Dewi Penyebar Maut Eps 11

Dewi Penyebar Maut Eps 11

1. TARI

DIA lari terus. Gerakannya memang gesit. Tata larinya juga hebat. Ia begitu cepat. Dan ia tak memperhatikan di mana ia lewat.

Semak-semak, onak, duri, semua diterabasnya. Pa- kaiannya memang tadinya sudah compang-camping. Dan kini makin compang-camping.

Rambutnya berantakan karena sering tersangkut di ranting-ranting. Kulitnya yang kemerahan semakin me- rah karena duri yang merobek-robek kulit itu.

Dan dia terus berlari.

Entah ke mana. Tanah tempat ia berlari menurun te- rus, hingga larinya makin tak terasa.

Entah kenapa.

Ia tak tahu kenapa ia berlari.

Pemuda itu, si Ahireng, mengucapkan sesuatu yang membuatnya sakit hati. Tapi kenapa? Toh Ahireng juga memang sering menyakiti hati dan badannya? Oh. Ya. Hanya karena Ahireng memuji kecantikan seseorang yang disebutnya ‘Buyut’. Lalu kenapa?

Tak terasa ia melambatkan larinya. Karena berpikir tadi. Dan juga karena tiba-tiba dirasanya ia makin be- bas bergerak. Ternyata pepohonan makin jarang. Dan matahari... aneh. Matahari masih rendah ataukah su- dah rendah lagi?

Akhirnya ia berhenti. Tidak. Itu bukan matahari ter- bit. Itu matahari hampir terbenam. Sebab itu Gunung Kawi. Bukan Gunung Mahameru.

He. Kenapa dia tahu nama gunung-gunung itu? Tapi

... apakah memang seharusnya ia tak tahu? Apakah itu berarti ia telah seharian berlari tak tentu arah?

Hanya karena... Ia berjalan perlahan menunduk... Hanya karena Ahireng memuji kecantikan seseorang. Ah. Apa hubungannya dengan dirinya? Apakah ia... su- ka... pada... pemuda hitam legam itu?

Sejelek itu? Ah. Apa ukurannya jelek? Ia tak pernah melihat pemuda lain. Memang tidak ada. Tidak! Ada! Sekilas otaknya seolah ingin menghadirkan suatu to- koh. Tapi gambar itu langsung lenyap lagi. Siapa sih?

Ia seolah pernah punya teman. Pria. Dengan wajah tampan. Tapi siapa?

Ia tertegun sejenak. Didengarnya suara air. Dan sua- ra anak-anak ramai. Ah. Apakah ia sudah meninggal- kan hutan?

Dikuaknya semak-semak.

Ia berada di puncak suatu tebing. Sedikit di bawah- nya ada sebuah sungai. Jernih. Bening. Dan beberapa orang anak sedang berteriak-teriak bermain di air.

Ah. Rasanya ia pun pernah seperti itu. Ia senang se- kali air. Ia ingin ikut bermain.

Ia melompat dari tebing. Langsung turun ke air. “Adik-adik... aku ikut, ya?” Dia mencoba membuat

wajahnya semanis mungkin.

Sesaat anak-anak itu membeku. Dan mendadak me- reka semua semburat. Bertemperasan lari keluar dari sungai. Dan terus lari sambil menjerit-jerit. Sama sekali tak lagi memperhatikan kain mereka yang tersampir di semak-semak.

Turi ternganga. Apa yang membuat mereka lari?

Dan ia melihat bayangan wajahnya di cerminan air. Huh. Wajah itu lagi. Wajah hitam kemerahan. Dengan rambut tak keruan. Dan mata putih bening yang tam- pak nyata di wajah gelap tersebut.

Ia sudah terbiasa akan wajah itu kini. Namun akhir- akhir ini ia sering bermimpi tentang sebuah wajah gadis dusun yang cantik. Apakah itu wajahnya?

Dan ia ingat pula Ahireng tadi membandingkannya dengan seseorang yang bernama ‘Buyut’. Hatinya bergo- lak rasa benci. Kenapa Ahireng tak suka wajahnya? Ke- napa anak-anak itu tadi takut pada wajahnya?

Terpandang kain-kain yang tersampir di semak- semak. Yah. Sudahlah. Kebetulan kain yang dipakainya compang-camping.

Ia menunggu. Akan kembalikah anak-anak itu?

Ia merenungi air jernih yang gemersik berlalu di ba- gian sungai yang dangkal. Dan air tenang dekat batu tempatnya duduk menjulurkan kaki. Begitu jernih. Dan dingin.

Ah. Dulu rasanya ia sering bermain-main di air di- ngin. Bukan di telaga berair panas tempat ia biasa ber- main dengan Ahireng.

Turi tahu-tahu sudah berada di dalam air. Dan air dingin menyejukkan benaknya. Sesaat ia merasa benar- benar ceria. Ia berenang-renang di bagian dalam yang terlindung ceruk tebing itu.

Entah berapa lama. Dan entah apa yang dipikir- kannya. Dan ia memang tak begitu peduli lagi apa yang tak bisa dipikirkannya lagi. Ia sudah terbiasa. Dan bah- kan sering ia menghindar dari keinginan untuk berpikir. Karena berpikir membuat kepalanya sering sakit.

Dan jika kepalanya sakit, entah bagaimana ia telah bersila, bernapas dengan teratur dan badannya serasa segar kembali. Ahireng berkata ilmu semadinya hebat.

Tapi ilmu-ilmunya yang lain juga hebat. Hampir tiap hari ia memang dihajar oleh Ahireng. Tetapi bukannya dirinya sakit, ia bahkan merasa badannya semakin kuat. Gerakannya semakin ringan. Dan itu semua ke- luar tanpa dipikirkannya.

Tiba-tiba nalurinya mengatakan ada orang lain di si- tu. Ia berhenti berenang. Memasang telinga.

Ya. Ada beberapa orang di semak-semak sana. Sial. Pakaiannya jauh darinya. Tapi buat apa kain compang- camping itu? Ada kain anak-anak itu.

Seperti dalam latihan, tiba-tiba saja tubuh Turi me- lesat. Hampir tak terlihat. Dan sekejap ia telah meli- litkan kain-kain desa itu ke badannya.

Di hadapannya telah muncul beberapa orang lelaki. Mereka tampaknya para petani. Dan semua bersenjata. Dan mereka semua memandangnya dengan mata terbe- lalak.

“Sssi... siapa kau?” seorang lelaki yang tubuhnya paling tinggi besar tergagap bertanya. “Jjika... jjika kau bukan mmmanusia... jjangan ganggu kami...”

Siapa dia? Ya. Mungkin yang ditanyakan adalah na- manya. Namanya! Ia ingat ia punya nama. Pemuda hi- tam itu memanggilnya Turi. Turi. Tapi ia tak yakin itu namanya yang asli. Turi? Ataukah... Tari! He. Tidak. Mungkin juga bukan itu. Turi mendengus, membalik- kan badannya untuk pergi. Tetapi ternyata ia telah di- kepung. Dan mereka membawa senjata. Berbagai ma- cam senjata. Turi berbalik lagi.

“Jjjangan gangggu kkkami...,” orang itu berkata lagi. “Aku pergi,” kata Turi. Sudah begitu lama ia tak ber-

bicara pada orang asing. Rasanya kaku.

“Jjangan kkembali lagi...,” kata orang itu. Ia mundur selangkah. Dan kawan-kawannya yang memegang sen- jata makin maju. Ujung-ujung tombak dan bambu run- cing makin dekat ke dada Turi. Beberapa orang tampak mengacungkan keris sementara mulutnya komat-kamit.

“Aku mau pergi,” Turi menegaskan.

Dan tiba-tiba saja mereka menyerangnya.

Secara wajar Turi bergerak. Seolah melangkah tak acuh ke kiri dan ke kanan. Dan ia sudah lolos dari ke- pungan. Bahkan beberapa pengepungnya saling tabrak dan labrak. “Gempur, teman!” seseorang berteriak. Dan puluhan orang itu bergerak serentak menyerbu Turi.

Turi bergerak makin gesit. Semula ia pun balas me- mukul. Tapi mereka ini jelas bukannya Ahireng yang tahan akan tendangan dan hantaman Turi. Turi sendiri sampai terkejut. Beberapa orang yang terkena tangan dan kakinya langsung terpelanting dan pingsan.

Turi jadi gugup melihat ini. Beberapa ujung tombak nyaris menyambar punggungnya. Ia mengerahkan te- naga dan melompat menyingkir.

Bagi para pengepungnya Turi tiba-tiba lenyap.

Turi sendiri berlari di antara semak belukar. Dia mengumpamakan semak belukar itu lawan-lawan— atau paling tidak orang yang menghadangnya dalam suatu permainan—dan ia selalu menghindar. Nyaris ia tak menyentuh semak-semak tersebut.

Tiba-tiba ia sampai di tempat terbuka. Sebuah ladang ubi.

Sepi.

Di sudut ada sebuah gubuk. Sangat sederhana. Dan di depannya sebuah bekas api unggun yang asapnya masih mengalun perlahan ke langit.

Turi melihat berkeliling. Memasang telinga. Tak ada tanda-tanda ada kehidupan di sekelilingnya.

Turi maju ke api unggun itu.

Pastilah ada orang. Api itu masih berasap. Bahkan membara. Dan di samping api unggun ada beberapa buah ubi.

Turi jadi lapar. Sekali lagi ia menunggu. Tak ada su- ara. Mungkin pemiliknya sudah pulang.

Turi duduk dan memanggang sebuah ubi.

Ditiupnya api unggun itu yang kemudian berkobar. Dan entah, dari kedalaman pikirannya ia seolah mem- punyai pengalaman yang sama. Duduk dekat api un- ggun dan membakar ubi.

O, enaknya ubi yang panas dan manis itu. Dengan rakus Turi memakannya. Sampai tiba-tiba ia merasa ti- dak sendiri di situ.

Ia menengadah.

Di seberang ladang itu entah sejak kapan telah ber- diri dua orang. Seorang lelaki tua berjenggot putih lebat. Dan seorang pemuda yang sangat tampan dan berpa- kaian rapat beberapa rangkap. Rambutnya yang hitam legam digelung tinggi, hitam mengkilap bagai bukan rambut lelaki. Dan... mungkin juga ia bukan lelaki.

Bahan pakaiannya kasar, namun jelas tampak kulit- nya halus. Dan kakinya memakai alas kaki.

Juga, tiba-tiba saja Turi mencium bau wangi.

Yang membuat Turi gelisah adalah orang tua itu. Ma- tanya begitu tajam menusuk. Turi merasa sampai geme- tar.

Terutama saat orang itu melangkah mendekat. Dengan ketakutan Turi berdiri. Mundur hingga sam-

pai ke gubuk.

“Jangan takut... kami hanya ingin istirahat,” kata si tua. “Boleh kami minta ubimu? Dan sedikit air minum?”

Suara itu serasa menggedor dada Turi. Dan tiba-tiba ia merasa bahwa mungkin orang itu sesungguhnya tak ingin istirahat, tak ingin ubi dan tak ingin air. Lalu ingin apa?

Gugup Turi menuding pada ubi-ubi di tanah. Menyu- ruh mereka mengambil sendiri.

Orang tua itu seenaknya duduk di balai-balai bambu di dalam gubuk. “Tolong bakarkan dua. Untuk aku dan cucuku ini...”

Entah kenapa Turi tak sanggup membantah. Pemu- da yang disebut cucu tadi kini berdiri begitu dekat de- ngannya. Dan Turi melihat betapa betis pemuda itu be- gitu kuning dan halus.

“Kau bukan orang sini?” tanya si orang tua. Turi menggelengkan kepala.

“Mengapa kulitmu begitu... jingga?”

Turi menggelengkan kepala lagi, seolah-olah asyik membolak-balik ubi itu.

“Kakekku bertanya padamu.” Pemuda cantik tadi mengulurkan kakinya untuk menyentuh kaki Turi. Turi masih menggelengkan kepala.

“He... aku seperti pernah melihat kau... Di mana, ya?” Pemuda itu mengingat-ingat.

Turi jadi tertarik.

Ia memandang si pemuda dengan pandangan meng- harap.

“Tapi rasanya aku belum pernah melihat orang seje- lek kamu,” si pemuda berkata ketus. Dan gerak bibirnya sama sekali tidak mirip pria.

“Jangan ganggu dia,” cegah si kakek. “Mungkin nanti ia mau bercerita sendiri ”

“Dia memang jelek.” Pemuda itu duduk di samping kakeknya.

“Aku tidak jelek,” gumam Turi.

“Siapa bilang?” Si pemuda agaknya mendengar juga kata-kata Turi yang nyaris berbisik itu. “Siapa pernah melihat orang biasa berkulit jingga?”

Turi tersentak, berpaling. Dan sesaat ia pun melihat si tua tersentak kaget seakan baru sadar akan sesuatu.

Turi kembali menunduk. Ia tak merasa aneh dikata- kan berkulit jingga. Hanya ini untuk pertama kalinya orang asing berkata begitu padanya.

“Hei, Nak... katakan... apakah kau anak dari daerah sini?” si tua itu bertanya, dan nadanya amat lembut.

Turi mengangguk.

“Kau tidak berdusta?” tanya kakek itu lagi. Turi menggelengkan kepala.

“Lalu... kenapa orang-orang desa mengepungmu?” Turi terkejut. Mengangkat kepala. Benar juga. Bela-

san orang yang mengejarnya telah tiba. Tadi ia tak men- dengar karena asyik membakar ubi dan memusatkan perhatian pada kata-kata si kakek.

“Mereka mengejarmu karena kau begitu jelek?” tanya si pemuda. Ia akan berkata-kata lagi. Tapi pandang ma- ta si tua mencegahnya.

“Kau kenapa, Nakmas?” kata si tua berbisik. “Belum pernah kurasakan kau membenci orang seperti ini.”

Turi sendiri terkejut. Benarkah orang tua itu berbisik dan ia mendengarnya. Tapi dari sudut matanya si tua terlihat tak menggerakkan bibir sedikit pun. Demikian juga si pemuda saat menjawab.

“Entah, Eyang. Mungkin di kehidupan yang lalu ia pernah menjadi musuhku. Tiba-tiba saja aku begitu benci padanya,” kata si pemuda.

Kehidupan lalu, kehidupan lalu... Turi menger- nyitkan kening. Apa yang dialaminya di kehidupannya yang dahulu? Bagaimana ia bisa tahu, kalau kehidu- pannya yang tidak terlalu lama ia sudah lupa?

