Gembong Kartasura Jilid 6

Jilid VI

Seram dan tegang luar biasa pertandingan yang mereka saksikan hari itu, Harya Banyakwide memang seorang pendekar bukan sembarangan. Ia bergerak lincah dan cepat sekali, seperti burung Srigunting menyambar-nyambar kesegala arah, mencari kelemahan-kelernahan pertahanan musuhnya. Pedangnya berkelebatan dalam pembelaan dan serangan-serangan pembalasan, Tamengnya selalu siap menangkis dan melindungi kekosongan- kekosongan pada badannya. Pastilah tidak mudah untuk menerobos pertahanannya.

Tetapi sebaliknya, iapun tidak dapat berbuat banyak terhadap lawannya itu. Putut Punung yang menyaru sebagai kakaknya, Den Mas Suryakusuma ... tidak nampak berlincahan lagi seperti waktu masih menghadapi lawannya yang berkuda. Pemuda itu berdiri tegak dalam kuda-kudanya, tidak mau lagi meninggalkan titik-berat tempat berdirinya ... mengimbangi arah gerak lawannya dengan menggeser kaki kanan atau kaki kirinya. Tombaknyalah yang berlincahan bagaikan mempunyai mata, selalu mengikuti gerakan pedang Harya Banyakwide, menindih dan menekan kebawah atau kesamping pedang lawan, sedang mata tombak itu st>lalu mengancam tenggorokan atau uluhati kidipati, bila berani melanyutkan serangannya.

Bingunglah Harya Banyakwide, karena ilmu pedang andalannya kehilangan keampuhannya, bertemu dengan permainan tombak pemuda sakti ini, sekalipun gerak tombak itu nampak lamban biasa, tetiap kali ia merangsak karena melihat kelonggaran untuk menyerang, malahan dialah terbalik kedua serangan membahayakan, karena tahu-tahu ujung tombak sudah menyelonong dekat batang hidungnya, hingga dialah yang lalu kelabakan, harus membanting diri kebelakang, menghindari patukan tombak tersebut. Bila lawan muda ini mau melanjutkan serangannya, pada waktu pertahanan kidipati sedang kocar-kacir demikian, apakah sulitnya melunaskan jiwanya. Namun mengapa Den Mas Suryakusuma itu tidak berbuat demikian?

Terpaksa Dipati Banyakwide mengakui kelebihan dan ke- unggulan lawan mudanya ini. Adapun yang paling dikaguminya ialah tenaga sakti bocah ini, setiap kali pedangnya bersentuhau deugan Iandeyan tombak itu, selalu terasa guncangan keras sekali dengan beserta bahunya. Hampir tak sanggup ia mempertahankan pedangnya ditangan. Maka mau tidak mau ia menjadi jeri, hingga perrnainan pedangnya lebih merosot nilainya.

Sobenarnya, asal Putut Punung menghendaki saja, tak usah Kidipati menguras tenaganya sampai bertele-tele demikiau. Dalam beberapa gebragan saja, dapat dipastikan kidipati dapat disisihkan dengan mudah sekali, Tetapi pemuda saktl itu memang sengaja membuat seram dan ramainya pertempuran dirnuka orang banyak, supaya jangan menonjol sekali keperkasaannya, untuk dibicarakan dan dinyana-nyana orang dikemudian hari. Harya Banyakwide harus jatuh dalam pertempuran yang cukup seram, pastilah akan membawa pengaruh baik bagi kakaknya . Kini datanglah saatnya untuk menjatuhkan tokoh Senapati besar ini. Mulailah Putut Punung merubah sikapnya berrnain tombak.

Tombaknya mernatuk-matuk kearah badan dipati secara menyeluruh. Bagian mana badan Banyakwide yang berada didepan selalu diancam ujung tombak lawannya nampak dipati itu selalu meloncat-loucat kebalakang, tetapi selalu dibuntuti mata tornbak Putut Punung, seperti lalar me'ngejar barang busuk, Pada loncatan yang ketujuh, terdengarlah suaru gemerencang dua kali. Pedang digenggaman Harya Banyakwide sudah terbang diangkasa, sedang tameng badannya juga sudah melesat jauh. Kidipnti sendiri jatuh terlentang dengan ujung tombak lawan hanya terpisah dua dim saja dari dadanya.

Suara “Ahhh…” terdengar ditmbuskan oleh laskar Kartasura, waktu melihat jagonya rubuh ditangan lawannya. Dari jauh memang tidak nampak jelas terluka atau tidaknya Harya Banyakwide, lebih- lebih karena ujung tornbak itu kelihntan bagai menernbus dadanya, Harnpir saja para pembantu kidipati memerintahkan menyerbu bersama kepada laskamya, tetapi urung karena mendengar perkataan Den Mas Suryakusurna tiron itu. “Kakang Harya Banyakwide ... hari ini aku lebih beruntung dari kakang hingga secara kebetulan sekali aku dapat merobohkan kakang. Bolehkah sekarang aku menganggap pertempuran hari ini sndah selesai, menurut perjanjian kita bersama?” Sudah barang tentu Harya Banyakwide lebih suka mati dihunuh dari pada mendapat malu demikian, tetapi sehagai seorang ksatria sejati dan manggalayuda senapati yang sudah berjanji dimuka orang banyak, akan lebih hina lagi bila berani menjilat ludahnya kembali. Maka dengan suara cukup keras berkatalah ia. “Aku mengaku kalah. Dan sebagaimana ditetapkan dalam janji kita, aku akan menarik mundur laskarku, karrna sudah dikalahkan pula!”

Den Mas Sur:jakusama, meloncat mundur sedepa samhil membuang tombaknya, lalu berdiri tegak menantikan. Harya Banyakwide juga berdiri. Berhadapanlah kedua jago itu dalam jarak satu Setengah depa sesamanya.

“Terima kasih kakamg, atas kemurnhanmu.” Kata Den Mas itu, yang disambut oleh bekas lawaknya dengan membungkuk hormat dan senynman kecut sekali … katanya. “Baiklah Denmas, kita berpisahan dahulu, siapa tahu kita masih sering akan berurusan lagi.”

Hari itu kedua laskar tadi ditarik mundur bersama-sama, tanpa pertempuran, yang pasti menimbulkan banyak korban prajurit. Perang landing yang mendebarkan dan sering hampir-hampir menghentikan orang bernafas saking seram dan ramainya itut, pasti saja menjadi buah pembicaraan dikedua belah pihak dengan pemikiran masing-masing.

Malam harinya orang-orang di Kota Gede dikejutkan oleh kedatangan petugas-petugas dari pihak musuh, yang hendak menyampaikan surat kepada Den Mas Suryakusuma. Dua orang panewu tempur, pembawa surat itu, dibawa kehadapan pemimpin brandal, dengan dijaga oleh regu pengawal perkemahan. Waktu itu Den Mas Suryakusuma sedang berunding dengan sang adik dan sudah berdandan sebagai prajurit biasa dengan mengenakan jenggot palsu yang tebal. Tak seorangpun dapat mengira bahwa dialah yang mewakili kakaknya melawan dipati Harya Banyakwide tadi pagi.

Setelah memberi hormat kepada Den Mas Surya Panewu Jayawatangan, yang membawa surat tugas, maju kedepan untuk menyampaikan surat itu. dengan tersenyum ramah, dipersilakan menunggu diluar dahulu. Segera surat itu dibaca oleh Den Mas Suryakusuma ….. ternyata isinya mengabarkan bahwa baginda berkenan melepaskan Pangeran Puger dari hukurnan pambedekan, jika Den Mas Suryakusuma mau menyerah dan menrrima hukuman buang ke Selon. Bila kehendak baik baginda ini tidak mendapat sambutan baik dari Den Mas Suryakusuma maka bolehlah ia melanjutkan pernbangkangannya, hanya jangan menyesalkan nasib ayah beserta keluarganya, yang harus mewakili hukumannya, Surat itu ditanda tangani oleh pangeran sentana Harya Narakusuma dan ditaati Manggalayuda yang mendapat tugas khusus dari Kartasura dan sekarang sudah berada diperkemahan Gondang.

Setelah surat itu habis dibaca lalu diberikan kepada adiknya untuk diketahui pula isinya. Gumam Den Mas Surya. “Hmm ... lambat atau cepat, pastilah beginii juga jadinya! Baiklah, aku akan menyerah asal baginda tidak berbuat licik sadja benar-benar mau membebaskan ayah dan keluarga semua.”

“Jangan buru-buru menyerah kangmas, sebelum kita tahu benar, sampai dimana baginda menepati janyinya. Kita harus berwaspada akan kelicikan orang!”

“Baiklah dimas, sekarang kita membagi pekerjaan saja. Aku akan menyerahkan diri besok kepada rarna Riyo Natakusuma dan Paman Mangunyuda, kau barns pergi kekota, melihat keadaan ayah beserta para ibu. Bila setelah aku menyerab, mereka belum dibebaskan, kau harus 'mencari aku lagi, untuk menetapkan sikap terakhir. Aku bertekad bulat, menerima segala macam hukumanku sebagai pemberontak, asal ayah dapat diselamatkan, Aku tidak sudi menjadi anak yang tidak berbakti kepada orang tua.”

“Baik kangmas, restuilah adikmu untuk melaksanakan tugas; ini. Bagaimanapun juga, kangmas tak usah terlalu cemas tentang keluarga kita. Aku akan berusaha sekuat mungkin, untuk menyelamatkan para leluhur juga kangmas sendiri dimana masih ada kesempatan.”

“Adikku, berangkatlah malam hari ini juga, legakan kakakmu ini, jangan hiraukan nasib burukku, itulah nasibku jang kurang. baik!”

Kakak beradik itu berangkulan erat-erat, bagaikan tak hendak mau pisah. Mereka harnpir menangis seperti wanita. Hanya karena merasa dilahirkan sebagai ksatria jantan saja, air matanya tidak sampai jatuh bercucuran .. Maka dengan hati yang berat sekali mereka berpisahan, masmg-masing dengan rasa penuh derita dan kesedihan, mungkm karena tidak mempunyai pengharapan akan dapat bertemu Iagi. Adapun utusan dari Harya Natakusuma malam itu, bisa pulang dengan puas, karena besok Den Mas Suryakusuma akan datang menghadap, untuk menyerahkan diri.

****

TENGAH MALAM yang seram, sunyi lagi sepi tanpa bulan, yang hanya samar-sarnar diterangi oloh ribuan kartika diangkasa raja, Dijalanan tengah Taman-Snri kedaton, terlihat masih ada orang berjalan sendirian. Orang itu bukan orang lain, kecuali baginda raja sendiri tengah menuju kekeraton, pulang dari rumah pemondokan seorang selirnya, yang berada didekat kolam pemandian para putri didalam taman itu. Nampak, benar bahwa raja muda yang baru saja naik tahta kerajaan itu masih belum merasa tenang dan tenieram, ternyata dalam segala tingkah lakunya yang berbahu kegelisahan, lagi kurang pereaja kepada diri sendiri.

Siapakah yang tidak mengerti dan tahu bahwa kesulitan orang yang menjadi raja itu berbentuk seribu satu macarn, yang harus dihadapi dengan hati tabah serta bijaksana, untuk dapat mengatasinya dengan baik, Hanya kesabaran, ketekunan dan kejakinan asan kemampuan pribadinya saja yang akan dapat membawanya kepada kemenangan, Terapi sajang, raja muda yang baru ini, memilih cara yang salah untuk melupakan dan menyisihkan segala kerewelan negaranya,

Mungkin sekali beliau menglra, bahwa macam-macam hiburan serba menyenangkan dapat melenyapkan segala kegelisahannya, sekaligus kesusahannya, Namun adakah kesusahan karena kesulitan dapat dihindarkan dengan bermacam macam hiburan? Itulah barang mustahil. Setelah jeniii hiburan itu selesai, kesulitan orang tidak menjadi berkurang, bahkan bisa sekali bertambah besar dan ruwet.

