Gema Di Ufuk Timur Bab 15 : Mendulang Angin

Bab 15 : Mendulang Angin

Patung Lembu Andini sebagai perlambang kendaraan Hyang Maha Durga telah disediakan di sebuah tanah landai tepat di tengah perkubuan Bayu. Di dalam patung itu telah tergeletak jenazah Baswi. Jenazah yang diikat oleh tiga tali nagabanda (tali yang terbuat dari benang kapas dan dipilin sebegitu rupa, berwarna hitam dan dipergunakan untuk mengikat mayat) pada bagian kepala, perut dan kaki. Umbul- umbul kuning berkibar sepanjang jalan-jalan di seluruh Benteng Bayu, maupun di perkampungan-perkampungan baru di luar dinding perbentengan—merupakan tanda penghormatan bagi kepergian seorang perwira tinggi. Yah, secara tidak resmi Baswi adalah perwira tinggi di Blambangan.

Semua orang, laki-perempuan, besar-kecil, mengenakan gelang hitam yang terbuat dari gulungan benang hitam sebesar ibu jari tangan lelaki dewasa, sebagai pertanda ikut berbela sungkawa.

Semua pemuka datang. Jagapati dan Jagalara dari Indrawana, Runtep, anak Baswi. Mas Sratdadi yang kini berpakaian brahmana dan bergelar Rsi Ropo, akan bertindak sebagai pemimpin upacara. Mas Ramad Surawijaya datang bersama Lebok Samirana yang tetap mengenakan pakaian Madura, Cheng Shian Hauw, seorang yang mengenakan pakaian sutera hitam dengan pedang panjang menempel di punggungnya. Semua orang tahu bahwa dia seorang Cina. Sayu Wiwit juga hadir. Kini dia berjalan bersama Mas Ayu Prabu, Mas Ayu Tunjung, Marmi, Yistyani dan Tantrini serta sederetan wanita lain. Undu dan Untu, anak Sardola dan Tumpak, juga hadir. Semua kawula sudah sejak tadi mengitari tumpukan kayu setinggi bukit yang berada di bawah tempat jenazah yang berwujud patung Lembu Andini itu. Pertama kali Raung mengadakan upacara ngaben (upacara pembakaran mayat) secara besar-besaran seperti ini. Upacara untuk Resi Wuni Pati pun tidak semahal ini. Itu dikarenakan semua orang menganggap Baswi pahlawan. Mempunyai kepribadian teguh.

Setelah semua pemuka Raung menempati panggung kehormatan yang telah disediakan, Rsi Ropo membunyikan giring-giring. Tanda upacara dimulai. Tangan kanannya mengangkat sebuah I tongkat hitam bergiring-giring.

"Om namla wiraga (semoga dijauhkan dari hawa nafsu)..." Rsi membuka doanya.

Kemudian melanjutkan dengan doa yang lebih panjang.

Semua orang mengikuti doa itu dengan suara perlahan. Tentu tamu-tamu asing tidak dapat berdoa seperti mereka, kecuali Gusti Tangkas sebagai perwakilan dari Bali. Sampai beberapa bentar doa berhenti.

Wilis kemudian dipersilakan naik ke panggung kehormatan.

Tampak tangan dan lengannya ber-gelang hitam. Tanda berdukacita. Semua kawula membalas lambaian tangannya.

"Dirgahayu!!" teriak mereka serentak. "Dirgahayu Blambangan! Dirgahayu Wilis!"

Tak ada pengeras suara yang dapat menyambung suaranya. Itu menyebabkan semua orang berdesak maju kala ia mulai berbicara. Seperti kala mereka mendengar Wong Agung Wilis memberikan amanatnya.

"Kita telah kehilangan orang besar! Sekalipun tidak ternama, namun kita semua tahu, Kakek Baswi berjasa besar dalam menyangga ambruknya peradaban di Blambangan.

Beliau gugur dalam mempertahankan negara dan peradaban serta kebudayaan. Sebab jatuhnya Blambangan berarti runtuhnya kebudayaan Jawa yang terakhir sesudah Majapahit. Majapahit tidak tersisa lagi. Lihat, setelah runtuhnya Majapahit, bangsa yang besar ini tidak lagi mampu melindungi wilayahnya. Juga peradabannya. Makin lama kita makin terkotak-kotak dalam kekerdilan, karena kita telah tidak bersambung dengan kebudayaan besar lainnya. Akibatnya, bangsa Jawa menjadi dungu, dan... kian melarat. Maka sekarang yang kita lihat para pemimpin Jawa hanya pintar mengandai-andai dalam impian kosong dan khayalan." Berhenti sebentar untuk memandang Lebok Samirana, Jagalara, Jagapati, Cheng Shian Hauw, dan kemudian Gusti Tangkas. Beberapa saat setelah menelan ludahnya, pemuda itu melanjutkan, "Sayang, Tuan Rencang Warenghay dan Harya Lindu Segara tidak hadir. Inginnya hati ini mengucapkan penghargaan pada jasa mereka yang selalu mengganggu kepentingan VOC di lautan. Sekalipun cuma mengganggu, tapi telah berjasa dan patut mendapat penghargaan. Apa pun mereka itu, sekalipun orang Mataram menilai mereka sebagai bajak laut atau kraman, atau apa pun istilah jelek lainnya, tapi mereka masih jauh lebih baik ** daripada bersalaman dengan bangsa bule itu untuk kemudian menyerahkan kawula Nusantara sebagai budak. Ya, budak dari sekalian bangsa! Dan di sini sedang berkumpul para pemimpin laskar yang terdiri dari bangsa-bangsa! Ada Surabaya, Makasar, Madura, Bali, dan bahkan Cina, serta laskar Mataram yang membelot. Nah, apakah Tuan-tuan berhimpun sekadar hendak membalas dendam dengan berpuas-puas membu- * nuh kaum bule? Atau hendak menegakkan kembali cakrawarti Nusantara?" Kembali ia berhenti untuk beberapa bentar.

Mentari mulai membakar kulit. Tapi semua tercekam.

"Jika itu niat Tuan-tuan, maka selamanya tidak akan pernah memenangkan peperangan. Tapi bila perang ini didorong oleh keinginan luhur mempersatukan kembali Nusantara dan membangunkannya dari tidur pulas ini, hamba yakin kita akan sama-sama berikrar, mati atau bumi! Tapi sebelum mencapai kemenangan besar, kita harus dapat memenangkan diri sendiri lebih dahulu, dari segala nafsu pribadi. Mati untuk bumi tercinta! Bukan untuk kepentingan pribadi!" Sorak gemuruh dari kawula. Dan semua menjadi makin kagum pada pemuda itu. "Sekali lagi, perang ini bukan untuk melampiaskan dendam, tapi untuk menyangga suatu peradaban dan kebudayaan.

Sekali kita terjun di kancah peperangan, jangan melangkah surut sebelum menang! Dan di depan Kakek Baswi, aku ingin mengajak seluruh lelaki Blambangan berikrar, berperang sampai menang! Lihat! Dia meninggalkan kita. Dia renta tapi tetap pergi berperang. Karena lelaki Blambangan, sekali lagi, yah, sekali lagi aku ingatkan: lelaki Blambangan lahir untuk berperang. Berperang melawan kejahatan!" Ia tatap semua orang dengan tajam. "Mari kita angkat tangan kita untuk pertanda ikrar bersama, berperang terus sampai menang!"

Semua lelaki, satu per satu mengangkat tangannya. Dan diikuti oleh perempuan. Satu demi satu. Anak-anak juga. Wilis turun diiringi sorakan gemuruh, dan api pun mulai dinyalakan oleh Rsi Ropo. Api berkobar membakar tubuh Baswi. Dahsyat! Tapi ada yang lebih dahsyat dari api yang tampak itu, yaitu api yang membakar jiwa semua orang. Api yang keluar dari lidah Wilis: pantang melangkah surut sebelum menang terjangkau!

Upacara pembakaran selesai. Kepercayaan pada Wilis memuncak. Bahkan Shian Hauw pun membenarkan. Memang bukan perangnya itu sendiri ^ yang terpenting. Tapi dasar- dasar kebenaran yang sedang dipertahankan dan menimbulkan perang. Mengapa pikiran semacam ini tidak dimiliki oleh raja-raja Jawa lainnya? Apakah benar mereka sedang tenggelam dalam impian kosong? Seorang raja yang memiliki kekuasaan cuma bumi sekepal jika dibanding Sri Maha Ratu Suhita dari Majapahit, bergelar Amangkurat! Yang berarti memangku dunia. Merasa diri seorang kaisar, sampai- sampai semua orang dilarang menatap wajahnya. Dan sibuk dengan perempuan yang beribu jumlahnya. Shian Hauw tersenyum dalam langkahnya. Orang gunung yang tak pernah melihat luasnya lautan dan ganasnya ombak, berkhayal punya istri Ratu Samodra Kidul. Ampun dungunya! Kembali ke pesanggrahan semua berkesempatan saling kenal satu dengan lainnya. Saling mengunjungi. Saling bertukar pikiran. Saling bercerita tentang pengalaman masing- masing, tapi juga saling menjajagi dan menilai. Kesempatan itu digunakan oleh Sayu Wiwit untuk melepas rindu pada Mas Ayu Prabu. Seorang guru sekaligus sahabat. Keduanya memisahkan diri. Pulang ke wisma ibunya, sementara ibunya sedang sibuk beramah-tamah dengan Yistyani dan beberapa tamu lagi. Kawula memandang mereka berdua seperti memandang dua bidadari yang sedang meniti pelangi, ketika berjalan ke wisma ibunya. Rupanya pertemuan dan acara makan bersama , tidak begitu penting bagi mereka. Mereka berangkulan sambil berjalan. Jurang di kanan mereka tidak nampak karena kabut menutupinya. Serasa berjalan di atas awan. Dan Mas Ayu Prabu yang lebih dulu menceritakan segala pengalamannya.

"Yang Mulia makin hari makin cantik, pantas Khong Ming tak lagi dapat menahan hati," Sayu Wiwit menggoda.

Mas Ayu Prabu menjadi merah jambu. "Kau ada-ada saja "

"Betul. Tapi terusnya bagaimana?"

Langkah mereka makin perlahan. Seperti melewati titian serambut dibelah tujuh. Ayu Prabu tidak segera melanjutkan ceritanya. Tiba-tiba wajahnya kembali bermendung. Bayangan Khong Ming yang sedang mengigau dan menggigil menahan demam terlintas di matanya.

"Kenapa Yang Mulia?" Sayu Wiwit mengagetkan. Ia mulai menebak bahwa di kelanjutan cerita Ayu Prabu jatuh dalam pelukan pemuda itu dan hilanglah keperawanannya. Maka mukanya mendadak tertutup awan.

Mas Ayu Prabu mengembuskan napas panjang. Seperti mengempaskan kenangannya. "Tidak apa-apa, Wiwit. Cuma aku telah lancang tangan." "Lancang tangan?"

"Ya. Aku telah membunuhnya."

"Hyang Dewa Ratu!" Sayu Wiwit terkejut.

"Ya. Aku telah dipinang oleh Yang Mulia Wilis. Junjungan kita. Tidak sepantasnya aku memberikan kepadanya ampas." Ayu Prabu kemudian menceritakan kelanjutannya. Tepat di muka pintu ceritanya habis.

Setelah mencuci kaki mereka masuk dan duduk di atas kursi bambu. Keduanya berhadap-hadapan sambil menikmati sirih.

"Tak ada yang perlu disesali." Ayu Prabu mengembalikan kepercayaan dirinya. "Sekarang giliranmu bercerita. Tentu ada pengalaman besar sehingga membuatmu diangkat menjadi Ratu oleh orang-orang Jember dan Puger, bahkan sampai Bondowoso."

"Ah... itu terlalu dibesar-besarkan. Tapi baiklah hamba ceritakan."

Perjalanan jauh dari Bayu ke Jember ternyata merupakah sekumpulan titik yang mencipta garis awal bagi masa bahagia dalam hidup Sayu Wiwit. Betapa tidak? Begitu lama ia mengagumi pemuda yang selalu mengundang tanya bagi siapa pun dalam tiap langkahnya. Bahkan ayahnya sendiri, Wong Agung Wilis, sempat dibuat terkejut karena ia menjatuhkan Puger di saat ayahnya masih siap-siap menyerbu Belanda. Pemuda yang mempunyai banyak sahabat dan berpengetahuan luas. Ia berteman dengan bangsa apa pun dengan tanpa membedakan agamanya. Ia sempat di Malang untuk membantu Mlayakusuma. Di Ngantang untuk membantu Pangeran Singasari dan Pangeran Blitar, serta pemberontak dari Mataram. Tapi ia tidak pernah menonjolkan diri. Tidak ingin menerima pujian. Tapi justru mendorong orang lain untuk maju.

Bulan bundar yang mengiringi perjalanannya menyaksikan, dua insan memadu janji. Saling mencinta. Desiran angin yang menggoyang rumput-rumput kala masih tidur di bukit kecil itu juga menyampaikan bisik lembut dari masing-masing hati.

Itulah awal dari segalanya.

Kelanjutan perjalanan mereka telah memasuki pinggiran kota yang ditumbuhi hutan lebat. Suatu perkampungan baru tampak dibangun. Di ladang mereka sudah ada ubi jalar, lombok, pisang, dan beberapa macam buah-buahan. Gubuk- gubuk juga sudah didirikan. Sawah mulai menghijau. Subur tanah ini. Kebanyakan penduduk di sini orang Madura. Ada juga orang Blambangan. Tapi rupanya sudah membaur dengan lainnya. Rumah-rumah pun dibangun gaya Mataram. Karena memang banyak orang Mataram yang bergabung di daerah ini.

"Kapan berdirinya perkampungan ini?" Sayu Wiwit bertanya.

"Hampir dua setengah tahun lalu. Kami sudah melewati masa tiga kali panen padi. Karena saatsaat pertama kami membuka daerah ini tidak bisa ditanami padi waktu kemarau. Tergantung pada hujan."

"Jadi, kemarau makan apa?"

"Pertanyaan yang jarang dilontarkan oleh orang. Ternyata kau patut menjadi seorang pemimpin. Mungkin sekali patut diangkat menjadi ratu."

"Ah, Yang Mulia." Wajah Sayu Wiwit memerah. Tampak makin manis. "Apa salahnya hamba bertanya?"

"Jangan marah, Wiwit. Tentu mereka makan seadanya.

Ubi, gembili, pisang, atau semua yang bisa dimakan." "Itu juga jawaban yang bagus," balas Sayu Wiwit sambil melirik.

