Alap-Alap Gunung Gajah Jilid 12

Jilid XII

HERAN bukan main, Cunduk Puteri mendengar kata-kata wanita itu. Namun rasa herannya itu terganggu oleh rasa sakit yang tiba-tiba saja merayap naik dari punggungnya. Kiranya kedua telapak tangan wanita penolong itu berada dibawah tubuh si dara. Rasa sakit itu begitu makin hebat mendesak, sehingga rasa hampir nyawanya melesat terbang.

“Tahan rasa sakit!” Kata wanita itu memerintah.

Dan sebelum Cunduk Puteri menduga apa yang bakal terjadi, ia terbatuk keras, tubuhnya tersentak, dengan mulutnya menyemburkan darah berwarna hitam bergumpal-gumpal. Untuk selanjutnya, gadis itu pingsan kembali.

Beberapa saat wanita aneh berkerudung hitam itu menatapi tubuh Cunduk Puteri dengan wajah berubah rubah, sebentar seperti orang gembira, sebentar kaget dan tegang, dan sejenak kemudian seperti orang kecewa.

Sedangkan tubuh si dara itu sendiri tergeletak lemas dengan wajah yang berubah-ubah pula sebentar menghitam, tak lama antaranya agak seperti biru, setelah itu menghitam lagi. Akhirnya sedikit demi sedikit warna hitam dan biru itu menipis, seperti menipisnya awan yang disapu angin.

Pada saat itulah, wanita berkerundung itu lantas tampak tertawa. Terkekeh-kekeh ia tertawa, hingga tubuhnya yang kurus itu melengkung bongkok.

Wanita itu masih terus tertawa, hingga Cunduk Puteri tersadar dau dara itu bergerak-gerak, kemudian membuka matanya.

“Oohhh...” Terdengar Cunduk Puteri mengeluarkan rintihan.

“Hidup kau! Hidup kau! Hemmm..... berhasillah aku, hehehe...” wanita berkerundung itu terpingkal-pingkal sendirian. “Siluman pacet wulung, jangan sombong kau dengan racunmu... hehehe”

Diluar dugaan, Cunduk Puteri merasa tubuhnya agak nyaman. Dan ketika ia menggerak- gerakkan tangannya, wanita itu malah berkata : “Dudukpun sudah boleh. nduk!” (nduk panggilan cantrik seorang gadis).

Cunduk Puteri mencoba bangkit untuk duduk. Kiranya benar saja, semua rasa sakit, nyeri, pegal, lemas, dan segala perasaan yang menyiksa tadi, kini lenyap sama sekali.

Dalam heran dan kagumnya, Cunduk Puteri lantas membungkuk hormat seraya berkata :

“Bibi yang baik. beribu-ribu terima kasih atas budi pertolonganmu. Aku Cunduk Puteri yang rendah ini, mengharap bibi dapat memperkenalkan namanya yang harum, sehingga pabila dikelak kemudian hari aku mati, aku masih memiliki nama yang akan kubawa sebagai petunjuk dialam akhirat ”

“Lagi ngaco apa kau?” Wanita berkerudung hitam itu tampak tak senang dengan penghormatan Cunduk Puteri. “Kau panggil aku bibi, kau kira berapa usiaku? Ayahmu belum tentu sebaya dengan anakku! Hei nduk anak manis. Kau bilang buru-buru mengenal diriku, memangnya kau hendak pergi kemana?”.

Cunduk Puteri bengong. Menilik suaranya, wanita penolong itu kira-kira sebaya dengan Cunduk Puteri, andaikata dia mempunyai seorang bibi. Mengapa wanita itu malah berkata begitu? Habis seumur siapakah dia kira-kira?

Pertanyaan lain, tentang hendak pergi kemana Cunduk Puteri, memang si dara sendiri geli juga mengingatnya. Dia hendak pergi, pergi kemana? Bukankah dia berada di suatu tempat yang asing, dan tak dikenal sama sekali? Mungkin juga sekarang sudah dialam akhirat, atau mungkin di neraka, Cunduk Puteri tidak dapat menduganya.

