Babad Tanah Leluhur Jilid 09

Jilid 09

Asmarani melangkah mendekati prabu Purbaya yang masih duduk memejamkan matanya. Gadis itu dengan berani dan perlahan sekali memeluk leher Purbaya. Ada rasa kaget menyentuh hati Purbaya. Dia merasakan hawa panas menjalari tubuhnya. Perlahan dia menarik nafas. Saat itu Asmarani semakin ketat memeluk prabu Purbaya.

“Kakang?! Ah, bukalah matamu kakang. Aku… aku takut sekali. Aku melihat tubuh kedua orang itu bergerak-gerak. Aku takut kang… Kakang, peluklah aku kang.”

“Asmarani. Apa yang kau lakukan ini? Menyingkirlah. Kenapa tidak kau kenakan pakaianmu? Ambil baju orang itu. Tutupi tubuhmu.”

“Kakang,… aku… aku… ah… aku inginkan kau, Kakang. Peluklah aku. Kakang Purbaya, bukalah matamu. Apakah tubuhku ini kurang menarik?! Apakah aku terlalu jelek untuk diri seorang raja seperti kakang? Bukalah matamu kang. Peluklah tubuhku. Aku akan memberikan semuanya. Aku akan memberikan selaksa kehangatan padamu, Kang. Ah,.. aku… aku mencintaimu Kang.”

“Tidak…”

“Ayolah kang, jangan kau tutup matamu. Lihatlah…” “Asmarani…” Prabu Purbaya menarik nafas dalam-dalam. Ada getaran yang memberontak di relung hatinya. Kesunyian goa itu membuat seluruh tubuhnya menjadi meremang. Darahnya bergolak. Sementara itu Asmarani terus menggosok-gosok tangannya ke leher Purbaya. Dadanya yang menempel erat di punggung Purbaya membuat raja muda penguasa Karang Sedana itu mendesah. Asmarani terus mendesak prabu Purbaya dengan rangsangan jemarinya yang lentik.

“Ohhh…”

“Kakang,.. disini sepi. Disini tidak ada siapa-siapa. Aku ingin memberikan semuanya padamu.”

“Tidak… tidak Asmarani”

“Aku mencintaimu Kang… aku menyukaimu sejak kakang menyelamatkan aku.

Peluklah aku.”

“Asmarani… ohh…” “Peluklah aku, Kang.”

Purbaya masih terdiam dan menutup matanya. Jiwanya berkecamuk antara nafsu dan keteguhan hati. Namun lama-kelamaan tampak dia membuka matanya. Yang dipandang nya pertama kali adalah dada Asmarani yang membusung di depannya. Dan darah laki- lakinya pun segera bergolak.

“Ahh, Asmarani… Kau…”

“Sudahlah, jangan kau pandangi aku seperti itu. Aku tidak mau dipandang, Kakang. Aku mau disentuh. Ahhh, lihatlah. Lihatlah diriku kang. Apakah aku kalah oleh perempuan keraton yang ada di Karang sana. Apakah aku tidak cantik? Apakah aku kurang menggairahkan?”

“Asmarani… Asmarani. Kau cantik sekali! Kau amat cantik. Aku suka padamu. Tapi sudahlah. Jangan kau ganggu aku seperti ini. Jangan kau bakar nafsuku dengan permainan ini. Tutuplah tubuhmu. Tutuplah. Apa perlu aku yang mengambil baju itu?”

“Kakang, mengapa kau jadi begini? Disini tidak ada siapa-siapa. Disini kita melewatkan kenangan yang amat manis ini. Kita hanya berdua kakang. Aku tidak bisa menahan semuanya. Aku hanya melepaskan semuanya untuk kakang. Setelah itu, sudahlah. Ah, janganlah terlalu kejam, kakang. Peluklah aku kang.”

Asmarani terus mengeluarkan rayuannya untuk membangkitkan gairah prabu Purbaya. Perempuan itu mendesah perlahan-lahan sementara tangannya terus memainkan leher Purbaya. Dan pada saat berikutnya, Asmarani melepaskan baju yang dikenakannya dan memeluk tubuh prabu Purbaya erat-erat. Kembali dada prabu Purbaya bergetar, tanpa sadar kedua belah tangannya memeluk tubuh Asmarani. “Peluklah aku, kang. Aku mendambakan hal ini. Peluklah aku. Kakang Purbaya…” “Ahhh,… Asmarani. Asmarani… aku… aku… aku pusing sekali.”

“Ah, jangan lepaskan pelukanmu ini kang. Ayolah, bawalah aku ke atas batu itu.

Kita lepaskan semua kenangan ini diatas pembaringan batu itu, kang.”

Kembali prabu Purbaya mempererat pelukannya, lalu dengan gagah dia menggendong tubuh Asmarani menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh Asmarani. Sementara itu, Asmarani terus mendesah di dalam gendongan Prabu Purbaya.

“Asmarani…”

“Kakang Purbaya, kau gagah sekali. Kau… rebahkanlah tubuhku kakang. Biarlah kebisuan goa ini menjadi saksi kita berdua.”

“Ah, iya… aku harus membakar nafsunya. Aku tidak boleh gagal mendapatkan dirinya. Kelak kalau semuanya telah terjadi, Cempaka akan tersingkir dan aku akan menikmati semuanya. Perduli dengan semua orang. Tapi bentar lagi aku akan memiliki Purbaya seutuhnya.”

“Ah, kakang?! Kakang Purbaya rebahkanlah tubuhku. Kenapa kau berhenti melangkah?! Ayolah kakang…”

“Asmarani… aku…” Prabu Purbaya menghentikan langkahnya. Ditatapnya wajah Asmarani yang tak jauh dengan wajahnya. Lalu ditatapnya lempengan batu yang datar bekas tempat tidur Barun dan Dusala. Perlahan dia menarik nafas. Sesaat kemudian dia bergerak maju. Perlahan sekali direbahkannya tubuh Asmarani.

(11)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Purbaya yang menolong Asmarani dari kejaran ular besar di danau. Dan disaat dia membawa Asmarani menepi, saat itu muncul Cempaka secara tiba-tiba. Cempaka yang geram menyaksikan adegan di depan matanya itu langsung menyerang Asmarani, namun dihalangi oleh Prabu Purbaya. Akhirnya Cempaka dengan kekecewaan yang dalam pergi meninggalkan Purbaya. Purbaya mengejarnya. Sedangkan Asmarani masih berdiri didalam air dipinggiran danau. Air mata gadis itu berlinangan.

Sekarang marilah kita ikuti kemana larinya Cempaka...

“Oh, kanda Purbaya. Kau kejam, Kanda. Kau telah menyakiti hatiku. Kau telah menduakan cintaku. Kau mencintai gadis lain. Aku tau, dia sangat cantik dan jelita. Aku sadar kakang. Aku sadar, kalau aku ini hanya seorang pengasuh. Aku memang tidak layak untuk hidup bersamamu...” keluh Cempaka dalam hatinya. Matanya berkaca-kaca dan memerah sembab. Tak lama setitik demi setitik air bening menetes dari sudut-sudut matanya yang sayu.

Cempaka yang menghentikan larinya, segera duduk di balik sebatang pohon yang rindang. Matanya menerawang jauh, berusaha menembus kabut senja yang mulai turun menghalangi di depan matanya.

“Oh, dewata agung... kenapa mesti ada gadis lain lagi di dalam hati kanda Purbaya. Kenapa aku harus tersisih. Kenapa dia membela gadis itu. Oh dewata agung. Sekarang aku tidak bisa mengadukan nasib ini kepada siapa-siapa, selain pada-Mu. Kalau aku salah, hukumlah aku, dewata. Atau ambillah sekalian nyawaku ini...”

“Cempaka! Dinda Cempaka! Dimana kau dinda?!” terdengar suara seruan-seruan Purbaya tak jauh dari tempat Cempaka duduk. “Aku tau kau masih berada disekitar sini. Keluarlah dinda Cempaka, aku akan menjelaskan semuanya.”

“Oh, kanda Purbaya. Kenapa lagi kau mencariku. Tidak kanda prabu. Aku tidak akan keluar. Aku tidak akan menemuimu lagi. Kau... Oh, betapa tadi aku melihat kemesraan yang kau berikan pada gadis itu. Kau menggendongnya dengan erat. Kau menggendong dirinya yang polos, dan dia melingkarkan tangannya dipundakmu. Ooh,.. Kepadaku saja kau tidak pernah melakukan itu. Kau telah mengkhianatiku kanda Purbaya. Kau telah menyakiti hatiku. Pantas selama kedatangan gadis itu, kau selalu bersikap lain padaku. Aku merasakan kedinginan hatimu padaku. Oh, kanda Prabu... Aku...”

“Dinda Cempaka, dengarkan aku Dinda! Keluarlah! Jangan pergi dinda Cempaka!” Prabu Purbaya terus memanggil-manggil istrinya. Namun Cempaka yang memang berada tidak jauh dari tempat Purbaya berdiri tidak mau keluar. Perempuan itu hanya menangis menahan isak. Hatinya pedih dan pilu. Bayangan di danau yang dilihatnya tadi masih terus membayang dipelupuk matanya.

