Babad Tanah Leluhur Jilid 06

Jilid 06

Pada kisah yang lalu diceritakan, Prabu Purbaya tengah memanggil Lastri dengan kekuatan gaibnya. Lastri yang sudah menyadari kenyataan itu telah membentengi dirinya dengan sebuah batu besar. Dan ketika kekuatan itu datang…

“Oh… Ah… Kekuatan itu muncul kembali. Aku dapat merasakannya. Uahh! Aku harus dapat mengatasinya… Uh, aku harus dapat mengatasinya! Kekuatan ini semakin tidak terbendung lagi. Aku… aku tidak sanggup lagi menahannya… aku… aku…” kesadaran Lastri makin melemah. Semakin lemah, sampai beberapa saat kemudian tiba-tiba matanya kembali nyalang.

“Hmmm, heaahh Huaahhh, engkau tidak akan dapat menguasai aku. Tidak! Engkau tidak akan dapat menguasai aku. Huaahhh!!” Nenek Ranggis yang ternyata masih berada di dalam tubuh Lastri segera menampakkan wujudnya. Seluruh tubuh Lastri berubah menjadi sangat menyeramkan dipenuhi dengan sisik-sisik yang tebal. Tawa seram yang biasa hadir mengiringi kemunculannya kini tidak terdengar lagi. Sambil terbungkuk-bungkuk, tubuh yang seram itu bergerak-gerak di gua yang sempit itu seakan- akan tengah mengerahkan kekuatannya untuk mengatasi kekuatan gaib yang dikirim oleh Prabu Purbaya dan Istrinya.

“Hrrmmm, grhhaaaa! Hiaahhh!! Uaahhh!!” raungan nenek Ranggis terdengar keras seiring tubuhnya yang menggeliat, menggelepar ingin terlepas dari jeratan gaib. Raungan-raungannya berlomba dengan gemericik air yang menetes dari atas gua. Akan tetapi lama-kelamaan gerakannya menjadi semakin lemah. Dan akhirnya tubuh yang menyeramkan itu terjatuh  tidak bergerak untuk beberapa saat.

Beberapa saat kemudian tubuh itu tampak bangkit dan bergerak perlahan-lahan dan kemudian berjalan ke arah pintu goa, seakan-akan ada yang mengendalikannya. Akan tetapi tubuh seram itu terhalang oleh batu besar yang menutupi goa.

“Uuahhh! Uaahh!” tubuh seram itu berusaha untuk keluar dari dalam gua dengan mendorong-dorong batu besar yang menyumpal mulut gua. Sebagian besar kekuatan Lastri yang telah berubah wujud menjadi nenek Ranggis telah lenyap bersamaan dengan lenyapnya kesadarannya. Karena itu tubuh seram yang terbungkuk-bungkuk itu tetap saja tidak berhasil mendorong batu yang menyumpal mulut goa.

Sementara itu dari hutan kecil yang tak jauh dari kota raja Sunda… “Dinda, dinda Cempaka.”

“Oh, Kanda. Kita tidak berhasil.”

“Iya, agaknya tubuh Lastri terkurung oleh sesuatu kekuatan yang tidak dapat kita tembus.”

“Iya sepertinya, Lastri terkurung dalam sebuah tempat yang rapat dan kokoh!” “Ah,” Prabu Purbaya mengalihkan pandangannya ke arah Anting Wulan dan Saka

Palwaguna menunggu, lalu dia memanggil, “Paman Saka! Bibi Anting!”

“Bagaimana Tuanku?”

“Ah, kami tidak berhasil memanggilnya kemari. Tetapi rasanya kami telah berhasil menguasai dirinya.”

“Iblis itu agaknya telah menyiapkan dirinya. Telah membentengi tempatnya.” “Tetapi, kami dapat mengetahui perkiraan dimana dia berada.”

“Iya, Kanda benar. Kita dapat menuju arah barat di mana Lastri berada. Mudah- mudahan sebelum fajar kita akan tiba di tempatnya.”

“Jika begitu, marilah Tuanku. Kita tidak boleh membuang-buang waktu lagi.” “Paman benar, marilah Kanda Prabu. Huppp!”

Mereka berempat segera melompat ke punggung kuda masing-masing, lalu segera menghela kuda mereka ke arah barat. Debu mengepul digebrak oleh derap kaki kuda di tengah kegelapan malam.

“Sudah hampir fajar kanda Purbaya. Apakah kita akan mencoba menentukan tempatnya kembali dengan bantuan kekuatan agung?”

“Ya, kita akan melakukannya kembali.” jawab Prabu Purbaya, kemudian menarik hela kudanya. Tidak berapa lama kudanya berhenti, begitu pula kuda yang ditunggangi istrinya yang tidak berada jauh di belakangnya. “Ah, kami akan mencoba melacak kembali keberadaan Lastri, bibi Wulan. Kami harap bibi dan paman berjaga-jaga disekitar tempat ini.”

“Akan hamba lakukan, Tuanku.”

Raden Saka Palwaguna dan Anting Wulan kembali duduk beberapa tombak dari tempat Prabu Purbaya dan permaisurinya bersemedi. Mereka memandang penuh perhatian pada dua sosok yang tengah bersemedi. Tetapi mereka juga tidak melupakan tugas mereka untuk mengawasi situasi di sekeliling tempat tersebut. Akan tetapi, tiba-tiba saja Anting Wulan merasakan sesuatu keanehan di dalam dirinya.

“Sepertinya ada yang mengusik batinku. Oh, sang Dewi?! Sang Dewi kah? Yah, pastilah yang mengusik batinku adalah sang Dewi dari laut selatan. Aku akan mencoba menghubunginya.”

“Ah, kanda. Ah, tolong kau lebih mengamati situasi di sekitar tempat ini. Aku akan bersemedi sebentar…” bisik Anting Wulan pada suaminya.

“Tetapi Dinda,…”

Tanpa menunggu persetujuan suaminya, Anting Wulan segera menjauh dari tempat itu. Kemudian dia segera mengambil sikap bersemedi khas murid penguasa laut selatan.

“Engkau kah itu, wahai sang dewi yang agung?!”

“Benar Anting Wulan. Aku tidak sabar lagi untuk menumbuk siluman merapi itu. Cepatlah kau menuju arah selatan dari tempat ini. Siluman itu sudah berada tidak jauh lagi dari tempat ini.”

“Baik sang Dewi. Hamba akan menunggu tuanku Purbaya dan mengabarkannya.” “Tetapi, siluman itu tengah bersiap-siap untuk meninggalkan gua persembunyian

nya.”

“Hamba akan menunggunya.”

“Itu agaknya baginda Purbaya telah melacak tempat siluman itu. Kau bisa membuka matamu Wulan…”

“Dia berada tak jauh lagi dari tempat ini. Disebelah selatan. Agaknya siluman itu mengurung dirinya di dalam goa karang. Mari kita segera ke sana.” ujar permaisuri Cempaka.

“Itu disana tuanku. Pastilah itu gua tempat persembunyiannya!” seru Anting Wulan saat matanya melihat sebuah ceruk goa karang.

“Dia sudah tidak ada Tuanku.” kata Anting Wulan.

“Kau yakin, ini adalah gua tempat persembunyiannya?” tanya Prabu Purbaya. “Iya, pasti! Itu lihat,… sebuah batu besar di samping mulut goa. Pastilah itu penyebabnya hingga kita tidak dapat memanggilnya. Dia mengunci mulut goa itu dengan batu besar.” jawab Cempaka meyakinkan.

“Dan sekarang kita akan dapat memanggilnya…” Prabu Purbaya berkata lirih.

“Tetapi, dia ah… dia berada tidak jauh lagi. Kita dapat mengejarnya Tuanku. Dia berlari ke arah barat sana.”

“Hei, bibi yakin!?” Cempaka terheran.

“Marilah tuanku, jangan membuang-buang waktu!” desak Anting Wulan.

“Baiklah, kita kejar siluman itu. Hup!” Prabu Purbaya melesat bersama dengan Cempaka. Anting Wulan pun kemudian bergerak menyusulnya. Dan gerak kilat yang telah didapatkannya dipantai selatan segera digelarkannya.

“Maaf, hamba mendahului tuanku!” seru Anting Wulan.

Tubuh Anting Wulan melesat ke arah barat mendahului prabu Purbaya, Cempaka dan raden Saka Palwaguna suaminya. Sementara itu si Tunggul kudanya mengikuti di samping mereka. Melihat hal tersebut, Raden Saka Palwaguna merasa tidak enak hati.

Karenanya dia menawarkan si Tunggul pada kedua penguasa keraton Sunda di sampingnya, “Tuanku berdua dapat menunggangi si Tunggul. Biar hamba mengiringi disampingnya.”

“Biarlah paman. Sekali-kali biarlah keringat mengalir di tubuh kami berdua.

