Gema Di Ufuk Timur Bab 10 : Bukan Hanya Mimpi

 
Bab 10 : Bukan Hanya Mimpi

Bulan Jita atau Jistya merupakan bulan ketiga musim kemarau yang berlaku di Blambangan dan Bali atau Jawa pada umumnya. Udara gerah melanda mana-mana walau kadang masih disertai angin. Di Samudra Kidul ombak setinggi-tinggi bukit. Ya, bulan itu bagi penanggalan Belanda adalah bulan Juni. Nelayan di pantai selatan harus menghitung dengan sungguh-sungguh jika hendak melaut. Namun justru keadaan yang demikian buruknya merupakan kesempatan bagus bagi anak buah Wong Agung Wilis yang atas persetujuan Cokorda Dewa Agung Mengwi mendaratkan bantuan pangan untuk pasukan Sratdadi yang bermukim di sekitar Bukit Srawet, Blambangan Selatan. Pantai Muncar dan Grajagan merupakan daerah aman, karena di seputar pantai itu, hutan amat lebat, penuh dengan binatang buas. Patroli Kompeni saat-saat terakhir ini jarang sekali karena mereka makin takut. Sekali ketika serombongan serigala lapar berpapasan dengan tiga orang patroli Kompeni dan pasukan gabungan. Dan ternyata tidak seperti biasanya. Rombongan anjing-anjing hutan menyerang dengan garang. Dua orang di antara ketiganya tidak mampu melepaskan diri dari keroyokan. Walaupun beberapa mati karena babatan pedang namun akhirnya rombongan serigala itu mampu mencabik-cabik dan membunuh dua orang itu. Yang seorang sempat menyelamatkan diri dengan naik ke atas sebuah pohon.

Dengan gemetar ia menyaksikan temannya dirobek-robek oleh serigala yang tidak mengenal ampun itu. Bajunya basah oleh keringat dingin. Bahkan juga terkencing-kencing.

Celananya basah ketika serombongan serigala mendekati pohon tempatnya menempel di cabang. Ia merangkul erat- erat, sambil menempelkan seluruh tubuhnya pada cabang itu.

"Iblis! Pergi kalian!" ia berteriak di hutan sunyi itu.

Suaranya dipantulkan oleh pohon-pohon, menimbulkan gema. Ia juga menahan rasa dahaga semalam-malaman. Serigala- serigala itu sudah pergi sejak sore. Entah ke mana. Tapi ia tak berani turun. Aniaya ditanggungnya semalam-malaman.

Dengan rela ia harus mempersembahkan darahnya diisap nyamuk-nyamuk hutan. Semalaman ia cuma mengumpat. Tak berani mengusir nyamuk-nyamuk itu. Takut jatuh dan menjadi mangsa serigala lapar. Setelah fajar menyingsing ia memberanikan diri turun. Pantatnya basah dan bau. Ah, sialnya ternyata ia mencret. Ketakutan membuatnya terkencing-kencing dan terberak-berak. Untung tak seorang pun melihatnya. Jika ia selamat, ia pasti bercerita pada teman- temannya bahwa ia mampu membunuh semua serigala itu, sedang kedua temannya tersesat entah ke mana. Ia berjalan pulang setelah memungut senjatanya sendiri dengan harapan di jalan menemukan sebuah sungai agar bisa mandi dan mencuci celana bau itu. Tapi itu menjadikannya ikut-ikutan mengajukan permohonan pulang ke Surabaya.

Cokorda Dewa Agung telah menerima laporan dari Agung Wilis bahwa ada kawanan Belanda yang akan membelot ke Bali. Mereka diharapkan oleh Wong Agung yang mengirimkan pesannya lewat Mas Ayu Prabu supaya Bozgen juga merampas kapal-kapal Belanda yang kini bersandar di Pelabuhan Sumberwangi. Dewa Agung kagum setengah mati terhadap rencana Wilis. Kendati ia melihat Wilis mulai nampak tua. Rambutnya sudah banyak beruban. Tapi bekas luka yang menggores kening dan bahunya seolah bukti tertulis akan keperkasaannya di masa silam. Sorot matanya masih bersinar penuh wibawa. Memang pantas ia menjadi kepala pemerintah. Sepercik penyesalan memuncrat di lubuk hatinya karena ia sendiri telah ikut punya andil menenggelamkan Blambangan. Maka kini ingin rasanya ia memanjakan kehendak Wong Agung Wilis yang dianggapnya sebagai manusia yang mampu mengalahkan mati. Kegagalan pendaratan oleh Gusti Tangkas ia nilai bukan kesalahan Wong Agung.

Tapi karena memang para pelaksana yang kurang memiliki kemampuan dan keberanian. Kini Cokorda Dewa Agung menyetujui mengirimkan beberapa telik sandi (pasukan rahasia) untuk membantu gerakan Bozgen dan kawan-kawannya. Lebih dari itu akan membantu gerakan Ramad Surawijaya. Anak muda yang pernah mendahuluinya menggempur Puger dan beberapa benteng kecil VOC sesaat sebelum Wong Agung Wilis memulai peperangannya melawan Belanda. Ah... anak itu ternyata memiliki keberanian dan kecerdikan melebihi semua saudara- saudaranya.

Apa yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah memberikan dorongan agar mereka tidak kenal lelah mempersembahkan karya dan darmanya bagi tanah kelahiran tercinta. Jika perlu sampai titik darah penghabisan. Ia sendiri ingin menyeberang untuk langsung memimpin peperangan. Tapi berulang kali ia mengurungkan niatnya, karena paru kanannya sering terasa sakit jika ia melakukan gerakan yang membutuhkan tenaga berat. Bahkan jika ia menarik napas panjang pun terasa nyeri. Ia tidak pernah mengeluh memang. Jika istrinya bertanya tentang nyeri di pinggang dan dadanya sebelah kanan, maka ia cuma katakan sedang lelah.

"Tidak apa-apa... Ratih. Mungkin keseleo dan lelah."

"Jika demikian, mari kupijit, Yang Mulia." Wanita cantik itu rajin memijit dengan jari-jarinya yang runcing seperti duri.

Kendati pun ia setiap malam disibuki oleh tangis anaknya minta susu. Dan hampir setiap malam juga Ratih secara tersembunyi melarangnya pergi bertempur.

"Lihat eloknya anak kita."

"Kelak gagah perkasa...," Wilis menambahi. "Seorang perlu berlatih untuk menjadi perkasa. Perlu

belajar dan mengisap banyak pengetahuan untuk menjadi bijak. Tapi jika Yang Mulia meninggalkannya, siapa yang hendak melatih? Di seluruh Mengwi tidak akan ada seorang guru dan pelatih yang menyamai Yang Mulia." "Ah... jangan seperti itu."

Dan malam itu ia pergunakan untuk membaca surat anaknya, Mas Ayu Prabu.

Ramanda Yang Mulia,

Sembab dari semua kawula bersama dengan lontar ini.

Sebesar-besar rasa terima kasih atas usaha Ramanda membantu senjata, beras, dan beberapa laskar sandi yang telah mendarat baik di Muncar maupun di Grajagan. Hamba percaya bahwa itu akan menambah bukan cuma semangat, tapi juga kekuatan kami."

Sampai di sini Wong Agung menghela napas panjang lagi. Dada sebelah kanannya kembali terasa nyeri. Ah, aku sudah sampai di batas akhir, gumamnya begitu terasa dadanya sakit. Beberapa saat lagi mentari akan benar-benar tenggelam.

"Ada apa, Yang Mulia?" Ratih memperhatikan suaminya. "Jangan terlalu banyak pikir. Lihat, badan Yang Mulia makin kurus akhir-akhir ini."

Sebagai jawabannya adalah sebuah senyuman.

"Kami akan berperang" kata lontar itu lagi. "Maka biarlah sekalipun Ramanda tidak bersama kami, tapi Ramanda tetaplah mentari kami. Dan saatnya kami akan mempersembahkan kemenangan ini pada Ramanda."

Tiada sadar air mata meleleh di pipi yang sudah dihiasi kemerut. Namun cepat dihapusnya. Satria tidak boleh menangis. Ayu Prabu menceritakan perkembangan terakhir, bahwa kakaknya telah ditahan oleh Belanda. Sampai di situ matanya tampak berapi-api. Menarik perhatian Ratih untuk mendekat dan ikut membaca. Ayu kemudian menceritakan rencana Mas Ramad untuk menyerbu Benteng g Pangpang guna membebaskan Mas Sratdadi. Sebagai akhir kata, Mas Ayu memohon doa dan mantra Lokananta yang dikirim dari seberang laut. Katanya, "Doa orang yang benar-benar membela keadilan jika diucapkan dengan sepenuh hati maka hamba percaya semuanya akan terkabul. Sekalipun segala ketentuan ada di tangan Hyang Maha Dewa. Hyang Maha Ciwa!"

"Yah, kita harus berdoa," Ratih yang mengeluarkan kata- kata menanggapi lontar anak tirinya itu. Dan Wilis segera masuk ke alam darana (alam konsentrasi) Ia bersemadi, sekalipun pada awalnya terusik oleh bayang-bayang saat ia masih muda dulu. Merangkak di rerumputan bersama laskarnya untuk menggempur musuh. Terngiang bunyi letusan dan dentuman. Lebih-lebih gemerincingnya pedang beradu.

Begitu kira-kira yang sedang dialami anaknya saat ini. Dan tentu Tantrini, istrinya, sudah sejak awal masuk pura di Gunung Raung sana, dengan tanpa menghiraukan hawa dingin, membacakan Lokananta untuk anak-anaknya. Namun Wilis segera mengebaskan bayang-bayang itu. Ia masuk alam darana dalam yoganya. Karena ia memang seorang yogi yang sempurna, sekalipun, ia juga seorang satria.

