Gembong Kartasura Jilid 3

Jilid III

Pemuda itu berjalan secara ogah ogahan, seenaknya sendiri, hanya memperhatikan dua potong, tulang cakar ayam yang berada ditangan kirinya. Nampaknya ia tidak menghiraukan keadaan sekitarnya menggumam dengan nada menyayangkan sesuatu yang hilang “Heeii ...... sayang- sayang tadi ada lima batang sekarang hanya tinggai dua saja yang tiga untuk menyumbat mulut setan,

berwajah anjing.”

Semua yang hadir disitu mendengar gumam yang cukup keras itu. Maka tahulah mereka siapa yang membuat lelucon ini. Siapakah gerangan pendatang ini. Agaknya ia, adalah pembela pihak iring- iringan-duka. Tetapi tak seorangpun kenal akan pemuda berbadan tegap ini. Demikian pula bagi kepala bradalnya, pemuda itu belum dikenal .... tetapi baginya sekarang sudah teranglah orang yang berbuat tidak senonoh terhadapnya. Tanpa ampun lagi mendesinglah pedang wirawangsa menyambar tenggorokan pemuda ugal-ugalan tersebut …… ciung…ciuunng ……

Hampir orang yang melihat gerakan Wirawangsa menyabetkan pedangnya keleher orang itu hendak menjerit menginsyafkan yang diserang, karena masih saja mengagumi tulang cakar ayamnya tadi. Pasti putuslah leher pemuda itu dengan sekali babat saja …. tetapi nyatanya Wirawangsa kehilangan musuhnya …. pedangnya menyambar angin.

Nampaknya pemuda itu hanya kebetulan membungkuk sedikit, tahu-tahu sudah berada dibelakang yang menyerangnya ….. malahan masih saja ia cengar-cengir membanding-bandingkan Cakar ayamnya, seolah-olah urusan jagad ini tak ada jang lebih penting dari ceriteranya tentang lima batang cakar ayam sisa paha panggang yang sudah ludea dagingnya.

Terdengar ia melanjutkan omonpnnya tanpa lawan bicara, “Waaah, sudah tidak berguna lagi, karena sudah tidak leagkap, Nah, biarlah dimakan serigala-serigala dari Gunung Sewu saja, tidak kepalang tanggung.”

Secepat kilat Wirawangsa membalikkan arah serangannya. Sekali lagi pedangnya mendesing' seram, menyambar orang dibelakangnya sambil memutar badan seratus-delapan puluh derajat. Sekali lagi orang yang melihat menjadi terrjengang akan keajaiban yang terjadi didepan mata sendiri. Pemuda itu tiba-tiba nampak memutar badannya juga, bahkan lebih cepat dari penyerangnya …...

kedua tangan berserta cakar ayamnya, bergerak bersamaan.

Terlihat tangan kiri pemuda itu menyinggung lambung kanan Wirawangsa yang terbuka sama sekali karena tengah mengangkat pedang …. sedang tangan kanan pemuda awut•awutan tadi mencengkeram tangan kiri lawan. Kini terjadilah peritiwa sangat mustahil itu …… Tangan memegang pedang pemimpin brandal itu, tidak lagi mau diturunkan, lengannya tetap melonyor condong keatas, tangan masih menggenggam pedang erat-erat, Tangan kirinya yang hendak meneljambak lambung musuh, kini mencengkeram tulang cakar kuat-kuat, karena kelima djarinya sulit dikembangkan kembali. yang mengerikan sekaligus menggelikan itu lelucon atas diri kepala brandal Wirawangsa. Ia tidak dapat mencegah berjalannya sendiri …… jalannya yang tidak wajar, karena ... mengangkat kaki-kanan tinggi-tinggi dan menempatkan kakinya agak serong kekanan juga …. Terus berjalanlah ia, tanpa dapat dicegah sendiri, jalan “bering" (arahnya serong), tak dapat diluruskan menurut kehendaknya.

“Bagus-bagus..!” kata pemuda aneh itu. “Jalan bering terus selama enam jam dulu, ya! .... baru boleh beristirahat. Itulah hukuman mulut lancang terhadap Baginda raja!”

Kini majulah dua teman brandal pengikut Wangsa itu …. Dengan suara bengis bertanyalah Marutala. “Siapakah kamu,

yang nampak seperti orang gila ini? Apakah hubunganmu dengan orang Kartasura, maka kamu membantunya, kunyuk!”

“Pastilah aku penghuni kota pula, biarpun pakaianku tidak terlalu mewah . . . tidakkah itu cukup ada hubungan mesra antara aku dengan penghuni kota keseluruhannya? Mana aku boleh membiarkan orang membuka mulut keterlaluan terhadap sesarnaku, lebih-lebih terhadap baginda.”

“Orang sinting .... siapakah namarnu?, berani mencampuri urusan karai ini!” Nampaknya ia tidak enghiraukan keadaan sekitarnya menggumam dengan nada menyayangkan sesuatu yang hilang. “Heei sekarang hanya tinggal dua saja… ” “Namaku sebenarnya tidak ada gunanya disebut, tetapi kalau toh kalian ingin mengetahuinya, aku Putut Punung, urusanku adalah mengabdi kepada keadilan dan kebenaran umum. Nah ... , kau mau apa, Marutala? Bukankah itu namamu waktu diperkenalkan lurahmu tadi, dan yang satunya itu Wiradana ?”

“Hai .. .. .. baik juga ingatanmu Punung, jadi sebenarnya kau bukanlah pemuda datnyeng (sinting), tetapi kau tahu apa tentang ke- adilan dan kebenaran yang kau ucapkan tadi?”

“Sekurang-kurangnya sama dengan pengertian orang kebanyakan, misalnya hal orang yang sengaja hendak merusak jenazah, pastilah itu tindakan iblis yang terkutuk, bukan?”

“Tetapi kamu merugikan pihak, kami terpaksa kami menghajarmu, hayo hadapilah kerojokan kami berdua, untuk membalas sakit hati kjai lurah.”

“Masihkah kamu bertanya-tanya, tidakkah karnu sudah lama berhadapan dengan saya. Mulailah saja dengan pembalasanmu itu, habis perkara. Hanya saja aku berpesan, jangan sekali-kali berani mencoba menghalangi perjalanan pemimpinmu itu, supaya sernbuh kernbali tanpa celaka sererusnya, karena bila ada yang mencoba menyembuhkan celakalah dia, pasti otot penggerak lengannya akan putus, lengan menjadi lumpuh selama-lamanya, dibiarkan ia berjalan bering selama enam jam, pastilah ia sembuh sendiri nah,

silahkan sekarang bergerak.”

Kedua orang itu menerjang ganas, menggunakan senjata golok- golok besar. Cepat sekali kedua golok itu menyarnbar, karena digerakkan oleh tangan ahli yang kuat pula, Hanya orang belum tahu bahwa yang terancam golok maut itu, adalah Putut Punung, nenek-mojang segala kecepatan gerak manusia. Maka setelah golok hampir tiba menyentuh tubuhnya, berhentilah samberannya, karena pergeiangan tangan pemegangnya lebih dulu tercengkeram oleh Punung.

Dasar suka berbuat ugal-ugalan ... kedua penyerangnya diajak lari bersama kira-kira sepuluh tindak lalu satu demi satu diayun arah kelangsungan gerakannya maju tadi.

Keruan saja mereka melesat seperti terbang mengarungi angkasa, jatuh bergelimpangan dimuka rombongan mereka sendiri tak

sadarkan diri lagi.

Biarpun kelompok besar, tetapi telah kehilangan pimpinan, yang satu djalan bering terus menerus-menerus, entah sudah sampai dimana sekarang, sedang kedua wakilnya semua pingsan mungkin terluka parah ..... maka bagi rombongan itu yang paling benar adalah menjauhkan diri dari bahaya terjangan musuh. Dengan mengangkut kedua wakil-pemimpin jang terluka tadi, mundurlah para brandal Gunung Sewu, menghilang dimalam gelap, menuju kesarangnya kembali.

****

Munculnya Putut Punnng, seoagai penolong iring•iringan duka pada waktu yang genting sekali, tidaklah secara tiba-tiba saja. Kejadian itu karena denmas Purbaya yang sudah bosan sekali menjadi dan hidup dalam lingkungan para bangsawan, lagi salalu mendapat kecewa dari golongan itu, bertekag meninggalkan lingkunganya, hendak hidup secara orang kebanyakan, Setelah minta izin dari ayahnya, serta mewariskan nama-besarnya PUJRBAYA, kepada adiknya denrnas Sasangka ... , . menghilanglah ia dari depan ayahnya hanya dalam beberapa loncatan saja.

Narnun ia belum hendak pergi jauh dari kota. Sebenarnya ia ingin sekali melihat layon ratu Alit, kekasihnya itu, tetapi takutlah berlaku nekad masuk ke keraden-ayon dalam keraton, karena mau tidak mau ia harus memperegnakan kekerasan untuk dapat menerobos masuk itu, hingga akan menimbulkan kegegeran saja. Terpaksa ia harus menahan sabar, menanti iring-iringan layon ratu Alit dibawa ke Imagiri.

Tidak melihat jenazabnya, yang juga pasti sudah rusak dalam peti-mari, pun jadilah, asal dapat ikur serta dalam penguburan mayatnya, sebagai penghormarannya kepada sang kekasih, Juna tidak tegalah rasa harinya un tuk membuka peri-layon. yang sud ah tertutup rapat bura hingga tidak memarnyar keluar bau busuk mayat. rusak, yang akan memuakkan orang kebanyakan saja.

Purbaya, yang sudah berubah menjadi Putut Punung, si-jernbel rakyat biasa itu, menantikan iringan-duka di perbatasan kota Kartasura, karena ia tahu benar tabiat para pembesar yang ikut menghormat layon, hanya sejauh perbatasan saja. Itupun hanya demi mengunjuk muka saja, guna membebaskan diri dari pertanyaan pembesarnya yang sok suka bertanya-tanya pula.

