Geger Tarumanegara Bagian 5

Bagian 5

“Dan di sini pula Niluh Arundaya memberikan kotak hitam ini pada ku,” membhatin Taruma sembari mengelus buntalannya.

“Lalu perahu kita itu bagaimana, apakah kita

biarkan tertambat di tepi sungai, paman?” “Yah, biarkan saja sebab kita tidak

memerlukannya lagi, biarlah nanti diambil orang yang membutuhkannya.”

“Perahu itu untuk kami…!” terdengar suara lantang dari balik gerumbul pepohonan disusul meloncatnya sosok-sosok tubuh yang langsung mengurung Taruma dan Udayana di tengah-tengah.

“Ada lima orang yang berdiri di sekeliling kita,”

bisik Udayana.

“Iya, lima orang laki-laki bertampang seram, tiba- tiba sudah berdiri mengurung kita,” balas berbisik Taruma.

“Hai kalian orang mana hem?”

“Ah, kami dari desa Gelino, di kaki gunung

Salak.” “Mau kemana?”

“Mau ke ibukota kerajaan Tarumanagara.” “Ke sana mau apa hem?”

“Mau mengunjungi sanak kadang,” “Bawa senjata?”

“Ah.., tidak…,” “Bohong,”

“Benar, periksalah…,”

“Singkapkan baju kalian. Hayo…!”

“Baik, baik…, ayo Taruma singkapkan bajumu.” “Cukup…, di badan kalian memang tidak ada

senjata, tapi mungkin disimpan di buntelan itu.”

“Buntelan kain ini isinya hanya pakaian dan makanan.”

“Letakan di tanah dan buka segera…!” “Baik…, baik…,”

“Ayo cepat…!”

“Nah, tidk ada apa-apa bukan ?”

“Yah…, lalu pekerjaan kalian apa?” “Ah, kami petani…,”

“Hahahaha….,”

“Benar kisanak, kami petani….”

“Jangan bohong orang tua, badan mu masih bersih, kulit tubuh mu kuning dan pakaianmu rapih dan bersih, apalagi anak muda itu, wajahnya sangat bagus, kulitnya putih, nah…, kalian berdua  tidak  punya tampang petani, siapa namamu orang tua?”

“Saya Udayana,”

“Dan kau siapa anak muda?” “Taruma,”

“Hahah, nama kalian bukan nama orang desa, tapi nama yang berbau bangsawan, jadi kalian orang Keraton dan pasti orang-orang Sriwijaya.”

“Orang Sriwijaya,” gumam Udayana.

“Kau pasti seorang pejabat tinggi Keraton, dan kau anak muda kau pasti seorang Pangeran,” “Hahaha…, pangeran Gelino,” sela Taruma sambil tertawa.

“Apa, Pangeran Gelino.”

“Dari kecil aku tinggal di desa Gelino, sampai sebesar ini tidak pernah kemana-mana, jadi aku memang Pangeran Gelino.”

“Diam kau anak muda.”

“Maap Kisanak, siapakah Kisanak ini sebenarnya? Dan kenapa mencegat kami di sini,” tanya Udayana.

“Huh…, akhirnya kau bertanya juga bukan.” “Maksud Kisanak?”

“Kau pura-pura menjadi orang yang penurut, dan sedikit pura-pura ketakutan kau mematuhi perintah kami, padahal di hatimu ingin segera tahu siapa kami sebenarnya,”

“Ah, tentu saja Kisanak, sebab kami sama sekali tidak kenal dengan Kisanak, bertemu pun baru sekarang, jadi sebelumnya tidak ada persoalan diantara kita bukan, jadi kenapa Kisanak dan teman-teman

Kisanak itu mencegat kami?”

“Kau tidak perlu tahu siapa kami, tapi kami harus tahu siapa kalian.”

“Sudah kami bilang, kami ini petani.”

“Tidak percaya, hai teman-teman rupanya kita harus menggunakan kekerasan.”

“Paman Udayana, mundurlah…, lima orang begal

ini biar saya yang membereskan,” bisik Taruma.

“Hai kau anak muda kenapa bisik-bisik, tinggal buntalan kau yang belum kami periksa.”

Taruma tercekat, pemuda ini langsung berdiri dan melindungi buntalan yang berisi pakian juga kotak kecil hitam pemberian Niluh Arundya.

“Ayo maju kalian semuanya…!” teriak Taruma

lantang.

“Nah, benar juga dugaan ku, kau bukan rakyat

biasa, sebab kalau kau rakyat biasa melihat kami sudah gemetar ketakutan, tapi kau malah menantang, berarti kau petugas dari Keraton yang sedang menyelidiki keadaan di wilayah ini,”

“Kau mau ngomong apa, terserah…, ayo maju…!” “Hiyaaaatttt…!

Pertarungan antara Taruma dan ke lima orang begal itu berlangsung cukup seru, golok ke limanya saling silang-menyilang mengurung Taruma dari berbagai arah, namun mereka tidak  tahu siapa anak muda ini sebenarnya, maka dalam waktu singkat empat begal itu sudah ditaklukan  Taruma  dengan  mudah, golok ke empatnya melesat entah kemana disusul tendangan melingkar membuat ke empatnya terkapar di tanah.

“Hebat benar anak muda itu, dalam waktu singakat dapat melumpuhkan empat orang anak buahku, semuanya pingsan,” membhatin pemimpin perampok ini.

“Lihat, empat orang teman mu sudah tidur, sekarang kau yang maju satu lawan satu.”

Pemimpin begal itu menghambur ke depan dengan cepat mencecar Taruma dengan goloknya silang- menyilang dan bergulung mengincar titik mematikan lawan, namun denga tenang Taruma menghadapi semua serangan tersebut hingga satu ketika Taruma melihat kelengahan lawan, maka dengan sekali kelebat kakinya mendarat di dada lawan, disusul tendangan melingkar tepat mengenai wajah pemimpin begal tersebut, ketika barusaha bangkit  sebuah pukulan telak  melanda dadanya dan akhirnya tumbang ke tanah ketika jatuhan tumit Taruma telak melanda kepalanya.

“Ampun…, aku menyerah anak muda….” “Cukup Taruma, jangan dibunuh….”

“Baik paman.”

“Siapa nama mu?” sentak Taruma sambil

mencengkeram kerah baju pemimpin begal tersebut.

“Sagala….” “Kenapa membuat keributan dengan kami?” “Sebab, kami benci dengan orang Sriwijaya.” “Aku bukan orang Sriwijaya,”

“Ah…, sebentar Taruma, biarlah aku yang

menanyai dia,”

“Baik, paman.”