Dalam pada itu Rsi Ropo sudah berada di rumah Jaksanegara. Ia, sengaja memenuhi undangan patih Blambangan itu. Dan ia tidak terkejut sama sekali ketika masuk di ruang tengah sudah menunggu Biesheuvel, Pieter Luzac, Schophoff dan juga Adipati Kertawijaya di samping Jaksanegara dan Rempek. Ia tersenyum memandang semua- mua.

"Dirgahayu...,"" ia membuka pada mereka.

"Maafkan hamba, Yang Tersuci, kami berkumpul untuk memohon beberapa keterangan dari Yang Tersuci."

"Ha... ha... ha... ha..." Rsi Ropo tertawa. Dan secara latah Schophoff ikut terbahak-bahak sehingga semua orang menoleh padanya. Tapi ia tidak menjadi risi. Bahkan menumpangkan telapak tangannya pada paha dan menggoyang-goyangkan sambil senyum. Rsi melirik padanya. Senyum melihat hidung dan mulutnya yang besar. Namun segera memandang kembali pada Jaksanegara.

"Aku hendak diperiksa. Bukan dimohon keterangan. Yang Mulia mulai belajar menghaluskan kata-kata, ha... ha... ha..." Rsi kelihatannya mengejek Jaksanegara di depan umum.

Jaksanegara tergagap dan menunduk. Sementara itu Rempek diam sambil memperhatikan semua yang hadir. Ah, Rsi sudah tahu ia akan ditangkap dan diperiksa, pikirnya. Kini ia ingin lihat bagaimana Rsi menjawab pertanyaan di depan bule-bule itu.

Melihat kenyataan itu Kertawijaya sebagai adipati langsung mengambil alih. Ia berusaha menyesuaikan diri dengan istiadat Blambangan, dengan memanggil Rsi Ropo sebagai "Yang Tersuci".

"Jadi Yang Tersuci adalah Rsi Ropo?"

"Benar, Yang Mulia Patih Surabaya." Rsi sengaja mengucapkan itu supaya mereka tahu bahwa sebenarnya ia tidak suka diperiksa oleh Kertawijaya.

"Dulu betul, Yang Tersuci. Tapi sekarang hamba ditunjuk oleh Gubernur sebagai penguasa Blambangan." Diam sebentar. Tapi Rsi juga diam sambil menatapnya tajam-tajam. Mata itu membuat Rempek makin curiga.

"Kami bukan ingin memeriksa Yang Tersuci. Tapi ingin memohon petunjuk bagaimana caranya mengatasi persoalan yang ruwet di seluruh bumi Blambangan."

"Blambangan memiliki ketatanegaraan tersendiri. Tidak sama dengan Batavia, tidak sama dengan Surabaya."

"Tapi Blambangan sekarang berada di bawah kekuasaan VOC. Tidak berbeda dengan Surabaya dan daerah Nusantara lainnya. Maka harus menggunakan hukum-hukum dan ketatanegaraan yang dipakai di daerah-daerah kekuasaan Kompeni." "Jika demikian tidak seharusnya ditanyakan Npada hamba. Hamba orang Blambangan yang tidak mungkin cocok dengan peradaban Surabaya dan Belanda. Jika kalian katakan harus, maka hamba akan berhenti sampai di sini saja menjawab semua pertanyaan. Karena hamba seorang C^iwa, bagaimana harus mengajarkan sesuatu yang bukan milik hamba? Kita hanya bisa cocok jika Yang Mulia menyesuaikan diri dengan adat-istiadat Blambangan. Dengan ketatanegaraan yang telah berlaku turun-temurun "

"Yang Tersuci! Itu kata lain Yang Tersuci tidak mengakui kekuasaan VOC. Juga tidak mengakui kekuasaan kami di Blambangan."

"Yang Mulia sendiri telah mengatakannya. Dan itu benar. Karena memang kawula Blambangan tidak suka menganut tata negara orang lain. Yang Mulia perlu tahu bahwa di bumi Blambangan ini tak pernah ada seorang brahmana menyembah pada seorang adipati. Setiap paksaan mengundang ketidaksukaan. Dan jika hamba tidak suka maka kawula Blambangan juga tidak akan suka pada Yang Mulia."

"Setan!" Kertawijaya tidak dapat lagi menahan marah. "Rsi telah mempengaruhi kawula Blambangan dengan ilmu

iblis! Mereka mau bertindak semau-mau. Tanpa mengenal hukum dan peraturan."

Rsi tertawa ramah. Tapi terdengar menyakitkan.

"Apakah bukan sebaliknya? Maling hidup di atas kekayaan dan keringat orang lain."

"Kau sendiri mengakali kawula untuk menghidupimu! Kau tidak pernah bekerja!" Kertawijaya semakin garang.

Tangannya mengepal dan mengeluarkan keringat. Ingin rasanya memuntir leher Rsi Ropo yang menjengkelkannya. Matanya memancarkan api kemarahan. Tapi tidak seperti bawahannya, Rsi Ropo tidak menunduk. "Hidup adalah timbal-balik. Aku telah mempersembahkan pada mereka apa yang mereka butuhkan. Yaitu pendapat dan pikiran. Juga pengetahuan. Mereka membantu apa yang aku butuhkan!" Ropo tidak berhamba lagi. Ini lebih mengagumkan Rempek yang tetap diam. "Apa yang salah? Kau..." Telunjuknya menuding muka Kertawijaya. "Apa yang kau kerjakan buat mereka? Kau membutuhkan upeti. Tapi tidak dapat memberikan apa pun kepada Blambangan kecuali kata- kata 'harus' dan 'jangan'!"

"Tutup mulutmu!" Kertawijaya benar-benar bangkit. Hampir saja ia mencabut kerisnya. Tapi Biesheuvel segera mencegah. Rempek sendiri sudah berdiri. Ia makin kagum pada Rsi Ropo. Matanya kini nyalang menatap Kertawijaya. Ia pun siap mencabut kerisnya. Ropo senyum. 4 Matanya melirik semua orang. Tenang.

"Tuan Rsi, kami bukan ingin cari perkara...," kini Biesheuvel bicara dalam Blambangan. "Kami ingin semua soal dibicarakan dengan baik. Kami ingin tahu kenapa orang Blambangan tak mau bayar pajak. Bukankah kami melindungi mereka? Mereka tak mau memberikan imbalan. Tidak seperti ajaran Tuan. Atau memang Tuan ajarkan mereka memberontak?" Suatu pertanyaan yang menyudutkan Rsi Ropo. Tapi Ropo tetap saja menjawab dengan tersenyum.

"Orang Blambangan menyambut kedatangan kalian dengan ramah. Dan memberikan apa saja yang kalian minta. Tapi beberapa waktu kemudian tampak juga belang kalian. Kalian mulai menjarah apa saja milik kawula. Bukan cuma harta, tapi juga wanita kami. Hati yang bersih telah kalian lukai dengan ulah kalian sendiri. Lebih dari semua itu, kalian telah menandai awal pemerintahan kalian dengan pembunuhan beribu-ribu kawula Blambangan dengan jalan mempekerjakan mereka di benteng-benteng, loji-loji, tanpa memberi mereka sesuap nasi pun! Ternyata kami menilai kalian telah merencanakan pembunuhan berkala atas kawula Blambangan! Karena itu jika ini tidak Tuan perbaiki, maka jangan salahkan seandainya suatu ketika mereka menyatakan sikap mereka dalam menuntut kembali haknya. Mereka tidak akan pernah berontak. Tidak! Tapi menyatakan sikap untuk menuntut kembali hak yang memang adalah milik mereka. Kalian telah merampasnya!"

"Tuan Rsi berkhotbah terlalu panjang!" Biesheuvel juga tersinggung. "Mereka telah malas bekerja membangun benteng yang sebenarnya adalah kepentingan keamanan kalian sendiri maka..."

"Sempurna sudah kejahatan kalian!" potong Rsi Ropo. "Bajak laut yang santun. Memaksakan orang bersopan-sopan. Tapi di balik topeng ini kerongkongan kalian haus darah. Atau barangkali kalian tidak pernah sadar bahwa uang di kantung kalian itu berlumuran darah? Setiap uang kalian di mana pun kalian berada, berlumuran darah kawula Blambangan, Jawa, dan daerah-daerah lain di seluruh bumi Nusantara ini. Darah kawula!"

"Bangsat! Ternyata kau memang harus digantung!" Biesheuvel tidak tahan lagi. Belum pernah ia mendapat perlakuan semacam itu dari seorang pribumi. Di mana pun ia pernah bertugas.

"Beglendeen! Bozgen! Seret orang ini! Masukkan penahanan!" Bersamaan dengan itu dari setiap kamar Jaksanegara muncul beberapa serdadu yang bersenjata lengkap.

"Inilah kalian!" Rsi masih memperdengarkan suaranya. "Kalian hanya mampu membunuh orang-orang tak berdaya! Ha... ha... ha... ha..."

Sejak saat itu Rsi Ropo menjadi penghuni Benteng Pangpang. Ia tidak boleh keluar ke mana pun kecuali mandi di kamar yang-sudah disediakan. Tidak seorang pun boleh menjenguknya. Tapi bukan berarti Ropo buta sama sekali akan keadaan di luar. Karena Bozgen hampir tiap dua jam sekali menjenguknya. Bozgen mendengar semua jawaban yang ia berikan kepada Biesheuvel maupun Kertawijaya. Tidak seperti Jaksanegara yang ketakutan dan minta-minta ampun. Maka itu menarik hatinya. Orang itu yakin dirinya benar, maka tak perlu ada yang ditakuti.

