Gema Di Ufuk Timur Bab 12 : Derwana dan Indrawana

Bab 12 : Derwana dan Indrawana

Sesungguhnya Indrawana bukan merupakan belantara yang sukar ditembus. Sedangkan Derwana merupakan daerah pegunungan di lereng Gunung Merapi di atas lembah Indrawana. Digambarkan sebagai hutan milik dewa-dewa, karena di dalam hutan itu banyak bunga-bunga yang tumbuh. Seolah tamansari yang dibikin manusia. Memang Hutan Indrawana dan Derwana pernah menjadi tempat tinggal Macan Putih, leluhur raja-raja Blambangan serta pengikutnya di masa sulit. Suatu daerah yang memang sukar dijangkau, karena letaknya di antara dua gunung yang seolah saling berebut tinggi.

Melalui jalan setapak yang melelahkan, orang-orang Pangpang, Lateng, Wijenan, dan beberapa kota Blambangan lainnya berbondong menuju hutan ini. Bahkan sebelum sampai di lembah itu mereka juga sempat melewati tebing terjal yang membahayakan. Penuh padas dan karang.

Pasukan Bayu telah lebih dulu membangun jalan untuk mereka, kendati cuma jalan setapak. Namun demikian kuda- kuda beban yang terlatih di Raung, mampu menolong mereka mengangkut bahan makanan yang disediakan oleh Mas Ayu Tunjung sebagai Menteri Cadangan Negara.

Semua yang awal adalah sulit. Mereka harus berhadapan dengan pohon sonokembang raksasa yang jumlahnya cukup banyak. Namun Jagalara, memimpin mereka dengari tidak kenal lelah. Sehingga dengan demikian pada waktu rombongan orang Pangpang yang pertama tiba di tempat itu, sudah ada rumah-rumah baru yang sengaja disediakan untuk mereka.

Bekas rumah tembok Macan Putih masih berdiri dengan kokoh. Tapi semak belukar mengurungnya. Akar-akaran juga menutup gedung itu dari pandangan. Seperti kota terhilang yang ditemukan kembali. Juga beberapa rumah gedung yang diperkirakan bekas tempat tinggal para satria pengikut Macan putih. Derwana dengan cepat berubah menjadi kota lagi. Beberapa rumah harus dipugar kembali memang. Terutama atapnya. Bekas perairan ditelusuri lagi. Ternyata airnya masih mengalir dengan baik. Mereka membersihkan rumput-rumput yang menumbuhi kiri-kanan perairan itu. Sungai-sungai kecil yang mengalir ke bawah, terus ke lembah Indrawana. Mas Ayu Prabu yang juga hadir bersama kakaknya, Sratdadi, berkali-kali memberikan pesan agar hutan tidak dibakar.

Sebab hal itu akan nampak dari jauh jika malam tiba. Ratusan, bahkan kini telah menjadi ribuan orang datang. Tiap hari bertambah. Sawah sudah mulai dibuka dan ditanami.

Meskipun sebahagian masih membabat. Sebagian orang lagi ditugaskan memperbaiki pagar yang mengurung Derwana dan Indrawana. Batu tidak sukar didapat.

Ilalang juga dimanfaatkan untuk atap rumah-rumah.

Sehingga tidak perlu dibakar. Kayu di samping dipergunakan sebagai tiang, dipersiapkan juga sebagai kayu bakar. Mas Ayu dan Sratdadi merasa bangga. Bagaimanapun berdirinya Derwana dan Indrawana adalah hasil karya mereka.

"Sudah waktunya kita kembali ke pekerjaan kita masing- masing. Aku pikir Jagalara cukup mampu memimpin mereka semua sambil menunggu Rempek bersedia meninggalkan Pakis," Sratdadi menerangkan pada Ayu Prabu. "Sekarang kau punya tugas berat. Memaksa Rempek meninggalkan Pakis.

Dan ia harus bergabung dengan Bayu. Mengakui Wilis sebagai junjungannya."

"Apakah hamba mampu? Bukankah Kakang lebih berwibawa atasnya?"

"Untuk sementara aku harus jadi Rsi Ropo lagi. Sampai semua orang bangun dari tidur dan melawan VOC. Senjata seorang Brahmana adalah kata-kata. Nah, marilah kita turun dari sini. Lebih banyak lagi orang kota pindah ke Songgon, Derwana, dan Indrawana, makin baik. Jika perlu mereka kita bawa ke Bayu." Setelah memberi petunjuk-petunjuk pada Jagalara, keduanya meninggalkan Derwana dan Indrawana. Sebentar- sebentar mereka menoleh. Persemaian sudah dibuat orang dan nampak menghijau. Di ladang juga mulai tumbuh jagung, kacang, kecipir, bayam Keduanya percaya, daerah-daerah

yang mereka tempati adalah daerah yang jauh lebih subur dari kota.

Apa sebab yang mendorong kawula Blambangan tertarik?

Janji damai sejahtera tidak ada perang? Jika janji itu yang mereka buru, maka mereka tak perlu susah-susah meninggalkan rumah dan huma mereka. Hampir setiap hari itu sudah didapat dari pembantu-pembantu Jaksanegara. Para narapraja dan punggawa dalam kawalan Kompeni hitam selalu meneriaki penduduk untuk tidak meninggalkan rumah dan humanya. Karena, itu akan menjadikan Pangpang atau kota- kota lain hutan kembali. Kawula tidak menggubris semua seruan itu. Bahkan yang terakhir ini ada ancanam berat, bagi mereka yang tertangkap meninggalkan rumah dan humanya, akan dihukum berat. Memang sementara mengendorkan arus pelarian penduduk kota. Sementara berhasil.

Namun demikian berita ditangkapnya Rsi Ropo, dan ternyata dengan cara yang tidak jelas rsi itu sudah muncul kembali di desa Songgon, membuat kepercayaan kawula Blambangan pada Setiap ucapan Rsi Ropo kian menjadi-jadi. Bahkan boleh dikatakan orang secara buta, artinya tidak lagi berpikir masuk akal atau tidak, mereka tetap percaya. Apa pun yang dikatakan oleh para narapraja dan para bekel atau para pamong desa mereka, bahwa rsi itu penipu, penghasut, dan lain sebagainya hampir-hampir tidak berarti. Karena tiap orang yang pernah berkunjung ke SCnggon .akan pulang dengan membawa cerita kesuburan tanah di Songgon. Tidak pernah mengalami kegagalan dalam panen. Tidak ada hama. Tidak melihat pasukan asing yang setiap kali menggeledah rumah- rumah dengan alasan yang tidak jelas. Tidak pernah melihat perondaan di sawah dan ladang mereka. Lebih dari itu hati mereka tidak perlu setiap hari menjadi waswas jika istri mereka pergi ke kedai bersua dengan pasukan asing yang memang senang jalan-jalan diwaktu senggang, dan dicolek atau dicubit pinggulnya. Melihat itu mereka tidak boleh mengeluh. Tidak boleh sakit. Sambil memejam mereka mengumpat dalam hati. Cuma dalam hati.

Pasukan pendudukan yang janjinya melindungi kawula tidak bisa menjadi tempat mengadu. . Pernah seorang penduduk Lateng melapor dengan disertai oleh bekelnya ke benteng karena pencurian yang makin menjadi-jadi. Ia sendiri semalam kehilangan dua ekor kambing.

"Bagaimana kambing bisa hilang?" Letnan Schaar membentak "Aku komandan benteng! Tidak mengurusi kambing hilang!"

Orang itu menjadi ketakutan.

"Dan kambing kan punya kaki. Kalau ia tidak mau dicuri ia tidak akan mau jalan. Dan akan teriak-teriak membangunkan kalian. Apa kalian tidur nyenyak semalam? Malas bangun!"

"Tidak, Tuan. Kami bangun, tapi tidak berani menangkap pencuri itu "

"Goblok! Dengan pencuri saja takut? Kepada Kompeni kalian melawan. Bikin penjagaan. Tangkap itu pencuri. Bawa kemari!"

"Tapi " bekel memberi tahu.

"Tidak ada tetapi! Ini perintah Komandan Benteng. Pergi!"