“Ah, kisanak kenapa kau benci dengan orang Sriwijaya?”

“Sebab kami pejuang,” “Pejuang?”

“Iya, kami adalah para pejuang kemerdekaan, kami berjuang untuk membebaskan negri kami Kerajaan Tarumanagara dari penjajahan Sriwijaya.”

“Ohh, begitu, eh…, siapa pemimpin mu? apakah kau sendiri yang menjadi pemimpinnya.”

“Iya, aku pemimpinnya.”

“Hemm, ya…, tapi kisanak berjuang caranya bukan begitu, mencegat tiap orang yang dicurigai tapi kau harus menghimpun kekuatan secara teratur, bentuklah sebuah pasukan perang yang tangguh setelah itu baru mengobarkan peperangan.”

“Kami sudah punya pasukan perang, tapi tentara

Sriwijaya terlalu kuat, kami kalah terus dan terdesak.” “Hem, kalau begitu hentikan dulu sepak terjang

mu, lalu mulai lagi dengan persiapan yang matang setelah siap baru kau bangkit kembali sebab perjuangan menegakan kemerdekaan dengan jalan ingin mengusir penjajah itu tidak gampang,  bukan main sulap  tapi harus dengan persiapan yang benar-benar matang.”

“Hehhh…, sebenarnya siapakah kalian? mengapa bisa berbicara seperti itu.”

“Ah, kami ber dua asli bangsa Tarumanagara,” “Be…, benarkah?”

“Yah, kami juga ingin melihat penjajah pergi dari tanah air kita ini, dan kerajaan Tarumanagara menjadi merdeka, tapi waktunya bukan sekarang, sebab sebuah perjuangan adalah perjalanan yang panjang.” “Yah, memang kau benar….”

“Nah, sekarang kami mau meneruskan

perjalanan dan camkan kata-kata ku tadi itu.” “Baik…, terimakasih.”

Udayana dan Taruma melepaskan ke lima orang yang mengaku pejuang kemerdekaan Tarumanagara itu, sedang merekapun melanjutkan perjalanan menuju desa Aruteun.

“Nah, kita sudah sampai di desa Aruteun,” kata

Udayana.

“Desa Aruteun ini agak ganjil,” “Maksud mu, Taruma?”

“Suasana desa ini memang terasa sebagai sebuah desa, tapi jalan-jalan di desa ini lebar-lebar, meskipun tampak kurang terurus tapi jelas sekali kelihatan bahwa jalan-jalan ini dulunya dibangun dengan biaya yang mahal, dan tentunya keadaan waktu  itu  sangat  bagus dan terawatt baik, selain itu ada beberapa bangunan yang besar yang lebih pantas sebagai bangunan

pemerintahan,”

“Iya, iya, iya…. “

“Kelihatannya desa ini bekas sebuah kota yang

besar, kemudian merosot menjadi sebuah desa.”

“Yah, pengamatan mu sangat tajam Taruma, sebab desa Aruteun ini memang bekas sebuah ibu kota Kerajaan,”

“Hah…, bekas ibu kota Kerajaan?” “Iyah, ibu kota Kerajaan Aruteun.” “Ahh, benarkah itu paman?”

“Iya benar, Kerajaan Aruteun adalah sebuah Kerajaan yang cukup besar dan megah, tapi setelah ditaklukan oleh Kerajaan Tarumanagara maka tamatlah riwayat Kerajaan Aruteun ini.”

“Ditaklukan oleh kerajaan Tarumanagara paman?”

“Iyah, sekitar dua abad yang lalu, Kerajaan Aruteun diserbu oleh balatentara Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Aruteun runtuh dan menjadi jajahan Kerajaan Tarumanagara, maka semanjak itu habislah riwayat Kerajaan Aruteun, sebuah kerajaan yang pernah Berjaya di wilayah kulon ini, lalu merosot dari sebuah ibukota Kerajaan menjadi sebuah desa.” 

“Ahh, mungkinkah Kerajaan Tarumanagara

seyogyanya akan sama dengan kerajaan Aruteun?” “Hemm, maksud mu Taruma?”

“Sekarang ini, Tarumanagara sudah jatuh ke dalam kekuasaan Kerajaan Sriwijaya, nah jadi secara tidak langsung sebenarnya Kerajaan Tarumanagara ini sudah runtuh, riwayatnya sudah habis.”

“Yah, untuk menyelamatkan kelangsungan hidup Kerajaan Tarumanagara jalan satu-satunya ialah mengusir penjajah dan merebut kembali kemerdekaan dari cengkraman Kerajaan Sriwijaya.”

“Ahh, saya jadi gatal ingin segera bertindak memperjuangkan kemerdekaan.”

“Hehehe…, sabarlah Taruma, jangan tergesa- gesa, nanti juga saatnya akan tiba.”

“Iya paman.”

Ke duanya terus berjalan menyusuri jalan-jalan bekas ibu kota Kerajaan Aruteun itu, hingga sampai di penghujung desa, Taruma dan Udayana tertegun ketika melihat pemandangan dihadapannya.

“Lihat paman, ada beberapa rumah yang ambruk, sepertinya bekas kebakaran, sebab masih mengepulkan asap kecil,”

“Iyah…iya…, nampak jelas di sini telah terjadi kebakaran yang besar yang menghanguskan rumah- rumah cukup banyak, ah itu ada beberpa orang sedang membersihkan puing-puing, ayoh kita tanya mereka.”

“Baik paman,”

“Ahh, maap Kisanak sepertinya rumah-rumah ini

bekas kebakaran?”

“Bukan…, bukan kebakaran tapi dibakar.” “Hah…, dibakar.” Saat itulah datang seorang tua berselempang kain sarung mendekati Taruma dan Udayana.

“Sampurasun….” “Rampes….”

“Ah, nampaknya Kisanak ber dua orang jauh?” “Iyah, benar…, kami dari desa Gelino di kaki

gunung Salak,”

“Oh, kenalkan saya Januba, kepala desa di sini.” “Saya, Udayana.”

“Saya Taruma.”

“Ahh, menurut seorang penduduk rumah-rumah yang hangus itu bukan karena telah terjadi bencana kebakaran melainkan sengaja dibakar, apa benar

begitu?”

“Benar, dibakar oleh gerombolan Sempani.” “Gerombolan Sempani.”

“Iyah, mereka sebenarnya laskar pejuang.” “Laskar pejuang,” sela Taruma.

“Mereka berjuang ingin merebut kemerdekaan dari kekuasaan Sriwijaya, tapi caranya yang kurang baik bahkan boleh dikatakan salah,”

“Ahh, mengapa begitu?”

