Gema Di Ufuk Timur Bab 17 : Rasamala

Bab 17 : Rasamala

Seperti hujan yang turun merata hampir di seluruh Nusantara, demikian pula berita tewasnya Tumenggung Alap- alap, yang juga seorang Kapten Kompeni yang terkenal gagah berani, tersebar ke seluruh Nusantara. Tiap telinga di Madura, Batavia, Mataram, dan Surabaya mendengar berita kematian itu. Tapi tiap orang mempunyai pendapat yang berbeda. Ada yang heran, ada yang senang karena tidak menyukai

tindakan-tindakan Alap-alap. Sebagian lagi, terutama para pembesar Kompeni, Madura, dan Mataram, yang merasakan jasa Alap-alap, sangat marah. Mereka kehilangan seorang yang gagah berani dan selalu tampil sebagai penolong saat- saat mereka terdesak oleh lawan.

Kini mayatnya terkubur di bawah bukit kapur. Gundukan tanah liat berwarna kuning menimbuni tubuh itu. Kendati di atasnya ditaburi kembang beraneka-ragam. Penghormatan terakhir. Dan memang terakhir secara sungguhsungguh.

Sebab sesudah itu tiada lagi pejabat Kompeni yang berziarah ke Bangkalan. Apa kepentingan mereka menghormat gundukan tanah? Tentu berbeda dengan Panembahan Rasama-la penguasa Bangkalan. Senyumnya punah. Pipinya yang mulai dihiasi lipatan-lipatan karena bertambahnya usia, makin membayang jelas. Janda mendiang Alap-alap meminta agar Madura menurunkan pasukan ke Blambangan untuk membalaskan sakit hati keluarga. Dan Panembahan Rasamala berjanji akan memimpin langsung pasukan Madura itu.

Beratus-ratus kapal perang dan kapal pendarat berlabuh di Panarukan dan Probolinggo. Rasamala sendiri mendarat di Probolinggo. Ia disambut oleh Adipati Jayanegara dengan hormat. Bahkan sang Adipati sendiri mengirim sebuah kereta kehormatan yang ditarik enam kuda pilihan. Seluruh kawula dikerahkan di pinggir-pinggir jalan yang akan dilewati oleh pembesar negeri Madura itu. Sehingga kawula melihat jelas wajah Rasamala. Kulitnya sawo matang. Kumisnya jarang-jarang. Mengenakan anting-anting bunder di telinga sebelah kanannya. Emas. Alis di atas matanya juga tipis. Mukanya bekas diukir oleh jerawat yang sebesar-besar bisul. Berbaju hitam berhiaskan renda-renda emas menutup tengah dada sampai dada. Sabuk besar terbuat dari kulit. Pedang panjang di pinggang, sedang keris juga terselip di ikat pinggang depan sampai menutup perutnya.

Seorang pengawal selalu mengikut ke mana pun ia pergi, sambil memikul bedil pembesar itu. Setelah itu sekitar dua puluh lima orang bersenjata bedil dan pedang memagari kiri- kanan, muka-belakang. Jadi kendati kawula Probolinggo mengelu-elukannya, ia sama sekali tidak sempat menolehnya.

Cuma sebentar ia beramah-tamah dengan Jaya-negara.

Keesokan paginya ia bersama rombongan berangkat ke Pakis. Rasamala mendapat keterangan dari Probolinggo bahwa Rempek atau Jagapati itu berasal dari Pakis. Karena itu ia ingin melumat Pakis lebih dulu untuk memancing Jagapati keluar dari Derwana. Tapi perjalanan itu sudah didengar oleh banyak orang. Dan kampung-kampung yang akan dilewati telah menjadi kosong. Semua orang mengungsi. Takut.

Karena memang di sepanjang jalan mereka menyebar maut, dan membakar kampung-kampung yang telah ditinggal bersembunyi oleh penduduknya itu. Rasamala terbahak-bahak melihat tingkah anak buahnya. Jika ia lelah di atas punggung kuda, maka tandu disiapkan untuk mengangkutnya.

Rawa-rawa di perbatasan Probolinggo dan Blambangan telah mereka lampaui. Dan begitu masuk wilayah Blambangan mereka menjadi beringas. Dendam tertumpah pada semua dan segala. Dan ketakutan cepat merambat ke mana-mana.

