Damarwulan Bab 11 : Menyerang Prabalingga

 
Bab 11 : Menyerang Prabalingga

Sehari setelah Damarwulan didudukkan dengan Dewi Anjasmara, seperti pernintaannya kepada Seri Ratu Dewi Suhita, berangkatlah tentara Damarwulan ke Prabalingga dengan cara diam-diam. Segala-galanya berjalan dengan rahasia sekali. Perkawinannya dengan Dewi Anjasmara dengan diam- diam pula. Sekalian tentara yang akan menyerang itu, sehari sebelum berangkat dijaga benar supaya jangan mengadakan hubungan dengan siapa pun juga, dengan keluarganya sekalipun tak boleh berjumpa.

Juga dijaga benar supaya berita keberangkatan tentara itu jangan sampai diketahui mata-mata musuh. Sehabis Damarwulan berbicara dengan Dewi Suhita di bangsal witana, is segera mengatur siasat, beberapa orang mata- mata yang berpengalaman telah dikirim ke luar kota akan mengamat-amati orang yang akan masuk atau yang akan meninggalkan Majapahit. Prabalingga sendiri telah diawasi dari dekat, mata-mata telah dikirim lebih dahulu.

Perhitungan Damarwulan tepat sekali!

Ketika bala tentaranya telah sampai ke perbatasan Prabalingga, ternyata dari berita mata-matanya sendiri, tentara Blambangan sedang mengadakan perayaan besar, sedang bersuka ria, beriang gembira. Beberapa mata-mata musuh dapat ditangkap, merekalah yang memberi keterangan seperlunya tentang pertahanan musuh serta bagaimana keadaan dalam kota.

Setelah beristirahat sehari di tempat yang sepi di luar kota, maka pada malam berikutnya Damarwulan dengan diam-diam berhasil memasuki Prabalingga. Karena petunjuk yang teliti dari barisan penyelidik dan mata- matanya, boleh dikatakan kedatangan tentaranya sebanyak itu tidak diketahui musuh. Memang penjagaan kota, boleh dikatakan tidak ada, karena menurut perhitungan mereka, seperti telah diceritakan, tidak akan secepat itu Majapahit datang menyerang.

Tentaranya diaturnya masuk cara bergelombang-gelombang, sebahagian masuk dari sebelah utara, dari laut, menyusur pantai, dipimpin oleh Raden Menak Koncar yang telah menggabungkan diri, sebahagian lagi dari selatan, dan sebahagian dari pintu timur dan yang terakhir dari barat dipimpin oleh Damarwulan sendiri. Di sebelah barat itu memang ada penjagaan, tetapi rombongan penjagaan itu dengan mudah juga dikuasai dan diperdayakan oleh anak buahnya.

Sebahagian lagi pasukannya ditugaskan menjaga di luar kota, mengawasi kalau-kalau bantuan musuh datang. Atau sebaliknya bila pasukan sendiri yang masuk ke dalam kota memerlukan bantuan. Dengan hati-hati sekali mereka bergerak. Mereka menghindari jalan-jalan biasa sedapat-dapatnya, supaya kedatangan mereka tiada mendapat perlawanan. Orang-orang tani dan orang- orang desa yang mengetahui kedatangan tentara Majapahit telah memberikan bantuan sedapat-dapatnya, karena mereka tiada senang melihat kelakuan dan tindakan tentara Blambangan yang mendurhaka kepada Seri Ratu Suhita.

"Bagaimana, Paman? ... Beres?" tanya Damarwulan, berbisikbisik kepada kedua orang punakawannya, Sabda Palon dan Naya Genggong. Keduanya setelah selesai menyampaikan pesan Damarwulan kepada bundanya di Paluh Amba, segera diperintahkan bundanya menyusul ke Blambangan.

"Beres, Den!" jawab Sabda Palon. "Naya sendiri yang masuk ke pekarangan kabupaten."

"Tidak diketahui oleh musuh?"

"Tentu tidak! Kami menyelinap bersama-sama orang banyak," jawab Naya pula. "Menak Jingga dengan orangorangnya sedang bersuka ria. Kabupaten penuh sesak.... Selama tentaranya masuk ke Prabalingga tiap malam mereka minum-minum dan bersuka ria, tak putus-putusnya."

"Bagaimana berita, yang dapat dikumpulkan oleh barisan penyuluh kita?1)" tanya Damarwulan pula.

"Mereka menanti berita dari mata-matanya yang dikirimnya ke Majapahit dan direncanakan, selekas-lekasnya kira-kira sepuluh atau dua belas hari lagi baru mereka berangkat."

"Dapatkah diselidiki, ke mana biasanya Menak Jingga sehabis bersuka ria itu?"

"Yang terang ke rumah Dewi Wahita atau ke rumah Dewi Puyengan," jawab Sabda Palon. "Kedua orang putri itu tinggal berdekat-dekatan, tiada jauh dari sini!" Sabda Palon menunjuk ke rumah tempat tinggal Dewi Wahita kemudian ke rumah Dewi Puyengan, yang berhampiran sekali letaknya.