“Seperti Kisanak ber dua lihat, ini adalah salah satu contoh dari keganasan gerombolan Sempani yang menamakan dirinya laskar pejuang kemerdekaan.”

“Hem, iya ya, itulah yang sejak tadi membuat kami heran, berjuang untuk kemerdekaan kok rumah rakyat dibakar,”

“Mereka akan menyerang siapa saja yang tidak menyokong perjuangan mereka.”

“Apakah rakyat desa Aruteun ini tidak menyokong perjuangan Sempani?”

“Bukan tidak meyokong anak muda, tapi kami kurang suka dengan caranya yang amat radikal seperti itu, sepak terjang mereka lebih mirip gerombolan perampok ketimbang sebuah laskar atau pejuang.”

“Oh ya….” “Mereka membentuk kesatuan pejuang tidak dengan persiapan yang matang, asal jadi begitu saja sehingga waktu markas mereka diserbu oleh tentara Keraton mereka kocar-kacir, bukannya mengadakan perlawanan melainkan begitu melihat balatentara Keraton bergerak mereka langsung melarikan diri.”

“Aghh, pengecut, memalukan,” tandas Taruma.

“Itulah…, lantas mereka mengenbara dari satu desa ke desa yang lain, mereka minta sumbangan kepada rakyat terutama kepada orang-orang kaya kalau tidak diberi dirampok lalu dibunuh.”

“Gila…, perbuatan yang biadab.”

“Itulah anak muda, akhirnya rakyat yang lemah yang jadi korban maka jadinya rakyat tidak suka pada mereka, bukannya menaruh simpati terhadap perjuangan mereka malah jadi sebaliknya, rakyat jadi benci yang pada akhirnya gerombolan Sempani itu menjadi momok yang amat menakutkan bagi rakyat.”

“Salah, salah besar mereka bukan pejuang kemerdekaan tapi benar-benar gerombolan perampok, sepak terjang mereka merugikan rakyat.”

“Betul anak muda,”

“Apakah yang mencehat kita di tepi sungai Aruteun adalah anak buah Sempani?”

“Bagaimana anak muda? di cegat anak buah

Sempani.”

“Iya ketika kami mendarat di tepi sungai Aruteun, lima orang laki-laki bertampang seram mengaku dirinya para pejuang kemerdekaan berlaku kasar terhadap kami, akhirnya kami bentrok.”

“Tidak salah, mereka pasti anak buah Sempani sebab banyak berkeliaran di sekitar wilayah sini.”

“Tapi salah seorang dari mereka yang bernama

Sagala, mengaku dirinya sebagai pemimpin.” “Hem, Sagala….”

“Iyah namanya Sagala.”

“Dia adalah tangan kanan Sempani.” “Wah, kurang ajar dia…, apa maksudnya dia

mengaku-ngaku jadi pemimpin.”

“Ah, mungkin dia ingin menyembunyikan pemimpinya supaya kita tidak tahu siapa pemimpin mereka sebenarnya itu dia lakukan demi keselamatan Sempani,” sela Udayana.

“Iyah, mungkin juga begitu.”

“Ehh, sebenarnya Kisanak ber dua ini hendak

kemana?”

“Ahh, kami hendak ke ibu kota Kerajaan Tarumanagara.”

“Ohh.”

“Baiklah bapak Januba, kami mohon diri dulu.” “Ah, kenapa tergesa-gesa?”

“Ahhh…, agar lebih cepat tiba.”

“Iya…, yah, eh baiklah selamat jalan.”

Taruma dan Udayana kembali meneruskan perjalanan menuju ibu kota Tarumanagara.[] Semburat Jingga Di Langit Ciampea

Satu purnama sudah Arimbi berada di padepokan Ciampea, pun dengan Chao-Xing dan Iblis Bisu, ke duanya dengan setia mengawal  putri  Rakeyan Kanuruhan Rajendra itu  dengan baik,  dan tentu  saja Iblis Bisu lah orang yang paling berbahagia di tempat yang sangat indah itu, sebab tiap hari,  tiap  saat kapan saja dapat melihat dan berdekatan dengan Chao-Xing, keponakan sinse Li Sizen yang sangat dikaguminya.

Pun dengan Arimbi, dugaan Chao-Xing tentang gadis itu memang benar adanya, dara cantik yang sedang beranjak dewasa itu tengah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gurunya sendiri, Arimbi begitu semangat jika Abilawa melatih ilmu-ilmu kanuragan pada murid-murid padepokan juga dirinya yang secara khusus langsung ditangani oleh Abilawa.

Sore nan sejuk di padepokan Ciampea, setelah melatih murid-muridnya, giliran Abilawa melatih Arimbi secara khusus semantara Chao-Xing dan Iblis Bisu seperti biasa memperhatikan Arimbi yang sedang dilatih Abilawa dari sebuah saung kecil di atas bukit.

“Nah, den ayu Arimbi sekarang coba ulangi gerakan-gerakan yang sudah saya ajarkan itu.”

“Baik guru,” ujar gadis cantik itu lantas

mengulang jurus-jurus yang sudah diajarkan Abilawa denga semangat, di teras saung Chao-Xing dan Iblis Bisu memperhatikan ke duanya dengan berbagai rasa.

“Bisu, lihatlah betapa serasinya mereka berdua

buka?” Iblis Bisu hanya mengangguk.

“Andai saja, wo sebagai Arimbi dan gurunya itu Taruma…, ah, alangkah bahagianya, Bisu…,” gumam Chao-Xing dijawab tarikan napas panjang lelaki muka pucat tersebut.

“Ada apa Bisu?” tanya Chao-Xing bilamana melihat raut wajah Iblis Bisu sedikit masam. Orang yang ditanya tampak menggeleng pendek dan coba tersenyum walau senyum itu sedikit dipaksakan.

“Den ayu Arimbi latihan untuk hari ini selesai, silahkan istirahat.”

“Baik guru,” ujar Arimbi, setelah memberi hormat dara cantik itu berjalan pelan menghampiri Chao-Xing dan Iblis Bisu, namun baru beberapa langkah berjalan dirasakannya sebuah sambaran  angin  menyerang dirinya, refleks putri Kanuruhan Rajendra itu lentingkan badan ke atas salto beberapa kali di udara ketika mendarat kembali dengan enteng di tanan seorang bertopeng kulit kayu telah berdiri tiga langkah di hadapannya.

“Siapa kau? kenapa menyerang ku,” sentak Arimbi galak.

Bukanya menjawab pertanyaan, malah orang bertopeng kulit kayu itu kembali menyerang Arimbi, duel sengit pun terjadi dengan serunya.

