Damarwulan Bab 01 : Mengundurkan Diri dari Pemerintahan

Bab 01 : Mengundurkan Diri dari Pemerintahan

"Bagaimana anak kita, Nawang ... selama engkau tinggal di desa tanya Patih Udara kepada istrinya, Nawangsasih.

"Tentang apanya maksud Kakanda?" Nawangsasih kembali bertanya kepada suaminya, yang baru saja pulang, sambil menatap dengan tenang.

Patih Udara sejak mengundurkan diri dari pemerintahan hampir-hampir tiada lagi memikirkan kehidupan rumah tangga keluarganya. Berminggu- minggu lamanya bahkan adakalanya berbulan-bulan ia meninggalkan anak istrinya di desa lereng Gunung Arjuna. Sekali-sekali ia pulang, yang pertama ditanyakannya, bagaimana keadaan anaknya, Damarwulan.

"Maksud Kakanda, kesehatan dan kelakuannya! Selama Kakanda tiada di rumah ...?"

Belum sampai Nawangsasih menjawab, kedengaranlah Raden Damar datang dengan kudanya. Patih Udara berpaling dan menoleh ke pintu. Jelas tampak olehnya, bagaimana tangkas anaknya melompat dari atas punggung kuda.

Baru saja kakinya tercecah ke tanah, tali kuda dilemparkannya kepada Sabda Palon, yang segera datang berlari-lari mendapatkannya. Beberapa langkah Damarwulan maju, kemudian dia berbalik dan melemparkan cambuk kuda yang masih ada di tangan kirinya kepada Naya Genggong, yang datang berlari-lari pula dari belakang.

"Bagaimana Paman ..2"

"Tentang apa, Raden?" tanya Naya Genggong, agak bingung.

"Tentang apa ... tentang apa ...! `kan Paman sendiri yang mengusulkan supaya kuda saya diberi makan dengan anak-anak tikus ... supaya bertambah galak!"

"Ya ... ya ... saya ingat, Den!"

Sementara itu Sabda Palon kedengaran menyumpahnyumpah.

Baru saja kuda itu merasa beban di punggungnya tak ada lagi, ia segera menjompak-jompak dan menyepak-nyepak ke atas dan ke belakang. Untung lekas dibantu oleh Naya Genggong dengan memaki-maki pula, tetapi bukan memaki si Ginanti kuda itu, melainkan menyumpahi Sabda Palon. '

"Betul perutmu saja yang gendut dan makanmu dua bakul, tetapi membawa kuda seekor ke kandang tak sanggup!" katanya sambil merebut tali kekang dari tangan Sabda Palon. Kuda itu bukan makin jinak malah sebaliknya.

Mendengar suara Naya yang besar itu kuda itu makin menjompak-jompak dan meringkikringkik dengan manjanya.

Damarwulan segera melompat ke beranda dan melangkah ke ambang pintu.

Ketika dilihatnya ayahnya duduk berhadaphadapan dengan ibunya, ia segera merendahkan diri serta menyusun kesepuluh jarinya, memberi hormat kepada kedua orang tuanya yang sangat dicintainya itu. Setelah berdiam diri seketika Damarwulan berkata, "Sudah lama Ayah sampai? Ananda tidak mengira Ayahanda akan datang hari ini ...!" Patih Udara tidak segera menjawab, hanya memandang dengan tenang kepada putranya. Sekalian yang telah ditanyakannya kepada istrinya atau yang hendak ditanyakannya, sekarang telah terjawab. Dari gerak-gerik Damarwulan yang lincah sejak turun dari kuda, serta melihat sinar mata dan cahaya mukanya yang berseri-seri, tahulah ia, anaknya tiada kurang sesuatu apa pun. Begitu pula melihat sikap anaknya yang tertib dan hormat, sekalipun telah menjadi anak desa, membuktikan bahwa Nawangsasih tiada lalai mengajar dan mendidik anaknya secara sopan santun.