"Kami mengusahakan pembebasan Tuan," kata Beglendeen dan Bozgen yang menjumpainya di sel.

"Terima kasih!" desis Rsi Ropo. Ah, masih ada di antara bule-bule itu yang berhati mulia, pikirnya. Dan waktu senggang dipergunakannya untuk melakukan yoga semadi. Maka ia tidak terpengaruh oleh keadaan seputarnya.

Sementara itu Beglendeen dan Bozgen menghadap Biesheuvel. Di meja tulisnya Biesheuvel sedang membaca buku-buku. Ada di antara buku-buku itu yang menceritakan tentang perjuangan Wilhelm van Oranye yang membebaskan Nederland dari Spanyol. Ada juga buku yang menceritakan perjalanan Vasco de Gama. Dan masih ada beberapa lagi.

Tiba-tiba saja kedua orang itu sudah berdiri di hadapannya dan memberi hormat.

"Silakan duduk, Letnan, Sersan." Ia mengerutkan kening. Ia perintahkan kedua gadis pengipas-nya pergi. Ia tahu persis keduanya sedang ada urusan penting. Karena akhir-akhir ini tujuh puluh empat bintara memohon dipulangkan. Tentu mereka akan menanyakan permohonan itu.

"Kami sedang mempelajari permohonan itu. Dan mempertimbangkannya. Selain minta pengganti dari Surabaya," Biesheuvel mendahului.

"Terima kasih, Tuan. Tapi kali ini kami ingin membicarakan hal lain," Beglendeen menyampaikan pendapatnya.

"Apa lagi?"

"Soal penahanan Rsi Ropo." "Kenapa dengan bangsat itu? Penghasut memang harus mendapat ganjarannya."

"Tuan bicara dan memandang suatu masalah cuma dari sudut kita sendiri. Kepentingan kita sendiri. Tapi tidak pernah berpikir dari sudut manusia. Kita adalah sebagian dari manusia. Mengapa kita harus terlalu menyimpang dari kemanusiaan?"

"Letnan mau jadi malaikat? Aku peringatkan, Tuan dibayar oleh Kompeni. Oleh VOC. Bukan oleh perasaan kemanusiaan!" ujar Biesheuvel sambil bangkit berdiri. "Jika kita tidak paksakan kehendak kita pada mereka, pribumi-pribumi itu, mana mungkin mereka menyerahkannya dengan rela?"

"Pada mulanya kami suka menjadi hamba VOC. Tapi setelah kami melihat kenyataan bahwa di laci kami suatu ketika uang meneteskan darah seperti kata Rsi Ropo itu, maka kami menyadari keadaan kami. Kami telah menerima dusta dari perwakilan VOC di Nederland yang menawari kami pekerjaan ini. Mereka mendustai putra-putra Nederland yang dikirim kemari untuk dibantai sebagai perompak. Kapten Tack adalah pahlawan di mata VOC, tapi penjahat di mata orang- orang pribumi. Sekali lagi kami termakan dusta!"

"Dusta? Jadi Letnan dan Sersan dan tujuh puluh empat bintara ini merasa ditipu oleh VOC?" Biesheuvel geleng kepala. Memandang tempat kosong. Dan kembali duduk.

"Ya," tegas mereka berdua. Dan disambung oleh Bozgen,

"Alkitab yang kita anut melarang dusta! Juga melarang membunuh! Tapi bangsa Belanda yang Kristen telah menginjak-injak firman Tuhan sendiri!"

"Sersan selalu menghubungkan segala sesuatu dengan Injil. Apakah dengan hidup bersama wanita kafir itu Sersan tidak melanggar larangan Allah? Sersan sendiri hidup dalam perzinahan!"

"Mereka hanya belum kenal dengan Allah. Tapi jika saatnya tiba mereka juga akan kenal Allah, dan jika kita menilai tabiatnya, ia tidak lebih buruk dari kita yang katanya mengenal Allah! Bahkan Alkitab katakan akan tiba saatnya mereka menginjili kita. Karena hakikatnya memang mereka lebih tulus dari kita. Dan jika soalnya perzinahan, maka sebenarnya semua pejabat Kompeni suka berzinah. Jika tidak di sini, di Mataram. Jika tidak maka akan melakukannya di daerah lain. Nah, apakah kalau kami menyatu dalam kasih — bukan lagi dua, tapi menyatu! — apakah itu masih digolongkan berzinah? Menyatu dalam ahta kasih dan cita karsa."

"Semua orang sudah pandai berkhotbah!" Biesheuvel mendengus. "Sekarang apa kehendak Tuan?"

"Bebaskan Ropo!"

"Bebaskan? Dari mana datangnya pikiran segoblok itu?" "Tuan tidak merasakan apa yang kami rasakan. Sudah tiga

malam Benteng Pangpang dikepung barisan anjing yang

mengerikan. Menyalak dan melolong, menakutkan sekali. Semua orang tak berani keluar benteng malam hari."

"Gobloook!" Biesheuvel berdiri. "Dengan anjing bisa takut!

Orang-orang Belanda gagah perkasa. Mengarungi lautan begitu luas. Tidak takut gelombang besar, sekarang takut anjing!" Berkali-kali ia pukulkan tinjunya pada telapak tangannya sendiri, sambil mondar-mandir di depan kedua anak buahnya itu.

"Tidak boleh jadi!" katanya kemudian. "Ropo akan diasingkan juga! Atau jika perlu kita hukum gantung di depan seluruh orang Blambangan. Supaya tiap orang Blambangan tahu bahwa penguasa atau pemerintah lebih tinggi dari seorang paderi!" "Terkutuklah tiap orang yang berani membunuh paderi!" Bozgen berdiri. "Perlu Tuan ketahui, kami sudah menyampaikan pendapat kami. Tuan telah menolak maka sikap kami akan Tuan ketahui sejak sekarang kami cuma akan melaksanakan tugas. Tapi bukan bertanggung jawab." Kedua orang itu membalikkan badan.

Biesheuvel memandangi punggung kedua anak buahnya. Ada sedikit kecurigaan. Maka ia segera merundingkan hal itu dengan Pieter Luzac serta Schophoff. Sebagai hasil perundingan itu, Schophoff menyiagakan seluruh pasukan Madura dan Surabaya secara diam-diam. Pieter Luzac mendapat tugas mengamati tingkah laku mereka dan mencari sebab kejenuhan mereka bertugas di Blambangan ini.

Biesheuvel tidak merasakan apa yang dirasakan Beglendeen. Pengalaman pahit di kedai minum beberapa waktu silam merupakan pelajaran berharga baginya. Dan menjadi suatu titik tolak bagi jalan hidupnya. Karena sejak itu ia merenungi diri sendiri. Bayang-bayang orang yang mengaku dirinya sebagai Wilis selalu hadir dalam mimpinya.

Menyebabkannya sering mengigau. Apa salahku? Beglendeen bertanya pada diri sendiri. Setelah ia meniti masa lalunya maka semua seperti tergambar jelas. Apa yang dikerjakannya di negeri yang jauh ini? Memburu gaji tinggi sebagai pegawai VOC. Di samping itu akan mendapat julukan pelaut ulung, pahlawan niaga di negerinya jika pulang nanti. Betapa bahagia masa tua dengan uang tabungan dari VOC. Tidak pernah ia bayangkan bahwa ia harus membunuh sekian banyak pribumi tanpa dosa. Bahkan hampir saja ia membunuh anak kecil hanya karena ingus.

Pakaian dan senjata yang ada padanya telah membuat ia berubah sama sekali. Mengubah cara berpikir serta tingkah lakunya. Demikianpun tanda-tanda pangkat. Dengan benda- benda atau perlengkapannya Beglendeen merasa bahwa ingin menguasai, ingin dihormati, ingin diiakan apa saja yang ia maui. Dan sejak pertemuannya dengan Wilis, ia sadar akan keberadaannya sebagai manusia. Ia juga bisa menjadi lemah tanpa daya. Bisa juga diperhinakan. Bahkan teman-temannya sangat memperhatikan perubahan sikap Beglendeen itu.

Teman-temannya, baik para bintara ataupun tamtama, sering tidak memberinya kesempatan menyendiri. Sebab setiap kali ia ingat wajah Wilis tentu ia akan menggeragap dan napasnya tersengal-sengal, jidatnya mengeluarkan keringat dingin. Mata pemuda itu, ah, senyumnya... Ya, bagaimana jika anakmu sendiri yang beringus seperti itu, apakah kau juga akan membunuhnya? Dan jika pertanyaan itu sudah timbul maka tidak jarang ia meremas-remas kepalanya sendiri.

Bagaimana jika istrimu sendiri diseret dan diperkosa macam perempuan pribumi itu? Ahai, Beglendeen kau telah menyetujui perbuatan itu. Setidaknya kau tidak pernah mencegahnya.

Ya! Tapi mereka jahat! Mereka membunuh Kapten Blanke, Kapten Reyks di Benteng Banyu

Alit! Benar, Beglendeen. Mereka melakukan itu semata- mata karena membela hak mereka sendiri. Tapi kau? Dengan kakimu sendiri telah kau injak hak orang lain. Itukah bangsa beradab? Kembali Beglendeen menggeragap. Bozgen yang kebetulan di dekatnya mengguncang bahunya.

"Ada apa, Letnan? Sakit?" "Tidak!" Beglendeen tersipu.

"Atau Letnan sudah rindu Nederland?"

"Iya... betul katamu. Hem... aku akan minta berhenti dari tugas VOC ini begitu kontrakku habis tahun depan."

"Tahun depan?"

