-->

Dewi Penyebar Maut Eps 05

Dewi Penyebar Maut Eps 05

1. DI PUNCAK GUNUNG

DI PUNCAK GUNUNG. Sunyi. Hanya terdengar deru a- ngin. Dingin meresap merasuk menusuk tulang. Kabut senantiasa terbang rendah, berebut pengaruh dengan sinar matari menyelimuti tanah.

Gunung itu tinggi menjulang. Dan ini hampir di pun- caknya.

Di salah satu perbukitannya, seorang lelaki berdiri. Usianya pastilah sudah tua. Rambutnya putih perak, digelung tinggi di atas kepala. Alisnya tebal putih. Tapi wajahnya yang bebas kerutan tampak muda. Matanya pun hitam dalam cemerlang.

Dan di kedinginan itu ia bertelanjang dada. Kain ka- sar berwarna hitam melilit pinggangnya. Ia berdiri tegar menghadap matahari. Tangan terangkap di depan wa- jah. Bibir bergetar menyampaikan doa.

Sebagian rambutnya yang lepas terbuai oleh angin. Angin memang bertiup kencang. Membuat garis-garis riak di danau kecil di bawah sana. Danau yang hanya diganggu oleh garis-garis angin. Hijau tua warnanya. Menandakan kedalaman yang sangat.

Danau itu dipagari rapat oleh hutan pepohonan ber- batang tinggi semampai, gemulai ditiup angin. Hutan yang melebar naik-turun punggung bukit hingga juga mengelilingi puncak tempat lelaki itu berada.

Dia menengadah, menentang matahari. Dan dia mengembuskan napas panjang bertenaga, menguman- dangkan suara desis yang bagaikan terpantul jauh ke kaki bukit dan menyeberang danau serta membentur dinding gunung di seberang sana, kembali bersama em- busan angin yang menusuk dingin.

Agak di belakangnya, semak-semak di antara ke- kayuan bergerak dan tersibak. Seorang wanita muncul. Wajahnya segar dan masih tampak cantik. Tetapi se- perti si lelaki, rambutnya juga telah memutih, tebal panjang dipuntir hingga melebihi pinggang. Pakaiannya kain kasar sederhana. Tangannya memegang sebatang ranting kering yang agaknya baru dipungutnya.

Sesaat ia memperhatikan si lelaki. Kemudian ia du- duk di sebuah batu agak ke tepi dari tempat terbuka di puncak bukit itu. Menunggu.

Si pria pun akhirnya menghentikan gerakannya. Me- mejamkan mata dan membaca beberapa mantra. Ke- mudian berpaling.

“Aku merasakan kehadiranmu,” katanya tersenyum, mendekat.

“Atau Kakang mendengar kedatanganku.” Si wanita tersenyum pula dan sesaat berdiri untuk memberi hor- mat seperti yang layak dilakukan seorang istri pada su- aminya.

“Kau begitu jauh meninggalkan padepokan,” kata si lelaki.

“Ah, di padepokan terlalu sepi saat-saat ini.” Si wa- nita berpaling menghadap ke arah danau. “Dan kukira, ini tidak terlalu jauh. Kakang kemari hampir tiap pur- nama.”

“Aku menyukai tempat ini.” Si lelaki menghirup hawa dingin itu dalam-dalam, berjalan perlahan menuju tepi tempat terbuka tersebut. “Aku sering merindukan hidup jauh di sana....” Pandangan matanya memandang jauh menyeberang danau. “Jauh di balik hutan-hutan itu, jauh di balik lereng gunung itu... hidup sebagai orang desa sederhana... dengan pemikiran yang sederhana. ”

Si wanita menghela napas panjang dan mendekat, pandangannya seakan kosong.

“Tentu Kakang Megatruh membayangkan... pagi be- rangkat ke ladang. bekerja di ladang hingga tengah ha- ri... dan istri Kakang datang membawa makanan dan minuman ”

“Tentu saja istriku ya kamu,” si lelaki tersenyum. Te- tapi si wanita tak membalas senyuman itu. Masih me- nunduk.

“Dan saat Kakang makan di bawah kerindangan pe- pohonan. Kakang akan menanyakan bagaimana anak-

anak Kakang di rumah   ” Si wanita kini berjalan men-

jauh seolah dalam mimpi, kepalanya tengadah menen- tang matahari. “Sewaktu Kakang di sore hari pulang pun, Kakang akan menyempatkan diri mencari gang- sir.... Membanjiri liang gangsir itu hingga sang gangsir keluar... atau bahkan membongkarnya dengan cang- kul.”

“Tidak, akan kugenangi dengan air saja....” Si lelaki tersenyum lagi dan memejamkan mata seolah mem- bayangkan apa yang diceritakan si wanita.

“Kakang akan memperoleh dua ekor gangsir yang be- sar-besar. Kemudian Kakang potong dahan pohon ri- bang, Kakang bentuk menjadi semacam kereta sa- ngaaaat kecil... dan Kakang gunakan serat waru untuk mengikat gangsir itu pada kereta kecil tersebut.”

“Ah, kau menceritakannya begitu tepat, Dinda Nyai Rahula.”

“Begitu Kakang muncul di ujung desa   anak-anak

Kakang akan gembira berlari menyambut Kakang....

Yang lelaki berebut kereta gangsir itu   yang perempuan

akan membantu Kakang membawakan kendi, cangkul, atau topi Kakang.”

Si lelaki akan tersenyum. Tetapi tidak jadi. Ada nada sedih di suara si wanita.

“Kau begitu pandai berkhayal, Dinda Rahula. tetapi

kau agaknya tak menyukai khayalanmu itu sendiri.” “Karena aku tak pantas berada dalam khayalan itu, Kakang Megatruh.”

“Apa maksudmu?” Si lelaki mengerutkan kening he- ran.

“Bukankah sudah jelas... aku... aku takkan pernah bisa memberimu... keturunan!” Si wanita tampak benar menahan diri untuk tidak menangis. Wajahnya yang masih tampak cantik kini menentang langit. Matahari yang bersinar dari arah belakangnya membuat rambut peraknya seolah membuat bingkai kemilau di wajah itu. “Dinda Rahula... kkenapa tiba-tiba pikiranmu sam-

pai ke sana?” Si lelaki tampak agak gugup.

“Sudah sekian puluh tahun kita berdua, Kakang Me- gatruh ”

“Dan itu adalah tahun-tahun yang sangat membaha- giakanku.”

“Sering kupikir mungkin aku tak layak mendampi-

ngimu.”

“Dinda Rahula!”

“Aku sering teringat akan Kakangmbok Respati mi-

salnya.... Kukira kau cocok dengan sira. sama-sama

sakti, dan bahkan kakeknya adalah gurumu. Kau pun

agaknya mengingat sira... misalnya, kaunamakan ilmu pukulanmu yang baru Bindi-Saketi yang adalah nama

ayah sira ”

“Dinda Rahula, pastilah kau sedang sakit, maka kau berpikiran yang tidak-tidak itu....” Si lelaki berusaha memegang bahu si wanita. Tetapi dengan halus si wa- nita menolaknya.

“Yang jelas... mungkin Kakangmbok Respati dapat memberimu apa yang kaudambakan selama ini seo-

rang anak untuk melanjutkan keturunanmu.” Si lelaki terdiam beberapa lama.

“Demi Mahesywara, Dinda Rahula   aku tak menger-

ti arah tujuan percakapan ini. Terus terang, memang aku sangat mendambakan keturunan. Tetapi bagiku itu adalah kehendak Dewata Agung. Yang lebih penting la- gi, adalah kebahagiaan kita berdua... dan itu, bukan hanya kehendak Dewata Agung, sebab kita sendiri ha- rus berusaha untuk menciptakan rasa bahagia itu. Ra- sa bahagia datang dari kita sendiri, Dinda.... Jika kita tahu sesuatu akan memberi rasa pahit, langkah perta- ma tentunya adalah menghindarinya.”

“Aku mengerti, Kakang... tapi aku begitu kecewa, ka- rena akulah penyebab ketidak-mampuanmu memiliki keturunan!”

“Berkorban untuk orang lain memang baik, Dinda... tapi aku bukanlah orang lain. Aku adalah engkau. Dan kau adalah aku. Mengapa menyalahkan dirimu sendiri, agar aku merasa tidak bersalah? Bisa saja yang menye- babkan adalah aku sendiri. Siapa tahu kehendak Dewa- ta? Kalau kau memang ingin tahu penyebabnya, aku punya suatu alasan yang membebaskan kau dan aku dari rasa bersalah, sekaligus memberi kita rasa bangga karena kita telah berbuat baik pada orang lain... kalau memang kebanggaanlah yang kita cari ”

“Apa yang kaumaksud, Kakang?”

“Dinda... ini juga kesalahanku. Sesungguhnya   Din-

da telah berkorban sangat banyak saat kita semua me- nolong adik kita Sinom dari katatonia yang dideritanya. Kau. Dan Adik Mahendra. Kalian berdua harus mengu- ras tenaga dalam. Menguras habis. Dan itu pasti sangat berpengaruh. Aku kira itulah penyebabnya. Dan   kem-

bali, kamilah yang sesungguhnya penyebabnya. Kalau Adik Sinom tak menderita penyakit itu, tentulah itu tak perlu terjadi. Dan kemungkinan Dinda Rahula tetap se- gar sebagaimana mestinya. Kalau harus berhitung- hitung tentang utang budi, akulah yang membuatmu kecewa, Dinda    Kau yang mestinya jadi putri dalam is- tana... kau yang mestinya masih memiliki rambut hitam menawan... Itu adalah kesalahanku! Apakah aku begitu tak punya hati hingga berani menyalahkanmu? Tidak, Dinda... bagiku, keturunan memang penting. Tapi mem- buatmu bahagia lebih penting.”

“Oh, Kakang... maafkan kecupatan cara berpikir- ku....” Tiba-tiba si wanita merangkul si pria dan me- nangis tersedu-sedu di dadanya yang bidang.

Si lelaki menghela napas panjang. Pikirannya mene- rawang.

“Dinda Rahula,” bisiknya lembut di dekat telinga yang dibelai-belai oleh kibaran rambut putih lepas. “Aku tahu bahwa dalam usia kita ini, terutama pada dirimu... akan tiba saatnya timbul keragu-raguan besar pada diri kita.   Di mana kita mulai mempertimbangkan masa la-

lu dan masa mendatang. Kelebihan kita adalah    kita

lebih sering mencoba mendekat pada Sang Mahesywa- ra... dan dalam Syiwabakti itu kita bisa meredam apa yang seyogyanya harus kita redam sebagai orang yang susila. Mestinya tak usah kukatakan semua itu pada- mu. Katakan sesungguhnya, apa yang menyebabkan kau agak keluar garis ini?”

Si wanita kini mundur dan agak kemalu-maluan ber- paling, berkata perlahan, “Adinda Sinom ”

“Sinom... kaumaksud... Ya, Dewata!” Tiba-tiba si le- laki tertawa tergelak-gelak. Suaranya lepas hingga ber- gema berpantulkan lereng-lereng perbukitan.

“Kakang Megatruh! Kau menertawakan aku!” si wa- nita berkata cemberut.

“Memang pada tempatnya kau harus ditertawakan, Dinda!” Si lelaki mencoba menghentikan tawanya. “Ah. Aku tahu kini mengapa kau datang kemari. Sinom telah datang ke padepokan dan pasti mengajakmu berteng- kar. Dan kau kalah?” “Sira tidak mengajakku bertengkar.” Si wanita masih cemberut. “Pertengkaran kami yang dulu belum juga se- lesai!”

“Dinda Rahula   ” Si lelaki memperhatikan si wanita.

“Tak pernah kuduga kau punya perasaan mendendam?” “Adik Sinom selalu... pamer... mmm... anaknya   ” Si

wanita tertunduk. “Sebetulnya aku juga sangat menyu- kai Tantri, tetapi entah bagaimana kalau Adik Sinom yang bercerita tentang Tantri... aku ingin membantah- nya! Kemudian... kupikir... kalau... kalau kita punya anak sendiri mungkin aku takkan seiri itu!”

“Apakah... Adik Sinom... menyindirmu tentang kea-

daan kita yang sampai kini belum punya momongan?” tanya si lelaki berhati-hati.

“Kakang... aku tak bisa menahan diri!” Tiba-tiba si wanita menubruk dada si pria, merangkulnya rapat- rapat dan menangis tersedu-sedu.

“Kenapa?” Kembali si lelaki mengerutkan kening. “Aku... aku... Adik Sinom keterlaluan, mengejek

bahwa aku takkan pernah punya anak.... Kemudian...

kemudian kukatakan padanya bahwa ini karena. aku

dulu membantu menyembuhkan dia... dan... dia ”

“Dia marah?”

“Bukan... dia hanya tertawa... tidak percaya Aku

yang marah... aku hajar dia!” Si wanita melepaskan rangkulannya. Mengusap air matanya dan mundur. “Aku tidak menyesal menghajarnya. Kalau perlu aku in- gin menghajarnya sekali lagi ”

“Dia berkunjung begitu jauh ke padepokan kita. Pas- tilah agak lama ia akan tinggal di sini. Masih ada ke- sempatan bagimu untuk menghajarnya,” si lelaki meng- goda.

“Tidak semudah itu.” Si wanita menghela napas ge- mas. Air mata sudah bersih dari mukanya, dan kini wa- jah cantik itu seakan keras oleh suatu kemauan. “Aku... aku berhasil dikalahkannya! Kakang Megatruh boleh tertawa, tetapi aku berhasil dikalahkannya!”

“Kenapa aku harus tertawa, Dinda....” Tak urung si lelaki tersenyum. “Pertama, pertarungan kalian berdua tak menguntungkan siapa pun. Kedua, Adik Sinom me- miliki sifat tak mau kalah pada siapa pun. Dan ia me- mang suka pamer. Jadi, kukira ia memang telah terus- menerus berlatih hanya untuk menunjukkan ilmunya pada kita. Paling tepat, jangan ladeni dia... dan dia akan begitu putus asa hingga akhirnya kalah dengan sendi- rinya!”

“Siapa berani tidak meladeni Sinom, si Kidang Bra- ngah!” Tiba-tiba terdengar suitan dan suara tertawa ria dan renyah. Suara itu seakan datang dari berbagai arah, seakan berputar dibawa angin.

Ki Megatruh. Nyai Rahula. Sinom. Dan Ki Mahendra.

Nama-nama itu dulu pernah menjadi buah bibir para prajurit Wilwatikta. Dari pantai utara. Ke pegunungan kapur di tengah. Sampai pantai selatan.

Saat itu mereka hanya sekelompok ‘anak-anak ajaib’. Yang tersedot oleh gejolak beberapa bentrokan besar. Dan dengan memiliki kesaktian khas, mereka pun mengukir nama.

Tahun berganti tahun. Mereka mengundurkan diri dari dunia ramai. Ingin mendekati Sang Mahesywara. Ingin mencapai keutuhan manusia. Sesuatu yang ter- nyata tak mudah mereka capai.

Ki Megatruh, dengan istrinya, Nyai Rahula, mendiri- kan padepokan di Tasik Arga ini. Ia ingin menyepi, me- luruhkan diri pada kedamaian alam. Dan di balik pun- cak gunung, di tepi Danau Kuwung, Sinom pun men- dirikan padepokan bersama suaminya, Ki Mahendra.