Banyak hal yang teringat oleh Patih Udara. Beberapa lama ingatannya melayang ke masa-masa yang lampau, ketika ia masih menjadi patih kerajaan Majapahit. Ia dan keluarganya dicintai dan dihormati orang. Se4rang anaknya telah jadi anak desa, bergaul dan bermain dengan anak-anak kampung, dengan rakyat biasa atau anak orang kebanyakan saja. Dia sendiri sudah mengasingkan diri dari pergaulan ramai. Pikiran yang semacam itu sering datang menggodanya kembali, seperti juga tiap-tiap orang tua, apabila ia sekali-sekali datang mengunjungi anak istrinya semacam

"Ayahanda datang sekadar hendak mengetahui dan melihat Ananda dan Ibunda. Mudah-mudahan kalian berdua tidak kurang apa-apa. Bagaimana keadaan Eyang, Maharesi Paluh Amba ...?"

"Baik, Ayah! Berkat dewa-dewa, Eyang sehat. Ananda baru saja pulang dari asrama "

Setelah berdiam diri sejurus, Patih Udara bertanya pula, "Ajaran dan hikmah apakah yang telah diberikan Eyang kepada Ananda?"

"Tiap-tiap orang mempunyai tugas sendiri-sendiri, sekaliannya itu telah diatur oleh dewa-dewa," jawab Damarwulan.

Setelah diam sebentar ia berkata pula, "Dewa-dewa sendiri menurut penjelasan Eyang, masing-masing mempunyai togas tertentu pula."

"Apakah togas Ananda sendiri? Tiadakah Ananda tanyakan kepada beliau?" "Eyang seorang resi yang aneh, Ayah!" jawab Damarwulan menatap muka

ayahnya, meminta pertimbangan. Diam sejurus.

Kemudian berpaling kepada bundanya. Nawangsasih memandang kepada anaknya kemudian kepada suaminya.

"Aneh bagaimana, Damar?" tanya Patih Udara.

"Dari semula Ananda berkunjung ke asrama, Ibunda menitahkan supaya Ananda minta diajari tentang maksud dan tujuan hidup. manusia di dunia loka ini. Pada pertama kali Ananda bertemu dengan Eyang, Maharesi Paluh Amba yang aneh itu, -Bundalah yang telah memperkenalkan-, dan Ananda masih ingat akan ucapan dan permintaan Bunda kepada beliau "

"Apakah yang telah dimintakan Bundamu kepada Eyang, ceritakanlah !"

Damarwulan mula-mula menjilat-jilat tepi bibirnya yang sebelah atas dengan ujung bibirnya yang sebelah bawah, sambil melentik-lentikkan punggungnya, mengecilkan badannya dan menaikkan dagunya, meniru sikap bundanya ketika berhadapan dengan Maharesi. Karena pandainya menirukan, sekarang yang bicara seolah-olah bundanya sendirilah. "Ayahanda Maharesi ...!" katanya sambil mengedipngedipkan mata berulang-ulang, seperti orang yang sedang menahan air mata yang hendak keluar, menirukan sikap bundanya ketika di asrama.

"Kakanda Patih telah menyerahkan tugasnya dalam pemerintahan kepada Logender ...." Diam seketika, rupanya betul seperti seseorang yang sedang menahan perasaan haru dan sedih, yang sekonyong-konyong datang mendesak dari dalam. Kemudian katanya, "Setelah menyiapkan segala keperluan Ananda dua beranak dan memperbaiki rumah kami di desa, Kakanda Udara berangkatlah. Katanya sebelum mengundurkan diri ke dalam pertapaan, ia ingin menambah pengalaman dengan mengembara terlebih dahulu "

Damarwulan mengeluarkan saputangan dari balik bajunya. Perbuatan dan suaranya menirukan laku ibunya tak ubahnya dengan sikap seorang pemain ulung yang sedang bermain di atas pentas.

"Sekarang Kakanda Udara tengah dalam pengembaraan, terangkanlah kepada Ananda, wahai Sang Budiman, bagaimana hendaknya sikap Ananda! Terutama kepada putra hamba, tunjukkanlah kepadanya tujuan dan arti hidup ini !"