Adapun kedua rumah itu agak meminggir kota letaknya, terpencil dari rumah-rumah yang lain. Sebelum sampai ke pekarangan rumah itu ada sebuah tegalan dan di tengah-tengah tegalan itu berdiri sebatang beringin yang rindang; akar tunjangnya yang lurus-lurus bergantungan ke tanah menambah gelap dan sepi sekeliling tempat itu. Agak jauh di belakang tegalan itu tanah berlubang-lubang dan berpematang pendek-pendek tiada beraturan, kira-kira sepanjang-panjang tubuh orang. Tak salah lagi di situlah terletak "pendeman"2 warga kota sebelum dilakukan pembakaran mayat (ngaben).

"Sudah diselidiki keadaan dalam rumah Dewi Wahita dan Dewi Puyengan itu Paman!?" tanya Damarwulan kepada Naya Genggong.

"Sudah, Den!" sahut Naya dengan cepat, "Beres..." "Beres bagaimana?"

Rupanya pengawal-pengawal yang diperintahkan menjaga putri-putri itu dengan diam-diam telah pergi pula ke tempat orang mengadakan tayuban, sehingga yang ada di rumah itu hanya seorang perempuan tua, Mbok Suti, yang sedang tidur di rumah depan. Dewi Wahita dengan Dewi Puyengan sedang bercakapcakap di rumah belakang ketika saya tinggalkan "

"Paman Sabda...!!" seru Damarwulan pula, "Paman tinggal di sini. Kami akan pergi dengan Paman Naya mengunjungi Mbok Suti dan kedua orang putri itu." Sabda Palon melihat ke kiri dan ke kanan, takut rupanya. Sebelum is sempat berkata, Damarwulan sudah hilang dalam gelap malam, diiringkan Naya Genggong. Keduanya mengendapendap masuk ke pekarangan rumah Dewi Wahita. Naya Genggong terus mendekati dinding dan berjalan lambat- lambat sepanjang parit dinding itu. Malang, kakinya terpijak pada ujung batu parit yang longgar, "rrrak" bunyinya.

"Wahita...!" seru Mbok Suti ketakutan, sekujur badannya gemetar.

"Jangan kaget, Mbok saya Naya, yang datang tadi. Ini Raden Damar, utusan Ratu Majapahit ingin bertemu dan berbicara dengan Putri Wahita...." Suara Naya Genggong telah dikenal oleh perempuan itu.

Setelah berdiam diri sebentar Mbok Suti lalu membukakan pintu. "0, Dik Naya!" katanya pula tersipu-sipu.

"Raden Damar ingin berbicara sendiri dengan Dewi Wahita serta Dewi Puyengan, Mbok!" ujar Naya dan menunjuk ke arah Damarwulan dengan ibu jarinya. Mbok Suti tercenung seketika, memandang Damarwulan yang masih tertegun di muka pintu, memandang dengan awas berkeliling. Kemudian katanya dengan sangat hormatnya kepada Mbok Suti, "Kami sangat mengharapkan bantuan Mbok...!"

Belum lagi habis Raden Damar berkata-kata, Mbok Suti telah menjatuhkan dirinya, hendak sujud di kaki anak muda itu, tetapi segera dipapah oleh Damarwulan dan didudukkannya ke atas bale-bale tempat tidurnya itu.

"Kami telah mendengar tentang penderitaan dan Mbok serta kedua orang putri itu, mudah-mudahan para dewa menolong kita sekalian!" ujar Damarwulan. "Mbok pura-pura tidurlah kembali. Biarlah kami saja mengunjungi Dewi Wahita dan Dewi Puyengan. Tadi kami dengar keduanya sedang bercakap-cakap."

Setelah membisikkan beberapa hal yang harus diketahui dan diingat Mbok Suti, Damarwulan keluar diiringkan oleh Naya Genggong. Adapun kedua rumah itu berbelakang-belakang letaknya. Naya Genggong diperintahkannya menunggu di pintu belakang, kalau-kalau ada orang datang. la terus menuju ke dinding tempat kedua orang putri itu, mendengarkan percakapan mereka.

Rumah itu amat sederhana keadaannya beratap tanah (genting) berdinding bilik, yaitu bilah-bilah bambu yang dianyam. Apa yang dibicarakan kedua orang putri itu nyata juga kedengaran dari luar, sekalipun keduanya berbicara sangat lambat-lambat sekali, seperti berbisik-bisik lakunya.

"Bagaimanalah untung kita, Dinda Puyengan!" ujar Dewi Wahita, seperti berputus asa seraya memeluk Dewi Puyengan, yang bertubuh ramping dan semampai itu serta kelihatan lebih muda usianya.

"Yunda Wahita...!" sahut Dewi Puyengan dengan tenang.

