Damarwulan Bab 12 : Berita Kemenangan

Bab 12 : Berita Kemenangan

Seluruh penduduk kota Majapahit keluar belaka akan menyaksikan kedatangan bala tentara yang membawa berita kemenangan. Sebagian pasukan induk telah kembali dan tentu disambut dengan amat gembira dan meriah oleh penduduk kota. Di mana-mana rakyat berkumpul berkelompok- kelompok membicarakan kemenangan itu. Terutama sekitar alun-alun istana amat ramai orang, ingin mendengar sendiri dari anggota pasukan yang baru kembali itu, bagaimana caranya tentara Majapahit dapat memasuki PrabaIingga dan berhasil memenangkan perang itu. Sekalipun telah diumumkan, untuk menjaga keamanan, Damarwulan dengan sejumlah induk pasukan, buat sementara akan tinggal beberapa hari, mungkin beberapa pekan, di Prabalingga untuk menjaga keamanan dan untuk memulihkan ketenteraman kembali, tetapi penduduk masih tetap berbondong-bondong menuju ke alun-alun.

"Raden Menak Koncar ...!" ujar Dewi Suhita kepada kepala pasukan yang baru kembali itu. "Kami ingin mendengar, cobalah ceritakan sekali lagi, bagaimana caranya bala tentara kita dapat mengalahkan tentara Menak Jingga, supaya sama-sama kami dengar."

"Seri Ratu!" jawab Menak Koncar dengan hormat. "Atas segala kemenangan ini Majapahit harus berterima kasih kepada Raden Damar satria yang bijaksana, berani lagi berbudi itu "

"Den Ayu Anjasmara!" ujar Dewi Suhita dengan amat bergirang hati dan tersenyum kepada Dewi Anjasmara yang duduk di sisi Seri Ratu. "Adinda dengar sendiri tentang suami Adinda! Adakah puji-pujian yang lebih mulia dan menyenangkan terhadap seorang satria daripada berani dan berbudi !" Dewi Anjasmara tersenyum bangga dan berkata, "Tentu hamba lebih maklum tentang pekerti suami hamba, sekalipun dia baru saja jadi suami hamba, Seri Ratu!"

Setelah memandang berkeliling dengan sukacitanya, Seri Ratu berkata pula kepada satria Raden Menak Koncar, "Ceritakanlah Raden, bagaimana seterusnya!"

"Seperti telah dimaklumi, keberangkatan tentara dari sini dengan diam-diam sekali. Penduduk kota hampir-hampir tiada mengetahui keberangkatan kami, karena kami baru meninggalkan kota setelah matahari terbenam, bahkan setelah malam gelap. Sekalipun ada melihat kami menuju ke luar kota, tetapi orang tidak akan nyana bahwa kami akan pergi berperang. Segala-galanya berjalan menurut yang telah direncanakan oleh Raden Damarwulan. Begitu pula ketika akan memasuki kota musuh. Waktu fajar kami berhenti di dalam hutan, jauh di luar kota Prabalingga. Orang yang lalu pada waktu paginya, baik yang datang atau menuju ke Prabalingga, semuanya ditahan dan dijaga benar supaya jangan ada orang yang dapat membawa berita tentang keadaan kami kepada kaki tangan Menak Jingga. Selain itu barisan penyuluh kita telah dikirim terlebih dahulu ke Prabalingga dengan diam-diam dan diperintahkan supaya berhati-hati sekali, guna mempelajari dan menyelidiki keadaan dalam kota. Pekerjaan mereka itu pun berjalan dengan baik dan amat rapi.

Setelah kami menerima berita selengkapnya dari pasukan penyuluh kita, barulah Raden Damar menyusun rencana dengan terperinci dan teliti. Nasihat Raden Damar kepada kami, berhasil atau tidaknya penyerangan kita, menang atau kalah, tergantung pada usaha pasukan penyuluh dan perencanaan yang teliti itu.

"Kami ingin mendengar, bagaimana akal Raden Damar melawan Menak Jingga, yang dikatakan tak teralahkan itu!" ujar Dewi Suhita.

"Hamba tentu tak dapat menceritakan peristiwa itu semua, selain apa yang telah hamba saksikan sendiri dengan mata kepala hamba. Setelah kami tiba di luar kota Prabalingga bala tentara dibagi-bagi, menurut keadaan pertahanan musuh yang akan dimasuki. Tentu menurut laporan yang dapat diterima dari mata-mata atau penyuluh-penyuluh kita."

