-->

Damarwulan Bab 19 : Bala Tentara Bintara (Tamat)

Bab 19 : Bala Tentara Bintara (Tamat)

"Paseban dan menguntur terbakar...!" kedengaran orang berteriak-teriak sarnbil berlari-lari.

Mula-mula kelihatan asap mengepul ke udara, tegak lurus menjulang ke angkasa, hitam keabu-abuan warnanya. Kemudian diiringi tiupan angin dari laut, dari arah Selat Madura. Rupanya angin itu sangat rendah di bawah, karena asap yang menjulang laksana pohon beringin raksasa itu, tampak pecah terputus seperti ditebang di tengah-tengah. Api lalu menjilat ke sebelah barat, menuju bangsal-bangsal prajurit, gedung-gedung pemerintah dan rumah-rumah penduduk, yang sangat rapat dan luar biasa ramai nya.

Maklumlah kerajaan Majapahit, suatu kerajaan Indonesia-Hindu yang terbesar di seluruh Nusantara, pada waktu itu pasti lebih besar daripada kerajaan yang didirikan oleh seorang pangeran pelarian dari Sriwijaya, Sri Pararnesywara, ialah kerajaan Malaka. Kotanya mungkin jauh lebih besar serta lebih megah dan dapat dipastikan, ketika itu termasuk salah satu kota tua yang teramai penduduknya di seluruh Nusantara, terletak di tanah lembah yang amat subur. Hasil buminya melimpah ruah, perdagangannya amat maju. Apalagi sejak Raja Angabaya yang baru itu memegang kekuasaan, kehidupan serta kemakmuran rakyat sangat dipentingkannya. Sungguhlah seperti disebutkan dalam peribahasa: lohjinawi karta raharja, sangat subur, aman dan makmur.

Mengapa penduduk Majapahit sangat padat pada waktu itu?! Ada perumpamaan yang umum di seluruh Nusantara sejak dahulu, yang maksudnya sangat mementingkan keturunan daripada harta benda. Bila seorang gadis mengikat perkawinan, dimintakan oleh seluruh keluarga, agar keduanya beroleh keturunan sebanyak bintang di langit, ada yang mendoakan sebanyak titik air hujan yang terpencar dari celah-celah mega mendung. Ingat saja perang Kurawa dengan Pendawa dalam cerita wayang, Bharatayuda yang terkenal Kurawa keturunan Bharata, bersaudara sembilan puluh sembilan orang, jadi kurang satu seratus. Itu yang terdaftar atau yang dikenal raja... mungkin juga banyak yang tidak kenal karena tidak pernuh mendaftarkan diri....

Sebagai hadiah keluarga, pemberian perkawinan yang terutarna menurut adat, bukanlah barang elms, intan, berlian, atau kain tenun, sutra halus atau cawan pinggan yang rnahal-mahal atau salah satu perabot rumah seperti sekarang ini, akan tetapi sesuatu yang bersifat perlambang, sebagai doa atau mantra, seperti ikan belanak, (bun riwu-than, semacam lokan: peso-peno dan lain-lain sebagainya. Ikan belanak semacam ikan yang cepat berkembang biak, maksudnya supaya lekas beroleh anak dan berkembang biak; peno-peon sebunyi dengan penuh, rium-rizvu dengan beribu-rilnr, jadi sama dengan filsafat Jawa tersebut: niunlh rezeki banyak anak, sesuai dengan filsafat hidup bangsa Nusantara ketika itu. letapi jangan salah. Pada waktu itu penduduk Pulau Jawa belum sepadat sekarang. Sekarang perlu pembatasan dan perencanaan, sesuai dengan keadaan.

Betullah ketika api telah menyambar ke kiri dan ke kanan dengan dahsyatnya, penduduk berlompatan keluar, seperti kelinci yang kepanasan bergelomparan keluar dari sarangnya. Ada yang sempat melilitkan sampingnya dan mengenakan baju, ada yang menjinjing kain saja datang terburu-buru dan tak sempat mencari bajunya lagi. Ada yang berkemben') saja rapi-rapi, tiada berbaju dan terlupa pula memakai kain, lalu berlari sepanjang jalan raya yang telah penuh sesak, dengan sangat gugup dan ketakutan.

