Dewi Penyebar Maut Eps 12

Dewi Penyebar Maut Eps 12

1. GEMUT DAN MADRI

DASAR Kali Putih beberapa saat sangat sunyi. Hanya gemercik air jernih di antara bebatuan, dalam kegelapan jurang di mana langit hanya beberapa titik biru jauh di atas sana.

Dalam remang-remang kegelapan, Madri berusaha berdiri mantap. Dan tidak dapat. Ia terhuyung-huyung dan harus bersandar ke dinding celah. Ia terengah- engah. Dadanya serasa akan pecah. Hanya untuk gera- kan seperti itu? Ia hanya melakukan gerakan sederha- na. Meloncat dengan punggung rapat di tanah dan me- lecutkan tendangan ke arah sasaran, orang yang me- nyebut diri Gemut itu. Terasa ia harus mengerahkan segenap tenaga. Dan tenaga itu sendiri ternyata tidak ada. Lebih heran lagi, orang bernama Gemut ini ter- nyata tidak apa-apa. Gemut memang terkejut. Ia menje- rit. Mukanya pedas sekali terkena lecutan kaki Madri. Dan ia terlempar ke belakang. Bukan karena tenaga tendangan itu, tetapi karena gerakannya sendiri. Ia pun tak segera bangun. Tapi itu karena heran.

Ia ingat. Orang tua yang bernama Arhagani itu me- mang memperkirakan beberapa jaringan nyawa yang lembut di dalam tubuh Madri telah rusak oleh bentrok- an dengan suatu tenaga dahsyat. Dan ini akan menye- babkan hilangnya kesaktian prajurit wanita itu. Kini... ditambah pula dengan kerusakan wajah dan jasmani Madri. Oh. Gemut tidak langsung berdiri karena tiba- tiba ia bisa mengerti perasaan Madri. Sebagai prajurit, ia tak punya lagi kesaktian. Sebagai wanita, ia tak punya lagi kecantikan. Apa yang bisa dibanggakan?

Matanya yang kini terbiasa dalam kegelapan celah gua itu melihat betapa mata Madri bersinar-sinar dalam gelap. Dan ada suara gemeresik. Mungkin Madri sedang mencoba untuk membuka bebatan kain yang menggu- lung seluruh tubuhnya.

“Jangan... jangan kaubuka... kain itu!” pinta Gemut bergegas berdiri.

Tapi agaknya Madri nekat. Ia menjejakkan kaki dan menubruk tubuh Gemut dengan keras. Atau... begitulah maksudnya. Sebab kini walaupun belum terisi oleh ke- saktian, gerakan Gemut hampir tanpa harus diperintah oleh otaknya lagi.

Gemut memiringkan tubuh dan berguling. Sederha- na. Tapi saat berguling kakinya telah serta-merta terpa- sang dan Madri menjerit keras. Tubuhnya terbanting ke tanah dan untuk beberapa saat ia hampir tak bisa ber- napas.

“Sudah kubilang... jangan... jangan bergerak dulu,” kata Gemut ragu-ragu mendekat.

“Aku sudah... tak punya... apa-apa,” keluh Madri. “Jangan berkata begitu. Jika kau... sehat kembali

pasti... semuanya pun bisa kau... peroleh kembali,” Ge- mut sendiri kedengarannya kurang yakin. Dan Madri agaknya tahu itu. Ia mendengus.

“Seluruh... tenagaku lenyap... dan... mukaku... mu- kaku?” ia mengeluh. Berkutat untuk bangkit.

“Kau... kau istirahatlah dulu,” kata Gemut bingung. Tak berani mendekat. Madri hanya tertawa dingin. Ia berhasil duduk. Dan dengan terus menggerak-gerakkan kaki dan tangannya beberapa bebatannya melonggar. Oh. Untung juga kaki dan tangannya masih utuh dan bisa digunakannya secara semestinya. Walaupun tak punya tenaga sakti lagi.

“Kau... jangan dekati aku,” desisnya pada Gemut yang beringsut untuk mendekatinya.

“Tapi... kau... membahayakan dirimu!” kata Gemut., “Tahukah kau... apa yang kuhendaki saat ini? Aku... aku ingin mati!” tiba-tiba Madri menjerit. Ia telah berha- sil menguraikan bebatan di kakinya. Dan ia meloncat berdiri.

Gemut terkejut meloncat mundur. Bersiaga. Tapi Madri tidak menyerangnya. Ia berpaling. Dan terhuyung ke luar. Gemut mengejar ke luar.

Ia tertegun. Dilihatnya Madri telah membuka ke- rudung pembalut di kepalanya. Dan kini sedang mere- nungi wajahnya di air yang tergenang di pinggiran kali.

“Jangan mendekat!” Tiba-tiba Madri berpaling dan berdiri saat didengarnya Gemut mendekat. Bahkan Ge- mut pun terhenyak melihat wajah Madri di tempat yang terang itu.

“Kau harus diobati... dan istirahat,” kata Gemut. “Apakah... obatmu... bisa mengembalikan... wajah-

ku?” desis Madri.

“Ttt... tidak... ttapi... paling tidak... ttak akan mem- buatnya... lebih parah lagi!” kata Gemut.

“Huh!” Madri berpaling. Dan berjalan meninggalkan tempat itu.

“Hei, tunggu! Kau tidak boleh pergi!” Gemut menge- jar.

“Untuk menahanku di sini... kau... atau pamanmu... harus membunuhku.... Dan aku akan suka itu!” kata Madri tanpa menghentikan langkahnya.

“Tapi... tapi...” Gemut kebingungan. Ia tak berani me- nahan Madri dengan kekerasan. Mungkin juga ia akan kalah. Dan... ia tak bisa membujuknya.

Gemut tiba-tiba berpaling. Berlari masuk ke celah di tebing sungai itu. Ketika ia keluar ia telah membawa kantong ramuan obat yang biasa dipakai oleh Arhagani untuk mengobati Madri. Dan ia bergegas menyusul Ma- dri yang telah mulai masuk semak belukar mendaki le- reng terjal di kiri-kanan kali itu. Bagi Gemut pendakian itu tak terlalu mengganggu setelah berbagai latihan yang diberikan Arhagani. Madri sendiri tampak terengah-engah dan beberapa kali harus beristirahat.

“Mengapa... kau... ikuti... aku?” tanya Madri waktu sekali lagi ia harus berhenti.

“Kalau kau tak mau tinggal di sana, aku harus mengikutimu... untuk mengobatimu,” kata Gemut.

“Kalau... aku... tak mau?”

“Akan kutunggu sampai kau mau.” “Akan kau... paksa... aku?”

“Tidak... aku takkan mampu. Suatu saat... kau mungkin akan mengizinkan.”

“Saat itu mungkin aku sudah mati.” “Itu pun tak apa,” kata Gemut. “Huh!”

Beberapa saat kemudian, Madri memanjat lagi.

Hari telah menjelang sore saat akhirnya mereka sam- pai di puncak tebing. Mereka muncul di sebuah hutan kecil yang berpohon jarang.

Madri menjatuhkan diri di tanah, megap-megap. Gemut duduk agak jauh darinya, dan minum dari ta- bung penyimpan air.

“Minum!” kata Madri.

“Kau harus minum ini,” Gemut mengangkat guci ob- at. “Untuk sementara kau harus mengurangi minum air.”

“Aku tidak sudi obatmu!” dengus Madri. “Kalau begitu kau tak minum!” Gemut tertawa.

Madri memandang penuh dendam pada Gemut. Ti- ba-tiba badannya meloncat untuk menyambar tabung air di tangan Gemut.

Tapi loncatannya tak bertenaga, dan ia terhunjam menubruk batang pohon. Gemut telah tak ada di tem- pat itu. Beberapa gerakan yang dimilikinya dahulu, yang didapatnya dari meniru-nirukan kakaknya, Ra Sindura, masih ada. Dan beberapa malah dipoles oleh Arhagani. Sesungguhnya dalam hal olah keprajuritan Gemut sudah cukup handal. Gerakan-gerakannya cu- kup ampuh sudah untuk mengalahkan seorang prajurit yang sangat berpengalaman. Hanya dalam hal kesaktian maka Gemut adalah nol besar. Namun gerakannya tadi sungguh membuat Madri terpesona.

“Sssi...siapakah kkau sesungguhnya?” tanyanya hampir kehabisan napas.

“Aku tidak kehilangan kesaktian seperti kau... tetapi mungkin beban deritaku tak lebih ringan darimu... toh aku tak putus asa,” kata Gemut. “Pikir-pikir, senang ju- ga melihat kau menderita. Sedikit hiburan bagiku. Jadi, kalau kau tak mau minum obat ini, ya terserah. Kalau kau ingin mencari air sendiri, ya terserah!”

Mau rasanya Madri menelan Gemut. Beberapa saat ia memandang marah pada gadis itu. Kemudian ia me- ngerahkan segenap semangatnya. Ya. Mengapa ia tak mencari air sendiri.

Ia bangkit. Bertopang pada pohon ia berdiri. Ia ter- paksa menyeringai. Seluruh tubuhnya serasa ditusuk- tusuk jarum. Dan Gemut agaknya tahu hal ini.

“Kau hanya tinggal minum tiga butir obat ramuan ini,” kata Gemut. “Dan semua rasa sakitmu hilang. Se- lama ini, itulah yang terjadi. Kau menjerit-jerit kesakit- an, dan setelah minum obat kau jadi tenang!”

“Apakah... apakah obatmu... bisa mengembalikan... wajjjah...ku?” tanya Madri terengah-engah.

“Mengapa itu kaupikirkan sekali?” tanya Gemut. “Ka- laupun aku orang biasa, maka wajahmu adalah hal ter- akhir dan terkecil yang bisa menyumbangkan sesuatu pada kehidupan di dunia ini. Apalagi kau prajurit. Pen- tingkah wajahmu?”

“Bagaimana dengan... kesaktianku?” tanya Madri. “Apakah kau lahir dengan kesaktian?” tanya Gemut. Dan Madri tertegun.

Siapakah dia? Di mana dia lahir? Dan... untuk apa? Madri tak tahu. Ia hanya ingat masa kecilnya di Gali-

jao. Di sebuah perkampungan di pinggir pantai. Gu- nungnya berkapur. Tanahnya tandus. Sepasang suami- istri mengurusnya. Tetapi mereka bukan ayah-bunda- nya. Mereka tak mau ia menganggap mereka ayah-bun- da. Dan tetangga mereka hanya sedikit. Mungkin hanya ada tiga atau empat rumah lain di pantai itu. Yang jelas mereka semua sangat menghormatinya. Sangat menja- ganya.

Mungkin di umur empat tahun seseorang yang bu- kan dari kelompok kecil itu mulai mengajarinya gerak- gerak silat khas dari Galijao. Mula-mula hanya sebagai permainan. Tetapi ia suka karena itu menghilangkan kebosanannya sebagai satu-satunya anak di pantai sepi itu. Pada umur sepuluh tahun ia telah mahir menggu- nakan senjata khas Galijao, tombak yang berujungkan golok melengkung besar. Dan ia dibawa ke Tanah Jawa.

Dibawa ke tempat yang sama sunyinya di pantai uta- ra Jawa. Dan ia bertemu dengan Sang Buyut.

Ia tak pernah melihat wajah Sang Buyut.

Sang Buyut yang menurunkan berbagai ilmu kesak- tian. Dan cerita bahwa suatu saat kelak ia akan meng- iringi seorang saudaranya ke puncak keagungan di Wil- watikta. Untuk itu ia harus menempa diri menjadi pra- jurit di Kuripan.

Semua berjalan lancar. Ia mengabdi di Kuripan. Ke- tangguhan dan kesaktiannya membuatnya menanjak dengan cepat hingga masuk lingkungan istana. Dan bertemu dengan Sang Selir. Itu adalah peristiwa yang gila. Putri itu memang ti- dak sepenuhnya rela melayani Sang Raja. Dan ia sering melimpahkan kasihnya pada Madri. Mungkin tak meng- herankan. Karena Madri lebih sering berlaku bagaikan pria.

Lalu... pertempuran di tepi Bengawan itu sungguh sebuah mimpi buruk. Ia hanya ingat bahwa lawannya tangguh. Memang seolah orang yang tak punya ilmu. Tetapi ia masih bisa merasakan betapa setiap gerakan- nya menerbitkan hawa panas mengiris. Sementara se- tiap serangannya sendiri seakan terhenti satu jengkal di atas permukaan kulit orang itu.

Ia pernah mendengar tentang ilmu kekebalan Lembu Sekilan. Tetapi itu hanya dimiliki oleh Sang Mahapatih Gajah Mada. Kalau orang itu juga memilikinya, pastilah ia kerabat dekat sekali dengan keluarga istana.

Kemudian saat orang itu menggunakan pasir sungai sebagai senjata, Madri masih bisa merasakan betapa se- tiap butir pasir itu seakan meledak dan membara di ku- lit mukanya. Agaknya orang itu berpikiran sangat jitu— sebagai seorang wanita, walaupun ia seorang prajurit, pasti wajah merupakan hal penting untuk dilindungi. Mungkin ia memancing agar Madri mengangkat tangan dan melindungi muka. Memang itulah yang dilakukan- nya. Tetapi terlambat. Ribuan bara api kecil itu begitu cepat hinggap di seluruh mukanya. Membakar muka itu. Dan ia ingat ia menjerit, sesuatu yang sangat jarang dilakukannya. Tombak Galijao-nya direbut. Dan han- taman orang itu mendarat di tengkuknya. Seolah puku- lan biasa. Tetapi tenaga yang tak terlihat telah memu- tuskan jaringan-jaringan lembut nyawanya. Dan ia ro- boh. Terbenam. Lalu entah bagaimana.

Malam itu sudah merupakan mimpi terburuk dan sangat menakutkan yang pernah dialaminya. Sekarang ini!

“Yaaaaaah!” mendadak Madri menjerit keras sekali dan berlari ke atas, berkali-kali menubruk pohon dan terbanting jatuh namun bangkit dan berlari lagi.

“Kakangmbok Madri!” jerit Gemut mengejar.

Untuk terakhir kali Madri menghantam batang se- buah pohon besar dan jatuh terkapar.

“Kakangmbok Madri!” jerit Gemut menghampirinya. “Air! Air!” pinta Madri.

“Obatmu dulu!” Gemut mengeraskan hati. Ditang- kapnya belakang kepala Madri. Diangkatnya, dan mulut prajurit wanita itu dipaksakannya ternganga. Sangat sulit bagi Gemut. Wajah yang begitu menyeramkan membuatnya tak tega memandang langsung. Tetapi ter- paksa. Dan hampir sambil memejamkan mata tiga butir obat dipaksakannya masuk ke mulut itu. Dan dika- tupkannya keras-keras.

“Kunyahlah. Kulumlah. Telanlah. Terserah. Asal ma- suk,” kata Gemut sambil membuang muka. Madri me- ronta-ronta. Tapi tangan Gemut terus mencengkeram kepalanya.