Misalnya, siapa sebenarnya namanya?

Ia berasal dari mana? Ia bisa bersusah payah meng- ingat suatu tempat. Isinya banyak wanita cantik. Bau- nya wangi selalu. Dan seorang wanita setengah baya bernama Emban Layarmega. Juga ada seorang tinggi besar bernama Bima. Kemudian seseorang memberikan padanya seutas kalung kayu... tangan Turi tak terasa meraba lehernya. Kosong.

Ah. Ya. Dia baru ingat. Ingat kalung kayu. Kalung kayu itu tanda jabatan. Dan ia yakin orang yang mem- berinya pasti ingat masa lalunya. Lalu ia ingat beberapa hari yang lewat kalung itu berantakan. Tapi Ahireng... ya. Ahireng. Ia ingat nama itu. Membungkusnya dalam kain dan disimpannya di kain ikat pinggangnya.

Ingatannya ternyata berjalan! Kain ikat pinggang itu ada dan suatu benjolan padanya menunjukkan di da- lamnya ada buntalan berisi kalung kayu itu!

“Auuu!” tiba-tiba ia menjerit. Ternyata ia begitu teng- gelam dalam lamunannya hingga tak memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya. Dan pangkal sebatang tombak mendorongnya hingga jatuh terjengkang.

“Kami bicara padamu!” Ternyata orang tinggi-besar yang menyerangnya tadi.

“Hah?” Turi bingung.

“Tinggalkan tempat ini. Jangan ganggu kami lagi. Jangan kembali. Hanya itu yang kami minta. Walau- pun... sesungguhnya kau harus dihukum untuk mem- balaskan kejahatan yang kaulakukan sebelumnya. ”

Terdengar orang itu tak setakut tadi. Mungkin kini ia baru sadar bahwa Turi bukanlah makhluk halus. Jelas makhluk halus tidak makan ubi bakar.

“Ke. kejahatan apa?” Turi belum berdiri, masih ter-

jengkang di tanah. Diliriknya orang tua dan pemuda itu seolah tak acuh memperhatikan itu semua. Apa orang- orang ini mereka yang suruh?

Agaknya bukan. Orang-orang itu menjaga jarak ter- hadap si kakek.

“Gempur saja, Kiai!” seseorang berseru. “Tak usah ditanyai!” sahut yang lain.

“Dia toh tidak bertanya-tanya sewaktu membunuh anak-anak kita!” terdengar suara lain, jauh dari bela- kang kerumunan.

“Barangkali kakek tua itu majikannya!” sebuah sua- ra lagi berteriak.

“Dia dalangnya!” ada yang menyambut keras. “Usir juga dia!” “Tangkap!” “Bunuh!”

Suasana yang mendadak hiruk pikuk tiba-tiba ter- diam oleh kata-kata terakhir itu. Semua memandang si kakek.

“Maaf, Orang Tua, siapakah Tuan?” Orang bertubuh tinggi-besar itu bertanya dengan sikap hati-hati. Dan tanpa diperintah orang-orang pun mengambil keduduk- an mengepung si orang tua.

“Boleh aku tahu lebih dulu, siapakah Tuan?” sahut si tua teramat sopan.

“Namaku Bawong, petugas keamanan Desa Weling. Dan daerah sekitar tempat ini sudah sering menderita kejadian aneh. Anak-anak kami hilang. Kemudian dike- temukan tanpa kepala. Kami kira hanya gandarwa yang mampu berbuat itu. Kami kira makhluk ini...,” ia me- nuding pada Turi, “adalah gandarwanya. Tetapi ternyata ia manusia biasa. Walaupun kesaktiannya mungkin luar biasa. Dan karena Tuan berdua asing... serta ber- gabung dengannya... terus terang kami curiga.”

Tiba-tiba si tua tertawa terkekeh-kekeh.

“Paling gampang memang orang bercuriga, Ki Sa- nak...,” katanya. “Kami berdua hanya pencari tumbuh- tumbuhan berkhasiat dari Trang Galih. Kami dengar di hutan ini ada sumber air panas dengan tumbuh-tum- buhan berkhasiat.”

Kembali Turi terperangah.

Jelas-jelas kupingnya mendengar apa yang di- ucapkan si kakek, kata demi kata. Tetapi baginya seo- lah si kakek berbicara lain dalam saat yang bersamaan. Si kakek didengarnya juga berbicara dengan si pemuda, “Coba Nakmas bereskan orang-orang ini, tetapi jangan sampai ada yang cedera berat ”

Dan seolah-olah didengarnya pula si pemuda menja- wab, “Mengapa Kakek tiba-tiba memperhatikan kesela- matan orang-orang ini?”

“Aku merasa ada wibawa orang sakti di dekat sini....

Aku tak ingin mengundang perhatiannya,” jawab si ka- kek, kini tanpa menggerakkan bibir lagi.

“Mengapa kita harus takut pada orang yang belum tentu ada?” si pemuda bertanya lagi tanpa bersuara.

Saat itu si tinggi-besar yang mengaku bernama Ba- wong itu telah berkata, “Bolehkah Tuan menunjukkan bukti bahwa Tuan memang pencari obat?”

Si pemuda telah maju. Bertolak pinggang dan cembe- rut.

“Kaukira kau ini siapa berani bertanya kurang sopan pada kakekku?” tanyanya.

“Kami bukannya tidak sopan,” sahut Bawong menge- rutkan kening tak senang. Dan matanya memberi isya- rat agar pengepungan makin diperketat. “Ini adalah da- erah kami. Sudah wajar jika kami menanyai orang yang memasukinya.”

“Daerah kalian?” Tiba-tiba si pemuda cantik tertawa. “Apakah kau Yang Dipertuan Agung dari Wilwatikta? Kalau begitu, mohon tunjukkan buktinya.”

“Tak usah. Tanyakan pada semua orang yang ada di daerah sekitar tempat ini ,” kata Bawong makin tak se-

nang.

“Tak usah. Aku hanya percaya itu jika kau bisa me- lakukan hal yang sangat sederhana.” Si pemuda ter- senyum nakal.

“Apakah itu?” tanya Bawong.

“Bunuh dia!” si pemuda menuding. Tepat ke arah Turi. Turi terperanjat. Semua terperanjat.

Turi terperanjat dua kali karena si kakek tanpa ber- suara bertanya, “Nakmas, apa maksudmu?”

“Bukankah hamba tak boleh melukai mereka? Biar- lah si jingga ini yang membereskan mereka. Aku yakin dia mampu. Sekalian... aku ingin tahu siapa dia?” si pe- muda menjawab dengan cara yang sama.

“Kalau ternyata ia orang gila biasa?” tanya si kakek. “Hamba akan turun tangan,” jawab si pemuda sing-

kat.

Sementara itu Bawong dan kawan-kawannya sudah sadar dari rasa kaget mereka.

“Jadi... Tuan tak akan ikut campur jika kami menye- rang dia?” Bawong yang tak mengerti percakapan itu bertanya hati-hati.

“Tentu,” si pemuda tertawa dan duduk. “Terus te- rang, kami pun sudah tiga bulan ini mengejar dia. Dari desa ke desa yang punya cerita yang sama. Tadi aku hanya ingin melihat apakah kalian benar-benar punya semangat untuk membekuk dia. Nah, silakan ”

Beberapa saat hening. Semua perhatian tertuju pada Turi.

Dan tiba-tiba saja Turi bergerak begitu cepat.

Dengan gerakan tak terputus ia menyambar abu dan bara api yang tadi dipakainya untuk memanggang ubi, langsung melemparkannya ke arah Bawong dan kawan- kawannya.

Sementara semua orang menjerit terkejut, tubuh Tu- ri telah melesat miring. Berkelit dua kali dan ia telah le- pas dari kepungan.

Tiga-empat kali lompatan. Dan ia telah melesat cepat menerobos semak-semak dan pagar hidup. Kemudian tahu-tahu ia telah berlari di ladang-ladang.

Rupanya tak ada yang mengejarnya. Turi melesat naik ke sebatang pohon raksasa bercabang banyak dan rimbun.

Daerah sekelilingnya tampak jelas. Dan, ya, ia meli- hat mereka di kejauhan. Di sana, antara pepohonan dan semak-semak. Beberapa orang tampak kebingu- ngan.

Wah. Secepat itukah ia berlari? Orang-orang itu tam- pak kecil-kecil. Mereka pasti tak bisa mengejarnya.

“Dari mana kau belajar Sura-caya itu?” tiba-tiba se- buah suara terdengar di sampingnya.

Turi begitu terkejut hingga kakinya goyang dan ia langsung menjatuhkan diri ke tanah.

“Sura-caya!” tak terasa Turi membisikkan nama itu. Bukan hanya karena Ahireng pernah mengucapkannya. Tapi suara orang tua itu seolah menembus suatu lapis- an di pikirannya. Dan ia sekilas, hanya sekilas, merasa nama itu begitu akrab dengan dirinya.

Kemudian ia lupa. Orang tua itu sendiri.

Sayup-sayup terdengar teriakan maut di kejauhan. Pemuda itu! Nyalang Turi melihat berkeliling. Pemuda itu tak ada. Mungkin dialah yang menyebabkan teriak- an-teriakan maut itu.

“Muridku paling tidak suka jika ditentang kemauan- nya.” Orang tua itu seolah membaca pikiran Turi. “Dia bisa bertindak kejam, memang.”

Melihat mata si kakek saat itu, maka hati Turi men- ciut. Mata itu begitu kejam mendadak, walaupun sua- ranya lembut.

“Si... siapakah Tuan?” tanya Turi gemetar. Mundur. “Kau murid siapa?” tanya si orang tua.

“Aku... aku tak tahu ”

Sesaat hening. Si orang tua berpaling menatap wajah Turi.

“Hmmm....” Ia manggut-manggut. “Kau berkata be- nar. Kau tak tahu! Aneh!”

Semak-semak terkuak. Pemuda itu muncul. Ada ber- cak-bercak darah di pakaiannya. Ia memandang Turi penuh curiga.

“Mungkin ia salah seorang murid Rahtawu,” ia berbi- cara tanpa menggerakkan bibir pada si tua. “Gerakan larinya sangat mirip dengan orang-orang di sana. Tapi... hamba tak begitu yakin. Hamba bertiga mengawasi tem- pat itu beberapa lama saat itu. Tak terlihat ada seseo- rang yang berkulit jingga. Orang aneh macam dia pasti sangat menonjol.”

“Dia takut padamu, Nakmas....,” si tua menyahut tanpa menggerakkan bibir pula.

Tapi Turi tak memperhatikan itu. Rahtawu! Kata itu juga menyusup masuk daya ingatnya. Itu nama tempat, ataukah nama orang?

“Aku paling benci orang aneh,” tukas si pemuda. “Nakmas lupa... Sang Bhre Wirabhumi juga berkulit

jingga,” si kakek pun memotong.

“Oh!” hanya itu reaksi si pemuda. Sementara berbi- cara tanpa suara, kedua orang itu saling bergerak. Seo- lah tanpa tujuan. Tapi Turi segera merasa terkejut. Me- reka selalu berada di titik-titik mereka akan sanggup menghadangnya, ke mana pun ia bergerak.

Dan... langkah-langkah mereka mirip Ahireng jika sedang berlatih dengannya! Ahireng sering berbuat seo- lah-olah tak acuh. Kemudian tiba-tiba menyerang. Turi demikian pula. Seolah-olah tak tahu. Dan mendadak menghindar serta menerjang.

Seperti saat itu.

Mendadak saja si pemuda menjerit. Dan menerjang.

Persis gerakan Ahireng. Ahireng menamakan gerak itu Ombak Samudera Menggempur Karang. Tubuhnya berputar cepat meloncat tinggi dan menghantam sasa- ran dengan kedua kaki bertenaga penuh. Turi tak tahu nama gerakan yang dipakainya untuk menghindar. Ge- rakan itu serta merta keluar. Dan sambil bercanda Ahi- reng menamakan gerak Turi Kelabang Terinjak Luput. Semua gerakan Turi diberinya gelar dengan nama Kela- bang, karena selalu disertai gerak serangan balik yang menyengat.

Si pemuda berseru kaget. Hampir kakinya hancur oleh entakan kaki Turi. Tapi dengan mantap ia berputar mundur. Ombak Samudera Berkisar Bubar. Turi tampak seolah-olah mundur. Tapi sesungguhnya kakinya mele- cut ke depan.

Ia terjebak. Agaknya si pemuda jauh di atas Ahireng. Dua jarinya terulur menyambut kaki Turi. Dan Turi menjerit keras. Kakinya seakan menginjak bara yang sangat, sangat panas!

Turi terjatuh dan bergulingan di tanah. Si pemuda melompat maju untuk memberikan hantaman maut.

Tapi si tua berseru, “Jangan, Nakmas!”

Tapi terlambat. Si pemuda telah menghantam. Dan Turi merasa seolah-olah tubuhnya berada di lautan api. Dan tanpa terasa ia membalas. Dengan mengerahkan semua kekuatannya. Kemudian semuanya gelap.

2. NAGABISIKAN

HUJAN. Deras sekali.

Di mulut gua Nagabisikan berdiri. Deru hujan meng- embuskan angin dingin yang deras membelai jenggot putihnya.

Ia memejamkan mata.

Di dalam gua, Wara Hita yang berpakaian pemuda menutup tubuhnya rapat-rapat dengan kain tambahan. Hawa dingin tentu saja tak begitu mengganggu. Namun ia sedang kesal dan seolah-olah ingin melupakan keke- salannya itu dengan berbuat sebagai manusia lumrah. 

Berselimut rapat. Membuat api unggun. Di luar gua, di tanah lapang kecil, Turi diikat pada sebatang tonggak. Hujan deras mengguyur dirinya. Ba- sah kuyup. Dan ia masih belum sadarkan diri.

Wara Hita memainkan api dengan sebatang ranting. Sesekali ia melirik gurunya. Nagabisikan diam bagai pa- tung. Kemudian gadis itu... yang karena basah kuyup makin nyata kegadisannya, tubuh sintal yang hanya terbalut kain tipis. Dan warna jingga kulitnya tak begitu kentara diliputi air hujan.

“Dia luar biasa,” tiba-tiba Nagabisikan berbisik. “Tidak, Eyang,” tukas Wara Hita dalam peranannya

sebagai ‘cucu’ si ‘kakek’. “Dia biasa saja. Roboh dengan sekali sentuh.”