Sepulang dari benteng bekel segera mengumpulkan penduduknya. "Kita telah mendapat izin menangkap pencuri itu. Sekarang kita pasang jebakan. Nanti malam setiap lelaki jangan ada yang tidur. Kita akan tangkap tiap pencuri ternak kita!" "Bagaimana mungkin? Kita kan tahu siapa pencurinya.

Mereka bersenjata api...," salah seorang penduduk berkeberatan.

"Kita bersembunyi di balik semak atau pagar rumah kita.

Lalu kita keroyok dia di depan kandang. Setelah itu kita giring ramai-ramai ke benteng."

"Setuju-setuju!" ramai-ramai mereka berseru. Yang tidak setuju terpaksa harus diam. Berani dan tidak selalu ada di tiap kerumunan orang. Namun demikian rencana tetap dijalankan.

Malam masih muda kala dua orang yang dicurigai oleh penduduk desa Sampil Lateng masuk. Dan seperti yang sudah diperkirakan keduanya langsung mendatangi sebuah kandang.

Lima ekor ayam dimasukan ke dalam sarung. Setelah itu mereka melangkah ke kandang lainnya. Namun sial, baru beberapa langkah mereka meninggalkan kandang itu, mereka terjerembab jatuh dengan tanpa sesadar mereka, tubuh keduanya terangkat keatas pohon dengan kaki di bawah.

Mereka mengumpat dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh orang-orang Blambangan. Ternyata dua buah tali yang dipasang dengan begitu rupa menjerat kaki mereka, dan mereka tertarik ke atas. Karena tali itu memang disampirkan di atas dahan. Bedil dua pencuri itu terjatuh berikut 'ayam yang terkurung dalam sarung mereka. Suara berkeok-keok riuh terjadi, namun ayam tetap tidak bisa lari ke luar.

Terkurung dalam sarung.

"Bajingan! Kalian akan kami bunuh!" Maling itu menakut- nakuti kala beberapa orang muncul dari tempat persembunyian mereka. Tapi penduduk tertawa riang melihat mereka marah tanpa daya dan berputar seperti baling-baling. Beberapa pentungan mulai mengenai tubuh mereka.

"Aduh!!! Ampun!!!" seorang di antara mereka ternyata bisa bahasa Blambangan. "Serahkan tanganmu untuk kami ikat!" bekel desa itu berkata. "Baru kami hentikan pentungan ini."

Setelah berunding dengan temannya sebentar ia menyerah. Dan setelah keduanya terikat maka mereka diturunkan. Darah mulai mengucur dari kulit yang sobek karena pentungan.

"Nah, walau tangan kalian terikat, kalian masih bisa memikul hasil curian kalian. Sekarang jalan!"

"Ke mana?"

"Menghadap Tuan Schaar. Biar dia tahu siapa pencurinya." "Jangan! Kami bisa dihukum. Ampuni kami. Kami tidak

akan ulangi lagi."

"Tidak peduli! Ayo jalan! Atau kau mau menerima hukum orang Blambangan? Diiris sedikit demi sedikit dan di lukamu kami sirami dengan air asam dan garam?" ancam bekel.

Orang-orang berseru senang. Lupa siapa yang mereka hadapi.

"Aduh!!! Jangan lakukan itu! Ampuni kami!"

"Jika demikian jalan! Biar komandanmu tahu, pasukan yang katanya menjaga ketenteraman kami sebenarnya adalah penjahat!"

Mau tidak mau kedua orang itu mengerjakan perintah bekel. Sepanjang jalan dua orang itu diharuskan meneriakkan kata-kata "Aku pencuri! Aku pencuri!" Dan orang-orang, besar-kecil, beramai-ramai menggiringnya ke Benteng.

Schaar amat terkejut mendengar laporan bahwa ada rombongan penduduk mendatangi benteng sambil membawa pencuri. Ia segera keluar ke gerbang benteng. Dan betapa terkejut ketika masih di tempat yang agak tinggi melihat dua orang Kompeni asal pribumi Sidayu diikat kedua tangannya ke depan dan senjata mereka dikalungkan di leher mereka. Dan prajurit itu tetap saja berteriak-teriak, "Aku pencuri! Aku pencuri!"

Kotek ayam yang terbungkus sarung terdengar jelas. "Diam!" Schaar berteriak keras sekali. Semua orang diam. "Apa yang tejah terjadi?"

"Tuan dengar sendiri mereka bicara?" bekel balik bertanya. Membuat muka Schaar menjadi makin merah di bawah sinar obor.

"Bawa sini orang itu!"

Bekel memerintahkan keduanya berjalan menghadap Schaar. Setelah dekat Schaar memerintahkan seorang pengawal menggiring mereka masuk benteng. Kemudian tidak diduga oleh bekel sebelumnya, Schaar dengan muka merah membentak mereka.

"Kalian memfitnah kami! Kalian wajib menerima hukuman!" Orang itu maju. Lebih tak terduga lagi Schaar melayangkan tinjunya ke muka bekel dengan keras sekali. Bekel terpelanting jatuh seperti pohon pisang ditebang. Pengikutnya berteriak. Tapi kala akan maju menolong sebuah letusan membuat mereka terbirit-birit seperti barisan tikus sawah yang bertemu anjing.

Kejadian itu pun telah mendorong banyak kawula Lateng berbondong ke Songgon, Derwana, dan Indrawana. Itu sebabnya kerinduan pada Wong Agung Wilis kian menjadi tembang sehari-hari di mulut tiap orang di huma-huma dan di rumah-rumah.

Namun baru satu minggu Schaar berusaha menutup aib pasukannya, satu kejadian baru mengejutkannya. Seorang prajurit yang bertugas bersama lima orang di pos selatan kota Lateng didatangi seorang wanita muda yang mengaku bernama Sayu Wiwit. "Ceritakan kenapa dengan wanita itu. Maka kau malam- malam membangunkan aku!"

Prajurit itu mulai bercerita. Kala mereka akan menyembelih kambing yang mereka temukan di pinggir jalan, tiba-tiba muncul seorang gadis pribumi yang berkulit kuning langsat.

Lesung pipit menghias pipinya kala tersenyum. Telanjang dada seperti umumnya wanita Blambangan, namun mengenakan kalung dan kutang emas. Berambut panjang tidak disanggul.

Keris kecil terselip pada sabuk emas yang melilit pinggangnya. Keris itu menutup pusar.

"Selamat malam, Tuan-tuan," suara gadis itu merdu.

Kepala regu yang berkumis bapang mendekati gadis yang menyapa mereka.

"Dari mana kambing itu, Tuan?" lagi gadis itu bertanya. "Tidak usah tanya dari mana. Kita sate dan kau

menemaniku makan dan tidur? Hah, bagus malam-malam

begini ditemani gadis secantik kamu."

"Hentikan langkahmu itu!" Tiba-tiba saja tangan gadis itu terangkat dan sebuah bedil teracung ke dada kepala regu. Ketika anak buahnya hendak bergerak ternyata dari kiri-kanan gardu muncul dua orang bersenjata bedil dan terarah pada mereka.

"Nah, ambil semua senjata mereka!" perintah gadis itu. Seorang dari mereka melakukannya. Dan kembali gadis itu berkicau.

"Ikat kaki dan tangan mereka bergandengan satu dengan lainnya!" Kembali seorang melakukannya. Kaki para penjaga digandengkan satu dengan lainnya. Sehingga tidak memungkinkan mereka berjalan. Dan kepada kepala regu itu bertanya lagi.

"Sekarang jawab! Dari mana kambing itu?" "Eh... benar, Nona, kami menemukan di..." "Baik!" Gadis itu mencabut pedang seorang pengawal. "Aku ingin tahu, tajam atau tidak pedang Kompeni." Ia menggoreskan pedang itu ke lengan kepala regu.

"Ampun... ampun...," kepala regu berteriak. "Suaramu lebih keras dari hatimu!" ejek gadis itu.

Tangannya yang halus ia celupkan di suatu cairan dalam batok

yang dibawakan oleh temannya. Setelah itu memuncratkan air itu ke lengan kepala regu. Dan dengan gemetar kepala regu itu berteriak kesakitan.

"Sakit?"

"Ampun... sakitnya "

"Nah. Katakan! Dari mana kauambil kambing itu?" "Anu... kami tidak ambil kambing itu, Nona. Tapi "

'Tapi apa?" suaranya kini dingin. Sedingin itu pula pedang di tangannya menggores pelipis kepala regu. Disusul oleh tangannya yang lain menumpahkan air asam dan garam ke pelipis yang robek itu.