Sekalipun umurnya lebih muda dan jika diamat-amati benar kelihatannya masih anak-anak, paling tinggi baru 15 tahun umurnya, tetapi selamanya ia bersikap tenang. "Marilah kita pasrahkan untung kita kepada Gusti yang Maha Suci!" "Aku ... daripada menanggung malu dan menderita semacam ini sukalah aku mati rasanya. Bila aku dipaksa Sang Prabu sampailah ajalku...," ujar Wahita, seperti berputus asa.

"Yunda Wahita jangan berputus harap demikian," jawab Puyengan, "seluruh Majapahit berdaya-upaya membebaskan kita."

Ia membiarkan badannya dalam pelukan Dewi Wahita beberapa lamanya dan ia seakan-akan mendengar detak-detik jantung Dewi Wahita, yang sedang dalam kecemasan itu. Malam sudah larut, perubahan udara sudah terasa, angin laut berembus dari arah mulut Selat Madura, amat sejuk terasa.

Biasanya larut malam semacam itu Prabu Menak Jingga pulang dari tayuban atau dari melihat pertunjukan wayang. Menurut cerita, pertunjukan wayang pada zaman Majapahit hanya sampai setengah malam, belum lagi semalam suntuk seperti sekarang ini.

"Jika benar seperti diberitakan Mbok Suti, utusan dari Majapahit telah sampai ke dalam kota...," kata Dewi Puyengan dan ia tertegun seketika, mendengar sesuatu dan ia seakan-akan sudah merasa ada orang yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka. "Malam ini atau besok utusan itu akan mengunjungi kita ke sini."

"Nuwun ... kulo nuwun')...," kedengaran suara berseru dari batik dinding.

Dewi Wahita melepaskan pelukan Dewi Puyengan. Keduanya terdiam seketika. Mereka tak lekas-lekas menyahut, ingin mengetahui siapakah gerangan yang datang malam buta itu. Suara itu belum mereka kenal, tetapi Dewi Puyengan yang bijaksana itu, sudah merasa bukan suara orang yang hendak berbuat jahat. Selamanya orang jahat atau orang yang bermaksud jahat, tidak akan memberitahukan kedatangan mereka, jangan pula akan meminta permisi masuk.

"Saya ... dari Majapahit, bolehkah saya bertemu dengan Adinda kedua!?" seru Damarwulan, seraya menuju ke pintu belakang, yang ternyata sengaja tidak dikunci.

"Paman Naya, awasi di luar! Perhatikan tanda-tanda dan petunjuk-petunjuk bala tentara kita...," perintah Damarwulan ketika akan masuk.

Sesampai di dalam Damarwulan tertegun pula beberapa lamanya, kedua orang putri itu didapatinya masih berdiam diri. Ia menatap Dewi Puyengan dan Dewi Wahita berganti-ganti. Keduanya memakai batik tulis seperti lazimnya pakaian putri-putri Jawa di masa itu dan memakai kemben sutra halus, di tanah Pasundan biasa disebut cinde wulung, sesuai benar dengan kulitnya yang kuning keemas-emasan, seperti cahaya teja yang memancar atau tersembul dari sela-sela awan ungu nila warni. Nyata benar kelihatan dada kedua gadis yang sedang meningkat remaja itu bergerak turun naik dengan kencangnya dan kedua ujung teteknya seperti buah yang sedang bernas, seakan-akan hendak membelah kain kemben yang tipis halus itu.

Sebaliknya kedua putri itu, sekalipun telah diberi kabar sebelumnya, amat sangat terperanjat dan kagum melihat kedatangan Damarwulan yang tiba-tiba itu, seolah-olah seorang pahlawan atau perwira Batara Indra yang muncul dengan sekonyong-konyong di hadapan mereka. Keduanya hendak bersuara menyatakan harapan dan kegembiraannya, akan tetapi kerongkongan keduanya seakan-akan tersumbat dan aliran darah mereka terasa lebih cepat naik ke kepala. Demikianlah beberapa lamanya Damarwulan berpandang- pandangan dengan kedua putri yang bernasib malang itu.

"Rayi Wahita dan Rayi Puyengan...," ujar Damarwulan kemudian, seraya mengulurkan kedua belah tangannya, ketika dilihatnya keduanya hendak menjatuhkan diri memeluk kakinya. "Seyogianyalah kita berterima kasih kepada Gusti Yang Mahasuci_ Mudah-mudahan Majapahit serta kita semuanya dilindungi-Nya dari angkara murka. Marilah kita sama-sama memuja kepada para dewa, dalam menghadapi raja Blambangan yang durhaka”

Kedua orang putri itu lalu memeluk dan merangkulnya berganti-ganti, seperti dua orang adik juga lakunya, memeluk kakak sendiri, yang datang akan melepaskannya dari malapetaka yang mahabesar atas diri keduanya, bahkan atas seluruh rakyat Majapahit.

"Untung nasib kami berdua ini terserah dalam tangan Rakanda') Damarwulan!" ujar Dewi Puyengan, sambil melirik arah Dewi Wahita.

