Gembong Kartasura Jilid 5

Jilid V

sudah meluncur keliwat dari batasnya, badannya masih menyerosor naik terus. Mau tidak mau ia harus mernukulkan tangannya keatas untuk meneegah supaya kepalanya tidak membencur batu tenda gua …. bruugg Batu tenda gua itupun menjadi gempur sebagian terkena

pukulan jurus sakti, somplak berlubang, batunya terbang keluar, Badan Punung bennr saja tertahan, meluncur kebewah lagi.

Karena lubang penerangan dibatu-tutup gua bertambah, sudah selayaknya pula keadaan didalam gua lebih terang lagi. Waktu Punung meluncur turun tadi, matannya menyapu dinding gua, maka tahulah ia bahwa pada tinggi empat meter dari tanah ada sernacam dataran (sengaja dibuat datar masuk kedalam dinding) cukup untuk duduk orang. Itulah sangat menarik perhatianuia. Segera ia meloucat lagi, dengan sangat hati-hati supaya jangan terlalu kebanyakan tenaga, menuju ke ternpat rersebut,

Karena baru pertama kali mencoba datang disitu, belum lancarlah ia dapat bertengaer serta duduk didataran tadi. Namun serentak sudah dicobanya tiga kai saja. ia dapat langsug mencapai tujuannya, Duduklah ia ditempat iru lalu mernpergunakan matanya sebaik-baiknya.

Pada dinding itu terdapar corar-coret, yang pada pokoknya selalu menyeiupai tangan menggenggam pedang …. dan pedang itu selalu diputar dalam lingkaran-lingkaran kesegala arah. Lebih lama memperhatikan coretan-coretan jurus pedang itu, makin menjadi teganglah perasaan Punung …. akhirnya ia harnpir berjingkrak terhenyak, karfna mergenal kembali jurus tangan-kosong ajaran gurunya, kyai Kunyuk Sakti, yang disebut: Gerak LEBUR TANPA DADI.-

Adakah hubungan antara gurunya dengan penghuni gua ini....

Bila ternyata ada hubungan guru-murid antara mereka, pastilah kyai Kunyuk-Sakti yang menjadi muridnya. Tetapi rasa-rasanya itupun tidak betul, karena gurunya pernah m ngatakan mencari orang, namun hingga sekarang telum berhasil.

Sedang orang yang dicari gurunya itu mungkin sekali kerangka didalam gua ini hingga tidak bisa ada hubungan guru-

murid amara mereka. Kalau jurus tangan kosong kyai Kunyuk-Sakti sama benar dengan jurus ilmu pedang ini, boleh diaggap saja bersumber satu.

Jang kini sangat, menjadi penasiaran sekali baginya adalah tempat penyimpanan pedang sakti itu. Maka sekali lagi matanya menyelajahi dinding gua. Akhirnya berhasillah ia melihat batu menonyol agak kurang wajar pada dinding gua itu setinggi tujuh meter dan dasar. Otomatis kakinya sudah menyejak tanah, badannya meluncur lurus kearah tempat tersebut Kemudian dipegangnya batu itu ... dan …. sssrrrr terloloslah sebuah benda panyang beserta

batu kecil-kecil, sama-sama melurng jatuh kebawah deogan Punung yang terjun dari loncatannya.

Bukan main girang hati Putut Punung, karena pedang yang dicari-cari itu juga sudah diketemukan ... bentuknya presis seperti yang terlukis dirumah pagede Karang•Harya. Itulah yang disebut pedang; keramat „JANUR NAGASURA‟ .... salah satu pusaka terampuh dipulau Jawa. Dengan penemuan barang-barang kuno tersebut, rasa-rasanya lengkaplah sjarat-sjarat Putut Punung untuk mencurahkan pengabdiannya kepada kepengngan umum.

Dan sejak itu mulailah ia dengan penggemblengan dirinya secara hebat luar biasa. lngiu ia menjadi abdi rakjat yang tidak kepalang tanggung.

**** SUASANA di lbukota Kartasura, sudah agak lama selalu terasa tegang, karena Baginda menderita goring pajah, yang sudah meleset dari sernbarang obat. Para pernbesar dan para bangsawan tinggi nampak siang dan malam bergantian hadir di paseban masing-masing atau di paseban dekat pancaniti menunggu

panggilan Baginda bila diperlukan, atau menunggu kabar tentang keadaan Baginda. Waktu itu terdengar kabar bahwa Baginda sudah dalam keadaan setengah sadar dan tiada .... maka memuncaklah ketegangun perasaan mereka. Mereka tahu sudah bahwa, kini tinggal menanti saat agung saja rentang keberangkatan Baginda- sudah tidak ada harapan lagi.

Saat itu, saat yang ditakutkan orang banyak, tetapi saat yang ditunggu-tunggu juga ..... akhirnya datang pula, saat wafatnya seorang raja Mataram Sri Sunan Amangkurat II (Am. Amral),

Jerit-tangis dalam keraton, tidak lagi dapat diceritakan Kernpul-

kernatian keluarga agung dikeraton dibunyikan satu satu untuk diteruskan oleh segala macam tetabuhan yang ada diseluruh jagad Matararn.

Dengan demikian meratalah kabar kematian keluarga agung itu. Apalagi yang wafat itu Baginda sendiri ... , kecuali pekabaran melalui pertanda demikian, juga masih ada pekabaran yang dibawa oleh para prajurit kesuma-tali. (kapaleri), kesegala arah mancapraja. Dalam waktu satu mimggu semua bupati pesisir dan mancapraja harus sudah hadir di ibukota lengkap dengan segala tanda kebesarannya.

Pekabaran itu merembet cepat sekali karena kabupaten yang terdekat melanyutkan kabar itu kepada kabupaten sekitarnya dengan jalan tundan. Maka meratalah kesibukan itu diseluruh negara Matararn-Kartasura .... Semua bupati berkemas-kemas untuk berangkat ke-ibukota dengan kebesarannya sekalipun pengawalnya hanya dibatasi sampai seratus.

Maka dalam waktu seminggu saja penuh-sesaklah dalam kota oleh banyaknya pendaiang dari luar, hingga terpaksa didirikan perkemahan-perkemahan diluar kora, untuk menampung para prajurit.

Kembali kita kepada ceritera kita, pada malamnya hari wafat Baginda. Pada waktu itu jenazah Baginda masih terbaring diten:ipat peraduannya, diselubungi kain dodot yang belum pernah dipakai. Semua keluarga agung para bangsawan tinggi dan para pernbesar negara harus bersembah lutut yang penghabisan kepada Baginda……. Upacara itu belum selesai sarna sekali. Kira-kira pukul dua belas malam, barulah mulai reda kedarangan orang-orang berbakti. Waktu itu datang dua orang pangeran adik Sri Sunan sendiri, ialah pangeran Puger dan pangeran Harya Mataram, yang juga hendak berbakti terakhir kepada sang kakak. Sudah barang tentu mereka itu tidak perlu minta ijin lagi kepada siapapun, untuk menyenguk Jenazah Baginda, maka mereka pergi langsung kedalam kamar layon.

Kebetulan pangeran dipati Anom masih berada diruang depan kamar layon tersebut, dihadap patih raden adipati Kusumabrata dengan sementara bupati lainnya.

Sudah barang tentu sang pangeran sangat ewa (kecewa), meihat perbuatan pamannya itu, lebih-lebih pamannya yang satu itu, pangeran Puger. Dasarnya memang sudah sangat benci kepada sang paman sejak lama. Segala perbuatan Pangeran Puger, adalah serba salah bagi sang dipati Anom. Hal itu diketahui pula oleh manusia- manusia licik dan rendah, yang suka mencari muka, menjilat-jilat pangeran muda tersebut. Terdengar orang mendehem kurang wajar “Hhemm!” waktu kedua pangeran tadi masuk kedalam kamar. Semua orang. menoleh kepada sipendehem Dialah kyai patih sendiri, dipati Kusumabrata. Sudah pasti saja pangeran muda itu merasa senang, karena ada yang membelanya. Berkatalah ia dengan senyum ejeknya; “Hai .....

Kusumabrata …… mengapa mendehem demikian tidak genah …. Apakah ada serangga kurang kecil masuk kerongkonganmu?”

Jawabnya sambil menggelegas : “Heh-heh-heh-tidak gusti pangeran tetapi memang ada sesuatu yang kurang sopan masuk

saja tanpa perkenan, gusti. itulah yang membuat tenggorokan sok menjadi kaku dan kurang cnak rasanya ,

“Ha-ha-ha-Sumabrata, Sumabrata …. biarkanlah kali ini serangga itu masuk tanpa ijin-mu, mungkin serangga itu merasa dirumah sendiri, pastilah perilakunya tidak salah. Sudahlah kita

lihat nanti saja.”

Semua orang yang hadir, sudah barang tentu tahu arti kata- kata sindiran mereka, tetapi siapakah berani tidak setuju akan isi sindiran ini. Malahan sebaiknya, harus ikut serta sedapat-dapatnya, bila terpaksa tidak mernpunyai bakat penjilatan ... diamlah yang paling aman, syukur bisa ikut tersenyum-senyum terus, biarpun senyuman palsu-masam.

Kedua pangeran setengah tua itu terus saja mendekati tempat pembaringan jenazah, lalu duduk dipermadani disamping dipan Baginda, sambil menyembah. Sejenak mereka mengheningkan cipta, berdo'a semoga roh kakak Bagindanya sudah berada dinikmat Tuhan. Setelah berdo'a, mereka mengadakan upacara sembah-lutut, bergiliran dengan para pembesar yang masih menunggu diluar, karena tadi belum mendapat kesempatan.

“Harya Matararn, panggillah teman-teman yang masih hendak berdatang bakti terhadap kaka-prabu!” kata pangeran Puger. “Baik kangmas, aku akan keluar sebentar memanggil mereka.” Keluarlah pangeran Harya Mataram.

Sjahdan ...... apa yang terjadi sepeninggal Pangeran Harya Mataram keluar tadi, hanya pangeran Pugerlah yang mengetahui seorang, karena dialah yang mengalami sendiri. Pada waktu itu kamar layon tiba-tiba menjadi terang, karena cahaya kebiru•biruan yang keluar dari puser jenazah narnpaknya. Samar mancur itu berdiri tegak sebesar ibu jari ….. kemilau ke-biru-biruan mentakjubkan sekali.

Pangeran Puger kaget sekali, tetapi segera ia tahu makna sinar itu ialah WAHJU KERAJAAN yang meninggalkan tempat lama untuk mencari tempat baru . . . . Maka, tanpa pikir panyang-lebar, majulah pangeran Puger mencucup pusarnya jenazah kakaknya hingga lenyaplah sinar wahju keraton itu.

Entah kemana larinya sinar ajaib tadi ... apakah habis tersedot pangeran Puger ... apakah hilang musna demikian saja tak

seoraag dapat mengatakan dengan pasti.

Dengan hati penuh rasa haru berkatalah pangeran Puger kepada kakaknya, didalam batin. “Kaka-Prabu Apakah kehendak

kaka prabu yang tertentu, pastilah adikmu ini tidak tahu. Tetapi adikmu bukanlah orang serakah kedudukan dan kawibawan, maka legakanlah hatimu ... aku hanya ingin menjadi paman yang baik bagi putra-putrarnu dan mengemongnya sejauh mungkin.-

Kedata.ngan pangeran Harya Mataram beserta para pembesar lain, yang hendak bersembah lutut, membawa sang pangeran kembali kepada keramaian dunia, Semalam suntuk mereka tetap berjaga-jaga diruang depan kamar layon baginda sedang yang sebagian duduk didalam kamar menunggu layon. Adapun rombongan pangeran dipati Anom tadi sudah bubar karena sudah mendapat gantinya.

Pada hakekatnya orang baru dapat bekerja dengan tenang dan teratur setelah rasa haru dan kegoncangan menjadi reda. Pusat perhatian orang adalah pangeran Anom namun yang mengatur pembagian kerja keseluruhannya adalah pangeran Puger didampingi para anggauta Pancaniti. Maka berjalan lah segala pekerjaan dengan baik dan lancar. Segala sesuatu dapat dislesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Maka dalam minggu yang kedua selesailah semua pekerjaan yang mengenai persediaan dan perbekalan calon penguburan raja kema.kam lmagiri disiapkan dan dilengkapkan.