"Woouuw ampun."

"Baik, katakan."

"Kebetulan kami lewat di sebuah kandang, Kopral Gitul menemukan tali itu, Nona. Tapi setelah tali itu diambil kambing sial itu keluar kandang dan mengikut kami. Jadi...

kami tidak curi."

Gadis itu mendengus. "Kami cuma ambil tali "

"Berapa kali kamu ambil tali macam itu?" tetap saja dingin suaranya.

"Baru " "Bibirmu perlu dipotong barangkali!" bibir mungil gadis itu mengancam. Dan kala ia mendekat, kepala regu berteriak- teriak lagi. Tapi gadis itu tak berhenti.

"Jika kau banyak bergerak maka mulutmu akan robek!"

Kepala regu kini menyerah. Ternyata kumisnya yang bapang dikerok bahagian tengah. Tinggal pinggir-pinggirnya saja. Kini gadis itu tersenyum. "Kau tidak punya istri maka kau mau ajak aku tidur." Kini ia memerintahkan kedua temannya untuk membuka topi semua anggota regu. Dan diperintahkannya untuk digundul separuh batok kepalanya.

Dan gadis itu terkikik-kikik karena geli. "Siapa yang bernama Gitul?"

"Aku...," seorang menjawab dengan gemetar. Gadis itu mendekat.

"Kau juga seorang pemberani. Mana tanganmu yang mengambil tali itu? Sebelah kanan ini?"

Gitul mengangguk. Jawaban yang membawa sial. Karena seirama dengan anggukannya, gadis itu mengayunkan pedangnya. Dan terbabatlah lengannya sebelah kanan. Jeritan melengking keluar dari mulut Gitul.

"Mulai sekarang, kesewenang-wenangan Kompeni di Blambangan akan kami balas!" kembali mulut mungil gadis itu bersuara.

Kemudian kepada seorang temannya ia perintahkan melepaskan salah seorang. Dan kepada yang dilepas ia berkata,

"Kembalikan kambing itu ke kandangnya! Dan minta maaf pada yang empunya. Setelah itu pergi menghadap Schaar dan ceritakan semua yang kaualami. Sayu Wiwit telah datang untuk menghukum!" Schaar mendengar laporan itu jadi marah luar biasa.

Dengan pasukan berkuda ia datang ke gardu penjagaan di selatan kota. Tapi gadis itu sudah tidak ada. Yang menyambutnya cuma rombongan anjing yang menyalak- nyalak menjaga para pengawal. Dan begitu pasukan Schaar datang anjing-anjing itu menyelinap ke dalam kegelapan.

Bukan cuma sekali Sayu Wiwit datang dan melakukan tindakan yang dianggap keji oleh Schaar. Sebagai akibat, pasukan jaga tidak lagi cuma lima. Tapi jumlahnya ditambah menjadi dua puluh. Bila di siang hari ada peristiwa yang merugikan kawula maka malam harinya Sayu Wiwit pasti datang dan melakukan pembalasan.

Anehnya, pasti bisa lolos jika dikejar oleh Kompeni. Tapi ternyata nama Sayu Wiwit juga menghantui beberapa kota lainnya termasuk Pangpang. Dan kini setiap bibir menceritakan nama itu.

Schaar berusaha menjebak Sayu Wiwit. Kejengkelannya sudah memuncak. Kompeni direpotkan hanya oleh seorang wanita.

0oo0

Berita-berita tentang Wilis dan Sayu Wiwit yang kian berkembang di hampir seluruh penjuru Blambangan membuat Rempek bergesa ke Songgon. Nama Sayu Wiwit yang bergema berdampingan dengan nama Wilis membuatnya iri. Padahal ia sebagai satria belum pernah berdampingan dengan Wilis. Sekalipun cuma nama. Berkali ia mengunjungi Songgon tapi Rsi sering tidak ada di tempat. Mengundang tanya dalam hatinya. Apakah karena Rsi sakit hati maka tak mau menerimanya. Atau barangkali saja Rsi curiga karena ia yang membawa Jaksanegara ke Songgon sehingga membuat Rsi ditangkap beberapa waktu lalu. Kunjungan ini yang ke delapan sejak Rsi ditangkap. Dalam hati ia berdoa agar Rsi memaafkannya.

Dan kali ini doanya dijawab oleh Hyang Maha Dewa. Rsi menerimanya secara pribadi di ruangan dalam.

"Ampuni hamba, Yang Tersuci. Bukan maksud hamba menyerahkan Yang tersuci pada Belanda. Tapi..."

"Tidak apa, Yang Mulia. Hamba sudah dengar bahwa Yang Mulia berusaha memberi tahu pada hamba sehari sebelum hamba ditangkap. Jadi hamba tahu niat Yang Mulia."

"Terima kasih, Yang Tersuci. Hamba tidak Ingin nama hamba rusak karena peristiwa itu."

Rsi Ropo tertawa mendengar itu. Kemudian berkata lirih seperti pada diri sendiri.

"Banyak orang ingin mempertahankan nama. Seolah mereka sudah memiliki nama baik. Ah... memang menjaga nama bukan pekerjaan mudah." Rsi Ropo diam. Hening.

Rempek terperanjat mendengar ucapan itu. Ia ingin namanya tidak rusak. Ah, apakah aku sudah punya nama maka aku berkata seperti itu? Aku belum punya nama. Kalah dengan Sayu Wiwit. Kendatipun ia cuma seorang wanita.

"Kenapa Yang Mulia bermenung?" Rsi bertanya.

"Oh, hamba merenungkan ucapan Yang Tersuci. Ternyata hamba belum punya nama. Jadi Jiamba tak perlu khawatir nama hamba rusak. Karena memang tak akan ada yang rusak."

"Banyak orang memang berpikir seperti itu. Tapi apakah artinya itu untuk hidup. Sebenarnyar lah memberikan arti bagi hidup adalah lebih penting dari nama itu sendiri. Banyak orang yang memiliki nama terkenal di mana-mana. Tak kurang- kurang orang menjadi terkenal karena hidupnya sarat dengan kegatalan. Begitu saratnya sehingga harus dielus oleh orang banyak untuk menghapus kegatalannya. Apakah ia pria atau wanita. Sama saja." "Hyang Bathara!"

"Makna diri tidak bisa didapat dari memamerkan kejantanan yang merflbuat banyak wanita jatuh ke dalam pelukan, atau sebaliknya mempertontonkan keperempuanan. Orang seperti mereka akan mendapat nama juga. Tapi tanpa makna diri. Pada pokoknya makna diri hanya dapat diperoleh jika kita mempersembahkan darma dan karya kita buat manusia dan kemanusiaan. Kepada hidup dan kehidupan."

"Hyang Bathara!" Rempek kembali menyebut. Hatinya bergetar hebat. Ia makin menyadari bahwa dirinya adalah manusia tanpa makna.

Kini Rsi berdiri dan melambaikan tangan mengajak Rempek berjalan-jalan. Keluar dari ruangan menghirup udara segar di sela pohon-pohon nyiur.

"Kenikmatan adalah jerat, kemesraan adalah lubang yang dalam. Ketidakberdayaan adalah jebakan kesia-siaan yang membawa kita pada, ketiadaan makna diri," lanjut Rsi sambil berjalan dengan kedua tangan diletakkan di belakang pantat.

"Apakah setiap orang dapat memberi arti bagi hidupnya?" "Siapa yang tak dapat mengisi hidupnya dengan arti hidup,

maka ia sudah mati dalam hidupnya. Ia hidup dalam kenihilan." Rsi Ropo tersenyum dan memandang wajah Rempek.

"Mati dalam hidupnya?" "Ya. Mati dalam hidupnya?"

"Manusia memiliki kemampuan terbatas. Maka ia hanya akan bergerak dan menjangkau sebatas kemampuannya."

"Manusia akan menjangkau apa saja yang ia inginkan jika ia memiliki kehendak yang kuat untuk itu. Kehendak memang menentukan, sebab itu suatu cita. Kita harus mengimbangi kehendak dengan keberanian. Cita dan karsa bisa terwujud jika kehendak menyatu dengan tekad serta keberanian, didukung kekuatan lahir-batin yang sempurna. Sebab dalam tubuh yang sakit terdapat jiwa yang sakit pula."