Mereka mencabut dan membabat semua umbul-umbul hitam yang mereka jumpai di pinggir-pinggir jalan yang mereka lalui. Schophoff telah menerima laporan tentang tindakan Rasamala itu. Senang. Sendiri tidak mampu tapi ada orang lain yang membalasnya.

Berita kehadiran Rasamala itu tidak cuma sampai kepada Schophoff tapi juga sampai ke telinga Wilis serta para pemuka Raung lainnya. Wilis memerlukan datang sendiri ke Derwana untuk memberikan beberapa penjelasan penting berkenaan datangnya musuh baru di Blambangan. Jagalara tampak terluka di bahu kirinya. Sedang Undu di atas alisnya terserempet peluru. Para selir dan istri Jagapati juga ikut hadir. Sratdadi. Mas Ayu Tunjung, Gusti Tangkas dari Bali, serta Lindu Segara dan Mas Ayu Prabu kini tampak berkumpul di pendapa Derwana.

"Perang belum usai. Kendati kita dalam suasana duka," Wilis mengawali uraiannya. Ia pandangi semua yang hadir. Menarik napas dalam-dalam, kemudian melanjutkan. "Kita harus... ya, harus...," tangannya diangkat untuk memberi penekanan pada suaranya, "menyiapkan diri lebih kuat lagi. Sekarang Panembahan Rasamala dari Bangkalan, Madura, akan menghadapi kita. Para telik melaporkan, mereka merampok sepanjang jalan. Ah... Blambangan sekarang benar-benar di ujung tanduk."

Semua orang tertunduk.

"Kita telah kehilangan banyak. Apakah kita tidak perlu istirahat terlebih dulu?" Jagalara membuka suara.

"Ya. Memang kita perlu istirahat. Kita tidak akan menyerang mereka. Tapi kita perlu bersiapsiap. Sementara itu, aku akan memperbaiki jebakan dan songga di hutan-hutan.

Kita menunggu Rasamala masuk. Aku tidak percaya orang setua dia itu mampu naik ke Benteng Bayu.'

"Jika diizinkan, hamba akan mengirim pasukan dari Songgon untuk mencegat mereka. Paling tidak mampu memberi peringatan pada mereka," ujar Sratdadi. "Kita akan mengirim telik terpilih kita. Penembak-penembak jitu di tiap tikungan hutan. Sesudah menembak, mereka akan kabur. Begitu terus akan dilakukan. Jangan orang-orang Songgon. Mereka adalah gudang beras kita yang terakhir.

Karena itu kita perlu menjaga ketidakterlibatan Songgon dalam perang ini."

Masih cerah juga pikiran anak ini, pikir Sratdadi.

"Yang penting sekarang hamba akan bertanya, apakah para selir dari Yang Mulia Jagapati akan pulang ke tempat asal masing-masing atau ikut nglarung (ikut mati dibakar dan nanti abunya dibuang ke Laut Selatan). Atau ikut bersama kami berperang melawan para drubiksa itu?"

Tiga orang selir berbisik-bisik.

"Ikut berperang saja," bisik seorang pada lainnya. "Siapa tahu jika menang nanti kita jadi selir beliau?

Lumayan," bisik satunya.

"Masih muda begitu apa mau? Kita bekas selir Rempek." "Jika kalian tidak mau. aku akan tinggal bertempur,"

seorang memutuskan. Dan kemudian menyatakan pendapatnya pada Wilis. Tentu itu disambut gembira oleh para pemimpin. Hanya paramesywari yang harus ikut dibakar dua hari lagi bersama jenazah Mas Rempek.

Hari kelima, semua orang Derwana dan Indrawana berbondong menuju alun-alun. Para keluarga semuanya mengenakan kain putih. Juga paramesywari. Ia sudah naik ke atas menara di atas onggokan kayu yang siap membakar tubuh suaminya. Juga dirinya sesaat lagi. Ia sempat menoleh deretan tamu dari Pakis. Mas Nawangsurya, Mas Ayu Patih, Mas Ngalit, dan Mas Talip. Semua nampak tersedu-sedu.

Kidung Lokananta sudah ditembangkan. Pandita istana Pakis, Dang Hyang Asyoma yang mengenakan jubah kuning telah membacakan mantra. Kemudian mengangkat giring-giring dan membunyikannya. Api pelan-pelan merayap naik. Tangis pilu para selir serta beberapa inang menyertai letupan-letupan kecil. Doa diucapkan makin keras. Ah, mereka cuma menangis, paramesywari sempat berkata-kata untuk mengatasi rasa takutnya. Rempek nampak bangun.