Jang melanjutkan perjalanan dengan segala suka•dukanya, kini tinggal para petugas khusus beserta para waris terdekat dari yang meninggal. Leluasalah Putut Punung ikut serta melenggang dibelakang, dengan hati pilu-rnerindu, sebagai disajat sernbilu. Dengan dernikianlah ia mernuaskan dukanya yang berlebih-lebihan itu. Dan akhirnya ia dapat menyumbangkan tenaganya guna keselamatan romboogan tersebut, hingga terhiburlah hatinya yang penuh duka itu,

Malam itu, Putut Pununglah yang menjadi perhatian semua orang pengiring layon. Biarpun ia berpakaian agak kurang pantas dalam lingkungan para pernbesar, tetapi tak seorangpun berani meremehkannya, atau memandang dengan mata serong kepadanya: demi jasanya yang sangat besar terhadap rombongan mereka. Malahan dipati Wirjapraja juga disembuhkan dari terluka pukulan sakti pemimpin brandal itu. Selelah beberapa kali dipije:t-pijet dan diusap-usap oleh pemuda awut-awutan tadi, lenyaplah bengkak- bengkak-bengkaknya berikut rasa sakitnya. Keruan pula kidipati menjadi sangat kagum dan suka kepada orangnya.

Katanya dengan menepuk•nepuk pundak padat pemuda sakti itui, “Hei saudara Punung, tadi kau mengaku pemuda dari kota

dimanakah rumahmu sebenarnya anak siapakah?”

“Aku anak seorang garnet (tukang kuda) ndara menggung …… Nama ayahku ki Gerpu, berumah dikampung Minggiran.”

“Tahukah kamu, bahwa kau ini sebenarnya seorang perwira sekali, pantas menjadi tamtama inti, dalam barisan pengawal Baginda? Apabila kau suka mengabdi kepada pemerintah, aku sanggup membawamu menghadap raja bagaimana Punung?”

“Hai, jangan.. jangan ndara menggung, aku mengucap terima kasih banyak atas kehendak baik ndara menggung itu, tetapi aku ini tidak berbakat untuk mengabdi. Kesukaanku sekarang ini masih berkeluyuran mencari pengalaman hidup dulu mana dapat aku mengikat diri dengan tugas yang tertentu. Maka lebih baik aku dibiarkan bebas saja, asal perbuatanku pantas. Biar keadaanku nampak melarat, narnun aku sudah biasa hidup demikian dan merasa bahagia mengabdi kepada masyarakat umum!” “Ya, memang ada benarnya kata-katamu itu, hanya pasti tidak ditiru oleh orang banyak. Sudahlah kalau pendirianmu memang demikian, ingat saja bila kemudian kau menghendaki bantuanku, boleh kamu setiap waktu menemui aku. Sekarang aku hendak bertanya kepadamu, adakah kamu tahu tentang tata nadi seseorang.?”

“Benar, ndara aku memang tahu serba sedikit tentang nadi

yang besar-besar saja, juga tak sedikit tentang pukulan-pukulan sakti misalnya pukulan yang mengenai bahu ndara menggung itu, disebut orang pukulan “Rajak beling" yang tergolong pukulan ampuh, maka syukur yang terkena pukulan ndara menggung sendiri, yang mempunyai ilmu weduk, semacam ilmu kekebalan hingga

tidak sampai patah•patah tulang.”

“Hmm ... hebat-hebat ... tahulah aku sekarang, mengapa kau dapat segera menyembuhkan rasa sakitnya ..... karena kau sendiri agaknya nenek-mojang pukulan semacam itu. Betul-betul sayang, kau tidak suka menjadi prajurit.”

Tumenggung Prajataruna kini ikut bertanya : “Saudara Punung, sakti apakah yang kau pergunakan untuk membuat Wiradiwangsa menjadi patung melek, berjalan bering mengerikan tadi?”

“Itulah juga, mengapa kidipati tadi menanyakan tentang otot dan rata nadi kepadaku...... Jawab sederhana sekali. Karena ku- pelesetkan sedikit letak otot besar kakinya maka kacaulah bekerjanya, tak mau manurut perintah majikannya terpaksa menurutkan arah tertentu melulu. Namun itu hanya bersifat sementara. Setelah menjadi lemas lagi pulih dengan sendirinyalah ditempat semula, dan jalan biasa seperti sedia•kala.”

“Hai itulah bagus sekali. Mudahkah ilmu itu dipela jari?” “Dimana ada ilmu yang sulit dicapai orang yang benar benar hendak memilikinya. Jika orang tidak mernyapai maksudnya itu, pastilah kesalahan orang itu sendiri, dalam memenuhi sarat-sarat nya yang tertentu.”

“Apakah saratnya itu?”-

“Sarat yang umum sekali tuan, ialah: l. temen … . mantep ......

. berani menjalankan latihannya dengan tekun . tidak mudah

menyeleweng karena pengaruh lain. Itulah sarat mutlak, tentang tata nadi dan otot-otoi, mudah dihafal. Tetapi untuk memiliki tenaga saktinya yang dibutuhkan dalam ilmu itulah yang menjadi agak sulit dan rumit!”

“Ya-ya .... itulah soalnya, harus mencari guru berwenang mengajarkannya, dan setelah guru didapat, itulah yang menjadi halangan besar. Terbanglah segala maksud baik yang diinginkan orang.”

Asjik benar orang-orang bertukar pikiran tentang segala ilmu dan kesaktian dijaman itu. Maka banyak yang terbuka matanya tahu benar bahwa pemuda awut-awutan ini, seorang digjaya mandraguna, yang kesakiiannya tak mungkin di raba-raba lagi luas dan tinggi dalamnya. Dialah orang serba tahu dan mumpuni pantas disebut empu kesaktian dari jamannya jaman Kartasura awal. yang mengagumkan itu, karena orangnya masih semuda ini, baru lepas urnur tahun. Calon aulikah pemuda gagah perkasa ini?

Diantara waris yang ikut menyampaikan layon kemakam agung Imagiri, ada seorang pemuda yang ganteng luar biasa malahan hampir dapat dikatakan cantik, hitam-hitam manis seperti gadis. Nampalmja pemuda bagus itu sangat mengagumi Putut Punung. Dengan mata sayu jarang berkedip, pemuda pesolek, dandanannya selalu rapi dan bersih tadi terus memanndang kepada penolong sakti itu, biar pemudanya berdandan awut-awutan juga. Nama pemuda itu Bagus Suwarna, konon masih saudara sepupu mendiang ratu ,\lit. la datang dikota memang sengaja mengunjungi uwaknya, mas ayu Widasari, sekaligus disusul ayahnya melihat keadaan denajeng ratu Alit, jang tengah menderita sakit payah, hingga sekarang itu, ikut serta dalam rombongan duka kemakam lmagiri.

Dialah diantara orang-orang dalam rombongan itu jang paling tertarik kepada penolong sakti tadi, hingga segala gerak-gerik orangnya tak ada yang luput dari matanya, segala tutur kata dan keterangan orangnya, tak ada yang tidak langsung masuk dalam pengertiannya. Kian lama mengikuii segala keterangan Putut Punung, mengenai ilmu pembela diri pada jarnan itu, kian menjadi kagumlah bagus Suwarna.

Kecuali keheranannya, agaknya pemuda ganteng itu nampak memikirkan sesuatu yang meragukannya. Apakah yang tengah sibuk dipikirkan itu, pastilah hanya dia seorang yang dapat menerangkan, namun pasti ada hubungannya dengan pemuda awut- awutan yang sakti tersebut. Beberapa kali ia memandang tajam sekali wajah dan bentuk badan pemuda iiu.

Satu malam suntuk, seluruh anggauta rombongan tidak ada yang tidur, mempertinggi kewaspadaan, meronda bergatian sampai agak jauh disekitar perkemahan. Paginya, berangkatlah iringan- layon itu ke Irnagiri, menyelesaikan tugas, mengubur putri-raja itu. Tujuh hari berturutan makam raru Alit dijaga, dituguri oleh perajurit, bergiliran.

Selarna itu pula, tak kurang dari alim ulama, bergan'ian membaca sura-surat Al Kur-an, dikemah darurat yang didirikan dimuka makam tadi.

Selesailah upacara pemakaman seluruhnya, baru para petugas kembali pulang ke Kartasura, dalam bentuk barisan yang setiap waktu bersiaga menghadapi segala kemungkinan, dan gangguan perjalanan. Tetapi justru dalam keadaan berwaspada penuh itu, biasanya selalu tidak ada yang mengganggu.

Mereka datang di Ibu kota dengan selarnat, mernbawa berita yang simpang-siur tentang sergapan Wiradiwangsa disekitar Prambanan, yang jauh meleset dari yang sebenarnya.

Lebih dari seratus orang yang menceritakan pengalaman mereka ditengah jalan ... walaupun berjudul satu, pastilah makin berjauhan isi beritanya, karena berbeda-beda tanggapannya dan penghayalannya dalam menyerarn-seramkan cerita masing-masing, lebih-lebih mengenai penolong sakti yang digambarkan sebagai malaikat utusan Tuhan.

Diantara ratusan pembesar yang sibuk membirjarakan Wirawangsa sampai kepada tokoh sakti awut-awutan, yang mengaku anak ki Gerpu dari kampung Minggiran …. hanya Pangeran Puger seoranglah yang tidak ikut meributkannya. Malah tersenyum-senyum gelilah dia, katanya dalam hati sendiri :

“Hmm kalau kalian mau memutar balik nama Gerpu, jadi Ki

Puger …. tidaklah kalian terlalu jauh dari sebenarnya. Aih, anak Purbaya …. eh salah salah: bukan lagi Purbaya, Putut Punung …. syukur kau sudah lepas dari cemas dan bahaya putus asa, semoga Tuhan tetap melindungi kau, dalam pengabdianmu kepada rakyat seluruh negara!”

Sepi …. Ya, sepi-seram mengerikan malam tanpa bulan dimakam Agung Imagiri, setelah tidak ada lagi orang-orang penjaga dan para ulama yang membaca Kur-an. yang kini nampak samar- samar dicahaya bintang•bintang dilangit dan ratusan kunang• kunang yang memancarkan alat penerangannya adalah nisan. nisan besar-kecil, terserak lebar dipuncak bukit itu. Orang- orang beriman tipis dan para pengecut ….. jangan harap berani memasuki makam wingid tersebut, tanpa ditemani kawan tiga-empat orang, sukur lebih. Namun nyatanya sejak lepas Isja tadi sudah ada orang yang duduk bersimpuh dimuka makam ratu Alit, dengan wajah duka, pilu-saju. Itu lah pemuda pesolek yang ganteng langsing, peserta iringan-layon dalam kelompok waris. Ia tidak ikut kembali kekota. Entah masih ada urusan yang bagaimana. Nampaknya ia tidak gentar duduk sendirian dimakam sepi itu. Kadang-kadang ia menoleh kebelakang sambil mempertajam pendengaran. Ternyata dalam sikapnya hu, bahwa ia mengharapkan sesuatu yang tnungkin. segera terjadi.