Damarwulan mencoba menirukan sikap dan gaya ibunya ketika berhadapan dengan eyangnya di asrama. Kemudian ia mengubah sikapnya. Tangannya yang sebelah kanan agak diangkatnya, seolah-olah berpegang pada sesuatu dan tidak bersimpuh lagi. Tangannya 'yang kiri sebentar-sebentar mengusap- usap dagunya yang licin itu, sekarang menirukan sikap Maharesi Paluh Amba yang sedang memberi petunjuk atau pelajaran:

"Anakku!" katanya dan suaranya hampir tiada ubahnya dengan suara Maharesi sendiri. "Sudah waktunya Patih Udara mengundurkan diri untuk memberi kesempatan kepada yang lain dalam pemerintahan, kepada adiknya sendiri, Logender. Logender saudaranya pasti tiada akan melupakan nasib kamu dua beranak kelak. Apabila perlu, sewaktu-waktu engkau boleh datang mengetuk pintunya. Suamimu seorang satria yang mempunyai sifat-sifat yang mulia, tiada serakah, tiada mementingkan diri sendiri dan sejak kecil ia sangat cinta kepada sesama manusia, apalagi terhadap saudaranya sendiri, Logender... ya ... ya !"

Ia diam sebentar, kemudian, "Logender mempunyai dua orang putra, Layang Seta dan Layang Kumitir, dan seorang putri, Anjasmara. Bebannya lebih berat! Akan tetapi, yang lebih utama memang sudah datang waktu bagi Udara untuk mencari ketenangan, supaya dapat memahami arti hidup dan kehidupan ini lebih dalam. Sebagai keturunan ksatria, ia telah mencoba menjalankan kewajiban dan tugasnya sebaik-baiknya. Sekarang tibalah saatnya baginya untuk memahami kehidupan yang lebih luas, sebelum masuk ke pertapaan, mencari kehidupan nurani yang lebih tinggi, damai dan mulia serta jauh lebih suci."

Damar melirik kepada ibunya, yang selalu menatapnya dengan penuh kasih dan sekali-kali memandang kepada suaminya sebagai hendak membandingkan raut muka anaknya yang serupa benar dengan raut muka ayahnya.

"Bukankah demikian kata Eyang, Thu?" katanya. Nawangsasih mengangguk. "Tadi engkau katakan, bahwa eyangmu seorang maharesi yang aneh," ujar Patih Udara, "bagaimana pula anehnya?"

"Ya, bukankah aneh, Ayah, apabila Ananda sendiri mendapat tugas yang lain!"

"Apakah tugasmu dikatakan Eyang?"

"Tiap hari Ananda diperintahkan dan dilatih Eyang naik kuda di samping berlatih memanah, bermain keris, bermain tombak dan sebagainya, serta disuruh pula bersolek sebaikbaiknya "

"Memanglah demikian, Anakku! Ingatlah, orang tidak boleh membutakan matanya melihat dunia ini, akan tetapi, jangan pula sampai lupa, bahwa di balik dunia yang sekarang terbentang pula dunia yang lain, yakni dunia yang akan datang. Engkau sedang meningkat dewasa dan selanjutnya akan menjadi tua. Engkau mempunyai tugas dan kewajiban sendiri pada tiap-tiap tingkat umur dalam hidup ini. Tugas orang muda atau anak-anak tidak sama dengan tugas dan kewajiban orang yang sudah dewasa. Tugas orang dewasa berlain pula dengan orang-orang yang sudah melalui masa dewasanya atau sudah mulai tua seperti Ayah ini. Pembagian tugas dalam kehidupan termasuk kewajiban dalam ajaran agama."

"Naik kuda, memanah dan bermain keris serta bersolek, demikianlah kewajiban Ananda setiap hari, Ayah?" ujar Damarwulan sambil melirik kepada ibunya sekali lagi, seakanakan ia meminta kepada ibunya supaya disaksikan dan didengar sungguh-sungguh.

"Tiap-tiap orang ada kewajibannya dalam kehidupan dunia ini, Anakku!