Dan akhirnya mungkin obat tadi telah bekerja. Madri tiba-tiba tenang. Tertidur.

Gemut menghela napas panjang. Perlahan berdiri dan mundur. Menunduk. Ia benar-benar tak tega meli- hat wajah itu. Tak tega. Tak berani. Seram.

Apa sesungguhnya yang telah terjadi. Dan ia harus bagaimana?

Menyeret Madri kembali ke bawah sana rasanya akan sangat sulit. Atau... ia lari dan minta bantuan Ar- hagani? Mungkin jika mereka kembali kemari Madri te- lah sadar dan pergi.

Lalu apakah ia harus mengikuti Madri terus? Rasa- nya ya. Ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan gadis ini. Paling tidak, Madri merupakan hubungannya dengan masa lampaunya.

Kapan ia pertama kali melihat Madri?

Ah. Mungkin sudah lama sekali. Saat itu ada pesta bulan Cayitra di ibukota. Dan ia diajak ayahnya menon- ton. Mereka termasuk keluarga yang terpandang, maka mereka duduk di bagian kehormatan. Tidak bersama anggota dekat keluarga kerajaan, tentu, tetapi cukup merupakan tempat yang terdepan.

Kakaknya, Ra Sindura, ikut pertandingan sodoran, berbagai ketangkasan keprajuritan di atas kuda dengan menggunakan tombak tumpul. Dan satu per satu lawan Ra Sindura jatuh. Sampai akhirnya ada empat peme- nang di tanah lapang itu. Ra Sindura. Arya Barat. Seo- rang lagi pangeran dari Bali. Dan Madri.

Madri sangat menarik perhatian. Dengan pakaian keprajuritan maka ia sangat mirip seorang pemuda yang sangat tampan. Walaupun kulitnya kehitam- hitaman. Gemut waktu itu masih kecil, namun toh me- rasa ‘jatuh cinta’ pada prajurit ini. Gaya Madri memain- kan tombak tumpulnya bagaikan tarian indah baginya. Tak peduli saat itu akhirnya Madri kalah oleh Arya Ba- rat, tetapi kenangan tentang prajurit wanita ini lekat di ingatan si kecil Gemut yang saat itu bernama Rara Sin- du. Ia kemudian sangat gembira sewaktu mendengar bahwa Madri diangkat menjadi prajurit di istana Kuri- pan. Setelah itu ia memang sangat jarang bertemu. Te- tapi kakaknya sering bercerita tentang sepak terjang Madri ini, yang beberapa kali berhasil menumpas baik pemberontakan maupun gerombolan perampok, terka- dang bahkan seorang diri.

Ia kagum pada Madri. Sayang jika manusia luar bi- asa ini lenyap tak berbekas.

Renungannya terganggu oleh suara orang-orang ber- bicara. Gemut terkejut. Suara itu datang dari arah hu- tan, dari balik pepohonan yang mulai melebat. Sekilas dilihatnya Madri. Wanita itu terbujur tenang di bawah semak-semak, terlindung dari matahari sore. Mungkin masih agak lama tak sadarkan diri.

Gemut merayap ke atas, hati-hati menyelinap di an- tara semak-semak dan pepohonan.

Akhirnya ia sampai di tempat di mana suara-suara itu terdengar sangat dekat.

Tempat itu tempat terbuka di bawah sebatang pohon raksasa. Sebuah jalan setapak membelok di pangkal pohon. Dan di akar pohon yang menonjol berbongkah- bongkah keluar dari tanah beberapa orang sedang du- duk. Tujuh orang. Tiga orang prajurit, dan dua pasang suami-istri. Paling tidak, mereka tampak seperti suami- istri. Pasangan suami-istri itu membawa beberapa bungkusan besar. Ketiga prajurit tadi tak membawa apa-apa, kecuali senjata mereka.

“Ki Lurah... kukira desa Rakerti sudah tak begitu jauh... mengapa kita harus istirahat lagi?” tanya salah seorang suami itu.

“Karena aku memerintahkannya, Ki Lebong,” sahut prajurit yang bersenjatakan tombak dengan ujung ba- gaikan keris. “Apakah kau keberatan?”

“Kalau keberatan ya bawaanmu itu berikan pada kami saja, hua ha ha ha... bukankah begitu, Ki Lurah?” salah seorang prajurit tertawa terbahak-bahak.

“Bukan begitu... kalau kita teruskan perjalanan ini, kita bisa sampai di Rakerti sebelum gelap. Jadi lebih mudah berjalan!” kata Ki Lebong. “Kalau boleh sih... kami bisa berjalan lebih dahulu. Bagaimana?”

“E, e, e, e... setelah jalanan aman kalian akan berja- lan sendiri?” tanya Ki Lurah.

“Maksud Ki Lebong bukan begitu, Ki Lurah,” suami yang satu lagi ikut berbicara. “Kita saja sebagai sauda- gar belum begitu merasa lelah, apalagi kalian, para pra- jurit yang gagah berani, jadi lebih baik bergegas mene- ruskan perjalanan. Lebih cepat sampai, lebih baik!”

“Ki Begang! Kata-katamu itu kok kedengarannya menyindir, ya!” Seorang prajurit yang dari tadi hanya mengamati istri Ki Lebong tiba-tiba bangkit. “Dalam hati kau pasti mengatakan kami prajurit kalah perang yang kurang kerja ngantar kalian ngungsi?”

“Bukan begitu, Ki Gito... bukan!” kata Ki Begang. “Lagi pula... dari awalnya kami toh tidak meminta Tuan- tuan semua mengantarkan kami. Kita kebetulan hanya sejalan! Dan rasanya dari dulu jalan ke Rakerti aman saja, benar nggak, Lebong?”

“Tapi ini masa perang!” kata Gito.

“Dan mau tak mau kami harus melindungi kalian!” kata Ki Lurah.

“Terhadap apa?” tanya Lebong.

“Ya... harimau... rampok... apa saja!” sahut Gito. “Ju- ga terhadap prajurit-prajurit pemberontak yang kocar- kacir melarikan diri. Mereka toh biasanya mata gelap. Kalau lihat harta, atau wanita...” Ia mengerdipkan mata pada Nyi Begang. “Ya nggak, Ki Lurah? Ya nggak, Ki Lu- rah?”

“Tetapi setahuku... pasukan pemberontak tidak ko- car-kacir, tidak undur, dan tidak melarikan diri, Ki ”

Nyi Begang agaknya tak tahan untuk tidak ikut berbica- ra. “Berita terakhir yang kami dengar, pasukan Wilwa- tikta hancur. Karena itulah kami mengungsi dari U- teran, agar tidak dirampok oleh pasukan pemberontak yang memasuki kota itu!”

“Eh, eh, eh! Wanita manis ini bisa bicara, Ki Lurah!” seru Gito heran kepada Ki Lurah. “Dan, alangkah ta- jamnya lidahnya yang manis itu! Dia menuduh kami yang kalah, Ki Lurah! Dia menuduh kami yang kocar- kacir!”

“Dasar perempuan goblok!” Ki Lurah memelintir ku- misnya. “Justru kami meninggalkan pasukan untuk melindungi kalian, mengerti?”

“Tetapi, bukankah tugas utama Tuan-tuan memper- tahankan Uteran?” tanya Nyi Begang tidak mau me- ngalah.

“Bukan, bukan, bukaaan, manis!” Gito kini lancang, berdiri mendekati Nyi Begang dan sebelum Nyi Begang ini sempat menghindar, Gito telah mengusap punggung- nya yang kuning mulus itu hingga wanita tersebut men- jerit kaget dan melompat ke balik punggung suaminya. “Aduuuh, Ki Lurah, lembuuut sekali dan wangiiiii!”

“Maaf, Tuan-tuan... hamba rasa... kami-kami bisa meneruskan perjalanan ini... sendiri,” ketakutan Ki Be- gang mengambil beberapa bungkusannya.

“Eh, eh, eh, mau ke mana? Ya seperti inilah tingkah laku kalian saudagar-saudagar ini? Di zaman kami jaya, tak keruan kalian menjilat kami... di saat kami kalah, berjalan beriring pun kalian tak sudi, ya?” kata Ki Lurah memutar-mutarkan tombaknya.

“Bukan begitu, Ki Lurah, tapi... tapi kami harus sam- pai di Rakerti sebelum malam.... Jika Ki Lurah sudi... mari berangkat bersama-sama!” ajak Ki Begang.

“Tidak! Kami tidak mau berangkat sekarang, dan ka- lian juga tak boleh berangkat. Beban kalian terlalu be- rat. Jika terjadi sesuatu di perjalanan nanti, alangkah menyesalnya kami... bukan begitu, Anak-anak?” tanya Ki Lurah kepada anak buahnya.

“Tentu, Ki Lurah. Kecuali kalau bebannya ditinggal, ya nggak? Dan perempuan manis itu... aduuuh! Ge- messss aku, Ki Lurah!” Gito kembali akan memegang Nyi Begang. Nyi Begang menjerit, dan pada saat yang bersamaan mereka semua mendengar seseorang berkata, “Prajurit bangsat!”

Semua tertegun. Muka Ki Lurah yang kehitaman jadi semakin hitam. Ia memutar perlahan tombaknya dan menggeram, “Ini sudah keterlaluan. Kalian berani me- maki kami?”

“Bukan aku!” teriak Ki Lebong, mundur menyeret is- trinya.

“Aku juga bukan!” seru Ki Begang. Dan matanya membelalak pada istrinya.

“Huh, perempuan cantik ini memang cari penyakit, Gito?” desis Ki Lurah mendekati Nyi Begang.

“Dasar prajurit goblok! Menentukan arah suara saja tidak bisa!” suara itu tadi terdengar lagi.

Terkejut semua berpaling.

Gemut muncul dari semak-semak. Matanya geram memandang Ki Lurah. “Kalian prajurit bajingan! Kalau semua prajurit Wilwatikta seperti kalian, sudah pantas jika kalian harus kocar-kacir mengepit ekor!”

“Waduh! Kukira hantu rimba!” seru Gito. “Wah, wah, ternyata cuma jembel macam begini... eh, lelaki bukan, perempuan bukan, manusia bukan, gandarwa bu- kan ”

“Jangan banyak cakap, Gito. Bereskan orang gila itu,” desis Ki Lurah.

Gito tertawa. Tiba-tiba tubuhnya menerjang Gemut. Tetapi seolah hanya menggerakkan kepala hingga tu- buhnya membentuk kedudukan tiga lekukan, terjangan Gito hanya mengenai angin dan Gito terjerumus ke da- lam semak belukar. Dengan geram Gemut menyusulkan sebuah gebukan dengan batang kayu di tangannya.

“Huh! Pencak silat kampungan kautunjukkan di de- pan tuanmu?” geram Gito melompat berdiri. Dan lang- sung mengirimkan tendangan beruntun yang menim- bulkan desiran angin yang kuat. Kali ini entah karena memang sedang kesal menghadapi Madri tadi atau me- mang marah akan sikap para prajurit itu, atau hanya ingin mencoba ilmunya, maka Gemut tidak sungkan- sungkan lagi. Ia menghindar, kemudian menghantam. Ia menghadangkan kaki kemudian menghunjamkan si- ku tangannya. Ia meloncat mundur dan menendang te- lak leher Gito. Beberapa saat saja Gito sudah jatuh ter- kapar.

“Bangsat! Tawur!” Ki Lurah tak sabar. Tombaknya berputar cepat langsung menghajar Gemut. Prajurit yang dari tadi diam juga menyerbu dengan pedang ter- hunus, sementara Gito beberapa saat terbatuk-batuk mengurut lehernya tapi kemudian juga ikut mengeroyok Gemut dengan pedangnya.

Gemut cukup kewalahan. Senjata-senjata itu secara terlatih menyerbu dan mundur bergantian, hingga Ge- mut serasa tak bisa bergerak dan terpaksa menghindar terus, mundur terus, dan... jatuh telentang karena ka- kinya terantuk kaki Madri yang terbaring di tanah.

“Haha ha ha ha hah!” Ki Lurah tertawa melihat Ge- mut kebingungan di tanah. “Coba kulihat isi perutmu, gandarwa hutan!”

Tombaknya terayun. Tetapi sebuah tendangan keras membuat tangan Ki Lurah bergetar kesakitan. Dan Ma- dri telah berdiri di depan mereka.

Semua menjerit terkejut melihat wajah Madri. Wajah itu memang cacat dan buruk, tetapi kini matanya pun memancarkan marah.

“Kalian mengaku prajurit Wilwatikta tapi tingkah la- ku kalian seperti anjing hutan?” geram Madri. Heran. Obat yang dipaksakan minum oleh Gemut tadi sangat manjur. Begitu rasa panas membara di mulutnya le- nyap, hawa hangat seakan merayapi semua jalur-jalur darah di tubuhnya. Pertama kali mengusir rasa sakit di kepalanya. Kemudian memberi kesegaran dan kekuatan baru. Ia sendiri heran mengapa tendangannya bisa telak mengena. Tapi ia langsung merasa bahwa itu hanya se- buah tendangan keprajuritan. Tak dilambari tenaga apa pun.

“Kau yang anjing hutan jelek, mampus sajalah!” Ki Lurah geram menghantam. Tapi dengan kegesitan yang hampir tak terlihat Madri menghindar, menghantam pangkal lengan Ki Lurah dan menendang pinggangnya. Begitu cepat. Tahu-tahu Ki Lurah telah roboh dan tom- bak itu di tangan Madri.

Madri menimang-nimang tombak tersebut. Tombak kasar. Murah. Tetapi bobotnya terasa enak di tangan- nya. Hampir mirip tombak Galijao berujung melengkung yang biasa dibawanya. Seolah tak berpikir ia memutar- kan tombak itu. Ke kiri. Ke kanan. Melangkah mundur. Maju. Melompat. Ya. Enak sekali.

Tak terasa Madri telah memainkan beberapa jurus tombak Galijao-nya. Dan beberapa saat itu semua orang lupa akan kejelekan dan keseraman wajah Madri. Gera- kannya begitu gagah dan indah. Bagaikan menari tetapi dengan setiap saat dari setiap titik di tubuhnya sinar maut seakan terpancar.

“Gandarwa jelek, siapa kau?” Ki Lurah ternganga. Sebagai ahli tombak maka ia langsung tahu bahwa Ma- dri lebih ahli darinya. Tetapi sayangnya ia tak kenal sia- sat. Jika ia tidak membuka mulut, Madri mungkin tak- kan memperhatikannya. Dan ini, ia malah mengu- capkan kata-kata yang membuat amarah Madri mele- dak!

“Matilah!” desis Madri. Ia melangkah miring, baling- baling tombaknya mengambil kedudukan mengancam. Ki Lurah terkejut. Cepat ia mencabut kedua pedang pendeknya dan berteriak pada kedua anak buahnya, “Tawur!”