Berbisiklah pemuda itu kepada gundukan tanah, kubnran ajeng Alit, seolah-olah berkata kepada roh orang yang telah meninggal.- Kangmbok-ayu kau menitahkan kepada bekas, kekasihmu, denmas Purbaya bawalah dia kemari, karena aku belum mengenal orangnya. Mungkinkah denmas Purbaya itu sedang menyamar sebagai pemuda awut-awutan yang sangat sakti, penolong iringanmu, waktu disergap berandal gunung Sewu minggu yang lalu itu. Itulah terkaanku belaka kangmbok …. maka aku masib ada disini, karena ingin sekali membuktikan rabaanku itu.

Legakan hatimu roh yang tersunyi dari segala asap didunia ini, aku pasti akan mernenuhi pesanmu, menyampaikan tiitip-titip perkataanmu itu, hanya sangat sulitlah bagiku untuk menjadi gantimu, mengarnbil alih kekasih itu darirnu. Bukankah Ind cinta kasih iru tergantung k epa da orang bersangkutan sendiri. Kedua pihak harus setuju, karena paduan hatinya seudiri-sendiri, bukan ....

Nah, bagaimana bila dia atau aku, atau kedua-duanya tidak dapat bertemu hati? Maaf, kangmbok ... dalam hal pesan bagian terakhir itu, serahkan sajalah kepada kehendak Tuhan, sulit bagis u untuk mengatakannya kepada bekas kekasihmu itu, Aku hanya dapat mengucap terima kasih banyak-banyak kepadarnu yang berrnaksud baik sekali terhadapku dan terhadap orangmu. Nampalk pernuda bagus itu terperanjat, lekas-lekas ia menyelinap dibalik nisan besar yang terletak disebelah utara kuburan Alit, lalu mendekam disitu, karena lapat lapat ia mendengar tindakan enteng sekali tengah mendatang. Biarpun sarnar-samar, waktu ia mengintip mernpertandakan yang datang sekarang itu, pastilah sipemuda berpakaian tak keruan, penolong mereka dulu. Berdebar keraslah jantung pemuda ganteng tadi ... mungkin karena jitu benar terkaannya, mernastikan kedaiangan seseorang yang bersangkut-paut erat dengan makam baru iui ... setelah ditinggalkan semua petugas negara. Betul inikah denmas Purbaya, kekasih kangmbok Alii? demikian pikir penginrai tadi,

Dimuka makam baru yang masih bertaburkan bunga-bunga layu itu, Putut Punung berlutut dengan hati penuh duka. Tak sepatah juapun keluar dart mulumja, hanya getaran-geraran pundaknya yang bidang-padat itu menandakan bahwa ia sedaug menangis- bungkam. Air matanya menguyur deras sekali, membasahi kumis dan jenggotnya yang masih awut-awutan ini.

Kira-kira satu jam ia bersikap demikian, barulah puas hatinya, baru ia mau duduk bersila. Berkata dengan suara lirih, seperri berbisik kepado roh putri malang itu, seolah-olah didengarkan oleh rah ratu Alit, “Alit .... kau mernaafkan aku, bukan? Aku tidak menyangka sama sekali, bahwa kangmas dipati-anon tega memisahkan kau dariku, malah dengan kekuasaan uwak Baginda karena usulnya juga, kau akan diterimakan kepada orang lain, sekalipun orang itu pemegang wlayah kabupaten. Kau tahu, betapa penderitaanku bila hal itu terjadi, bukan? Hanya sayang …… mengapa kau selekas ini berputus asa …. tidak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat terjadi, yang bercorak lain sekali. Sebenarnya kangmbok harus bertemu dengan aku sekali lagi, untuk menetapkan sikap tekad kita bersama ... Aih, kangmbok ... haruskah aku mengikuti saja jejakmu ini …. mati dalam usia muda tanpa perjuangan yang bernilai dimasarakat …. ?”

“Tidak, tidak boleh kau mengikuti jejak kangmbok Alit jang sudah terlanjur mati konyol, hanya karena Putri raja, yang sempit sekali tempat bergeraknya.” Tiba•tiba terdengar orani berkata demikian sebagai jawaban roh Alit.

Pasti saja Putut Punung terkejut sekali, karena tidak mengira ada orang lain kecuali ia sendiri dimakam itu. Waktu ia meluruska-n sikap duduknya, matanya langsung berpandangan dengan sepasang mata yang bagus sekali bentuknya. Orang itu ternyata sudah duduk tiiseberang gundukan kuburan baru tadi, berhadap-hadapan dengan Punung, hanya berjarak sepanjang nisan•tanah Alit, entah kapan datangnya. Mungkin waktu Punung sedang menangis dengan kepala ditundukan tadi.

“Ah-kata pemuda awut-awutan itu mengenal orang.”

Kaulah pemuda ganteng dalam rombongan kerabat mendiaag ajeng Alit, bukan? Mengapa belum kembali kekota seperti jang lain

... apakah hubunganmu dengan mendiang ratu Alit?”

“Saudara Punung …… ketahuilah, aku ini masih terhitung saudara-sepupunya, dari pihak ibu. Mas-ayu Widaari, adalah kakak perempuan ayahku, bekel desa Samakaton. Bila aku belum pulang kekota, itulah karena aku membawa pesan mbokayu denajeng Alit, untuk disampaikan kepada bekas kekasihnya, yang bernama Denmas Purbaya. Maka dimana aku akan mencarinya, kecuali menantikan kedatangannya diini, ia belum mau kembali kekota …… betulkah itu?”

“Tidak salah jalan pemikiranmu saudara. Pastilah yang kau nanti-nantikan itu akan datang kemari, mengunjungi makam ini.”

“Betulkah ia datang sekaraug ini?” “Maksudmukawan?”

“Bukankah aku sekarang sudah berhadap-hadapan dengan denmas Purbaya sendiri, biarpun ia mengaku bernama Putut Punung segala?”

“Jadi saudara tidak meragukan keadaan saya yang sekarang macam begini?”

“Hmm …… orang lain mungkin meragukannya, tetapi aku tidak. Sejak pertempuran anda dengan kelompok brandal gunung Sewu, sebenarnya aku sudah mulai meraba-raba kekasih kangmbok Alit, tinggal membuktikan saja. Dan kini bukti itu sudah ada, sikap dan segala pertanyaan adalah yang menjelaskan segala sesuatunya.”

“Ya .... demikianlah kiranya, saudara mengatakan sendiri dengan yakin. Baiklah, aku mengaku ... Akulah Purbaya adapun Putut Punung, adalah julukanku yang sejak sekarang kupakai sebagai pengganti namaku semula, yang sudah kurelakan dipakai adikku. Maka dengan itu, hilanglah Purbaya yang sekarang ini, Putut Punung sirakyat jembel, abdi rakyat jelata yang benar dan adil.”

“O, demikianlah ketetapanmu. Bagiku malahan lebih leluasa lagi berurusan dan bergaul dengan anda daripada dengan denmas Purbaya, sibangsawan tinggi. Kata pemuda pesolek itu dengan tersenyum-senyum manis.

“Siapakah namamu saudara-kecil? Sejak aku melihatmu dalam rombongan-duka itu, aku sudah merasa tertarik kepadamu karena bentuk mata dan bibirmu sangat mirip ajeng Alit.-.

“Namaku Suwarna sayang bukan?- “Apakah yang disayangkan adik kecil? Nama Suwarna adalah nama yang baik sekali, dan pasti tidak menjadi suatu halangan dalam pergaulan kita, kecuali adiklah yang menampik berdekatan dan bergaul dengan aku, Bila adik suka berdandan rapih, suka bersolek .... seperti wanita, itulah karena pernbawaanrnu, sesuai dengan badanmu yang langsing kial, tidak kasar seperti badanku ini.”-

“Bukan demikian maksudku kak Punung .... aku mengatakan sayang tadi, menghubungi pernyataanmu, bahwa ada titik-titik persamaan antara kangmbok Alit dengan aku, tetapi aku seorang prija.”

“Itulah malahan lebih baik adik Suwarna”

“Mengapa lebih baik begitu kak . . . Misalkan aku seorang wanita, yang mirip sekali mendiang kangmbok Alit apakah

salahnya? bertanya pemuda pesolek itu dengan mata berkilatkilat penuh selidik.

“Pasti tidak ada salahnja dik …… mana orang dapat menyalahkan wujud dan bentuk orang lain. Hanya saja apabila

adik itu seorang wanita yang benar-benar mirip ratu Alit Uwah-

uwah ... akan celakalah dia itu. Pastilah dia tidak akan lepas lagi dari rangkulanku, kemana aku pergi, karena takut terulangnya kejadian yang tengah kualami ini. Wajarlah kiranya kalau aku menganggap wanita itu pasti penyelmaan putri Alit, yang ditakdirkan oleh Tuhan Maha Rachim untuk aku cintai dengan keseluruhan jiwa-ragaku.”

Syukur gelap sang malam mengubah segala tata-warna menjadi hitam-kelabu, hingga tidak nampak wajah bagus Suwarna menjadi merah bersemu dadu mendengarkan ujar Putut Fu nmg demikian itu, Terpaksa pula ia belum berani membuka mulutnya, melanjutkan pembicaraan mereka, takut terdengar getaran suaranya yang kurang wajar. Lebih aman membisu dulu, hingga lewatlah rasa harunya yang diiringi debaran jantung deras, lebih dari biaianya.

Angin malam yang lunak dingin milir halus menyentuh tubuh mereka, memainkan rambut bergoyangan lirih, seperti dibelai tangan menyajang roh putri ratu Alit. Kedua pemuda yang duduk berhadapan, hanya terpisah sebujur kaburan baru iLu terdiam sejenak kelelap dan hanyut dalam alam pikiran masing-masing. Hanya yang berkepentingan sendirilah yang tahu apa isinya ...

Yang mendahului membuka mulut lagi, adalah Putut Punung. “Adik Suwarna, mengapa kita terdiam begini, macam ada setan melintas jalan, maukah adik sekarang mengatakan pesan putri malang itu kepadaku?”

“Pasti kak …. Dengarlah! Sebagian dari pesan kangmbok Alit, sudah kakak dengar tadi, aku serukan kepadamu, bahwa kakak tidak boleh mengikuti jejak puteri Alit, mati konyol dalam usia muda, tanpa berjasa terhadap siapapun, tidak kepada umum, tetapi juga tidak terhadap orang tua sendiri. Dalam pesan kangmbok wanti- wanti .... supaya kakak berbuat baik terhadap sesama hidup ....

mendirikan jasa, berbuat sesuatu untuk keselamatan rakyat dan negara. Tinggalkan segala kemewahan hidup sebagai bangsawan, yang sering hanya mementingkan diri sendirl …… Jadilah abdi rakyat yang sederhana, penegak keadilan dan kebenaran yang, tidak palsu, Ambillah wanita cantik dari kalangan rakyat biasa, sebagai ganti kangmbok Alit, Kernudian hiduplah bahagia dan tenteram sentausa.”