Melambaikan tangan padanya. Ia gosok matanya. Tidak! Rempek terbujur dan dimakan api. Tapi kini bangun lagi. "Mari, Adinda!" Ia merentangkan tangan dalam api. "Mari ke dalam pelukanku!" Tidak mampu berpikir lebih lama lagi. Ia melompat ke dalam pelukan api. Doa penolak hujan juga terus berkepanjangan.

Aroma daging terbakar menusuk hidung. Kala api unggun meredup, satu per satu orang meninggalkan tempat itu. Wilis masih saja berdiri. Memandangi murid-murid Dang.Hyang Asyoma yang siap mengumpulkan abu kedua jenazah itu.

Walau masih dalam tangis, para selir sempat membicarakan hubungan paramesywari dengan Undu yang akhir-akhir ini agak akrab karena sering ditinggal tidur di tempat lain oleh Jagapati. Tidak mereka duga bahwa paramesywari akhirnya mau ikut membakar diri. Tentu bukan semaunya, pikir mereka. Paramesywari tentu ingin hidup lebih bahagia dalam pelukan Undu.

Wilis mengundang keluarga Pakis untuk singgah dulu di istana Derwana. Mas Nawangsurya sempat melirik wajah Wilis. Tampan. Istana itu juga tidak terlalu jelek, kendati di tengah rimba raya. Dan penduduk Derwana ternyata cukup padat.

"Kita menghadapi hal yang lebih sulit sekarang," Wilis mulai memberikan keterangan. "Panembahan Rasamala datang dengan membawa balatentara sangat besar. Tidak kurang dari dua puluh lima ribu orang. Sekitar tiga ribu memang sudah ditenggelamkan oleh armada Rencang Warenghay dan Harya Lindu Segara. Seribu lagi punah di tengah paya-paya Pantai Panarukan. Empat ribu lagi punah di tangan pasukan pemanah kami. Namun demikian masih tersisa tujuh belas ribu bersama pemimpinnya." Diam sebentar untuk mengamati para tamunya. Ketakutan membayang di wajah mereka.

"Apakah perang akan terus berlanjut?" Nawangsurya yang membuka suara. Ia yang tertua kini. Kakaknya, Bagus Puri, telah tiada.

"Apakah kita akan merelakan diri menjadi budak?" Wilis balik bertanya. Tiada yang menyahut. Beberapa bentar ruangan besar itu jadi hening. Hujan turun dengan lebatnya. Sementara dapat menghapus aroma bangkai yang kian merajai Bumi Semenanjung. Di Pangpang, Lateng, dan di mana-mana. Pemangsa bangkai benar-benar kewalahan. Lalat makin hari makin banyak jumlahnya.

"Kita memang telah lama, berpindah dari satu perbudakan ke perbudakan lainnya. Jatuh dari tuan yang satu ke tangan..." Nawangsurya berkata perlahan. Hampir tak terdengar karena suara air hujan. Ketakutan kian membayang dalam temaram damar.

"Perang saat ini adalah cetusan keinginan untuk membentuk jatidiri yang bebas dan menghargai kesamaan hak serta menciptakan persaudaraan yang murni. Itulah kemanusiaan yang sesungguh-sungguhnya."

"Jagat Dewa! Hyang Dewa Ratu! Jika kemanusiaan yang seperti itu tujuan utama kita, mengapa kita tidak mencoba dengan cara damai?" Nawangsurya kembali mengeluarkan pendapatnya.

"Tidak pernah akan damai selama ada hati yang ingin menang dan menguasai satu dengan lainnya. Perang tidak berhenti dari hati manusia.

Bentuknya saja berubah-ubah. Selamanya. Sebab kita dilahirkan oleh peperangan ibu kita melawan maut. Juga, hidup! Harus dipertahankan melalui perang melawan kelaparan dan semua wabah penyakit. Kapan akan ada damai yang sesungguhnya? Jika kita harus mengangkat bendera putih, maka kita akan lebih dahulu berperang melawan harga diri sendiri. Apakah kita akan mempersundalkan diri atau..."

