Geger Tarumanegara Bagian 6 (Tamat)

Bagian 6 (Tamat)

**

Pagi nan cerah, matahari bersinar lembut, awan putih berarak ke selatan dan burung-burung berkicau dengan ramai di atas dahan pepohonan, Arimbi tampak lincah memainkan jurus-jurus, dara cantik itu sedang berlatih dengan sang guru Abilawa semantara Chao-Xing dan Iblis Bisu seperti biasa memperhatikan ke duanya dari atas bukit di teras sebuah saung.

“Awas jurus paruh mematuk, den ayu….” “Awas jurus sikatan…, guru.”

Ke dua guru dan murid itu kelihatan sangat serasi dalam memainkan jurus-juris silatnya, kadang ke duanya melenting ke atas berputar-putar di udara kemudian menjejak dahan-dahan pohan dengan ringanya.

“Semakin hari, ilmu kanuragan Arimbi berkembang pesat,” gumam Chao-Xing dijawab anggukan Iblis Bisu.

Di tempat yang berbeda sepasang mata tampak menyorot tajam pada ke dua sejoli yang sedang berlatih ilmu silat, sosok wanita anggun pemilik gigi gingsul yang tidak lain dari Kinanti, anak mendiang Senapati Perkutut Kapimonda pendiri padepokan Ciampea.

“Abilawa…, tujuh belas tahun lamanya aku merindukan mu, begitu berjumpa kau tetap saja tidak pernah mengerti perasaan ku ini,” desah Kinanti, sosoknya kemudian hilang di telan gerumbul semak belukar.

“Cukup den ayu…,” seru Abilawa.

“Semua serangan guru saya punahkan,”

“Den ayu Arimbi, kemajuan mu pesat sekali, dalam satu bulan kau sudah menguasai jurus kilat bersilang sampai langkah ke seratus.”

“Adakah lanjutannya guru?” “Tentu den ayu.”

“Cepatlah, ajarkan kepada ku guru.”

“Sabar den ayu Arimbi, didalam mempelajari ilmu tidak boleh tergesa-gesa, tapi harus sabar, punya keinginan agar cepat bisa itu bagus, tapi kalau sekadar bisa untuk apa? yang kita mau bisa dengan sempurna bukan?”

“Iyah, betul guru.”

“Apa yang dikatakan Bilawa benar…!” sebuah teriakan mengandung tenaga dalam bergema diseantero tempat latihan disusul munculnya satu sosok gagah tinggi besar dari rimbunnya pepohonan.

“Gusti Kanuruhan Rajendra,” “Ahh…, ayah….”

“Apa khabar Arimbi?”

“Ayah..., saya baik-baik saja, yah.” “Hemm, apa khabar Bilawa?”

“Khabar baik Gusti Rajendra.”

“Ah, nona Chao-Xing dan Iblis Bisu, terimakasih selama ini menjadi teman Arimbi di padepokan Ciampea.”

“Sama-sama tuan Rakeyan Rajendra,” ujar wanita

cantik itu sambil memberi penghormatan.

“Bagaimana khanar mu, nona Chao-Xing.” “Wo, baik-baik saja tuan kanuruhan.” “Yah…, syukurlah.”

“Selamat datang di padepokan Ciampea, silahkan masuk dan kita berbincang-bincang di dalam,” sela Abilawa.

“Terimakasih Bilawa,” ujar Rakeyan Kanuruhan Rajendra. Di dalam pondok ke dua anak dan bapak itu tampak berbincang-bincang sedang Chao-Xing dan Iblis Bisu duduk di depan rumah.

“Arimbi.”

“Iya ayah.”

“Kau sekarang sudah besar, dan berkat ketekunan mu dalam mempelajari ilmu pedang maka kau sudah menjadi seorang gadis yang kuat lahir dan bhatin dan sudah siap untuk menerima berita yang paling berat sekalipu.”

“Maksud ayah?”

“Arimbi…, hemmmh, sebenarnya kau bukan anak tunggal, kau bukan anakku satu-satunya.”

“Saya…, bukan anak tunggal?”

“Hyahh, anakku sebenarnya ada dua, sebelum

kau lahir telah lahir seorang laki-laki dialah kakakmu,” “Saya punya saudara laki-laki?”

“Iyah…, iyah. Kakak mu bernama Udaka,” “Udaka…,”

“Sekarang telah berganti nama menjadi Taruma.” “Taruma…,” gumam Arimbi.

“Ahhh, ternyata saya punya saudara, betapa senangnya, dimanakah dia ayah? dan mengapa baru sekarang ayah menceritakanya, kenapa tidak berada di rumah kita, kenapa? Kalau saya punya saudara tentu saja dia ada di rumah kita.”

“Yahh…, begini Arimbi, tujuh belas tahun yang lalu bala tentara Sriwijaya menyerbu Tarumanagara, perang berkobar dengan hebat, keraton dikepung oleh balatentara Sriwijaya, nah untuk menjaga hal-hal yang tidak kita inginkan, Udaka yang saat itu baru umur lima tahun ayah titipkan pada adik ayah yaitu Udayana, kemudian Udayana pergi mengungsi bersama rakyat sedangkan ayah ikut bertempur bersama balatentara kerajaan Tarumanagara dan ketika itu kau masih dalam kandungan, ibumu tengah mengandung kau tujuh

bulan.”

“Kerajaan Tarumanagara jatuh takluk pada balatentara Sriwijaya, nah semenjak itu ayah tidak pernah lagi berjumpa dengan Udaka dan Udayana.”

“Ohh, kenapa ayah tidak mencarinya?”

“Selama tiga tahun semanjak perang selesai ayah

selalu mencarinya tapi tidak pernah berhasil.”

“Andaikan dia ada, aku akan bahagia sekali, betapa senangnya punya kakak ada yang melindungi aku, bergurau, bercengkerama.”

“Awas serangan gelap…!” teriak Abilawa “Ada apa Bilawa?”

“Lihat, tiga buah pisau kecil meluncur dan menancap pada tiang kayu rumah ini,” ujar Bilawa.

“Ada serangan gelap,” sela Arimbi kemudian menghambur keluar bersama Chao-Xing dan Iblis Bisu yang dengan sigap telah berada di halaman rumah.

“Iya, datangnya dari arah sana, sepertinya dari

atas pohon,” kata Bilawa.

“Kurang ajar…,” seru Arimbi yang langsung

lentingkan badan ke arah srangan gelap barusan.

“Turun kau pengecut, jangan hanya sembunyi di atas pohon…!” seru Arimbi bersamaan dengan melesatnya satu bayangan dan langsung menyerangnya, pertarungan pun berlangsung dengan sengit.

“Siapa kau? Mengapa menyerang kami!” seru Arimbi. Bukanya menjawab sosok itu langsung menyerang kembali Arimbi secara bertubi-tubi.

“Ta…, Taruma, benarkah pemuda itu Taruma,” gumam Chao-Xing dalam hati, gadis cantik bermata sipit itu seakan tidak percaya dengan pandangannya dikuceknya beberapa kali matanya. “Iblis Bisu, bukankah itu Taruma….” Yang ditanya hanya mengangguk pelan. “Loh kok aneh.”

“Ada apa Bilawa?” kata Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

“Wajah pemuda itu mirip sekali dengan Arimbi,”

gumam Abilawa.

Saat itual sosok itu berhasil mencengkeram tangan Arimbi.

“Lepaskan…!”

“Hahaha…, kau sudah kalah, kau sudah kalah…,”

“Lepaskan,” seru Arimbi mencoba melepaskan

genggaman tangan sosok tersebut.

“Bedebah, lepaskan murid ku, akulah

lawanmu…!” sentak Abilawa yang siap menerjang ke

depan.

“Bilawa, jangan…!” seru Rakeyan kanuruhan

Rajendra.

“Kenapa Gusti Rakeyan?”

“Cukup Taruma…, sudahlah lepaskan adikmu.” “Baik ayah…,”

“Ayah siapakah dia? Kenapa dia memanggil

ayah,” sela Arimbi.

“Dialah kakak mu, Udaka….” Arimbi tercengang beberapa kejap. “Hah…, U, Udaka.”

“Iyah, sekarang telah berganti nama menjadi Taruma.”

“Adikku…, Arimbi…, akulah kakak mu,” sela

Taruma terbata-bata.

“Kakang Taruma…,” ujar Arimbi sambil terisak-

isak, “ benarkah kau kakak ku?”

“Ayah kita telah mengatakannya.” “Ohh, kakang Taruma….”

“Adikku Arimbi….” Tangis keharuan pecah di padepokan Ciampea, beberapa saat kemudian.

“Pantas wajah kalian sangat mirip, tidak tahunya

kalian kakak ber adik,” sela Abilawa.

“Ayah memang keterlaluan, dibiarkan saja saya dan kakang Taruma bertarung,”

“Yah…, Taruma yang minta, katanya ingin tahu apakah kau seorang pendekar atau bukan,” sela ayahnya.

“Kalau saya pakai pedang pasti saya yang menang,” sela Arimbi dijawab tertawa semua yang hadir di situ.

“Taruma…,” sebuah suara yang tidak asing terdengar di telinga Trauma, pemuda itu tertegun kemudian senyum menyeruak dari bibirnya.

“Nona Chao, si Bisu. Mengapa kalian disini?” “Ceritanya panjang, Taruma,” sela gadis ini

dengan hati dipenuhi bunga-bunga yang sedang bermekaran.

“Kakang Taruma sudah kenal dengan bibi Chao dan si Bisu?”

“Iya, waktu kami berdagang di kaki gunung Salak.” “Benar Arimbi,” ujar Taruma.

“Kakak ni pendekar hebat lagi budiman, Arimbi.” “Oh ya….”

“Ah, nona Chao terlalu melebih-lebihkan.” “Bagaimana ceritanya?”

“Nantilah Arimbi, saya ceritakan,” sela Taruma.

“Nah Arimbi, teruskanlah kau disini, memperdalam ilmu kanuragan pada gurumu, Bilawa. Ayah dan Taruma akan kembali ke Keraton,”

“Gusti Rajendra, kenapa tergesa-gesa?”

“Yah, tidak enak meninggalkan Keraton lama-

lama,”

“Iyah benar.” “Kakang Taruma jangan pulang, di sini saja,” sela Arimbi.

“Arimbi, saya juga ingin berkumpul agak lama dengan mu tapi kita harus kasihan pada ibu, tujuh belas tahun berpisah sudah saya tinggalkan  lagi,  jadi  harus ada salah seorang yang menemani ibu.”

“Kakang Taruma, sering-sering datang ke sini yah,” “Tentu Arimbi,”

Pada saat itulah datang seorang utusan dari Keraton Tarumanagara yang mengabarkan sinse Li Sizen memanggil keponakanya Chao-Xing dan Iblis Bisu pulang ke Keraton.

“Kebetulan yang menyenangkan,” gumam Chao-

Xing.[]

Jiwa-Jiwa Yang Bergelora

Semanjak mengetahui Taruma adalah kakaknya Arimbi, kehidupan Chao-Xing jadi lebih berwarna, apalagi di hari-hari tertentu pemuda gagah yang sangat dikaguminya itu berkunjung ke rumahnya untuk menjenguk Niluh Arundaya dan Candrika yang sedang menjalani pengobatan, namun kebahagian gadis cantik pemilik mata sipit itu berbanding terbalik dengan perasaan Taruma sendiri, tujuh belas tahun memendam rasa rindu dan secara diam-diam juga dicintainya, sayangnya, separuh hati Niluh Arundaya kini sudah terisi nama Candrika.

