumenggung Jajapuspita itu orang Surabaya .... mana dapat faham jalan diwaktu malam pepat. Terpaksa rombongan itu hanya dapat menggerutu, kembali ke-Kartasura lagi ranpa membawa buruan negara.

Tetapi demikian pula agaknya dengan kelompok-kelompok yang lain ….. Yang kebanyakan hanya menubruk tempat kosong, menerjang malam suwung saja. Siapakah yang tidak menjadi kecewa karenanya, setelah manghamburkan tenaga habis-habisan terpaksa hanya harus merasakan kelelahannya melulu, Namun diantara para pengejar yang bersungut-sungut itu, ada pula yang menjengir kegirangan, ialah dipati Surabaya dan pangeran Sampang.

“Ih, adi Jayapuspita, puaskah hatimu hingga nampak berjengat-jengit kumismu yang bagus itu...... Awas kalau ada setan jahat mengetahui akal bulusmu semalam.” bisik pangeran Sampang.

“Ha..ha ….. lapangkan hatimu kangmas, setan dari mana berani mengganyang danyang Surabaya ini yang kulitnya sudah mbengkerok demikian, masakan tidak takut keracunan, mati sesaat kemudian.” jawab kitumenggung dengan ketawa dibalik kumis.

“Tidak lama lagi kakak akan minta-diri dari yang dipertuan besar itu, karena sudah terlalu lama berada di Ibukota ini. Namun aku segera akan kembali langsung ke-Semarang, membawa prajurit Dulangmangap ku seribu lima ratus orang, dengan segala pedengkapannya. Bagaimana dengan adi tumenggung sendiri?” dipati Sampang melanjutkan pembicaraannya lirih. “Akupun segera akan mohon ijin pulang, tanpa menanyakan lagi daerahku akan jadi dibagi dua atau tidak. Jangan harap mereka akan melihat wajahku lagi, tanpa senjata terhunus.”

Maka masih banyak lagi yang mereka bicarakan bersama secara diam-diam itu. Dan karena para pembesar dan para bupati, mancapraja semua sibuk dengan pembicaraan sendiri•sendiri tak seorangpun mencurigai kedua tokoh Timur yang sedang sibuk pula bertukar pikiran dan menetapkan janji-janji sehidup seperjuangan dalam melampiaskan dendam masing-masing disamping mengabdikan diri kepada pangeran Puger.

Tiga hari-tiga malam belakangan ini para pembesar pimpinan negara sangat sibuk berunding membicarakan sagala apa yang bersangkutan dengan lolosnya pangeran Puger. Mungkin sekali mereka itu merundingkan, cara menundukkan pemberontakan dan penangkapannya.

Nah, sampai disitulah pengertianku tentang gegeran di ibukota Kartasura. Bisa saja tambahkan tentang adanya dua golongan yang bertentangan di.antara penduduk kota. Segolongan adalah orang yang memihak raja-muda.

Dapat dimengerti bahwa . mereka itu pastilah sanak kadang terdekat dan Sri-Sunan, juga keluarga orang-orang yang suka menjilat dan bermuka muka manis terhadap para penguasa, demi kedudukan dan penghidupannya.

Kelompok yang kedua adalah semua orang yang suka menjunjung tinggi perikeadilan dan kebenaran mereka itu bersimpati kepada perjuangan kangjeng pangerannamun

terpaksa tidak berani bertindak terang-terangan. Nyatanya dalam tiga hari ini, tidak seorangpun didalam kota itu, yang tidak membicarakan soal lolosnya sang pangeran ......

dengan penilaian masing-masing. Apabila aku tidak dicegah ibu ageng retna Widuri...... pastilah aku sudah meninggalkan keraton mencari kakak Punung, pada waktu setelah aku mendengar kabar itu. Baru setelah berita kasib tiga hari aku diperkenankan pulang kedesa …. dan selanjutnya, bertemu dengan kalian disini.- demikianlah ken Suwami mengakhiri ceriteranya,

****

SETELAH habis peauturan niken Suwami tentang kehebohan yang terjadi di Kartasura, kelima orang itu terdiam beberapa saat lamanya, bagai sedang memikirkan kelanjutan dari peristiwa itu, yang pasti akan menggentarkan negara Mataram sampai kepada alasannya. Sebenarnya orang sudah dapat meramalkan, sesudah tindakan baginda yang sangat kurang bijaksana, menjatuhkan pidana Pambetekan kepada pangeran sesepuh negara itu, pastilah akan membawa akibat yang akan menentukan nasib negara …..

karena rasa kecenderungan rakjat pada umumnya beralih kepada sang pangeran.