"Ya. Bulan Desember tahun depan." "Masih lama. Satu tahun tujuh bulan lagi. Dalam waktu sekian lama banyak hal yang masih mungkin bisa terjadi di Blambangan ini. Hamba sendiri ingin segera berhenti. Tapi mungkin tidak pulang ke Nederland. Tapi ingin tinggal di negeri yang bukan jajahan VOC. Tapi merdeka. Ingin kebebasan. Beberapa teman yang juga sudah jenuh di Blambangan ini mengajukan permohonan pindah."

Beglendeen pun merasa perlu segera mengajukan permohonan yang sama seperti mereka. Ia harus segera menyingkir dari bumi Blambangan. Penyakit menggeragapnya agak berkurang ketika suatu hari ia diberi tahu rencana Bozgen untuk menyeberang ke Bali. Demikian pula beberapa bintara. Diam-diam mereka kecewa karena Biesheuvel mencabut hak atau tunjangan plesir mereka. Dengan alasan tidak ada pemasukan dari Blambangan. Karenanya para penjabat VOC perlu berhemat.

Beglendeen memutuskan menyetujui rencana itu setelah ia menyaksikan pemeriksaan terhadap Rsi Ropo. Dengan berani pemuda itu menuding Biesheuvel dan mengatakan bahwa tiap uang VOC berlumuran darah. Yang ada di laci, di saku, di tempat-tempat penabungan uang, semua berdarah! Darah kawula Blambangan dan orang-orang Nusantara lainnya!

Jadi uang yang kukirim pada keluargaku, untuk membahagiakan anak-istriku, adalah uang hasil pembunuhan? Hasil pemerasan? Lebih dari itu hasil pencurian dan perampokan! Semua uang yang didapat dari pemungutan upeti dengan paksa, pada hakikatnya adalah perampokan.

Mereka tidak berdaya mempertahankan hak mereka sendiri. Maka dengan menangis mereka menyerahkannya.

Tidak! Tidak! Aku tidak boleh terus-menerus hidup di atas darah orang-orang yang kelaparan. Kelaparan di bumi yang subur ini. Bumi yang melahirkan mereka sendiri. Rsi itu masih muda, tapi mampu mencelikkan matanya. Hilang rasa sakit hati pada Wilis. Sebagai gantinya ia mengasihi Rsi Ropo. Berani tapi tidak punya senjata. Yang dimiliki pemuda itu tentunya kebenaran dan kata-kata. Huh... uangku, uangku... Yah, anak-istriku, ampuni aku, yang telah mengirimi kalian uang berlumur darah Apalagi ketika Rsi muda itu berkata,

"Sempurna sudah kejahatan kalian!" Ah, VOC adalah penjahat yang sempurna! Termasuk diriku.

Hari itu adalah hari yang sudah mereka tentukan. Mereka telah mengadakan pembicaraan berulang-ulang. Semua sudah diatur serapi mungkin. Pembagian tugas pun sudah diatur.

Bahkan dua hari lalu Inhorff dan Verberg, keduanya berpangkat sersan, sudah berangkat untuk mengatur pendaratan dan menghadap Wilis. Dengan perahu nelayan yang ditunjuk oleh Mas Ayu Prabu mereka telah berhasil sampai di tempat tujuan. Dan kini...

"Yacob, kau berangkat ke Sumberwangi. Kamu bertugas merampas lima kapal yang bersandar di sana. Tujuh puluh dua orang ini bergerak lima-lima. Aku berikan surat cuti pada kalian," Beglendeen memberi petunjuk. "Sesudah melewati Lateng, kalian akan dijemput oleh pasukan Bali yang menyamar sebagai nelayan. Setelah merampas lima kapal itu, kalian bergerak ke Bali. Tinggalkan satu kapal menunggu kami."

"Baik, Tuan."

"Sementara itu aku dan Bozgen akan melepaskan Rsi Ropo.

Karena dengan demikian perjalanan kalian akan terjamin."

Sesudah itu Beglendeen segera membuatkan surat untuk teman-temannya. Karena ia komandan regu, ia punya kuasa untuk menandatangani surat-surat jalan. Dan mulailah gelombang demi gelombang mereka berangkat ke tempat yang telah diperintahkan oleh Beglendeen. Sementara itu Bozgen pulang ke loji untuk mempersiapkan istrinya.

Tapi apa yang ia dapati di rumah? Lojinya telah kosong.

Istrinya tiada. Ia cari di kamar, di dapur, di halaman, di mana- mana tidak ada. Dengan lunglai ia kembali ke kamar. Hatinya penuh tanda tanya. Apakah ia lari dariku? Tidak mungkin, bapa-ibunya ada di pembuangan. Menari lagi? Itu pun tak mungkin, karena ia sudah lama tidak latihan. Kemudian ia ingat tadi malam ketika mereka bersanding di pembaringan. Perempuan itu berkata, bahwa ia akan berangkat dulu ke Mengwi. Menunggu di sana. Jika nanti kapal merapat di pelabuhan Buleleng, maka ia akan mengalungkan bunga untuk Bozgen, suaminya tercinta.

Ah, dia sudah berangkat? Kenapa ia tidak bilang terus- terang bahwa hari ini akan berangkat? Apa ia sudah tahu bahwa hari ini teman-temannya bergerak. Padahal rencananya ia sendiri baru akan bergerak membebaskan Rsi Ropo setelah beberapa saat mentari terbenam. Ia diperkenalkan oleh istrinya dengan seorang jelita bernama Mas Ayu Prabu. Dan gadis jelita itu memperkenalkannya dengan seorang bernama Wilis. Dan Beglendeen menjadi sangat takut kala berhadapan dengan orang itu. Ia ingat kejadian di kedai beberapa waktu silam. Takut akan keselamatan jiwanya, juga disebabkan oleh banyak kekecewaan terhadap Biesheuvel, maka Beglendeen menyatakan diri ikut dalam gerakan pembelotan itu.

Kegelisahan memenuhi pikiran Bozgen. Bukan takut gagal dalam pembelotannya. Tapi ia resah akan nasib istrinya. Ia khawatir barangkali perempuan muda itu mengandung, maka sangat bahaya menempuh perjalanan sulit seperti sekarang ini. Dan setelah menyadari bahwa istrinya benar-benar sudah berangkat maka tidak ada jalan lain kecuali berlutut dan berdoa, di hadapan Bapanya... Tuhan pencipta langit dan bumi. Ia serahkan semua yang bakal terjadi. Ia ingat istrinya suka sekali ia berdoa. Dan sudah ia coba mengajarkan pada istrinya itu bagaimana caranya mengenal Allah yang hidup.

Meskipun demikian karena istrinya melihat dengan mata kepala sendiri, bahkan merasakan bagaimana J. Vos, juga Colmond memperlakukan orang-orang Blambangan, maka tidak mudah bagi wanita itu untuk menerima kekristenan dalam hidupnya. Bozgen sedih melihat kenyataan ini. Tidak kurang-kurang orang Kristen yang menjadi penyebab persoalan, bukan pemecah persoalan. Karena kasih sudah tiada lagi di hati mereka.

Malam itu adalah yang keempat. Sebagaimana malam- malam sebelumnya, setiap mentari sudah ditelan mulut bumi, maka gerombolan anjing mulai muncul. Mengepung benteng di mana Rsi Ropo mendekam. Bagi orang Blambangan hari itu adalah bulan Jita tanggal tua, maka bulan tak kunjung muncul. Bintang memang membantu menerangi alam. Namun tetap saja tak mampu menembus dedaunan, atau semak belukar. Lampu-lampu minyak hanya menyorotkan warna merah bercampur kuning. Tidak mampu menerangi jangkauan yang lebih dari lima depa. Tapi kali ini suara salak anjing lebih riuh dari biasanya. Sambung-menyambung seperti tak putus- putus. Semua penghuni Pangpang ketakutan. Orang-orang Blam-bangan asli segera menyiapkan perapian untuk membakar kemenyan. Pintu-pintu semua tertutup rapat.

Pangpang benar-benar bagai kota mati.

Bapa Anti tidak berani keluar rumah. Sekalipun malam ini ada panggilan dari Jaksanegara. Ia menyuruh anak lelakinya untuk menghadap. Ia tinggal bersama istrinya yang termuda. Baru tujuh tahun ini tinggal di rumah Bapa Anti. Mendengar lolong anjing yang tiada henti hati Bapa Anti yang sudah tua menjadi amat berdebar. Ia mendekati pembaringan istrinya.

"Kakang tampaknya takut?" bisik Rani ketika suaminya naik ke pembaringan.

"Anjing-anjing sialan itu Bahkan kini dekat sekali dengan

rumah kita."

Rani bangkit. Ia coba mengintip ke pendapa. Berjingkat menuju pintu. Bapa Anti memegang tangannya sambil mengikuti berjingkat. "Ke mana?" bisik lelaki itu sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Rani. Rani tidak menjawab. Ia coba membuka pintu sedikit. Untuk mengintip. Dan... tiga ekor anjing hitam duduk di pendapa sambil menyalak dan melolong. Cepat ia tutup kembali. Kemudian menarik napas dalam-dalam.

"Ya, Allah... kenapa Tuan Jaksanegara berani menangkap Rsi Ropo?" perempuan yang sebenarnya Cina itu ikut takut. Dewa-dewa orang Blambangan marah kini, pikirnya.

Bapa Anti makin takut. Seketika itu juga encok di boyok(pinggang bagian belakang) juga kakinya, kambuh. Jenggot dan rambutnya nampak kian putih. Ia dipapah oleh istrinya ke pembaringan.