“Baiklah dinda Cempaka, aku mengaku salah padamu. Maafkan aku Dinda. Keluarlah!” sejenak Purbaya meragu, lalu lanjutnya lagi, “Oh,.. atau kutunggu kau di tenda Goa Karang, Dinda...”

Purbaya melesat meninggalkan tempat itu. Dia merasa sangat serba salah. Dalam hatinya dia amat ragu Cempaka akan mau menemuinya saat itu juga. Dia berharap waktu akan berpihak padanya. Semoga sedikit waktu dapat meredakan amarah istrinya.

“Oh, kanda Prabu... kau tidak sungguh-sungguh mencariku. Aku tau, hatimu bimbang dengan gadis itu. Yah,... pergilah kau padanya Kanda. Aku memang tidak memiliki apa-apa lagi untuk mendampingimu. Tapi gadis itu memiliki segala-galanya. Dia memiliki kesucian, dia cantik dan ayu. Pergilah kau padanya kanda Prabu. Dan jangan harapkan aku akan kembali ke Goa Karang. Biarlah luka hati ini kubawa pergi.”

“Oh, Jaga Paramuditha putriku. Maafkan ibunda, sayang. Ibunda harus pergi dari kehidupanmu. Ibunda yakin, suatu kelak kau akan mencariku... kalau kau selamat keluar dari Goa Karang. Maafkan ibunda, putriku.” pikiran Cempaka melayang. Terbayang wajah putri yang dikasihinya.

“Oh, Aku harus pergi dari sini, aku tidak mau kanda Purbaya mencariku lagi di tempat ini. Aku akan pergi sejauh-jauhnya”

Dengan perasaan dan tubuh yang lelah, Cempaka akhirnya berdiri dari duduknya lalu melangkah terseok-seok. Wajahnya yang cantik tampak kusut. Airmatanya terus mengalir membasahi pipinya. Perempuan itu membawa langkahnya menyusuri hutan kecil ditepian danau. Dia tidak tahu akan kemana...

Sementara senja beranjak menjadi malam. Dan binatang malam di hutan kecil, mulai berbunyi satu-satu.

“Oh, malam telah turun. Aku harus mencari tempat yang teduh dari embun malam ini. Besok aku akan keluar dari tempat ini. Oh Dewata... Dewata agaknya telah menentukan kehidupan yang lain pada diriku.” tak lama, tampak wajah Cempaka mengeras, “Asmarani... Kau telah merampas Kanda Purbaya dariku. Kau telah merusak hidupku. Suatu saat kelak, aku akan menemui dan membuat perhitungan denganmu!”

Cempaka mencari celah akar pepohonan yang besar untuk merebahkan tubuhnya.

Sementara itu, marilah kita lihat keadaan Purbaya di tenda dekat Goa Karang. Saat itu Prabu Purbaya tampak duduk merenung seorang diri. Raja Karang Sedana itu menatap langit yang gelap tanpa bintang dan bulan...

“Oh Dinda Cempaka,... kenapa jadi begini? Kenapa kau berprasangka buruk? Oh Dewata agung, berilah petunjuk kepada istriku Cempaka biar dia mau kembali dan mendengarkan suaraku, mendengarkan keteranganku. Oh kembalilah, Dinda.” ratap hati prabu Purbaya. Sedih teramat dalam dirasakan olehnya. Tapi tiba-tiba air muka wajahnya berubah, seluruh panca indranya bersiaga. “Oh, ada yang datang... Semoga saja dinda Cempaka yang kembali.”

“Ampun gusti prabu, hamba Galung Wesi masuk menghadap..”

“Oh, Galung Wesi,...” sesaat kecewa nampak dalam raut Purbaya, ternyata bukan istrinya. Bukan orang yang diharapkan kedatangannya. Setelah menghela nafas, katanya “masuklah, Paman”.

“Terima kasih, gusti.”

“Ada apa paman? Apakah ada kabar dari para prajurit yang kau tugaskan itu?” “Maafkan hamba gusti prabu. Prajurit yang hamba kirim untuk mencari tuanku

Permaisuri hingga kini belum kembali. Hamba rasa mereka masih terus mencari. Mungkin besok mereka baru kembali gusti prabu.” “Iya, tidak apalah paman. Kita tunggu saja sampai besok. Kalau besok Cempaka tidak juga kembali, aku akan mencarinya sendiri. Aku harus membuat jernih suasana ini. Aku mengerti mengapa dinda Cempaka melakukan hal itu.”

“Ya,.. memang hati wanita itu teramat halus gusti prabu. Mereka mudah sekali tersinggung dengan keadaan disekelilingnya. Dan mungkin itulah yang terjadi pada tuanku permaisuri. Dan siapapun perempuannya pasti akan menyimpan cemburu pada gadis secantik Asmarani. Ampun gusti prabu, meskipun gusti tidak melakukan apa-apa pada anakmas Asmarani, tapi bagi tuanku permaisuri pasti lain pandangannya.” Galung Wesi terdiam sejenak, lalu lanjutnya “Sejak tuanku membawa anakmas Asmarani kemari waktu itu, hamba melihat ketidakwajaran dari sikap tuanku permaisuri. Beliau lebih banyak merenung dan gelisah. Airmukanya tampak murung dan kusut. Matanya berbinar menyalakan api cemburu. Ampun gusti prabu, sebenarnya hamba ingin mengatakan hal itu pada gusti prabu. Tapi hamba takut mendapat murka...”

“Paman Galung Wesi, aku sungguh tidak menduga hal ini akan terjadi. Aku tidak mengira kalau dinda Cempaka menaruh rasa cemburu pada Asmarani. Seharusnya dia juga menaruh belas kasihan pada gadis itu. Asmarani adalah seorang gadis yang malang.”

“Ampun gusti prabu, mungkin keinginan gusti demikian. Namun pandangan tuanku permaisuri lain lagi. Belas kasih yang gusti perlihatkan pada anakmas Asmarani, mungkin dianggap sebagai cinta kasih. Tapi dari semuanya tentu sekarang gusti dapat mengambil manfaatnya, dan gusti bisa mengetahui betapa besarnya cinta tuanku permaisuri pada gusti prabu. Sehingga dia tidak rela gusti prabu membagi kasih dengan wanita lain. Cemburu adalah sebagian perwujudan dari cinta yang murni. Dan memang cemburu itu selalu ada dan mengiringi langkah-langkah cinta yang kita miliki.”

“Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau Cempaka memiliki kecemburuan yang begitu dalam. Selama ini aku melihat dia begitu baik, sabar dan selalu tenang. Meskipun kadang-kadang emosinya suka meletup-letup.”

“Ampun gusti prabu, ketenangan hati wanita dalam menghadapi cinta memang terkadang aneh. Ada yang suka meletup-letup seperti air laut. Ada pula yang tenang seperti sebuah gunung berapi. Kalau seperti air laut kita akan mudah mengenalinya, karena setiap saat selalu tampak. Namun kalau seperti gunung berapi, hal ini yang amat berbahaya. Begitu dia mengeluarkan asap, maka dia akan siap meledakkan laharnya ke seluruh lembah yang ada disekitarnya. Dan itu semua akan merusak semuanya. Kita membutuhkan waktu yang agak lama untuk membuatnya tenang kembali, gusti prabu.”

“Yah, iya...paman benar. Aku mengerti paman. Dan sekarang agaknya aku harus segera mencari Cempaka. Aku harus menjelaskan semuanya. Kejadian ini tidak boleh kudiamkan berlarut-larut.” gumam prabu Purbaya. Dia mengangguk-angguk lalu dia berkata lagi dengan lebih jelas, “Oya paman, tolong jaga Asmarani. Dia tidak boleh meninggalkan tempat ini sebelum semuanya selesai.” “Oh,..”

“Aku takut jika dia pergi dari sini akan bertemu Cempaka, maka keselamatannya akan sulit untuk dijamin.”

“Baiklah gusti prabu, hamba akan menjaganya!” tegas Galung Wesi meyakinkan. “Terima kasih paman. Dan tolong paman berikan padangan padanya, jangan

sampai dia larut dalam kesedihannya. Dan kalau besok aku pergi mencari Cempaka, aku harap paman terus memimpin para prajurit untuk terus menggali goa karang itu.”

“Baiklah gusti, hamba akan melaksanakan semuanya. Sekarang, hamba mohon diri gusti Prabu...” Galung Wesi menyembahkan hormatnya.

“Ah, silakan paman. Dan terima kasih atas segala pandangan yang paman berikan padaku tadi.” Prabu Purbaya tersenyum pada panglima Galung Wesi.

Setelah menghormat tiga kali, Galung Wesi segera mundur dari hadapan Prabu Purbaya. Raja muda Karang Sedana itu kembali merenung. Ditatapnya langit yang temaram, ada beberapa buah bintang yang muncul dari balik awan hitam.