“Kau tahu satu tak tahu dua.” Nagabisikan masih memejamkan mata. “Tubuhnya berisi hawa sakti yang aku sendiri pun tak bisa mempunyainya.”

Ada sesuatu perubahan pada Nagabisikan. Dan Wa- ra Hita tentu saja segera mengetahui hal itu. Gurunya yang biasanya tak pernah mempunyai rasa iba, bahkan seolah tak pernah punya pertimbangan apa pun, tiba- tiba begitu memikirkan anak berkulit jingga itu.

“Kalau begitu lebih baik dia dimusnahkan saja. Dari- pada kelak menjadi duri.”

“Aku ingin menyelidikinya.”

“Kita buka saja perutnya. Kita lihat apa isinya.” Nagabisikan menghela napas panjang. Ia tentu me-

ngerti mengapa muridnya begitu ketus. Tetapi ia harus mempertimbangkan segala hal.

Ia sesungguhnya tak punya persoalan tentang siapa pun yang duduk di takhta Majapahit. Ia tahu, wahyu kerajaan besar itu telah lenyap. Dan mungkin ia mem- pertaruhkan diri pada hal yang sia-sia.

Dari bintang-bintang ia membaca bahwa keturunan langsung Sang Rajasa akan berakhir. Dan ia yakin pe- megang wahyu kerajaan berikutnya adalah salah satu keturunan yang tidak langsung. Ia memperhitungkan itu akan datang dari keturunan Bhre Wirabhumi. Dan ini bukan hanya dari perhitungan perbintangan. Ia me- rasa, keturunan Wirabhumi punya daya dorong lebih hebat. Mereka pasti ingin membalas dendam. Mereka juga masih punya pengaruh. Mereka manusia-manusia luar biasa.

Untuk itulah Nagabisikan rela bergabung dengan Wara Hita, yang menurut penyelidikannya memang ke- turunan langsung dari Sang Wirabhumi. Memang agak sulit memastikan apakah keturunan Sang Wirabhumi hanya satu. Ataukah memang ada. Ketika Raden Gajah melabrak Tanah Timur, keturunan Sang Wirabhumi su- dah berpencaran dan lenyap.

Tapi itu semua sesungguhnya tak perlu bagi Nagabi- sikan.

Ia bangkit dari kematian, hanya dengan tujuan satu, yaitu menaklukkan Megatruh.

Kekalahannya dari Megatruh yang lalu sangat me- nyakitkan hati. Kalah ilmu kesaktian, kalah siasat pe- rang, dari seorang yang boleh dibilang masih anak- anak!

Untuk mencari Megatruh sangat sulit. Ia hanya per- nah menyaksikan beberapa ilmu yang mirip ilmu-ilmu Megatruh yang pernah menaklukkannya. Dan ilmu Me- gatruh juga sealiran dengan ilmu-ilmu yang ada di ista- na Wilwatikta.

Maka ia memutuskan untuk sekali tepuk beberapa tujuan tercapai.

Mungkin ia bisa mendukung Wara Hita sampai ke takhta Wilwatikta.

Mungkin ia bisa menyelidiki rahasia ilmu-ilmu Mega- truh. Mungkin ia bisa mempermalukan Megatruh.

Mungkin ia bisa memancing keluar Megatruh dan menundukkannya.

Semua berjalan lancar. Perjalanannya kali ini di samping untuk mencoba kesaktian Wara Hita juga un- tuk mencari beberapa pusaka Wirabhumi yang masih ada di Wilwatikta.

Kemudian muncul anak ini.

Entah siapa dia, hawa sakti di tubuhnya sungguh luar biasa.

Tata gerak kewiraannya juga mirip-mirip gerak Sura- caya, Birawadana, dan Wajraprayaga—walaupun se- muanya tampak ngawur.

Dan kulitnya itu.

Wara Hita langsung menyebutnya jingga.

Menurut cerita, Sang Bhre Wirabhumi juga berkulit jingga.

Apakah ada hubungannya?

“Sekali pukul, hamba bisa merogoh jantungnya,” sungut Wara Hita.

“Aku tahu. Tapi aku ingin menyelidikinya,” bisik Na- gabisikan.

“Dia?” Wara Hita heran.

“Ya. Bagiku dia adalah teka-teki. Dan aku harus menjawabnya.”

“Tetapi rencana yang sudah Eyang Guru titahkan?” “Tak berubah. Hanya... berangkatlah lebih dahulu.

Langsung ke Wengker. Kita bertemu di Penataran bulan purnama ini.”

“Eyang... hamba berjalan sendiri?”

“Hitunglah sebagai ujian. Nakmas, selama ini kepu- tusanmu selalu bisa kaurundingkan dengan Paman Ju- ru Meya. Atau Bibi Huyeng. Atau aku. Dan itu tidak baik. Kau harus berlatih mengambil keputusan sendiri.” Wara Hita menunduk. Ada rasa gembira. Bahwa ia bisa bepergian sendiri. Tapi juga rasa kesal. Agaknya Sang Guru mementingkan anak ini.

“Baiklah. Titah Eyang Guru hamba junjung,” ka- tanya akhirnya.

“Bagus. Berangkatlah sekarang.” “Sekarang? Di hujan selebat ini?” “Sekarang. Di hujan selebat ini.”

Kata-kata itu dingin. Tapi bagi Wara Hita agak aneh. Ini bukan keputusan yang kejam. Ini bahkan bukan mi- rip-mirip gaya Nagabisikan.

Sesaat ia merenung.

Ia tak bisa merasa pasti sejak kapan ia berkenalan dengan Nagabisikan.

Masa kecilnya ia hanya ingat sebuah desa di pesisir selatan. Ombaknya besar-besar. Dan ia diasuh oleh Bibi Wara Huyeng. Ia ingat walaupun desa itu melarat, ia dan Wara Huyeng hidup lebih dari kecukupan, bahkan punya rumah bagai istana dan anak buah yang men- gawal mereka siang-malam.

Kemudian muncul orang berwajah jelek itu. Ki Juru Meya. Dan ia mulai belajar beberapa ilmu kesaktian. Kemudian entah sejak kapan, muncul Nagabisikan.

Dan kehidupannya berubah.

Ia harus bersiap-siap untuk jadi penguasa tanah Ja- wa.

Apa yang diperolehnya selama ini?

Ia punya jaringan yang luas. Dan ia boleh bertindak bagaikan raja. Dan ia makin yakin bahwa dialah sebe- narnya penguasa tanah Jawa.

Ia sudah punya pasukan. Ia sudah mengobrak-abrik mereka yang diperkirakan membantu tumbangnya ke- luarga Wirabhumi.

Tetapi tetap saja Nagabisikan sebagai guru utamanya mencegahnya untuk secara terbuka melabrak Wilwa- tikta. Kadang-kadang, seperti saat ini, ia pun curiga. Apakah benar Nagabisikan mendukung dirinya sepe- nuhnya?

“Ada keraguan dalam tindakanmu...,” desis Nagabi- sikan.

“Tidak, Eyang Guru. Hamba mohon pamit,” Wara Hi- ta berkata tegas. Diambilnya buntalan bekalnya. Di- eratkannya ikat pinggang serta kerisnya. Kemudian ia berlutut. Menyembah. Dan berangkat. Masuk ke hutan lebat.

Nagabisikan tak memperhatikannya. Ia memejamkan mata.

Kemudian perlahan ia berjalan masuk ke hujan lebat pula. Dengan mata tertutup rapat. Tangannya terulur mendekati Turi yang terikat.

Didekapnya gadis itu. Erat-erat. Dan hawa panas disalurkannya.

Mereka berdua bagai patung batu. Kaku. Membeku. Di hujan deras dan amukan hawa dingin. Namun terli- hat asap putih mengepul dari kedua tubuh itu.

Nagabisikan masih berpejam mata. Dan Turi mulai bergerak. Mula-mula gelisah. Kemudian meronta-ronta. Menjerit-jerit.

Seluruh tubuhnya dialiri hawa panas. Seluruh darahnya serasa mendidih.

Dan keringat pun mengalir keluar, walaupun hawa dingin begitu menggigit.

Sampai akhirnya hujan reda. Dan pagi pun tiba. Se- panjang malam mereka berdekapan.

“Ki Sanak, apa yang sedang kauperbuat?”

Suara itu terngiang, mampu menembus batas pemu- satan pikiran Nagabisikan. Ia terpaksa mengendurkan semadinya. Melepaskan Turi yang langsung lunglai da- lam ikatannya di tonggak. Nagabisikan berpaling.

Seorang pemuda berdiri memandanginya, menuntun seekor kuda. Keduanya tegap. Gagah. Bahkan si pemu- da bagai memancarkan suatu cahaya.

Mata batin Nagabisikan serasa tergetar.

“Uh... aku... ingin mengobati cucuku... “ kata Naga- bisikan.

“Ya... tampaknya dia sakit berat....” Si pemuda me- ngerutkan kening. “Kenapa kauikat?”

“Dia... biasa mengamuk jika... kumat...,” kata Naga- bisikan. “Makanya... kubawa ke sini ”

“Boleh kuperiksa?” Si pemuda bersiap melangkah mendekat.

“Aku juga punya kebisaan sedikit,” kata Nagabisikan. “Kukira aku berhasil menyadarkannya. Tapi siapa

nama Tuan?”

“Namaku Patah,” jawab pemuda itu.

“Tidak seperti orang Jawa. Suara Tuan. Dan tingkah Tuan.”

“Aku dari tanah seberang, memang,” kata si pemuda yang memang adalah Raden Patah. “Dan Tuan sendiri?” “Namaku Bisikan,” sahut Nagabisikan. “Mmm Ra-

den seorang ksatria, tentunya?”

“Karena aku lahir di keluarga ksatria.” Raden Patah tersenyum. “Namun sesungguhnya antara sesama ma- nusia sama sekali tak ada bedanya.”

“Tak ada bedanya. ” Nagabisikan mengamati Raden

Patah dari balik alis matanya yang putih terjurai. “Ra- den penganut agama baru itu?”

“Itu pun tak ada bedanya. ” Raden Patah tersenyum.

“Tak akan membuatku sombong dan berkata bahwa aku lebih benar dalam menyembah Dia yang satu   wa-

laupun aku wajib mewartakan itu pada Tuan ” “Terima kasih.... Tentunya Raden mengerti jika aku tak mau menerima warta itu?”

“Tentu, betapapun aku akan berusaha agar Tuan mendengarkannya.”

“Dan Raden mengerti jika aku tak mau diganggu da- lam mengobati cucuku ini?”

“Tentu. Sepanjang itu tidak membatasi kewajibanku kepada sesama manusia,” Raden Patah selalu terse- nyum, kedudukan kedua kaki dan tangannya santai, bahkan ia telah mundur untuk menambatkan kudanya.

“Maksud Raden?”

“Aku wajib menolong sesama manusia. Jika aku ya- kin Tuan dapat menolong cucu Tuan itu... maka tentu aku tak ikut campur. Namun jika aku berpendapat Tuan keliru berbuat atau tak mampu menolongnya, ma- ka pertama-tama akan kutawarkan bantuanku. Jika di- tolak, aku akan memaksa... sekali lagi, demi menolong jiwanya.”

“Pendirian yang sangat menarik.” Nagabisikan meng- elus jenggotnya. “Seolah-olah Raden berpendapat... Per- tama, aku tak akan mampu... Kedua, aku akan me- nolak... Hingga ketiga, Raden terpaksa memaksaku...”

“Tidak sepenuhnya begitu... sebab aku pun merasa Tuan adalah tetua yang bertuahkan terangnya pikiran dan adilnya nurani untuk bisa menilai diri sendiri atau orang lain...”

Keduanya terdiam sesaat.

Dan tiba-tiba Nagabisikan melangkah mundur. “Baiklah. Silakan Raden periksa dia,” katanya.

Tampak sesaat Raden Patah terperangah. Jawaban pasrah seperti itu sama sekali tak diduganya.

Dan tiba-tiba ia tunduk dan menyembah.

Gerak ini juga sama sekali di luar dugaan Nagabisi- kan. “Tuan sangat bijaksana,” kata Raden Patah sambil terus menunduk. “Dan aku begitu gegabah. Tetapi ini semua demi menolong jiwa gadis ini. Bukannya aku sombong dan tak menghormati golongan tua...”

“Coba sajalah Raden...,” Nagabisikan mempersilakan. Ada beberapa pertimbangan mengapa ia berbuat se-

perti itu.

Ia yakin pemuda di depannya itu bukan sembarang ksatria. Ada wibawa aneh yang begitu kuat. Dan ksatria semacam itu mungkin hanya mereka yang berada di ke- rabat terdekat istana Wilwatikta.

Tapi si pemuda mengaku beragama baru. Dan ia ber- asal dari tanah seberang. Ini merupakan teka-teki. Apa- kah hanya seorang utusan?

Kemudian, jelas, ia ingin tahu kemampuan si pemu- da.

Maka ia menunggu.

Raden Patah sendiri tak bermaksud apa-apa. Ia me- lihat keadaan gadis itu memang sangat payah. Ia me- ngerti si tua telah menyalurkan sejenis tenaga pada si gadis. Ia tak yakin itu akan memberi manfaat.

Mula-mula diambilnya selembar kain dari pelana ku- danya. Ditutupkannya ke tubuh Turi. Kemudian ia me- raba nadi gadis itu.

Turi terasa sangat panas. Dan darah bergolak tak ke- ruan. Semacam kekuatan dahsyat deras mengalir men- coba berontak.

Dengan mengerutkan kening Raden Patah mengurut tengkuk Turi, matanya terpejam dan bibirnya komat- kamit.

Lama sekali. Kemudian ia mundur. “Bagaimana, Raden?” tanya Nagabisikan.

“Penyakitnya telah dideritanya agak lama...,” kata Raden Patah seolah berbisik. “Mula-mula disebabkan semacam racun... kemudian racun yang berbeda, yang meresap ke dalam darahnya, mengherankan, tanpa daya tolak dari tubuhnya.... Setelah itu berbagai gem- puran aneh dari luar dan dari dalam dirinya... juga rasa takut... dan kebingungan yang amat sangat ”

“Wuah! Sebanyak itu keterangan yang Raden peroleh hanya dengan menyentuh tangannya?” Nagabisikan be- nar-benar kagum.