Tibalah kini saat jenazah raja diberangkatkan dari keraton, dengan segala upacara kebesaran raja, diiringi oleh Menteri-Bupati serta hulubalang dan satuan-satuan prajurit dengan persenjatan masmg-masing, beraneka ragam. Iring-iringan layon itu sulit dibayangkan lagi panyangnya, serta warna-warninya. Di pinggiran jalan penuh sesak orang melihat dan menghormat jenazah rajanya untuk yang terakhir.

****

Raja yang sudah wafat meninggalkan kedatonmaka

raja yang baru sudah datang untuk menggantikannya, hingga tidak ada masa masa vacuum sejenakpun. Kangjeng pangeran adipati Anom, segera duduk disinggasana kerajaan, dihadap pepatih Kusumabrata dan bupati-bupati sementara ........

Bersabdalah raja baru itu mengangkat dirinya sendiri sebagai raja, yang sebenarnya menyimpang dari keharusannya. “Hai. Kusumabrata umumkanlah, aku sekarang menggantikan kedudukan almarhum rama prabu, menjadi raja Mataram, dengan gelar Amangkurat III. (Mas Siapa yang tidak setuju boleh lekas

berdiri sekarang untuk menghadap aku!”

“Nuwun-inggih sendika, gusti prabu.” jawab pepatih dalam itu ... lalu berdiri mengumumkannya. Dengan suara lantang patih Kusumabrata. mengumumkan penobatan bagina Mangkurat III. yang diterirna baik oleh semua yang hadir, karena menentang pengurnuman berarti maut bagi siapapun.

Yang terasa agak yanggal itu, adalah cara pangeran pati Anom seolah-olah melantik diri sendiri menjadi raja pengganti ayahanda bagindanya yang mutlak itu.

Sekalipun ia yang menjadi putera mahkota, yang pasti akan menggantikan kedudukan raja, tetapi untuk mengangkat diri sendiri menjadi raja itulah bukan haknya. Sebenarnya sang pangeran tidak usah berbuat demikian, pastilah sudah ada yang akan mengatur sendiri kemudian.

Terapi nampaknya pangeran itu sangat tidak sabaran, mungkin juga karena. ia tahu bahwa yang akan membawa dia naik kesinggasana itulah orang nomor satu di jagad Mataram, ialah pangeran Puger ... dan ia membenci pangeran itu, Dengan tindakannya yang lancang itu, pastilah pamannya merasa terhina ...

itulah bagus. . .

Tidak semua pernbesar mengiringkan jenazah raja sampai kemakam agung. Sebagian dari mereka itu hanya mengantar sampai diperbatasan kota, lalu lekas-lekas kembah kekota karena tugas lain. Demikianlah yang dialarni oleh pangeran Puger. Ia harus segera kembali untuk mendudukkan raja muda disinggasana, sebagai ganti raja yang lama. Maka setiba dipaseban Siti-inggil, beliau segera hendak mencari pangeran Anom, namun yang dicari sudah duduk disinggasana kerajaan dibalairung.

Dernikianpun baik juga, karena memudahkan pekerjaan,

Baru sang pangeran. hendak mendekati balairung, papatih- dalem sudah berdtri dirnuka kangjeng pangeran, katanya cukup keras : “Berlutut dan berdatang sernbah kepada Baginda raja Mataram Baru!”

Kaget juga pangeran Puger : “Hai, Sumabrata, apa artinya

ini?”

“Ini berarti ...... pangeran sudah berhadapan dengan baginda

sendiri. Tidak usah ada perantara lain untuk mengangkat baginda, karena beliau telah mengangkat diri sendiri tadi.

Pasti saja jawaban papatih dalem demikian dimuka umum itu sangat menghina kangjeng pangeran Puger ..... tetapi, pangeran yang sudah membuat pertimbangan dan penuh paramarta itu, dapat mengerti makna segala-galanya dan suka menerima kekalahan mutlak. Dia hanya seorang pangeran saja, maka harus membungkuk menundukkan diri dimuka rajanya untuk menghorrnat Buginda. Namun itulah penghormatan tertinggi bagi sikap orang- yang lebih tua seketurunan dengan raja yang urutannya lebih rendah.

Adapun yang maiih penasara dalam rasanya, ialah Pangeran Harya mataram, bertanyalah ia kepada dipati kusumabrata, “Sumabrata, siapakah mengumumkan penggantian raja hari ini …. Dan mengapa tidak menantikan kakangmas Pangeran Puger?”

“Yang berkenan mengumumkan adalah sri Sunan sendir:i, adapun yang mengangkat …… juga sri Sunan pribadi, maka perantara tidak lagi dibutuhkan jawab raden adipati. Terpaksa dua pangeran itu menelan pil pahit sekali karena telah melewati hinaan dua kali dimuka orang banyak ... tanpa dapat berbuat sesuatu.

Siapakah yang tidak mengerti dasar tindakan baginda terhadap kedua pamanya itu ... jakni … mencurigai tindakan mereka yang bukan bukan . . . mensiasat mereka, supaya tidak daptlt bergerak yang kurang wajar. Sekalipun kedua pangeran setengah tua itu dapat leluasa berbuat dimana mana, tetapi mereka itu sehlu dibayangi pengawas-pengawas gelap dari pihak kepatihan

... hingga sama saja artinya dengan dikekang secara halus.

****

PENGAWAL iring-iringan-layon Amangkurat II. kemakaman Imagiri, adalah sang Manggalayuda Suryakusuma, tumenggung tetindihing yuda …. Dengan membawa seribu orang prajurit penempur inti lengkap dengan persenjataannya. Tidaklah salah memilih Denmas Suryakusuma menjadi pengawal layon uwa bagindanya, sambil bertugas sebagai tumenggung tetindih perang

…. Pastilah ia sanggup menyelesaikan pekerjaannya dengan beres.

Denmas Suryakusuma ini. adalah putra pangeran Puger yang sulung, yang sudah menyabat pangkat tumenggung, diangkat oleh almarhum uwaknya sebagai tetindihing yuda, karena ternyata sudah kedigjayaan dan keperwiraannya. Dalam beberapa pertempuran yang ia sudah pernah ikut mengalaminya, tak pernah ia mengalami cidera atau dikalahkan oleh musuh. malahan dalam urusan orang sakti dalam ketentaraan, anak muda itu disebut-sebut nomor tiga, maka dapat dibayangkan tentang kesanggupannya dalam siasat perang.

Sebagai anak yang cinta kasih terhadap orang tua, Tumenggung Suryakusumapun tahu sekali tentang kebencian Pangeran dipati Anom terhadap keluarga ayahnya, juga terhadap ia sendiri. Sejak sunan Amangkurat II masih hidup, ia sudah mengkhawatirkan apa yang mungkin terjadi setelah sri sunan wafat dan diganti oleh putera sulungnya itu. sejak dulu itu denmas Suryakusuma yakin bahwa pasti ada pertentangan dan dass antara keraton dan keluarganya. Siapakah nanti yang dipersalahkan orang- orang…. Pasti juga pihak yang lemah, pihak yang tidak berlaskar, pihak orang tuanya. Alangkah celakanya keluarga kapugeran nanti bila sampai terjadi demikian.

Maka daripada ayahnya yang dipersalahkan orang dan mendapat nama kurang baik, lebih baik dialah yang akan mendanului berbuat, hingga segala-galanya bisa ditimpakan kepada dirinya. Relalah ia menjadi tumbal seluruh keluarganya, untuk menderita asab-sengsaranya, dan hinaan sesamanya. Bukankah sekarang ini sudah tiba waktunya, untuk memperlihatkan giginya terbadap sang pangeran Anom, yang selalu bersikap menghina dan membenci keluarganya itu. Mumpung sekarang ia mendapat kesempatan yang baik sekali, di-tengah-tengah laskamya sendiri ... tidak mudah orang hendak menangkapnya.

Bulatlah sudah tekadnya untuk mendirikan barisan menentang pemerintah raja baru yang pasti tidak mungkin adil terhadap keluarganya. Niatnya itu asan dimulai setelah upacara pemakaman jenazah Baginda Amangkurat II selesai samasekali …… Menurut naluri kuburan baginda ditangguh sampai hari lamanya oleh para petugas khusus. Tetapi den Mas Suryakusuma tidak mau kembali ke Kartasura lagi setelah tugasnya selesai. bahkan laskar yang dibawanya juga tak seorang yang kembali ke-ibukota. Pastilah mereka itu sudah seija-sekata, berjanyi sehidup-semati dengan sang pimpinan, mendirikan barisan brandal, berkedudukan disekitar Plered. (dekat kota gede). Setindak demi setindak mereka bertindak keluar untuk mangumpulkan bekal, supaya dapat bertahan terhadap sergapan- sergapan lawan yang pasti datang kemudian.

Sementara itu di Kartasura, pekabaran tentang adanya barisan brandal di Kota Gede menjadi semakin santer, hingga menjadi pembicaraan di Pancaniti. Semua orang yang mendenga menjadi terkejut, mendengar nama pimpinan brandal disebut orang-dengan Suryakusuma, namun Baginda yang sebenarnya tidak keheranan atas sikapnya, karena siapapun tahu juga akan kebencian sekarang terhadap sanak-keluarganya den Mas itu.

Kebanyakan orang memang sudah mengira bahwa kedua keluarga itu akan kebentrok sesamanya, hanya tidak selekas sekarang ini. Pastilah itu agak kurang bijaksana dipihak denMas Suryakusuma, karena persiapannya masih belum nampak sama sekali. Tidak mengingat pula bahwa ayah beserta keluuarga semuanya masih berada didalam kota, yang mudah dikurung oleh pihak lawan pendeknya pemberontakannya itu masih sangat berbau keburu nafsu seorang muda yang tidak tahan hinaan lagi. Tetapi barang sudah terlanyur, apakah mau dibicarakan lagi

Dipasewakan hari Senen, waktu ki papatih melaporkan tentang adanya barisan berandal di Kota Gede, meledaklah Baginda terhadap keluarga yang dibencinya …… hingga nampak menggigil badan baginda seluruhnya saking murkanya. Waktu baginda sudah dapat berbicara lagi, menggelegarlah suara baginda seperti halilintar disiang hari yang cerah. “Sumabrata, perintahkan kepada Dipati Jayarumeksa membawa prajurit orang, untuk membekuk kunyuk-kunyuk kurang ajar itu, bawa dia hidup atau mati kemari, ingin aku memenggal kepalanya sendiri …. Kecuali itu, sejak saat ini, giringlah semua keluarga Kapugeran tanpa kecuali sampai kepada para abdinya ke paseban di alun-alun dalam pasebannya sendiri. Pagarilah paseban itu dengan bedek (anyaman bambu) setinggi dua meter. Tak seorangpun diperkenankan keluar bedekan walaupun hanya sebentar tanpa ijin baginda, jaga keras-keras pembedekan itu. barang siapa berani melanggar ketentuan ini, jangan segan-segan

…. Penggallah kepalanya. Dan awas …. Prajurit jaga yang tidak berbuat seperti ditentukan, pasti akan dibuat sebagai ganti orang hukuman itu.”

“Nuwun inggih sendika, gusti prabu.” jawab kyai patih.

Yang hadir di pasewakan agung pada waktu itu adalah seluruh pembesar negara mataram, karena para bupati mancapraja belum waktunya pulang menurut kebiasaan, bila ada pergantian raja semikian. Maka yang mendengarkan keputusan rajapun mereka semua …… dengan tafsiran dan penilaian masing-masing. Banyak diantaranya yang menjadi kecewa karena keputusan baginda tida bijaksana dan tidak berdasar keadilan dan kejujuran. Malahan boleh dikatakan berbau prasangka … mungkin berdasarkan rasa benci.