“Iblis Bisu, tidak…,” kata Chao-Xing pada lelaki muka pucat itu ketika bermaksud membantu Arimbi, Iblis Bisu tampak bertanya dengan bahasa isyarat.

“Sorot mata Arimbi menegaskan dia mampu menghadapi lawannya,” sela Chao-Xing dijawab anggukan Iblis Bisu.

Pertarungan antara Arimbi dan orang bertopeng kulit kayu memasuki babak penentuan, disaat itulah sekelebatan bayangan telah berada di tengah-tengah antara ke duanya.

“Hentikan, kenapa Kisanak menyerang murid ku?” kata Abilawa, lelaki tinggi besar itu tampak berdiri gagah membelakangi Arimbi, perlahan orang bertopeng kulit kayu tata kuda-kuda pertahanan kemudian dengan cepat layangkan sebuah tendangan pada Abilawa, tak lama jual beli jurus kembali digelar.

Jurus-jurus silat orang bertopeng kulit kayu itu begitu rumit namun di lain waktu berobah ganas mengincar titik-titik lemah lawannya, kali ini Abiawa tidak mau main-main lagi guru besar padepokan Ciampea itu salurkan sepertiga tenaga inti pada ke dua kakinya, maka hal yang luar biasa terjadi tubuh Abilawa bagai burung sikatan melayang-layang ringan meladeni tiap serangan yang dilancarkan orang bertopeng kulit kayu, satu ketika Abilawa  melihat  tenaga  lawannya mulai keteteran, dengan cepat lelaki gagah itu layangkan sebuah tendangan tapi itu hanya tipuan belaka, ketika lawan menghindar ke samping secepat kilat tangan kiri Abilawa membetot topeng kulit kayu hingga lepas.

“Kinanti…?”

Abilawa masih terpana ketika dengan pandangan dingin Kinanti tingalkan begitu saja guru besar padepokan Ciampea itu menuju bilik pribadinya.

“Guru, siapa dia?”

“Kinanti, putri mendiang Senapati Perkutut Kapimonda pendiri padepokan Ciampea ini, den ayu.”

“Oh jadi dia putri Senapati Perkutut Kapimonda itu.” “Betul den ayu.”

“Sepertinya dia tidak suka dengan saya, guru.”

“Ah, tidak begitu den ayu, mungkin Kinanti ingin menguji saja, sudahlah den ayu silahkan istirahat.” “Baik guru,” Arimbi kembali mengayunkan langkah menghampiri Chao-Xing dan Iblis Bisu yang menyongsongnya.

“Kau tidak apa-apa, Arimbi?”

“Saya baik-baik saja, bibi Chao,” ujar Arimbi kemudian berlalu menuju biliknya.

“Ah, sepertinya Arimbi mendapat saingan berat,”

gumam Chao-Xing dalam hati.

**

Siang itu di pingir sungai air terjun, Kinanti tampak membereskan pakaian yang sudah dicucinya, ketika Abilawa datang menghampiri, wanita ayu itu hendak bergegas pergi.

“Tunggu dulu Kinanti, kita belum bicara sejak kau datang.”

“Lepaskan tangan mu, Bilawa.” “Oh, maap-maap.”

“Minggirlah, aku harus pergi.”

“Kinanti, kemana saja kau selama ini?” “Siapa gadis itu?”

“Lain yang ditanya lain pula jawabannya,”

membhatin Abilawa.

“Namanya Arimbi, putri tuan Rakeyan

Kanuruhan Rajendra.”

“Aku tidak suka dengan dia.” “Maksud mu?”

“Sudahlah, mingir aku mau lewat.”

“Kau belum menjawab pertanyaan saya, Kinanti.” “Kau urus saja gadis itu,” sergah Kinanti

kemudian bergegas meningalkan Abilawa yang terbengong-bengong menatap kepergiannya, sementara itu di sisi sungai terlindung di balik tebing Arimbi yang sedari tadi menyaksikan dan mencuri dengar Abilawa dan Kinanti ngobrol tampak pula meninggalkan tempat itu dengan raut wajah kesal.

“Arimbi tunggu, kau mau kemana?” “Kita pulang ke Keraton bibi Chao.” “Arimbi jangan membuat keputusan di saat hati sedang kalut,” kata Chao-Xing dijawab anggukan Iblis Bisu.

“Saya kesal sekali dengan Kinanti.” “Kesal atau cemburu?”

“Ah bibi Chao ini, jangan membuat saya malu bi.” “Kalau ni pulang sekarang, harapan ni musnah

sudah Arimbi, wo tahu ni sangat mencintai guru ni itu, benar bukan?”

“Hemmm….”

“Wo tidak usah menyembunyikannya dari ni.” “Tapi bibi Chao….”

“Sudahlah, cinta memang membutuhkan kesabaran dan pengorbanan, Arimbi, bila ni yakin dengan pilihan ni perjuangkan keyakinan itu.”

“Baik, bibi Chao,”

Chao-Xing hanya tersenyum, ke tiganya kemudian meningalkan pinggiran sungai air terjun menuju padepokan Ciampea seiring rembang petang melingkupi kawasan tersebut.

Malam belum larut, obor-obor sewu meliuk mengikuti arah angin berhembus, hampir seluruh anak murid padepokan Ciampea sudah terbuai ke alam mimpi, semantara di biliknya Abilawa masih gelisah dengan peristiwa tadi siang di pinggir sungai air terjun, lelaki gagah guru besar padepokan Ciampea itu lantas keluar dari bilik sekadar mencari udara segar, sudut matanya menyipit manakala telinganya mendengar sayup-sayup suara petikan kecapi, alunan nada kecapi itu begitu syahdu mendayu-dayu siapapun yang mendengarnya, lelaki gagah itu lantas menghapiri sumber suara yang ternyata pemetik kecapi itu adalah Kinanti.

“Kau belum tidur, Kinanti?”

Wanita ayu itu hentikan petikan kecapi, seulas senyum merekah dari bebirnya. “Duduklah, Bilawa…,” kata Kinanti kemudian

meneruskan petikan kecapinya.

“Tadi siang dia begitu galak, kenapa malam ini Kinanti lembut pada ku ya,” membhatin Abilawa kemudian duduk bersila di hadapan Kinanti yang terus memainkan jari-jemarinya di antara snar-snar kecapi yang ada di atas pangkuannya.

“Bilawa, kau lihat bulan itu?” “Iya….”

“Indah bukan?” “Hemmm…,”

“Tujuh belas tahun aku mengembara ke berbagai wilayah jauh, berguru pada beberapa perguruan hebat namun hati ku tidak pernah lepas dari padepokan

Ciampea ini, bagaimana dengan mu?” kata wanita ayu itu sambil terus memainkan nada-nada syahdu kecapinya.