Marilah kita berpacu menyusul istrimu.” ajak prabu Purbaya dengan penuh semangat.

“Oh, itu dia Lastri. Ada dihadapanku.” Anting Wulan telah berhasil menyusul Lastri. Kemudian dia berseru keras, “Heiii, tunggu aku siluman jahat!”

“Engkau tidak akan bisa lari dariku Lastri. Agaknya siluman itu benar-benar telah menyatu dengan dirimu. Menyatu dengan aliran darah dan bahkan dengan nafasnya. Karena itu…”

“Karena itu apa?!” sergah Lastri.

“Karena itu aku terpaksa akan bertindak keras, demi ketentraman tanah ini.” “Hm?! Kau akan membunuhku?”

“Aku akan melenyapkan keangkaramurkaan yang bersarang di tubuhmu!”

“Hm? Hm?! Hahahaha… Apakah engkau tidak sanggup menghadapiku seorang diri?! Marilah kita cari tempat yang sepi. Tempat yang tidak akan dapat dijamah oleh teman-temanmu itu.”

“Aku tidak dapat diperdaya oleh dirimu lagi. Tempat ini juga akan kubuat menjadi kuburanmu. Hupp!” Anting Wulan mulai menggelarkan aji Banyu Chakra Buana. Sementara dihadapannya Lastri telah berubah bentuknya menjadi makhluk bersisik yang sangat menyeramkan. Tubuh yang dipenuhi sisik, kini terbungkuk-bungkuk. Pertanda nenek Ranggis siluman ular dari lereng merapi itu telah hadir di dalam diri Lastri yang telah berubah menjadi makhluk yang menyeramkan.

“Hmm!? Ahahahahahh!” geraman dan seringai tawa menyeramkan terdengar. Tawa itu mengejek dengan berkata, “Hahahaha ayo lontarkanlah! Lontarkanlah Banyu Chakra Buana andalanmu itu, Heh, Dewi Pengung!”

“Apa ini? Kekuatan apa yang memasuki diriku? Oh, Sang Dewi kah? Oh, iya agaknya guru… wanita agung itu telah membantu diriku.” Anting Wulan merasakan sebuah kekuatan merasuki dirinya. Kekuatannya bertambah. Dengan gembira dia berseru pada lawannya, “Hai jaga seranganku nenek siluman! Hiyaatt!!”

Ketika pertarungan baru saja dimulai, dari arah timur muncul tiga sosok tubuh saling susul menyusul. Dan ternyata, mereka adalah raden Saka Palwaguna, prabu Purbaya dan permaisurinya.

“Saya akan membantunya, Tuan.” kata Saka Palwaguna bagaikan meminta ijin. “Biarkanlah dahulu. Aku kira istrimu masih dapat mengimbanginya. Jangan

khawatir, aku pun tidak akan membiarkan bibi Wulan mendapat celaka.” jawab Prabu Purbaya menenangkannya.

“Terima kasih, Tuan.”

Sementara itu, pertarungan itu masih berjalan alot. Nenek Ranggis dalam tertawaannya bersiasat untuk memenangkan pertarungan. Pikirnya,”Wahhahahah, aku akan mengubah cara pertempuran ini. Dan aku yakin dewi laut selatan itu tidak akan mengikuti caraku.”

Lalu, sontak tubuh Lastri yang dibantu oleh nenek Ranggis yang menjadi lawan Anting Wulan itu bergetar hebat, semakin lama getarannya itu semakin tidak kentara karena semakin kuat. Hingga akhirnya tubuhnya lenyap dari pandangan mata.

“Oh, lawanku menggunakan aji Halimunan.” Anting Wulan terkesiap.

“Ayolah dewi Pengung, kejarlah aku!” terdengar ejekan Lastri tanpa wujudnya.

Anting Wulan nampak menjadi kerepotan ketika tiba-tiba mendapat serangan dari arah yang tidak diketahuinya. Dalam kerepotannya, Anting Wulan merasakan suatu keanehan. Kekuatan yang menggemuruh di dalam dirinya dirasakan lenyap dalam seketika.

“Oh, apa yang terjadi pada diriku? Tiba-tiba saja kekuatanku lenyap sebagian. Oh… apakah sang dewi guruku telah meninggalkanku, meninggalkan tubuhku?!”

“Dinda, pusatkan seluruh kekuatan saktimu pada indra pendengaran. Berhati- hatilah. Kita akan menghadapi serangan itu hanya dengan pendengaran kita.” “Kanda benar, itu adalah jalan satu-satunya yang dapat kita lakukan.” “Hei, dimana prabu Purbaya dan permaisurinya itu?”

“Bukankan tadi dia berada bersama Kanda?”

“Entahlah Dinda. Ketika aku mendekatimu keduanya masih berdiri disana.”

“Oh, apakah kedua junjungan kita itu mengejar siluman itu dengan aji Halimunan?”

“Entahlah Dinda, tetapi hmm iya ya… agaknya demikian. Lihatlah sekarang, kita tidak lagi merasakan gangguan dari siluman ular itu.”

“Ah, kita terus waspada. Agaknya di sekitar tempat ini tengah terjadi pertarungan.

Entah sang dewi guruku, entah itu sang Prabu dan permaisurinya.”

Kita tinggalkan dahulu Anting Wulan dan suaminya, Saka Palwaguna. Sekarang marilah kita ikuti kepergian prabu Purbaya dan permaisurinya.

Ketika melihat Lastri yang telah berubah bentuk itu lenyap dari pandangan mata. Prabu Purbaya dan Cempaka saling pandang. Keduanya kemudian membaca matra. Dan sesaat setelah raden Saka melompat mendekati istrinya, tubuh prabu Purbaya dan Cempaka lenyap dari pandangan mata.

“Lihatlah itu Dinda, ada seorang wanita cantik tengah menghadapi Lastri.” “Dia pastilah penguasa laut selatan, guru dari bibi Wulan.”

“He he he he... Kau mengejar aku dewi Pengung? Heh, apakah engkau tau apa akibatnya jika kau menghadapiku dengan cara seperti ini? Ha ha ha ha ha! Kekuatanku masih merupakan kekuatan gabungan dengan manusia, dewi Pengung! Ha ha ha ha ha!”

(24)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Nenek Ranggis yang telah bersekutu dengan Lastri menghilang dari pandangan mata. Prabu Purbaya dan Cempaka yang melihat hal tersebut segera mengejarnya. Akan tetapi di alam lain...

“Lihatlah itu Dinda, ada seorang wanita cantik yang nampak begitu agung tengah menghadapi nenek Ranggis.”

“Dia pastilah penguasa laut selatan, guru dari bibi Wulan.”

“He he he he... Kau berani mengejar aku dewi Pengung? Apakah engkau tidak tau apa akibatnya menghadapiku dengan cara seperti ini? Ha ha ha ha ha!” Terdengar Nenek Ranggis tertawa terkekeh, lalu dia berkata lagi. “Kekuatanku masih merupakan kekuatan gabungan dari siluman dan manusia. Aku saat ini bukan hanya merupakan mahluk halus, bukan sekedar siluman, tetapi aku juga adalah manusia. Ha ha ha ha ha ha!” “Aku menyadari akan kekuatanmu saat ini, tapi aku tidak gentar wahai siluman jahat!” tanpa basa basi, dewi Pengung alias penguasa laut selatan segera mengerahkan serangan ajian Banyu Cakra Buana tingkat tertinggi yang dimilikinya ke tubuh siluman ular dihadapannya. Akan tetapi...

“Oh, lihatlah kanda, serangan penguasa laut selatan itu hampir tidak ada artinya.

Siluman ular jahat itu mulai mendesak.”

“Iya, kita harus menolongnya. Jika tidak, penguasa laut selatan akan mendapatkan kesulitan. Persekutuan nenek Ranggis dengan Lastri membuatnya menjadi semakin tangguh. Sementara penguasa laut selatan itu tidak mampu membawa tubuh bibi Wulan ke alam ini.”

“Iya, karena kekuatan penguasa laut selatan dengan bibi Wulan bukan merupakan kesatuan. Oh lihatlah itu kanda...”

Tanpa berbicara lebih lama lagi, Cempaka segera melesat memapaki serangan nenek Ranggis. Telapak tangan yang halus tapi berisi kekuatan ajian Banyu Cakra Buana paling sempurna mampu mendorong mundur nenek Ranggis hingga dia menggeram marah. Walau demikian, nenek iblis itu tidak terluka sedikitpun.

“Engkau mencampuri urusanku lagi. Engkau berada di alamku, engkau tidak akan dapat mengalahkan aku!”

“Kita akan menghadapinya dengan pusaka kita, Kanda.” “Ya, mari Dinda.”

Menyadari kedua lawannya akan mengeluarkan senjata pusaka ampuhnya, kembali Nenek Ranggis melesat menerjang dua lawannya. Tetapi penguasa laut selatan yang berdiri disampingnya, melesat menghadang serangan siluman ular itu.

