Gema Di Ufuk Timur Bab 01 : Luka dan Duka

 
Bab 01 : Luka dan Duka

Mentari tetap saja melayang. Karena janjinya pasti. Angin dan badai tetap juga berhembus menerpa bumi. Kehidupan berjalan terus. Semua... berjalan terus tanpa bisa dihalangi oleh siapa pun. Juga kehidupan. Peperangan tak bisa menghentikannya. Dia berjalan terus seperti roda ajaib yang tidak pernah berhenti. Walau mereka yang bernapas dan hidup, sudah sampai titik batas akhir.

Demikian pula Yistyani berjalan terus membawa luka dan duka. Bahunya sebelah kiri robek oleh tembakan Kompeni di Banyu Alit. Bahkan dalam perjalanan pulang ke Raung ini, dua pengawalnya tertembak mati. Tinggal dua orang lagi. Pedih dan perih dari luka yang tak terobati secara baik itu ia bawa terus berjalan. Menempuh jarak yang jauh. Melintasi belantara dan jurang-jurang, dan bukit-bukit.

Duka pun menusuk-nusuk hatinya sepanjang perjalanan.

Duka kehilangan semua harta, kedudukan, dan cita-cita akibat perang. Bahkan yang nilainya lebih berharga dari semua itu, kehilangan suami, kekasih, dan sahabat-sahabatnya. Namun dengan kesadaran tinggi ia berusaha menindas semua duka itu. Ia harus mempertahankan semangat untuk tetap hidup dan sampai di Raung. Wilis, anaknya, sekarang menjadi pemimpin di Raung. Ia merasa perlu menjumpai anaknya itu. Ia akan ceritakan semua pengalaman perang Blambangan ini sebagai pelajaran berharga.

Anaknya masih terlalu muda untuk menjadi seorang pemuka yang mampu memimpin suatu negara. Karena, itu pula ia harus menumpahkan segala pengetahuannya sebagai tambahan pesangon bagi anak itu. Seorang pemimpin tanpa pesangon cukup tak ubahnya katak dalam tempurung. Ah, jarak yang memisahkannya dengan Raung masih terlalu jauh. Dan itu harus dikalahkan dengan melewati banyak ketegangan dan bahaya. Yang telah dilewatinya membawa korban dua orang pengawalnya. Mati oleh tembakan laskar Madura yang ternyata menjaga ketat Hutan Kepanasan. Kini mereka harus berjalan ke barat untuk menghindar dari daerah yang dikuasai laskar Madura dan Kompeni. Tentunya mereka akan berhadapan dengan belantara yang mungkin saja belum pernah diinjak manusia. Pohon-pohon besar menjulang tinggi dan berdaun lebat. Sinar mentari tidak mampu menembus sela dedaunan. Dan bukan mustahil bila hutan itu merupakan sarang nyamuk.

Bukan cuma nyamuk, tapi juga binatang buas lainnya.

Yistyani berdoa dalam hati agar tidak bersua ular puspakajang yang sering melingkar di cabang pohon-ponon besar begitu. Ia pernah menyaksikan keganasan seekor ular puspakajang yang memangsa kambing dengan sekali telan. Penghuni hutan lain yang tak kalah menakutkan adalah beberapa jenis harimau.

Yistyani mengerti benar bahwa di hutan ini masih ada harimau gembong serta macan kumbang yang hitam dan mampu memanjat pohon dengan amat lincah. Namun ia tidak takut.

Karena ia masih dapat membela diri dengan menggunakan senapannya. Demikian pula jika bersua dengan rombongan banteng. Mungkin saja ia masih berkesempatan memanjat ponon. Tapi jika bersua ular yang warnanya sering menyatu dengan cabang pohon yang ditempatinya itu? Untuk menjaga hal itu maka ia sering memperhatikan cabang-cabang sambil terus berjalan. Bukan untuk memperhatikan keindahan alam. Bukan pula langit dan burung-burung. Tapi ular.