Perbedaan sifat Ki Megatruh dan adik kandungnya, Sinom, tampak jelas pada keadaan kedua padepokan mereka. Tasik Arga benar-benar merupakan tempat mengamalkan dan pengertian agama secara mendalam. Sementara Danau Kuwung oleh Sinom dibuat untuk menarik kedatangan orang lebih banyak. Maka ramai- lah Padepokan Danau Kuwung—bukan padepokannya, tetapi tanah pemukiman di sekelilingnya.

Terlihat sekilas gumpalan putih berkilau. Dan Sinom berdiri di depan Ki Megatruh dan Nyai Rahula.

Sinom berpakaian serba putih, dengan sutera putih berkilau melilit tubuhnya. Umurnya tak berbeda banyak dengan Nyai Rahula, tetapi wajahnya tampak jauh lebih muda dan rambutnya hitam legam tebal kemilau. Di pinggangnya terselip sepasang tanduk rusa.

“Hei, siapa berbicara tentang Sinom?” katanya lan- tang, mengawasi Ki Megatruh dan Nyai Rahula.

“Adik Sinom, jangan kurang ajar,” terdengar suara lain, menyusul. Suara lelaki, ceria, nyaring.

Dan tiba-tiba di situ telah muncul seorang lelaki lagi. Mungkin setua Ki Megatruh. Namun rambut putihnya tak terlihat. Kepalanya digundul mengkilat. Hanya alis, bulu mata dan kumis serta jenggotnya menunjukkan betapa putih rambutnya, jika rambut itu ada. Ia juga hanya memakai kain putih kasar dibelit-belitkan pada tubuhnya.

Begitu berdirinya tegak ia langsung membungkuk memberi sembah pada Ki Megatruh dan Nyai Rahula, “Kakang Megatruh... Kakangmbok Rahula... semoga Dewata Agung melindungi kalian ”

Sebelum Ki Megatruh atau Nyai Rahula menjawab, Sinom dengan tepat menirukan sikapnya dan berkata, “Kakang Megatruh... Kakangmbok Rahula.    Kakang

Mahendra... semoga Dewata Agung melindungi anakku yang bagaikan bintang cemerlang di langit luas, yang bagaikan...”

“Adik Sinom!” Ki Mahendra menukas.

“Kenapa? Kakang Mahendra tidak setuju kalau anak- ku secemerlang itu?” Sinom berkacak pinggang meng- hadapi Ki Mahendra, suaminya.

“Aku tidak setuju. Sebab dia bukan anakmu saja. Tapi juga anakku! Aku yang mengandung! Aku yang melahirkan... eh, bukan, ya?”

“Bukan, yang kaukandung dan kaulahirkan itu bu- kan Tantri...,” Sinom bersungguh-sungguh berdebat.

“Kakang Megatruh, kurasa lebih baik aku pulang dahulu,” kata Nyai Rahula lemah.

“Enak saja pulang. Kakangmbok Rahula tadi menye- rangku, tetapi aku berhasil mematahkan serangannya. Apa tidak hebat, Kakang Megatruh?” tanya Sinom de- ngan mata bersinar-sinar.

Dalam hati Ki Megatruh ingin tertawa. Adiknya itu seakan tak berubah oleh puluhan tahun. Tetap gadis ci- lik tak mau kalah yang dulu tinggal di desa dan meng- ikutinya ke mana pun ia pergi. Ia ingin tertawa dan mendekatinya. Sinom memang paling suka menggoda orang. Dan tak mau kalah.

“Sinom, kau harus minta maaf pada Dinda Rahula!” kata Ki Megatruh tegas.

“Enaknya!” tukas Sinom mencibir. “Sira yang menye- rangku lebih dahulu... mengapa aku yang harus minta maaf! Lagi pula... ilmu apa yang digunakannya? Me- mang ilmu baru, tetapi... kalau itu ciptaanmu, Kakang Megatruh, aku malu mengaku jadi adikmu. Biar kalau orang bertanya tentang kau, aku bilang kau bukan apa- apaku... baru kenal kemariiin, gitu ”

“Eh, betulkah Kakangmbok Rahula menyerangmu dengan ilmu baru?” tanya Ki Mahendra.

“Betul! Wah... tapi... ndusuuun enteeeeng! Aku ya- kin itu dicangkok dari ilmu pukulan Kakangmbok Res- pati dulu.... Lihat, salah satunya aku hafal ”

Tiba-tiba Sinom meloncat ke tengah tempat terbuka itu. Bersungguh-sungguh ia memasang kuda-kuda. Ka- ki bagian bawah bersilang. Ditekuk. Badan agak mem- bungkuk. Tangan kiri menyilang dada dan tangan ka- nan ditekuk di samping kepala. Kemudian ia bergerak cepat sekali. Tangannya sebatas siku bagaikan selalu terayun kaku, seolah penggada besi yang menderu jika bergerak.

Ki Megatruh mengerutkan kening melihat semua ge- rakan itu. Itulah gerakan dari ilmu Bindi-Saketi! Bagai- mana Sinom begitu cepat menguasainya?

Tiba-tiba Sinom melompat mundur, membongkar kuda-kudanya dan tertawa.

“Hanya itu yang kuketahui, Kakang Megatruh, ja- ngan kau melotot seperti itu!” katanya.

“Wuah! Itu tadi ilmu baru ciptaan Kakang Mega- truh?” kata Ki Mahendra. Dan ia tertawa terkekeh- kekeh.

“Ya, terlalu. mudah ditebak ya, Kakang.” Sinom ter-

tawa juga. “Pasti anakku... dan anakmu, si Tantri, de- ngan mudah dapat memecahkannya dalam sepuluh ju- rus ”

“Adik Sinom, jangan berkata begitu... kau lupa bah- wa Tantri adalah juga keponakan Kakang Megatruh,” kata Ki Mahendra.

“Jadi?” tanya Sinom.

“Yah paling-paling tujuh jurus anak kita Tantri bi-

sa merubuhkannya,” kata Ki Mahendra bersungguh- sungguh.

Dan kedua orang itu tertawa terpingkal-pingkal.

“He, kalau kalian bukan tamu ” Nyai Rahula sudah

hampir meledak amarahnya. Tetapi Megatruh meng- angkat tangan mencegahnya.

“Kalau Tantri sudah begitu hebat, tentu aku juga ikut gembira,” kata Ki Megatruh sabar. “Di mana rika? Tidak ikut?”

“Tidak ikut gimana? Kami ini ke sini mau mencari si bintang Wilwatikta itu!” kata Sinom. “Kan pamitnya per- gi ke sini. Sesungguhnya kami larang, ya toh, Kakang Mahen? Ingat nggak waktu itu aku bilang...”

“Ssst... jangan bilang Kakang Megatruh kau mela- rang Tantri pergi ke Tasik Arga karena... toh di Tasik Arga paling-paling diberi makan ubi dan ikan asin yang tidak asin, hi hi hi....” Ki Mahendra tertawa terpingkal- pingkal. “Jangan bilang begitu lho... nanti Kakangmbok Rahula marah... padahal benar kok!”

“Aku memang ngomong begitu, ya? Rasanya kok iya! Hi hi hi....” Sinom juga tertawa. “Lucunya, baru aku bertanya pada Kakangmbok Rahula... eh, dia kok ma- rah!”

“Bertanya apa sih?” tanya Ki Mahendra sambil me- nutupi gundulnya dengan tangan.

“Aku berkata... ‘Kakangmbok, mana anakku si bin- tang Wilwatikta yang tampan itu? Jangan-jangan Ka- kangmbok curi karena Kakangmbok takkan pernah punya anak!’ Eh, aku langsung diterjangnya!” Sinom tertawa.

“Kau memang patut dihajar!” tiba-tiba Nyai Rahula membentak geram dan langsung menghantam Sinom dengan ranting kayu yang dibawanya!

“Aduh! Matrik aku!” teriak Sinom, cepat menjatuh- kan diri ke belakang dan berguling mundur.

“Dinda Rahula!” seru Ki Megatruh.

Tetapi Nyai Rahula telah kalap. Ranting kayunya ber- gerak bagaikan seribu ular mematuk dari segala jurus- an. Mendesis. Mendesing. Menyengat. Ki Megatruh sen- diri tampak tertegun. Ia sudah lama tidak melihat gera- kan ini. Tapi ia langsung bisa mengenalinya.

Nyai Rahula dahulu adalah anak seorang pendekar pantai selatan yang bersenjatakan cambuk. Sewaktu kemudian ayahnya tewas, Rahula dipungut oleh seo- rang pangeran yang nyawanya diselamatkan sang ayah. Dari pangeran inilah Rahula kemudian memperoleh ba- nyak ilmu kesaktian. Di antaranya, gerak ilmu cambuk yang sudah diubah.

Sinom belum pernah menghadapi ilmu ini. Dan ilmu ini pun telah lama tenggelam—agaknya Rahula merasa ia tak perlu menggunakannya. Kini, saat Sinom menge- jek ilmu Ki Megatruh, ia sadar harus membuat Sinom terkejut dengan ilmu yang belum dikenalnya. Dan inilah Rahula Arani ilmu pukulan cambuk yang panasnya me- lebihi api bara jika kena.

“Adik Sinom!” panggil Ki Mahendra dengan khawatir pula. “Awas, jangan sampai kalah, lho!”

“Dinda Mahendra, kukira Dinda akan memisahnya, bukan malah mengadunya. Tolong hentikan pertempur- an itu!”

“Dihentikan bagaimana? Lihat, Adik Sinom menggu- nakan ilmuku, Tan Trasanana... dan itu belum pernah dicoba dalam suatu pertempuran. Biarlah dahulu, nanti kalau aku sudah puas kita pisahkan.”

Hampir saja Ki Megatruh tersenyum. Nama ilmu Ki Mahendra memang selalu aneh. Tan Trasanana, misal- nya, berarti ‘jangan ditakuti’. Apanya yang jangan dita- kuti?

Terlihat sekali gerakan-gerakannya ganas. Tinjunya selalu mengarah pada daerah-daerah yang sangat pen- ting. Agaknya ilmu itu sungguh tepat bagi Sinom yang bertubuh kecil langsing itu. Begitu gesit. Begitu tegas. Begitu tuntas. Hanya karena Nyai Rahula memakai ran- ting kayu yang panjang saja maka beberapa kali se- rangan Sinom terpaksa dihentikan. Ki Megatruh sendiri heran. Gerakan Nyai Rahula begitu lancar dan mulus melancarkan Rahula Arani. Setahunya, istrinya itu tak pernah lagi berlatih ilmu kadigdayan. Dari heran timbul pula rasa sesal. Ia baru sadar bahwa selama hidup ber- tahun-tahun dengannya, kemungkinan istrinya merasa tertekan: tertekan oleh perasaan bersalah karena tak bisa memberi keturunan, dan kemungkinan perasaan iri karena selama ini ilmu-ilmu yang ditekuni oleh Ki Megatruh hanyalah ilmu-ilmu yang berasal dari guru- guru Ki Megatruh sendiri, sementara ilmu Nyai Rahula terlupakan. Sesuatu yang tak pernah dipikirkan. Sesua- tu yang tampaknya hanya persoalan kecil. Sesuatu yang, mungkin, kekanak-kanakan. Tetapi itu bisa saja terjadi!

Ki Megatruh terbangun dari lamunannya. Oleh suara tertawa pendek Sinom. Dan dilihatnya kini, walaupun bersenjata ranting kayu itu, Nyai Rahula terdesak he- bat. Gerakannya kini hanya mengikuti gerakan sera- ngan Sinom yang semakin ganas. Dan Ki Mahendra ter- dengar bertepuk tangan gembira.

Keharuan Ki Megatruh meningkat. Sekilas terlihat mata Nyai Rahula tertuju padanya. Suatu gerakan yang harus dibayarnya mahal: iga kirinya kena sodok tangan Sinom dan saat ia memutar diri untuk menghindar te- basan Sinom tubuhnya terpelanting. Untung Sinom ce- pat puas. Ia tertawa terbahak-bahak dan menghentikan serangannya.

“Kakang Mahen, kata orang Tartar, biru itu hijau ju- ga asalnya. Kakang Megatruh harus minggir, hi hi hi

....” Sinom tertawa.

“Belum, Dinda... Kakang Megatruh sih belum malu... itu tadi kan Rahula Arani... bukan ilmu Kakang Mega- truh!” kata Mahendra.

“O, bukan, to? Aku ingat, ini ilmu dari hutan selatan itu, ya?” Sinom menelengkan kepala.

“Dan disempurnakan oleh Pangeran Peksajandu,” kata Ki Mahendra.

“Ah, kalau begitu lega hatiku, Kakang. Dahulu Ka- kang Megatruh kalah oleh Pangeran Peksajandu, maka mestinya ilmu ini lebih hebat dari ilmu Kakang Mega- truh. Benar, kan, benar, kan, benar, kan?” Sinom ber- tanya mengejek pada Ki Megatruh.

Sementara itu Ki Megatruh cepat mendekati istrinya. “Dinda... kau tak apa-apa?” Ki Megatruh memba-

ngunkan Nyai Rahula.

“Kalau Kakang tidak menghapuskan rasa malu ini, aku takkan bisa mengerti lagi,” bisik Nyai Rahula, de- ngan halus menolak tangan Ki Megatruh.

“Sudahlah, Dinda,” bisik Ki Megatruh.

“Aku takkan mau sudah,” desis Nyai Rahula berdiri. “Sira menghinaku sebagai wanita. Sira menghinaku se- bagai adik dan murid Pangeran Peksajandu. Sira meng- hina suamiku. Dan Sira membuat suamiku memaling- kan muka saat aku menderita. Aku takkan mau sudah!” Dengan mata menyala-nyala, Nyai Rahula berdiri te-

gak menatap Sinom.

“Lho, tidak sudah ya sudah,” Sinom tertawa.

“Dinda Sinom, jangan kurang ajar!” tukas Ki Mahen- dra. “Bicara kok tidak ada artinya begitu... tidak sudah ya sudah bagaimana? Kakangmbok tadi bilang...”

“Sinom, minta maaf pada kakakmu!” tukas Ki Mega- truh dingin. Matanya begitu muram.

“Boleh... mohon beribu maaf, Kakang Megatruh,” ka- ta Sinom genit. “Tapi untuk apa?”

“Bukan padaku. Pada Dinda Rahula!” desis Ki Mega- truh. “Oh, kudengar kau tadi bilang kakakku. Kan kakak- ku hanya kau, Kakang!”

“Tak usah banyak bicara, Sinom, lakukan!” geram Ki Megatruh.

“Eh, kenapa kau membela dia, Kakang... kan dia saudara bukan, sanak bukan... aku adik kandungmu, lho!” Sinom makin kurang ajar.

“Jangan paksa aku menghajarmu, Sinom....” Ki Me- gatruh masih mencoba menenangkan dirinya.

“Kakang... kau tak usah turun tangan sendiri... aku... aku tak mau kau bentrok dengan adikmu. Biar- lah aku kelak yang membalas rasa malu ini. Jaga diri- mu baik-baik, Kakang....” Tiba-tiba Nyai Rahula berpa- ling dan melompat melesat berlari pergi menuruni bu- kit.

“Dinda!” teriak Megatruh. Ia pun berlompat menge- jar. Tetapi langkahnya terhenti, karena tiba-tiba Sinom menghadangnya, dan menyerangnya!