Adapun yang menjadi buah pikirannya pada waktu itu adalah tentang pembebasan pamannya Pangeran Puger sekeluarga dari pambedekaa tadi siang, setelah mendengar kabar dari medan pertempuran bahwasanya Den Mas Suryakusuma sudah menyerahkan diri kepada utusannya terakhir. Apabila tidak mengkhawatirkan bakal pendapat umum, pastilah Baginda tidak rela melepas Sang paman dengan dalih yang bisa dibuae-buat, Namun penilaian orang banyakpun tidak boleh diremehkan, maka untuk somentara wa.ktu apa salahnya, bila Baginda memperlihatkan kemurahan hatinya. Pasulah kemudian mudah dicari alasan yang jitu, untuk menghukum keluarga kebenciannya.

Karena sibuknya memikirkan hal itu, tidaklah beliau lekas rahu bahwa ada sesosok tubuh manusia yang berbadan tinggi hesar, berdiri tegak ditengah jalanan itu. Tahu-tahu jarak mereka sudah terlalu dekat, untuk menghindari pertemllan mereka. Dukan kepalang terkejut hati Baginda berhadap-hadapan dengan orang ini, yang semula disangka salah seorang tokoh dari pihak brandal yang hendak mencuuliknya guna keselamatan pemimpinnya. Otomatis tangan Baginda sudah berpegang pada hulu kerisnya yang selalu dibawa-bawanya. Biarpun Baginda bukan tokoh pemberani, tetapi dialah seorang raja, yang pasti tidak rendah ilmunya.

Dengan hati berdebar-debar, diperdatakannya tamu tanpa undangan yang datang seperti pencuri itu. Rasa-rasanya .........

belum pernah Baginda melihat orang tersebut Mungkinkah ia orang asing mencoba-coba menggerayangi Keraton Mataram?

“Srett ...... !” dengan pusaka kerisnya terhunus, bersabdalah Baginda denqan suara lantang, sekaligus menimbulkan perhatian para jaga kemit yang selalu meronda kepuri keraton ...

“Siapa berani memasuki Taman-Sari tanpa ijin yang berwajib?”

Jawab orang itu anpa memperlihatkan ketakutan sedikitpun. “Aku ini utusan Raja pedagang dari Betawi, namaku Tenung Jalanda, kedatangnnku disini hendak mencari Raja yang baru saja naik tachta untuk mencoba kekuatannya. Kau adalah orang yang boleh leluasa bergerak didalam istana, kau kah Raja yang baru itu?”

“Bukan-bukan ...!” jawab Baginda spontan, mungkin karena jeri melihat orang tinggi•besar ini. “Aku bukan raja yang baru itu ...

biarpun aku masih termasuk keluarga kerajaan.” “Kau bukan raja itu, nah ... dapatkah kau menunjukkan kepadaku, dimana Baginda kini bersemayam.”

“Pasti aku dapat mernberi tahu kepadamu. Perhatikanlah petunjukku ini. Dari sini rumah yaag didiami Baginda itu kira-kira ada satu kilo meter kearah Barat, Rumah itu besar dan mudah dikenal karena ada pintu gerbanguya jang besar dan bagus bentuknya, Pendapa rumah itu berteratak ditengahnya. Kau pasti segera dapat mengenal kembali rurnah Baginda itu. Pergilah kau, dengan meloncati pagar-bata sebelah kanan ccpuri rumah itu, pastilah kau darang dikebun bunga Baginda, mungkin kau masih dapat bertemu dengan Baginda sendiri. Biasanya Raja itu belum tidur, dan berada dikebun bunganya hingga larut malam.”

“Terima kasih..” kata Tenung Jalanda. Suaranya masih menggema ditelinga orangnya sudah berkelebat lenyap.

Kini menjadi longgarlah hati Baginda dapat memperdayai orang berbahaya, utusan yang hendak membunuh Raja baru itu. Dalam hati ia mengucap sukur telah membebaskan Pangeran Puger siang tadi, hingga ia dapat menunjuknya sebagai Raja yang baru. Rasakan saja sekarang enaknya orang menjadi Raja, yang selalu harus berwaspada terhadap segala macam pembunuh rendah.

Sekalipun sudah lewat tengah malam Pangeran Puger masih menikmati udara sejuk-segar dalam taman bunganya sambil memikirkan nasib keluarganya yang selalu diancam bahaja fitnah jahat dari orang-orang rendah, yang suka menjila-jilat Raja. Nasib putranya yang sulungpun sangat menyedihkan. Pastilah anak itu tidak lama lagi akan dibawa ke-Semarang untuk dibawa dengan perahu ke Betawi .. entah bagaimana kemudian jadinya. Demikianlah orang setengah tua itu berjalan larnban hilir-mudik ditengah kebun bunganja, guna melonggarkan rasa sempitnya. Karena heningnya keadaan malam itu, maka suara yang sangat lemah sekalipun masih dapat ditangkap oleh indera pendengarannya yang mernang sangat peka, Dua kali telinganya menangkap suara sebagai orang terjun ditaman itu ... suara orang terjun itu yang satu agak keras, tetapi satunya lagi sangat lemah kedengaran. Orang sakti seperti beliau pastilah tahu menilai tinggi- rendah kedua jenis loncatan tersebut. Kalau loncatan yang. terdengar pertarna berasal dari seorang sakti ... maka suara yang kedua tadi pastilah berasal dari orang sakti luar biasa. Demikianlah penilaian Pangeran itu. Segera ia membalik menghadapi pendatang baru itu. Apakah yang nampak padanya? Seorang laki-laki berbadan tinggi besar berjambang bauk menakutkan, berdandan serba lamuk kelam, nampak berdiri tegar sambil menyeringai iblis, dimukanya.

Pangeran Puger menatapnya dengan mata tajam sekali sambil menyapukan pandangannya kesegala arah, karena hendak mengetahi dimanakah pendatang yang satu lagi tadi ... mengapa ia belum muncul bersama-sama temannya.

Berkatalah tamu malam itu: “Aku mendapat petunjuk orang Kartasura, bahwa kaulah yang sekarang menjadi Raja Mataram baru itu, bukan?”

Pangeran yang cerdas sekali, itu sogera pula tahu bahwa orang sudah memfitnahnya, dan orang itu pastilah Pangeran Anom, atau raja Mataram yang baru, sendiri. Tersenyumlah ia atas fitnah licik baginda itu. Selalu baginda tidak melewatkan kesempatan baik untuk memusnahkan keluarganya dari bumi Mataram. Ya ... apa hendak dikatakan lagi, apabila harus mati karena kehendak baginda, tidak sepantasnya dibuat penasaran.

Jawab pangeran setengah tua itu tenang. “Yakinkah sudah tuan, bahwa aku inilah raja Mataram yang baru? Tidakkah tuan salah mengenal orang? Siapakah yang menunjukkan tuan jalan kemari ini?”

Kata orang itu pula, “Pastilah aku sudah yakin akan kebenaran itu, karena yang memberi petunjuk kepadaku adalah orangmu semdiri, yang kini berada ditaman sari kraton sana. Masakan orang itu tidak lahu siapa rajanya. Orang itu masih muda, berpakaian serba bagus dan berbau bedak harum.”

“Hmmm ... tahulah sudah aku siapa dia. Kalau begitu, pastilah ia benar, dan tahu betul wajah bagindanya. Lalu, tuan mau apakah setelah tahu, bahwa akulah raja Matararn?”

“ Aku diperintahkan umuk mencoba kekuatan raja Maiaram baru, menundukkan atau membuuuh baginda raja, guna perkembangan kumpulan majikanku di Betawi Maka serahkanlah jiwamu baginda, supaya lekas selesai urusanku disini!”

“Ha kau kira gampang saja menundukkan atau membunuh raja itu kau cobalah!”

Baru saja mereka hendak mulai hergerak, tiba-tiba terdengarlah suara tandas menusuk telings lawan: “Tahan dulu ......

Pantaskah tuan mendapat pelajanan dari raja Mataram sendiri, selagi masih ada pengawal pribadinya. Inilah aku Putut Punung, pngawal termuda baginda . Hanya melewati bangkai Punung, pembunuh-pembunuh pengecut, boleh berurusan dengan gustiku.

“Kau Punung?” kata pangeran Puger. “Awas, dia ini berbau racun tidak wajar!”

“Baik baginda, Punungpun sudah mengnadus bau racun itu sejak tadi waktu membuntutinya melompati pagar-tembok. jangan khawatirkan pengawalan, untuk mengganyang pengkhianat asing macam jejadian ini, masakan harus dipergunakan palu-godam yang besar. Bukankah namamu Tenung atau Teluh Jalanda? Hayo, kuraslah segala macam racunmu, akan mau tahu kemampuanmu!”

“Lancang mulut kau pengawal tengik tahanlah seranganku ini, “plakkk” suara tangan beradu keras sekali terdengar, waktu nampak orang itu menjotos lawannya yang tak mau menyingkir, tetapi malahan memapakinya dengan tangan terbuka. Akibatnyapun hebat juga.

Lempengan batu hitam tebal yang pasang rapi sebagai permukaan jalanan ditaman tersebut, dimana kaki Putut Punung berinjak kedua-duanya, pecah berantakan karena tidak kuat menahan tekanan pukulan orang sakti itu. Biarpun kaki Punung tidak sampai tergeser kedudukannya, namun narnpak melesag ditanah hingga mata-mata kakinya, setebal batunya berserakan. Delapan bagian dari kekuatan saktinya dipergunakan dalam memapaki jotosan lawannya, masih juga ia merasakan kerasnya guncangan pukulan itu pada lengan dan bahunya. Maka tak habis ia memuji kehebatan musuhnya.

Tetapi musuhnya nampak mental dua depa bagaikan layang•lajang putus benang, jatuh terjongkok-jongkok hingga beberapa kali, baru dapat memperbaiki kedudukannya, dengan menyeringai kesakitan. Dengan mata melotot keheranan ia memandang kepada Putut Punung. Kiranya hanya orang setengah dewa saja dapat memapaki jotosan saktinya yang dilancarkan dengan sepenuh tenaganya, tanpa mendapal luka sedikitpun. Biasanya barang siapa terkena jotosan sakti beracun ini, pastilah menjadi remuk luluh menjadi hangus karena ampunya …. Mengapa dikolong langit ini masih ada orang yang dapat menahannya dengan baik sekali, malah dia sendiri hampir rubuh dalam segebrakan itu juga. Lengan dan bahunya terasa hampir copot dari badan, tangan kanannya terasa lumpuh seketika, terasa berat menggelantung di bahu, masih untuk tidak mendapat patah tulang pergelangan …. sakitnya bukan buatan.

“Hai, hai, inilah hebat …. Kalau demikian tinggi kesaktian seorang seorang pengawalnya, bagaimanakah kedigjayaan baginda sendiri. Syukur ia tadi belum menyerang baginda secara nekat. Andaikata itu terjadi, tidakkah ia menjadi kura-kura sudah. Namun Tenung Jalanda adalah tokoh sakti yang sudah mendapat kepereayaan orang banyak, hingga masih merasa kurang puas menerima kekalahannya dalam satu gebrakan saja. maka setelah merasa pulih lagi kekuatannya, segera ia melolos golok besarnya, menantang lawannya mempergunakan senjata. “Kau cabutlah senjatamu! Mari kita bermain-main dengan kekuatan senjata!”