Mereka bertiga tak sempat bergerak. Seakan tak be- ranjak dari kedudukannya, Madri mengulur pegangan tombaknya dan menariknya kembali. Ketiga prajurit itu tanpa bersuara roboh dengan leher luka menganga.

Gemut menjerit ketakutan. Ini membuat Madri sadar dan menghentikan tombaknya.

Dia termenung.

Mereka ini prajurit Wilwatikta. Mengapa ia membu- nuh mereka? Memang mereka menyerangnya, namun itu wajar, mereka tak tahu tentang dirinya. Apakah ia membunuh mereka karena ketiganya bertingkah tidak sepatutnya sebagai prajurit? Mungkin juga tidak. Ia membunuh mereka karena mereka mengatainya ‘jelek’.

Sejauh itukah ia telah meninggalkan pribadi kepraju- ritannya? Lalu ia sekarang berada di pihak mana?

Ia tak mungkin kembali ke Kuripan dengan wajah ini. Ia tak mungkin kembali mengabdi pada Wilwatikta. Bahkan dengan nama samaran pun! Hatinya pasti me- ledak jika melihat orang-orang yang dikenalnya dahulu kini tak mengenalinya lagi. Atau malahan memandang- nya dengan rasa kasihan. Atau mengejek.

Ia tak berani bertemu dengan Sang Buyut.

Semua kesaktian yang diturunkan orang sakti itu le- nyap. Dan kalaupun bisa, akan makan waktu puluhan tahun untuk mengajarinya lagi. Sedang ia tahu, itu pun tak mungkin. Dengan hancurnya jaringan lembut di tu- buhnya, ia takkan mampu menyerap ilmu kesaktian apa pun.

Lalu ia harus ke mana?

“Kau!” tiba-tiba tombaknya menuding Ki Lebong. “Aku dengar percakapan kalian tadi. Perang apa yang sedang terjadi?”

“Ann... anu... Tuan... pasukan pemberontak menye- rang Uteran,” Ki Lebong begitu gugup menjawab.

“Siapa yang menang?”

“Mula-mula Uteran... sebab dibantu oleh pasukan Wilwatikta dari Daha!”

“Lalu?”

“Lalu... lalu pasukan Wilwatikta hancur... porak-po- randa,” sahut Ki Lebong.

“Hmh. Kok bisa? Siapa pimpinan pasukan Wilwa- tikta?”

“Kkkalau tidak salah... Sang Arya Barat!”

“Arya Barat?” Madri terkejut. Tiba-tiba ujung tom- baknya meluncur dan menggores tipis leher Ki Lebong. “Jangan ngawur!” bentaknya.

“Bbe... bbenar, Tuan... begitulah yang hamba de- ngar!” tangis Ki Lebong mengusap darah di lehernya.

“Arya Barat adalah pahlawan unggulan Wilwatikta. Seratus raja berhasil ditundukkan. Bagaimana ia bisa kalah?”

“Hamba dengar... hamba dengar... beliau dikalahkan oleh... Dewi Candika!” Tiba-tiba Ki Lebong takut sendiri. Belum pernah ada yang tahu dengan tepat bagaimana wajah Dewi Candika. Tetapi, dalam pikiran Lebong, me- lihat sepak terjang dan keburukan mukanya... mungkin saja Madri ini adalah Dewi Candika—dewi pencabut nyawa! Tak terasa Ki Lebong menyeret istrinya mundur.

Madri juga terkejut. Dewi Candika! Dia benar-benar ada? Mungkin kata-kata Ra Sindura dulu itu benar?

Ah. Mungkin ini kesempatan. Bagaimana jika ia ber- gabung dengan Dewi Candika? Paling tidak Dewi Can- dika belum pernah melihat mukanya. Dan mungkin me- reka memerlukan prajurit yang tangguh. Apakah itu bukan berkhianat? Daripada ia harus menanggung malu selamanya?

Tapi maukah Dewi Candika menerimanya? Dalam keadaan sekarang ini?

Kecuali jika ia membawa pasukan. Mungkin ke- tiadaan kesaktiannya tak terlalu mempengaruhi.

“Kau mau ke mana?” tanya Madri. “Rrra... Rakerti, Tuan ”

“Jauh dari sini?”

“Berjalan kaki... mungkin menjelang malam kami akan tiba di sana. ”

“Hmh. Baiklah. Berangkat kalian. Aku akan menyu- sul.”

“Tuan?”

“Ya. Akan kutaklukkan Rakerti. Bilang itu pada pen- duduk di sana. Cepat berangkat!” Madri membentak.

Tak usah diulang, keempat orang itu bergegas berla- ri. Tak lama tempat itu sangat sepi.

“Kau. Kembalilah!” kata Madri kepada Gemut. “Tidak. Aku harus mengobatimu. Di samping obat ini kau harus juga dipijat. Dan hanya aku yang tahu.” “Aku tak takut mati!”

“Tapi kau punya rencana. Dan tak akan puas sebe- lum rencanamu terlaksana.”

“Huh!” Madri heran. “Lalu kamu mau apa?” “Mengikutimu. Mengobatimu.”

“Tidak!”

“Aku akan memaksa mengikutimu.”

Sunyi lagi. Madri menimang-nimang tombaknya. “Baiklah. Kau ikut! Dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Kau harus berkerudung. Mukamu harus tertutup rapat. Agar orang takkan membandingkan kau dengan aku. Ayolah!” 2. AKHIR TRANG GALIH

JURU MEYA beberapa kali memperhatikan surat di ta- ngannya. Ini benar-benar surat dari junjungannya, Wa- ra Hita. Ada tanda khusus yang hanya ia dan Wara Hita yang tahu. Pada ujung surat dari daun lontar itu ada bekas kuku, bersilang.

“Perempuan buruk hati, ini memang surat dari Ratu junjunganku, he he he...,” Juru Meya tertawa menjulur- kan lidahnya di antara giginya.

“Jangan tertawa!” Wara Huyeng mengerutkan ke- ning. Ia tahu tulisan tangan junjungannya. Tetapi ia tak tahu bukti yang membuat Juru Meya yakin.

Mereka berada di Gua Polaman, salah satu gua dari begitu banyak gua yang membentuk kerajaan bawah tanah di Trang Galih. Tetapi tahta batu tempat Wara Hi- ta duduk, kosong. Juga tempat Nagabisikan. Di gua yang terang benderang oleh begitu banyak obor itu me- mang telah hadir beberapa orang kepercayaan Wara Hi- ta. Dan mereka semua dipanggil dari berbagai tempat dengan suatu jaringan penyampaian berita yang cepat, tepat, namun rahasia.

Ada Juru Meya, manusia bundar dengan wajah me- nyeramkan yang begitu banyak memiliki kesaktian. Dia yang dikabarkan pernah satu guru dengan Sang Bhre Wirabhumi dan memiliki aji Rawa Rontek yang menye- babkan ia bagaikan bernyawa rangkap, aji Wayang yang menyebabkan ia mampu menyerap kesaktian orang lain serta, tentu saja, berbagai ajian yang pernah diserap- nya.

Ada Wara Huyeng, wanita setengah umur yang sakti dan sangat genit. Memang tidak sesakti Juru Meya, na- mun ia termasuk murid Nagabisikan yang cerdas.

Ada Emban Layarmega yang telah lolos dari Kuripan dan terpaksa meninggalkan tugasnya sebagai pimpinan wanita-wanita penghibur dan kembali ke ‘pusat’ perge- rakan mereka sebagai prajurit.

Kemudian beberapa pimpinan prajurit: Ula Bandot- an, Kebo Taluktak, Kusya, Pasongsari, Pangilet, Gatri, Maya Mekar, Kunti. Dan seorang pemuda kurus dengan mata kuyu dan duduk di samping kaki Wara Huyeng. Anengah.

Ya. Anengah. Bekas murid Rahtawu ini kini telah be- gitu lekat pada Wara Huyeng. Ia pun telah diangkat menjadi pengajar olah kesaktian para prajurit. Berkat khasiat Butir Hitam Tartar yang membuatnya ketagihan dan selalu ketagihan lagi. Kini ia pun berpakaian seperti para pimpinan Trang Galih: kain serba hitam, ikat ping- gang dan kepala dengan gambar ular terbang tinggi, dan destar hitam yang ujung depannya menjulur turun hampir menutupi mata.

“Aku sendiri yakin ini surat Anakmas,” kata Wara Huyeng. “Namun... aku merasa heran. Di sini dis- ebutkan beliau di Uteran. Di daerah selatan. Terakhir kali kudengar, beliau sedang dalam perjalanan ke Wengker bersama Tuanku Guru. Kedua, Sang Guru sama sekali tak disebutkan di sini. Ketiga, permintaan beliau sungguh sulit dikabulkan. Memindahkan semua pasukan ke selatan? Ke daerah terbuka? Alangkah mu- dahnya ditumpas nanti!”

“Dasar perempuan yang cuma mikir lelaki saja, he he he,” Juru Meya tertawa hingga air liurnya meluncur. “Kalau aku, pertama, aku yakin ini surat dari Ratu jun- junganku. Jadi harus kuturut. Kedua, kemungkinan besar ia telah memperoleh kedudukan kuat di Uteran, hi hi hi... tapi untuk mempertahankannya ia memerlu- kan kita, hi hi hi ”

“Jadi?” Wara Huyeng mengernyitkan kening, dan menyodorkan kakinya kepada Anengah agar dipijiti.

“Ya, kita berangkat, kecuali jika kau masih sibuk de- ngan hewan peliharaanmu itu, Huyeng, he he he!” Juru Meya tertawa.

“Sabar, Ananda Anengah,” Wara Huyeng cepat meng- elus kepala Anengah yang walaupun sangat terpenga- ruh oleh Butir Hitam Tartar agaknya merasa tersing- gung oleh kata-kata itu. “Kalau begitu, kita berangkat. Tetapi tak mungkin kita berangkat dalam satu rom- bongan besar.”

“Itu pikiran terbaikmu selama puluhan tahun ini, Huyeng, he he he. Kita bagi pasukan menjadi tiga?” tanya Juru Meya.

“Menjadi tiga. Aku bersama Ananda Anengah me- nyusuri Gunung Trang Galih ini ke barat, kemudian membelok di daerah Rawa ke selatan menuju Uteran,” kata Wara Huyeng. “Kiai dengan sepertiga pasukan la- gi...”

“He he he... prajurit wanita, lho, prajurit wanita, lho!” kata Juru Meya.

“Ya, dengan para prajurit wanita, langsung ke arah selatan. Kemudian Nyai Emban Layarmega ke arah ti- mur kemudian ke selatan dari kaki Gunung Lawu. Ba- gaimana?”

“Hah, paling-paling jika aku tak setuju kamu juga ti- dak setuju, Huyeng, he he he... hayolah. Suruh siap semua prajurit!” Juru Meya tiba-tiba menunduk dan mendengkur. Wara Huyeng menarik napas panjang.

“Nyai Emban, dan kau, Ula Bandotan, serta Ni Kunti. Siapkan pasukan masing-masing. Kita berangkat dari Jurang Grawah.”

Daerah pegunungan kapur yang biasanya sunyi itu tiba-tiba sangat ribut. Entah dari mana, tahu-tahu hampir di setiap lereng, celah, dan tempat terbuka muncul manusia-manusia bersenjata. Mereka memang berusaha bergerak tanpa suara, tetapi dengan banyak- nya persenjataan dan peralatan yang mereka keluarkan, serta berbagai aba-aba, maka suasana ribut pun terjadi. Di salah satu gua, Tantri tersentak bangun. Pemuda yang mirip bocah atau bocah yang mirip pemuda ini memang masih berada dalam tahanan pasukan di Trang Galih ini. Ia pun menderita berbagai macam sik- saan, baik halus ataupun kasar. Namun agaknya ia sangat bisa menguasai diri. Bawaannya selalu begitu riang gembira dalam keadaan apa pun hingga para pe- nahannya kehilangan akal. Bahkan Juru Meya yang ah- li dan berpengalaman pun sering terkecoh oleh ulah tingkah Tantri. Apalagi Wara Huyeng. Mereka paling- paling akhirnya berpendapat bahwa Tantri ini gila. Na- mun sangat berbahaya. Dan mereka merasa sangat rugi bila Tantri dilenyapkan. Bahkan dalam banyak kegi- laannya, ada yang mereka pelajari dari Tantri. Mereka pun tak mengerti mengapa Butir Hitam Tartar tak memberi pengaruh apa pun pada Tantri. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa Tantri adalah putra tersayang dari pasangan gila Sinom dan Mahendra—itu saja se- sungguhnya cukup untuk menerangkan berbagai kea-

nehan yang ada pada anak ini.

Ketika pintu lempengan batu penutup di ruang ba- tunya digeser, Tantri sedang bersemadi dengan cara yang aneh: kepala bagai menancap di lantai batu, selu- ruh badan tegak berdiri dalam keadaan tribhanga— kedudukan tiga lekukan. Tentu saja terbalik.

“Anak manis, kau sedang apa?” tanya Wara Huyeng yang berdiri di depan pintu bersama Anengah dan Em- ban Layarmega. Pertanyaannya itu dilambari tenaga ba- tin yang kuat hingga Tantri tersadar dari semadinya.

“Eh, Bibi yang cantik molek seperti golek! Kenapa kau terbalik? Kaupikir dengan begitu kau tambah can- tik?” tanya Tantri tertawa.

“Kau yang terbalik, Anak cantik!” kata Wara Huyeng. Dan tanpa rasa malu ia mendekat dekat sekali dengan Tantri, sehingga kepala anak muda itu hampir bersen- tuhan dengan jari-jari kakinya... dan tiba-tiba ia meng- angkat kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya.

“Nah, kau yang terbalik, bukan? Kau lihat? Hi hi hi hi hi,” Wara Huyeng tertawa terkikik genit.

“Bibi, jangan... seperti itu!” gumam Anengah.

“Eh, mainanmu itu bisa juga cemburu, Bibi molek?” Tantri melompat berdiri seperti biasa. “Kukira dia sudah tak punya pikiran waras lagi?”

“Kenapa?” Wara Huyeng tertawa. Ia paling senang mengadu domba kedua orang ini, yang memang bagai- kan bumi dan langit.

“Kalau aku kamu, Bi, aku takkan percaya padanya. Dia yang sudah berkhianat pada perguruannya, mana mungkin bisa dipercaya!” kata Tantri.

“Kata-katamu takkan bisa melukai hatiku, Monyet kecil. Sebab kau buta. Dan aku bisa melihat,” kata Anengah menahan diri.

“Wah, wah, wah! Bisa pula dia berbahasa! Apakah li- dahnya kaugaruk dengan uang emas setiap hari, Bibi?” ejek Tantri.

“Kau benar-benar buta,” Anengah mencoba mene- nangkan diri. “Manusia harus punya cita-cita. Dan jika aku bersetia pada perguruanku yang telah punah, yang hancur karena seorang pengkhianat, bagaimana aku bi- sa mencapai cita-citaku? Dengan mengikuti Ratu Wara Hita, setidak-tidaknya cita-citaku akan lebih mudah kucapai!”