“Hei, gila kau!” tanpa terkejut Ki Megatruh menghin- dar. Namun Sinom adalah jagonya Sura-caya. Ke mana pun Ki Megatruh bergerak, Sinom berhasil mengha- dangnya. Dan walaupun Ki Megatruh juga memiliki il- mu yang sama, kelenturan dan keringanan tubuh Si- nom tak bisa ditandinginya.

“Sinom, jika kau tidak minggir, kuhajar kau! Kau sudah begitu parah merusak keadaan!” Sesaat Ki Mega- truh melompat mundur.

“Lho, siapa yang salah! Bukan aku yang menyerang lebih dahulu! Terus... Kakangmbok Rahula kan ingin menyelesaikan sendiri persoalan ini?” Sinom tertawa.

“Aku... aku tak mau bicara padamu. Minggir!” bentak Ki Megatruh.

“Lhoh! Aku ini tamu, kalau kau tak mau bicara pa- daku apa kata orang nanti? Ya kan, Kakang Mahen?” “Mungkin orang bilang Kakang Megatruh bisu. Kan sudah. Lalu kenapa?”

“Sialan! Apa kaukira aku akan senang punya seo- rang kakak yang bisu?” Sinom sekarang seolah marah pada Mahendra, yang membuat tubuhnya mengkeret seolah ketakutan.

“Maksudku... kok dari dulu... dia masih belum so- pan-santun. Kita kan tamu, ya, masa mau di... diapa- kan tadi, Dinda Sinom?” tanya Mahendra berbaik hati.

“Sudahlah, minggir kau, Sinom!” kata Ki Megatruh.

Nada suaranya begitu dingin kini.

“Buat apa aku minggir! Dengan ini saja sudah ku- buktikan bahwa kau tak bisa menang dari aku, Ka- kang!” Sinom tertawa.

“Terserah. Aku tak mau menang darimu. Aku akan menemui istriku, yang telah kauhinakan!” geram Ki Me- gatruh.

“Itulah... tidak enak punya istri. Segala macam ter- kungkung. Makanya sampai saat ini pun aku tidak be- ristri... hebat, kan?” tanya Sinom bangga. “Tapi toh aku punya anak! Daripada kau, Kakang... punya istri tak punya anak! Apa enaknya!”

“Sinom, aku ingin kau tak mengulangi lagi apa pun tentang anak di depan Dinda Rahula!” kata Ki Megatruh tegas.

“Lho kenapa! Ini mulut siapa coba, mulut siapa!” ka- ta Sinom menuding ke mulutnya sendiri. “Kan mulutku sendiri toh? Aku mau ngomong Baaaah aku mau ngo- mong Buuuh kan urusanku sendiri!”

“Kau masih juga belum mengerti? Dinda Rahula ti- dak dapat punya keturunan karena sira telah menya- lurkan tenaga dalamnya, begitu berlebihan, hingga ia mengalami cedera dan tak bisa memiliki keturunan. Dan itu semua untuk menyembuhkanmu! Tanpa pe- ngorbanannya... mungkin kau sudah tak ada di dunia ini, tahu?” Dengan kesal Ki Megatruh terpaksa menga- takan apa yang tak pernah dikatakannya pada Sinom. Dikiranya Sinom akan meledak. Dikiranya Sinom akan terkejut. Dikira Sinom akan terharu.

Tapi tidak. Sinom malah tertawa.

“Lalu kenapa? Apakah aku harus berterima kasih sampai aku menjadi budak utang budiku?” Sinom ter- kekeh-kekeh. “Siapa menyuruh ia menolongku? Siapa menyuruh ia berkorban? Aku tidak! Aku bahkan ter- singgung, kok sepertinya dia sendiri begitu jago hingga berani-beraninya merebut aku dari Dewa Yama!”

“Sinom! Kau sungguh... sungguh tak punya hati nu- rani!” Ki Megatruh malah yang meledak heran.

“Itulah! Orang yang terlalu banyak hati nuraninya pasti tak punya anak!” Sinom tertawa.

“Ya, Mahesywara!” Ki Megatruh harus berhenti seje- nak untuk menyabarkan hatinya. Tanpa bicara lagi, ia pun berpaling untuk melangkah pergi. Dua hal berke- camuk dalam hatinya. Perasaan kesal akan kekuranga- jaran

Sinom. Perasaan haru karena betapapun Sinom ma- sih hidup, berhasil diselamatkan dari maut yang dulu disebabkan oleh tangannya. Memang sifat Sinom tak- kan bisa berubah. Sejak kecil ia seperti itu.

“Hei, mau ke mana, Kakang?” Tiba-tiba Sinom telah berada di depannya.

“Aku tak punya waktu bercanda denganmu, Sinom.

Minggir!” kata Ki Megatruh tegas.

“Pokoknya harus kaubuktikan kau lebih unggul dari aku, Kakang!” Sinom tertawa dan langsung menyerang Ki Megatruh.

Ki Megatruh seolah sudah tahu dirinya akan dise- rang. Kali ini tak menghindar. Dengan dua tangan lurus ke depan ia menyambut serangan Sinom.

Sesaat Ki Megatruh terkejut. Dorongan tenaganya tak membentur apa pun. Dan terdengar Sinom tertawa terkikik.

Dan dari samping terdengar Ki Mahendra tertawa. “Tan Trasanana... jangan ditakuti!” terdengar ia berkata, sementara kembali Sinom menyerang dengan menun- dukkan badan. “Gempuran gaya Astungkara dari Bindi- Saketi punah, Dinda Sinom, suatu awal yang bagus! Ingat-ingat semua gerakan Bindi-Saketi berikutnya... hi hi hi Kakang Megatruh pasti malu! Hayo maju! Hayo

maju! Jangan sampai malu! Hayo maju! Hayo maju! Jangan sampai malu!” Dan Ki Mahendra pun menari- nari di samping kedua orang yang sedang bertempur itu. Kepalanya mengkilat, jenggot putihnya melambai- lambai.

Dalam bertarung itu, Ki Megatruh makin lama makin heran. Ilmu baru ciptaan Mahendra dan Sinom ini sungguh aneh, makin lama makin terasa anehnya. Sela- lu dugaannya salah. Belum apa-apa ia sudah mulai me- rasa terkungkung oleh rasa keputus-asaan. Cepat ia memusatkan diri. Dan terpikir juga kata-kata Mahendra tadi. Mungkin kedua orang ini sudah berlatih menggu- nakan ilmu baru mereka melawan ilmu-ilmu Ki Mega- truh. Rahula tadi benar. Dan tiba-tiba Ki Megatruh mengubah tata geraknya. Kuda-kuda kakinya kini me- lebar, tangan kiri terangkat tinggi dan tangan kanan lu- rus menjurus menjarah kedudukan dengan sambaran- sambaran cepat bagai patukan ular. Dan kini Sinom yang goyah. Tetapi ia terus tertawa dan mempergencar serangannya.

“Dinda Sinom, gerakan Kakang Megatruh seperti ge- rakan Kakangmbok Rahula tadi, hi hi hi ,” dari samp-

ing Ki Mahendra berkomentar. “Jangan berlagak pintar! Aku sudah tahu!” seru Si- nom, tiba-tiba berguling ke kiri dan melompat ke kanan. Sesudah mengamati sekian lama, Ki Megatruh tiba- tiba melihat, walaupun samar-samar, kesamaan Tan Trasanana ini dengan Sura-caya. Sangat samar, me- mang, tetapi ada. Seolah gerak cepat tadi digabung de- ngan suatu ilmu pukulan baru... dengan agak ngawur. Ya, di situlah intinya. Dalam kengawuran penyusunan gerak, tersembunyi tata serangan yang tak mudah di- duga! Seolah suatu irama gamelan yang setiap saat di mana pun juga dikurangi jumlah pukulannya... sesuka-

nya!

Beberapa saat Sinom sudah mulai makin mantap menyerang Ki Megatruh. Dan Ki Megatruh mengubah lagi cara mempertahankan dirinya.

“Kacau! Kacau!” teriak Ki Mahendra dari samping. Ia berhenti menari-nari dan membungkukkan badan un- tuk dapat melihat dengan lebih baik. “Kakang Megatruh sudah bingung, Dinda Sinom, semua gerakannya ka- cau!”

Kali ini Sinom tak bisa menimpali apa-apa. Beberapa kali lecutan panas terlontar dari tangan Ki Megatruh membuat lawannya beberapa kali menjerit kecil. Gera- kan Ki Megatruh memang tampak kacau, dan tak enak dipandang. Seolah orang baru belajar tata kewiraan dan sering lupa, gerakannya patah-patah, sering tak berlan- jut, sering diulang, sering malah tiba-tiba tak bergerak, membuat Sinom beberapa kali hampir terjerumus dan dihajar oleh suatu sentilan pedas.

“Berhenti dulu! Berhenti dulu! Dulu berhenti kok...,” kata Ki Mahendra. “Kakang Megatruh, waktu kita lati- han, kalau Adik Sinom terdesak kita berhenti kok!”

Dan begitu mendadak Ki Megatruh berhenti. Kokoh bagaikan tugu. Sinom yang sedang maju menyerang terbentur mukanya oleh telapak tangan yang tiba-tiba menghadang di depannya.

“Ugh!” Sinom terpental jatuh terduduk beberapa saat kebingungan. Tapi ia segera melompat berdiri. “Curang kau, Kakang! Pertama kau tak memakai ilmumu sen- diri. Kedua, kau ngawur! Kau kalah!”

“Benar, Kakang Megatruh curang! Kalah! Kita kalah tetapi tidak curang. Eh, kita tidak curang juga, tidak ka- lah juga!” kata Ki Mahendra.

“Baiklah aku kalah, sekarang... sudahlah, aku akan menyusul kakak kalian!”

“Enak saja! Kakang belum mencoba Bahni Tamoli kami!” seru Sinom sambil mulai memasang kuda-kuda lagi.

“Ya Kakang belum, belum Kakang!” Ki Mahendra ber- lompat-lompatan kecil.

“Aku tak sempat lagi,” kata Ki Megatruh.

“Harus sempat!” kata Sinom langsung menghirup napas panjang dan memusatkan pikiran guna melon- tarkan ajiannya!

“Sinom, aku tak punya waktu main-main dengan- mu!” Ki Megatruh akan menyingkir, tetapi kini dihadang oleh Ki Mahendra.

“Kakang, selama ini Kakang mengagulkan Bhirawa- dana. Sedang ilmuku Sasradahana. Karena kita berke- luarga, ilmumu dan ilmuku sudah hampir menyatu. Aku tak mau punya ilmu sama denganmu. Adik Sinom juga tak mau. Dan kami menemukan ilmu ini... Bahni Tamoli!” seru Ki Mahendra, dan ia melompat mundur serta memasang kuda-kuda seperti Sinom: tumpuan pada kaki kiri, kaki kanan sedikit terangkat, bahu ka- nan terangkat dan kedua telapak tangan menebar di depan muka sementara pemusatan ajian berlangsung.

Ki Megatruh tertegun. Bahkan sesaat ini pun ia me- rasakan wibawa ajian itu. Hawa hangat menerpanya. Dan melihat asal-usul ajian utama Ki Mahendra yang berlandaskan api, dan juga nama ajian tersebut yang berarti ‘api yang tak ada yang melebihi’—kembali nama yang lucu, begitu sempat terpikir oleh Ki Megatruh— maka bisa diraba ajian itu bersifat panas.

Ki Megatruh mungkin sudah dimakan usia. Pada saat yang kritis itu terlintas di benaknya adegan pulu- han tahun yang silam. Ia berhadapan dengan Sinom. Dalam suasana permusuhan. Dan rasa dendam yang berkobar. Dan Bhirawadana yang dilontarkannya mem- buat Sinom tewas. Mati suri. Memang akhirnya nyawa Sinom tertolong, tapi tak pernah hilang dari pelupuk matanya, adiknya terkulai tak bernyawa di tangannya.

“YAKHHHHHHHHHHHH!” tiba-tiba dari alam sadar- nya ia mendengar bentakan keras itu.

Ki Megatruh pun menjerit keras, “PRATAPAAAAAA!”

Seruan itu seakan menggelegar. Bersamaan dengan terlontarnya ajian Bahni Tamoli dari Sinom dan Ki Ma- hendra. Keduanya juga memberi wibawa ledakan hebat.

Dan kemudian sunyi.

Ki Megatruh terduduk. Tunduk. Memejamkan mata.

Mengerahkan segala kekuatan dirinya.

Ki Mahendra dan Sinom terpaku bagai patung dalam kedudukan terakhir mereka. Kemudian mereka menyu- rutkan saluran tenaga. Mengorak pemusatan pikiran.

Pertama mereka saling pandang. Kemudian berdua mereka memandang Ki Megatruh. Ki Megatruh tampak menggigil duduk bersila mengerahkan kekuatannya.

Sinom berlari kecil mendekati Ki Mahendra. “Kang... Kakang Megatruh...,” bisik Sinom khawatir.

“Dinda Sinom... kalau aku boleh terus terang... se- sungguhnya... Kakang Megatruh berhasil memusnah- kan ajian kita!” bisik Ki Mahendra. “Jadi... kita kalah?” bisik Sinom. “Iya...,” bisik Ki Mahendra.

“Aaaa, nggak mau, nggak mau, nggak mau...,” Sinom menjerit-jerit dan membanting-bantingkan kakinya.

“Ssst, diam, diam, nanti dia bangun dan dia tahu ki- ta kalah!” Gugup Ki Mahendra menekap mulut Sinom.

“O, iya, ya... sebelum dia tahu kita kalah... kita pergi saja? Atau kita curi kitabnya? Tadi agaknya ia memakai ilmu baru untuk memusnahkan ilmu baru kita.”

“Kudengar dia tadi berseru ‘Pratapa’... agaknya bu- kan suatu ajian kewiraan... lebih sekadar pelindung di- ri, hanya semacam ‘sinar kekuatan’ saja... mungkin se- macam tirai pelindung diri.” Ki Mahendra mengerutkan kening.

“Kita ganggu dia?” usul Sinom.

“Jangan. Aku... aku khawatir si Tantri. Di Padepokan Tasik Arga dia tak pernah muncul... apakah dia tak ber- bicara apa pun?”

“Sebelum dia pergi?” Sinom berpikir-pikir sambil me- lemparkan beberapa kerikil pada Ki Megatruh yang ma- sih bersemadi. “Hm. Aku memang mendongeng tentang kota-kota besar. Dan murid-murid kita. Mungkin dia akan mengembara?”

“Yang jelas dia sudah bosan dengan masakanmu.” “Aneh.”

“Kenapa?”

“Aku kan tidak pernah masak!” “O, iya ya ”

“Coba kaupejamkan matamu, apa seperti Kakang Megatruh juga?” pinta Sinom.

“Begini?” Ki Mahendra menutup matanya rapat- rapat.

Sinom tak menjawab. Ia melompat melesat dan ber- lari pergi. “Hei, tunggu!” teriak Ki Mahendra. Gugup menghor- mat pada Ki Megatruh dan berlari menyusul istrinya.

Tempat itu pun sunyi. Tinggal Ki Megatruh bersema- di sendiri.