Petani, perwira, pandai besi, pujangga, ajar dan resi ada kewajiban-kewajiban belaka. Kewajiban yang satu tiada sama dengan kewajiban yang lain. Bahkan, dewa-dewa sendiri mempunyai kewajiban dan tugas yang berbeda-beda pula. Dewa Syiwa sebagai pencipta hidup yang mahabesar dan Wisynu sebagai pemelihara dan pelindung di samping Dewa Brahma sebagai dewa kebijaksanaan... serta banyak lagi yang lagi-lain."

Patih Udara berdiam sejurus, kemudian katanya, "Begitu pula engkau sebagai pancaran dewa, sepanjang hidupmu, di mayapada ini mempunyai tugas dan kewajiban yang tertentu pula...." Patih Udara terdiam sebentar. "Mengapa kedua punakawanmu ribut?"

Patih Udara melihat ke luar. Sabda Palon dan Naya Genggong berkejar- kejaran dengan si Ginanti. Kedengaran kaki kuda itu gemuruh sepanjang halaman rumah desa yang berbatu kecil-kecil berkerikil, diiringi sumpah dan maki, ejek dan serapah, salahmenyalahkan antara mereka berdua. "Disambar geledek...! Perutmu -saja yang gendut, kuda seekor tiada terpintasi...," kata Naya Genggong.

"Mulutmu bau tahi ayam!" jawab Sabda Palon. "Talinya sudah di tanganmu, mengapa engkau lepaskan, bodoh._.!" katanya sambil mengacungkan kedua belah tangannya ke muka Naya Genggong. Naya Genggong tentu tiada berdiam diri saja. Ketika kedua belah tangan Sabda Palon terangkat ke atas, ia segera memutar badannya dan sebelah kakinya mengait kaki Sabda Palon.

Karena kehilangan keseimbangan, Sabda Palon yang berbadan gemuk itu terdohok ke depan. Malang bagi Naya Genggong, Sabda Palon rupanya tidak hilang akal sama sekali. Ketika ia akan jatuh, karena terkait oleh kaki kirinya, Sabda Palon merapatkan kedua belah kakinya, serapat-rapatnya, sehingga Naya sebaliknya terkait pula jatuh menindih Sabda Palon. Amat gemuruh bunyinya di tengah halaman yang berbatu-batu itu seperti bunyi raksasa Gunung Bromo terjatuh dipalu gergasi Gunung Semeru.

Keduanya pasti berkelahi sungguh-sungguh, apabila mereka tidak segera mendengar suara tuannya, yang sudah sekian lama tidak didengarnya.

"Palon... Genggong...!" kedengaran Patih Udara memanggil. Keduanya sangat terperanjat, tiada diduganya tuannya ada di dalam. Sudah sekian lama suara itu tiada didengarnya dan keduanya segera bangkit, tertegun seketika. Ketika mereka telah yakin, bahwa memang Patih Udaralah yang memanggil itu, keduanya masuklah menghadap dan duduk bersimpuh berdekat-dekatan seperti biasa.

"Mengapa pula kamu berdua berkelahi, he?" tegur Patih Udara dengan pendek

Keduanya masih tertegun seketika, sama-sama melotot, jika tadi mereka tak lekas percaya kepada pendengaran telinganya dan sekarang seakan-akan mereka belum percaya kepada pemandangannya sendiri.

"Mengapa?" tanya Patih Udara sekali lagi.

"Si Ginanti, Ndoro...!" jawab Naya Genggong. "Lepas lagi...! Lalu kau berdua mengapa?"

"Ah, tidak Ndoro... tidak mengapa-ngapa! Sekadar berlatih saja," jawab Sabda Palon tersipu-sipu.

"Kami mengulang-ulang kaji lama, Ndoro!" kata Naya Genggohg pula, gelak- gelak air memandang kepada Sabda Palon. Seakan-akan antara mereka tak ada apa-apa lagi.

"0, begitu, aku mengerti, tetapi itu ...." Patih Udara agak menjembakan badannya ke muka dan mengulurkan kepalanya dekat-dekat kepada Sabda Palon, yang sebentar-sebentar mengusap-usap tulang pelipisnya-agak membiru tampaknya. Tentu ketika terjatuh tadi telah dinanti oleh batu rupanya. "Dan engkau, kena apa kepalamu?" ujarnya pula membalik kepada Naya yang sebentar-sebentar memegang-megang dan mengusapusap kepalanya pula.