“Mundurlah, sang Dewi...” berkata Prabu Purbaya.

Nenek Ranggis kembali ke alam nyata, di tengah hutan di kaki bukit Burangrang. Setibanya di alam nyata, bagaikan meteor cepatnya nenek Ranggis menerjang Anting Wulan.

“Awas dinda, Wulan!” seru Saka Palwaguna. “Mundurr!!! jangan coba-coba mendekat.”

Prabu Purbaya bersama istrinya dan sang dewi penguasa laut selatan tidak mampu untuk berbuat apapun untuk beberapa saat.

“Eh, hahahahahaha! Ah hahahaha!! Engkau pun jangan coba-coba untuk merasuk kedalam tubuhnya. Aku akan memutuskan nadi muridmu ini, wahai dewi Pengung!”

Raden Saka tertegun, tubuhnya gemetar. Sementara Anting Wulan sendiri telah lumpuh secara total. Bahkan untuk mengeluarkan suara pun ia tidak lagi mempunyai kekuatan. Raden Saka kemudian memandang prabu Purbaya dan permaisurinya seakan- akan meratap memohon pertolongan. Dan wanita agung penguasa laut selatan melangkah perlahan-lahan mendekati prabu Purbaya dan Cempaka...

“Hanya tuanku berdua lah yang mampu menyelamatkan murid hamba. Untuk itu, hamba mohon agar tuanku yang mulia mau menolongnya. Selamatkanlah murid hamba.” Prabu Purbaya dan Cempaka tidak menjawab permohonan tersebut. Akan tetapi keduanya justru menjadi cemas tiada terkira. Untuk beberapa saat, suasana di hutan menjadi sunyi. Melihat hal tersebut kembali penguasa laut selatan membungkukkan

tubuhnya untuk menghaturkan sembahnya.

“Wahai sang penjaga alam, pencipta ketentraman bumi... tolonglah... selamatkanlah wanita perkasa yang jujur dan berhati bersih itu. Selamatkanlah dia wahai sang penjaga alam yang agung.”

Mendengar kata-kata itu, prabu Purbaya dan permaisurinya tertegun. Akan tetapi tiba-tiba ia merasakan suatu keanehan. Hawa hangat yang mulai mengalir di seluruh tubuhnya. Dan pada saat itu juga, cahaya keemasan yang gemilang memancar dari tubuh pasangan suami istri dari keraton kerajaan sunda. Prabu Purbaya dan Cempaka tidak dapat mencegah ketika melihat Saka Palwaguna dan penguasa laut selatan itu menjatuhkan diri dan berlutut menghaturkan sembah. Sementara itu...

“Engkau tidak boleh mencampuri urusanku! Hyang Agung telah memberikan wewenang kepadaku untuk bertindak di mayapada ini sesuai dengan kutukan yang dijatuhkannya kepadaku!!” nenek Ranggis berteriak kalap.

“Dan aku pun mendapat tugas untuk melebur iblis jahat seperti dirimu!”

“Benar kanda Wisnu. Sudah tidak ada kesempatan lagi bagi iblis itu untuk hadir di mayapada ini. Lepaskanlah wanita itu wahai siluman ular!”

“Kau tidak bisa memaksaku... Aku dapat membunuh wanita ini jika kau terus memaksaku. Menyingkirlah kau! Dan jangan mengganggu urusanku”

“Lepaskan wanita itu!” suara dewi Pohaci menggema. “Tidaaak!” jerit nenek Ranggis kalap.

“Lepaskan wanita itu!” kali ini suara dewa Wisnu menggema.

“Aku, ... aku dapat membunuhnya. Menyingkirlah kalian! Aku dapat membunuh wanita ini! Menyingkirlah hehehehehhh! Menyingkirlah kalian! Jika kalian terus memaksa aku dapat membakar wanita ini bersama tubuhku. Menyingkirlah!”

“Kau harus melakukan perintahku!”

Prabu Purbaya yang telah dirasuki oleh kekuatan yang agung itu kemudian memejamkan matanya. Cahaya gemilang yang memancar diseputar tubuhnya tiba-tiba membias semakin jauh. Merambat mendekati nenek Ranggis yang tengah memeluk erat-erat tubuh Anting Wulan yang tidak berdaya. “Jangan coba main-main dengan ku. Aku akan membawa wanita ini mati bersamaku, jangan coba-coba...”

Nenek Ranggis dalam kegelisahan bergerak mundur menjauhi cahaya yang mencurigakannya. Sementara itu Raden Saka Palwaguna menjadi gelisah melihat istrinya yang terus diseret mundur dengan nadi utama disekitar lehernya ditekan oleh nenek siluman itu. Akan tetapi tiba-tiba saja, cahaya itu melonjak cepat menyelimuti nenek Ranggis yang mundur perlahan-lahan. Dan seketika itu juga nenek Ranggis nampak menjadi lemah tidak berdaya dan kemudian jatuh ke bumi. Dan tubuh yang menyeramkan kembali menjadi wanita muda dengan rambut terurai. Melihat hal tersebut raden Saka Palwaguna melompat cepat memeluk tubuh istrinya.

“Huppp! Dinda, dinda Anting Wulan!?”

“Kanda Saka, ohh... dimanakah nenek siluman itu?”

“Lihatlah itu, prabu Purbaya yang telah dirasuki kekuatan agung telah menolongmu.”

“Ohh... terima kasih tuanku yang mulia, tuanku yang agung.”

“Hmmm... Lastri,.. aku harus membunuhnya. Aku harus membunuh siluman jahat ini. Huupppp!!!”

“Tunggu!!”

“Kenapa tuanku menahan saya yang hendak melenyapkan penyebab malapetaka di tanah Pasundan ini?”

“Bukankah kau dahulu akan menyelamatkan sahabatmu, Lastri?” “Iya, akan tetapi bukankah...?!”

“Aku mampu untuk memisahkan siluman itu dari tubuh sahabatmu” “Oh,...Mungkinkah itu, tuanku?”

“Tetapi kanda, siluman itu,... siluman itu tidak akan dapat kanda musnahkan secara sempurna”

“Kanda akan mampu mencegah keangkara murkaannya. Mundurlah Anting Wulan” “Baiklah tuanku...”

Prabu Purbaya mendekati tubuh lastri yang tergeletak tidak berdaya. Tepat disamping tubuh Lastri Prabu Purbaya yang telah dirasuki kekuatan agung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, dan ... secara tiba-tiba ditangan prabu Purbaya muncul sebuah pundi-pundi kecil terbuat dari emas murni lengkap dengan penutupnya. Kemudian prabu Purbaya meletakkan tangannya diatas kepala Lastri, dan kemudian dari ubun-ubun kepala Lastri keluar seekor ular mas kecil yang kemudian dipegang oleh prabu Purbaya dan dimasukkan kedalam pundi yang terbuat dari emas.

“Marilah ikut aku dinda Pohaci...”

“Oh mereka lenyap dinda Wulan, apa yang sebaiknya kita lakukan!?” “Kembalilah ke kraton Sunda segera, kami menunggu kalian disana” “Itu kanda, kita diharapkan untuk segera kembali ke Karang Sedana. Mari...”

“Ya, naiklah kau ke punggung si Tunggul, biar aku akan mengiringimu disampingnya.”

“Ah mengapa demikian, kita bisa tunggangi si Tunggul bersama-sama. Lastri dimuka bersamaku”

“Terima kasih dinda, biarlah dinda bersama lastri saja, kasihan si Tunggul kita tunggangi bertiga”

“Baiklah”

Raden Saka Palwaguna mengerahkan ajian Kidang Mamprung menjejeri Anting Wulan yang mengendarai kuda hitam.

Matahari pagi  naik semakin tinggi, tetapi  belum lagi tepat tengah hari Raden Saka Palwaguna telah tiba di gerbang kraton Sunda.

“Selamat datang tuan. Baginda sudah lama menunggu tuan berdua.” “Ha? Baginda Purbaya dan permaisurinya?”

“Iya, baginda dan permaisurinya”

“Hmm, marilah Dinda... kita tambatkan si Tunggul. Kita mencuci muka dulu. Dan kemudian kita menghadap baginda Purbaya.”

“Eh.. iya. Mari kanda” tergagap Anting Wulan menanggapi Saka Palwaguna, karena benaknya terus dilanda keheranan tak bertepi. Bagaimana bisa Purbaya dan Cempaka yang dikenalnya bahkan sering ditolongnya sejak kecil telah memiliki kesaktian yang jauh diatasnya. “Oh, rupanya Baginda Purbaya bukan hanya memiliki aji Halimunan, tetapi sekaligus berpindah tempat. Ohh... Luar biasa sekali.”

“Salam hormat kami ucapkan, kepada tuanku berdua yang agung.”