2. AWAL PERJALANAN

KI MEGATRUH mengorak sila dan berdiri. Sungguh ber- bahaya. Hanya karena tenaga dalamnya yang begitu kokoh maka ia selamat dari gempuran tenaga panas yang begitu dahsyat itu. Bahni Tamoli. Memang ganas. Liar. Dan belum dikembangkan sepenuhnya.

Sinom dan Mahendra. Masih senakal dulu. Dan Ra- hula... tiba-tiba Ki Megatruh merasa begitu khawatir.

Ia pun menjejakkan kaki dan tubuhnya melesat begi- tu cepat bagaikan terbang. Turun gunung. Berkelibas di antara pepohonan hutan. Naik gunung. Melompati sun- gai.

Toh matahari sudah condong ke barat saat ia sampai di depan gerbang Padepokan Tasik Arga.

Beberapa orang cantrik cepat-cepat mendapatkan- nya, bersimpuh memberi hormat. Pemimpin para can- trik itu, Cantrik Dharmika langsung berdatang sembah, “Selamat datang, Guru... semoga anugerah Dewa me- nyertai Guru selalu. ”

“Terima kasih, Dharmika. Apakah Nyai Guru-mu te- lah tiba?” tanya Ki Megatruh tanpa pendahuluan lagi.

“Itulah yang ingin hamba haturkan, Guru. Nyai Guru junjungan hamba semua hanya tinggal sebentar, meng- ambil beberapa bekal dan pergi lagi tanpa berpesan apa pun.”

“Sendiri?”

“Ditemani Ni Gori... dan tampaknya tergesa-gesa se- kali.”

“Gurumu Ki Mahendra dan Nyai Sinom?” Dharmika tampak agak sulit menjawab. “Bagaimana, Dharmika?”

“Guru... junjungan hamba Ki Mahendra dan Nyai Si- nom memang datang setelah Nyai Guru pergi. Kedua junjungan hamba itu kemudian... mencoret-coret din- ding dengan tom, kemudian pergi pula. Coretannya sungguh... memalukan, Guru.... Hamba sudah menyu- ruh orang untuk menghapusnya. Kemudian kedua be- liau itu pergi ke arah utara.”

“Baik, Dharmika, sementara pimpinan padepokan ada di tanganmu. Aku akan pergi mencari gurumu.”

Sebelum Dharmika menjawab, Ki Megatruh telah le- nyap.

3. DI LEMBAH TRANG GALIH

LEMBAH TRANG GALIH sangat tersembunyi. Sebuah dataran sempit. Di dasar jurang terjal. Diapit hutan rimba. Lebat.

Dinding jurang yang terjal. Dari batu-batu karang. Dan gua-gua yang ada di dinding itu banyak yang bu- kan buatan alam.

Di dasar lembah, api-api unggun sudah memadam. Tinggal bara api sisa semalam. Embun hutan pun mengendap hingga bagaikan asap menggumpal meng- gantung di atas tanah. Di ujung lembah dan atas din- ding tebing, tersembunyi, beberapa penjaga masih ber- waspada. Di dalam gua-gua, beberapa puluh, atau mungkin beberapa ratus orang masih tidur lelap.

Matahari belum terbit.

Di pintu lembah, beberapa orang penjaga tiba-tiba tersentak oleh bau harum yang sangat menusuk hi- dung. Dan mendadak saja di hadapan mereka berdiri dua sosok tubuh. Seorang wanita setengah tua yang berpakaian serba biru. Dan seorang pria yang berpa- kaian rapat menutup seluruh tubuh.

Wara Hita dan Wara Huyeng.

Para penjaga itu langsung menjatuhkan diri bersim- puh.

“Kau kenal kami, itu bagus,” kata Wara Hita yang berpakaian pria. “Tapi kami berhasil mendekati kalian tanpa kalian ketahui. Kalian harus dihukum. Siapa pe- mimpin di sini?”

“Hamba, Junjungan... Sorpana. ” Seorang maju me-

nyembah.

Wara Hita mengayunkan tangan. Dan orang itu ter- lempar membentur dinding jurang. Dengan kepala pe- cah.

“Ambil itu sebagai pelajaran,” kata Wara Hita. “Kau...” Ia menuding seorang penjaga lainnya. “Kau- pimpin yang lain. Jangan mengulang kesalahannya. Bi- bi Huyeng. ” Ia kini berpaling pada Wara Huyeng. “Bibi

lihat kesiapan mereka semua. Aku akan menemui Eyang Guru. Aku yakin pwangkulun ada di puncak Ga- lih.”

Tubuh Wara Hita bagaikan terbang. Melesat ke atas. Dan dengan sekali-sekali menyentuh dinding jurang. Melesat terus.

Kemudian di kegelapan tubir jurang ia berlari. Cepat dan pasti. Menembus hutan. Mendaki bukit.

Dan berhenti di depan sebuah bangunan dari batu. Tempat itu gelap. Kabut pun masih mengendap.

Wara Hita maju selangkah. Mengambil sikap me- nyembah. Bersujud. Dan maju lagi.

“Kau terlambat datang,” terdengar suara berat dari dalam bangunan batu itu.

“Hamba mohon dihukum, Guru...,” sembah Wara Hi- ta pasrah.

“Nyalakan pahoman utara!”

Wara Hita langsung bergerak. Tanpa mengorak kedu- dukan kakinya ia mengembuskan tenaga ke kedua tela- pak tangannya. Dan tubuhnya berputar. Cepat sekali. Tiba-tiba ia membentak. Keras. Pendek. Terasa sekilas wibawa panasnya api. Dan sambaran kilat. Dan di de- pan bangunan batu itu tiba-tiba api berkobar. Besar. Menerangi sebuah tempat berkorban.

“Pandanglah pahoman itu!”

Di bangku korban, tergeletak sesosok tubuh manu- sia. Sesaat Wara Hita tersedak.

Ia memandang dirinya sendiri.

Ya. Yang berbaring terikat di bangku korban itu di- rinya sendiri. Bahkan juga memakai pakaian pria. Se- perti dia. Bahkan juga sedang memandang dirinya. Dengan perasaan heran.

“Hancurkan dia. Dengan ilmu yang kaucuri dari mu- rid Megatruh itu!”

Sesaat Wara Hita ragu-ragu. Yang manakah dirinya yang sebenarnya?

Tetapi ia tak berani membantah. Dikepalkannya tin- junya. Dan tiba-tiba tubuhnya melesat ke atas. Dengan kaki masih tertekuk seperti saat bersimpuh. Dan tin- junya meluncur menghajar kepala orang yang di paho- man tersebut. Tanpa berkedip. Kepala orang itu pun hancur berantakan. Tubuh Wara Hita sendiri telah ter- pental ke atas, berputar di udara dan kembali duduk di tempat tadi.

Sunyi.

Kemudian, “Nyalakan pahoman selatan!”

Wara Hita memekik menyalurkan tenaga, berputar cepat dan menghantam ke arah belakangnya.

Di belakangnya pun kini api berkobar menerangi pa- homan. Dan seorang tua berjubah putih dengan rambut dan jenggot berantakan melambai-lambai ditiup angin. Tadinya orang itu membelakangi Wara Hita. Kemudian perlahan ia berputar menghadapinya.

“Eyang Guru...,” bisik Wara Hita menyembah. “Hantam aku dengan ajian Wajra Prayaga!” “Guru...”

“Lakukan!”

Sesaat tampak Wara Hita ragu-ragu. Kemudian ia melompat berdiri. Kepalanya diguncangkannya. Hingga gelung rambutnya terlepas. Kedua lengannya kaku. Ja- ri-jemarinya berkembang lebar. Yang kiri terulur. Yang kanan di sisi muka. Dan ia berteriak keras.

Dentuman yang terjadi mungkin hanyalah suatu gambaran di otak. Tapi wibawa itu ada. Dan sekilas da- da orang tua berjubah putih itu seakan membara. Dan ia pun roboh.

“Guru!” Wara Hita berseru terkejut, memburu.

Di depan tubuh yang roboh itu tak terasa ia menjerit ketakutan. Ini bukan Sang Guru! Ini... Wara Huyeng! Oh, tidak! Ketika diperhatikannya lagi, ini bukan Wara Huyeng! Ini dirinya sendiri! Tapi... Wara Hita cepat me- musatkan pikirannya. Dan tubuh di depannya berubah lagi. Seseorang yang tak dikenalnya.

Ia menghela napas panjang, dan mundur. Berpaling. Di depannya berdiri orang tua renta berjubah serba pu- tih itu.

“Kau belum cukup matang,” kakek itu berkata. “Ji- wamu masih diliputi rasa ragu. Dan ilmumu belum mantap pula.”

“Hamba mohon dihukum, Guru...,” kembali Wara Hi- ta bersujud dalam-dalam. “Tak ada gunanya kau dihukum.”

Tiba-tiba orang tua itu berpaling. Membentak. Dan mendorong dengan kedua telapak tangannya.

Bangunan batu itu roboh berantakan. Gemuruh bu- nyinya.

Si kakek menggelengkan kepala.

“Bahkan tenagaku pun belum pulih,” katanya. “Tenaga Guru sudah begitu hebat!” sembah Wara Hi-

ta.

“Kau anak kecil tahu apa!” si tua mencibir. “Dahulu

... namaku begitu tenar. Nama Nagabisikan hampir sa- ma artinya dengan peruntuh Wilwatikta. Waktu itu. Kau tahu... aku hampir saja menjadi pendeta negara, negara yang sangat kuat, yang akan mencaplok Wilwatikta. Sayang... anak bernama Megatruh itu kemudian bikin gara-gara. Nah... aku ingin bisa membalas dengan tan- ganmu. Kautaklukkan Wilwatikta. Aku akan memban- tumu. Yang kauperlukan adalah: para pembantu yang cukup tangguh.”

“Kami sedang mengumpulkan itu, Eyang Guru.” “Pusaka yang tangguh dan ilmu yang tangguh.” “Untuk itu kami mohon petunjuk Guru.”

Sesaat Sang Guru terdiam.

Tempat itu adalah suatu tempat ketinggian. Jauh di sebelah timur Gunung Kawi menjulang. Dan langit di punggung gunung yang menghitam itu mulai memerah.

“Hanya ada dua pusaka yang cocok untukmu. Ke- duanya adalah pusaka kakek moyangmu dahulu. Per- tama adalah pedang Krura Karma. Ini dulu direbut oleh Raden Gajah. Yang kedua adalah gada Wesi Kuning. Ini yang agak sulit. Ketika Sang Wirabhumi jatuh, gada ini sudah lenyap.”

“Putu maharsi telah mengobrak-abrik beberapa ke- luarga keturunan dekat Raden Gajah, tetapi belum me- lihat tanda-tanda adanya kedua pusaka itu. Dengan tambahan ilmu dari Guru, putu maharsi akan berani melabrak langsung ke istana Wilwatikta.”

“Aku tahu pendorong hatimu adalah hasrat memba- laskan dendam kematian Sang Wirabhumi. Jangan lupa bahwa itu berarti kau pun kemungkinan mendongkel tahta Wilwatikta. Untuk itu kau jangan terburu nafsu. Kau harus tahu mana yang harus kaudahulukan.”

“Untuk itu hamba mohon petunjuk.”

“Hanya kesempurnaan ilmumu yang bisa memban- tumu. Ilmu Wajra Praya memang luas. Tetapi bahkan aku sendiri tidak menguasai seluruhnya.” Sang Guru tampak menunduk sedih. “Pada pertemuan kami yang terakhir, si Megatruh itu dengan licik telah mengguna- kan Bengawan Bera Rantas untuk menggempurku. Dan itu sangat mengganggu pulihnya tenaga dan ingatanku. Kitab Wajra Prayaga sendiri kemungkinan ada di ta- ngan Megatruh setelah gugurnya Pangeran Peksajandu. Mungkin tiba saatnya nanti kau harus menyelidiki hal itu.”

“Jiwa raga putu maharsi adalah milik Paduka, Guru,” sembah Wara Hita.

“Jiwa ragamu tidak cukup. Yang kauperlukan adalah otakmu. Dan tekadmu. Menentang Wilwatikta seperti saja menentang matahari. Lakukan upacara untuk me- nerima ilmumu.”

“Baik, Guru.”

Wara Hita menyembah. Kemudian mundur ke dalam kegelapan yang masih ada. Dicopotnya seluruh pakai- annya. Sementara itu Sang Guru dengan langkah tetap memasuki kobaran api di tempat pemujaan. 4. KALUNG MANIK KAYU DEWA

DI RUANG JINGGA, rumah hiburan Emban Layarmega.

Tari, yang kini bernama Kasturi, terkejut saat ada seseorang yang mengenali kalung yang dipakainya. Ka- lung manik kayu dewa. Tari telah lupa segala-galanya. Namanya sendiri pun ia tak ingat. Hanya dua hal yang masih diingatnya dengan pasti. Sebuah nama. Tantri. Walaupun ia tak tahu nama ini milik siapa. Dan kalung manik kayu dewa ini. Benda inilah yang pertama kali di- lihatnya saat beberapa hari yang lalu pertama kali ia sadarkan diri. Maka ia menganggapnya suatu benda yang mungkin merupakan miliknya yang asli. Sesuatu dari masa lampaunya yang gelap.

Sebaliknya Tun Kumala, alias Rara Sindu. Ia menge- nali kalung ini sebagai milik kakaknya, Ra Sindura, yang kini dianggap bersalah dalam suatu peristiwa pembunuhan besar yang mengguncangkan negara.

Mengapa kalung ini berada di leher seorang wanita penghibur bernama Kasturi ini? Memang ia tahu Ra Sindura sering mengunjungi tempat Layarmega ini. Da- lam rangka tugas, katanya. Apakah diam-diam ka- kaknya menaruh hati pada wanita penghibur ini?

Tetapi, apakah orang dengan kepribadian seperti Ra Sindura sampai begitu terlibat dalam emosi hingga me- relakan kalung jabatannya pada wanita ini? Wanita se- perti ini? Kalau wanita yang disukai oleh Ra Sindura se- sama bangsawan tinggi, masih mungkin. Tapi ini...?

Tapi Tun Kumala tak sempat berpikir lebih jauh.

Tari melihat ada orang yang mengenali kalungnya. Sepercik harapan muncul. Mungkin juga semburan sik- saan bertubi. Pasti ada orang yang tahu masa lalunya. Mungkin ini ada hubungannya dengan penyebab me- ngapa ia melupakan segala-galanya. Sesuatu tiba-tiba menguasai Tari. Sesuatu meledak di dada Tari.

Mendadak saja ia beringas. Tangannya terulur cepat menyambar leher Tun Kumala. Dan mencekiknya.

“Cepat katakan!” jeritnya. “Siapa sahabatmu yang punya kalung mirip ini? Cepat!”

“Ekkkh... le... lepaskan dulu!” Tun Kumala alias Rara Sindu megap-megap tercekik tak bisa bernapas. “Le... lepas... lepaskan!”

Tapi cengkeraman Tari tak mudah terlepas, beta- papun Tun Kumala meronta-ronta. Tari memang lupa semua ilmu kadigdayan yang pernah dimilikinya. Tetapi otot-ototnya tak mudah lupa. Cengkeramannya ceng- keraman berilmu dengan tenaga yang cukup mantap.

Tun Kumala meronta lagi. Dan serta-merta Tari menghempaskannya ke lantai keras-keras. Masih terus mencekiknya.