“Bagus, bagus,” kata Punung …. Tahu-tahu dia sudah menggeggam pedang „Lamuk‟ dengan pamor berkredepat seperti kunang-kunang berebut tempat.

Kedua jago itu mulai bergera mengembangkan permainan masing-masing. Golok Tenung Jalanda mendesing-desing di udara, melontarkan angin dingin berbau anyir. Sedang pedang Putut Punung nampak membuat lingkaran-lingkaran besar kecil, merata dan miring kesegala arah, menyebar bau minyak pudaksari yang harum merata melintasi bau anyir golok lawannya.

Datanglah serangan Jalanda, goloknya membabat lambung musuh, tetapi entah bagaimana gerakan lawannya itu, tahu-tahu goloknya sudah terlobat dalam gerakan pedangnya Punung. Dan anehnya …. golok itu selalu mengikuti gerakan yang dibuat pedang sakti tadi, tidak mungkin lagi dicegah jalannya, sekalipun Jalanda berusaha keras menarik kembali goloknya. Hanya selaki-sekali libatan pedang itu memberi kelonggaran, hingga dapat ditarik bebas, seolah-olah Jalan da diberi kesempatan untuk memperbaiki gaya permainannya. Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Jalanda, segera ia merubah aksinya, Serangan-serangan goloknya selalu dilancarkan sarnbil meloncat keatas, hingga goloknya datang menyarnbar dari atas kearah kepala musuhnya. Tetapi musnala h keganasan serangan itu karena batang goloknya selalu berternu dengan pedang sakti lawannya yang menempel erat melekat memberi arah jalannya golok ... menyeleweng kesarnping.

Setelah beberapa kali pedang itu memperlihatkan keunggulannya, kembali golok besar itu seperti kalap dayam gulungan pedang Nagasura. Sekali lagi Punung memberi kesemparan lawan berbuat lain ... memang ia hendak menjajagi kemarnpuan musuh ini, disamping ia tidak hendak menghabisi jiwanya ...

Bukan main kejengkelan Jalanda, karena merasa di permainkan sejadi-jadinya oleh Punung itu, bertekadlah ia mengadu jiwa, mati bersarna dengan lawannya. Sambil bergulingan ditanah, goloknya menyerang bagian bawah tanpa memilih arah. Jakinlah ia bahwa goloknya sekarang tidak lagi dapat digulung oleh pedang musuhnya, karena banyak merapat dengan tanah. Sebenarnya ia mengharap harap lawan itu akan mempergunakan kesempatan baik ini untuk menghablsi jiwanya dengan sekali tusuk, dan pada waktu ia akan terbinasa karenanya, pastilah mendapat kesempatan untuk menusukkan a tau mernbabat kaki musuh itu, hi ngga dapat mati bersarna sama.

Benar saja ... Putut Punung sudah menggerakan tangan nya, menusukkan pedangnya kearah ulu-hati lawan cepat bagaikan kilat menya mbar, Tenung Jalanda memeramkan matanya, sambil membabatkan goloknya kearah kaki lawan. … tahu-tahu golok besar Jalanda sudah kutung menjadi tiga ….. .….. Class-class-casss … terdengar logam beradu tiga kali, menimbulkan suara aneh, tahu tahu golok besar Jalanda sudah kutung menjadi tiga . . . tinggal hulu golok yang masih dalam genggarnannya melulu, sedang Putut Punung berdiri tegak dengan pedang bergoyang goyang disamping musuhnya yang masih meram. Jalanda yang sudah merelakan jiwanya mati bersama, menunggu datangnya tusukan pedang lawan, tetapi lama juga ia menanti nanti, ujung pedang itu belum terasa menembus dadanya.

Maka alangkah kagetnya, waktu membuka mata melihat Punung berdiri tersenyum-senyum dengan menimang-nimang pedang saktinya. Mau tidak mau menjadi heranlah ia memikirkan sikap lawannya itu.

Mengapa dia bersikap demikian …. apakah benar, ia tidak akan. membunuh musuh yang sudah ditaklukkannya, atau sengajakah ia memperrnainkannya seperti dalam pertempuran bersenjata tadi. jangan menyangka Jalanda takut mati.

Berkatalah ia sambil menghina musuhnya supaya segera menerima kematian selekas mungkin: “Kunyuk buduk, jangan kau kira aku takut mati atau menyayangkan jiwa kura•kuraku yang tak punya guna mi. Hayo, tusukkanlah pedangmu itu, tidak bakal kamu mendengar jeritanku. Atau takutkah kau melihat darah merah mengalir? Mari sini, pinjamkan pedang itu, aku berjanji akan menggorok leherku sendiri dimuka rajamu ... mari-mari!”

Kini bersabdalah Pangeran Puger yang dalam adegan mi berlaku sebagai Raja Mataram ... “Tenung Jalanda ... kau dengar, bukankah kau ini hanya seorang utusan saja. Tidak perduli siapa yang mengutusmu, tetapi nyatanya kau hanyalah pelaksana pemikiran orang lain. Aku berpendapat, kiranya tidaklah perlu bagimu, untuk berbuat nekad-nekadan sampai batas mengorbankan jiwa segala. Cukuplah rasanya bila kamu sudah berusaha sekuat tenagamu melaksanakan itu dengan sebaik-baiknya. Sukurlah bila usaha itu berhasil baik, tapi sebaliknya pengutusmu tidak seharusnya merasa kecewa kalau kau tidak berhasil. Nah ... sekarang kau kembalilah kepada majikanmu, untuk melaporkan hasil yang sudah kau laksanakan, Kurang puasnya majikan itu, suruhlah dia datang sendiri menemui aku!”

Menunduklah Tenung Jalanda karena merasa kebenaran ujar Baginda, merasai kebijaksanaan serta welas asih junyungan negara Mataram. Sambil membungkuk horrnat berkatalah ia dengan nada gemetar, .

“Aku junjung tinggi titah Baginda, perkenankanlah aku pergi sekarang juga, perkenankan pula aku mengucap terima kasih banyak-banyak atas kemurahan hati Baginda.”

“Baik kau pergilah dengan damai, aku hanya berpesan jangan sekali-kali kamu mengganggu anak buah negaraku.”

“Baginda, aku menerima perintah.” kemudian mencelatlah orang sakti itu dari muka Pangeran Puger dan Putut Punung.

Sejenak kemudian berkatalah Pangeran setengah tua itu kepada putia kekasihnya: “Punung, terirna kasih nak atas segala perbuatanmu dalam hari-hari suram belakangan ini terhadap keluargamu.”

“Bukankah itu kewajiban anak yah, anak merasa berbahagia dapat berbuat sesuatu terhadap sanak-kadang kita.”

“Bagaimanakah dengan kakakmu Suryakusuma?”

“Kangmas ditahan digedung Srl-manganti dan dijaga kuat sekali. Tiga had lagi tahanan akan dilanyutkan keemarang menunggu kedatangan perahu yang akan membawanya ke Betawi. Sudahlah yah, jangan pikirkan dia lagi, serahkan kangmas kepada aku, pasti anakrnu tidak akan tinggal diam, untuk berdaya meringankan penderitaannya, sukur sampai kepada pembebasannya.

****

PADA MALAM itu, waktu baginda hendak masuk kedalam kamar peraduannya, meninggalkan perimah wanti-wanti kepada para jaga kemir, supaya berhati-hati sekali, karena mungkin sekali kraton akan kedatangan-telik sandi mangendra-jala (pembunuh utusan musuh), dengan maksud jahat terhadap baginda sendiri atau keluarga keraton.

Walaupun sudah berada didalam kamar peraduannya sendiri dan dijaga oleh para kemit lima orang bersenjata lengkap didepan kamar itu ……. masih juga baginda merasa kurang aman, hingga semalam suntuk beliau tidak dapat memejamkan mata, untuk tidur barang sekejap. Selalu teringat akan orang tinggi-besar yang menyumpainya ditaman-i;ari tadi.

Terpaksa beliau selalu memikirkan, apakah yang gerangan terjadi pada waktu itu dirumah pamannya Pangeran Puger. Rasa- rasanya tidak mungkin orang yang mengaku bernama Tenung Jalanda itu, tidak dapat menemukan rumah Sang Pangeren.

Jang masih menjadi pikiran baginda, ialah … apakah Pangeran Puger mau saja menerima dikatakan sebagai raja yang baru naik takhta itu. Bila pamannya itu menerima baik karena bendak menolong muka raja ... pastilah sudah terjadi pertempuran yang luar biasa hebatnya antara Sang Pangeran melawan utusan itu. Siapakah pula yang keluar sebagai pemenang?

Menurut perhitungan dengan penilaian kesaktian, mungkin sekali sang paman tidak mudah dikalahkan sekalipun tidak mudah pula mendapat kemenangan atas lawannya yang nampak demikian kuat dan digdaya. Andaikata Sang Pangeran jang dapat menghalau lawan apakah Pangeran Puger tidak akan memandangnya dengan

mata sebelah? ... Ya-ya, hal itu bisa terjadi, tetapi itulah sama halnya dengan tindakan membunuh diri beserta keluarganya.

Seandainya Pangeran Puger yang terbunuh dalam pertempuran itu, tidakkah itu lebih berbahaya bagi baginda, karena Tenung Jalanda, cepat atau lambat pasti datang lagi mengunjunginya, untuk menghinanya telah berbuat curang yang rendah.

Pemikiran-pemikiran semacam itulah yang sangat menggelisahkan baginda, hingga tidak dapat tidur sama sekali. Tilam yang hangat lunak lagi nyaman, malam itu tidak dapat membuai baginda dalam alam mimpi, tetapi justr dirasakan sebagai penghambat rasa kantuknya, karena terlalu panas. Baru menjelang pagi baginda terjatuh tidur karena kelelahan namun juga tidak terlalu lama, baru sepemakan sirih sudah meloncar bangun karena mimpi buruk.

Pagi itu embun masih belum jengkar dari permukaan bumi, papatih dalem, Adipati Sumabrata sudah dipanggil baginda karena soal yang penting. Titah baginda sesudah paman pati menghadap. “Sumabrata, kau pergilah kerumah paman Pangeran Puger. Tanyakanlah apa peristiwa semalam sudah dapat dibereskan?!” “Gusti, persoalan apakah yang harus ditanyakan itu …. adakah soal itu menyangkut Den Mas Suryakusuma yang telah ditahan dikamar Sri-manganti?”

“Bukan Sumabrata, kejadian semalam sangat mengejutkan hatiku …..!” Berceritalah baginda tentang kejadian semalam itu ditaman sari. Oleh karena itu beliau ingin sekali tahu bagaimana kesudahannya. Dengan membekal pengertian itu, pergilah Raden Adipati Sumabrata kedalam kapugeran, diiringi pengawal bayangkara kepatihan lima orang.

Kedatangan pepatih dalem itu diterima dengan senyuman angker oleh Pangeran Puger, yang pasti saja segera tahu akan permasalahannya. Mahapatih dipersilakan duduk ditengah pendopo besar, pada kursi berhadap-hadapan dengan sang Pangeran sendiri. Kata kanjeng Pangeran Puger, “Ai, ai…. Kakang Patih Sumabrata, pagi-pagi amat sudah datang berkunjung, pastilah ada hal yang penting yang hendak dibicarakan. Silakan… silakan kakang… tak usah sungkan-sungkan lagi. Adakah soal penting yang harus kita bahas bersama?”