"Hamba ingin benar mendengar bagaimana Damarwulan dapat menjatuhkan Menak Jingga...?" ujar Dewi Suhita sambil melirik kepada Dewi Anjasmara. "Cobalah Raden terangkan kepada kami!"

"Sayang hamba sendiri tidak menyaksikan dengan mata hamba, karena hamba dengan pasukan hamba menghadapi musuh di tempat lain. Akan tetapi menurut berita yang disampaikan kepada hamba, ketika Menak Jingga telah terdesak, Raden Damar masih memberi kesempatan untuk menyerah dan bersedia tunduk mengakui kekuasaan Seri Ratu, serta masih memberi kesempatan kepadanya untuk berpikir."

Raden Menak Koncar terdiam seketika, is teringat akan beberapa peristiwa yang hampir saja menewaskan nyawa Damarwulan.

"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Seri Ratu Dewi Suhita dengan tidak sabar. "Daulat Seri Ratu yang mulia, baiklah hamba ceritakan dari permulaannya. Kedka pemimpin-pemimpin pertempuran tentara kita selesai menerima tugas masing-masing dan penjelasan yang diperlukan dari Raden Gajah, demikianlah nama senapati dalam pertempuran, serta menjelaskan pula akan tanda-tanda penyerangan dan yang berhubungan dengan itu, senapati diiringkan pula oleh kedua punakawannya, Naya dan Sabda, lalu menuju ke rumah Dewi Puyengan dan Dewi Wahita. Adapun tempat tinggal kedua orang putri yang malang itu berdekat-dekatan tiada berapa jauh dari istana."

"Siapakah Dewi Puyengan dan Dewi Wahita itu?" tanya Dewi Suhita memotong bicara Raden Menak Koncar. "Serta mengapa pula Raden Damar datang mengunjungi keduanya tengah malam semacam itu?"

Memandang kepada Dewi Anjasmara, "Raden bercerita di hadapan istrinya sendiri dan seperti diketahui, Raden Damarwulan dan Dewi Anjasmara baru saja jadi pengantin, beberapa hari sebelum berangkat ke Prabalingga."

"Raden Ayu Anjasmara, maafkanlah hamba! Bukan maksud hamba hendak membuat fitnah, jauh daripada akan mengasut dan mengada-ada... Seri Ratu!" Raden Menak Koncar terdiam memandang kepada Anjasmara dan Dewi Suhita berganti-ganti. "Cerita hamba belum selesai. Dewi Puyengan dan Dewi Wahitalah yang memainkan peranan yang penting dalam peristiwa

"Lho, bagaimana peristiwanya lekas ceritakan! Dan siapa mereka?" desak Seri Ratu Suhita.

"Hamba harap dimafkan, Ratu! Sudilah Seri Ratu mendengarkan keterangan hamba dengan sabar! Adapun kedua orang putri itu anak-anak bupati yang tiada mau tunduk atau bersepakat dengan niat busuk Menak Jingga; kedua orang bupati itu sangat setia kepada Seri Ratu."

Diam pula.

"Kedua orang putri itu terkenal amat cantik, terutama Dewi Puyengan, yang lebih muda serta lebih lincah, seperti namanya itu, benar-benar dapat memabukkan dan menggilakan barang siapa yang berani memandangnya atau jika dipandangnya dengan sudut matanya. Itu agaknya, yang dinamakan orang mabuk kepayang. Menak Jingga tergila-gila kepadanya. Sebab itu hampir tiap malam dia datang ke tempat itu, mengunjunginya, akan membujuk dan merayu putri itu."

"Tunggu dahulu," kata Seri Ratu Suhita pula menyela. "Kalau kami tidak salah, tadi Raden katakan senapati Raden Damar diiringkan oleh kedua orang punakawannya, Naya dan Sabda, juga menuju ke rumah Dewi Puyengan dan Dewi Wahita. Yang kurang terang bagi kami, siapa yang tergila-gila kepada si Puyengan itu?" Melirik dengan tajam kepada Dewi Anjasmara yang masih menundukkan kepalanya, "Damarwulan atau Menak Jingga?"

"Gusti, sekali lagi hamba mohon dimaafkan serta hamba berharap cerita hamba jangan disela dahulu!"