Menghukum berandal dengan hukuman penggal kepala adalah biasa …. Bila berandalnya dapat ditangkap saja. Tetapi menghukum orang beserta sanak-kadangnya sampai keprda abdi pekatik ... dengan pidanana pembedekan tanpa diselidiki terlebih dahulu kesalahannya ... inilah terlampau melampui batas keadilan. Ya-ya-ya .. apakah sebenarnya adil itu .. ? Bukankah arti adil itu sama dengan yang menang? Sekali raja bersabdda, tetap demikian harus dikerjakan orang. Maka hari itu dengan tergesa-gesa ki dipati Jayarumeksa menyiapkan prajurit dua-ribu oran, untuk diperlengkapi dengan segala keperluan perang. Dan hari itu juga keluarga ka-Pugeran tanpa kecuali, hingga kepada para abdi, dibawa kepaseban alun- alun, masuk kepambedekan yang di pagar rapat dijaga pepat dengan keras sekali. Sebentarpun tak ada secirang dalam pambe.ekan diperkenankan keluar untuk keperluan apapun. Segala keperluan harus didalam lingkungan pambedekan itu. Maka dapat dibayangkan betapa besar siksaan dan hingga yang dialami oleh orang-orang yang dihukum demikian.

Putra pangeran Puger yang ikut dalam pambedekan itu ada empat orang, ialab Denmas Antawirya, Denmas Dipanegara, DenMas Susangka dan Denmas Sudama ….. Mereka itu sudah dewasa semua, walaupun belum menyabat kepunggawaan negara. Sudah barang tentu mereka ini hampir menjadi mata-gelap karena hinaan yang luar biasa ini. Waktu mereka hendak masuk kedalam pambedekan, merasa harus menyerahkan keris mereka kepada petugas penjagaan, kyai tumenggung Sindhupraja …. letapi mereka ke empatnya membangkang, tidak mau menyerabkanuya hingga membuat suasana munyadi hangat sekali.

Syukur segera ketahuan oleh ayjahnya, yang datang menolong. “Antawiryaa …… serahkan kerismu, ayahpun sudah berbuat demikian, mengapa kalian belum.”

“Tidak yah, kami bukan bangsa tempe yang takut mati!” jawab putera itu keras.

“Hus …… Siapa yang takut mati bagi diri sendiri. Kau kira ayahmu penakut …. Serahkan kerismu, atau sejak saat ini kau bukan putera Puger lagi!”

“Yah …. Mengapa?” “Kau serahkan saja kerismu, atau kau boleh keluar dari ikatan keluarga Puger!”

“Ambillah Yah, inilah kerisku …. Setengah jiwaku aku persembahkan kepadamu yah…”

“Bagus .... hayo, kalian juga Dipanegara, Sasangka dan Sudama tidak ada satu keturunan Puger yang bersikap penakut ...

Ke-empat pusaka itu lalu diserahkan kepada kiturnenggung Sindhupraja, untuk disimpan dalam peti penjagaan.

Dengan sendirinya sirnalah ketegangan yang timbul karena keberanian ke-empat putra gembong Kartasura tadi, Masuknya pangeran Puger kedalam pambedekan, di-ikuti dengan rasa penuh haru oleh teman-teman baiknya dan oleh harnpir seluruh peneluduk ibukota yang mengenal baik keluarga itu. Biarpun dernikian tidak seorangpun berani mempersoalkan, lebih-lebih mengadakan pernbelaan terhadap beliau, karena sernua tahu bahwa dasar hukurnan ini hukanlah keadilan, kebenaran dan kejujuran.

Agalmja baginda belum lagi puas member] hukurnan yang . sebesar itu kepada pa man yang sekaligus mertuanya itu ... sebagai tambahan hinaan terhadap beliau, putri pangeran Puger yang sudah menjadi isteri raja, denajeng IMPUN, dikernbalikan kepada ayahnya dengan surat-pegat. Lengkaplah kiranya keganasan raja itu terhadap orang yang sangat di benci dari dulu.

Diwaktu siang saja penjagaan di pambedekan sudah sangat kuat dan ketat, apalagi diwaktu malam. Saking kuatnya penjagaan itu, hingga dapat dikatakan; seekor tikuspun tak mungkin dapat lolos dari pengamatan mereka. Jadi tak seorangpun dapat membayangkan bahwa ada manusia dapat memasuki parnbedekan itu, tanpa dilihat oleh penjaganya. Namun gaja khajal manusia ini mungkin masih terbatas sekali

... nyatanya malam itu juga ada orang berhasil mernasuki tempat hukurnan tanpa diketahui para penjaga yang sekian banyaknya itu. Kira-kira d jam dua belas malarn, sesosok bayangan lamuk sebagai asap, berkelebat terjun tanpa suara didalam parnbedekan. Kebanyakan dari orang-orang di dalarnnya sudah tidur lelap hanya karena jengkel melulu, Bayangan iadi celingukan sebentar, lalu dengan sebat sekali memondong Den Mas Sasangka untuk dibawa loncat lurus diatas, kemudian bayangan itu menyulurkan tangannya, meraih dahan pohon beringin besar. Sekali lagi badannya di ayun. melesatlah ia dengan bebannya keluar alun alun.

Mereka mendarat diternpat yang sunyi aman …. Baru beban itu diletakkan di tanah. Den mas Sasangka sejak dibawa loncat tadi sudah bangun dan merasa aneh pada badannya. Ia hendak berkata tapi tidak mampu mengeluarkan perkataan. Terpaksa ia menunggu dengan sabar, apakah kehendak penculiknya ini. setelah mendarat di tempat yang sunyi itu, punggung Den Mas Sasangka itu ditepuk sekali dan lenyaplah rasa aneh tadi, iapun dapat berkata lagi. Pertanyaannya mula mula,

“Hai, siapa tuan? Dan aku berada dimana sekarang?” “Hemm… baru berpisah dua setengah tahun saja kau sudah

melupakan kakakmu … Sasangka…!”

Hampir saja Den Mas Sasangka menyerit kegirangan, syukur dibungkam oleh kakaknya, karena berbahaya …… apabila terdengar oleh para penjaga. “Huss…! jangan berisik Sas, Hayo cerita saja apa yang sudah terjadi dari awal sampai kepada kalian masuk pembedekan terkutuk itu …. tetapi rendahkan suaramu!” Bayangan tadi dingukan sebentar, lalu dengan sebat sekali memondong Denmas Sasangka untuk dibawa meloncat lurus keatas kurungan …… Mulailah Den Mas Sasangka bercerita mulai dari wafatnya Sri Sunan, barisan yang dibentuk oleh kakak mereka tertua, hingga mereka meringkuk dalam pembedekan. Putut Punung hanya mendengarkan saja dengan mata berkeredepan karena marahnya.

Kemudian berkatalah ia, “Dengar Sas, setiap malam aku akan datang menjemputmu untuk menggembleng kau dengan segala macam ilmuku. Kau kuwajibkan menjaga keselamatan ayah dari dekat untuk seterusnya. Dampingi ayah dalam hal segala macam pertempuran yang mungkin akan terjadi dikemudian hari. Sudahlah…! kalian tak perlu takut. Terimalah nasib buruk ini dulu, karena ini justru baik sekali untuk endapatkan kecendrungan hati orang banyak. Pastilah mereka akan membela ayah sekalipun masih di dalam batin. Aku sendiri akan berlincahan, menolong kangmas Suryakusuma dan mengawasi gerak-gerik siasat lawannya. Nah, mari aku ajarkan kepadmu dua pukulan jurus sakti, untuk membela dirimu dan untuk membela ayah kita.”

Tanpa komentar lagi, dihajarnya kedua lambung adiknya, maka mendeproklah maka mendeproklah Denmas Sasangka, karena matanja berkunang-kunang. Dirasakan darah di seluruh badannja mendesir keras karena terasa seperti kemasukan hawa jang hangat njaman mendesak kesegala arah. Herangsur terasa badannja terasa sehat sekali, maka meloncatlah ia, berdiri tcgak kembali didepan kakaknja. Tahulah ia bahwa sang kakak baru sadja meningkatkan kekuatannja untuk mendapat gemblenganja jang pasti berat sckali.

Memang jang diadjarkan olch Putut Punnug kepada adiknja adalah djurus BUMI GENJOT dan BUMI GONJING, jang membutuhkan sekali kekuatan rochaniah dan badaniah secara memusat. Kira-kira satu jam lamanja Denmas Sasangka sudah dapat melakukan djurus adjaran kakaknja dalam taraf lumajan. Kata Punung kemudian: “Sudah cukup dulu, bcsok kita landjutkan lagi. Kini mari kita kcmbali clan kau tak boleh bicara sepatah katapun clcngan siapa juga kecuali dengan ayah kita. Ketahuilah selandjutnja aku akan masuk kedalam kamar pusaka untuk memindjam kandjeng kjai SENGKELAT dan kjai tombak PLERET, untuk disimpan scmentara waktu. Aku ingin tahu. dapat berbuat apakah para djamhur Kartasura terhadap Punung djembel ini. Kau Sasangka, kaulah jang akan memakai namaku PURBAYA kclak, djagalah nama itu baik baik!”

Kcdua kakak beradik itu lalu saling rangkul mesra. Scgera Punung memondong adiknja seperti jang, dilakukan tadi unluk dibawa kembali kepambetckan sedang Putut Punung sendiri langsung seperti bayangan asap menudju kekedaton.

Sebagai bayangan hantu ia meloncat keatas gentcng keralon langsung ketempat pusaka krraton disimpan ... lalu menjelinap masuk kedalamnja, tanpa diketahui orang.

Bayangan lamuk itu keluar dari kamar pusaka dengan membawa kjai Sengkclat jang asli berserta tombak kjai Pleret, scbagai imbangdjasa-pakta dari rasa kepcdihan keluarganja.

Tak hendak ia mengangkangi kedua pusaka itu, apabila raja dapat menginsafi kesalahannja dan bersikap baik terhadap pamannja sendiri. Maka tergantung kepada sikap baginda ituah kembali atau tidaknja kedua pusaka lambang keraton Jwa tadi.

**** ALANGKAH seram dan gagahnya laskar Kartasura yang dipimpin oleh bupati-tempur Jayarumeksa yang meninggalkan ibukota, menuju kesarang pemberontak, yang berada disekitar Kota- Gede. Laskar itu terdiri dari . orang prajurit tamtama, penyutra dan surawulung serta dulang mangap, dengan keahlian senjatanya masing-masing. Kesatuan laskar itu dibagi atas empat bagian kelompok lima ratusan.

Kelompok pertarna, sebagai cucuking ayuda (penempur terdepan), lima ratus prajuril tamtama, dengan tetindih panewu- tempur Jayatamtama, terkenal sebagai orang digjaya yang

dimalui orang banyak. Kelompok yang kedua, lima ratus petra, dengan tetindih panewu tempur Wiralaras, terkenal sebagai pemanah ulung dalam kelompok keprajuritan Kedua kelompok ini dipimpin langsung oleh seorang Tumenggung Manggalarana Dibyapragola. Kelompok suralawung ditindihi oleh seorang panewu tempur, Jayawatangan, seorang ahli bergerak dengan tombak yang tidak boleh diremehkan. Kelompok penutup ditindihi oleh panewu, Sutaganjur. Keahliannya adalah bermain ganjur (penggada) dan golok. Kyai bupati Jayarumeksa-lah yang bertindak sebagai senapati-perang dan bertanggung-jawab atas segala-galanja. Biasanya bupati tempur yang gagah perkasa ini, selalu nampak bergembira bila mendapat tugas untuk menggempur lawan, wajahnya selalu berseri-seri waktu memimpin pasukannya. Namun mengapa kali ini ia tidak menunjukkan wajah gembiranya, biarpun ia sudah mengendarai kuda perangnya si Dawuk yang juga nampak gagah perkasa.

Wajah kidipati yang nampak murung, benar-benar menjadi teka-teki bagi teman-temannya terdekat serta para tetindih kelompok-bagian. Adakah sesuatu yang mengganggu senapati digdaya ini? Adakah itu suatu ciri kurang baik perjalanan mereka kali ini?