"Hyang Dewa Ratu!" Nawangsurya menyebut sekaligus memandang wajah saudara-saudaranya. Wajahnya yang ayu itu kian pias memucat. Tapi saudara-saudaranya cuma menjawab dengan tatapan mata hampa tanpa makna.

"Barangsiapa mengerjakan sesuatu yang melawan jatidirinya sendiri demi kesukaan dan kepuasan orang lain, atau demi menyambung hidupnya, sebenarnyalah ia telah mempersundalkan diri. Dan jika kita hidup di dalamnya, maka kita adalah sundal."

"Hyang Dewa Ratu!"

"Tidak ada yang melarang orang hidup dari persundalan," sambung Wilis. "Sebab tiap manusia wajib mengulur hidupnya."

Pertemuan itu ditutup dengan permintaan Nawangsurya untuk menjadikan Pakis daerah damai. Dan menarik semua laskar Bayu supaya tidak melibatkan Pakis pada perang mendatang. Cukup pahit dengan perpecahan antara Rahminten yang kini dikawin oleh Jaksanegara dengan Rempek. Belum lagi karena kematian adik yang dianggapnya cerdas dan paling berwibawa memerintah Pakis.

Sementara itu di Pangpang, Rahminten atau juga biasa dipanggil Arinten, gelisah. Bagaimanapun juga Rempek adalah adiknya. Tega melihat kala ia sakit, tapi tidak rela ia mati seperti anjing kurap. Sementara itu ia bersenang-senang dalam pelukan musuh adiknya. Apalagi kini mendengar berita kedatangan Rasamala. Tentu Blambangan akan punah. Semua bangunan akan rata dengan tanah. Punah harapan untuk menegakkan kembali cakrawati keluarga Tawang Alun.

Padahal ia sudah dengan sadar menjadikan dirinya sebagai tumbal. "Kenapa gelisah?" tanya Jaksanegara dalam bisik waktu keduanya sudah berbaring di tempat tidur. Ia belai rambut istrinya. Seperti membelai seorang anak.

"Rempek, Kanda "

"Ia sudah membayar ulahnya sendiri "

"Tapi mengapa harus dibunuh?"

Jaksanegara mempererat pelukannya. Di luar udara bulan Januari yang ditandai oleh hujan setiap hari itu, makin dingin saja. "Jangan pikirkan dia. Dia telah membunuh banyak."

Air mata Rahminten membasahi dada Jaksanegara. Dan orang itu jadi terkejut. "Mengapa?"

"Pakis akan punah. Nawangsurya dan adik-adikku akan ikut musnah. Lenyaplah peninggalan moyang kami. Pusaka leluhur itu."

"Ya, Allah ," Jaksanegara mengeluh.

"Kita harus mencegahnya, Suamiku. Apa arti hidup ini jika satu-satunya kebanggaan yang masih tersisa juga ikut punah? Di zaman Wong Agung Wilis pun kami tak pernah diusik. Tapi kenapa malah akan dipunahkan? Bukankah itu akan memancing kebencian? Kebencian kawula yang meledak, Kanda, akan mengatasi semua ketakutan."

Jaksanegara seperti tersentak. Cerdas juga perempuan ini.

Buat beberapa saat ia diam. Dan malam yang dingin makin menjadi dingin. Dan untuk mencegah kedinginan itu berlanjut, ia berjanji akan menjemput Rasamala agar tidak melanjutkan perjalanannya ke Pakis. Tapi berbelok ke timur, ke Pangpang.

Keesokan paginya rencana memang segera I disusun.

Jaksanegara membawa salah seorang selirnya. Selir itu akan menyampaikan surat undangan pada Rasamala. Ia juga menyiapkan kereta. Kereta kehormatan hadiah dari VOC Batavia untuk sang adipati Blambangan. Kereta yang tak pernah dimiliki oleh penguasa Blambangan sebelumnya. Ia sudah melaporkan rencananya itu pada Schophoff. Yang kemudian mengutus Pieterv Luzac menjemput Rasamala dan I memberi tahu bahwa Jagapati yang juga menggunakan nama Wong Agung Wilis kala memimpin laskarnya, sudah mati.

Semula Rasamala menolak undangan itu. Dengan tegas Rasamala tetap akan mengerahkan pasukannya ke Pakis untuk menghukum Rempek.

'Tapi Rempek sudah mati," jelas Pieter Luzac.