"Sudah kau simpan gaji dari Tuan Biesheuvel kemarin?" tanya Bapa Anti dalam bisik. Istrinya mengangguk. Memang ia menyimpan dalam bambu tiang rumahnya. Wanita muda itu senang sekali ketika menerima uang begitu banyak. Tak mungkin kawula akan memiliki sebanyak itu. Untung juga jadi istri Bapa Anti sekalipun sudah tua. Kini Bapa Anti melambaikan tangan agar dia berbaring di sampingnya. Rani merasakan pipi Bapa Anti lebih dingin dari biasanya jika sedang mencium. Tapi napas Bapa Anti tetap saja

mendengus-dengus seperti kerbau jantan.

Bersamaan dengan itu jendelanya diketuk orang dari luar.

Rani yang bangkit dan menempelkan telinga ke jendela. "Siapa?" bisiknya.

"Aku tidak perlu kamu. Tapi Bapa Anti." Orang di balik jendela menjawab. Juga perlahan. Rupanya tidak ingin ribut- ribut. Tapi bersamaan dengan itu sebuah pisau menembus tepat di atas susu Rani yang juga menempel di jendela.

Sebagai peringatan agar Rani tidak menjawab lagi. Wanita muda itu menjadi gemetar. Seluruh persendiannya seperti copot. Tanpa sadar ia terduduk. Sementara itu bibir Bapa Anti kian menjadi ungu. Lidahnya kelu. Suara yang memanggilnya berulang mantap. "Jangan tunggu kami masuk. Keluarlah lewat jendela ini. Jika tidak..." Suara itu berhenti. "Atau kubakar rumah ini?"

"Ba... bab... bab... baik... aku akan keluar." Bapa Anti mengalah. "Asal jangan ganggu Rani!" Ia masih sempat menambahi.

"Drubiksa! Wariskan anak itu pada anakmu! Tua bangka tidak tahu diri! Ayo cepat!"

Bapa Anti kian tidak kuat jalan mendengar itu. Ia akan dibunuh. Ia berusaha menyeret kakinya ke jendela. Tapi rasanya lama sekali.

"Cepat, Bapa Anti. Atau aku suruh anjing-anjing itu masuk dan menggerogoti dagingmu pelan-pelan sebelum rumah ini kubakar. Atau biar kulit istrimu dicabik-cabik ..."

"Jangan... jangan... aku mau keluar... ah " Bapa Anti

kehilangan pertimbangan. Memang siapa yang kehilangan keberanian maka ia juga kehilangan semangat. Dan siapa kehilangan semangat maka habislah pertimbangannya.

Sementara Rani mulai terisak.

"Jangan mengeluarkan suara apa pun!"

Akhirnya Bapa Anti sampai juga di jendela. Ia buka perlahan-lahan. Namun begitu terbuka badannya seperti tersedot keluar. Tangannya ditarik dengan keras sehingga ia terlompat.

"Sekali lagi, Rani, jika kau ingin selamat, jangan beranjak dari kamarmu. Sebab anjing juga akan menjagamu di jendela ini sampai esok pagi. Jangan berteriak. Sia-sia. Anak tirimu, Juru Kunci, sedang berpesta di rumah Jaksanegara!"

Kemudian suara itu hilang bersama langkah menjauh. Rani benar-benar tak berani bangkit. Apalagi ketika beberapa bentar kemudian terdengar salak anjing tepat di bawah jendela kamarnya. Ia merangkak ke pembaringan. Berusaha naik. Dan menutup telinga dengan telapak tangannya. Tapi suara itu tetap saja menerobos tiap celah jarinya. Ia pingsan.

Ketakutan membuat orang Pangpang tidak keluar ketika mendengar kentongan dipukul bertalu-talu sebagai tanda ada rumah terbakar. Rumah mewah milik Lie Pang Khong terbakar. Kentongan tiada henti berbunyi. Terdengar juga oleh penghuni benteng. Beglendeen memerintahkan orang- orangnya untuk bergerak memadamkan kebakaran.

"Semua ke sana!" teriak Beglendeen.

Dan para prajurit berlarian membawa alat-alat yang dapat dipakai untuk menolong kebakaran. Bukan cuma benteng itu, tapi juga yang di tangsi-tangsi banyak yang berlarian ke rumah Lie.

Justru saat itu anjing-anjing mengejar mereka. Membuat mereka makin panik. Ada juga yang berani membunuh anjing- anjing itu. Namun seperti hantu saja, anjing-anjing itu jumlahnya makin banyak. Kekalutan memudahkan Mas Ramad Surawijaya bersama empat anak buahnya masuk ke Benteng Pangpang. Seorang di antara mereka tampak memikul manusia di pundaknya.

Semua berjalan lancar karena Bozgen sudah menunggu mereka di gerbang belakang seperti yang telah mereka rundingkan. Rsi Ropo juga sudah di situ. Sudah tidak berpakaian brahmana lagi. Kemudian dengan cepat orang yang dipanggul dan dalam keadaan pingsan itu diturunkan dan diganti pakaiannya dengan pakaian brahmana. Setelahnya cepat-cepat dipanggul lagi dan dibawa ke sel dimana Rsi Ropo seharusnya ditahan. Orang itu ditidurkan menghadap tembok. Gerakan mereka memang sangat cepat. Dan Rsi Ropo sudah kabur sewaktu Bozgen mengunci kembali gerbang belakang yang seharusnya cuma dibuka bila benteng itu terbakar.

Dengan berdebar Bozgen melaporkan pekerjaannya pada Beglendeen, yang menyambutnya. Mau-tak mau ia memang kagum terhadap Wilis. Apalagi sampai saat itu ia belum mendengar sebuah letusan pun. Padahal ia sadar betul di tiap semak ada anak buah Wilis. Yang setiap saat siap memuntahkan pelurunya. Semua tangsi dan benteng sudah dikepung. Dan yang aneh lagi anjing-anjing itu. Bagaimana mungkin anjing yang jumlahnya begitu banyak bisa dikendalikan seperti halnya manusia?

Seperti tidak sabar rasanya Bozgen dan Beglendeen menunggu penggantian penjagaan. Sersan Bozgen sebagai komandan jaga malam itu akan diganti oleh Sersan Fische. Sementara orang sibuk menolong memadamkan api di rumah Lie Pang Khong. Tepat pada jamnya Sersan Fische datang juga. Timbang terima di bawah pengawasan Beglendeen pun terjadi. Dan pemeriksaan kamar tahanan dilakukan cuma dari luar sel. Rsi Ropo masih tertidur menghadap tembok.

"Lihat dia masih bernapas! Berarti ia masih hidup," Bozgen bergurau. Dadanya memang tampak bergerak naik-turun, tanda masih bernapas. Dan, "Dengar dengkurnya! Seperti orang menggergaji, kan?"

"Yah..." Sambil pergi Fische tertawa.

Bozgen dan Beglendeen berpamitan pada Fische akan menengok anak buahnya yang sedang memadamkan kebakaran serta sepuluh anggota regunya. Baik-baik jaga tahanan! begitu pesan Beglendeen. Namun begitu di luar benteng dua ekor kuda sudah menunggu. Dan tanpa ayal lagi mereka kabur ke Sumberwangi.

Tapi begitu mereka keluar dari perbatasan kota Lo Pangpang, terdengar sebuah letusan. Dan kemudian disusul oleh letusan lainnya. Keduanya tidak berhenti. Mereka memacu kudanya makin cepat menjauhi Lo Pangpang. Cuma mereka menduga-duga apakah yang telah terjadi?

Dan tembakan itu memang datang dari rumah Jaksanegara. Malam itu di rumah Jaksanegara sedang ramai orang berpesta. Mereka merayakan kemenangan dari pendapat yang membuktikan bahwa sekalipun menangkap seorang brahmana Juga tidak apa-apa. Tawa riuh dan tuak serta minuman dari Eropa dicampur menjadi satu. Wanita cantik menjadi penghangat malam gembira itu.

Namun kegembiraan mereka tidak berlangsung sampai tengah malam. Karena beberapa bentar setelah pesta dimulai di gerbang muncul dua orang membawa sebuah kotak besar.

"Kami mengirimkan pesanan Yang Mulia Jaksanegara." "Apa ini?" tanya penjaga gerbang yang kebetulan orang

Surabaya.

"Tidak tahu, Tuan. Dan perintah Yang Mulia kami hanya diperkenankan mengantar sampai di gerbang ini. Barangkali ini kenang-kenangan yang akan dipersembahkan pada Tuan Besar Bies..."

"Gila perintah macam itu! Kami juga memikul barang ini?"

"Tidak tahu. Permisi, kami pergi, Tuan." Keduanya berbalik.

Sambil menggerutu dua di antara lima pengawal itu menggerutu. "Setan! Beratnya!"

Sampai di dalam ia repot menghadap Jaksanegara. Orang itu seperti tidak membutuhkan kotak yang dipikulnya. Tapi ia beranikan diri menghadap Jaksanegara yang sedang mendampingi Schophoff dan Kertawijaya.

"Siapa kamu menghadap tanpa dipanggil?" Kertawijaya menanya. Karena ia tahu prajurit itu orang

Surabaya.

"Hamba prajurit tamtama," prajurit yang bermata lebar menjawab.

"Ada apa?"

"Ini, Yang Mulia, pesanan Yang Mulia Jaksanegara " "Apa itu?" Jaksanegara terkejut. "Aku tidak pesan apa-apa dari siapa pun."

"Kata pengirimnya... Yang Mulia pesan dan akan dihadiahkan pada Tuan Besar " Mata orang itu melirik

Schophoff. Tapi tidak meneruskan ucapannya. Takut menyinggung karena hadiah bukan untuk dia. Jaksanegara segera berdiri. Dan memerintahkan agar kotakbesar itu diangkat mendekat. Kedua pengawal itu mengeluh lagi. Dalam bisik mereka berkata-kata satu dengan lainnya. "Ngangkat lagi!"