"Raden!" sahut Seri Ratu Suhita agak membentak suaranya. "Bagaimana kami tidak akan menyela, kami ingin mendengar berita kemenangan Damarwulan! Tuan ceritakan yang lain-lain.._ tentang Dewi Puyengan dan Dewi Wahita. Sekalipun tidak diceritakan, kami akan maklum juga, bahwa orang laki-laki itu sama saja dari dahulu sampai sekarang, bila berhadapan dengan perempuan cantik, lagi muda pula. Apalagi dalam peperangan. Saya tiada sudi mendengar tentang Puyengan dan Wahita itu."

Melihat ke arah Dewi Anjasmara yang masih berdiam diri.

"Tuan tahu, perempuan seperasaan! Hati Dewi Anjasmara sekarang sebagai bara api yang sedang bernyala. Saya harap hendaknya Tuan bawakan obat penawar! Akan tetapi ternyata Tuan ungguni pula dengan jerami kering. Saya takut kalau makin membakar dan berkobar nyalanya. Demi untuk kepentingan perasaan Adinda Anjasmara, tak usah Tuan ceritakan tentang penyelewengan- penyelewengan semacam itu, tak usah... sekali lagi tak usah!"

"Ini sekali-kali bukan penyelewengan, Gusti, betul-betul bukan penyelewengan, tetapi suatu siasat yang harus dilakukan. Jika sekiranya Gusti tak sudi atau tidak bersedia mendengarkannya, tak dapatlah hamba menggambarkan pertempuran dan bagaimana kami memperoleh kemenangan itu. Karena dalam hubungan Dewi Puyengan dengan Damarwulan itulah terletak kuncinya. Betul, Gusti, di sinilah terletak kuncinya, ibarat makanan malah yang menjadi bumbunya. Bagaimana hamba akan menghidangkan sesuatu makanan, apabila Gusti menghendaki supaya bumbunya dikeluarkan atau disisihkan. Makanan yang telah bersatu dengan bumbu-bumbunya bagaimana memisah-misahkannya terlebih dahulu...!"

Raden Menak Koncar terdiam sebentar menghadap kepada Seri Ratu Prabu Suhita, seakan-akan menanti perintah.

"Gusti Ratu!" sembah Dewi Anjasmara. "Bila terserah kepada hamba, hamba tiada berkeberatan, apabila hubungan suami hamba dengan Dewi Puyengan serta Dewi Wahita itu diberitakan semuanya di depan hamba...!!"

Terdiam sebentar

"Atau barangkali Gusti sendiri yang menaruh keberatan, tak tahulah hamba..."

Terdiam pula, kemudian katanya, "Hamba tidak buta, Gusti, dan sudah biasa apabila seorang pahlawan mendapat pujaan serta sambutan di mana-mana karena kepahlawannya itu, seperti jiwa hamba mengaguminya dan mencintainya, tentulah akan ada pula perempuan selain diri hamba yang turut mengaguminya bahkan sampai mencintainya sekalipun. Bukankah tanda emas yang murni atau sifat berlian yang tulen itu disukai dan dicintai tiap-tiap orang, ya Gusti, terutama akan menjadi pakaian kita golongan istri."

Anjasmara berdiam diri pula seperti hendak menelan perasaannya sendiri, kemudian katanya agak bernafsu, "Hamba percaya kepada Kakanda Damarwulan, sesuatu yang dilakukannya selamanya dengan pertimbangan serta diperhitungkannya dengan cermat jua, Gusti!"

Menghadap kepada Raden Menak Koncar, "Ceritakanlah sekaliannya, Raden, hamba ingin tahu sekaliannya!"

Raden Menak Koncar tiada segera melanjutkan ceritanya. Sekarang tahulah ia akan perasaan kedua orang yang dihadapinya itu. Rahasia hati masing- masing telah dapat diselaminya. "Sekali lagi hamba ulangi," katanya, "Menak Jinggalah yang telah tergila-gila kepada Dewi Puyengan, sebab itu sehabis tayuban pada malam itu,'dapat dipastikan sebelum kembali ke keraton istana tentu ia akan datang ke tempat Puyengan dan Wahita lebih dahulu. Sangat menguntungkan bagi penyerangan kita, yang dengan tiba-tiba itu, musuh tidak mengetahui sedikit juga, bahwa sebahagian tentara kita telah ada dalam kota. Hal itu tiada akan berhasil, bila tidak karena kerapian pekerjaan pasukan penyuluh kita, yang masuk dengan jalan diam-diam dan sebahagian dengan jalan menyamar."