“Dan apakah cita-citamu itu, manusia tak berbudi?” ternyata Tantri yang naik darah. “Sederhana. Aku merasa punya kewajiban ikut mengatur dunia ini. Dan akan kulakukan itu!” sahut Anengah tenang.

“Ya ampun!” Tantri membelalak. “Dunia bisa jungkir balik jika kau sampai punya kesempatan mengaturnya!” “Yang jungkir balik adalah orang buta seperti kau,

Monyet cilik,” Anengah mencibir.

“Tapi kau pun takkan mampu berbuat banyak. Me- naklukkan bibiku yang molek ini pun takkan mampu. Dan kau tak tahu bahwa kau hanya diperalat olehnya!” kata Tantri.

“Diperalat oleh siapa pun takkan terasa berat, jika kita memang menghendakinya. Dan aku menghenda- kinya!” Anengah kini malah tertawa mengejek.

“Makanya Tari tak sudi padamu... hatimu berbulu!” dengus Tantri.

Nama ‘Tari’ agaknya mempunyai daya tersendiri pa- da Anengah. Ia tertegun. Matanya bersinar tajam. Ke- dua tinjunya mengepal keras. Dan hampir tak memakai ancang-ancang, tiga kali tendangan Bantala Liwung di- lancarkannya pada Tantri. Tendangan-tendangan be- runtun itu begitu dahsyat bertenaga, ditambah melun- curnya tinju yang tak terduga, membuat Tantri berlon- catan dalam langkah Sura-caya yang tak terlalu ampuh karena Anengah pun menguasai ilmu itu dengan baik.

Terdengar jeritan keras. Dan Tantri terkapar di lantai batu ruangan batu itu. Matanya membelalak dan tiba- tiba ia memuntahkan darah hidup. Tapi ia masih terta- wa.

“Sungguh gagah, sungguh gagah,” katanya. “Jika gu- rumu masih hidup, mungkin beliau pun akan kauhan- tam hancur tanpa kau merasa malu.... Kaugunakan il- mumu hanya untuk kepuasan hatimu sendiri.”

“Kau keliru,” tiba-tiba Anengah bisa berbicara de- ngan sangat tenang. “Justru menghormati guru aku ha- rus menunjukkan ilmuku. Bangunlah, jika kau masih ingin tahu lebih banyak kehebatan ilmu ajaran guruku.” “Tak ada gunanya. Setinggi-tinggi ilmu itu, toh yang penting akhirnya orang yang memilikinya. Ilmu kanura- gan, kau mungkin telah mumpuni. Apakah ilmu budi pekerti juga kaukuasai?” Tantri tertawa dan sekali lagi

meludahkan darah.

“Sudah, sudah, Anakmas Anengah! Kau tak usah meladeni dia.” Wara Huyeng mengusap keringat di dada Anengah dengan selendangnya. “Toh dia takkan lama di dunia ini. Mungkin pada penitisan berikutnya kalian berdua bisa melanjutkan debat ini.”

“Sayang sekali. Kau mau membunuhku?” tanya Tan-

tri.

“Kenapa tidak? Kau sama sekali tak pernah mengun-

tungkan kami. Tapi, untuk apa membuang tenaga me- ngurus nyawa kecilmu?” kata Wara Huyeng.

“Maksudmu?” tanya Tantri.

“Kami tak memerlukan tempat ini lagi. Kami akan pergi. Jika karmamu baik, mungkin kau masih bisa hi- dup. Jika tidak... yah... mungkin kau akan terkubur di sini. Hi hi hi hi... sesungguhnya aku ingin menciummu. Tapi... jijik, ah! Dan... tentunya Anakmas Anengah tak- kan mengizinkan aku berbuat begitu, bukan?”

Wara Huyeng memberi isyarat mundur. Emban La- yarmega segera keluar. Wara Huyeng menunggu. Tetapi Anengah tak kunjung melangkah. Memberi isyarat agar Wara Huyeng berangkat lebih dahulu.

Kemudian tinggal Anengah dan Tantri.

“Aku berkhianat bukan hanya kehendak diriku,” ka- ta Anengah pada Tantri. “Aku yakin ini semua kehen- dak dewata. Salah seorang murid Rahtawu sebetulnya adalah salah satu yang mempunyai hubungan erat den- gan penguasa Wilwatikta. Aku merasa bahwa orang itu adalah aku. Maka aku tempuh jalan ini. Jika memang dewata menghendaki aku muncul sebagai penerima wahyu kerajaan, maka pengkhianatanku ini akan me- rupakan tindakan dewata. Jika bukan, aku akan han- cur. Dan itu aku rela. Kau sendiri... cobalah keuntun- ganmu! Kalau memang tidak tahan, mungkin lebih baik kau bunuh diri.” Anengah melemparkan sepucuk cun- drik, keris kecil, ke dekat kaki Tantri. Kemudian dia ke- luar.

Sepuluh orang prajurit mendorong lempeng batu yang berfungsi sebagai pintu ruang itu. Di ujung lorong, Wara Huyeng dan Emban Layarmega menunggu.

“Tanda mata apa yang kauberikan padanya, Anak- mas?” tanya Wara Huyeng.

“Dia bersikeras mengatakan aku pengkhianat. Aku tak mengerti,” kata Anengah.

“Dia takkan punya kesempatan untuk berbicara ten- tang itu denganmu. Tempat ini akan kita tinggalkan. Semua orang akan pergi. Semua tawanan ditinggal dan disekap dalam masing-masing ruangan. Tak akan ada yang mengurus lagi.”

“Kurasa begitu juga bagus,” kata Anengah. “Kapan aku berangkat?”

“Kau, aku, Bibi Layarmega, dan serombongan penga- wal berangkat dahulu. Sekarang juga. Yang lain, dengan membawa berbagai perlengkapan, menyusul.”

“Apakah pasukan Wilwatikta di daerah-daerah yang kita lewati tak akan menyerang kita?” tanya Anengah.

“Karena itulah kita berangkat dalam banyak sekali rombongan kecil. Orang luar akan melihat kita hanya sebagai pedagang dan orang-orang bepergian saja. Ayo- lah.”

Malam itu memang  terlihat hal-hal luar biasa di puncak Trang Galih. Di puncak pegunungan kapur yang sangat terpencil itu terlihat ratusan nyala obor bergerak hilir-mudik. Dan bayang-bayang puluhan rom- bongan menyelinap di antara bayang-bayang lereng dan pepohonan.

Keesokan harinya, menjelang tengah hari, sekelom- pok orang berhenti, beristirahat di sebuah tempat ter- buka di luar hutan Taratap.

Mereka terdiri dari sekitar dua puluh orang. Agaknya dipimpin oleh seorang muda yang berpakaian mewah. Ada dua buah tandu. Yang pertama dipakai oleh seo- rang wanita yang berpakaian mewah dan cantik, yang kedua untuk sebuah kotak besar yang agaknya sarat oleh barang-barang. Orang lain yang agak menarik per- hatian adalah seorang wanita lagi yang berpakaian se- derhana, begitu sederhana hingga mirip prajurit. Bah- kan di ikat pinggangnya terselip dua bilah pedang pen- dek. Anggota rombongan lainnya tampak gagah-gagah, muda, dan perkasa. Dan mereka menyembunyikan sen- jata mereka di pelana-pelana kuda atau di balik kain mereka.

Inilah rombongan pertama dari Trang Galih. Ane- ngah, Wara Huyeng, dan Layarmega. Beserta pengawal mereka.

“Berapa hari lagi kita sampai Uteran, Bi?” Anengah mengipas-ngipaskan tutup kepala di depan dadanya yang bidang. Hawa memang panas.

“Mungkin tiga hari tiga malam lagi, Anakmas...” Wa- ra Huyeng tersenyum memberi isyarat minta air pada Emban Layarmega. “Kau tidak bosan bukan, Anakmas? Toh setiap malam aku yang menemani...”

“Hutan Taratap ini terkenal banyak harimaunya,” ka- ta Layarmega. “Harap Raden berwaspada nanti jika kita telah mulai berada di dalamnya.” “Jangan khawatir, Anakmas Anengah ini maka- nannya harimau, kok, hi hi hi hi,” sahut Wara Huyeng. “Maksudku... ya dua-duanya. Dia suka bersantap hari- mau. Dan harimau juga suka bersantap dia, hi hi hi ”

Kegenitan Wara Huyeng mengisyaratkan bahwa yang dimaksudkannya dengan harimau adalah dirinya.

Layarmega memalingkan kepala. Ia memang biasa bergaul dan membawahi wanita-wanita yang suka menghibur pria-pria hidung belang. Tetapi berhadapan dengan wanita hidung belang yang selalu lapar ini sungguh keterlaluan.

“Yang hamba maksud juga harimau berkaki dua,” kata Layarmega kemudian. “Hamba dengar hutan ang- ker itu juga dihuni oleh gerombolan perampok yang di- bawahi oleh Kiai Sendang. Perampok itu begitu ber- kuasa dan ditakuti hingga ia bahkan bagaikan raja kecil di tengah hutan.”

“Mengapa tentara kerajaan tak membasminya, Bibi? Juga... berani benar ia menunjukkan kekuatan begitu dekat dengan Trang Galih? Apakah orang-orang kita membiarkan saja dia berkiprah di sini? Dan jika orang

tahu bahwa daerah ini berbahaya, mengapa masih saja banyak orang yang lewat di sini?” tanya Anengah, me- nuding pada jalan setapak masuk hutan yang tampak- nya sangat sering digunakan orang lewat.

“Tentara kerajaan tak terlalu memperhatikan peram- pok-perampok, selama mereka tidak berontak. Lagi pu- la, Kiai Sendang sangat sukar ditangkap. Pernah diada- kan penggerebekan. Pasukannya terkepung. Mereka mundur ke mata air. Dan tiba-tiba lenyap. Dan bagi pa- ra saudagar... jalan ini jalan terpendek menuju Pantai Selatan. Kalau tidak harus berputar melewati punggung Trang Galih Utara atau lewat Watu Baris. Di samping jalanan jadi sangat jauh, kemungkinan bahaya peram- pokan juga ada. Sedang Kiai Sendang terkenal adil. Jika ia telah diberi pajak jalan, maka siapa pun bisa lewat dengan selamat. Tak banyak...” Layarmega memandang peti yang berada di tandu. “Biasanya ia hanya minta se- persepuluh dari bawaan kita. Cukup adil, bukan?”

“Aku juga telah mendengar tentang Kiai Sendang. Dia sesungguhnya tidak terlalu sakti. Tetapi anak buah- nya sangat setia padanya serta mengetahui sedikit ilmu perang. Mengapa kita biarkan dia hidup? Itu hanya sia- sat,” kata Wara Huyeng. “Daerah Pantai Selatan selalu merupakan daerah yang dijaga kuat oleh pasukan Wil- watikta. Jika mereka mendengar Kiai Sendang ditum- pas, mereka akan curiga. Siapa yang berani dan mampu menumpasnya. Sekarang pertimbangan itu mungkin sudah tak berlaku lagi. Dengan Ratu junjunganku su- dah menanam kekuasaan di Selatan, maka agaknya be- liau merasa yakin bahwa daerah Selatan bisa kita kua- sai. Tak ada yang ditakutkan lagi.”

“Aku jadi ingin segera bertemu orang itu,” kata Ane- ngah. “Pasti harta timbunannya dapat kita gunakan nanti ”

“Benar juga,” kata Wara Huyeng. “Sekalian untuk berlatih. Tapi... kau jangan terlalu letih lho, Anakmas...

nanti bertemu harimau tak bisa melayani!”

“Hayo kita berangkat lagi, Bibi... kurasa kita sudah cukup beristirahat,” kata Anengah, berdiri.

Orang-orang pun bersiap-siap untuk berangkat.

Tak lama mereka telah beriringan memasuki hutan Taratap. Paling depan tiga orang pengawal yang tak sungkan-sungkan lagi berjalan dengan pedang terhu- nus. Kemudian Anengah di atas punggung kudanya. Di belakangnya lima orang pengawal lagi, disusul oleh tan- du yang membawa Wara Huyeng dan tandu yang mem- bawa peti barang-barang. Sisa rombongan dipimpin Layarmega.

3. PERISTIWA SENDANG AMPAL

MAKIN lama mereka makin jauh memasuki hutan. Dan sesungguhnya perjalanan itu cukup nyaman. Jalan da- tar. Lebar. Pepohonan rimbun hingga mereka terlindung dari sengatan matahari. Sekali-sekali memang terdengar auman harimau, tetapi rombongan itu memang rom- bongan orang-orang yang tak takut apa pun hingga be- berapa di antara mereka malah berteriak-teriak me- manggil-manggil hewan buas yang tak terlihat itu.

Rasanya perjalanan tersebut tak habis-habisnya.

Anengah meminggirkan kudanya dan membiarkan rombongannya berlalu untuk bisa berbicara dengan Layarmega.

“Bibi, masih berapa lama lagi kita harus menyebe- rangi hutan ini?” tanya Anengah.

“Jika kita tak beristirahat lagi, menjelang malam kita sampai ke desa Tapis. Sesungguhnya itu masih daerah hutan, desa orang-orang yang mengerjakan hasil hutan ini. Di sana sudah aman untuk bermalam. Bahkan orang-orang Kiai Sendang takkan mengganggu lagi. Dan tengah hari besok kita sampai ke tepi hutan yang sebe- narnya, desa Wirung. Kemudian kita akan melewati ke- dudukan Akuwu Plaosan. Dan dari sana ke Uteran su- dah tidak sulit lagi.”

“Hmmm, mungkin karena memikirkan Kiai Sendang maka pikiranku dan pikiran orang-orang malah kacau oleh keadaan hutan yang sunyi sepi ini. Bibi, apakah ki- ta sudah hampir mencapai daerah perampok itu?”

“Kukira ya... itu pohon randu merah yang menanda- kan jalan ke arah dari mana kita datang. Setelah belo- kan di depan akan ada mata air Ampal. Tempat itu ada- lah persimpangan jalan antara jalan ke Uteran dan ke Rakerti. Di situlah biasanya utusan Kiai Sendang da- tang untuk minta pajak jalan: Dari mata air itu, yang juga disebut Sendang Ampal, penguasa hutan itu mem- peroleh namanya.”

“Hm. Kalau begitu, percepat jalan orang-orang ini, Bibi... biar kita bisa beristirahat agak lama di mata air itu.”

“Baiklah, Raden ”

Layarmega memberi isyarat dengan suatu suitan.

Dan rombongan itu maju lebih cepat.

Ketika akhirnya mereka sampai ke tempat yang di- katakan oleh Layarmega, mereka semua tertegun.

Jalan setapak yang mereka lalui saat itu menurun. Dan pepohonan agak jarang. Batu-batu cadas tampak. Serta sebuah lembah kecil terbentang mengikuti aliran sebuah anak sungai yang berawal pada Sendang Ampal. Suasana tiba-tiba sejuk dan damai!