“Niluh, apakah kau masih ingat benda ini?” kata Taruma sembari memperlihatkan sebuah kotak kecil warna hitam.

“Kau masih menyimpannya, Taruma.”

“Yah…, selama tujuh belas tahun benda ini selalu

saya bawa kemana-mana.”

“Taruma apa yang harus saya lakukan untuk

kesembuhan Candrika?”

“Bersabarlah Niluh, sinse Li mudah-mudahan mampu mengobatinya.”

“Saya sangat mencintainya Taruma,” ujar Niluh Arundaya membuat hati pemuda gagah ini terasa dihimpit batu besar, sesak namun tidak bisa berbuat apapun kecuali desahan berat terdengar dari rongga dadanya.

“Ada apa Taruma?”

“Tidak apa-apa Niluh, saya ikut prihatin dengan kondisi Candrika.”

“Apapun akan saya lakukan demi kesembuhannya,” sela Niluh Arundaya membuat hati Taruma terasa disayat sembilu.

“Mari kita sama-sama berusaha dan berdoa, Niluh,” gumam Taruma dijawab anggukan gadis ayu tersebut.

“Taruma, tentu kau pun sudah memiliki kekasih bukan?”

“Saya…, “

“Siapa dia Taruma?” “Maksud mu?” “Siapa gadis itu?”

“Kamu Niluh…, kamu…,” jerit Taruma yang tentu saja kalimat itu hanya mengiang dan membentur di dalam hatinya saja.

“Dia gadis yang baik, cantik dan selalu aku

rindukan,” gumam Taruma.

“Siapa nama gadis itu Taruma?”

“Ni…,” Taruma tidak mampu meneruskan

kalimatnya.

“Ni siapa…? Nilam.”

“Iyah Nilam,” sela pemuda ini cepat.

“Satu ketika kau harus mengenalkannya pada ku ya,” “Iya…, iya Niluh.”

Semantara itu dari balik pintu Chao-Xing yang sedari tadi mencuri dengar pembicaraan Niluh Arundaya dan Taruma merasakan bunga-bunga yang sedang bermekaran dalam relung hatinya itu perlahan namun pasti menguncup layu.

“Ternyata Taruma mencintai Niluh Arundaya jauh sebelum mengenal wo, ahhh…,” keluh Chao-Xing kemudian berlalu keluar rumah lewat pintu belakang, di sebuah bangku taman gadis manis itu duduk sendiri dan tanpa disadari satu sosok sudah berdiri di sampingnya. 

“Taruma…,” sela gadis ini tapi langsung tertunduk lesu.

“Bisu…, ternyata ni.”

Lelaki muka pucat ini tampak menanyakan sesuatu dengan bahasa isyarat pada Chao-Xing yang tengah gundah.

“Ternyata Taruma lebih mencintai Niluh Arundaya dari pada wo…, Bisu apa yang harus wo

lakukan?” ujar Chao-Xing kemudian membenamkan wajah cantiknya di pundak Iblis Bisu, lelaki muka pucat ini tertegun sekaligus senang, demi menghibur hati gadis yang sangat dicintainya itu Iblis Bisu berusaha menghadirkan ketenangan dengan menepuk-nepuk pundak Chao-Xing.

“Nona Chao, aku akan selalu ada untuk mu walau dihati mu itu sudah terisi nama orang lain,” janji tulus Iblis Bisu dalam hati.

“Wo tahu apa yang harus wo lakukan,” sela Chao- Xing kemudian berlalu diiringi Iblis Bisu menemui sinse Li Sizin yang tengah berbincang dengan Laozi, ayah kandung Chao-Xing.

“Bo’bo Li, bisa bicara sebentar?” “Katakan saja Chao-Xing.”

“Berikan wo, penawar racun anggek hitam itu

bo’bo Li?”

“Untuk apa?”

“Agar Candrika tahu jati dirinya,”

“Chao-Xing, wo mencintai Candrika?” sela Louzi. “Bukan begitu babah Lao.”

“Lalu apa?”

“Supaya Candrika cepat sadar dan dapat

mengingat Niluh Arundaya, kekasihnya itu.” “Belum waktunya Chao-Xing.”

“Kapan waktunya?”

“Sudahlah lebih baik ni dan Iblis Bisu mengawasi para pekerja di kebun anggrek hitam dan datura metel,” pungkas sinse Li Sizen.

“Baiklah…, ayo Bisu,” ujar gadis cantik itu kemudian melangkah keluar dari rumah diiringi Iblis Bisu.

“Bisu, wo harap dengan kesembuhan Candrika, Taruma dapat melupakan cintanya pada Niluh Arundaya,” gumam Chao-Xing dijawab desahan panjang lelaki muka pucat tersebut.

**

Semantara itu di kediaman Rakeyan Kanuruhan Rajendra, Taruma sedang berbincang santai dengan ibundanya, Dewi Supita Arimbati. “Taruma, bagaimana sikap Arimbi, apakah dia nampak gembira berjumpa dengan kau?” tanya sang ibu pada pemuda gagah di hadapannya.

“Dia menangis ibu dan lama sekali memeluk saya

dia nampak amat bahagia.”

“Iyah…, Arimbi memang sangat merindukan mempunyai seorang saudara, dia sering iri jika melihat gadis-gadis lain yang punya saudara ada teman bergurau, ada teman diajak bertukar pikiran, ah…, dan sekarang impiannya menjadi kenyataan.”

“Dia gagah ibu, kuat dan tangkas seperti ayah,

dan sangat cantik seperti ibu.”

“Hahahah…, kau juga tampan, Taruma, seperti saya ketika masih muda,” sela ayahnya yang baru datang kemudian bergabung ngobrol bersama.”

“Wahh…, ayah mu tidak mau kalah Taruma, sela

ibunya.

Mendadak terdengar derap beberpa ekor kuda, kemudian berhenti tepat di depan pintu pagar rumah Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

“Hah…, siapa itu yang datang.”

“Senapati Ampal,” ujar Rakeyan Kanuruhan

Rajendra.

“Pejabat tinggi, ayah?”

“Iyah, dia orang Sriwijaya.”

“Orang Sriwijaya,” gumam Taruma.

“Iya, Kerajaan Sriwijaya menempatkan beberapa orang penting di sini, salah satunya Senapati Ampal, yang menjabat pimpinan tertinggi pasukan perang Keraton,” bisik ayahnya.

“Selamat siang Kanjeng Mentri,” sapa Senapati

Ampal.

“Selamat siang tuan Senapati, mari…, mari

silahkan duduk.”

“Menurut khabar, katanya anda dalam keadaan bahagia, sebab telah kembalinya anak yang hilang,” kata Senapati Ampal tanpa basa-basi “Inilah anak saya Taruma, tujuh belas tahun kami berpisah sekarang telah kembali, ayo Tauma beri hormat mu pada tuan Senapati. ”

“Salam sejahtera tuan Senapati.”

“Salam sejahtera,” gumam Senapati Ampal.

Ke duanya sesaat saling tatap dengan tajam, Taruma merasakan adanya serangan halus teramat panas menyerang dirinya, segera pemuda gagah itu salurkan seperempat tenaga inti untuk menolaknya.

“Hupppp….” “Huaatttt….”

“Kenapa tuan menyerang saya?” ujar Taruma. “Kau hebat anak muda, sekarang tahan ini….”

Kembali Senapati Ampal kibaskan tangan kanannya pada Taruma tapi seperti tadi serangan halus itu mamapu Taruma redam dan musnahkan.

“Aku ladeni….”

“Cukup…, cukup, tahan jangan saling serang,”

pungkas Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

“Hemm, hehehe kau hebat anak muda, kau bisa memusnahkan tiga jenis ilmu yang aku kerahkan hem, pertama ajian ketok buang, ke dua aku tingkatkan dengan ajian kumbang pusing, dan aku tingkatkan lagi dengan ajian lindu karang, semuanya punah, hahaha…, padahal semua jago-jago di Keraton tidak ada yang sanggup menahan ajian lindu karang, tapi kau dengan mudah mengatasinya, hemmm, hebat sekali ilmu

kedigjayaan mu.”

“Tuan Senapati, kenapa anda menyerang anak saya?” “Saya tidak menyerang hanya menguji.” “Menguji?”

“Hemm, sekadar ingin mengetahui laporan kebenaran anak buah ku bahwa anda telah mengundang seorang pendekar untuk menjaga anda.”

“Tuan senapati Ampal, kenapa anda berkata

seperti itu? dia adalah Taruma anak kandung ku dan untuk apa aku mengundang pendekar, aku tidak

membutuhkan pengawal pribadi.”

“Gerakan gerombolan Sempani, si pemberontak itu semakin ditingkatkan,  mereka  menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan keinginannya, termasuk menyusupkan beberapa orang ke dalam tubuh pemerintahan Keraton.”

“Hem, jadi anda mencurigai anak saya ini?”

“Heeemm, saya tidak mengatakannya begitu, tapi kita sebagai orang Keraton harus waspada bukan, terhadap kemungkinan adanya penyusupan orang-orang tertentu.”

“Tuan Senapati, Taruma adalah anakku, aku

sanggup membuktikannya,”

“Selama ini yang aku tahu, anak anda cuma satu, yaitu Arimbi.”

“Hyah…, aku mengerti anda curiga, sebab semua orang tahu selama ini mereka hanya tahu anakku cuma Arimbi dan aku selalu merahasiakan bahwa sebenarya aku masih punya anak satu lagi yaitu kakaknya Arimbi, ialah Taruma yang sekarang berdiri di hadapan anda.” 

“Kenapa anda merahasiakannya?”

“Sebab saya bimbang, apakah saya masih bisa bertemu dengan Taruma, karena terlalu lama berpisah, tujuh belas tahun bahkan ibunya sampai punya pikiran apakah masih hidup ataukah sudah meninggal.”

“Hemm, begitu hem. Hehehe…, iyah baiklah selamat berkumpul kembali dengan putra anda, saya mohon pamit,” sela Senapati Ampal kemudian bergegas keluar rumah, tak lama derap ladam kuda terdengar meninggalkan kediaman Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

“Hemh…, saya benar-benar tersinggung dengan sikap Senapati Ampal.”

“Sudahlah kanda, dia memang begitu wataknya, kaku dan mudah curiga dengan orang lain,” sela sang istri.

“Tapi dia benar-benar hebat,” sela Taruma. “Dia menyerang saya sambil berdiri mematung, tidak bergerak sama seakali, tangannya hanya bergerak sedikit melancarkan serangan tenaga dalam kepada saya, jarang ada yang bisa berbuat seperti itu,” pungkas Taruma.

“Taruma, orang-orang Sriwijaya yang ditempatkan di sini, semuanya memiliki ilmu kedigjayaan yang tinggi terutama Tumenggung Jari Kambang.”

“Siapa Tumenggung Jari Kambang itu ayah?”

“Pejabat tinggi Kerajaan Sriwijaya yang menjadi pimpinan tertinggi di Kerajaan Tarumanagara ini,”

“Hemm….”