Di muka Bangsal Agung, yang terletak di seberang jalan di sebelah timur rakyat membuat huru hara. Mereka menyerbu pertahanan barisan pengawal. Mereka menuntut keadilan, meminta supaya Damarwulan dilepaskan.

"Tuduhan yang ditimpakan kepada Raja Angabaya fitnah belaka!" seru mereka beramai-ramai.

"Majapahit menghadapi keruntuhan," teriak mereka, "karena fitnah dan iri hati !"

"Lekas, Gusti, lekas...!" kata mereka, ketika melihat Dewi Anjasmara datang berlari-lari dengan sekalian biti-biti perwaranya_ "Suami Gusti menjadi korban kedengkian dan pengaduan Berta tuduhan palsu!" "Tolong, Gusti, tolong...!" teriak yang lain beramai-ramai. Penjagaan pengawal itu sangat rapat, tidak seorang pun diperkenankan masuk.

"Lekas, Gusti, lekas...!" seru mereka beramai-ramai lalu menyerbu barisan pengawal itu. Maka terjadilah perkelahian hebat antara barisan pengawal dengan rakyat.

Sementara itu di tempat kebakaran kedengaran teriak, lolong, tangis dan jerit makin riuh dan api makin menggila dengan semau-maunya tiada teralangi dan terkendalikan yang sekarang telah mulai menjalar arah ke pasar, yang terkenal sangat ramai.

Raden Menak Koncar kembali dengan pasukannya dan langsung menuju ke Bangsal Agung, akan mengetahui keputusan sidang keratuan tentang diri Damarwulan yang difitnah itu. Ia akan berusaha mencegah dan membela sahabatnya yang tiada bersalah itu. Didapatinya rakyat sedang menyerbu dan berkelahi dengan barisan pengawal. Sekaliannya menjadi kalap, ketika melihat Dewi Anjasmara tidak diizinkan masuk.

"Hentikan perkelahian ini...!" seru Menak Koncar lalu menahan kudanya di tengah-tengah orang banyak itu.

Mendengar suara Senapati itu orang banyak melapangkan jalan dan menghentikan perkelahian.

"Hamba ingin mengetahui nasib suami hamba, Raden!" seru Dewi Anjasmara, menghampiri kuda Menak Koncar.

Mendengar suara Dewi Anjasmara, Menak Koncar segera melompat dari atas kudanya dan menyembah dengan hormatnya.

Sementara itu pasukannya telah berhasil menguasai suasana, segera melapangkan jalan kepada rombongan Dewi Anjasmara, diiringkan senapati Menak Koncar.

Kedatangan mereka terlambat...! Sesaat sebelumnya Damarwulan telah menerima nasibnya menjalani hukuman... dengan membenarkan tuduhan dan kekerasan dan paksaan kaum bangsawan sebagian besar anggota Majelis Agung telah membenarkan tuduhan dan fitnahan.

"Hamba mencari suami hamba, Gusti!" kata Dewi Anjasmara, setelah melihat berkeliling dalam ruang sidang dengan tajam dan liar. Setelah ternyata orang yang dicarinya tidak ada lalu menjatuhkan dirinya ke bawah kaki Dewi Suhita yang masih duduk di atas singgasana Majapahit untuk penghabisan kalinya. Baginda masih termangu seperti kena pesona mengenangkan keputusan yang telah diambil oleh sidang.

Jika sekiranya suami hamba harus menerima hukuman, karena kelancangannya bertindak, mengubah dan merombak, mana yang dianggapnya telah usang dan lapuk, Gusti, hamba mohon dengan amat sangat akan kebijaksanaan serta pertimbangan Gusti yang seadil-adilnya, supaya kepadanya dijatuhkan hukuman yang seringan-ringannya. Hamba mengetahui benar jiwa dan isi hati Damarwulan.