“Terima kasih kami, ucapkan kepada paman dan bibi berdua yang telah membantu kami melenyapkan siluman angkara murka itu”

“Tetapi bolehkah kami tau, apa yang telah tuan lakukan pada nenek Ranggis itu?” “Aaah... baiklah, tetapi bagaimana dengan Lastri sahabat bibi Wulan?”

“Dia baru saja tersadar dan kini ini tengah beristirahat ditemani oleh Kayan dan Paramudita”

“Aah.. ketahuilah Bibi Wulan, paman Saka... aku telah menguburkan siluman ular itu di tempat mana dulu bibi bersemadhi”

“Oh? Gunung Wangun?” “Ya. Gunung Wangun”

“Mengapa di tempat itu, jika hamba boleh tau?”

“Tempat itu tempat yang aman bagi kuburan siluman ular itu. Karena tempat itu merupakan tempat yang paling ditakuti oleh penduduk disekitarnya. Aku telah menanamnya di dalam gua itu.”

“Ohh iya, tuan benar. Tempat itu memang sangat aman. Tidak ada seorangpun yang akan berani naik hingga kesana.”

“Lalu sekarang bagaimana rencana paman dan bibi berdua? Ingin kembali ke Mataram? Eh tetapi aku masih mengharapkan paman dan bibi tetap beristirahat disini untuk beberapa hari lagi.”

“Sebenarnya kami sangat senang berada disini tuanku, tetapi awal purnama depan kami berdua sangat diharapkan di mataram.”

“Hei, apakah kakang prabu Sanjaya sudah mengetahui tentang kebersamaan kalian kembali?”

“Belum tuanku, kehadiran... kehadiran hamba berdua sangat diharapkan untuk membantu beliau menaklukkan beberapa kerajaan diseberang lautan.”

“Ooh hebat sekali kakang prabu Sanjaya... Hebat sekali.”

Prabu Purbaya menghela nafas dalam-dalam. Secara pribadi ia sangat mengagumi ambisi dari prabu Sanjaya. Namun jauh dalam lubuk hatinya, dia mengkhawatirkan keselamatan prabu Sanjaya yang sangat mengikuti ambisinya.

(25)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Prabu Purbaya telah berhasil melumpuhkan siluman ular dan kemudian mengurungnya di dalam pundi emas. Dan pundi emas yang berisi ular mas yang merupakan ruh dari Nenek Ranggis, siluman ular jahat itu dipendam di dalam tanah di sebuah gua dipuncak gunung Wangun. Dengan demikian Lastri berhasil diselamatkan Prabu Purbaya.

Siang harinya, di keraton Sunda…

“Lalu, kapankah kalian akan kembali?” Prabu Purbaya bertanya.

“Secepatnya Tuanku, karena rencana baginda Sanjaya hanya tinggal sepuluh hari lagi…” jawab Raden Saka Palwaguna.

“Baiklah. Jika engkau akan berangkat, sampaikanlah salam kami berdua pada kakang prabu Sanjaya.” pinta prabu Purbaya.

“Akan hamba sampaikan. Jika tidak ada lagi yang akan tuanku berdua sampaikan, hamba akan bersiap-siap. Dan melihat keadaan Lastri.” balas raden Saka. Dia kemudian menjura, menghaturkan sembah.

“Ah baiklah, silakan Paman. Ehm, aku pun akan menjenguknya.” kali ini permaisuri Cempaka yang  menimpali.

“Jika begitu, hamba berdua pamit terlebih dahulu.” giliran Anting Wulan yang kini berpamitan. “Silakan…” kedua penguasa Karang Sedana menjawab berbarengan.

Anting Wulan dan suaminya, Saka Palwaguna kembali ke bilik mereka untuk mengemasi pakaian dan perbekalan. Belum sampai mereka di bilik, keduanya mampir di kamar yang ditempati Lastri. Ada Kayan tengah duduk di meja kecil sambil membaca sebuah kitab. Adapun Lastri tampak tertidur di peraduan bilik itu.

“Bagaimana keadaan bibi Lastri, Kayan?” sapa Anting Wulan.

“Ah, tadi bibi Lastri tersadar, tetapi agaknya sekarang Bibi tertidur kembali.” jawab putranya. Ditutupnya buku yang tengah dibacanya. Lalu diletakan di meja. Kemudian pimpinan pengemis Tongkat Merah itu bangkit dan menyalami ayah bundanya dengan khidmat. Anting Wulan dan Saka Palwaguna duduk menghadapi putranya, mereka berbincang-bincang ringan. Dibelakang mereka, Lastri mulai tersadar karena suara perbincangan mereka itu.

“Ehmm… ehmm Oh, Nyai?! Nyai..”

“Eh, Lastri, engkau sudah sadar kembali?” sapa Anting Wulan yang kemudian berjalan mendekati pembaringan dimana Lastri terbangun.

“Oh Nyai, apa sebenarnya yang telah terjadi dengan diriku? Apa yang telah aku perbuat selama ini pada Nyai? Aku… aku benar-benar tidak mengerti. Aku pantas mendapat hukuman yang seberat-beratnya. Segalanya terjadi adalah karena keserakahanku. Karena keinginanku untuk menjadi wanita perkasa seperti halnya engkau. Maafkan aku Nyai…”

“Itu bukan salahmu Lastri. Apakah engkau lupa bahwa aku lah yang justru menumbuhkan sikap itu dalam tubuhmu. Didalam tubuh setiap murid kembang hitam. Engkau tidak bersalah. Sekarang semuanya telah sirna. Iblis itu sudah musnah. Iblis itu sudah lenyap dari percaturan tanah ini.”

“Benarkah itu Nyai? Iblis itu dapat dikalahkan? Nyai kah yang mengalahkannya?” “Baginda Purbaya. Beliau yang memisahkan siluman itu dari tubuhmu.”

“Oh…”

“Jika tidak mungkin kami akan membunuhmu sekaligus dengan siluman ular itu.

Karena itu berterima kasihlah pada beliau.”

“Ya, saya akan berterima kasih. Beliau seorang raja besar. Seorang bangsawan agung. Masih juga mau menyusahkan dirinya untuk memikirkan keselamatan saya, seorang wanita yang tidak berarti. Bahkan wanita keji yang telah menciptakan malapetaka sekalipun saat itu saya berada dalam kekuasaan nenek Ranggis.”

Pintu bilik itu kemudian terbuka. Prabu Purbaya dan permaisuri Cempaka yang ternyata sedari tadi menunggu di luar, kemudian memasuki bilik. “Tidak ada bedanya nyawa aku dan nyawa kaum Sudra sekalipun. Dimataku semuanya adalah sama.” Sambil tersenyum, prabu Purbaya berkata-kata.

“Oh, terima kasih Tuanku. Karena tuanku lah nyawa hamba yang dikuasai oleh siluman pembawa bencana masih berada pada raga ini. Terima kasih, Tuanku.” Lastri serentak bangkit, kemudian bersujud dan menjura menghaturkan sembah.

“Bangkitlah, Nyai. Dengan lenyapnya siluman itu aku mengharapkan engkau kini kembali menjadi seorang pendekar wanita mengikuti jejak gurumu, Bibi Wulan”

“Itu memang adalah cita-cita hamba. Mengabdi, menyerahkan seluruh jiwa raga ini pada Nyai Kembang Hitam yang telah membentuk saya menjadi wanita perkasa.”

“Oh, ya… Kayan dimanakah Paramuditha, mengapa dia tidak berada bersama mu?” tanya Cempaka pada Kayan karena tidak tampak olehnya keberadaan putrinya di bilik itu.

“Adik Ditha pergi meninggalkan saya yang tengah menjaga bibi Lastri setelah ibu saya menemui baginda di balairung.” Kayan menjelaskan.

“Oh, Kanda biarlah aku pergi mencari Paramuditha. Aku khawatir anak itu macam- macam lagi.” Cempaka menggamit prabu Purbaya, kemudian berbisik lirih meminta izin pada suaminya.

“Baik. Marilah kita bersama mencarinya.” Lalu Purbaya berkata, “Kami permisi Bibi, Paman. Dan kau baik-baiklah beristirahat Lastri.”

“Oh, terima kasih Tuanku.” ucap Lastri yang masih bersimpuh.

Kedua penguasa keraton Sunda itu kemudian keluar dari bilik tamu. Keduanya berjalan berdampingan melalui bilik mereka.

“Kanda, kanda tunggu sajalah di bilik. Dinda akan mengitari serambi kiri kemudian melalui taman sari. Dinda akan kembali lagi. Dinda yakin setidak-tidaknya Paramuditha berada di taman sari. “

“Baiklah. Kanda menunggu di bilik. Berhati-hatilah berbicara padanya, Dinda” pesan prabu Purbaya.