“Dia ilmunya sangat tinggi, terus terang ayah

belum melihat ada tokoh lain yang bisa menandingi dia.” “Ayah dicurigai, apakah karena ayah pejabat

tinggi asli orang pribumi?”

“Betul, Taruma sebab diperkirakan ada beberapa

orang pejabat tinggi pribumi yang menyokong

perjuangan gerombolan Sempani,” sela ibunya membuat wajah Rakeyan Kanuruhan berobah tegang beberapa kejap.

“Hemm, begitu ya,” gumam Taruma. “Kanda ada apa?”

“Ah, tidak dinda Supita.”

“Sudahlah, pokoknya kita tidak melakukan hal itu, nah…, marilah makan siang sudah siap kita bersantap bersama.”

“Baik ibu…,” sela Taruma.

**

Rona jingga merekah di ufuk barat semilir angin lembut mengelus ujung jubah merah kembang kembang yang dikenakan Chao-Xing, gadis manis bermata sipit itu tapak berdiri gagah di puncak menara berbentuk segi empat beratap daun sirap, matanya tajam menatap hamparan tanaman datura metel diantara tanaman anggrek hitam, para pekerja tengah sibuk merawat ke dua tanaman tersebut, di sebelahnya Iblis Bisu tampak menyilangkan ke dua lengannya di dada.

“Bisu, selama ini wo mengharap orang yang tidak tepat, Taruma lebih mencintai Niluh Arundaya dari pada wo,” desah gadis manis ini sendu.

Iblis Bisu tampak memberi semangat dengan bahasa isyarat.

“Apa yang harus wo lakukan, Bisu?”

Kembali Iblis Bisu memberikan jawaban dengan bahasanya sendiri.

“Ni benar, tidak selamanya cinta harus memiliki dan cinta sejati adalah cinta yang tidak menuntut syarat apapun,” gumam Chao-Xing dijawab anggukan mantap Iblis Bisu.

“Tapi…, wo hanya manusia biasa yang tetap memiliki angkara,” sela Chao-Xing membuat lelaki muka pucat ini tertegun beberapa kejap, Iblis Bisu tampak menanyakan sesuatu dengan bahasanya.

“Kalau wo tidak bisa memiliki Tauma, Niluh Arundaya pun tidak akan pernah memiliki Candrika,” pungkas Chao-Xing kemudian dengan sebat melompat turun dari menara pengawas menyalakan obor lalu membakar tanaman datura metel dan anggrek hitam, seketika api berkobar dengan hebat meluluh lantakan perkebunan milik sinse Li Sizen.

Para pekerja panik berusaha memedamkan kobaran api dengan alat seadanya tapi semakin berusaha dipadamkan kobaran api semakin besar ditambah hebusan angin timur yang saat itu bertiup kencang, maka dalam sekejap puluhan tanaman datura metel dan anggrek hitam yang siap panen hangus tanpa sisa, Iblis Bisu hanya mampu diam menyaksikan semua peristiwa itu.

“Hemm…, Cinta kadang membuat hilangnya

kewarasan seseorang,” membhatin Iblis Bisu.

Kebakaran hebat yang meluluh lantakan perkebunan datura metel dan anggrek hitam didengar juga oleh sinse Li Sizen melalui laporan Belati Terbang, tegopoh-gopoh tabib kerajaan itu mendatangi lokasi kejadian bersama beberapa orang kepercayaannya termasuk ayah gadis cantik tersebut, Louzi. Mata sinse Li Sizen terbelalak tidak mempercayai penglihatannya begitu sampai di lokasi, puluhan tanaman datura metel dan anggrek hitam hangus tanpa sisa.

“Siapa…, siapa yang bertanggung jawab dengan semua ini haaa…!” sentak sinse Li Sizen dengan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun.

“Maap sinse, saya…, saya.”

“Ni katakan siapa yang melakukan semua ini,” Akkhhh…!

Orang ini langsung ambruk begitu sebuah rantai baja menghantam dada sebelah kirinya.

“Bisu apa yang wo lakukan?”

Iblis Bisu melangkah pelan menghampiri sinse Li Sizen, dengan bahasa isyarat lelaki muka pucat itu mengaku dialah yang melakukan pembakaran.

“Wo…!” seru sinse Li Sizen, ditatapnya dengan tajam lelaki muka pucat tersebut, kemudian dengan cepat cabut salah satu belati yang terselip di pinggang Belati Terbang dan dengan amarah yang sudah tidak bisa dibendung lagi tusukkan senjata itu pada dada kiri Iblis Bisu.

Tringg…!

Pisau di tangan sinse Li Sizen lepas mental entah kemana.

“Pisau Terbang, apa yang ni lakukan?”

“Bukan Iblis Bisu pelakunya sinse Li,” desis Pisau

Terbang.

“Siapa…!”

Pisau terbang tidak segera menjawab, sudut matanya mengerling Chao-Xing yang berdiri mematung di atas menara, tanpa membuang waktu sinse Li Sizen didampingi Pisau Terbang naik ke atas menara pengawas menemui gadis manis tersebut. “Apakah benar ni yang melakukan semua ini?”

geram sinse Li Sizen sambil menahan amarahnya.

Chao-Xing hanya mampu diam.

“Jawab Chao-Xing…?”

Gadis manis bermata sipit itu tampak mengangguk lemah.

“Ni…!” sentak sinse Li Sizen, tangan kanannya tampak mengembil sebatang jarum tipis dari balik lengan jubahnya.

“Iblis Bisu kemari ni…!” sentak sinse Li Sizen, tanpa membuang waktu lelaki muka pucat itu naik ke atas menara kemudian memberi penghormatan pada tabib Kerajaan tersebut.

“Bisu lakukan tugas ni…,” desis sinse Li Sizen sembari menyerahkan jarum panjang halus pada Iblis Bisu, lelaki muka pucat itu bertambah pucat, dengan gemetar pandangi jarum panjang halus yang ada di tangannya dengan nanar, ditatapnya mata Chao-Xing dengan berbagai rasa, Chao-Xing balas menatapnya dengan lesu.

“Selesaikan tugas ni, Bisu…!” kembali suara sinse

Li Sizen menghentak dada lelaki muka pucat tersebut.

“Mana mampu aku membunuh orang yang sangat aku sayangi.” Keluh Iblis Bisu dalam hati.

“Bisu…!” Craaabbb…!

Semua orang yang berada di tempat itu terkejut bukan main, lebih-lebih ayah Chao-Xing dengan mata kepala sendiri anak gadis yang sangat disayanginya itu menghujamkan tubuhnya sendiri pada jarum panjang tipis yang masih digenggam Iblis Bisu.

“Chao-Xing…!” teriak sang ayah.

“Nona Chao-Xing, apa yang kau lakukan?” keluh Iblis Bisu dalam hati kemudian tubuhnya melorot jatuh berlutut di samping tubuh gadis manis yang sangat dicintainya itu. “Bisu…, Bisu…, berikan ini pada Taruma…,” gumam Chao-Xing sembari menyelipkan sesuatu di tangan Iblis Bisu, diiringi rembang petang dan semilir angin senja roh gadis manis tersebut lolos dari raga wadagnya meningalkan semua kenangan serta harapan tentang seseorang yang sangat dicintainya, Taruma.[] Elegi Cinta Orang-Orang Gagah

Iblis Bisu tertegun bilamana satu sosok pemuda kekar dengan puluhan belati di pinggang berjalan pelan meninggalkan altar Chao-Xing dengan dupa yang masih mengepul, lelaki itu hentikan langkah tepat di hadapan Iblis Bisu.

“Bisu, seharusnya kau yang mati bukan nona Chao,” desis Belati Terbang.

Lelaki muka pucat itu tampak menanyaan sesuatu dengan bahasa tubuhnya.

“Aku terpaksa mencegah sinse Li membunuh mu, agar kau pun merasakan bagaimana pedihnya ditinggal orang yang sangat kita cintai,”

Ibls Bisu tertegun beberapa kejap lalu menanyakan sesuatu yang kali ini jawaban Belati Terbang seakan menggedor seluruh amarahnya.

“Jika aku tidak bisa memiliki nona Chao, maka siapapun tidak termasuk kau, tujuh belas tahun aku menantikan cintanya, justru kau yang selalu bersamanya,” tandas Belati Terbang.

Perlahan, Iblis Bisu raih rantai baja yang meingkar di pundak, matanya melotot tajam penuh amarah, ingin rasanya dia lampiaskan dendam kesumat pada Belati Terbang, tapi entah kenapa lelaki muka pucat itu malah melepas genggaman tangannya pada rantai baja. 

“Kenapa Bisu?”

Yang ditanya gelengkan kepala berulang-ulang. “Kau tidak tahu apa-apa Belati Terbang, yang dicitai nona Chao adalah Taruma bukan diriku,” kata Iblis Bisu yang tentu saja kalimat tersebut tidak akan pernah keluar dari bibirnya.

“Percuma bicara dengan mu Bisu,” pungkas Belati Terbang, kemudian lelaki kekar itu berlalu meninggalkan Iblis Bisu yang kini terpekur di hadapan altar Chao-Xing.

“Nona Chao, terimakasih untuk semua kenangan indah yang sudah kau berikan padaku, istirahatlah dengan tenang semoga kelak di kehidupan lain kita dipertemukan kembali,” doa tulus Iblis Bisu, lelaki muka pucat itu tampak berdiri memberikan penghormatan, berbalik badan kemudian melangkah pelan meninggalkan altar orang yang sangat dicintainya walau hanya dalam diam.

**

Satu purnama  berlalu,  meninggalkan  semua carut marut kehidupan yang terus berjalan menuju kepastiannya, suasana Ibukota Tarumanagara masih berkabut ketika  kentongan  ditabuh  dengan  nada tertentu yang menandakan sesuatu tengah terjadi, nada kentongan itu merupakan nada kematian, tidak menunggu lama puluhan prajurit Keraton tampak memenuhi halaman rumah sinse Li Sizen, tabib Kerajaan itu ditemukan sudah tidak bernyawa, ibu kota Tarumanagara seketika geger beberapa pejabat penting Keraton termasuk pemimpin tertinggi Tarumanagara Tumenggung Jari Kambang berkenan hadir didampingi puluhan prajurit kawal.

“Senapati Ampal, sudah ada petunjuk penyebab kematian sinse Li Sizen?”

“Sepertinya, jarum ini penyebabnya kakang Tumenggung,” ujar Senapati Ampal sambil menyerahkan satu jengkal jarum  tipis yang  ditemukannya  menancap di dada kiri sang tabib pada Tumenggung Jari Kambang. ini,” “Aku tidak yakin sinse Li melakukan hal bodoh

Belum kering gumaman Tumenggung Jari Kambang dari bibirnya, sebuah anak panah melesat, hanya dengan menggerakan tangannya sedikit, anak panah tersebut sudah ada dalam genggaman tangan kiri Tumengung Jari Kambang, sebuah gulungan rontal melilit pada batangnya.

“Kebo Sempani,” desis Tumenggung Jari Kambang sembari meremas daun rontal yang baru saja dibaca isinya itu sampai lumat.

“Ada apa kakang Tumenggung?”

“Perusuh itu mengatakan padepokan Ciampea bekerja sama dengan dirinya dan akan memberontak.”