Sementara itu, si wanita yang agaknya dapat membaca isi hati si dara, telah melanjutkan kata- katanya :

“Kau datang kemari, sebagai orang yang telah mati dengan raga yang rusak dan ternoda. Setelah aku berhasil dengan percobaanku, dan kau dapat hidup kembali, kau hendak pergi? Pergi kemana coba kau katakan? Disini adalah sumur racun Bengkelung, sumur mati tempat orang menghilangkan jejak pembunuhan. Jalan kemana kau dapat keluar dari sini?”

Cunduk Puteri semakin bingung dan tak mengerti.

“Sudah kukatakan kita berjodoh... Kita berkeliling dunia seratus tahun, belum tentu menemukan sebuah pertemuan sebagai sekarang. Aku sedang mencari orang yang bernasib seperti kau, dan kau dilemparkan orang kemari, bukankah itu jodoh namanya?”.

Mungkin tidak beres kata-kata wanita itu, akan tetapi Cunduk Puteri tidak bermaksud membantahnya. Yang jelas memang ia sedang membutuhkan orang berilmu tinggi yang dapat mewarisinya ilmu-ilmu sakti untuk membalas dendam. Dan pertemuannya dengan wanita penolong itu, bukankah benar sebuah jodoh, namanya?

Wanita itu lalu menceritakan jalannya peristiswa, Sejak ia kejatuhan tubuh Cunduk Puteri hingga keadaan sekarang.

Bermula, saat sedang meluncur kedasar sumur. tubuh Cunduk Puteri kena ditahan oleh dua ekor ular tanah besar, yang telah menangkapnya dibelitan kedua tubuh mereka. Selanjutnya, sebenarnya Cunduk Puteri akan ditelan oleh kedua binatang buas itu, dan mereka telah membuka moncongnya untuk menelannya kedalam perut.

Akan tetapi, si wanita berkerudung hitam yang melihat kejadian itu segera melemparkan lima ekor ketonggeng raksasa piaraannya untuk merampas tubuh dara itu.

Seperti jatuhnya bacokan kampak, maka lima buah sengat yang besar menghantam kearah kepala kedua ekor ular tanah itu. Ular-ular itu menggagalkan maksudnya dengan terkejut. Lalu dengan murkanya, membuka mulut menyambut serangan.

Dua ekor ular bertarung melawan lima ekor ketonggeng, sementara itu tubuh Cunduk Puteri meluncur kebawah, jatuh dipangkuan si wanita berkerudung hitam.  

Sementara itu si wanita berkerudung sama sekali tidak memperhatikan tubuh si dara. Seluruh perhatiannya dicurahkan kepada lima ekor ketonggeng dan sepasang ular tanah yang sedang bertarung dengan sengitnya.

Kedua ekor ular membelitkan badannya pada sebuah akar-akaran sedangkan kepala dan ekornya dipergunakan untuk menyerang. Adapun ketonggeng-ketonggeng itu yang melihat bahwa serangannya mendapat sambutan dari empat jurusan, yaitu dua ekor dan dua kepala ular sepasang itu, segera memencar, masing-masing kakinya berpegang pada tepian sumur, Dan kelima buntutnya yang dapat melengkung itu, mematuk seperti kampak.

Jangan dikira bahwa binatang itu dapat ‘bersilat’. Merekapun mempunyai naluri, instink

untuk melindungi dirinya. Dan gerakan-gerakan mirip silat mereka itulah ujudnya.

Ketujuh binatang itu adalah penghuni sumur mati ini. Dan selama berada dalam alam yang demikian serba gelap, dan serba berkekurangan, sesungguhnya di antara mereka telah timbul suatu naluri untuk bunuh.

Keempat macam serangan ular beradu dengan empat ekor ketonggeng, sedangkan ketonggeng yang seekor lagi dengan leluasa menghantamkan sengatnya tepat mengenai batok kepala seekor ular yang sedang menggigit ketonggeng yang lain.

Terdengar beberapa kali suara peletak-peletuk. Setelah itu tampak mereka terdiam sesaat selanjutnya tampak empat ekor ketonggeng runtuh kebawah, disusul oleh seekor ular, sedangkan ular yang seekor lagi telah mati pula, akan tetapi tidak dapat jatuh, karena kepalanya kena terpantek oleh sengat ketonggeng yang kelima.