Dari Tosari ke Sukapura, dari Mataram ke Boyolali;

Untung kami siapa mengira, sudah tenggelam timbul kembali.

Dewi Wahita segera pula menjawab:

Dari Mataram ke Boyolali, orang Kelakuh menjual jala; Sudah tenggelam timbul kembali,

Raden Gajah datang membela...!

Wahita menjatuhkan badannya ke dada Damarwulan, diikuti oleh Puyengan.

Beberapa lama mereka berbincang-bincang tidak usah dceritakan semuanya di sini. Dewi Puyengan juga yang banyak ceritanya terutama mengenai ilmu dan kesaktian Raja Blambangan itu. Sekaliannya telah dapat diketahuinya, lalu diceritakannya kepada Damarwulan. Malah segala yang bersangkut-paut dengan kerajaan Blambangan dan rakyatnya diketahuinya belaka dari ayahnya, seorang bupati yang setia kepada Seri Ratu Majapahit dan karena bupati itu tiada mau sekongkol dengan Menak Jingga lalu dipenjarakan dan putrinya ditawan.

Diceritakan pula, Prabu Menak Jingga, pada malam itu pergi mengunjungi "tayuban", yaitu peralatan atau tari-tarian yang diadakan untuk merayakan kemenagannya. Sekalian pembesar kerajaannya serta para panglimanya tentu datang belaka, untuk beriang-riang, bergembira-ria. Minum-minuman keras, arak, tuak, nira dan seguir, bertahang-tahang disediakan, tapui atau air tapui bertempayan-tempayan, seakan-akan tidak akan putusputus gelak dan tawa mereka semalam-malaman itu. Mana yang telah mabuk berjalanlah

terhuyung-huyung atau bercakap-cakap semau-maunya, menyebut-nyebut apa saja yang teringat olehnya, yang sebenarnya tidak boleh disebut, berhubungan dengan rahasia ketentaraan atau kunci pertahanan negara.

Bermacam-macamlah keadaan serta peri lakunya tentara yang telah mabuk itu.

Menak Jingga dikelilingi oleh para pembesar, adipati, patih, bupati, serta petinggi-petinggi sekalian. Yang terlalu rapat kepadanya ialah Patih Angkat Buta dan Patih Kot Buta, tiada berhenti-hentinya mereka bercakap-cakap, makin lama makin gembira rupanya dan makin keras suaranya.

Setelah lewat tengah malam barulah mereka pulang ke tempat masing- masing.

Prabu Menak Jingga sebelum kembali ke kepatihan yang dirombak menjadi istana, tempat baginda, lebih dahulu baginda menyimpang ke tempat Dewi Wahita dan Dewi Puyengan itu. Telah beberapa malam Prabu Menak Jingga mencoba mendekati dan menjinaki hati kedua orang putri itu, tetapi sampai kepada saat itu belum berhasil. Harapannya pada malam itu jangan sia-sia hendaknya.

"Engkau dengarkan, hai Dayun!" ujar Menak Jingga kepada pengiringnya, ketika mereka telah tiba di pekarangan rumah itu.

"Keduanya tentu sedang bersuka-suka... Siapa tahu... barangkali keduanya sudah lunak hatinya sekarang... dan telah sepakat dan setuju akan sama- sama menjadi "

Mereka berdiri seketika dekat dinding tempat kedua orang gadis itu, akan mengamat-amati dan mendengarkan percakapan mereka.

"Eh, dengar...! Pasti keduanya sedang membawakan suatu cerita yang mesra. Menggambarkan pertemuan seorang pria... ya... ya... cerita apakah gerangan! Suatu cerita yang amat menggiurkan hati rupanya...," ujar Menak Jingga pula, kemudian diam seketika.

"Pasti keduanya sedang membawakan-ya sedang memainkan dengan bersungguh-sungguh lakon pertemuan seorang satria menjumpai seorang putri. Ah, pandai benar ia menirukan suara serta lagak lagu satria itu. Dengar, dengar ... suaranya betuI-betul seperti suara laki-laki yang sebenarnya, yang sedang berhadapan dengan kekasihnya dan teramat mesra kedengarannya.

Ah... ah_.. seorang satria berhadapan dengan dua orang kekasih...," ujarnya pula terlatah-latah, karena pengaruh minum-minuman di tempat tayuban itu.

"Eh, Dayun...," katanya pula membentak. "Masuklah engkau dahulu.

Tanyakan kepada Wahita dan Puyengan, lakon apakah gerangan yang tengah mereka mainkan itu?"

Ki Dayun lalu membungkuk dalam samar-samar malam itu, hidungnya yang besar itu hampir terbentur ke lututnya, untuk menyatakan hormatnya.

Sebenarnya hatinya sangat kecut, karena jelas bagi telinganya, suara itu bukanlah suara Wahita dan bukan pula suara Puyengan. Setelah mendengar bentak Menak Jingga kedua kalinya barulah ia mengangkat kepalanya dan bergerak lambat-lambat menuju ke pintu depan, lalu berseru-seru, hampir- hampir tiada kedengaran suaranya, karena takut dan gemetar, "Den...! Den !