“Apakah yang membunuh sinse Li Sizen juga Sempani?”

“Aku tidak tahu, tapi yang jelas sekarang juga aku perintahkan kau pimpin pasukan Keraton menutup padepokan Ciampea dan menangkap pemimpinnya,

Bilawa.”

“Sendika kakang Tumengung,” pungkas Senapati Ampal kemudian berlalu meninggalkan kediaman tabib Kerajaan itu yang semakin sesak dipadati orang-orang yang datang untuk menyampaikan belasungkawa pada Louzi, adik kandung sinse Li Sizen.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan Niluh Arundaya mengungsikan Candrika ke rumah Rakeyan Kanuruhan Rajendra. Semantara itu di padepokan Ciampea Abilawa yang selesai melatih anak muridnya bersama Kinanti duduk-duduk di langkan rumah, wanita anggun pemilik gigi gingsul itu tampak memberikan air yang ditampung dalam ruas bambu pada Bilawa.

“Terimakasih Kinanti,” ujar Abilawa kemudian meneguk air segar itu dengan nikmat, Kinanti tersenyum hati wanita anggun itu sedang berbunga-bunga, selama beberapa hari itu komunikasi antara ke duanya sudah terjalin dengan baik.

Dari dalam bilik muncul Arimbi yang langsung disambut wajah cemberut Kinanti, perempuan anggun itu berdiri kemudian berlalu meninggalkan Abilawa.

“Guru ada apa dengan Kinanti?” “Tidak ada apa-apa den ayu.”

“Sepertinya Kinanti belum bisa menerima saya di padepokan ini, guru.”

“Itu haya perasaan den ayu saja, jangan diambil

hati.”

“Guru, ayo kita latihan lagi menyelesaikan jurus

melipat dan membanting,”

“Wah, hari ini den ayu Arimbi nampak cerah,

wajah den ayu berseri-seri, dan sangat bergairah.”

“Tentu saja guru, sebab sekarang saya punya kakak. Kakang Taruma.”

“Iya…, saya juga ikut bahagia, sebab saya tahu benar den ayu merasa kesepian karena tidak punya saudara seperti gadis-gadis yang lain, dan sekarang

impian den ayu terkabul.”

“Kakak saya gagah ya?”

“Iya, tampan seperti ayah den ayu,”

Pembicaraan ke duanya terhenti manakala di kejauhan terdengar derap ladam kuda, tak lama dari lamping bukit sebelah barat muncul puluhan prajurit Keraton Tarumanagara dan hentikan laju tunggangannya tepat di depan regol perguruan Ciampea.

“Ah, siapa mereka?”

“Pasukan Keraton,” gumam Arimbi.

“Hemm…, ini padepokan Ciampea?” tanya seorang lelaki tinggi besar dengan kumis melintang di bibir, lelaki itu adalah Senapati Ampal yang ditugaskan Tumenggung Jari Kambang untuk menutup padepokan Ciampea sekaligus menangkap Abilawa dan murid- muridnya yang diduga berkomplot dengan gerombolan Kebo Sempani.

“Benar,” ujar Bilawa tenang.

“Dan kau pasti Bilawa, ketua padepokan ini.” “Benar, saya Bilawa.”

“Padepokan ini harus ditutup, dan kau serta seluruh muridmu harus ikut ke keraton,” tandas Senapati Ampal.

“Apa ditutup?”

“Kau pemberontak…!” “Apa? Peberontak.”

“Kau membantu gerombolan Sempani, jadi kau ditangkap.” Pungkas Senapati Ampal kemudian melompat turun dari kuda diikuti puluhan prajurit Keraton.

“Itu tidak benar, tidak pernah saya membantu

gerombolan Sempani,”

“Padepokan ini ditutup dan kau ikut ke keraton untuk diperiksa.”

“Saya menolak.”

“Berarti kau memang pemberontak.”

“Dengar Senapati Ampal, tuduhan mu tidak benar bahkan yang terjadi adalah sebaliknya aku bermusuhan dengan Sempani.”

“Ini perintah Tumenggung Jari Kambang, penguasa tertinggi kerajaan Tarumanagara,” desis Senapati Ampal.

“Tuan Senapati, saya Arimbi putri Kanuruhan Rajendra memberi jaminan bahwa guru saya ketua padepokan Ciampea ini tidak terlibat dengan gerombolan Sempani,”

“Saya tidak membutuhkan keterangan mu nona Arimbi.”

“Kau tidak percaya kepada ku?”

“Hoh…, nona jangan ikut campur, kalau nona ikut campur berarti nona membela pemberontak.” “Aku tidak membela pemberontak, tapi aku

membela guru ku.”

“Nona Arimbi, salah alamat berguru pada pemberontak.”

“Bedebah…!”

“Haoo, nona berani berkata bedebah pada saya, wakil penguasa tertinggi Tarumanagara.”

“Kau tidak berhak menjadi penguasa di sini, sebab kau bukan orang Tarumanagara.”

“Den ayu, tahan sedikit jangan melibatkan diri terlalu jauh biarlah saya sendiri yang menghadapi mereka,”

“Tidak, anda adalah guruku aku akan membelamu.”

“Hemm, bagus…, bagus, putri Mentri Kanuruhan Rajendra jadi pemberontak.”

“Aku tidak memberontak, cuma kau sendiri yang mengatakannya.”

“Sama saja, pasukan…!” “Yaaaaa….!”

“Tangkap mereka…, dan bakar padepokan ini!” “Siap…!”

Pertempuran pun terjadi dengan sengit, murid- murid padepokan yang jumlahnya dua puluh orang bertempur dengan gagah berani melawan pasukan Keraton yang berjumlah tiga puluh orang lebih. Arimbi mengamuk, pedangnya berkelebat-kelebat cepat dan ganas tubuhnya berlompatan laksana burung sikatan, sedang Bilawa pertempur dengan mantap ke dua tangannya bergerak sangat cepat siapa terkena pasti tumbang bagai terkena palu godam yang beratnya beribu-ribu kati .

“Tamburan…,” “Daulat…,”

“Kau hadapi Arimbi, aku hadapi Bilawa.”

Melihat pasukannya terdesak oleh Arimbi dan Abilawa, senapati Ampal dan punggawa Tamburan segera turun tangan, Senapati Ampal menghadapi Bilawa dan punggawa Tamburan menghadapi Arimbi, sedang pasukan yang lainnya bertempur dengan murid-murid padepokan.

“Bilawa, akulah lawan mu…!” sentak Senapati

Ampal.

“Dari tadi aku menunggu kesempatan ini, untuk

memenggal leher mu.”

“Bedebah…!”

Pertarungan antara ke duanya pun kembali berlangsung dengan sengit, semantara itu ponggawa Tamburan tampak terdesak hebat oleh amukan Arimbi yang ganas, Ponggawa Tamburan adalah ponggawa pasukan perang yang murni tidak mengerti jurus-jurus persilatan sehingga dalam waktu singkat mulai terdesak hebat oleh amukan Arimbi yang garang hingga pada satu ketika pedang Arimbi telak menghujam perut punggawa Tamburan hingga tewas.

“Hai senapati Ampal, lihat wakil mu sudah

tewas.”

“Keparat, kau harus menebus kematian

punggawa Tamburan,”

Melihat Senapati Ampal menerjang Arimbi dengan kemarahan yang meluap-luap secepat kilat Bilawa menghalanginya akibatnya Senapati Ampal tidak bisa mendekati Arimbi karena sibuk menghadapi gempuran Bilawa.”

“Den ayu, biarkan saya menghadapi senapati Ampal, den ayu bantu Kinanti dan murid-murid yang lain.” Teriak Abilawa diantara gempuran dahsyat Senapati Ampal.

Begitu mendapat perintah dari gurunya Arimbi menyerbu ke arah pasukan Keraton maka

keadaan menjadi kacau balau, pasukan Keraton sama sekali tidak mengira mendapat gempuran yang hebat hinga semuanya menjadi kalang-kabut menghadapi gempuran Arimbi dan Kinanti. Keadan pasukan Keraton semakin berantakan porak poranda digempur oleh Arimbi dan Kinanti, korban mulai berjatuhan pedang Arimbi haus darah, sekali berkelebat dua atau tiga nyawa melayang roboh mandi darah dengan leher hampir putus, begitu juga dengan Kinanti dengan tangkas wanita anggun itu berkelebat ke sana ke mari memainkan pedang, siapa pun yang mendekat dipastikan terkapar bermandikan darah, bukan main murkanya Senapati Ampal melihat pasukannya berantakan segera dia mengeluarkan ilmu kadigjayaan yang bernama ajian jaring karang.

“Setan alas, kubunuh kalian semua…, ajian jaring karang…!”

Duaaaaarrr…!

Betapa dahsyat ajian jaring karang itu, ke dua tangan Senapati Ampal bergerak agak lambat tapi tenaga yang keluar dari ke dua tanganya sungguh mengerikan, hanya dalam waktu sekejap murid-murid padepokan Ciampea bergelimpangan sambil menjerit-jerit seperti ditimpa batu besar yang sangat berat.

“Celaka murid-murid ku tewas,” keluh Abilawa. “Hahaha…, mamapuslah kalian semua,”

“Den ayu Arimbi jangan….!” Sentak Bilawa yang melihat Arimbi dengan nekad menyerang Senapati Ampal, gadis manis ini terlalu nekad hingga dalam sekejap tubuh Arimbi terpental dan ambruk di tanah, muntah darah kemudian roboh disusul Kinanti yang mengalami nasib sama dengan Arimbi.

“Senapati Ampal kau telah melukai murid-murid ku, ayoh kita mengadu jiwa…, ajian gelap ngampar…!”

“Ajian jaring karang…!”

Ajian jaring karang berbenturan dengan ajiang gelap ngampar, bumi bergetar oleh suara ledakan yang dahsyat bertubi-tubi. Senapati Ampal dan Bilawa tampak berdiri seperti patung, ke dua tangan mereka saling dorong dari jarak yang berjauhan, perlahan namun pasti nampak jelas Senapati Ampal lebih unggul dari Abilawa, Bilawa mulai terdesak hebat.

“Ahhhhh…!” teriak Abilawa kemudian ambruk di

tanah tak sadarkan diri.

“Hahaha…, mamapus kau Bilawa…, ternyata kau tidak ada apa-apanya, Hai murid-murid padepokan Ciampea lihat pemimpin kalian sudah roboh menyerah

lah, siapa yang tidak mau menyerah aku bunuh.” Tanpa dikomando dua kali murid-murid padepokan Ciampea yang tersisa segera melempar senjatanya masing-masing dibawah todongan senjata tajam pasukan Keraton.

“Hem…, bagus. Duduk semuanya, kalian semua

akan diadili.”

“Ponggawa Konying…!” “Siap tuan Senapati,”

“Perintahkan sepuluh orang anak buah mu untuk menggotong Arimbi, Bilawa, dan gadis itu sebab mereka belum mati hanya sekarat, mereka harus dibawa ke keraton untuk diadili.

Belum kering kalimat dari bibir Senapati Ampal, mendadak suasana alam berangsur redup tak lama dari arah yang tidak terduga berkelebat satu bayangan hitam diikuti debu hitam yang menutupi pandangan semua orang yang ada ditempat itu, begitu suasana kembali terang tubuh Arimbi, Abilawa dan Kinanti sudah ada dalam gendongan orang bertopeng kulit kayu berwarna hitam.