"Sama-sama dansetimpal benar," sela Nawangsasih. "Seorang mendapat upah jerihnya dimuka dan yang seorang lagi di kepala."

Nawangsasih berdiri, seperti akan mengambil sesuatu ke dalam, tetapi setelah melalui kedua orang punakawan itu is berhenti sebentar turut mengamat-amati, kemudian berseru, "Sora...! Sora...!"

Seorang pelayan muncul dan pinto tengah dan tegak di muka pintu sejenak memperhatikan apa yang terjadi, kemudian bersimpuh."Saya, Ndoro!"

"Buat beras kencur... dan suruh Suri kemari!"

Mbok Sora masuk dan tak lama kemudian Mbok Suri keluar pula, "Saya, Ndoro Putri!" "Tolong ambilkan air panas sedikit, Mbok!"

Perempuan itu setelah menyembah segera masuk kembali.

Patih Udara memberi isyarat kepada kedua punakawan itu, supaya pergi membersihkan badannya. Setelah keduanya pergi. Patih Udara berkata, "Engkau lihat sendiri, Damar, masingmasing yang hidup di dunia mempunyai togas dan kewajiban sendiri-sendiri. Apabila sekaliannya bekerja menurut tugasnya sebaik-baiknya, tntu kehidupan akan tenteram dan selamat. Kaum tarsi dan saudagar bertugas memakmurkan negara; para pahlawan atau ksatria menjaga dan mengamankan negara; kaum pekerja, buruh, punakawan, pelayan, mengangkat yang berat, menjemput yang jauh, memindahkan yang dekat, masing-masing menurut kekuatan dan kesanggupannya pula. Begitu pula yang cerdik, cendekiawan, pendeta, resi, maharesi, mempunyai kewajiban yang mahasuci bahkan lebih berat. Kaum Brahmanalah yang diserahi dewa-dewa memikirkan dan mengatur keselamatan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Tika diumpamakan tubuh manusia seluruhnya, Brahmana adalah kepala yang terletak paling atas, yang dapat melihat ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah, mempunyai mata yang awas dan telinga yang tajam, yang nyaring, di samping mempunyai otak atau pikiran yang tajam untuk menimbang sesuatu semasakmasaknya. Menurut ajaran agama, Brahmana memegang dan memikirkan keselamatan manusia sejak dari mayapada sampai ke indraloka, karena itu sekalian manusia, termasuk Ksatria, Waisya, dan Sudra wajib berbakti kepadanya."

Damarwulan bertanya, "Dari Eyang Maharesi Paluh Amba dan dari mulut Ayah sendiri, selalu keluar ucapan, supaya kita bekerja menunaikan kewajiban kita sebaik-baiknya. Apa maksudnya, dan bagaimana dapat kita melakukannya!"

"Masing-masing orang mempunyai hati nurani sendiri untuk menimbang, Anakku! Bertindaklah menurut bisikan atau ajakan hati nuranimu sendiri dan engkau dapat pula berpedoman kepada ketulusan dan kecintaan sesama manusia, bahkan sesama makhluk, yang telah diciptakan Batara!"

Damarwulan melihat kepada ibunya. la tak dapat menangkap perasaan ibunya yang sangat halus itu, seperti juga ucapan ayahnya, yang sebagian masih samar-samar, bahkan agak asing baginya. Sebaliknya ibunya yang bijaksana itu mengertilah dan menginsafi, menurut tanda-tanda, itulah pertemuan ayah dengan anak yang penghabisan. Damarwulan mengerti juga bahwa ibunya sangat terharu, sebentar-sebentar ibunya mengerdipngerdipkan mata, mencoba menahan air matanya yang hendak jatuh. Tetapi yang menjadi pertanyaan di dalam hatinya, apakah gerangan yang disedihkan ibunya.

Bukankah ayahnya sudah ada di hadapannya dan baru saja kembali dari perjalanan, yang dikatakan ibunya pengembaraan suci.