Beberapa saat ular yang tergantung itu berkelejetan selanjutnya ketonggeng yang satu itupun ikut terjatuh pula.

“Bagus? Hehehe.... Bagus!” Perempuan berkerudung hitam itu tertawa girang sambil tangannya bekerja sangat cepat memotongi ekor dan kepala ular maupun sengat ketonggeng. Setelah itu dia mengeluarkan sebuah kantong butut, yaag begitu dituang isinya, tampaklah tiga ekor bangkai lintah merah.

Semuanya itu dimaksukan kedalam sebuah tempurung, bebat sekali, begitu tubuhnya dicampur dengan potongan-potongan bisa ular dan ketonggeng, maka lintah merah itu menjadi hitam legam mengkilap seperti warna kulit ketonggeng.

Wanita berkerudung itu semakin tampak gembira. Lalu dengan cepat ia mengeluarkan sepasang sarung tangan dari dalam kantong jubahnya. Setelah itu, dengan sangat hati-hati tempurung yang berisi adukan bisa dan racun itu dibawanya pergi, sedangkan Cunduk Puteri dijinjingnya dengan tangan kiri.

Di dasar sumur mati itu, kiranya terdapat sebuah lorong, yang agaknya dibuat oleh wanita itu. Beberapa saat wanita itu menyusuri lorong, maka tibalah ia pada sebuah ruangan kecil yang mirip sebuah kamar obat. Disitu terdapat dua buah rak batu, dan sebuah lemari kecil.

Dengan cepat sekali wanita itu bekerja. Tubuh Cunduk Puteri digeletakkannya diatas sebuah meja batu. Kemudian dengan sangat tangkasnya ia mengambil sebatang jarum perak dari dalam sebuah rak, dicocolkannya kedalam tempurung yang berisi adukan racun menghitam itu, kemudian ditusukkannya kebetis Cunduk Puteri beberapa kali.

Beberapa saat, wanita itu memperhatikan betis Cunduk Puteri dengan matanya yang tajam berkilat-kilat. Tampaklah sedikit demi sedikit betis Cunduk Puteri berubah merjadi hitam. Dan warna hitam itu menjalar naik perlahan-lahan, menuju bagian tubuh sebelah atas.

Selanjutnya wanita berkerudung itu mengambil sebatang jarum emas dari rak yang lain.

Kemudian ia membuka lemari, dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari dalamnya.

Ketika bungkusan itu dibuka, tampaklah segumpal cairan kental berwarna merah. Dengan cara mencelupkan jarum emas itu kedalam cairan kental itu, maka beberapa kali si wanita menyuntik pangkal paha Cunduk Puteri.  

Barulah setelah itu, si wanita membawa Cunduk Puteri kembali kedasar sumur kembali. Ditempat itu si wanita duduk bersila dengan kedua telapak terbuka diatas pangkuan, dimana diatasnya tubuh Cunduk Puteri yang telanjang bulat dibaringkan melentang diatas telapak tangan itu.  

Demikian, beberapa saat, si wanita mendorong dengan tenaga sakti dalam batinnya maka racun-racun yang tadi menjalar dalam kaki Cunduk Puteri sedikit demi sedikit terdesak mundur, berkumpul kearah bekas-bekas tusukan jarum yang pertama. Dan untuk selanjutnya, dari bekas tusukan itu, tampak mancur keluar cairan kental hitam bercampur darah yang sangat busuk. Hingga kemudian kaki yang tadi kehitaman itu, kini kembali menjadi kuning mulus, yang berarti racun yang semula hendak menjalar itu telah terusir keluar. Saat itulah selanjutnya Cunduk Puteri sadarkan diri dari pingsannya.

Demikianlah penuturan wanita berkerudung hitam itu, seraya membuka jubah hitamnya, dan melemparkannya kepada Cunduk Puteri. Si dara menerimanya dengan gopoh dan kemalu-maluan, sebab ia baru sadar sekarang, bahwa sejak tadi ternyata ia tidak berpakaian.