Sebenarnya tak usah terlalu jauhlah mereka itu memikirkannya, cukuplah mereka meninjau siapakah yang mereka hadapi saja. DenMas Tumenggung Suryakusuma, kecuali putera sulung Gembong Kartasura, yang mampu dengan sekali jotos meremukkan kepala gajah yang tengah mengamuk …. Juga seorang senopati, manggalayuda, yang diangkat oleh almarhum Sunan Amangkurat I, bukan karena dia adalah putera keponakannya, tetapi karena kegagahan dan keperwiraannya menerjang rimba pedang, hutan tombak lautan api peperangan menundukkan musuh-musuh negara. Senopati muda itu mahir sekali dalam perang berubuh dan ia sendiri adalah seorang pendekar yang tak dapat dianggap enteng oleh siapapun, dipuji oleh teman dan disegani oleh lawannya.

Maka sudah barang tentu, berandal yang hendak ditumpasnya itu bukan makanan empuk bagi sipenanggung-jawab. Itulah yang membuat murung ki dipati Jayarumeksa. Kecuali itu, pada waktu ia hendak berangkat dari rumahnya pagi tadi, berbeda dengan yang sudah-sudah. Isterinya yang tertua berpesan wanti-wanti, supaya ki dipati sangat berhati-hati dan berwaspada sekali dalam menghadapi lawannya …. Karena nyai dipati semalam mendapat impian yang agak aneh.

“Jangan kau merisaukan hatiku, Nyai …. Senopati yang bertugas, hanya tahu maju, biarpun didepan terpampar samudera api. Mimpi burukmu itu mungkin sekali karena kau selalu memikirkan yang bukan-bukan saja. Sudahlah, kau berdoa saja supaya aku dapat kembali dengan selamat!”

“Kyai, aku tahu seorang senopati itu, tetapi aku memesanmu wanti-wanti, untuk berwaspada. Mungkin tafsir mimpiku itu tidak terlalu jelek …. Karena aku hanya melihat gunung baja saja, yang tiba-tiba saja menjulai dihadapan Kyai dan teman-temannya …. Mungkin itu berarti penghadang tak terlawan saja oleh pasukan kyai!”

“Bagaimanapun juga, tugas ini harus diselesaikan sebaik mungkin. Terlawan atau tidak terlawan, aku harus menerjangnya. Bila hanya batas harus berwaspada melulu …. Baiklah aku berjanji, akan memperhatikan keadaan dengan hati-hati. nah, kalian berdoalah untuk keselamatan negara dan keluarga kita!”

“Masih ada sedikit kyai .. sudahkah Den Mas Suryakusuma tahu, bahwa ayahnya, kanjeng pangeran Puger mendapat pidana- pambedekan? Baiklah, karena tindakan sang anak, ayah beserta keluarga menanggung pidana demikian berat? Coba bicarakan itu dengan Den Mas Suryakusuma ……mungkin beliau akan menginsyafi kesalahan tidakannya.”

“Lalu ... beliau akan menyerahkan diri, bukan. Uwah•uwah . .

. itulah bukan tugasku, dan sangat merendahkan derajadku sebagai senapati tempur,. menundukkan lawan dengan siasat menekan jiwa lawan. Tidak, nyai ... tidak mungkin aku berbuat demikian. Sudahlah, jangan terlalu banyak mencampuri urusan negara, salah- salah bisa miendapat celaka karenanya. Masakan negara tidak lebih bijaksana dari orang-orang biasa ini.”

Itulah kiranya yang dibekal oleh ki dipati Jayarumeksa dari rumah, mau tidak mau menarnbah pemikiran saja …. dan membayang dimukanya. Kal)au berrnula ia merendcngkan dirinya dengan Den Mas Suyakusuma, sebagai senapati Manggalajuda yang perkasa …. karena impian isterinya itu terpaksa ia merasa kerendahannya dalam soal siasat perang.

Perjalanan laskar Kartasura itu dikuntit dari jarak jauh oleh seorang pemuda yang berdandan secara acak-acakan, berambut awut-awutan. Tidak seorangpun yang akan menghiraukan pemuda jernbel tadi, karena keadaannya yang mirip benar dengan seorang yang kurang waras, bila hanya dilihat sepmtas lalu saja. Namun bila orang memperhatikan kepadanya dengan teliti, pastilah orang akan terhera-heran, karena gerakan-gerakan yang gesit luar biasa .....

matanya yang berkeredapan berkilat-kilat, sepasang mata yang hanya dimiliki oleh orang yang berimu tinggi sekali. Bahwasanya yang membuntut laskar itu, adalah Purut Punung sendiri, yang mengehawatirkan perjuangan kakaknya yang sulung, karena menghadapi tentera pihan dari kota.

Pasti saja ia sudah mempunyai rernyana, sesuatu cara untuk menolong kakaknya itu. Ingin ia mencoba kesaktian rompi „Rajah Sasra‟ dan pedang „Nagasura‟ peninggalan senapati Majapahit, yang belum lama ini diketernukan di puncak gunung Lawu.

Malam itu ia berdiri berendeng dengan arca- arca dewa-dewa dicandi Roro Jonggrang (Prambaaman), yang cukup tinggi, tidak kurang dari sepuluh meter dari tanah, melihat keperkemahan laskar Kartasura yang didirikan tidak jauh disekitar candi tersebut.

Melihat kelengkapan dan kondisi laskar itu, tahulah Putut Punung, bahwa kakaknya menghadapi kekuatan yang teratur lagi kuat sekali. Pastilah pertempuran yang akan terjadi hebat dan seram sekali melihat gelagatnya dan mengingat kecakapan kakaknya bersiasat perang …. Hanya jummlah yang berlipatan itulah yang akan menjadi soal kesulitannya. Lagi pula harus diingat, bahwa Den Mas Suryakusuma, harus menghemat tenaga dan banyak prajuritnya, jangan sampai banyak yang gugur dalam pertempuran. Supaya jangan terus menerus terdesak oleh bala bantuan dari kota, yang pasti bermunculan setiap saat. Nampaknya para pemimpin laskar itu kini sedang mengadakan pembicaraan penting, karena besuk pasti akan berhadapan dengan musuh •di Kota-Gede.

Dengan mudah sekali Punung dapat mendekati tempat pembiljaraan itu, karena orang kurang memperhatikeln penyagaan sama sekali. Ja, siapakah mengira, ditempat masih sejauh itu, dari musuh …….. orang harus sudah memusingkan tentang penjagaan yang ketat. Agaknya orang masih lebih mementingkan soal makan dan peristirahatan melulu.

Kalau toh ada musuh yang berani mendekati perkemahan mereka, itulah bukan soal yang harus ditakutkan. Jumlah mereka yang dua-kali lipat itu pasti cukup berwibawa terhadap tindakan musuh yang berani gegabah bertindak Bagaimanapun sesuatu

kenyataanlah Putut Punung dapat menyelinap masuk dengan mudah dan menempatkan diri dalam jarak kurang dari sepuluh meter dari tempat perundingan.

Kini orang boleh berbicara dengan berbisik pasti tak sepatah katapun akan luput dari pendengaran pemuda jembel itu. Apalagi mereka berbicara berterang-terang seperti biasanya.

Tumenggung Dibyapragolalah yang bermula terdengar pertanyaannya:

“Kyai Lurah, maaf bila ada kelancanganku, sebenarnya saja heran mengapa kyai lurah sejak tadi berangkat nampak kurang senang? Adakah sesuatu yang kurang lengkap atau kurang baik dipandangan Lurah ?”

“Hmm …… adi menggung, tidaklah dapat diselami perasaauku sekarang ini? Hampir-hampir aku dapat menyamakannya dengan tindakan seorang ayah yang hendak mernbunuh auak sendiri. Siapakah Den Mas Suryakusuma itu ...... hmm, awak seudlri, bukan? Maka pertempuran ini hanya. berarti kerugian melulu. Mana yang dikatakan menang, pasti mencederai muka sendiri Apakah itu haiknya?”

“Dalam hal itu ...... kyai benar, tetapi dipandang dari sudut kenegaruan, Den Mas Suryakusuma teah bersalah, memberontak kekuasaan raja.”

“Ya-ya, itulah satu satu dalih yang tak akan tersangkal lagi

...... maka mau trdak mau petugas negara hanya bisa melaksanakan perintah saja, biarpun berlainan yakin dan perasaan inilah yang paling tidak menyenangkan bagi petugas siapapun bukan?”

“Ya, akupun merasa kurang mantap dalam menghadapi perternpuran antara awak sendiri ini, namun apakah jadinya nanti, yang sangat disesalkan adalah tindakan Den Mas Suryakusuma yang seolah-olah tidak memikirkan akan akibat aksinya itu. Mengapa tidak memikirk in keadaan orang tuanya yang pasti tidak akan luput dari ancaman negara? sekarangpun kenjeng pangeran Puger sudah menerima pidana Pembedekan itu beserta seluruh keluarga dan para abdi-abdinya semua. Hmm ...... ataukah itu mernang sengaja demikian? Bila ada unsur sengaja, pastilah Pangeran Puger yang memberi tugas kepada puteranya bukan?

“Helo ...... hlo, adi tumengung, dalam ibukota Kartasura ini, apabila ada orang disebut patuh serta setia rerhadap negara .......

adalah pangeran Puger, gembong besar negara. Bagaimana ia dapat berbuar deimikian. Adi Tumenggung sendiri mengetahui, sudah berapa kali saja pangeran itu dihina dimuka umum …… ingat saja waktu mengumumkan pelantikan raja, pengganti almarhum Baginda …… bukankah hinaan itu sudah kelewat batas? Cukuplah rasanya hinaan itu untuk mengobarkan pertentangan seketika itu juga. Namun pangeran yang penuh kebijaksanaan tadi, tidak berbuat yang tidak-tidak, kecuali menundukkan kepalanya sambil tersenyum kecut sekali. Bagi seorang sakti tingkatan beliau, sukarlah kiranya mengobrak-abrik pasewakan seketika itu juga?.....

Hai, kepala gajah mengamuk remuk dengan sekali jotos saja. bayangkan, bila ia benar-benar hendak merebut kekuasaan.

Tidak, tidak adi menggung ... aku hampir berani mempertaruhkan kepalaku, bahwa pangeran itu tidak sekali-kali tugas gila-gilaan itu. bila Den mas Suryakusuma berbuat demikian, itulah karena sudah terlalu banyak penasarannya terhadap penguasa yang sekarang!”

“Ya..ya, begitulah kiranya. Namun Kyai …… setelah peristiwa pembedekan ini, apakah kiranya segala batas kesabaran manusia biasa belum lagi telah terlampaui …. Apakah hinaan yang sekarang dialami oleh keluarga ka-Pugeran dapat ditelan demikian saja?”

“Amboi Kartasura, apakah yang kau alami kemudian.”

“Haaa, mudah-mudahan saja ibukota yang masih agak baru ini, cukup kuat mengalami goncangan badai yang sudah tercium kuat gelagatnya..!”

“Adi menggung, itulah yang aku kuatirkan sekarang ini. Tetapi masakan kami ini lalu tidak berani bertindak apapun. Sudahlah, hal-hal yang masih belum terjadi tidak usah kita pikirkan dulu, balik mari merundingkan siasat penyerangan. Kewasissan Den Mas itu terletak pada kepiawaian melincahkan gerakan pasukannya, yang segera berubah gelar bila terdesak mundur.

Perlawanan semacam itulah yang sangat menyulitkan musuh- musuhnya!”

“Lalu siasat apakah yang hendak kita pergunakan besuk terhadap para pemberontak ki Lurah?” “Karena kita menang jumlah, maka sebaiknya dipergunakan gelar emperit neba saja. kelompok limaratus orang dipecah-pecah menjadi dua tiga kelompok kecil yang menyerang disana-sini berkelompok dari segala arah, membingungkan lawan.”

“Perlukah kita menempatkan orang-orang kuat pada k.etonpok-kelompok rersebut, atau orang-orang kuat itu kita tempatkan menjadi kelompok istimewa yang harus bergerak cepat menolong kelompok yang mengalami kerusakan?”