Mas Ramad tersenyum. Mereka menuju ke rumah besar yang rupanya memang sudah disediakan untuk Mas Ramad. Lebok Samirana menyambut mereka dengan penuh hormat. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu bidang dada Lebok Samirana menurut penilaian Sayu Wiwit. Rambutnya jarang- jarang, seperti tanaman di tanah tandus. Untung selalu berdestar.

Dua orang lagi yang berpakaian sama dengan Lebok Samirana datang. Setelah memberi hormat, mereka meminta kuda keduanya untuk mereka bawa dan rawat di kandang yang telah tersedia. Tidak nampak ada senjata berlaras panjang di sini. Sayu Wiwit amat heran. Tapi kemudian teringat akan tugasnya. Ia cuma sebagai brahmani yang mengajar. Bukankah brahmani tidak memerlukan senjata?

Seorang bijak tidak menyelesaikan persoalannya dengan senjata. Bertengkar pun tidak diperlukan oleh brahmana. Suatu pertengkaran menunjukkan betapa rendahnya budi seseorang. Jadi apakah senjata cuma dipunyai oleh para satria? Mengapa cuma harus satria? Menurutnya senjata boleh dimiliki siapa saja yang ingin mempertahankan kedaulatan.

Dan rasa berdaulat yang dilanggar akan menimbulkan pertengkaran. Sedang pada hakikatnya manusia selalu merasa diri berdaulat! Berdaulat!

Siang itu pada Sayu Wiwit ditunjukkan di mana ia akan beristirahat, mandi, dan lain sebagainya. Dia heran mengapa tiba-tiba ia menjadi seorang pandita? Kenapa ini tidak dilakukan sendiri oleh Mas Ramad Surawijaya? Tapi tidak seorang pun menjawab. Dengan kata lain ia menerima keharusan baru yang mengejutkan. Apakah memang demikian hidup ini? Penuh dengan segala yang tak terduga? Sayu Wiwit hanya berdoa dan mengucap syukur pada Hyang Maha Dewa untuk tiap kesempatan indah yang diperolehnya. Baru keesokan harinya Mas Ramad mendatanginya untuk kemudian mengajaknya berkenalan dengan orang-orang di kota Jember.

Keduanya berjalan kaki menuju ke utara. Melewati rimba yang cukup sulit. Begitu banyak belukar dan rotan. Namun kicauan burung yang menyambut pagi serasa irama kidung yang mengawal tiap langkah mereka. Aum sang raja hutan terdengar sayup di kejauhan, membuat bulu roma Sayu Wiwit berdiri, kendati sejak kecil ia akrab dengan hutan. Mentari mulai menembuskan sinarnya ke celah dedaunan. Kupu-kupu juga telah menarik perhatiannya, membuat Sayu Wiwit berulang kali menghentikan langkah. Ingin ia berlari mengejar kupu-kupu.

"Perjalanan kita lebih penting dari kupu-kupu itu," Mas Ramad tidak sabar.

"Ah, Yang Mulia " Sayu Wiwit melirik sambil tersenyum.

Senyum yang membawa bahagia. Ramad dengan seketika membimbing tangannya untuk terus berjalan menuju kota Jember. Hati keduanya menjadi berbunga. Dan dengan begitu kelelahan dapat mereka kalahkan. Sebelum masuk kota kecil itu, mereka menyempatkan diri beristirahat. Duduk di bawah pohon sambil bersirih. Setelah beberapa bentar mereka mulai memasuki kota. Ternyata Mas Ramad punya banyak teman di kota ini. Setelah menjumpai beberapa kawan yang namanya tidak sempat diingat oleh Sayu Wiwit, mereka menuju tengah kota. Mereka sempat menyaksikan benteng milik Kompeni yang dipimpin oleh seorang letnan bernama Steenberger.

"Megah dan kokoh benteng ini," Sayu Wiwit bergumam. "Ya. Memang kokoh. Tapi daun pintunya, yang terletak di

bagian utara dan barat itu terbuat dari kayu yang dibelah- belah. Suatu ketika kita akan mendobraknya," Ramad Surawijaya menjawab dingin. "Lihat! Moncong meriam terpasang dan menghadap ke seputar. Lihat, para penjaganya tampak begitu gagah dan trampil. Mampukah kita, Yang Mulia?"

"Di samping seorang kekasih semanis engkau, aku mampu membelah bukit sekalipun."

"Ah, Yang Mulia " Sebuah cubitan lirih hinggap di lengan

Mas Ramad. Orang tidak memperhatikan kedua muda-mudi berpakaian petani itu. Mereka terlalu sibuk menjual hasil bumi di pasar atau berbelanja. Menjual dan membeli untuk menutup kebutuhan mereka. Pasar digunakan sebagai tempat tukar- menukar barang. Dan mereka berjalan terus menuju sebuah toko besar. Toko milik Cheng Shian Hauw. Tanpa ragu Ramad dan Sayu Wiwit melangkah ke dalam pekarangan rumah di samping kedai milik Cina itu. Dalam hati Wiwit memuji, betapa mengagumkan pemuda di sampingnya itu.

Kedai Cheng memang penuh pembeli. Tapi Cheng tidak berada di sana. Ramad tahu Cina pedagang candu dan berbagai macam barang itu tidak ada di kedainya, tapi di rumah bersama beberapa gundiknya. Ulahnya tak beda dengan raja kecil. Dengan uang, orang bisa merajakan diri sendiri seperti halnya Cheng Shian Hauw, pikir Ramad. Tapi ia tak peduli. Yang penting sekarang bagaimana melibatkan orang ini dalam perang melawan VOC. Sayu Wiwit baru pertama mengenalnya. Orangnya bermata sipit, berkumis panjang sampai turun ke bawah mulut. Bibirnya biru, karena selalu bergaul dengan candu. Jenggotnya memanjang, sedang tubuhnya kekar. Otot-otot menonjol di tangannya.

Gambar harimau dan kaca kecil berbentuk segi lima terpampang di atas pintu masuk rumahnya. Gambar tidak pernah menakutkan bagi Sayu Wiwit. Ia terbiasa bersua dengan monyet-monyet yang tidak puas wilayahnya dibabat oleh manusia. Bahkan tidak jarang monyet jantan menggodanya dengan menyeringai sambil memamerkan zakarnya yang sebesar lidi. Mungkin saja monyet-monyet itu sakit hati terhadap manusia yang selalu rakus. Sebenarnyalah manusia tidak mungkin hidup seperti kera. Manusia hidup dari kemenangan demi kemenangr an. Kemenangan terhadap alam, terhadap kesulitan, dan terhadap makhluk lainnya. Lihat di leher Cheng Shian Hauw! Bergantung kalung hitam dengan taring babi sebagai hiasan. Apa artinya itu? Memang sementara orang memaksudkannya sebagai penolak bala. Tapi bukankah taring itu lambang kerakusan? Ternyatalah ada manusia yang hidup di atas kerakusannya.

Atau itu suatu pertanda bahwa manusia senang bergantung pada hal-hal yang gaib? Termasuk pada perlambang. Berharap agar perlambang itu memberikan kekuatan ajaib yang membuat mereka dapat memenangkan semua dan segala.

"Hayah Selamat datang Tuan Muda." Cina itu

membungkuk hormat pada Mas Ramad. "Sudah lama tidak bersua. Kini " Ia pandang Sayu Wiwit dengan penuh nafsu

birahi. Mata sipitnya bersinar.

"Dia seorang brahmani yang akan membicarakan masa depan Jember dan sekitarnya. Dan kedatangannya ke sini untuk mengetahui sikap Tuan "

"Oh, begitu? Silakan, silakan duduk!"

Mereka langsung diajak ke ruangan tengah. Besar rumah itu. Berhalaman luas. Hampir sepuluh lelaki berpakaian sutera dengan pedang di punggung mengawasi tiap gerak tamu- tamu itu. Shian Hauw melambaikan tangan agar mereka menjauh. Juga pada para wanita, baik pribumi maupun Cina, yang duduk bersimpuh mengelilingi meja perjamuan. Bau dupa menguasai ruangan. Gambar-gambar naga dan kantung- kantung merah-putih yang tak jelas isinya bergantungan di berbagai sisi dinding. Seorang gundik pribumi bertugas mendekatkan tempolong jika ia akan berdahak. Cukup cantik wanita itu. Ah, benar-benar Shian Hauw telah berkembang menjadi raja kecil. "Bagaimana dengan putri Tuan. Ah, Shian Ling, ya?" tanya Mas Ramad yang membuat wajah Shian Hauw bermendung.

"Tuan mengingatkan hamba pada kesedihan "

"Maaf, bukan maksudku begitu. Siapa tahu anak perawan itu masih di klenteng atau "

"Steenberger biadab! Sungguh biadab! Sudah kubayar semua pajak dengan baik, anakku masih saja belum dilepasnya!"

"Jagat Bathara!" Mas Ramad pura-pura kecewa.

Sayu Wiwit sama sekali tidak mengerti apa maksud pembicaraan mereka. Walau mereka bicara dalam Blambangan yang cukup bagus. Ia bandingkan Mas Ramad dengan Ayu Prabu. Keduanya adalah orang-orang yang hidup dalam teka-teki. Kini ia dilibatkan dalam banyak teka-teki.

"Mengapa Tuan tidak mengerahkan tiga ratus laskar?" "Ah mengapa hamba harus bunuh diri? Kompeni kulit

putih saja berjumlah lima ratus orang. Belum lagi yang hitam."

Mas Ramad mengerutkan dahi sambil memandang Sayu Wiwit. Tapi Sayu Wiwit cuma tersenyum. Ia tidak mengerti makna pandangan kekasihnya. Tapi di mata Shian Hauw senyuman Sayu Wiwit itu dipandang sebagai isyarat untuk meneruskan perundingan. Mungkin saja karena Sayu Wiwit melihat betapa banyaknya wanita muda yang melayani Shian Hauw, sehingga tidak berkenan berunding sendiri. Dan memang Mas Ramad yang meneruskan pembicaraan.

"Sebenarnya kami telah menempatkan pasukan di seputar Jember ini. Jika tiba saat yang tepat, maka kami akan menyerbu benteng Steenberger. Nah, kami hanya ingin tahu, apakah Tuan akan beserta kami, atau menganggap Steenberger sebagai anak-mantu?" Sesaat Shian Hauw terbenam dalam keraguan. Sementara Ramad kembali memandang Sayu Wiwit penuh arti. Dengan harapan agar gadis itu menangkap arah lari pembicaraan mereka. Dan memang ia mulai menangkap samar. Tapi ia tidak tahu di mana pasukan Ramad ditempatkan. Tapi ia mencoba untuk bicara. Barangkali Mas Ramad menghendaki seperti itu.

"Kita harus bertimbang sebelum melangkah. Seperti kami yang sudah mempertimbangkan setiap yang akan kami tuturkan. Karena itu kami juga tahu apa yang akan terjadi seandainya ternyata Tuan di seberang kami."

Semua tahu bahwa kata-kata Sayu Wiwit mengandung ancaman. Dan Mas Ramad puas mendengar kata-kata itu. Shian Hauw mengerutkan dahi sambil memandangnya. Begitu montok gadis ini. Manis lagi. Belum pernah ia menjumpai yang semanis dia. Bisa saja ia meringkus keduanya. Membunuh Mas Ramad, dan Sayu Wiwit dijadikannya istri. Kemudian ia melaporkan hal itu pada Steenberger. Tapi, ia ragu.

Keberanian kedua orang ini tentu berdasar. Mungkin saja keduanya memiliki ilmu silat tinggi, sehingga yakin bisa meloloskan diri jika dikeroyok puluhan orang. Atau di balik tembok, rumahnya sudah dikepung oleh laskar Ramad, sehingga pada batas waktu yang ditentukan, mereka akan menyerbu dengan mendadak. Barangkali mereka akan bertindak seperti perampok biasa....

"Kami tidak punya waktu panjang," tegas Mas Ramad. "Masih banyak yang akan kami lakukan."

"Ah, baik. Baik. Hamba akan beserta Pangeran eh, Tuan.

Tapi beri waktu barang sedikit untuk mengumpulkan pasukan hamba yang tersebar dan menyamar sebagai tukang-tukang kelontong," Shian Hauw sedikit gugup. Ramad seperti tahu pikiran jelek yang menyelinap dalam kepalanya. Keinginannya menyeret Sayu Wiwit ke pembaringan segera lenyap, karena begitu mengantar mereka ke gerbang ia melihat keduanya melompat dengan tangkas ke atas punggung kuda yang tinggi dan gagah. Padahal waktu mereka datang cuma berjalan kaki. Dengan kata lain, Ramad memang memiliki telik di sekitar rumahnya. Bahkan mungkin dalam rumahnya sendiri.

Keduanya terus berkuda. Entah ke mana lagi. Tapi Shian Hauw sadar, ia tak boleh main-main. Karena Ramad tidak pernah main-main dengan ancamannya. Ia pernah mendengar betapa anak muda itu yang mengobarkan perang melawan Belanda di zaman Wong Agung Wilis masih di Blambangan.

Sayu Wiwit merasa diri melambung setinggi angkasa biru.

Belum pernah ia dihormati para pemimpin pasukan seperti saat ia jalan bersama Ramad Surawijaya, kala mengelilingi desa-desa yang ternyata tempat persembunyian dan gudang makanan baru laskar Mas Ramad. Tanpa ia rasakan perjalanan kian jauh ke barat laut, melewati lembah dan hutan. Dan sampailah mereka di sebuah telaga. Sayu Wiwit terkejut bukan kepalang melihat panorama yang terhampar di hadapannya.

"Telaga?" bisiknya nyaris pada diri sendiri.

"Ya. Ranu Klakah," tegas Ramad. "Hamba belum pernah mendengar nama ini."

"Sekarang kau melihatnya. Nah, di sebelah kiri kita itu Gunung Lamongan. Kita tidak akan pernah melewatinya. Karena siapa pun yang berani masuk ke situ, akan berhadapan dengan ular-ular puspakajang. Kupikir memang di sana kerajaan ular puspakajang."

"Ah, seperti dongeng. Masa ada kerajaan ular segala." "Boleh percaya, boleh juga tidak. Tapi lihat saja di sana.

Kau akan lihat ular-ular besar dengan taji di ekornya, dan tahu kamu yang sudah tua? Uh, kepalanya berjambul merah seperti ayam jantan. Dan... ular-ular itu pintarnya, uh, bisa berkokok seperti ayam jantan juga," Mas Ramad menegaskan sambil tertawa. Dan kembali mereka memandangi dedaunan perdu di seputar Telaga Ranu Klakah. Agak jauh, di lereng bukit sebelah barat telaga itu ada beberapa puluh rumah beratap ilalang. Kini kuda mereka menuju ke sana. Melewati jalan setapak yang di kiri-kanannya ditumbuhi perdu. Pohon thean, perdu berbatang ungu dan daunnya mirip daun teh. Apakah daun ini juga direbus seperti halnya daun teh? Tidak ada yang tahu. Di beberapa bagian juga ditumbuhi kumis kucing, atau putri malu. Tumbuhan yang biasanya cuma setinggi lutut paling subur dan akan mengkerut bila tersentuh.