“Ah, dinda Cempaka dimana kau bermalam? Kenapa kau tidak pulang kemari? Kenapa kau tidak mendengarkan suaraku? Apakah begitu besar api cemburu yang membakar jiwamu? Kenapa kau mesti cemburu?” keluh prabu Purbaya dalam renungannya, tapi sesaat kemudian pikirannya kembali menjawab, “Oh, yah... kau memang harus cemburu dinda. Aku salah! Aku telah menggendong tubuh Asmarani yang polos tanpa sehelai benangpun! Tapi sungguh dinda, aku tidak bermaksud dan berpikiran kotor. Aku tidak terjerumus dengan godaan seperti itu. Aku masih memiliki benteng hati yang kokoh. Oh, kenapa kau mudah berburuk sangka kepadaku? Dinda Cempaka dengarkanlah suaraku ini, rasakanlah getaran hati ini. Dinda Cempaka, maafkan aku...”

Saat kokok ayam jantan terdengar membelah subuh yang bisu, prabu Purbaya yang semalaman tidak tidur itu menggelengkan kepalanya pelan-pelan. Ia mengusir rasa pusing yang menyerang kepalanya, lalu perlahan ia menarik nafas. Udara dingin yang menusuk, masuk ke dalam dadanya. Sejenak ia melihat ke arah timur. Bentangan fajar yang merekah seperti lukisan alam yang indah.

Prabu Purbaya mendesah, “Sampai sekarang Cempaka belum juga pulang kembali. Berarti para prajurit yang mencarinya pun tidak menemukannya. Sebaiknya aku sendiri yang pergi mencarinya... Hupp!!”

Prabu Purbaya kembali menarik nafas dalam dengan halus, lalu disimpannya nafas itu di antara pusat kekuatan tubuhnya. Kekuatannya seketika bergolak, dan langsung saja kekuatan itu dialirkan ke arah pinggang. Tubuhnya merendah, seperti seekor jangkrik yang siap melompat. Sesaat kemudian kakinya itu melentingkan tubuhnya seperti anak panah lepas dari busur, tubuh itu melesat ringan diantara bebatuan Goa Karang.

Secepatnya prabu Purbaya melesat dari depan tendanya, ia terus berlari membelah keremangan subuh yang dingin. Sementara itu marilah kita lihat keadaan Cempaka...

Saat fajar merekah, Cempaka telah bangun dari tidurnya. Ia baru saja memejamkan matanya, namun terbangun kembali. Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Setelah dadanya penuh dengan udara yang dingin, barulah dihembuskannya perlahan-lahan. Kemudian setelah itu ia bangkit. Ditatapnya keremangan subuh sebelah Goa Karang, lalu ia pun mendesah...

“Oh, seharusnya hari ini aku bekerja menggali mulut Goa Karang. Bekerja untuk menyelamatkan putriku. Tapi rasanya berat sekali rasa kecewa hati ini. Aku tidak mungkin kembali ke Goa Karang. Oh,.. Biarlah para prajurit itu yang bekerja dan menggali untuk menyelamatkan putriku.” pikir Cempaka. Dia bertekad, “Dan aku harus pergi meninggalkan tempat ini. Ya, aku harus pergi. Pergi sejauh-jauhnya! Tidak boleh seorangpun tahu kemana aku pergi. Biarlah duka ini aku tanggung dan kubawa sendiri.”

Cempaka yang terus berlari dan berlari. Ia tidak menghiraukan lagi daging tubuhnya yang tersayat akar pepohonan yang tajam. Baju yang dikenakannya banyak yang robek tersambar duri-duri pohon. Namun ia terus saja berlari...

“Oh, Hmm.. tubuhku banyak tergores duri dan akar pepohonan.” akhirnya Cempaka menyadari keadaan itu. Dia berhenti berlari, dan memeriksa tubuhnya. “Oh, banyak darah yang mengalir dari tubuhku. Lenganku banyak sayat-sayatan luka. Oh, tapi hatiku ini teramat perih, jauh lebih perih dari sayatan luka-luka ini.”

Setelah memeriksa keadaan tubuhnya, Cempaka memeriksa keadaan sekelilingnya.

“Oh, aku sudah jauh meninggalkan hutan lembah Burangrang. Aku yakin, sebelah sana ada desa. Aku harus mencari warung nasi. Ah, aku merasa lapar sekali. Kalau tidak makan, aku tidak bisa melanjutkan perjalanan ini untuk terus meninggalkan tanah Karang Sedana ini. Ya, aku harus pergi dan meninggalkan Karang Sedana ini. Aku telah terusir, aku telah kalah.” pikirnya dalam hati. Cempaka melanjutkan perjalannya dengan lebih hati-hati, dan tidak lama kemudian.

“Oh, disana ada sebuah warung nasi.” Cempaka mempercepat langkahnya. Dia menuju warung nasi yang dilihatnya. Didepan warung nasi, dia berhenti sebentar lalu menoleh kebelakang. “Ah, tidak ada yang mengikuti jejakku. Berarti aku memang sudah jauh dari daerah Goa Karang. Dan aku yakin ini merupakan desa kecil di kaki gunung Burangrang. Tadi malam ada beberapa prajurit yang mencariku. Untung aku bersembunyi di balik akar pohon. Ya, aman. Tidak ada yang mengikutiku.”

Cempaka langsung melangkah masuk ke dalam warung nasi. Warung itu ternyata sudah cukup ramai oleh pengunjung. Dan semuanya laki-laki. Namun Cempaka dengan tenang masuk kedalam lalu duduk di pojok. Beberapa pasang mata melihat nanar padanya. Dan ada pula yang bersuit kearahnya. Cempaka tertunduk sedih. Pelayan warung datang menghampirinya.

(12)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Cempaka melarikan dirinya dari daerah Goa Karang karena kecewa pada prabu Purbaya. Cempaka saat pagi tiba telah sampai di sebuah desa kecil di kaki gunung Burangrang. Karena merasa lapar, Cempaka mampir di sebuah rumah makan. Kehadirannya di rumah makan itu membuat beberapa laki-laki dalam rumah makan itu menggoda iseng. Tapi Cempaka diam saja di tempat duduknya.

Saat pelayan datang, Cempaka hanya memesan nasi putih dan seekor ikan serta segelas air putih.

“Hehehehehe, neng kenapa pesannya hanya begitu? Tambah lagi, pakai ayam saja. Dan minumnya air legen ini. Jangan takut soal bayarannya. Nanti akang yang bayar. Hehehehe.” seorang laki-laki bertampang kasar diseberang meja Cempaka, dia berkata menggoda. Lalu dia berseru pada pelayan rumah makan itu. “Pak Dondong,...”

“Eh, Yaa?” pelayan rumah makan yang sedari tadi berdiri di dekat meja Cempaka menoleh, dan menjawab seruan itu.

“Berikan lauk yang kusebutkan tadi pada Neng itu. Jangan khawatir, nanti aku yang bayar!” perintahnya pada pak Dondong, pelayan rumah makan itu.

“ Tapi Daruta...”

“Ahh, sudah jangan banyak omong. Berikan pada neng Ayu itu ayam goreng dan air legen! Soal ongkos, aku yang tanggung.”

“Jangan pak, siapkan saja permintaanku. Jangan diberi apa-apa lagi.” Cempaka berkata pada pelayan, lalu tanpa menoleh ke arah Daruta, Cempaka berkata, “Ah,.. Maaf, aku tidak suka pemberianmu. Kalau kau mau, makan saja sendiri.”

“Hehehehehehh” Daruta terkekeh dengan raut cabul di wajahnya. Dia merayu kembali, “Jangan marah Neng, aku bermaksud baik. Jangan kasar begitu.”

“Hehehehe, kakang Daruta, mungkin dia lagi marahan sama suaminya dirumah.” teman makan Daruta membuka pembicaraan pula.

“Oh, heheheh.”

“Lihat wajahnya cemberut, dan rautnya pun kusut seperti itu.” “Iya?!” mengangguk Daruta mengiyakan.

“Badannya penuh dengan gurat luka. Pasti dia bertengkar dan dipukul suaminya.” “Hmmm...” kembali Daruta memperhatikan arah pembicaraan temannya.

“Atau dia bertengkar dengan perempuan simpanan suaminya. Lalu cakar-cakaran.

Biasakan, kalau perempuan berkelahinya hanya cakar-cakaran saja.” “Hmm... Hahahaha.” Daruta terkekeh.

Mendengar perkataan laki-laki yang duduk didepan Daruta itu, Cempaka menggeram. Wajahnya menjadi keras. Matanya mendadak tajam. Ia merasa perasaanya tersinggung. Namun saat itu pak Dondong si pelayan rumah makan datang membawakan pesanannya.

“Neng, ini pesanannya Neng.” Sedikit tergopoh pak Dondong membawakan nambah berisi pesanan Cempaka. Sambil mengasorkan makan, dia tersenyum menghibur. Pelayan itu mengerti bahwa Cempaka sangat marah pada kedua begundal di meja sebelahnya. “Sudaaah, jangan hiraukan perkataan mereka. Mereka itu memang tukang ribut di desa ini. Semua orang di desa Babatan ini kenal dengan mereka.”

