Damarwulan Bab 05 : Ksatria Jadi Tukang Arit

Bab 05 : Ksatria Jadi Tukang Arit

Sepanjang pasar orang-orang pada melongoz) keheranheranan melihat seorang ksatria muda, sangat tampan dan gagah, membawa arit menuju ke lembah Kali Berantas, diiringkan oleh dua orang punakawannya3 , masing- masing menyandang cerangka4). Matahari baru menyentak naik, belum jauh dari tepi langit, cahayanya masih lembut menyegarkan. Apa lagi semalam- malaman hari hujan dan air sungai pada pagi itu agak besar, kuning kemerah- merahan warnanya; embun di daun dan di rumput belum lagi kering, putih berkilau-kilauan rupanya, ditimpa sinar matahari pagi itu.

"Aduh... sayang, Den!" ujar seorang baku15 yang hendak turun ke kali, lalu merebut arit dari tangan Damarwulan dan menyerahkannya ke tangan orang lain, yang sama-sama berdiri di dekatnya. Perempuan itu kemudian bergegas- gegas menuju ke sungai.

"Mari Raden... silakan duduk di kedai saya saja!" ujar perempuan itu pula setelah ia naik dari kali kembali, "biarlah Pak Suta yang mengiai cerangka- cerangka itu. Sayang benar tangan yang kuning bersih dan kuat seperti tangan Raden ini memegang tangkai arit!"

"Saya anak desa Yu" sudah terbiasa melakukan segala pekerjaan yang berat-berat," jawab Damarwulan pula merendahkan diri. Adapun bakul itu, Sarinten namanya, memang seorang perempuan yang curiahan, pandai bergaul dan pandai mengambil hati siapa saja. Kedainya selalu rarnai, tak putusputusnya orang keluar masuk; tua muda tertarik kepadanya, karena pandainya membawakan diri. Melihat perbuatan Mbakyu Sarinten dengan Damarwulan itu orang-orang yang sedianya tidak akan mampir terpaksa mampir, karena ingin mengetahui siapakah gerangan anak muda itu dan kedua orang punakawannya. Sebentar saja telah penuh kedai itu dan Sarinten makin repot kelihatannya, ada yang meminta kopi panas, kopi pahit atau kopi mans, ada yang mau makan, ada yang menanyakan ini dan itu, hampir-hampir tiada dapat dilayaninya sekaliannya itu. Apalagi pikirannya sebagian telah tertumpah kepada anak muda yang ada di dekatnya itu. Kalau ada yang bertanya atau meminta apa- apa dijawabnya, "Silakan ambil sendiri...!"

Orang-orang yang minta susuk uangnya tidak dihiraukan atau disuruhnya mengambilnya sendiri dari dalam tempat uangnya atau dijawabnya, "Nanti.._ nanti...!"

Ada juga yang mendesak, karena telah berulang-ulang is meminta, maka dijawabnya dengan tertawa, "Masa bodo ...!" Ia melenggang ke sana, melenggang ke sini, tak tahu apa yang akan dilakukannya.

"Maaf, ya, Den!" katanya sebentar-sebentar kepada Damarwulan. Tamunya makin lama makin banyak itu.

Di kedai yang di sebelah, tempat Mbok Suta, tiada terkirakira pula ramainya.

Setelah disediakan kopi hangat, masingmasing secawan penuh, Naya Genggong dan Sabda Palon tiada putus-putus ceritanya, memuji-muji Raden Damarwulan, menerangkan asal-usulnya, pertaliannya dengan Patih Logender, pergaulannya dengan anak-anak desa di sekitar pertapaan kakeknya di Paluh Amba. Hanya yang tiada diceritakannya bagaimana keberadaan Damarwulan waktu pergi ke Blambangan, karena memang telah dipesan oleh tuannya, supaya merahasiakan hal itu kepada siapa saja.

Demikianlah terjadi Hap-flap pagi. Damarwulan keluar dari belakang kepatihan akan menyabitkan rumput untuk kuda Patih Logender, sesampai di pasar orang-orang secara bergotongroyong atau dengan sukarela menyabitkan rumput itu dan setelah penuh cerangka-cerangka itu dengan suka hati pula mereka mengantarkannya ke kandang kuda yang terletak agak terpisah di belakang kepatihan dengan tiada setahu Layang Seta dan Layang Kumitir.