"Tempat siapa lagi?" Sayu Wiwit memandang kekasihnya. "Singa Manjuruh. Seorang pelarian dari Mataram." "Mengapa sampai di sini?"

"Biasa... ia tidak suka pikiran-pikiran kerdil kaum penguasa Mataram sendiri. Ya, di mana-mana ada pertentangan siasat kekuasaan. Dan sebenarnyalah siasat kekuasaan membangkitkan perang. Yah... siasat kekuasaan."

Sayu Wiwit mengangguk. Ia sudah pernah menerima pelajaran tentang hal itu dari Mas Ayu Prabu. Langkah kuda mereka makin mendekati rumah-rumah beratap ilalang itu. Dan seorang lelaki bertubuh agak kurus, tinggi, dengan dada agak melengkung ke depan, berkumis tebal, serta mengenakan destar berwarna coklat kumuh karena tidak pernah dicuci, muncul dari semak dengan senapan di tangan.

"Ah, selamat datang, Yang Mulia. Apa kabar? Sudah lama kami menunggu berita. Oh, siapa pula ini? Jelita amat?" Singa Manjuruh tertawa.

Sayu Wiwit merasa malu ditertawakan sekaligus dipuji seperti itu.

Tapi Mas Ramad membalas dengan tertawa pula. "Ah, Kakang, mana gadis Madura-mu yang manis itu?

Kamu pikir aku ini si Pakubuwana sehingga kalian perlu menyembunyikan perempuan kalian saat aku lewat?" Mas Ramad memberi isyarat pada Sayu Wiwit untuk turun dari kuda.

Kemudian mereka bertiga berjalan ke salah satu rumah di tengah kerumunan rumah lainnya. Terdengar keduanya tertawa. Kates dan ubi jalar, serta pisang mewarnai halaman rumah mereka. Tiba di suatu semak dekat pagar rumah, Singa Manjuruh mengambil kentongan bambu, kemudian memukulnya bertalu-talu tanda keadaan aman.

Sayu Wiwit memuji kerapian mereka itu. Seperti halnya yang pernah diajarkan padanya oleh Mas Ayu Prabu. Dan begitu mereka sudah mulai duduk di lincak (embin bambu), mulailah bermunculan kawan-kawan Singa Manjuruh.

"Sudahkah kalian siap? Dalam waktu dekat kami akan menyerbu benteng Steenberger. Laskarku sudah berbaris di seputar Jember. Juga laskar Lebok Samirana. Sedang Cheng sudah aku beri tahu. Tinggal ikut atau tidak. Dia tinggal pilih, mati di tangan Belanda atau mati di tanganku."

Singa Manjuruh tertawa. Ia kagum terhadap semangat temannya itu. Juga keberaniannya.

"Apa kau yakin prajuritmu yang tak pernah kaubayar itu berani melawan VOC?"

"Yakin. Karena mereka akan dipimpin langsung oleh seorang ratu yang jelita." Tersenyum sambil menunjuk Sayu Wiwit "Kau kini boleh berkenalan. Namanya Sayu Wiwit."

Sayu Wiwit tersipu diperlakukan begitu. Apalagi Singa Manjuruh menghormat sambil menyebutnya, "Yang Mulia." Untung beberapa jenak kemudian Siti Khotimah, istri Singa Manjuruh yang berasal dari Madura itu, muncul dari pintu belakang. Sayu Wiwit terhenyak oleh kekaguman. Andai saja kulitnya kuning seperti Mas Ayu Prabu, maka wanita ini tentu tercantik di bumi berkapur Madura sana. Mungil dan langsing. Leher cukup jenjang dan berhiaskan garis-garis samar seperti ular, matanya bundar hitam dengan bulu mata lentik membangkitkan rasa cemburu wanita lain. Dadanya segar kendati tertutup kutang hitam. Pusarnya dibiarkan terbuka. Sempurna tanpa cela. Kendati kulitnya agak gelap namun senyumnya mengguncang iman lelaki, karena bibir tipis itu menghias mukanya yang berbentuk daun nangka. Binggal tetap saja menghias pergelangan kaki, kendati cuma terbuat dari perak. Sayu Wiwit langsung terlibat dalam pembicaraan yang akrab. Tapi tetap saja ada batas yang tak nampak, karena Siti Khotimah merasa berhadapan dengan Sri Ratu.

Beberapa hari kemudian Sayu Wiwit sudah selesai memeriksa semua laskar Mas Ramad. Dan ia makin tidak mengerti maksud pemuda itu memperlakukannya sebagai seorang ratu. Mungkinkah anak muda itu kelak menginginkan tahta Blambangan? Sehingga sejak sekarang ia telah diperkenalkan sebagai ratu? Jika demikian maka Blambangan akan terlibat dalam perang saudara. Bukankah sejak sekarang sudah dipersiapkan Wilis sebagai pimpinan tertinggi di Bumi Semenanjung ini? Tapi Sayu Wiwit tidak berani mempertanyakan itu pada Mas Ramad.

Ia bertugas memimpin padepokan dengan can-trik-cantrik terpilih, antara lain Lebok Samirana sendiri. Dengan cepat namanya menjadi terkenal di seluruh lembah dan gunung- gunung Blambangan utara dan barat. Bahkan para bekel serta kepala-kepala dusun lebih patuh padanya daripada ke komandan pasukan pendudukan.

"Dengan membayar upeti, kita sudah berarti setuju pada pemerintahan kaum bule! Dan itu merupakan dosa terhadap Maha Dewa yang kita sembah!" suatu hari Sayu Wiwit memberikan amanatnya. Dan semua orang mengagumi perawan suci itu. "Juga jika kalian semua bekerja buat mereka. Semakin banyak kalian berbuat baik pada mereka, apalagi mengusahakan kedamaian serta kesejahteraan buat mereka, berarti memperpanjang aniaya untuk kalian sendiri. Karena merupakan pemunggungan terhadap Hyang Maha Ciwa. Terkutuklah orang yang memunggungi penciptanya sendiri!"

Mas Ramad yang mengamati dari kejauhan puas akan keterpesonaan mereka. Ini suatu pertanda saatnya segera tiba Kompeni menyingkir dari Blambangan. Terbukti keesokan harinya tidak ada lelaki atau perempuan Blambangan seorang pun yang masuk kerja di loji-loji atau benteng. Bahkan tidak juga di rumah Adipati. Tentu Steenberger yang menerima laporan ini jadi curiga. Kecurigaan makin berkembang, ketika ia melihat perniagaan di Jember dan sekitarnya hampir-hampir tidak jalan.

Sayu Wiwit sama sekali tidak mengerti bagaimana caranya Kompeni bisa tahu rumahnya di dukuh Sambiroto itu. Tahu- tahu'seregu pasukan Kompeni muncul saat ia memberikan wejangan. Komandan regunya yang berkulit hitam, barangkali saja dari tanah Ambon, langsung masuk ke tengah bale pracabaan (ruang untuk mengajar). Sementara itu anak buahnya menodongkan bedil pada semua yang sedang bersimpuh mendengar pelajaran.

"Ahai, selamat pagi, Nona manis. Kaukah yang mengajari mereka membangkang? Tidak kerja dan semua datang kemari?"

"Berhenti di situ!" perintah Sayu Wiwit, membuat komandan regu itu terhenyak dan berhenti melangkah.

"Hak apakah kau melangkah seperti itu di hadapanku dengan tanpa izin? Kau mengikuti mereka dari belakang?" Sayu Wiwit bicara dalam Melayu yang sedikit lancar. Tidak seperti biasanya orang Blambangan. Dan komandan itu makin terpesona. Baik oleh suara maupun wajah orang suci tersebut. Benar-benar melebihi sebangsanya.

"Kau tidak lihat Kompeni?"

"Ini di luar kekuasaan Kompeni!" Komandan regu itu menjadi ragu. Ini bukan daerah kekuasaan Kompeni? Jadi ada orang yang tidak patuh pada Jaksanegara, pribumi yang punya kekuasaan tertinggi di bumi Blambangan saat ini? Buat beberapa jenak ia termangu. Tapi sekali lagi suara pribumi, wanita, dan... tidak takut pada Kompeni, membangunkannya dari impian.

"Mundur! Letakkan senjata kalian! Atau kalian pulang tinggal nama?" Sayu Wiwit kini mengancam.

Semua tamu menjadi gentar. Pengalaman pertama mereka melihat seorang wanita berani mengancam Kompeni.

Sementara itu Mas Ramad bersama beberapa puluh pengawalnya melata seperti biawak mendekati mangsanya dalam semak. Dan tentu itu tidak pernah diduga oleh regu yang sedang menodongkan senjatanya ke arah bale pracabaan. Apalagi mereka semua sedang bingung melihat komandan regu mereka sendiri. Akibatnya tak ayal lagi, sebuah lompatan dari balik semak menerkam semuanya.

Bahkan seperti mimpi, senjata mereka sudah berpindah tangan. Kini berbalik, mereka yang tertodong. Dan komandan regu itu menjadi semakin kecut mendengar suara tawa Ramad.

. "Ha... ha... ha... kalian harus belajar menghormati orang suci Blambangan! Nah, Komandan, letakkan senjatamu!" Tiada tersadari, bedil itu jatuh sendiri. Tangan Komandan bergetar. Kini ia melangkah ke luar bale pracabaan, atas perintah Ramad.

"Tak baik bicara di ruangan suci," Ramad bicara lagi. "Sudah cukup lama kami menunggu kehadiran Tuan-tuan. Karena kami ingin meminta tolong Tuan menyampaikan hasrat kami pada VOC. Kulit sama dengan kami, maka pantas Tuan mewakili kami untuk mengatakan, 'VOC harus segera pergi dari seluruh bumi Blambangan. Nah, kami tidak akan menghukum Tuan yang telah menghina tempat suci kami, jika Tuan melakukan apa yang kami kehendaki." "Tapi..."

"Tidak ada tetapi. Yang ada mau atau mati!" potong Ramad, membuat keringat dingin anggota pasukan itu mengucur deras. "Kalian akan mati pelan-pelan dan satu- satu," Ramad melanjutkan ancamannya.

Semua orang di bale pracabaan mendengar jelas. Tapi tak ada yang berani menoleh. Sedang komandan regu itu diam dengan mulut komat-kamit. Mungkin berdoa.

"Baik!" Ramad memberikan isyarat. Dan seorang bertubuh tinggi besar dan berotot kekar maju dengan kapak di tangan. Sambil melangkah ia menyeret seorang anggota pasukan Kompeni yang berdiri paling ujung. Sampai di dekat Ramad orang itu melemparkan orang yang diseretnya ke kaki Ramad. Seperti melempar seonggok kayu. Dan Komandan makin ketakutan. Memandang tampang mertalutut (algojo) itu pun sudah takut. Maka cepat ia mengambil keputusan untuk menyelamatkan anak buahnya.

"Jangan lakukan apa-apa atas dia! Kami sanggupi perintah Tuan," komandan itu mengiba.

"Baik! Jika demikian baliklah ke benteng Steenberger dengan tangan terikat di belakang! Katakan pada komandan bentengmu, pergi atau mati!"

"Ba... baik, Tuan."

Dan tangan mereka semua segera diikat di belakang punggung mereka.

Sayu Wiwit sama sekali tidak mengerti bahwa justru saat itu waktunya bersamaan dengan Biesheuvel di Pangpang mengerahkan pasukannya ke Derwana untuk menyerbu Jagapati. Namun segera sesudah satu regu pasukan Kompeni itu pergi, Mas Ramad memerintahkan pengosongan padepokan. Semua orang harus berangkat mengepung benteng Steenberger. Sedang para tamu diperintahkan mengungsi. Karena hari itu adalah awal perang di Jember. Maka dengan bergegas mereka segera pulang untuk menyelamatkan keluarga mereka.

"Akan ada perang?" tanya seseorang pada Sayu Wiwit. "Ya! Perang membela saudara-saudara kita, ayah-ibu kita,

dan anak-anak perempuan serta anak-anak lelaki kita! Tidak

akan ada yang membela jika bukan kita sendiri. Tiba saatnya berbuat sesuatu untuk diri sendiri." "Tapi..."

"Mengapa harus tetapi?" Sayu Wiwit memomong. "Barangsiapa yang tidak mampu berbuat apa-apa untuk diri sendiri, ia sudah mati dalam hidupnya. Sebenarnyalah ia akan hidup dalam kesia-siaan."

"Hyang Bathara!" orang itu menyebut. Namun tak urung ia juga berangkat mengangkat senjata.

Belum lagi Steenberger sempat menurunkan perintah beberapa jenak setelah seregu anak buahnya kembali dengan tangan terikat di belakang, dan barang tentu tanpa senjata, pulang dari tugas menangkap Sayu.Wiwit, Mas Ramad telah menembakkan meriamnya. Tepat mengenai dinding sebelah timur.

"Gila! Siap! Siap! Balas tembakan mereka!"

Kepanikan mewarnai benteng dengan segera. Tapi beberapa bentar lagi bumi serasa berguncang. Dentuman meriam kembali menggelegar membelah langit. Sekali lagi, dan lagi, kembali beberapa kali. Doa dan umpatan menyatu dari mulut-mulut mereka. Perempuan-perempuan penghibur yang baru saja datang bersama rombongan penari kemarin malam kini berlarian panik. Semua makin menjengkelkan hati Steenberger. Dan kemarahan kian merambati hati kala beberapa orang berusaha membuka pintu benteng sebelah barat untuk lolos. Ternyata tembakan juga menggempur dinding sebelah barat. Kini sebelah utara, sebelah selatan. Uh, benteng dalam kepungan. Steenberger memerintahkan tembakan balasan.

Sorakan anak buah Mas Ramad kian terdengar kala dinding selatan mulai terluka. Lebih gila lagi kala tembakan musuh tepat menerpa pintu sebelah timur. Ia tahu musuh lebih siap dan lebih banyak. Karena itu dengan perlindungan meriam dan kanon ia memerintahkan anak buahnya bertahan di luar benteng. Ia tahu akhirnya benteng tidak akan mampu menjadi pelindung. Bahkan menjadi kubur mereka. Tidak peduli bagaimana nasib para penari dan wanita penghibur, yang penting semua anak buahnya dan dirinya sendiri selamat.

Masih baik jika dalam keadaan gawat yang penuh hiruk-pikuk ia sempat memikirkan anak buahnya. Tak kurang-kurang dalam keadaan begitu orang cuma memikirkan diri sendiri. Kini perintah lanjutan yang keluar dari mulut Steenberger adalah menerobos kepungan, dan berlari ke utara! Utara! Surabaya! Sebab kemungkinan untuk mempertahankan benteng itu cuma impian. Dan Steenberger sadar. Harus meninggalkan impian yang buruk itu.