“Ah, Siapa nama yang barusan bicara itu, Pak?” Cempaka mengerling ke arah pak Dondong, dia sedikit terhibur oleh keramahannya. Cempaka tersenyum kecil.

“Namanya Pisang Langit, Neng. Dia itu tangan kananya Daruta. Lalu yang dua orang yang duduk di sebelah sana pun juga teman-temannya. Mereka selalu berteman. Nah, Neng.. sebaiknya jangan layani mereka. Eeh.. karena nanti akan lebih berat lagi akibatnya. Mereka itu bajingan. Mereka selalu mengganggu wanita di kampung ini. Padahal mereka rata-rata sudah punya istri.” kata Pak Dondong sedikit bersungut-sungut dengan suara yang pelan. Seperti berbisik.

“Oh, kurang ajar! Mereka laki-laki hidung belang. Oh, apakah kanda Purbaya demikian juga?!” geram pikiran Cempaka.

“Eeh, Neng.. Iya sampai lupa. Neng ini dari mana? Sepagi ini sudah berjalan kemari. Dan, tubuhmu.. lha, kenapa banyak goresan luka seperti ini?!”

“Ah, aku dari jauh pak.” Cempaka tersenyum, dia berpikir cepat mengarang sebuah cerita. Dia tidak ingin diketahui jati dirinya tetapi dia pun tidak ingin berbohong, lalu katanya, “Aku.. Eeh, sebatang kara. Suamiku,.. Ah, punya kekasih lagi. Dan aku tidak mau dimadu...”

“Oo, ooh.. Aduuh, kasihan sekali kamu Neng. Yah, Bapak bisa bayangkan perasaanmu. Tetapi sudahlah, makanlah dulu nasimu itu. Nanti keburu menjadi dingin. Dan jangan hiraukan mereka.” “Eh, Iya pak, terima kasih.” Cempaka tersenyum berterima kasih. Pak Dondong mengangguk lalu berlalu dari meja Cempaka.

“Heheheheheh, eh.. Pisang Langit. Bagaimana pendapatmu?” sambil tertawa- tawa, Daruta kembali membuka pembicaraan setelah pelayan yang menghalangi pandangan mereka kembali ke meja pelayan.

“Ya heheheh.” Kedua teman mereka ikut tertawa usil.

“Wah, kakang Daruta, lihatlah Pak Dondong juga mulai jahil. Dia mulai bisik-bisik.” Pisang Langit menimpali. Kemudian dia menoleh ke arah meja pelayan, lalu berdiri sambil menggoyangkan pinggulnya maju mundur seperti orang sedang bersenggama. Lalu katanya, “Hei, pak Dondong apa masih kuat?! Heh?!”

“Hei, Neng! kalau suaminya main perempuan lain, kau main saja sama kami! Ya tidak kan kakang Daruta?!” Pisang Langit melengoskan kepalanya ke arah Cempaka. Sikapnya sangat merendahkan. Tawanya sangat menjijikkan.

“Hehehe, Iya, iya. Kau boleh kumpul sama kami. Kau pasti puas. Dan kau pasti akan melupakan suamimu. Neng, Hei.. Neng, tambah lagi nasinya dan jangan terburu-buru!” Daruta makin kurang ajar dengan perkataanya dan tertawanya.

Cempaka hanya diam. Dia terus menikmati makanannya. Setelah selesai makan, ia segera memanggil pak Dondong. Orang tua itu segera menghampiri Cempaka dan menyebutkan jumlah yang harus dibayar oleh Cempaka. Cempaka merogoh kantung bajunya dan meletakkan sekeping uang emas dihadapan pak Dondong. Laki-laki tua itu tersentak kaget.

“Aduh Neeeng... Ini uang emas. Apakah...” pak Dondong bingung karena tidak ada kembalian untuk koin emas. Harga makanan yang dimakan Cempaka hanya beberapa keping tembaga saja.

“Ambillah pak Dondong. Ambil saja semua. Jangan dikembalikan. Aku tidak memiliki kepengan tembaga. Ah, lihat nih, kepengan emas semua” sergah Cempaka.

Cempaka sengaja mengeluarkan semua kepingan emas yang dibawanya. Dan ia sempat melirik kearah Daruta dan teman-temannya yang terbelalak. Dan ia juga melihat saat Pisang Langit menyikut rusuk Daruta. Cempaka tersenyum tipis.

“Bapak lihat sendiri kan? Satu kantung uang ini tidak ada yang tembaga.” “Aduuuh Neng, kenapa kau keluarkan semuanya. Aduuuh, nanti gawat Neng.

Mereka itu selain suka mengganggu perempuan, mereka juga suka ngerampok. Merampas milik orang lain.” sambil khawatir, pak Dondong berbisik pada Cempaka.

Sambil tersenyum Cempaka berkata, “Tenang saja Pak. Jangan cemas. Mereka tidak akan melakukan itu padaku. Percayalah. Nah, pak Dondong,.. aku akan pergi sekarang.”

“Tapi Neng, sebaiknya siang nanti saja perginya dari sini. Karena sebentar lagi pasti ada prajurit kerajaan yang berkeliling di tempat ini. Dan Neng bisa dilindungi oleh mereka. Waduuuh, kalau sendirian bahaya sekali Neng!” mimik Pak Dondong mengeryit dengan raut orang susah.

“Ah, sudahlah Pak, jangan cemas. Aku pergi sekarang saja.” kata Cempaka, lalu dia berpikir, “Oh iya, aku memang harus pergi sekarang. Kalau tidak, nanti para prajurit itu akan mengenali diriku. Dan bisa merepotkan aku. Pasti mereka akan melapor pada kanda Purbaya.”

“Maaf pak, aku permisi dulu.” kata Cempaka berpamitan.

Pak Dondong pelayan rumah makan itu semakin menjadi cemas. Namun Cempaka hanya tersenyum sambil kembali memasukkan uang emas ke saku celananya. Lalu ia beranjak keluar dari rumah makan itu. Namun sebelum beranjak meninggalkan pintu, Cempaka sempat melirik ke arah Daruta dan Pisang Langit saling mengedipkan matanya.

“Eheheheheh, hari ini kita panen besar.” “Benar kang!”

“Perempuan bodoh itu mencari penyakit, dan dia cukup cantik untuk kujadikan istriku. Hahahaha” mimik Daruta seperti kucing kelaparan mendapat ikan.

“Ayo kang, kita susul dia. Nanti dia keburu melarikan diri.” seru Pisang Langit, “Ayo, teman-teman kita kejar wanita itu”

“Hmm, baik!” seorang menimpali senang.

Pisang Langit menoleh ke arah pak Dondong, telunjuknya menunjuk ke arah pelayan tua itu. Dia mengancam, “Hei, pak Dondong! Kau jangan macam-macam! Kalau sampai ada prajurit yang tau, maka kau akan mati. Anak dan istrimu akan kami gilir di depan matamu.”

“Kalau kau tidak banyak tingkah, maka kau akan mendapatkan bagian. Tidak sekeping, tapi tiga atau dua keping. Dan kalian semua yang ada disini, supaya tutup mulut. Kalau sampai ada yang tau, kalian semua tau akibatnya!”

Setelah mengancam pada orang-orang yang ada di dalam rumah makan itu, Daruta dan Pisang Langit serta dua orang temannya segera beranjak keluar dari rumah makan pak Dondong. Mereka mengejar ke arah perginya Cempaka.

“Nah, kang. Dia pasti menuju ke arah sana. Dan dia tidak mungkin memutar gunung Burangrang. Hayo, itu dia kakang. Dia berbelok ke arah hutan sebelah timur. Nah, dia menuju ke batas desa babatan.”

“Hahahaha, dasar nasib lagi mujur. Ada saja rejeki. Hei, Pisang Langit.” “Ya, kang?!”

“Kalau nanti kita berhasil mengambil uangnya, kau pegang uangnya. Aku akan menikmati dulu tubuhnya. Aku rasa dia masih jauh lebih hangat daripada istriku. Dia masih muda dan cantik. Setelah itu, baru giliran kalian bertiga.”

“Atur saja, Kang. Aku ikut apa yang kakang lakukan. Yang penting uang emas itu. Ayo kang, nanti kita kehilangan jejak!” Pisang Langit sangat bernafsu. Matanya tidak berpaling sedikitpun dari arah kepergian Cempaka, bahkan obrolan sesama mereka pun tidak di pandanginya wajah teman-temannya itu. Dia terlalu sibuk meyakinkan bahwa mereka tidak kehilangan jejak Cempaka.

“Tenang saja Pisang Langit, kita lebih tau daerah ini daripada dia. Aku yakin, dia pastilah orang jauh yang melarikan dirinya, atau dia anak seorang saudagar yang tersesat.” berkata Daruta dengan tenang. Langkahnya tetap cepat, sampai akhirnya dia kembali melihat sosok Cempaka di kejauhan, “Nah, itu dia kelihatan.”

Daruta dan Pisang Langit serta dua orang temannya mempercepat langkahnya. Dan mereka melihat saat Cempaka berbelok ke jalan kecil menuju ke hutan.

