Damarwulan Bab 08 : Berita dari Paluh Amba- Cinta dan Kew jiban

Bab 08 : Berita dari Paluh Amba- Cinta dan Kew jiban

Selama tinggal di ibu kota Majapahit banyak pengalaman Damarwulan bertambah. Panca mdranya seakan-akan semakin tajam, pendengarannya semakin nyaring, pemandangannya bertambah awas dan jauh, pertimbangan dan perhitungannya bertambah teliti.

Sekalipun umurnya muda sekali, tetapi karena pendidikan dan pergaulannya di Paluh Amba. Damarwulan banyak berpikir dan merasakan. Sebagai kesatria sejati, ia beroleh pendidikan yang sempurna dari kakeknya yang telah menjalani darmanya di hari tuanya sebagai Maharesi serta dari ayahnya sendiri bekas patih kerajaan Majapahit, yang dengan rela hati menyerahkan kepatihannya kepada saudara sendiri. Akan tetapi sebagai anak desa, yang sehari-hari bergaul dengan kaum tani, rakyat biasa atau orang bawahan, Damarwulan selalu mempercermin kehidupan masyarakat yang sebenarnya melihat sendiri kesusahan dan kesulitan rakyat. Di samping itu dilihatnya pula golongan ksatria yang menempatkan dirinya terlalu tinggi di atas kasta-kasta atau golongan yang lain, serta memperlakukan mereka dengan tiada semena- mena, bahkan telah jauh di luar garis keadilan dan peri kemanusiaan, terutama pada masa yang akhirakhir itu. Agama dan kaum brahmana hampir- hampir tiada berdaya lagi. Ketika itu pula seperti telah diceritakan di daerah pesisir utara telah masuk pengaruh dan teladan kehidupan yang baru menurut ajaran Islam.

Sekalian pertentangan itu berkesan serta berpengaruh ke dalam jiwa Damarwulan. Ayahnya dahulu acapkali mengatakan kepadanya, hati nurani sendiri adalah ibarat matahari yang menyinari jalan kehidupan. Pernah pula orang tuanya mengatakan, jalan kehidupan yang akan dilalui terentang dalam hati sendiri, kita mesti melaluinya dengan awas barulah kita dapat selamat sampai ke ujungnya. Karena sesuatu yang tiada sesuai dengan hati atau kemauan sendiri, tidaklah mungkin dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Dipandang sepintas lalu Damarwulan seakan-akan orang yang amat keras rupanya. Memanglah demikian! Sebaliknya is selalu menjalankan kewajibannya dengan pikiran yang tenang. Sebagai kesatria sejati, ia selalu membela dan mengutamakan kebenaran dan keadilan. 

"Apa lagi yang Kakanda nantikan?" tanya Dewi Anjasmara pula. "Inginkah Kakanda membiarkan Majapahit hancur, sedang Kakanda sendiri sesungguhnya dapat membelanya!? Kakanda sendiri mengatakan, tugas kesatria membela negara dari kehancuran, akan tetapi Kakanda sendiri sekarang masih diam berpangku tangan."

Anjasmara makin mendekatkan dirinya kepada Damarwulan dan membiarkan tangannya dipermainkan kekasihnya. Kemudian dengan menyandarkan kepalanya ke dada Damarwulan, ia berkata pula, "Aku ingin mengetahui apakah gerangan yang selalu mengganggu hatimu, kekasihku?"

"Rahasia kehidupan, Anjasmara, yang selalu menyelimuti jiwaku seperti awan hitam yang menutupi muka bumi," jawab Damarwulan.

"Jiwa Kakanda barangkali masih dipenuhi perasaan dendam kepada Ayahanda?"

"Kalau begitu, pastilah kepada Kakanda Layang Seta dan Kurnitir?" "Demi dewa-dewa, tidak, kekasihku!"

"Percuma Kakanda belajar kebatinan dan kesatriaan bertahun-tahun di asrama Paluh Amba, jika di hati Kakanda masih membekas kedengkian saudara sendiri."

"Kalau begitu apakah yang membimbangkan hati Kakanda?" desak Anjasmara. Setelah berdiam diri seketika dan tidak juga beroleh jawaban, ia bertanya pula, "Tidakkah Kakanda mendengar berita dari istana?"

"Tentang apa maksud Adinda?"

Sebaliknya Damarwulan sekarang yang bertanya.

"Kesatria yang berhasil mengalahkan Menak Jingga akan diberi kedudukan yang setinggi-tingginya di seluruh Majapahit. Apabila ia menghendaki, Seri Ratu bersedia mendudukkan kesatria itu di samping Baginda untuk dapat memerintah bersamasama. Adakah kemuliaan yang lebih tinggi dari itu? Selain Tuan akan memerintah seluruh Majapahit, Kakanda akan mempersunting Kesuma Jawadwipa yang tiada taranya, yang sedang harum mewangi ke seluruh Nusantara," jawab Anjasmara, mengangkat kepalanya dari ribaan Damarwulan dan melepaskan tangannya dari genggamannya, kemudian mena tap dengan tajam kepada anak muda itu.

"Masihkah Adinda menyangsikan hati Damarwulan yang telah rela mengabdikan dirinya di kepatihan ini, semata-mata terikat kepada dara yang dicintainya?! Kalau tidak karena itu, sudah lamalah ia meninggalkan ibu kota Majapahit yang selalu dalam huru-hara, pergi berkelana dan mengembara entah ke mana!" ujar Damarwulan sambil meraih tangan Anjasmara yang halus itu ke haribaannya.