“Dinda mengerti…”

Cempaka bergegas cepat menyusuri serambi kiri. Sambil sesekali menegur dayang atau pun pengawal dalam, kalau-kalau melihat putrinya. Dan dari seorang dayang akhirnya dia mendapat kepastian bahwa putrinya berada di taman sari.

“Oh, benar. Itu dia Paramuditha di bawah pohon besar itu.” mata Cempaka berhasil menemukan putrinya tengah terisak lirih, terduduk di bawah sebatang pohon besar di taman sari. Cempaka lalu menyapa lembut, “Ditha… Ditha… Oh, Ditha mengapa engkau bermain sendiri? Engkau tidak bersama bersama Kayan?”

“Ditha sedih, Bu. Ditha tau kakak Kayan akan pergi sebab ibunda dan ayahanda yang pergi bersama orang tua kakak Kayan sudah kembali.” tutur Paramuditha dengan suara sedih.

“Ditha, bukankah ibu dan ayahanda sudah bicara kepadamu kemarin. Kami akan mengajakmu main ke Mataram untuk mengunjungi sahabatmu Kayan dan engkau sudah berjanji tidak akan bersedih lagi?”

“Iya Ditha memang sudah berjanji. Tapi tidak tahu kenapa Ditha jadi sedih lagi..” “Ah, Ditha. Dengarlah apakah Ditha tidak ingin menjadi seorang wanita yang

gagah?”

“Ditha ingin menjadi wanita yang gagah. Ditha ingin pandai seperti kakang Kayan.” “Apakah Ditha suka menjadi wanita yang lemah?”

“Ya tidak, Bu…”

“Naah jika begitu Ditha tidak boleh menangis.”

“Ditha tidak menangis…” sembari lengannya menyusut air mata di pipinya. “Ditha juga tidak boleh menunjukkan sikap murung dan bersedih seperti ini.

Wanita gagah tidak akan bersedih hati. Wanita gagah harus bisa mengatasi rasa sedih.” “Ya, ya Bunda, Ditha tidak akan bersedih.” Paramuditha kembali mengusap sisa

air mata di pipinya.

“Nah nanti jika kakangmu Kayan pamit untuk pergi, Ditha harus mengantarkan nya dengan hati yang tegar, tersenyum itu adalah ciri wanita yang gagah.”

“Iya, Bu. sekarang juga Ditha akan menemui kakang Kayan. Ditha tidak akan lari bersembunyi dan bersedih lagi. Ditha ingin menjadi wanita yang gagah…”

“Kau tidak ingin bertemu dengan ayahandamu?”

“Nanti Bu, Ditha akan menemui ayahanda. Biarlah Ditha menemui kakang Kayan dahulu.”

“Oh, Paramuditha…” gumam Cempaka lirih. Hatinya dipenuhi perasaan iba pada putrinya itu. Paramuditha berjalan bergegas keluar taman sari, bagai hendak kehilangan sesuatu yang amat berharga.

Setelah putrinya itu menghilang dari pandangan matanya, Cempaka pun beranjak menuju bilik. Di dalam bilik, suaminya bertanya cemas, “Oh, dimana Paramuditha? Engkau tidak menemukannya?”

“Dia sekarang main bersama kayan. Nanti dia akan kemari.”  jawab Cempaka singkat. Dia lalu berlari manja menuju Purbaya.

“Ehm kanda prabu…” Cempaka berkata meragu. “Ada apa dinda?”

“Eh Putri kita, paramuditha. Hatinya begitu keras, tidak beda dengan kanda.” “Heh apa yang dinda temukan pada dirinya?”

“Aku terpaksa mengusik kembali keinginannya untuk belajar olah kanuragan…” “Heh?!”

“Yah, terpaksa kanda prabu. Karena ehm… aku mencoba untuk menghilangkan kelemahannya, sikap sedihnya.”

“Tetapi dengan demikian dinda telah menanamkan janji Ditha kelak akan menagihnya” Purbaya tampak masih menyesalkan sikap istrinya.

“Apakah memang kanda tidak akan memberikan pelajaran olah kanuragan? Kanda akan membiarkan Ditha tumbuh menjadi seorang wanita yang lemah.”

“Apakah tanpa olah kanuragan Ditha akan mendapat kesulitan? Aku justru merasa sebaliknya. Dengan mempelajari olah kanuragan dia akan terseret oleh kesulitan dan marabahaya.”

“Tapi kanda prabu…”

“Pernahkan dinda membayangkan mempelajari olah kanuragan tanpa suatu masa pendadaran?”

“Mengapa tidak kanda prabu?”

“Siapakah yang kelak akan menjadi temannya berlatih? Apakah selamanya hanya kita dan tokoh-tokoh keraton ini? Heeh?! Apa jadinya dengan anak kita itu? Siapa yang akan bisa menghadapi putri kita secara bersungguh sungguh? semua pelajarannya tidak akan ada artinya tanpa masa pendadaran.”

“Oh iya, kanda benar. Tetapi itu semua jauh lebih baik daripada dia tidak memiliki kepandaian olah kanuragan kanda prabu.”

“Tanpa mempelajari olah kanuragan dia tidak akan melewati masa pendadaran. Dan dia akan dapat hidup damai dan tenteram di dalam keraton ini. Apa dinda dapat menahannya jika suatu saat anak itu terusik hatinya untuk main keluar istana ini?”

“Jadi kita tetap tidak akan memberi pelajaran olah kanuragan? Lalu bagaimana dengan perintah kanda pada paman Jangkung pengawal utama keraton ini?” “Kanda hanya memerintahkannya untuk memberikan pelajaran semedhi. Pelajaran itu kanda maksudkan untuk membentuk tubuhnya agar menjadi sehat. Olah kanuragan bukanlah segala-galanya. Aku sangat menyayangi anak itu.”

“Iya kanda dinda pun demikian…”

Sementara itu Anting Wulan dan raden Saka Palwaguna mulai berkemas. Lastri pun yang sudah dapat mengembalikan tenaganya mengiringi anting wulan dan keluarganya untuk berpamitan pada prabu Purbaya dan permaisurinya.

“Berangkatlah paman dan bibi, doa kami menyertai kalian. Dan sampaikan pula salam kami pada kakang prabu Sanjaya junjungan kalian.”

“Akan hamba sampaikan. Kami permisi…”

Anting Wulan bersama dengan keluarganya dan Lastri menuntun kuda mereka hingga ke pintu gerbang istana. Setibanya di pintu gerbang mereka masing-masing menaiki kuda yang telah disediakan prabu Purbaya.

“Oya, selamat jalan pula padamu Tunggul.” prabu Purbaya mengelus-elus leher si Tunggul yang ditunggangi Anting Wulan.

“Kakang, kakang Kayan … tunggu!” “Oh itu putri Paramuditha.”

“Oh, kakang selamat jalan aku ucapkan. ehmm … ini untuk kakang.” “Apa ini adik Ditha?”

“Itu kalung itu pemberian ayahandaku dan aku ingin memberikannya pada kakang. Ambillah dan pakailah kakang…”

“Tetapi kalung itu adalah kalung yang sangat berharga sekali terutama permata yang berada pada kalung itu.”

“Ambillah itu adalah milik putriku dan dia telah memberikannya padamu Kayan.” “Terima kasih adik Ditha aku aku tidak mempunyai sesuatu yang pantas untuk

kuberikan padamu.”

“Memangnya aku akan mengadakan tukar menukar atau jual beli. Pakailah Kakang…”

“Eh, eh aku mempunyai ini. Jangan tertawakan. Ambillah ini untukmu.”

“Uh seruling!”

“Iya, tetapi hanya terbuat dari bambu…” Kayan merendah. “Aku suka sekali kakang,” Paramuditha tampak senang sekali ketika dia mencoba membunyikannya, akan tetapi hanya ada suara angin saja. “Ah, aku tidak bisa meniupnya kakang…”

“Nanti jika kita bertemu lagi aku akan mengajarkanmu meniup suling itu.”

“Kakang berjanji?”

“Ya aku berjanji adik Ditha.”

“Sudahlah Ditha, kakang mu Kayan akan segera pergi…” dengan perasaan iba permaisuri Cempaka mengingatkan putrinya yang larut berbincang-bincang, seolah-olah hendak menahan keluarga Anting Wulan lebih lama lagi.

“Oh ya, selamat jalan Kakang!” “Selamat tinggal, Ditha.”

Keluarga Saka Palwaguna dengan disertai Lastri meninggalkan keraton Sunda. Anting Wulan tidak memacu si Tunggu agar ketiga kuda lainnya tidak tertinggal. Derap kuda mereka meninggalkan kepulan debu merah dibelakangnya. Menjelang sebuah pertigaan jalan, Anting Wulan berseru memanggil suaminya.

“Kita berhenti dulu kanda Saka.” “Ada apa dinda Wulan?”

“Aku ingin berbicara dulu pada Lastri, kanda”

“Oh”

“Ada apa, Nyai?”