“Maksud mu?”

“Apakah kau juga memiliki perasaan sama dengan ku?”

“Tujuh belas tahun saya tidak kemana-mana, yah…, hati saya tetap di sini, Kinanti.”

“Kau belum mengerti juga, Bilawa…,” desah Kinanti, alunan nada kecapinya berobah sendu mendayu-dayu.

“Saya….”

“Tujuh belas tahun bukan waktu yang sebentar, tetap saja hati mu tidak peka Bilawa,” sela wanita ayu itu kemudian bangkit membereskan kecpinya kemudian berjalan cepat meninggalkan Abilawa.

“Kinanti…, Kinanti tunggu…, ahhh…kenapa dia marah lagi pada ku,” sungut Abilawa sambil mencengkeram rambutnya sendiri kemudian berjalan pelan menembus kepekatan malam, di pinggir sungai air terjun langkah Abilawa terhenti sesosok tubuh telah menatinya. “Den ayu Arimbi, kenapa malam-malam ada di

tempat ini?”

“Guru, maapkan aku.”

“Maap, maksud den ayu?”

“Gara-gara saya, guru dan Kinanti berselisih

paham.”

“Bukan begitu, den ayu Arimbi jangan salah

tafsir.”

“Guru…, saya…saya sebenarnya…menc,”kalimat

Arimbi tercekat di kerongkongan, ditelannya kalimat itu segera sambil memalingkan wajah ke tempat lain.

“Ada apa den ayu?”

“Tidak…, saya pamit guru…,” sela Arimbi kemudian dengan tergesa-gesa gadis cantik itu berlalu meninggalkan Abilawa yang kini duduk mencangkung di sebatang pohon tumbang, dari balik gerumbul semak Chao-Xing dan Iblis Bisu sudah menunggunya.

“Saya tidak mampu bibi Chao….”

“Tidak apa Arimbi, masih banyak kesempatan, pelan-pelan saja,” ujar Chao-Xing kemudian ke tiganya bergegas meninggalkan tempat tersebut, malam kian larut padepokan Ciampea berselimut kabut tebal dari lereng pegunungan Salak, di dalam bilik tiga hati sedang bergelora dengan angan dan pikirannya masing-masing.

**

Mentari semburat di ufuk timur menghangatkan bumi, kicau prenjak ramai di dahan pepohonan, pagi itu seperti biasa setelah melatih murid-murid padepokan Ciampea kini giliran Abilawa melatih Arimbi sedang Chao-Xing dan Iblis Bisu menonton saja di teras sebuah saung bambu.

“Berhenti, cukup…, cukup den ayu Arimbi.” “Bagaimana guru? Apakah saya sudah baik

melakukan jurus meyapu bulan di atas awan.”

“Sudah cukup baik, tapi belum sempurna.” “Iya, saya merasa kewalahan ketika senjata- senjata rahasia menggempur saya semakin banyak dan datang dari segala arah.”

“Itu karena gerak tangan dan kaki masih kurang serasi dengan arah pandang mata, ke dua mata den ayu bergerak sangat awas dan cepat dapat melihat datangnya serangan, tapi tangan dan kaki den ayu tidak dapat mengikuti kecepatan mata, jadi sering tertinggal meski hanya beberapa kejap saja, tapi akibatnya bisa berbahaya.”

“ Yah…, untung tadi hanya latihan saja, tapi dalam pertarungan yang sesungguhnya den ayu akan berhadapan dengan musuh sebenarnya yang mungkin tidak mempunyai rasa belas kasihan, maka den ayu akan celaka.”

“Iya guru….”

“Terutama napas den ayu yang harus diperbaiki, baru bertempur seratus jurus  napas  den ayu sudah senin kemis.”

“Baik guru….”

“Hahahaha…, di sini rupanya markas Banci…!”

Sebuah suara sangat keras menggelegar disusul munculnya beberapa orang bertampang sangar, salah seorang berperawakan jangkung dengan gelang akar bahar melingkar di ke dua tangan dan kakinya meyeruak dari kerumunan, melangkah pelan menghampiri Abilawa dan Arimbi.

“Sempani…,” gumam Abilawa.

“Apa maksud mu menyebut padepokan ku ini markas Banci?”

“Orang lain sibuk berjuang untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajah, sedangkan kau sendiri sibuk untuk kepentingan diri mu sendiri, apakah itu bukan namanya Banci hem?”

“Apakah kau menganggap diri mu sebagai orang jantan?” “Oh iya, aku Kebo Sempani pemimpin laskar pejuang kemerdekaan, hanya aku satu-satunya orang yang berani menentang Sriwijaya, nah bukankah aku yang paling jantan.”

“Perjuangan mu itu salah kaprah Sempani, kau bukan berjuang mengusir penjajah melainkan membuat rakyat sengsara, kau merampok, merampas harta benda rakyat bahkan membunuh rakyat yang tidak berdosa, perbuatan mu merugikan rakyat.”

“Ahhh…, tutup mulut mu, aku hanya minta sedikit sumbangan dari rakyat sebab perjuangan memerlukan biaya.”

“Kalau memang cara mu baik, tentu rakyat dengan rela dan ikhlas akan menyokong perjuangan mu, tapi kenyataannya rakyat benci pada kamu, nah itu artinya kau salah, perjuangan mu salah jalan, sebab kau membabi buta tidak mengerti bagaimana cara berjuang yang baik.”

“Tapi setidaknya aku pernah berbuat sesuatu bagi tanah air, lalu apa yang telah kau perbuat bagi tanah air mu, hem…, apa? Kau sebagai bangsa Tarumanagara mana bakti mu terhadap negri mu, mana?”

“Pejuang sejati tidak pernah gembar-gembor, tidak pernah menepuk dada, menyombongkan diri sebagai pejuang,”

“Hahahah…, kalau begitu kau berjuang di dalam hati. Hahaha…, apa artinya sebuah perjuangan kalau hanya cita-cita yang dipendam di dalam hati hem, berbuatlah…, berbuatlah…, dan kau tidak berbuat sesuatu berarti kau memang seorang Banci.”

“Berjuang banyak caranya, ada yang kelihatan dan ada yang tidak, kau menyama ratakan semuanya, Sempani.”

“Ha, hahaha…, kau bicara hanya sekadar menutupi nyali mu yang kecil, kau memang penakut Bilawa, kau menjadi ketua padepokan ini karena kau mendapat warisan dari guru mu buka atas usaha mu

sendiri.”