"Bagaimana Raden Damar, suami hamba, mengetahui tempat Dewi Puyengan dan Dewi Wahita? Siapa yang memperkenalkannya kepada mereka?" tanya Anjasmara.

"Seperti telah hamba terangkan terlebih dahulu, itulah gunanya dibentuk pasukan penyuluh atau mata-mata, yaitu akan mempelajari segala sesuatu dan untuk menyelidiki hal yang penting-penting yang berhubungan dengan pertahanan musuh dan yang bersangkut-paut dengan siasat penyerangan kita."

Bagaimana pertemuan Damarwulan dengan kedua orang putri itu, diceritakanlah sekaliannya oleh Menak Koncar, sampai Damarwulan hampir- hampir jatuh pingsan dalam perkelahian yang pertama.

"Untung benarlah karena pertolongan Dewi Puyengan yang cerdik itu dan bantuan Dewi Wahita," kata Menak Koncar.

"Bagaimana jalannya? Karena apa pada mulanya Raden Damar hampir- hampir jatuh pingsan itu?" tanya Dewi Anjasmara.

"Menak Jingga itu seperti diberitakan, memang seorang yang hebat rupanya dan sangat kuat dan tegap perawakannya. Apabila berhadapan dengan dia tidak ada yang dapat melawan jangankan akan mengalahkannya. Akan tetapi ada juga kelemahannya. Pada malam hari ia kurang awas dan karena terlalu banyak minum minuman keras ia selalu kelihatan seperti orang kehilangan ingatan.... Kedatangan Damarwulan sekali-kali di luar dugaannya, tidak disangka-sangkanya."

"Kalau begitu Menak Jingga betul-betul berhadapan dengan Damarwulan dan tewas dengan tangannya sendiri?" tanya Sang I'rabu pula.

"Memanglah demikian, Gusti Ayu!" jawab Menak Koncar.

"Damarwulan berhadapan dengan Menak Jingga seorang lawan seorang, sementara pasukan kita berhadapan dengan pasukan Bupati Prabalingga dan bala tentara Menak Jingga di keraton, di alun-alun dan di sepanjang pusat pertahanan kota."

"Bagaimana selanjutnya dengan Dewi Puyengan dan Dewi Wahita?" tanya Seri Ratu.

"Tunggu dahulu, Gusti!" sahut Menak Koncar. "Ternyata bala tentara kita bukan menghadapi bala tentara Menak Jingga dan pasukan Bupati Prabalingga yang mendurhaka itu raja, tetapi ada lagi unsur-unsur yang lain."

"orang-orang dari pesisir Utara yang Tuan maksud?"ujar Dewi Suhita. "Bukan orang-orang dari Pesisir Utara, tetapi ada gerombolan-gerombolan lain, di antaranya yang dikenal dengan gerombolan Kelana Jaya, yang dikepalai oleh Kuda Rarangin dan Kuda Tilarsa."

"Ya…ya...! Mendiang Adipati Tuban telah pernah juga menceritakan tentang gerombolan-gerombolan semacam itu! Memang pada waktu yang akhir-akhir ini timbul banyak perusuh dan petualang semacam itu di mana-mana. Negara menderita dan rakyat merana oleh kekacauan yang tidak habis-habisnya."

Seri Ratu Suhita terdiam sebentar, kemudian ujarnya, "Apakah yang telah dilakukan oleh gerombolan Kelana Jaya, yang dikepalai oleh Kuda Rarangin dan Kuda Tilarsa itu?"

"Anehnya gerombolan Kuda Rarangin dan Kuda Tilarsa itu, tidak seperti gerombolan yang lain, yaitu mendatangkan kerusuhan atau kekacauan kepada penduduk dan biasanya mereka seakan-akan berpihak atau berpura-pura membantu tentara, tetapi tujuan mereka yang sebenarnya, hendak menangguk di air keruh."

"Kalau ia tidak membantu tentara kita barangkali mereka menjadi kaki tangan musuh...," jawab Dewi Suhita dengan cepat.