“Cepat katakan!” desis Tari dengan mata beringas menyala dengan nafsu membunuh.

“Akku... akku... tak bisa bicara!” Penderitaan Tun Kumala begitu hebat.

“Kau... kau harus katakan itu. Harus!” Cekikan Ta-

ri semakin kuat di leher jenjang Tun Kumala. Begitu ka- lap Tari hingga ia tak memperhatikan hal-hal yang ku- rang wajar pada Tun Kumala: kulit dan dadanya yang lembut, atau suara yang tiba-tiba terlalu kewanitaan.

“Punya... punya Kakang Sindura....” Siksaan seperti ini sudah keterlaluan bagi Rara Sindu.

“Ra Sindura siapa?” Cekikan Tari semakin menya- kitkan.

“Pu... putra.... Rakryan Rangga!”

Keterangan itu cukup bagi Tari. Dihempaskannya Tun Kumala sekali lagi ke lantai. Dan ia melompat ber- diri. ri. Ra Sindura. Putra Rakryan Rangga. Ini mudah dica-

Terengah-engah Tari berdiri di sudut kamar, mem- perhatikan Tun Kumala yang terbatuk-batuk dan me- gap-megap kehabisan napas di lantai.

Sebersit pikiran muncul di benaknya. Kelakuannya ini pasti tak bisa diampuni oleh Bibi Emban Layarmega. Ya. Kenapa ia tadi begitu kasar? Kalau ia mau... pasti mudah merayu agar apa yang diinginkannya dijawab baik-baik oleh orang ini. Kini, tak ada jalan mundur.

Tapi, memang Tun Kumala agak lain. Tidak seperti lelaki kebanyakan. Ya. Seperti lelaki yang mengaku saudagar wewangian itu. Hanya kelainan mereka berbe- da. Wisti si saudagar itu begitu jantan. Sedang Tun Kumala ini begitu lemah. Kalaupun ia harus mening- galkan rumah Emban Layarmega ini, ia akan mencari orang bernama Wisti itu. Ia akan menghambakan diri pada orang itu. Pasti diterima. Ia sudah mendapat pela- jaran dari Bibi Emban Layarmega tentang mata lelaki. Dan ia yakin lelaki bernama Wisti itu tertarik padanya.

Lalu apa yang akan dilakukannya?

Pertama, dan pasti, ia akan menyelidiki orang ber- nama Ra Sindura itu. Ini penting. Ia sudah begitu rindu akan masa lalunya, hingga keterangan betapa sedikit- nya pun akan sangat didambakannya.

Yang kedua, dan pasti, ia pasti diusir oleh Bibi Em- ban Layarmega. Orang seberang yang lemah ini pasti mengadu. Dan ia pasti diusir. Di samping itu, ia juga harus keluar dari sini, jika ingin menyelidiki tentang Ra Sindura.

Lalu bagaimana? Lari saja?

Lalu... bagaimana dengan orang seberang ini? Dengan rasa menghina Tari memperhatikan Tun Ku-

mala. Sudah sekian lama, dan ‘pemuda’ itu masih ber- guling-guling di lantai mengurut-urut leher.

Ada kebencian di hati Tari. Pada si Tun Kumala ini. Ia melihat Tun Kumala ini menghalanginya melayani Wisti, lelaki pujaannya. Ia merasa terhina pula karena Tun Kumala tampak tak begitu bersemangat untuk di- layaninya. Ia merasa ‘jijik’ melihat lelaki begitu mudah menyerah oleh ‘siksaannya’ dan begitu gampang dika- lahkannya. Ia benci karena Tun Kumala ini adalah juga saksi tentang kegagalannya menguasai perasaan ha- tinya. Dan Tun Kumala akan menjadi penyebab ia di- usir dari tempat ini.

Ada segi lain dari akibat meledaknya perasaan Tari tadi. Ledakan perasaan itu begitu besar, hingga di bebe- rapa bagian dalam pribadi Tari pengaruh obat pembius bagaikan terdobrak. Ia seolah sadar dirinya punya ke- kuatan. Dan dengan kesadaran akan kekuatan itu tim- bul kesadaran akan kemenangan, kesadaran bahwa apa pun yang terjadi ia harus menang.

Ia menjadi kejam.

Didekatinya Tun Kumala. Dicabutnya tusuk gelung rambutnya. Digenggamnya erat-erat. Dan didekatinya Tun Kumala yang kini telah terhuyung berdiri.

Dengan pukulan lurus, tinju terkepal erat, dihantam- nya keras-keras muka Tun Kumala.

Tun Kumala menjerit. Darah muncrat dari hidung itu. Dan ia jatuh terduduk.

Tari menyeringai. Itu tadi sesungguhnya pukulan tanpa memakai ilmu apa pun. Hasilnya sungguh makin membakar keganasan di hati Tari.

Disambarnya rambut Tun Kumala. Direnggutnya ke atas. Dan tusuk gelung itu terangkat untuk dihunjam- kan pada leher si pemuda seberang. 5. DI SUMUR HITAM

“TURI, hentikan!” suara itu terdengar berat. Berwibawa. Dan dari arah yang sama sekali tak diduga. Dari jen- dela.

Bima berdiri di sana. Entah bagaimana. Mungkin ia meloncat dari bawah. Atau merambat lewat atap. Rasa- nya tubuhnya yang begitu tinggi besar itu mestinya sulit untuk bisa bergerak gesit. Tetapi ia ada di sana. Dan melangkahi bingkai jendela. Masuk.

Tari tertegun. Tangannya berhenti berayun.

Kepalang tanggung... cepat ia meneruskan ayunan tangannya. Bima lebih cepat lagi. Kakinya yang panjang melecut. Tari menjerit. Tangannya serasa berderak pa- tah. Tusuk gelungnya terlempar deras menancap di atap.

“Menyerang tamu adalah dosa tak berampun, Turi,” kata Bima dingin, mendekat. “Apa pun alasannya. Min- ta maaf pada tuan ini dan kau harus masuk ruang ta- hanan. Sekarang juga.”

“Tidak!” jerit Tari. Jika ia dimasukkan ruang taha- nan, ia akan kehilangan banyak waktu untuk menyeli- diki. Bahkan sangat mungkin kesempatan itu langsung lenyap begitu saja.

“Ayolah, Turi, kau tahu peraturan di sini.” Bima se- makin mendekat. Sesaat ia melirik Tun Kumala yang terkapar tak bergerak di lantai. Tapi masih hidup.

“Tidak!” Keputus-asaan membuat Tari kalap. Dengan nekat disambarnya tempat sirih dari suasa. Dilempar- kannya pada Bima. Kemudian disambarnya guci arak. Dilemparkannya pada Bima. Disambarnya bantal kayu. Dihempaskannya ke Bima.

Bima maju terus. Barang-barang tadi dengan mudah ditangkisnya. Kemudian tangannya terulur. Dan sebuah tamparan keras membuat Turi langsung roboh. Ping- san.

Dengan mudah Bima mengangkat dan memanggul- nya. Dan ia berpaling pada Tun Kumala yang sudah sa- darkan diri dan memandang padanya dari lantai.

“Kau sadarkan diri, Tuan?” tanya Bima.

“Yy... ya... agaknya ddi...dia tiba-tiba saja gila ya... kok... menyerang aku?” Tun Kumala bangkit berdiri, mengurut lehernya, kemudian merapikan rambutnya.

“Itu tidak penting. Yang penting, ini jangan sampai terdengar oleh siapa pun. Jika ini terdengar ke luar, hancurlah rumah kami ini. Tuan mengerti?” tanya Bi- ma.

“Yyya...” Tun Kumala terlihat gemetar ketakutan. “Sebagai imbalan, Tuan akan memperoleh layanan

tanpa harus membayar di sini. Akan kuceritakan keja- diannya pada junjunganku, Emban Layarmega. Sebagai imbalan juga, sesuatu yang buruk akan menimpa Tuan, keluarga Tuan, atau siapa pun di sekitar Tuan... jika peristiwa ini sampai tersiar ke luar. Mengerti?”

“Bba... baik... wah, gara-gara ingin tidak bayar saja jadi ramai nih....” Tun Kumala mencoba membetulkan destarnya. Beberapa kali tak berhasil. Tangannya begitu gemetar. “Aku... aku... aku harus bertemu dengan si Wisti... aku harus bertemu dengan si Wisti... di mana dia, huh... di mana dia?”

Bima memperhatikan ‘pemuda’ tanah seberang itu. Didengarnya dulu orang-orang Tumasik begitu jago ber- perang, begitu cekatan bertarung. Ilmu kewiraan me- reka termasuk yang sangat menyulitkan lawan. Tetapi pemuda ini mengapa begini melempem. Begitu penakut. Dan... lebih heran lagi, mengapa junjungannya, Dewi Wara Hita, tertarik pada pemuda semacam ini? Memang tampan. Dan mungkin saja junjungannya itu belum ta- hu aslinya pemuda ini. Biar beliau segera tahu. Biar be- liau segera melenyapkan saja pemuda ini. Hingga... ah, ya, Bima memang sering merasa begitu berdosa, me- mimpikan memperoleh limpahan kasih dari junjung- annya. Dan sebagai hukuman dosa itu... mungkin... hanya Wara Huyeng yang selalu mengejar-ngejarnya.

“Wahai, Orang gagah, aku bertanya padamu!” kata Tun Kumala yang selesai merapikan pakaiannya.

“Ah, ya... temui Emban Layarmega, dan katakan pa- danya bahwa Tuan sangat ingin segera bertemu dengan Gusti... mm, Wisti.... Jangan katakan apa yang terjadi di sini, biar nanti aku yang berbicara dengannya. Kata- kan saja bahwa... Turi kurang memuaskan dan Tuan sangat merindukan Gu... Wisti ”

“Baik... tt... terima kasih....” Sekali lagi Tun Kumala membetulkan letak destarnya.

“Ingat kata-kataku tadi, Tuan, jangan katakan apa yang terjadi di sini kepada siapa pun.”

“Ah, tentu, tentu... bukan karena aku takut kamu bukan... Bukaan   ” Tun Kumala memperbaiki letak ba-

junya dan kini cukup tenang untuk bersikap gagah. “Karena memang   kejadian ini kejadian biasa. Tak per-

lu dipanjang-lebarkan. Aku tadi juga   cuma pura-pura

takut saja, ingin tahu mau apa dia, hi hi hi    Sudah ya,

Bima... aku mau bertemu dengan Layarmega... he he he....” Sambil tertawa kecil Tun Kumala berjalan ke luar, dan setelah melemparkan senyum pada Bima yang masih berada di dalam kamar, ia menutup pintu.

Beberapa saat Bima diam di dalam kamar itu. Dide- ngarnya di luar pintu yang tertutup Tun Kumala masih berdiri diam. Kemudian terdengar pemuda Tumasik itu menjauh, menuruni tangga.

Diperhatikannya Turi yang masih pingsan. Apa yang terjadi tadi? Ia hanya mendengar pertengkaran terakhir mereka. Saat itu kebetulan ia meronda di bawah kamar tersebut, di taman. Dan ketika ia meloncat ke atas dilihatnya Turi ini akan membunuh si Tun Kumala.

Apa yang terjadi?

Siapakah sebenarnya Turi ini? Siapa dia sebelum di- bawa kemari oleh Ra Wirada? Pernah Emban Layarme- ga menyatakan kecurigaan tentang hubungan anak ini dengan Ra Sindura, atau paling tidak dengan ilmu kewi- raan yang dimiliki Ra Sindura.

Tetapi berkat ramuan Emban Layarmega, atau me- mang hubungan itu tidak ada, tak nampak ilmu kewi- raan itu muncul. Bahkan tadi saat kalapnya pun Turi tidak menampilkan suatu gerakan yang patut dianggap suatu ilmu.

Kesimpulannya, kemungkinan itu tadi hanyalah lua- pan perasaan belaka. Bima yang begitu berpengalaman melihat bahwa Turi ini sesungguhnya berharap untuk bisa melayani ‘Wisti’. Sungguh menggelikan.

Apa pun yang telah terjadi, Turi ini harus dihukum. Emban Layarmega beberapa kali memuji anak ini seba- gai sangat berbakat untuk menjadi wanita penghibur kelas satu. Karenanya, jika ia berbuat kesalahan, maka ia harus dihukum seberat-beratnya, agar kesalahan itu takkan pernah diulanginya seumur hidupnya.

Begitulah selalu yang diajarkan Emban Layarmega.

Begitulah yang akan dilakukannya pada anak ini. Turi harus dimasukkan ke dalam Sumur Hitam.

Sumur Hitam memang sebuah sumur. Begitu dalam. Begitu gelap. Dan barangsiapa yang patut dihukum be- rat, dimasukkan ke dalam semacam sangkar. Dari besi. Sempit. Hanya cukup untuk satu orang. Dan sangkar itu pun diturunkan ke dalam sumur. Terus. Hingga da- sarnya hampir mencecah air di dasar sumur. Dan di dasar sumur itu berisikan seekor ular besar. Sangat be- sar. Dan ular ini akan berusaha mematuk orang yang berada di sangkar itu.

Menurut pengalaman Bima, orang yang dihukum akhirnya akan menjadi gila atau mati ketakutan. Sela- ma beberapa belas tahun ini hanya ada tiga orang yang selamat dari siksaan Sumur Hitam. Belasan lainnya ka- lau tidak gila ya mati ketakutan.

Kalau Turi ini tidak kuat, gila atau mati, maka ia me- mang tidak digariskan Dewata sebagai seorang Emban Layarmega yang kedua.

Bima melompat ke luar jendela. Walaupun badannya besar dan ia pun mendukung Turi, ia bisa tiba di tanah tanpa suara.

Ini adalah taman belakang. Tak ada yang bercengke- rama di sini. Dan Bima bergegas, menyelinap di antara pepohonan, kemudian berlari mendaki bukit kecil di be- lakang rumah besar itu.

Di antara pepohonan terdapat sebuah gubuk kayu.

Dan di dalam gubuk itulah Sumur Hitam.

“Siapa itu?” terdengar suara tak enak, serak, dari da- lam gubuk.

“Aku, Ahireng,” jawab Bima singkat. “Keluarlah se- bentar.”

“Bima, ya? Malam-malam begini... mbok ya kamu ti- dur sana. Mau aku berikan kau pada si Gong?”

“Jika kau tidak segera keluar, kau jadi makanan si Gong, lho!” gerutu Bima.

“Keluar ya keluar, pakai ngancam segala. Eh... siapa yang kaubawa, Bima?”

Dari dalam kegelapan gubuk keluar seseorang yang sangat mirip dengan namanya, Ahireng, yang badannya hitam-legam, gundul mengkilat di cahaya obor.

“Eh, siapa ini... bukankah ini Ning Turi, yang sangat disayang oleh Nyai Emban?”

“Bagus juga ingatanmu,” kata Bima sambil menu- runkan Turi dari punggungnya.

“Dia sering kemari, membawakan aku makanan,” ka- ta Ahireng. “Kemudian dia lebih sering duduk-duduk di puncak bukit. Melamun. Sering ia bertanya, sebetulnya dirinya itu siapa... tentu saja aku tidak tahu dan bukan urusanku.”