Namun sebuah peluru menembus bahu kanannya.

Membuat ia terpental. Dan kala bangun tangan kanannya seperti pupus tiada daya. Tidak bisa diangkat. Aniaya yang meluluhkan air matanya. Yah, ini bukan mimpi. Benarkah ada hukum karma? Jika demikian maka mungkin saja aku pernah menembak dan menjadikan orang cacat seumur hidupnya. Ya, Tuhan....

Apa pun usaha Steenberger, tapi kenyataan takkan terbantah, sejarah juga harus mencatat: Benteng Jember yang dipimpin Letnan Steenberger jatuh ke tangan Sayu Wiwit.

"Dirgahayu, Blambangan! Dirgahayu Sayu Wiwit!" teriak orang-orang gembira. Apalagi waktu Sayu Wiwit memasuki benteng dalam iringan Mas Ramad, Singa Manjuruh, Lebok Samirana, dan Cheng Shian Hauw. Ia sedikit bergidik melangkahi bangkai demi bangkai. Bangkai manusia, kuda, dan anjing. Di kamar-kamar masih ada bangkai lagi. Para wanita. Ada sebagian yang belum sempat mengenakan pakaian. Mungkin kelelahan setelah semalam menghibur lelaki kulit putih dan hitam anggota Kompeni. Perang tak mengenal iba. Tak mengenal warna kulit. Bau anyir menusuk-nusuk.

Sayu Wiwit berlatih menahan rasa mual dalam perutnya. "Bagaimana?" Sayu Wiwit menoleh pada Mas Ramad. "Kita bakar benteng ini. Kita tidak boleh menempatinya."

Mereka kembali menghadapi laskar mereka yang masih mengepung benteng dengan berbagai senjata. Kini para pemimpin itu naik ke atas panggung di mana biasanya Steenberger memimpin upacara atau menyaksikan anak buahnya berlatih. Semua orang masih tenggelam dalam sukacita.

Kini Mas Ramad membuka suara, "Kita sudah menang! Tapi perang belum berakhir! Kita akan berperang untuk saudara- saudara kita di Panaru-kan, Candi Bang, Puger, dan seluruh bumi Semenanjung Blambangan. Apabila perlu kita akan bergerak ke utara. Menggempur Kompeni di mana pun mereka berada! Untuk itu..." Diam sebentar sambil memandang semua yang hadir. Tiap pasang mata memperhatikannya. Seperti kena sihir. Tiap pasang kuping dipasang sungguh-sungguh. Suasana benar-benar hening.

Kemudian melanjutkan, "Untuk itu kita membutuhkan pemuka. Dan aku mengusulkan agar kita mengangkat Sayu Wiwit sebagai ratu atau panglima perang!"

"Setuju! Setuju! Dirgahayu!" teriak orang-orang mengguruh.

Sayu Wiwit tidak mampu berkata apa pun. Kini ia membagi tugas atas petunjuk Mas Ramad. Pasukan dipecah. Singa Manjuruh ke jurusan Lateng. Dia akan membantu Ayu Prabu. Sedang Cheng Shian Hauw akan menggempur Panaru-kan. Ia berpasangan dengan Mas Ramad akan menggempur Candi Bang, dan Lebok Samirana menuju ke Puger.

Benar juga perkiraan Sayu Wiwit. Pemuda itu sudah merencanakan penyerangannya dengan baik. Segera Puger jatuh. Panarukan dengan amat mudah dihancurkan oleh laskar Cina yang bergerak bersama sebagian laskar Blambangan.

Tapi semua itu tak dapat ia ceritakan dengan jelas pada Mas Ayu Prabu. Cuma pengalamannya sendiri yang bisa ia jelaskan.

Setelah melampaui hutan paya yang cukup sulit, akhirnya pasukan sampai juga ke Candi Bang. Kekuatan Belanda di sini amat sedikit, karena semua dipanggil ke Pangpang untuk ikut menggempur Jagapati di Derwana. Tidak ada perlawanan berarti kecuali gerakan mundur untuk lari. Tapi hakikatnya mereka masuk perangkap dan semua bunuh diri. Perang tidak pernah mengenal ampun. Karena peperangan adalah memenangkan dan dimenangkan. Menghancurkan dan dihancurkan.

Tempik-sorak menyambut Sayu Wiwit.

"Dirgahayu Ratu! Dirgahayu Sayu! Dirgahayu Blambangan!"

Bekel Candi Bang segera mempersilakan mereka beristirahat di rumahnya. Dan kawula tak habis-habisnya mengelu-elukan Sayu Wiwit. Bekel dan istrinya juga menyembah di kakinya. Keringat dingin keluar dari tiap lubang pori tubuhnya. Tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini. Mimpi pun tidak. Desa ini sebenarnya cukup subur. Hanya karena mereka dibebani makanan pasukan pendudukan, maka kemakmuran tanah itu tidak mampu mencukupi hidup mereka.

"Yang Mulia, apa arti semua ini?" tanya Sayu Wiwit kala mereka meninggalkan rumah Bekel untuk menuju candi.

Mereka akan berdoa mengucap syukur pada Hyang Maha £iwa yang telah memenangkan peperangan mereka. "Aku akan menerangkan setelah kita berta-syakur mengucap syukur. Mudah-mudahan tiap orang sekarang merasakan kebahagiaan karena kemenangan ini."

"Ya. Apakah Bayu sudah mendengar?"

"Sudah aku perintahkan seorang caraka sandi (utusan rahasia) untuk menyampaikan kemenangan kita ini. Bahkan aku telah mengirimkan lontar untuk Ibu."

"Berbahagialah mereka."

"Berbahagialah tiap orang yang telah berbuat sesuatu untuk negeri dan manusianya."

"Kendati ia harus mati?"

"Kendati harus mati. Tiap orang akan disebut mulia jika ia mati dalam pribadi yang kokoh waktu mempertahankan pandangan hidupnya."

"Bagaimana jika ia harus mati tersungkur di atas debu?" "Jauh lebih mulia dari seorang raja yang mati di

pembaringan beralas sutera Cina, tapi ia menjual bangsanya untuk menjadi kuli. Budak! Budak dari tiap bangsa. Ya, jika kita tidak kokoh dalam membela mereka, maka tidak mustahil kelak Blambangan akan jadi budak dari bangsa kulit putih, kulit kuning... atau bahkan kulit sawo matang sendiri."

"Hyang Dewa Ratu!"

"Jangan kaget, Wiwit. Lihat saja sekarang! Semua bangsa sedang merayu kita. Tapi hakikatnya mereka ingin memenangkan diri. Nah, kita telah sampai sekarang. Kita akan memasuki candi di mana Ken Arok pernah berjanji untuk meruntuhkan tirani Kediri. Juga berjanji akan membe-. baskan Ken Dedes dari Tunggul Ametung. Nah, kita juga "

Hati Sayu Wiwit tersibak mendengar keterangan itu. Belum pernah ia mendengar seperti ini. Barangkali anak muda ini memang membaca lontar. Tapi bisa juga mengada-ada. "Kita juga akan bersumpah di bawah kaki Hyang Durga dalam Candi Bang ini."

Keduanya menghentikan langkah. Keduanya memperhatikan puncak candi yang menjulang berbentuk lingga itu. Sedang pada dasar candi berbentuk yoni. Lingga dan Yoni (lambang kesuburan pria dan wanita). Rembulan telah menciptakan bayang-bayang puncak candi di sebelah barat. Di luar pagar pertama, di kiri-kanan gerbang, candi itu dijaga oleh sepasang patung Dwarapala. Setinggi manusia berdiri. Keheningan menguasai kedua orang muda itu.

"Apa yang akan kausumpahkan?" Mas Ramad tiba-tiba memandang Sayu Wiwit tajam.

Mendadak saja wanita ini gugup.

"Setya a nagri..." Sayu Wiwit melirik sekelilingnya. Senyap.

Pandangan Mas Ramad begitu tajam. Seakan tidak terima terhadap jawabnya.

"Setia pada Hyang Durga," lanjutnya. "Cuma itu?"

"Apa lagi?"

"Kita harus sama-sama bersumpah di hadapan Hyang Durga, untuk meresmikan pernikahan kita."

"Hyang Dewa Ratu!" Sayu Wiwit menyebut. "Mengapa terkejut? Aku sudah memberi tahu Bunda."

"Tidak ada pandita "

"Bukan pandita yang menyaksikan pernikahan kita, namun Hyang Maha Dewa sendiri dan hati kita masing-masing.

Keberatan? Kau tidak lagi punya orang tua dan sanak-saudara. Juga ayahku ada di tempat yang tidak mungkin kita jangkau. Mau?" Tiba-tiba air mata menyembul di kedua kelopak matanya. Ingin ia menahan agar Mas Ramad tidak melihatnya. Namun mata pemuda itu seperti mata rajawali. Apalagi kini, walau enggan, air mata itu tetap merambat di kedua belah pipinya yang halus. Memantulkan cahaya rembulan. Mas Ramad menarik napas.

"Tak apa, Wiwit. Kau keberatan kita menikah tanpa upacara? Aku akan meminta Ibu untuk menyiapkan upacara di Bayu "

"Yang Mulia "

Tapi Mas Ramad sudah melangkah. Memasuki gerbang pertama. Sayu Wiwit mengejar. Tapi langkah pemuda itu amat cepat. Masuk di gerbang kedua. Dan melakukan pradaksina (bergerak mengitari candi sesuai arah jarum jam) tiga kali, lalu masuk ke pura. Mau tak mau Sayu Wiwit mengikutinya.

Bahkan kemudian duduk di samping Mas Ramad. Dekat sekali. Tak berjarak barangkali. Untuk memberi keyakinan pada Mas Ramad bahwa ia mengiakan kehendak pemuda itu. Memang ia takut kehilangan tempat mencurahkan isi hatinya.

Sesaat Ramad menenangkan hatinya. Kemudian melakukan yoga. Wiwit berbuat serupa. Selesai semua yoga dan mantra ia merapatkan telapak tangan kanannya pada telapak kiri Mas Ramad, dan mengucap janji seperti layaknya mempelai Hindu mengucapkannya di depan pandita. Mas Ramad terkejut.

Namun ia juga segera bersumpah, "Wiwit adalah dewi, kehidupan, dan permataku."

Kembali Sayu Wiwit terhanyut oleh keharuan. Setelah kehilangan ibu-bapa, kehilangan semua saudara, kini menemukan seorang yang sanggup mencintainya dengan sepenuh hati.

"Yang Mulia ," bisiknya.

"Jangan panggil aku seperti itu lagi. Aku suamimu!" "Lalu?"

"Suaminda." Mas Ramad tersenyum. Perlahan ia membimbing istrinya. Keluar dari candi. Dari hadapan Hyang Durga.

"Banyak bintang mengerjap di langit, Suamiku.. Lihat!! Aku takut Suaminda memperbandingkan permatanya dengan bintang-bintang."

Mereka berjalan berangkulan. Menyatu.

"Jangan takut! Banyak mutiara di bumi ini. Tapi harganya terlalu mahal. Maka aku mengambil satu saja. Aku tidak ingin memperbandingkan dengan lainnya. Lihat, aku telah berbuat semua untukmu. Aku puas jika kau disanjung. Bukan aku!"

Wiwit baru menyadari. Semua yang dilakukan Ramad di Jember untuknya. Demi cinta Ramad pada Sayu Wiwit. Ah, ia cium pipi suaminya.

"Sebentar kita berpisah. Kau akan kembali ke Jember dan aku akan ke Lumajang, Puger, dan Nusa Barong. Aku akan melihat, apakah Lindu Segara telah melumpuhkan Belanda di sana."

"Kanda..."

"Tak ada yang perlu dirisaukan, Istrinda." Ramad mengangkat tubuh istrinya. Dan meletakkannya di atas rerumputan. Bulan dan suara b binatang-binatang malam menyambut mereka. Kemudian ia sendiri merebahkan diri. Tanpa sutera putih, kecuali sesobek kain putih, beratap langit, beroborkan bintang dan bulan, disambut oleh tetabuhan satwa malam, mereka menikmati malam pertama. Tanpa upacara wadad suci....

*** Tanpa perintah lebih dulu, air mata Ayu Prabu t melata perlahan demi mendengar kisah Sayu Wiwit itu. Dan nurani mendorongnya bergerak merangkul Sayu Wiwit.

"Kanda...," bisik pengakuannya tulus. Setulus angin yang membelai pepohonan di halaman rumahnya. Ia mengakui muridnya itu kini telah menjadi kakaknya yang harus ia hormati. Mengapa nasibmu tidak seperti kebanyakan wanita? Sudra saja melewati upacara dan penghormatan kala naik ke pelaminan. Ah, mengapa kau cuma berlapik kain putih yang sudah lusuh? Aku akan menanyakan ini pada kakakku sendiri. Mengapa itu ia lakukan? Seperti binatang yang tak lagi mampu menahan nafsunya.

Tapi tiba-tiba saja ia teringat Jagapati. Maka segera terjaga dari keharuannya.

"Jika demikian aku harus segera panggil Marmi dan memberi tahu Kanda Sratdadi. Jika perlu Yang Mulia Wilis."

"Resi sudah tahu. Demikian pun junjungan kita. Yang Mulia Ramad tentu sudah meminta menjaga hal ini dari Jagapati, karena menurut beliau, Jagapati adalah satria yang belum pernah belajar mengebaskan sama sekali matsiya, matinya, madya, dan mutra (ikan, daging, arak, dan wanita). Maka kita masih perlu menjaganya."

"Jagat Bathara! Tajam juga pengamatan suamimu itu." Ayu Prabu tersenyum. Kembali ia mencium Sayu Wiwit.

"Ibunda sudah tahu?"

"Kami sudah menghadap beliau saat pertama kami tiba." "Beliau tentu bersukacita punya menantu semanis kau."

"Akan lebih bahagia jika Yang Mulia yang menikah. Karena akan dipersunting orang besar." "Bukankah suamimu lebih besar? Seorang yang tidak pernah ingin kedudukan tapi terus mendar-makan karyanya? Mungkin kita perlu belajar banyak darinya."

Keduanya tertawa kecil. Saling memuji. Namun Ayu Prabu tetap merasa perlu menjumpai Marmi. Segera keduanya bergesa menuju pendapa. Mungkin saja mereka semua sedang makan bersama di sana. Tapi ketidakhadiran mereka dalam jamuan makan siang itu mencurigakan banyak orang. Termasuk Wilis sendiri. Tidak kurang Mas Ayu Tunjung pun amat curiga. Apalagi ia mengerti benar Mas Ayu Prabu pernah menjalin janji dengan pemuda idamannya, Wilis.