"Salahnya kamu jadi prajurit!"

"Terpaksa, Cak. Kalau tidak mana sudi " Dan mau tak

mau mereka mengangkat lagi sampai di depan Jaksanegara. Belum lagi ia melangkah pergi perintah membuka kotak itu datang dari mulut Jaksanegara. Kotak sebesar peti mati itu tidak sukar untuk dibuka. Karena memang ada pintunya, seperti almari pakaian. Ternyata isi almari itu adalah manusia. Semua terpekik dalam kejutnya. Apalagi Schophoff dan Pieter Luzac. Mayat Lie Pang Khong yang rumahnya sedang terbakar. Tidak setetes pun darah mengalir dari tubuh mayat itu.

Schophoff mengumpat sejadi-jadinya. Marah luar biasa.

Lalu.

"Tangkap orang yang membawa peti ini ke sini! Cepat! Gila! Kurang ajar!" Seribu umpatan keluar dari mulutnya. Pieter Luzac cepat membubarkan pesta dan memerintahkan pengawalnya untuk siap mengejar musuhnya. Tapi bersamaan dengan itu serombongan anjing menyerbu masuk. Semua orang menjadi panik.

"Gila!" Sekali lagi Schophoff menyatakan kejengkelannya. "Bunuh semua anjing-anjing ini!" Ia menembak ke atas.

Dengan pedangnya ia bunuh tiap anjing yang mendekat padanya. Sementara itu Kertawijaya juga menghunus kerisnya, tapi ia naik ke atas meja. Tahu begitu beberapa anjing malah mengerubung dibawah mejanya. Ia berteriak- teriak pada penjaga supaya memberinya sebuah tombak.

"Najis! Najis! Pergi!" ia mengumpat pada anjing-anjing itu.

Namun tidak digubris. Dengan kerisnya ia menusuk seekor, tapi beberapa ekor lainnya mulai menggigit ujung kainnya.

Pieter Luzac marah bukan kepalang. Orang Blambangan menghinanya. Mereka dihadapkan cuma dengan anjing. Ia membunuh anjing-anjing. Sebagian orang lain ada yang menemukan akal. Menyiram anjing-anjing itu dengan air. Dan berhasil. Anjing-anjing itu terbirit-birit. Walau sambil menyalak dan meninggalkan bangkai teman-teman mereka. Begitu anjing-anjing itu keluar Pieter Luzac dengan para pengawalnya menyerbu keluar. Schophoff pun tak kalah garang. Dengan pengawal berkudanya ia mencoba menghubungi tangsi-tangsi. Dan ia lebih dahulu mampir di kediaman Biesheuvel.

Orang itu sendiri baru saja pulang dari melihat kebakaran. Di gerbang ia berpapasan dengan Schophoff. Mereka sama- sama akan masuk. "Selamat malam, Tuan."

"Selamat malam. Barangkali Lie Pang Khong ikut terbakar." Biesheuvel menarik napas panjang sambil turun dari kudanya.

"Tidak, Tuan," Schophoff menerangkan. "Ia diculik dan sengaja dibunuh. Mayatnya dikirim ke pesta kami di rumah Jaksanegara."

"Setan! Ini bukan sekadar kekacauan biasa. Tapi unjuk kekuatan." Biesheuvel menggertakkan gigi karena jengkel.

Keduanya berjalan sedang pengawal siap menunggu perintah di depan pintu. Mereka berbaris dengan senjata siap di tangan.

"Pengantar mayat itu belum tertangkap. Mereka pesan bahwa itu hadiah buat kami." Schophoff menyampaikan dengan perasaan geram. Tidak lagi dapat tertawa sebagaimana biasanya.

"Gila! Benar-benar mereka menantang perang!" katanya sambil membuka pintu kamarnya. Tapi betapa terkejutnya ketika ia masuk semua perkakas acak-acakan. Bergesa ia memeriksa kamar. Gadis-gadis pengipas semua tidak ada di ruang tamu. Ia buka kamar tidurnya... Biesheuvel berteriak kaget! Seorang perempuan muda Cina diikat di tempat tidurnya. Anak Lie Pang Khong di sini? Gadis ini biasa dipanggil Lie Mei Hwa. Teriakannya menarik perhatian pengawalnya. Tapi tidak berani mendekat karena tidak ada panggilan. Schophoff yang berani mendekat. Ia , juga tidak kurang-kurang kagetnya. Seorang gadis muda dengan rambut panjang dan hitam yang dikepang dua, terikat kaki dan tangannya. Mulutnya disumbat kain.

Muka Schophoff benar-benar merah seperti bara. Tiba-tiba ia maju dan membuka sumbat mulut gadis itu. Dan betapa terkejut kala melihat di kain sutra yang dipakai menyumbat mulut gadis itu terdapat sebuah tulisan dalam bahasa Belanda.

"Persembahan buat Tuan Biesheuvel."

Segera Schophoff menunjukkan surat itu pada Biesheuvel. "Gila! Mereka menulis dalam Belanda."

"Tentu ada orang kita yang terlibat. Atau kita wajib mencurigai orang Blambangan yang bisa berbahasa Belanda."

"Jika demikian, ambil Bapa Anti!" perintah Biesheuvel. Sementara di luar anjing-anjing juga mengepung rumah Biesheuvel dan terus menggonggong. Schophoff paling jengkel mendengar itu. Namun para pengawalnya tetap ia perintahkan untuk mengambil Bapa Anti. Siapa tahu ia yang menulis surat itu. Sedang Biesheuvel marah pada pengawal rumahnya. "Gila kalian. Bagaimana kalian tidak tahu ada orang masuk ke sini?" tegurnya.

"Sungguh, tidak tahu, Tuan. Dan kami tidak bisa dengar apa-apa. Suara anjing-anjing itu...," jawab kepala regu penjaga rumah itu.

"Goblok! Tidur saja!" Biesheuvel balik lagi ke kamarnya. Ia lepaskan Lie Mei Hwa dari ikatan.

"Siapa yang membawa kamu? Kapan kamu dibawa? Kenapa kamu tidak teriak?" serentetan pertanyaan ia lontarkan. Namun gadis Cina itu tidak menjawab. Ia menangis dan mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti maknanya oleh Biesheuvel maupun Schophoff. Tak bisa berbahasa Belanda maupun Blambangan rupanya.

"Hai, kau bisa bercakap bahasa Blambangan? Juga bahasa Belanda?" Schophoff yang bertanya kini. Tapi gadis itu hanya memandangnya sambil menangis. Beberapa saat kemudian menggelengkan kepala sambil melihat sekelilingnya. Rupanya baru menyadari keadaan.

"Jika demikian, periksa seluruh Lo Pangpang. Panggil semua perwira dan bintara!"

Seorang pengawal meniup sangkakala. Segera disambung oleh sangkakala di benteng dan tangsi-tangsi. Maka semua perwira segera mengapelkan anak buahnya. Sebab sangkakala itu berarti akan diadakan pemeriksaan mendadak. Kala itu mereka segera melapor pada Pieter Luzac bahwa ada beberapa orang bintara yang tidak ada karena mereka cuti.

Surat cuti ditandatangani oleh Beglendeen. "Ke mana Beglendeen?"

"Tidak tahu, Tuan," jawab Schophoff pada Biesheuvel.

Biesheuvel mengerutkan dahi. Ia ingat beberapa bintara minta dipulangkan. Sekarang mereka semua tiada. Justru dalam keadaan panik. Mereka bersekongkol dengan pemberontak! Bersekutu dengan orang-orang Blambangan yang menentang VOC. Biesheuvel pusing memikirkan kenapa menjadi begitu. Semua orang menjadi takut mati. Seolah Blambangan ini negeri hantu yang membunuh semua orang.

Ia terduduk. Sementara di kamarnya seorang gadis Cina sedang menangis. Ia sendiri mengipas-ngipas. Tidak ada lagi gadis pengipas, karena diculik orang. Sedang anjing-anjing itu tidak berhenti menyalak. Dan bunyi tembakan kini makin seru. Berarti ada kemungkinan hari ini ada usaha pembebasan Rsi Ropo. Maka ia perintahkan Pieter Luzac melihat apakah Rsi itu masih ada dalam selnya. Pieter menjawab bahwa ia baru saja menengok orang itu. Dan masih lelap tertidur.

"Gila dalam keadaan hiruk-pikuk begini ia tertidur? Coba lihat sekali lagi, apakah ia tidak mati!" Begitu habis kata- katanya, pasukan yang diperintahkannya mengambil Bapa Anti tiba dengan membawa perempuan muda.

"Aku perintahkan kalian mengambil Bapa Anti! Bukan wanita!"

"Ampun, Tuan. Bapa Anti tidak ada dan perempuan ini bungkam saja. Barangkali memang dia menyembunyikannya. Maka kami bawa orang ini."

Perempuan muda itu didorong-dorong ke hadapan Biesheuvel. Bengong dan gemetar. Tidak berani bicara apa- apa kecuali bilang, "Tidak tahu." Cuma dua kata itu saja.

Sebab dalam angan wanita itu masih tergambar moncong anjing-anjing di sekitar rumahnya. Dan suara ancaman yang tidak pernah ia lihat siapa yang mengatakan.

Akhirnya Biesheuvel memerintahkan wanita itu ditahan lebih dulu. Dimasukkan kamar yang dulu pernah ditempati salah seorang gadis pengipas. Biesheuvel tidak sempat memperhatikan kesegaran tubuh atau kemontokan susunya. Apalagi setelah beberapa bentar kemudian Pieter Luzac datang dengan membawa laporan bahwa Ropo tidak ada. Yang tertidur di sana ternyata Bapa Anti dengan berpakaian seperti Rsi Ropo.