“Ahireng, makin lama kau makin banyak omong.” “Tentu. Habis, dengan siapa lagi aku berbicara? Aku

tak pernah pergi dari sini    Dulu sih, Ning Turi ini juga

sering mengajakku berbicara... cuma. ngomongnya tak

keruan ujung-pangkalnya. Eh, salah apa sih dia?” “Seperti katamu tadi, bukan urusanmu,” kata Bima

dingin.

“Kalau yang biasa sih jelas... tapi ini kesayangan Nyai Emban!”

“Kau kan tahu, aku diberi kekuasaan oleh Nyai Em- ban untuk melakukan apa saja yang kupandang perlu dilakukan. Nah, masukkan anak ini ke dalam kerang- keng.”

“Mmm, baiklah.” Ia membukakan pintu gubuk. Di dalam sangat gelap walaupun sudah diterangi obor.

Kerangkeng itu tergantung di atas mulut sumur tua. “Masukkan,” kata Ahireng. “Aku tak mau menyen-

tuhnya.” Dan dibukanya pintu kerangkeng.

“Dasar pengecut,” desis Bima, dan dilemparkannya Turi ke dalam kerangkeng tersebut. Kerangkeng ber- guncang dan berdencing mengeluarkan suara besi. Ahi- reng membantingkan pintunya. “Sudah,” katanya.

“Turunkan!” perintah Bima.

Gemerincing rantai pun terdengar. Kerangkeng itu turun memasuki sumur yang begitu gelap-pekat terse- but. “Sampai bawah?” tanya Ahireng. “Sudah waktunya si Gong diberi makanan. Ini ganas-ganasnya dia.”

“Sampai bawah,” kata Bima. “Angkat dia besok men- jelang senja. Dan suruh dia menghadap Emban Layar- mega.”

Tak berkata apa pun lagi, Bima berlalu.

Tari sadarkan diri oleh suatu bau yang sangat me- nyengat hidung. Ia melompat berdiri. Dan kepalanya terbentur terali besi. Suasana gelap pekat. Tapi kemu- dian matanya terbiasa oleh kegelapan. Dan ia hampir pingsan lagi karena terkejutnya. Bau itu. Suara desis itu. Dan dua buah titik cahaya hijau yang bergerak- gerak.

Ia berada di Sumur Hitam!

Ia ingin menjerit. Tapi suaranya tak keluar. Ia mun- dur ke bagian terjauh dari kedua titik hijau itu. Bebe- rapa kali kakinya terpeleset di atas terali besi di lantai. Ia berpegang erat pada terali dinding. Napasnya serasa lenyap. Mulutnya ternganga tanpa mengeluarkan suara. Matanya terbeliak seolah tanpa kelopak.

Dan desis Ki Gong semakin keras. Matanya yang hi- jau terangkat ke atas.

“Tidak... tidak...” Tari ingin menjerit. Tapi suaranya tiada. Ia mencoba makin merapat ke dinding kerang- keng. Terlihat sepasang cahaya hijau itu tiba-tiba me- nyambar keras. Dan membentur kerangkeng. Kerang- keng terguncang gemerincing. Tari menjerit. Ki Gong makin ganas. Kepalanya menyambar lagi. Mengguncang kerangkeng makin keras. Dan semburan bau sangat ti- dak sedap hampir membuat Tari pingsan.

Kembali Ki Gong menghajar kerangkeng itu.

Di samping guncangan gemerincing, terdengar suara pintu besi kerangkeng itu terbanting terbuka.

Serasa melayang nyawa Tari. Rupanya Ahireng lupa mengancingkan pintu itu! Kembali Ki Gong menghantam kerangkeng tersebut.

Begitu keras hingga pegangan Tari terlepas, dan hampir ia terbanting ke lantai kerangkeng.

Untung tangan Tari masih sempat menyambar seba- tang terali. Dan terdengar lagi bantingan pintu besi itu.

Oh. Mungkinkah Ahireng sengaja? Sengaja tidak me- ngancing pintu itu dari luar? Agar... ia bisa menyela- matkan diri? Tapi bagaimana?

Di kegelapan dilihatnya sepasang mata hijau itu ber- gerak. Ke arah dari mana didengarnya pintu tadi ber- dentang! Oh. Kalau Ki Gong bisa masuk... habis sudah riwayatnya!

Tidak. Ia tak mau mati di perut ular besar itu. Tidak! Tari tidak boleh mati begitu saja sebelum bisa menemui guru-gurunya!

Hei! Pikiran itu lebih mengejutkan dari serangan Ki Gong. Tari, tadi otaknya berkata. TARI! Tari! Hei. Apa itu? Sebuah nama? Nama siapa? Apakah... namanya? Bukankah namanya Turi? Kasturi? Tidak. Nama Tari serasa lebih hangat. Lebih akrab. Dan... apa tadi yang terpikir olehnya? Gurunya. GURUNYA!

Kalau Tari itu dirinya, tentunya yang disebut ‘gu- runya’ adalah guru-nya! Jadi, dia tentu sudah pernah berguru. Berguru apa?

Gemetar seluruh tubuh Tari. Ia begitu dekat dengan masa lalunya yang gelap. Toh belum juga bisa dijang- kaunya.

Kerangkeng terguncang keras lagi. Ki Gong belum menemukan pintu itu.

Oh. Dan ia belum bisa menemukan dirinya? Betul- kah dia Tari? Tidak. Ia tak mau mati sebelum menemu- kan siapa dirinya. Ia harus melawan. Dengan apa?

Terasa sebagian rambutnya mengusap bahunya. Ah, ya. Tusuk gelungnya yang satu sudah lepas me- nancap ke dinding tadi saat ditendang oleh Bima. Masih ada satu lagi.

Dicabutnya tusuk gelung itu. Rambutnya bubar ter- urai. Kini ia makin nekat. Ia harus selamat!

Direnggutnya setagen-nya, hingga kainnya terlepas. Ia tak peduli. Ia harus hidup. Dan tempat itu gelap. Tak ada yang melihatnya tak tertutup oleh kainnya.

Gugup dibebatkannya kain itu ke tangan kirinya. Ia tak tahu bagaimana kebiasaan ular besar itu menye- rang mangsanya. Paling tidak terpikir olehnya... jika mulut ular itu ternganga, ia akan memasukkan tangan- nya yang berbalut kain itu ke mulutnya, kemudian saat ular itu mencoba menggigitnya, ia akan menusuk leher ular itu dengan tusuk gelung dengan tangan kanannya. Hei. Bagaimana ia bisa berpikir secermat itu, bersiasat secepat itu? Bagaimana itu semua bisa keluar begitu wajar dari benaknya?

Tari tak keburu berpikir lebih lanjut. Sepasang titik hijau itu tiba-tiba terangkat tinggi. Meluncur membelok. Langsung menuju ke arahnya!

Tari menjerit. Tangan kirinya langsung tersilang di depan mukanya. Ia terpeleset terjatuh karena saat itu kerangkeng terguncang keras dan kedua tangannya ti- dak berpegangan sama sekali.

Dan tubuhnya serasa ditubruk kuda. Tangan kirinya terhantam keras. Secara wajar dan naluriah agaknya Ki Gong terbiasa menyerang kepala mangsanya. Dan kepa- lanya yang sebesar kepala kambing itu memang lang- sung mencoba menyambar kepala Tari dengan mulut ternganga. Dan mulut itu langsung menyergap tangan Tari yang tersilang, serta terkatup padanya.

Bau yang sangat busuk hampir membuat Tari lang- sung tewas. Tapi ada kekhawatiran, gigi runcing Ki Gong akan menembus lapisan kain di tangannya. Maka tanpa berpikir panjang lagi Tari menghunjamkan tusuk gelungnya ke leher ular raksasa itu!

Ki Gong berontak. Kerangkeng bagaikan terbanting ke kiri dan ke kanan saat tubuh raksasa ular itu meng- gelepar meronta-ronta. Tari terbanting. Terayun. Ter- hempas. Tapi ia tak mau melepaskan tusuk gelungnya, sementara gigi Ki Gong tertancap erat pada bebatan kain di tangan Tari. Tari terus menancapkan tusuk ge- lungnya. Dan dengan mengerahkan kekuatan meng- gores tusuk gelung yang sudah terhunjam itu memutari leher Ki Gong.

Ki Gong makin meronta. Ekornya mulai mengamuk mencoba menghantam Tari. Tapi hantaman itu menge- nai dinding kerangkeng. Ia pun berontak mengangkat kepalanya. Dan kepala Tari terhempas ke dinding atas kerangkeng besi itu.

Tari tak melepaskan tusuk gelungnya. Dirasakannya tusuk gelung itu bisa dipaksakannya bergerak mengeli- lingi batang leher Ki Gong. Ia terus mengerahkan tena- ga. Tak peduli ia dibanting ke kiri dan ke kanan. Dan rantai serta kerangkeng itu begitu ribut.

Tari terus menghunjamkan tusuk gelungnya. Ia ma- kin lemah oleh bau tak sedap itu. Oleh hempasan diri- nya ke terali besi. Tapi ia terus menghunjamkan tusuk gelungnya.

Akhirnya... yah... akhirnya ia akan harus menyerah. Ia tak tahan lagi. Tangan kanannya melemas. Kakinya melemas.

Pada saat berikutnya, ia terhempas roboh. Bukan karena kekuatannya yang menipis terkikis habis. Tapi karena pegangannya pada Ki Gong terlepas. Kepala Ki Gong putus, dan darah tersembur memandikan sekujur tubuh Tari yang rubuh. 6. TUN KUMALA

TUN KUMALA berhenti sejenak di depan pintu Kamar Jingga. Ditenangkannya dirinya. Diaturnya pakaiannya. Wah. Pengalaman yang sangat mengerikan, pikirnya. Wanita tadi begitu galak... bagaimana kalau tadi ia ber- hasil membuka pakaiannya? Wah, runyam urusannya. Rakryan Mapatih patut didamprat!

Tun Kumala melangkah ke tangga. Tunggu.

Mengapa pikirannya begitu kacau. Ada yang lebih penting lagi. Kalung manik kayu dewa itu. Pertama, je- las itu milik kakaknya, Ra Sindura. Tapi kenapa wanita itu begitu kalap menanyakan siapa yang memiliki ka- lung serupa?

Mungkin Turi itu cemburu. Cemburu kalau Ra Sin- dura memberikan kalung yang sama pada wanita lain? Atau apakah... hei! Wanita itu malah tampaknya begitu mendendam. Apakah Kakanda Ra Sindura telah ber- buat salah padanya?

Tak terasa Tun Kumala meraba lehernya yang tadi dicekik oleh Turi. Wanita itu begitu bernafsu untuk membunuhnya, mungkinkah juga akan membunuh Kakanda Ra Sindura? Masih untung Kakanda Ra Sin- dura sedang ditahan oleh kerajaan, hingga betapapun mendendamnya, takkan mungkin wanita itu, atau orang suruhannya, bisa menemukan Ra Sindura.

Memikirkan hal itu, agak ringan pikiran Tun Kuma- la. Memang adanya kalung kayu itu di sini merupakan suatu penemuan besar, dan akan dilaporkannya pada Paman... eh, Aria Sampana. Biar diurus oleh Ma... Aria Sampana si Kasturi itu. Kurang ajar. Orang dicekik se- maunya. Bahkan mau ditusuk! Lho. Apa tidak kurang ajar begitu itu? Ia akan menggoda Wisti tentang ini. En- tah di mana saudagar yang berbau harum itu.

“Tuan mencari sesuatu?” tiba-tiba terdengar suara lembut di sampingnya.

Tun Kumala hampir terlompat. Ternyata ia sudah sampai di ujung kaki tangga, di ruang tengah yang ra- mai. Dan Emban Layarmega telah berada di dekatnya, didampingi seorang lelaki berpakaian serba gelap, de- ngan tangan menggenggam hulu keris.

“Oh, Bibi Emban Layarmega! Wah, ya, aku sedang mencari... mencari si Wisti tadi Ke mana dia pergi?”

“Kenapa? Bukankah Tuan masih bersenang-senang dengan Turi? Dia wanita kami yang terbaik, lho?” Em- ban Layarmega memandang penuh curiga tapi tetap ter- senyum.

“Ah, aku begitu merasa berutang budi dengan Wisti...

jadi aku tak bisa menikmati hidangan si... Turi itu....

Rasanya lebih senang kalau berbicara dengan Wisti...

asyik rasanya!”

“Jadi, Tuan ingin segera bertemu dengannya?”

“O, tentu. kami baru bertemu tapi rasanya kok su-

dah bersahabat erat,” kata Tun Kumala sambil melihat berkeliling. Mana Aria Sampana?

Ia tak memperhatikan Emban Layarmega tersenyum pada orang yang berpakaian serba gelap itu.

“Ia sudah berangkat tadi, tergesa-gesa,” kata Emban Layarmega.

“Gila! Tanpa berpamitan padaku?” tanya Tun Kuma- la, yang sedang memikirkan Arya Sampana.

“Tuan sedang sibuk.” Emban Layarmega tertawa. “Jadi tidak sempat berpamitan.”

“Tapi beliau berpesan... jika Tuan memang benar- benar ingin segera bertemu dengan beliau maka hamba harus mengantarkan Tuan,” orang berpakaian serba ge- lap itu berkata. “Baik sekali kau,” kata Tun Kumala, dengan agak sombong. “Kau siapa? Anak buahnya?”

“Benar, Tuan ”

“Aku belum pernah melihatmu?” Tepat sekali Tun Kumala membawakan peran sebagai orang kaya yang bosan hal-hal yang terlalu biasa.

“Tentu saja belum, Tuan ” Orang itu tertawa.

“Lho!” Baru sekarang Tun Kumala sadar, mungkin mereka berbicara tentang dua orang yang sangat berbe- da.

“Eh namamu siapa?” tanya Tun Kumala.

“Hamba Kusya, Tuan.”

“Dan kau disuruh mengantarkan aku ke junjungan- mu? Di mana itu?”

“Hamba tak leluasa mengatakannya, namun tempat itu kira-kira satu hari satu malam perjalanan berkuda terus-menerus tanpa henti,” kata Kusya.

“Wah... itu kan berarti... hampir sampai pantai sela- tan!” Tun Kumala membelalakkan mata.

“Terkaan Tuan sangat tepat.” Kusya membungkuk memberi hormat. “Pasti Tuan sangat berpengalaman da- lam bepergian hingga perjalanan nanti bukanlah halan- gan.”

“Wah, ya... halangan juga, ya... aku kan tidak bisa berangkat malam ini juga?” tanya Tun Kumala ragu- ragu.

“Tadi Tuan berkata sangat ingin segera bertemu de- ngan majikan hamba. ” Kusya memandang sedikit tan-

pa hormat.

“Dan beliau juga sangat ingin segera bertemu dengan Tuan,” kata Emban Layarmega sedikit menuduh.

“Jadi Tuan harus berangkat malam ini juga, seka- rang juga,” kata Kusya lagi.

“Tapi... mmmh... aku kan harus berganti pakaian, menyiapkan bekal... dan wah, pasti melelahkan perjala- nan terus-menerus itu.” Tun Kumala mencoba mundur, dan matanya nyalang mencari-cari Aria Sampana.

“Tuan tak usah khawatir. Segala keperluan Tuan akan disiapkan... semuanya yang terbaik! Jadi... be- rangkatlah,” desak Emban Layarmega.

“Aku belum berpamitan...” Tun Kumala mencoba la-

gi.