Pada waktu Layang Seta dan Layang Kumitir datang memeriksa ke dalam kandang, keduanya amat heran melihat rumput banta yang hijau-hijau dan muda-muda, lagi panjangpanjang dan segar-segar daunnya. Diperhatikannya pula sekalian kudanya amat lahap makannya, seperti sekalian kuda itu baru menemui rumput yang sesegar dan sebaik itu. Diperhatikannya pula sekeliling kandang itu, sekaliannya kelihatan bersih dan teratur letaknya, tidak satu pun dapat dicela. Bahkan pekarangan kepatihan itu seluruhnya, dari-muka sampai belakang, harus diakuinya, telah berubah dan sangat bersih rupanya. Tetapi yang mengherankannya bila gerangan mereka bekerja membersihkannya.

Selama mereka tinggal di kepatihan, apabila keduanya bangun pukul tujuh atau pukul setengah delapan pagi, kolam mandinya selalu penuh dengan air. Pikirnya tentu telah diisi oleh Sabda Palon dan Naya Genggong pula.

Damarwulan pagi-pagi sekali sudah bangun, lalu membersihkan kandang dan Sabda Palon menimba air di dapur dan mengisi bak mandi dan Naya Genggong menyapu dan membereskan latar. Biasanya sebelum Juragan Patih sekeluarga bangun pekerjaan mereka sudah selesai. "Baik... biar dirasainya...," kata Layang Seta kepada Layang Kumitir. Ia mendapat akal.

"Bagaimana rencanamu?" tanya Kumitir pula.

"Aritnya yang tajam ini kits ganti dengan arit yang tumpul," ujar Seta pula lalu disembunyikannya arit yang biasa dipakai Damarwulan itu.

"Ya... ya... sekalian," kata Kumitir pula, "cerangkanya harus diganti dengan yang lebih besar." ...

Setelah selesai permufakatan, keduanya keluarlah menuju kepatihan.

Keesokan harinya pagi-pagi alangkah terperanjat Damarwulan melihat arit yang biasanya dipakai, ya, yang biasa dibawanya, sudah berganti dengan arit kecil yang telah tumpul dan merah berkarat matanya.

"Lihat cerangkanya...," teriak Sabda Palon pula, "hampir tengah dua depa lebar mulutnya "

"Ah... ini bukan tempat rumput," sahut Naya Genggong pula kecemasan. "Seluruh sampah pasar dimasukkan ke dalamnya belum tentu akan penuh!"

Naya Genggong dan Sabda Palon berpandang-pandangan.

"Bawa sajalah!" ujar Damarwulan pula setelah memperhatikan kedua cerangka raksasa itu dan ia masih menimangnimang arit kecil yang tumpul berkarat itu, yang sesungguhnya oleh punakawan-punakawannya itu. tiada sepadan sedikit juga dengan kedua cerangka yang dipegang

"0, ya...," kata Damarwulan pula, ketika ketiganya telah hampir sampai di jalan raya, "Asahan yang besar harus dibawa juga!" Rupanya baru terpikir olehnya akan mengasah arit yang telah majal itu.

Sabda Palon berlari-lari kembali menjemput asahan itu.

Ketika mereka sampai ke pasar, orang-orang pasar pada keluar pula.

Mereka sampai tertawa geli melihat Naya Genggong terbungkuk-bungkuk, karena keberatan memikul kedua buah cerangka itu dan Sabda Palon menyandang asahan besar hampir sebesar pangkal pahanya serta Damarwulan menjinjing sebuah arit kecil, tak cukup dua jari lebaruya, yang telah merah berkarat, karena sudah lama tidak dipakai.

Ada yang berkata begini, "Rupanya manusia selagi berkuasa, lupa akan timbang dan periksa, tidak memakai alur dan patut, segala kemauannya mesti diturut, apa kehendaknya mesti berlaku !"

Yang lain, "Aduh... Raden Bagus! Sampai hati Paman menyuruh dan menyiksa diri Raden..:! Tidak sepatutnya badan semuda dan setampan ini menjinjing arit butut"."