Jawab kidipati, “Memang ada gusti pangeran, terangnya aku hendak menanyakan tentang kejadian semalam yang mungkn sekali menyangkut kanjeng pangeran. Adakah bingkisan raja tadi malam sudah diterima dengan baik dan dibereskan oleh gusti pangeran?”

“Ya, kira-kira demikianlah kakang, bingkisan baginda telah sampai kepada saya …… kini segala-galanya sudah beres!”

“Sukurlah bila demikian, aku sudah mengira babwa gembong Kartasura, adalah satu-satunya orang yang paling tepat menerima bingkisaa itu, Akan aku sampaikan berita yang menggembirakan ini kepada baginda raja yang pasti berkenan sekali mendengarnya. Masih ada hal yang penting hendak pangeran katakan? Bila tidak ada pesan-pesan berharga dari pangeran lagi, perkenankanlah aku kembali ke-keraton menghadap raja !”

****

Nun jauh dari pergaulan manusia, dalam rimba pada kaki gunung Lawu, terdapet sebuah gua yang cukup lebar dan bersih, hingga mudah diterka, bahwa gua itu pasti ada penghuninya. Memang gua itulah yang didiami oleh seorang pemuda berbadan tegap-paseg yang dandanannya sangat sederhana, terdiri dari celama hitam longgar, berbaju kutung dari bahan jang sama, Kaia batik yang sudah masam dilipat dua, menggubat pada lambungnya . Potongan wajah pernuda itu, terhitung cakap, bila jambang bauknya yang tumbuh lebat agak dipiara atau dipangkas rapi, demikian pula deugan rambutnya yang gondrong awut-awutan mendapat pemeliharaan yang cukup baik. Namun pemuda itu agaknya tidak menghiraukan soal pertumbuhan segala macam rambutnya.

Tidaklah mudah menyelami sikap pernuda yang aneh ini, Lebih suka hidup menyendiri dan menderita, bersunyi-sunyi didalam gua yang jauh dari keramaian hidup masyarakat. Setiap hari deri pagi sarnpai peta ng, bahkan sering sampai larut malam. berlatih ilmu beladiri, yang diajarkan oleh pemimpinnya.

Itulah dia, pernuda yang pernah mernbuat gara-gara diibukota dengan melepas gajah, yang telah dianggap berdosa terhadap masarakat kola Kartasura, Dialah yang sekarang ini bergelar Pututparnuk, narna pemberian dari Putut Punung, pemimpinnya .

“Saking patuhnya dan mantapnya, sedikitpun ia tidak mau menyimpang dari pedoman yang diberikan oleh sang guru, maka hiugga sekar~ng telah enam bulau ia bertekun ilmu silat dan pengerahan tenaga-saktinya disekitar gua itu. Sudah barang tentu bahwa ia sekarang bukanlah pemuda yang ketakutan melarikan diri dari Kartasura dulu. Tentang kemampuannya yang sekarang, tidaklah dapat dibandingkan dengan keadaannya yang duhu, karena berbeda sebagai bumi dan langit. Tokoh-tokoh kuat dari kota mungkin tidak sanggup lagi menghadapinya, kecuali para gembong kawakan negara.

Dinihari waktu ia sedang asik berlatih pukulan saktinya ia dikejutkan oleh angin santer luar biasa yang mampu membendung angin pukulannya sendiri .. malahan mampu membuat kuda kudanya tergoncang hebat. Terpaksa gempurlah kuda kudanya itu, ia meloncat kesamping untuk menghindari gempuran lanjutannya. Berserulah ia: “Tamu sakti dari mana sok suka menggoda orang tidak berbuat salah ini? keluarlah dari persembunyianmu, bila hendak memberi petunjuk kepada aku yang masih rendah ini ilmunya!”

“Ha..ha..ha ... kakang Pamuk, kau sudah berhasil baiik sekali dengan latihanmu, selamat-selamat kuucapkan!”

Berhenti suaranya, orangnya sudah muncjul dari balik semak yang rindang. Dialah Putut Punung yang datang untuk menjenguk dan membebaskan muridnya dari sanggeman.

Keruan saja Punuk lari berjingkrakan mendekati sang kyai, untuk melepas rasa rindu dan harunya. Tanpa dappat dicegah lagi Pututpamuk menyibak lambung sang pernimpinnya dengan isak- tangis kegembiraan .... “O, kyai …. aku rindu pada tuan.!” kata Pamuk terhenti•henti karena harunya.

“Demikianlah kiranya rasaku terhadapmu kakaug. Tetapi kini kita bisa bertemu dengan selamat maka wajiblah kita bersukur kepada Tuhan!” “Benarkah ucapan kyai tadi, yang mengenai kemajuanku itu?”

“Pasti benar .... pasti saja kau belum dapat menyamai tenagaku yang dapat membendung tenaga pukulanmu. Itulah karena kakang baru saja dapat menguasai tenaga saktimu. Bila kakang tetap tekun berlatih, pastilah kian maju tenaga saktimu itu?”

“Ah denmas, eh ... kyai, biarpun aku bertekun seribu tahun lagi, masakan aku dapat menyamai tenaga pengajarku. Demikianpun aku sudah sangat merasa beruntung dan berterima kasih atas kemurahanmu kyai, Tak usah kiranya aku mempunyai derajad yang berlebihan.”

“Tentang derajat memang bukanlah persoalan pokok kakang, kesampingkanlah itu, tetapi jangan mengendurkan soal berlatihmu!”

“Baik kyai, aku akan selalu mematuhi petunjuk kyja. Mari- mari kita sekarang masuk kedalam gua dulu, untuk berpesta. Aku mempunyai persediaan dendeng kijang cukup banyak dimakan orang lirna. Aih bukan main nikmat rasa dendeng kijangku yang aku siapkan sendiri. Wedang serbat yang masih hangatpun sudah tersedia!” kata Parnuk dengan bibir sudah berkomat-kamit, muugkin untuk memancing- mancing selera makan Putut Punung saja.

“Ha, rasa-rasa nya k'au sudah pula mendjelrna menjadi tukang masak yang ulung Baiklah, dendeng macam apakah yang dapat kau sajiaan kepadaku itu. Namun yang pasti baik adalah wedang serbat iru, karena aku telah lama tidak bertemu. Namun kedatanganku yang sebenarnya adalah untuk membebaskan kakang dari sanggemanmu. Kalau kau menghendakinya, sejak hari ini kau boleh hidup bebas sekehendak hatimu. Kiranya cukupkah bekal yang kakang yakini untuk menentukan kehendakmu yang meajadi pilihan dan idamanmu sendiri!” “Tidak kyai, aku tidak ingin hidup sendiri. Aku sudah berjanji kepsdaku, bahwa aku akan mengabdi kepadarnu sarnpai hari tuaku, tidak ada suatu kekuatan apapun yang dapat memisahkan aku dari kyai kecuali maut merenggut jiwaku, atau kyai sendiri menolak pengabdianku ini!”

“Bila itu sudah mendjadi tekadrnu, aku juga tidak berkeberatan, kakang selalu didekatku dalam pengabdian kepada umum ini. Kita bisa mengadakan kerja-sarna yang baik, dalam segala hal.”

“Apakah yang dapat kita kerjakan diwaktu terdekat ini kyai, nampaknya kyai sudah ada rencana kerja yang harus segera dikerjakan, bukan?”

“Begitulah kiranya kakang, tetapi kali ini kesibukanku masih agak bersifat pribadi dalam lingkungan keluarga , Ketahuilah, bahwa kakakku yang tertua Den Mas Suryakusuma, dalam waktu dekat ini akan dibawa orang ke Semarang, untuk menjalani hukuman buang ke Selon. Aku hendak membayangi rombongan yang mengantar kangmas itu, untuk melihat gelagat.”

“Ya-ya, pastilah kyai sudah mempunyai rencana kerja, untuk menolong kakak kyai itu. Dapatkah kiranya aku menolong kyai dalam pekerjaan ini, katakanlah!” desak Putut pamuk,

Setelah mereka berada didalam gua menikmati hidangannya. Sejenak Putut Punung termenung-menung, kemudian berkatalah ia : “Memang kakang, aku sudah mempunyai rencana untuk menolong kakakku itu, tetapi nada-nadanya terpaksa aku sendiri yang harus bertindak, karena sangat berbahaya, sedang yang mirip kangmas Suryakusuma memang hanya aku seorang.

Ditengah perjalanan, aku akan memasuki tempat penahanan kakakku, untuk bertukar pakaian. Aku akan menggantinya dalam tahanan, menyalani hukurnan itu ... sampai ditahanan Semarang. Kemudian apakah sulitnya untuk merat dari tahanan itu ....

memancing-mancing regu penjagaan kumpeni, mengejar aku ketcpi laut. Pastilah mereka akan melepaskan tembakan-tembakan senjata mereka setelah aku berenang di laut nanti. ltulah saat kebebasanku

.... Dengan menyelam menyusur pantai, menjauhi lempat semula, pastilah mereka akan mengira bahwa aku sudah mati tertembak, tidak perlu lagi dikejar-kejar.”

“Apakah tidak berbahaja memancing tembakan mereka itu, kyai?”

“Memang hahaya itu ada juga, tetapi bila jaraknya sudah lima puluh meter lebih, tembakan itu sudah idak membahayakan lagi pelurunya. sudah melengkung jalannya dan tidak lurus lagi. Pendeknya aku sama sekali tidak takut menghadapi berondongan mereka!”

“Apakah peranan jang dapat kulakukan kyai, masakan aku tidak boleh berbuat bakti sesuatu!”

“Ada tugas yang dapat kau kerjakan nanti, ialah membawa pergi kangmasku kegunung Dieng atau gunung Slamet, unluk dijauhkan dari masarakat buat sementara waktu. Bersabarlah kalian untuk menanti kedatanganku, berlatihlah yang hebat ditempat yang sunyi sepi, sebagai petapa biasa. Yakinlah bahwa aku pasti menemukan kalian!”

“Bagus, bagus….. sekurang-kurangnya aku mendapat tugas juga. Kapan kita berangkat kyai?”

“Hari ini juga serelah aku cukup beristirahat. Sementara itu kakang boleh berkemas-kemas pembekalanmu!”

Sjahdan sore itu nampak dua orang pemuda perkasa berlari- Iari cepat kearah ibukota Mataram, membekal rencana kerja yang seram menakutkan. Akan berhasilkah pekerjaan mereka itu? Siapakah yang dapat menentukan ... kecuali T'uhan yang menentukan segala kejadian didun ia ini.

****

Hari berganti hari, minggu berganti minggu ... bulan bulan berlalu disusu bulan yang baru.. jagad berputar, kala berjalan maju, Itulah keadaan alam yang tetap berjalan, dengan irama abadi. Berbeda sekali dengan lelakon manusia hidup didunia yang selalu berubah dan berganti corak setiap saat.

Pada suatu hari di hutan Sala, nampak seorang pemuda yang membalapkan kudanya kencang sekali. Sikapnya duduk diatas pelana, menunduk harnpir rapat dengan punggung dan leher kudanya itu sangat aneh dalam pandangan orang yang melihatnya, Namun kemudian orang pasti membenarkannya, karena pernuda tadi tengah dikejar-kejar prajurit kusumatali (berkuda) lima orang yang selalu melepaskan panuh panahnya kearah buruannya.

Tidaklah mudah memanah diatas kuda membalap. Apalagi jang menjadi sasarannya, adalah manusia berkuda yang membalap pula, Tetapi nampaknya kelima prajurii kusumatali itu, pemanah- pemanah ulung. Hampir semua anak panah yang dibidikkan, berjaiuhan tidak ierlalu jauh dari pemuda yang mereka kejar. Tetapi pemuda itupun agaknya bukan orang sembarangan.