Mas Sratdadi segera meninggalkan tempat begitu jamuan usai. Maka belum jauh Mas Ayu Prabu meninggalkan rumah sudah berpapasan dengan Mas Sratdadi.

"Ah, kalian! Semua orang mencari! Ke mana saja?" Sratdadi menegur.

Keduanya cekikikan seperti memandang sesuatu yang lucu. "Kanda tak lagi berhak memarahi dia, lho!" Ayu Prabu

tersenyum sambil menunjuk Sayu Wiwit. Sayu Wiwit tetap saja memberi hormat pada Sratdadi. Kini ketiganya jadi tertawa. "Kau sekarang termuda!" ujar Sratdadi. Namun Ayu Prabu menyatakan kekhawatirannya.

"Ah, Marmi sudah mengerti tugasnya. Jadi sebenarnya sangat kebetulan jika kau tak muncul di pendapa itu. Kulihat Jagapati sering mendekati Marmi. Tentu ia ingin menanyakan tentang berita yang sampai ke telinganya. Yah, kemenangan di Jember dan sekitarnya itu."

"Mudah-mudahan Marmi berperan lebih baik. Dan mudah- mudahan Jagapati tetap dungu seperti sekarang ini." Mas Ayu senang. Dan ketiganya balik lagi ke rumah ibunya. Justru saat itu Mas Ramad, Tantrini, dan Mas Ayu Tunjung juga sedang pulang. Maka rumah Tantrini kini jadi ramai. Ibu yang tetap awet muda itu kemudian mempersilakan anak-anaknya duduk di seputar Sayu Wiwit dan Mas Ramad.

"Alangkah bahagianya jika Suaminda Wong Agung Wilis turut di tengah kita. Tapi tak apa, keduanya sudah menikah di Candi Bang dengan tanpa saksi siapa pun. Kita hanya akan berdoa bersama-sama. Kita akan mabasan (peraturan membaca bersama) beberapa mantra Lokananta (mantra pelebur dosa) untuk kedua orang ini. Nah, dirgahayulah kalian."

Semua orang kemudian berdoa dengan suara kedengaran bersama-sama. Setelah selesai, mereka berganti-ganti mengucapkan selamat pada pasangan muda itu,

"Tentu tidak mudah mencari saat seperti ini." Lagi Tantrini berbicara. Sayu Wiwit melihat wajah wanita ini sungguh persis Yistyani. "Aku senang Mas Ramad berjodoh brahmani cantik seperti ini, karena dia sendiri berdarah satria bercampur brahmana. Brahmana bersenjatakan pengetahuan, satria bersenjatakan bedil. Harus ada perpaduan antara keduanya untuk mempertahankan negeri ini." Semua diam mendengarkan.

"Yang lebih dari itu, pekerti luhur. Sebab tanpa pekerti luhur manusia akan menjadi binatang. Dan bedil di tangan binatang hanya akan menghasilkan kebiadaban. Ingat-ingat ini, Anak-anakku! Setiap pemaksaan kehendak dan pendapat yang disertai ancaman dan kekerasan adalah gambaran kebiadaban."

Tetap saja diam. Amanat seorang ibu. Menghormati ibu adalah yang utama bagi mereka. Kemudian masih panjang lagi petuah yang mereka dengar. Dan mereka cuma mengiakan.

Setelah sang Ibu selesai, Sratdadi mewakili adik-adiknya, "Kami tidak lama di sini, Ibunda. Jadi memang benar, tak mudah mencari kesempatan seperti ini. Sebab tadi Lebok Samirana sudah turun ke Jember bersama Cheng Shian Hauw. Jagapati dan Jagalara pun telah ke Derwana sejak tadi. Telik kita melapor bahwa Kompeni mengirim beberapa ribu orang dipimpin Letnan Fischer. Tentu mereka sudah tahu kedudukan kita di Bayu. Dan mereka akan menyerbu kemari. Di belakang pasukan Fischer menyusul pasukan yang lebih besar di bawah Kapten Kreygerg."

"Artinya, perang akan lebih besar lagi?"

"VOC tidak akan mau kehilangan muka. Tidak pernah mereka alami sebelumnya seorang mayor harus mengantarkan nyawa di medan tempur Jawa dan Nusantara lainnya. Barangkali di zaman perang melawan Sawunggaling di Surabaya saja mereka kehilangan banyak perwira dan uang.

Di sini tentu di luar dugaan mereka. Ingat, Kapten Van Reyks, Mayor Blanke, Coop a Groen, serta masih banyak lagi nyawa yang mereka korbankan. Itu sebabnya mereka tidak ingin kehilangan muka. Dan di belakang Kreygerg masih ada barisan yang lebih besar lagi dipimpin oleh Heinrich. Juga berpangkat kapten. Belum lagi manggala-manggala perang dari Mataram dan Surabaya dan Madura." "

"Hyang Dewa Ratu!" Tantrini menyebut. "Apa dosa kita maka negeri kita harus dikoyak-koyak seperti ini?"

"Bukan masalah dosa. Masalahnya karena ma-nusia cenderung memanjakan kerakusan sebagai keberadaan diri."

"Dunia tak pernah damai "

"Dunia tidak akan pernah damai, Bunda. Selama kerakusan masih ada. Karena itu, nanti selepas tengah malam kami akan meninggalkan tempat ini."

"Pengantin baru juga?"

"Ya! Kami juga," Mas Ramad menjawab.

"Hyang Dewa Ratu! Perang telah meruntuhkan istiadat kita.

Meruntuhkan semua dan segala." "Setiap kehadiran budaya asing, membuat peradaban dan kebudayaan kita memudar. Sampai akhirnya punah sama sekali," Mas Ramad menegaskan. "Karena itu kita berperang. Untuk mempertahankan semua-mua."

"Ya. Karena itu kami memohon restu Bunda," Ayu Prabu menambahkan.

"Kau akan berangkat bertempur?"

"Melakukan kewajiban yang dipasang di pundak. Lebih dari itu memenuhi panggilan hidup."

"Tapi kau sudah saatnya menikah, Nak." Tantrini memandang anaknya.

Juga Mas Ayu Tunjung. Tapi Ayu Prabu cuma tersenyum. Mas Ayu Tunjung menahan rasa sesak di dadanya. Pemuda idamannya jatuh hati pada Ayu Prabu. Ia tahu segala-gaU mengenai janji kedua muda-mudi itu. Melihat Ayu Prabu tak menjawab, hatinya kian sesak. Maka ia menyahut,

"Bibi tidak usah takut. Dia sudah ada yang punya, kok. Dan Bibi patut bahagia punya anak calon paramesywari Blambangan." Gadis itu melempar lirikan pada Ayu Prabu. Tapi Mas Ayu Prabu tidak menunjukkan perubahan air muka. Tetap saja tersenyum.

Tantrini yang mengerutkan kening dan memandang anak gadisnya.

"Mengapa tidak dilaksanakan sekarang?" tanya Tantrini dan Mas Ayu Tunjung berbareng.

"Kita sedang sibuk dengan perang." Senyum.

***

Mimpi-mimpi buruk memburu tidur Biesheuvel. Kekalahan demi kekalahan telah menghantui pikirannya. Bahkan menyeretnya ke suatu alam yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Nasib para pendahulunya mengisi kenangan saat senggang. Ah, Colmond saja yang mampu pulang dengan selamat. Kapten Van Reiyks, Mayor Blanke, dan Mayor Coop a Groen, telah menemui ajal dengan caranya sendiri-sendiri.

Akhirnya ia menyimpulkan hal yang sama seperti pendahulunya: Blambangan negeri hantu yang tak layak ia tinggali. Dan tiap usaha mematahkan perlawanan pribumi tak ubahnya mendulang badai yang bakal menghantam diri sendiri. Ia menyesal telah menunda permohonan para bintara yang mengakibatkan pembelot n mereka.

Bayang-bayang Van Beglendeen tiba-tiba saja muncul menemaninya sore itu. Dia memang ingin sendiri. Wanita Cina bekas istri Bapa Anti yang montok itu sudah beberapa lama dihadiahkan pada Juru Kunci untuk diperistrikannya. Kendati ia adalah anak Bapa Anti sendiri. Wajah Beglendeen yang seperti orang mengejang dan berwarna sedikit merah muda itu melotot tanpa kata. Cuma melotot. Dan senja celaka itu telah membuat Biesheuvel tergagap. Keringat dingin merembes melalui dahinya. Ia mengusap mukanya seolah mengusap noda hitam. Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepala sambil memejamkan matanya. Bayangan Beglendeen pergi.

Tapi sebentar kemudian bayang-bayang Bozgen berdiri di hadapannya, sambil tertawa dan menudingnya. "Tuan telah bunuh aku. Cuma karena aku ingin hidup bahagia bersama wanita pribumi. Tapi kau sendiri? Terus-menerus hidup dalam perzinahan. Mana lebih berdosa? Aku yang mengawini?

Begitukah kehidupan Kristen? Tangan Tuan berlumuran darah."

"Tidak!" Biesheuvel berteriak.

Seorang pelayan yang akan mengantar minuman senja amat terkejut. Tergopoh-gopoh pelayan itu menghambur ke luar.

"Tuan... memangil hamba?" "Heh? Aku tidak bicara apa-apa." Biesheuvel malu. "Eh... panggil pengipas. Sore begini amat gerah."

Pelayan pergi. Dan Biesheuvel menggeragap. Ah, mereka telah menjadi hantu. Tapi tidak ada Kristen takut hantu, Hantu? Tidak, Tuan. Aku bukan hantu. Aku justru mengingatkan, agar Tuan menyadari dan melihat tangan Tuan sendiri. Tuhan tidak membiarkan pembunuh mendapat bagian dalam kerajaan surga."

Hah? Bozgen muncul lagi. Napas Biesheuvel terengah- engah seperti usai latihan lari pagi. Jantungnya berdegup seperti baru saja mendengar gelegar meriam. Tapi nampak jelas Bozgen di depannya. Ia memalingkan muka ke kanan. Huh, Beglendeen berkacak pinggang. Ia segera berpaling ke kiri. Mayor Coop a Groen sedang sekarat.

Heh Ia segera berdiri. Bergesa ke kamarnya.

Gadis pengipas tidak mendapatinya di teras. Dia coba mencari Alkitab dan berdoa. Tapi di mana Alkitab? Cari. Tiada. Ah, ia memang telah lama sekali tidak membaca Alkitab. Sadar kini. Benar si Bozgen. Aku Kristen cuma di bibir. Mendoa pun, aku tidak pernah. Apalagi baca Alkitab. Gila! Alkitab tertinggal di Surabaya. Jadi apalah artinya kini Kristen tanpa Alkitab?

Kristen tanpa doa? Benar kau, Bozgen, Kristen tidak bisa dipisahkan dari Kristus sendiri. Dan aku? Dan Tuan Guber-nur? Gubernur Jenderal? Benar kata Rsi Ropo, tak lebih dari segerombolan bajak laut yang berpura-pura sopan. Perampok yang berpura-pura santun.

Dan begitu ia menutup pintu dan akan melangkah ke pembaringan ia seolah mendengar rintih gadis. Hih? Seorang gadis belasan tahun berkajang maut diperkosa Mayor Colmond di pembaringan ini? Gadis itu menggeliat sambil mengeluh?

Mengapa aku dibunuh? Bukankah ini yang diceri- > takan orang gadis Sutanegara itu? Karisyati? Ah... Biesheuvel mengurungkan niatnya melangkah ke pembaringan. Keluar lagi sambil menoleh kiri-kanan. Ia bersandar di tembok. Ah, aku harus cari teman. Cari teman agar tidak melamun sendiri. Masih senja begini hantu bergentayangan. Apalagi nanti malam. Dan Biesheuvel menggeragap lagi. Ia berteriak panggil pengawal.

"Ya, Tuan." Seorang pengawal kulit putih menghadap. "Kau keturunan Moor?"

"Ya. Tuan."

"Kau pernah lihat hantu selama di Blambangan ini?" "Tidak, Tuan."

"Bagus. Kau berani melawan setan?" "Tidak ada setan, Tuan. Itu bohong!"

"Bagus! Aku senang pada pemberani semacam kau. Nah, sekarang ambilkan pedangku di kamar!"

"Ini bukan kebiasaan "

"Ini perintah!"

Dengan ragu pengawal itu masuk. Ia ambil pedang Biesheuvel yang tergantung di dinding. Setelah menyerahkan ia menghormat.

"Kau lihat apa di tempat tidur?"

Pengawal itu mengingat-ingat sebentar. Biesheuvel memandangnya tajam.

"Tidak ada, kecuali kasur, guling dan bantal." "Cuma itu?"

"Ya, Tuan."

Biesheuvel mengusap wajahnya. Ia berusaha mengembalikan kepercayaan dirinya. Kemudian ia perintahkan beberapa pengawal mengikutinya. Ia tidak mau mengalami aniaya seperti malam-malam akhir-akhir ini. Ia ke rumah Jaksanegara. Di sana bisa minum atau tidur dengan selir-selir Jaksanegara. Untuk apa teraniaya sepanjang malam? Para pengawal juga senang diajak ke sana. Tentu mereka dapat bagian. Bukankah selir-selir kian bertambah saja tiap hari di rumah pembesar pribumi itu? Dan setiap malam ada saja yang kesepian diam-diam minta dipuasi oleh para pengawal.

Tapi para pengawal akhir-akhir ini merasa aneh. Karena Biesheuvel sekarang tidak setegas dulu. Bahkan sering menggeragap ketakutan. Demikian juga dalam perjalanan itu. Biesheuvel sering menggeragap dan mengusap wajahnya.

Mungkin Tuan kita mulai sakit, bisik seorang pada lainnya. Ah, cuma lelah.

Ketakutan Biesheuvel memang bukan cuma mimpi. Saat itu Jagapati bersama Rsi Ropo yang telah mengenakan pakaian Sratdadi, bersama beberapa orang laskar pilihan Bayu, turun untuk menuntut balas atas nyawa Baswi. Begitu sampai di Pangpang mereka mencari rumah penginapan. Sratdadi menyamar sebagai pedagang. Sedang yang lain adalah pemikul barang dan pengawal. Dan Jagapati harus mengakui kecerdikan sang Rsi. Sejak siang pemuda itu telah mengintip tiap gerak Biesheuvel. Maka kala Biesheuvel berangkat ia segera menyiapkan kuda dan memberi tahu Jagapati.

Kemudian mereka menyelinap dari pagar ke pagar. Dari gerumbul ke gerumbul. Penduduk yang mengetahui hal itu segera menutup pintu rumah mereka. Takut.