Kegelisahan Yistyani bukan terbatas soal-soal itu saja. Tapi juga khawatir tersesat dan tidak bisa mencapai Raung sebelum persediaan makanan habis. Kelaparan menimbulkan ketakutan tersendiri. Betapa ngerinya jika ia mati kelaparan seperti anjing kurap. Dalam kelaparan banyak kemungkinan bisa terjadi. Yistyani mulai memperhitungkannya. Ia berulang menoleh pengawalnya. Tubuh mereka dibasahi peluh. Bahan makanan yang mereka pikul masih kelihatan berat. Kain dan ikat kepala kedua pengawal itu kelihatan lusuh. Yistyani hampir tidak mampu lagi mengingat, Berapa hari sudah mereka menempuh perjalanan. Ia sadar bahwa mereka telah keluar dari jalan yang semestinya.

Tiba-tiba saja rasa iba pada kedua pengawalnya menyelimuti hati Yistyani. Mukanya tidak bercahaya dan kumisnya tidak terawat. Tanpa banyak berpikir maka ia memerintahkan keduanya berhenti.

"Ada apa, Yang Mulia?" tanya Gonar.

"Taruhlah dulu bebanmu. Kita istirahat," jawab Yistyani.

Kedua orang itu meletakkan ubi kayu dan dendeng daging babi serta perbekalan sedikit peluru yang mereka pikul ke tanah. Lega rasanya. Setelah menggerak-gerakkan bahu ke kiri dan kanan, mereka mencari tempat duduk.

"Kita tidak tahu apakah tempat ini aman atau tidak.

Karenanya tetap waspadalah!" Yistyani memperingatkan.

Mereka membenarkan peringatan Yistyani. Sekalipun yang memperingatkan seorang wanita namun mereka tetap patuh, karena mereka tahu Yistyani bekas menteri cadangan negara.

"Bagaimana dengan luka Yang Mulia?" Buang kini yang bertanya.

"Sudah agak baik. Darah sudah berhenti mengalir." "Syukurlah. Hyang Maha Ciwa masih menyertai kita." Gonar

ikut senang. Senyuman mulai membayang di wajahnya. Entah

sejak kapan senyuman menghilang dari bibirnya yang tebal itu.

Angin bertiup tertahan dahan-dahan tua. Dedaunan bergerak seirama alunan angin. Namun begitu angin tetap saja menerobos sela dahan dan kayu untuk membantu menyusutkan peluh mereka. Bahkan lebih dari itu, mendatangkan rasa kantuk. Yistyani berusaha keras mengusir rasa kantuknya. Kantuk yang menyerang karena kelelahan.

Buang dan Bonar pun berusaha. Namun rasa kantuk itu tak mau berdamai. Maka mereka minta izin Yistyani untuk tidur barang sebentar.

"Tidurlah! Aku akan berjaga. Tapi usahakan jangan terlalu larut! Ingat?" Suara Yistyani keibuan.

"Kami akan berusaha, Yang Mulia."

Mereka mengambil keputusan tidur sambil duduk beradu punggung. Lutut mereka tekuk dan peluk dengan tangan dan dijadikan tumpuan kepala mereka yang tertunduk. Yistyani memperhatikan sambil menghela napas. Tentu ia tak berdaya mencegah kantuk mereka. Beberapa bentar kemudian ia beringsut mencari tempat duduk. Agak jauh dari tempat mereka tidur, di bawah pohon rindang, Yistyani duduk sambil membersihkan senapan yang berlaras panjang.

Mentari bergeser terus ke barat. Dalam hati Yistyani berdoa agar malam segera tiba. Bagi mereka istirahat malam lebih aman. Tiba-tiba matanya memperhatikan sekawanan burung kecil yang terbang seperti ketakutan. Barangkali ada harimau lewat? Ia tajamkan mata dan telinganya. Lagi... Kini kawanan elang ketakutan. Naluri keprajuritan membuatnya berlari cepat membangunkan kedua pengawalnya.

"Ada apa? Ada apa, Yang Mulia?" Buang gugup. Detak jantung mereka mengencang.

"Musuh!" Napas Yistyani terengah.

"Ha? Musuh?" Keduanya melompat sambil menyambar senapan dan panah mereka.

"Drubiksa!" Buang mengumpat. "Mereka tidak mau berhenti memburu." "Siapa kalah akan terus diburu dan dibunuh." Yistyani mengajak mereka mencari tempat persembunyian yang aman. Mereka berlari dari balik pohon ke pohon lain sambil mengendap-endap. Kemudian menenggelamkan diri dalam semak. Berhenti sambil menunggu apa yang bakal terjadi.