“Kali ini kita mencoba mengadakan kelompok istirnewa itu ... tempatkan mereka disebelah luar barisan, kanan dan kiri. Aku ingin mencoba keluar dari biasanya, mungkin musuh kita belum pernah berternu dengan siasat, yang agak berbeda dari biasanya itu?”

Cukuplah Putut Punung mendengarkan perundingan mereka. Kiranya tidak perlu dikuatirkan bila kakaknya akan menderita kerepotan menghadapi siasat burung- pipit menyerbu sawah itu. yang mungkin menjadi soal adalah penernpatan orang-orang kuat itu. Maka ia sendirilah yang akan. menghada pinya.

Dinm-diam Punung menyelinap keluar barisan yang tengah beristirahat itu. Malam itu juga ia mempergunakan ilmu lari cepatnya, untuk berternu dengan kakaknya, menyampaikan kabar akan datangnya masuh dari Kartasura.

Waktu ia datang diperkemahan para brandal dikota Gede, sangat kebetulan karena di-ufuk Timur, sinar bang-bang-wetan sudah mulai nampak. Sudah banyak prajurit brandal yang telah bangun, malahan telah pula ada yang berlatih ketangkasan dan keprigelan memainkan senjata.

Sudah barang tentu bahwa orang-orang itu belum pernah melihat Putut Punung, dalam pakaiannya yang anljak-ancakan itu. Kedatangannya disarnbut dengan muka keren yang mengandung curiga dari para prajurit tersebut. Terdengar bentak seseorang: “Jangan bergerak kawan ... kamu ini orang apa, dari mana dan hendak berbuat apa disin.?”

“Ha, aku ini memang orang betul bukan jejadian, datang dari sebelah belakang, hendak bertemu dengan pemimpin brandal disini.-

“O-ho-hooo ... semalam aku mimpi apakah, maka pagi-pagi semacam ini sudah bertemu dengan orang degleng demikian, tidak pula merasa memutar kincir-kincir, dini hari telah kedatangan orang gila ... ha-ha-haaa ... Hei sinting ... kau hendak berternu dengan siapa . . sanggupkah menyebut pernimpin kami disini? Ha ha ha ha… aku ingin benar mengetahui, masihkah kiranya kamu ingat akan namamu sendiri, he he he heh cobalah sebut nama pemimpin itu, yang hendak kau jumpai. Kalau kamu dapat menyebutnya, mungkin aku sendiri akan mengantarkanmu kepadanya…!”

Baik-baik, bawalah aku kehadapan Den Mas Suryakusuma, manggalayuda Kartasura yang berpangkat kliwon penempur, pejabat kanan dalam kesatuan besar…”

Waktu belum berpangkat dia bernama Den Mas Sudira, putera Pangeran Puger yang tertua …. Betul apa tidak, saudara tetindih Jayasura?”

“Hai-hai …. darimana pengetahuan yang sangat terinci itu? siapakah sebenarnya kau ini?”

“Kau nanti akan tahu sendiri siapa aku! tetapi sekarang bawalah aku kepada pemimpinmu itu, aku membawa kabar penting bagi para berandal!”

Para pra•urit yang mengerumuni mereka, karena masih curiga, banyak yang mencegah ki Jaya, “Ki Lurah … jangan-jangan orang ini adalah mata-mata musuh dari kota.” “Hemm..” dengus Jayasura …. Kalau begitu, mari kita halau bersama saja orang ini.”

“Ki sanak, kau dengar sendiri perkataan orang-orangku itu, nah …. pergilah dengan damai!”

“Kalau aku tidak mau pergi, kau mau apa tuan tetindih yang tidak berani menepati janji sendiri? Kau kira kalian dapat mengurungkan niatku ini? ha ha haa… boleh cobalah!, aku hendak jalan terus…!”

“Bagus, bagus … pagi ini kita dapat berlatih sungguh- sungguh untuk melemaskan otot-otot kita yang masih agak kaku. Jangan menyesal jika kami tidak terlalu sopan mengganyangmu, tuan!”

Puluhan orang bergerak bersama-sama menubruk Putut Punung. Apabila Putut Punung pagi hari itu tidak mempunyai kegembiraan untuk berkelakar, pastilah orang-orang itu akan segera jungkir balik terkena kekuatan tubrukannya masing-masing yang membalik, karena tenaga tolak yang melindingi tubuh pemuda sakti itu. namun kali ini, ia hendak main-main dengan anak buah kakaknya. Maka waktu puluhan tangan itu hampir menyentuh badannya, ia menjejak tanah meluncur tinggi sekali lalu berjumpalitan ditengah udara, melesat kesamping … dengan gaya yang manis turunlah ia dua landeyan tombak disamping pengeroyoknya.

Ejek Putut Punung, “Huh..huuuuh …. Pantaskah kalian ini disebut prajurit berandal, yang harus lebih unggul dalam segala hal dari prajurit biasa. Puluhan orang menangkap orang satu saja tidak becus ….. cara bagaimana kalian nanti akan menghadapi prajutir Kartasura yang jumlahnya lipat dua dari jumlah kalian?” Karena orang-orang yang mengerumuni Putut Punung tadi bergerak bersama-sama, menubruk ke arah orang yang dikiranya mata-mata lawan, tetapi yang ditubruknya tiba-tiba lenyap …. Mau tidak mau mereka itu jadi saling tubruk sendiri. Puluhan tangan saling cengkram, sedangkan lebih dari lima orang hingga beradu kepala berkaok-kaok karena kesakitan … saling tindih, saling remas dan saling pukul sendiri. Setelah membuka mata, baru mereka tahu keadaan yang sebenarnya.

Setelah melihat orang yang hendak mereka tangkap tadi. sudah berdiri menyengir sambil mengejeki maka dengan geram sengi t sekali mereka menerjang lagi, kini dengan teratur dan berhati-hati, mernpergunakan senjata golok dan keris mereka. Dengan berteriak tinggi•rendah mereka mengerubut pemuda awut- awuran tersebut, Bagai hujan gerimis datangnya serangan senjata dari segala arah, namun pernuda acak-acakan tadi dapat berlincahan mengimbangi datangnya serangan. Tangan dan kakinya tak henti- hentinya bergerak cepat, mulutnyapun tak berhenti mengejek ... “Kurang cepat, ini serangan ngawur, kurang latihan-kurang gesit dan luwes .... huh-huuuh ... kalian harus berlatih banyak banyak lagi, supaya gaja tempur kalian agak berarti dalam peperangan. Hayo-hayo-habis kan tenagamu, masukan baru saja mulai sudah hampir kehabisan napas prajurir ternpe kalian ini!”

Karena kegaduhan yang mereka timbulkan, maka segera pula terlihat bermunculan orang-orang dari dalam perkemahan. Malahan Den Mas Suryakusuma sendiri, sudah membekal pedang mendatangi tempat keroyokan itu dengan cepat sekali. Sekejap saja pemimpin itu sudah tiba didekat tempat keroyokan. Dengan suara nyaring ia berkata, “Mundur semua..!” Tahu- tahu orangnya sudah ada ditengah-tengah mereka sedang pedangnya yang berkilat-kilat telah menjurus kepada tenggorokan musuh. Belum pernah pemuda manggala yuda ini gagal dalam serangannya, pedang yang digerakkan dalam jurus pedang simpanan itu. tetapi alangkah kecewanya kali ini ….. pedangnya menyeleweng jauh dari sasarannya, malahan pergelangan tangannya sudah dalam pegangan lawan sakti ini.

Namun Den Mas Suryakusuma tidak menjadi gugup karenanya, masih ia dapat membela diri dengan kedua tangan dan kedua kakinya. Secara indah dan gesit sekali tangan kirinya membabat lambung musuh. Tetapi gerakan itu sudah kedahuluan tertindih ujung telunjuk lawan pada permulaan gerakannya, hingga lenyaplah gaya serangannya. Betapa kaget dan herannya, kini tampak pada sinar matanya yang ditujukan kepada lawannya ….. “Hai, kau.. kau … siapa… Kau adikku PURBAYA kah?” Nampak tegang benar wujudnya menanti jawaban orang tidak karuan ini. apakah yang terlihat oleh orang banyak waktu itu…?

“Ha… kiranya kakangmas tidak lupa lagi kepada adiknya sendiri, nah inilah aku kakangmas, tetapi nama itu sudah lama aku berikan kepada Sasangka. Aku sendiri sekarang bernama Putut Punung.”

“Ah …. adikku, hampir kau membuat cemas hatiku. Aih, siapa mengira bahwa kau adalah pemuda paling tampan dalam kota dahulu, hingga menjadi buah bibir para perawan dalam kota Kartasura, mengapa kau rela memperlihatkan dirimu semacam begini?”

“Kangmas, bukankah rama pangeran telah mengatakan Halku dahulu kepada kangmas ? Aku sirik untuk bertentangan Dengan si pemuda paling berkuasa, maka lebih baik akulah Yang mengalah. Dan setelah kangbok ratu Alit, wafat karena Fitnahnya …. sulitlah bagiku untuk mengabdi pada negara. Biarkanlah adikmu ini lepas dari segala yang bersangkutan dengan kebangsawanan. Aku telah bertekad untuk menjadi rakyat jembel biasa dan mengabdi kepada kepentingan umum …. Disamping keluarga kita!

Tetapi. kedatanganku ini bermaksud lain .. ! sejak berangkat dari Kanasura, aku mengikuti perjalanan laskar yang mendapat tugas untuk melumpuhkan gerakan kangmas ini.. Senapati yang mengamban tanggung jawab adalah dipati Jayarumeksa dengan membawa duaribu orang prajurit. Semalam mereka berkemah di candi Prambanan dan disitulah aku dapat mendengar perundingan mereka. Dalam pembicaraan mereka dapat dikatakan bahwa sebenarnya ada rasa cendrung kepada keluarga kita…. Tetapi mereka petugas negara, maka mau tidak mau harus memusuhi brandal yang menentang pemerintahannya.

Hari ini mereka sudah pasti datang disini. Gelar perang yang akan mereka pakai adalah siasat Emprit Aneba, tetapi dengan menempatkan orang kuat disebelah kanan dan kiri yang segara bertugas menolong jika ada kerepotan teman-teman mereka. Nah itulah kabar yang kusampaikan kepada kangmas, untuk berjaga-jaga dan mengawasinya. Aku sendiri akan mengawasi kelompok orang- orang kuat itu!”

“Adik, tunggu dulu …. Katakan kepadaku dengan terus terang, adakah akibat kurang baik timbul karena tindakanku ini? bagaimana dengan Ayah sekeluarga?”

“Sudah dapat dipastikan bahwa tindakan ini berbuntut buruk sekali bagi keluarga kita. Ayah dengan seluruh keluarga beserta para abdi yang terdekat kini menyalani pidana pembedekan di paseban alun-alun. Sudahlah kangmas, segala yang terlanyur terjadi tak perlu disesalkan hingga bertele-tele. Apalagi kangmas tahu sendiri, bahwa bentrokan ini pasti meledak suatu ketika, karena sudah dari dulu kangmas Anom sudah menantikan saat seperti sekarang ini. pastilah sekarang ia leluasa berbuat jahat sekehendak hatinya. Apabila kau belum menolong ayah keluar dari pembedekan, itulah karena aku ingin mendengarkan pendapat umum diseluruh negara. Dan kiranya dengan tindakan yang sangat tidak bijaksana dari pemerintahan ini, kiblat hati rakyat lebih banyak kepada kanjeng rama pangeran. Itulah perlu jika rama terpaksa harus mengangkat senjata untuk membela diri dari tindakan baginda yang sewenang-wenang. Maka sekarang, hadapi saja dulu musuh dari Kartasura, sambil melihat gelagat selanyutnya.”

“Aih-aih …. Punung, bukankah aku ini anak yang tidak berbakti atau malahan lebih jahat daripada itu …. Anak yang menyerumuskan orang tua beserta keluarganya kedalam jurang kehancuran?”