"Bukankah semua ini ada batasnya?"

"Kita memang memiliki batas. Kodratnya kita harus mati. Tapi banyak orang yang tak pernah mengenal mati dalam hidupnya. Ada orang mati dalam hidupnya, tapi juga ada yang hidup sekalipun ia sudah mati. Untung Surapati, akan tetap hidup dalam matinya. Lain halnya dengan Yang Mulia Rahminten. Mati dalam hidupnya. Karena ia memburu impian dunia. Ia ingin membangun kembali kebesaran Tawang Alun dengan damai? Aha... tidak ada kebesaran yang didapat dengan damai. Apa akibatnya? Barangkali .Yang Mulia sendiri belum tahu, bahwa beliau sekarang ada dalam pelukan Jaksanegara dan tidak pernah lagi pulang ke Pakis?"

"Yang Tersuci..."

"Tidak perlu gusar. Beliau sudah memilih jalannya sendiri dengan pertimbangan yang dalam pula. Yang penting bagaimana dengan diri Yang Mulia sendiri? Memilih..."

"Hamba ingin bergabung dengan Yang Mulia Wong Agung Wilis dan Sayu Wiwit," potong Rempek tidak sabar. "Hamba juga ingin memberi arti bagi hidup hamba."

"Jagat pramudita... apakah sudah dipertimbangkan?" "Sudah, Yang Mulia. Hamba tahu Wong Agung Wilis pernah

berkunjung kemari. Sedang Sayu Wiwit juga hamba jumpai di

sini dan pernah menjadi utusan Yang Tersuci mengantar senjata pada kami. Nah, hamba percaya, Yang Tersuci juga tidak keberatan menerima kami seperti menerima Sayu Wiwit."

Ropo diam sejenak. Seperti sedang memikirkan sesuatu.

Tak lama kemudian, "Jika ingin seperti mereka, maka ada syarat mutlak yang harus dipenuhi. Tinggalkan Pakis dan menempati daerah baru."

"Hamba bersedia." "Baik, kita berdoa."

Kemudian keduanya menuju pura. Dan Rempek mengucapkan sumpah di hadapan Hyang Durga. Setia pada negeri dan rela mati. Setelah keluar maka Ropo memerintahkan seorang cantrik menyiapkan kudanya.

Sementara Rempek sendiri menyiapkan kudanya, Ropo menghilang di dalam biliknya. Begitu Rempek sudah mendapatkan kudanya dan hendak menyusul Rsi Ropo, seorang muda berpakaian seorang satria Blambangan duduk di atas sebuah kuda.

"Mari Yang Mulia, ikuti hamba!" Pemuda yang pernah dikenalnya dengan nama Wong Agung Wilis itu memerintah.

"Ke mana?" tanya Rempek.

"Hamba akan pertemukan Yang Mulia dengan junjungan Blambangan yang menguasai hampir dua pertiga bumi semenanjung ini. Wilis di Benteng Bayu. Setelah itu, Yang Mulia akan kami tempatkan di Derwana. Yang Mulia sebagai kepala pemerintahan di Derwana dengan patih seorang yang bernama Jagalara. Ia sudah lama menunggu di sana. Nah, ingat, pengkhianatan berarti tumbangnya kepala Yang Mulia. Yang Mulia telah bersumpah."

Sebelum Rempek sempat bertanya kuda Mas Sratdadi sudah melangkah. Dan makin cepat melesat seperti anak panah. Debu mengepul mengikuti jejak mereka.

Tidak pernah terbayang oleh Rempek bahwa ia harus memacu kudanya begitu cepat. Ia sendiri merasa sudah paling tangkas di Pakis. Namun kini ia melihat, pemuda yang tidak kekar badannya, mampu mengatasinya. Hatinya berdebar kala Mas Sratdadi mengajaknya melompati jurang-jurang, menapaki tebing-tebing dengan tanpa turun dari kuda. Kini menaiki gunung tinggi dengan hawa yang dingin. Dan kala sudah akan memasuki perkubuan Bayu, keheranannya makin memuncak. Sawah menguning begitu luas dan bertingkat tingkat dari yang paling bawah ke atas. Musim panen tiba.

Para petani berdendang riang berbagi suka dalam tembang yang bersaut-sautan. I Wilis baru bisa menemui Mas Rempek pada malam hari. Betapapun Rempek jadi seperti orang linglung. Karena sudah ada pemberitahuan dari Mas Sratdadi sebelumnya, maka Wilis sudah tahu untuk apa Rempek dihadapkan.

"Waktunya sudah tiba, Yang Mulia bilang tidak kepada mereka," Wilis sebagai junjungan di Bayu menerangkan.

"Hamba, Yang Mulia." Dalam hati Rempek timbul tanda tanya siapa yang bersamanya tadi. Kalau sekarang ada Wilis yang bertahta di Bayu?

"Besok pagi Yang Mulia boleh melihat di Derwana dan Indrawana. Yang Mulia akan berkedudukan di sana. Tapi Yang Mulia harus kembali ke Pangpang dan Pakis untuk membawa serta seluruh kawula Blambangan yang ingin melepaskan diri dari injakan kaki si Bule. Mengutamakan kepentingan manusia yang lebih banyak dan mengalahkan diri sendiri adalah pekerjaan mulia. Dan akan memberi kebahagiaan dengan warna tersendiri bagi hidup kita." "Hamba, Yang Mulia."

Malam hari itu Rempek hampir tak dapat tidur. Ada berapa orang yang berwajah mirip dengan Wong Agung Wilis?

Sekarang ia bertemu dua orang yang berwajah mirip. Tapi bukankah Rsi Ropo juga mirip Wilis? Berarti tiga orang.

Jangan-jangan nanti masih banyak lagi. Benarkah Wilis mampu memecah diri menjadi banyak? Seperti Candra Bhirawa? Dan yang mengagumkan lagi semua orang yang berwajah mirip itu memilikilidah dewa. Kapan ia memperoleh kesempatan memecahkan teka-teki ini? Ah, akan datang juga waktunya. Tentunya tak selamanya aku sebodoh ini. Aku akan belajar. Sekalipun aku lebih tua dari mereka aku akan belajar supaya tidak menjadi bingung seperti si pandir berhadapan dengan orang-orang bijak.

Keesokan harinya kembali ia harus mengekor bagai bayangan. Kembali menaiki bukit menuruni tebing dan melintasi belukar, menyusup belantara raya. Ia harus mengakui pemuda di hadapannya itu benar-benar terlatih. Tidak banyak kesempatan untuk bercakap karena sebentar- sebentar mereka berbelok menghindari jurang dalam. Jadi membutuhkan perhatian yang penuh. Tapi Sratdadi seperti tidak pernah salah jalan.

0oo0

Harapan Biesheuvel bahwa setelah kepergian Kertawijaya dari bumi Blambangan akan membawa perbaikan, ternyata hanya impian kosong. Kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Pembangkangan makin terbuka. Penduduk Pangpang tinggal separuh dari jumlah yang semula waktu pertama kali Belanda datang. Lolosnya Rsi Ropo sudah menjadi buah bibir. Sekalipun pihak Belanda merahasiakannya.

Disusul dengan tindakan Sayu Wiwit yang kian berani.

Belum lagi Wilis juga merajalela. Membuat orang juga makin berani menyatakan pendapatnya. Bukan cuma manusia, kerbau pun sudah banyak yang liar jika pasukan Kompeni lewat. Anjing-anjing lebih tidak bersahabat lagi. Semua menjengkelkan pasukan Kompeni.

Gejala itu dimanfaatkan oleh Rempek bersama orang- orangnya untuk memperbesar pengaruh. Rempek juga mulai mendekati kawula. Ia meniru cara Wilis. Dan ia katakan pada seorang bekel di pinggir kota Pangpang. "Wong Agung Wilis sudah datang. Dan Wilis akan hidup dalam kita masing-masing. Karena itu mari kita membangun kembali Blambangan dan mengusir semua bule dari negeri kita."