Namun beberapa bentar kemudian gerombolan semut merah dan nyamuk mulai berdatangan mengusik.

Kawanan serigala lari dengan ekor melengkung ke bawah menutupi kemaluan mereka. Takut dan marah. Tapi tidak berani melawan. Karena itu hanya menyalak saja. Menyalak merupakan satu bentuk perlawanan tersendiri. Karena wilayah dan hak mereka dijamah oleh manusia. Beberapa bentar kemudian terdengar suara derak ranting patah terinjak kaki- kaki yang berat. Kaki bersepatu. Jantung Yistyani berdebar keras. Ah... jika luka ini pulih, pastilah tidak seberat ini aku menanggung aniaya. Aku akan melawan semampu dapat.

Ketiganya makin merapatkan tubuh ke tanah. Berulang Yistyani membuat gerakan, luka di bahunya tersentuh rerumputan dan menimbulkan rasa nyeri.

"Tahan diri! Jangan menembak jika tak terpaksa.”

"Ya. Tapi Yang Mulia jangan terlalu banyak bergerak-gerak.

Agar mereka tidak curiga," sahut Gonar.

Sekali lagi Yistyani menyesali lukanya. Dalam hati ia berdoa, agar Hyang Durga melindunginya. Sambil terus menahan rasa sakit. Dan... beberapa bentar kemudian mereka melihat kembali burung-burung malio terbang tergopoh- gopoh. Ayam hutan pun berhenti berkokok. Sesaat setelah itu rombongan serdadu Belanda dan Madura muncul. Dengan gagah dan senjata di tangan mereka berjalan berdua-dua sambil mengamati kiri-ka-nan. Tiap gerak akan mereka curigai. Yistyani tidak tahu topi bundar di atas kepala mereka itu terbuat dari bahan apa. Ada dua orang dari tiga puluh orang itu yang bertopi tinggi. Berwarna merah dan pada bagian mukanya diberi penutup seperti serambi kecil yang berwarna hitam. Itu barangkali yang dinamakan pet. Di atas penutup muka yang kecil itu ada hiasan seperti bunga tebu berwarna kuning emas. Mereka adalah opsir.

Ketiga orang itu menahan napas sambil terus mengintai tiap gerakan tentara Belanda dan laskar Madura itu. Kesalahan kecil akan membawa mereka pada kematian. Yistyani tak dapat menangkap makna pembicaraan mereka. Riuh tanpa makna.

Keringat dingin meleleh di pori-pori ketiga orang itu.

Bahkan Yistyani terpaksa menggigit bibir bawahnya sambil mengernyitkan dahi karena menahan sakit. Luka-lukanya digigit nyamuk. Ia tidak berani melakukan gerakan apa pun.

"Yah... Dewa Bathara!" Yistyani berdesah lega kala barisan Kompeni dan Madura berlalu. Pelan-pelan ketiga orang itu bangkit. Dengan segera mereka membunuh semut-semut merah yang merubung tubuh mereka. Entah sudah berapa lama mereka menahan rasa sakit, pedih, panas, serta gatal.

"Semut-semut jahanam!" Gonar mengumpat. Setelahnya mereka meneruskan perjalanan dengan mengambil arah menyimpang ke barat. Sebab jika mereka mengambil arah berlawanan dari pasukan tadi jangan-jangan masih ada lagi rombongan Kompeni yang menyusul. Setelahnya mereka kembali menerobos hutan. Tidak tampak lagi kupu-kupu terbang di sekeliling mereka. Namun mereka sering menjumpai sarang lebah yang menggandul di cabang-cabang pohon. Tentu saja lebah-lebahnya juga berkerumun tak terhitung jumlahnya. Kala senja mulai datang, Yistyani meminta Buang dan Gonar mengambil madu di salah satu sarang lebah itu. Dengan tanpa membantah mereka kembali meletakkan beban. Buang segera mencari ranting kayu sedang Gonar melihat-lihat mana sarang yang penuh madunya.

Tentu saja perbuatan Gonar itu mencurigakan kawanan lebah yang didekatinya. Tak pelak lagi beberapa sudah mulai menyengat tubuh Gonar. Tapi lelaki itu tidak mengacuhkan. Seolah tak terasa apa-apa. Kendati sengatan itu menimbulkan bengkak di beberapa bagian tubuhnya. Kata orang-orang tua sengatan lebah bisa menjadi obat sakit linu-linu.