“Akan memerlukan perawatan lama sekali   Pertama

untuk menyadarkan tentang siapa dirinya sendiri Ke-

dua untuk memulihkan keaslian dirinya Ia dihinggapi

suatu tenaga asing yang sangat dahsyat ”

“Dan Raden bersedia mengobatinya?” tanya Nagabi- sikan.

“Sayang aku tak punya waktu.” Raden Patah meng- gelengkan kepala perlahan. “Aku harus bepergian de- ngan cepat.”

“Ceritakan apa yang harus kukerjakan, mungkin Ra- den bisa mengajariku?”

“Hm.” Perlahan Raden Patah berpaling dan memper- hatikan Nagabisikan. “Tuan tentunya juga memiliki il- mu yang sangat tinggi. Aku tak ingin menggarami air laut.”

“Orang berilmu senantiasa haus. Dalam usia setua ini, aku tak yakin bisa meresapi pelajaran yang Raden turunkan. Tapi aku akan berusaha.”

“Aku tak ingin berbuat gegabah dan pamer.”

“Aku yakin jika Raden bertemu orang yang ilmunya kurang dari yang kumiliki, Raden bahkan akan malu mempertunjukkan ilmu Raden...” Kali ini Nagabisikan tersenyum.

Dan Raden Patah pun tersenyum pula.

“Pertemuan kita digariskan oleh Allah,” katanya. “Itu takkan bisa kuhindari. Aku hanya akan memberikan gambaran apa yang akan kulakukan jika aku merawat anak ini. Dan semuanya terpulang pada Tuan.”

Mereka berdua berpandangan.

“Baiklah. Pertama akan kubuat anak ini tidur, dan istirahat. Tolong Tuan kemudian rawat dia sementara aku akan belajar sebentar dari bukuku.”

Dan Raden Patah bergerak cepat. Tangannya ber- kelebat. Ujung-ujung jari yang tegang dengan cepat mengentak di beberapa tempat di tubuh Turi. Turi lang- sung lemas. Dan bahkan mendengkur. Raden Patah menyilakan Nagabisikan menggendong Turi, memba- wanya masuk ke gua. Ia sendiri mengambil sebuah bu- ku besar dari pelana kudanya.

3. AKUWU TUNGGUL RETA

DI DEPAN desa Wara Hita menghentikan kudanya. Desa ini cukup besar. Tapi ia tak tahu desa apa.

Kuda putih tunggangan Wara Hita gelisah. Dua hari dua malam ia dipacu terus. Kalaupun bukan kuda pi- lihan, mungkin ia sudah roboh tewas. Tapi Tatit Katiga ini memang kuda luar biasa.

Wara Hita sendiri sangat gelisah. Baru kali ini ia me- rasakan bahwa masih ada kemungkinan impiannya bu- bar. Nagabisikan mungkin tak berpengaruh dalam sua- tu pertempuran besar. Tapi setidaknya ia adalah gu- runya. Dan ia merasa Sang Guru tiba-tiba tak memper- hatikan dirinya. Atau mungkin ini suatu siasat Sang Guru. Tapi ia tak memperoleh keterangan apa-apa. Jadi ia betul-betul merasa kecewa. Dan gelisah.

Ini pagi hari ketiga. Ia berpacu asal berpacu. Diper- kirakan ia menuju ke Wengker. Kalaupun keliru... ia pun tak peduli. Matahari terbit di balik punggungnya. Jadi ia menuju ke arah barat. Tapi tadi malam, apakah ia ke barat atau ke selatan, mana ia tahu?

“Raden, mohon ampun, kuda Raden mungkin sudah sangat terlalu lelah...,” tiba-tiba terdengar suara mene- gur.

Wara Hita tersentak kaget.

Seorang petani tua agaknya akan berangkat ke sa- wah. Orang itu menunduk menyembah, menjauh, dan menegur, semua dalam batas-batas tata cara keso- panan.

Tetapi Wara Hita sedang tak bergembira.

Sekali tangannya bergerak, tali kendali kudanya me- lecut menampar muka petani tua itu. Yang langsung roboh dengan muka bersimbah darah. Tak bangun lagi.

Darah itu mengingatkan Wara Hita akan gebrakan pertama gerakannya.

Saat itu ia menyebar teror. Dan nama Dewi Candika benar-benar ditakuti.

Huh. Mengapa sekarang semuanya jadi dingin? Memang ini siasat Nagabisikan. Biar Wilwatikta le-

ngah. Kemudian di perayaan di Wengker mereka akan menampilkan kekuatan penuh. Mungkin bisa menum- bangkan Sang Raja. Paling tidak dunia akan geger se- kali lagi.

Tapi saat itu terasa sangat jauh.

Tatit Katiga semakin gelisah mencium bau darah. Wara Hita turun dari kudanya.

Untuk apa ia harus menunggu sekian lama. Mung- kin begitu lama bahkan Nagabisikan sudah kehilangan semangat.

Ia harus membuat onar. Belum waktunya, kata gu- runya. Ia belum memiliki pusaka-pusaka yang bisa memberinya dukungan kejiwaan. Tapi perlukah?

Wara Hita memusatkan kekuatan ajiannya. “BIRA- WADANA!” pekiknya. Hawa panas menggetar di kepalan tinjunya. Dan saat tinju itu terayun terdengar desah hebat.

Kemudian tangan itu mencengkeram dada si petani tua yang tergeletak di tanah. Sosok tubuh itu langsung hangus. Habis. Jadi arang.

Wara Hita terengah-engah. Dan ini sesungguhnya tak boleh terjadi. Ia seharusnya bisa menguasai dirinya. Apa yang terjadi?

Semuanya berubah, sejak ia bertemu dengan Tun Kumala itu. Ya. Bahkan di saat-saat seperti itu ia teri- ngat akan pemuda aneh tersebut. Dan dadanya serasa panas. Mungkinkah pemuda itu tak memperhatikan di- rinya? Mungkinkah ia sama sekali tak punya daya tarik sebagai seorang wanita?

Dadanya panas kalau mengingat kemungkinan bah- wa bahkan pada saat ini si pemuda itu masih berada dalam kehangatan wanita lain! Huh.

Kemudian ia gelisah karena berbagai kegiatannya seolah terhenti. Ia tak berdaya, memang. Sesungguhnya ia tahu kelompok-kelompok kecil pasukannya telah mu- lai bergerak menyusup ke berbagai kota. Tapi itu tak membuat dirinya puas. Ia ingin kembali namanya dis- ebut dan ditakuti.

Lalu peristiwa beberapa hari yang lalu. Apa yang di- lihat gurunya pada anak berkulit jingga itu?

Apa anehnya?

Ada kalanya Wara Hita begitu kokoh memegang ke- mauannya. Tapi kini pikirannya begitu kalut.

Dihirupnya udara pagi dalam-dalam. Dan tercium olehnya daging panggang. Begitu kuat. Seolah-olah se- buah pesta akan diadakan. Tapi sepagi ini memanggang daging?

Wara Hita menggamit kudanya. Dengan gerak ringan ia melompat ke punggungnya. Dirapikannya gelungnya. Dan baju yang menutupi dadanya. Kemudian kudanya berjalan perlahan menuruni bukit.

Desa di depannya agaknya bukan desa biasa. Jalan setapak yang dilaluinya bertemu jalan besar. Dan jalan besar itu lurus menuju gerbang desa. Pagar dan ger- bang desa itu menunjukkan bahwa desa ini lebih mirip sebuah benteng. Beberapa orang bersenjata tampak duduk-duduk di depan gerbang, mengelilingi api un- ggun sisa tadi malam. Mereka membakar ubi. Tapi di balik pagar agaknya ada api unggun yang lebih besar. Di mana orang sedang memasak besar-besaran.

Wara Hita membiarkan kudanya berjalan seenaknya maju terus. Dan orang-orang yang mengelilingi api un- ggun itu berdiri. Seseorang berlari masuk ke dalam ger- bang. Untuk beberapa saat kemudian ia keluar mengi- ringi seorang lelaki bertubuh tinggi-besar dan kekar. Orang ini berdiri tegak di tengah jalan, menghadang.

Wara Hita menjalankan kudanya sampai hampir me- nubruk orang itu. Orang itu tak bergerak. Bahkan tak berkedip. Menantang tapi tetap sopan.

“Mohon ampun, Raden.... Kami mohon Raden turun dari tunggangan Raden...,” kata orang itu.

“Kenapa?” tanya Wara Hita. Ia sedikit senang pada orang ini. Tidak takut dan kalaupun takut tidak me- nyembunyikan perasaan itu dengan gertak sambal.

“Kuda Raden sudah dua hari dua malam tidak beris- tirahat. Beberapa langkah lagi mungkin dia roboh,” kata orang itu tenang.

Wara Hita tercengang. Orang ini mungkin prajurit yang sangat berpengalaman. Dan ia menghargai itu. Atau kudanya memang jauh lebih menderita dari duga- annya.

Ia ragu-ragu sejenak. Kemudian ia mengangguk. Dan mengangkat sebelah kakinya. Turun. Menepuk-nepuk muka Tatit Katiga sementara matanya terus mengawasi orang-orang yang walaupun bersikap menghormat jelas mengepungnya.

Sejak kapan orang desa berani bertingkah seperti itu pada seseorang yang mereka akui adalah seorang bang- sawan?

“Terima kasih,” kata Wara Hita akhirnya. “Aku me- mang ingin beristirahat di desa itu. Tapi agaknya kalian tidak bersahabat pada orang asing?”

“Terus terang... kami sedang bentrok dengan daerah tetangga kami...” Orang itu berkata sambil agaknya memberi isyarat agar orang-orang di sekelilingnya tak terlalu bergerombol. “Dan... mereka didukung oleh orang-orang Wilwatikta. Hanya persoalan kecil saja, Ra- den... karenanya... kami mohon jika Raden berasal dari Wilwatikta... harap menaruh belas kasihan pada kami dan mohon mengalah saja. ”

Jawaban ini betul-betul di luar dugaan Wara Hita. “Kalian berontak melawan Wilwatikta?” tanyanya he-

ran.

“Mohon ampun, Raden, itu adalah kata-kata yang kami tak berani mengakui. Kami hanya bentrok dengan desa tetangga, Raden.”

“Eh ini wilayah mana, sih?”

“Ini adalah wilayah junjungan kami, Sang Akuwu Tunggul Reta dari Pagalan... Apakah kedua nama itu membuat Raden memusuhi kami?”

“Terus terang, aku belum pernah mendengar kedua nama tersebut.”

“Memang, akuwu kami baru saja melantik diri men- jadi akuwu. Yaitu setelah menewaskan akuwu dari Ute- ran, Sang Tunggul Seloka. Ini membuat Raden murka?”

“Aku tak merasa bersangkut paut dengannya juga,” kata Wara Hita. “Sisa-sisa pasukan Uteran masih bertahan. Bahkan mendapat bantuan dari Wilwatikta. Raden bukan salah satu di antaranya?”

“Bukan, sama sekali bukan.”

“Lalu, mohon ampun, siapakah Raden ini dan apa maksud Raden?”

“Aku seorang pengembara... tak punya negara, tak punya junjungan. Jika junjunganmu baru saja merebut kedudukan akuwu dari Uteran... Aku ingin tahu, apa- kah aku mampu merebut kedudukan itu darinya.”

“Maaf, maksud Raden?”

“Kau pasti mengerti maksudku, Paman... Aku akan mencoba mendobrak pertahanan kalian. Jika berhasil, aku yang menjadi akuwu di sini... Jika tidak... aku rela mati di tanganmu.”

“Raden jangan bergurau...”

“Aku tidak bergurau, Paman... Siapa namamu?” “Nama hamba Roga, Raden, dan hamba memang di-

beri tugas memimpin pasukan orang-orang bodoh desa ini. Raden sendiri... Mohon ampun... bergelar apa?”

“Namaku Ra Hita. Sudahlah. Tak usah basa-basi. Bersiaplah...” Benar-benar Wara Hita mengambil sebilah pedang dari pelana kudanya. Ia memang tak terbiasa memakai pedang, tapi dalam kegeramannya untuk menjernihkan pikirannya ia ingin melampiaskan selu- ruh daya dan tenaganya untuk menumpas sesuatu. Mungkin orang-orang ini.

Orang bernama Roga itu mundur tiga langkah. “Hamba akan bahagia dapat tewas di tangan Paduka,

Raden, tapi sekali lagi, mohon Raden sudi mengalah. Kami semua jelas bukan lawan seorang ksatria dengan pedang pusaka seperti itu ”

Wara Hita melirik pedang di tangannya. Pedang itu memang pedang pusaka. Berwarna hitam kelabu, ter- buat dari campuran beberapa logam bertuah. Dengan ukiran kepala Kala di pangkalnya.

Ini adalah salah satu pemberian Juru Meya. Kiai Ka- la Wilis, namanya. Sebilah pedang yang memang untuk berperang. Namun masih belum punya cukup wibawa untuk jadi pedang pusaka kerajaan.

“Bersiaplah, Roga. Juga semua anak buahmu. Aku memang tak meminta apa-apa. Hanya kepala-kepala kalian!” Dan tanpa sungkan-sungkan Wara Hita mem- buat gerakan menyerang.

Ia tahu, tanpa menyerang lebih dahulu, mungkin orang bernama Roga itu akan terus mengulur waktu. Tapi kini prajurit itu tak punya pilihan lain. Sambil me- mekik ia melompat memasang kuda-kuda dan langsung membalas.

Roga ternyata sangat gesit. Sambaran pedangnya tak ada yang berlebihan. Semua mengarah titik-titik maut. Dan jelas ia menghindari benturan dengan Kiai Kala Wi- lis.

Wara Hita mengertakkan gigi. Ia mempercepat gera- kannya. Sekali pedang Roga tersambar dan... patah! Gesit Roga berjumpalitan mundur langsung berteriak, “Tawur!”

Serentak dari kiri-kanan berbagai senjata menghajar Wara Hita. Namun bahkan mereka ini bukan tandingan kegesitannya. Teriakan-teriakan terkejut terdengar, be- berapa orang roboh berlumuran darah, kemudian sunyi.

Wara Hita berdiri di antara orang-orang yang roboh di tanah, sementara Roga dan mereka yang masih sela- mat mundur merapat ke pagar.

“Raden... Raden dapat membunuh kami... Tapi kami tak akan takluk!” geram Roga.

“Bagus, itu namanya prajurit sejati...” Tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Puluhan orang menghambur keluar bersenjata lengkap, langsung me- ngepung Wara Hita.