“Tutup mulut mu, keparat…!” sentak Arimbi yang sedari tadi diam mendengarkan sedang Chao-Xing dan Iblis Bisu kini sudah berada di dekat Arimbi dan Abilawa.

“Aku kira Kebo Sempani pemimpin perjuangan kemerdekaan itu seorang tokoh yang hebat dan patut

disegani, huh…, ternyata tidak lebih dari seorang penjual

obat di tepi jalan, pandai mengoceh tidak ada artinya.” “Haiii…, siapa kau anak manis?”

“Aku Dewi Arimbi, murid nomor satu di padepokan ini, maju kau Sempani aku ingin tahu sampai dimana kehebatan kebo Sempani yang tersohor itu.”

“Hahaha…. “

“Den ayu Arimbi, tahan sabar   , jangan

gegabah,” sela Abilawa.

“Tidak guru, orang itu terlalu banyak bicara dia perlu dihajar, sebab membuat aku penasaran.”

“Hahahaha…, pantas kau betah sekali bercokol di padepokan ini Bilawa…, hemm sebab kau punya seorang murid yang cantik, hahaha….”

“Bedebah…!” geram Arimbi.

“Ayo maju kau Sempani, kita bertarung satu lawan satu,”

“Pemimpin dengan pemimpin, dan anak buah dengan anak buah. Haii Sagala…!”

“Siaga…!”

“Kau belum kawin bukan?” “Belum,”

“Nah, Sagala gadis itu untuk kau, bawalah dia ke

rumah mu,”

“Baik…, baik…, baik,” sela Sagala lalu maju menghampiri Arimbi kemudian dengan beringas layangkan serangan beruntun pada gadis cantik tersebut detik berikut pertarungan antara Sagala dan Arimbi

berlangsung seru.”

“Gila, gadis itu nekad rupanya…,” gumam

Sempani.

Duel antara Sagala dengan Arimbi semakin seru, namun rupanya Sagala  bukan tandingan gadis  cantik ini, dalam beberapa jurus Sagala sudah tersungkur mencium tanah hingga muntah.

“Hahaha…, kau masuk angin? jangan muntah di

sini,” cibir Arimbi.

“Kau…, boleh juga kau…,” gumam Sagala

kemudian muntah kembali.

“Sekarang kita pakai senjata…!” sentak Sagala

lalu cabut pedang yang terselip di pinggangnya.

“Kau mau pakai pedang? ayo aku juga punya pedang…!” seru Arimbi yang juga cabut pedang yang ada di punggungnya.

“Haii, stop…, cukup Sagala, masukkan pedang mu,” sentak Sempani.

“Ayo kita tinggalkan padepokan Banci ini,” seru Sempani kemudian berlalu meninggalkan padepokan Ciampea diikuti benerapa anak buahnya.

“Kalian yang Banci, baru segitu sudah kabur…!”

cibir Arimbi.

“Hai, Bilawa…, kalau kau tetap tidak mau berjuang dengan ku, aku sendiri yang akan membunuh mu, dan kau gadis binal…, kau juga akan menjadi mangsa dari perjuangan ku…,” geram Sempani kemudian berlalu menyusul anak buahnya.

“Kenapa dia mengancam mu, guru? Apakah guru bermusuhan dengan Sempani.”

“Ehh, den ayu…, nantilah saya ceritakan sekarang pergilah ke sungai bersihkan badan mu, lalu ganti pakaian dan istirahat, nanti malam saya akan bercerita tentang perjuangan Sempani.” “Ehh, baik guru…,”  kata Arimbi  lalu meninggalkan tempat latihan diiringi Chao-Xing dan Iblis Bisu.[]

Gejolak Darah Kesatria

Suasana dini hari nan sepi, semilir angin timur mengelus dedaunan waringin kurung yang berada dipinggir alun-alun Kerajan Tarumanagara, embun masih bergantung di pucuk-pucuk daun ketika Rakeyan Kanuruhan Rajendra, Rahardian Tarusbawa, telik sandi Yuda Karna dan Niluh Arundaya berjalan pelan diantara pinggiran tembok benteng yang mengelilingi ibu kota, begitu sampai di ujung tembok sebuah parit lebar dua meter dengan kedalaman sekitar tiga meter terbentang dihadapan, ke empatnya lantas turun ke dalam parit menyusurinya sampai seratus langkah sebuah dinding batu andesit hitam kini berada di sebelah kanan Rakeyan Kanuruhan Rajendra ketika diraba terdapat batu menonjol sebesar jari kelingking, begitu ditekan desisan halus terdengar bersamaan bergesernya dinding batu andesit hitam ke samping kanan.

“Ayo kita masuk Niluh,” dara ayu dengan lesung pipit itu menganguk pelan kemudian melangkah di belakang Rakeyan Kanuruhan Rajendra yang terlebih dahulu menyalakan obor yang menempel di dinding lorong dengan batu pemantik disusul Rahardian Tarusbawa dan telik sandi Yuda Karna.

Lorong yang sangat panjang dan berliku-liku, dan banyak lorong lain saling berhadapan, silang menyilang dapat dipastikan jika tidak membekali diri dengan petunjuk  pasti  akan tersesat dan butuh waktu  lama untuk keluar dari lorong-lorong yang didesain seperti labirin tersebut.

“Di zaman Prabu Purnawarman, lorong ini dinamakan seribu satu jalur sesat,” kata telik sandi Yuda Karna.

“Menurut peta, di atas lorong ini adalah sungai

Candrabaga,” sela Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

“Luar biasa, sebuah pertahanan alami sekaligus mematikan jika kita tersesat,” kata Rahardian Tarusbawa.

“Niluh kenapa kau diam saja?” kata Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

Sebelum menjawab, dara ayu itu tampak menarik napas panjang.

“Bagaimana saya menjelaskan kondisi Candrika pada ibundanya.”

“Sudahlah Niluh, biar saya yang menjelaskan,” pungkas Rakeyan Kanuruhan Rajendra dijawab anggukan lemah dara ayu tersebut. “Dua ratus langkah lagi kita akan menuruni sebuah gua,” sela telik sandi Yuda Karna, “Siapkan tali temali kalian,” imbuh nya.

Benar saja, setelah menghitung sampai dua ratus langkah di hadapan ke empatnya menganga sebuah lubang yang sangat lebar, gua yang aneh dengan mulut berada di atas, perlahan satu per satu ke empatnya menuruni gua tersebut hingga ke dasar, begitu sampai di dasar terbentang sebuah telaga berwarna biru dengan airnya yang melimpah sampai ke tepi.

“Ada dua jalan untuk sampai ke tempat ini,” kata

Niluh Arundaya.

“Menurut peta ini, alun-alun barat dan telaga biru yang akan tembus ke muara Gembong,” sela telik sandi Yuda Karna.