Di pinggir anak sungai, dekat kolam besar berair jer- nih yang bernama Sendang Ampal itu, terbentang pa- dang rumput hijau segar. Dan di sana berdiri sebuah pendapa besar, berdiri bagaikan panggung. Lantainya sekitar satu depa dari tanah. Tiang-tiangnya kayu ber- ukir. Atapnya atap sirap yang sangat jarang terlihat be- gini jauh dari ibukota. Di sisi padang rumput terlihat beberapa buah warung yang mengepulkan asap tanda mereka pun siap dengan makanan dan minuman ha- ngat.

“Hei, inikah tempat itu?” bisik Anengah yang meng- hentikan kudanya di ujung jalan yang tiba-tiba bagai- kan menukik ke padang rumput itu. Layarmega telah memacu kudanya hingga berdampingan dengan kuda Anengah.

“Eh, rasanya... rasanya seperti di alun-alun sebuah kota raja!” bisik balik Layarmega.

“Mengapa kalian berbisik-bisik?” tiba-tiba Wara Hu- yeng telah berada di punggung kuda di belakang Ane- ngah, menggelendot mesra pada pemuda itu. “Lho! Kita ada di mana?”

Layarmega cepat melompat turun dari kudanya, memberi isyarat agar anak buahnya tetap di tempat dengan waspada dan tidak berebut ke depan untuk me- lihat.

Anengah pun turun dari kuda dengan kikuk, semen- tara Wara Huyeng pindah duduk ke pelananya.

“Inikah... Sendang Ampal?” tanya Anengah sekali la-

gi.

“Tempatnya, ya. Hamba ingat sekali. Tikungan ini.

Lapangan ini. Sendang itu. Dan batu cadas putih di sa- na itu... itulah pintu jalan ke Uteran. Tapi... biasanya tak ada apa-apa di tanah lapang itu. Kecuali bekas- bekas api unggun serta sampah. Hamba memang sudah lama tidak melewati daerah ini, tetapi dari beberapa orang yang lewat sini akhir-akhir ini tidak hamba de- ngar berita yang aneh!”

“Tempat ini begitu bersih dan ramah... seolah-olah menunggu kita,” kata Wara Huyeng. “Seolah-olah setiap saat akan terdengar gamelan yang menyambut keda- tangan tamu... kita-kita ini ”

Bagaikan mendengar kata-kata Wara Huyeng, tiba- tiba saja terdengar suara gamelan. Gamelan selamat da- tang!

Entah dari mana. Di lapangan di bawah itu sama se- kali tak terlihat manusia.

“Mungkin jebakan,” bisik Layarmega.

“Siapa akan berhasil menjebak orang-orang Trang Galih?” dengus Wara Huyeng.

“Bibi Layarmega memimpin semua orang ke tengah lapangan sana. Aku akan mengitar ke kiri. Bibi Wara Huyeng mengitar ke kanan. Jika menemui hal-hal yang mencurigakan segera memberi isyarat,” kata Anengah. Dan tanpa menunggu jawaban ia telah berlari ke arah kiri. Wara Huyeng pun tiba-tiba lenyap. Layarmega me- lompat ke kudanya, memberi isyarat agar rombongan itu maju terus, dan turun.

Anengah bergerak cepat sekali. Walaupun kini ia sangat mengandalkan Butir Hitam Tartar, tetapi segala ilmunya masih utuh. Bagaikan bayangan ia melesat da- ri pohon ke pohon, berlompatan dari batu ke batu den- gan menggunakan Sura-caya. Ia merasa menemukan sumber bunyi gamelan yang didengarnya, tetapi saat sampai di tempat itu ia tak menemukan apa-apa. Agak- nya ia telah mengitari lembah kecil itu hingga ke sebe- rang. Di bawahnya kini terlihat jalan yang menuju Ute- ran.

“Tak ada apa-apa, Anakmas?” terdengar suara mer- du Wara Huyeng. Anengah terkejut. Wanita berpakaian serba biru itu ternyata telah bertengger di dahan pohon di atasnya. Anengah menjejak bumi dan badannya me- luncur ke atas, hinggap di samping Wara Huyeng. 

“Bibi juga tak menemukan apa pun?” tanya Ane- ngah.

“Tidak. Aku perkirakan... gamelan itu mungkin ber- ada di dalam tanah. Di salah satu gua. Mungkin daerah ini seperti Trang Galih. Kemudian gua itu mempunyai cabang, lorong-lorong bawah tanah. Atau diberi bersalu- ran seperti pipa, dan dimunculkan di berbagai tempat. Mungkin di celah batu. Atau di pohon-pohon berlubang. Atau di semak-semak, sehingga suaranya seperti keluar dari berbagai penjuru. Kauperhatikan lembah yang me- lengkung ini? Suara akan sangat mudah disalurkan ke mana pun. Tanpa harus berteriak. Coba. Panggil Layar- mega tanpa kau harus berteriak. Lebih keras sedikit da- ri kita berbicara ini.”

“Bibi Layarmega!” Anengah mengikuti petunjuk Wara Huyeng. Lebih keras dari berbicara biasa. Lebih pelan dari berteriak. Dan jauh di bawah mereka, terlihat La- yarmega yang sudah berada di lapangan di pusat lem- bah menghentikan kuda. Berputar-putar mencari-cari.

“Apakah Bibi menemukan hal-hal yang aneh?” tanya Anengah.

“Tidak, Raden!” jelas Layarmega berteriak. Keras ter- dengar di tempat Anengah dan Wara Huyeng. “Di ma- nakah engkau, Raden?”

“Biarkan orang-orang itu beristirahat, Bibi... beri me- reka makan dan minum!” kata Anengah.

“Tak usah repot-repot... makan dan minum telah kami sediakan. Tamu macam apa kalian ini hingga pe- nuh curiga?” sebuah suara terdengar menggema memo- tong kata-kata Anengah. Anengah dan Wara Huyeng terkejut. Suara itu begitu dekat seolah yang berbicara ada di samping mereka. Tetapi tak ada seorang pun di situ.

“Terima kasih untuk jerih payah tuan rumah,” Wara Huyeng menyahut. “Maafkan kelancangan kami... tetapi kiranya kami juga berhak bertanya... tuan rumah ma- cam apa yang menyembunyikan diri dari tamunya?”

“Tentu tuan rumah yang menganggap tamunya tak ada harganya untuk ditemui, hi hi hi hi,” suara itu ter- tawa puas sekali.

Anengah menuding ke bawah. Rombongan Layarme- ga telah mulai beristirahat. Duduk-duduk di pendapa besar itu atau membasuh muka di anak sungai. Layar- mega masih di punggung kudanya yang berjalan hilir- mudik. Ada yang aneh. Terlihat sekali bahwa mereka yang di bawah sana tak ikut mendengar suara yang berbicara dengan Wara Huyeng itu. Wara Huyeng men- gerti keheranan Anengah. Ia memberi isyarat agar me- reka secepatnya turun ke tengah lapangan sana. Anen- gah mengangguk. Ia mengambil ancang-ancang untuk berlari ke bawah.

“Bagaimana Tuan tahu kami tak ada harganya di mata Tuan? Bukankah tempat ini adalah anugerah de- wata bagi mereka yang sedang bepergian?” tanya Wara Huyeng. Dan begitu kata-katanya habis ia pun melesat ke bawah diikuti oleh Anengah.

Mereka hampir bersamaan tiba di pendapa besar itu. Langsung masuk dan melihat berkeliling. Para anggota rombongan sangat terkejut saat Anengah dan Wara Hu- yeng tiba-tiba muncul di tengah pendapa.

Tapi tak ada yang mencurigakan di situ.

Lantai pendapa terbuat dari papan-papan kayu yang halus dan berwarna hitam mengkilap. Di bawah lantai terlihat bersih, kosong. Beberapa orang anggota rom- bongan berdiri menunggu dan kebingungan di depan warung-warung yang menghidangkan makanan tapi tak ada yang menunggu.

Wara Huyeng dan Anengah bergegas memeriksa wa- rung-warung itu. Satu-satunya yang mencurigakan ha- nyalah tiadanya orang saja.

“Bagaimana? Apakah tuan rumah masih juga belum sudi menampakkan diri?” tanya Wara Huyeng.

Dari bawah sini ternyata ia harus sedikit menge- rahkan tenaga untuk berbicara.

Tak ada jawaban.

“Seperti yang kucurigai,” bisik Wara Huyeng pada Anengah. “Mungkin yang berbicara tadi berasal dari ba- wah sini. Sekarang ia tak berani bersuara, takut kalau kita bisa menemukannya.”

“Tapi... tidak ada yang meninggalkan tempat ini dari tadi,” bisik Anengah.

“Suruh mereka memainkan barisan Hasta Kartika!”

bisik Wara Huyeng.

Anengah mengangguk. Hasta Kartika adalah salah satu ilmu perang ajaran khusus Juru Meya. Sama se- kali bukan sadapan dari ilmu-ilmu Rahtawu. Anengah merasa pilihan Wara Huyeng sangat tepat dan membuk- tikan kecepatan daya pikirnya. Ilmu Hasta Kartika ada- lah ilmu khas. Belum pernah diajarkan di suatu pergu- ruan atau oleh aliran kekuatan mana pun. Juru Meya menciptakan ilmu itu saat pasukan Bhre Wirabhumi terdesak ke laut, dan dengan jumlah prajurit yang sa- ngat sedikit ia harus melindungi junjungannya mundur. Maka ia memecah pasukannya yang tinggal sedikit menjadi dua kelompok yang masing-masing membentuk lingkaran. Kedua lingkaran itu masing-masing memiliki empat kedudukan tangguh untuk menyerang dan mempertahankan diri. Keduanya saling berputar, saling menyelinap, berpecah dan berpisah, cepat bergabung kembali dalam gerakan yang setiap langkahnya diperhi- tungkan dengan teliti. Pada puncak keampuhannya, se- tiap titik yang membentuk rangkaian delapan ‘bintang’ itu akan mampu paling tidak menahan pasukan yang lebih besar jumlahnya. Dan jika pasukan lawan tidak berhati-hati, bukannya tidak mungkin pasukan yang sepuluh kali lebih besar hancur oleh pasukan yang le- bih kecil.

“Bibi Layarmega! Perintahkan orang-orang ini mem- bentuk Hasta Kartika. Sekarang!” Mendadak Anengah melompat ke lapangan dan berteriak.

Layarmega agaknya dari tadi juga bercuriga. Kare- nanya tanpa bertanya-tanya lagi ia mengambil sebilah peluit bambu dari selipan ikat pinggangnya. Dan ia me- niup keras-keras. Sekali pendek. Tiga kali panjang. Ber- ulang-ulang.

Serentak terjadi keributan. Semua anggota rombong- an berlarian mengelilingi Layarmega. Semua meninggal- kan apa saja yang sedang mereka kerjakan. Makan. Atau tiduran. Atau mandi. Atau apa saja.

Dan begitu terbentuk lingkaran mereka memecah di- ri lagi. Berhamburan seperti tak tentu arah. Untuk ber- gabung lagi. Tak beraturan tampaknya. Tetapi meng- ikuti aturan tertentu. Kecuali satu orang.

Orang itu langsung terlihat nyata di mata Anengah, Wara Huyeng, dan Layarmega. Pakaian orang-orang rombongan itu memang pakaian yang umum dipakai orang bepergian. Sulit membedakan mereka. Tapi orang ini gerakannya selalu terlambat. Selalu menirukan orang lain. Dan selalu mendahului seseorang untuk menduduki suatu titik tertentu.

“Berhenti!” teriak Anengah. Semua berhenti. Mematung.

“Kau!” Anengah menuding orang yang dicurigainya, sementara Wara Huyeng telah melompat ke atas atap pendapa untuk bisa melihat keadaan sekeliling lebih je- las.

“Nun? Hamba, Raden?” Orang itu celingukan.

Dia bertubuh sedang. Memakai topi bambu. Jenggot dan kumisnya panjang, putih dan hitam bercampur baur. Atau, setelah Anengah memperhatikan lebih teliti, jenggot itu sesungguhnya putih tetapi terkena lumpur hingga kehitaman gelap.

“Siapa namamu?” tanya Anengah.

“Nun, hamba, Raden? Emhh... hamba Ki Jata, Nun.

Ya, hamba Ki Jata.” “Siapa namaku?”

Orang itu terlihat tertegun. Kemudian tertawa ter- kekeh-kekeh. “Waduh, waduh! Gara-gara Raden lupa nama Raden semua orang Raden paksa berlarian se- perti itu... wah, wah, wah! Maafkan hamba, Raden... hamba sedang... sakit... perut!”

Orang itu betul-betul memegang perutnya dan bebe- rapa orang yang dekat dengannya mendengar suara memberebet serta mencium bau yang sangat menusuk hidung. Orang itu pun beranjak untuk berlari ke pinggir lapangan.

Tetapi baru ia melangkah beberapa langkah, Ane- ngah sudah berada di depannya.

“Kau bukan rombongan kami!” kata Anengah dingin. “Maaf, Raden, perutku sakit!” kata orang itu. “Katakan dulu siapa kau!” bentak Anengah.

“Perutku sakit!” Orang itu menggeser ke kiri dan ti- ba-tiba berputar untuk lari lurus ke depan dua langkah serta melompat ke kanan satu langkah.

Anengah yang memang telah berjaga-jaga untuk me- nahan lari orang itu jadi tercengang. Gerakan tadi ada- lah gerakan Sura-caya yang paling sederhana. Toh orang itu lolos dari sergapannya dan telah berada di be- lakangnya! Layarmega segera menghadang dibantu oleh lima orang pengawalnya. Sekali lagi Anengah terce- ngang. Orang itu tampaknya berlari mundur namun ta- hu-tahu sudah berada di balik barisan Layarmega.

Wara Huyeng yang melihat dari atas dengan jelas mengamati betapa gerakan orang itu betul-betul lang- kah Sura-caya. Sangat sederhana. Tapi sangat ampuh. Lebih sederhana dan lebih ampuh dari yang pernah dili- hatnya. Baik yang dilakukan oleh Resi Rhagani, atau- pun Anengah. Ataupun sewaktu Nagabisikan meniru- kan gerakan-gerakan tersebut.

Siapakah orang ini?

Wara Huyeng langsung turun melayang dari atap pendapa dan menghadang jalan lari orang itu ke tepi hutan.

“Ki Sanak, berhentilah sejenak,” katanya sambil me- lepas selendang biru yang tadi menjadi ikat pinggang- nya.

“Maaf, Gusti, perutku sangat sakit... mungkin keba- nyakan sambal,” kata orang itu, kakinya terangkat se- belah.

“Hanya sebentar, kok!” kata Wara Huyeng. Badannya bergerak ke arah ke mana orang itu diperkirakannya akan bergerak, sementara selendangnya meluncur ke arah ke mana orang itu menurut perkiraan takkan mungkin bergerak.