Sesudah agak jauh dari perbentengan dan deretan loji, tibalah saatnya Mas Sratdadi membuka tembakan. Meleset. Kuda Biesheuvel jadi sasaran. Tak ayal Biesheuvel sendiri terpelanting. Tembakan berikut menyusul dari senjata Jagapati dan lain-lainnya. Beberapa pengawal tidak sempat mengelak. Berjatuhan seperti buah nangka masak. Sesaat saja peristiwa itu. Dan Biesheuvel mendengar suara tawa yang berkepanjangan. Ia ingat betul. Suara Jagapati. Ketika ia mencoba mendongak, sebuah peluru merobek kulit di bahu kanannya. Bayangan-bayangan hitam berkelebatan. Tak jelas. Salah satu mendekatinya. Sebuah keris menghujam. Ia mencoba menghindar. Tapi paha kirinya tertusuk. Sratdadi segera memerintahkan semua pengawalnya meninggalkan tempat itu. Dengan amat cepat, bagai bayangan setan, mereka lenyap di kegelapan sambil meninggalkan suara tawa berkepanjangan.

Tiga pengawal masih hidup, karena memang berpura-pura mati. Ternyata kepura-puraan mampu menyelamatkan nyawa. Perlu juga kepura-puraan itu. Segera mereka bangun menghampiri tuan mereka. Biesheuvel tergolek tanpa daya.

Suara rintihan keluar dari bibir Biesheuvel. Mereka menjadi iba. Bibir itu kini tak lagi mampu membentak. Mata itu juga tak lagi melotot dan menakutkan. Segera mereka mengangkut Biesheuvel ke benteng dan melapor pada Schophoff.

Kala bala bantuan tiba, Pangpang dalam ketegangan.

Biesheuvel telah menemui ajalnya. Racun keris yang menusuk paha itu tidak lagi dapat diredam oleh apa pun. Juru kunci dan Jaksanegara tahu bahwa bukan pelor yang menyebabkan kematian Biesheuvel, tapi warangan. Karena itu untuk beberapa hari Biesheuvel sempat sekarat. Hendrick Schophoff melaporkan hal itu dengan tanggal kejadian serta laporan awal November tahun seribu tujuh ratus tujuh puluh satu.

Bukan main terkejut Gubernur Robbert van de Burg mendengar laporan itu. Gila! Blambangan telah memakan banyak korban tapi belum menghasilkan apa-apa untuk Kompeni. Bahkan Gubernur Jenderal di Batavia pun amat terkejut. Perang melawan Untung Surapati pun tidak sampai kehilangan seorang residen. Padahal surat-surat resmi pengangkatan Biesheuvel sebagai residen baru saja tiba dan belum sampai ke tangan Biesheuvel. Sayang orang itu keburu mati. Maka ia memutuskan untuk mengganti Biesheuvel dengan Hendrick Schophoff. Dan ia sendiri akan menyusun rencana penyerangan ke Blambangan. Ia sama sekali tak percaya jika Jagapati berdiri sendiri. Pasti ada mandala- mandala perang dari negeri lain yang ikut terlibat dalam perang ini. Jika perlu ia akan mempelajari situasi dulu. Setelah selesai, ia akan pimpin sendiri penyerangan. Huh! Memalukan!

Dengan segera ia merundingkan rencananya dengan pembantu-pembantu dekatnya. Dan setelah matang ia memerintahkan para bupati untuk menambah jumlah pasukan yang dikirimkannya. Sebelum itu ia menurunkan perintah agar Schophoff mengambil tindakan yang lebih keras dan tegas.

Terutama dalam menyelamatkan orang-orang Eropa.

***

Niat Mas Ramad menyuruh istrinya berangkat ke utara dibatalkan. Sayu Wiwit ingin mengikuti suaminya ke desa Sentong dan Puger. Jika perlu mereka akan menuju ke Nusa Barong. Mereka ingin menyampaikan hasil-hasil pertemuan di Bayu yang terakhir. Namun berita yang disampaikan Mas Sratdadi membuat mereka harus mengubah segala rencana.

Dugaan mereka memang tidak salah. Letnan Fischer yang didukung pasukan pilihan dan persenjataan lengkap sudah mulai mengepung Jember. Tidak kurang dari dua ribu anggota baru dan seribu pasukan pilihan ditambah dua ribu pemikul senjata-senjata berat. Semua bergerak berlapis-lapis. Sebab di belakang mereka masih ada pasukan yang lebih besar dipimpin Kapten Kreygerg dan disusul pasukan yang dipimpin Heinrich. Tepat seperti yang dilaporkan Mas Sratdadi. Dari Probolinggo mereka menuju Ranu Klakah. Penunjuk jalan dari Probolinggo yang membawa mereka ke telaga itu.

Tanpa ampun seluruh rumah yang ada di sebelah barat dan utara dibakar. Semua wanita dan orang tua yang tidak mengungsi dipunahkan. Fischer menurunkan perintah pembantaian itu karena ia tahu persis, mereka adalah pelarian Mataram dan pengikut Singa Manjuruh. Sedang Singa Manjuruh sebenarnya orang kepercayaan Pangeran Singasari dan Pangeran Blitar yang terbunuh di Malang Selatan sebelum gugurnya Mlayakusuma. Itu sebabnya mereka yakin bahwa pembantaian itu pasti menyenangkan pemerintah Kartasura dan pemerintahan agung VOC di

Batavia. Di samping itu Fischer ingin menanamkan rasa takut pada pribumi. Bahwa jika mereka berani memberontak terhadap VOC maka keturunan mereka pun akan dipunahkan. Jangankan memberontak. Menyatakan pendapat yang tidak sama dengan pemerintahan agung Batavia pun akan ditindak. Keturunan kedua, ketiga, dan keempat, juga akan tetap dicurigai. Turun-temurun bangsa yang besar ini dijadikan siput. Takut merunduk-runduk. Dan dengan begitu untuk selamanya mereka takut menyatakan pendapat. Cuma menyatakan pendapat mereka harus takut. Sanak-saudara atau teman-teman mereka akan dengan sendirinya melarang mereka menyatakan pendapatnya. Karena takut ikut bersimbah darah. Ternyata rasa takut akan menguntungkan pemerintah agung Batavia di bumi Nusantara.

Begitu, mereka terus bergerak ke timur dan selatan.

Sepanjang jalan mereka menjarah-rayah harta milik kawula. Perlawanan demi perlawanan mereka patahkan. Fischer memang tak mau membawa pasukannya melewati jalan yang belum terbentuk. Kekalahan Montro dan Imhoff cukup menjadi pelajaran baginya. Orang Blambangan telah menyebar begitu banyak jebakan. Kendati pasukannya harus bergerak amat lamban dan menghamburkan banyak peluru kanon dan meriam untuk membersihkan jalan-jalan. Membersihkan dari cegatan pasukan Shian Hauw dan Singa Manjuruh serta anak buah Lebok Samirana bersama laskar Mas Sratdadi sendiri.

Juga membersihkan dari batu-batu dan pohon-pohon yang dirobohkan. Berhari-hari terus begitu. Tapi tidak ada lain cara, jika tidak ingin masuk jebakan dan hancur total. Pelan tapi pasti. Bahkan sayap kirinya telah sampai ke Panarukan. Dan juga Candi Bang dikepung rapat-rapat. Setelah pasukan Kapten Kreygerg sampai di sana, maka pengepungan ia timbang-terimakan. Pasukannya sendiri ia tarik untuk bergerak ke Jember. Ia ingat benteng sahabatnya, Steenberger. Orang itu tidak diketahui nasibnya. Ah, bisa saja seorang perwira bernasib seperti monyet. Di kala berjaya merampasi buah apa saja yang dijumpainya. Ia tahu itu bukan miliknya. Namun ia merasa menang dan memungut semua-mua. Tapi kala tidak lagi bersama dewi keberuntungan mungkin saja mati di tengah rimba tanpa seorang pun menguburnya. Dan burung- burung pemakan bangkai akan panen.

Ia ingin bertemu dengan sahabatnya dan menolong agar bisa pulang ke Nederland dengan selamat. Tapi ke mana orang itu kini? Ah, nanti saja jika Jember sudah dikuasai kembali, akan dilakukannya pencarian terhadap Steenberger dan kawan-kawannya. Sahabat yang baik adalah sahabat yang rela mengorbankan nyawanya demi persahabatan itu sendiri.

Namun begitu mendekati Jember, berkali rombongan harus mundur. Sebab ternyata musuh juga menggunakan meriam. Kanon, dan bedil yang serupa dengan milik Kompeni. Tentu barang rampasan. Sekarang mereka mendekati kota dengan menyebar melewati sawah-sawah, untuk menghindari kemungkinan jebakan tombak bambu dan cula-cula. Dan perhitungan Fischer tepat. Cuma sedikit laskar Mas Ramad yang mengawasi sawah-sawah. Sebab mereka dipancing untuk bertempur di jalan-jalan masuk ke kota Jember. Meski begitu bukan berarti Fisher bisa masuk r sambil melenggang. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Semangat tinggi laskar Mas Ramad merupakan kesulitan tersendiri. Dengan amat berani, lelaki-perempuan menyongsong barisan lawan. Dan korban pun berjatuhan. Peluru laskar Mas Ramad menyambar sebagian tentara Fischer, demikian pula sebaliknya. Setelah jarak mereka dekat benar, pedang pun bicara. Senjata panah dan bandit cukup menyulitkan pasukan Fischer. Mereka cuma membawa bedil kocok, pedang, atau kelewang. Darah lelaki dan perempuan, tua dan muda, telah tertumpah. Rumah dan huma menjelma jadi lautan api. Fischer menyesali keadaan itu. Ia tidak pernah menduga, semangat orang-orang Blambangan begitu tingginya. Mereka memilih mati daripada menyerah. Lelaki dan perempuan bertumpuk menjadi bangkai. Semua yang mati tertelungkup memeluk bumi kelahirannya. Didahului oleh teriakan yang tidak ia mengerti maknanya. Fischer tahu apa bakal jadinya setelah ia merebut kota. Sungai-sungai telah dicemari oleh bangkai dan tinja. Bangkai binatang dan manusia menyatu.

Singa Manjuruh, Lebok Samirana, dan Cheng Shian Hauw marah bukan kepalang ketika mereka berpapasan dengan rombongan pengungsi. Dan mereka menyusun kembali kekuatan dari para pengungsi yang masih bersedia untuk ikut membantu yang masih bertahan di selatan Jember. Atau juga sebelah tenggara kota itu. Hanya yang terlalu tua dan anak- anak saja yang dilarang ikut bertempur. Maka hasilnya mereka dapat mengumpulkan hampir lima ratus orang. Bersenjata apa adanya.

Kedatangan ketiga pemimpin itu memang membuat kejutan. Semangat laskar Blambangan naik kembali.

Keberanian mereka makin mengagumkan. Apalagi setelah Singa Manjuruh dan Shian Hauw bisa mencapai daerah pertahanan anak buah mereka. Laskar Cina itu seperti gila saja. Sebab bagi mereka kehilangan Jember berarti musnahnya harta yang telah mereka kumpulkan beberapa lama.

Fisher cukup repot menghadapi arus balik yang menyemut itu. Rasanya seperti tak habis-habisnya. Jember menjadi banjir darah. Darah orang-orang Blambangan, Cina, Belanda, Madura... dan banyak suku bangsa yang ikut bertempur di sana. Dan kepala Fischer berdenyut-denyut melihat kenyataan itu. Orang yang dipenggal kepalanya, yang terburai ususnya, yang pecah dadanya, yang remuk tulangnya, yang mengejang-ngejang sekarat, yang merintih kesakitan. Perang sungguh kegilaan. Fishcer hampir putus asa kala melihat beberapa ratus anak buahnya cerai-berai melarikan diri. Ia tahu persis tak ada jalan melarikan diri jika hutan dan semak- semak itu tidak dibersihkan lebih dahulu. Maka pelarian adalah jalan kematian yang mengerikan. Apakah itu di hutan wilayah Jember atau mana pun saja asal masih dalam wilayah Blambangan, pasti akan sama saja.

Masih beruntung nasib Fischer karena saat itu pasukan Kapten Heinrich tiba dan langsung terlibat dalam pertempuran. Maka pada penengahan hari sudah mulai tampak bahwa barisan demi barisan merupakan arus gelombang yang tak tertahan oleh pasukan Shian Hauw. Apalagi setelah Shian Hauw sendiri terkena tembakan di perutnya. Para pembantunya berusaha menyelamatkan nyawanya dengan menandu Cina itu ke luar daerah peperangan. Tapi kematian tidak pernah dapat dibatalkan cuma oleh usaha manusia. Para selir, gundik, dan istrinya mengerumuni mayatnya sambil menangis. Ada yang menangis cuma dibuat-buat. Tapi menangis adalah keharusan untuk mengantarkan nyawa Shian Hauw pada Thian Kong. Pada sang Pencipta. Meskipun begitu pertempuran tidak menjadi surut. Sebab bagi laskar Cina itu pun tidak ada jalan untuk lari dari medan tempur, meskipun sebagian mengangkat tangan dan membawa bendera putih.

Lebok Samirana yang ada di bagian timur marah bukan main. "Enak saja mereka itu! Jika menang mereka setia pada kita. Tapi jika kita terdesak mereka menyeberang. Selalu saja cari enak!" Dengan begitu ia mulai menarik pasukannya dari medan dan berniat menerobos hutan menuju Probolinggo. Ia merasa tidak mungkin Blambangan akan menang. Dan lebih baik ia mengulur waktu untuk kemudian melakukan perlawanan di negeri lain kelak. Dengan beberapa pengikut ia menggiring kaum wanita untuk mundur. Tapi begitu memasuki rimba raya ia sendiri menjadi terkejut. Beberapa anak buahnya terperangkap jebakan harimau yang di dalamnya telah tersedia tombak-tombak bambu. Dan beberapa wanita menjerit karena menjadi umpan cula serta songga. Hati Lebok Samirana menjadi kecut. Jebakan orang Blambangan dipersiapkan di mana-mana.

Kini ia baru menyadari kata-kata Mas Ramad beberapa bulan lalu, jika kita berperang harus sungguh-sungguh. Tak ada jalan di Blambangan ini untuk meninggalkan perang dengan jalan menghindar. Bagi kita yang ada, tanah atau mati! Kita pasti menang! Karena itu tahulah kalian! Jika terdesak dan harus mundur, maka hanya ada satu jalan yang dapat menyelamatkan kalian, bergabung dengan Benteng Bayu. Ingat-ingat!

Menyesal Lebok Samirana mengapa bergabung dengan Ramad. Kejam anak muda itu! Sekarang ingin ia membunuhnya. Anak muda itu telah menjebak pasukannya sendiri. Dan sepatutnya di hukum. Maka ia kembali.