Setelah ia Gusti angkat menjadi Raja Angabaya, karena hamba selalu diajaknya berunding dalam suka dan dukanya, demi dewa-dewa, tiadalah pernah ia menyembunyikan sesuatu kepada hamba; percayalah. Gusti, bahwa segala yang dilakukannya itu dengan maksud baik belaka, guna keselamatan dan kemajuan rakyat Majapahit pada umumnya, untuk memperkokoh serta memperkuat dasar pemerintahan Seri Ratu juga khususnya.

Ia tiada mau senang dan diam, jiwanya hidup dan bergerak selalu. Ya Gusti...! Kadang-kadang melihat kepincangan kehidupan masyarakat rakyat Majapahit, jiwanya tampak seakanakan berontak dengan hebat. Acapkali ia berkata di muka rakyat, dengan niat hendak menyadarkan dan menginsafkan mereka, ujarnya, alangkah janggalnya apabila di bumi Jawadwipa yang kaya, sangat subur dan amat indah ini ada rakyat yang melarat, hidup sengsara dan menderita.

Tidak patut... tidak patut...! Saling pengertian antara rakyat dan pemerintah selama ini telah hilang, karena kepercayaan rakyat kepada petugas-petugas pemerintah hampir-hampir tidak ada lagi. Senantiasa ia bercerita kepada hamba, ia harus menghampiri rakyat untuk mengetahui isi hati mereka dan cita-cita yang tersembunyi di dalamnya, serta hendak merigembalikan kepercayaan mereka yang telah hampir hilang. Keinginannya amat besar dan luhur, Gusti, bukan saja dalam memajukan penghidupan rakyat sehari-hari, akan tetapi ia bercitacita pula hendak memperbaiki kehidupan keagamaan, yang menurut pendapatnya sudah amat kolot dan banyak pula yang sebenarnya bertentangan dengan petunjuk kitab suci yang sesungguhnya.

Tiap malam hamba perhatikan ia mempelajari dan memahami kitab Weda dan sering kali pula is berkata kepada hamba: tiap agama itu suci, kesalahan itu selalu dibuat oleh orang yang menjalankannya, karena tidak dapat memahami hakikat agama yang sebenarnya dan tidak mengerti lagi akan makna ayatayat dalam kitab sucinya.

Ajaran agama itu diumpamakannya laksana mata air yang keluar dari celah- celah batu di tanah pegunungan, bening dan jemih airnya, suci tiada bernoda sedikit jua, sangat berguna dan bermanfaat kepada manusia, bahkan bagi tumbuh-tumbuhan dan hewan serta makhluk sekalian.

Kalau tidak karena ajaran agama, yang merupakan pertunjuk-petunjuk suci daripada Dewan Mulia Raya, jagat maya ini sudah lama musnah dan manusia selalu berbunuh-bunuhan dan berdengkidengkian.

Akan tetapi kesucian ajaran agama itu, dijelaskannya kepada hamba, telah banyak dirusak orang, diumpamakannya seperti air yang pada asal mulanya amat bening dan jernih itu, makin lama makin berubhh, rusak dan keruh makin banyak serta makin panjang sungai yang dilaluinya, makin banyak kotoran dan lumpur yang menyelinap masuk menyertainya, sepanjang jalan sehingga kadang-kadang sepintas lalu amat sulit membedakan dan memisahkan air dan lumpur, Gusti!

Percayalah, Gusti, suami hamba sekali-kali bukan berniat hendak mendurhaka atas kesucian sabda Dewa Mulia Raya, malah sebaliknya ia bertindak untuk menyelamatkan dan membela kemurnian segala ajaran itu! Diceritakannya pula, bahwa masa kita sekarang ini sudah terlalu amat jauh dari sumber agama yang sesungguhnya, sebab itu suami hamba berusaha dan berdaya-upaya untuk mengadakan penyaringan dan pembersihannya kembali, ya, Gusti, untuk menjaganya dari kemusnahan_ Sekali-kali bukanlah seperti yang didesas-desuskan oleh suatu golongan tertentu, yang menaruh dendam dan iri hati kepada suami hamba, karena hendak "

Ia tiba-tiba terdiam dan memandang dengan liar berkeliling mengamati tiap- tiap muka yang menatap kepadanya.