Roga memberi isyarat agar mereka semua menung- gu. Tapi jelas terus mengepung.

“Kami sungguh malu harus mengerahkan puluhan prajurit untuk mengepung Raden...,” kata Roga.

“Tak ada yang harus malu jika kau segagah ini.” Wa- ra Hita tertawa. Sebagian kekesalannya memang sedikit lenyap.

“Mungkin ini semua juga bukan tandingan Raden. Tapi junjungan kami yang baru pasti akan memba- laskan sakit hati kami.”

“Si Akuwu... siapa namanya tadi... Itu yang Paman maksud?”

“Junjungan kami mempunyai tulang punggung juga. Mungkin Raden sudah pernah mendengar tentang orang-orang dari Trang Galih?”

Nama itu sungguh mengejutkan Wara Hita. Jelas ia terkejut. Ia memang tahu tentang rencana yang diatur oleh Nagabisikan dan sesungguhnya diotaki oleh Juru Meya. Kelompok-kelompok kecil menyusup menggero- goti Wilwatikta untuk kelak bergerak serentak.

Tapi selama ini ia hanya menerima laporan. Dan ba- ru kali ini menemukan bahwa hal itu benar-benar terja- di.

“Yang aku tahu, hanya orang-orang gila yang melu- dah ke matahari. Trang Galih itu apa, sehingga berani menentang Wilwatikta?”

“Trang Galih mungkin memang hanya cita-cita. Tapi itu cita-cita untuk kebaikan kami, Raden.”

“Jika aku bisa mengalahkan orang-orang Trang Ga- lih, maka kalian akan bergabung denganku?”

Agak lama Roga merenungi pertanyaan itu. “Sebetulnya, pertanyaan itu tak boleh hamba jawab,” katanya akhirnya. “Hamba hanya seorang prajurit. Dan prajurit hanya mengikuti atasannya. Terkadang dengan membabi buta. Jika Tuan bukan dari Wilwatikta, dan memusuhi Wilwatikta... Mungkin junjungan kami akan mau bergabung dengan Tuan.”

“Jawabanmu manis dan enak didengar, Roga. Maju- lah. Aku tak akan membuatmu cedera.”

Wara Hita kembali bersiap-siap.

Dan Roga tak sungkan-sungkan lagi. “Tawuuuur!” teriaknya.

Puluhan prajurit maju serentak. Bergantian mener- jang Wara Hita. Wara Hita tak menunggu mereka. Ia ce- pat melesat maju, menyelinap di antara kelebatan sen- jata. Dan dengan bentakan-bentakan kecil menghantam para prajurit itu dengan bagian belakang pedangnya. Mereka roboh. Tetapi tidak tewas.

Namun serangan terus datang bergelombang. Tem- pat yang roboh langsung digantikan. Dan ujung-ujung senjata tajam terus mengancam kulit Wara Hita. Wara Hita benar-benar harus menunjukkan keterampilannya. Walaupun ia sakti, rasanya ia akan kehabisan napas oleh serangan yang terus datang bergelombang itu.

Dan tiba-tiba terdengar suara gong kecil dipukul nyaring. Serentak pasukan pengepung itu pun mundur. Bagus, desis Wara Hita. Cara mereka mundur cukup baik, walaupun tak bisa dibandingkan dengan pasukan-

nya di Trang Galih.

Di pintu gerbang, muncul umbul-umbul merah.

Tanda berontak. Atau apa?

Orang-orang minggir. Dan seseorang yang bersikap keagung-agungan memajukan kudanya. Diiringi oleh empat orang yang agaknya cukup berpangkat di desa ini. Prajurit yang bernama Roga itu berlari ke arah orang tersebut. Mereka berbicara sebentar. Kemudian orang itu... turun dari kudanya!

Wara Hita mengernyitkan kening. Ia mengharapkan seseorang yang kurang ajar, serakah, sombong, atau apa saja yang membuat ia tak menyesal membunuh. Walaupun sampai saat ini ia memang tak pernah me- nyesal membunuh. Tapi agaknya orang desa ini terlalu sopan.

Bekas upacara keagamaan masih tampak di kening orang itu.

“Raden,” sapa Roga yang ikut mendekat. “Ini adalah junjungan hamba, Sang Akuwu Tunggul Reta.”

“Maafkan kami orang dusun yang tak tahu tata, Ra- den.” Kembali Wara Hita heran bagaimana orang yang menyebut diri akuwu itu begitu sopan—bahkan bersi- kap hampir seperti bawahan. “Menurut Roga yang tak tahu adat ini, Raden sesungguhnya tak punya ganjelan apa pun terhadap kami. Dan Raden juga tak punya hu- bungan dengan Wilwatikta.”

“Sang Akuwu benar,” sahut Wara Hita singkat. “Kalau begitu, mohon Raden istirahat dulu di gubuk

kami yang tak ada rupa untuk dipandang. Ada peker- jaan kami yang tak bisa ditunda. Jika Raden ingin menghukum kami, lakukan itu setelah pekerjaan kami selesai. Kami sungguh mohon belas kasihan Raden.”

Suara dan lagu orang itu merendah. Namun sorot matanya melambangkan kekerasan hati.

Wara Hita senang pada orang-orang lugu ini. “Pekerjaan apakah itu hingga Sang Akuwu sampai

menunda menyambut aku?” ia mencoba bernada meng- ejek.

“Kami tak ingin merepotkan Raden dengan persoalan kami.” Akuwu itu tampaknya tak senang. “Justru aku ingin repot, Sang Akuwu!” Wara Hita mendesak.

Akuwu Tunggul Reta sesaat menoleh pada prajurit yang bernama Roga itu. Dan Wara Hita melihat betapa mereka berdua seolah sahabat saja—yang satu minta pendapat dan yang lain memberi nasihat hanya dalam sekilas pandangan mata saja.

“Mohon maaf, kami sungguh tak punya waktu,” akuwu tadi kemudian berkata. “Pasukan Uteran telah tiba di batas desa terdepan kami. Kami harus menyam- butnya. Sudilah Raden minggir.”

“Oh, itu!” Wara Hita berpikir-pikir. Mungkin akuwu ini adalah salah satu ‘pusat kecil’ Trang Galih. Mungkin ia bisa memperoleh suatu kegembiraan dengan men- campuri urusan mereka.

“Baiklah, Sang Akuwu... Silakan melanjutkan perja- lanan. Dan akan kutunggu di wismamu.” Dan Wara Hi- ta betul-betul minggir!

Akuwu Tunggul Reta dan Roga tampak sangat terke- jut. Ini di luar dugaan mereka, tentu. Mereka hanya menduga sesungguhnya Wara Hita adalah ksatria Wil- watikta yang menyamar. Tapi kenapa begitu mengalah?

Tapi tak ada waktu untuk mempersoalkan itu. “Terima kasih, Raden, nanti kami pun akan meneri-

ma hukuman Raden dengan senang hati.” Akuwu Tunggul Reta mundur tanpa memberi hormat. Berdua dengan Roga ia berjalan ke kudanya. Sungguh akrab.

Wara Hita memperhatikan kemudian dari berbagai jurusan muncul prajurit-prajurit desa yang agaknya en- tah kapan telah menyusup dan mengepung tempat itu. Siasat yang terlalu mudah dibaca. Tetapi cukup ampuh untuk menghadapi sesama desa.

Apakah lawan mereka memang sesama prajurit de- sa? Roga tadi berkata bahwa mereka menghadapi pasu- kan Wilwatikta.

Wara Hita memperhatikan terus saat para prajurit itu berjalan seenaknya, diiringi bunyi-bunyian yang di- tabuh atas pedati. Roga dan beberapa orang gagah yang mengiringi Tunggul Reta cukup menunjukkan bahwa mereka sedikitnya memiliki ilmu kewiraan. Yang lain mungkin hanya pernah mendengar tentang bagaimana prajurit biasa bergerak.

Wara Hita bersiul memanggil Tatit Katiga. Kuda itu dari tadi diam di tempatnya, tak terganggu oleh terjadi- nya perkelahian di sekelilingnya dan juga tak ada yang mengganggunya.

Wara Hita naik ke punggung Tatit Katiga dan masuk ke desa. Beberapa prajurit desa yang sudah tua-tua dan agaknya mengangkat parang pun takkan kuat membu- kakan pintu gerbang. Mereka menghormat seolah-olah Wara Hita seorang bangsawan tinggi yang sedang me- ninjau hasil bumi. Seorang yang agaknya paling tua bahkan sukarela menuntunkan kuda Wara Hita.

“Siapa namamu, orang tua?” tanya Wara Hita semen- tara kudanya berjalan seenaknya.

“Nun?” tanya orang tua itu, menangkupkan telapak tangan di balik telinganya. “Raden ingin kelapa muda? Nanti hamba carikan, nun.”

“Nama! Namamu!” Wara Hita menuding-nuding dada orang tua itu dan memperjelas kata-katanya.

“Oh, ya... Hamba akan antar Paduka ke tempat ting- gal Sang Akuwu. Beliau baru beberapa hari ini lho jadi akuwu...”

“Lalu bagaimana beliau bisa jadi akuwu?” Wara Hita tak mendesak lagi tentang nama itu.

“Oh, itu...” Orang tua itu tertawa. “Maklum, sudah tua, Raden... Mohon maaf... Nama hamba Bogem. Dulu waktu muda sih... nama hamba Kebo Gemak. Termasuk prajurit andalan juga. Hamba pernah menangkap mal- ing dua orang sekaligus! Sekarang nama hamba dising- kat saja... Bogem. Yah. Lumayan daripada tak punya nama.”

Wara Hita malas meneruskan pembicaraan dengan orang yang agaknya kurang pendengarannya itu. Ia me- lihat berkeliling.

Desa ini cukup besar. Rapi. Dan agaknya memang siap menghadapi serbuan. Pagar-pagar diperkuat de- ngan ranjau-ranjau bambu runcing. Pintu-pintu diper- tebal dengan batang-batang kayu besar. Kaum wanita berpakaian serba ringkas. Dan bersenjata.

“Anu... dulunya Sang Akuwu itu hanya seorang pra- jurit biasa. Iya, prajurit biasa,” kata Bogem lagi penuh keyakinan. “Nun, bagaimana, Raden?” ia berdiam diri sejenak, seolah-olah mendengarkan omongan Wara Hi- ta. “Oh, ya, kami memang sudah siap. Hamba bahkan sudah dua kali makan. Terima kasih, terima kasih. Ka- lau Paduka ingin bersantap, bersantap saja di tempat Sang Akuwu. Istri Buyut kami sangat pandai memasak. Hamba pernah makan makanan sisa Sang Buyut Paga- lan. Wah. Seperti santapan para dewa! Padahal itu baru sisa, lho!”

Wara Hita merasa tak perlu bertanya lagi pada Ki Bogem ini. Toh jawabannya akan simpang-siur. Se- enaknya ia menjalankan kuda di jalan yang lengang itu. Setiap rumah yang dilewatinya selalu menyembunyikan orang-orang yang mengintipnya. Wara Hita tak acuh. 

Kemudian ia sampai di rumah Akuwu. 4. NYAI BUYUT PAGALAN

RUMAH itu berhalaman luas. Dan besar. Enam orang prajurit desa mengintip dari sela-sela pintu gerbang, sampai kemudian Ki Bogem berseru, “Teman! Bukakan pintu. Ini tamu Gusti Akuwu, kok!”

“Benar, itu, Bogem? Kudengar tadi dia kok ngamuk di gerbang desa!” Seseorang bertanya sementara yang lain membukakan pintu gerbang.

“Alaaa, kamu ini. Musim perang mikir sawah! Nanti musim panen malah berkelahi dengan tetangga. Sudah, bilang ke Nyai Buyut ada tamu, gitu...,” kata Bogem.

Orang itu menggelengkan kepala, tapi berlari juga masuk. Yang lima lainnya berdiri agak jauh, seolah-olah mengepung Wara Hita dan Ki Bogem.

“Wuah! Kalian tahu apa!” kata Ki Bogem. “Tadi Ra- den ini dikeroyok seratus orang... wuah! Semuanya ro- boh! Bahkan Kiai Roga juga tidak mampu menga- lahkannya! Untung kemudian Sang Akuwu datang. Dan atas petunjuk dan perintah beliau, Raden ini mau me- ngalah. Lagi pula beliau belum bersantap. Makanya ke- mari dulu untuk mencoba masakan Nyai Buyut. Kalian pasti belum pernah merasakan makanan sisa Sang Buyut dulu, ya! Wuah! Seperti santapan surga!”

“Bogem, jangan banyak bicara, silakan tamu kita masuk,” terdengar suara wanita dari pendapa. Wara Hi- ta turun dari kudanya dan mendekat.

“Biar kudanya hamba urus, Raden!” kata Bogem gembira dan bangga. Ia menuntun Tatit Katiga pergi.

Di pinggir pendapa berdiri Nyai Buyut. Orang itu berkabung. Tetapi di pinggangnya terselip sebilah keris. Dan walaupun sikapnya menghormat, tangan kanannya tak pernah jauh dari hulu keris itu.

“Maafkan sambutan yang sangat kurang ini... Mohon nama harum Raden serta asal Paduka?” tanya Nyai Buyut Pagalan.

“Aku hanya orang yang kabur ditiup angin tak ke- ruan asal tak tentu tujuan. Namaku Ra Hita. Dan sa- rika?”

“Hamba Nyai Buyut dari Pagalan...” Nyai Buyut tun- duk.

“Tapi bukankah ini kedudukan Akuwu? Di mana pendamping Akuwu?”

“Sang Akuwu memang tidak memiliki pendamping... karenanya... untuk sementara hamba dititahkan meng- urus segala sesuatu di rumah besar ini...” Nyai Buyut tunduk kemalu-maluan.

“Hm,” Wara Hita kemudian duduk, bersandar di tiang besar. Sunyi keadaan sekeliling rumah besar ter- sebut. Sayup-sayup terdengar suara burung. Sejuk dan bening.

“Nyai Buyut... berkabung?” tanyanya kemudian. “Benar, Raden... Suami hamba... dan... putra hamba

tewas...” Nyai Buyut makin tunduk.

“Ah, maaf... Coba ceritakan, apa yang telah terjadi...” Wara Hita bangkit kemudian mendekati seperangkat ga- melan yang ada di pendapa itu. “Berceritalah... aku bisa mendengarkan sambil main,” katanya tersenyum.