Pada waktu itu pula berdirilah Putut Punung, terdengar suaranya yang mantap tetapi penuh haru : “Dengarlah kangmbok

…. rohrnu, yang sudah di sucikan dari segala noda dan dosa didunia ini Jadilah saksi atas ucapanku ini : Putut punung menerima baik

segala pesanmu tanpa kecuali, Legakan kuburmu, istirahatlah dengan tenteram abadi didalam Nikmat Tuhan. Selamat tinggal roh yang sudah disucikan restuilah kami jang masih hidup ini.”

****

Baru saja Putut Punung selesai mengucapkan janji sucinya, yang dtsaksikan juga oleh bagus Suwarna ...... cepat laksana kilat pemuda awut-awutan itu memandang tajam sekali kearah Timur sambil berseru, “Siapa yang datang hendak menemui kami ini, tak perlu bersembunyi dibalik semak-semak!”

Terdengarlah orang melepas ketawanya yang seram “Heh-

heb-heh ...... orang muda kau sudah melihat kami, baiklah kami muncul dimukamu. Lihatlah, ini tiga orang penjaga khusus makam- agung lmagiri.”

Bagus Suwarna menjadi terkejut mendengar tegur temannya tadi, karena sebenarnya ia tidak tahu bahwa ada orang mendekati mereka, Mula-mula ia menyangka, akan segera berurusan dengan tiga orang brandal, sisa-sisa teman Wirawangsa yang kesasar datang disini ...... atau yang sengaja menguntit Punung hendak menuntut balas. Tetapi nyatanya tidak demikian menurut pengakuan mereka, sebagai penjaga makam agung, yang berarti punggawa negara, jadi masih tergolong awak-sendiri.

“Ada keperluan apakah kisanak datang menemui kami pada malam seperti ini?” tanya Pucut Punung.

Memang, yang datang bermunculan dari tempat gelap dibalik sernak itu, adalah tiga orang laki-laki berperawakan kuat-kuat, yang pasti berkepandaian, hanya dengan melihat loncatan mereka melampaui semak itu.

Narnpaknya mereka menjadi kecewa sekali waktu berhadapan dengan penegurnya, karena yang mereka lihat adalah seorang pemuda yang berpakaian tak keruan, Jawab orang yang ada dirnuka, “Wadu-uuh mateng aku, kami berurusan dengan orang sinting, atau paling banter dengan orang pengemis-jernbel. Hei kunyuk busuk, akulah yang berhak bertanya disini. Kalau kau mernakai nama, siapakah namamu itu, Katakan juga mengapa ma]am-malam begini masih bergentajangan dipekuburan, menakuti orang?”

Majulah bagus Suwarna, karena menjadi marah sekali, tidak kuat mendengarkan tegur pemirnpin penjaga makam, yang pasti salah tafsir, hanya melihat orangnya melulu, “Husss, mengapa

sekoror ini mulutrnu. Tanpa menyelidiki orang dahulu, suaramu sudah seperti guntur menyemberet sember, tidak keruan. Penjaga makam macam apakah kalian ini mulutmu lancang sekali, asal

menyeplak saja, huh-hu-u-uh.”

Terdiarnlah pemimpin itu karena kalah omong, tetapi kemarahannya makin menjadi-jadi, Maka serelah dapat berkata lagi, menjerit-jeritlah ia ......

“Setan-alas ...... babi-babi budug, kau kira tidak tahukah kami, Redipraja dengan kedua temanku Ki Redikarja dan Ki Rediharja

...... akan maksudmu yang menjijikkan itu?”

“Kau tahu apa, Redipraja, tentang maksud kami ini?” bentak pernuda ganteng itu.

“Apa lagi kalau bukan hendak membongkar kuburan baru, guna mengambil benak majar, untuk melatih ilmu sihirrnu huh,

jangan berpura-pura. Sigila inilah jang kau suruh membongkar makamnya dan mengarnbil benak mayat yang kau perlukan itu ...... ba-ah, perbuatan hina-dina mernuakkan. Minggat kalian dari sini kalau tidak hendak suka merasakan gebugan-gebugan dan belenggu besi, untuk dibawa kepada yang berwajib!”

Kini bagus Suwarnalah yang terdiam sejenak, saking jengkel dan kagetnya mendengar fitnah orang yang keterlaluan ini dalih

yang dibuat mempersalahkan sudah klewat dicari cari. “Ihh .....

mulutmu benar-benar berbahu neraka dan mayat membusuk . . . . . .

Siapa mau membongkar makam!”

“Kamu dan teman setanrnu itu, siapa lagi orangnya?”

“Gila ..... gila benar ucapanmu itu. Tidakkah kau tahu, aku salah seorang dari 'rombongan dipati Wiijapraja?”

“Jawab Redipraja seraja membentang mulut lebar: “Ha-ha-ha itulah bukti yang tak mungkin disangkal lagi ..... mengapa kamu masih keluyuran disini. mengapa justru melihat waktu sesepi ini,

setelah para petugas pralenan sudah pulang semua. Ho .. hooo......

jangan harap, kalian dapat lolos dari sergapan kami ini, Hayo, jangan banyak rewel lagi, menyerah sajalah, dari pada kuperkosa. Kuncupkan kedua tanganmu, untuk dibelenggu!”

Kini terdengarlah suara tegas-nyaring Putut Punung: “Adik- cilik, kau mundurlah. Tak berguna Lagi kita berdebat sampai bertele-tele ..... sudah terang sekali mereka tidak mau mendengarkan alasan kami itu, mungkin karena selalu melirik pakaianku yang agaknya tidak terlalu membangkitkan rasa seninya.

…… Biar sekarang aku merasakan saja gebugan mereka untuk melegakan hati mereka. Eh. penjaga barang busuk kalian

bertiga sebenarnya hendak berbuat apa terhadap kami. Membelenggu orang katamu tadi?… wah… mudah amat diucapkan, tetapi mampukah kalian berbuat demikian …… cobalah ingin aku melihatnya.” Tangan mereka sudah menjadi gatal-gatal, otot-ototnya sudah menegang kencang …… mendapat tantangan pula, keruan ketiga puoggawa pilihan itu, melurug pukulan dahsjat-jotosan-jotosan menggeledeg, cengkeraman maut beserta tendang-tendangan membinasakan, datang gencar dari segala erah seperti hujan gerirnis saja. Pemuda gagah berpakaian aciak-acakan itu nampak berdiri tegak laksana tugu baja. Nampak kedua tangannya bergerak membuat lingkaran ruwet kesegala arah, melindungi badannya ….. Lenyaplah segala macam serangan yang tertuju kepalanya, bila pukulan-pukulan itu, menyentuh garis pertahanannya, lenyap bagai ditelan angkasa-luas …… sirna tanpa bekas. Bila musuh berani gegabah memasuki garis pertabanannya, mentallah penyerang itu seperti tertolak oleh tenaga raksasa lebih dari dua landeyan tombak, jatuh terbalik-balik kepala menjadi pujeng mata menjadi kabur karena sernuanya nampak be.rputeran, sedang napas terergah-engah serasa tertindih tenaga yang hebat sekali, seperti ombak samodra bergulung-guluug menerjang pantai tiada putusnya.

Maka sebentar saja ketiga penjaga ganas tersebut tanpa kecuali, sudah terduduk-numprah sambil megap-rnegap hampir keputusan napas berarti : hilang lenyuplah semua kekuatannya. Jangankan bergerak untuk mengulangi serangan, tangan sendiri-pun mereka tidak mampu mengangkatnya.

Bagus Suwarna yang menjadi jengkel-jengkel bercampur geli- mangkel ….. mendekati mereka satu demi satu, memberi hadlah satu tamparan, yang berbunyi nyaring. Katanya: “Coba dengan

cara bagaimana kalian akan menghalangi tindakan kami berbuat sekehendak kami, biar tindakan itu liar dan keji, kau dapat dapat berbuat apakah? Andaikan kami ini orang djahat tidaklah mudah

sekali untuk memenggal kepala kalian….. Pernuda gagah berpakaian acak-acakan itu nampak berdiri tegak laksana tugu baja. Nampak kedua tangannyya bergerak membuat lingkaran ruwet kesegala arah, melindgagi badannya .. . .... Hmm, sayang kami bukan orang liar seperti tuduhanmu, maka kami tidak dapat berbuat yang tidak senonoh, namun lubang hidung kalian harus dikili-kili dulu, supaya kemudian dapat berhati-hati sedikit dalam segala tindakanmu.”

“Adik cilik, jangan mencelakai orang. Mari kita tinggalkan saja mereka itu, supaya menginsjafi kesalah-fahamannya dulu.” Ujar pemuda gagah itu sarnbil meraih lengan ternan hendak diajak pergi.

Narnpak terkejutlah kedua pernuda itu tiiggi. Lengan teman yang baru dipegangnya, segera dilepaskan lagi, karena Punung mengira salah mernegang orang. Lengan yang dipegang itu, berkulit halus lumer, kijal tetapi lunak seperti lengan wanita. Terpaksa ia melirik kearah ternan, unruk mejakinkan bahwa yang dipegang itu, adalah teman prija.

Sudah benar, pernuda Suwarna-lah yang dipegang tadi ......

maka tenteramlah hatinya, Narnun hal itu pasti saja menarnbah pikiran Punung yang masih ruwed karena duka•nya karena

lapat-lapat ia melihat lirikan ratu Alit dalam kerlingan mata ternan pria ini. Mengapa dapat dernikian? “Ah masih saja aku dimabuk

bayangan roh kangmbok Alit ….. liai, nasibku yang belum mau baik.” demikian pikir pernuda itu.

Sentuhan Putut Punung tadi, bagi hagus Suwarna dirasakan sebagai sentuhan barang yang rengah membara maka sangat mengejurkannya, sekaligus mendebarkan jantungnya lebih keras, Otomatis lengan itu digerakan sedikit, bebaslah ia, juga karena lima jari yang memegangnya megar seketika setelah bersenruhan ....

mustahil ada orang dapat membebaskan diri dari genggaman pemuda sakti ini, tanpa dikehendakinya. Berkatalah bagus Suwarna dengan suara. agak gugup: “Ih, …. kak Punung, kau mau apa ya?” “Tidak apa-apa dik .... hanya hendak mengajakmu pergi dari sini, tanpa mengganggu mereka lagi.”