“Saya dan Candrika pernah melalui dasar telaga ini sampai ke muara Gebong,” ujar Niluh Arundaya dijawab decakan kagum Rahardian Tarusbawa.

Ke empatnya kemudian keluar dari dalam gua Bojong Mangu, kembali Rahardian Tarusbawa, Rakeyan Kanuruhan Rajendra dan telik sandi Yuda Karna dibuat terkagum-kagum dengan pesona alam bawah tanah Tarumanagara tersebut, tanpa membuang waktu mereka bergegas menuju kediaman Niluh Arundaya, seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan anaknya itu dengan suka cita.

“Kau kembali, anak ku Arundaya.”

“Iya ibu, saya kembali dengan para pembesar Keraton Tarumanagara.”

“Oh, tuan Rakeyan Kanuruhan Rajendra, tuan

Rahardian Tarusbawa, dan….”

“Saya telik sandi Yuda Karna.”

“Yah…, selamat datang semuanya.”

“Saya mengucapkan bela sungkawa atas gugurnya senapati Benanda,” pungkas Rahardian Tarusbawa.

“Terimakasih….” “Oh ya, mana Candrika Niluh?” “Hemm, itu ibunda…itu.”

“Apa yang terjadi dengan Candrika, Niluh?”

“Bagini Nyai sSenapati…,” Rakeyan Kanuruhan Rajendra kemudian menceritakan kondisi Candrika dari awal sampai akhir.

“Biarlah saya yang akan menjelaskan semuanya pada nyai tumenggung Puspo Tajem tentang anaknya Candrika,” ujar Rahardian Tarusbawa dijawab anggukan lemah wanita paruh baya tersebut.

“Kami datang untuk bertemu dengan para ponggawa Tarumanagara dan para penduduk yang mengungsi ke tempat ini Nyai Senapati.”

“Selama tujuh belas tahun kami menggalang kekuatan di tempat ini dan menunggu waktunya tiba untuk berjuang merebut kembali tanah Tarumanagara dari pendudukan Sriwijaya.”

“Waktunya tidak akan lama lagi Nyai Senapati,”

sela Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

Diantar mendiang istri Senapati Benanda, Rahardian Tarusbawa, Rakeyan Kanuruhan Rajendra dan telik sandi Yuda Karna dipertemukan dengan para pembesar Tarumanagara dan para penduduk Tarumadesya yang kala itu memutuskan mengungsi ke tempat tersebut.

“Kepala pasukan Jaya Rana, ternyata kau masih hidup.” Kata Rahardian Tarusbawa antusias.

“Benar tuan Rahardian Tarusbawa, ketika tuan dan beberapa prajurit khusus Tarumanagara yang berusaha menyelamatkan Gusti Prabu Linggawaran tertangkap, saya dan beberapa prajurit yang tersisa berhasil meloloskan diri lewat jalan rahasia.”

“Berapa pasukan Tarumanagara yang ada di sini,

Jaya Rana?”

“Dua ratus ribu orang tuan Rahardian. Prajurit- prajurit itu adalah anak-anak dari para penduduk Tarumanagara yang saya didik dari kecil.” “Baiklah, Jaya Rana, terus didik mereka dan jika waktunya tiba kita rebut kembali tanah Tarumanagara.”

“Bagaimana dengan Gusti Prabu Linggawarman?” “Kondisinya sangat memprihatinkan, Jaya Rana.”

Maka dengan singkat, Rahardian Tarusbawa ceritakan semuanya mengenai kondisi Prabu Linggawarman.

“Hem…, datura metel…, tanaman yang sangat

berbahaya,” gumam Jaya Rana.

“Sampai saat ini kami masih berusaha mencari

penawarnya,” sela telik sandi Yuda Karna.

“Sudah dapat penawarnya?” “Belum,”

“Menurut kitab eyang Jalatunda, penawar Datura Metel itu adalah air kelapa muda dan extrak jahe,” gumam Jaya Rana.

“Kami sudah memberikan ke dua bahan itu, dan berhasil untuk para prajurit Tarumanagara, tapi untuk Baginda Linggawarman ada satu bahan campuran lagi yang penawarnya sangat sulit kami dapatkan,” sela telik sandi Yuda Karna.

“Apa itu?”

“Extrak la’n hua’, sejenis tanaman anggrek hitam.” “Tanaman langka yang sangat beracun.” “Entah, apa penawar nya.”

“Bagaimana kalau kita ungsikan Gusti Prabu ke sini, sambil mencari penawarnya,” mengusulkan Jaya

Rana.

“Resikonya berat Jaya Rana, sebab tiap tahun di bulan ke Sembilan Gusti Prabu harus mendapat extak tersebut dan yang punya penawarnya adalah tabib Kerajaan sinse Li Sizen,” gumam Rakeyan Tarusbawa.

“Kalau begitu kita paksa sinse Li Sizen untuk memberikan penawarnya,”

“Tidak semudah itu Jaya Rana, dia adalah salah seorang kepercayaan tumenggung Jari Kambang, pemimpin tertinggi Tarumanagara saat ini,” sela Rahardian Tarusbawa.

“Sudahlah, untuk Gusti Prabu kita kesampingkan dulu, yang terpenting kesiapan pasukan yang kita bentuk,” gumam Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

“Baiklah Jaya Rana, kami akan kembali ke Keraton, kalian di sini tunggu aba-aba dari kami,”

“Baik tuan Rahardian Tarusbawa.”

Pada saat itulah seorang perempuan paruh baya menghadap Rahardian Tarusbawa, dia adalah ibunda Candrika.

“Tuan Rahardian Tarusbawa, bagaimana dengan

anak saya Candrika?”

“Nyai Tumenggung, harap bersabar kami juga

sedang berusaha memulihkan Candrika.”

“Betul bibi Tumenggung, saya dan semua yang ada di Keraton sedang mengupayakan kesembuhan Candrika,” sela Niluh Arundaya.

“Dia adalah anak saya satu-satunya, tuan Rahardian, cuma Candrika harapan saya,” ujar wanita paruh baya tersebut sambil terisak-isak.

“Bibi Tumenggung, apapun kondisi Candrika saya tetap mencintainya.”

“Ohhh, Arundaya…, kau memang gadis baik,

Candrika beruntung bersama mu.”

“Iya bibi Tumenggung, sekarang kami pamit,” ujar Niluh Arundaya dijawab anggukan lemah istri mendiang Tumenggung Puspo Tajem itu.