Ia betul-betul memainkan gamelan kayu itu.

Dan setelah tertegun sesaat, Nyai Buyut pun berce- rita. Suara gamelan yang ditabuh oleh Wara Hita begitu merdu. Mula-mula hanya berlagu yang enak didengar. Kemudian memikat. Menyita perhatian. Merenggut suk- ma mereka yang mendengarnya.

Nyai Buyut tadinya hanya bercerita tentang perten- tangan antara Akuwu Uteran dan para Buyut Selatan. Kemudian ia bercerita tentang watak Buyut Pagalan. Tentang bagaimana jiwanya tertekan. Bagaimana putra tunggalnya tertekan. Bagaimana sesungguhnya putra tunggal itu bukan putra Buyut Pagalan sendiri. Bagai- mana ia mencurigai bahwa sang putra tersebut tewas karena kehendak Sang Buyut. Kemudian bagaimana Sang Buyut tewas. Dan digantikan oleh Ki Rota yang kini bergelar Tunggul Reta. Rota yang dulu pendiam. Sabar. Menerima apa adanya. Kini jadi akuwu. Rota yang dulu hanya hamba. Tetapi juga Rota yang dulu temannya bermain. Dan bahkan sampai saat ia diper- sunting oleh Buyut Pagalan, Rota merupakan orang yang paling dekat dengannya. Lebih dekat dari sang su- ami. Bahkan membuahkan si Rebeg.

Semua yang ada dalam hatinya tercurah keluar. Sei- rama dengan semakin sedihnya lagu yang dimainkan Wara Hita.

Namun tiba-tiba lagu yang begitu lembut mengalun mengalir, mendadak kacau. Cepat. Lambat. Keras. Lembut. Dan berhenti. Wara Hita membanting penabuh gamelan.

Nyai Buyut Pagalan bagaikan tercekik, menjerit pen- dek, dan mundur. Wajah ‘pemuda’ yang tampan itu me- rah padam. Matanya membara.

“Kaum lelaki memang keterlaluan mempermainkan kita, Bibi...,” desis Wara Hita geram.

“Ki... kita?” Nyai Buyut heran.

“Kau terlalu lemah jadi wanita! Seenaknya kemau- anmu ditindas!” gemas Wara Hita berdiri, mengentak kaki mengepalkan tinju.

“Hamba... hamba tak merasa ditindas....” Ketakutan Nyai Buyut menyembah. “Mungkin tingkah laku hamba kurang hingga Kakang Buyut tak berkenan... dan jika hamba tidak bahagia dengannya... sudah lumrah... hamba bahagia dengan Ki Rota... Dan... hamba terima... putra hamba tewas... Mungkin itu hukuman Dewata!” “Tapi aku tak terima begitu saja!” kata Wara Hita de- ngan lantang.

“Toh tak ada gunanya, Raden... Segalanya sudah berlalu...”

Wara Hita menahan diri untuk membentak. Pasti wanita desa ini tak tahu yang sedang dipikirkannya.

Ia memikirkan dirinya sendiri.

Dan kaum lelaki yang dituduhnya mempermainkan- nya.

Jelas, ada Nagabisikan yang menjanjikan apa saja untuk mencapai takhta. Tetapi tak pernah terwujud. Juru Meya mungkin tidak terlalu buruk. Tetapi ia yang merupakan pengasuhnya sejak kecil kenapa begitu ta- kut pada Nagabisikan? Mengikuti semua siasat yang di- aturnya hingga sering melupakan kepentingan dirinya, sebagai majikannya yang utama?

Huh.

Lalu... yah... Tun Kumala. Pemuda seberang itu. Wara Hita menarik napas panjang.

Ia merasa terhina oleh tiadanya perhatian dari Tun Kumala.

“YaaaaaaaaaaaaaaaaAAAAAAAAAAAAAAAT!” menda- dak saja ia menjerit keras dan melompat ke luar penda- pa, ke halaman.

Di sana ia berdiri kaku. Tegar. Matanya nyalang.

Pekikannya tadi membahana dan membuat belasan orang berlarian datang. Dan semua tertegun terpaku.

Di mata mereka, si pemuda bangsawan bergerak per- lahan. Kakinya bergeser. Tangannya perlahan terang- kat. Matanya membelalak tajam. Mulutnya komat-kamit membaca mantera.

Suasana terasa begitu tegang. Semua mata tertuju pada sosok bertubuh kecil di halaman luas itu. Semua merasa seolah-olah udara mendadak panas. Pengap. Sesak. Menekan. Menunggu meledak. “WAJRAPRAYAGAAAA!” tiba-tiba Wara Hita meme-

kik. Tubuhnya melompat dan turun dengan kuda-kuda mantap. Kedua tangan diangkat tegang dan mendadak seolah-olah seluruh tubuhnya membara!

Beberapa prajurit tua muncul. Mereka kebingungan. Berteriak-teriak. Lari ke sana kemari. Menyiapkan sen- jata tapi tak tahu untuk apa.

“Goblok semua! Lari saja!” itu teriak Ki Bogem. “Dia kemasukan gandarwa!”

Kembali semua ribut. Lari saling bertubrukan.

Dan tiba-tiba Wara Hita melompat tinggi. Memekik keras. Tangannya menghantam.

Orang-orang menjerit. Dan seolah-olah terdengar de- ru angin dahsyat. Hawa panas. Pintu gerbang yang ja- raknya sekitar sepuluh langkah dari Wara Hita mele- dak. Semburat. Hancur berkeping-keping. Dan roboh gemuruh.

Kemudian semua sunyi.

Kemudian terdengar suara gumam beberapa orang mengucapkan mantera. Dan suara tangis. Dan bebe- rapa batu menggelinding jatuh.

Di tengah halaman berdiri Wara Hita. Kain penutup bagian atas tubuhnya koyak-koyak dan bertebaran di- tiup angin. Rambutnya terurai.

Kecantikannya membuat semua orang terpukau. Sesaat tubuhnya yang indah itu bagaikan membara.

Kemudian luruh. Kulitnya yang kuning langsat tampak nyata dengan pakaiannya yang serba biru dan rambut yang terurai.

Perlahan ia membuang sobekan kain di punggung- nya. Perlahan ia berjalan ke pinggir pendapa.

“Nyai Buyut!” panggilnya lembut.

Nyai Buyut yang bersembunyi di sudut pendapa be- berapa saat tak beringsut.

“Nyai Buyut!” panggil Wara Hita lagi.

“Ya... ya... Raden...,” gemetar wanita itu mendekat. “Kumpulkan semua orang di sini. Aku juga bosan

menanti.”

“Menanti apa..., Raden?” Nyai Buyut kebingungan. “Aku bosan hanya menunggu.” Mata ayu Wara Hita

luruh. “Aku harus merebut kendali. Mulai saat ini!” “Si... siapakah sesungguhnya... Paduka?”

“Aku keturunan langsung Sang Rajasa. Di tubuhku mengalir darah Bhre Wirabhumi. Akulah Wara Hita, yang akan menggulingkan takhta Wilwatikta! Ya. Aku. Aku sendiri. Aku tak perlu bantuan siapa pun!”

Orang-orang desa itu hanya melongo heran. Seakan tak seorang pun percaya akan kata-kata itu. Sampai kemudian Ki Bogem yang juga sudah muncul berkata, “Ya, bagus kalau begitu, Raden... eh, Gusti Ayu... me- mang kami tidak akan bisa memberi bantuan kok... Yaaaa... kalau sekadar makan dan minum ya bisa saja

... Tuh, Nyai Buyut tuh jago masak, lho... Wah, masa- kannya... seperti makanan dewa-dewa... Iya lho, Kang!” Ia berpaling pada orang di sebelahnya. “Aku pernah me- rasakan, kok!”

“Hayah! Omong kosong! Kamu makan hidangan Nyai Buyut? Jangan mimpi!” Orang yang di sebelahnya itu mengejek.

“Lho, lho, lho! Kok tidak percaya... Ya memang sisa, di bekas tempat santap Ki Buyut... Tapi toh namanya masih hidangan Nyai Buyut! Ya toh? Ya toh?” ia ber- tanya kiri-kanan.

“Diam!” bentak Wara Hita kesal. “Semua yang bisa bawa senjata, kumpul di sini. Kita berangkat sekarang juga! Kita rebut Uteran!”

“Lho, Gusti! Kalau mau beli senjata di sini banyak, tak perlu jauh-jauh ke Uteran!” kata ki Bogem.

“Huh!” Wara Hita tidak sabar. Tubuhnya seakan tak bergerak. Tetapi tiba-tiba saja Ki Bogem yang berada sekitar sepuluh langkah di depannya menjerit. Terang- kat, terlempar ke belakang, terbanting, dan tewas de- ngan tubuh hangus!

Ribut semua orang. Para prajurit tua itu berlarian saling tubruk. Kaum wanita berjeritan dan semburat.

“Berhentiiiiii!” jerit Wara Hita gemas. Semua berhen- ti. “Gelarku Dewi Candika, Sang Pencabut Nyawa! Ka- lian ikut aku, atau hancur! Pulang semua, dan kembali kemari. Ajak siapa saja yang masih bisa membawa sen- jata! Dengar! Kalau kentongan itu berbunyi dan masih ada yang di rumah... tak usah tanya apa dosa kalian!”

5. DEWI CANDIKA

BEBERAPA saat suasana senyap di tanah luas di batas desa itu. Tanah itu gersang. Sedikit bersemak-semak di sana-sini. Biasanya anak-anak gembala empat desa yang membatasinya menggembalakan ternak mereka di sini.

Tapi kini di perbukitan sebelah utara telah berdiri siap beberapa gerombolan manusia. Mereka membawa panji-panji merah tanda berontak. Dan Rota duduk te- gak di punggung kudanya di pucuk barisan.

Bagi ia dan orang-orang yang bergabung dengannya, ia adalah seorang akuwu. Akuwu Tunggul Reta.

Bagi orang-orang Wilwatikta ia masih seorang praju- rit desa yang berontak. Dan semua orang dapat mem- bunuhnya. Bahkan menerima hadiah untuk itu.

Yang memimpin barisan di perbukitan sebelah sela- tan bukan sembarang orang. Gugurnya Juru Wira Pra- kara yang masih merupakan kerabat dekat Sang Bhre Kuripan merupakan berita besar. Daha yang merupa- kan tempat terdekat dengan daerah kejadian itu tak tanggung-tanggung mengirim sebuah pasukan pilihan di bawah seorang panglima yang sangat terkenal, Arya Barat. Panglima ini pernah melabrak ke pulau-pulau di timur Nusantara dan sangat tenar dengan permainan pedang panjangnya— yang benar-benar panjang seperti daun pisang.

Arya Barat tidak tanggung-tanggung. Ia tak mau me- makai pasukan dari Uteran. Hanya pasukannya sendiri. Pasukan yang pernah mengobrak-abrik Gurun.

“Itukah pasukan pemberontak itu?” tanya Arya Barat pada prajurit kepercayaannya, Ki Taluktak.

“Agaknya demikianlah, Gusti.” Taluktak menudung- kan tapak tangan di atas matanya agar tidak silau.

“Pasukan lelucon!” dengus Arya Barat. “Tidak usah omong-omong lagi. Maju dan bunuh semua mereka. Jangan beri ampun lagi!”

“Daulat, Gusti!”

Dengan beringas Taluktak mengangkat tombak pu- sakanya dan menjerit, “Majuuu! Bunuh semua!”

Gemuruh pasukan itu bersorak-sorai menyambut perintah tersebut. Mereka langsung menghambur berla- ri dengan berbagai senjata diayun-ayunkan. Teriakan mereka memang menyeramkan. Dan ini mungkin yang membuat Akuwu Tunggul Reta tertegun.

“Roga, mereka menyerang ngawur,” desisnya pada Roga yang setia mendampinginya.

“Benar, Gusti.” Dengan tenang Roga memperhatikan pasukan lawan yang berlari mendekat di kejauhan itu.

“Beri isyarat untuk membentuk Gelar Supit Urang, jepit pasukan utama yang berkumpul di bawah panji- panji hijau itu dan hancurkan pasukan-pasukan sam- pingnya. Aku dan pasukan Buyut Sumbing akan berada di supit kiri. Maju!”

Tunggul Reta menggerakkan kudanya maju, semen- tara Roga bersuit keras dan melambai-lambaikan dua umbul-umbul merah.

Di seberang padang, Ki Taluktak meloncat berdiri di atas punggung kudanya. Memang bukan kedudukan yang mantap untuk berperang, tetapi inilah gayanya. Berada tinggi di atas kudanya, ia memegang tombak pusaka di pangkal pegangan dan mengayunkannya ke kiri dan ke kanan. Bagaikan pedang panjang tombak itu langsung membabat musuh yang datang mendekat.

Di puncak bukit Arya Barat beberapa saat memper- hatikan pertempuran di padang di bawahnya itu. Ia ter- tawa tak bersuara.

“Agul-agul,” panggilnya pada seorang pengawal pri- badinya. “Lihat pasukan kampungan itu... mencoba me- nerapkan Gelar Supit Urang!”

“Benar, Tuanku... Tuan ingin hamba menghancur- kan pimpinan supit yang kiri?” tanya Agul-agul.

“Hm... tak usah... mana busur panahmu...,” kata Arya Barat.

“Mohon jangan diejek, Tuanku... Ini hanya busur mainan anak desa...” Agul-agul mempersembahkan bu- surnya, sebuah busur yang terbuat dari kayu berwarna hitam dan keras bagaikan besi.

“Mmmh, ini yang kauberi nama si Penyapu Angin, bukan?” Arya Barat beberapa saat menimang-nimang busur itu. “Busur yang sangat baik. Mana anak panah- nya...?”

“Mungkin akan membuat Paduka sangat kecewa, Tuanku...” Agul-agul mengajukan tabung panahnya.

“Coba lihat, apakah aku masih sehebat dulu ” Arya

Barat memasang sebatang anak panah dan merentang- kan busurnya. Saat itu Tunggul Reta sudah berada di kancah per- tempuran. Dengan tenang ia menebas kiri-kanan. Pra- jurit lawan bergantian roboh di mana pun ia lewat. Um- bul-umbul merahnya mengikuti terus sampai tiba-tiba terdengar suara berderak keras.

Sesaat akuwu pemberontak Tunggul Reta terpera- ngah. Umbul-umbulnya patah!

Dan kemudian terdengar desingan yang dikenalnya.