"Mereka membunuh sekitar delapan ribu laskar kami di jalan. Bagaimana bisa dikatakan mati? Bahkan mereka sempat menghujani kami dengan tembakan meriam. Bagaimana mungkin itu terjadi jika pemimpinnya sudah mati?"

”Tuan tak percaya Kompeni?"

Rasamala terdiam. Beberapa saat ia berpikir. Lalu memerintahkan anak buahnya berbelok arah ke Pangpang. Dia sendiri segera berangkat bersama Jaksanegara dan Pieter Luzac untuk menghadap Residen. Menyerahkan pimpinan pada Gan-dara. Ia duduk sebelah-menyebelah dengan selir Jaksanegara dalam kereta kehormatan. Keharuman tubuh wanita itu mendinginkan bara dalam dadanya.

Perundingan dilanjutkan pada malam harinya, di rumah Adipati Jaksanegara. Schophoff, Pieter Luzac, dan Juru Kunci ikut menemani Rasamala. Rasamala tetap saja ingin ke Pakis membuktikan apakah benar Rempek sudah mati. Tapi ia berjanji akan menempatkan pasukannya di luar tapal batas kota Pakis.

"Hamba memohon dengan amat sangat, Kanda. Sebab yang memimpin daerah itu cuma seorang wanita," Jaksanegara memohon. Melihat kebaikan Jaksanegara yang menjamunya itu, Rasamala mengulangi janjinya. Apalagi setelah malam hari itu dia dipersilakan bermalam di pesanggrahan yang indah milik Jaksanegara di tengah keputrian. Ia jadi lupa akan dendam istri Alapalap. Lupa pada pasukan yang ia serahkan ke dalam kekuasaan Gandara. Ia tidak tahu bahwa pasukannya itu kini sedang berhadapan dengan Sratdadi serta Jagalara, yang dibantu Gusti Tangkas.

Laskar Blambangan sengaja membiarkan pasukan Madura masuk ke jalan menuju Pangpang yang diapit hutan lebat.

Sebenarnya Mas Sratdadi mencegat mereka di jalan yang menuju Pakis. Hatinya gembira. Sebab jika mereka meneruskan perjalanan ke Pakis, mereka akan melewati jalan panjang yang membelah bukit. Batu-batu dan senapan siap di atas bukit. Sudah bisa dipastikan mereka akan punah. Sedikit yang akan bisa selamat. Tapi setelah mendengar laporan perubahan perjalanan Rasamala, ia buru-buru mengalihkan laskarnya ke jalan menuju Pangpang. Ia sangat kecewa karena Rasamala baru saja berlalu ketika ia sampai ke tempat pencegatan itu. Tapi beruntung karena masih ada pasukan yang dicegat. Setelah ekor pasukan itu masuk jebakannya, ia menurunkan perintah untuk menembak.

Untung Gandara sudah curiga. Maka ia sengaja membagi pasukannya menjadi dua bagian. Ia berada di belakang.

Kendati bisa membalas, pasukan pertama tetap saja harus kehilangan banyak anggotanya. Mereka cuma membalas sekenanya. Musuh tidak nampak. Gandara mendengar bunyi tembakan maka memerintahkan barisan kanon untuk menghujani kiri-kanan jalan di depan mereka. Sratdadi terkejut waktu menerima tembakan itu. Tapi ia menyadari bahwa mereka hanya diperkenankan menjadi pasukan intai. Tidak boleh menyerbu dengan beradu senjata tangan. Maka ia segera memerintahkan semua anak buahnya mundur. Namun Jagalara yang telah terluka, tidak mampu menahan darahnya yang mendidih melihat bangsanya dikerahkan untuk membantu Belanda. Ia justru keluar dari persembunyiannya dan menyerbu ke pasukan Gandara. Tapi Sratdadi tidak suka melihat hal itu, maka segera ia menjatuhkan hukuman mati bagi Jagalara. Beberapa penembak jitu dan ia sendiri membidikkan senjatanya kepada Jagalara. Dan betul, orang itu terjengkang sebelum sampai ke tengah musuhnya.

Rasamala kembali marah kala Gandara tiba di Pangpang dalam keadaan luka di pahanya. Sebuah peluru nyasar di paha itu sebelum Sratdadi benar-benar meninggalkan musuhnya.

"Siapa yang percaya Rempek sudah mati?" teriaknya.