"Dirgahayu Wong Agung Wilis!! Dirgahayu!" pekik penduduk membahana. Dan bukan cuma di pinggir kota Pangpang. Di Lateng pun Rempek menyatakan hal yang sama. Seperti minyak disu-lut api kawula menyambut himbauan Rempek untuk meninggalkan kota dan menggabung pada Wong Agung Wilis di Benteng Bayu.

"Demi Blambangan, demi Hyang Maha Dewa, demi Wong Agung, kita berangkat," kata sebagian besar pemuda. "Dirgahayu Wong Agung Wilis, Dirgahayu Blambangan!"

Sebagai hasilnya, di Pakis tersusun laskar yang cukup kuat dan bersenjata lengkap. Karena Mas Ayu Prabu terus memasok senjata dan cadangan makanan.

Semua saudaranya terkejut karena Pakis secara tiba-tiba menjadi tempat penampungan bagi pemuda dan mereka yang akan pindah ke Derwana dan Indrawana serta Bayu.

Umbul-umbul Jingga berkibar sepanjang hari dengan tanpa mengibarkan bendera merah-putih-biru. Semua orang Pakis yang bekerja pada VOC di Lo Pangpang dipanggil pulang.

Semua pemuda Pakis dilatih dalam waktu amat singkat untuk menjadi pengawal Rempek dan istri-istrinya. Teriakan "Dirgahayu Wilis!" kian membahana setiap hari di Pakis.

Menggema di setiap sudut kota-kota Blambangan. Dan tentu saja itu meresahkan Jaksanegara.

Jaksanegara ingin membicarakan hal itu dengan damai.

Karena itu sengaja ia ingin mengundang Rempek ke perjamuan makan malam bersama Juru Kunci dan Biesheuvel serta Pieter Luzac dan Schophoff. Jawaban Rempek sungguh mengejutkan. Dia hadir dalam pengawalan yang ketat. Bahkan istana Jaksanegara dikepung rapat oleh pagar betis laskar dari Pakis. Semua pejabat benarrbenar terkejut. Namun mereka diam-diam juga telah menyiapkan pasukan. Sehingga dengan demikian dua kekuatan sedang berhadapan. Tapi sekalipun begitu pihak Belanda memperkirakan laskar Rempek lebih banyak. Karena itu jika Rempek tidak menyerang, pasukan dilarang menembak. Dan Jaksanegara bergetar melihat kenyataan itu.

Setelah berbasa-basi dengan para tamu lainnya, dan mempersilakan mereka makan ia mulai bertanya pada Rempek,

"Yang Mulia cukup lama tidak datang melakukan tugas di sini!"

Sambil memakan ayam panggang Rempek menjawab dengan ringan, "Hamba tak tahu apa tugas hamba." Tertawa.

"Tak tahu? Atau sengaja Yang Mulia tak mau tahu?" "Sebuah pertanyaan yang bagus. Terlalu bagus. Tapi

jawabnya ada dalam hati Yang Mulia sendiri." Masih tertawa.

"Apakah jawaban ini lebih dikarenakan dukungan laskar di belakang Yang Mulia?" Jaksanegara tersinggung. "Hamba dengar Wilis telah membangun pusat pemerintahannya di Bayu."

Rempek sedikit terkejut mendengar itu. Namun ia telah dilatih oleh Rsi Ropo untuk menjawab maka ia tertawa lagi. Namun tidak jadi makan. Tapi sebelum ia menjawab Biesheuvel ikut bertanya. "Ya, apakah yang mengawal Yang Mulia ini juga pasukan dari Bayu? Pasukan Wong Agung Wilis?"

"Dua pertanyaan yang harus hamba jawab sekaligus.

Bagus," Rempek kini memandang ke sekelilingnya. Kerisnya siap meloncat keluar jika Rempek menghendakinya.

"Wilis tidak cuma membangun pusat pemerintahan di Bayu.

Dia memerintah di mana-mana di Blambangan ini. Setiap orang Blambangan mematuhinya. Dan apakah laskar yang mengawal hamba orang Bayu? Kurang jelas. Tapi mereka adalah orang Pangpang. Mereka tak ingin hamba mengalami nasib seperti Rsi Ropo."'

"Yang mulia mencurigai kami?"

"Bukan hamba. Tapi seluruh kawula. Mereka a tak percaya lagi pada Yang Mulia."

"Ya Tuhan. Ya, Allah...," Jaksanegara menyebut. "Termasuk Yang Mulia tidak percaya hamba?"

"Yang Mulia dan VOC telah menyatu. Karena itu jika VOC datang kemari untuk merampok, maka Yang Mulia juga perampok! Jika VOC datang untuk menipu, maka Yang Mulia juga penipu."

"Yang Mulia!" Jaksanegara tersentak. Biesheuvel dan para pembantunya sangat terkejut mendengar itu. Mereka tak menduga Rempekakan menjadi berani seperti itu. Kebencian mereka memuncak. Dengan muka merah Biesheuvel bangkit berdiri dan berkacak pinggang. "Yang Mulia menentang VOC! Yang Mulia harus dihukum. Menentang pemerintah yang sah, yang telah ada."

"Ha... ha... ha... ha..." Mas Rempek melecehkan. Ia pun berdiri sambil memilin kumisnya. "Kalian menggulingkan Wong Agung Wilis sebagai pemerintah yang sah pada waktu itu, tapi kalian tidak berbicara tentang hukum. Sekarang, kami akan mengambil kembali apa yang terhilang dari kami karena kalian ambil dengan paksa, kalian bicara tentang hukum dan pemerintah yang sah. Bukankah ini lucu? Kalian memerintah atas kami?"

"Kami datang untuk melindungi...," Schophoff ikut bicara.

"Dengan dalih melindungi Tuan mengambil emas, perak, wanita, dan tanah kami. Apakah ini bukan penipu? Nah, Begitu tuannya begitu pula begundalnya!" "Yang Mulia menyindir hamba?" Jaksanegara membentak. "Bukti cukup banyak. Berapa banyak perempuan yang

tertipu dan kini mendekam di puri taman Yang Mulia? Mereka

dipaksa dan ditipu. Setelah di sini mereka tak lebih pemuas nafsu Tuan-tuan Bule. Wajar jika seluruh kawula tidak percaya pada Yang Mulia."

"Yang Mulia harus ditangkap!" Biesheuvel memukul meja. "Tuan tidak ramah! Aku mau bicara pada Yang Mulia

Jaksanegara. Hamba akan bekerja kembali jika kakak hamba

Rahminten dibebaskan."

"Apa yang harus dibebaskan? Yang Mulia Rahminten di sini adalah istri kami. Kami sudah saling mencintai. Kami satu cita."

"Apa pun alasannya, hamba akan ambil kembali kakak hamba."

Biesheuvel sudah tidak sabar. Ia memberi tanda agar pengawalnya bergerak menangkap Rempek. Namun bersamaan dengan itu pengawal Rempek juga bergerak. Karena Rempek juga memberi aba-aba isyarat, "Jika ingin selamat, jangan bergerak!

Jika kalian memaksa maka rumah ini akan dihujani cetbang atau meriam api Blambangan. Jangan mimpi kalian bisa selamat! Pengepungan kami berlapis-lapis. Kita semua yang ada di sini akan binasa!

Biesheuvel menjadi pucat karena menahan marah. Pelaut gagah berani, bangsa yang tidak pernah kalah, diancam oleh Rempek orang pribumi. Tapi ia mengerti betul bahwa ancaman Rempek bukan kosong. Ia ingat, Kapten Tack yang gugur di Mataram, Blanke pada zaman perang melawan Wilis, dan juga kapten Reyks gugur di medan tempur Blambangan ini. Untung bersamaan dengan itu terdengar suara seorang wanita dengan nyaring berteriak,

"Tahan! Rahminten berjalan perlahan memandang Rempek.

Semua yang hadir memandangnya. Pinggulnya bergoyang dibungkus kain ketat. Demikian juga buah dadanya di balik kemban. Rempek termangu-mangu. Kakaknya mengenakan kemben?

"Kau suruh aku pulang? Sudah terlambat, Rempek. Aku sudah menyatu dengan Yang Mulia Jaksanegara. Kita telah memilih jalan kita sendiri. Rupanya tempat berpijak kita sudah tidak sama lagi. Maka tinggalkan tempat ini dengan damai.