“O, aku kira ada apa-apa sampai mengejutkan orang dengan

tangan bawelan itu, sih, Nab mari kita pergi saja.”

Berdua mereka Ialu meninggalkan istana-layu Irnagiri.

“Merasa jijikkah adik karena sentuhan tanganku yang kotor lagi kasar ini? Maafkan aku dik, sebenarnya tidak kusengaja mengejutkan kau.”

“Wah …. celaka .... bukan demikian maksudku kak. Mengapa menjadi sangat perasa demikian. Salah•salah dapat bersehsih faham antara kita sendiri nanti,

“Tidakkah aku cukup tahu, siapakah Putut Punung itu sebenarnya. Adu uuuh kak, jangan sok begitu lagi, ya. Kalau hanya mau pegang orang saja, hayo peganglah dengan kedua tanganmu

sekali, jangan kepalang tanggung sih, Asal jangan berpikir yang tidak!”

Mulut pemuda pesolek itu berkata demikian, tetapi hatinya kelabakan tidak keruan, takut-takut Punung benar-benar akan melakukan perintahnya itu, Masih untung sekali lagi gelap malam melindunginya, hingga wajah bsgus Suwarna yang menjadi merah padam, badan menggigil tegang, penuh kekhawatiran itu tidak nampak nyata bagi siapapun.

“Syukurlah dik, bila dernikian. Nab ... setelah menyampaikan pesan ratu Alit kepadaku, adik lalu hendak pergi kernana?”

“Haij ... akulah yang berhak bertanya disini, bukan kau jang harus bertanya dahulu pernuda ugal ugalan.” kata bagus Suwarna menirukan lagak dan nada pemimpin penjaga makam tadi, …. dengan meringis memarnerkan giginyajang putih mengkilat. Pikir denmas Putut Punung ... Benar-benar pemuda ini mirip sekali ajeng Alit, aih . . . . manis sekali dia, maka agak lambat dijawabnya yang terdengar! “Baik-baik ... aku suka mengalah kali ini. Bertanyalah sesukamu asal tanpa mengancam dengan belenggu.”

Keduanya tertawa geli teringat lelakon mereka dengan ketiga penjaga gunung lmagiri iiu. Terus saja mereka berjalan sambil beromong-omong. Bertanyalah Suwarna! “Kak Punung kau

sekarang ini hendak pergi kemana. Dari kang bok Alit aku tahu ...

kau pasti tidak pergi kekota untuk sementara waktu, karena menghindari terjadinya sengketa keluargamu dengan pihak Keraton bukan?”

“Sebagian besar memang demikian dik, adapun yang paling betul .…. aku tidak akan kembali kelingkungan bangsawan dan kotanya untuk selama-lamanya, ….. kecuali bila aku dipariggil karena soal-soal gawat, atau aku merindukan keluargaku saja. Sekarang ini aku akan kelereng gunung Lawu lagi, untuk menyeesaikan latihanku yang belum masak sama Sekali.”

“Kak Punung, kau ini sebenarnya murid guru-sakti siapakah …. Maaf lho kak, bila tak suka mendjawab tidak apa•lah. Isengku ini, karena aku melihat gerakan jurus Palwaranu dari kakak, hingga aku mengira, kau juga murid Kjai Hadisuksma. -

“Aku bukan murid Harga-belah dik …. tetapi murid ajar Cemara Tunggal, atau ki Kunyuk sakti. Oleh karena itu jurus Palwa-ranuku agak berbeda sedikit dari ajaran asli Hargabelah. Kenalkah adik perguruan Hargabelah?...

Tidak hanya kenal saja, malahan aku sendiri murid kyai ajar Hargabelah itu, tetapi aku ini murid yang paling bebal, tertinggal jauh dari yang lain lainnya, mungkin aku hanya dapat menyamai kakak jaka BLUWO, sibisu.”

“Aih .... aku pernah bertempur dengan dia, kakak se perguruanmu itu, hampir saja aku roboh ditangannya.”

“Hajaaa . . . tidak mungkin, kau dengan kekuatanmu itu dapat dirobohkan oleh siapapun. Aku sebenarnya sangat kagum, mengapa kau dengan sekali meraih saja dapat menangkap tanganku, sekalipun aku bergerak dengan jurus Palwaranu juga.”

“Mengapa kau ini terus memujiku dik ... sedang menjual obat manyurkah adik ini …. atau sedang membuat pengumuman tentang kakakmu yang awut-awutan ini untuk dilihat orang-orang banyak. Ha ha, adik …. kita ini sudah menyeleweng dari pembicaraan kita. Aku sekarang bertanya, kemanakah adik hendak pergi? Adakah tujuan tertentu bagi adik?”

“Akupun akan pergi kelereng Lawu, kedesa Sarnakaton, tempat ajahku ... bekel didesa itu. Tetapi aku harus kekota dulu, untuk menghibur uwakku dan memberi tahukan kepada beliau segala- galanya tentang penguburan kangmbok Alit. Kak Punung, biarpun kita nanti terpaksa berpisah, namun hingga beberapa jauh, kita bisa berjalan bersama-sama, bukan?”

“Pasti dik . . . sampai disekitar Tembayat.” “Ada perlu disana kak?”

“Tidak, hanya untuk mengawani adik saja.”

Berujarlah bagus Suwarna dengan suara sungguh -sungguh. “Sukakah kak Punung selalu berdekatan dengan adikmu ini?”

“Mengapa tidak adik, asal adik membawaku kelingkungan bangsawan lagi saja, pastilah bukan soal aku selalu bersama dengan adik. “Kau lupa kak Punung, bahwa aku ini bukan bangsawan. Kalau aku kedalem keraden ajon di kraton itu karena mengunjungi uwakku den aju Widasari, ibu ratu Alit alrnarhum, Ajahku hanya seorang Bekel saja didesa Samakaton, daerah Matesih. Aku juga kurang suka bergerak didalam lingkungan para ningrar itu. Paling banter aku hanya harus melajani mereka saja. Maka pasti aku lebih suka bergaul dengan sesamaku sendiri yang pasti lebih bebas dan leluasa.

“Lamakah adik nanti di Kartasura itu?”

“Entahlah kak , mudah mudahan saja tidak usah terlalu lama, aku diperkenankan kembali kedesa, Maukah kemudian kakak mengunjungi aku dirumah orang tuaku didesa Samakaton iiu?”

“Ja, aku akan mencarimu didesa orang tuamu, setelah aku dapat menyelesaikan latihanku nanti . . . kira-kira satu tahun lagi.

“Baiklah kak, waktu itu kita pedomani, Sejak kira berpisah nanti atau kapan saja, dalam jangka setahun kita barus hertemu Jagi tanpa sarat-saratan, selesai atau tidaknya berlatih ilmu segala, setuju?”

“Boleh-boleh demikianpun baik juga.”

Dengan berornong-omong dernikian datanglah mereka disuatu perdesan yang cukup besar. Disitutah mereka hendak beristirahat menantikan sang pagi. Mudah diketernukan sebuah langgar, dirnana mereka dapat leluasa merebahkan diri. Bagus Suwarna terus saja masuk kedalam langgar itu, lalu merebahkan diri pada alas tikar pandan seteuaah bedol. Berkatalah ia kepada temannya: “Kak Punung, kau terpaksa mengalah, disini hanya ada tikar bodol sempit, tidak bisa untuk beristirahat orang dua .... maka kau harus menerima nasib duduk diluar saja, ya?” Sebenarnya bagus Suwarna sudah sangat ketakutan dalam hatinya untuk beristirahat bersama-sama dengan Punung didalam satu rumah atau sama ruang,. karena sekalipun ia berpakaian menyamar seorarg pria, nyatanya dialah seorang gadis yang cantik molek, hampir kembar dengan ratu Alit. Waktu melihat keadaan sanggar tersebut hanya ada tikar bodol selembar saja maka.

segeralah ia kangkangi sendiri untuk memiasah temannya, supaya tidak ikut merebahan diri disisinya.

Jawab Putut Punung: “Silahkan adik saja yang tidur didalam langgar, aku sudah biasa duduk hersamadi diluar. Tidurlah dik kalau bisa masih, ada waktu kira-kira sepenanak nasi unt:uk beristirahat. Dengan datangnya sang Surya nanti aku bangunkan kau.”

Karena tidak ada jawaban dari dalam langgar lagi, Punung mengira bahwa temannya sudah ketiduran karena sangat ldah. Dia seodiri la]u duduk bibawah pohon sawo dimuka lang~ar, untuk bereiamadi. Na mun kali ini ….... pikirannya selalu menyeleweng kepada teman. barunya ini.

Biarpun nampak wajar dalam segala-galanya, mengapa rasa- rasanya dia itu seperti mrnyimpan suatu rahasia ..... Dia adalah seorang pernuda, mengapa ia takut bersentuhan badan dengan orang lain. Mungkinkah itu disebabkan karena dia mirip sekali orang wanita-mamis, hingga perangainya meniru lagak perempuan. Adapun yang sangat menjadi perhatiannya, ialah wajahnya .....

karena mirip sekali wajah mendiang ratu Alit, hingga Putut Pummg sekali melihatnya merasa tertarik sekali kepadanya. Sudah barang tentu Punung suka sekali menjadi sahabatnya.

Tidak hanya Putut Punung sendiri yang berpikir-pikir demikian, tetapi bagus Suwarna juga tidak luput dari pemikiran yang melantur-lantur, Makin lama bergaul dengan bekas kekasih saudara sepupunya yang malang itu, makin pula terbuka rasa hatinya, malahan lalu menyukai sekali pemuda ini.

Tetapi untuk membicarakan pesan Alit yang berkenaan dengan soal warisan kekasih. itulah sulit. Lebih hebat perasaan suka seorang gadis terhadap seorang pria …… lebih rapat ia menyembunyikannya, sebelum pemuda itu menyatakan lebih dahulu perasaan harinya terhadap sigadis. Dernikian pula pendirian Bgus Suwarna yang sebenarnya bernama Sasanti, niken SUWARNl

..... nama barunya yang diberikan oleh raden ayu Widasari, karena Sasanti serupa benar dengan (sawarni) dengan ajeng Alit, yang menmggal dunia.