“Menyesalpun tak ada gunanya, kangmas …. Teruskan sajalah maksudmu itu. Berbuatlah kemudian mengimbangi perkembangannya.”

“Baiklah adik, aku pasti tidak akan membiarkan orang tua menjadi celaka karena kedunguanku.”

“Sampai bertemu lagi kangmas, berhati-hatiah selanjutnya ... aku sendiri akan bekerja dengan diam-diam dalam penyaruanku ini.”

Dalam beberapa loncatan saja Putut Punung telah lenyap dibalik perkemahan-perkemahan mereka. Segera Den Mas Suryakusuma dikerumuni oleh para pembantunya, para manggala tetindih juda. Jagasura-Jajengkewuh-Wirajaya-Wira•kerti dan Jain- lainnya untuk menanyakan siapakah gerangan tokoh sakti luar biasa yang habis bertemu dengan sang pemimpin. Jawab Den mas Surya dengan tersenyum-senyum: “Itulah adik saja yang nomor dua, yang tidak suka lagi hidup sebagai bangsawan, karena sangat membenci kalangannya sendiri yang ternyata sangat buruk itu. la lebih suka hidup sebagai rakjat jelata. Kedatangannya mengabarkan bakal datangnya musuh dari Kartasura ... maka lekas kalian bersiap-siap untuk menghadapi lawan yang jumlahnya orang.

Karena kita kalah jumlah maka sebaiknya kalian berlempur dalam gelar “CAKRA – BYUHA” orang.

Adapun yang lima ratus lagi dibagi atas dua bagian dengan tata gelar GARUDA bersamberan, dikanan dan kiri penempur inti. Ketahuilah, bahwa mereka mempunyai penempur orang orang kuat dua kelompok, yang ditempatkan di kanan kiri bari.sannya. Berhati- hatilah terhade.p regu-regu orang kuat ini. Perhatikan juga gerak- gerik adikku pemuda awut-awutan tadi.

Dia berjanyi akan menempur regu-regu kuat itu, bila ada kerepotannya, tolonglah dengan samberan-samberan garndamu. hayo-mari kita mulai bekerja. -

Kabar itu diterima dengan hati berdebaran, telapi menggembiakan sekali bagi mereka, karena mereka tahu benar bahwa lambat atau cepat, pastilah akan terjadi pertempuran melawan utusan dari ibukota. Setiap prajurit menjadi sibuk sekali dengan melengkapkan perbekalan masing•masing. Menyelang tengah hari barlah mereka siap-lengkap, sampai kepada segala macam penyelasan dan pesan-pesan jang sangat perlu dalam medan perang nanti.

Tak usan mereka jauh-jauh meninggalkan perkemahan mereka, untuk mendapatkan tempat calon berternpur yang cocok sekali, untuk menantikan kedatangan musuh dalam tata gelar yang mereka pilih.

Regu pemancing lawan sudah dilepaskan, menghadang laskar Kartasura. Nampaknya dalam waktu dekat musuh helum datang, hingga waktu terluang itu dapat dipergunakan oleh prajurit, menurut kepentingan masing-masing.

Ada yang beristirahat sarnbil menikmati bekalnya ... ada jang duduk-duduk memelihara kekuatan sambil mengganyang sirih, meneegah rasa dahaga dalam beraksi nanti. Para tetindihlah yang terpaksa terus giat bekerja ... memeriksa barisannya yang sudah diatur rapi ... disana-sini memberi petunjuk dengan kelakamya yang merobesarkan hati para prajurit.

Kita-kim jam dua siang, barulah laskar Kartasura kelihatan dari jauh. Kedatangan mereka disambut dengan suara gemuruh dari pihak lawan. Sudah barang tentu prajurit ibukota mengimbangi sorak mereka menerirna tantangan Brandal ini hendak dibekuknya.

Dalam jarak jauh itu, mereka berhadap-hadapan untuk saling menapsir kemungkinan-kemungkinan yang bakal mereka alami.

Mungkin karena baru saja berjalan agak jauh diuga karena sang terik matahuri masih sangat meogganggu kondisi badan mereka ... laskar Kartasura diperinrankan beristirahat dahulu, sarnbil berpasang gelar-perang mereka. Sementara itu Tumenggung Dibyapragola beserra dua orang panewu-ternpur, dengan mengendarai kuda perang meridahului laskamya, sebagai utusan Sang Senapati, untuk menegaskan sikap lawan.

Waktu itu kira-kira pukul tiga siang, Tumenggung Dibyapragola melancarkan suaranya yang lantang kearah pertahanan musuh, setelah datang tidak jauh lagi dari mereka, “Dengarkan sabda baginda Sunan Arnangkurat Mas (Am III), hai para kawula negeri Mataram ......... Bahwasanya masih ada jalan hidup dan pengampunan baginda, kepada para kawula yang insjaf akan kesalahannya dan kembali kepada pengabdian masing-masing. Namun bila kalian membandel dalam perbuatan kalian ….. terpaksa laskar Kartasura yang kami bawa ini segera akan menempur kalian. Selesailah pengumumanku ini, bila dalam waktu sepemakan sirih kalian tidak menjawab dan menyerahkan senjata kalian ….. bersiaplah kalian menghadapi terjangan laskar kami!”

Dari pihak lawan nampak Den Mas Suryakusuma sendiri keluar dari barisan, diiringi dua orang pembantunya, maju kira-kira tigapuluh meter didepan barisannya, untuk menjawab utusan dari Kartasura.

“Kakang Tumenggung Dibyapragola, sudah lama aku, Suryakusuma …. merasa penasaran sekali terhadap kangmas Adipati Anom yang dulu dan yang sekarang ini sudah menjadi raja Mataram, tentang perlakuan beliau terhadap keluargaku. Dalam hal kesalahan inipun aku yang bersalah ….. mengapa kanjeng rama Pangeran Puger dan keluarga seluruhnya, malahan para abdi segala harus menderita hukuman pembedekan? Tidakkah ini memancing- mancing perlawanan yang sangat membahayakan negara?

Kakang Tumenggung, ….. baiklah, aku segera menyerahkan diriku sendiri, bila baginda sudah membebaskan ayahku berserta keluarganya yang dalam pembedekan itu. itulah janji ksatriaku yang pasti akan kupenuhi setelah ayah keluar dari siksaan. Bila tuntutan ini tidak dilaksanakan, biarlah aku menjadi pengacau negara selalu, hingga pemerintah mampu meringkusku beserta para pengiringku yang setia semuanya…!”

Sekali lagi berserulah Tumenggung Dibyapragola, “Den Mas Suryakusuma … ketahuilah bahwa kami tidak ada hak sama sekali untuk mengurus soal segala macam tuntutan dan pembicaraan dengan pihak pemberontak. Maafkanlah kami ini, tugas kami hanya menggempur lawan negara yang tidak mau menyerah, kembali kepada pengabdian negara. Maka apakah jawaban Den Mas yang tertentu dalamsoal ini?!” “Bila demikian, terserah kepada kakang Tumenggung beserta kawan-kawan saja, kami akan bertahan sedapat mungkin, demi tuntutan kami tadi!”

Seketika itu juga suasana menjadi sangat tegang. Orang tahu sekarang, tidak ada jalan lain kecuali melewati ujung senjata mereka masing-masing. Nampak ki Tumenggung dengan kedua kawan pengiringnya kembali kepasukannya untuk melaporkan hasil pembicaraannya dengan pihak berandal…. Sedang Den Mas Suryakusuma, tinggal berdiri ditempat dengan mengangkat tangan kanannya, yang berarti ….. siap menghadapi serbuan musuh. gelar CAKRA-nya bergerak maju dengan perlahan-lahan, hingga sang pemimpin berada ditempat yang merupakan pusat penggerak pergeserannya roda cakra yang pasti ampuh dan seram itu. bergerak pula garuda kanan dan kiri, sebagai pengawal sakti yang menakutkan.

Kini laskar Kartasurapun bergerak serentak, tidak kurang seram dan gagahnya dari pihak lawan. Mulailah mereka melakukan gelar siasatnya. Segumpal demi segumpal mereka memecah dan memisahkan diri dari kelompok besar, lalu bertaburan serabutan sebagai burung pipit menyerbu sawah yang padinya sudah menguning. Kawanan mereka itu tidak kurang dari seratus sampai dua ratus perajurit, dengan senjata terhunus menyerbu dari jurusan kedatangan mereka, dimuka… disamping … dan ke arah lambung gelar musuh. paling kanan dan kiri, nampak kelompok yang terdiri dari kira-kira tiga puluh tamtama pilihan, yang gerakannya gesit- gesit, tangkas dan kuat-kuat. Itulah kiranya yang mereka katakan sebagai kelompok orang-orang kuat. Kelompok-kelompok pipit itu menerjang musuh dengan gagah berani, sambl berteriak-tenak melepas gendam serta jerit•jerit perang, pelurnpuh lawan. Maka gegap-gempitalah dimedan laga tersebur, menggemuruh diangkasa bagaikan gunung ambruk. Laskar Kartasura menempur seru, sedang brandal Kotagede menadahinya dengan gagah perkasa, dengan tekad bulat membela kebenarannya yang diyakini. Roda gelar Cakra bergerak memusingkan, meng- gilas para penyerbunya tanpa ampun lagi. Namun prajurit Karrasura bagaikan sudah mabuk darah, tak menghiraukan lagi keselamatan pribadi, karena melihat para tetindih mereka tak seorangpun yang tidak berjuang mati-matian. Namun lapisan roda gelar Cakra Den Mas Suryakusuma ternyata sangat ampuh, karena telah mengalami gemblengan yang bermutu tinggi. Setiap kali diserbu kawanan tamtama bersenjata apapun selalu dapat mengatasina dengan gerak berputarnya lapisan luar, yang selalu diganti oleh lapisan temgah, dengan gerakan naga meninggalkan tempat melingkarnya.

Para penyerang lambung cakra-pun selalu mendapt kesulitan dari samberan-samberan garuda pengirmg yang melmdungi Cakra tersebut. Maka kini nampak dimana-mana ada kerusakan dipihak penyerbu dari Kota. Mulailah sekarang kelompok orang kuat bergerak. Dengan pedang dan golok terhunus mereka hendak menyerbu untuk memperbaiki pasangan yang rusak.

Namun kelompok kanan yang tengah henlak bergerak itu, tahu-tahu menjadi kocar kacir karena tiba-tiba mendapat serangan pukulan angin keras, hingga menyulitkan pernapasan para prajuritnya. Masih dalam kebingungan hendak mengetahui siapa penyerangnya, tahu tahu sudah diserang oleh seorang kurang waras, yang berdandan seperti pengemis jembe, bersenjatakan tongkat dikedua belah tangannya. Nampaknya pengemis itu bergerak seenaknya saja, namun nyatanya, pedang dan golok yang sedang dimainkan oleh tangan-tangan ahli, beterbangan diudara bila bertemu dengan tongkat pengemis itu. Tidak terlalu lama tiga puluh orang kuat itu sudah tak bergegama lagi, malahan sebagian besar sudah berdiri mematung sebagai arca hidup, karena masih dapat berkedip-kedip. Mulut menjadi kancing, mata menjulung .....

mungkin karena menahan sakit, tetapi mereka sama sekali tidak terluka.

Anehnya mereka tidak sampai dapat melihat cara bagaimana pengemis itu bergerak ….. kapan datangnya dan kapan pula perginya. Tahu-tahu sudah ada, kemudian tahu-tahu sudah tak nampak lagi batang hidungnya. Keruan saja orang menyangka bahwa dia itu bukan manuiiia biasa …... mungkin demit atau jejadian yang membela Den Mas Suryakusuma entah sebab yang bagaimana. Mungkin sekali demit itu suka akan kebenaran dan keadilan, maka ia memilih teman dan lawan.

..... Hai-hai .... adakah demit berhati ksatria …... , yang membela kebenaran dan keadilan?....... Itulah mustahil, tetapi siapakah orang dapat berbuat seperti dia dijagat Mataram ini …… Sibuklah orang orang kuat kelompok kanan yang tidak mendapat cedera itu, mengurusi teman temannya yang sudah menjadi setengah hidup dan setengah mati tersebut, menyingkirkan mereka dari ternpat pertempuran. Segera juga hal yang ajaib ini dilaporkan kepada Sang Senapati.