Anak panah bertenaga luar biasa!

Cepat ia berputar, pedangnya menyambar. Tepat menghantam putus anak panah Arya Barat yang kedua. “Kakang Roga! Mahameru!” Tunggul Reta memekik,

dan tiba-tiba membelokkan pasukannya.

Di ujung sana, di atas hiruk pikuk pertempuran itu Roga mendengar pekikan bekas teman sejawatnya. Ini adalah siasat yang biasa mereka lakukan. Tunggul Reta, atau Rota waktu itu, bergantian memancing perhatian musuh terkuat agar Roga bisa mendekati musuh terse- but.

Roga melompat turun dari kudanya, dan kini dengan beringas menerobos pasukan musuh di depannya.

Mungkin Roga hanya prajurit desa. Tetapi ia betul- betul perkasa. Bahkan pasukan utama yang pernah me- labrak Tanah Melayu terpaksa mengakui hal itu. Pasu- kan yang garang ini kena batunya. Tunggul Reta tidak sungkan-sungkan, melabrak lawan tanpa pilih pangkat dan cara. Entah kapan di kedua tangannya telah terpe- gang pedang panjang. Dan setiap gerakannya pasti menghasilkan korban. Tak peduli hanya sebelah kaki. Atau selebar punggung. Atau tebasan mantap yang menggelindingkan kepala.

Ki Taluktak terkejut melihat pasukan yang semes- tinya menjaga Arya Barat seolah tersibak oleh orang yang satu ini. Ia berteriak pada Agul-agul, “Agul-agul! Pagari junjungan kita. Jangan terpancing!”

Ia seolah meraba siasat Tunggul Reta. Dengan sedikit gerakan kaki, kudanya melabrak ke arah akuwu pem- berontak itu. Dan bahkan prajuritnya sendiri harus menyingkir kalau tak ingin tersambar ujung tombak pusakanya.

“Tuanku, ke kiri!” teriak Agul-agul pada Arya Barat. Ia pun bersuit keras agar pasukan khusus yang dipim- pinnya terus merapat menjaga sang panglima. Tapi Arya Barat hanya tertawa. Pedangnya yang sebesar daun pi- sang diangkatnya tinggi-tinggi dan ia menggeprak ku- danya, “MAJUUUUUUUUUU!” pekiknya mengatasi hi- ruk pikuk.

“Tuanku!” seru Agul-agul. Terlambat. Arya Barat te- lah menghambur menuruni bukit.

“TAWUUUUURRRR!” Pada saat yang sama Roga me- mekik keras, melambaikan pedangnya. Dan sekelompok pasukan yang tak keruan rupa pakaian dan persenja- taannya muncul dari balik batu-batu dan semak- semak. Mereka langsung menghadang gerak Arya Barat, seolah tanpa siasat dan tanpa aturan. Wajah-wajah se- ram, dipoles berbagai warna seram. Pakaian aneh. Per- senjataannya pun ngawur: pemotong rumput, alu, tom- bak berujung dua, gada, bola-bola besi dengan rantai... apa saja. Bahkan ada yang membawa kantong berisi ba- tu untuk dilempar-lemparkan.

Ini adalah pasukan maling. Roga telah mengumpul- kan para penjahat di daerahnya, dan dengan sedikit do- rongan dan tekanan, kini melepaskan mereka di medan perang, untuk berbuat sesuka hati mereka!

Dan bahkan para prajurit yang telah teruji oleh keke- jaman pertempuran di tanah seberang jadi bergidik me- lihat tingkah mereka. Tingkah polah pasukan aneh ini terkadang menjijikkan, terkadang begitu kejam hingga para prajurit yang paling berpengalaman pun terpaksa berpaling..., hingga lengah dan berakibat menggelin- dingnya lagi sebuah kepala.

Agul-agul susah payah mencoba memagari junju- ngannya. Beberapa kali ia harus menghindari lempa- ran-lemparan kepala atau kutungan anggota tubuh pra- juritnya, atau semburan darah dari mulut lawan... bu- kan darah mereka sendiri, tetapi darah yang mereka isap dari prajurit yang telah tewas.

Taluktak melihat hal itu dari kejauhan, tetapi ia tak bisa mendekat. Tunggul Reta telah mengikatnya dalam pertarungan yang ketat. Ia agak lega melihat betapa junjungannya, Arya Barat masih tetap bertahan.

Dan Arya Barat memang panglima perkasa. Ia tak terpengaruh oleh pertunjukan maut di sekelilingnya. Lebih dari itu, pedangnya yang selebar daun pisang itu membuatnya tak bisa didekati. Ia bahkan tertawa ter- bahak-bahak jika sebuah potongan tubuh dilemparkan padanya... dan celakalah si pelempar—Arya Barat me- ngejarnya terus sampai si pelempar roboh oleh hantam- an pedang raksasanya. Ia merasa tempat bergeraknya makin lapang. Mungkin lawan ngeri oleh sepak terjang- nya dan menjauh. Mungkin... mungkin... para prajurit- nya sudah begitu banyak yang roboh dan ia tinggal sen- diri... Arya Barat sesaat berhenti.

Ia tertegun. Ia memang sendiri. Di tempat lain per- tempuran masih berkecamuk. Tapi di sekelilingnya te- lah terbentuk sebidang tanah kosong. Dipagari oleh be- berapa orang gagah. Dan... mereka dari pihak lawan!

Tunggul Reta ada di sana, dengan kaki menginjak Agul-agul yang tengkurap di tanah. Roga juga ada di si- tu, ia berhasil menerobos garis perlindungan Taluktak yang kini dikepung dan diganggu oleh pasukan para penjahat. Buyut Sumbing juga ada. Dengan gada ber- lumuran darah, menyeringai lebar. Dan beberapa praju- rit desa lain. Prajurit desa! Mata Arya Barat mengatakan bahwa orang-orang ini sungguh punya bakat untuk menjadi prajurit-prajurit andalan. Sayang mereka ber- ada di pihak pemberontak.

“Bangsat kalian!” tiba-tiba ia membentak. “Hayo ce- pat tunduk dan menyembah ke arah Wilwatikta sebe- lum Kiai Wayuludira ini menggelindingkan kepala ka- lian!”

“Tuan Panglima, engkau sungguh gagah!” sahut Tunggul Reta yang harus berteriak untuk mengatasi hi- ruk pikuk sekelilingnya. “Bahkan di hadapan maut pun kau bisa menggertak!”

“Aku akan bunuh diri jika kurasa aku tak sanggup menumpas kalian!” Arya Barat meludah. “Tak sudi aku mati oleh senjata-senjata hina itu! Kalian berperang dengan sangat bagus, kuakui itu. Tapi jalan kalian sa- lah. Menyerahlah, dan kalian kuampuni serta akan ku- jadikan prajuritku!”

Tunggul Reta tertawa, sementara makin banyak pra- jurit pemberontak yang mengitari tempat itu. Agaknya mereka telah kekurangan lawan. Di tempat lain pertem- puran memang masih berlangsung, tetapi di bagian te- ngah padang ini kiranya perlawanan para prajurit Wil- watikta sudah tak berarti lagi.

“Kaujawab sendiri ajakanmu itu, Tuan. Jika aku me- nyerah, aku hanya jadi prajuritmu. Jika aku menang, aku bisa jadi raja muda di daerah ini. Pilihan yang sa- ngat mudah, bukan? Takluklah. Kau bisa jadi praju- ritku. Atau, kalau kau mau, boleh kukirim kau hidup- hidup, dan aman, ke Wilwatikta!” kata Tunggul Reta.

“Keparat!” bentak Arya Barat. “Kau memang mengi- dam jadi mayat!”

Kiai Wayuludira, pedang raksasanya, kemudian menderu menebas Tunggul Reta. Tunggul Reta tertawa mengejek. Melompat tinggi dan membalas dengan ceca- ran kedua pedangnya.

Roga pun tak tinggal diam. Ia memekik melompat maju. Demikian juga Buyut Sumbing.

Dan Arya Barat masih bertahan. Pedangnya bisa menjadi perisai sangat ampuh terhadap gada Buyut Sumbing serta tombak pendek dan keris Ki Roga. Teba- san pedang raksasa itu juga sangat bertenaga. Bilahnya yang lebar seakan memberi tenaga tambahan yang dah- syat. Beberapa prajurit yang ikut menonton terbelah tu- buhnya oleh sambaran pedang ini.

Namun Tunggul Reta, Roga, dan Buyut Sumbing te- rus mendesak. Sekali saat Rota melompat tinggi, meng- injak bilah pedang Arya Barat dan melompat untuk menghantam kepala panglima itu. Arya Barat cepat me- nunduk, menghantam Buyut Sumbing yang mencoba merangsak maju. Teriakan Buyut Sumbing diiringi te- riakan Arya Barat sendiri. Ternyata Tunggul Reta telah menggulingkan tubuh, menyerang dari bawah bayang- bayang pedang Arya Barat dan menghantam kakinya.

Arya Barat terlompat dan jatuh tunggang-langgang. Ternyata kaki kirinya telah terbabat tadi oleh pedang Tunggul Reta!

Belum sempat Arya Barat bangkit, Tunggul Reta, Buyut Sumbing, dan Roga telah melompat mendekat dan senjata mereka telah terangkat untuk menurunkan hantaman terakhir.

Arya Barat mengangkat pedangnya untuk menerima hantaman itu.

“Tunggu!” teriaknya.

“Apa?” tanya Tunggul Reta. “Kau menyerah?” “Biarkan aku bunuh diri!” kata Arya Barat.

“Mana ada ksatria Wilwatikta menyerah pada nasib?” tiba-tiba saja suara itu terdengar. Tidak keras, namun cukup nyata di atas segala hiruk pikuk itu.

Seorang tua telah berdiri di depan Arya Barat, ter- iring jeritan terkejut Tunggul Reta, Buyut Sumbing, dan Roga yang tiba-tiba merasakan senjata mereka terpen- tal.

“Siapa kau?” tanya Tunggul Reta, dan ia terkejut. Orang tua itu sesaat tadi menunjukkan wajah sabar, berwibawa, tenang. Tapi tiba-tiba saja wajah itu keruh. Mata tua di balik alis mata yang putih tiba-tiba liar. Dan tangan-tangan tua itu mencengkeram dadanya sendiri. Kemudian si tua berlompatan, menjerit-jerit, menghan- tam kalang kabut ke kiri dan ke kanan.

Roga menjerit. Ia mencoba membabat tubuh si tua dengan kerisnya. Akibatnya membuat ia terkejut. Keris itu bagaikan menghantam batu. Api memercik dari tinju si kakek. Dan sebuah tenaga gaib mendorong Roga ke belakang.

“Siapa kau?” teriak Tunggul Reta.

Si kakek tak menyahut. Ia kini berdiri dengan kokoh, memasang kuda-kuda, matanya terpejam rapat tak menghiraukan para prajurit yang telah berlarian men- datangi dan mengepungnya.

“Tawur!” teriak Roga yang belum bangkit dari tanah.

Serentak para prajurit maju. Tapi pada saat yang sama si kakek juga bergerak. Begitu cepat. Begitu ber- tenaga. Dan begitu berisik.

Tiba-tiba saja udara panas bagaikan menyelimuti tempat itu. Angin sepanas api menghantam berputar bagai puting beliung. Siapa pun terhantam roboh, men- jerit, dan roboh lagi terlempar. Tunggul Reta geram, ma- ju mengandalkan kuda-kuda kakinya. Tapi kedua pe- dangnya tertampar ke samping dan sebuah tendangan keras membuat dadanya serasa pecah. Roga menjerit melihat sahabat dan junjungannya roboh. Ia menerjang maju. Ia hanya mampu membuat tujuh langkah gerak- an saat sebuah tinju panas dan keras menghantam ke- palanya.

Buyut Sumbing punya kesempatan untuk menggada kepala si kakek. Namun Arya Barat yang sejak tadi menggeletak di tanah tiba-tiba meloncat dan menya- betkan pedang raksasanya.

“Tuan... terima kasih...,” Arya Barat tak sempat me- nyelesaikan kalimatnya. Si kakek menjerit dan meloncat ke arahnya! Arya Barat melangkah mundur dan roboh terguling—ia lupa bahwa kaki kirinya kini hanya seba- tas pertengahan betis. Tapi jatuhnya itu telah menyela- matkan dirinya. Si kakek melesat di atas tubuhnya, meninggalkan hawa panas yang seolah membakar perut dan dada Arya Barat. Dan lenyap di kejauhan. Dengan jerit masih bergema.

Terengah-engah Arya Barat berdiri.

“Kau! Kemari!” pekiknya pada seorang prajuritnya yang ternyata berhasil menerobos kepungan pasukan pemberontak dan mendekat. “Dukung aku!”

Arya Barat meloncat dengan satu kaki. Langsung hinggap di bahu prajurit yang berbadan tinggi-besar itu. “Hayo, maju, bergabung dengan Ki Taluktak!”

Bagaikan naik di punggung kuda, Arya Barat me- nyerbu. Darah dari kakinya yang putus membasahi da- da prajurit itu, tapi keduanya tak peduli. Dari bahu si prajurit Arya Barat membabat kiri-kanan. Sementara si prajurit leluasa pula menggunakan tombaknya dengan dilindungi oleh Arya Barat dari atas. Dengan cepat me- reka berhasil menerobos dan bergabung dengan Taluk- tak. Taluktak pun sigap menggantikan sang prajurit dengan seekor kuda yang kebetulan ada di dekatnya.

“Taluktak! Gelar Cakramanggilingan! Lindas mereka!” teriak Arya Barat. Kini ia punya waktu untuk membebat kaki kirinya, sementara beberapa prajurit pilihan me- ngelilinginya. Taluktak pun melompat ke punggung ku- da dan menggerakkan dua bendera kecil di tangannya.

Pasukan yang tadi cerai-berai oleh terjangan kaum pemberontak itu tiba-tiba serentak berseru keras ber- gema, dan berlarian meninggalkan tempat masing- masing berlari berputar berkeliling dengan mengambil kedudukan Arya Barat sebagai poros putaran.

Pasukan pemberontak masih mencoba mengacaukan gerak lawan ini. Tapi mereka agaknya tak begitu berse- mangat lagi.

“BERHENTIIIIII!” tiba-tiba terdengar teriakan Arya Barat menggelegar. “DENGAR, HAI CECUNGUK-CECU- NGUK! PIMPINAN KALIAN TELAH TEWAS SEMUA! ME- NYERAHLAH!”