Pertimbangannya cukup jitu. Orang itu entah bagai- mana membuat gerakan yang rasanya tak mungkin, dan bergerak justru ke arah di mana selendang telah menghadang. Sekilas terlihat orang tersebut agak ter- tegun, tetapi gerakannya tak terputus saat ia berubah haluan.

“Sebentar saja, Ki Sanak.” Wara Huyeng gembira akan keberhasilan pertamanya ini, kemudian bergerak lagi sambil berseru pada Layarmega dan Anengah, “Anakmas, jaga kedudukan Swarloka, Layarmega, ke- dudukan Burloka!”

Anengah dan Layarmega bergegas bergerak menuju kedua kedudukan tersebut. Dan kini benar-benar gerak orang tersebut dipersempit. Wara Huyeng dan selen- dangnya bagaikan dua orang yang mengepung muka belakang sementara Layarmega dan Anengah mengha- dang dari kiri dan kanan.

“Jangan terlalu memaksa, Gusti,” orang itu berkata dengan suara memelas. “Perutku betul-betul sakit!”

“Aku hanya ingin bertanya sebentar,” kata Wara Hu- yeng dengan sedikit nada bangga.

“Waduh, aku tak tahan!” Tiba-tiba orang itu menja- tuhkan diri, jongkok. Dan saat Wara Huyeng terheran- heran, orang tersebut telah berdiri, dan sebuah benda meluncur cepat ke arah Wara Huyeng. “Awas!” teriak orang itu.

Wara Huyeng sangat terkejut. Ia cepat menyingkir dan mengerahkan tenaga di kedua tangannya. Benda itu telak tertangkap oleh tangannya. Dan ia kembali terkejut. Baik benda itu maupun tenaga lemparannya ternyata sama sekali tak berbahaya. Hanya... benda ter- sebut terasa basah dan... sangat bau sekali!

“Wuah! Kurang ajar!” Wara Huyeng memaki dan saat itu juga muntah karena tak tahan akan bau tadi. Ter- nyata yang ditangkapnya adalah kain orang tersebut yang telah mempergunakan kesempatan selagi Wara Huyeng kecipuhan untuk melesat melayang meluncur ke tepi lapangan dan menghilang di antara pepohonan di hutan. Agaknya orang itu benar-benar sakit perut. Itu terbukti dari kain yang basah dan tadi dipegang oleh Wara Huyeng.

Kalang kabut Wara Huyeng memaki-maki dan berlari ke anak sungai, mencuci tangan dan selendangnya. Bahkan akhirnya dengan geram selendangnya itu di- buang ke anak sungai. Sementara itu Layarmega telah memerintahkan anggota rombongannya mengejar. Ane- ngah sendiri telah berlari mendahului. Tapi beberapa saat kemudian semua berkumpul di depan pendapa tanpa hasil.

“Bangsat orang itu! Huh! Aku ingin muntah lagi se- tiap kuingat bau kainnya!” geram Wara Huyeng. Layar- mega cepat memberinya minyak harum.

“Siapakah dia?” tanya Anengah. “Apakah ia Kiai Sen- dang?”

“Rasanya bukan, Raden... Kiai Sendang tidak setua itu,” Layarmega menyahut. “Kita harus waspada... ja- ngan-jangan...”

“Makanan itu tidak beracun,” Wara Huyeng melan- jutkan kata-kata Layarmega. “Orang tadi begitu sakti. Tak perlu memakai akal selicik itu.”

“Dia menguasai Sura-caya dengan baik. Tapi aku be- lum pernah melihatnya,” kata Anengah. Ia menghenti- kan kata-katanya. Di kejauhan, di jalan masuk ke lem- bah ini, muncul pemandangan yang agak aneh. Seorang pemuda berjalan terhuyung-huyung menggendong seo- rang wanita.

“Ayo, ayo, ayo... cepat, cepat, cepat... bisa-bisa kita kehabisan makanan nanti!” teriak wanita itu, duduk seenaknya di bahu si pemuda dengan kedua kaki ber- juntai di dadanya. Tangan si wanita berpegangan pada rambut si pemuda yang awut-awutan dan sebagian be- sar menutupi muka.

“Cepat, aku bilang!” wanita itu memukul-mukul ke- pala si pemuda. “Lihat. Begitu banyak orang di sini. Semua rakus-rakus, lagi! Ayo. Cepat!”

Si pemuda terpaksa berlari cepat. Dan di pinggir anak sungai hampir ia terjatuh. Sewaktu ia akan meni- kung tiba-tiba si wanita menyuruhnya berhenti.

“Tunggu, tunggu, tunggu... lihat, lihat, lihat! Itu ada kain, waduh, masih bagus! Ada selendang, lagi. Mung- kin sudah dibuang! Turunkan aku!”

Si pemuda jongkok. Wanita itu melompat turun dan dengan gembira menghambur masuk sungai mengambil kain bau orang tadi dan selendang biru Wara Huyeng yang tersangkut di semak-semak air.

“Mhhh... kain ini masih lumayan untuk si Tole, dan selendang ini cukup bagus buat si Genduk! Hi hi hi... hari ini aku sungguh beruntung ya, Le! Hayo, jemur, sana!” si wanita memeras kain tadi dan melemparkan- nya pada si pemuda. Kain basah itu tepat mengenai ke- pala si pemuda dan menutupinya bagaikan kerudung. Melihat ini si wanita tertawa terkekeh-kekeh. “Hi hi hi hi... kamu jadi mirip orang-orang Hindustan. Tahu ti- dak? Tapi... ya lumayan. Biar di situ saja. Biar otakmu agak dingin. Selendangnya untuk aku saja, ya? Buat membungkus oleh-oleh untuk kakekmu, hi hi hi...”

Dengan pengalaman berurusan dengan orang yang tadi, maka Layarmega semakin waspada. Ia telah mem- beri isyarat agar rombongannya bersiap-siap, sebagian mengelilingi kotak harta. Sebagian lagi berjaga di sekitar Wara Huyeng dan Anengah. Mata Wara Huyeng yang berpengalaman melihat bahwa walaupun ia curiga si wanita itu menyembunyikan sesuatu, ia tak bisa meli- hat si wanita memiliki ilmu tinggi.

Si wanita dan si pemuda tak menggubris mereka. Sambil bernyanyi-nyanyi tak keruan si wanita mengam- bili makanan dan membawanya ke pendapa, ke sudut yang berseberangan dengan tempat Wara Huyeng dan lainnya.

“Wuah! Kiai Sendang kali ini keterlaluan! Sambalnya begitu pedas!” kata si wanita setelah makan beberapa suap sementara si pemuda menunggu, duduk di pinggir dengan kain basah di kepalanya. “Mungkin ada tamu yang tak tahu diri hingga Kiai Sendang gusar. Kita kena getahnya, nih! Pasti ada tamu yang sudah makan tidak bayar, hi hi hi... atau tidak segera pergi, hi hi hi... dasar tamu tidak tahu aturan!”

Kata-kata terakhir itu diucapkan begitu keras hingga Wara Huyeng mengerti bahwa merekalah yang dimak- sud. Ia memberi isyarat pada Layarmega untuk bertin- dak.

“Maaf, Nyai... kami orang baru di sini... bagaimana- kah sesungguhnya peraturan di sini?” Layarmega men- dekat dan bertanya. “Ho ho ho ho, kamu bertanya, ya?” Si wanita berpa- ling pada Layarmega. Dan kini Wara Huyeng melihat je- las wanita itu. Wajahnya cantik. Tapi usianya tak bisa ditebak. Rambutnya hitam tebal. Kain yang melilit tu- buhnya sangat kasar dan sederhana.

“Benar, Nyai.” Layarmega tak menghiraukan kekasa- ran kata-kata wanita itu.

“Memangnya... kita pernah berkenalan?” si wanita bertanya.

“Belum. Tetapi sebagai sesama orang dalam perjala- nan sudah selayaknya kita saling sapa, bukan?” sahut Layarmega.

“Ada peraturan seperti itu?” Si wanita mengernyitkan kening.

“Bukan peraturan. Suatu kebiasaan.” Layarmega masih bersabar.

“Wuah! Aku sih tidak biasa.” Si wanita melanjutkan makannya. “Aku biasa kemari. Kiai Sendang kenal aku. Aku biasa makan makanannya. Itu kebiasaanku. Kamu dari mana?”

“Kami dari Kuripan. Akan ke Pacitan. Nyai sendiri dari mana?” tanya Layarmega.

“Apakah juga sudah kebiasaan orang yang bepergian untuk berdusta?” Si wanita tertawa.

“Siapa yang berdusta?”

“Kamu. Jika kalian datang dari Kuripan, pasti sam- pai di sini pagi tadi. Kapan pun kalian berangkat. Lagi pula, jika kalian dari Kuripan, pasti pembawa tandu itu sudah digantikan beberapa kali. Kulihat yang bahunya lecet oleh pikulan tandu hanya mereka berdelapan.”

“Ah. Mata Nyai sungguh tajam. Mata kami sungguh buta. Mungkinkah Nyai salah seorang orang besar yang seharusnya kami hormati?” Layarmega benar-benar ter- kejut. Pembicaraan mereka terputus. Di ujung jalan mun- cul beberapa orang berkuda. Tujuh orang. Mereka ber- henti sejenak di ujung jalan yang menuju Uteran. Ke- mudian berjalan pelan menuju tempat tambatan kuda.

Dua penunggang kuda terdepan agaknya wanita yang berpakaian ringkas. Yang membingungkan adalah mereka ini memakai kudung kepala tebal, dan seorang di antaranya membawa sebatang tombak dengan ujung sebangsa pedang yang melengkung besar. Lima pe- nunggang kuda lainnya pria yang bertampang dan ber- perawakan kasar, kecuali seorang yang berpakaian agak mewah bagaikan seorang saudagar.

Kedua wanita tadi turun dari kuda dan berjalan ke pendapa diiringi oleh pria yang berpakaian seperti sau- dagar.

“Selamat siang, Tuan-tuan, mohon maaf kami minta kesediaan Tuan-tuan berbagi tempat peristirahatan ini dengan kami,” salah seorang wanita berkerudung itu berkata kepada rombongan yang telah ada di pendapa.

“Wuah! Dunia sungguh terbalik! Sekarang ada orang begini sopan! Hi hi hi... Tapi yang sopan belum tentu ju- jur, lho! Siapa kalian?” tanya si wanita yang sedang ma- kan itu.

“Kami datang dari daerah sekitar Rakerti,” sahut si pembawa tombak. “Namaku Madari. Ini pelayanku, Ge- mut. Dan ini Ki Gebang. Kami semua perampok. Dan kami ingin bergabung dengan Kiai Sendang.”

Beberapa orang sangat tercengang mendengar peng- akuan yang terus terang dan lantang itu. Bahkan si wa- nita sampai beberapa saat menghentikan suapan ta- ngannya di depan mulut yang sudah ternganga untuk mencaplok suapan itu. Wara Huyeng dan Anengah juga terperangah hingga tak terasa mereka beringsut men- dekat. Sementara Layarmega tiba-tiba merasa seolah- olah pernah kenal dengan kedua orang tersebut. “Apakah Tuan pernah tinggal di Kuripan?” tanya La-

yarmega.

“Benar. Dan aku juga pernah melihat Anda,” kata Madari. “Nama Layarmega terkenal di Kuripan. Aku ha- nya seorang pengembara yang kebetulan lewat.”

“Ah, ini dia baru orang yang suka berterus terang,” kata si wanita aneh. “Aku yakin Kiai Sendang akan se- nang menerimamu.”

“Maaf, apakah Bibi ada hubungan dengan Kiai Sen- dang?” tanya Madari yang tak lain adalah Madri. Me- reka memang Madri, Gemut, dan Begang, beserta empat orang lagi dari Rakerti. Dulu itu, Madri dan Gemut me- mang melanjutkan perjalanan ke desa Rakerti. Madri dengan ilmu silat yang tak berlambarkan tenaga sakti berhasil menguasai desa itu.

Tetapi sejak semula tujuannya bukan itu. Ia tahu ci- ta-citanya semula, untuk menjadi orang kedua di Wil- watikta jika ‘saudaranya’ naik tahta, sudah musnah dengan musnahnya kesaktiannya. Ia ingin membukti- kan bahwa tanpa kesaktian, dengan otak prajuritnya saja, ia akan bisa mengukir nama. Dan ia berpikir bah- wa dengan bergabung pada gerakan Dewi Candika ma- ka ia tak terlalu berkhianat pada garis nasib yang di- ukirkan Sang Guru. Bahkan mungkin, di penghujung cerita dirinya nanti, pada saat di Wilwatikta hanya ting- gal dua kekuatan raksasa, yang satu gurunya dan yang lain adalah Dewi Candika tempat ia sementara berna- ung, ia dapat kembali kepada Sang Guru dan ikut mem- permudah jalan ke kemenangan akhir. Ia harus mulai dari bawah. Mula-mula ia ingin mendirikan gerombolan perampok. Namun itu terlalu kecil untuk bisa menjadi terkenal. Dari Ki Begang yang saudagar ia mendengar tentang Kiai Sendang, perampok hutan Taratap yang agaknya sudah terkenal dan makmur hingga tidak terla- lu giat lagi. Mungkin jika ia bergabung dengan gerombo- lan perampok itu akhirnya ia bisa mengendalikannya untuk kepentingannya. Ki Begang tak punya petunjuk bagaimana harus bertemu dengan Kiai Sendang yang memang akhir-akhir ini tak pernah memunculkan diri. Tetapi dengan membawa sikap menantang seperti ini, Madri, yang kini memakai nama Madari, yakin ia dapat mengundangnya keluar.

“Apa? Apa aku ada hubungan dengan Kiai Sendang? Hi hi hi hi,” wanita itu tertawa. “Kau telah berlaku jujur, Genduk! Ketahuilah bahwa Kiai Sendang itu anakku, hi hi hi ”

Pernyataan ini tentunya membuat kaget semua orang. Dan sekilas beberapa orang langsung memperha- tikan si anak muda yang dari tadi diam, duduk dengan menunduk, dengan kain basah di atas kepalanya.

“Maaf, hamba dengar Kiai Sendang sudah cukup be- rumur. Rasanya tak mungkin jika Bibi punya putra be- liau,” kata Madari setelah mendapat isyarat gelengan kepala kecil dari Ki Begang.

“Tentu, tentu, tentu. Aku hanya mempermainkanmu, tahu tidak? Hi hi hi hi,” si wanita tertawa.

“Mengapa?” Madari tercengang.

“Karena orang jujur memang selalu jadi permainan orang yang tidak jujur, hi hi hi,” si wanita tertawa ter- pingkal-pingkal. “Makin tidak jujur orang, makin jago ia mempermainkan orang lain. Lihat rombongan orang- orang tak berguna ini. Mereka mengira bisa memper- mainkan Kiai Sendang dengan makan tanpa bayar!”