Alangkah terkejutnya hati kidipati Jayarumeksa karena sekaligus mendapat laporan yang harapir sama dari kelompok orang-orang kuat ini .... mula-rnula dari kelompok kanan jang segera disusul oleh laporan kelornpok kirihahwasanya

kelompok pasangan orang kuatnya dilumpuhkan oleh tokoh jang tak dapat dikatakan sangkan-parannya. Nampaknya pengemis itu bergerak seenaknya saja namun nyatanya,…….. Mau tidak mau ki dipati teringat akan mimpi ajaib isteri, nya. Mungkinkah ini yang terlihat sebagai gunung baja penghalang perjalanannya? Tetapi apakah yang harus diperbuatnya, karena ia adalah petugas yang harus berrindak mernenuhi perintah negara. Sekalipun menjadi abu, lebur tanpa arah ... ia harus maju. Baru sampai disitu ia meninjau keadannya keburu datang seorang tetindih kesetanan, berkuda yang memegangi Tumenggung Dibyapragola didepan penanya Kelihatan ki Tumenggung menyeringai kejang tak dapat berkutik.

Dengan suara gugup bertanyalah kidipati Diaja : “Hai, adi Jayawatangan ..... berbahaja-kah luka adi Tumenggung Dibyapragola itu, Siapakah lawan bertandingnya?”

“Hanya nampak sekelebatan pengemis jernbel, menghadapi arnukan kitumenggung yang perkasa itu ..... tahu-tahu batang tombak kilurah mental keatas, patah menjadi dua ….. lambung kilurah kena senggolan orang acak- acakan tersebut lalu

jengkarlah kyai Tumenggung. Lenyap, entah kemana orang itu menelusup kedalam barisan orang bnyak, dan aku segera meloncat kebelakang kyai Lurah untuk mernbawanya kernari ini.”

Sukan main marah ki dipari Jayarumeksa, dengan menggeram keras meloncatlah ia keatas punggung kudanya. “Den Mas Suryakusurna .... permainan apakah yang Den Mas suguhkan kepada orang kawakan sepertiku ini? Hayo-hadapilah aku si tua bangka!”

Kuda perang ki dipati meluncur cepat seperti kilat, menyerbu gelar cakra muauhnya. Tetapi dipinggiran gelar itu, kudanya terhernak berhenti, karena tali keangnya dipegang oleh tangan perkasa. Hampir-harnpir Sang Senapati jatuh terjerunuk, namun Dipati Jayarumaksa adalah tokoh kuat yang telah ternyata kedigdayaannya. Dengan memukulkan kedua tangannya kemuka, dapatlah ia memperbaiki dudukuja dipelana kudanya.

“Setan alas, siapa berani menghambat jalan kudaku?” seru ki dipati marah, sambil menyabetkan pedang ditangan kanannya kearah pemegang kendali kuda tunggangannya. “Mampus kau….!”

“Belum tentu. Apa sih sulitnya mengelak sabetanmu yang nguler kambang ini. Eh-eh, ki dipati manggalayuda ….. dengar atau tidak tuntutan Den Mas Suryakusuma tadi …..? kalau dengar, sebaiknya kalian mundur dulu saja, mengabarkan hal itu kepada baginda ….. supaya memperpendek berlarutnya kejadian ini!”

“Sudahlah ….. bunuh saja aku, atau kaulah yang akan kubunuh, nih ….. lihat serangan!”

Benar saja bupati itu menerjang dengan ilmu serangan yang unggul sekali, tetapi ia menghadapi empu dari segala gerakan manusia, Putut Punung yang telah tak terukur lagi kemampuannya. Dalam tujuh gebrakan saja ki dipati sudah kehilangan pedangnya, malah sudah tidak dapat bergerak lagi diatas pelananya. Dengan mata melotot, ia tahu arah kudanya dibalik kearah tempatnya semula. Sekali orang itu menepuk pantat kudanya tersebut, membedallah kuda itu kembali tanpa menyimpang ditengah jalan.

Dengan kembalinya kidipati itu, sebenarnya habislah pengharapan pasukan Kartasura untuk dapat mengatasi lawannya. Maka tanpa mendapat perintah lagi, para tamtama dari kota tadi mundur dengan ketakutan, khawatir musuh tetap akan mengejar mereka. Syukur pada waktu itu sang surya sudah sangat rendah kedudukannya, hingga taklama kemudian akan segera masuk kegaris cakrawala yang akan menghentikan segala kesibukan medan perang. ****

BAG IAN V

MALA M itu laskar Kartasura mundur lebih dari lima kilo meter dari bekas medan pertempuran, Karena kedua pemimpin mereka mendapat cedera aneh maka Jayawatangan-lah yang mewakili memirnpin pengunduran mereka itu, sebab dialah yang tertua dan paling berotak tetang.

Barisan mereka yang telah menjadi kurang teratur lagi, karena menderita kerusakan dalam medan, dibawa masuk keda!am desa Gondang, dimana mereka dapat beristiiahat dan merawat pemimpin mereka tersebut.

Sudah barang tentu Lurah desa Gondang teramat sibuk memberi pelajanan laskar sebanyak itu, hingga seluruh penduduk kampungnya, tak seorangpun yang ketinggalan, menyediakan segala keperluan laskar itu, Jebih-lebih soal makannya. Ki dipati Jayarumeksa dan Kitumenggung Dibyapragola, di rawat dirumah pak Lurah Gunasaraya sendiri. Namun apapun di-usahakan, tak satu dari usaha itu yang dapat menyembuhkan cedera kedua pemimpin tersebut, yang sama sekali tidak dapat luka diluar. Pastilah Juka it.u luka dirialam yang sukar dimengerti orang biasa, tentang jenis dan tempatnya. Tetapi anehnya ... setelah mengalami lumpuh kira•kira tiga jam lamanya, mereka itu sembuh dengan sendirinya, dalam arti kata dapat bergerak dan bicara kembali. Sekalipun masih nampak kaku-kaku, mereka sudah dapat bergerak lagi, asal saja tidak mengeluarkan tenaga banyak•banjak.

Untuk bergerak leluasa yang menghendaki tenaga berlebihan, masih belum mampu sama sekali karena terasa isi perutnya terasa hendak berbalikan. Terpaksa mereka harus menerima nasib, yang mengharuskan mereka bersabar dahulu. Karena mereka sudah dapat berbicara, maka dipati Jayalah satu-satunya orang jang dapat menerangkan jenis cedera yang mereka alami bersarna itu, Katanya: “Itulah ilmu pukulan jang tinggi sekali, ilmu menepuk nadi yang terpenting dibagian tubuh manusia, Bila nadi itu digerayangi oleh orang jang mahir dalam ilmu itu ... haaa- jangan harap dapat bergerak untuk sernentara waktu. Narnpaknya musuh kita ,itu masih banyak menaruh kasihau kepada lawan-lawannya, hingga tepukannya hanya sampai batas melumpuhkan sadia ... dan terbatas lagi untuk tiga jam. Kalau ia mau, kita ini bisa dilumpuhkan untuk seumur hidup kita. Wahai ... alangkah ngerinya hidup tanpa gaya sama sekali dernikian. Maka sebenarnya kita ini harus mengucap terirna kasih kepada si jembel gila itu, yang tidak herbuat keliwat batas atas diri kita!”-

“Kyai Lurah, bukankah kita ini sudah menyadi orang tanpa guna lagi, karena tidak dapat menggunakan tenaga sepenuhnya? Sudah beberapa kali aku mencoba mongerahkan tenaga badanku, masih saja terasa di-ulu hatiku, tekanan jang tak terderita sakitnya. Mana kami dapat melanjukan pengabdian kami kernudian, bila kami sudah cacat begini?”

“Sabar dulu adi Tumenggung, aku masih mempunyai harapan, bahwa pengerahan tenaga kitapun akan pulih setelah kita beristirahat, cukup lama. Soalnya, adalah orang menghendaki kita ini tidak dapat bergerak untuk sementara waktu!”

Datanglah Jayawatangan menghadap pemimpin laskar untuk memberi laporan, bahwa segala sesuatu sudah diatur sebaik- baiknya, sarnpai kepada penjagaan dibatas desa dan gardu-gardu masuk kedalam desa. Kidipati hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja, karena ia jakin bahwa musuh tidak akan mengejar mereka.

Kecuali mereka itu kalah jumlah orang juga harus berpikir , akan adanya bala bantuan dari lbukota yang dapat datang setiap saat, Mustahillah mereka berani meninggalkan tempat pertahanan mereka, yang ternyata tidak lernah itu.

Dan ternyata pihak brandalpun mernpunyai perhituugan semacam itu juga, hingga mereka tidak perlu menjadi sangat kecewa karena segera akan bertemu dengan barisan dari kota yang menyusul utusan pertama. Seribu tamtama Karlasura dipimpin oleh Dipati BANYAKWIDE, malam itu juga datang di desa Gondang, dibawa oleh salah seoranng tetindih jang mendapat tugas kembali ke Kartasura, guna mengabarkan tentang kegagalan utusan yang pertama. Kebetulan mereka bertemu ditengah jalan dengan bala bantuan tersebut, selanjutnya Harya Banyakwide dibawa kedesa Condang itu, bertemtemu dengan Dipati Jayarumeksa ... yang segera menceriterakan pengalamannya dengan brandal kota-gede.

Malam itu orang sibuk menceriterakan tokoh awut•awutan yang aneh sekali tindakannya. Orang-orang yang pernah melihat orang itu satu demi salu diberi kesempatan untuk berecritera dan mengeluarkan pendapatnya. Maka disamping ceritera seram yang sudah barang tentu agak berlebihan didengar oleh orang banyak, dan seakan-akan orang itu dianggap bukan manusia biasa lagi oleh yang menceriterakan saking mustahilnya tingkah lakunya yang ccpat melebihi kilat, gesit bagaikan tatit, bagaikan dapat terbang. tiada mempan segala macam senjata tajam dan runcing sedang

tiap-tiap tangannya bergerak, mongakibatkan mematungnya lawan yang disenluhnya. Barang apa saja jang berada ditangannya selalu berubah menjadi gegaman yang ampuh sekali yang tahan bacokan• bacokan pedang dan golok ... malahan pedang dan golok itulah yang pasti mental keudara tanpa dapat dicegah terlepasnya. Tak seorangpun dapat menecriterakan bagaimana wajah orang itu, karena gerakannya yang sangat cepat. Maka mereka hampir berani bersumpah, telah berhadapan dengan malaekat atau jejadian jenis lain, yang pasti bukan manusia sejati.

Hanya ccritera Sang Senapatilah yang agaknya mendekati kebenaran ... katanya : “Bagaimanapun aku tidak percaja bahwa ia bukan manusia biasa. Menurut hematku, dialah seorang tokoh sakti yang sudah luar biasa sekali tinggi ilmunya, mungkin tak ada keduanya dialam Mataram ini ... kecuali bila dihadapkan pada gembong terbesar Kartasura, pangeran PUGER. Namun, nampaknya orang luar biasa ini adalah pembela keluarga ka- Pugeran …. bagaimana kita dapat mengharap sang pangeran suka turun tangan terhadap si-acak acakan itu. Aku berpendapat bila

orang setengah sinting itu masih berada dalam lingkungan prajurit brandal kota gede, sulitlah bagi para petugas negara yang hendak menjinakkan Den Mas Suryakusuma. Maka adi adipati Banyakwide, tidakkah kita wajib menyampaikan tuntutan Denmas itu, ialah segera akan menyerahkan diri setelah kanjeng Pangeran Puger dikeluarkan dari pembedekannya.