“Hahahaha, lihat! Dia memang menuju ke arah hutan itu. Ayo sekarang waktunya kita sergap dia di tengah hutan perbatasan desa itu. Di situ ada goa kecil. Kita bisa membawanya kedalam goa itu. Pasti tidak akan ada yang tau. Dan kita simpan dia sampai kita benar-benar puas.” kata Daruta.

“Hmm, ternyata yang dikatakan pak Dondong benar. Mereka tergiur dengan emas yang aku bawa. Heh! Mereka akan merasakan balasan yang berat sekali. Mereka akan menjadi korbanku. Heh! Kalian akan kuhabisi! Kalian akan kujadikan luapan dukaku. Kalian tidak akan kubiarkan hidup! Kalian laki-laki buaya! Kalian tidak boleh melihat wanita cantik.” geram Cempaka setelah tau dia masih dibuntuti oleh Daruta dan kawan- kawan. Dia melihat sekilas kebelakang, lalu pikirnya, “Oh ya, itu mereka semakin dekat. Sebaiknya aku menyelinap dan bersembunyi...”

Cempaka dengan cepat menyelinap diantara rerimbunan pohon. Sementara itu Daruta dan Pisang Langit serta dua orang temannya yang tiba di tempat itu menjadi kebingungan.

“Wah, wah Kang! Dia menghilang! Hmm, tadi dia jelas-jelas disini Kang!” “Heheheheheh,..” tertawa Daruta, “Jangan khawatir Pisang Langit! Dia pastilah bersembunyi.”

Daruta memandang berkeliling, lalu berseru, “Hei, perempuan Ayu! Keluarlah! Keluarlah! Kami akan memaafkanmu. Kami tidak akan menyakiti hatimu. Kami tidak akan menyiksamu. Selagi kamu tidak membuat kami gusar dan kecewa. Ayo, keluarlah!”

“Keluarlah, Neng. Jangan takut. Aku akan melindungimu. Aku akan menjadikan kau istriku yang keempat. Dan kau pastilah yang paling aku sayangi.”

Daruta dan Pisang Langit saling pandang, lalu mereka menatap ke arah semak belukar didepannya. Dan mereka terus menanti sahutan dari Cempaka yang ditunggunya.

“Jangan membuat kami cemas dan marah. Kami bisa membakar hutan ini dengan api. Dan kau akan terbakar disini. Sayang sekali kalau kau mati terbakar sebelum merasakan hangatnya pelukanku. Hahahahahah! Keluarlah!”

“Bakarlah! Jangan kau kira aku takut dengan api. Nah! Lakukanlah!” seru Cempaka tanpa menampakkan diri.

“Wah, kang. Dia disebelah sana. Aku yakin, dia pasti bersembunyi di balik rimbunan belukar itu! Ayo kita ke sana, Kang.”

“Hahaha, iya Pisang Langit. Dia pasti bersembunyi di situ. Ayo kita sergap!” “Ayo, Kang!”

Daruta dan ketiga temannya lalu melangkah. Tiba di rerimbunan pohon-pohon kecil di hutan itu, mereka berempat segera mengurung tempat itu.

“Kau sergap lebih dulu, Pisang Langit! Biar aku berjaga-jaga di sini. Dia tidak akan bisa lari lagi!” Daruta memaparkan rencananya.

“Baik, Kang!”

Pisang Langit dengan nafsunya segera maju mendekati semak belukar itu. Dia bersiap- siap hendak melabrak semak-semak itu, saat suara Cempaka menahannya dari belakang.

“Heeh?!? Apa yang kalian kerjakan di situ? Siapa yang akan kalian sergap? Aku di sini.” suara Cempaka mengejek mereka.

“Haah?! Kau... Bukankah tadi...”

“Hahahahah, kalian ini bagaimana? Katanya ingin menangkapku. Tapi kenapa kalian malah bergumul di situ? Apakah di situ sudah ada perempuan lain? Dasar laki-laki buaya!” suara Cempaka benar-benar menghina.

“Aaah, setan alas. Perempuan tengik! Kau telah membuat aku murka. Sebenarnya aku bisa menyayangimu. Tapi kau telah mempermainkan kami. Maka jangan salahkan aku kalau aku menyiksa dan merusak dirimu sendiri!”

“Hahahaha! Kalian laki-laki brengsek! Kalian laki-laki kurang ajar! Laki-laki mata keranjang! Kalian sudah punya istri dan anak di rumah. Tapi kalian masih saja kurang ajar dengan perempuan lain. Kalian masih ingin melirik gadis lain. Karena dari itu aku muak melihat wajah kalian!” maki Cempaka dengan penuh kebencian.

“Wah, apakah aku tadi tidak salah dengar? Tadi jelas suaranya dari rerimbunan semak belukar ini. Kakang Daruta juga mendengarnya dari arah sini. Tapi kenapa tiba-tiba dia berada di belakang?” pikir Pisang Langit. Dia terkejut dan terheran.

“Hahahaha, jangan banyak omong perempuan bodoh. Sekarang ini kau ada dalam genggaman kami. Kau tidak akan bisa lari keluar dari hutan ini. Kau tidak akan bisa pergi ke luar sana lagi. Ha.. Ha.. Dan kau akan kami kurung di sini sampai kami bosan padamu.” Daruta tertawa-tawa menahan kemarahan. “Ayo Pisang Langit. Tangkap dia. Dan kalian berdua, bantu Pisang Langit menangkapnya. Ingat, jangan sampai dia terluka.”

Pisang Langit dengan ditemani kedua temannya segera maju melangkah kearah Cempaka yang berdiri mematung tak jauh dari mereka. Tiba di depan Cempaka, Pisang Langit baru melihat jelas kecantikan Cempaka. Lalu ia pun menelan ludah..

“Waah, ternyata kau lebih cantik dari yang kulihat di rumah makan tadi. Dan amat disayangkan kalau tubuhmu luka atau lecet oleh duri-duri di belakangmu itu.” Pisang Langit tertawa kecil, lalu “Ayo, sebaiknya kau menyerah saja secara baik-baik. Dan aku akan memintakan maafku pada kakang Daruta. Kau memang pantas menjadi istriku. Mungkin dengan adanya dirimu, aku tidak akan mencari perempuan lain lagi.”

Cempaka tertawa kering, “Ahahahh!”

“Lho?!” Pisang Langit tidak menduga Cempaka akan mentertawakannya.

“Kalau aku tidak bersamamu pun, rasanya kau tidak memiliki kesempatan untuk mencari perempuan lain lagi, sebagai pemuas nafsumu. Kalian memang laki-laki bejat! Kau suka menghancurkan dan menyakitkan hati perempuan. Dan aku,.. aku akan menghukummu!” kembali Cempaka berkata dengan tajam.

“Kau ini bicara apa hah? Sudahlah! Lupakan ucapanmu itu. Marilah ikut aku, dan uang emas itu berikanlah pada kakang Daruta sebagai jaminan dirimu. Dan dia tidak akan mengganggu kita. Ah? Hahaha.” Pisang Langit masih belum mengerti siapa Cempaka, dan apa yang mampu dilakukan Cempaka pada mereka semua. Dia masih mengira Cempaka adalah perempuan lemah yang tengah terluka oleh perlakuan lelaki.

Cempaka menggeram. Matanya yang bening mencorong tajam. Hatinya yang memang terbakar cemburu dan benci itu bergolak panas. Sejenak, ia terbayang perbuatan Prabu Purbaya suaminya, di danau bersama Asmarani. Maka laksana seekor macan betina yang marah, Cempaka melesat cepat kearah Pisang Langit, kedua tangannya membentuk cakar.

“Mampus kalian! Hiyaaat! Hupp! Hiaahh!” seru Cempaka sebal.

“Setan! Dadaku terkena pukulannya! Uhh!” kaget Pisang Langit, dia merasakan pukulan di dadanya. Dia mengelak kasip.

“Hahahaha, bagaimana? Apakah pukulan pertama itu tidak cukup untuk membuka mata kalian? Nah, manusia lutung! Majulah! Majulah kalian berempat! Jangan takut, aku tidak akan menyiksa kalian, tapi aku akan membunuh kalian.”

“Jangan sombong kau perempuan tengik! Jangan kira karena kau bisa memukulku lantas kau yakin bisa membunuhku. Kau akan menyiksamu!” teriak Pisang Langit kalap. Dia tidak menduga bisa dipecundangi hanya dengan tiga kali gerakan saja.

“Huh! Kenapa tidak bisa? Membunuh kalian berempat bagiku tidak sesusah menepuk lalat. Nah, tahan ini!” segera Cempaka membuka serangan ke arah kepala.

Pisang Langit melompat kebelakang dengan cepat. Pukulan Cempaka yang menghantam kepala itu luput. Namun perempuan sakti dari Karang Sedana itu tidak berhenti sampai di situ. Ia terus mencecar Pisang Langit dan kedua temannya dengan cepat. Pukulannya menyambar kian kemari. Daruta yang menyaksikan serangan Cempaka yang mengandung hawa maut itu tersentak kaget. Dia pun segera meloncat ke tengah-tengah arena.