Lebih-Iebih paageran Puger itu telah termashur keluhuran pribadinya, kebesaran martabatnya dan tak terkira kesaktiannya, hingga mendapat julukan Gembong Kartasura.

Semua orang suka dan memuji pangeran sakti itu. Pastilah mereka tidak akan menolak bila sang pangeran dinobatkan menjadi raja Mataram Islam itu. Maka setelah terjadi peristiwa lolos dari kota ini ... tak perlu disangsikan lagi kiblat kebanyakan orang-orang Mataram.

Tengah menimang-nimang penilaian mereka, Putut Punung meloncat kedalam gerumbulan yang lebat sambil memberi peringatan:

“Awas ada orang mendatang mempergunakan ilmu lari cepat,”

Maka segera pula ia diikuti oleh ke-empat temannya yang lain. Belum lama mereka mendekam digerumbul itu ...... nampak ada orang lima berdandan serba ringkas, lari cepat sekali seperti diburu demit. Tak lama kemudian datang rombongan pelari cepat lagi tiga orang berjubah lamuk dan mendatang dari kejauhan lebih dari sepuluh orang. Terang sekali bahwa mereka itu semuanya menuju ke Kartasura.

Berbisiklah ki bekel Samakaton keheranan: “Hai, kiranya pendekar-pendekar kenamaan bermunculan menuju ke-ibukota.”

“Ah, aku ingat sesuatu ... Kata orang pepatih dalem raden Adipati Kusumabrata, mendatangkan tokoh-tkoh orang sakti dari pelosok-pelosok dan lain daerah, untuk menguatkan barisan pemerintah, menghadapi guna menundukkan pangeran Puger, Siapakah orang-orang tadi yah, tahukah ayah tokoh-tokoh yang baru lewat itu?” bertanya niken Suwami.

“Kalau tidak salah lima orang yang paling depan tadi adalah hima saudara perampok Gunung Kendeng, yang sangat ditakuti orang. Tiga orang berjubah tadi aku hanya kenal yang dua orang, jakni kyai Kijing Miring, dan kyai Tameng•Waja tokoh-tokoh sakti dari lambung gunung Wilis. Orang yang ketiga itu aku belum pemah bertemu. Rombongan yang datang kemudian, kiranya murid- murid utama dari ketiga orang berjubah tadi.” “Hmm, pastilah kita akan mengalami keramaian yang luar biasa,” ceetuk Sasana ... ”Demikian hebat keangkeran dan kewibawaan kangjeng pangeran Puger itu hingga, orang meregerahkan tenaga dunia persilatan sampai kepada tokoh-tokoh besarnya. Hai ... dapatkah mereka menghadapi Gembong Kartasura nanti.”

“Asal mereka tidak main keroyokan dan membokong dari belakang saja beramai-ramai ... belum tentu mereka bisa mendekati sang pangeran. Tetapi yang sangat dikuatirkan adalah usaha-usaha pembunuhan secara menggelap dari pihak orang licik. Dan pastilah mereka akan menggunakan akal rendah itu untuk melenyapkan perlawanan,” kata sang• ayah bernada prihatin,

“Jangan kuatirkan hal itu jah, …..!” kata Punung, ”Aku akan berbuat sedapat mungkin untuk mencegahnya. Maka marilah kita berundng sebaik baiknya untuk mengerjakan sesuatu dalam soal gawat ini. Aku sendiri akan menyelundup kedalam kota, menyerapi gerak gerik orang disana, Adik Suwami beserta kakak salah seorang, melakukan perja lanan ke Semarang, menyampaikan kabar munculnya tokoh-tokoh persilatan kepada ayah beserta rombongannya, supaya bersikap lebih waspada. Tentang bapak sendiri, lebih baik pulang dulu kedesa berkemas ... kemas dan siap siaga lebih lanjut mengimbangi gelagat keadaan.” Katanya lebih lanjut.

“Ya ... demikianlah agaknya tindakan kita yang sebaik- baiknya ….. mudah-mudahan segala sesuatu berjalan sebagamana yang kita harapkan. Nah ….. anak-anak, mari kita berpisah dahulu, dan kau Sarasa, kau temani aku menyiapkan segala sesuatunya!”

Kelima orang itu lalu berpisah menjadi tiga golongan, yang melakukan dharma baktinya masing-masing. Biarpun Niken Suwarni sangat kurang setuju ….. tetapi demi keselamatan bersama dan demi cita-cita kemenangan terakhir, terpaksa harus mendengarkan kata-kata sang suami.