“Tak usah... biar nanti kami yang memamitkan pada

... pada siapa? Orang tua itu?” tanya Emban Layarmega sambil tersenyum.

“Ya... ya... suruh dia... mmmh... menyusul... dan mendengarkan dongeng baik-baik... hi hi hi hi....” Tun Kumala tertawa geli. Dibuat-buat, tetapi begitu persis.

Emban Layarmega ikut tertawa, dengan menekapkan kedua telapak tangannya menutupi mulut. Ia merasa geli melihat Tun Kumala geli. Ia sendiri tak tahu di ma- na letak lucunya kalimat tadi.

“Apakah aku boleh bertemu dengan dia sebentaaaaar saja?” tanya Tun Kumala.

“Kusya ini sudah mau berangkat. Kalau dia terlam- bat, wah, bisa dihukum dia nanti. Majikannya sangat keras... walaupun... yah, lembut juga.” Emban Layar- mega tersenyum.

“Berpamitan dengan... Turi juga tidak boleh?” tanya Tun Kumala menduga-duga. Apakah Emban Layarmega belum mengetahui apa yang terjadi?

“Dia paling sedang membersihkan diri. Sudahlah...

Tuan berangkat,” kata Emban Layarmega.

“Tapi aku juga akan membersihkan diri,” kata Tun Kumala.

“He, kalau begitu si Turi harus dihukum!” kata Em- ban Layarmega dengan nada menggoda. “Apakah dia tadi belum membersihkan diri Tuan? Wah, wah, wah, sungguh lalai anak itu. Biarlah kalau begitu... mari aku sendiri yang akan membersihkan diri Tuan.”

“Lho... Bibi... mau... membersihkan diriku?” Tun Ku- mala terperanjat.

“Lha kenapa? Aku toh belum begitu tua, bukan? Atau mungkin Tuan memerlukan si Dati di sebelah sana itu?”

“Tidak, tidak...”

“Oh, Tuan menginginkan Kasturi? Biar kupanggil dia,” kata Emban Layarmega.

“Tidak, jangan, ah... nanti Saudara Kusya ini terlam- bat,” kata Tun Kumala.

“Tak apalah, demi pelayanan kami pada Tuan. Mari kuantarkan,” desak Bibi Emban Layarmega.

“Ah, sudahlah... ayo, Saudara Kusya...” Cepat-cepat Tun Kumala menghindarkan tangan Emban Layarmega yang akan memegangnya. “Tolong sampaikan terima kasihku pada Kasturi dan... jangan lupa pesanku pada Kakang Aria Sampana, ya!”

Tun Kumala bergegas ke pintu besar. Kusya dan Emban Layarmega berpandangan sejenak. Emban La- yarmega menganggukkan kepala perlahan. Dan Kusya pun bergegas mengejar Tun Kumala.

Tun Kumala cepat-cepat keluar dengan harapan bisa melihat atau bertemu dengan Aria Sampana.

Tapi di luar hanya ada beberapa ekor kuda, beberapa kereta, dan beberapa pengawal orang-orang ‘besar’ se- dang duduk-duduk di sekitar sebuah kereta dan di wa- rung penjual penganan dan minuman hangat.

Tidak ada Aria Sampana.

Dan Kusya telah menyusulnya.

“Maaf, Tuan, kuda kita ada di samping,” kata Kusya. “Tapi kudaku...” Tun Kumala baru sadar. Kudanya

dan kuda Aria Sampana telah tiada. “Sudah dibawa ke kandang. Mari naik kuda kami, Tuan... kuda kami istimewa.”

Kuda mereka benar-benar istimewa. Untung juga Ra- ra Sindu cukup dimanja oleh ayah dan kakaknya hing- ga dapat berkuda dengan baik. Dengan berbagai gaya. Kini ia menunggang kuda itu dengan gaya seorang pra- jurit berkuda—tangkas, ringan, dan mengerti benar akan tingkah kudanya. Kusya sendiri membawa tiga orang pengawal. Seorang berkuda beberapa langkah di depan Kusya dan Tun Kumala, yang dua berkuda di be- lakang mereka.

Mereka berkuda cepat. Yang di depan, namanya Ugra, membawa obor dan tahu benar keadaan jalan. Yang di belakang, Kena dan Santen, tampaknya pen- diam.

Mereka berkuda cepat. Tak lama batas kota kerajaan Kuripan telah mereka lalui. Dan mereka mulai melalui jalan pegunungan yang terus menanjak. Di kiri-kanan jalan hutan lebat menggelap-pekat. Tapi mereka maju terus. Naik. Turun. Menyeberangi sungai atau anak sungai.

Sampai akhirnya Tun Kumala tidak tahan lagi. Ke- dudukannya serasa terbakar.

“Saudara Kusya, bagaimana kalau kita berhenti du- lu? Aku sudah capek. Belum pernah aku berjalan se- jauh ini tanpa istirahat.”

Kusya menghentikan kudanya. Semua berhenti. “Kalau Tuan mau menunggu, sepemakan sirih lagi

kita sampai ke desa,” kata Kusya.

“Tidak ah, kalau boleh istirahat saja.   Sebentaaar

saja. daripada nanti aku jatuh lho!” kata Tun Kumala.

“Di depan ada sungai datar. Kita istirahat di sana,” akhirnya Kusya mengalah.

Saat itu mereka sedang berada di puncak sebuah tanjakan. Pohon-pohon raksasa mengapit jalan mereka. Gelap-pekat. Hampir tak bisa melihat dengan siapa kita berbicara. Obor yang dibawa Ugra sudah diganti hingga tiga kali. Dan kini pun cahayanya sudah hampir habis.

Dalam perjalanan menurun mereka terpaksa berhati- hati. Turunan agak terjal, dan di kiri mereka jurang me- lebar tertutup oleh pepohonan.

“Masih lama?” keluh Tun Kumala setelah beberapa saat. Kedudukannya panas. Tulang punggungnya se- rasa akan patah. Kelelahan dan hawa dingin membuat- nya sangat merindukan tidur.

“Kita sudah sampai,” Ugra yang di depan menjawab. Jalan memang mulai agak datar. Dan sayup-sayup ter- dengar suara air mengalir deras.

“Ooooh... aku ingin sekali tidur,” kata Tun Kumala. “Kalau kita ingin mencapai Gusti Anom sebelum ma-

lam besok, maka kita tak boleh beristirahat lama,” kata Kusya.

“Gusti Anom?” tanya Tun Kumala heran.

“Oh. Maksud hamba... majikan kami,” kata Kusya. Tun Kumala tak berbicara lagi. Ia memikirkan Aria

Sampana, Rakryan Mapatih. Dalam pesannya pada Emban Layarmega untuk disampaikan padanya, ia me- nyebutkan ‘dongeng’. Mudah-mudahan Aria Sampana cukup cerdas. Yang dimaksudkannya adalah Aria Sam- pana harus mencoba mengikutinya dengan jalan men- gikuti tanda-tanda yang ditinggalkan Tun Kumala se- panjang perjalanan—seperti di sebuah dongeng tentang anak yang dibuang ayah tirinya ke hutan. Dan di sepan- jang perjalanan tadi Tun Kumala telah berusaha me- ninggalkan jejak. Kain pengusap keringat. Sekeping uang Tartar. Robekan kainnya. Dan beberapa potong dahan yang dipatah-patahkannya sehingga membentuk huruf RA. Entah Rakryan Mapatih bisa melihatnya ti- dak.

Tiba-tiba Ugra yang berjalan di depan berhenti hing- ga kuda-kuda mereka hampir bertubrukan.

“Ada apa?” tanya Tun Kumala. Ugra merasa tak perlu menjawab.

Kini mereka telah berada di dataran sungai. Di depan mereka tanah melandai, agaknya merupakan padang rumput terbuka. Dan agak jauh di sana, kira-kira lima puluh langkah dari tempat mereka berhenti, sebuah sungai kecil deras mengalir. Buih putihnya terlihat di kegelapan malam. Deru derasnya terdengar ribut.

Yang menarik perhatian adalah, dekat tepi sungai itu terlihat sebuah api unggun. Kecil. Tapi masih berkobar terang.

“Ah, kebetulan, kita berteman!” seru Tun Kumala dan menggertak kudanya untuk maju ke depan.

Tetapi Kusya tangkas menyambar tali kekang kuda Tun.

“Tunggu,” bisik Kusya. “Kita belum tahu siapa yang ada di sana.”

“Tentu. Kan kita baru datang. Agar tahu, ya kita de- kati toh?” Tun Kumala seolah heran.

“Tuan jangan gegabah... kita belum mengerti siapa mereka.... Bisa juga rampok, kan? Bisa juga... gandar- wa, kan?” kata Kusya.

“Alaaa, kalian kira aku takut perampok? Lucu seka- li.” Tun Kumala berbuat seolah tersinggung. Dalam hati ia berharap-harap cemas, mungkin saja Aria Sampana berhasil mendahului mereka dan mencegat di situ. “Se- dang gandarwa... hhh, gandarwa mana yang tak akan ketakutan melihat muka kalian? Ayo, maju!”

Dengan cekatan Tun Kumala menggoyangkan kepala kudanya hingga lepas pegangan Kusya. Kemudian ia menggeprak kuda tersebut berpacu menyeberangi pa- dang kecil itu.

Kaki kudanya membuat suara derap yang riuh di ba- tu-batu. Ia berkuda langsung ke api unggun tadi. Kusya sendiri segera memberi isyarat pada kawan-kawannya. Ugra mematikan obor dan melompat turun dari kuda serta berlari menyusuri tepi hutan ke arah hulu sungai. Santen pun turun dari kuda dan berlari ke arah hilir. Kena sendiri segera memacu kudanya menyusul Tun Kumala, sambil menuntun kuda-kuda Ugra dan San- ten.

Kusya beberapa saat berdiam diri memperhatikan sekelilingnya. Kemudian ia pun menjalankan kudanya, perlahan, menyusul Tun Kumala serta Kena.

Api unggun kecil itu terletak dekat tepi sungai. Di si- tu tanahnya datar berpasir. Sungainya jernih deras mengalir. Ada sebuah tempat ketinggian, serta sebuah batu besar bekas muntahan gunung. Batu itu luas se- kali permukaannya. Dan datar bagaikan buatan ma- nusia. Dari tanah di bawah tepi ujung batu, tumbuh sebatang pohon trembesi kerdil. Kecil, memang, tapi cu- kup besar batangnya untuk menahan angin dari satu jurusan. Dan dahan-dahannya begitu rimbun dan rin- dang, pastilah menyenangkan beristirahat di batu itu ji- ka hari panas terik.

Dan agaknya batu itu memang selalu menjadi pilihan untuk tempat orang beristirahat jika melewati daerah itu.

Saat itu, di malam hari yang sudah mulai mendekati pagi, di situ duduk bersandar seorang wanita berambut putih perak, dengan pakaian kasar petani sederhana. Wajahnya diterangi api unggun yang walaupun kecil masih sempat bersinar cukup terang dan memberi ke- hangatan. Dan cahayanya cukup untuk menunjukkan betapa walaupun rambutnya sudah putih padu, wajah si wanita masih segar dan seakan muda. Di seberang api unggun duduk seorang wanita muda. Berpakaian petani kasar pula, duduk bersila seperti pria dengan to- pi bambu lebar serta sebilah parang tergeletak di sisi- nya. Di atas api tampak kuali kecil pemasak nasi yang airnya terdengar menggelegak.

Keduanya menoleh saat Tun Kumala mendekat. “Wah, semoga karunia Dewata Raya melimpah di ha-

dapan Anda berdua,” sapa Tun Kumala. “Maafkan kami para kelana malam ini, jika kami mengganggu ketena- ngan Anda berdua.   Kiranya Tuan-tuan tak keberatan,

bukan?”

Kedua wanita itu saling pandang sejenak. Dan seki- las tampak si tua sedikit tersenyum. Tapi yang menja- wab yang muda, “Semoga Dewata Raya pun melin- dungimu, Tuan. Apa yang ada di sekeliling kami adalah milik Sang Hyang Agung... hingga tiadalah hak kami untuk berbagi dengan Tuan selain keinginan hati Tuan sendiri... kami hanya datang lebih dahulu dari Tuan ”

“Betapa manisnya tutur sapa Tuan,” Tun Kumala tu- run dari kuda, menambatkannya pada sebatang semak- semak. “Dan betapa benarnya. Di alam raya ini kita se- mua memang saudara, karena kita memang seudara, menghirup udara yang-sama, menikmati anugerah Hyang Agung yang sama Jika Tuanda tak berkebera-

tan, biar aku membasuh kaki dan tangan untuk nanti duduk berdampingan dengan Tuanda.”

Tun Kumala membungkuk memberi hormat dan per- gi ke sungai. Sementara itu Kena telah tiba di tempat itu. Beberapa saat ia memperhatikan kedua wanita ter- sebut dan keadaan sekelilingnya. Pembicaraan si wanita dengan Tun Kumala tak urung membuatnya tak bisa menahan geli. “Hh, seperti sandiwara di alun-alun saja,” dengusnya sambil turun dari kuda, sebagai isyarat pada yang lain bawa keadaan di situ aman. Ia pun langsung naik ke batu dengan permukaan luas itu.

“Kalian hanya berdua di sini?” tanyanya kasar.

“Jika seseorang bepergian dengan hati damai, maka seluruh dunia adalah sahabat, hingga kata-kata sendiri atau berdua sama sekali tak berlaku!”

“Aku setuju sekali itu,” sahut Tun Kumala dari tepi sungai. “Dan jika seseorang mencoba menyenangkan hati orang lain, maka ia akan menyenangkan hatinya sendiri.”

“Kebetulan kalau begitu.” Kena duduk di batu dan membuka tutup kuali penanak nasi. “Ah, sebentar lagi masak. Tentunya kalian akan mau menyenangkan hati- ku, agar hati kalian sendiri senang, dengan memberikan nasi ini pada kami? Sungguh enak nasi hangat di ma- lam pekat ini... saat badan penat lagi! Hi hi hi ”

“Ah, dan juga barangkali kau mau memijit kami, Nduk,” kata Santen yang muncul dari kegelapan dan mendekat sambil menyarungkan kembali pedangnya. “Dia cukup lumayan kan, Kang Kena?”

“Dasar rakus,” dari sisi lain Ugra muncul. “Kalian kan baru datang dari tempat Emban Layarmega, eh, li- hat gadis gunung begini saja sudah gila!” Ia melompat ke batu di samping batang pohon trembesi. Dengan ujung tombak pendeknya ia mengangkat rambut si wa- nita tua tadi. “Eh, kalau rambutnya belum putih, nenek ini lumayan juga kok!”

“Hei, kalian jangan kurang ajar!” bentak Tun Kuma- la, bergegas meninggalkan sungai.

“Benar. Kalian mundur, Ugra, Kena, dan Santen!” te- gur Kusya yang kini muncul. “Maafkan mereka, Nyai, mereka memang orang kasar.”

“Ya, kalau memang Tuanda sakit hati, katakan saja- lah. Biar hamba hajar mereka,” kata Tun Kumala. “Seperti yang Tuan katakan tadi, biarlah mereka yang berhati damai mencari persaudaraan. Biarlah me- reka yang masih belum tahu arti persaudaraan, kelak menyesali perbuatannya,” si wanita muda menyahut. “Silakan duduk Tuan yang bijak. Memang suara burung asmara pasti akan lebih merdu dari suara burung ga- gak, dan alangkah baiknya jika gagak berkumpul den- gan gagak, sedang burung asmara berkumpul dengan burung asmara.”