... Den Ayu!" serunya berulang-ulang sambil mengetuk-ngetuk pintu. "Den !

Den...!" Tidak ada yang menyahut.

"Den Ayu Puyengan...! Den... Den! Den Ayu Wahita !"

"Den !"

Tidak juga menyahut. "Den Ayu Puyengan !" "Den Ayu Wahita ...!. Den... Ayu!"

Dewi Puyengan memandang kepada Damarwulan sambil berseloka:

"Orang Kelakah menjual jala, cemara hidup di rimba Pati. Pandan terletak di Bela perigi, sediakan beras dengan gabahnya; Raden Damar datang membela, esa hidup, kedua mati, Badan tak dapat bercerai lagi, biar kan tewas ketiga- tiganya."

Wahita tersenyum dan membalas:

"Ikan sepat dalam Perigi, sediakan beras dengan gabahnya, hampa padi tanlpi-tampikan, dari Ungaran ke Ambarawa; badan tak dapat bercerai lagi, biar 'kan tewas ketiga-tiganya, apa lagi kita takutkan, mari serahkan badan dan nyawa...!"

Keduanya memeluk Damarwulan dengan penuh kasih sayang seperti memeluk kakak kandung sendiri.

Asyik benar rupanya ketiganya bercakap-cakap. Kemudian terdengar pula mereka tergelak-gelak, tertawa-tawa, terutama Dewi Puyengan, terbuka benar hatinya berhadapan dengan anak muda itu, lupa ia akan penderitaan dan kedukaannya selama ini.

Lembah Ungaran di Ambarawa, akar mengkudal berkait trait, anak penghulu naik kudanya; Mari serahkan badan dan nyawa, persembahan ratu Majapahit, aku dahulu jadi belanya.

Sungguh benarlah mereka sedang membawakan bagian cerita yang teramat menggairahkan dan menggembirakan, yaitu dua orang putri yang sedang meningkat remaja dan seketika telah hampir berputus asa, sebagai tawanan dalam tangan musuh, sekonyong-konyong muncullah seorang satria muda belia, laksana diutus dewa-dewa datang membela mereka.

Cerita itu bukan dongeng, bukan bohong dan bukan pula buat-buatan, tetapi lakon kehidupan yang sesungguhnya telah terjadi atas diri mereka sendiri....

"Hai... Dayun!" seru Menak Jingga pula dengan sebal hatinya_ "Mengapa engkau belum juga masuk ?"

"Bagaimana hamba dapat masuk, kalau pintu tiada dibukakan...!" jawab Dayun bertambah gemetar dan hilang belulangnya serta giginya gemeletuk kedinginan, diembus angin malam.

"Cari jalan lain!" perintah Menak Jingga pula dengan pendek. la sendiri sudah tidak sabar lagi rupanya menahan dingin.

Bagaimana akal Ki Dayun untuk melihat dan mengetahui keadaan kedua orang putri itu serta siapa anak muda yang sedang bercumbu-cumbuan dengan keduanya?

Ditariknya sepotong bambu, lalu ditegakkannya dekat pada tuturan atap, dekat dinding tempat mereka asyik bercakap-cakap itu, kemudian naiklah ia dengan sudah payah. Setelah sampai di atas dikisarkannyalah genteng sebata maka tampaklah gadis itu duduk bersender di atas tempat tidur mengapit seorang jaka. Wahita sebelah kanan dan Puyengan sebelah kiri. Asyik benar rupanya ia bercerita, bergembira ria, berkata-kata kepada kedua orang masyuknya itu. Tak salah lagi, karena mesranya sebentarbentar ia dirangkul ke kanan, kemudian dihela dan dirangkul pula ke kiri.

Ki Dayun mendelik, mulutnya ternganga... kemudian berseru, "Raden Ayu, Sang Prabu Menak Jingga datang berkunjung kemari serta Baginda ingin mengetahui, yang membawakan lakon yang dipertunjukkan itu siapa dalangnya?"

Dewi Wahita menyahut, "Eh Dayun, ketahuilah, bukan dalang yang membawakan cerita ini, tetapi utusan Ratu Majapahit. Katakanlah kepada rajamu, perang sudah akan berakhir dan sedari saat ini, kami bukan lagi menjadi tawanan perang tuanmu."

Ki Dayun, setelah mendengar perkataan Dewi Wahita, segera turun mendapatkan Prabu Menak Jingga serta menyampaikan apa yang didengar dan disaksikannya di tempat itu.

Mendengar cerita Ki Dayun itu, tidak terkira-kira marahnya, sehingga dadanya merah menyala-nyala sampai ke kepalanya, kedua belah incat matanya melotot berapi-api, cuping hidungnya bergerak-gerak, kembang- kempis, kedua belah daun telinganya mengipas-ngipas seperti telinga gajah.