“Pakaianmu sudah cabik-cabik, nduk. Dan juga banyak ketempelan bisa dan racun. Lebih baik kau mengenakan jubahku itu. Kukira kau akan menjadi lebih cantik...” kata wanita itu, sambil tersenyum mengakhiri ceritanya.

Diam-diam Cunduk Puteri mendongkol juga. Dia ingat bahwa tubuhnya telah dijadikan tempat perobahan pada permainan racun wanita itu. Namun perasaan demikian berlangsung hanya sejenak, sebab selanjutnya Cunduk Puteri menyadari pula, bahwa tanpa wanita itu, agaknya diapun takkan hidup lagi.

Sambil duduk barsila. Cunduk Puteri memperhatikan wanita didepannya itu. Ia tidak yakin, sebagai yang dikatakan oleh wanita itu, bahwa ayah Cunduk Puteri belum tentu sebaya dengan anak wanita itu. Mungkinkah wanita itu sudah demikian lanjut usianya?

Apabila menilik roman wajahnya yang putih gemilang, mustahillah bibirnya yang masih kemerahan itu, patut dimiliki oleh seseorang yang sebaya dengan nenek Cunduk Puteri. Menurut perhitungan, Mbah Pucung usianya telah lebih dari delapan puluh tahun, masakah wanita itu sudah seratus tahun lebih umurnya?

Tampaknya wanita itu tidak perduli pada keraguan Cunduk Puteri, dan ia melanjutkan kata- katanya :

“Namamu Cunduk Puteri? Hm... nama seorang dara yang menarik sekali...”.

“Tadi kau bilang kita berjodoh, bagaimana keteranganmu, eyang?” Cunduk Puteri sengaja memanggil dengan sebutan eyang (nenek), dengan maksud mencoba-coba belaka. Kiranya wanita itu memang suka mendengar sebutan demikian.

“Ya... ya, begini cucu! Kau cantik, dan itu syarat mutlak, bila seseorang hendak menjadi cucuku! Aku tidak suka pada gadis yang tidak cantik. Kau tahu, yang tidak cantik sering sok cantik? Sok cantik, sok cantik seperti dia!”.

Waktu menyebut kata dia, mata wanita itu tampak berkilat-kilat penuh dendam dan beberapa lama ia menggeram-geram.

“Syarat kedua kau memiliki dasar ilmu silat dari golongan kaum lurus. Sebab dari ilmu silat kaum sesat, tak dapat diharapkan suatu apapun kecuali pengrusakan, bencana ataupun peperangan. Ilmu silat dan tenaga batin mempengaruhi jalan darah ditubuh seseorang dan membentuk wataknya. Dan seseorang yang wataknya telah terbentuk menjadi orang sesat, akan lebih berbahaya, apabila ia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Cunduk Puteri tidak menyangkal, tetapi didalam hati timbul juga suatu keraguan.

Dan wanita tua itu dapat membaca isi hati si dara. Lalu dibimbingnya Cunduk Puteri memasuki sebuah ruangan yaag berada disebelah kanan dasar sumur itu. Baru saja tiba dipintu yang pertama kali tampak oleh si dara adalah suasana yang terang benderang, dan bau harum yang semerbak. Cunduk Puteri keheranan, dari manakah datangnya sinar benderang dan bau yang sangat harum itu?

Selanjutnya ketika ia telah berada dalam ruangan, segera ia melihat tiga buah arca batu. Arca batu yang pertama, yang berada paling depan, barada dekat pintu ruangan, adalah arca seorang dewi yang sanga cantik, mirip sekali dengan arca Dewi Rorojongrang.

Arca ini terbuat dari sebuah batu kumala putih berkilau seperti kaca atau lilin, dan agaknya dari sinilah terbit sinar yang terang benderang itu, maupun bau yang harum semerbak.

Arca yang kedua, yang kira-kira berada ditengah ruangan, adalah sebuah arca yang sangat besar sekali, berbentuk seperti seorang laki-laki yang berkulit kebiru-biruan seperti kulit ketonggeng gunung. Demikian besarnya arca ini, sehingga sebatang lengannya saja, hampir sebesar tubuh arca yang pertama.

Kepala arca ini, menembus langit ruangan, sehingga tidak tampak seperti apa bentuk mukanya. Jadi hanya sebatas leher kebawah saja yang dapat dikenal sebagai seorang laki-laki raksasa.