"Hamby seperti mungkir menjalankan kewajiban hamba, tetapi Anjasmara, ketahuilah jauh dalam lubuk hati hamba, hamba ingat senantiasa, bahwa hamba akan pergi ke Wirabumi. Dewadewa mudah-mudahan menolong hamba untuk membela nama Majapahit, tetapi tidak karena mengharapkan mahkota. Apalagi karena ingin hendak mempersunting Kesuma Jawadwipa, seperti sangka!"

"Tidakkah engkau dengar, Damarwulan, berapa banyak medan perang, karena tergila-gila oleh kecantikan dan keayuan Ratu Kencana Wungu, bermimpikan hendak bersanding dengan Ratu Majapahit yang amat muda belia itu!"

"Terutama Kakanda Seta dan Kumitir, bukan? Tidak patutnyalah hamba turut bersaing dengan saudara sendiri," jawab Damarwulan tersenyum. "Hamba senantiasa mengharapkan akan jadi iparnya, bukan jadi saingannya....

Anjasmara pun tersenyum pula, mengerling kepada Damarwulan.

Sejurus lamanya keduanya sama-sama berdiam diri, samasama membiarkan diri dipermainkan, dibuai dan diayunkan perasaan ma.sing- masing.

Kemudian Damarwulan berkata, "Anjasmara, hamba telah mengambil keputusan untuk berangkat ke Wirabumi bersama bala tentara. Tetapi sebelum berangkat, hamba ingin mendapat kepastian kawin dengan Adinda!"

Dewi Anjasmara tidak menjawab, ia agak terperanjat, kelihatan warna merah naik sekonyong-konyong ke mukanya laksana rona fajar dini hari menanti siang yang cerah dan terus menatap kepada Damarwulan.

"Bagaimana pendapat Adinda? Ke medan perang itu berarti mempertaruhkan nyawa, hidup atau mati, sebelum berangkat hamba ingin beroleh kepastian. Keinginan Kakanda ini supaya direstui pula oleh Seri Ratu. Permintaan hamba hanya satu, sebelum meninggalkan Majapahit, supaya kita kawin terlebih dahulu. Jika sekiranya hamba harus gugur di medan perang, seandainya hamba meninggal dunia, damailah hati hamba masuk ke surgaloka, karena hamba telah mengenal bahagia cinta di dunia ini."

"Mana kemauan Kakanda, Adinda turut... terserah kepada Kakanda," demikian jawab Anjasmara, lemah lembut.

Setelah berkata itu, Damarwulan berdiri dan menuju ke tempatnya, rupanya hendak berkemas. Tak lama kemudian kelihatan Sabda Palon dan Naya Genggong datang dengan seorang utusan dari Paluh Amba. "Gusti, ada utusan dari Paluh Amba, membawa berita buruk. Di mana Raden Damar?" ujar Sabda Palon.

"Berita apa yang dibawa utusan itu?" tanya Anjasmara dengan cemas. "Bunda Damarwulan sakit keras."

"Damarwulan hendak berangkat bersama bala tentara ke Wirabumi," sahut Anjasmara, "ada berita semacam ini!"

"Damarwulan hendak berangkat ke Wirabumi, betulkah, Gusti?!" ujar Naya Genggong pula. "Kalau begitu biarlah aku kembali ke Paluh Amba."

"Dengar, Gusti!" kata Sabda Palon sambil menunjuk kepada Naya Genggong, ""belum apa-apa si Naya sudah takut, hendak melarikan diri ke Paluh Amba."

"Bukan takut," jawab Naya Genggong, "kita perlu menghibur dan membela yang sakit itu."

Damarwulan selesai berkemas, ia masuk kembali berpakaian kesatria, di tangannya telah tersedia sebuah lontar. Anjasmara segera menyongsongnya dengan agak gugup dan cemas.

"Damarwulan, kekasihku! Apa pun yang akan terjadi, janganlah lupa.

Anjasmara senantiasa ada di sisi Kakanda," ujarnya.

"Wajah Adinda tak 'kan pernah lagi hilang dari rongga hati Kakanda," jawab Damarwulan. Kemudian ia menoleh kepada utusan yang datang dari Paluh Amba dan bertanya, "Mengapa engkau disuruh datang kemari?"

"Jangan terkejut, Damarwulan, is membawa berita sedih bagi Kakanda," ujar Anjasmara pula.

"Sakitkah bundaku, Sora...? Katakan terus terang!"

"Sesungguhnya demikian Bunda sakit payah, Raden, dan selalu memanggil Tuan, karena tak ada harapan lagi."

Damarwulan terperanjat, kemudian menundukkan kepalanya, sangat berduka cita rupanya. Tangannya dipegang Anjasmara dan berkata, "Baiklah Kakanda berangkat ke Paluh Amba terlebih dahulu. Tentu Ibunda sangat merindukan kedatangan Kakanda."

Damarwulan mengangkat kepalanya dan memandang dengan tenang, kemudian berkata kepada kedua orang punakawannya, "Sabda Palon dan Naya Genggong, kembalilah kalian berdua dahulu ke Paluh Amba. Persembahkan baik-baik kepada Ibunda, pada saat ini saya tidak dapat datang, karena harus berangkat ke Wirabumi. Jangan lupa mempersembahkan salam baktiku yang sedalam-dalamnya." Damarwulan terdiam. "Kewajiban kepada negara memaksa hamba menahan rindu kepada Bunda."

Sabda Palon dan Naya Genggong berpandang-pandangan dan mendengarkan perintah Damarwulan dengan suka citanya.

"Bundaku tentu mengetahui, bahwa cinta-kasih putranya tiada berhingga, tetapi negara lebih utama daripada urusan keluarga. Sekiranya malang datang, menimpa, ibuku meninggal dunia, mintakanlah rahmatnya bagi anaknya dan sampaikan sembah sujudku kepada Bunda yang tercinta." Damarwulan segera berangkat.