"Mengapa tidak kau tikam perutnya... nyata itu maling," bentaknya, seraya melompati Ki Dayun dengan membulatkan kedua belah tangannya.

"Gusti...!" sahut Ki Dayun ketakutan. "Bagaimana hamba dapat menikamnya, hamba melihatnya dari atas tuturan atap ... dan hamba seorang diri pula, takutlah hamba..._"

Prabu Menak Jingga makin menjadi-jadi marahnya, membentak-bentak dan menghardik-hardik, "Eh! eh! siapa itu di dalam? Jika benar laki-laki maxi keluar "

"Gusti! Gusti...!" seru Ki Dayun pula dengan gugup, "asap asap!"

Tiada jauh dari utara istana tampak kebakaran, asap menjulang ke udara. Berbareng dengan itu Sabda Talon dan Naya Genggong segera pula datang hendak memberitahukan peristiwa itu kepada Damarwulan. Dengan pertanda itu mengertilah tentara Majapahit seluruhnya, baik yang ada dalam kota maupun yang menanti di luar kota, bahwa perlawanan serta penyerbuan telah mulai.

Damarwulan mempererat sabuknya dan memperbaiki letak kerisnya. Baru saja ia melangkahi ambang pintu, hendak keluar, akan mengawasi pertanda yang dilakukan para perwiranya, Damarwulan diterpa oleh Menak Jingga, tak ubahnya sebagai seekor harimau melompati mangsanya. Damarwulan yang berperawakan lincah serta awas itu dengan mudah juga dapat mengelakkan badannya sehingga ia terhindar dari serangan Menak Jingga yang tiada terkira- kira deras datangnya itu. Hampir saja Dewi Puyengan kena oleh keris Menak Jingga yang sudah kehilangan keseimbangan itu. Setelah pintu dibukakannya, ia dan Dewi Wahita sama-sama berdiri dekat hang pintu, mengantarkan Damarwulan dengan pandangan yang penuh pengharapan dan permohonan kepada Sang Hiyang Mahatunggal, "Mudah-mudahan Raden Damar dilindungi !" Menak Jingga, ketika melihat kedua orang putri itu agak reda hatinya dan setelah memandanginya berganti-ganti, sebagai minta pertimbangan atau penjelasan kepada keduanya, ia berkata, "Ai... ai... Wahita dan Puyengan!

Inginkah Adinda kedua menyaksikan kerisku ini mencabut nyawa anak muda "Ai... ai... siapa namamu gerangan?"

"Damarwulan, utusan Ratu Majapahit...," sahut Dewi Wahita.

"Ai, ai... utusan Majapahit, benarkah? Hampir telanjur kerisku menembus perutnya. Mengapa tidak dari tadi engkau jelaskan maksudnya! Bagaimana keadaan Adinda Kencana Wungu ingin benar aku mengetahui keadaannya! Ya... ya... baiklah engkau bercerita dahulu."

Menak Jingga berkata-kata itu masih terbata-bata sebagai orang mencacau. "Adakah gerangan pesannya bagiku?"

Damarwulan menatap dengan tajam.

"Aku malah membawa perintahnya bukan pesannya saja," jawab Damarwulan.

"Sungguh beruntung aku," ujar Menak Jingga pula, "ada pesan Kencana Wungu. Katakanlah pesannya itu !"

"Dewi Suhita atau Ratu Ayu Kencana Wungu mengharapkan sekembali aku ke Majapahit dapatlah mempersembahkan kepala Menak Jingga ke hadapan Seri Ratu "

"Apa? Akan mempersembahkan kepalaku?" ujar Menak jingga. "Engkau yang diperintahkannya mempersembahkan kepalaku kepadanya? Ah, ah, terlalu Kencana Wungu! Aku kira ia sudah berbalik pikir dan memerintahkan engkau kemari akan membawa berita gembira, bagiku menyatakan dia bersedia menerima usulku, menjadi permaisuri Blambangan dan di samping itu ia tetap memerintah Majapahit. Ah... ah, memang terlalu! Berani benar ia memesankan kepalaku kepada anak muda ini! Terlalu... terlalu "

Menak Jingga terdiam sebentar, memperhatikan asap yang mengepul- ngepul makin lama makin besar juga. Sekitar tempat itu didengarnya pula bunyi huru-hara dan ingar-bingar sepanjang jalan. Ia tentu tidak mengerti dari mana asal kebakaran itu dan tidak mengerti pula apa maksudnya.

"Ai, siapa namamu, anak muda?" ujar Menak Jingga pula lalu mendekati Damarwulan. "Engkau kulihat seorang anak muda yang tampan dan cakap! Jika engkau mau aku bersedia melindungi nyawamu, malah aku akan mengangkatmu kelak menjadi seorang yang berkedudukan tinggi di istana Blambangan. Jika engkau mau, akan kujadikan angkau Adipati kerajaan Blambangan, janganlah kautolak usulku yang baik ini, demi keselamatan diri- mu, orang muda! Aku bukan seorang yang bengis percayalah!"