Sekalipun tidak menengok kebelakang, bila ada anak panah yang akan menyerempet badannya, selalu dapat digebah jatuh dengan busurnya sendiri yang berada ditangan kanannya. Hanya celakanya ...... karena kuda pemuda itu kini sudah tertancap anak panah pada pangkal paha kaki sebelah kanan, hingga mengganggu sekali kelancaran larinya.

Kini tahulah Bagus Suwarna, dialah pemuda pesolek, yang dikejar-kejar itu bahwa kudanya tidak mungkin dapat berlari terus- terusan, Karena sayang akan kuda itu tersiksa sekali dalam melanyutkan larinya, meloncnt turunlah ia dari Pelananya, dengan loncatan yang indah dan ringan sekali.

Demikia, kakinya menyentuh ranah. mengkeredaplah pedangnya ditangan kanannya. Dengan mata berapi-api ia menantikan musuh-musuhnya. Lima anak-panah berebutan menghujaninya, tetapi sekali pemuda itu menggerakkan pedangnya, mental terhamburlah kelima panah tersebut.

“Kurcaci berbau busuk, majulah kalian bersama-sama, Nampaknya nama radenaju Widasari, ibu almarhum ratu Alit belum cukup sebagai jaminan keamanan perjalanan keponakannya. Hmm, terpaksa pedang dan kerislah yang harus ikut menjamin keselamatan seseorang dalam jaman Amangkurat III ini. Hayo majulah, jangan bersembunyi dibalik kudamu. Tak usah kamu maju seorang demi seorang, hayo keroyoklah aku, biar lekas ada pemberesan!”

“Sombong sekali, kau-kira prajurit tempekah-kelima praurit kusumatali pilihan ini. Masakan lima orang kusumatali tidak sanggup membekuk pemuda banel sepertimu ...?”

“Hajo, maju berbareng, cincang saja jangan tanngung•tanggung. Dalam keadaan negara menghadapi keruwetan besar ini, tak seorangpun yang dicurigai boleh diloloskan keluar- masuk kota. Ganyang dia ... seru pemimpinnya. Majulah kelimanya dari beherapa jurusan dengan pedang dan golok terhunus berkilauan ditangan. Bagus Suwarna berlaku cerdik. Tidak mau ia menunggu hingga mereka mulai menyerang dari dua-tiga jurusan yang pasti tidak mudah ditangkis berbarengan. Maka sebelum mereka berbuat, Bagus Suwarna-lah yang mendahuluinya.

Dengan memekik nyaring ia menyerang kearah satu jurusan ialah arah pemimpin yang memegang golok besar didepannya.

Pedangnya bergerak cepat sebagai kilat menyambar langsung mrngancam tenggorokan pemimpin rombongan yang menjadi kelabakan seketika karena merasa tidak mungkin dapat menangkis lagi. Syukur ada teman yang menolongnya, mewakili menangkis pedang pemuda pesolek lersebut ... trangg . .. terdengar suara beradunya senjata. Tertolonglah pemimpin kusumatati itu, tetapi pedang yang digunakan untuk menangkis serangan itu terpaksa menahan goncangan yang tidak lunak, hingga terpaksa mencelat kesamping, terlepas dari genggarnan yang menangkisnya.

Dari penolong, kini ia harus ditolong teman-temannya yang lain, maka yang paling aman ia menyatuhkan diri, menggelinding kesamping arah kaki teman-temannya, supaya mudah melindunginya. Mulailah pertempuran senjata kerojokan itu meningkat seru dan cepat. Bagus Suwarna kelihatan berkelebatan diantara samberan-samberan pedang golok lawan-lawannya, sambil memutar pedangnya bergulung-gulungan dalam sikap mernbela dan menyerang lawan terdekatnya. Senjata musuh yang bertemu dengan pedang pemuda itu, pasti terpental jatuh ... maka tahulah orang- orang itu bahwa tenaga lawan jauh lebih besar dari kekuatan sendiri. Sedapat mungkin mereka menghindari bentrokan senjata, hingga tidak perlu menjadi bahan perlindungan teman-temannya.

Karena tidak sanggup mengalahkan musuh dengan permainan mereka, sekalipun mengerojok lawan itu, maka mereka berusaha bertahan sekuat dan selarna mungkin. Asal tidak sampai dapat dijatuhkan pesolek ahli gerak ini saja pastilah mereka dapat merebut kemenangan dengan siasat menguras tenaga sipemuda. Kini mereka tidak sengaja menyerang lagi tetapi, memperkokoh daya tahan mereka bersarna. Tahu akan siasat lnyik lawan-Iawannya, Bagus Suwar na jadi semakin marah. Ia lalu mempercepat perrnainannya, hingga musuh menjadi kalang-kabut untuk sementara waktu, tetapi kemudian dapat memperbaiki mereka lagi setelah mendapatkan iramanya.

Pertempuran itu berjalan hingga lebih dari setengah jam ......

Mau tidak mau Bagus Suwarna menjadi gelisah, karena merasa akan segera berkuranglah kekuatannya, sedang kelancaran pernafasannya juga mulai terganggu. Haruskah ia mati konyol dalam periempuran keroyokan ini ... tidak, ia tidak boleh mati sekarang karena ia belumbertemu dengan pemuda pujaannya justru karena ia mempunyai berita penting yang harus disampaikan kepada Putut Punung. Tetapi cara bagaimanakah ia bisa selamat keluar dari pertempuran ini?

Bersambung ke Jilid KIAN LAMA kian berkuranglah gaya tahannya, kian merosotiah permainannya, makin menjadi tipia pula pengharapannya uruuk mendapat kesempatan melanjutkan hidup itu.

Mulai baurlah pemandangannya. Seluruh tubuhnya gemetar kehilangan kekuatan …… terlepaslah pedang ditangannya …… pastilah maut segera datang merenggut jiwanya. Menjadi gelaplah pandangan matanya Suwama jatuh tak sadar kan diri lagi. Lapat

lapat ia masih mendengar sorak lawan-lawannya, terdengar pula suara menggelegar memecah angkasa, entah suara apakah itu.

Agak lama bagus Suwama jatuh pingsan itu, waktu ia membuka matanya dan mendapat kesadarannya kembali, tahulah ia bahwa berada didalam gubug darurat, yang terbuat dari daun-daun jati dan ilalang, Pastilah ada orang yang telah menolong dia dari siksaan prajurit kusumatali itu. Siapakah yang ielah berhasil menolong dirinya itu. la lalu memandang kesegala arah, namun didalam gubug itu tidak nampak seorang pun, tetapi diluar terdengar tarikan orang bernafas halus serta landung sekali, itulah ciri pemafasan orang sakti. Tahulah Suwama sekarang pastilah orang • ini yang telah menyelamatkan jiwanya. Alangkah besar rasa terima kasihnya kepada tuan penolongnya. Berkatalah ia dari dalam gubug itu. “Siapakah tuan yang sudah menolong hidupku ini?”

“Hai .... adik-cilik, kau sudah siumankah?” Muncullah sijembel Punung, dengan senyuman lebar ditengah gubug itu didepan bagus Suwama, lupa akan segala-galanya, lupa pula peranan laki-laki yang sedang drlakukannya, meloncatiah pemuda pesolek itu, langsung menggabrug didada putut Punung yang lebar padat dan diterimanya secara wajar sekali oleh orangnya. Pipi Suwama yang lumer-ramping itu menempel erat kepada dada bidang tersebut, dirangkul erat pula oleh Punung sedang tangan kanannya membelai rambut pemudi itu, yang sudah kehilangan destarnya. Hilanglah sifat jantannya bagus Suwama …... dia sudah menjelma menjadi gadis cantik manis mirip sekali dengan tubuh Ratu Alit dalam keseluruhannya kecuali warna kulirnya.

Tanpa tedeng aing-aling lagi kini memancarlah sorot mata yang menyatakan kasih mesra Niken Sasanti Suwarni kepada Putut Punung. Sebaliknya, mudah diterka apakah yang terasa oleh oleh pemuda gagah perkasa itu terhadap Niken Suwarni. Dengan suara terhenti-henti berkataJah Suwama, “Kak Punung, …. Kau…. kau sudah rahu, aku siapa?”

“O, sudah ... sudah lama sekali dik sudah sejak kita bersama- sama turun dari gunung makam Imogiri dulu!”

“Ah, giila benar …!” gumam gadis itu “Apanya yang gila benar itu dik?”

“Lelakon manusia hidup ini, lebih-lebih lelakon kita sendiri, coba pikirlah, ….. apakah ada orang yang mewariskan pacarnya kepada orang lain. Itulah yang terjadi didalam hidupku ini ….. gila benar, bukan kak?”

“Menyesalkah adik mendapat warisan itu?” tanya Putut Punung dengan memandang mesra kepada Niken Suwarni. “Tidak, … tidak sama sekali ….. bahkan aku merasa berbabagia sekali, asal aku dapat mengabdi kepadamu betul-betul.”

“Baiklah dik, kita akan bahu membahu mengabdi kepada masyarakat umum. Kini kita membicarakan soal-soal lain dulu, …. Mengapakah adik sampai dikejar-kerjar prajurit Kusumatali Kartasura itu?”

“Hm, agak panjang ceriteranya, tetapi garis besarnya aku hendak keluar dari kota untuk mencarimu karena ada berita penting yang kau harus mengetahuinya. Tetapi aku tidak diperkenankan keluar oleh para penjaga pintu gerbang biarpun lalu-lintas keluar masuk kota masih ramai. Hanya akulah yang mereka tahan dengan dalih mencurigakan. Karena kehebohan-kehebohan yang terjadi belakangan ini didalam ibukota, maka penjaga pintu gerbang mendapat kesempatan untuk berbuat yang tidak-tidak terhadap orang-orang yang mereka anggap kurang wajar.

Sudah barang tentu aku menerangkan hubungan keluargaku dengan denaju Widasari, namun mana mereka mau menggubrisnya, mungkin kalau ku sertai cincin emas sehentuk saja keteranganku itu dibenarkan dengan sikap membungkuk-bungkuk. Siapakah yang tidak menjadi jengkel karenanya. Maka aku terjang mereka dengan kudaku, lalu melanjutkan perjalananku dengan membalapkan kuda tunggangku.

Sebentar kemudian terdengar derap kuda pengejar-pengejarku itu. Terjadilah kejaran dengan melepas panah kepada aku. Bila kudaku tidak terkena anak-panah, belum tentu mereka dapat menyandak aku. Tetapi nyatanya terpaksa aku bertempur melawan keroyokan mereka, dan kakak tahu sendiri kesudahannya. Bila kau tidak keburu datang, pastilah aku sudah mereka bunuh. Oleh karena itu terimalah kini ucapan terima kasihku!”

“Apakah kehebohan yang terjadi di Kartasura itu?” “Kak Punung, dimanakah kau waktu belakangan terdekat ini, hingga kakak tidak tahu ibukota Mataram terguncang hingga pada dasa nya?”

“Hai, hebat sekali tutur-katamu itu. Aku menjadi ingin tahu sekali mengetahui kejadian-kejadian di Kartasura pada akhir-akhir ini. Tetapi, biadah aku bersabar sejenak, umuk memenuhi permintaan adik, mengabarkan dimana dan apakah yang kuperbuat dalam hari-hari belakangan ini.”

Maka berceriteralah Putut Punung rentang kejadian-kejadian yang dialaminya, dalam usahanya mepolong denmns Suryakuma, waktu dibawa ke Semarang oleh pihak Kompeni. Segala apa yang pemah direncanakan, dapat dijalankan dengan selamat dengan membawa basil sebagai pemikirannya.