“Aku minta engkau mau mendengarkan kata-kataku”

“Oh, apa kah itu Nyai? Tentu saja saya akan mengikuti kata-kata Nyai.” “Aku harapkan engkau mau menemani teman-teman yang lain…”

“Oh, teman teman yang lain?! maksudnya murid-murid Nyai lainnya? Dimanakah mereka sekarang berada? Dan apakah yang tengah mereka lakukan?”

“Mencoba melepaskan Cengkar Bala dari dalam tubuhnya, melepaskan segala sisa pengaruh buruk dari siluman jahat.”

“Ehm,.. sebenarnya saya ingin sekali bersama dengan Nyai tetapi jika itu adalah perintah, saya akan melaksanakannya. Kemana saya harus pergi, Nyai?”

“Pergilah ke pantai selatan carilah sebuah goa karang yang besar yang tidak jauh dari desa Tamiang. Engkau akan dapat menemukannya dengan mudah. Tetapi tempat itu merupakan tempat keramat yang ditakuti oleh penduduk disekitar pantai selatan.”

(26)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Anting Wulan memerintahkan Lastri untuk menuju goa karang di pantai selatan guna bergabung dengan teman-temannya yang lain. Setelah Lastri pergi meninggalkannya.

“Marilah Kanda, Kayan. Kita lanjutkan perjalanan kita.”

“Ah, baiklah Dinda Wulan. Mari…” Raden Saka Palwaguna menoleh pada putranya Kayan,”Hei Kayan?! Kayan!?”

“Eh, ada apa ayah?” “Engkau melamun?”

“Tidak. Tidak Ayah. Marilah kita pergi.”

“Kau memikirkan temanmu yang dahulu?” tanya Anting Wulan yang melihat putranya seperti merenungi sesuatu.

“Ah, aku tidak boleh mengganggu ketentraman kedua orang tuaku. Mereka baru saja berkumpul kembali setelah perpisahan mereka selama tiga belas tahun. Ah, kasihan sekali kak Ning…” pikir Kayan.

“Kayan…”

“Ah, iya Bu?! Ada apa?”

“Ibu tidak tahu harus ke mana mencari Diah Warih yang membawa sahabatmu itu.

Lalu bagaimana sebaiknya?”

“Eh,.. saya,.. saya juga tidak tahu, Bu.” “Ada apa Dinda Wulan, Kayan?”

“Sahabat Kayan seorang wanita berusia lima belas tahun berada di tangan Diah Warih. Salah seorang muridku yang sikapnya sangat menentangku, Kang.”

“Siapa anak itu? Maksudku orang tuanya?”

“Anak itu dipanggil dengan Ning Cilik. Aku tidak tahu siapa orang tuanya. Tetapi menurut yang ku ketahui dia adalah murid seorang tokoh sakti dari timur.”

“Hmm”

“Yaitu Alap Kadugampit. Dan dia adalah saudara seperguruan dari kakek Pungkur. Nah, jika begitu kita akan mencoba mengelilingi wilayah terakhir dimana berada anak itu. Menurut salah seorang muridku, Warih melarikannya ke arah barat dari arah kota Rupada.” 

“Jika begitu kita dapat langsung memotong dari tempat ini ke arah utara sana.” “Marilah, jangan membuang-buang waktu lagi. Hiyyah! Hiyyah!”

Anting Wulan menghela si Tunggul ke arah utara. Memotong jalur yang dicurigainya dilalui oleh Diah Warih. Beberapa saat mereka memacu kuda tanpa henti. Akhirnya… “Ah, desa di depan kita sudah merupakan jalur yang besar kemungkinannya dilalui oleh Diah Warih. Mari kita kesana dan mencari berita dari penduduk desa itu. Hiyaah!”

Anting Wulan bersama Raden Saka Palwaguna dan putranya Kayan Manggala menghela kuda mereka memasuki desa kecil di hadapan mereka. Akan tetapi tiba-tiba dari mulut desa itu menyebar beberapa orang penduduk dengan berbagai macam senjata mendekati mereka dan kemudian mengepungnya.

“Turun heh! Dan bersiaplah menerima pembalasan kami!”

“Tunggu, tunggu dulu kisanak. Kalian telah salah paham. Kami tidak bersalah apa- apa. Kami tidak mempunyai persoalan apapun dengan kalian. Benarkan Dinda Wulan, apa yang ku katakan?”

“Ah benar. Kami sekeluarga dalam perjalanan panjang. Dan kami benar-benar tidak mengerti maksud kalian.”

“Ah, ada apa sebenarnya?” tanya raden Saka pada salah seorang pengepungnya. “Kalian boleh memiliki kepandaian yang tinggi. Kalian boleh ditakuti oleh para pengawal dan prajurit kota. Tetapi untuk kekejian kalian, kami siap mati untuk

membalaskannya.”

“Kalian benar telah salah alamat kisanak. Aku tidak mengenal kalian dan juga desa ini. Aku adalah Saka Palwaguna dan ini adalah istriku Anting Wulan. Hmmm mungkin kalian yang tua-tua ini telah mengenal siapa kami ini sesungguhnya. Kami adalah murid dari perguruan…”

“Goa Larang! Kami tahu itu. Dan kami tau putra mu itu bernama Kayan. Dan engkau Anting Wulan juga bergelar Nyai Kembang Hitam.”

“Hmm, kalian mengerti itu semua. Apa yang telah terjadi di desa ini?”

“Kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan muridmu. Yang kau perintahkan untuk menyebarkan maut yang keji!”

“Setan! Katakan ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini?” Anting Wulan mulai tak sabar. Baginya pembicaraan ini bertele-tele karena dia tidak mengerti maksud penduduk itu menuduh dirinya sedemikian rupa.

“Kau tidak perlu berpura-pura! Seorang wanita keji telah kau kirimkan untuk menyebar malapetaka!” bentak seorang yang tampaknya jadi pemimpin penduduk itu. Dia lalu berseru, “Teman-teman, mari kita balaskan sakit hati puteri-puteri kita!”

“Ayo! Ayo! Ayo!!” belasan orang itu berseru-seru menyambut seruan orang tadi. Cepat sekali golok, klewang dan tombak melesat ke arah Anting Wulan dan keluarganya. Dan tentu kedua murid Goa Larang beserta putranya itu bukan pendekar kemarin sore yang harus tersungkur oleh serangan tiba-tiba seperti itu. Mereka mengelak kesana kemari dengan cukup mudah.

“Hup, haiit… Hiyatt!” Raden Saka Palwaguna mengelak sebuah tusukan tombak dan dua buah ayunan golok yang menyerbu kearahnya. Lalu tangannya mendorong para penyerangnya. Dia khawatir istrinya yang tampak tak sabar itu menurunkan tangan keras pada para penyerangnya. Dia berseru, “Jangan menurunkan tangan apapun pada mereka Dinda. Kayan jangan melukai mereka. Jangan melukai mereka sedikitpun. Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini segera. Kita akan menyelidikinya nanti. Hiatt! Hup!”

“Tidak Kanda. Kita akan dapat menyelidikinya saat ini juga. Aku sudah tidak sabaran lagi. Hup! Hait!”

“Ibu benar, Ayah. Kita dapat melumpuhkan mereka dan menanyakan apa yang telah terjadi di desa ini.”

“Jangan kalian lari, pengecut!”

“Maaf Kakang, aku akan melumpuhkan mereka semua. Huupp! Hiyyaaatt!!” Anting Wulan melesat cepat melayang kesana kemari bagaikan bayangan. Dan sesaat saja delapan orang yang mengeroyok mereka tergeletak di tanah tanpa daya sama sekali.

“Dengarlah kisanak, aku Anting Wulan sedikitpun tidak mempunyai urusan dengan kalian semua. Agaknya ada seseorang yang telah merusak nama baikku. Katakanlah, ada apa yang sebenarnya telah terjadi? Wanita macam apa yang telah membuat malapetaka di desa ini?”

“Huh! Apakah engkau bukannya Anting Wulan wanita jahat itu, heh?”

“Istriku ini memang Anting Wulan, paman. Tetapi aku harap paman tidak terpengaruh dengan fitnah dari wanita itu.” Raden Saka menjawab dengan sabar.

“Apakah wanita itu membawa seorang anak perempuan berumur hampir sebaya denganku, paman?” Kayan menyelidiki.

“Hemm, ya ya. Dia membawa seorang wanita muda yang berumur sekitar lima belas tahun yang tampak tidak berdaya di atas punggung kudanya.”

“Warih…” “Bibi Warih.”

“Hah?! Jadi kalian mengenal wanita itu?”

“Dengar Kakang, anak laki-laki itu menyebutnya dengan panggilan bibi pada wanita yang telah membuat malapetaka di desa kita ini.” sengat salah seorang pemuda yang tergeletak tak berdaya itu. Dia masih tampak murka.