"Ini lebih dari menyiksa dan lebih dari menganiaya!"

"Ya... ya... suatu hukuman yang terlalu berat kepada seorang ksatria seperti Damarwulan, apa lagi sebagai keponakannya sendiri !"

"Karena itu...," jawab yang lain pula dengan keras suaranya. "Anak-anak Patih Logender ketakutan dan menaruh iri hati kepadanya!" Bermacam-macamlah pendapat mereka dan mereka kenal belaka akan keangkuhan Layang Seta dan Layang Kumitir. Banyak pula di antara mereka yang masih kenal dan ingat akan keramah-tamahan bekas Patih Udara, orang tua Damarwulan, ketika ia lagi dalam pemerintahan. Banyak pula di antara mereka yang merasa masih berutang budi kepada kebaikan dan per- lindungannya, karena memang Patih Udara dikenal sebagai seorang yang berbudi halus dan jujur selama menjalankan tugas pemerintahan.

Sekaliannya berebut-rebut hendak memperlihatkan bakti dan tanda terima kasihnya, sebagai pernyataan bahwa mereka belum melupakan jasa-jasanya kepada masyarakat selama ini. Sedapat- dapatnya mereka akan menyokong dan bersedia menolong Damarwulan, dengan jalan apa saja.

Cerangka itu mereka isilah bersama-sama dan sebentar juga padatlah keduanya lalu mereka antarkan pula ke kandang kuda di belakang kepatihan itu.

Setelah lohor Layang Seta dan Layang Kumitir datang pula memeriksa. Mereka sangat heran bagaimana mungkin Damarwulan dapat mengisi dan membawa kedua cerangka itu ke dalam kandang. Hati keduanya amat sebal bercampur gemas! Niat jahat mereka tidak berhasil, akan menfitnahkannya kepada orang tuanya.

Ketika kembali ke kepatihan Dewi Anjasmara berkata kepada kedua orang saudaranya, abangnya sendiri, begini, "Tidak patut Kakanda terlalu melecehkan dan menghina saudara sendiri, yang bersikap sangat baik dan patuh. Para dewa tidak akan menyetujui 'perbuatan jahat itu dan manusia tiada akan menyukai kelakuan Kakanda seperti itu. Percayalah Kakanda kedua, niat yang jahat akan berbuah jahat juga, sebaliknya hati yang baik direstui dan disukai sekalian orang!"

Layang Seta dan Layang Kumitir tidak menyahut, melainkan memandang dengan tajam dan tampak rupanya tiada senang mendengar teguran Dewi Anjasmara dan berjalan menuju ke tempat Damarwulan.

Dari jauh Anjasmara telah tersenyum memandang kepada bulu kuda dengan sikat besi dan menyapu kandang.

"Sampaikan kepada Kakanda Damar, aku ingin berjumpa dengan dia! Sedang mengapakah ia gerangan ...?" katanya dengan lernah-lembut.

"Biasanya, apabila ia kami tinggalkan seorang diri, tentu ia duduk termenung rnengenangkan kekasihnya," sahut Naya Genggong berkelakar.

"Tahukah Paman, ia telah mempunyai kekasih?" tanya Anjasmara agak ragu-ragu.

"Tahu benar, Ndara"! Karena selalu kami perhatikan pada wajahnya, yang selalu bermuram durja," jawab Sabda Palon.

"Tahu pulakah Paman, siapa kekasihnya itu?" tanya Dewi Anjasmara. "Kami kira," sahut Naya Genggong pula, "pasti Ndara sudah

mengetahuinya...!"

"Sungguh mati aku tidak tahu!" "Tidak mengetahuinya, tetapi barangkali dapat merasakannya," kata Sabda Palon pula mengganggu, seperti bersungguhsungguh benar rupanya.

"Sungguh tidak!" ujar Dewi Anjasmara pula.

"Sekarang biarlah kami katakan terus terang: Kekasih yang selalu dikenangnya dari Paluh Ambalah...

Dewi Anjasmara sendiri," jawab mereka serempak.