“Senapati Ampal, kelak di kemudian hari kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu ini,” desis orang bertopeng tersebut.

“Hai…, siapa kau?! Mau dibawa kemana mereka.”

Belum kering ucapan Senapati Ampal, orang bertopeng itu berkelebat cepat sambil melepas pukulan mengandung asap hitam menerjang wajah Senapati Ampal hingga terbatuk-batuk sambil memegang dadanya yang dirasa sesak. “Ahh, hebat sekali orang itu, berkelebat dengan ringan sambil menggendong tiga orang sekaligus, ahh…, biarlah tugas ku menutup padepokan ini,” membhatin Senapati Ampal.

“Pasukan..., bakar padepokan ini…!” “Siap…!”

Tidak menunggu lama api mulai berkobar menjilat seluruh bangunan padepokan Ciampea, setelah puas menyaksikan padepokan Ciampea terbakar tanpa sisa, Senapati Ampal membawa seluruh pasukan Keraton dan para tawanan kembali ke kota raja Tarumanagara.

Sesampainya di keraton Senapati Ampal menceritakan semua kejadian yang dialaminya, betapa marahnya Tumenggung Jari Kambang, maka saat itu juga pemimpin tertinggi Tarumanagara itu memerintahkan kembali Senapati Ampal untuk menangkap Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

**

Semantara itu di kediaman Rakeyan Kanuruhan Rajendra, perwira tinggi Kerajaan Tarumanagara itu sedang bersama sang istri di ruang tamu. Wajah sang Kanuruhan itu tampak murung sebentar-sebentar menarik napas panjang sepertinya sedang ada yang dipikirkan.

“Kanda minum…,”

“Terimakasih dinda,” ujar lelaki pemilik tatapan

teduh itu.

“Perasaan saya hari ini tidak enak, kenapa ya?”

“Saya juga kanda, sejak dari pagi berdebar-debar terus.” “Hemm, Taruma mana?”

“Ada di dalam kamarnya sedang latihan semadi,” “Saya bangga sama dia, Taruma seorang pemuda yang gemar belajar berbagai ilmu.” “Betul kanda,” “Lalu bagaimana dengan Niluh Arundaya dan Candrika?”

“Gadis itu sejak kemarin selalu menemani

Candrika, kanda.”

“Kasihan sekali gadis itu, saya lihat sepertinya dia sangat menyayangi Candrika walau kondisi pemuda tersebut agaknya tidak ada harpan lagi,” gumam Rakeyan Kanuruhan Rajendra dijawab anggukan pelan sang istri.

Mendadak suami istri itu tertegun bilamana diluar terdengar derap ladam kuda banyak sekali berhenti tepat di depan pintu gerbang halaman rumahnya.

“Ahh, pasukan berkuda kanda,” ujar sang istri. “Senapati Apal,” gumam Rakeyan Kanuruhan

Rajendra.

“Ada apa kanda? kenapa dia membawa pasukan

berkuda kemari.”

Diluar terdengar suara serak Senapati Ampal menyuruh keluar Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

“Mantri Kanuruhan Rajendra, keluar…!”

“Bedebah, kenapa dia berteriak-teriak, berani sekali dia berbuat seperti itu terhadapku.”

“Rajendra…, keluar…!” “Keparat…!”

“Sudah-sudah kanda, lupakan pangkat untuk

semantara cepat keluar temuin dia,” sela sang istri.

Dengan gusar Rakeyan Kanuruhan Rajendra segera keluar menemui Senapati Ampal yang masih duduk di atas punggung kuda.

“Ada apa kau Senapati Ampal, apakah kau tidak mau lagi menginjak lantai rumah ku sehingga kau berteriak-teriak.”

“Kau ditangkap…!” “Apa, ditangkap.”

“Kau pemberontak…!”

“Bicara yang betul, Senapati.” “Anak mu, Arimbi dan gurunya Bilawa serta semua murid-murid padepokan Ciampea pemberontak…!”

“Anak ku memberontak?”

“Bilawa menyokong grombolan Sempani bahkan

Arimbi membunuh ponggawa Tamburan.”

“Fitnah…, aku tahu benar Bilawa musuh bebuyutan Sempani, tidak mungkin Bilawa bersekutu dengan Sempani.”

“Apa yang tidak mungkin menjadi mungkin, mungkin Bilawa dia-diam mempunyai cita-cita ingin memberontak, jadi bisa saja dia berbaikan denga Sempani lalu bekerja sama,”

“Kemungkinan itu tipis, bahkan mustahil.”

“Hah, hahaha…, tipis atau tebal kenyataannya demikian.”

“Hem, kau punya bukti Senapati Ampal.”

“Buktinya dia melawan pada kami petugas resmi dari Keraton Tarumanagara.”

“Yah…, mungkin kau main hantam kromo sehingga Bilawa marah.”

“Apapun alasannya, siapa saja rakyat Tarumanagara harus patuh dan tunduk kepada peraturan, berani membangkang berarti pemberontak, sekarang juga kau ikut kami.”

“Aku mau menghadap Kanjeng Tumenggung Jari

Kambang,”

“Mau apa?”

“Minta persoalan ini diselesaikan dengan baik.” “Hahaha…, percuma saja Rajendra, kau sudah

dipecat.”

“Apa, dipecat.”

“Kanjeng Tumenggung Jari Kambang sendiri yang memberi tugas pada ku untuk menangkap kau.”

“Aku tidak percaya, minggir…, aku mau lewat.”

“Jangan macam-macam Rajendra, rumah mu ini

sudah dikepung.” Dari dalam rumah muncul Taruma.

“Bukan main, galak benar.”

“Taruma…,” sela Senapati Ampal dan Rakeyan

Kanuruhan Rajendra berbarengan.

“Pejabat tinggi Keraton di sini ternyata tidak mengerti tata adat, tidak memberikan kesempatan pada orang lain untuk membela dirinya,” ujar Taruma.

“Mau apa kau, hemm?”

“Seorang anak melihat bapaknya dalam keadaan bahaya tentu akan turun tangan, begitu seharusnya bukan?”

“Hemmm, baik…, baik, rupanya kau sudah besar kepala mentang-mentang kemarin aku memberi hati kau bisa mengimbangi aku dalam mengadu tenaga dalam.”

“Sama.”

“Maksud mu?”

“Waktu kemarin itu aku juga memberi hati kepada mu, supaya kau gembira bisa mengimbangi aku dalam adu tanding tenaga dalam.”

“Bedebah…, hari ini kau akan tahu siapa aku, Senapati Apal sang macan Keraton, kupecahkan kepala mu.”

“Kau juga hari ini akan tahu, siapa aku, Taruma,

pendekar Gunung Salak.” “Baik, pasukan…!” “Sendika…!”

“Kalian tangkap mentri Rajendra, anak sombong ini biar aku yang bereskan…!”

“Jangan harap kalian bisa menyentuh ayah

ku…!”

Pertempuran pun pecah di halaman rumah

Rakeyan Kanuruhan Rajendra, Taruma dengan cepat hantamkan telapak tanganya ke depan, angin pukulan terdengar menderu memporak-porandakan barisan prajurit Keraton. “Dia punya ilmu setan, anak buahku

bergelimpangan,” geram Senapati Ampal menyaksikan gebrakan Taruma.

“Hahaha…, pasukan Keraton kelas teri oleh ajian gelar tatar sudah berantakan,” seru Taruma.

“Taruma, kau jangan besar kepala. Ajian gelar tatar mu tidak ada apa-apanya, lihat aku akan mengeluarkan ajian jaring karang,” seru Senapati Ampal lalu pukulkan kepalan tanganya pada Taruma.

Blaaarrr…!

Taruma terlempar cukup jauh ke belakang juga Senapati Ampal terpental malah malah lebih jauh.

“Kau hebat Taruma,”

“Ayo, keluarkan semua ilmu simpananmu.”

“Baik, tahan ilmu pamungkas ku, ajian tapak

jagat.”

“Bukan hanya kau saja yang memiliki banyak

ilmu kadigjayaan, aku juga banyak, aku akan ladeni kau

dengan ajian tatu lima.”

“Ahh, anaku ternyata bukan pemuda sembarangan, dia berani melawan Senapati Ampal yang paling ditakuti,” gumam Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

Semantara itu Senapati Ampal tampak berlutut, ke dua tangannya bersilang, sedangkan Taruma tetap berdiri ke dua kakinya mengangkang tangan kirinya dilipat tangan kanannya membentuk siku-siku, dan ke dua ajian itu pun bertubrukan.

Dhuarrrrr…!

Ke duanya kembali terpental dan terduduk lemas kehabisan tenaga.

“Pasukan…, lekas tangkap Rajendra, Taruma sudah lemas seperti aku.”

“Tangkap…!”

Maka pecah kembali pertempuran itu dengan sengit, semantara itu Senapati Ampal merasakan sekujur tubuhnya menjadi lemas, dia hanya bisa duduk sambil mengatur pernapasan begitu pula dengan Taruma dia pun merasa lemas tapi ketika melihat pasukan Keraton ramai-ramai menyerang ayahnya Taruma nekad, dia menerjang dengan sisa-sisa tenaganya.

Mentri Kanuruhan Rajendra adalah seorang pejabat tinggi Keraton yang sudah kenyang pengalaman bertempur, dia tidak menjadi gentar menghadapi gempuran pasukan yang jumlahnya puluhan orang, dia bertempur dengan gagah berani, tangan kiri memegang keris, tangan kanan memegang pedang mengamuk laksana banteng ketaton, melihat ayahnya bertempur dengan garang, Taruma bangkit semangatnya tubuhnya yang letih tidak dirasakan dia mengamuk melindungi ayahnya.

Namun meski gagah berani luar biasa, tapi musuh terlalu banyak maka lambat laun Rajendra dan Taruma mulai terdesak, dalam keadaan yang genting tersebut tiba-tiba dari dalam rumah muncul seorang laki-laki berpakaian hitam-hitam memakai topeng kulit berwarna hitam pula, berdiri sambil menggendong istri Rakeyan Kanuruhan Rajendra disusul Niluh Arundaya yang memegang pergelangan tangan Candrika.

“Rajendra, cepat kau tinggalkan tempat ini!” “Siapa kau? kenapa istri ku, kau penculik.” “Paman cepat pergi, tidak ada waktu untuk

menjelaskan…!” seru Niluh Arundaya.

“Jangan banyak cakap, ikuti aku…, dan kau Taruma, buka jalan cepat lakukan.”

“Aku tidak tahu siapa kau, tapi nampaknya kau berpihak pada kami, baik aku akan membuka jalan bagi kau, ibuku, ayah ku juga teman-teman ku untuk pergi meninggalkan tempat ini,”

“Ajian kilat bawana…ciattttt…!” Blaaaarrr…!

**

Semantara itu di satu hutan kecil.

“Ternyata kau memiliki ilmu lari cepat yang bagus, sehingga kau tidak tertinggal jauh oleh ku.” “Siapa kau sebenarnya? kalau kau berniat menolong kami mengapa kau memakai topeng.”