Akhir-akhir ini Punung mencari tempat persembunyian kedua or'ang buruan itu, yang dapat diketemukan dilereng gunung Dieng yang sangat berbahaya itu, supaya jangan mudah dapat diketemukan orang. Setelah memberi perunjuk-perunjuk yang berguna, mereka berpisah lagi masing-masing dengan tugas tertentu.

Denmas Suryakusuma berserta Putut Pamuk akan bertapa bertekun ilmu dipegunungan itu sedang Putut Punung kembali kepada masarakat Mala.ram.

“Nah itulah dik, apa yang sudah kujalankan dalam waktu aku tidak berada disekitar pusat negara Mataram. Kini, giliranmulah untuk menceriterakan, kejadian-kejadian di Kartasura belakangan ini!”

“Kak, kaupun tahu akan makna peptah yang berbunyi, Raja alim, raja disembah …… raja lalim taja disanggah, bukan?”

“Adakah hubungan pepatah itu dengan ceriteramu?” “Pasti kak, karena ceritera ini berpokok pangkal pada kelaliman, kerakusan dan kemesuman orang yang paling berkuasa di Mataram ini. bila kau menghendaki ceritera yang mendalam , pastilah sangat panjang ceriteranya karena berbelit-belit tidak karuan. Maka, kini dengarkanlah ceriteraku dalam garis besarnya saja supaya kakak lekas mengerti persoalannya dahulu. Tentang seluk beluk lelakon Kartasura itu, boleh diceriterakan lebih jelas dikemudian hari saja.

Dengarlah sekarang yang penting-penting saja. baginda telah berani berbuat dosa yang tidak ada bandingannya, ialah merusak pagar ayu dengan menggunakan kekuasaannya. Wanita yang menjadi korbannya adalah Den Ayu Pakuwati, isteri kedua Pangeran Dipati Sampang, Harya Cakraningrat. Dipati itu pasti saja tidak dapat menerima hinaan itu. ia bersama-sama bupati Surabaya, bertemu dengan Pangeran Puger dan memaksa supaya beliau suka menjadi Raja Mataram demi keutuhan negara ….. kebetulan ada utusan dipati Semarang yang menangis mohon perlindungan kanjeng pangeran terhadap fitnah rendah dihadapan sri sunan dan minta supaya Pangeran Puger suka mendengarkan ceritera rakyatnya.

Demikianlah, terjadi desakan terus menerus kepada sang pangeran, untuk suka menjadi raja. Ketiga bupati itulah yang sanggup membantunya. Pihak kumpenipun tidak suka lagi terhadap tindakan sri sunan yang sudah merajakan diri sendiri tanpa menunggu advis dari betawi. Malahan lalu berjanji akan menolong pangeran Puger bila terjadi perang perebutan negara.

Maka masaklah waktunya bagi pangeran Puger, untuk menerima desakan para punggawa itu. lima hari yang baru saja lalu ini, pada waktu malam, keluarlah kanjeng pangeran, meninggalkan kota bersama-sama dengan sanak kadangnya, diikuti punggawa yang lebih suka mengabdi kepadanya. Kini beliau sudah berada di Semarang.” “Tidakkah beliau mendapat kesulitan, waktu meninggalkan ibukota?” tanya Punung.

“Pasti saja tidak, karena yang mendapat tugas pengejaran adalah dipati Surabaya dan para bupati mancapraja lainnya. Dipati Surabayalah menempati tempat dimuka sendiri hingga dapat menghambat kelancaran jalan pengejaran itu!”

“Hebat, … hebat sekali, kejadian di Kartasura akhir-akhir ini,

….. bagaimana …..”

“Sudah kak Punung jangan tanya lagi tentang soal-soal yang kecil. Bukankah aku sudah berjanji akan menceriterakannya, sabarlah. Cerritera yang mendalam itu pastilah agak panjang hingga harus ada waktu tertentu untuk menguraikannya sampai mendalam. Lebih baik kita bicara dari hal yang ringan menggembirakan saja.

Kak, apakah pantas kita selalu berdekatan sekali sebelum kita mendapat pengesahan dari orang tua kita.”

“Bagiku tidaklah menjadi soal bila kita dapat membatasi pergaulan kita saja. Tetapi sebaiknyalah, bila kita segera pergi kepada para berwajib, untuk mendapatkan perkenan mareka.

“Apakah rencanamu sekarang?”

“Aku akan membawamu secepat terbang kepada orang tuamu, untuk mendapat perkenannya, kita hidup berdampingan sebagai suami isteri. Kemudian kau akan kubawa mengembara, membayangi pangeran Puger, untuk memberi bantuan bila dipedukan.-

“Baiklah kak, mari kita laksanakan rencanamu itu.”

Hari itu juga Putut Punung bersama sama niken Suwami berangkat kedesa Samakaton. ****

Dupat digambarkan betapa senang dan rasa gembiranya, bila asjik dan masjuk saling bertemu setelah lama berpisab.

Seribu kata hendak meloncat dari mulut sekaligus, seribu rasa mtiluacur mesra dari hati laggsung kehati, untuk berjalin erat dalam suasana gembira. Itulah pula yang dialami oleh dua sejoli, yang kini berjalan bergandengan dalam hutan Sukawati ….. niken Suwami dengan Putut Punuog meauju kedesa Samakaton, kerumah kyai bekel Jagarejana.

Betapa banyak perkataan yang h~ndak mereka pergunakan untuk menyatakan isl hati masing-masing namun kenyataannya, mereka bungkam dalam seribu-bahasa. Agaknya cukuplah segala perkataan mereka diucapkan dengan melalui jalinan tangan-tangan mereka.

Sekali-sekali terdengar tarikan nafas memanyang, untuk kemudian disambung dengan berpandang-pandangan dengan mata penuh kasih-sayang ….. maka selalu macetlah kata-katanya.

Akhirnya niken Suwamilah yang mengakhiri berbahasa•hati itu, Biarpun tangan mereka masih bergandengan, namun mengenai peristiwa-peristiwa biasa, terpaksa mereka menggunakan perkataan- perkataan yang dilisankan ... “Kak Punung ... dengan cara bagaimanakah kakak menyingkirkan kelima pengeroyokku itu?” bertanya Suwami tiba-tiba,

“O, itu ... biasa saja. Mereka meninggalkan kita secara sukarela.” jawab Punung lucu, “Mana bisa, sukarela ... kecuali mereka mendapat hajaran- hajaran yang mengesan, hingga mereka itu terpaksa lari bercawat ekor, sebagai anjing kena gebugan.”

“Kalau tidak percaja ya sudah, mereka benar-benar dengan senang hati meninggalkan kita, malahan memberikan hadiah kelima pedang dan goloknya. Bukankah mereka itu berbaik hati sekali?”

“Hmm, tahulah aku akan kemurahan hatimu terhadap musuh musubmu. Pasti mereka itu hanya terkena gerajangan jari tengahmu saja, hingga mereka tidak dapat bergerak lagi tanpa kehilangan kesadaran. Kemudian kau suruh mereka kembali kekota, Sebenarnya aku masih ada pertanyaan satu lagi….. ingin benar aku mendengarkan ceriteranya sampai sejelas-jejasnya tetapi aku takut kakak tidak mau menceriterakannya soal itu hingga seluk beluknya.”

“Soal apakah itu adik, coba katakanlah, aku berjanji menceriterakannya sampai jelas semuanya.”

“Tentang kakak berhasil mengganti kakakmu yang tertua dalam tahanan Belanda, sampai kakak dapat memperdayai mereka menganggap denmas Suryakusuma sudah mati tertembak dalam laut pantai Semarang dulu...”

“Baik akan kuceriterakan asal adik juga berjanji, segera menceriterakan apa yang terjadi dalam keraton Kartasura, hingga terjadinya segala keruwetan ini. Nah ... dengarkanlah!”

“Malam itu adalah malam terakhir dari penahanan denmas Suryakusuma ditahanan Semarang. Besok beliau akan diberangkatkan ke Betawi dengan kapal Bugis yang sudah berlabuh dipelabuhan Semarang ... kira-kira meter dari pantai. Tempat pertahanan itu berupa rumah biasa, kediaman seorang kapitan Belanda bujangan, dan dijaga oleh dua regu prajurit. Dapat dibayangkan betapa ketatnya penjagaan itu, tetapi agaknya belum pemah terjadi para penjaga menemui suatu halangan dalam tugas mereka, hingga mereka itu tanpa kecuali bersikap saagat lengah. Dari pada mementingkan soal penjagaan, mereka itu lebih mengutamakan bermain mabuk-mabukan beserta perempuan- perempuan bayaran. Maka bagiku tidaklah terlalu sulit untuk menidurkan kedua penjaga pintu masuk keruangan kamas Suryakusuma.

Sambitanku dengan kersik kecil-kecil, tepat mengenai otot tidur kedua prajurit yang diringgalkan sebagai penjaga tersebut. Tidurlah kedua orang itu dalam posisi duduknya sambil mendekap senapan mereka, Dipandang dari jauh, pastilah orang tidak tahu tentang keadaan mereka yang sebenarnya.

Diam-diam aku menjelinap masuk der.gan mempergunakan kunci yang berada ditangan penjaga itu bertemu dengan kamas .. Yang sangat sulit bagiku sekarang, justru untuk memaksa kamas, segera • meninggalkan tempat itu karena aku akan menggantinya sebagai tawanan. Tidak cukup dua kali aku menerangkan rencanaku hendak mirat ditengah jalan, memancing mereka kepantai dan sandiwara •pura-pura kena tembak lalu teggelam dilaut...

Mula•mula kama'l tetap tidak mau tahu tentang pengorbananku itu, mungkin beliau mengira aku akan benar-benar menggantinya sebagai orang buangan. Hanya dengan sumpahku yang bertubi-tubi saja kamas akhirnya mau percaja dan suka bertukar pakaian denganku. Selelah selesai pesan-pesanku, kamas kudorong keluar melewati pintu itu juga, menguncinya lalu meletakkan kunci itu ditangan penjaga yang berada disamping meja penjagaan.....

Menurut pantas kedua penjaga itu akan tidur mendengkur hingga dua jam lamanya. Sebelum dua jam itu, orang tidak usah berharap dapat membangunkan mereka, sekalipun dengan membunyikan meriam dekat telinganya

Dengan beresin tiga kali berturut-turut disambung dengan menguap beberapa kali, bangunlah kedua oran- itu. Syukurlah peristiwa ketiduran diwaktu bertugas itu tidak ketahuan orang atasan mereka, karena mereka sendiri juga melewatkan tugasnya dengan pilihan masing-masing. Kira-kira jam dua malam para penjaga itu baru lengkap jumlahnya, jakni orang termasuk kapten penghuni rumah. Anehnya tak seorang juga memerlukan melihat keadaan tawanan didalam kamar tahanan, Jakinlah kiranya mereka itu akan keberesan segala-galanya ……. tidak tahunya, bahwa tawanan aslinya sudah diganti lain orang …….

Esok paginya kira-kira pukul , denmas Suryakusnma pengganti, dibawa dengan kereta yang dikawal oleh dua regu prajurit berkuda kearah pelabuhan.

Tak seorangpun tahu atau mengira bahwa yang dibawa kepelabuhau itu adalah denmas Suryakusuma palsu bukankah

orang yang ditahan itu berpakaian demikian ... dan orang mengenakan pakaian iiu pula jaug mereka kawal sekarang ini? Maklumlah denmas Suryakusuma memang hampir sebentuk dan seraut dengan adiknya yang satu ini, hingga mudah sekali yang satu mewakili yang lain, bila orang tidak sangat teliti melihat ciri-ciri perbedaan mereka Yang sangat kecil, kecuali kepadatan dan kekekaran dadanya , Maka yakinlah para prajurit itu bahwa segala sesuatu akan berjalan lancar dan beres semua. . . . .