“Iya, aku memang menyebutnya dengan panggilan Bibi. Tetapi kami mencarinya saat ini justru hendak membuat perhitungan.”

“Oh, jadi wanita keji itu bukan murid dari engkau Nyai?!”

“Ah, wanita itu,.. wanita itu semula memang adalah muridku. Tetapi percayalah aku akan segera mencarinya dan memberikan hukuman padanya.”

“Eh, tetapi apa yang telah dilakukannya?” raden Saka bertanya. Dia ingin mengetahui apa yang telah dilakukan Diah Warih di desa itu.

“Dia telah mengelilingi desa ini dan membunuhi anak-anak kami. Hampir sembilan anak-anak di desa ini terbunuh ditangannya. Dan,… ah dua orang diantaranya kini dalam keadaan yang hampir tidak mungkin tertolong.”

“Ah!? Dimanakah mereka?” dengan cepat Anting Wulan melepaskan totokan di tubuh bekas lawan-lawannya itu.

“Ayo, cepat bawa aku pada anak yang terluka itu. Aku akan menolongnya.” Tergagap orang itu menjawab, “Aa.. Eh,.. Kau,.. Eh,.. kau benar akan menolongnya?”

“Sudahlah jangan membuang-buang waktu lagi. Jika memang anak itu sangat membutuhkan pertolongan!” sergah Raden Saka.

“Eh,.. Baiklah! Mari, mari ikut aku.”

Belasan penduduk yang terkapar, bangkit dan kemudian mengantarkan raden Saka Palwaguna sekeluarga menuju pondokan dimana terdapat seorang anak perempuan yang dalam keadaan sekarat.

“Uhh,… aduuh… ohh.”

“Hmm… keji sekali.” guman Raden Saka iba. Raden Saka Palwaguna menotok beberapa jalan darah di sekitar tubuh bocah perempuan berusia delapan tahun. Setelah itu dia mengurut perlahan-lahan bagian-bagian tubuh yang membengkak perlahan-lahan sambil menyalurkan hawa saktinya.

“Nyai, jika suami Nyai sudi… kami sangat mengharapkan sekali untuk menolong seorang anak lainnya.”

“Dimanakah anak itu, Paman? Biarlah saya yang akan menolongnya.” “Marilah, Nyai. Rumah anak itu hanya beberapa tombak saja dari sini.”

“Mari, Nyai. Itu rumahnya. Di ujung jalan ini.”

Anting Wulan mengikuti penduduk itu menuju pondokan lainnya. Sementara itu dari arah mulut desa tampak seorang pemuda dengan pakaian compang-camping memacu kuda bagai dikejar setan. “Minggir! Minggir! Jangan halangi aku! Hiyyahh! Hiyaahh! Hiyaahh!” pengemis muda itu berteriak-teriak, “Nyai! Tuan muda!”

Mudah sekali pengemis muda itu mengenali Kayan. Dengan segera dia turun dari kuda. Dengan napas memburu dia menghaturkan salam khan pengemis Tongkat Merah.

“Tuan muda, saya adalah salah seorang murid Tongkat Merah cabang kota Rupada. Saya adalah salah seorang petugas sandi dari kota Rupada. Hmm, dan saya ingin mengabarkan bahwa wanita… eh... eh…wanita murid dari Nyai Wulan, ibu Raden… ehh… tengah mengamuk di desa Bangun Kandang. Beberapa teman kami tengah berusaha menahan amukannya.”

“Eh, Diah Warih?!” Anting Wulan menduga. “Ah, kita harus cepat menangkapnya, Bu.”

“Ehh,.. tapi…” penduduk yang tadi mengantar Anting Wulan tampak khawatir dan kecewa. Dia takut Anting Wulan tidak jadi menolong anak desanya.

“Jangan khawatir, Paman. Aku akan segera ke Bangun Kandang, tetapi aku akan melihat bocah terluka parah itu. Mari cepat, Paman. Kayan, kau beritahu ayahmu.”

“Ah, bibi Warih akan melarikan diri lagi. Dan kakak Ning tentu akan semakin sulit kutemukan.” benak Kayan berpikir cepat, dia segera memutuskan untuk menyusul Diah Warih sendiri. Kayan menoleh dan berkata pada telik sandi tadi, “Paman, kau cari ayahku. Dan kau katakan padanya aku akan menahan bibi Warih untuk beberapa saat. Aku akan membawa si Tunggul. Hupp!!”

“Ooh, dimana ayah tuan muda? Hmm, mungkin di pondok itu. Di tempat tuan muda Kayan mengambil kudanya.”

“Ah, kakak Ning harus segera kuselamatkan. Hiyyah! Hiyaah! Hiyaah!”

“Ah, itu agaknya didepanku ada sebuah desa. Ah, iya tidak salah dugaanku. Aku melihat bayangan beberapa orang yang tengah bertempur. Ah itu dia kakak Ning di bawah sebuah pohon besar. Aku akan menyelamatkannya. Hupp!”

“Jangan sentuh dia, hup!! Hiatt!!”

“Hahahaha kau datang Kayan! Heh, dimana ibumu?!”

“Engkau tidak perlu pura-pura tertawa bibi Warih. Aku mengerti bahwa hatimu saat ini tentu ketakutan setengah mati melihat kedatanganku. Lepaskanlah sahabatku itu dan bibi akan kubiarkan meninggalkan tempat ini.”

“Jangan tuan muda, wanita itu sudah menyebar korban yang sangat banyak. Lihatlah enam orang anggota perguruan kita telah tewas. Serta beberapa penduduk desa Bangun Kandang ini.”

“Ah, tapi…”

“Tuan muda mengkhawatirkan keselamatan wanita itu?”

“Iya paman. Dia adalah sahabatku. Dia tidak bersalah pada Tongkat Merah walaupun dia adalah murid Alap Kadugampit.”

“Iya saya mengerti tuan muda. Kita akan tetap mengepungnya. Dimanakah ibu Tuan muda?”

“Dia akan segera datang.”

Diah Warih tertawa terbahak-bahak, “Hahahahaha, aku tidak dapat kau bohongi! Jika ibumu ada bersama denganmu, tentu dia sudah datang saat ini! Hahahah.”

“Apa yang sudah kau perbuat pada kakak Ning?!”

Diah Warih kembali tertawa, “Kau cemas memikirkannya heh!? hehehe! Bocah seumurmu sudah merasakan sayang pada seorang wanita? Hahahah. Jangan khawatir, dia tidak apa-apa. Dia hanya ku buat lumpuh saja agar tidak merepotkan aku. Dan aku akan melepaskan temanmu ini jika kau mau menukarkan kudamu itu.”

“Jangan! Jangan tuan muda. Saya mengenal kuda ini. Ini adalah kuda ajaib. Kuda yang sangat langka. Jangan mau dikecoh oleh wanita iblis itu. Biarlah, kami akan mencoba meringkusnya kembali, tuan muda. Tuan muda dapat menyingkir. Ayo, serang kembali wanita iblis itu! Berhati-hatilah!”

“Tunggu, jangan serang wanita itu!”

Belasan anggota Tongkat Merah yang telah bersiap untuk mengepung melaksanakan perintah atasannya terpaku ditempatnya ketika mendengar teriakan Kayan Manggala yang merupakan ketua mereka yang baru.

(27)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Kayan Manggala secara diam-diam meninggalkan ibu dan ayahnya yang tengah menolong dua orang anak yang terluka. Kayan meninggalkan kedua orang tuanya untuk mengejar Diah Warih yang melarikan sahabatnya, Ning Cilik. Setibanya di desa Bangun Kandang, Diah Warih mengajaknya menukar Ning Cilik dengan kuda tunggangan Kayan Manggala yang kelihatan tegar. Seorang anggota Tongkat Merah memperingatkannya. Dan ketika kelompok Tongkat Merah bersiap menyerang Diah Warih kembali… “Ayo, serang kembali wanita iblis itu! Berhati-hatilah!” “Tunggu, jangan serang wanita itu!”

“Jangan terpengaruh oleh bujukan liciknya, Tuan muda.”

“Heh, aku kira tentu engkau menyayangi sahabatmu ini. Kemarikanlah kuda mu itu. Aku akan melepaskan sahabatmu ini, sekitar lima puluh tombak dari tempat ini.” selesai berkata-kata Diah Warih tertawa bagaikan hendak mengejek. Akan tetapi sebenarnya benar dugaan Kayan Manggala, bahwa sesungguhnya Diah Warih khawatir gurunya segera menyusul Kayan ke tempat itu, “Engkau tentu percaya padaku kan?”

“Ah, kuda ibuku si Tunggul tidak akan dengan mudah dikuasai oleh orang yang tidak dikenalnya. Aku akan mengikuti kemauan bibi Warih. Kakak Ning berada dalam cengkramannya. Berbahaya sekali jika para anggota Tongkat Merah mengeroyoknya.”