“Kami tak bermaksud seperti itu!” sela Layarmega. “Ah. Kau pernah tidak jujur, mengapa aku harus

percaya padamu?” Wanita itu mengusap mulutnya de- ngan kain yang ada di kepala si pemuda. Kemudian di- lemparkannya kain itu sembarangan ke kepala si pe- muda yang terus saja tunduk dengan rambut terjurai tak keruan menutupi muka. “Dengar, Madari. Coba li- hat mukamu. Mungkin aku bisa menjodohkan kau de- ngan Kiai Sendang. Dia termasuk mata keranjang, kok.” “Kalau itu syaratnya, tidak,” sahut Madari tegas, me- mutar tombaknya. Tombak itu memang baru dan hanya buatan pandai besi desa, namun cukup mantap di ta- ngannya. “Jika ada orang melihat mukaku, salah satu

mesti mati. Dia atau aku.”

“Wuah, hebat sekali! Apakah mukamu begitu cantik, he, Genduk? Ah. Jangan jual mahal, lho....” Si wanita tertawa lagi.

“Mohon Bibi jangan permainkan aku. Di mana ham- ba bisa bertemu Kiai Sendang?” tanya Madari.

“Apakah kau ada harganya bertemu dia? Jangan- jangan pengalamanmu hanya mencuri ayam dan kau sudah berani menyebut diri perampok!”

“Apa Bibi ingin aku merampok Bibi?” Tiba-tiba tom- bak bergerak cepat. Dua kali gerakan. Tahu-tahu leher si wanita aneh sudah dilingkari ujung tombak itu. Si wanita hanya berseru sedikit, tapi sempat memberi isyarat agar si pemuda tak bergerak. Di mata Wara Huyeng, Anengah, dan Layarmega, gerakan tombak itu lumayan cepat, di atas rata-rata kecepatan seorang pra- jurit utama, namun tidak cukup sakti. Yang mereka he- rankan adalah si wanita yang tampaknya sangat ter- lambat dalam bereaksi. Rasanya tak mungkin ia berpu- ra-pura sebab dengan ditambahi tenaga sedikit saja maka leher si wanita itu akan putus.

“Huh. Kau membuatku kaget, Genduk!” kata si wa- nita tak berani bergerak sedikit pun.

“Katakan di mana Kiai Sendang!” kata Madari. “Kalau kau sekasar ini, pasti tak akan kukatakan. Kalau kau sampai membuatku luka, walaupun sedikit, Kiai Sendang tak akan mengampunimu lagi. Ambil tom- bakmu!” perintah si wanita. “Akan kuberitahu apa yang dikehendaki oleh Kiai Sendang agar kau diterima boleh- nya.”

“Apa?” Madari betul-betul menarik pulang tombak- nya.

“Usir mereka!” Si wanita menggelengkan kepala, me- nunjuk ke arah Layarmega dan kawan-kawan.

“Mereka? Kenapa?”

“Pokoknya Kiai Sendang tak senang pada mereka.” “Apa buktinya?”

“Buktinya? Sampai saat ini ia belum keluar. Tanya antekmu itu, kebiasaan Kiai Sendang.” Si wanita me- nuding ke arah Ki Begang dengan janggutnya.

“Benar juga,” Ki Begang mengangguk.

“Baik,” Madari memutar tombak lagi dan berdiri ga- gah di hadapan Layarmega. “jika Bibi pemimpin rombo- ngan ini, cepat pergi!”

“Eh, enaknya!” Wara Huyeng yang menyahut. “Kau lebih percaya dia? Kau dengar tadi, dia suka memper- mainkan orang. Bukankah kau sekarang sedang diper- mainkan?”

“Terserah,” sahut Madari. “Dipermainkan atau tidak, itu tergantung pada perasaan yang bersangkutan. Mungkin aku senang dipermainkan olehnya. Kau mau apa?”

“Hebat! Hebat! Hebat!” Si wanita bertepuk tangan ke- girangan. “Pasti Kiai Sendang akan jatuh cinta padamu, Nduk! Gampar saja tempurung lutut kirinya, pasti dia terjungkal!”

Tombak di tangan Madari memang dalam kedudu- kan di mana sedikit dorongan dengan tangan kiri maka tombak akan berputar dengan tangan kanan sebagai sumbu dan gagang tombak akan meluncur keras ke arah tempurung lutut Wara Huyeng. Dan itulah yang dilakukan Madari. Wara Huyeng sampai terkejut. Cepat menggeser kakinya. Tetapi Madari yang cerdas telah melihat bahwa gerakan tombaknya tak boleh berhenti, dan gerak yang paling mungkin memang gerakan me- nyapu rendah. Bagaikan menari Madari memegang pangkal tombak sementara tubuhnya membungkuk. Wara Huyeng terpaksa melompat dan kembali menge- luh. Ujung tombak Madari menanti!

Demikianlah. Gebrakan pertama memang seakan di- beri petunjuk si wanita. Tetapi gebrakan berikutnya se- mua gerakan Madari seakan mengalir wajar dan terus mengejar!

“Bocah goblok! Hentikan!” Layarmega tak tahan me- lihat junjungannya paling tidak hanya bisa terus meng- hindar. Ia mencabut kedua pedangnya dan menerjang Madari. Gemut menjerit, “Jangan!” dan ia pun mengha- dang. Tetapi sekali berputar, tendangan Layarmega membuat Gemut terpelanting ke tanah.

“Jangan ikut-ikut, bocah!” Si wanita tertawa. “Hei, Genduk bertombak. Kau mundur tiga langkah ke kiri dan berputar menendang dengan gaya kuda menendang ke belakang... hayo kerjakan!” sambil memberi petunjuk si wanita cepat menarik tangan Gemut hingga gadis itu terhindar dari bacokan Layarmega. Sementara itu Ma- dari melakukan dengan tepat gerakan yang disuruh si wanita. Memang kikuk dan aneh. Tapi tahu-tahu ham- pir saja Wara Huyeng dan Layarmega bertabrakan se- mentara Madari sudah melompat ke lapangan... di te- ngah para pengawal dari Trang Galih!

“Tawur!” perintah Layarmega. Serentak para pen- gawal itu bergerak. Rapi. Maut.

Tapi Madari keluar warna aslinya. Gerakannya begi- tu lincah dan gembira, berbagai bacokan dan tusukan senjata dihindarinya, dan bahkan ia sempat membalas.

“Hasta Kartika!” teriak Layarmega, bahkan ia pun langsung masuk menduduki salah satu titik kekuatan barisan ampuh itu.

Gerakan aneh barisan tersebut segera saja membuat Madari kewalahan. Berkali-kali ia nyaris terkena sam- baran senjata pengepungnya. Berkali-kali juga ia harus menggulingkan diri di tanah. Dan betapa pun ia beru- saha, selalu ia terdesak dan terancam.

“Bibi! Tolong dia lagi!” pinta Gemut pada si wanita yang kini mengerutkan kening sambil mengunyah sirih.

“Wah, sulit, sulit!” si wanita mengeluh. “Sulit bagaimana?”

“Mereka main keroyok!”

“Jelas. Tapi Bibi tadi yang mempengaruhi Kakang- mbok Madari untuk melawan mereka!”

“Bukankah aku bilang bahwa aku hanya memper- mainkannya? Atau... nenek baju biru itu tadi yang bi- lang, ya?” si wanita menuding Wara Huyeng.

“Kau memang pingin mampus!” Wara Huyeng selalu sangat murka jika dikatakan sebagai wanita tua. Maka tanpa ancang-ancang lagi ia langsung menghantam si wanita dengan salah satu hantaman Bantala Liwung.

“Eh, eh, lha kok marah! Waduh!” Si wanita sangat ketakutan berdiri untuk menghindar. Namun terlambat. Tinju Wara Huyeng telak sekali terhunjam di punggung- nya.

“Wadaauuuu!” si wanita menjerit sangat keras. Tu- buhnya yang setengah berdiri terdorong keras sekali. Wara Huyeng menyusulkan sebuah tendangan. Dan tu- buh si wanita terpental... langsung jatuh di tengah me- reka yang sedang bertempur!

Tetapi terjadi perubahan besar. Jatuhnya si wanita merusak barisan Hasta Kartika sesaat. Ini digunakan Madari untuk melompat keluar dari kepungan dan me- nyapu kaki pengepungnya dengan tebasan rendah!

Wara Huyeng dan Anengah terkejut melihat peruba- han itu. Ternyata si wanita tadi dengan tepat merusak salah satu titik kelemahan barisan Hasta Kartika. Dan mata prajurit Madari juga melihat jelas hal ini, maka ia pun segera mendesak sehingga titik itu tak cepat-cepat memperkuat diri. Rusak barisan itu makin berat saat si wanita bangkit dan lari menjerit-jerit ketakutan ke sana kemari. Memang ia seolah-olah tak menemukan jalan keluar, tetapi tiap dia bergerak maka dua atau tiga pe- ngawal mencoba menyerangnya hingga mengurangi te- kanan pada Madari.

“Biarkan bangsat wanita itu!” teriak Anengah. “Tang- kap si pembawa tombak!” Ia melihat gerakan si wanita walaupun tak keruan seolah benar-benar mengetahui bagian mana yang ingin menyerang Madari dan ia membuat bagian ini sibuk sendiri.

“Lihat! Bibimu diserang! Kau tak mau menolongnya!” pinta Gemut pada si pemuda. Tetapi si pemuda berpa- ling pun tidak. Ia masih duduk bersila seperti tadi. Mungkin mengedipkan mata pun tidak.

“Ki Begang! Ki Taro! Ki Raha! Ki Japi!” Gemut me- manggil orang-orang yang tadi datang bersamanya. “Bantu Kakangmbok Madari!”

Keempat orang yang dipanggilnya sesaat kebingu- ngan. Dan sebelum mereka mampu bergerak, Anengah telah menerjang mereka dengan empat langkah Bantala Liwung. Setiap langkahnya merupakan tendangan man- tap yang telak mengenai sasaran. Dan keempat orang itu pun roboh.

Tapi hampir bersamaan tombak Madari memakan korban. Tiga buah titik kekuatan Hasta Kartika sekali- gus lumpuh karena si wanita aneh mendadak jatuh dan berguling di kaki-kaki para pengepungnya. Orang-orang ini mencoba melompat namun sambaran tombak Mada- ri menanti. Enam orang langsung roboh tak bernyawa.

“Kurang ajar! Mundur!” teriak Anengah.

Pasukan kecil itu mendadak berlari berputar ke arah yang berlawanan. Madari kebingungan. Tidak demikian dengan si wanita aneh yang tiba-tiba menjulurkan kaki, dan tiga orang roboh tersandung kaki itu. Madari tang- kas mengetuk kepala ketiga orang itu dengan gagang tombaknya.

Tapi yang lain seolah mendadak lenyap dari depan- nya. Di lapangan kini tinggal Madari, si wanita aneh, dan tujuh sosok mayat, sementara Ki Begang dan ka- wan-kawan tergolek agak jauh.

Madari memutar tombak bersiaga. Di seberangnya Anengah pun mulai memasang kuda-kuda sakti. Si wa- nita menguap lebar-lebar kemudian bangkit dari tanah. “Wuahhhh! Ngantuk! Ngantuk! Tidur dulu, ah!” katanya sambil jalan ke pendapa, ke si pemuda.

Ia dihadang oleh Wara Huyeng.

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Wara Huyeng.

“Aku? Oh, anu... aku... hari ini aku adalah teman Kiai Sendang. Aku berjanji menjagakan lapangannya sementara ia pergi cari belut. Eh, tahu nggak, Kiai Sen- dang sekarang tidak merampok lagi?” si wanita melan- jutkan kata-katanya kepada Madari. “Ia sekarang jadi tukang cari belut.”

“Untuk apa?” tak terasa Madari bertanya.

“Ya, untuk dijual. Dia sudah berjanji untuk tidak merampok lagi. Jadi ia kini ya... seperti inilah kehi- dupannya. Berdagang makanan. Tempat peristirahatan. Dan tempat untuk berkelahi. Hebat juga dia, bukan? Tidak semua orang punya lapangan tempat orang berla- ga!”

“Siapa kau?” tanya Wara Huyeng.

“Siapa yang memaksanya berubah jalan hidup?” tanya Madari.

“Bibiku tanya siapa kau!” bentak Anengah. Ia meng- geser kedudukan dan semestinya akan sampai di depan si wanita. Tak terasa ia berseru kaget. Tempat yang di- tujunya telah diduduki orang. Si pemuda tadi, yang en- tah bagaimana, telah bergerak dan pindah tempat.

“Hi hi hi... kau seperti ketakutan sekali. Takut meli- hat keponakanku, ya? Hi hi hi,” si wanita tertawa.

“Aku hanya ingin tahu siapa kau!” kata Wara Hu- yeng, berdiri di samping Anengah.

“Kenapa? Kau tak punya uang dan mau berutang dulu, ya? Aduuuh! Kasihaaaan!” kata si wanita.

“Kau bukan orang Sendang Ampal ini. Katakan, apa maksudmu. Kami telah kehilangan nyawa. Kami ingin membalas!” kata Wara Huyeng.

“Oh, bukan aku yang membunuh! Si Genduk ini!” Si wanita menuding Madari.

“Enak saja! Tapi dia yang bikin gara-gara, yang mem- buat sahabatku ini melawan kalian!” kata Gemut men- coba membela Madari.

“Aku yang bertanggung jawab.” Sebaliknya Madari dengan langkah tegap mendekat ke samping si wanita.

“Kalau tak juga kaukatakan namamu, jangan salah- kan aku,” ancam Wara Huyeng.

“Lho! Persoalan apa lagi?” tanya si wanita.

“Agaknya engkau memang ingin mengganggu kami!” kata Wara Huyeng.

“Tidak, kok... tidak sengaja, kok... tapi... kalian sung- guh lucu kalau diganggu. Jadi... ya, bolehlah. Kalau mau dianggap mengganggu, silakan!” Si wanita tertawa terkekeh-kekeh. “Kalau begitu... maaf!” tiba-tiba Wara Huyeng menju- lurkan tangan kanan. Dan sebelum tangan itu lempeng, ia menghantam dengan tangan kiri. Anengah terkesiap. Gerakan sederhana itu sesungguhnya membawa hawa pukulan Bhirawadana kelas tinggi!

“YIATTTH!!” bentak Wara Huyeng. Si wanita menjerit aneh, menyambut pukulan dahsyat itu dengan dua ke- palan.

Akibatnya sangat di luar dugaan. Bhirawadana Wara Huyeng jelas ilmu sadapan, bukan asli. Namun dengan beberapa petunjuk dari Anengah dan juga oleh bakat alamnya, sebetulnya Wara Huyeng sudah mencapai tingkat yang cukup tinggi. Paling tidak mungkin hanya satu tingkat di bawah Resi Rhagani.

Pukulannya membawa hawa panas. Jika terkena orang awam, misalnya, mungkin sekali orang tersebut akan hangus.

Tetapi bentrok dengan kedua kepalan si wanita aneh akibatnya sangat lain.