Jangan mengusik kami. Kita akan membuktikan siapa yang mencintai Blambangan. Membangun Blambangan.”

"Hyang Bathara!" Rempek heran. Badannya jadi lemas.

"Jangan bingung, Rempek. Inilah kenyataan. Di sini aku menerima yang aku dambakan dalam hidup. Nah, selamatlah kau!"

"Mimpi apa aku ini?" Rempek hampir tak percaya.

"Bukan impian. Kau bukan mimpi. Aku tak bisa bersamamu lagi! Nah, tinggalkan aku di tempat ini. Aku senang dengan apa yang telah aku terima di sini."

"Jagat Dewa...," Rempek berdesis lirih. Ia melangkah perlahan. Ia datang untuk mengambil kakaknya. Namun ia melihat kenyataan pahit. Bayangan Rsi Ropo muncul dalam angannya. Ah, orang itu benar. Semua orang mengikuti langkahnya yang lunglai dengan pandang.

0oo0

Derwana sudah tampak menjadi kota baru. Lebih bersih dari pusat pemerintahan VOC di Blambangan maupun Lateng atau Wijenan sebagai kota besar kedua di Blambangan. Pagar- pagar dikapur bersih dan dihiasi dengan janur di tiap pintu gerbang pekarangan. Pohon-pohon yang dulu liar kini terawat rapi. Pohon buah juwet, mangga, jambu, duren, dan duku bertebaran di pekarangan tiap rumah. Umbul-umbul Jingga menghias sepanjang jalan dari batas tembok yang menjadi gerbang Indrawana sampai ke Derwana. Dari lembah naik ke bukit. Juga berbagai hiasan yang terbuat dari janur. Di gerbang Indrawana berdiri barisan kehormatan seperti menyambut tamu agung. Dan disamping barisan pengawal bersenjata bedil, tombak, dan pedang serta panah, juga berbaris para penabuh gamelan angklung yang susunannya terdiri dari seorang pemukul slentem, seorang pemukul gendang sebagai pemberi aba-aba atau pengatur irama gamelan dan angklung. Seorang pemukul peking dan seorang pemukul saron, seorang lagi pemukul gong dan gayou, dua orang pemukul ricikan angklung. Karena ada dua angklung di sini. Satu ricikan angklung dengan hiasan kepala Antareja pada sampingnya, satu lagi berhiaskan ukiran kepala Gatotkaca. Angklung ini ditabuh saat tamu memasuki gerbang.

Jalan dari Indrawana ke Derwana tidak mendatar. Karena memang Derwana lebih tinggi dari Indrawana yang merupakan lembah. Tengok alun-alun Derwana yang terletak di depan rumah besar dan kuno, lebih lama usianya dari istana Mangkuningrat yang hancur di Lateng. Lebih tua dari umur setiap orang yang ada di Derwana atau di seluruh Blambangan sekalipun. Bekas istana Macan Putih leluhur raja-raja Blambangan. Dan kini di alun-alun itu tampak berkumpul ribuan orang mengelilingi alun-alun. Di salah satu sisi lapangan itu berdiri sebuah panggung kehormatan. Di sana nampak Rsi Ropo duduk di ujung paling kanan. Orang sudah tidak asing lagi terhadap Rsi yang pernah mampu lolos dari benteng Kompeni yang dijaga kuat. Ah, pasti titisan dewa.

Sedang di sebelah pandita itu duduk Yistyani yang juga sudah dikenal oleh seluruh kawula yang berasal dari Lateng maupun Pangpang. Ia adalah bekas menteri cadangan negara di masa pemerintahan Wong Agung Wilis. Memang tampak agak lebih tua sedikit dibanding waktu jadi menteri cadangan negara. Di sebelahnya duduk seorang gadis manis berambut ikal, Mas Ayu Tunjung, sebagai menteri cadangan negara pemerintahan Wilis di Bayu. Di sebelah kanan gadis itu duduk Wilis berpakaian penguasa Blambangan. Dengan sebuah tongkat di tangannya. Sebelah kanannya lagi duduk Mas Ramad Surawi- jaya. Dan Mas Ayu Prabu di samping kanan Ramad. Terakhir Jagalara. Setelah itu duduk Sayu Wiwit, Undu, Untu, Runtep, dan beberapa pembesar Raung lainnya.

Di bawah panggung kehormatan ada rombongan penabuh angklung dengan susunan sama seperti di gerbang Indrawana. Tapi kini ditambah dengan seorang penari. Marmi yang dikenal Rempek sebagai Sayu Wiwit bertindak sebagai penari. Di tengah alunan suara angklung terdengar kidung membahana diteriakkan oleh segenap pengunjung alun-alun, untuk menyanjung Wong Agung Wilis. Semua membanggakan bagi putra-putra Wilis. Itu petunjuk bahwa mereka akan berhasil mengerahkan banyak kekuatan.

Semua yang disiapkan di Derwana dan Indrawana adalah untuk pelantikan Rempek sebagai pemuka di Derwana dan Jagalara sebagai pembantunya. Rempek memang tidak sanggup lagi tinggal di Pakis. Ia merasa malu. Kakaknya Rahminten telah mencoreng keluarga Tawang Alun. Baginya tidak ada jalan lain kecuali menyatu dengan Bayu dan segera menggempur Belanda. Dan dia saat itu sedang berkuda dengan diiringi hampir seribu lima ratus orang bersenjata lengkap dan sepanjang jalan mengibarkan umbul-umbul jingga dan lambang Sonangkara.

"Dirgahayu Blambangan! Dirgahayu Wilis! Demi Hyang Maha C^iwa, hancurkan bule!" teriakan mereka bergema sepanjang perjalanan. Bunga ditaburkan oleh kawula sepanjang jalan yang akan dilewati Rempek.

Kini rombongan sudah mendaki dari Indrawana ke Derwana. Setelah dekat dengan alun-alun Rsi Ropo berdiri dan membunyikan giring-giring. Semua orang bersorak-sorak. Apalagi setelah Rempek turun dari kudanya. Sorakan makin gemuruh. Dalam iringan para pengawal ia berjalan ke depan panggung kehormatan. Menyembah di depan Wilis. Mas Ramad memberikan aba-aba supaya semua orang diam dan mengikuti upacara dengan tenang. Dan perintahnya didengar oleh orang-orang itu.

Rempek memandangi Mas Ramad. Hatinya berdebar siapa pula ini? Wajahnya benar-benar seperti pinang dibelah dua jika duduk bersama Wilis. Rsi Ropo kemudian membaca mantra. Dan setelah itu menyiramkan air bunga ke atas kepala Rempek. Hanya sekejap rasanya. Tapi membuat kesan tersendiri bagi seluruh yang menyaksikan. Rempek mendapat kekuatan tambahan dari Rsi yang mampu meloloskan diri dari benteng Belanda.

"Semoga Yang Mulia Rempek, mendapat kekuatan baru, seperti halnya Yang Mulia Wong Agung Wilis. Dirgahayu!" Rsi Ropo berkata keras dan didengar oleh banyak orang.

Kemudian Rsi mundur dan sebagai gantinya suara gamelan atau angklung ditabuh. Kidung pujian bagi Wong Agung Wilis ditembangkan. Mendayu menggugah semangat. Marmi kemudian maju menghadap Rsi. Dan Rsi menyerahkan sebuah keris dan cincin. Marmi kemudian berjalan ke arah Rempek untuk menyematkan cincin di jari dan menyelipkan keris ke pinggang Rempek. Bau harum tubuh Marmi merangsang hidung. Ketika Marmi kembali ke tempat, hati Rempek seperti terbawa pergi. Namun ia tak sempat melamun banyak.

Sebentar kemudian Wilis berdiri. Memerintahkan Rempek maju dan diambil sumpahnya.

"Demi Hyang Maha Durga, hamba akan menyerahkan seluruh jiwa dan raga buat tanah kelahiran, Blambangan tercinta."

Hadirin menyambut dengan tepuk tangan gemuruh. "Dirgahayu! Dirgahayu!" "Karena Yang Mulia Rempek telah menerima jiwa dan semangat Wong Agung Wilis maka mulai saat ini Yang Mulia dipercaya untuk menjadi penguasa di Derwana dan Indrawana, juga sebagai pratanda mukha Blambangan yang bertanggung jawab pada hamba, sebagai penguasa tertinggi di Blambangan. Karena itu sejak saat ini Yang Mulia tidak lagi bernama Mas Rempek, tapi Jagapati. Sedang Jagalara adalah pembantu atau wakil Yang Mulia. Sanggup melaksanakan tugas yang dibebankan kerajaan?"