Malam. itu dia tidak dapat memejarnkan mata karena pikirannya yang melantur, juga agak kuatir, bila Punung dekat ikut tidur didekatnya. Beberapa kali ia mengintai dari celah-celah dinding kepada pemuda yang duduk diluar, dibawah pohon sawo itu.

Agaknya pemuda itu benar-benar tidak akan masuk kedalam langgar, maka legalah rasa hati Suwarna, Dalam hatl ia berkata sarnbil menyengir-geli : “Kalau kau berani masuk kemari, segera akulah yang akan keluar duduk dibawah sawomu. Mana aku dapat duduk tenterarn terlalu dekat denganmu lagi. Aih, celakalah hatiku ini, karena sudah terpikat sama sekali oleb mu denmas karena

gagah-perkasarnu, karena keluhuran budirnu, karena kedigdajaan dan kesaktiar mu, ya karena kau sebagai kau yang sekarang ini.

Hingga ayam jantan berkokok bersahut-sahutan tiada berkeputusan, Putut Punung duduk melamun hingga bertele•tele tentang sahabat-barunya itu tanpa menemukan titik terang tentang keadaannya yang sebenarnja, Mungkin sekali karena pikirannya masih sangat terpengaruh oleh kesedihannya tentang ratu Alit, hingga ia tidak berpikir sarnpai kepada peraturan dalam keraton, bahwa yang diperkenankan masuk kedalam keradenajon itu hanya para putri belaka. Apabila itu terlintas dalam pikirannya ,

masakan ia tidak segera tahu, bahwa Suwam a itu tidak mungkin seorang pria ... dan, wajarlah kiranya selubung rahasia yang, merungkup pernuda pesolek yang cantik seperti gadis ini, karena dia memang seorang wanita.

Tetapi agaknya malah lebih baik demikian saja hingga belum petlu ada perubahan dalam pergaulannp secara hebat-hebatan dengan mendadak. Kini berdirilah Punung dari duduknya. Nampak ia meregang tubnhnya heberapa kali hingga terder;gar otot-ototnya gemeretuk yang melenyapkan segala rasa kaku-kaku dan lain sebagainya.

Belum lagi ia mendekati langgar, muncul dipintu yang tetap setengah terbuka itu, bagus Suarna yang masih mengkucak-kucak mata, biarpun hanya pura-pura!. Katanya mendahului teman. “Hai

... enak benar aku tidur semalam. Dapatkah kakak tidur barang sebenta semalam?”

“Ya boleh juga dikatakan dapat tidur sebentar, namun cukup

enak, hingga badan merasa segar kembali. Nah mumpung masih agak petang dik, mari kita pergi kesungai untuk berenang-renang sebentar.”

“Iss .... apa-apaan itu mandi .... mandi, eh ...” hampir saja terbongkar rahasianya, karena ia hendak berkata “mana dapat, kita bersama-sama mandi?” alangkah lucunya bila perkataan itu sampai keluar. Untung sekali masih dapat dikendali keluarnyaKata

Punung juga tanpa pengertian. “Apakah itu yang dikatakan apa- apaan tadi .... mengapa kita tidak holeh mandi bersama-sama dikali?”

“Pasti saja boleh, asal badanku sehat seperti biasa. Tetapi baru- baru ini aku terserang penyakit demam yang agak berat, hingga mau tidak mau alm harus menjauhi air dahulu. Pergi sendirilah kak, aku menantimu disini saja!”

“O, begitu ..... baiklah, kau tinggallah disini dulu aku akan segera datang. Tak usah berenang saja. Maka pergi sendirilah Putut Punung, diiringi pandangan wajah menyengir setan dari Suwarna, sambil mengguman “Asem …. hampir celakalah aku !”

****

Belum terlarnpau lama, malahan belum sarnpai seketurunan (segenerasi), pareg-reg Trunajaja, mengguncangkan negara Mataram …… sudah tersusul heboh Surapati di Ibukota barunya, Maka dapat dibayangkan, bagaimana keadaan ketenteraman negara pada waktu itu. Masa pageger selalu mernbawa akibat tidak baik bagi ke amanan umum, lebih-lebih diternpat-tempat yang jauh dari pusat kekuatan negara. Itulah masa yang menyenangkan sekali bagi para durjana, bagi para manusia rendah akhlak, yang suka berdagang tanpa modal, kecuali kekerasan tangan mereka yang kejam beserra keberanian mereka. Diwaktu semacam itu, dimana kewibawaan negara tidak meliputi keseluruhan negara orang

yang paling kuatlah yang selalu benar, juga betul, biarpun tindakannya sekejam iblis herkumis.

Dari segala tindakan yang menyeleweng dari kebenaran itu, yang dirasakau paling kejam dan paling menyusahkan, adalah soal penculikan anak dara orang. Kebanyakan gadis yang terculik itu, lalu lebih suka membunuh diri karena. nasibnya yang paling baik, adalah diperisteri oleh penculiknya, yang pasri bukan pilihannya sigadis, Lebih celaka lagi bila tindakan penculik tadi hanya iseng semata~mata, karena hendak memanyakan nafsunya belaka. Celakalah anak dara itu, karena pasti di buang setelah habis di-isap manisnya.

Permainan setan ini sering dikerjakan oleh pemuda-pemuda yang kurang bertanggung jawab, hanya untuk membuktikan keberaniannya, setelah berguru sakti, hitung•hitung mencoba kemampuannya.

Namun masa buruk semacam inipun ada kebaikkannya, Karena Ialu bermunculan orang-orang sakti yang membela kebenaran diseluruh negara. Banyak pemuda-pemuda yang bangkit semangat, berusaha sekuat tenaga untuk dapat menanggulangi keruwetan- keruwetan dalam lingkungannya, membentuk kekuatan-kekuatan tandingan. Maka hampir disetiap desa selalu terdapat gerombolan pemuda yang membantu para punggawa desa dalam soal menyelenggarakan keamanan …… dalam barisan jagabaya atau jagawesti.

Lebih-lebih didesa-desa yang ternyata kurang aman seperti perdesan-pedesan yang tidak terlalu jauh letaknya dari gunung Sewu, dimana terdapat sarangnya brandal Wangsa, atau Wirawangsa atau Wiradiwangsa dengan barisannya yang memusuhi negara secara plintat-plintut …… terpaksa harus mendirikan barisan kekuatan kecil-kecilan, untuk bertahan darl tindakan sewenang- wenang para brandal tersebut. Anak Wiradiwangsa yang bernama Wiryadiwangsa, konon seorang gagah perkasa dan sakti mandraguna, suka sekali akan wajah wanita cantik dan suka bermain culik gadis orang untuk dibuat selir tarnbahan, maka kurang amanlah perasaan orang didaerah Selatan itu, bila mempunyai anak dara yang agak melek rupa. Kali ini yang menjadi sasaran kekurangajaran Wiryadiwangsa, adalah anak gadis ki gede Tanureja, didesa Bejiharja. Memang, putri iru cantik juga, namun sudah mempunyai tunangan, seorang perwira tamtama Kartasura bemama raden Gurnita. Bagi Wirya ... jangankan gadis baru bertunaggan atau belum bertunangan, sekalipun wanita sudah bersuami atau sudah menjadi janda …. bukanlah menjadi halangan untuk menculiknya, asal saja memenuhi seleranya. Ia juga hanya mementingkan soal pengacauan tata ketenteraman hidup dalam negara Mataram. Bukankah itu berarti ia telah membantu kesibukan ayahnya beserta teman-temannya, dalam pembalasan dendam kesumat para pengikut Trunajaya terhadap Mangkurat II (Amral) …. sekaligus dapat mengumbar nafsu kotornya sendiri.

Waktu akhir-akhir ini, Wiryawangsa nampak sering berkeliaran tidak terlalu jauh dari rumah besar pagede Karangharja, pada waktu-waklu yang tidak wajar! Namun agaknya masih dapat menahan sabar, karena selalu menyumpai penjagaan yang kuat lagi ketat. Mungkin pula ia hendak mengambil ikannya tanpa mengeruhkan airnya, kalau masih dapat kesempatannya eruah kemudian apabila tidak ada kesernpatan lain daripada melalui jalan kekerasan. Masakan ia akan mundur karena itu, pastilah akan dicobanya juga menyerobot Sarnasti, anak dara kigede Tanuarja tersebut.

Dalam hal menggunakan kekerasan itu, yang menjadi penghalang besar adalah ayah gadis tadi, Pagede itu bekas jago kawakan dalam geger Trunajaja dulu. Nama Tanuarja sering disebut-sebut ayahnya sebagai lawan tangguh dalam pertempuran perseorangan. Belum tentu orang tua itu dapat mengalahkannya, tetapi untuk mengalahkan dia pastilah juga tidak gampang. Oleh karena itu, lebih baik jangan sampai bertemu dengan dia saja dalam soal menculik gadisnya. Pertimbangan-pertimbangan sernacam itulah yang memaksa Wiryawangsa menyabarkan tindakannya.

Waktu mendekati surup Surja, orang-orang Karangharja digemparkan karena bisik-bisik orang kepada ternan, yang diteruskan secara demikian kepada teman lainnya lagi terus menerus, hingga dalam waktu sebentar saja sudah merata diseluruh desa. Hebatlah kerukunan kampung disitu, demikian mendengar kabar adanya kemungkinan bahaya, kekuatan seluruh desa sudah dapat dikerahkan untuk menghadapinya.

Kenyataan itulah yang terlihat oleh bagus Suwarna dan Putut Punung yang masuk kedalam desa tersebut, untuk mencari tempat berrnalam hari itu. Maka berbisiklah bagus Suwarna kepada ternannya : “Kak Punung ... Apakah yang nampak istirsewa didesa ini bagimu?”

“Hmm ... aku melihat segala-galanya dik.”

“Hai, betulkah itu, Nampaknya kau tidak melihat kekanan dan kekiri... mana kamu dapat melihat segala-galanya didisini. Coba jawab, apakah yang pertama kali kau lihat itu?”

“Ha, bagus-bagus ada ujian cerdas tangkas ini. Tidakkah itu tentang bisik-membisik kepada teman berdekatan untuk disampaikan kepada teman yang berikutnya, hingga kabar kedatangan kita ini segera didengar oleh orang• orang didesa ini? ....

betulkah itu? Nah, kalau demikian, boleh diharap segera akan adanya kejadian terhadap kita ini, maka sebaiknya adik harus siap sedia menghadapi segala kemungkinan.”

“Idih kak Punung, kau benar-benar pernuda luar biasa ...