Adapun patung atau arca yang ketiga, yang terletak agak menjauh, berada disudut ruangan sebelah belakang, Berbentuk sebagai seorang wanita yang sedang menari. Terukir sargat teliti, sebagai seorang wanita yang bertelanjang bulat, yang didalam abad yang sopan santun, maka patung itu tentu tak boleh diperlihatkan kepada orang.

Di tangan kanan patung ini, tergenggam sebuah hati manusia, sedangkan tangan kirinya, bergerak seakan sedang menjambak rambut sendiri. Maka walaupun arca wanita yang dimaksud sangat cantik, akan tetapi tampak sangat menyeramkan, sebab gerak menarinya seakan melukiskan seorang wanita yang miring otaknya.

“Cucu. Mengertikah, apa artinya ini?” Tanya si nenek ketika Cunduk Puteri selesai

mengamat-amati ketiga arca batu itu.

Dalam kecerdasan, memang Cunduk Puteri memiliki dasar yang cukup tinggi. Setelah berpikir sejenak maka ia menjawab.

“Nenek sedang membuat perbandingan tentang dasar ilmu silat dari golongan kaum sesat dan kaum lurus. Ketiga arca itu merupakan contoh-contohnya. Kukira arca putih bersinar inilah, tokoh dari kaum lurus.

Sebaliknya arca telanjang itu dimaksudkan sebagai orang dari golongan dari kaum sesat, kecuali bersifat bengis, kejam, juga cabul. Adapun patung yang besar ditengah-tengah itu, apakah yang dimaksudkan adalah orang dari kalangan penjahat yang karena pengaruh dari golongan kaum lurus terlalu kuat, akhiraya serba salah, menjadi orang serba bimbang, tak mempunyai keseimbangan pikiran, hingga akhirnya ia menyembunyikan mukanya dari dunia ramai...”

Mendengar jawaban demikian, maka si nenek tertawa gembira. Lalu sambil mengangguk- angguk ia berkata :

“Kecerdasanmu luar biasa, cucu! Tidak sangka. Hmm... hmm...” wanita itu manggut- manggut. Lalu dengan wajah berubah sedih, ia melanjutkan bicaranya : “Jawabmu benar semata. Itu arca siluman, gila yang suka makan hati manusia adalah yang dikenal orang sebagai Dewi Cundrik. wanita selaksa racun dari Merapi.

Dalam sejarah pembunuhan manusia, maka siluman itu boleh digolongkan sebagai iblis nomor wahid.

Mungkin dia sudah mati sekarang, tetapi ia mempunyai cucu yang memiliki watak mirip sekali dengannya. Bahkan kabarnya ilmu racun pacet wulung yang belum sempurna ditangan Dewi Gandri, telah disempurnakan oleh cucunya sendiri.  

Cunduk. Puteri sebenarnya bermaksud mengajukan pertanyaan akan tetapi melihat sikap si nenek yang sangat sungguh-sungguh maka Cunduk Puteri mengurungkan niatnya itu.

“Adapun arca kedua, patung laki-laki raksasa itu adalah makhluk paling terkutuk diatas dunia ini. Bukan saja manusia-manusia yang mengutuknya, Tuhan-pun telah mengutuknya dengan hukuman yang sangat hebat. Dia menjadi buta melek, dan tubuhnya besar sekali mungkin lebih tiga dari ukuran manusia biasa. Namanya Turonggo Benawi, hmm haram jadah itu tidak seharusnya mewarisi ilmu sakti ‘Nusa-reca-sakti’ dari Pulau Maceti, yang amat mashur itu. Tetapi rupanya entah dengan jalan mencuri atau mengintip, penjahat ulung itu dapat memiliki ilmu sakti dari pulau selatan itu. Hingga akhirnya dunia dibikin kacau olehnya. Ketentraman rumah tangga manusia dirusak olehnya. Tak ada puteri cantik yang tinggal selamat, tetap perawan dalam jamannya... mungkin dia sudah mampus”.

