-->

Damarwulan Bab 17 : Berkumpul dengan Keluarga

Bab 17 : Berkumpul dengan Keluarga

Pertemuan yang mengharukan!

Bagaimana pertemuan Panji Wulung dengan Damarwulan, Kuda Tilarsa dan Kuda Rarangin di hadapan Ajar Tunggul Manik tidak usah diceritakan di sini seluruhnya. Kemudian Ajar Suci itu telah menghilang dengan tiba-tiba, seperti kehadirannya begitu juga kepergiannya dengan tiba-tiba pula. Tidak seorang pun yang mengetahuinya.

Setelah beberapa hari Panji Wulung tinggal di Majapahit berkatalah is kepada saudaranya, Damarwulan, "Sudah tiba waktunya bagi Adinda akan kembali ke Sulebar. Adinda memohonkan restu kepada Gusti yang Mahasuci, mudah-mudahan Adinda sampai dengan selamat ke negeri Adinda!"

Lama juga mereka berunding mempercakapkan tentang kedatangan Raden Layang Seta dan Raden Layang Kumitir ke Sulebar, Panji Wulung sama sekali tidak menduga, bahwa ia telah diperdayakan keduanya dan tidak pula mengira, bahwa Raden Damar saudaranya sendiri. Demikian pula pertemuannya dengan Raden Kuda Rarangin dan Raden Kuda Tilarsa di hadapan ayahnya sendiri, yang pada hari tuanya itu telah menjadi Ajar Suci Tunggul Manik....

Lama mereka terdiam diri memikirkan pertemuan yang aneh itu serta mengenangkan diri dan perjalanan hidup mereka di mayapada

"Terima kasih, Adinda, Kakanda pun memohon kepada Yang Mahakuasa, mudah-mudahan Adinda sampai dengan selamat kembali ke negeri Adinda!" ujar Damarwulan melepas saudaranya.

"Mengapa Adinda Panji Wulung cepat benar hendak meninggalkan Majapahit? Kakanda sesungguhnya berharap supaya Adinda dapat lebih lama tinggal di Majapahit!" sela Dewi Anjasmara. "Tidakkah Adinda merasa was-was meninggalkan kami di Majapahit dalam keadaan semacam ini ?"

"Ya... kalau dipikirkan, lebih besar kekhawatiran Adinda meninggalkan Sulebar, Kakanda!" jawab Panji Wulung. "Tambahan pula persoalan Kakanda Damarwulan dengan Kakanda Layang Seta dan Layang Kumitir, bagaimana Adinda akan turut mencampurinya. Lebih-lebih lagi apabila Adinda timbang- timbang yang menyangkut diri Paman, ayah Kakanda sendiri, amat beratlah bagi kami memasukinya.... Tidakkah Kakanda sendiri dapat merasakannya.  ?"

Mereka sama-sama berdiarn diri pula.

"Ya, karena itulah!" sahut Dewi Anjasmara agak bingung. "Bagi Adinda yang terutama keamanan dan ketenteraman Majapahit." Ia terdiam pula seketika.

"Bagaimana untuk menciptakan ketenteraman itu pada pertimbangan Kakanda sendiri?" tanya Panji Wulung.

"Kalau perlu, untuk menjaga keamanan dan ketertiban, Kakanda tidak berkeberatan "

"Bersediakah Kakanda membiarkan Majapahit menghukum Kakanda Layang Seta dan Kakanda Layang Kumitir?" ujar Panji Wulung.

Dewi Anjasmara terdiam, kemudian katanya, "Kalau tidak bagaimana? Tentu mereka akan menimbulkan kekacauan dan huru-hara juga kemudian!"

Panji Wulung pun terdiam. Sesungguhnya dia telah dapat membayangkan apa yang akan terjadi bila Patih Logender, Layang Seta, dan Layang Kumitir tidak dapat dicari. "Kakanda sendiri ingin mendengar lebih lanjut dari Adinda, tentang kedatangan Kakanda Seta dan Kumitir ke Sulebar?" ujar Dewi Anjasmara menyiasati.

"Sekarang Adinda merasa telah tertipu oleh Kakanda keduanya itu. Rupanya dengan sengaja mereka hendak mengadu Adinda dengan Kakanda Damar, bahkan hendak mengadu kerajaan Sulebar dengan Majapahit."

Demikian jawab Raden Panji Wulung. Kemudian diceritakannyalah sekalian akal busuk dan tipu muslihat yang telah dijalankan Layang Seta dan Layang Kumitir. Lama mereka terdiam memikirkan kelakuan keduanya. Bahkan yang tiada habis-habis mereka pikirkan dan merasa amat heran mengingat tindakan Patih Logender, ayah keduanya, paman mereka sendiri.

"Lalu sekarang bagaimana bicara kita yang baik?" desak Dewi Anjasmara. "Hendaknyalah persoalan Kakanda Seta dan Kakanda Kumitir dapat diselesaikan secepat-cepatnya...! Bila tidak, keduanya pastilah akan membakar Majapahit dengan hasutan dan api kedengkian."