"Sanggup, Yang Mulia."

"Nah, Kita sekarang harus tahu. Sejak ini kita akan diperangi oleh Belanda dan Jaksanegara! Tapi, Saudara- saudara, jangan takut. Sebab takut adalah dosa. Kita akan lawan mereka. Gempur! Sebab jiwa dan semangat Wong Agung ada pada kita. Terutama pada pemuka kalian Mas Jagapati!" Semua orang menyambut kata-kata itu dengan gemuruh.

"Sekarang kalian boleh bubar! Tapi jangan lupa, ke mana pun kalian pergi harus siap dengan senjata di tangan. Jika tidak maka kita akan dibinasakan oleh bule-bule itu! Ke sawah pun bawa! Ingat-ingat ini, para drubiksa selalu mengintai kita! Nah, dirgahayu. Sampai jumpa." Wilis turun. Diikuti Rsi Ropo mendekati Jagapati. Mengajaknya menuju pendapa sebentar. Marmi berjalan paling depan dengan iringan gamelan. Gadis itu menyebarkan bunga dari dalam bokor yang dibawanya.

Rempek tidak pernah menduga bahwa ia akan menerima penghormatan yang sedemikian besarnya dari pemerintahan Wilis. Sampai di pendapa semua pembesar Raung berhenti. Satu-satu dikenalkan oleh Wilis. Mulai dari Runtep, Undu, Untun, Mas Ramad Surawijaya. Jagapati memandang pemuda itu tajam-tajam. Dibalas dengan senyuman dan pandangan yang tak kalah tajamnya. Jagapati jadi ingat, bukankah pemuda ini yang pernah menjatuhkan Benteng Pangpang waktu perang Wong Agung? Maka ia cepat-cepat menyembah. "Ini Mas Ayu Tunjung." Jagapati kagum pada gadis itu.

Tentu cerdas seperti Ni Ayu Candra, ibunya.

"Ini Mas Ayu Prabu, guru dan pelatih Sayu Wiwit. Dia juga kepala dinas rahasia kami."

"Hyang Bathara!" Jagapati menyembah lagi. Matanya mengundang kekaguman. Dan beberapa lagi dikenalkan. Setelah itu Wilis. dan rombongan minta diri. "Kami akan segera melengkapi persenjataan di tempat ini dengan meriam. Sebab tentu tempat ini jadi sasaran pertama penyerangan Belanda."

"Hamba, Yang Mulia."

Pendapa segera sepi. Kecuali laskar yang sedang bertugas jaga dan penabuh gamelan angklung, maka semua sudah bubar. Pengikutnya dari Pakis yang seribu lima ratus orang itu sudah ditempatkan di asrama yang memang disediakan untuk mereka.

"Mari Yang Mulia memeriksa keadaan taman dan persiapan untuk memboyong paramesywari dan para selir," suara merdu menegurnya. Ia toleh. Ternyata Marmi.

"Sayu Wiwit? Kau tinggal?"

"Untuk hari ini hamba tinggal. Ada tugas."

"Baik, aku akan lihat pasukanku sebentar. Apa mereka sudah mendapat tempat?"

"Sudah di atur oleh Yang Mulia Jagalara."

"Jagat Bathara!" Jagapati baru tahu, bahwa orang Bayu benar-benar siap. Ternyata Indrawana dan Derwana sudah berdinding batu. Bukan cuma itu, cadangan makanan pun mereka sudah siap. Dan para pembesar Raung yang kebanyakan masih muda itu sangat menakjubkan. Ke mana orang-orang tua mereka? Cuma Yistyani yang tua. Mungkin semua sudah mati dalam perang Wilis. Ia berjalan menuju sentong tengen atau kamar sang raja dengan paramesywari. Dan untuk selir, kata Marmi disediakan puri-puri di tamansari. Sekarang masih kosong. Di taman itu ada sungai kecil yang jernih. Bisa untuk mandi para putri.

Sungai itu mengambil air dari sungai yang mengalir dari atas ke Indrawana. Kembang-kembang belum tumbuh dengan baik. Masih baru.

"Besok, atau lusa hamba bertugas mengambil paramesywari," Marmi menerangkan. "Hari ini hamba menyediakan bahan makan untuk Yang Mulia. Nah, hari sudah sore, Yang Mulia, silakan mandi."

Marmi tetap tinggal di taman itu. Jagapati kembali ke kamar yang disediakan untuknya. Marmi juga mandi di kali kecil itu. Mereka baru bersua lagi kala senja di taman. Marmi sudah menyiapkan makanannya.

"Sayu Wiwit, kenapa kau pergi?" Kala Marmi akan meninggalkan Jagapati yang sedang makan. "Temani aku!"

"Ampun, Yang Mulia..."

"Jangan menghina aku, Wiwit." Dan Marmi terpaksa duduk. "Aku kagum mendengar namamu tersebar di mana-mana.

Kau wanita perkasa sekarang menemani aku."

Marmi berdebar. Ia tahu siapa yang berkarya besar itu.

Bukan dia. Tapi Mas Ayu Prabu. Tapi kini ia bertugas menemani Jagapati. "Hamba cuma menjalankan tugas "

"Hebat."

"Yang Mulia lebih hebat. Karena itu hamba malam ini bertugas menemani Yang Mulia. Ini anugerah. Cuma malam ini saja "

"Hyang Bathara! Siapa yang memberi anugerah padaku ini?" "Rsi Ropo. Yang Tersuci senang Yang Mulia berani menyatakan pendapat pada Jaksanegara. Itu awal dari pemberian atau pembentukan makna diri."

"Sayu..." Jagapati tercenung. Ia berdiri. Senja telah tiba. "Dengan apa aku membalas semuanya ini?"

"Membangun sebuah makna diri bukan hal yang mudah.

Kadang harus ditebus juga dengan nyawa—" Marmi berdiri. Ia melangkah perlahan. Menuju sebuah puri dan menyalakan lampu. Jagapati mengekornya.

"Dengan nyawa?" tanya Jagapati setelah lampu menyala.

Kegelapan mulai menggerayangi puri . itu. Tempat tidur beralas tikar pandan saja yang tersedia.

"Ya. Dengan nyawa. Yang Mulia menyesal? Takut?" kata- kata yang sudah dilatihkan oleh Mas Ayu Prabu. Dan Marmi tersenyum. Memamerkan biji timun yang berbaris rapi di sela bibirnya.

"Tentu tidak! Tidak," jawab Jagapati cepat.

"Oh..." Marmi maju dan merentangkan tangannya.

Sebentar kemudian tubuh mereka menyatu dalam pelukan.

"Inilah hamba, Yang Mulia, yang dianugerahkan hanya semalam ini untuk Yang Mulia."

Jagapati tak membuang kesempatan. Ia tahu artinya semua itu. Ia akan segera bertugas untuk m berperang. Sebelum berangkat untuk mati, ia diberi anugerah...

0oo0

Mentari merah muncul di ufuk timur. Langit bersih tiada berawan. Jagapati baru saja bangun dari semadi di pura, kala seorang laskar Bayu menghadap bersama Jagalara. "Dirgahayu, Kanda Jagalara," Jagapati menyapa terlebih dulu.

"Dirgahayu. Yang Mulia, sekarang juga kita mendapat perintah menghadap ke Bayu."

"Ada apa?" |

"Hamba tidak tahu, Yang Mulia," laskar Bayu itu menyembah.

"Baik. Yang Mulia Jagalara, kita berangkat sekarang." "Apakah tidak berpamitan dahulu pada Yang Mulia

Paramesywari."

"Baiklah," katanya kemudian turun dari pura. "Yang Mulia berangkat dulu. Sebentar hamba menyusul."