Sebenarnya ia ingin mengikuti suaminya menerjang segala kesulitan dan segala bahaya …. Namun modalnya masih terlalu kurang guna melakukan pekerjaan yang dangat berbahaya itu, maka pergilah ia dengan kakaknya Bagus Sasana ke Semarang.

Bagaikan anak panah lepas dari busurnya, meluncurlah Putut Punung membuntuti orang-orang sakti yang menuju ke ibukota ….. benar-benar terbangunlah semangatnya untuk melindungi keselamatan ayahnya.

Syukur ia sudah berdandan dalam penyamaran sebagai pemuda desa kucal, berkumis dan berjenggot kurang terawat. Rasa- rasanya tak seorangpun dapat mengenalinya kembali sebagai Den Mas Purbaya yang gagah perkasa, sehinggga dapat meruntuhkan hati ratu Alit dahulu.

Dan karena ia tidak menggunakan jalan melewati pintu gerbang melainkan dengan melewati pagar tembok yang sepi dengan meloncatinya, maka datanglah ia dalam kota pinggiran, lalu menyelinap maju kedalam perjalanan lalu lalang di jalan-jalan.

Karena tak seorangpun mencurigai kehadiran pemuda dusun kucal, yang paling bantar datang di kora menjual ternak itu, mudahlah ia mencuri lihat segala kesibukan dalam kota pada hari itu.

Alun-alun kota penuh dengan prajurit yang sedang berlatih …. Balai agung penuh pembesar-pembesar yang tengah berunding dan berdebat. Di warung-warung makan banyak terlihat orang-orang berdandan ringkas, dengan membekal pedang atau golok, tombak pendek atau tongkat baja dan lain-lain senjata yang bias dipakai orang-orang persilatan bertempur. Pemuda dusun itu masuk kedalam warung makan besar yang laris sekali, temyata banyaknya orang mengunjunginya. Ia memilih tempat di bale-bale besar disudut warung itu, hingga mudah melihat dan mendengar, daripada terlihat dan di dengari.

Seperti orang setengah kelaparan yang tak menghiraukan apapun kecuali makanan, digasaknya segala apa yang terdapat pada piring yang berada dimukanya .... hingga mendapat teguran dari teman duduk sebale-bale:

“Uwah … masakan jadah dan wajik sepiring mau diganyang sendieian, Orang lainpun ada juga yang hendak merasakannya.”

“Ambillah saudara, siapa melarangmu ikut serta makan, asal kau dapat membelinya masakan uangmu ditolak.” jawab pemuda itu sambil mengunyah wajiknya,

“Tolol kau …. masakan aku berani duduk disini, kalau aku tidak berduit, kau kira hanya orang macammu saja yang beruang itu, hah!”

“Sudahlah, sudahlah …. engkaulah siberuang, si-orang pinter sendiri, jangan mentang-mentang mencari urusan ... tuh, ada yang datang lagi kemari.”

Yang datang hendak makan kali ini lima orang berpakaian lamuk. Dapat dipastikan kelima orang itu bukaa orang kota disini, melihat tandang-tanduk mereka agak kaku itu.

Nampak sekali bahwa mereka itu berperangai kasar dan berhati tinggi ... dasar kelima saudara dari gunung Kendeng ini tamu undangan pemerintah yang tadi telah mendapat sambutan hangat dikepatihan, karena saja mereka menjadi lebih berkepala besar. Dengan mata melotot menakutkan mereka memandang kepada orang-orang yang berada disitu dahuluan tanpa malu•malu, lalu mengambil tempat dibale-bale tengah dengan menjuruh pindah orang.

Tahu bahwa yang datang pendekar-pendekar kenamaan yang didatangkan pepatih dalem, maka mengalahlah para penduduk kota.

Pemuda dusun itu mengelak mencuri pandang kepada tamu-tamu baru leu, karena ia mendengar orang berbisik. Itulah yang bergelar:

„PANCA BARONG‟ orang-orang sakti dari gunung Kendeng.

Yang agak kurus itulah Barong nomor satu, yang lain disebut Barong nomor dua, tiga, empat lima. Apabila lima bersaudara itu memainkan golok gabungannya . . hai jangankan manuaia biasa sekalipun jin atau aetan jejadian, jangan harap bisa keluar dari kurungannya masih bernyawa.

Entah Barong yang nomor berapa bertanya kepada pemimpinnya, “Kak, apakah benar jang dikatakan oleh kangjeng patih tadi, bahwa rupa-rupanya rumah pangeran Puger dijaga oleh lelembut atau gandarwa yang sakti, hingga. tidak sembarang orang berani dan dapat memasukinya?”