Adipati Blambangan menunduk melihat muka Rasamala yang merah padam itu. Rahminten tersinggung melihat itu. Betapa suaminya seperti siput di depan orang lain. Ah, suaminya cuma pandai menaklukkan wanita. Maka diam-diam ia mengambil keputusan untuk mengirimkan seorang utusan guna memberi tahukan semua rencana Rasamala.

Sontak yang sudah sebal melihat tingkah Jaksanegara segera memacu kudanya untuk menyampaikan pesan pada Nawangsurya. Ia heran setelah sampai di Pakis. Tidak ada lagi penjagaan yang kuat dari pasukan Bayu seperti sebelumnya. Keadaan telah kembali seperti di zaman sebelum Mas Rempek memimpin perang. Ia langsung menuju puri tempat tinggal Nawangsurya. Setelah menerima keterangan dari Sontak, Nawangsurya berterima kasih dan memerintahkan Sontak meninggalkan Pakis secepatnya. Makin heran Sontak. Namun ia mengambil keputusan untuk menguping kejadian selanjutnya. Dan ia bertekad akan bergabung dengan Rsi Ropo di Songgon. Mungkin ia akan memperoleh kedamaian.

Sepeninggal Sontak, Nawangsurya segera mengumpulkan saudara-saudaranya. Sekali lagi ia melihat saudara-saudaranya lesu tanpa semangat.

"Apa boleh buat," kata Mas Talip. "Kita tinggal lari." "Lari?" Nawangsurya melotot.

"Habis? Jika kita tidak lagi mampu mempertahankan hak kita? Milik kita?" Nawangsurya putus asa. Ia harus akui hampir semua saudaranya berjiwa kerdil. Tak seperti Rempek. Kendati menurut silsilah semestinya ia termuda. Tapi kecerdasan dan keberanian telah membuatnya jadi pimpinan yang cepat menonjol.

"Baiklah, kalian tidak punya pendapat untuk mempertahankan warisan leluhur kita. Jadi siapa yang berani mempertahankan, dia akan jadi pemiliknya. Kalian rela?"

Kembali ruangan menjadi sunyi. Benar-benar sunyi. "Kita tidak punya banyak waktu lagi "

"Baiklah aku rela, asal saja kami boleh tetap tinggal ," Mas

Ngalit lebih dahulu memberikan pendapatnya.

"Sekarang kita bukan lagi satria Blambangan sejati. Kita telah menjadi salah seorang dari Jaksanegara, Juru Kunci, atau mungkin juga sama dengan Bapa Anti. Nah, sekarang perintahkan para pengawal di depan itu memasang bendera putih di tapal batas kota. Di jalan yang akan menuju gerbang kota Pakis ini. Setelah itu kalian masuk pura, berdoalah untuk aku. Aku akan menghadapi Panembahan Rasamala itu sendiri. Jangan terburu kembali ke sini jika tidak aku panggil. Lebih baik pulang ke rumah kalian masing-masing, jika selesai berdoa."

Mereka kemudian saling berangkulan. Menangis. Tapi Nawangsurya segera mengingatkan bahwa waktu telah habis. Tidak boleh terlalu lama bertimbang. Tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Ia harus bersiap kini. Hujan lebat menyambut kehadiran Rasamala di Pakis. Kendati marah, Rasamala memang menepati janjinya. Karena Jaksanegara menjamin dengan sungguh-sungguh, bahwa pemimpin Pakis Cuma seorang wanita.

Sepuluh orang membawa bendera putih siap di gerbang kota Pakis. Keremangan mulai turun ketika kuda Rasamala memasuki halaman istana Pakis, dengan dua orang memayunginya di kiri dan kanannya. Pasukannya berbaris di luar pagar kota, sedang pengawal pribadinya berbaris di luar pagar istana. Istana yang tidak berpengawal, kecuali sepuluh orang pembawa bendera putih tadi. Rasamala benar-benar heran. Kota Pakis seperti kota mati. Tidak satu kedai pun yang buka. Tidak nampak seorang pun petani pulang dari sawah di senja begitu. Atau mereka telah pulang sejak tadi karena hujan yang begitu lebat. Mata Rasamala berusaha menembuskan pandang ke dalam pendapa yang mulai diterangi oleh beberapa pelita. Cukup luas pendapa itu. Di sudutnya terdapat satu rancak (satu set) gamelan dan angklung. Setelah mempersilakannya naik pendapa, dua orang yang memayunginya itu segera mengundurkan diri ke dalam pelukan hujan. Dia tidak boleh naik ke pendapa karena basah kuyup. Juga empat orang pengawalnya harus kembali ke serambi, tidak bisa mengikutinya naik. Tapi Rasamala benar- benar heran. Matanya mencari-cari. Tidak ada prajangkara.. (protokol istana)