"Pada mulanya dugaan kami, memang, demikian! Ketika terjadi pertempuran hebat di sekitar alun-alun Prabalingga mereka turut menyerang musuh bersama-sama kami. Tetapi alangkah terperanjat kami semuanya, ketika Raden Damar datang hendak membantu kami sesudah membunuh Menak Jingga tiba-tiba Kuda Rarangin menghadangnya di jalan dan terjadilah perkelahian antara Damarwulan dengan Kuda Rarangin. Lebih heran lagi kami, ketika ternyata dalam perkelahian itu tak ada yang teralahkan, keduanya sama-sama jaya dan sama-sama gigihnya, kemudian datang pula Kuda Tilarsa; mula-mula rupanya ia hendak menolong Kuda Rarangin, tetapi tiba- tiba ia undur ke belakang, kerisnya yang telah keluar dari sarungnya dibantingkannya ke tanah."

"Lalu...?" ujar Seri Ratu mendesak, ketika Raden Menak Koncar tidak segera melanjutkan ceritanya.

"Kuda Rarangin memandang kepada Kuda Tilarsa sambil memungut kerisnya lalu memasukkanya ke dalam sarungnya. Melihat perbuatan kedua orang lawannya itu Raden Damar juga menyarungkan kerisnya dan ketiganya berpandang-pandangan. Kami yang menyaksikan, malah sudah bersedia-sedia akan menangkap kedua orang yang kami anggap pengacau atau musuh itu, malah ikut terpaku di tanah."

"Mengapa?"

"Dari sinar pandangan, raut muka dan potongan badan ketiganya, sebelum masing-masing mengeluarkan perkataan, dapat kami lihat tentu bersaudara! Benarlah ketika masing-masing menerangkan asal-usul mereka ternyata ketiganya bersaudara."

"Mana mungkin!" sahut Dewi Anjasmara tiba-tiba. "Kakanda Raden Damar anak tunggal. Sejak kecil ia tinggal di pertapaan kakenda Bagawan Santanu atau lebih dikenal dengan panggilan Kiyai Ageng di Paluh Amba. Tak mungkin!" Raden Menak Koncar tersenyum, kemudian katanya, "Sesungguhnya di mayapada ini banyak hal-hal yang pada mulanya kita katakan tak mungkin, karena kita hanya melihat lahirnya belaka, belum mengetahui rahasianya yang sebenarnya."

"Saya tahu benar tentang diri Kakanda Raden Damar, anak tunggal Paman Patih Udara dengan Bibi Nawangsasih. Ketika Paman Udara mengundurkan diri dari pemerintahan Raden Damar masih kecil, masih kanak-kanak, dan dibesarkan di Paluh Amba oleh Kakenda Bagawan Santanu Murti atau Maharesi Paluh Amba seperti hamba katakan tadi yang terkenal bijaksana dan cendekiawan itu. Orang desa Paluh Amba seluruhnya mengenal Damarwulan, terutama yang sebaya dengan dia, sekaliannya mencintai dan menghormatinya, bukan karena ia anak Patih dan cucu seorang Maharesi, tetapi karena ia telah dapat mempersatukan hatinya dan dirinya dengan anak- anak desa itu."

"Benar, Den Ayu Anjasmara!" jawab Menak Koncar sambil memandang kepada Seri Ratu sebagai minta pertimbangan. "Maaf, kalau boleh hamba bertanya, apa sebabnya Patih Udara mengundurkan diri?"

"Semata-mata hendak memberi kesempatan kepada Ayahanda hamba, adiknya."

"Tidak adakah kiranya sebab-sebab yang lain?" tanya Menak Koncar.

Dewi Anjasmara tidak segera dapat menjawab. Setelah memandang kepada Dewi Suhita ia berkata, "Ini menyangkut soal pemerintahan, tentu Gusti yang lebih mengetahuinya!"

"Sekarang saya tiada dapat memberi keterangan, tetapi menurut yang saya dengar Paman Patih Udara lebih menyukai pengembaraan daripada pemerintahan. Setelah mengundurkan diri Patih Udara tidak langsung memasuki pertapaan tetapi lebih dahulu telah mengembara ke mana- mana di seluruh Nusantara. Malah selagi memegang jabatan pemerintahan ia suka mengembara ke mana-mana. Tetapi apakah hubungan sekalian itu dengan diri Damarwulan?" ujar Dewi Suhita.

"Dari keterangan Kuda Rarangin dan Kuda Tilarsa ternyata mereka sama- sama anak Patih Udara. Pada mulanya keduanya juga tidak kenal-mengenali, setelah berjumpa di pengembaraan dan setelah sama-sama mengadu kesaktian dan sama-sama tak dapat dialahkan barulah mereka mengetahui bahwa mereka bersaudara. Kuda Rarangin berasal dari desa Pesawahan dan Kuda Tilarsa dari Pratokal. Menurut keterangan Ajar Tunggul Manik, yang bertapa di Gunung Mahameru, mereka ada empat orang bersaudara sebapak, tetapi berlain ibu, pada suatu ketika mereka akan bertemu di depan Ajar Tunggul Manik yang keramat itu."