Sesaat kemudian sunyi senyap di padang itu. Pasukan Arya Barat telah rapi kini membentuk Gelar

Cakramanggilingan, sekelompok benteng manusia yang kokoh dan sangat berbahaya di sekeliling panglima me- reka. Pasukan pemberontak sendiri memang kocar- kacir, dan kebingungan tanpa pimpinan.

“KALIAN DENGAR ITU? PIMPINAN KALIAN TELAH

TEWAS SEMUA! MENYERAHLAH!” teriak Arya Barat la- gi.

“TIDAAAAK!”

Suara yang menjawab itu begitu bening. Keras, na- mun masih enak didengar. Tidak seperti kerasnya teria- kan Arya Barat yang tidak merata, maka yang ini mem- buat tiap orang di lapangan luas itu merasakan keras yang sama. Dan jelas ini suara wanita.

Semua berpaling ke puncak bukit yang membatasi daerah pertempuran.

Seorang wanita berpakaian serba biru duduk gagah di punggung seekor kuda putih. Agak lama kemudian di kiri-kanannya muncul beberapa belas orang. Tak berse- ragam. Membawa berbagai senjata yang tak keruan. Dan penunggang kuda itu memberi isyarat agar orang- orang ini berhenti, sementara ia kemudian memacu ku- danya mendekat.

Sisa-sisa pasukan pemberontak memberinya jalan. Hingga akhirnya ia berhadapan dengan ujung senjata barisan terluar benteng manusia di sekeliling Arya Ba- rat.

“Siapa kau?” teriak Arya Barat setelah berhasil me- nenangkan diri. Dari kejauhan tampak wanita itu begitu cantik. Selendang birunya begitu menyilaukan. Arya Barat memberi isyarat dan kudanya maju perlahan. Ta- luktak dan beberapa pimpinan prajurit mengikutinya. Ia berhenti di belakang tiga baris pasukan terluarnya. “Dan apa maksudmu kemari?”

“Tolol! Aku ingin membabat kepalamu!” sahut wanita itu tertawa.

“Kenapa?” Arya Barat begitu tercengang.

“Sebab kau pasti tak mau menyerah padaku, bu- kan?” Si wanita menghunus pedangnya. “Begitu juga para prajuritmu. Jadi... terpaksa kalian kubantai se- mua!”

Ucapan itu diucapkan begitu manis di wajah yang sangat cantik hingga tak urung beberapa puluh prajurit tertawa.

“Kau membantai kami?” tanya Arya Barat tak ikut tertawa.

“Biar hamba saja, Junjungan.” seorang prajurit lan- cang berkata.

“Hamba saja!” “Hamba!”

“Hamba!” Kelancangan pertama segera disambut oleh beberapa belas prajurit lainnya.

“Baik!” Si wanita tak memutuskan senyumnya. Tapi mendadak ia lenyap, dan bagaikan cahaya biru ia ber- kelebat. Cepat sekali. Beberapa gerakan dan ia telah melompat kembali ke atas kudanya. Beberapa jeritan ngeri terdengar. Ternyata belasan prajurit telah roboh. Dengan leher putus. Dan mereka adalah para prajurit yang kurang ajar tadi!

“Gila!” desis Taluktak. “Siapa kau begitu kejam?” “Aku Dewi Candika, Dewi Pencabut Nyawa. Kenapa

kau heran? Majulah!” Wanita itu tertawa.

“Tawur!” Taluktak mendahului junjungannya mem- beri perintah.

Wara Hita alias Dewi Candika agaknya memang se- ngaja memamerkan kesaktiannya. Dengan bentakan- bentakan berwibawa ia menerjang. Tinju dan tendang- annya yang dilambari ilmu kesaktian andalannya mem- buat lawan menjerit dan roboh dengan luka bagaikan terbakar. Taluktak mencoba menghantamnya dengan cecaran sambaran tombaknya. Namun Candika begitu gesit, sesaat di sini, sesaat di sana, terus mengobrak- abrik gelar pasukan yang kokoh ini. Dan kesempatan ini tak didiamkan oleh pasukan pemberontak. Tiba-tiba mereka melihat banyak lubang di benteng manusia di depannya. Bersorak sorai mereka menyerbu masuk. Bersamaan dengan datangnya pasukan campur aduk bawaan Candika yang juga langsung menyerbu, per- tempuran pun berkobar lagi makin tak keruan.

“Hei, jangan lari kau!” bentak Arya Barat menerjang- kan kudanya menembus kerumunan prajuritnya.

“Jangan mimpi!” Dewi Candika melesat ke atas. De- ngan berlompatan di atas kepala prajurit-prajurit Wil- watikta, ia pun menyambar Arya Barat. Arya Barat ge- mas mengayunkan pedang raksasanya. Dewi Candika tertawa, melompat, dan bertengger di ujung pedang ter- sebut dan tiba-tiba menekannya ke bawah. Arya Barat menjerit. Tenaga injakan itu begitu dahsyat, mau tak mau ia terlempar dari pelana kudanya.

“Bangsat kau!” bentak Arya Barat.

Dewi Candika mendengus, menghantamkan tangan- nya ke belakang, ke kiri, sambil badannya berputar, dan menebaskan pedang dari kanan.

Sesaat kemudian kepala Arya Barat telah dicengke- ramnya.

“HEI, KALIAN! PRAJURIT WILWATIKTA! PEMIMPIN-

MU TELAH GUGUR!” teriak Dewi Candika.

“BELA PATI!” jerit Taluktak dan mengamuk makin ganas. Seruannya disambut sorak sorai gegap gempita. Para prajurit Wilwatikta itu berperang makin sengit!

Namun tak lama.

Dewi Candika dengan keganasan luar biasa memba- bat tanpa ampun para pimpinan pasukan. Dan tanpa pimpinan, para prajurit Wilwatikta kocar-kacir hingga menjadi makanan empuk bagi para prajurit resmi atau tidak resmi dari Pagalan.

Beberapa jeritan minta ampun dan menyerah mulai terdengar. Makin lama makin banyak. Dan akhirnya kembali padang itu sunyi. Para prajurit Wilwatikta me- nyerah.

Wara Hita memandangi semua orang di sekeliling- nya. Yang masih hidup berdiri menjaga jarak atau du- duk tunduk atau mengurus luka. Yang tewas terkapar bagai permadani yang robek di sana-sini.

Kenapa harus menunggu lagi, pikir Wara Hita saat angin membelai rambutnya. Kenapa aku mengikuti pe- tuah Eyang Guru!

Lihat orang-orang ini. Ia seorang diri. Dan mereka ra- tusan. Tapi mereka semua tunduk.

Kenapa harus memupuk kesaktian untuk kelak ber- adu kedigdayaan melawan para pimpinan kerajaan? Ji- ka orang-orang kecil ini berhasil dikuasainya, siapa yang bisa menggusurnya?

Tidak. Ia tak usah menunggu. Pasukan Trang Galih pasti jauh lebih hebat dari pasukan campur aduk ini. Dan ia akan merebut daerah demi daerah dari Wilwa- tikta. Kalaupun ia gagal, ia akan gagal secara besar- besaran. Sementara jika harus bersembunyi terus... Siapa yang akan mendengar namanya?

Ia akan mulai. Dari sini. Sekarang. Ia akan mengam- bil Uteran. Kemudian mengundang pasukan Trang Ga- lih. Kemudian menyerbu ke luar.

Dengan atau tanpa Sang Guru! “Hayo! Maju ke Uteran!” teriaknya.

Disambut sorak sorai gemuruh pasukannya.

6. GEMUT

GEMUT, alias Tun Kumala alias Rara Sindu merenungi api unggun kecil di depannya. Ia sedang memasak air. Daerah yang begitu jauh dari permukaan tanah itu begi- tu dingin. Apalagi di dalam gua ini.

Madri meringkuk di belakang gua. Prajurit wanita itu masih belum sadarkan diri sepenuhnya.

Sementara Jalak Katenggeng telah diikat erat-erat. Dan juga tak sadarkan diri oleh hantaman Ki Arhagani.

Paman tua itu entah kini ada di mana. Tiba-tiba saja ia berkata bahwa racun Kunjana Papa yang diidapnya akan kumat. Dan kemudian ia lari ke ujung jurang yang bagai tak berujung ini.

Gemut merenungi api di depannya. Dingin. Dan di luar gelap seperti malam. Tapi ia tahu ini siang. Dari sedikit sekali celah kerimbunan dedaunan di atas ia bi- sa melihat beberapa titik cahaya matahari. Jadi ini ada- lah siang.

Ia hampir tak tahu tentang berlalunya waktu. Hari- hari dilaluinya dengan memasak—ugh! Betapa ia benci pada pekerjaan itu!—Merawat Madri yang tak kunjung sadar, belajar dari si orang tua yang menyebut diri Ar- hagani itu, serta ‘menyiksa’ Jalak Katenggeng.

Gemut mengira sesungguhnya Arhagani tidak terlalu ingin menguras keterangan dari Jalak Katenggeng. Pra- jurit itu agaknya dijadikan sasaran latihan bagi jurus- jurus kewiraan yang diajarkannya pada Gemut. Gemut merasa jurus-jurus yang diajarkan pun sangat sederha- na, terasa hanya sekadar untuk menggerakkan badan saja. Tetapi ilmu bersemadi dan penerapan mantra di- ajarkan dengan bersungguh-sungguh.

Hari-hari pertama adalah hari-hari ‘pembersihan’ di- rinya. Dari segala ‘ilmu’ yang pernah dianutnya. Tentu saja ini sangat mudah, karena memang baik sebagai Rara Sindu ataupun Tun Kumala, si Gemut ini sama sekali tak berilmu. Dan Gemut merasa bahwa orang tua ini betul-betul berniat baik, hingga ia pun dengan sung- guh hati mau mengikuti segala petunjuk. Tak sulit. Ha- nya pada hari-hari tertentu, selalu hari kelima, racun Kunjana Papa yang diidap Ki Arhagani kambuh. Hari ini adalah ketiga kalinya peristiwa seperti itu terjadi.

Ah. Benarkah ia sudah lima belas hari di sini? Gemut berdiri.

“Ssi... siapakah... kkau?”

Suara lemah itu membuatnya cepat berpaling. “Kakangmbok Madri?” tanyanya berbisik. Dan ter-

tegun. Jikapun Madri sudah sadar betul, mungkinkah prajurit wanita itu bisa mengenalinya—dengan kepala- nya yang berambut lucu serta jubah yang terlalu besar ini? Ia berjalan mendekati wanita prajurit yang kini ter- bungkus erat-erat seluruh tubuhnya bagaikan kepom- pong—hanya menyisakan muka yang rusak bagaikan terbakar.

“Kkau... kau kenal akku?” tanya Madri. Terlalu le- mah untuk bergerak.

“Yyya... ya... setidaknya... itulah nama yang kau... kauigaukan...” Gugup Gemut cari alasan. “Jangan ba- nyak bergerak. Dan jangan minta minum...”

“Siapa... kkau? Ddi mana aku?”

“Aku hanya penduduk desa sini... Kita berada di da- sar Kali Putih...”

“Tak mungkin... aku di Bengawan... ya... terakhir aku di Bengawan... di Kuripan!”

“Pamanku menemukanmu... dan membawamu ke- mari!”

“Aku... aku belum mati... setelah pukulan dahsyat itu?”

“Kkau masih dilindungi Dewata, Kakangmbok... Aku boleh memanggilmu Kakangmbok, bukan?”

“Tak mungkin aku masih hidup... kecuali... kecuali pamanmu itu... sesakti Dewata!”

“Tidak, tidak... pamanku tabib biasa... hanya kebetu- lan saja...”

“Kkalau... kalau aku tak mati... pasti-pasti mukaku rusak! Katakan! Apakah... apakah mukaku... rusak?”

Gemut terkejut juga mendengar pertanyaan itu. Be- tapapun ganasnya Madri di medan pertempuran, ia adalah seorang wanita, dan wanita selalu memperhati- kan penampilannya!

“Ayo! Katakan!”

Gemut tak tahan. Berpaling dan berjalan ke pintu gua kecil itu.

“Mukaku rusak, bukan?” teriak Madri dengan sangat serak.

Di pintu gua Gemut tertunduk. Apa yang harus dika- takannya?

Di belakangnya terdengar Madri terisak menangis. Madri, yang terkenal sebagai Singa Betina Kuripan. Me- nangis. Hanya karena muka yang rusak!

“Kemarilah!” terdengar pinta Madri beberapa lama kemudian. Dan Gemut mendengar nada pasrah pada kata-kata itu. Ia pun berpaling dan berjalan mendekat lagi.

“Siapa namamu?” tanya Madri. “Ggg... Gemut,” sahut Gemut “Dan pamanmu?”

“Akku... dia... dia bukan pamanku sebenarnya... Aku hanya menyebutnya Paman... Aku tak tahu nama sebe- narnya...”

“Kenapa aku kalian tolong? Kenapa aku tak kalian biarkan mati saja... Lagi pula... siapa berani selamat da- ri pukulan Sang Rakryan Mapatih... sama saja dengan menentang kehendak Dewata!”

“Jadi... kkau bertempur dengan... Rakryan Mapatih?” bisik Gemut.

“Kaukenal dia?” tanya Madri curiga.

“Oh, tidak, tidak...” Gemut gugup. “Hanya... anu... heran... kau berani melawan Rakryan Mapatih! Pasti... pasti... ada persoalan sangat besar! Apa... apa yang ter- jadi?”

“Hmmhh...” Madri agaknya memaksa diri untuk ti- dak menjawab. “Apakah aku masih... di... daerah Kuri- pan?”

“Tidak... Kau... kau hanyut di Bengawan, dan dike- temukan pamanku,” kata Gemut.

“Siapa lagi... yang tahu tentang keadaanku... di sam- ping kau dan... pamanmu itu?” “Aku... aku rasa tidak ada lagi...”

“Ugh... mendekatlah kemari... Leherku serasa terce- kik... Tolong sedikit longgarkan...,” keluh Madri.

“Yang mana?”

Gemut mendekat. Dan tiba-tiba ia terkejut. Dalam kegelapan gua, dan wajah yang tak keruan itu, mata Madri bersinar tajam. Dengan nafsu membunuh!

Sesaat kemudian kaki Madri yang terbungkus rapat oleh kain melecut ke atas. Deras mengarah ke kepala Gemut!

Bersambung ke jilid 12.