(13)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Cempaka yang dikejar oleh Daruta dan teman- temannya. Dan mereka bertarung di dalam hutan kecil di perbatasan desa Babatan. Cempaka saat berkelahi dengan Pisang Langit dan kedua temannya segera mendapat bantuan dari Daruta. Daruta masuk dalam pertarungan saat melihat Pisang Langit ditekan oleh serangan-serangan Cempaka yang dahsyat.

“Hup! Hait! Hiat!”

“Mampus kau perempuan setaan!”

“Hahahah! Nah, begitu. Baru namanya teman sejati. Jangan kau biarkan ketiga temanmu ini mati dengan penasaran tanpa mendapat bantuan darimu! “Haitt! Hiatt!” “Kurang ajar!”

“Hait! Hup! Hiat! Hahahah, hanya seginikah ilmu yang kalian andalkan untuk menangkapku? Huh! Sesumbar kalian begitu hebat. Kalian ingin mengambilku menjadi istri kalian. Ingin mengambil uang-uang emas yang kubawa ini. Ayo! Ambillah, jangan hanya berloncatan begitu! Ayo! Jadikanlah aku istri kalian! Jadikan aku pemuas nafsu kalian!” sambil tertawa-tawa mengejek, Cempaka berkelebat kesana-kemari. Mengomeli mereka sembari mengelak ringan dari serangan Daruta dan teman-temannya yang disusul dengan mengirimkan pukulan dan tendangan ringan ke arah mereka.

“Setan alas! Ternyata perempuan ini memiliki kehebatan yang luar biasa. Jurus serangannya sulit diterka. Aku dan teman-temanku tak dapat menyentuh tubuhnya. Wah, gerakannya gesit dan lincah sekali. Oooh, Pandul dan Pandil terkena pukulannya. Aduh, kedua temanku tidak bersuara. Setan Alas!” Pisang Langit memaki dalam hatinya.

“Hahahahah! Lihatlah, kedua temanmu itu sudah tidur. Sebentar lagi kalian berdua akan kubuat tidur untuk selama-lamanya. Supaya kalian tidak lagi mempunya mimpi untuk kawin lagi!” selesai berkata Cempaka kembali menggelar gerakannya.

“Ah, ternyata aku salah kira. Perempuan ini bukan perempuan biasa. Dia ternyata seorang pendekar. Pantas, dia berani membawa uang emas sebanyak itu. Oh, aku harus melarikan diri. Aku tidak boleh mati!”

“Hei! Penjahat rendah! Mana suaramu? Mana kata-katamu tadi? Tadi kau akan membayar aku, di saat aku makan. Tetapi saat melihat justru aku mempunyai uang banyak, kau jadi penasaran ingin merebutnya. Dan kau juga ingin memperkosaku. Ayo lakukanlah! Tangkap aku! Huh! Kalian manusia yang tak berguna! Matilah kalian semua, mampuslah!! Huppp!” Selesai berkata, Cempaka langsung meloncat dua tindak kebelakang. Perempuan itu langsung menyilangkan tangannya di depan dada. Lalu pada saat berikutnya Cempaka melenting seperti seekor kijang. Kedua tangannya berputar cepat. Angin pukulannya menderu. Daruta dan Pisang Langit tersentak, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. “Terimalah ajal kalian ini! Hiaaaatt!”

“Hahahahaha, ternyata mulutmu saja yang besar. Huh! Sekarang kau pergilah! Dan bicaralah dengan dewa maut penjaga pintu neraka. Tujulah dewa maut dan lawanlah dia. Pertanggungjawabkan dosa-dosamu!”

“Wahh, kakang Daruta bisa dibunuhnya dengan mudah. Kepala kakang Daruta terbelah dua kena pukulan tangannya. Aku, Oh… oh…”

“Nah, sekarang giliranmu. Tenanglah. Heh, dan katakan kau mati yang bagaimana heh? Apakah mati dengan dada membiru, atau kepala terbelah seperti temanmu ini, atau kau mau mati berdiri? Sebut saja, dan aku akan mengabulkannya. Heh!? Kenapa kau gemetar? Kau masih sayang juga dengan nyawa anjingmu itu heh?” “Ah,…I.. Iya… Iya. Oh, ampunkanlah saya dewi. Ampunkanlah saya… Saya punya istri dan anak. Mereka butuh kasih sayang. Ya, mereka butuh hidup. Ampunkanlah saya…” jawab Pisang Langit yang tergolek di tanah menggigil ketakutan. Bahkan terkencing- kencing melihat Daruta yang mati dengan kepala terbelah tak jauh disampingnya.

“Apa?! Ampun? Hahahaha, ampun itu sejenis binatang apa heh? Apakah ampun itu sejenis binatang seperti kau? Heh! Aku tidak tahu apa artinya ampun, bagiku kau tidak lebih dari seekor anjing! Kalau ekormu terjepit kau menggonggong kesakitan. Tapi kalau kau ditolong kau malah menggigit orang yang menolongmu. Nah! Bersiaplah! Aku akan mencabut nyawamu!”

“Ampun! Ampunilah saya dewi! Ooh… saya bertobat. Ampun… ampun dewi saya berjanji akan mengubah cara hidup saya…”

“Pisang Langit! Tadi gayamu seperti seorang jagoan yang hebat. Kau ingin menjadikan aku istrimu yang keempat. Dan kau akan memintakan ampun pada sahabatmu itu. Huh! Tapi sekarang, mana suaramu itu? Mana janjimu yang akan memintakan ampun untukku? Kenapa malah kau yang meminta ampun?! Hahaha, dengarlah Pisang Langit, kalau kemarin atau beberapa hari yang lalu kau meminta ampun padaku, kau pasti kuampuni. Betapapun besar salah dan dosamu padaku. Tapi untuk hari ini, aku tidak akan pernah mau mengampuni orang-orang sepertimu. Orang-orang yang suka menyakiti hati istrinya akan mati ditanganku! Kau dengar itu?!” seru Cempaka setengah berteriak kalap. “Mereka akan mati ditanganku! Bukan itu saja, aku juga akan membunuh semua perempuan yang merampas suami orang lain. Nah, aku tidak perlu lagi berpanjang lebar. Sekarang tutup matamu! Terimalah kematianmu dengan tenang.”

“Oh, dewi…. Apakah hatimu telah tertutup untuk mengampuniku? Jangan kau kasihan padaku, tapi bayangkanlah anak dan istriku. Mereka begitu menantikan diriku. Mereka menunggu aku pulang dengan hasil dari pekerjaanku. Oh, mereka akan kehilangan diriku.” Sambil beringsut-ingsut mencoba menjauhi Cempaka, Pisang Langit merengek-rengek membujuk dengan harapan Cempaka dapat luluh dan iba hatinya. Alih- alih tersentuh hatinya, Cempaka malah tambah muak dan sebal.

“Aah! Cukup! Jangan kau buat hatiku iba padamu. Saat ini tidak ada lagi rasa iba dalam hatiku. Semuanya sudah tertutup untuk orang-orang seperti kalian. Soal istri dan anakmu, aku akan menolong mereka. Aku akan memberikan kehidupan kepada mereka jauh lebih layak daripada yang kau berikan selama ini.” bentak Cempaka kesal. Lalu dengan dingin dia berkata, “Sudahlah, tutup matamu. Ooh, atau kau ingin melawanku? Baik, bersiaplah!”

“Baiklah, kalau kau ingin membunuhku. Aku akan membela diri. Hup! Hiat!” Pisang Langit menyerang Cempaka dengan cepat. Dia mencabut senjatanya. Namun Cempaka yang telah mengalirkan hawa sakti ke tangannya segera menyambut serangan itu dengan tenang. Tubuhnya berkelit lalu dengan cepat tangan kirinya menyodok. Pisang Langit tersentak, dia ingin menarik serangannya namun Cempaka lebih cepat mengubah serangannya.

“Huup!! Hiaattt! Hiaaa!!!” seru Cempaka tinggi. “Aaarrghhh!!”

Sambil tersengal-sengal oleh amarahnya Cempaka meludah pada Daruta dan Pisang Langit yang telah jadi mayat, “Mampuslah kau manusia busuk! Kalian memang tidak boleh dibiarkan hidup. Karena kalian akan terus mengganggu perempuan-perempuan cantik yang kalian jumpai.” Pandangannya kemudian beralih pada dua orang lainnya yang ternyata belum mati. “Dan kalian manusia busuk, untung kalian pingsan. Kalau tidak, kalianpun akan kubunuh! Ohh, terlalu enak kalau kalian kubiarkan begitu saja. Kalian berdua harus mendapatkan kenang-kenangan dariku.”

Cempaka kemudian mendekati kedua laki-laki yang pingsan itu. Dengan kasar dia membalikkan tubuh kedua laki-laki itu. Setelah itu dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, Cempaka menghantam kedua lengan laki-laki yang pingsan itu. Tak ayal lagi kedua lengan laki-laki yang pingsan itu putus. Darah segar mengucur dari lukanya. Lalu dengan cepat Cempaka menotok jalan darah di lengan musuhnya. Darah mengalir perlahan.