Si wanita aneh memang menjerit. Tetapi jeritan itu lebih mirip jeritan kaget. Dan Wara Huyeng menjerit ke- ras. Terlempar mundur. Bau kain hangus segera ter- cium. Dan terlihat asap mengepul dari kemben Wara Huyeng.

Anengah terkejut. Ia tak begitu memperhatikan gera- kan si wanita. Tapi gerakan Wara Huyeng sempurna. Dan mestinya hasilnya sempurna. Melihat akibat yang terjadi, agaknya hawa serangan Wara Huyeng membalik mengenai dirinya sendiri.

Tapi ini sangat jarang terjadi. Kecuali lawan Wara Huyeng punya ilmu yang sangat tinggi. Atau memiliki ilmu Bhirawadana yang murni! Ini membuat Anengah terkejut dan memperhatikan si wanita aneh. Siapa dia?

Apakah gurunya, Resi Rhagani, mempunyai saudara seperguruan lain, kecuali adiknya sendiri? Mungkin me- reka sebaya... dan wanita ini... memang aneh. Umurnya benar-benar tak bisa ditebak!

Wara Huyeng sendiri terhuyung sampai tiga langkah. Hantaman si wanita aneh begitu hebat. Beberapa kali pernapasannya kacau. Orang ini bahkan lebih hebat dari Nagabisikan... tetapi, siapa dia?

Layarmega yang melihat dari samping jelas sekali melihat bahwa si wanita aneh seakan hanya mengang- kat kepalan. Namun ia merasakan betapa dahsyat ben- turan tenaga yang terjadi. Segera Layarmega meniup pe- luitnya. Para pengawal langsung berkumpul bersiaga di sekitar Wara Huyeng. Mungkin mereka tak bisa berbuat apa-apa, tetapi paling tidak bisa untuk menjadi pengha- lang jika Wara Huyeng diserang lagi.

“Siapa... kkk... kau?” tanya Wara Huyeng.

“Siapa kau?” si wanita aneh balik bertanya. Sua- ranya tajam, menyengat telinga. “Ilmu sesat apa yang kaugunakan?”

“Kami datang tidak dengan sikap bermusuhan. Ke- napa kau mengganggu?” tanya Wara Huyeng.

“Kalian datang dengan penuh kecurigaan!” sahut si wanita aneh. “Kami tak suka itu. Jika seseorang masuk kemari dengan rasa curiga, maka ia pasti menyembu- nyikan sesuatu yang nilainya lebih dari harta. Mereka yang hanya membawa harta biasanya pasrah. Masuk kemari. Menyerahkan sumbangan. Menikmati istirahat. Kalian tidak. Kalian berpengawal lengkap. Kalian punya ilmu tinggi. Kalian menyelidiki lebih dahulu!”

Si wanita kini berbicara bersungguh-sungguh, tanpa nada mempermainkan lagi. Perlahan tangan kanannya terangkat. Menuding ke arah Wara Huyeng. “Dan kau... kau menggunakan ilmu curian!”

Sunyi senyap seketika. “Siapa kau? Bagaimana kau bisa menuduh semba- rangan?” tanya Wara Huyeng, berpikir-pikir. Siapa kira- kira murid Kiai Megatruh lainnya? Ia memiliki daftar mereka. Tapi seorang wanita seperti ini tak ada dalam catatannya.

“Karena aku mengetahui ilmu aslinya. Sekarang kea- daannya lain... kau boleh lewat. Ilmu curianmu, ting- galkan!”

“Itu tuduhan yang sangat kurang ajar!” tangkis Wara Huyeng. “Buktikan bahwa kau memang tahu ilmu asli- nya!”

“Hi hi hi hi,” tiba-tiba si wanita tertawa. “Untuk itu tak perlu aku yang maju. Bahkan pelayanku itu akan mampu menelanjangimu... eh, membuka kedokmu... eh, pokoknya membuktikan kau palsu!”

Semua melirik pada si pemuda yang sedari tadi ber- diri diam, mematung bagaikan orang tolol dengan ke- rudung kain basahnya.

Wara Huyeng berpikir keras. Mungkin sekali si pe- muda adalah murid wanita itu. Mungkin sekali dia juga sakti. Ia harus tahu bagaimana kedudukan lawan-la- wannya ini agar bisa merencanakan, kalau perlu, jalan mundur nanti. Dan ia berpikir mungkin ia bisa menge- labui si wanita.

“Baik. Karena kau mengajukan pelayanmu, aku tak sudi turun tangan sendiri,” kata Wara Huyeng. “Biar keponakanku meladeninya. Ia telah belajar ilmu dariku. Perhatikan dia. Dan jujurlah. Jika kaupikir ilmu kepo- nakanku asli, kuharap kau mengalah. Dan membiarkan kami pergi!”

“Oh, itu keponakanmu? Aku kira tadi dia cucumu, hi hi hi,” si wanita tertawa mengejek. “Tapi baiklah. Yang muda lawan yang muda, aku lawan nenek-nenek... da- sar nasibku malang, hi hi hi Tole, maju kamu, Le!” “Tapi ingat. Kau harus jujur. Jika kaulihat ilmu ke- ponakanku murni, harus kaukatakan murni. Dan kau- lepas kami pergi!” kata Wara Huyeng. “Tak peduli bah- kan jika pelayanmu itu tewas!”

“Tentu, tentu, tentu, aku berjanji, Nenek nyinyir!” Si wanita tertawa dan duduk di lantai pendapa, mening- galkan si pemuda sendirian berhadapan dengan rom- bongan Wara Huyeng.

Wara Huyeng memberi isyarat pada Anengah.

Anengah mengangguk. Ia membetulkan letak destar hitamnya. Mengangkat ujung destar yang tadi menutupi sebagian mukanya.

Si pemuda terlihat sekali tertegun melihat wajah Anengah yang kini jelas.

“Kakang Anengah!” terdengar ia berdesis.

4. TARA

ANENGAH sendiri tertegun mendengar itu. Diperhati- kannya si pemuda.

Sosok tubuhnya mengingatkan ia pada seseorang. Pakaiannya memang begitu jembel, dekil, dan kotor. Rambutnya tidak digelung rapi seperti orang-orang bi- asa, tetapi terurai dan terjurai bagai orang gila. Dan ke- tika si pemuda menyingkapkan rambutnya, Anengah sangat terkejut.

“Tara!” serunya.

Wara Huyeng juga terkejut memperhatikan pemuda itu. Ya. Pemuda itu Tara!

Tara! Bukankah... pemuda itu menurut Juru Meya telah dipukul hancur dan jatuh meluncur di tebing Ju- rang Grawah yang dalamnya ratusan depa itu?

Apa yang terjadi?

Saat itu Tara yang ditangkap oleh kelompok Trang Galih untuk di-‘peras’ ilmunya dengan segala daya men- coba melawan. Ia disiksa. Dibujuk. Dan bahkan dira- cuni dengan Butir Hitam Tartar seperti juga Tantri.

Namun kemudian Tara dapat berhubungan batin de- ngan Tantri—yang ia sebetulnya tak tahu siapa. Hu- bungan pembicaraan yang tanpa rupa tanpa suara ini tiba-tiba muncul begitu saja di benaknya, dengan ke- cerdasan Tara dan ketinggian ilmu Tantri.

Tantri menganjurkan Tara untuk memancing para penangkapnya ke Jurang Grawah. Tanpa memberitahu alasannya, Tara diminta untuk terjun ke jurang terse- but.

Bagi Tara sesungguhnya itu suatu jalan keluar yang baik. Jika ia tewas karena jatuh, ia tak akan menyesal— daripada harus berkhianat pada perguruannya.

Tapi agaknya Tantri punya perhitungan lain.

Seperti juga Nagabisikan yang bisa merasakan geta- ran hidup musuh besarnya di sekitar Trang Galih, Tan- tri juga merasakan hal itu. Hanya, seperti Nagabisikan juga, ia tak tahu pasti siapa yang jadi sumber getaran itu. Ia hanya bisa memperkirakan bahwa sumber geta- ran itu ada di Jurang Grawah. Karenanya ia menganjur- kan Tara untuk terjun ke sana.

Tantri juga mengirimkan getaran perasaan pada sia- pa pun di sekitar gunung itu untuk pergi ke dasar Ju- rang Grawah.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa getaran yang dite- rimanya berasal dari dua orang sakti yang begitu dekat dengannya, Kiai Mahendra dan Nyai Sinom, ayah dan ibunya.

Mahendra dan Sinom saat itu sebetulnya memang sedang mencari Tantri. Tetapi seperti biasa kedua tokoh angin-anginan itu sering tak tahu sedang berbuat apa, atau sedang akan berbuat apa. Misalnya saja, mereka meninggalkan Tasik Arga, pa- depokan mereka sendiri bersama Kiai Megatruh, mula- mula untuk melarikan diri dari Kiai Megatruh. Baru be- berapa langkah, mereka mengira tujuan mereka adalah mencari Tantri. Dan dalam perjalanan tujuan itu ber- ubah lagi, terutama saat mereka bertemu dengan Pasu- kan Buih—para prajurit wanita Trang Galih yang se- dang mencari perbekalan. Mereka mengikuti anggota pasukan Trang Galih ini, yang pulang ke markas mere- ka di Trang Galih melalui hutan lebat di dasar Jurang Grawah.

Saat itulah, seakan dari langit, tubuh Tara meluncur turun.

Ketika mendengar jeritan Tara, baik Mahendra mau- pun Sinom sedang mengikuti salah seorang prajurit Buih yang bernama Agi.

Mahendra dan Sinom selalu merasa dirinya lebih pintar dari siapa pun. Mereka tentu saja kesal ketika sekelompok prajurit wanita dengan cara sederhana te- lah mempermainkan mereka.

Mula-mula mereka mengikuti Pasukan Buih yang di- pimpin oleh seseorang bernama Ni Dukut. Merasa bah- wa mereka diikuti oleh dua orang yang sakti luar biasa ini, Ni Dukut menerapkan siasat sederhana: berpencar menjadi enam kelompok kecil dan masing-masing ke- lompok bergerak menjauhi tujuan mereka sebenarnya, pusat pergerakan di Trang Galih.

Ini memang membingungkan pasangan Mahendra- Sinom. Mereka tak pernah berpikir untuk berpisah ka- rena masing-masing ingin memamerkan keberhasilan dalam hal apa pun. Mereka memilih mengikuti rom- bongan kecil yang dipimpin oleh Agi.

Dan Agi membawa mereka memasuki dasar Jurang Grawah. “Wah, tempat apa ini?” bisik Mahendra saat mereka mulai masuk ke dalam dasar jurang itu.

“Yang penting, sekarang ini siang atau malam?” Nyai Sinom balik bertanya. Jurang itu begitu dalam hingga keadaan memang gelap.

“Tunggu,” Kiai Mahendra berbaring. Telentang. Hati- hati meletakkan kepala gundulnya di tanah.

“Sedang apa kau?” tanya Nyai Sinom heran. “Kau pikir sedang apa?”

“Meletakkan kepalamu yang gundul?” “Tepat sekali, istriku yang cantik.”

“Eh, sering-seringlah berbaring begitu. Agaknya ka- lau kepalamu kauletakkan hati-hati, kau jadi bisa ber- pikir jernih.”

“Kenapa?”

“Barusan kaubilang aku cantik. Dan itu adalah sua- tu kenyataan yang selama ini tak pernah kauketahui!”

“Wuah! Kau sendiri juga tak tahu tentang aku.” “Jelas aku tahu!”

“Bahwa aku tampan?”

“Bahwa kau gundul, hi hi hi hi.... Cepat, apa pun yang kaukerjakan, ketiga anak celaka itu makin jauh, lho!”

“Sore!” tiba-tiba Kiai Mahendra berseru gembira. “Apa?” Nyai Sinom heran.

“Sekarang ini sore!” Kiai Mahendra melompat bang- kit, membersihkan kedudukannya.

“Lalu?”

“Gemas aku! Gemas aku!” Kiai Mahendra memban- ting-banting kaki.

“Lho, kenapa?”

“Aku tadi berbaring, kan? Sampai pantatku kotor, kan? Sampai kepalaku yang gundul ini tersentuh oleh tanah, kan?” “Lha, ya iya. Lalu kenapa?”

“Itu cuma agar aku bisa melihat langit di sana itu de- ngan baik!” Kiai Mahendra menuding ke atas tanpa me- nengadahkan kepalanya.

Nyai Sinom melihat ke atas. Di antara pepohonan raksasa, dinding tebing jurang tampak bagaikan melun- cur ke arah langit. Jauh sekali. Dan langit kini berwar- na kemerahan, sementara kegelapan di tempat itu ma- kin memekat. Celah terang jauh di atas sana itu mulai dipenuhi oleh berseliwerannya berbagai burung dan ke- lelawar.

“Lha, terus? Dari sini aku juga bisa melihat langit!” kata Nyai Sinom.

“Justru itu yang membuat aku gemas! Kau tadi ber- tanya, sekarang ini siang atau malam! Lalu aku me- ngorbankan diri, rela gundulku ini terkena tanah untuk melihat langit, agar bisa menjawab pertanyaanmu. Aku korban perasaan untukmu! Kau sungguh membuat aku gemas! Aku gemas! Aku gemas!”

“Oh, maaf, maaf, Kiai... aku lupa tadi aku bertanya begitu.... Cuuup, cuuup, jangan nangis, Kiai,” Nyai Si- nom mengusap kepala gundul suaminya dengan selen- dangnya.

“Kamu harus menghiburku!” rajuk Kiai Mahendra. “Tentu, tentu... kau ingin kepalamu ini kupukuli de-

ngan apa? Batu, kayu, atau ubi bakar?” tanya Sinom. “Kau membuatku gemas lagi! Kau bahkan tak ber-

tanya, bagaimana aku tahu langit di atas sana itu me- nandakan sore dan bukannya fajar pagi. Kan sama- sama merah!”

“Aku tahu!” kata Nyai Sinom.

“Oh, ya? Bagaimana?” Kiai Mahendra heran. “Kau pasti akan bertanya kebenarannya padaku!”

“Bukan! Bukan! Bukan begitu! Kau membuatku ge- mas lagi! Gemas lagi! Gemas lagi!” gerutu Kiai Mahen- dra.

“Aduh, aduh, aduuuh... jangan gemas! Baiklah aku bertanya. Bagaimana kau tahu?”

“He he he he... lihat di sana. Itu burung-burung yang selalu beterbangan pulang ke sarang waktu sore. Dan itu... yang hitam-hitam itu... itu kelelawar. Jika keluar, pasti hari hampir malam!”

Saat itu jauh di atas sana terdengar sayup-sayup se- buah jeritan.

“Dan itu apa, Kiai?” tanya Nyai Sinom menyela. Kiai Mahendra terpaksa ikut melihat ke atas.

Sebuah titik hitam besar meluncur deras ke arah mereka. Seolah jatuh dari langit.

Bersambung ke jilid 13