"Bukan Layang Seta dan Layang Kumitir saja, tetapi yang lebih sulit lagi menyangkut diri Paman sendiri!" sahut Damarwulan agak bingung.

"Kakanda harus bertindak tegas. Jangan dibiarkan bahaya itu sampai berlarut-larut!" ujar Dewi Anjasmara.

Damarwulan tidak segera menjawab, memandang dengan tajam kepada istrinya, seolah-olah is tidak suka mendengar perkataan yang semacam itu keluar dari mulutnya. Kemudian dengan ragu-ragu menatap kepada Panji Wulung sebagai minta pertimbangan.

"Bicara Kakanda Dewi Anjasmara itu benar sekali. Tindakan yang tepatlah yang dapat mencegah bahaya sebelum ia berkobar lebih besar," jawab Panji Wulung_

"Jadi usul Adinda...?" tukas Anjasmara.

"Usul Adinda, supaya Kakanda Layang Seta dan Layang Kumitir segera ditahan."

"Alasan Adinda?" tanya Raden Damar pula terbata-bata. "Ia akan tetap menjadi sumber fitnah dan jadi pengacau!" "Paman Patih bagaimana?" ujar Damarwulan.

"Tidak ada jalan lain, demi keselamatan Majapahit... Apa boleh buat, Ayahanda harus ditahan untuk menjaga keamanan...," jawab Anjasmara dengan tegas.

Damarwulan menatap sejurus kepada istrinya, kemudian memandang dengan pandangan yang penuh tanda tanya kepada saudaranya Raden Panji Wulung.

"0, Gusti," katanya lambat-lambat. Ia telah dapat membayangkan apa yang akan terjadi, jika sampai ia menjalankan keputusan yang diusulkan istrinya itu. Cepat terkilat dalam ingatannya ketika itu, seluruh Majapahit akan menyiarkan berita: memang Damarwulan ingin berkuasa dan untuk kemuliaan dirinya ia bersedia menghukum paman dan mertuanya sendiri. "Tidak... tidak...!" ujarnya pula, kemudian memandang kepada istrinya sebagai mengajuk.

"Saya bersedia menghadapi musuh, tiga bahkan lima kali lipat dari kekuatan Menak Jingga sekalipun, daripada menghadapi suasana yang sekarang ink.. berlawanan dengan keluarga, disuruh menghukum paman dan mertua sendiri...!"

Dari pintu gapura masuk pengawal tergesa-gesa dan mempersembahkan, "Layang Seta dan Layang Kumitir telah tertangkap. Menunggu perintah...!"

"Siapa yang berhasil menangkapnya?" tanya Damarwulan.

"Kesatria Raden Kuda Rarangin bersama dengan Raden Kuda Tilarsa!" "Yang lain?"

"Hanya itu, ... yang lain tidak ada!"

Mereka berpandang-pandangan. Dewi Anjasmara kelihatan agak pucat. "Ayahanda bagaimana?" katanya bertanya dan suaranya agak serak.

"Bendara Patih tiada hamba ketahui!" jawab bentara pengawal itu.

Kemudian bentara itu menghadap kepada Damarwulan dan berkata dengan hormatnya, "Selanjutnya hamba menunggu perintah!"

Damarwulan, sebagai Raja Angabaya Majapahit memerintahkan, "Masukkan keduanya ke dalam penjara dan jaga supaya jangan dapat melarikan diri kembali!"

Dari alun-alun di muka kesatriaan kedengaran suara ramai dan orang banyak berlari-larian, ingin menyaksikan peristiwa penangkapan itu. Kemudian mereka berbondong-bondong pula mengiringkan kedua orang tangkapan itu menuju ke penjara. Keduanya lalu dimasukkan ke dalam ruang tahanan dan dijaga oleh beberapa orang prajurit.

Kuda Rarangin dan Kuda Tilarsa setelah melaksanakan tugasnya segera menjumpai Damarwulan, Panji Wulung, dan Dewi Anjasmara. Mereka sendiri agaknya juga sangat menyesalkan penangkapan itu, akan tetapi tidak ada jalan lain, demi kepentingan keamanan dalam negeri Majapahit.

"Bagaimana Ayahanda?" tanya Dewi Anjasmara sekali lagi.

Kuda Rarangin dan Kuda Tilarsa berpandang-pandangan, kemudian sahut keduanya, "Kami tiada dapat menangkap Paman. Terserah kepada kebijaksanaan Kakanda Damar!"

Mereka berkumpul di tempat itu sampai larut malam. Tiada lain yang mereka bicarakan, selain keselamatan Majapahit dan bagaimana jalan sebaik- baiknya untuk menyelesaikan pertentangan antara mereka sekeluarga. Yang teramat sulit bagi Raden Damarwulan mengambil keputusan untuk menghadap Patih Logender ... paman dan mertuanya sendiri...!

Beberapa hari kemudian armada Panji Wulung kelihatanlah meninggalkan pelabuhan Majapahit.