Dewi Anjasmara menunduk dan terdiam seketika, kemudian membalikkan badannya ke arah Naya Genggong dan Sabda Palon.

Kelihatanlah wajahnya yang halus itu mulai memerah warnanya, sebagai buah beriang yang mulai masak di balik daunnya yang tengah segar menghijau. Beberapa lamanya ia menatap dengan tidak mengedip-ngedip kepada kedua orang punakawan itu dan sebaliknya Naya Genggong dan Sabda Palon pun terpaksa pula memandang tenang- tenang kepadanya sebagai berkaca ke dalam cahaya matanya yang indah,

tenang dan Bening itu. Kemudian seakan-akan terlompat dari celah bibirnya yang selalu menggumam senyum, "Dari mana Paman dapat mengetahuinya?"

"Kalau kami diberi upah, ...," sahut Sabda Palon pula, "akan kami ceritakan segala rahasianya terhadap diri Dewi."

"Baiklah!" jawab Anjasmara dengan amat girang hatinya, "Nanti Paman akan menerima upah.... Tolonglah sampaikan. Saya ingin menemui Kakak Raden Damar...!" Ia menuju ke pintu bilik

Damarwulan setelah Naya Genggong menyampaikan pesannya.

Tempatnya itu di ujung kandang kuda itu, yang hanya dibatasi sebuah ruang terbuka tempat menaruh pakaian kuda dan alatalat yang lain, kelihatan Damarwulan sedang berbaring di atas tapang, memandang tenang-tenang ke atas, seperti sedang membilang-bilang atap; kedua belah tangannya terletak bertindih di bawah kepalanya.

"Kakanda... Damarwulan!" ujarnya setelah mengamat-amatinya beberapa lamanya dari ambang pintu.

Damarwulan berdiam diri saja, diulangnya sekali lagi dan... sekali lagi, tetapi tiada juga ia menyahut.

Anjasmara lalu masuk dan berseloka:

Buah mendam buah kenikir, tambah dengan buah melinja, buah leci buah pala;

Kakak demdam kepada Kumitir, dua dengan Layang Seta, janganlah membenci hamba pula...!

Damarwulan membalikkan mukanya ke arah Dewi Anjasmara dan memandang dengan pemandangan acuh tak acuh, kemudian menatap jauh ke luar, melalui pintu yang terbuka itu.

"Mengapakah Kakak tak entang') hamba dekati. Hamba mendekat, Kakak menjauh. Apakah salah pada badan seakan-akan jijik Kakak memandang muka hamba...," katanya pula agak berhiba hati.

Damarwulan baru bangun, seperti orang baru tersadar dari lamunannya, katanya:

Bawa ke Sumba perahu cadik, perak bakar sepuh suasa, hiasan anak Kampung Dalam,

di waktu malam terang purnama, memuat pengayuh berdepa-depa; Bukan hamba membenci Adik, sejak dari Paluh Amba,

Adik dirindukan siang dan malam, baru raja didengar nama, sesaat Adik sungguh tak lupa.

Anjasmara membalas:

Tiada berbeda penanggungan hamba, baru sekali kita bertemu, sejak Kakak dari Paluh Amba, sering badan lupakan diri,

cinta kasih termateri sudah, berjumpa sekali tak hendak berpisah, ingatan selalu pada Kakanda; sebabnya Adinda datang kemari,

jiwa tak tahan menanggung rindu,

rasakan putus hubungan nyawa, air diteguk rasakan duri , nasi dimakan berasa gabah,

duduk tegak selalu gelisah, kasihanlah Kakak kepada Adinda!

Tengah keduanya berpantun dan berseloka itu, kedengaran suara Layang Seta dan Layang Kumitir membentak-bentak Naya Genggong dan Sabda Palon, "Bukan digosok saja tetapi mulai besok sebelum menyabitkan rumputnya, sekalian kuda itu harus dimandikan bersih-bersih dahulu ... direnangkan di Kali Berantas. Mengerti!"

"Inggiiih Ndara'"...!" jawab mereka serempak. Karena takut akan dilihat kedua orang saudaranya, Dewi Anjasmara lalu bergegas-gegas keluar, mengambil jalan menyusur pagar dan dengan diam- diam masuk ke kepatihan.