Oleh karena itu betapa besar terkejut hati para prajurit tersebut, waktu datang ditempat tidak jauh lagi dari pelabuhan mengalami perisnwa Yang belum pemah terjadi selama-lamanya dalam kalangan mereka. Pada waktu itulah aku mulai beraksi melaksanakan rencana ku, mirat dari tahanan. Kedua pengawal yang duduk bersamaku didalam kereta, aku lemparkan keluar, masing-masing membentur pengawal berkuda, hinga mereka jatuh bersama-sama ditanah. Kereta aku genjot bejat, sang kusir jatuh jungkir balik, membawa serta seorang kawan berkuda pula.

Segera aku meloncat dibelakang salah seorang kapaleri …… Orangnya aku jungkir balikkan, kudanya aku keprak lari sejadi- jadinya, meninggalkan barisan pengawal. Sudah barang tentu para prajurit kawal tersebut mula-mula hanya terkejut dan terheran-heran melulu. Baru sejenak kemudian mereka menginsjaf'i apa yang sudah terjadi, dan apa pula yang harus mereka jalankan, Maka meledaklah jeritan-jeritan mereka tinggi rendah, sambil memacu kuda mereka mengejar saja.

Kudaku kupaksa langsung menuju kelaut, membalap dipantai yang berpasir tebal sekali. Dapat dibayangkan betapa lambat larinya, karena kaki-kakinya masuk agak dalam dipantai pasir itu. Demikian pula kuda-kuda prajurit yang mengejarku, tidak mungkin dapat lebih cepat larinya dari pada kendaraanku …… hingga jarak antara kita tetapkurang lebih seratusan meter. Terdengar beberapa kali orang melepaskan tembakan. Namun tak satu peluru sampai kepada jarak sekian jauh masih berbahaya, karena jalannya sudah melengkung, bererjatuhan ditengah jalan. Memang, ... aku tahu benar tenlang soal itu, karena aku pemah mendapat pengertian dari seorang prajurit Belanda yang berada diben teng Kartasura.

Untuk mengelabuhi mata para pengedjarku itu, biarpun aim tidak terkena tembakan, aku pura-pura menjerit dengan menggerakkan kedua tanganku serabutan keatas, seperti orang terluka dipunggungnya. L'emudian aku merebahkaR badan kemuka, merangkul leher kudaku ... terus masuk kedalam laut. Dengan sengaya aku meluncur jauh-jauh dari atas kudaku, supaya nampak seperti tiada berdaya lagi untuk menahan jatuhku itu. Masih aku berlagak dapat berdiri lagi, senggojoran. melanjutkan perjalanan di dalam air, itulah karena aku hedak menjauhkan diri dari tepi pantai, juga memancing tembakan mereka sekali lagi ... Dengan gaya jatuh-bangun, jatuh bangun, menjauhkan diri dari tepi, aku berhasil sekali lagi memperdayakan mereka.

Lima kali terdengar tembakan mereka dari tepi laut. Walaupun tak sebutir peluru mengenai badanku, aku bergerak serabutan sebagai orang sekarat karena luka berat. Nampaknya badanku bergulingan dipermukaan laut, kian menengah untuk lambat lambat tenggelam ditelan air ombak. Yang sebenarnya aku menyelam dalamZ, Jalu bergerak leluasa didalam air sejajar dengan pantai, meninggalkan tempal para prajurit pengejarku jtu.

Kau tahu bukan, berapa lama orang persilatan berlatih menahan nafasnya ... Maka pada waktu aku perlahan-lahan memunculkan mukaku dipermukaan air, untuk menyedot udara segar, perajurit-prajurit yang masih berada dipantai ….. mungkin masih sibuk mencari-cari jenazahku, sudah cukup jauh jaraknya untuk tidak bisa melihat sesuatu yang dapat bergerak dimuka laut yang berombak.

Demikian selamatiah aku. Dengan berenang gaya punggung setengah didalam air aku meneruskan gerakanku meninggalkan tempat berbahaya itu. Entah apa yang terjadi kemudian, akan tetapi pastilah itu tidak jauh dari perkiraan, bahwa aku sudah lenyap dari muka bumi ini, ditelan ikan besar atau habis dikeroyok ikan kecil- kecil didayam laut Jawa itu. Bagaimana cara mereka melaporkan kejadian ini kepada pihak atasan mereka, dan bagaimana melaporkannya kepada pihak Kartasura ….. itulah urusan mereka sendiri. Mungkin mereka menemukan baju kebesaran yang sengaja aku lepas pada waktu aku bergulingan dipermukaan laut hingga

yakinlah mereka bahwa denmas Suryakusuma sudah habis riwajatnya didasar Samodera.

Aku berenang satu jam lamanya, baru aku bertemu dengan perahu nelayan yang pulang dari menangkap ikan. Perahu nelayan itu hanya kecil saja, biasanya dipakai oleh orang dua, tetapi nelayan tua ini tiada berteman. Mula-mula ia sangat keheranan menemukan seorang pemuda yang berenang dilaut hingga sejauh itu dari pinggir pantai. Tidak sampai menanyakan persoalannya, berubahlah rasa herannya jadi pernyataan kagum-gembira. Dengan senyuman ramah sekali ia menolongku naik keperahu tembonya.

****

Pakaian masih melekat pada badanku tinggal kutang coret- coretku dan selembar cawat yang kuikat erat dengan bungkus pedang-lemasku Janur-Nagasura, Syukur pada waktu itu mataharl sudah agak tinggi, hingga tidak usah aku menjadi sangat kedinginan, Namun orang tua yang ternyata baik hati itu, segera memberikan sarung luriknya untuk dikerudungkan pada badanku supaya hangat dahulu.

Belum lagi aku mulai memberi keterangan tentang keadaanku, kakek itu sudah mendahului-ku berbicara sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya sebagai orang sedang kegirangan, “Ha-ha ... aku sudah tahu ... sudah tahu, tentang persoalanmu nak, tenanglah ...... tenang saja, Jangan kuatirkan sesuatu aku bukan penjual bangsaku, bukan penjilat orang berkulit putih, Pastilah anak ini orang huruan kompeni Semarang bukan? Syukur kamu bisa lolos dari kejaran mereka .. Hmm,kau

pantas mendapat pujian karena keberanian mu dan semangatmu. Jaman sekarang ini tidak banyak lagi orang berani menentang bangsa kulit putih itu. Bagus-bagus pantas kau mendapat hadiah besar dari bangsamu. Eh, eh, anak kau orang dari manakah?” Segera aku meloncat dibelakang salab seoraag kapaleri .....

Orangnya aku jungkir-balikkan, kudanya aku keprak lari sejadi- jadinya, meninggalkan barisan pengawal. Sudah barang tentu ..

“Aku berasal dari Kartasura, ... memang pak, anak mengakui menjadi buruan orang-orang Belanda di Semarang, karena seharusnya aku hendak diantar ke-Betawi untuk dibawa ke Selon. Tetapi aku berhasil melarikan diri ditengah jalanan…!”

“Heiy kalau begitu anak ini pastilah suatu tokoh kenamaan

didalam ibukota negara, ...... mungkin keluarga raja jang mendapat kesalahan. Ah, sebaiknya aku tak usah tahu tentang segala-galanya. Cukuplah aku merighargai keberanian anak saja dalam hal dapat selamat lolos dari tawanan kompeni itu. Baiklah nak, mari kita beristirahat dirumahku barang beberapa hari, hingga baha]a pmgejaran sudah lewat. Pastilah mereka tidak akan mencarimu digubuk seorang nelayan yang sangat melarat ini.”

Tiga hari penuh aku menjadi tamu kakek nelayan itu dan diperlakukan sebagai orang yang sangat mereka hormati ...

diperlakukan sebagai seoraug anak pangeran, sekalipun aku berpakainn sederhana sekali sebagai mereka.

Benar-benar sangat mengharukan para nelayan itu. Dibalik kesederhanaan mereka, terdapat jiwa--jiwa yang utuh dan wajar murni penuh perasaan kemanusiaan …... mudah terharu suka menolong dan ikhlas berkorban.

Malulah rasanya untuk menjadi tamu melulu, tanpa dapat berbuat sesuatu pembalasan budi. Syukur terjadi suatu peristiwa dimana aku dapat membaktikan tenagaku. Dalam malam gelap tanpa penerangan bulan itu, kira-kira pukul dua belas aku terjaga

dari tidur lelapku, karena mendengar pintu dibuka, Kakek Suradipa keluar dengan jalan perlahan•lahan untuk menemui beberapa orang teman sekampung yang sudah berada dimuka rumahnya. Melihat gelagatnya, pastilah akan terjadi sesuatu pada malam itudan

hampir dapat ditentukan bahwa mereka, penghuni perkampungan nelayan itu menghadapi bahaya mendatang hingga mereka itu harus bersiap siap beramai-ramai.

****

Terdengar suara kakek Sura berbisik kepada teman-temannya itu, “Sudahkah penjagaan kampung diatur sebaik-baiknya? Iblis itu keliwat sakti hingga kita terpaksa harus menghadapinya dengan segala kekuatan yang ada pada kita. Dan sudahkah gadis-gadis seluruh kampung dikumpulkan dirumah kepala kampung set'ta penjaga-penjaganya?”

“Semua sudah dikerjakan menurut petunjuk bapak …. namun kami masih merasa sangsi bila bapak sendiri tidak serta dalalm penjagaan dikelurahan.”

“Baik-baik, aku akan pergi juga, hanya saja jangan terlalu mngandalkan kepada kekuatanku, mungkin aku tidak kuat lagi menghadapi iblis itu. Konon, keganasannya kini sudah berlebih- lebihan, tanpa ada yang berani menghalanginya. Itulah karena kesaktiannya yang tak mungkin lagi ditandingi orang.

Hutan Rohan menjadi sangat gawat dan dihindari orang lalu•lalang, karena dipakai sebagai pangkalan bekerja gerombolan iblis-iblis itu. Malahan sekarang •ini banyak orang yang menyangka

bahwa, alas Roban benar-benar dihuni oleh setan-iblis dan gendarwa segala jejadian yang suka mengganggu orang ….. karena

tindakan-tindakan perampok rendah macam mereka itu. Setelah merampok dan membegal-menggarong barang-barang orang, kini mereka mulai mengumpulkan gadis-gadis untuk dibuat main-main ….. Mana dapat mereka dibiarkan berbuat gila-gila-an terus-menerus itu.

Pendeknya kita akan melawan habis-habisan, bukan? anak- anak, gadis-gadis kita boleh dibunuh, tetapi jangan dihina.

“Pastipak,kitabersediamengorbankanjiwakita bagimereka!”

“Bagus, mari kita berangkat …. siapa tahu, kita dapat membekuk kawanan anjing itu!”

Waktu mereka meninggalkan halaman, diam-diam aku menje• linap keluar untuk melakukan gagasanku yang timbul pada waktu aku mendengar cerit'era kakek Sura tersobut. Menurut perkiraanku yang mereka sebut-sebut iblis tadi, pastilah

datang dari sebelah Barat perkampungan ini. Oleb karenanya, buru- buru aku mencegat mereka diluar kampung. Mungkin aku berhasil mencegah pertumpahan darah dan sekaligus mendarmahaktikan tenagaku kepada orang-orang yang sudah berbuat baik kepadaku.