“Nah, itulah ganjaran buat kalian. Kurasa kalian tidak akan bisa berbuat nakal lagi pada orang lain.” Pikir Cempaka, “Ooh, sekarang aku harus pergi ke istri-istri Pisang Langit. Aku akan memberi mereka beberapa keping uang emas ini. Semoga saja mereka bisa menggunakan sebagai modal usaha.”

Cempaka melesat meninggalkan hutan perbatasan desa Babatan itu. Dia kembali menuju ke rumah makan pak Dondong. Tetapi begitu dia tiba di tengah desa, dia melihat serombongan prajurit kerajaan yang sedang berkuda.

“Oh, para prajurit Karang Sedana,… tapi mereka pasti bukan dari prajurit istana. Mereka pasti prajurit kademangan Burangrang. Ya, benar. Itu ada tanda diatas dada mereka. Ooh, aku tidak boleh ke sana. Mereka menghentikan kuda-kuda mereka di depan rumah makan pak Dondong. Nah, itu mereka masuk ke dalam rumah makan itu. Oh, apakah mereka mencariku karena perintah kanda Purbaya?! Oh, aku yakin pasti kanda Purbaya telah memerintahkan para prajurit di goa karang untuk meminta bantuan para prajurit di sekitar goa burangrang atau kademangan terdekat untuk mencariku. Oh, iya. Mereka keluar dari rumah makan pak Dondong. Mereka naik ke kuda lagi. Oh mereka menuju ke arah barat. Sebaiknya aku keluar dan pergi ke rumah makan pak Dondong. Aku harus tahu dimana rumah istri-istri Pisang Langit. Aku yakin pak Dondong akan mengetahuinya, ataupun orang-orang yang ada di rumah makan itu.”

“Selamat siang, pak Dondong.” sapa Cempaka. “Ehh, neng Ayu. Waah, kenapa kau kembali lagi kemari? Ee, eh… apa kau tidak berjumpa dengan Daruta dan ketiga teman-temannya? Mereka tadi menyusulmu kesana.”

“Aku bertemu dengan mereka pak.” “Heh?!” pak Dondong terheran.

“Karena urusan mereka itulah, aku jadi kembali lagi kemari. Aku ada perlu dengan pak Dondong.” sahut Cempaka kembali.

“A..ada… ada apa? Apakah kau diganggu sama mereka? Kalau begitu, saya… aduh, bapak tidak berani membantu. Mereka orang-orang jahat dan kasar, neng. Mereka tidak segan-segan melakukan penyiksaan pada kami yang lemah.”

“Ah, bapak tidak perlu cemas lagi sekarang. Daruta dan teman-temannya tidak akan mengganggu Bapak dan warga desa Babatan ini lagi. Daruta dan Pisang Langit sudah mati.” sambil tersenyum tenang Cempaka menyampaikan berita itu.

“Hah! Mereka sudah mati?!?” Pak Dondong yang tua itu memandang Cempaka dengan mata terbelalak. Bibirnya berdesis tak percaya. Berkali-kali dia mengucapkan kata-kata yang sama. Tidak percaya. “Hah!? Daruta dan Pisang Langit sudah mati? Mana mungkin, Neng?! Di desa ini tak ada yang sanggup membunuh mereka. Para prajurit kademangan pun tidak jarang takluk pada mereka…”

“Bapak mau percaya atau tidak, terserah. Yang penting aku sudah menyampaikan semuanya pada Bapak. Sekarang aku mohon bantuan Bapak. Antarkan aku ke rumah istri- istri Pisang Langit.”

“Hah?! Aku tidak salah dengar ini? Dan untuk apa kita ke sana?”

“Aku membawa pesan dari Pisang Langit untuk menyampaikan uang pada istri- istrinya. Amanah orang yang sudah mati harus dilaksanakan. Antarkan aku ke sana, Pak. Ah, sudahlah pak Dondong. Percayalah padaku bahwa Daruta dan Pisang Langit sudah mati, sedangkan dua orang temannya lagi sudah tidak berdaya lagi. Kedua tangan mereka sudah dibuntungi.”

“Ah, aku ini seperti mimpi saja Neng. Tapi siapa yang bisa dan mampu membunuh mereka? Apakah ada orang yang membantumu lepas dari tangan mereka? Dan orang yang menolongmu itu yang membunuh mereka?”

“Ah, sudahlah pak. Jangan terlalu tak percaya. Soal orang yang membunuh keduanya itu, nanti saja bapak tanyakan pada kedua orang temannya yang buntung itu. Aku yakin mereka akan kembali lagi ke desa ini.”

Pak Dondong masih saja terbengong seperti orang bodoh. Lama ditatapnya Cempaka tegak berdiri di depannya. Saat itu Cempaka sedang menyebarkan pandangannya ke seluruh ruangan rumah makan itu. Ada beberapa pasang mata memandang padanya.

“Ah, sudahlah pak. Ayo antarkan aku ke rumah istri-istri Pisang Langit. Nanti akan kuberi imbalan.” Cempaka berkata pada pak Dondong yang masih menatapnya. Lama- kelamaan Cempaka merasa risih ditatapi seperti itu.

Selesai berkata, Cempaka lalu mengeluarkan sekeping uang emas dan memberikannya pada pak Dondong. Laki-laki tua itu menerimanya sambil terbungkuk-bungkuk. Lalu setelah itu dia masuk ke dalam. Dua orang pembantunya keluar untuk menjagakan rumah makannya. Sedangkan pak Dondong sudah turun bersama Cempaka.

Cempaka berjalan mengikuti pak Dondong yang berjalan di depannya. Telinga Cempaka yang tajam mendengar derap kuda di kejauhan. Makin dekat, Cempaka mengenali bahwa para penunggang kuda itu adalah prajurit-prajurit kademangan.

“Pak Dondong, menyingkir cepat! Kita bersembunyi dahulu.”

“Aduh Neng, aduuh. Neng ini aneh-aneh saja. Masakkan melihat prajurit kademangan itu saja musti bersembunyi. Mereka tidak galak Neng. Mereka baik-baik. Tenang saja.”

“Sudahlah pak. Jangan banyak bicara.”

Cempaka dengan cepat menarik tangan pak Dondong. Orang tua itu tersentak kebelakang. Dan dia semakin kaget menyadari kekuatan Cempaka.

“Ah, Neng…. Kau… kau… Eeh, siapa kau ini sebenarnya?”

“Oh, maafkan aku pak. Aku tidak sengaja. Tapi, sudahlah. Diamlah dulu pak, biarkan mereka lewat dulu. Nanti aku ceritakan.”

Setelah prajurit berkuda itu lewat dan debu-debu yang mengepul di belakang kuda itu menyembunyikan sosok para prajurit, Cempaka mendesah. “Oh, mereka sudah jauh.”

“Oya pak. Sebelum aku cerita, aku ingin Bapak jujur padaku. Tadi sebelum aku masuk ke dalam rumah makan Bapak, aku melihat ada tiga orang penunggan kuda yang mengenakan seragam prajurit kademangan masuk ke dalam rumah makan Bapak. Apa yang mereka lakukan, aku yakin mereka tidak makan, bukan?”

“Eh, mereka tidak berbuat apa-apa Neng. Seperti itu mereka memang sering lakukan kalau mereka bertugas ke desa ini. Mereka orang baik-baik.” jawab pak Dondong. Dia mengira bahwa Cempaka pernah mengalami pengalaman buruk dengan prajurit kademangan sehingga merasa khawatir saat bertemu dengan prajurit kembali. “Iya, aku tahu mereka orang baik-baik. Tapi yang kumaksud apakah mereka tidak mencari seseorang? Misalnya mereka disuruh oleh atasannya untuk mencari penjahat atau buron kerajaan?”

Pak Dondong menatap Cempaka dengan teliti. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Laki- laki tua itu menarik nafas panjang.

“Neng ini pastilah bukan orang sembarangan. Karena Neng bisa menduga segalanya dengan pasti. Yah,

mereka memang mengemban tugas, tapi bukan dari Ki Demang ataupun dari Adipati. Tapi langsung dari maharaja yang dipertuan di tanah Pasundan ini. Mereka diutus oleh tuanku gusti prabu Purbaya untuk mencari istrinya yang pergi.”

“Oh, kanda Prabu rupanya dia telah meminta bantuan kademangan Burangrang untuk mencariku. Oh, berarti aku tidak boleh berjalan melewati kademangan ataupun desa-desa di dekat gunung Burangrang ini, karena para prajurit itu akan mengenalku.” pikir Cempaka, wajahnya tampak seperti melamun oleh ki Dondong.

“Neng, kenapa jadi pucat. Dan tubuh Neng gemetaran begini.”

“Ohh,… ti.. tidak pak. Tidak. Ah, ayo pak. Kita cepat pergi dari sini. Aku,… aku tidak boleh bertemu dengan mereka.” tergagap ditanya demikian. kami.” “Ah, tapi kenapa Neng? Mereka orang baik-baik. Para prajurit itu amat baik pada

“Oh, pada Bapak baik. Tapi tidak padaku. Ah, sudahlah pak…”

“Oh, kalau gitu Neng, Eh, Neng ini orang jahat… Ah… Aku tidak…” pak Dondong menjadi ketakutan. Perlahan dia mundur beberapa tindak kebelakang.