Cunduk Puteri melihat, bahwa pada sudut mata nenek itu terlihat sebutir air yang cairan kuning. Ia tahu, bahwa perempuan tua itu sedang mengalami pertempuran batin. Dibalik kebenciannya yang berkobar-kobar terhadap mahluk tinggi besar itu, dalam kata-katanya tersembunyi suatu perasaan yang ganjil, yaitu berduka.

Dan kedukaan itulah yang dapat dirasakan oleh Cunduk Puteri, melalui suara si nenek yang gemetar itu.

“Eyang, ada hubungan apakah antara Turonggo Benawi dengan selat Pencuci Dosa?” Tanya Cunduk Puteri, ketika ia teringat nama itu dengan hubungannya waktu ia disuruh oleh Pepriman, pergi bersama Sogapati menjumpai Ki Cucut Kawung diperguruan Loning.

Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu si nenek terperanjat.

“Darimana kau tahu nama-nama itu?” Tanya si nenek.

Cunduk Puteri lantas menceritakan perjalanannya ke Loning bersama Sogapati itu. Diapun menceritakan perihal Pepriman yang memiliki ilmu kesaktian yang sangat tinggi, tetapi aneh. Tidak lupa pula, dikisahkan mengenai nasibnya hingga ia berakhir dengan pertemuan bersama nenek ini.

“Hm... hm... kurang ajar! Apakah orang yang bernama Pepriman itu memiliki ilmu silat yang mirip dengan gerakan-gerakan burung walet? Ingat, dipesisir utara inipun ada ilmu silat yarg mirip dengan ilmu silat ‘Nusa-reca-sakti’ dari Pulau Maceti, yaitu ilmu silat Suci Hati! Cobalah kau ingat- ingat, apakah ada persamaannya diantara keduanya itu?” Tanya si nenek, marah.

“Tidak salah” sahut Cunduk Puteti. “Bahkan semula aku mengira bahwa pemuda jembel itu

adalah anak murid Suci Hati dari Blimbingwuluh...”

“Keparat! Si haram jadah itu telah melanggar sumpah, mencari murid apa segala. Biarlah, kau harus dapat mengalahkan si pemuda jembel itu. Jangan takut, cucu! Aku mempunyai barang yang dapat mengalahkan ilmu dewa itu!”

“Eyang, kau belum menyelesaikan keteranganmu. Siapakah patung putih, dewi cantik itu?”

Kata Cunduk Puteri seraya menunjuk kearah patung yang berada didekat pintu ruangan itu.

“Dewi cantik dari mana?” Tiba-tiba si nenek membentak. “Kalau dia cantik, tentu dia tidak menderita dan murung seperti itu. Hai, cucu! Jika nanti kau telah belajar pada patung putih wangi itu, kau boleh mencariku, menyusur jalan yang menuju kearah sana.” Berkata sana, sambil menunjuk kearah selatan, yang agak menyerang kearah barat daya.

Cunduk Puteri belum jelas akan keterangan itu, ia bermaksud untuk bertanya, akan tetapi wanita tua itu telah menghilang pergi.

Hati si dara jadi tambah tertarik akan sikap wanita tua itu. Mungkinkah, arca putih wanita itu justeru adalah patung wanita tua itu sendiri? Menilik dari sikap dan perkataannya, agaknya demikian.

Maka seakan diseret oleh suatu kekuatan diluar sadarnya. Cunduk Puteri telah menghampiri patung itu untuk memeriksanya.  

Benar-benar patung seorang dewi. Sejak semula, si dara memang sudah menduga bahwa patung itu adalah patung wanita tua sang penolong, menilik dari raut wajah maupun bentuk bagian tubuhnya yang lain. Dan demi kini si dara meneliti lebih lanjut, maka dengan semakin kuat.

Ia masih ingat akan adanya tahi lalat kecil berwarna biru pada bawah telinga kanannya. Dan kini, ia melihat persis dibawah telinga kanan arca itu terdapat sebuah bintik yang serupa.

Bedanya, hanya patung itu menggambarkan seorang wanita yang lebih cantik, dan masih muda. Mungkin karena mudanya itulah, maka ada banyak perbedaan dengan wajah wanita itu, kecuali beberapa gurat-guratnya yang sama persis.