"Terima kasih atas usul dan tawaran Tuan yang manis sebagai madu," dan pahit seperti empedu," ujar Damarwulan. "Sebagai seorang satria Majapahit, saya tetap setia kepada Ratu Majapahit dan tetap menghendaki akan mempersembahkan kepala Tuan, kepada Dewi Suhita, hai Menak Jingga.

Satria sejati sedia berkorban dan berbakti kepada negara dan ratunya " "Hai, hai, coba engkau timbang-timbang dahulu, anak muda! Jangan terburu nafsu...,"jawab Menak Jingga, ketika dilihatnya Raden Damar meraba-raba hulu kerisnya.

"Sayang rupamu yang setampan dan secakap ini menjadi korban senjataku dan darahmu yang masih muda itu akan tertumpah ke bumi. Pikirlah baik- baik, pikirlah sebelum telanjur!"

"Aku bukan bakul') buah yang datang kemari untuk tawarmenawar," sahut Damarwulan pula, "tetapi kedatanganku untuk membebaskan Majapahit, serta akan menghindarkan ratunya dari seorang pengkhianat yang telah menodai namanya serta telah menodai sejarah Jawa-dwipa "

Damarwulan mencabut kerisnya.

Menak Jingga undur beberapa langkah dan kedengaran ia mendehem- dehem kecil, kemudian kelihatan mulunya komat kamit_ Ia rupanya sedang membaca mantra:

Aku tahu mula kerismu,

dari Gunung Kawi, pertapaan datu, asal besi mula ditempa, dititik dicuca di sinar nyala.

Umm... umm…umm…umm asalnya dapat kukaji, dari burni ibu pertiwi.

Aku mengerti asal sesuatu, dari air barang yang cair.

Umm... umm... umm... um....

Sudah kukaji mula segala, kembalilah menurut kehendakku, jadi lemut kembali ke asalnya, barang cair balik ke air.

Karena kulitku telah kuisi bagaikan waja landasan besi, semangatku cula api,

yang selalu membara, menyala, membakar, melebur segala, menjadi hancur binasa

rnana yang kena...

Uum.... urnmm, umrn... ummm....

1) bakul = saudagar, pedagang Damarwulan terpesonalah oleh mantra Benarlah seperti yang diucapkan oleh Menak Jingga. Ketika Damarwulan menunjukkan ujung kerisnya ke tengah- tengah dadanya yang kelihatan memerah bagai bara, ia tiada mengelak sedikit juga, sebaliknya malah membusungkan dadanya sehingga kelihatan mengembung seperti bola yang sedang ditiup. Apa yang terjadi? Keris itu bilut. Matanya jadi berlipat tiga.

Damarwulan terperanjat.

Ketika ternyata mata keris itu tiada melukainya, ia terhuyung seketika, seperti akan jatuh terpelanting. Cepat bagaikan kilat tangannya menjemba ke depan menerpa Damarwulan. Anak muda itu tergegau, terpesona, seperti kena pukul dengan benda keras lalu tersungkur hampir tak sadarkan diri.

"Ha... ha... Anak Muda...!" katanya dan tertawa- tawa dengan garangnya. "Ha... ha... haaaa... sekarang baru engkau merasakan tanganku dan baru

engkau tahu siapa Menak Jingga. Coba sekali lagi kerismu ini dadaku...!"

Ia masih terhuyung-huyung dan meraba-raba, seperti orang yang kurang awas penglihatannya.

"Hai Puyengan, di mana engkau? Jangan dekati dia...!"

Dewi Puyengan dan Dewi Wahita, yang telah beberapa lama mengenal perilaku dan ilmu kebal Menak Jingga itu, berpandang-pandangan. Mereka hendak menolong Damarwulan.

"Puyengan...! Wahita...! biarkan dia... marl tolong aku...! Mari... marl...!

Mari Adik... marl sayang...!"

Bicara Menak Jingga mulai mencacau. Benar-benar ia sudah mabuk, karena banyak minum arak dan tuak dalam tayuban. Ia bergerak berputar-putar, seperti orang sedang mengiringkan anak tandak disertai dengan bernyanyi- nyanyi dengan gembiranya.

Mari Puyengan, mari Wahita mari menari, mari bergembira mari menandak bersama-sama... beriangan-riang, bersuka-cita...!

Mendengar Menak Jingga telah bernyanyi-nyanyi dan menari-nari semacam itu Mbok Suti datang seperti biasanya. Ditolongnya memapah Menak Jingga ke ruang belakang dan mendudukkannya di atas sebuah tapang dari jati.

Puyengan segera mendapatkan Damarwulan lalu membisikkan sesuatu kepadanya; anak muda itu hanya pusing saja sebentar. Setelah dipungutnya kerisnya yang telah hampir bertemu ujung dengan hulunya, ia segera berdiri kembali.