Cempaka bergerak cepat. Tangannya menyambar beberapa bagian jalan darah di tubuh orang tua itu. Seketika itu juga pak Dondong menjadi lumpuh. Matanya mendelik menatap pada Cempaka.

“Maafkan aku pak Dondong. Aku terpaksa melakukan hal ini, karena aku tak mau kau membuat urusanku bertambah. Ayo, kita jalan terus. Nanti aku akan melepas totokanku.” jelas Cempaka.

Pak Dondong tak dapat bersuara lagi. Urat di lehernya tertutup. Tubuhnya terasa lemas sekali. Laki-laki tua itu hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Cempaka. Mereka terus berjalan menyusup diantara rumah-rumah penduduk.

(14)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Cempaka yang membawa pak Dondong pemilik rumah makan desa Babatan itu pergi ke rumah istri Pisang Langit, bertemu dengan para prajurit yang melintas di jalanan desa. Menurut pak Dondong, prajurit-prajurit itu akan mencari Cempaka permaisuri kerajaan Karang Sedana yang melarikan diri. Cempaka yang gugup menotok pak Dondong dan mengajak berjalan dengan sembunyi-sembuyi menyusup di antara rumah-rumah penduduk.

“Jangan banyak membantah, Pak. Aku bisa berbuat lebih kasar dan keras dari Daruta dan Pisang Langit. Tapi kalau kau tidak banyak tingkah, aku akan bisa berbuat jauh lebih baik dari orang-orang Karang Sedana itu.” ancam Cempaka. Sebenarnya, tanpa di ancam pun pak Dondong sudah amat ketakutan. Dia mulai menduga bahwa Cempaka lah yang membunuh Daruta dan Pisang Langit. “Ayolah, Pak.”

Pak Dondong tidak berani membantah. Laki-laki yang sudah tertotok itu mengikuti ke mana langkah Cempaka. Di sebuah jalan kecil di balik sebuah rumah yang agak menjorok ke depan, pak Dondong berhenti lalu memberi isyarat. Cempaka menatap rumah yang ditunjuk oleh pak Dondong, lalu dengan cepat perempuan itu melepaskan totokannya. “Hup! Hait! Hiyatt!”

“Nah, kau sudah bisa bicara sekarang pak tua. Ayo, katakan… apakah rumah itu rumahnya istri Pisang Langit?”

“Eeh… eehh,.. iya Neng. Iya. Itu… itu rumahnya. Nah, Neng… masuklah sendiri, saya mau pulang.” jawab pak Dondong gelisah.

“Kita pulang sama-sama! Sekarang, mari kita masuk ke dalam. Ayo! Sudahlah, kau jangan takut lagi. Aku tidak akan menotokmu lagi.”

“Eh,… iya… iya… iya… Ba… baik, baik, baiklah. Baik Nyai…” gugup sekali jawabannya. “Tapi,.. tapi aduh, jangan… jangan ganggu aku lagi Neng. Aku…”

“Iya, aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi kau pun jangan membuat aku repot dan naik pitam. Ayo, jalan!”

“Siapa perempuan ini? Matanya tajam. Tidak seperti pertama aku melihatnya saat masuk ke rumah makanku tadi pagi. Matanya teduh dan penuh dengan sorotan duka. Wajahnya kusut,… ahh. Tapi sekarang wajahnya tampak keras. Dia memiliki kehebatan yang sulit aku bayangkan. Dia bisa menotokku dengan cepat. Apakah dia juga yang membunuh Daruta dan Pisang Langit? Lalu mau apa dia mengajakku ke rumah istri tua Pisang Langit ini?”

“Pak Dondong, ketuk pintunya.” “Ah, eh,… eh. Iya, baik. Baik Neng.”

Pintu rumah itu diketuk tiga kali. Kemudian saat daun pintu terbuka, tampaklah seorang wanita yang tampak letih. Wanita itu sebenarnya tidak terpaut terlalu jauh usianya dari Cempaka. Akan tetapi raut keletihan di wajah wanita itu telah membuatnya terlihat sangat tua.

“Eh, selamat siang Nyai. Maaf, saya…”

“Maaf Nyi, kami mengganggu.” potong Cempaka tak sabar. Dia tak sabar melihat ke-kikuk-an pak Dondong itu. Cempaka menghadapkan tubuhnya sehingga dapat terlihat oleh Nyai Pisang Langit.

“Oh, silakan. Silakan… Ada keperluan apa? Apakah pak Dondong akan mengantarkan perempuan ini padaku, dan mengatakan lagi bahwa ini istri kakang Pisang Langit yang berikutnya?”

“Oo.. Oo.. Oh, bu.. bu.. bukan. Sama sekali bukan. Nyai, kami…”

“Ah, sudahlah pak Dondong...” Nyai Pisang Langit mendesah, “Jangan banyak alasan lagi. Aku sudah bosan. Setiap orang desa ini datang ke mari membawa perempuan, pastilah yang mau menjadi istri kakang Pisang Langit. Aku sudah bosan. Yah, kenapa orang seperti kakang Pisang Langit itu tidak mati saja. Barangkali semua penderitaan perempuan-perempuan lemah seperti aku ini akan sirna. Ohh, Non… Masuklah! Yah, beginilah kehidupan diriku. Penuh dengan derita. Kuharap kau tidak menambah penderitaan kami ini, Non.”

“Yah, kau benar Nyai. Aku datang tidak akan membuat penderitaan lagi dalam hidupmu. Justru aku datang akan membuat kau bahagia. Aku datang kemari untuk mengabulkan permohonanmu.”

“Nyai, menurut Neng ini suamimu Pisang Langit sudah tewas…” kali ini yang berkata adalah pak Dondong.

“Apa!? Kakang Pisang Langit tewas?” Nyai Pisang Langit berseru kaget, tatapan matanya menjadi nanar. Kemudian dia mulai terisak dengan suara yang terdengar bergetar, “Kenapa dia bisa tewas? Dan siapa yang membunuhnya? Ooh, Kakang…”

“Nyai? Kau ini bagaimana? Bukankah kau tadi mengatakan kenapa orang seperti suamimu itu tidak mati saja. Tapi begitu kau mendengar suamimu mati, kenapa kau malah menangis? Kenapa kau tidak tertawa bahagia? Bukankan dengan demikian artinya kau terlepas dari segala penderitaanmu?” cela Cempaka keheranan.

“Ah, iya. Aku memang harus bahagia. Tapi yang menyusahkan diriku, siapa yang mau memberikan anak-anakku makan? Mereka masih kecil dan butuh biaya untuk hidup. Ohh, bagaimana aku harus mengumpani mereka?! Itulah yang membuat aku sedih.” jelas Nyai Langit.

“Oh, Cengeng! Belajarlah berusaha sendiri.” kecam Cempaka. “Usaha apa neng? Aku tidak punya banyak uang untuk membuka usaha di sini.

Ahh, jangankan untuk usaha, untuk makan saja sulit.”

“Bukankah suamimu tukang jagal?! Pasti dia banyak uangnya!”

“Iya, dia memang banyak uangnya. Tapi uang itu selalu diberikannya kepada perempuan simpanannya. Uang itu selalu dipakainya untuk berjudi, adu ayam.”

“Nah, karena suamimu sudah mati. Aku mau memberimu sedikit modal. Aku akan memberikan dua keping uang emas ini. Gunakanlah untuk usaha dan membesarkan anak- anakmu. Awas! kalau suatu saat kelak aku kembali kemari dan kulihat kau masih malas dan tidak mau usaha. Maka aku akan menghukummu. Aku akan membunuhmu! Ini uangnya, ambillah. Kurasa dua keping emas ini sudah cukup banyak untuk membuka sebuah warung nasi yang sederhana.”

“Oh, te… terima kasih Neng. Kau telah membantuku. Aku akan menggunakan uang ini sebaik-baiknya. Tapi…”

“Tetapi apa lagi? Kenapa kau tiba-tiba menjadi ragu-ragu dan pucat seperti itu?

Percayalah! Itu uang halal, uang yang dapat dari keringat sendiri.”

“Eh, bukan masalah halal atau tidaknya Neng. Tapi, bagaimana kalau ada yang ada yang tahu tentang uang emas ini. Bukankah mereka akan merampokku? Aa... aku takut sekali.”

“Kau jangan takut. Tidak akan ada yang akan tahu tentang hal ini kecuali pak Dondong yang membongkarnya pada orang-orang desa. Lagipula, bukankan prajurit kademangan ini baik-baik? Nah, kau bisa minta bantuan pada mereka. Dan kalau mereka tidak mau mendengarkan permintaanmu, menghadaplah pada Ki Demang. Kalau Ki Demangnya juga kurang ajar, laporlah pada prajurit kerajaan. Aku yakin di keraton suara rakyat kecil akan didengarkan.”