Mengurungkan niatnya menerobos ke utara. Ia pikir lebih baik bunuh pemuda itu terus menyerah. Apalagi setelah Dewi Murni, salah seorang kekasihnya, ikut mati dalam jebakan harimau.

Sementara itu Mas Ramad dan Sayu Wiwit makin mendekati pertahanan Singa Manjuruh di medan tempur sebelah selatan. Hati keduanya kian berdebar. Beberapa tempat yang dulunya adalah tempat persinggahan mereka tampak bo-sah-baseh. Kegelisahan mereka makin menggunung ketika berpapasan dengan rombongan orang- orang tua dan anak-anak yang menjatuhkan diri di kaki mereka dan menerangkan bahwa Jember, Candi Bang, Puger, serta Sentong telah jatuh ke tangan Belanda.

"Apa kata kalian? Bagaimana bisa Belanda datang begitu cepat?" teriak Mas Ramad heran. "Drubiksa!" mengumpat sambil menarik les kudanya. Dan kuda itu melompat bagai terbang mengejutkan Sayu Wiwit. "Kanda!"

"Demi Hyang Maha Dewa! Blambangan atau mati!" Mas Ramad dalam puncak kemarahannya. Sementara Sayu Wiwit termangu, suaminya telah hilang dari pandangan. Ditelan debu. Sadar. Ia segera menyusul. Tapi suaminya begitu cepat. Gerakannya seperti hantu. Bayang-bayang pun tiada....

Mas Ramad berpendapat bahwa apa yang telah direbutnya tidak boleh kembali jatuh ke tangan VOC. Pengalaman mengajar jika ia meninggalkan wilayah untuk diduduki VOC, maka di sana akan didirikan benteng yang kuat. Itu akan menyulitkan kedudukan Bayu. Ia tak ingin Bayu dikepung dari segala penjuru. Ia merasa perlu untuk berperang habis- habisan kali ini. Dan kala sampai di tempat pertahanan selatan ia disambut dengan tempik sorak yang gegap-gempita.

"Dirgahayu Blambangan! Demi Hyang Maha Dewa kita rebut kembali tiap jengkal tanah kita!"

"Dirgahayu! Dirgahayu! Demi Hyang Maha Dewa! Demi tanah yang suci! Menang atau mati!" mereka mengucapkan sesanti.

Singa Manjuruh segera mencegahnya. Tapi pemuda itu tertawa. "Saatnya tiba, Kakang! Ini untuk kali penghabisan. Menang atau menjadi budak!"

"Ya! Tapi ingat mereka datang seperti air bah."

"Aku ingin menjadi karang! Ya, karang! Jika kau mundur, laporkan kejadian ini ke Bayu. Dan titip istriku. Kau boleh

undur dari Bayu setelah melaporkan keadaan kita. Di selatan Lateng ada satu lembah yang aman untuk kauba-bat jadi pengungsian abadi. Biar aku akan menghalau sampai VOC tumpas tapis!” (kelak Singa Manjuruh mendirikan sebuah desa di daerah Banyuwangi yang diberi nama Singojuruh)

"Yang Mulia " Tapi pemuda itu tidak mendengarkan kelanjutan kata-kata Singa Manjuruh. "Hati-hati, Kakang! Jangan undur lewat jalan yang belum kaukenal benar! Kau akan tumpas di hutan apabila salah memilih jalan. Nah, selamat berbahagia dengan istrimu." Kembali pemuda itu berkata-kata dengan tanpa menoleh lagi.

Benar yang dilaporkan Singa Manjuruh. Barisan Kompeni datang seperti semut yang berjalan di atas sebuah batu besar jika di pandang dari kejauhan. Sekilas ia ingat akan Bhagavadgita." (Bhagavadgita sloka kedua pupuh 27)

jatasya hi dhruwo mrityur dhruvan janma mritasya cha tasmad apariharye rthe na tvam sochitum arhasi

artinya:

Barangsiapa lahir menyongsong kematian adalah keharusan Demikian pula, siapa mati pasti menghadapi kelahiran Semua-mua tak terelakkan

Dan tiada yang patut disedihkan.

Menggelegak darah Mas Ramad. Musnah segala keraguan.

Dengan diikuti oleh segenap laskar Blambangan ia menyongsong hujan peluru dari . pihak musuh. Pasukan berkuda di belakangnya..

Sekarang atau tidak sama sekali! Gebrakannya dengan gelar perang garuda nglayang (barisan jika dilihat dari udara seperti garuda terbang, bisa bergerak ke semua arah) ternyata mampu menghentikan hujan tembakan barisan pertama pasukan VOC. Ribuan pejalan kaki kini ikut menyerbu. Tanpa menghiraukan dentuman meriam yang mampu membuat mereka jadi kepingan-kepingan kecil.

Separuh kota Jember kembali jatuh ke tangan satria muda itu. Fischer terluka lengan kirinya. Kapten Heinrich marah bukan kepalang. Tapi ia tahu perang tak dapat dimenangkan hanya dengan kemarahan. Ia mencoba menjebak laskar Blambangan masuk ke tengah kota. Sementara ia akan mengepung dari semua penjuru. Memancing mereka masuk memang berhasil, tapi gelar yang dipakai oleh Mas Ramad garuda nglayang. Jadi begitu digempur mereka bergerak ke semua arah.

Dan memang beberapa kali laskar Mas Ramad mematahkan mata rantai kepungan lawan. Ia bergerak begitu lincah.

Menembak dari atas kudanya untuk kemudian hilang dan berpindah ke tempat lain. Teriakan-teriakannya menggelegar di telinga tiap orang Blambangan untuk terus maju mengusir Kompeni. Singa Manjuruh yang masih saja ikut bertempur di bagian selatan kota seperti tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Apakah tak melihat bayangan setan? Dan sorak gegap-gempita kembali mengguncang Jember kala semua Kompeni mundur. Tapi mereka terpecah ke tiga jurusan. Ke tenggara, atau ke jurusan Pangpang, ke utara atau ke jurusan Probolinggo, dan ke jurusan Puger.

"Dirgahayu! Dirgahayu Blambangan!" teriak semua orang. "Jangan lengah!" Mas Ramad memperingatkan.

Beberapa bentar kemudian Sayu Wiwit dan rombongan, termasuk Singa Manjuruh, menguak kerumunan manusia. Dan semua orang yang melihat kedatangannya langsung menyambutnya.

"Dirgahayu, Sri Ratu! Dirgahayu! Blambangan!"

Sayu Wiwit membalas mereka cuma dengan senyuman. Ia ingin segera bersua suaminya. Ingin ia memeluk dan mempersembahkan pujian bagi lelaki perkasa itu.

"Kanda!" teriaknya.

"Adinda!" Mas Ramad terkejut melihat Sayu Wiwit menyusul. Beruntung perang usai. "Ah, Kakang Singa Manjuruh. Kau belum pergi?" "Belum. Aku menyaksikan tandangmu." Singa Manjuruh maju sambil menepuk-nepuk bahu temannya.

Segera mereka menuju ke alun-alun, di mana laskar Blambangan menunggu. Dan teriakan, "Dirgahayu!" tetap saja mengguruh. Mas Ramad naik panggung dan menyampaikan perintah dari Sri Ratu. Kini ia memerintahkan pasukan berbagi menjadi tiga bagian untuk mengejar musuh. Sayu Wiwit terpaksa harus tinggal di Jember.

"Kanda..."

"Masa depan adalah milik kita, Dinda. Sekarang kita sedang merebut masa depan itu. Merebut dengan berperang," kata Mas Ramad menghibur.

Semua barisan Singa Manjuruh pun sudah berangkat. "Tapi..."

"Keberadaan kita di medan laga amat penting. Pemimpin yang dibutuhkan bukan yang cuma pandai memerintah. Juga bukan yang cuma tinggal di rumah sambil memanjakan istrinya yang cantik. Tapi yang mampu merebut masa depan dengan darah dan keringatnya sendiri. Ingat-ingat! Bukan dengan darah dan keringat orang lain." Mas Ramad memeluk dan mencium istrinya. Berat. Awan Jingga di langit sebelah barat kian meredup. Keduanya berdebar. Kelelawar dan kalong mulai bangun dari tidur. Dan melakukan kewajibannya dengan damai. Seolah tak terpengaruh oleh lingkungan yang porak-poranda itu.

Tapi kala burung hantu memperdengarkan suaranya, Ramad sempat berpaling ke arah suara itu. Entah mengapa hatinya sedikit berdesir Tapi ia segera membunuh angan-

angan atas burung hantu yang bermata bundar dan sadis.

"Ada apa, Kanda?" Sayu Wiwit mengikuti pandangan suaminya. "Ah, tidak apa-apa. Aku cuma memperhatikan beringin itu.

Lihat! Lambang kebesaran itu tumbang oleh meriam!"

"Kanda... itu lambang pengayoman. Jadi, jika pengayoman itu tumbang, siapa lagi yang akan mengayomi kawula?"

"Ha... ha... ha... cuma sebatang pohon yang tak bermakna.

Jangan pikir yang bukan-bukan!" Mas Ramad merangkul istrinya.

"Kanda..." Kembali suara Sayu Wiwit lirih.

Dan kembali hati Mas Ramad berdesir. Dan lagi, ia membunuh perasaan itu. Dan ia berbalik seraya katanya, "Laskar sudah menunggu!"

"Kanda...," Sayu Wiwit seperti tidak biasanya melakukan hal itu. Namun kuda Mas Ramad tetap saja melangkah. Makin lama makin cepat. Sayu Wiwit seperti terpatri di atas bumi.

Letusan-letusan kecil, suara hutan terbakar, disertai bau daging hangus menusuk hidung. Perasaan ganjil menelusuri hatinya. Dan ternyata firasat itu bukan kosong. Lebok Samirana telah berjumpa n. dengan Kapten Heinrich dan berjanji akan membantu Belanda asal dijamin keamanannya. Dan kala malam tiba, Lebok Samirana mulai bergerak memasuki Jember. Semua anak buahnya yang tersisa heran melihat perubahan sikap pimpinannya itu. Tapi mereka tidak membantah.

Kala tembakan meriam pertama dari Kompeni yang berjalan di belakang Lebok Samirana berdentum, Mas Ramad belum terlalu jauh meninggalkan Jember. Karena itu ia masih mendengar dengan jelas. Dan naluri memerintahkannya berhenti untuk mengadakan pengamatan buat beberapa saat. Dentuman pertama disusul rentetan tembakan bedil dan kanon. Kecurigaan menguak kalbunya. Mulutnya segera menurunkan perintah kembali dengan jajar perang.

Sementara itu Sayu Wiwit amat terkejut. Dengan segera ia tersadar. Sigap seperti belalang ia melompat ke atas kudanya. Dan kuda itu segera menguak kegelapan malam membawa penunggangnya pergi. Diikuti oleh ribuan laskar Blambangan, Sayu Wiwit menyongsong pasukan musuh. VOC tidak pernah mempunyai yudha gama, maka mereka tidak segan melakukan penyerangan malam hari. Tak ubahnya serigala yang sedang merampok calon mangsanya, kata Sayu Wiwit. Jika kita lakukan perang, bukan karena membalas dendam atau serakah. Tapi untuk mempertahankan hak dan melakukan kewajiban, lanjutnya sambil berkuda. Dan sekalipun laskar Blambang-I an sudah lelah, tapi mereka enggan mati konyol. Maka mereka mengikuti perintah Sayu Wiwit untuk mempertahankan tiap jengkal tanah kelahiran mereka.

Lebok Samirana tahu persis Blambangan telah lelah. Mereka harus ditekan dengan tembakan gencar. Namun malam itu ia tak berani menggunakan jajar perang tapal kuda, karena gerakan lewat hutan yang penuh jebakan akan sangat

* merugikan. Ia sudah tahu bahwa di tiap hutan dipasang jebakan. Bukan cuma untuk lawan. Tapi juga untuk siapa pun yang mencoba meninggalkan perang. Kekecewaan makin bertambah setelah Sayu Wiwit mendapat sebutan Sri Ratu dari orang-orang Jember dan sekitarnya. Ia tidak ingin mengakuinya sebagai Sri Ratu. Tidak! Ia merasa lebih banyak berjasa dari Sayu Wiwit.

Ternyata Sayu Wiwit dan anak buahnya mampu menahan gerak maju Kompeni dan laskar Lebok Samirana. Bersamaan dengan itu laskar Mas Ramad tiba kembali. Namun Mas Ramad bersikap hati-hati. Kegelapan akan membuat mereka saling hantam. Dan semua itu membuat hati Mas Ramad tidak menentu. Gelisah memikirkan nasib istrinya, gelisah menebak- nebak siasat yang digunakan lawan. Boleh jadi lawan belajar dari kekalahan Montro, boleh jadi lawan telah menyusupkan teliknya. Atau pengkhianatan? Bisa! Bisa jadi. Tiba-tiba saja ia ingat pada Lebok Samirana dan Cheng Sian Hauw. Dan ia menanyakan pada pengawal di dekatnya. "Lebok Samirana mengundurkan diri dari medan tempur dan menerobos hutan menuju ke daerah Probolinggo."

"Lebok Samirana?" "Hamba, Yang Mulia."

"Bagaimana dengan Shian Hauw?"

"Kemungkinan besar gugur. Sebab kala kami mundur, mereka makin maju. Tanpa memperhatikan hujan pelor. Bahkan sebagian dari kaum wanita mereka yang berkaki kecil itu, maju dan bertempur habis-habisan."

"Hyang Bathara! Keberanian yang tidak menyertakan akal ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Kita tunggu fajar. Tapi gelar yang kita pakai tentu harus lebih hati-hati." Mas Ramad menghela napas panjang.

"Apakah kita tidak terlambat Yang Mulia? Hamba pikir sekarang kita bisa merayap masuk untuk bergabung dengan Sri Ratu. Keselamatan Sri Ratu mengkhawatirkan."

Buat beberapa jenak Mas Ramad tercenung sebagai kelanjutan dari perasaan yang tersentak. Keselamatan Sri Ratu? Sayu Wiwit? Istrinya? Ya! Bukan itu lebih penting dari semua? Keraguan merambati hatinya. Perang bukan sekadar menyelamatkan nasib seorang istri. Tapi lebih besar dari itu. Mempertahankan kedaulatan suatu negeri. Bukan cuma Sri Ratu! Apalah artinya istri yang cantik jika kelak ia melihat bangsanya, kawula Blambangan, menyusul nasib bangsa Nusantara lainnya, menjadi budak! Berhamba! Hamba!