“Baiklah aku akan membuka topeng.” “Ahh, Udayana…”

“Maapkan saya kakang Rajendra, terpaksa saya memakai topeng supaya saya tetap tidak dikenal oleh pasukan Keraton,”

“Ohh, adikku Udayana, terimakasih kau telah

menyelamatkan jiwa ku dan istriku.”

“Saya juga mengucapkan terimakasih paman Udayana,” sela Niluh Arundaya yang sedari tadi diam sambil terus menggandeng tangan Candrika, lelaki paruh baya itu hanya mengangguk pelan.

“Yah, saya kasihan melihat istri mu, menggigil ketakutan di dalam kamar ditemani ke dua muda-mudi ini melihat kakang digempur pasukan Keraton.”

“Terimakasih Udayana, tapi dari mana kau tahu di rumah ku terjadi keributan?”

“Saya melihat padepokan Ciampea di bakar pasukan Keraton.”

“Dibakar?”

“Yah, dibakar oleh Senapati Ampal dan anak

buahnya,”

“Lalu, bagaimana dengan Arimbi?” “Dia ada di rumah saya,”

“Benarkah?”

“Dia hanya terluka kecil, ayoh sekarang kita ke desa Gelino di kaki Gunung Salak,”

“Bagaimana dengan Taruma?” sela Niluh

Arundaya.

“Iya betul, Taruma masih bertempur menghadapi

pasukan Keraton.”

“Percayalah pada saya kakang, Taruma bisa mengatasi kesulitan dan saya sudah meninggalkan jejak khusus di sepanjang perjalanan, dia akan menyusul ke desa Gelino.” “Baiklah, saya percaya sebab sudah menyaksikan kehebatan Taruma.”

Ke empatnya kemudian melanjutkan perjalanan meninggalkan ibu kota Tarumanagara menuju desa Gelino di kaki Gunung Salak.[]

Senandung Cinta Para Kesatriya

Sejak tewasnya sinse Li Sizen yang diduga bunuh diri sampai penutupan padepokan Ciampea hingga terusirnya Rakeyan Kanuruhan Rajendra dari lingkugan Keraton, kehidupan rakyat Tarumanagara mulai dicekam ketakutan, Senapati Ampal memanpaatkan keadaan dan berhasil menghasut Tumenggung Jari Kambang agar diberlakukannya jam malam juga pengawasan ketat terhadap orang asing yang datang ke ibu kota, tidak hanya itu, Senapati ambisius itu pun membentuk pasukan khusus  yang  ditugaskan  menyelidiki keberadaan Rakeyan Kanuruhan Rajendra yang sudah dicap sebagai pemberontak.

Usaha Tumenggung jari Kambang menarik simpati rakyat Tarumanagara perlahan tapi pasti mulai redup oleh ulah tangan kanannya sendiri, hampir tiap hari prajurit Keraton mengadakan patrol sampai jauh ke peloksok perkampungan yang tentu saja sikap para prajurit itu sangat kasar bahkan terkesan kebablasan dalam menjalankan perintah pengamanan, rakyat menjadi resah namun tidak mampu berbuat apa-apa kecuali pasrah.

Sebenarnya jauh dilubuk hati paling dalam, Tumenggung Jari Kambang sangat tidak setuju dengan tindakan Senapati Ampal namun apa daya orang nomor satu di pemerintahan Kerajaan Tarumanagara itu masih membutuhkan tenaga Senapati Ampal demi mengukuhkan kedudukannya.

“Senapati Ampal, aku harap jangan terlalu keras dalam menegakan aturan, kita masih butuh rakyat Tarumanagara untuk menjalankan roda pemerintahan.”

“Saya mengerti kakang Tumenggung, tapi bukankah dengan menanamkan rasa patuh kedudukan kita semakin kuat.”

“Betul, tapi ingat Senapati Ampal sedikit saja hati rakyat tertekan maka mereka akan bersatu dengan alasan kesamaan nasib.”

“Bila itu terjadi, pasukan Keraton yang saya pimpin akan membereskannya kakang Tumenggung.”

“Baiklah, aku percaya. Lalu bagaimana dengan perkembangan Prabu Linggawarman setelah tewasnya tabib Li Sizen.”

“Tinggal menunggu waktu saja kakang Tumenggung.”

“Perketat pengawasan dan penjagaan atas Prabu

Linggawarman.”

“Baik kakang Tumenggung,” ujar Senapati Ampal kemudian berlalu meninggalkan balerung pertemuan setelah memberikan penghormatan pada Tumenggung Jari Kambang.

Semantara itu di kamar pribadi Prabu Linggawarman, sang permaisuri dan Rakeyan Tarusbawa dikejutkan dengan kedatangan dua sosok manusia bercadar hitam, sebelum menyadari apa yang terjadi salah satu sosok bercadar hitam itu lemparkan sebuah benda ke lantai yang dalam waktu singkat asap hitam menyelimuti kamar peraduan Raja, begitu asap menipis dan suasana kembali normal, Prabu Linggawarman bersama sang permaisuri sudah tidak ada lagi di tempat begitu pun dua sosok bercadar hitam yang tertinggal adalah beberapa prajurit jaga bergelimpangan meregang nyawa dan satu lembar daun rontal di atas pembaringan Raja Linggawarman. “Desa Gelino, kaki Gunung Salak.”

Setelah membaca rontal, tanpa membuang waktu saat itu juga Rahardian Tarusbawa bersama sang istri bergegas meninggalkan Keraton Tarumanagara.

**

Bulan ke sembilan, di langit purnama bersinar lembut sementara di atas wuwungan istana Tarumanagara yang di sebut puncak terang dua sosok bayangan saling berhadapan, sosok pertama merupakan seorang bercaping lebar dengan pedang tipis berkilat diterpa sinar bulan, sedang sosok ke dua adalah seorang laki-laki kekar dengan puluhan Belati terselip di pinggangnya.

Sudah hampir satu jam ke dua sosok itu saling berhadapan seakan mengukur kekuatan lawan, namun sejatinya  pertempuran yang  sebenarnya  sudah sejak satu jam yang lalu berlangsung sengit di alam pikiran ke dua kesatria yang sama-sama memiliki perbedaan prinsip itu. Tapi rupanya kali ini telik sandi Yuda Karna lebih unggul satu tingkat dari Pisau Terbang, sesaat lelaki kekar dengan puluhan belati terselip di pinggang itu hentikan pertarungan, darah kental tampak keluar dari hidung, mulut dan telinganya.

Telik sandi Yuda Karna perlahan membuka ke dua matanya disusul tubuh Belati Terbang yang tampak limbung kemudian ambruk di wuwungan istana Tarumanagara.

“Bagaimana Belati Terbang?”

“Aku akui kau memang hebat Yuda Karna, Sunda Buhun mu satu tingkat di atas ku, tapi aku belum kalah sebelum kau membunuhku.”

“Buat apa Pisau Terbang, aku bukan orang seperti itu, jika kau berobah pikiran temui aku di desa Gelino di kaki Gunung Salak.”

Habis berkata seperti itu, telik sandi Yuda Karna hentakkan kakinya di atas wuwungan tak lama sosoknya berkelebat cepat meningalkan Pisau Terbang yang masih tertunduk lesu di atas wuwungan Istana Tarumanagara, lelaki kekar itu tertegun bilamana sebuah tabung bambu tergeletak di hadapannya, setelah dibuka sebutir pil berwarna putih langsung ditelannya, setelah dirasa tenaganya pulih dengan sekali jejakan kaki sosoknya tampak terlihat jauh ke arah barat dimana kediaman tabib Kerajaan sinse Li Sizen tinggal.

Sinse Li Sizen yang masih terjaga tertegun bilamana Pisau Terbang tiba-tiba muncul di hadapannya tanpa dia minta.

“Pisau Terbang, saat ini wo belum membutuhkan tenaga ni.”

“Maap sinse Li, aku datang mau menyelesaikan urusan.”

“Urusan apa?”

“Urusan ini aku anggap selesai dengan taruhan nyawa mu,” tandas Belati Terbang kemudian cabut dua bilah belati yang langsung dilemparkan ke arah sinse Li Sizen yang dengan repleks menangkis menggunakan sebilah jarum panjang.

“Apa maksud ni, Belati Terbang?”

“Arwah nona Chao-Xing akan tenang dengan tebusan nyawa mu.”

“Kau sudah gila Belati Terbang.”

“Cinta kadang membuat orang menjadi gila, sinse Li,” tandas Belati Terbang yang dalam sekali kelebatan tubuh telah berada satu tindak di  samping  sinse  Li Sizen, tabib Kerajaan itu tertegun bilamana jarum panjang halus miliknya yang digunakan menyerang Belati Terbang sudah menancap telak didada sebelah kirinya.

Setelah yakin tabib Kerajaan itu tewas dengan sekali jejakan kaki di tanah, tubuh Belati Terbang melesat bagai kilat kemudian hilang di tengah pekatnya malam.

** Betapa bahagianya Taruma ketika sampai di desa Gelino, ke dua orang tuanya, adiknya Arimbi, Niluh Arundaya serta Candrika juga  Abilawa  dan  Kinanti sudah berada di kediaman pamannya Udayana dalam kondisi selamat.

Rasa haru bercampur bahagia membuncah di hati pemuda gagah tersebut, namun kegembiraan Taruma berangsur surut bilamana seorang lelaki berwajah pucat datang menyampaikan buntalan yang ketika dibuka terdapat sebuah ruas bambu berisi bubuk putih dan segulung daun rotal.

“Taruma, ketika ni membaca surat ini wo sudah tenang di alam sana, namun wo ikhlas sudah berbuat sesuatu demi diri ni yang sangat wo kagumi, wo sangat mencintai ni Taruma. Tapi wo sadar, cinta tidak selamanya harus memiliki, wo harap di kehidupan lain wo dapat menggenggam hati ni Taruma. Dalam ruas bambu itu ada penawar racun datura metel dan anggrek hitam semoga dengan penawar itu kalian bisa memulihkan Raja kalian dan Candrika. Selamat tinggal Taruma, wo sangat bahagia sudah mengenal ni.”

Chao-Xing.

Taruma gulung kembali daun rontal yang sudah selesai dibaca, perasaan pemuda gagah itu seakan tergores ribuan sembilu, didekapnya daun rontal tersebut dalam dadanya.

“Bisu, kelak antarkan saya menyambangi altar nona Chao-Xing,” gumam Taruma dijawab anggukan lemah lelaki muka pucat tersebut.

Satu bulan kemudian, kesehatan Candrika sudah pulih sepenuhnya berkat penawar racun anggrek hitam, pemuda dengan alis tebal saling bertaut itu sudah ingat kembali siapa jati dirinya, dan tentu saja orang pertama yang sangat bahagia itu adalah Niluh Arundaya, kadang sebagai manusia biasa Taruma merasa menyesal memberikan penawar racun itu pada Candrika, kesempatan mendapatkan cinta Niluh Arundaya pupus sudah,  namun sebagai seorang kesatriya yang memegang teguh jalan pedang, jiwa Trauma yang sudah terlatih perlahan tapi pasti mampu mengatasinya.

“Tuan Kanuruhan Rajendra, bagaimana rencana selanjutnya?” tanya telik sandi Yuda Karna, rupanya Senapati kepercayaan Prabu Lingawarman itu langsung mengikuti jejak Udayana yang waktu itu menyelamatkan Rakeyan Kanuruhan Rajendra dari serangan pasukan Keraton, setelah mengetahui keberadaan Kanuruhan Rajendra telik sandi Yuda Karna memenuhi tantangan Belati Terbang duel di puncak terang.