Baru saja aku meninggalkan perbatasan kampung nelayan ,itu aku sudah bertemu dengan tiga orang yang sangat mencurigakan. Cara mereka bergerak dan kecepatannya, menunjukkan bahwa mereka adalah pendekar-pendekar yang berilmu tidak rendah. Boleh dipastikan sudah, bahwa inilah orang-orang-nya yang hendak mengacau perkampungan nelayan tersebut. Dua diantara ketiga orang. itu, badannya tinggi-besar, yang satu lagi agak pendek tetapi perawakannya lebih kekar. Pantaslah bila mereka bertiga saja berani bertindak semena-mena terhadap orang banyakkarena

mengandalkan kepandaian mereka yang tinggi. “Itulah perkampungan nelayan yang kumaksud sudah tampak samar-samar dari sini, Bersikap hati-hati•lah kalian.-kata seorang dari mereka, •

“Takut apa ... kita bertiga ini, apa masih ada mahluk yang dapat melajani tenaga gabungan siluman-siluman hutan-Roban?” kata sipendek.

“Hai, jangan kelewat jumawa dulu, kalian belum pemah bertemu dengan seorang tua yang bernama Suradipa dari golongan nelayan ini, Biarpun kakek itu sudah agak lanjut usianya, namun ia adalah seorang tokoh angkatan tua yang masih sering disebut-sebut orang. Aku sendiri pemah mengalami berondongan pukulan saktinya, yang disebut Sura-Babi ... yang tak dapat kulawan, hingga terpaksa aku ngacir bercawat ekor.”

“Persetan dengan pukulan Sura-Babi itu, akulah nanti menghada pinya.”

Waktu itu aku meloncat keluar dari belakang pohon, menghadapi mereka ditengah jalan kearah kampungtegurku,

“Tuan-tuankah tamu terhormat kampung kami ini?”

Serentak mereka berbenti .… berdiri tegak dalam keadaan siap-siaga memandang kepadaku dengan mata melotot, tetapi tak

luput dari keheran-heranan, karena bakal kunjungan mereka sudah diketahui orang sebelumnya ….! padahal mereka tidak pemah membiijarakan akankedatangan mereka,

“Hai, kamu ini siapa, dan mengapa sudah tahu akan kedatangan kami. Siapakah yang memberitahukannya?” tanya seorang yang memegang pimpinan.

“Aku ini Putut Punung, anak angkat kyai Suradipa, Orang tua itulah yang menjuruh aku supaya menemui kalian diluar kampung!” “Persetan …. kiranya sikakek ompong pula yang mengetahui rencana kami ini. Hai anak busuk .... mengapa kamu tidak lekas menunjukkan jalan kerumah sikeparat setan tua itu?!”

“Sayang tuan, pesan ayah angkatku, kalian tidak usah masuk kedalam kampung saja, karena perjalanan tuan-tuan toh percuma saja!”

“Husti. ….. apa katamu, percuma? ….. mengapa percuma, coba terangkan!” geram pemimpin itu yang agaknya sudah mulai marah.

“Arti percuma, disini berkata kepada tuan, supaya segera kembali kerumah saja, karena maksud tuan-ruan tidak akan terrjapai, juga mengandung peringatan, bila tidak hendak mendapat malu, supaya lekas enyah dari lingkungan kami ini!”

“Ha-ha-ha-haaa hebat benar lelucon ini. Tikus-tikus hina

macam segala nelayan ini, berani memberi nasihat bermutu kepada kami. Ha ha haaaa .... Eh-eh, kunjuk buduk, kau-kira kami ini bangsa orang apa, sudi mendengarkan nasihat kalian. Kau-kira kami takut menghadapi segala macam tikus-tikus disini, termasuk sitikus tua dan tikus kecil seperti engkau ha!”

“Aku juga tidak mengatakan kalian takut kepada segala tikus itu. Sebaliknya aku juga belum mengatakan bahwa sikunyuk buldug, atau sitikus ini sebenarnya mendapat tugas untuk menghalang-halangi kalian masuk kedalam kampung kami!”

“Kau ….. kau seorang diri bertugas mencegah kami maju

kekampung? Ha-haaa …,, cara bagaimana, kamu hendak melakukan tugasmu itu?”

“ltulah urusanku bila waktunya sudah sampai.” “Apa sekar …..!” terpotonglah perkataan pemimpin itu •oleh suara nyaring mendatangi, ....

“Ai-ai-ai ….. nanti dulu, tahan sebentar. Masakan urusan belum jernih semua sudah mau berhantam ….

Orang yang muncul kemudian itu. bukan lain dari si kakek Sura …. Dapat dipastikan orang tua ini sudah mendengar segala sesuatu yang baru saja jbicarakan dari jar:ak jauh. Karena kurang jelas siapakah sebenarnya yang mengaku anak angkatnya,… dan mendapat tugas menghadapi ketiga iblis dari hutan alas Roban tadi, segera ia bergerak gesit menuju ketempat pencegatan tadi dan sebelum orangnya datang, suaranya sudah mendahuluinya. Kini tahulah ia bahwa tamunya, yang dikira sudah tidur lelap dirumah radi, sebenarnya mendengar pembicaraannya dengan anak buah kampungnya, hendak menghadapi kunjungan para penculik Roban. Sebagai ksatria sejati, tidak mungkin tamu itu tinggal diam tanpa mengulurkan tangan perkasanya. Soalnya adalah tamu itu cukup kuat menghadapi orang-orang macam iblis-iblis ini. Demikianlah pemikiran kakek itu, mengenal jamannya dan pendirian para ksatria.

“Haa … Suradipa sudah datang sendiri.” kata pemimpin rombongan, ya-yaaa ….. akulah ini Bairawa, selamat bersua kembali!”

“Hmm, mulutmu masih cekatan seperti burung jalak berkicau. Betulkah kau menjuruh pemuda ini untuk mencegatku dan mencegahku masuk kedalam kampungmu?”

Jawab orang tua itu sambil menjeringai tak keruan, mungkin karena ia tidak suka membohong .

“Kalau benar bagaimana, kalau tidak betul bagaimana, Bairawa?” “Kalau memang demikian, bukankah kau menghina aku luar biasa? Kau kira loyokah aku sekarang?”

“Eh eh . . . tuan Bairawa, akulah petugas khusus yang harus menghadapi tuan. Apa dikira tuan mempunyai derajat lagi berhadapan dengan ayah-angkatku? Kata orang, setelah aku mendapat gemblengan dari ayah, aku harus mengalah tujuh jurus dulu, boleh membalas menyerang pada jurus kedelapan dan kesembilan!” kata Putut Punung seperti tidak disengaja, membuat gemas lawan bicaranya,

“Kunjuk-edan, rasakan pukulanku ini!” kata Bairawa dengan suara tinggi sekali sambil melancarkan pukulan mautnya dengan kedua belah tangan, mengarah kedada Punung.

Pukulan itu benar-benar pukulan berat sekali, mungkin karena Bairawa ingin sekaligus menghabisi jiwa lawannya. Tetapi ia tidak tahu siapa yang sedang berhadapan deagan dia.

Kakek Suradipa-pun tahu betapa dahsjatnya pukulan pemimpm perampok itu, maka hampir saja ia menangkisnya ….. untuk menolong tamu yang keliwat berani ini. Betapa heran orang tua itu melihat sang tamu seenaknya saja, hanya menggeser kaki sedikit kesamping sambil memiringkan badannya, mendojong keluar bebaslah ia dari pukulan geledek itu.

Yang memukul sendiri juga tidak kurang kagetnya karena ada orang mampu berbuat demikian,. mengingat jaraknya dan kegesitan Bairawa. Lebih gila lagi perbuatan Punung dengan mengejek lawan sejadi-jadinya ... katanya sambil bergerak waspada: “Nah-nah, aku sudah bilang akan mengalah tujuh jurus, tak usah ragu-ragu, serang terus saja ….. ha ha. Syukur itu teman-temanmu ikut serta dalam keramaian ini, pasti lebih seru dan menyenangkan …… “Eh …. ketahuilah kalau menghadapi keroyokan tiga siluman seperti kalian ini, aku tidak diperkenankan memakai senjata apapun kecuali jari tengahku saja. Kalian tak usah takut akan kubunuh mati, hanya akan kusuruh rebah beberapa jam saja ….. ingatiah itu!” 

“Orang-gila rangkap berapakah nyawamu itu?”

Tanpa dikomando lagi kedua teman yang masih berada dipinggiran ikut menjerbu, mengeroyok.

“Bagus-bagus, mengapa tidak sejak tadi ikut bergerak bersama, hingga aku terpaksa memberi kemurahan lagi beberapa jurus. Hajo pergunakan senjata kalian. Kau kira. kalian dapat berbuat banyak terhadapku hanya dengan tangan kosong saja. Lupakah kalian bergebrak melawan gemblengan kyai Suradipa?” ejek Punung membuat marah lawan-lawannya, sambil berlincahan mengelak dan menyelewengkan pukulan-pukulan musuh dengan jurus Palwaranu yang dipadu dengan jurus kilat tatit bersamberan. Maka sekalipun merek:a mempergunakan serangan bergabung, menguras tenaga dan kesebatan, tidak akan mungkin mereka dapat menyentuh badannya bahkan ujung pakaiannya saja.

Karena ternyata ejekan pemuda sakti itu betul semata, maka dengan kemarahan yang sudah memuncak sekali, disertai nafau membunuh yang meluap-luap, ketiga perampok itu tahu-tahu sudah mempergunakan senjata andalan masing-masing, Bairawa bersilat dengan golok rangkap, si pendek kekar memainkan penggada baja sebesar lengan orang, sedang orang. Yang ketiga menggerakkan pedangnya menyerang lawan bertubi-tubi. Dapat dibayangkan, bahwa tidak sesaat pun serangan tiga macam senjata itu ada redanyaa, Anehnya ….. pemuda sakti itu malah juga bergerak leluasa diantara kilatatan-kilatan senjata lawannya.

Hal itulah jang sangat tidak dimengerti oleh Kyai Sura, biarpun ia memasang mata secermat-cermatnya mengikuti jalan pertempuran yang seru ini. Bila ia sendiri harus menghadapi hujan serangan demikian, pastilah ia tidak akan dapat bertahan lima gebragan. Tetapi pemuda hebat itu tidak nampak keripuhan, malahan masih dapat mentertawakan musuhnya, katanya: “Aku sudah memberi tambahan mengalah sampai tuju belas jurus, jagalah nanti pembalasanku pada jurus kedelapan belas sampai ke dua puluh. Yaaa. aku mulai sekarang ... !”

Benar saja, jurus yang kedelapan-belas itu dipergunakan oleh Punung. Sambil mengelak serangan dengan menekuk lutut kanannya, nampak ia mengibaskan tangan keduanya serong keatas

... wwuukk ... Tenaga angin pukulannya mampu mementalkan semua senjata lawan yang menjurus kearah badannya. Keruan pula lengan-lengan dan badan orang yang memegang senjata itu ikut terpuntir karenanya, hinaga lambung-lambung mereka tidak terjaga sama sekali. Lambung itulah sasaran empuk bagi jurus ke sembilan belas. Secepat kilat jari tengah pemuda itu nampak menggores lambung bagian bawah ketiga orang lawannya ... selesailah pertempuran itu, karena ketiga setan-setan dari Roban yang hendak mengganggu perkampungan nelayan tersebut sudah terkapar ditanah, meringkuk sambil mendekap lambung dengan muka menjeringai kesakitan sebagai demit makan kotoran lembu. Merintihpun tidak dapat lancar, karena menahan kesakitan yang hampir tak terderita dalam keadaan sadar,