Beberapa bentar kemudian Buang menyusulnya dengan membawa beberapa pokok ranting. Untuk mengurangi perlawanan kawanan lebah yang akan diambil, sarangnya perlu diasapi dulu. Gonar menemukan sarang yang penuh madu. Dan kebetulan sekali pohon sonokembang yang ditempati sarang itu sudah roboh. Apa penyebabnya tidak terpikirkan oleh keduanya. Sementara mereka berusaha mengambil sarang lebah itu Yistyani tetap mengawasi sambil bersiaga dari beberapa jarak.

Ternyata tidak mudah memungut sarang lebah. Namun demikian karena pengalaman, Gonar dan Buang mampu mengusir lebah itu dengan aman dan tidak menimbulkan perlawanan yang seru. Setelah lebih dahulu mereka memindahkan sarang itu ke dalam kain mereka dengan cara mengasapi kawanan lebah itu. Anak-anak lebah yang masih merupakan set menjadi makanan yang nyaman bagi ketiga orang itu. Madu benar-benar menyegarkan tubuh mereka.

Kekuatan mereka pulih seperti sediakala.

"Kita mencari tempat yang aman untuk istirahat." "Hamba mendengar deru air. Kita berhadapan dengan

sungai," Gonar berkata sambil membuang sarang lebah yang usai diisap madunya. Dan ketiganya memasang telinga. Tapi tetap melangkah ke depan.

"Jika demikian kita tersesat. Kita harus menyeberang sungai ini. Kira-kira ini Kali Setail. Mudah-mudahan sesampai di barat sungai kita akan dapat berjalan dengan aman," ujar Yistyani. Ia berjalan di belakang. Dan sering menoleh untuk mengamati perjalanan mereka. Ternyata benar. Mereka sampai di sebuah sungai.

Tebingnya berbatu-batu dan curam. Mereka berhenti untuk mengamati keadaan. Bahkan Yistyani memerintahkan Buang dan Gonar menyelidiki sekitarnya, kalau-kalau ada laskar musuh yang berkemah di situ. Tapi keduanya kembali melaporkan bahwa keadaan aman. Maka Yistyani memutuskan untuk beristirahat.

Bianglala menghias ufuk barat. Gunung Raung, Gunung Sukep, Gunung Pendil, dan Gunung Merapi tampak berjajar di kejauhan. Seperti anak-anak raksasa yang berlomba berebut tinggi. Walau akhirnya dimenangkan oleh Gunung Raung.

Yistyani memandang deretan gunung-gunung itu sambil mengeluh. Perjalanan mereka masih jauh. Kemudian ia tertunduk memandangi sungai. Tebingnya dalam dan berbatu- batu. Demikian pun dasarnya. Airnya jernih dan berbuih-buih karena seringnya berbenturan dengan batu besar yang mencoba menghalangi lajunya arus air itu. Dan benturan yang tiada henti-hentinya itu menimbulkan suara mendayu-dayu.

Sementara kedua pengawalnya membuat perapian, Yistyani menuruni tebing. Kejernihan itu mengundangnya. Sudah beberapa hari ia tidak mandi. Mandi bukan sekadar menyegarkan badan. Tapi juga menghilangkan daki dan debu. Dengan bahu terluka begitu memang agak susah. Namun sampai juga. Ia cari tempat yang dalam dan terlindung.

Sebelum mencebur ia sempatkan becermin. Cakar burung membayang samar di kedua sisi kelopak mata. Ketuaan mulai mengintip di perjalanan usianya. Ketuaan yang tidak mungkin dapat dibendung oleh siapa pun.

Setelah melepas kain ia segera menceburkan diri. Ah, betapa sejuknya. Dengan perlahan ia membersihkan lukanya. Hampir kering. Ia menyebut dalam hati untuk mengucap syukur. Kemudian dengan perlahan juga ia membersihkan daki. Sudah sekian lama ia tidak merawat tubuhnya.

Kesegaran membawanya pada kealpaan. Lupa waktu, lupa keadaan, lupa tempat. Keremangan tiba. Dan ia dikejutkan suara tembakan yang menggema di tebing-tebing. Lagi sebuah letusan dan disusul letusan yang lain.