"Katakanlah, Gusti hukuman apakah kiranya yang telah dijatuhkan atas diri suami hamba...! Mengapa ia tiada kelihatan...?!" katanya dengan suara yang membayangkan kecemasan.

"Dari mula hamba tiba, perasaan hati hamba mengatakan, suami hamba sudah tidak ada... lagi.._ di dunia... maya...! Benarkah, Gusti ?!"

Dewi Suhita tiba-tiba seakan-akan merasa serta menyadari akan kelemahannya sebagai ratu dan baru menginsafi, bahwa dirinya sesungguhnya telah dikelilingi oleh orang-orang yang sebenarnya telah bermufakat jahat, untuk mendurhaka dan memfitnah untuk menjatuhkan dan membunuh Damarwulan.

"Paman Patih...!" serunya kepada bekas Patih Logender, yang turut hadir sebagai saksi, yang sebenarnya sebagai penuduh. "Bagaimana pendapat Paman tentang bicara Adinda Anjasmara itu? Berkata benarlah Paman! Demi para Dewa, sekarang baru hamba melihat dengan senyata-nyatanva, bahwa Pamanlah sebagai bekas patih Amangkubumi, yang dapat memberi keterangan seadil-adilnya!"

Patih Logender tidak dapat menjawab. Ia dari tadi menekur saja, menahan perasaan tiada sanggup memandang wajah anaknya sendiri dalam sidang itu.

"Bagaimana nasib suami hamba, Ayah?" ujar Dewi Anjasmara pula berpaling kepada orang tuanya yang masih berdiam diri.

"Sampai hati Ayah memutuskan cinta kasih hamba dengan suami hamba, setelah ia berhasil membela serta mempertahankan Majapahit dari kehancuran... Katakanlah Ayah, di mana suami hamba... anak saudara Ayah sendiri.._! Ayah... Ayah...!!" suara Anjasmara makin keras, meneriakkan seluruh kecemasan hatinya.

"Apa alasannya maka Ayah jadi berbeda kasih berlain sayang terhadap anak sendiri...!" katanya pula berhiba-hiba.

"Menjawablah, Paman Patih, sebagai anggota keluarga yang tertua...!" titah Dewi Suhita sekali lagi.

"Seri Ratu yang hamba muliakan, di mana suami hamba?" katanya pula putus asa dan berpaling kepada Dewi Suhita, setelah ia sia-sia menanti jawab dari ayahnya.

"Aku... Aku... Dinda Dewi Anjasmara, tidak berdaya menghalangi...," jawab Seri Ratu Suhita terputus-putus dan turun dari atas singgasananya lalu memeluk Anjasmara. "Aku sendiri telah diperdayakan oleh saudara dan ayah Dinda sendiri !"

Dewi Anjasmara segera melepaskan dirinya dari pelukan Seri Ratu Suhita, undur selangkah dan menatap Dewi Suhita sejurus lamanya.

"Jadi, betullah seperti dugaan hamba, bahwa suami hamba... tidak ada lagi, Gusti!" seru Dewi Anjasmara terputus-putus suaranya. Seri Ratu Suhita tidak dapat menjawab, kerongkongannya seakan-akan tersekat.

"Majapahit akan musnah, negara akan hancur...! Mahkota Rajasanagara telah berakhir di tangan Seri Ratu...!" teriaknya, memandang kepada orang banyak. "Tuan-Tuan telah turut mengkhianati pahlawan sejati, pahlawan yang lama dinanti-nanti selama ini. Ratu sendiri," katanya berpaling kepada Dewi Suhita yang masih tegak terpaku di hadapan Dewi Anjasmara, "seakanakan Baginda sendiri tidak sadar akan kedudukannya sebagai ratu. Dalam hati selalu memuja akan keluhuran budi suami hamba. Akan tetapi sampai hati Gusti menjatuhkan hukuman, menyetujui keputusan hukum yang tidak adil "

Hening seketika!