Menjadi manusia-manusia yang akan kehilangan kedaulatan. Dan mereka tidak akan bebas lagi mengutarakan pendapat atau berbuat sesuatu. Semua pendapat harus menyenangkan, dapat melanggengkan kekuasaan Yang Dipertuan Agung VOC. Karenanya sekalipun cuma pendapat harus disetujui dan diketahui oleh yang berkuasa. Bukankah begitu nasib suatu bangsa yang telah kehilangan kedaulatan? Lalu apa akal? "Sanggutru!" Mas Ramad akhirnya berkata pada pengawalnya.

"Hamba, Yang Mulia."

"Adakah keberanian di hatimu?" "Inilah hamba, Yang Mulia."

"Bagus! Kau masuk dengan separuh laskar kita. Pakailah gelar kepiting gangsir (jajar perang yang bergerak seperti barisan kepiting dan gangsir, merayap pelan-pelan, tapi tidak boleh mundur)"

"Hamba, Yang Mulia."

"Pergilah! Tapi, ingat! Tugasmu bukan sekadar menyelamatkan Sri Ratu. Tapi mempersiapkan serangan yang akan kupimpin esok fajar."

Orang itu menghilang setelah lebih dulu menyembah. Dan selanjutnya semua anak buah Mas Ramad yang tidak berkuda melata seperti barisan biawak, mendekati mangsanya, memasuki kota Jember. Mereka sudah sangat terlatih untuk itu. Makin lama makin dekat. Dan beberapa gugus sudah mencapai pertahanan Sayu Wiwit. Gembira wanita itu mendengar laporan bahwa Mas Ramad kembali ke Jember.

Maka ia menurunkan perintah hati-hati menembak. Karena bisa keliru. Di samping itu ia juga memerintahkan orang melapor pada Mas Ramad, ada laskar berdestar yang berperang buat Belanda.

Mas Ramad memang menahan diri untuk tidak menjumpai istrinya malam itu. Kendati kerinduan untuk memeluk wanita itu mengentak sukmanya. Mata tak terpejam. Pikiran melayang. Ah, nyamuk pun tiada sudi berdamai. Semua gambaran manis dan pahit berebut tempat di angannya. Maka ingatannya pun melayang pada Arok dan Umang. Kendati ia tahu istrinya tentu jauh lebih rupawan dari Umang. Namun Arok juga memerawani Umang di tengah hutan. Juga cuma berlapik sesobek kain cawat. Sayang, akhirnya Arok memperduakan cinta. Jatuh dalam pelukan Dedes. Ah, siapakah yang tak pernah dengar kisah itu? Bagaimana Arok tidak akan jatuh? Dedes begitu cerdas dan gilang-gemilang. Kulitnya begitu mulus. Sampai-sampai orang bilang bahwa tumitnya saja bisa dipakai bercermin. Pendek kata sampai sekarang pun belum ada wanita yang menyamai kesempurnaan Dedes. Begitu cantik tak bercela.

Fajar menyapu lamunan Ramad. Kendati kabut belum terusir. Sawah-sawah, dahan-dahan, jalan-jalan, semua masih berselimut kabut. Namun tembakan tetap tak berhenti sepanjang malam dan dinihari. Memang cuma satu-dua kali. Tidak gencar seperti kemarin. Dan mungkin tidak membawa korban. Tiba-tiba saja Mas Ramad menurunkan perintah untuk menembakkan meriam ke arah utara barat daya dan barat laut.

Bumi serasa bergetar kala gelegar menguak pagi. Semua pihak terkejut. Namun tembakan tidak cuma sekali. Pasukan cetbang sudah diperintahkan maju oleh Ramad. Ia ingin membakar musuhnya hidup-hidup. Geram menguasai hatinya. Di bawah hujan tembakan, cetbang didorong maju. "Bakar semua hutan!" perintah meluncur lagi.

Kini Kapten Heinrich terkejut. Rumput mulai terbakar. Maka ia putuskan untuk menggempur mereka habis-habisan.

Mentari merambat naik. Kuda Mas Ramad sudah siap.

Ramad juga sudah berdoa di atas punggung kudanya. Bedil di- tenteng di tangan kanannya. Satu ayunan tangan cukup menggerakkan orang-orang berkuda di belakangnya. Bagai air bah pasukan berkuda itu dengan beraninya masuk arena pertempuran. Bangkai-bangkai, pohon-pohon yang tumbang mereka langkahi, terus makin dekat. Sementara api yang ditimbulkan tembakan cetbang kian membakar semua dan segala. Kesempatan untuk mengisi peluru pada bedil yang baru terpakai kurang. Maka pedang, keris, tombak, panah, bandil dan lain-lain senjata tangan yang bicara. Mas Ramad bagai alap-alap yang bergerak ke segala arah. Mata tombaknya berlumuran darah. Dia tidak ingat, berapa sudah nyawa punah di ujung tombak itu. Sesekali ia gunakan tombak lempar.

Makin naik perjalanan mentari menyusuri cakrawala.

Keringat membasahi semua orang dan kuda. Semangat laskar Mas Ramad seperti makin meluap. Bergilir mereka mundur untuk menerima makanan. Begitu selesai mereka kembali ke garis depan. Korban tidak lagi terbilang. Dan kembali Heinrich menegur Lebok Samirana. Ia menuduh sengaja Lebok Samirana menjebak VOC untuk dihancurkan oleh Mas Ramad. Maka Lebok Samirana harus bertanggung jawab atas kerusakan pasukan Kompeni ini.

Sambil menarik mundur pasukannya, sedikit demi sedikit Heinrich mengatur siasat baru.

Sementara Lebok Samirana mencoba mendekati Ramad yang bergerak seperti bayangan setan.

"Yang Mulia!" panggilnya dari balik pohon. Telinga Ramad segera menangkap suara sahabatnya. Tidak ingat bahwa sahabat itu sudah menyeberang. Beberapa bentar ia menghentikan langkah kudanya. Mungkin saja sahabat itu terluka.

"Yang Mulia!" lagi Lebok Samirana yang dikawal oleh beberapa penembak ulung Kompeni Madura itu memanggil. Dan Mas Ramad benar-benar berhenti. Beberapa pengawalnya segera memperingatkan. Maka ia menyiapkan bedil. Pelan kuda mulai melangkah ke arah Lebok Samirana yang terkulai di bawah pohon. Namun sebuah letusan menyambutnya.

Peluru menerjang kepala kudanya. Dan kuda itu terjungkal setelah melonjak ke atas. Penumpangnya bergulingan di atas rumput. Berondongan peluru dari berbagai arah. Sebelum pengawalnya sempat melindungi, bahu dan dadanya telah terobek peluru. "Drubiksa!" Mas Ramad mengutuk. Berusaha bangkit. Namun kepalanya berkunang-kunang. Matanya nanar. Lebok Samirana tertawa berkepanjangan. Melihat Mas Ramad berkali tersungkur mencium bumi. Kini ia bangkit mendekat. Beribu sumpah-serapah dan ejekan keluar dari bibirnya. Ramad Surawijaya, Pangeran Puger, putra Wong Agung Wilis itu menahan hati sambil menggenggam senjatanya. Sementara para pengawalnya terpatri tanpa kata. Bagai kena pesona. Menyaksikan

Lebok Samarina dan beberapa orang bintara kulit putih dan hitam maju mendekat. Ramad melirik jantung Lebok Samarina.

Seolah mendapat kekuatan baru. Pemuda itu menggulingkan dirinya ke dekat kudanya, sambil membidik ke arah jantung Lebok Samirana. Meleset. Namun kepala orang itu yang tersasar. Tak ayal Lebok Samirana terpental dan tak bangun lagi. Semua orang berteriak kaget. Maka mereka melompat mundur sambil memberondong Mas Ramad.

Pemuda itu tak membalas.

Dagingnya memang telah tersayat-sayat peluru. Tapi darahnya belum tuntas. Pemandangan yang menyentak hati. Para pengawalnya segera mengangkat senjata dan membidik ke arah pengepung. Membuat semua bertumbangan. Mereka mendekati Pangeran Puger. Namun pemuda itu bangkit sambil tersenyum. Beberapa jenak. Terhuyung?

"Maju!!!" pemuda itu berseru dengan suara yang penghabisan. Untuk kemudian roboh tanpa nyawa. Kepala barisan pengawal berteriak. Balik menghampiri tubuh Ramad. Menaikkan ke atas punggung kudanya, kemudian diikuti anak buahnya berlari mencari Sri Ratu. Melintasi mayat dan bangkai lainnya. Menerobos peperangan dan peluru. Mangguruh, demikian nama kepala pengawal itu, dengan setia melindungi jenazah pimpinannya. Seolah melindungi bayi. Sayu Wiwit sedang sibuk menembak kala Mangguruh datang <lan mempersembahkan laporannya. Sebentar, dua bentar, tiga bentar, dan sampai beberapa bentar, Sayu Wiwit memandang tajam pada Mangguruh dengan tidak berkata-kata. Seolah tak percaya pada apa yang ia dengar. Mangguruh merasa serba salah. Sekalipun sempat ia mengagumi kecantikan Sri Ratu. Bagai patung pualam yang berdiri di hadapannya. Tapi kini ia lihat wanita itu terisak.

Bagai dibangunkan dari mimpi indah saja, Sayu Wiwit berkali mengusap wajahnya. Lesu ia naik ke atas punggung kuda seraya melambai pada Mangguruh.

"Letakkan sang Anumerta ke sini!" katanya sambil menunjuk pangkuannya. Dan dengan dibantu oleh seorang anak buahnya, Mangguruh mengerjakan perintah itu. Sempat ia melirik. Kini wajah itu beku tanpa makna. Berkali memandang punggung sang Anumerta. Berlubang-lubang seperti keranjang arang. Dan hampir seluruh tubuh berlubang. Sayu Wiwit menggertakkan gigi. Kemarahan mengatasi semua perhitungan dan ketakutan. Punah sudah pertimbangan dari kepala bening seorang brahmani. Kini matanya berapi.

"Mangguruh, undurlah kau! Sampaikan berita ini ke Bayu!

Ke Bayu!"

"Tapi... bukankah sebaiknya Yang Mulia saja? Hamba akan bertahan dan menggempur mereka..."

"Ini perintah, Mangguruh!" "Hamba, Yang Mulia." Lelaki berewok itu kini memutar kudanya. Diikuti oleh beberapa pengawal lainnya. Tapi mereka tidak segera pergi. Memang mereka hilang dari pandangan Sayu

Wiwit, tapi mereka justru menuju ke tempat persembunyian meriam dan kanon yang masih belum terpakai. Meriam rampasan dari benteng Steenberger. Kini mereka bebas mengintip setiap gerak Sayu Wiwit. Dan ternyatalah, bahwa setiap . kemarahan yang telah mengatasi semua dan segala -mampu melahirkan gelombang amuk yang luar biasa hebatnya. Sayu Wiwit telah terjun ke tengah kancah laga. Tindakan ini diikuti oleh beribu-ribu orang. Heinrich terkejut bukan kepalang. Orang Blambangan menyerbu bagai air bah. Mati satu datang seribu. Sungguh tidak pernah dilihatnya pemandangan yang seperti ini sebelumnya. Mereka tidak lagi memperhatikan pelor musuh. Juga hantaman peluru meriam yang membuat mereka menjadi kepingan-kepingan daging kecil-kecil. Selama Sayu Wiwit masih tegar di atas punggung kudanya, ke mana pun ia bergerak, diikuti ribuan orang yang mengamuk seperti pemimpinnya itu. Semua bangunan rata oleh tanah. Semua pepohonan punah dimakan api.

Mangguruh tidak bisa lagi menahan hati. Ia perintahkan anak buahnya juga menembakkan meriam ke arah kedudukan VOC. Apalagi setelah dilihatnya Sayu Wiwit gontai. Mungkin tersasar pelor. Saat wanita itu menoleh bahu kirinya.

Mengucurkan darah. Kondenya lepas. Rambutnya terurai menutup punggungnya. Jenazah Mas Ramad masih saja di pangkuan. Seperti lekat. Pedang Sayu Wiwit basah oleh cairan berwarna merah. Pelornya sudah habis. Tapi semangatnya tidak pernah habis. Dan ia maju lagi. Membunuh lagi. Dan lagi... pelor merobek kulit pahanya. Tapi ia berusaha untuk tidak jatuh dari punggung kuda.

Amuk membuat ia lepas dari pengawalan. Menerobos masuk ke tengah barisan musuh. Kini dalam kepungan Kapten Marhaelu, seorang Negro. Dan betapa kaget kapten itu melihat wanita telanjang dada di atas kuda dengan pedang di tangan. Ia terbahak melecehkan. Namun beberapa saat pikirannya berubah. Bukankah lebih baik jika wanita cantik ini ditangkap hidup-hidup dan dibawa pulang ke negeri asalnya untuk diperistri? Tentu tidak ada bandingnya. Semua orang akan mengaguminya. Betapa bahagianya punya istri secantik ini. Luka-luka itu masih bisa diobati. Maka ia memberi isyarat untuk mengepung wanita itu rapat-rapat. Sayu Wiwit tetap tidak gentar. Matanya menatap dingin, pedang tetap ia genggam erat-erat. Sebentar ia pandang suaminya tercinta. "Kita akan sama-sama mati, Suamiku," bisiknya. "Demi Hyang Maha Dewa, demi Blambangan yang suci dan demi cinta kita berdua... kita akan punah." Kepungan makin dekat, darah pun makin terkuras. Keringat dingin menambah pedihnya luka. Sayu Wiwit mengerti benar tiap langkah pengepungnya disertai dewa maut yang menjemput nyawanya. Ia tunggu mereka makin dekat. Dan matanya tertuju pada kapten negro itu.

Setelah itu ia mulai menyentuhkan tumit pada perut kudanya. Kuda yang setia itu seakan mengerti kehendak tuannya. Melompat maju seperti angin. Marhaelu berteriak kaget, namun terlambat. Pedang Sayu Wiwit membabat lehernya. Tak sempat membalas. Roboh seperti pohon pisang ditebang. Sayu Wiwit kemudian merapatkan tubuhnya pada mayat suaminya. Berondong- fc an peluru lewat di atas punggungnya. Kudanya terus melesat.

Heinrich marah bukan main mendengar laporan itu. Ia kerahkan penembak-penembak jitu. Kuda Sayu Wiwit diberondong, namun masih saja berlari. Seperti punya kekuatan gaib. Sayu Wiwit masih saja menyebar maut sambil merangkul tubuh suaminya. Sebuah lagi pelor menyerempet punggungnya. Tiada henti. Mangguruh hampir tak percaya melihat akhir perjalanan hidup Sayu Wiwit itu. Sebuah peluru meriam meledak tepat di depannya. Tak ampun, kuda dan penumpangnya terpental ke udara. Kemudian jatuh kembali menjadi serpihan-serpihan kecil. Mangguruh segera sadar, bahwa ia harus menarik mundur sisa laskar itu.