"Ayah mengatakan ketulusan dan kecintaan sesama manusia dan sesama makhluk," ujar Damarwulan pula, "bagaimanakah penyelenggaraannya, Ayah!?"

"Damarwulan, kelak engkau akan dapat memahaminya sendiri setelah memasuki kehidupan ini. Tetapi baiklah Ayah terangkan sekadarnya! Tulus ialah sifat hati yang suci bersih, ibarat kain putih yang tiada bernoda. Adapun yang menjadi nodanya, ialah sifat atau niat jahat. Jagalah hatimu jangan sampai berniat jahat kepada siapa pun, seperti juga engkau tiada menyukai orang lain melakukan kejahatan itu atas dirimu sendiri. Cinta maksudnya ialah mencari kebaikan, kesentosaan, kedamaian, dan keindahan di dalam kehidupan bersama atau bermasyarakat di .dunia ini seperti yang dikendaki oleh dewadewa. Jagalah segala perbuatan dan perkataanmu supaya menyenangkan dan membahagiakan orang lain, seperti kehendak dewa yang hendak memelihara dan menyelamatkan dunia ini dari kehancuran "

Patih Udara berhenti seketika memandang tenang-tenang kepada anaknya kemudian kepada Nawangsasih, istrinya, berganti-ganti, kemudian katanya, "Ketulusan hati dan kecintaan sesama manusia atau sesama yang hidup, hanya itulah yang dapat membahagiakan isi jahat!"

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Patih Udara berkumpul pula dengan anak istrinya, seperti pada hari itu. Naya Genggong, Sabda Palon, serta kedua pelayannya yang setia, Mbok Sora dan Mbok Suri dimintanya hadir bersama- sama. Sebelum meneruskan niatnya pergi ke pertapaan, is ingin menyampaikan sesuatu kepada orang-orang yang sangat dicintainya itu.

Sabda Palon dan Naya Genggong duduk berdekat-dekatan. Muka Sabda Palon masih kelihatan diuras dengan beras kencur dan kepala Naya Genggong ditampal dengan daun sitawar, agak bengkak rupanya.

Mbok Sora dan Mbok Suri kelihatan mencucurkan air mata. Sekaliannya bersedih hati.

"Saya minta kepada kamu sekalian, supaya bekerja sebaikbaiknya.

Terutama kamu berdua, Naya Genggong dan Sabda Palon, jagalah Damarwulan baik-baik sampai datang masanya ia menerima kewajibannya dari Nenenda Maharesi Paluh Amba."

Diam sebentar. Kemudian is berkata kepada istrinya, "Nawangsasih! Engkau seorang istri yang berbudi serta mengerti akan tuntutan Kitab Suci Weda, mematuhi tuntutan agama kita, tentu engkau menyukai dan menghendaki pula supaya suamimu dapat menjalankan tugas agama sebaik-baiknya."

Kepada Damarwulan is berkata, "Kelak engkau akan menjalankan tugasmu pula. Sekali lagi Ayahanda ulangi: ketulusan dan kecintaan sesama manusialah yang dapat menyelamatkan dunia dari kehancuran.... Pergilah engkau kelak kepada eyangmu, Maharesi, di asrama. Lakukanlah nasihatku dan nasihat beliau sebaik-baiknya, di samping engkau minta pertimbangan kepada hati nuranimu sendiri dengan jujur dan tenang."

Setelah menunjuk-mengajari anaknya dengan penuh perasaan kasih sayang, ia berkata pula kepada Nawangsasih, "Jagalah is baik-baik!"

Patih Udara lalu membalikkan badannya, mulai melangkah menjinjing bungkusan kecil yang telah disiapkan istrinya, menuju ke pintu pekarangan yang masih tertutup pada pagi itu. Naya Genggong segera berlari-lari pergi membukakannya, diikuti oleh Sabda Palon. Maka kelihatanlah cahaya pagi masuk ke halaman. Patih Udara menuju ke arah timur. Itulah pertemuannya yang penghabisan, sebelum memasuki pertapaan.

Di hadapannya tampak sawah dan tanah ladang membentang. Petani-petani dan penduduk desa telah keluar, menjalankan tugas masing-masing.