“Enak saja!” gerutu Ugra. “Dikira dengan wajah begi- tu sudah cukup cantik untuk menggolongkan diri jadi burung asmara?”

“Mana orang desa punya cermin untuk mengaca,” kata Kena.

“Yang jelas sih, orang desa kumpul dengan orang de- sa!” Santen tertawa terbahak-bahak.

Dengan tak sabar Tun Kumala berpaling pada Ku- sya. “Saudara Kusya, kuharap kau mengatur kawan- kawanmu agar tidak mengganggu kami... biar mereka duduk agak jauh sana ”

“Tidak bisa!” kata Ugra. “Tiap kali lewat sini, kami hanya mau duduk di sini, tak peduli siapa pun yang se- dang ada di sini. Jadi kalian yang harus minggir!”

“Ugra!” tegur Kusya tenang. “Biarlah mereka beristi- rahat dan harap Tuan ingat, Tuan Tun, kita tak punya

waktu banyak. Jika lelah Tuan sudah tuntas, kita harus segera berangkat lagi.”

“Berjalan mengikuti kejapan mata dan gerakan kaki, mengapa orang lain yang harus mengatur?” Si wanita muda mengeluarkan sebuah mangkuk kayu, menua- ngkan air hangat ke dalamnya dari sebuah kendi, dan menyodorkannya pada Tun Kumala. “Bertemu saudara seperti bertemu mata air jernih di padang belantara. Mengapa harus segera ditinggal pergi jika rasa haus be- lum tersudahi?”

Santen jadi tak sabar mendengar gaya bertutur wa- nita muda itu. “Hei, kau perempuan dusun! Lidahmu baru dikerik emas ya? Ngoceh terus tak keruan    Nih,

Tuan besarmu mau istirahat tahu! Diam kenapa sih?” “Saudara Kusya, jika kawan-kawanmu tak bisa ber-

sikap sopan, maka lebih baik kita berpisah saja,” kata Tun Kumala dengan kening berkerut.

“Tidak bisa, Tuan, sudah sejauh ini kita berjalan, majikanku pasti sudah menunggu,” kata Kusya.

“Majikanmu belum tahu tentang kunjunganku. Ra- sanya terlambat satu-dua hari tidak jadi soal. Tunjuk- kan saja di mana aku bisa menemui dia, maka aku akan menyusul nanti.”

“Majikanku sudah diberi tahu tentang kunjungan Tuan, maka sarika akan sangat mengharap kedatangan Tuan. Tempat junjungan kami itu selalu berpindah, jadi kita harus tepat waktu jika akan menghadap. Untuk menyusul rasanya kurang tepat, sebab tempat berikut- nya tak ada yang tahu. Jadi, Tuan, kuharap kesediaan Tuan untuk segera berangkat lagi nanti.”

“Melakukan sesuatu di luar kehendak hati, adalah siksaan yang tak terperi,” kata si wanita muda lagi.

“Wala, wala, apa aku bungkam saja ya orang ini?” Ugra begitu kesal tampaknya.

“Sudahlah, begini saja. Kalian beristirahat, aku be- ristirahat. Jika nanti aku ingin ikut kalian, aku ikut. Ji- ka tidak, ya kita berpisah.”

“Tuan Tun, jangan membuat kedudukan kami sulit,” kini Kusya juga merasa tak sabar. “Tuan sudah berjanji akan menemui junjungan kami, maka Tuan harus ikut kami menemuinya.”

“Paman, jika tuan ini tidak begitu suka ikut kalian, mengapa Paman memaksanya?” si wanita muda me- nyela.

“Perempuan, aku sudah cukup menahan diri terha- dap ocehanmu. Sebagai perempuan mestinya kau lebih baik diam. Sebagai orang luar, jangan kau ikut cam- pur!” geram Kusya.

“E, e, e... jangan menghina perempuan, ya!” Tun Kumala yang memang sebenarnya Rara Sindu langsung ‘meledak’. “Sering kali perempuan lebih bijaksana dari kaum lelaki, tahu! Ingat saja junjungan kita Ratu Tri- buwana, Ratu Suhita... yang jelas...”

“Yang jelas, lelaki yang namanya Kusya hanya sam- pai jadi tukang pukul, hi hi hi ” Wanita muda itu ter-

tawa terpingkal-pingkal, tapi langsung terdiam saat dili- rik oleh yang tua.

“Aku hajar juga ini anak!” Ugra berdiri hendak meng- hampiri si wanita muda. Tetapi Tun Kumala pun cepat berdiri menghadang.

“Tunggu. Sekarang kita putuskan saja. Aku tak suka berjalan dengan orang kasar macam kalian. Jika maji- kan kalian ingin bertemu denganku, tunjukkan tempat- nya dan aku menyusul. Kalau tidak, ya selamat ber- pisah.”

“Kalau begitu, mungkin kami harus memaksa Tuan.” Kusya menurunkan kedua tangannya yang tadi bersi- lang di depan dadanya.

“Eh, kalian ini bagaimana?” Tun Kumala sedikit mundur. “Aku akan menjalin persahabatan dengan jun- jungan kalian. Untuk itu aku tak perlu dipaksa.”

“Junjungan kami menginginkan Tuan datang pada- nya sekarang untuk itu Tuan mungkin perlu dipaksa,”

bantah Kusya.

“Sungguh lucu...” Si wanita muda akan ikut bicara, tetapi lirikan tajam dari wanita yang tua menyebabkan- nya menutup mulut seketika. “Memang lucu.” Tun Kumala mengangguk dan ter- senyum manis. “Lebih lucu lagi... apakah kau benar- benar berani memaksaku!” Sikap Tun Kumala jadi di- ngin saat ia menatap Kusya dengan pandangan tajam.

Bagi Kusya pertanyaan ini cukup mengena. Junju- ngannya seorang yang sakti. Rasanya takkan rela punya teman sekadar sembarangan orang. Tak terasa Kusya pun mundur selangkah, sementara Ugra, Kena, dan Santen telah bersiap-siap.

“Hamba... hanya menjalankan tugas,” agak bergetar Kusya menjawab. “Dan tugas itu akan hamba lakukan

... kalau perlu dengan berkorban nyawa hamba. Kare- nanya, harap Tuan sudi memberi belas kasihan pada kami.”

Jika mereka nekat, pasti runyam, pikir Tun Kumala. “Lagi pula, kalaupun kalian memaksa, dan aku tidak

melawan, misalnya, hingga aku cedera... bagaimana ka- lian bertanggung jawab pada junjungan kalian?” ta- nyanya kemudian.

“Jika kami mendapat hukuman dalam menjalankan tugas yang kami lakukan secara benar, maka kami akan merasa mendapat kehormatan luar biasa besar- nya,” kata Kusya.

“Repot,” kata Tun Kumala. Pura-pura berpikir dan memang berpikir. Jelas ia tak akan bisa melawan me- reka. Di samping itu ia mulai menakuti kemungkinan apa yang terjadi jika ia bertemu dengan Wisti. Siapa se- benarnya Wisti? Memang banyak orang yang begitu ber- temu lalu suka pada seseorang. Betulkah itu latar bela- kang mengapa Wisti menghendakinya? Bagaimana ka- lau... misalnya saja... Wisti begitu suka padanya hingga mengajaknya... tidur bersama, atau misalnya saja, mandi bersama? Hiiiiiiiiiiiiiii!

Kemudian, apa yang terjadi di Kuripan? Turi agaknya sangat mendendam pada orang yang kalungnya kalung manik kayu dewa. Mungkin ia kalap dan mencari ka- kaknya. Jelas tak mungkin bertemu. Tapi ada apa se- benarnya?

Yang sangat menjengkelkan... di mana Aria Sampa- na?

Tiba-tiba Tun Kumala sadar bahwa begitu banyak mata tertuju padanya. Menunggu. Mata wanita tua itu. Begitu cemerlang, hitam dan dalam di sinar api. Seolah memiliki tenaga gaib. Mata si wanita muda. Memang wanita ini tidak cantik. Khas gadis-gadis desa. Kulit ge- lap oleh cahaya matahari, mata agak menyipit karena mungkin selalu terkena silau matahari, pipi bulat pe- nuh dan segar, mungkin karena sering bergerak dan makan makanan sehat. Yang berbeda dari gadis desa adalah keberaniannya berbicara yang nyaris bisa digo- longkan kurang ajar. Kemudian Kusya dan kawan- kawannya. Mereka bertampang seram. Berpakaian ge- lap. Dan jelas jago-jago pertempuran.

Tak ada siasat lain. Kecuali siasat mengikuti apa saja yang akan terjadi.

“Repot kalau begitu,” kata Tun Kumala kemudian. “Aku melawan, aku kasihan pada kalian. Aku me- nyerah, aku kasihan pada diriku sendiri. Kalau begitu, aku akan diam. Aku anggap kalian tidak ada. Aku tak- kan berbuat apa pun pada kalian, toh bagiku kalian ti- dak ada....” Tun Kumala kembali duduk menghadapi api unggun dan mengambil mangkuk air panasnya. “Kalau kalian sabar menunggu, mungkin kemudian ku- anggap kalian ada lagi, dan aku akan ikut dengan ka- lian,” katanya pula dari balik bahunya. “Keputusan yang cukup membingungkan, bukan?” katanya pada si wanita muda. “Eh, rasanya kurang berkenan di hati ini kalau kita berbicara dari hati-ke-hati tapi belum saling mengenal nama. Tuanda berdua... aku bernama Tun Kumala, dari Tumasik, tapi dari kecil sudah berada di Hujung Galuh hingga aku banyak menyerap tata cara orang Jawa. Tuan sendiri siapa?”

Sebelum si wanita tua menjawab, si wanita muda menyahut, “Tuan Tun Kumala sungguh bagus bahasa Jawanya, ya? Begini... ini adalah... mmm...” Ia akan berkata sesuatu tetapi si wanita tua berdeham dan me- lirik tajam. “Oh, ya. Ini adalah ibuku. Sebutan beliau adalah Nyai Gadung, dan aku, tentu saja aku anaknya, Ni Gori. Sejak kematian ayahku, ibuku ini tidak betah lagi di rumah dan kami mengembara tanpa arah. Tuan- tuan ini perampok dari mana?”

“Bajingan! Dasar perempuan tidak laku kawin!” desis Ugra.

“Enak saja! Di desaku semua perjaka antri mau me- lamar aku, tahu!” dengan galak Gori membantah.

“Sudah,” tukas Kusya. “Tuan Tun, jika begitu kepu- tusan Tuan, kami terpaksa memaksa Tuan.”

“Silakan, aku toh sudah menganggap kalian tidak ada,” kata Tun Kumala.

Kusya memandang rekan-rekannya sejenak. Kemu- dian ia mengangguk.

Serentak Ugra, Kena, dan Santen masing-masing mengeluarkan seutas tambang. Cekatan mereka mema- sang jerat. Dan berturut-turut jerat itu dilemparkan ke arah Tun Kumala yang sedang duduk.

“Ah, sungguh senang pasti mengembara... sudah ke mana saja... erhkkk!” Kata-kata Tun Kumala terhenti saat mendadak jerat-jerat itu tepat sekali melingkari tu- buhnya dan langsung menjerat rapat!

Sesaat semua orang tertegun.

Kusya yang bersiap-siap menyerang kalau-kalau Tun Kumala berontak, terperangah karena ternyata Tun Kumala diam saja. Ugra, Kena, dan Santen yang me- ngumpulkan tenaga karena menduga sasaran mereka bertenaga besar, hampir terperosok roboh sendiri. Ke- dua wanita yang menamakan diri Gori dan Nyai Gadung juga tertegun. Mereka tak mengira Tun Kumala betul- betul tidak melawan! Tun Kumala sendiri terkejut, jerat itu langsung mengikat rapat dan begitu menyakitkan.

Sesaat semua terpukau melihat Tun Kumala yang tergantung beberapa jengkal di atas permukaan batu.

Tampaknya ia begitu tenang dan tahan siksaan. Se- betulnya sebagian urat sarafnya sesaat berhenti karena begitu terkejut dan tertekan. Begitu sadar ia kemudian menurunkan kaki hingga berdiri di atas batu itu.

“Seperti kataku tadi... pastilah Tuanda berdua se- nang dalam pengembaraan. Sudah ke daerah mana sa- jakah? Tarum? Pajajaran... atau, oh, ya, apakah betul di daerah barat sana ada negara yang namanya Madang- kara? Aneh ya namanya? Apakah penduduknya semua makan kacang polong?” Tun Kumala tertawa sendiri un- tuk leluconnya. Memang madang adalah bahasa kasar untuk ‘makan’, sementara kara adalah sejenis kacang polong.

Tetapi tak ada yang ikut tertawa.

Kusya mengerutkan kening tak percaya. Apakah Tun Kumala ini sakti, pura-pura sakti, atau gila?

Ia mengambil senjata rantai besinya dari pelana. Rantai ini panjangnya sekitar satu depa, berduri-duri, dengan ujungnya berbandulkan bola besi.

“Maafkan aku, Tuan, tetapi Tuan harus ikut kami!” Kusya melontarkan bola besi rantainya ke arah bahu Tun Kumala.

Tun Kumala terkesiap. Tentu saja ia takkan mampu mengelak. Dan rantai itu pasti menghancurkan bahu- nya. Hampir ia memejamkan mata untuk menerima na- sib. Ia masih sempat seolah tak acuh berkata, “Aku dengar rajanya sangat sakti.... Ingin juga aku berkun- jung ke negeri itu untuk...”

Kata-katanya terputus oleh bentakan Ni Gori. “Ja- ngan!”

Terdengar dencingan keras. Bola besi Kusya dihan- tam terpental oleh parang di tangan Ni Gori. Kapan Ni Gori mencabut parang dan kapan ia melompat maju menerjang, tak ada yang tahu.

Dan Ni Gori tidak berhenti di situ. Parangnya terus berkelebat cepat, tali-tali yang mengikat tubuh Tun Kumala putus berserakan berhamburan. Bukan hanya itu. Tubuh Ni Gori kemudian berputar dengan tendang- an mengancam hingga Kusya dan kawan-kawannya terpaksa mundur.

“He, jangan ikut campur!” teriak Kusya, memper- siapkan senjatanya untuk menyerang.

“Dia adalah suatu keindahan di antara manusia yang begitu beraneka ragam,” kata Ni Gori masih dengan na- danya yang bagai berlagu. “Aku merasa wajib me- lindunginya ”

“Jika kau mampu!” Kemarahan Ugra sudah tak ter- tahan lagi. Dicabutnya tombak pendeknya dan ia lang- sung menerjang Ni Gori!

Ni Gori tertawa di hidung.

Tanpa menunggu datangnya serangan Ugra, ia me- nyerbu dengan sambaran parang yang bertubi-tubi.

Kusya terperangah. Sebagai seorang ahli senjata ran- tai, maka ia cepat melihat bahwa gerakan parang Ni Go- ri agak aneh. Ni Gori menyerang dengan gerakan seo- lah-olah senjata yang dipegangnya lentur dan panjang. Seperti rantai.

Bersambung ke jilid 6.