"Menak Jingga mempunyai ilmu tahan besi, Kakang!" demikian katanya. "Ya...! Sekarang baru saya mengetahuinya dan merasainya sendiri. Ya...ya

...saya sudah maklum."

Damarwulan ingat akan petuah guru dan nasihat eyangnya. "Maklum bagaimana, Kakang? Dengan apa akan Kakang lawan...?" "Kakang hanya memerlukan pohon birah air putih sebatang!" jawab Damarwulan. "Dengan besi dia tidak mempan, akan tetapi dengan birah air ia akan "

Di dalam kota api kelihatan makin berkobar-kobar, perkelahian terjadi di mana-mana. Di sekitar rumah itu perkelahian antara Ki Dayun dengan Sabda Palon tidak kurang hebatnya, dibantu oleh Naya Genggong. Di sekitar istana yang dijaga oleh tentara Menak Jingga dan dibantu oleh barisan Patih Prabalingga terjadi pertempuran besar-besaran melawan tentara Menak Koncar.

Menak Jingga setelah beristirahat sebentar, lalu bangun kembali. Rupanya lekas jua ia teringat akan musuhnya atau mungkin ia merasa telah waktunya kembali ke istananya tengah malam itu.

"Puyengan ...Puyengan...!" katanya memanggil-manggil. "Wahita ...! Wahita

...! panggilkan Ki Dayun, aku mau pulang."

Rupanya ia belum sadar benar dan belum menyadari bahwa telah terjadi perkelahian besar dimana-mana diseluruh kota.

"Prabu Menak Jingga...!" seru Damarwulan dengan lantang suaranya, "Ketahuilah aku diutus Seri Ratu Dewi Suhita, datang ke Prabalingga ini, akan menjemput jemala Tuan. Sekiranya Tuan dengan rela menyerah dan bersedia tunduk kepada Seri Ratu, aku akan menyerahkan Tuan berikut kepala Tuan hidup-hidup. Tuan saya beri kesempatan berpikir seketika!"

"Apa ...? Saya dan kepala saya akan dibawa hidup-hidup kepada Dewi Suhita...?" sahut Menak Jingga.

"Ya ... ya... sampeyan'? akan saya bawa menghadap kepada Sang Prabu Kencana Wungu!"

"Kencana Wungu...? Kencana Wungu... yang masyur itu," jawabnya terbata- bata.

"Tetapi bersediakah Seri Ratu berunding dengan saya tentang usul saya, yang telah pernah disampaikan kepada Seri Ratu ?"

"Pasti tidak!" ujar Damarwulan. "Sampeyan akan digiring ke Majapahit sebagai seorang tawanan, sebagai penjahat perang yang akan diadili!"

"Ah... ah...! Bagaimana saya dapat menyembunyikan muka saya berhadapan dengan Dewi Suhita yang amat mulia, yang sangat saya cintai !"

Sekitar tempat itu dan di sepanjang alun-alun di sekitar kepatihan pertempuran berlangsung dengan hebatnya.

Patih Angkat Buta dan Patih Kot Buta, kaki tangan Menak Jingga, segera juga dapat diringkus oleh tentara Majapahit.

Menak Jingga lama juga berhadapan dengan Damarwulan, serang- menyerang dan terpa-menerpa berganti-ganti, seakan-akan tidak akan habis- habisnya perkelahian itu, disaksikan oleh Dewi Puyengan dan Dewi Wahita yang tak dapat berbuat apa-apa untuk membantu. Akhirnya ketika perkelahian keduanya telah beralih ke luar rumah, Raden Damarwulan berhasil merenggutkan batang birah air yang kebetulan tumbuh di pekarangan itu. Batangnya yang tua berwarna kekuning-kuningan, lalu dipukulkannya ke batang leher Menak Jingga yang kebal karena is menaruh ilmu tahan besi itu.

Tentu aneh, ya, memang terlalu aneh kedengarannya, seorang raja yang tiada teralahkan selama ini, yang menakutkan dan menggemparkan penduduk dan pembesar-besar kerajaan Majapahit, tiba-tiba telah berhasil dikalahkan, ditundukkan bahkan telah terbunuh dengan sekerat batang birah air (talas) tua yang telah kekuning-kuningan warnanya. Oleh penyebar-penyebar berita itu kemudian, yang sejengkah telah disiarkan sehasta, yang sehasta dikatakan sedepa, dua depa, sepuluh depa dan seterusnya. Tidak disesalkan, apabila dalam cerita rakyat di tanah Parahiyangan diberitakan, dipukul dengan Wesikuning dan di daerah Jawa Timur dengan sebuah gada yang sakti.

Orang-orang Nusantara zaman itu percaya kepada ilmu gaib dan mantra- mantra. Damarwulan tentu telah memperoleh bermacam-macam ilmu pula di pertapaan-pertapaan sekitar Paluh Amba.

Apabila Damarwulan mendapat sambutan luar biasa, tentu sudah pada tempatnya dan tidak urung telah jadi berbagai-bagai pula cerita tentang dirinya.