Ketika ia melangkah lebih ke dalam, ia mendengar suara gemerincing, beradunya dua buah binggal di kaki Mas Ayu Nawangsurya. Rasamala berhenti melangkah. Seperti terpatri di lantai. Matanya melotot dan mulutnya ternganga. Belum pernah ia melihat pemandangan yang seperti itu, sekalipun di Mataram. Kerajaan besar yang tersohor itu.

Di sini ia cuma ditemui oleh seorang wanita saja. Bahkan masih sangat muda menurut penglihatannya. Anaknya yang sulung lebih tua dari gadis ini. Rambut gadis itu terurai sampai di bawah pinggulnya. Bahkan mencapai lutut. Begitu tebalnya hingga dibagi tiga bagian. Sebagian menutup bahu kiri dan kanan, dan meluncur terus ke bawah. Tebal, hitam dan agak ikal. Alis di atas kedua matanya hitam dengan ujung runcing, gambar dua pertiga bagian dari bulan tanggal satu yang kembar. Mata bulat diteduhi bulu mata lentik menghias muka yang berbentuk bulat telur. Hidungnya begitu sempurna dengan ujung meruncing, dilengkapi oleh kuping yang dipasangi anting emas berbentuk rantai-rantai sepanjang jari telunjuk. Kalung mutiara memperindah leher jenjang dengan garis-garis alam yang samar. Bahu tidak tertutup apa pun.

Juga dua buah bukit kembar terpamer mendebarkan hati tua Rasamala. Kutang yang terbuat dari rantai emas tidak menghalangi pandang siapa pun untuk menikmati susu mulus itu. Lebih berdebar lagi kala Rasamala melanjutkan pengamatannya ke bawah. Pending emas tidak menutup pinggang yang seperti pinggang tawon itu. Bahkan pusar pun bebas untuk dinikmati oleh pandang Rasamala. Langkah Nawangsurya menimbulkan bunyi tersendiri karena mulai dari pinggul ke bawah terbungkus kain batik yang melilit ketat.

"Selamat datang, Yang Mulia. Dirgahayu...," suara pembuka Nawangsurya gemetar. Tapi terdengar amat merdu di telinga Rasamala yang tua itu, dan membangunkannya dari impian.

"Masya Allah..." ia menyebut dalam hati. Kemudian membalas salam itu dalam Jawa.

Nawangsurya memaksakan diri tersenyum. Bibir tipisnya merah delima karena kinang (bersirih)

"Mengejutkan sekali kehadiran Yang Mulia di Blambangan ini. Apalagi memasuki daerah bebas perang, Pakis," ujar Nawangsurya setelah keduanya duduk di kursi yang tersedia. Kursi kayu tua yang berukir, peninggalan leluhur barangkali.

"Jika Pakis bebas perang, mengapa Rempek membunuh panglima kami? Tumenggung Alap-alap?"

"Rempek bukan penguasa di Pakis. Hamba. Ya, inilah hamba yang menggantikan Kakanda Bagus Puri." Dada gadis itu penuh gejolak. Takut melihat mata Rasamala yang kian beringas. Orang itu terdiam untuk beberapa saat. Kembali melahap tubuh gadis di depannya dengan pandang. Kemudian menelan ludah. Memalingkan wajah ke tempat lain. Mencari- cari pegangan untuk mempertahankan imannya. Berkah ia menyebut nama Tuhan. Lamunan membawanya jauh pada anaknya yang telah dinikahi Adipati Sumenep. Lebih tua dari Nawangsurya ini. Tapi tidak lebih cantik. Lamunannya segera pudar setelah Nawangsurya mempersilakan masuk ke ruangan bersantap. Ia berjalan cuma selangkah di belakang gadis itu.

Kulitnya benar-benar mulus. Ia percaya kini pada cerita Jaksanegara, wanita ini mungkin tidak pernah terjamah mentari. Sunyi memang. Istana besar yang kosong. Cuma tiga perempuan agak tua yang mempersiapkan ruang makan itu. Sate kambing, telor rebus, dan beberapa lagi macam masakan yang tidak menarik di mata Rasamala. Dadanya kian membuncah. Api yang lain membakar dada itu. Mengalahkan semua api amarahnya.