Jawab Harya Banyakwide yang masih merasa penasaran sekali : “Aku. setuju, kakang dipati mengabarkan ke Kartasura tuntutan itu, namun aku sendiri pasti harus mencoba kekuatan brandal itu, untuk menolong mukaku belum bertempur sudah mengucir sebagai anjing bercawat ckor, melihat tongkat besar. Biarlah aku mencoba-coba nasib, ingin aku menantang Den Mas Suryakusuma bertanding seorang melawan seorang, untuk menentukan menang kalah pasukan kita, menghindari jatuhnya banyak korban manusia kedua belah pihak. Sementara itu kakang dipati mengutus orang ke ibukota.”

Sekali lagi prajurit Kartasura terlengah dalam soal pennjagaan penyelundupan musuh yang berilmu tinggi. Tak seorangpun yang mengetahui, bila mereka selalu diawasi dan didengarkan dari dekat segala perundingannya yang terpenting.

Kali ini Putut Punung berada di atas arap pendapa kelurahan Gondang, untuk mengetahui gerak-gerik lawan.

Malam seram kian menjadi dingin, kadang-kadang terdengar tiupan angin santer. menggerarkan dahan-ranting dan dedaunan pohon-pohon dikampung tersebut, hingga orang kebanyakan lebih suka mencari tempat peristirahatannya dari pada berada diluar beromoug-among dengan ternan-teman mereka. Sesosok bayangan manusia meluncur pesat kearah perkemahan kota-gede, Biarpun sudah larut malam Putut Punung, terpaksa menemui Den Mas Suryakusuma, untuk mengabarkan kedatangan musuh bantuan yang dipimpin oleh Senapati kenamaan Harya Banyakwide. Lamalah kakak beradik merundingkan sesuatu hal. Entah apa yang menjadi titik perundigan mereka hanya kawal pribadi pemimpin brandal itulah yang mengetahuinya ....

Pagi itu para prajurit brandal terpaksa tercengang cengang melihat adanya Den Mas Suryakusuma kembar dilihat sepintas lalu, Tetapi kalau orang memperhatikan dengan teliti, nampaklah perdesan serba sedikit antara pemimpin kernbar itu.

Pastilah mereka akan dapat menentukan pernimpin mereka yang sejati, karena kembarannya berusia lebih muda, badannya lebih pasang dan lebih tinggi beberapa inci.

Pemuda yang berandalan dan wajahnya mirip sekali Den Mas Suryakusuma itu, tidak mungkin lain orang, dari pada salah satu dari adik adiknya sendiri. Maka segera tahu pula mereka bahwa pemuda itu adalah Den Mas PURBAYA, yang sudah kira-kira dua setengab tahun yang lalu meninggalkan kota Kartasura, karena menghindari kehebohan ... Pemuda inilah yang dipuji-puji masarakat kota, hingga menimbulkan rasa kurang baik pada pangeran ANOM. Itulah pemuda yang pernah mengalahkan watangan sang prawira sakti Untung-Surapati dahulu. Lebih mantaplah rasanya orang-orang kuta-gede dengan adanya pemuda gagah ini. Pastilah barisan mereka menejadi lebih kuat, karena bantuannya.

Pagi cerah itu mereka mendapat perintah bersiap-siap dalam gelar yang sama, keluar ketempat pertempuran kemarin, untuk menghadapi lawan baru. Malahan baru saja mereka seesai dengan mengatur gelarnya, musuh sudah keburu datang. Laskar Kartasura yang datang kali ini berimbang kekualannya dengan mereka sendiri. Oleh sebab itu, orang bertanya lah, siapa gerangan pemimpin satuan lawan itu.

Kiranya tidak• perlu mereka menunggu jawaban hingga lama waktu itu, nampak seorang ksatria berkuda meninggalkan barisan, mendekati barisan brandal kola gede. Kira-kira dalam jarak sepembatang, berhentilah ksatria itu. Dengan suara yang nyaring berkatalah ia: “Hai Den Mas Suryakusuma, lihat inilah aku, Harya Banyakwide utusan baginda raja Mataram, untuk menundukkan pemberontakan kalian ... Den Mas Suryakusuma, hari ini janganlah hendaknya kita mengadu kekuatan laskar kita, yang akan berakibat jatuhnya banyak korban dari orang kita yang sebenarnya harus disajangkan karena masih terhitung awak sendiri. Maka untuk menyelesaikarr urusan kita ini, mari kita bertanding seorang melawan seorang sebagai ksatria prajurit. Bila Den Mas dapat mengalahkan aku dalam perang tanding ini, anggaplah laskarku telah dikalahkan oleh laskar Den Mas ... tetapi sebaliknya, bila Den Mas yang dapat kukalahkan, satuanmulah yang dianggap kukakalahkan. Den Mas sendiri harus menyerahkan diri, untuk dibawa kembali ke ibu kota. dapatkah usulku ini diterima baik oleh Den Mas beserta teman•teman disini?” Terdengar dengus dan teriakan orang banyak yang bersimpang-siur tidak menentu, tetapi segera pula lenyaplah suara teriakan-teriakan orang-orang itu, karena dari pihak berandal sudah kelihatan Den Mas Suryakusuma, maju ke tengah lapangan gagah perkasa serta penuh wibawa pemimpin berandal itu melangkah ke arah lawannya. Dalam jarak sepuluh meter berhentilah ia, untuk menyawab dengan suara lantang pula supaya didengar oleh kedua belah pihak tentara masing-masing.

“Kakang Harya Banyakwide, aku merasa bersyukur sekali kakang menghendaki penyelesaian semacam ini, hingga tak perlu ada korban yang jatuh kecuali yang bersangkutan sendiri. Maka baiklah aku menerima tantangan ini dengan segala senang hati, juga merasa sangat bangga mendapat penghargaan demikian besar, menghadapi salah seorang gembong dari barisan senopati. Untuk tegasnya dengan cara bagaimanakah kita akan bertanding ini?”

Jawab Harya Banyakwide, “Bagus, bagus …. Kita bertanding seperti ksatria prajurit dalam medan pertempuran …… apa saja kemampuan dan kemahiran masing-masing boleh dipergunakan untuk merebut kemenangan. Mati karena apapun dalam pertempuran ini tak boleh sama sekali menjadi soal dan disesalkan . syukur jika dalam pertandingan kita bisa berakhir tanpa ada pembunuhan. Sebagai ksatria sejati, membunuh atau dibunuh dalam peperangan tidak ada disertakan rasa dendam mendendam …. Tapi karena tugas negara melulu bukan?”

“Baiklah, kakang …. Aku kini sudah siap, mulailah kakang datang sebagai tamu yang harus kuhormati!”

Mau tidak mau Harya Banyakwide mengakui keagungan dan keangkeran Den Mas ini sebagai ksatria yang mulus gagah beraninya. Banyak sedikitnya ia merasa malu mengingat siasat kelicikannya sendiri. Merasa malulah ia karena sudah terlanyur bersiasat licik itu

…. Bukankah ia menantang perang tanding itu karena merasa jeri mendengar cerita dipati Jayarumeksa tentang adanya bantuan seorang jembel yang dinyatakan sakti sekali itu. dengan bertandingnya Den Mas Suryakusuma sendiri itu mustahillah ia akan bertemu dengan si pengemis sakti? Demikian pula laskamya tidak perlu mendapat gangguan dari pihak orang tersebut. Dengan siasat itu mungkin sekali ia mendapat kemenangan yang gemilang atas para brandal keseluruhannya. Masaifan Den Mas Suryakusuma sudah meningkat demikian hebat ilmunya, hingga dapat menandingi kemampuannya, seorang senapati kawakan yang sudah banyak pengalaman dan disohorkan orang sebagai tokoh nomor dua atau tiga dalam lingkungan para sakti ibukota. Ilmu pedang andalannya yang disebut PENETAK BARAT, PEMANEUNG AIR, amat kuat dan ampuh, hingga hanya beberapa tokoh saja yang dapat mengimbangi kehebatannya.

Lagi pula Den Mas itu tidak berkendaraan kuda sedang ia sendiri diatas kuda-perangnya yang kuat. Dapatkah kiranya lawan berjalan kaki itu menahan gebragan-gebragannya yang pasti hebat dan kuat sekali. apa boleh buat ... perang, adalah perang ... setiap kesempatan untuk kemenangan tidak boleh tidak dipergunakan. “Sret….” pedang pusaka Harya Banyakwide, sudah berkilat kilat ditangan kanannya, sedamg tangan kirinya telah memegang perisai baja-lempeng bundar berwarna lamuk.

Dengan memekik keras menyeranglah Harya Banyakwide, prisai didepan dadanya, pedang diputar bergulung gulung disekitar badannya diatas kuda yang membalap menerjang lawan. Apabila dipati itu tahu, siapa yang diserannya waktu itu ... kiranya tidaklah ia merasa sangat aman. Lebih lebih kalau ia tahu kemampuan Den Mas Suryakusuma•gadungan, alias Putut Punung yang sudah tak terukur lagi tinggi ilmunya, setelah turun dari puncak Lawu, pastilah ia tidak seyakin itu akan keselamatannya sendiri. Untung ia salah mengenal orang, karena kedua pemuda kakak-beradik itu memang sangat mirip sesamanya, hingga mudah saja yang satu mengaku yang lain tanpa dicurigai orang.

Bukan main hebatnya jurus pedang ki dipati dalam serangannya yang pertama itu. Ujung pedangnya menyambar dari bawah serong keatas dalam gerak memagas pinggang, setinggi leher

….. ujung pedang itu membalik arah secepat kilat dengan gerak sendalan, hingga dapat dipastikan kepala yang diserang tadi segera menggelinding ditanah. Biasanya bila Harya Banyakwide menggunakan tipu jurus pedang ini, habislah perlanan musuhnya, karena sekurang-kurangnya badannya sudah menjadi cacat bila tidak kutung menjadi dua bagian pada waktu itu juga

Kali ini ia terpaksa mengulang dan mengulang jurus simpanan itu. tanpa basil sama sekali, jangankan dapat melukai Jawan menyentuh pakaiannya pun tidak terjadi. Keheranan dan rasa penasaran berebut unggul dalam pikirannya. Bagaimana mungkin Den Mas yang masih semuda ini dapat meningkatkan ilmunya hingga dapat mengatasi jurus pedangsaktinya. Dan …. anehnya Den Mas Surya belum mau membalas serangan-serangan kidipati, maka justru karenanya dipati Banyakwide menjadi agak kuatir.

Namun ia adalah seorang senapati kenamaan, pasti saja tidak suka diperlakukan demikian, yang berarti merendahkan ilmu dan derajadnya. Sesumbarnya: “Hai Den Mas, seorang prajurit boleh dibunuh, terapi jangan dihina. Mengapa Den Mas belum sekali juga membalas dengan tombak yang berada ditangan Den Mas itu. Hayo, cobalah balas menyerang, mungkin tulangku yang sudah menjadi agak kaku ini masih sanggup menerimanya.

“Maaf kakang bukan maksudku akan mempermainkan kakang dipati, yang sebenarnya aku tengah menikmati kehebatan jurus- jurusrnu. Nah, awas sekarang, jiagalah seranganku. Dengan berkata demikian mulailah Den Mas Suryakusama•tiruan menyerang lawannya. Tombaknya diputar tepat sebagai baling• baling, menimbulkan suara sebagai geram kumbang sekawanan menyerbu taman bunga, hendak mengisap madu. Mudah diterka bahwa serangan itu pastilah berupa kemplangan dan ribuan dengan landeyan tombak, yang mengancam tiga bagian tubuh, atas…tengah dan bawah, Kuda kidpatilah yang sekarang menjadi soal, karena menjadi liar ketakuian. Oleh karenanya posisi Banyakwide bertempur dengan mengendarai kuda itu, malahan sangat memba hajakan jiwanya.

Mudah sekali ia jatuh dari kudanya karena gerakan kuda itu tidak lagi menurut tali-kekangnya, Sukur kidipati segera mengetahui keadaannya itu, maka segera ia meloncat dari kuda- tunggangnya.

Berhadap-hadapanlah kini yang tengah bertanding seru itu, Pedang-tameng melawan tornbak panjang ... hingga para punggawa dan prajurit yang menyaksikannya, lekas teringat akan ceritera Panji bertanding dengan Bugis, dijaman Janggala.