"Ini Paman Patih datang!" ujar Seri Ratu dengan tersenyum kepada Patih Logender yang datang dengan sekonyong-konyong.

"Maafkanlah hamba beribu-ribu maaf, karena hamba terlambat datang menghadap. Rakyat seakan-akan membanjir datang dari seluruh pelosok negeri, dari desa-desa, menyambut berita kemenangan tentara Majapahit. Terpaksa hamba memberi penerangan dan menjelaskan bahwa baru sebahagian bala tentara kita yang pulang. Raden Damar dengan sebagian besar pasukannya baru beberapa hari lagi akan kembali. Jika tidak diberi tahu, rakyat mungkin akan tetap berdiri sepanjang jalan, menantikan pahlawannya. Juga hamba harus menjelaskan kepada mereka, bahwa pasukan kita terpaksa tinggal beberapa lamanya, karena perlu mengamankan gerombolan dan pengacau, selain untuk memulihkan keamanan dan ketenteraman dalam kota. Ya, hamba sangat berbesar hati dan mengucapkan selamat atas kemenangan tentara kita, Gusti!"

Sekalian yang diucapkannya, seakan-akan telah diaturnya atau dikarangkannya terlebih dahulu. Tetapi dari getar suaranya, apa yang diucapkan lidahnya berlawanan dengan kehendak serta bisikan hatinya. Sesudah mengaturkan sembah, Patih Logender lalu duduk ke dekat Raden Menak Koncar. Sambil tersenyum dibuat-buat ia berkata pula, "Kepada Raden tiada terkira terima kasih hamba, yang telah memenangkan peperangan ini bersama-sama dengan Damarwulan. Anak saudara hamba, ah, ya menantu hamba yang masih muda sekali, tentulah dengan petunjuk dan bantuan Raden juga maka ia telah berhasil beroleh kemenangan. Sekali lagi hamba ucapkan terima kasih dan selamat."

Kemudian berpaling kepada Seri Ratu Suhita, sembahnya, "Majapahit sekarang sementara telah terlepas dari bahaya, terhindar dari kehancuran, Gusti!"

"Mengapa Paman katakan sementara?" tanya Dewi Suhita agak keheran- heranan.

"Maksud hamba, mudah-mudahan terhindar dari kehancuran untuk selama- lamanya, ah ... bukan sementara, harap hamba diberi maaf, Gusti...," katanya terbata-bata.

"Hamba sangat bersyukur kepada dewa-dewa, yang telah melindungi mahkota Kertarajasa dan telah mengekalkannya di kepala hamba, berkat perbuatan dan kepahlawanan anak saudara dan menantu Paman pula. "

Memandang ke arah Dewi Anjasmara, "Juga kepada putri paman sendiri, yang telah menggembirakan hati Damarwulan."

Kembali berpaling kepada Patih Logender. "Sudahkah Paman mendengar tentang satria Kuda Rarangin dan Kuda Tilarsa, yang sedang kami bicarakan ini?"

"Ya, sudah hamba dengar juga."

"Bagaimana hubungannya dengan Paman Patih? Benarkah keduanya anak juga kepada Paman?" tanya Dewi Suhita menyiasati. "Hamba sendiri pun baru sekarang mendengarnya. Tetapi yang hamba ketahui dengan pasti, baik sebelum jadi patih atau sesudahnya, Kakanda Udara memang senang sekali mengembara ke mana-mana. Ia tiada betah diam di rumah atau di kepatihan sekalipun setelah diangkat menjadi patih. Malah ketika mudanya ia lama turut dengan armada di lautan dan telah mengembara ke mana-mana, ke Malaka, Kamboja, Maluku bahkan sampai ke India tanah Hidustan. Karena sifat pengembara itulah sebabnya ia lekas sekali meninggalkan pemerintahan. Ia lebih suka bebas mengembara ke mana- mana."

Beberapa lamanya mereka berbicara tentang diri Damarwulan dan soal ketentaraan serta perayaan dan penyambutan atas kemenangan itu, kemudian barulah mereka bubar, pulang ke rumah masing-masing.