“Nah, kepala pasukan Jaya Rana, peta ini untuk mu, jika waktu penyerangan tiba bagi pasukanmu melewati rute dua jalan itu,” sela telik sandi Yuda Karna sambil memberikan peta yang berada dalam ruas bambu hitam.

“Baik tuan, Yuda Karna.”

Setelah dirasa cukup ke empatnya pamit meninggalkan dunia bawah tanah Tarumanagara diiringi lambaian tangan para penduduk Tarumadesya. **

Hari masih pagi, semilir angin timur menyibak dedaunan pohon Janakeling yang banyak tumbuh di sebuah perbukitan, dari lamping bukit sebelah utara dua ekor kuda tampak dipacu cepat oleh penungangnya, di sebuah perbukitan dimana mengalir sungai Citarum di bawahnya ke dua penunggang kuda itu tarik tali kekang tunggangannya.

“Nah, Taruma kita sudah sampai di ibukota Kerajaan Tarumanagara,” kata Udayana, “Nah itulah pintu gerbang utama kerajaan Tarumanagara.”

“I…, iya, paman.”

“Hemm, kenapa kau gemetar Taruma?”

“Apakah…, apakah ayahanda dan ibunda mau menerima saya?”

“Ahh, Taruma, mereka adalah ayah dan ibu kandung mu, kebahagiaan ayah dan ibu mu tidak akan dapat dilukiskan dengan kata-kata atau diukur dengan apapun bila dapat berjumpa dengan mu.”

“Iya paman.”

“Taruma, menurut keterangan aki Januba, kepala desa Aruteun, ayahmu pangkatnya sudah naik, jadi tentulah kehidupan ayah dan ibu mu dalam kesenangan dan pasti adik mu akan bertambah cantik sebagaimana seorang putri bangsawan.”

“Duh…, saya ingin sekali melihat adikku Arimbi.” “Hahaha…, mari kita memasuki ibu kota

Kerajaan Tarumanagara.” “Mari paman,”

“Hupp hyaaa…,” ke duanya kembali menjalankan kuda tunggangannya dengan pelan memasuki pintu gerbang Kerajaan Tarumanagara yang megah, berbagai rasa membuncah hati Taruma dan Udayana yang kini sudah kembali lagi ke tanah kelahirannya yang selama tujuh belas tahun ditinggalkan.

“Oh…, inikah ibu kota Kerajaan Tarumanagara,

paman?” “Iyah…, benar Taruma, nah itu alun-alun dan ah

itu keraton.”

“Ahh, besar sekali, sangat luas dikelilingi oleh tembok yang amat tinggi,” gumam Taruma dengan pandangan mata berbinar-binar.

“Iyah, ayolah kita masuk ke keraton itu,” sela

Udayana.

“Iya paman.”

Semantara itu di kediaman Rakeyan Kanuruhan Rajendra, pejabat tinggi keraton Tarumanagara itu tengah berada di pendopo dari dalam rumah muncul sang istri,

“Ah, aduh.., aduh….” “Kenapa dinda?”

“Siku saya kesenggol lagi kanda, kali ini sisi lemari, ngilu sekali.”

Mendadak seekor kupu-kupu masuk ke dalam pendopo.

“Seekor kupu-kupu yang indah, kata orang pertanda baik…!” seru Rakeyan kanuruhan Rajendra, saat itulah seorang prajurit penjaga datang menghadap.

“Daulat Mahamantri Kanuruhan, hamba pengawal mengaturkan sembah.”

“Sembah mu saya terima, katakanlah ada apa?” “Ada dua orang petani dari desa Gelino mohon

menghadap,”

“Petani dari desa Gelino, ah…, dimana desa itu?”

gumam Rakeyan kanuruhan Rajendra.

“Nama desa itu tidak penting, yang penting orangnya, lekaslah suruh mereka menghadap ke sini,”sela sang istri pejabat tinggi tersebut.

“Daulat Gusti Putri,” sembah prajurit pengawal kemudian bangkit dan berlalu dari hadapan Rakeyan Kanuruhan Rajendra, tak berapa lama pengawal itu masuk kembali sambil mengiring seorang lelaki paruh baya dan seorang pemuda gagah yang tidak lain dari Taruma dan Udayana. “Daulat Mahamentri yang mulia….” “Hah…, Uda…, Udayana.”

“Benar kakang mas Rajendra, saya Udayana.”

“Apakah saya tidak sedang bermimpi? tujuh belas tahun kau hilang, sekarang tiba-tiba muncul di hadapan ku,”

“Benar kakang mas, saya Udayana Arimbata.” “Ohhh, Udayana….”

“Kanda Dewi Supita….”

“Adikku Udayana kau telah datang…,” ke dua

orang kakak beradik itu saling bertangisan haru.

“Bagaimana khabarnya kakang mas Rajendra?

Kanda Dewi Supita.”

“Baik-baik saja, Udayana dan kau sendiri

menghilang ke mana saja selama tujuh belas tahun?” “Saya baik-baik saja kakang mas, saya

bersembunyi di desa Gelino di kakai gunung Salak, sambil membesarkan Taruma.”

“Taruma…,” ujar sepasang suami istri itu sambil memandang pemuda gagah yang masih terpekur menatap lantai.

“Iyah, inilan Taruma, kakang mas dan kanda

Dewi dulu memanggilnya dengan nama Udaka,” “Apa.., U, Udaka?”

“Sayalah Udaka, ayah saya Rajendra Bahunindra.

Ibu saya Dewi Supita Arimbati.” “Kau Udaka, anak ku….”

“Dialah, Udaka yang tujuh belas tahun lalu dititipkan pada saya ketika balatentara Kerajaan Sriwijaya menyerbu ke sini.”

“Ohhh…, Udaka…, anakku. Udaka…..” “Ibu…, ibunda…”

“Ohh, anaku….”

“Anakku, Udaka…, kau telah kembali anakku….” “Ayahanda…, ibunda…, hamba Udaka anakmu

menghaturkan sembah….” “Udaka, tujuh belas tahun aku merindukan mu, marilah aku peluk…, anakku….”

“Ibunda….”

Airmata bahagia bercucuran di kediaman Rakeyan Kanuruhan Rajendra. Udaka, Taruma si anak hilang itu telah kembali ke pangkuan ayah dan bunda nya.

“Udaka, kau tentu masih ingat dengan Niluh Arundaya dan Candrika, teman masa kecilmu,” sela ayahnya membuat mata pemuda ini berbinar.

“Di mana mereka sekarang ayah?”

“Kediaman sinse Li Sizen, tabib kerajaan.” “Siapa yang sakit?”

Rakeyan Kanuruhan Rajendra kemudian menceritakan ikhwal Niluh Arundaya dan Candrika dari awal hingga akhir.