"Setan! Bagaimana orang itu bisa lolos? Bagaimana pula Anti bisa menggantikannya? Periksa komandan jaganya Luzac! Dan... Tuan Schophoff, beri tahukan pelarian ini ke seluruh Blambangan. Dan kirimkan juga berita ke Surabaya secepatnya!" Perintah terus mengalir dari mulut Biesheuvel.

Semua pasukan gabungan jadi sibuk. Untuk sementara pasukan garnisun digantikan dengan orang-orang Madura dan Sidayu. Orang-orang kulit putih diistirahatkan. Dan sebagian disebar untuk mengadakan pengejaran. Ada yang ke jurusan Surabaya melalui darat dan sebahagian mengejar ke Sumberwangi lewat Lateng.

Namun semua tidak berjalan semudah yang diimpikan.

Sebagian besar tertahan di tangsi dan benteng sebab begitu keluar dari tempat mereka disambut oleh tembakan.

Kegelapan membuat mereka tidak tahu di mana musuh bersembunyi sambil menembak. Bahkan di Benteng Pangpang mulai jatuh korban. Seorang yang bertugas memegang pembukuan benteng tewas ketika sedang berusaha merangkak untuk membawa buku laporan ke kediaman Biesheuvel.

Meskipun begitu, Pieter Luzac masih mampu menembus kepungan dan dengan sepuluh orang pengawal ia mengejar mereka yang kejurusan Lateng. Kemudian sepuluh orang berkuda lagi menyusulnya ke jurusan Lateng. Tidak gampang memang. Mereka harus membayar dengan tiga nyawa ketika mulai keluar dari tapal batas kota Lo Pangpang.

Beglendeen dan Bozgen tidak tahu bahwa rumah Lie Pang Khong sudah musnah sama sekali dilanda api. Dalam pikiran mereka hanya melihat sebuah kapal yang sedang menunggu mereka setelah dirampas oleh teman-temannya. Mereka tidak tahu bahwa teman-teman mereka cuma mampu merampas tiga kapal. Di kapal keempat dan kelima mereka mendapat perlawanan. Sehingga membuat laskar Bali yang menyamar sebagai nelayan dan mengelilingi kapal itu menjadi tidak sabar. Mereka ikut naik ke geladak kapal perang Belanda itu. Pertempuran sengit terjadi di^atas kedua kapal yang terakhir itu. Tiga lainnya sudah bertolak ke Buleleng setelah sebelumnya terjadi pembantaian atas beberapa awak kapal oleh para pembelot dan laskar Bali yang naik ke geladak.

Komandan Benteng Lateng, Letnan Schaar segera mendapat laporan dari awak kapal yang berhasil meloloskan diri. Karena itu segera mengirimkan bala bantuan untuk mencegah terampasnya dua kapal itu. Setelah itu pertempuran menjadi tidak imbang. Laskar Bali di kapal keempat melihat ini merupakan gelagat yang tidak menguntungkan. Sebagian dari mereka nekat merampas meriam dan menembak ke arah kapal kelima. Dua tiga kali tembakan kearah kapal yang:'tidak bergerak itu, tentu tidak mungkin terhindarkan. Semua yang bertempur menjadi amat terkejut.

Apalagi setelah beberapa bentar kemudian di atas geladak kapal keempat berkobar api. Semua layar terbakar. Ternyata laskar Bali yang melihat beberapa bintara pembelot mulai kehilangan semangat tempur, bahkan sudah ada yang angkat tangan, menjadi marah. Mereka mengambil ke-putusan untuk membakar kapal setelah itu melompat ke laut. Berenang ke perahu-perahu kecil yang memang sejak tadi menunggu.

Sebagian pasukan pembelot juga berbuat hal seperti itu. Nasib kedua kapal itu sudah bisa ditentukan karena air juga sudah mulai masuk ke kapal kelima.

Kedatangan Bozgen dan Beglendeen disambut dengan tembakan. Mereka bergulingan di pantai. Melihat api berkobar di laut keduanya sadar bahwa bahaya sedang mengancam.

Maka mereka berlari menuju perkampungan nelayan. Baru mereka sadar kenapa selewat mereka dari Lateng tidak ada yang menjemput. Rupanya sudah tercium oleh Letnan Schaar. Tapi sebelum mereka sampai di perkampungan sebuah peluru menyambar tepat di dada Bozgen. Pemuda itu terbanting.

Beglendeen bertindak cepat. Segera ia gendong pemuda itu dan dibawa terus berlari. Ternyata para nelayan membantunya. Cepat-cepat membawa ke sebuah perahu layar. Dan nelayan itu mendorong kapalnya ke laut serta mengembangkan layarnya.

Bozgen membuka matanya. Beglendeen mengusap luka di dada Bozgen. Berkali ia mengerang. Seluruh tubuhnya lemah. Darahnya terkuras.

"Berdoalah, agar Tuhan memberimu kekuatan," Beglendeen menasihati.

"Terima kasih, Tuan. Tapi... rasanya aku tak akan sampai." "Kuatkan hatimu. Ni Ayu Repi menunggu di Buleleng."

Di bawah sinar bintang tampak mata Bozgen mengerjap. Tapi sebejtitar kemudian mengatup lagi. Dahinya berkerut. Rahangnya menegang. Menahan sakit. Menghela napas panjang sebentar. Berkata lirih,

"Tuan... jika aku tak melihatnya lagi, salamku buat dia. Aku mencintainya sampai akhir. Dan aku cinta negeri ini, yang memberiku makan, kesukaan dan..."

"Bozgen..." Beglendeen mengguncang-guncangkan tubuh Bozgen. "Repi menunggumu dan menyiapkan karangan bunga "

Tidak menjawab lagi. Beglendeen menengadah ke langit. Bintang-bintang mengerjap. Puluhan juta bintang di atas laut itu, tidak dapat mengganti temannya yang selalu bergurau bersama. Ah, karangan bunga, rupanya perlambang kematian.

Seluruh yang masih di atas kapal tidak ada yang selamat.

Panah laskar Bali siap mengirim mereka ke keberakhiran. Batas dari hidup yang diulur oleh siapa pun. Bukan cuma itu, ternyata di antara perahu nelayan yang tidak mencurigakan itu ada yang menembakkan kanon dan panah api. Itu sebabnya Letnan Schaar memerintahkan menembaki perahu- perahu nelayan itu dengan kanon. Dan tanpa sengaja perahu Beglendeen tersasar peluru kanon. Lumatlah Beglendeen bersama nelayan yang menolongnya. Benar juga, Repi tidak akan pernah bertemu dengan kekasihnya. Tiap orang yang turun dari kapal Belanda itu, diperhatikannya. Berlari ke sana kemari, tapi pemuda itu tidak ada. Ketika ia tanyakan jawabnya tidak tahu, atau masih di belakang, atau... barangkali masih... masih sedang bertempur.

Dada Ni Ayu Prabu yang berdiri di samping Ni Repi berdesir mendengar itu. Apalagi kapal yang sekarang masuk ke pelabuhan Buleleng ini cuma tiga. Berarti yang lain terhadang oleh pertempuram Atau bahkan bisa juga tenggelam bersama seluruh orang yang berada di atasnya. Berarti ada pertempuran. Lalu bagaimana nasib Sratdadi? Nasib Mas Ramad? Ah, jika demikian ia tak boleh berlama-lama tinggal di Bali ini. Jika perlu malam ini juga harus balik ke Blambangan. Tapi Wong Agung Wilis mencegah. Pastilah belum aman dan pantai dijaga dengan ketat. Wong Agung khawatir tiap kapal nelayan akan digeledah. Tidak lazim wanita nelayan ikut melaut. Karena itu akan mencurigakan pihak Kompeni dan bisa membahayakan diri Ni Ayu.

Sambutan begitu meriah. Orang-orang Mengwi menari-nari merayakan pembelotan beberapa bintara Kompeni itu. Kendati cuma sekitar lima belas yang selamat. Tapi tiga kapal perang yang mereka bawa itu? Berapa harganya? Di atas semua itu Wong Agung Wilis-lah yang menerima sanjungan. Dan hati Ni Ayu Ratih semakin berbunga. Kendati Wilis sendiri sebenarnya merasa malu. Ayu Prabu-lah yang seharusnya menerima sanjungan ini, katanya pada Ratih. Namun Mas Ayu Prabu tidak mempersoalkannya. Ia lebih sibuk menghibur Repi yang gagal mengalungkan bunga untuk kekasihnya, Bozgen. Air mata Repi tidak henti mengalir. Isaknya ditelan ombak yang menghantam pantai. Ia pandangi merpati-merpati laut yang berkeliling mencari makanan. Demikian pula camar yang berkeliling di angkasa biru. Namun mulutnya tetap membisu. Ia pandang kebiruan yang berbuih-buih putih di hadapannya. Duduk di atas karang. Mas Ayu memeluknya erat. Kau masih cantik, Repi. Masih panjang jalan setapak yang harus kita hadapi. Masih banyak onak membentang. Sabar dan sadarlah kau, Repi. Diam. Menangis. Diam.