Begitu pun dengan Belati Terbang, ketika dikalahkan telik sandi Yuda Karna di puncak terang, lelaki kekar itu melampiaskan amarahnya pada sinse Li Sizen yang dianggap paling bertanggung jawab atas kematian Chao-Xing, wanita yang diam-diam dicintainya, merasa tidak ada lagi yang harus dilakukan Belati Terbang memutuskan berdamai dengan keadaan memenuhi ajakan telik sandi Yuda Karna menyusun kekuatan untuk merebut kembali tanah Tarumanagara dari pendudukan Kerajaan Sriwijaya.

“Kita harus segera mengungsikan Gusti Prabu Linggawarman ke tempat ini sambil menyusun kekuatan,” ujar Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

“Saya dan paman Udayana akan ke kota Raja untuk menyelamatkan gusti Prabu,” ujar Taruma mengajukan diri.

“Taruma, biarlah aku dan Belati Terbang yang melakukannya, kami sangat mengenal betul seluk beluk Keraton,” sela telik sandi Yuda Karna dijawab anggukan Belati Terbang.

“Apa yang dikatakan Yuda Karna betul Taruma,” “Baik ayah.”

“Besok pagi, Candrika dan Niluh Arundaya pergi ke dunia bawah tanah Tarumanagara, temui kepala pasukan Jaya Rana, kabarkan penyerangan akan dilakukan pada paro gelap di bulan asuji” “Baik, paman.

“Kalau begitu kami pamit tuan Kanuruhan Rajendra,” sela Belati Terbang.

“Berhati-hatilah kalian,”

“Baik tuan Rakeyan,” ujar telik sandi Yuda Karna.Tidak menunggu lama ke duanya tampak memacu kuda tunggangannya menuju ibu kota Tarumanagara.[]

Lembayung Merah Tarumanagara

Kabut tipis melayang diantara pepohonan, udara sejuk Gunung Salak menyegarkan rongga pernapasan, di depan air terjun sepasang muda-mudi tampak bercengkerama sambil menikmati indahnya alam sekitar.

“Kita harus punya kekuatan, guru.”

“Kekuatan inti telah kita punya, paman Udayana, kakak den ayu Taruma, mereka berdua memiliki ilmu yang sangat tinggi, kemudian ayah den ayu, lantas Kinanti. Nan kita ber enam sepertinya cukup mampu menandingi musuh yang memiliki ilmu tinggi.

Selanjutnya kita bisa mencari kekuatan tambahan yaitu

anak buah. Itu perkara mudah bisa dicari sambil jalan.” “Pemberontak…!” sebuah suara terdengar lantang

disusul berkelebatnya satu sosok dari pinggir air terjun.

“Taruma.”

“Kakang Taruma.”

“Kalian berniat memberontak?”

“Bukan begitu Taruma, saya haya ingin sesuatu yang berharga kembali pada saya yaitu padepokan Ciampea, sebab padepoan itu warisan dari guru saya yagng harus dirawat sebaik-baiknya.”

“Menghendaki berdirinya kembali padepokan Ciampea berarti menentang pasukan Keraton sebab dituduh bersekutu dengan gerombolan Sempani.”

“Kita buktikan bahwa dugaan mereka keliru, kakang Taruma.”

“Berarti kita harus bertarung dengan gerombolan Sempani.”

“Tidak apa kakang Taruma, gerombolan Sempani memang harus ditumpas, sebab biang keladi kekacauan dan huru hara.”

“Iyah, kita cari si Sempani lalu kita hancurkan,”

tandas Abilawa.

“Bilawa, kau mengetahui sarang gerombolan Sempani?”

“Aku memang mengenal dia, bahkan ketika masih kanak-kanak sampai usia remaja aku dan Sempani masih bergaul akrap sampai menjelang dewasa tapi setelah dia mulai malang melintang melakukan tindakan kekerasan terutama  cita-citanya  yang menggebu gebu ingin menghancurkan pasukan Sriwijaya aku mulai renggang sebab kami berbeda paham, kami berselisih di dalam memandang masa depan.”

“Jadi karena itu kau menjauhi Sempani?”

“Iyah, itulah mengapa dia sakit hati pada saya, dan mulai menyebar fitnah dan tidak heran pasukan Keraton menggempur padepokan Ciampea sebab saya yakin semua itu ulah Sempani.”

“Kalau kau pernah menjadi sahabat Sempani,

tentu kau tahu dimana saja tempat mereka.”

“Ada tiga tempat sarang mereka, tempat yang menjadi sarang utamanya yaitu di bukit Koredas, di lembah sungai Candrabaga bagian hilir, kemudian di hutan Kamunda.”

“Kalau di tiga tempat itu tidak ada?” “Saya tidak tahu pasti.”

“Sebab begini dia pasti tahu padepokan Ciampea dibumi hanguskan pasukan Keraton dan kau lolos dari maut.”

“Guru, kalau begitu kita jangan membuang waktu.”

“Dari tiga tempat tadi yang paling dekat dengan

tempat itu yang mana?”

“Bukit Korodas.”

“Baiklah kita ke bukit Korodas lebih dahulu,” “Saya ikut…,” mendadak muncul Kinanti.

“Baiklah besok kita berangkat.”

Prabu Linggawarman yang kondisinya sudah pulih berkat penawar racun datura metel dan anggrek hitam yang diberikan Taruma melalui pengorbanan Chao-Xing tampak duduk di serambi rumah, hembusan angin lereng Salak sedikit mengibarkan ujung rambut Raja Tarumanagara itu, di samping kiri duduk sang Permaisuri ditemani Dewi Matasih istri Rahardian Tarusbawa, mengelilingi sang Prabu Mentri Kanuruhan Rajendra beserta istri, Arimbi, Kinanti, Abilawa, Razep Govinda, Rahardian Tarusbawa, Taruma, paman Udayana, sedang Belati Terbang dan telik sandi Yuda Karna sudah berada di perbatasan Kota Raja menunggu pasukan bawah tanah yang sedang dipersiapkan oleh Niluh Arundaya dan Candrika.

“Jasa kalian sangat besar terhadap Negri Tarumanagara ini, kalian pantas mendapat anugerah ku,” sabda Prabu Linggawarman. Tarusbawa, bagaimana kesiapan pasukan yang masih setia pada ku?”

“Hamba ayahanda Prabu, paro gelap di bulan asuji nanti pasukan bawah tanah yang dipimpin kepala pasukan Jaya Rana mulai bergerak menyerbu Ibu Kota Tarumanagara.”

Prabu Linggawarman tampak mengangguk, dicabutnya bilah tombak diamatinya sebentar pusaka tersebut dengan saksama.

“Rahardian Tarusbawa, aku melantik mu menjadi penerus takhta ku, rebut kembali tanah Tarumanagara,” kata Prabu Linggawarman  lantas  mengangsurkan tombak pusaka Kerajaan Tarumanagara itu pada Rahardian Tarusbawa yang langsung berlutut.

“Mulai sekarang kau adalah Raja Tarumanagara,” sabda Prabu Linggawarman diikuti menyembahnya semua orang pada Rahardian Tarusbawa.

“Hamba siap menjalankan dharma bakti,

ayahanada Prabu.”

“Bagus…,” sela Prabu Linggawarman kemudian berdiri, dipapah sang permaisuri dan Dewi Matasih, Raja Tarumanagara yang sudah lengser Keprabon madep Pandita itu masuk ke ruang pribadinya.

**

Malam belumlah larut, Arimbi yang hendak masuk ke bilik tertegun bilamana di samping pintu Kinanti sudah menunggunya, wanita anggun itu tampak salah tingkah begitu Arimbi mendekatinya.

“Kinanti, ada apa malam-malam begini berdiri di

depan pintu kamarku?”

“Boleh bicara sebentar den ayu Arimbi?” “Ada apa? tidak biasanya kau seperti ini.”

“Maapkan kelakuan saya selama ini den ayu.” “Sudahlah tidak ada yang perlu dimaapkan

Kinanti.”

“Den ayu, saya tahu cinta Bilawa hanya untuk den ayu seorang, selama ini Bilawa hanya menganggap saya sebagai adik seperguruannya, tidak lebih dari itu, saya bahagia jika Bilawa juga bahagia dengan den ayu,” kata Kinanti kemudian pamit lalu meninggalkan Arimbi yang masih terpaku melihat kepergiannya.

“Ah…, betulkah apa yang dikatakan Kinanti,tapi selama ini guru tidak pernah menunjukan bahwa beliaupun memiliki perasaan yang sama dengan ku, ah…bagaimana ini,” gumam Arimbi mata gadis cantik itu berbinar manakala  di  kejauhan  pandanganya membentur wuwungan rumah panggung milik Abilawa, gurunya.

**

Mentari tepat di ubun-ubun ketika Taruma, Arimbi, Abilawa dan Kinanti sampai di bagian hilir sungai Candrabaga, sebelumnya ke empatnya terlebih dahulu ke bukit Korodas namun tempat itu sepertinya sudah lama ditingalkan grombolan Sempani, gemuruh airan sugai terdengar deras menerpa bebatuan disaat beberapa orang muncul dari balik pohon dan langsung mengurung ke empatnya di tengah-tengah.

“Kalian anak buah Sempani?”

Bukanya jawaban yang didapat, orang-orang itu langsung menerjang begitu sebuah komando penyerangan terdengar membahana dari balik perbukitan di sebelah utara. Tanpa membuang waktu, Taruma, Abilawa, Arimbi dan Kinanti menyongsong serangan itu dengan gagah berani, pertempuran pun berkecamuk dengan sengit.

Menggunakan pedang Arimbi tampak bagai burung sikatan, melayang, berkelebat cepat memporak- porandakan pertahanan anak buah Sempani, pun dengan Kinanti dan Abilawa, sedang Taruma dengan sikap tenang berdiri kukuh dan hanya menggerakan sedikit tangannya namun angin yang ditimbulkan dari gerakannya itu begitu dahsyat, siapapun lawan yang mendekat langsung terjungkal muntah darah, melihat anak buahnya keteteran akhirnya Sempani turun gelanggang dan dengan beringas merangsek pertahanan Arimbi, melihat hal itu Bilawa tidak tingal diam, dalam satu kelebatan dirinya sudah berdiri di hadapan Kebo Sempani.

“Sempani, aku lawan mu.”

“Bilawa, sudah lama aku menantikannya,” geram Sempani kemudian menerjang secepat kilat mengunakan golok besar mengincar titik lemah Bilawa, sayang kali ini dedengkot pengacau yang mengatasnamakan pejuang Tarumanagara itu harus mengakui keunggulan Bilawa, dalam satu gebrakan Sempani dapat dilumpuhkannya dengan mudah.

“Hentika pertempuran, pemimpin kalian sudah kalah…!” teriak Bilawa, tak berapa lama beberapa anak buah Sempani yang tersisa tampak duduk menjelepok di tanah dibawah todongan pedang Arimbi dan Kinanti.

“Kenapa kau tidak membunuhku Bilawa?”

“Buat apa Sempani? itu bukan tujuan kami.” “Lalu apa tujuan kalian?”