"Sendiri di istana sebesar ini?"

"Bersama para inang," jawab gadis itu sambil menunduk.

Tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Malam kian naik. Bayangan Wilis yang tampan mulai menggodanya. Ah, andai ia mau mungkin saja ia akan menjadi salah seorang istrinya. Tidak akan bersua dengan seorang bermata buas, dan bermuka kasar penuh bekas jerawat. Pipi berlipat menghias muka persegi seperti sekarang ini. Hujan di luar bertambah lebat. Rahminten yang menasihatinya untuk bersikap ramah pada orang kasar ini. Demi mempertahankan warisan leluhur.

"Blambangan harus membayar pada Bangkalan. Kematian seorang panglima tidak mungkin dibiarkan berlalu damai.

Karena itu kami datang untuk berperang," Rasamala mulai menekan.

"Hamba menyatakan Pakis tidak ikut perang."

"Jika demikian, Yang Mulia harus memilih, menyerah atau berperang."

Nawangsurya memandang tamunya dalam-dalam. Betapa tidak malunya orang ini. Terhadap wanita menantang perang. Kembali bayangan Wilis menggoda. Kini ia terjebak pada kesalahan. Ia menarik napas dalam-dalam. Susunya bergerak- gerak seirama desah napasnya.

"Boleh hamba berpikir?" Nawangsurya mencoba mengulur. "Untuk apa?"

"Bertimbang. Ini persoalan nasib dan nyawa. Bukan cuma hamba seorang. Tapi kawula Pakis yang tidak berdosa. Perang merusak semua dan segala. Karenanya hamba tidak suka berperang." Nawangsurya bangkit. Mempersilakan tamunya menuju ke ruang peristirahatan.

Kembali Rasamala mengikut bagai bayang-bayang.

Kekagumannya makin memuncak. Dan keinginannya cuma satu. Membawa gadis itu pulang ke Bangkalan.

Lewat lorong-lorong sepi istana besar itu. Tak seorang pun penjaga. Seorang inang membersihkan kaki Rasamala dengan air bunga kala akan masuk ruangan tengah istana itu. Para inang sudah diperintahkan mengungsi oleh Nawangsurya.

Tinggal beberapa saja. Khawatir diserbu pasukan Madura. Kini berbelok ke kanan. Makin sepi. Suara hujan di luar meredam suara langkah Nawangsurya. Tiba-tiba ia berhenti di depan sebuah pintu. Nawangsurya membukanya.

"Di sini Yang Mulia istirahat malam ini. Akan hamba kirim seorang inang untuk melayani kebutuhan Yang Mulia malam ini. Sementara hamba akan bertimbang. "

Rasamala menengok ke dalam ruangan. Cukup besar.

Bersih. Tempat tidur beralas sutera putih. Sebentar menatap Nawangsurya. Napasnya tak teratur. Imannya punah. Seperti kilat ia menangkap kedua lengan gadis itu.

"Kita tidak perlu berperang. "

"Yang Mulia " Nawangsurya gemetar. Tak pernah seorang

pria pun memperlakukannya seperti itu. "Aku melamarmu," tegas Rasamala sambil menarik tubuh gadis itu mendekat. Susu kenyal menyentuh dada bagian bawah.

"Hamba..." Makin takut. Apalagi kala tiba-tiba tubuhnya dibopong ke tempat tidur. Begitu perkasa. Tak kuasa meronta. Pedang dan keris serta sabuk Rasamala berjatuhan ke permadani di bawah tempat tidur itu. Dan Nawangsurya sendiri tak tahu bagaimana pendingnya terlepas dari pinggangnya.

Ciuman mendarat bertubi-tubi di dada dan lehernya.

Nawangsurya tiada berdaya. Berayun antara bayang Wilis dan isak tangis. Sempat ingat kata-kata pemuda itu, selangkah saja tiap orang yang tak mampu bertahan pada jatidirinya akan menjadi sundal. Kini, ia sendiri alami. Rasamala makin membinatang. Tak peduli. Dan kala kutang emas itu pun terputus, pertahanan Nawangsurya kian punah. Menyerah ke dalam sakit tapi nikmat....