“Mengapa tidak benar. Orang mengatakan demikian, pastilah itu ada buktinya. buat apa pepatih dalem mendatangkan tokoh- tokoh persilatan ini bila tidak akan mendapat tugas yang sekiranya tidak mudah dilaksanakan oleh orang biasa!”

Kata seorang lagi memambah keterangan kakaknya tertua: “Rasa-rasanya kami ini dibutuhkan tidak hanya untuk mengobrak- abrik dalem ka-Pugeran saja ... pastiah masih ada maksud raden adipati yang belum dikatakan saja.”

“Mengapa kakak tadi memilih waktu malam untuk memasuki dalem ka-Pugeran? Bila penjerbuan itu dilakukan disiang hari, bukankah itu lebih aman banyak yang dapat dilihat dengan terang?” kata seorang dintaranya lagi.

“Jangan terlalu tolol, ... kata Barong tertua ….. kami pasti lebih letuasa bergerak diwaktu malam daripada di siang hari, supaya lepas dari gangguan orang lain. Yang suka iseng. Bila toh mereka menghendaki, biarlah mereka bergerak sendiri, jangan membonceng pekerjaan orang lain.”

Karena hidangan sudah datang, maka berhentilah pembicaraan mereka. Namun itupun sudah cukup bagi sipemuda dusun untuk menentukan langkahnya kemudian setelah meninggalkan warung. Yang sekarang menjadi bahan analisanya ialah justru hantu yang menunggu rumah ayahnya.

Apakah betul-betul ada hantu yang dibicarakan itu tadi, kaarena selama hidupnya dirumah tersebut, ia belum pernah mempergoki macam jejadian apapun. Akhirnya timbul pikirannya bahwa yang di ikatakan hantu tersebut pastilah orang juga ….. orang sakti yang memihak kepada ayahnya dan mencoba menahan serbuan orang- orang pemerintahan yang pasti akan memusnahkan rumah tercinta itu.

Maka ingin sekali ia hendak mengetahuinya, siapakah orang sakti yang berani berbuat demikian, menentang kekuasaan negara. Sebagai tidak disengaja ia berjalan mendekati dalem ka-Pugeran, yang ditutup rapat dan diawasi dari kejauhan oleh petugasz negara.

Pemuda desa itu mendekati dalem tersebut dari sebelah belakang ... Setelah dekat pagar tembok petamanan, ia memilih sebuah pohon yang cukup besar dan tingginya. Nampak badannya menjejak dan kakinya yang sebelah menjejak tanah enteng sekali, meluncur luruslah badannya keatas, setinggi lima meter. Tiba• tiba telinganya yang tajam itu mendengar suara mendesing, terlihat olehnya benda kecil sekali meluncur pesat kearah tubuhnya, yang tengah menjembul naik. Pastilah barang itu akan mengenai dadanya dengan telak, apabila reaksinya kurang cepat dan tepat. juga getar sakti yang selalu meliputi diriuja kalah kuat dari tenaga sambitan yang menggerakkan benda tersebut. Pemuda itu menggoyang badannya dan mengepretkan tangan kanannya, berkesiur kencanglah perbawa angin dari gerakannya itu, menghantam benda keijil tadi. Bebaslah ia dari ancaman terkena sambitan orang sakti yang berada didalam taman ayahnya, Namun tidak urung ia terkejut luar biasa, karena tenaga sambitan itu pastilah tak ulah-ulah hebatnya. Siapakah orang yang bertenaga demikian kuat ltu?

Hinggaplah Putut Punung pada punduk bekas dahan pada batang pohon tersebut, kira-kira lima meteran dari tanah. Buru-buru ia menyapukan matanya pada taman keseluruhannya ….. Tak seorangpun terlihat didalam kebun itu. Apakah henar yang dikatakan orang-orang itu, bahwa dadalem kaPugeran sekarang ditunggu oleh gandarwa penjaga ... ?

Dengan sikap benhati-hati sekali pemuda itu berjongkok tempa tnya, siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Ia bertekad untuk tetap menunggu disitu, untuk melihat sendiri apa yang bakal kejadian dimalam nanti. Ia jakin bahwa kelima Barong nanti malam akan mencoba masuk kedalam rumah dengan ijin baginda untuk merampas atau mengobrak-abrik isi rumah pemberontak itu.