Kala fajar menyingsing, tembakan sudah berhenti di Pangpang. Tidak ada pihak yang menembak. Menurut Jaksanegara kejadian seperti tadi malam itu bukan kebiasaan orang Hindu. Mereka tidak pernah bertempur malam hari, katanya pada Biesheuvel. Tapi orang itu tak menggubris. Ia sangat kecewa atas kejadian itu. Bukan karena harus memuntahkan peluru dan bertempur. Namun ia juga menghadapi pembelotan. Barangkali ini yang pertama dilakukan oleh orang-orang Kompeni. Belum pernah terjadi pada perang-perang sebelumnya. Zaman Untung yang pernah membunuh Kapten Tack itu pun tidak terjadi. Walau memang ada perlawanan dari Suzane yang mencintai Untung. Ini aib yang bisa berakibat buruk pada dirinya. Tentu ia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Dewan Hindia di Batavia. Dengan lima kapal hilang! Ini membuat kepalanya pening.

Ia perintahkan anak buahnya membersihkan bangkai- bangkai dari kota Pangpang. Baik bangkai anjing maupun mayat-mayat manusia. Bahkan juga bangkai kuda. Semua mati karena kebrutalan perang. Setelah itu ia sendiri pergi ke benteng untuk melihat Bapa Anti. Ia pasti berkomplot dengan penjahat dan sengaja menyediakan diri sebagai ganti Rsi Ropo. Beberapa pengawal menghadapkan Bapa Anti di kantor benteng. "Tidak sangka jika kau berani mengkhianati Kompeni!" Biesheuvel memulai. "Kau lepaskan Rsi Ropo dan menggantikannya?"

"Tidak, Tuan... hamba tidak tahu apa... apa "

"Tidak tahu apa-apa? Bagaimana bisa kau sampai kemari?" "Hamba tidak tahu!"

"Lagi tidak tahu?" Biesheuvel bangkit dengan muka merah.

Kepada pengawal ia perintahkan memukul Bapa Anti. Dan popor bedil membuatnya tersungkur.

"Ikat dia dan bawa ke rumahku. Biar dia tahu bagaimana cara aku membuka mulutnya," perintah Biesheuvel pada seorang pengawal. Bapa Anti ditempatkan di ruang terpisah dari istrinya. Biesheuvel bertekad membongkar persekongkolan ini. Tidak mungkin ada orang bisa meloloskan diri dari penjara dengan begitu saja.

Kini Biesheuvel sendiri memeriksa istri Bapa Anti. Kepada juru masak ia perintahkan untuk memberi makan pada kedua wanita muda di kamar masing-masing. Mereka diperintahkan mandi. Kepada Lie Mei Hwa dipergunakan bahasa isyarat.

Selesai mandi dan makan baru Biesheuvel memasuki kamar Rani. Rani terkejut. Tapi Biesheuvel menenangkannya dalam bahasa Blambangan.

"Jangan takut. Aku bermaksud baik!" Biesheuvel mulai senyum. Mungkin saja dibikin-bikin, la duduk di kursi dekat ranjang yang tersedia. Bersih ruangan itu. Matanya menelusuri tiap lekuk tubuh wanita itu. Kulitnya kuning bersih membungkus tubuh padat. Kemban hitam membungkus susu montok. Matanya agak sipit.-

"Kau anak Bapa Anti?" Perempuan itu menggeleng. "Jangan takut. Bicaralah! Jika bukan anaknya, lalu apanya?"

"Istrinya " Wanita itu tertunduk.

"Istrinya? Oh maaf. Bapa Anti adalah sahabat yang aku

hormati. Maafkan kami membiarkan kamu dalam ketakutan. Seharusnya kami menolongmu segera." Biesheuvel maju sambil menjabat tangan Rani dan menciumnya. Rani terkejut. "Kami sekarang ingin menolong Bapa Anti. Tapi tentu kami membutuhkan beberapa keterangan. Bisa kamu menolong kami? Jangan takut, aku melindungi kamu."

Wanita itu memandangnya tajam-tajam. Matanya mengundang pesona tersendiri. Bola matanya hitam seperti alisnya. Setelah bertimbang sebentar wanita itu mengangguk.

"Terima kasih. Jika demikian kita akan bicara baik-baik. Duduklah di kursi itu! Aku akan ambil minuman istimewa untuk persahabatan kita."

Rani melakukan apa yang diperintahkan Biesheuvel. Duduk di kursi kayu. Matanya mulai berani memperhatikan isi ruangan. Semua bagus.

Tidak pernah ia mimpi akan masuk ruangan semewah itu. Biesheuvel masuk lagi dengan dua buah gelas. Ia perhatikan tangan Biesheuvel banyak ditumbuhi bulu-bulu kuning kasar waktu menyerahkan gelas.

"Minumlah. Ini untuk menyegarkan badan!" Biesheuvel sendiri minum di gelas yang satu, Rani ragu. Ia menjawab baru saja makan dan minum. Biesheuvel tidak memaksa. ; "Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam?"

Diawali oleh keraguan ia menceritakan semua yang diingatnya. Dan ia masih sangat takut karena anjing-anjing itu begitu galak. Dan gerakan orang-orang itu begitu cepat, sampai-sampai ia tidak dapat melihat orangnya. Ia dengar semua ancaman namun tidak tahu siapa yang bicara. Biesheuvel tercenung di tempat duduknya buat sesaat.

Kemudian ia mencatat. Sebagai pelengkap dari laporan yang akan dikirimnya ke Surabaya dan Batavia. Setelah mencatat sebentar Biesheuvel berdiri dan berjalan ke belakang Rani. Tiba-tiba saja ia berhenti, tepat di belakang Rani. Ia mengulurkan kedua tangannya ke bahu Rani yang telanjang itu. Sambil katanya,

"Apakah bisa dipercaya ucapan ini? Tidak bohong?"

Perempuan itu terkejut. Tapi tak berani mengebaskan tangan yang kasar itu. Ia mengangguk sebagai jawaban. Ia menggeliat perlahan menahan geli kala Biesheuvel mengelus bahu dan punggungnya. "Jangan, Tuan "

"Baiklah!" Biesheuvel meninggalkan bahu itu dan kembali duduk di kursi yang berhadapan dengan perempuan itu. "Semoga kamu senang tinggal di sini. Tapi jangan kamu keluar ruangan ini untuk sementara waktu. Kamar mandi sudah tersedia di sudut kamar, bukan? Nah, sampai ketemu lagi."

Kini Biesheuvel mendatangi kamar Bapa Anti. Ia lepaskan ikatan orang tua itu.

"Maafkan saya telah berlaku kasar, Bapa Anti," katanya. "Aku perlu menolong kamu dan keluargamu. Istrimu tentu juga dibawa kabur. Karena kami telah mendatangi rumahmu ternyata tidak ada di rumah."

"Yah... Tuhan Allah!" Bapa Anti menyebut. "Istriku!"

"Jangan gelisah. Kami akan menolongmu mencari istrimu itu. Tapi tolonglah ceritakan dulu bagaimana kau bisa masuk ke sel Rsi Ropo."

Bapa Anti pun menceritakan bagaimana sebuah tangan menariknya dengan keras dari jendela. Membuat ia terjatuh. Sebuah benda mengenai tengkuknya. Sehingga ia tidak sadar. Tahu-tahu sudah berada dalam penjara. Dan itu sesuai dengan keterangan Pieter Luzac yang melaporkan bahwa Bapa Anti tidak sadarkan diri waktu pertama kali ia periksa di sel.

Kini hati Biesheuvel menjadi iba pada Bapa Anti. Orang yang pernah berjasa pada Kompeni itu. Ia tahu Bapa Anti tidak salah. Tapi bagaimana mungkin mereka masuk ke benteng dan mengambil Rsi Ropo? Kini pada

Bapa Anti la perintahkan melepas pakaian Rsi Ropo.

Sutera kuning itu perlu dijadikan bukti dalam menyusun laporan. Sekaligus membantah pendapat J. Vos bahwa mereka tak berusaha menangkap Rsi Ropo yang dianggap penghasut kawula Blambangan itu. Tapi begitu memeriksa jubah sutera kuning itu ia menjadi sangat terkejut. Ada tulisan di balik jubah itu. Ia tunjukkan pada Bapa Anti. Bapa Anti menjadi pucat demi membaca tulisan dalam bahasa Blambangan itu.

"Aku, Wong Agung Wilis, datang mengambil orang suci dan tidak bersalah. Dan ingat-ingatlah, aku sudah datang. Aku akan mengambil kembali hakku dari tangan orang-orang bule. Dan akan menghukum semua pengkhianat bangsaku. Mereka akan dipicis di muka umum. Bersiaplah!"

Bapa Anti jadi gemetar. Tiba-tiba saja keringat dingin keluar dari jidatnya. Sebesar biji-biji jagung. Pandangan matanya menjadi kabur. Napasnya tersengal-sengal.

Biesheuvel kaget. Ia panggil seorang pengawal untuk membantu menidurkannya di ranjang. Segera Biesheuvel menjemput Rani di kamarnya.

"Kami telah menemukan Bapa Anti, tapi..." "Tapi kenapa, Tuan?"

"Keadaannya mengkhawatirkan." Biesheuvel menggandeng tangan wanita itu. Bahkan sebelah tangannya disampirkan di bahu. Mereka bergesa ke kamar Bapa Anti. "Dia sakit!" katanya kemudian. "Mereka berusaha membunuhnya. Tapi kami telah merampas Bapa Anti dari tangan mereka." "Ya, Tuhan Allah...," wanita itu menyebut.

Bapa Anti melihat istrinya datang dalam gandengan Biesheuvel makin kaget. Tampaknya mereka sudah akrab. Cemburu membuat denyut jantungnya melonjak. Membuatnya terkulai sama sekali. Napas kian sesak. Akhirnya putus sama sekali. Rani menjerit. Dalam laporannya ke Batavia dan Surabaya, Biesheuvel menuliskan bahwa kejadian itu pada awal Juni tahun seribu tujuh ratus tujuh puluh satu tahun Masehi.