“Begini Sempani,” sela Taruma kemudian duduk mejajari Sempani yang juga sudah bisa menggerakan anggota badannya.

“Kalau kau ingin disebut pejuang Tarumanagara inilah saat yang tepat, kau memiliki bakat pemimpin dan mampu merekrut orang banyak dengan pengaruhmu.” “Taruma, anak buahku itu bekas perampok,

begal, maling.”

“Itu tidak masalah Sempani, yang jelas kami membutuhkan tenaga mu di paruh gelap bulan Asuji nanti kau dan anak buah mu bergabung dengan kami menyerang Kedaton Tarumanagara, bagaimana?”

“Baiklah Taruma.”

“Sekarang kalian ikut kami ke desa Gelino, menyusun kekuatan,” sela Bilawa.

“Baiklah….”

**

Paro gelap bulan Asuji, rinai hujan menitik perlahan, tambah deras kemudian lebat mengguyur Ibu Kota Tarumanagara, dalam perhitungan tahun Saka bulan Asuji berlangsung antara September dan Oktober pada kalender tahun Masehi.

Sejak Rahardian Tarusbawa mengemban amanah Prabu Linggawarman meneruskan Takhta Tarumanagara yang pusat pemerintahan semantara berada di lereng Gunung Salak dan mengganti Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sundapura, Raja muda itu mulai mempererat persahabatan dengan Kerajaan-Kerajaan kecil bawahan Tarumanagara yang masih setia dengan Prabu Linggawarman seperti Kerajaan Kendan, pun dengan Kerajaan Galuh, berkat kelihaian Rahardian Tarusbawa dalam  meloby  maka  Kerajaan Galuh di bawah pemerintahan Prabu Wretikandayun bersedia membantu Raja muda itu merebut kembali tanah Tarumanagara dengan syarat Kerajaan Galuh tidak lagi menjadi Kerajaan Bawahan Tarumanagara.

Sedang di dalam tubuh Pemerintahan Tarumanagara sendiri justru konflik internal sedang berlangsung, kasak-kusuk menyebutkan Senapati Ampal sedang merencanakan  kudeta  terhadap  Tumenggung Jari Kambang dengan sokongan para pendekar tangguh dibawah pimpinan Nyai Tenung Ireng Cs. “Tuan Senapati tidak usah khawatir, beberapa pendekar golongan hitam bersedia membantu rencana kita,” kata Nyai Tenung Ireng dijawab anggukan mantap

Warok Sampar Kombayoni dan Datuk Jerangkong Hitam.

“Bagus, sudah lama sekali aku ingin kambing tua itu hengkang dari Keraton.”

“Kapan rencana itu kita jalankan tuan Senapati?” “Secepatnya,” tandas Senapati Ampal.

Pembicaraan yang berlangsung di rumah Senapati Ampal terhenti bilamana seorang prajurit mengabarkan Tumenggung Jari Kambang memanggil Senapati Ampal menghadapnya.

“Kalian urus segala sesuatunya, dan tunggu aba- aba ku,” kata Senapati Ampal kemudian berlalu meningalkan kediamannya. Semetara itu, di Kedaton Tarumanagara Tumenggung Jari Kambang terlihat gusar, wajah penguasa tertinggi Tarumanagara itu mengguratkan rasa kekecewaan dan kemarahannya tumpah sudah ketika Senapati Ampal datang memenuhi pangilanya.

“Senapati Ampal, aku sangat kecewa dengan mu.” “Maap kakang Tumenggung, salah saya apa?”

Tumenggung Jari Kambang tampak mendengus gusar, ditatapnya Senapati kepercayaannya itu dengan bengis.

“Kau lihat rontal ini, Prabu Linggawarman telah mengangkat Rahardian Tarusbawa menjadi penggantinya, dia mengultimatum kita untuk menyerah atau perang.”

“Titahkan saya untuk membersekan semua itu kakang Tumenggung.”

“Masalah titah me nitah itu gampang Senapati, yang jadi masalah adalah dimana tanggung jawab mu hingga Prabu Linggawarman dan Rahardian Tarusbawa bisa keluar dari Tarumanagara dan menyusun pemberontakan pada kita!”

“Saya….” “Siapkan pasukan,tidak ada waktu lagi untuk cari alasan, saat ini pasukan yang dipimpin Rahardian Tarusbawa sudah bergerak.”

“Baik kakang Tumenggung,” sela Senapati Ampal lantas bergegas menjalankan perintah Tumengung Jari Kambang.

**

Matahari sepenggalah ketika pasukan yang dipimpin Jaya Rana sudah siaga di sekitar alun-alun barat, semantara pasukan yang dipimpin Niluh Arundaya dan Candrika yang datang dari muara Gembong juga telah bergabung dengan telik sandi Yuda Karna dan Belati Terbang, sedangkan pasukan inti yang dipimpin langsung Sri Maharaja Tarusbawa dan Prabu Wretikendayun telah tiba pula di depan pintu gerbang Ibu Kota Tarumanagara. Dari dalam benteng Tarumanagara muncul Senapati Ampal didampingi lima orang perwira tinggi, menunggang kuda warna coklat ke limanya sudah berada dua tombak di depan ribuan pasukan Sri Maharaja Tarusbawa.

“Bagaimana keputusan pemimpin mu Senapati?”

kata Sri Maharaja Tarusbawa.

“Kami akan mempertahankan tanah Tarumanagara ini sampai titik darah penghabisan,” ujar Senapati Ampal sebelah matanya melirik ke arah Taruma, Abilawa, Arimbi, Kinanti dan Kebo Sempani yang sudah bergabung memperkuat pasukan Sri Maharaja Tarusbawa.

“Taruma, aku menantang mu duel satu lawan satu…,” tandas Senapati Ampal.

“Aku terima tantangan mu, Senapati Ampal,” ujar

Taruma tidak kalah lantang.

Senapati Ampal mendengus gusar, ditatapnya sekali lagi Taruma kemudian bersama ke lima perwira tinggi Sriwijaya kembali ke dalam benteng.

“Agaknya Senapati Ampal sangat dendam sekali

pada mu, Taruma.” “Persoalan lama Gusti Prabu Tarusbawa.”

“Baiklah, tabuh genderang kita serang benteng itu dengan formasi yang sudah kita sepakati,” kata Sri Maharaja Tarusbawa dijawab anggukan mantap Prabu Wretikendayun. Dan disaat hujan mulai turun perang pun mulai berkecamuk dengan dahsyat.

Di dalam Keraton, Tumenggung Jari Kambang dibuat panik manakala seorang prajurit mengabarkan pasukan musuh sudah menguasai alun-alun barat.

“Kenapa pasukan bantuan dari Sriwijaya belum datang juga ha!” sentak Tumenggung Jari Kambang gusar.

“Maap tuan Tumenggung, kondisi Sriwijaya pun

saat ini sedang genting.” “Maksud mu?”

“Kerajaan Sriwijaya sedang menghadapi serangan Raja Cola dari Coromandel.”

“Ah, kenapa bisa seperti ini kejadiannya.” “Lebih baik, tuan Tumenggung mengungsi,

pasukan musuh berlipat-lipat banyaknya.”

“Baiklah, persiapkan pasukan mu membuka jalan.” “Baik tuan Tumenggung.”

**

Perang terus berkecamuk, sebagian Kedaton telah dikuasai pasukan Jaya Rana, Candrika dan Niluh Arundaya, semantara itu pasukan pendekar dibawah komando Nyai Tenung Ireng Cs lambat laun mulai terdesak oleh gempuran pendekar golongan putih yang dihimpun Taruma dan kawan-kawan, betapapun hebatnya Warok Sampar Kombayoni dan Datuk Jerangkng hitam menghadapi jurus-jurus Sunda Buhun yang dikerahkan telik sandi Yuda Karna dan Belati Terbang lambat laun ke dua pendekar kosen itu mulai keteteran.

“Warok…, Jerangkong…, tinggalkan mereka…!”

teriak Nyai Tenung Ireng, sosoknya tampak melenting ke atas salto beberapa kali di udara kemudian sosoknya menghilang di kerapatan pepohonan.

“Tidak usah dikejar Belati Terbang,” ujar telik

sandi Yuda Karna.

Semantara itu Taruma tampak duel dengan Senapati Ampal, ke dua pendekar tangguh itu bertempur mati-matian, mengeluarkan semua ajian andalannya masing-masing, kadang tubuh ke duanya tampak melayang-layang ringan di udara bagai burung srigunting, sesekali adu tenaga dalam terjadi membuat tanah di sekitar pertempuran semburat menutupi pemandangan disusul gelegar beradunya ajian pamungkas, bumi seperti diterjang lindu. Trauma tampak berdiri kukuh, ke dua kakinya amblas ke tanah sedalam mata kaki dengan ke dua tangan mengambang membentuk cakar, sedang Senapati Ampal terlihat ambruk di tanah dengan luka lebam pada dada sebelah kirinya, perwira tinggi itu batuk-batuk beberapa saat, darah kental melelah dari mulutnya, kemudian ambruk ke tanah untuk selama-lamanya.

Disaat gerhana matahari di bulan Asuji, dalam tahun 666 Masehi, Sri Maharaja Tarusbawa berhasil merebut kembali tanah Tarumanagara dari pendudukan Kerajaan Sriwijaya. Dan seperti yang sudah disepakati bersama dalam tahun 669 Masehi Prabu Wretikandayun memploklamirkan lepasnya Kerajaan Galuh dari Kerajaan Tarumanagara.

Dalam tahun yang sama 669 Masehi Prabu Linggawarman Raja Tarumanagara ke dua belas mangkat, maka resmilah Rahardian Tarusbawa menjadi Raja Tarumanagara berikutnya dengan gelar Sri Maharaja Tarusbawa Darmawaskita manumanggalajaya Sundasembawa, pelantikannya berlangsung tanggal 9 bagian terang bulan Jesta tahun saka 591 (18 Mei 669 masehi)

Sang Tarusbawa memiliki pribadi yang damai, beliau tidak ingin ada sengketa dengan Sang Wretikandayun walau Kerajaan  Sunda  belum  tentu kalah kalau perang dengan Kerajaan Galuh, prinsip Sang Tarusbawa lebih baik memimpin setengah Negara tangguh daripada harus memaksakan memimpin satu Negara penuh dengan dengan  keadaan  yang  belum tentu, Sang Tarusbawa juga merobah Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sundapura.

**

“Maapkan kami Gusti Prabu, kami orang persilatan lebih senang beratapkan langit, beralaskan rerumputan,” kata Taruma ketika dirinya dan teman- taman seperjuangan ditawarkan pangkat dan kedudukan tinggi di Kerajaan Sundapura oleh Prabu Tarusbawa.

“Baiklah Taruma dan semuanya, sekali lagi terimakasih atas semua jasa-jasa kalian,” kata Sang Tarusbawa.

Taruma, Arimbi, Abilawa, Kinanti, Kebo Sempani, Candrika dan Niluh Arundaya tampak menghaturkan sembah kemudian beringsut mundur meningalkan Kedaton Sundapura.

“Kinanti bagaimana luka-luka mu?” kata Sempani.

“Tidak apa-apa, luka seperti ini kecil,” ujar Kinanti ke duanya tampak saling pandang dan tersenyum riang.

Selesai.