Kata Putut Punung dalam hati agak keheranan: “Hai, mengapa hantu itu tidak mencoba sekali lagi berkelakar denganku ... Tahukah ia sudah, bahwa aku bukanlah lawan, atau takutkah ia bergerak lagi, unluk tidak mudah diketahui di mana ia bersembunyi?” Dengan surupnnya sang Surya, gelap malam datang cepat sekali, karena tiada berbulan. Hanya bintang-bintang nampak menghias angkasa, bagai bunga api tertabur luas pada permadani biru-guram. Segala sesuatu hanya nampak remang-remang samar antara ada dan tiada.

Namun pemuda yang berjongkok dipuncuk-batang itu terpaksa masih harus bertahan sabar beberapa waktu, untuk dapat menyaksikan kejadian kejadian seram dihalaman dalem ka pangeranan.

Kelompok•kelompok prajurit tamtama serba lengkap persenjataannya, bermunculanlah dari segala arah lalu menempatkan diri sejauh lima landean dari pagar bata ka-Pugeran, dengan sikap mengurung. Mengapa mereka tidak menjerbu sendiri

... mudah saja ditebak oleh Punung .. pastilah hari-hari sebelumnya, pemah mereka mencobanya, tetapi kapok diperlakukan kurang baik oleh gandarwa-penjaga dari dalam halaman.

Oleh karena itu, fungsi mereka sekarang, adalah memberi pertolongan kepada yang mendapat perintah menerjang masuk.

Tiba•tiba sesosok bayangan orang meloncati pagar haaman dengan membalingkan kerisnya secara hebat sekali, sambil membentak sesumbar.

“Keluar kau setan berkasakan, sambutlah kedatangan dipati Ngurawan, SUMADININGRAT.!”

Terdengar suara ketawa mengakak landung memecah angkasa, menggetarkan rongga dada yang mendengarkan, hingga banyak orang membekap telinganya untuk melindungi anak- telinganya yang terguncang keras ….. Tahu-tahu, tumenggung Sumadiningrat sudah dilempar kembali kebalik pagar jatuh terbanting tidak sadarkan diri lagi. Itulah hebat ... Dalam kalangan para bupati prajurit, tumenggung Ngurawan bukanlah orang sembarangan. Dialah pendekar pilihan yang sudah termashur namanya didaerah Banyumas-timur ... namun kenyataannya dengan demikian mudah ia dapat dijambret orang dan dibuang balik, sekalipun tumenggung itu memainkan keris pusakanya,

Bergidiglah raden adipati Sumabrata melihat kenyataan itu ... ke-angkeran dalem pangeran Puger agaknya bukanlah omong kosong belaka.

Apakah yang sebenarnya telah terjadi, hanya pemuda dusun itulah yang dapat menerangkan sejelas-jelasnya, Sekilas pandang tajam saja tahulah ia, bahwa yang bergerak tadi bukanlah sebangsa gandarwa atau jejadian segala macam tetapi ... manusia sakti luar biasa, malahan tahulah ia sudah bahwa sang gandarwa itu adalah gurunya sendiri, kyai ajar Cemara-Tunggal, yang dijuluki orang si KUNJUK•SAKTI. Bukan main girang hati Punung, mendapat kenyataan gurunya membela gerakan ayahnya itu, Hampir-hampir ia berteriak memangil sang Guru, karena kangen dan rasa rindunya. Tetapi alangkah salahnya bila terlanjur meneriakinya ... pasti orang tahu, kalau penjaga dalem itu, ajar Cemara 'I'unggal,

Nah, begitulah duduk perkuranya, dan karena itu juga sambitan barang kecil yang menyambar kearahnya tadi hampir tak dapat dihindarinya.

Yang kini menerjang masuk kedalam halaman, adalah kelima bersaudara tokoh gunung, Kendeng. Dengan mengonat-abitkan golok golok besar mereka meloncati pager bersama-sama Belum lagi kakinya menjontuh bumi, mereka membentak keras:

“Sambut kedatangan PANCA BARONG dari gunung Kendeng yarg minta berkenalan dengan segala macam gandarwa laknat pembela pemberontak!” Segera terdengar desingan bersiat-siut, suara angin yang . ditimbulkan karena sabetan golok bersambungan, laksana jatuhnya air hujan.

Namun suara mendesing tadi selalu kabur diterjang kesiuran angin kencang membadai kesegala arah, yang sanggup mengguncang keras cabang dan ranting dalam jarak puluhan meter, merontogkan daun-daun dan menerbangkannya hingga jauh. .. bahkan ada yang berjatuhan ditempat pengepungan.

Lagi lagi yang dapat melihat dengan terang, adalah sipemuda dusun tadi.