Yang hadir menahan napas.

"Bukan rahasia lagi, Gusti, di peluaran sejak suami hamba telah berhasil menyelamatkan negara, sepatutnyalah ia duduk di samping Seri Ratu Bukan sebagai Raja Angabaya, akan tetapi... sebagai mahkota hati Gusti sendiri."

Sekalian yang hadir gempar. Seorang perempuan gila tiba-tiba masuk dari pintu bangsal yang menuju ke belakang, yang sewaktu-waktu memang tidak dijaga.

Majapahit akan hancur,

Kerajaan Dewa-Dewa di Nusantara, Kebesaran mahkota Rajasanagara, Telah lapuk menanti gugur...

Majapahit penuh pertentangan, Penuh kedengkian dan persaingan, Rakyat menderita tidak terkira, Buminya makmur rakyat sengsara.

Hidup melarat tanpa perlindungan, Kezaliman merajalela di mana-mana, Penuh khianat, penuh kedengkian,

Rakyat menderita lahir dan batin, Diperas, dihisap pembesar negeri, KeadiIan dan kebenaran sukrr dicari.

Perempuan gila itu makin mendekat ke tengah-tengah ruang sidang dan di halaman Bangsal Agung kedengaran suara rakyat makin gaduh.

"Api tak dapat dikuasai lagi...!" demikian kepala pengawal menyampaikan pemberitahuan.

Seri Ratu Suhita masih tegak kebingungan. Kedatangan dan perkataan perempuan gila itu seakan-akan tiada diketahui dan dihiraukannya. Kemudian ia memandang ke arah Patih Logender kembali.

"Bagaimana, Paman? Berkata benarlah...!" katanya.

"Layang Seta, Seri Ratu!" sahutnya lambat-lambat, hampir-hampir tiada kedengaran oleh yang lain.

Sidang lalu bubar. Layang Seta segera melompat keluar lebih dahulu. Rakyat tiada dapat lagi menahan kemarahannya dan berteriak-teriak,

"Pegang Layang Seta...! Tangkap pengkhianat !"

"Tangkap...! Tangkap!"

"Bunuh...! Bunuh...!" seru mereka beramai-ramai. Suasana tak dapat ditahan dan dikuasai lagi. Mula-mula Layang Seta berdaya-upaya juga hendak melarikan diri, diiringkan oleh Layang Kumitir, tetapi setelah dilihatnya di mana-mana api dan gelombang orang banyak yang telah siap memperkepungkan dia, ia terpaksa menyerah. Pada saat itu barulah ia merasakan pembalasan kedengkian dan buah perbuatan jahatnya sendiri.

Diceritakan, pada akhirnya ia telah diangkat menjadi Patih Amangkubumi, menggantikan ayahnya, dengan alasan untuk kedamaian keluarga dan tentu dengan persetujuan Damarwulan juga. Karena memang selama ini ia tiada pemah menaruh dendam kepada kedua orang sepupunya, yang telah jadi iparnya itu. Sebaliknya ia selalu berniat baik serta berpengharapan baik terhadap pamannya, Patih Logender, bagaimana ia akan memusuhinya!?

Ada pula yang mengatakan, Damarwulan seorang yang terlalu percaya akan diri sendiri, serta terlampau yakin akan kebenaran yang diperjuangkannya itu, maka tiadalah ia menghiraukan benar akan segala tindakan orang lain. Apalagi terhadap mertuanya, pamannya sendiri dan terhadap kedua orang sepupunya, yang jadi iparnya pula...!

Adapun Adipati Bintara, yang telah lama berhubungan dengan pemimpin- pemimpin Islam dari Malaka serta dari Pesisir Utara Pulau Sumatera dan ia sendiri telah pula menganut ajaran baru itu, telah lama mengirim barisan penyuluh, maka dengan mudahlah ia membawa bala tentaranya memasuki kota Majapahit yang sedang kacau balau itu....

Sejak lebih kurang tahun 1500 Masehi mulailah sejarah kerajaan Islam- Demak di Pulau Jawa.

Tamat