Masakan nampak tidak jelalatan melihat kemana-mana toh narnpak bagimu hal yang terasa aneh bagiku, setelah aku melihat beherapa kali gerak-gerik mereka yang mereka rahasiakan.” “Baga'mana kita dapat menjadi pendekar yang baik dik, apabila kita tidak berlatih dengan lirikan ujung mata mencakup segala- galanya tentang gerak orang disekitarnya. Lirikan itulah yang aku lakukan maka aku juga melihat gerakan-gerakan mereka, sedang mereka sendiri mengira tengah tidak diperhatikan orang lain.” jawab Putut Punung tanpa menggerakkan kepalanya kearah teman.

Segera mengertilah bagus Suwarna petunyuk temnnnya itu. Iapun berbicara lirih, hampir tidak menggerakkan bibir, sedang paudangan matanya tetap lurus kedepan! “Hm ... kau hebat kak, apakah kiranya yang akan mereka lakukan terhadap kita nanti?”

“Siapakah yang dapat menyawab sebelum terjadi lelakonnya, lebih-lebih kita tidak tahu keadaan disini, maka pastilah tergantung kepada penilaian mereka terhadap kedatangan kita ini. Hanya saja aku kuatir ... disini itu sedang akan adanya atau sudah terjadinya

peristiwa yang tidak menyenangkan bagi penduduknya. Oleh karenanya kita ini mungkin akan mengalamiperlakuan kurang baik dari mereka. Bila itu terjadi, aku minta kepadamu dik, jangan keburu marah karena kekesaran dan perlakuan mereka yang tidak senonoh, hitung hitung berlatih kesabaran, bukan?. Biarkanlah aku saja menanggapi mereka nanti, cukup lebarlah dadaku rasanya untuk menerima hinaan-hinaan orang.”

“Baik-baik .... seberapa dapat akan aku patuhi petuahmu itu. Hanya bila sudah keliwat batas, janganlah salahkan aku kalau tanganku bergerak tidak menurut perintah majikannya.”

“Awas dik, kiranya pertunjukan mereka itu segera akan dimulai. Lihat saja tujuh orang mendatang dari depan itu!” kata Punung memperingatkan temannya.

“Ha, orang yang depah gemuk hingga membleh-membleh itu pastilah pemirnpinnya, aih …… banyaklah macam orang didunia ini!” bisik Suwarna tersenyum-senyum. “Kau ini, ... ada saja kebawelanmu. Gemuk itu pertanda kewibawaan, bukan. Semua orang bisa sekali menjadi gemuk semacam dia.”

“Tidak, aku pasti tidak mau menurunkan derajatku sendiri menjadi babi berjalan tegak demikian.”

“Iss bicara yang benar dik, jangan menghina orang!”

Hingga disitulah pembicaraan kedua pernuda yang dipandang aneh sekali oleh orang-orang di Karangharja maka terpaksa mencurigainya. Mereka itu dihubung-hubungkan dengan tokoh Wirjadiwangsa, yang selalu diamat-amati, bila muncul disekirar desa mereka. Sudah wajarlah jika kedua pemuda aneh itu dianggap mernata-matai keadaan desa, hingga wajib disambut dengan hangat oleh punggawa Jagabaja, dengan tetindihnya pak Sura Gajah, orang gemuk tersebut.

Dua kepala Jagabaja yang lain bernama Sura Kencet dan Wira- Kentus ..... Ada pun pemuda empat orang yang serta itu masing- masing ketua regu barisan pemuda desa yang ikut dalam pertahanan desanya.

Sura-Gajahlah yang membuka pembicaraan, sayangnya sejak perrnulaan mereka sudah bersikap permusuhan. Terdengar suaranya yang keras parau:

“Ha, …. berkeliaran didesa untuk keperluan orang lain, bukan? Hayo bilang terus terang apakah gunamu bergentayangan didesa

orang ini?!”

Jawab Punung tenang-tenang saja: “Apa lagi kalau bukan untuk mencari ternpat bermalam. Apakah dikira enak, tidur menatap langit, berkemul mega, beralas tanah berkersik?” “Kurangajar .... anak muda, aku bertanya dengan sesungguh- sungguhnya kepadamu.”

“Apakah aku tidak menjawabmu dengan sungguh•sungguh pula?” jawab Punung berbalik menanya.

“Huss ... jawabmu itu pasti bohong. Kami sudah tahu macam pemuda apakah kalian ini …. begundal-begundal Wiryawangsa, paling banter kalian ini mata-mata orang gunung Sewu itu ....

benarkah?”

“Hajaaa …. hebat tuduhanmu itu. Dapatkah karnu membuktikan kata-katarnu itu? Apakah alasanrnu untuk mengatakan demikian Jancang terhadap kami ini.”

“Baru dandanan kalian saja sudah sangat mencurigakan orang. yang satu bersolek seperri pangeran, sedang yang lain berpakaian seperti pengemis gelandangan. Kalian masuk kedesa orang dengan melihat kesegala arah, mungkin sudah dengan penelitian semua yang nampak kepada kalian .... apakah itu belum cukup terang, untuk menggolongkan wajah-wajah kalian dalam golongan para durjana?”

“Goongan para durjana .... jadi Wiryawangsa yang. kau sebut tadi adalah durjana. Tetapi aku dan adikku ini adak kenal orang yang bernama Wiryawangsa. Memang kami tahu nama brandal Gunung Sewu. Wiradiwangsa atau Wirawangsa itu, tetapi bukan Wiryadiwangsa. Oleh sebab itu pastilah kalian salah terka.”

“Ha-ha-haak ... apa bedanya Wirawangsa dan Wiryawangsa, itulah setali tiga uang, sami-mawon …... Masakan orang kenal Wirawangsa tidak mengenal anaknya si Wiryawangsa-ha-ha-haa !

Kau mau bilang apalagi sekarang. Tidakkah kamu sudah menerangkan sendiri keadaan tampangmu itu?” Tidak mungkin lagi sekarang bagus Suwarna menahan panas hatinya. “Baiklah babi buduk ... kalau kalian tidak menerima baik alasan orang yang betul …. kalian hendak berbuat apa terhadap kami. Hayo bilang ... sebelum tanganku ini nyasar kemulutmu yang menceng itu!”

“Apa kau bilang .... hah ... be-be- berrrani.” Keruan saja Wira gajah menjadi marah sekali, hingga hampir tidak dapat berkata wajar lagi.

“Berani saja! mengapa tidak .... mengatakan babi busuk kepadamu, karena perangaimu tidak selisih banyak dari habis kusebut tadi …. sudahlah pendeknya, kalian mau mengeroyok, majulah bersama-sama ya. . ... datangkan orang-orang seluruh desarnu, untuk menghadapi kami berdua ini. Siapa sih takut dikeroyok sebangsa jejadian semacam kamu ini !”

“Sss .... se;ss .. se-setan nnnn kata orang gemuk itu sambil

maju menyotos kearah Suwa:na,. nampaknya dengan sekuat renaganya. Karena waktu dikelit oleh pemuda pesolek tadi, hingga nampak Wira gajah menghantam angin, badannya terus saja menyelonong maju tanpa pengawasan lagi, celakanya langsung menggabrus batang pohon trernbesi, maka nyonyor seketika bibirnya yang sudah rebal itu.

“Bbb ... bbb ... ba.ba-bbbangsattt …. masih belum lancar bicaranya saking marahnya. “Jed-j-ja jangannn lar-lariii!” sambungnya terengah-engah.

“Siapa bilang mau lari menghadapi srudukan babi tak dapat membelok saja.” kata Suwarna menggoda sejadi-jadinya dengan

wajah menyengir setan pula didepan orangnya. Benar-benar menjadi kalaplah Suragajah, ia menyerang tanpa menghiraukan keselamatan diri lagi, ingin sekali ia dapat menyandak lawannya untuk dapat dirernas remas, tidak peduli badannya sendiri terpukul remuk.

Tidak tegalah rasa hati Putut Punung membiarkan erang menjadi kalap keliwat liwat itu. Maka dengan sekali meraih terpeganglah pergelangan tangan Sura-Gajah, segera pula orang depah gemuk itu mendeprok ditempat ia berdiri hendak menyerang, karena kekuatannya mendadak larut habis, kuras tanpa sisa. Berkatalah Punung dengan suaranya yang berwibawa: “Tahan dulu

.... mengapa tidak sabaran hingga banyak menjadi rusak karenanya. Haruskah segala urusan diselesaikan dengan mengadu kekuatan, apabila masih dapat dirundingkan secara cermat. Sebenarnya aku ingin sekali bertemu dengan kjai gede dari desa ini ... siapakah itu?”

Jang kini menyawab ki Sura-kencet; “Itulah ki-gede Tanuarja. Baiklah kita bersama-sarna menghadap kjai lurah saja, untuk mernecahkan persoa lan ini.”

“Nah, begitulah pasti lebih baik. Mari mari ... apa baiknya orang bertempur karena alasan sepele, mungkin karena salah faham saja.”

“Bagaimana dengan lurah Sura-gajah yang kau lumpuhkan itu?” tanya pak Kencet.

“Jangan cemas, segera ia sembuh kembali, serelah aku tepuk- repuk punggungnya, lihat saja.”

Dengan tiga tepukan pada punggung orang, meloncatlah Sura- gajah, karena kekuatannya sudah pulih seperri sediakala, juga dengan seketika. Tidak habislah kekaguman dan keheranan Suragajah tentang kehebatan pemuda awut-awutan itu. “Ssss…sss.. setttaan ...... “kata orang gernuk itu sambil maju menjotos kearah Suwarna, nampaknya dengan sekuat tenaganya, Karena waktu dikelit oleh pernuda pesolek tadi, hingga ...... Kiranya ia sudah kapok tujuh turunan, hingga tidak berani lagi memandang kepada pesolek ugal-ugalan itu supaya tidak usah marah Lagi. Dibiarkan saja dia cengar-cengir mendongak kelangit. Tahulah orang bahwa dia menahan ketawanya melihat tingkah laku sigemuk sekarang berbalik kearah sopan. Biarlah dia ketawa terkial- kial, asal tidak mengejek dengan mulutnya yang tajam ini ... jadilah kiranya.

T'iba-tiba narnpak dari jauh ada orang tari dengan tangan serabutan hendak menerangkan sesuatu.

Setelah kira-kira dapat didengar suaranya, berkatalah orang itu sepatah-sepatah: “Pak Sura-gajah-kigede-hendak-dibunuh orang, lima ….. Dengan datangnya itu, selesailah pula ia menyampaikan tugasnya.

Terpaksa maju lagilah Sura-gajah: “Ada apa Kadimun ... ada kejadian apa dirumah ki Ageng.”