Tanda tanya memenuhi kepala semua orang. Terutama Jagapati. Dia tidak tahu bahwa semua orang termasuk Sambirono, Ayu Prabu, dan semua pemuka Raung serta semua pemimpin pasukan gabungan, antara lain Lebok Samirana, bahkan Mas Ramad serta Sayu Wiwit pun, harus datang. Istri Jagapati pun tidak pernah keberatan suaminya dipanggil secara mendadak begitu. Ia mengantar suaminya sampai di gerbang istana. Ia awasi suaminya sampai lenyap dari pandangan. Dan dalam pandangannya Jagapati adalah seorang tampan dan gagah. Maka ia memaklumi jika suaminya beristrikan lebih dari satu. Yang penting tidak mencampakkannya begitu saja. Sekalipun sekarang sudah menjadi seorang pemuka sekaligus pratanda mukha Blambangan.

Tidak satu pun yang menerima panggilan lewat utusan rahasia itu yang tidak hadir. Semua mematuhi Wilis. Namun dalam hati Lebok Samirana yang memang belum pernah bersua dengan Wilis, bertanya dengan sedikit melecehkan, untuk apa dia memanggil orang-orang? Seperti maharaja saja. Dan betapa terkejut setelah Ramad Surawi-jaya, sahabatnya itu, menyembah di kaki Wilis. Seorang pemuda. Ah, aku seorang yang sudah berpengalaman tempur melawan Belanda di mana-mana, mengapa harus menyembah pada seorang ingusan macam itu. Tapi karena semua orang menyembah, terpaksa ia pun ikut menyembah. Mata Wilis mengamati mereka satu per satu dengan pandangan yang tajam, sambil membalas penghormatan mereka.

Mata Jagalara dan Lebok Samirana berkeliling seputar ruang pertemuan yang dijaga ketat oleh orang-orang yang duduk-duduk di bawah pohon talok. Semua membawa bedil laras panjang. Jagapati sendiri heran. Tentu bukan pertemuan biasa. Karena semua diperintahkan duduk merapat maju.

Wanita berkumpul dengan wanita. Yistyani, Sayu Wiwit, Ayu Prabu, dan Ayu Tunjung, hadir dan duduk sebelah kiri. Yang pria sebelah kanan tangan Wilis.

"Para Yang Mulia, saya tidak akan berbicara banyak," pemuda itu mulai. "Terima kasih atas kehadiran para Yang Mulia." Kembali pemuda itu mengamati semua orang satu per satu. Kemudian matanya mengawasi para penjaga. Dan seperti menajamkan telinganya. Semua diam. Tidak ada yang bergerak. Jagapati maupun Jagalara dan Lebok Samirana mulai mengakui wibawa pemuda itu.

"Kita telah mengumumkan secara resmi pemerintahan kita.

Tentu di antara hadirin ada telik

Belanda. Dan karena itu bulan depan Biesheuvel telah memutuskan akan menggempur kedudukan kita di Derwana serta Indrawana." Diam sebentar. Mengambil napas.

Sementara itu Jagapati terperanjat. Anak muda ini tahu secara pasti? Bulan depan. Tinggal berapa hari lagi? Hai, baru berapa hari aku memerintah? Apakah aku bisa menghadapi Belanda?

"Jangan khawatir! Kita tidak perlu takut. Semua akan diatur oleh Yang Mulia Sratdadi sebagai menteri mukha. Tapi kali ini kita menghadapi perang besar, maka hamba memegang kendali atas semua dan segala. Dan hamba minta tidak seorang pun bertindak dengan perasaan serta kemauan sendiri. Kita harus sungguh-sungguh melakukan perang ini. Perang semesta! Jadi, satukan hati dan pikiran kita. Hamba tidak ingin melihat kita berperang untuk mencari uang. Ingat- ingat, Yang Mulia, kita bukan tentara bayaran! Ada berapa banyak peperangan para pelawan Belanda gagal karena ditunggangi oleh orang-orang yang haus perang demi kepentingan pribadi." Diam sebentar lagi. Menelan ludah. Hati Lebok Samirana berdebar. Anak muda ini menyindir. Tapi ia tidak bisa menutup kekagumannya. Selama ia ikut berperang, baik di Malang, Blitar, dan Ngantang, belum pernah ada yang mampu menyebut waktu penyerangan Belanda kepada mereka. Barangkali cuma Untung dan Jangrana saja yang tahu.

"Jika ada yang masih punya keinginan hati yang tidak sama dengan cita-cita kita, yaitu menegakkan kembali suatu kerajaan yang tidak mengakui perintah VOC, seperti halnya Aceh, Bali, dan kerajaan lain yang tidak diperintah Belanda, dan sesudah itu kita akan bekerja sama dengan kerajaan mana pun untuk menyatukan Nusantara dan mengusir VOC dari Batavia—sebaiknya sejak sekarang tidak bergabung dengan kami. Nah, setujukah dengan pendapat ini?" Mata Wilis menindas semua orang. Dan semua menyatakan persetujuannya.

"Karena itu, sejak sekarang jangan ada yang bergerak sendiri tanpa wewenang hamba. Kecuali jika amat terdesak!" Sekali lagi Lebok Samirana merasa bahwa sebuah kuku macan menancap makin dalam di hatinya. Menekan semua kebiasaan hidupnya. Ia tidak bisa diperintah. Tapi ia terikat cita-cita menegakkan kembali Blambangan yang kuat.

"Nanti akan segera hamba kirim utusan ke tempat Yang Mulia masing-masing untuk mulai menyerang. Tapi sekarang bersiaplah. Pada saat Biesheuvel bergerak menyerbu kita, maka Yang Mulia Ramad Surawijaya harus bergerak memukul Steenberger di Jember. Tentu akan bersama dengan Yang Mulia Lebok Samirana."

Sekali lagi Lebok Samirana tertegun. Anak ini hebat. Bukan main. Dia mampu mengatur perang semesta? Ya, perang semesta yang gagal dilaksanakan oleh Sultan Agung itu? Juga oleh Jangrana itu? Jagapati juga tidak pernah mampu menjajagi kemampuan Wilis. Diakah yang bergerak di Lateng dan Pangpang beberapa waktu lalu? Sedang Jagalara, mau tak mau mengakui, ia belum pernah memikirkan seperti yang dipikirkan Wilis.

"Tapi jangan lupa, Biesheuvel telah mengirim Pieter Luzac ke Surabaya untuk memukul kita dari belakang. Karena itu Yang Mulia Lebok Samirana harus mematahkan jalur Bondowoso— Panarukan. Dan memutuskan semua jalan ke Wijenan dan Pangpang. Jika ini berhasil, tentu Belanda akan menggempur kita dari Jember. Tapi setidaknya di Jember nanti akan berhadapan dengan Yang Mulia Sayu Wiwit.

Sedang Yang Mulia Ramad akan jadi penjelajah di wilayah barat dan timur. Sedang Yang Mulia Mas Sratdadi akan menerima laporan dan perintah dalam perang ini."

"Apakah itu pasti, Yang Mulia?" Jagalara mencoba. "Tangan Biesheuvel sudah gatal. Dan laporan telik kita

menunjukkan petunjuk ke arah itu."

Semua orang terpekur dalam kekaguman.

"Sedang Yang Mulia Mas Ayu Prabu akan bergerak di wilayah barat, dan menerima bantuan sepenuhnya secara langsung dari Yang Mulia Sratdadi dan tentunya hamba sendiri."

"Mengapa Yang Mulia akan turun sendiri ke peperangan?" Baswi keberatan. "Seorang yang cuma pandai bicara bukanlah pimpinan yang baik," jawab Wilis sambil tersenyum. "Bukankah di sini sudah ada Yang Mulia

Baswi dan Ibunda. Sedang semua yang masih muda sebaiknya turun ke medan laga. Inilah perang semesta. Kita hancurkan Belanda si perampok biadab itu di mana-mana."

"Jagat Bathara!" sebut semua orang.

"Mari, para Yang Mulia, kita sama pergi berdoa. Kita mohon kekuatan dari Maha Pencipta. Hyang Maha Ciwa. Sedang Yang Mulia Jagalara dan Lebok Samirana yang berigama Islam, silakan berdoa dengan cara Yang Mulia sendiri. Tapi kami semua akan masuk pura."

Masih belum sempat orang menanyakan sesuatu, Wilis berdiri. Dan ia sudah mengenakan pakaian perang. Ah, kata Yistyani dalam hati, wajahnya benar-benar mirip dengan Wong Agung...