“Hahahaha, kenapa engkau menjadi ragu Kayan? Apakah kau ingin memerintah kan anggota Tongkat Merah itu untuk mengeroyok aku?”

“Tidak, bibi Warih. Ambillah kuda ini. Tetapi lepaskanlah sahabatku Ning Cilik sesuai dengan janji bibi Warih.”

“Hahahaha, jangan khawatir Kayan. Hahahaha, ayo kita naik Ning Cilik. Hupp!”

Diah Warih tertawa-tawa senang. Akan tetapi…

“Eh,… eh… eh…!!” pekik Diah Warih terkejut.

“Kakak Ning! Hup!!” pekik tertahan Kayan Manggala.

Diah Warih melompat sambil memondong Ning Cilik keatas punggung kuda putih yang sangat tegar. Akan tetapi begitu tubuhnya menempel di punggung si Tunggul, kuda putih itu meringkik keras. Kayan Manggala melompat cepat menangkap tubuh Ning Cilik yang terlempar dari pegangan Diah Warih, ketika tubuh wanita itu dilemparkan oleh si Tunggul dari punggungnya. Diah Warih tersentak melihat kenyataan yang terjadi. Dia segera melenting cepat berusaha mengejar tawanannya. Akan tetapi belasan pengemis Tongkat Merah yang telah bersiap menghadangnya.

“Kak Ning,” Kayan Manggala berusaha menyadarkan Ning Cilik. “Oh, mengapa Kak Ning menjadi seperti ini? Matanya memandang kepadaku, tetapi kelihatan begitu kosong. Dan sedikitpun dia tidak dapat mengeluarkan suara. Hup, hiaat! Ahh, aku tidak dapat melepaskan totokannya. Kasihan sekali Kak Ning. Apa yang dapat kulakukan? Aku harus menunggu kedatangan ibu atau ayahku.”

“Ah, apa yang harus aku lakukan? Cara bertempur tokoh-tokoh Tongkat Merah ini sangat licik! Mereka menyerangku secara bergantian dari jarak yang jauh. Celaka aku tidak dapat berbuat banyak dalam pertempuran seperti ini. Hiaatt! Hup! Hup!” pikir Diah Warih sambil terus menerjang berusaha membobol kepungan anggota Tongkat Merah. Tetapi dengan tongkat dan tempurung di tangan pengemis lawannya mereka mampu bertahan secara bergerilya. Menyerbu, menerjang dan kemudian mundur secara bergantian.

Dalam keadaan yang serba salah itu, tiba-tiba pandangan mata Diah Warih tertumbuk pada sesosok tubuh tinggi besar di pinggir arena.

“Prabu Sora!” pekik hatinya girang. Sambil bertahan, Diah Warih berseru, “Tuan, tuan prabu Sora. Tolonglah saya. Tangkap kedua anak dipinggir arena itu. Dan usir para pengemis ini. Tuan prabu Sora, anak itu adalah anak dari Anting Wulan dan Saka Palwaguna musuh besar kita. Tangkap dia!”

Untuk beberapa saat, laki-laki tua yang berdiri di pinggir arena yang muncul secara tiba- tiba itu masih saja tegak berdiri. Tetapi sesaat kemudian dia melangkah mendekati Kayan Manggala yang tengah gelisah memegangi tubuh sahabatnya, Ning Cilik.

“Apa maumu kakek prabu Sora? Menyingkirlah, jangan mencampuri urusan ini. Karena sebentar lagi kedua orang tuaku akan datang kemari.” Kayan Manggala tetap berusaha tegar dan mengancam.

“Hehehehehe,” prabu Sora terkekeh dengan suaranya yang serak. “Kau ingin menakut-nakuti aku bocah?”

Prabu Sora terus melangkah mendekati Kayan Manggala. Sementara salah seorang pengemis Tongkat Merah yang tengah mengepung Diah Warih, yang merupakan pemimpin mereka mulai menjadi gelisah melihat Kayan Manggala, tuan muda mereka, pimpinan utama perguruan Tongkat Merah berada dalam bahaya.

“Aku harus segera menolongnya. Hoooi, ikuti aku. Jamat, Galung, Pandi!” seru pimpinan Tongkat Merah itu pada tiga orang rekannya yang masih mengurung Diah Warih. Ketiganya segera menghadang prabu Sora. Salah seorang dari mereka membentak, “Jangan coba-coba mengganggu kami! Menyingkirlah!”

“Hehehehehh, ya ya ya. Aku ingat! Rupanya sekarang bocah itu sudah menjadi pemimpin perguruan besar. Hiahahahahah, alangkah lucunya. Alangkah gilanya Parang Pungkur. Agaknya dia ingin mengajak perguruannya menyusulnya masuk kubur, haha!” prabu Sora terkekeh kembali dengan suaranya yang parau. Akan tetapi, kepungan anggota Tongkat Merah itu tidak dihiraukannya. Dia malah meraih Kayan Manggala, sembari bergerak cepat membagikan serangan-serangan ringan pada mereka yang mengepungnya. “Ayolah ikut aku bocah!”

Hanya dalam beberapa gebrak saja, empat orang pengemis Tongkat Merah telah terkapar. Dan Kayan Manggala pun tidak berdaya di tangannya. Sementara itu, Diah Warih yang telah ditinggalkan oleh sebagian lawannya menjadi leluasa. Sisa-sisa pengepungnya tidak dapat berbuat banyak menahan amukannya. Dan akhirnya… “Tuanku prabu Sora, ah… sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini. Kedua orang tuanya pasti tidak berada jauh dari mereka.” Diah Warih menjura menyapa prabu Sora, lalu mengajaknya menyingkir dari tempat itu.

“Hmm,.. tunggu dulu. Kuda ini sudah menjadi idamanku sejak belasan tahun yang lalu. Aku akan mencoba untuk menundukkannya. Haapp!!”

Sambil memondong Kayan Manggala, prabu Sora melenting lalu hinggap diatas punggung kuda yang ternyata telah siap menyambutnya dengan amukannya. Prabu Sora tidak mempedulikannya.

“Hmm, hahahahieheehe. Kau tidak akan dapat lepas dariku kuda liar. Hupp!”

Dengan kekuatan tenaga saktinya, prabu Sora berusaha menekan punggung kuda itu. Dan beberapa saat kemudian kuda liar itu menjadi semakin lemah, dan akhirnya.

“Hiahahaha, bagus! Sekarang marilah kita pergi. Hiaahh!” “Tuan prabu Sora, tunggu!! Hupp! Hiyahh.. hiyahh!!”

Diah Warih memacu kudanya mengejar prabu Sora bersama dengan Ning Cilik yang masih terkulai lemah di punggung kudanya. Dua orang pengemis Tongkat Merah segera mengejarnya. Sementara beberapa lainnya membantu mengurus teman-temannya yang terluka maupun tewas akibat kekejaman Diah Warih.

Tidak beberapa lama kemudian.

Dua ekor kuda berderap mendekati tempat pertempuran tadi. Masih ada beberapa anggota pengemis Tongkat Merah saling mengalirkan hawa sakti untuk mengobati luka- luka dalam akibat hajaran prabu Sora.

“Hehh, dimana putraku? Dimana wanta perusuh itu?” tanya Anting Wulan pada mereka tanpa banyak peradaban.

“Nyai, tuan muda dilarikan oleh prabu Sora. Dan wanita yang merupakan murid siluman ular itu lari ke arah sana, Nyai.” jawab salah seorang anggota Tongkat Merah yang mengenal Anting Wulan sebagai ibunda dari pimpinan mereka, dengan sopan.

“Hehh, kanda Saka mari!” Anting Wulan mendesah, lalu mengajak suaminya segera berlalu dari tempat itu.

Sementara itu, Diah Warih berusaha mengejar si Tunggul yang ditunggangi prabu Sora dengan membawa Kayan dan Ning Cilik dipangkuannya.

“Tuan prabu Sora, tunggu Tuan. Tuan prabu Sora, tunggu Tuan!” “Heh, mau apa kau mengejarku?” “Tuan, tidak ada lagi tempat saya bergantung. Mbakyu Lastri telah kembali bersekutu dengan Nyai Kembang Hitam.”

“Hmm, lalu?!”

“Saya harap, tuanku prabu Sora dapat menerima saya sebagai sekutu Tuan. Sedikit kepandaian yang saya miliki tentu akan berguna untuk mengurangi pekerjaan Tuanku.”

“Hmm, engkau akan mencari kekuatan untuk melindungimu dari kejaran Anting Wulan, hmm?!”

“Ah, saya tidak menyangkalnya Tuan. Tetapi tuanku dapat mempertimbangkan apa yang saya miliki saat ini.”

“Hmmm… baiklah. Baiklah, kau boleh ikut bersamaku.”