Jawab pemuda tanggung itu terputus-putus karena pernafasannya masih belum biasa kernbali, “Tarnu …. Lima orang

…. berselisih …. Ki Ageng ber ... tempur .... dengan …. Wirawangsa ”

Segera sigendut itu lari mendahului seperti bola menggelinding, sambil berseru: “Teman-teman, bantu kigede semua.”

Tanpa kecuall orang-orang membentang kaki menuju kerumah kiageng Karangharja. untuk menolong pemimpinnya. Mereka itu berlari sambil berteriak-teriak memberi pertanda adanya bahaya.

Keruan dari tiap-tiap rumah keluar pemudanya atau orang laki- laki memegang senjata, yang hendak serta mempertahankan kehormatan desanya. Maka dalam waktu tidak terlalu lama halaman muka rumah ki Gede sudah banyak sekali orang bersenjata macam•macam, hendak menghadapi lawan.

Namun mereka tidak berani lancang bertindak sebelum mendapat aba-aba dari pemimpin. Apakah yang kini mereka lihat?.... Pertempuran sengit antara ki Gede Tanuarja melawan pemimpin brandal Gunung Sewu ki Wirawangsa ….. seorang melawan seorang, dengan tangan kosong. Dalam soal umur, mereka kira-kira seimbang …. setanding juga soal kedigdajaan mereka.

Jago-jago kawakan ini pasti tidak baru sekali ini saja bertempur

…. mungkin mereka itu musuh-musuh lama di beberapa medan perang, jarnan Trunajaja. Terdengar suara Wirawangsa mengejek lawan: “Nah-nah Tanu, ... lihat tuh orang-orangmu sudah semua datang. Hayo beri aba-abalah untuk mengeroyok. Dasar kamu sejak dahulu bangsa cecurut licik, hanya berani menghadapi lawan dalam kerubutan ... Mana kamu berani tangguh melawan aku seorang diri.

“Wirawangsa genjik kau ini, masakan hanya kamu seorang, laki-laki seluruh jagad ini. Kapan aku dapat kesempatan untuk menghadapimu seorang melawan seorang, sebelum hari ini. Kami selalu bertemu dimedan perang barubuh, mana bisa kita tidak bertempur secara kerojokan orang banyak. Hai, kunyuk kuwuk sekarang inilah kita bisa bertempur perorangan. Hayo, pertontonkan segala lagumu, untuk aku timpali.”

“ Ha, ujar orang laki-laki sejati. Aku mau tahu sampai dimana ketahananmu menghadapi aku tanpa dibantu orang lain!” kata Wira sengaja mengejek.

Memang ia memancing kemarahan orang supaya dapat bertempur seorang melawan seorang. Sekalipun ia merasa sanggup dengan bantuan teman teman yang dibawanya, untuk melayani orang satu kampung adalah tidak terlalu menarik perasaannya. Oleh karena itu, ia menggunakan siasatnya dan siasat itu berlaku baik.

Itulah yang dilihat oleh orang• orang ki Gede Tanuarja. Terpaksa mereka tidak dapat berbuat apa apa, karena janji kiageng sendid, hendak bertempur tanpa bantuan. Yang masih dapat dilakukan bersama ialah, mengepung ke-empat lawan mereka.

Karena seram dan serunya pertempuran setanding kedua jago kawakan ini ….. orang melupakan. Wiryawangsa yang tidak nampak bersama•sama lagi dengan brandal-berandal Gunung Sewu itu, Tidak seorangpun merasa bahwa orang muda yang justru menjadi biang-keladi kekacauan ini, tidak berada. ditengah-tengah mereka. Dilupakan sama sekali bahwa Wirya, hendak menculik gadis ki Ageng, dan pasti mencari kesempatan dimana orang sedang berlengah-lengah. Tetapi siapakah memikir hingga disitu, apabila orang sedang terpancang pada pemandangan lain yang mendebarkan hari menegangkan perasaan.

Makin lama pertempuran kedua jago tua itu makin menjadi hebat. Kini pergulatan itu sudah memasuki babak adu senjata pamungkas.

Nampak kedua-duanya meloncat mundur sedepa, untuk berdiri dengan kudakuda masing-masing, dalam pengerahan renaga sakti untuk pengetrapan ilmu simpanan masing-masing pula.

Kiranya yang selesai dulu mengerahkan tenaga sakti itu si brandal Gunung Sewu. Maka segera menyeranglah ia dengan tangan kanan diangkat tinggi-tinggi dan tangan kiri dilonyorkan menyilang dadanya, berloncatan dengan cara menggeser, kaki kiri selalu berada dimuka. T angan kanan yang diangkat tinggi tadi menyambar secepat kilat kearah dada orang ……

Bukan main hebatnya gebugan itu, lebih lebih kiageng Karangharja belum selesai melarnbari dirinya dengan ilmu andalannya. Untungnya, ia masih cukup gesit untuk meloncat kesamping, mengelak gebugan tersebut. Namun tak urung ia telah merasakan srernpetan angin pukulan rujak-beling lawan jang membinasakan itu, bila sampai terkena telak. Baru srempetannya saja sudah terasa seperti disajat pisau tajam kulitnya.

Agak menjadi kacaulah pengerahan tenaga kiageng, karena kedahuluan lawannya itu .... , terpaksa ia masih harus berlincahan menghindar dan mengelak menjauhkan diri dari rnusuh tangguhnya. Wirawangsapun tahu hal itu, maka serangannya lebih dipercepat dan diperhebat, untuk mendapat kemenangan terakhir. Baru waktu sudah sepuluh kali menghindari serangan pemimpin brandal tadi, kiageng dapat mengumpulkan tenaga saktinya yang harus dipakai dalam menggunakan ilmunya Kebo-dungkul …. pukulan tangan kosong yang beratnya. sama dengan serudukan kerbau tanpa tanduk.

Sayang, kali ini kiageng kurang yakin bahwa ilmunya pasti dapat untuk menandingi kedahsjatan lembaran lawannya itu, karena berkali-kali terkena srempetan angin pukulan Wirawangsa, hingga terpaksa menirnbang-nimbang kemampuan pukulannya sendiri. Narnun serangan Wira sudah keburu datang dengan derasnya ... Karena tidak berkesempatan lagi mengelak mau tidak mau kedua lengan dengan lambaran sakti masing-masing beradu keras sekali

..... plak-plak !

Tidak terlampau keras terdengar benturan kedua lengan perkasa itu, tetapi akibatnya ternyata berlebihan. Ki Ageng Tanuarja nampak mental selandejan kebelakang lalu jatuh terjongkok sambil memegang dadanya, memuntahkan darah sekumuran dengan mata mencereng menahan sakit.

Wirawangsa melangkah surut lima tindak, berdiri bergoyang• goyang, seluruh badannya gemetar dengan wajah menyeringai iblis, juga menahan sakit, tetapi disembunyikan, Diapun tidak akan dapat berbuat sesuatu, karena merasa kesemutan diseluruh badannya.

Hanya orang dapat menilai bahwasanya ilmu brandal itu mempunyai segi keunggulan seurat dari lambaran ki Ageng Karangharja. Maka menjadi legalah hati para pengikutnya, karena pasti pemimpinnya tidak kalah dari lawan hebat itu, suatu jaminan untuk tetap bersikap garang. Siapakah sekarang yang masih berani maju untuk mengganti lurahnya yang sudah kalah kini duduk numprah ditanah, guna memulihkan kekuatan itu? Lebih-lebih pemimpin brandal itu sekarang sudah dapat lagi bergerak lagi.

Dengan tertawa menggeleges, menusuk perasaan, berkatalah dia: “Heh-heh-heh.., Tahu …. tahu rasakah kamu sekarang. Enakkah gebugan aji Rujak-belingku itu? Ha-ha .... kau kira dapatkah aji busukmu menandingi keampuhan pukulankuBagaimana

sekarang, apakah yang masih hendak kau suguhkan kepadaku lagi. Hayo kuraslah pembelaanmu supaya jangan penasaran, bila aku berkenan meremas putus lehermu nanti.”

Jawab ki ageng Tanuarja yang baru setengah pulih keadaannya itu dengan gagahnya; “Wirawangsa, kerjakan maksudmu yang keji tuu, siapa takut mah Jelek-jelek akupun prajurit dalam barisan raja dahulu. Masakan dapat luntur keberanianku menghadapi maut ditangan musuh, Hayo .. pilihlah senjatamu untuk menyempurnakan kepergianku ini. Aku akan menyaksikan dengan mata melek kematianku sendiri !”

Terdengar suara orang banyak: “Lurah, apakah kami belum boleh bertindak.?”

“Jangan-jangan ...! Aku sudah berjanyi bertempur perseorangan menghadapi dia.” kata kigede dengan menggoyang-goyangkan tangannya. “Janji, adalah janji yang harus ditepati. Bila ada yang dapat mengganti aku, pastilah dapat kuijinkan bertempur dengan dia sebagai pembelaku. Tetapi kalian tidak mungkin aku ijinkan maju menghadapinya. Biarlah aku sendiri nanti menyelesaikan persoalan ini!”

“Kjai lurah ... kata Sura-gajah ... kjai lurah sudah terluka parah, mana bisa hendak melanjutkan pertempuran lagi. Biarlah aku mati membelamu!”

“Jangan Sura ... jangan kau mewakili aku. Tidak sudi aku melihat orang membuat permainan kepada kalian. Tunggulah sebentar, pasti aku dapat bergerak leluasa lagi!”

Mulutnya berkata demikian, tetapi kenyataannya ki gede memang terluka parah didalam, hingga bila terjadi perternpuran sekali lagi, pastilah ia seperti mengantar jiwa belaka.

Tiba-tiba terdengar suara orang berkata sangat nyaring.

“Hei-hei sore-sore begini, siapa hendak memhunuh orang. Kalau

toh harus ada orang yang dibunuh …. bunuhlah dia ini!” Suaranya terhenti … blug ada barang besar jatuh dimuka pemimpin brandal

Wirawangsa.

Semua orang menjadi kaget karenanya. Waktu diperdatangkan, apakah yang dijatuhkan tadi ... ternyata badan orang tinggi besar …. Wiryawangsa.

Keruan saja Wirawangsa berjingkrakan sambil memaki-maki keras, setelah menyadari kenyataannya.

“Setan alas ... iblis najis dari mana berani berbuat demikian, membangkit kemarahan Wirawangsa ... hayo, keluarlah cecurut hina-dina, temuilah aku ayahnya!”