Tentu itu bukan perbuatan Gonar dan Buang yang sedang berburu rusa atau babi. Mereka belum pernah segegabah itu. Tentu ada bahaya yang sedang datang. Dalam keadaan terpaksa mereka menembak untuk memberi isyarat pada Yistyani yang tak sempat mereka beri tahu dan untuk membela diri. Bangkit dan cekatan ia mengikatkan kainnya serta menyambar senapannya.

Namun belum lagi lima langkah ia beranjak, sebuah tawa panjang menggema di tebing. Pantul-memantul di kesunyian senja. Yistyani menoleh ke arah datangnya suara tawa itu.

Seorang tinggi besar berkumis bapang berdiri di atas sebuah batu besar di tebing itu. Sedang di kiri-kanan orang itu berdiri juga beberapa anggota laskar Madura dan Kompeni dengan senapan di tangan. Semua mata memandang Yistyani yang telanjang dada dengan berbinar. Orang tinggi besar berkulit sawo ma- T tang itu pastilah orang Blambangan. Walau ia mengenakan pakaian hitam-hitam seperti layaknya orang Madura.

"Ha... ha... ha... ha... Yang Mulia Menteri Cadangan Negara? Ha... ha... ha..." Orang itu mengejek. "Akan lari ke mana?"

Yistyani menajamkan matanya sambil bergerak mundur setapak demi setapak. Yistyani mencoba mengingat-ingat. Ternyata Sarmanja, seorang pedagang yang dulu pernah ditolak perizinannya karena bersekongkol dengan Martana. Sekarang menjadi orang kepercayaan Belanda dan Madura.

"Masih juga ayu. Lupa dengan aku?" Orang itu tertawa lagi sambil berkacak pinggang. Beberapa saat kemudian memilin kumisnya. Dengan sigap melompat dari batu besar tempatnya berdiri. Melangkah mendekati Yistyani diikuti oleh lainnya.

Napas Yistyani memburu. Cuma satu isi senapannya. Ah... dengan luka di bahunya maka ia tak mungkin melawan mereka dengan pedang.

"Tidak perlu melawan. Wong Agung Wilis sudah kalah.

Lateng sudah dikuasai Kompeni. Menyerah saja dan menjadi istriku." Sarmanja ketawa lagi.

Yistyani tidak menjawab. Tapi terus bergerak mundur sementara Sarmanja dengan tujuh orang pengawalnya maju terus.

"Sekali lagi. Menyerahlah! Sayangilah nyawamu dan wajahmu. Mari kubawa ke Lateng untuk menjadi istriku."

Yistyani meludah. Keremangan kini menguasai jagat.

Sebentar lagi bayang-bayang pun tiada. Napas Yistyani kian terengah-engah. Deru air di belakangnya kini bukan lagi mendayu. Semakin ia mundur semakin dalam. Yang terdengar kini suara air yang terhempas di bebatuan. Tentunya air terjun, katanya dalam hati. 

"Berhenti!" Sarmanja berteriak. "Dibelakangmu ada air terjun. Aliran sungai ini turun. Jika jatuh kau akan hancur! Berhenti!"

Wanita itu tak lagi mampu berpikir panjang. Lateng sudah kalah. Maka tiada pilihan lain kecuali mati. Air di kakinya mengalir kian deras. Seakan menyeretnya. Kini ditatapnya dada Sarmanja baik-baik. Tidak boleh luput, pikirnya.

Tiba-tiba Yistyani membuat gerakan seperti terpeleset jatuh. Ia merintih seolah minta tolong. Sarmanja dengan para pengawalnya terbahak-bahak.

"Sudah kubilang..." Sarmanja melompat maju. Yistyani membuat gerakan sedikit lagi seperti hanyut oleh derasnya arus. Namun sebenarnya ia justru berlindung di balik sebuah batu besar. Sarmanja kini berlari untuk menolongnya. Namun setelah jarak mereka dekat benar, sedang para pengawal masih tertawa di kejauhan, sebuah letusan membuat tubuh Sarmanja terpental dan roboh tanpa nyawa.

Semua pengawal terkejut. Kemudian memburu dan menembak. Dan Yistyani sudah tiada karena sudah menghanyutkan dirinya untuk kemudian terhempas bersama air.