Diam-diam Cunduk Puteri sangat mengagumi wanita penolong itu. Walaupun wanita itu mempunyai watak-watak yang agak aneh, dan tampaknya juga angin-anginnan tetapi terasa olehnya bahwa watak itu mungkin tertawa oleh kehidupannya yang terasing dari dunia ramai.

Hal ini semua dapat dipahami oleh Cunduk Puteri yang berotak cerdas itu. Diam-diam dalam hati ia berkata :

“Apakah disini tersimpul suatu kisah cinta segitiga yang unik dan aneh? Wanita itu tampaknya sangat membenci si laki-laki raksasa, namun terasa dibalik kebenciannya itu terdapat beberapa nada ucapan yang mengandung bahasa cinta. Ach... aneh-aneh sifat manusia!”

Beberapa saat Cunduk Puteri memeriksa patung itu akhirnya ia dapat manemukan apa yang dicarinya. Dengan mudah ia dapat menemukan sebuah kitab kecil yang tersembunyi tepat didalam buah dada kanan arca batu putih itu.

Pada bagian itu terdapat sebuah garis-garis segi empat yang tipis. Begitu si dara mengoreknya dengan kuku maka garis-garis itu membuka, dan terdapatlah benda yang dicarinya.

Memangnya Cunduk Puteri adalah seorang dara rimba persilatan. Tidak hanya ilmu silat saja kegemaran gadis ini, termasuk juga ilmu-ilmu pengobatan maupun ilmu sastera. Maka begitu melihat sebuah kitab, langsung hasratnya untuk membaca timbul seketika.

Kitab kecil itu bernama ‘Malaikat papat’ (empat Malaikat). Dan dibawah judur kitab itu, jelas

tertera nama penulisnya, adalah Roro Manik.

Tentang empat malaikat ini, yang dimaksud adalah, sahabat manusia sejati, yang telah ada sejak manusia dilahirkan sebagai seorang bayi dari rahim ibunya.

Keempat saudara manusia itu, adalah mahluk-mahluk gaib agaknya sejenis malaikat, yang memiliki bentuk apabila malaikat-malaikat itu membentuk diri persis benar sebagai orang itu sendiri. Sehingga bila mereka itu muncul dalam kegaibannya, maka manusia itu menjadi kembar lima! Lima dengan pribadi manusianya.

Kitab itu, menurunkan ilmu batiniah tingkat tinggi yang tentu saja hanya dapat dipelajari oleh golongan orang kaum lurus. Dimana secara dasarnya, Cunduk Puteri telah mendapatkan pelajaran dari ayahnya, Mbah Pucung. Maka dalam saat yang tidak lama, Cunduk Puteri segera tenggelam dalam latihan-latihan penyempurnaan dari pribadi dengan keheningan indera untuk ‘mengejar’ melihat saudara-saudara hidupnya yang empat itu.

Dalam ilmu batin tingkat tinggi ini, apabila manusia telah dapat menemukan dan menaklukkan keempat saudara pribadinya yang lain, maka ibarat ia menemukan empat orang pengawal pribadinya yang sempurna, setia dan terpercaya. Dalam setiap ketika yang bagaimanapun, dalam suka duka, bahaya dan kebahagiaan, ia akan selalu dikawal sempurna oleh mereka. Ibarat ia mempunyai indera rangkap, telinga, mata, penghindu dan indera-inderanya yang lain.

Entah berapa lama, Cunduk Puteri berada dalam semedhinya yang hening bening, akhirnya ia terkejut oleh panggilan suara yang lembut, tetapi nyaring, dan ketika dara itu membuka matanya, maka ia melihat wanita tua itu memasuki ruangan sambil mendorong tubuh seorang laki-laki.

Laki-laki itu bertubuh tegap dan gagah, mungkin juga masih muda.  

Akan tetapi melihat seluruh tubuhnya yang penuh dengan bekas-bekas luka, lorek-lorek seperti kuda zebra, orang akan mengira bahwa laki-laki itu lebih baik dijadikan hantu-hantuan disawah, dari pada harus dijadikan sahabat.

Akan tetapi wanita tua itu berkata :

“Untuk mahluk yang sempurna jeleknya ini, rupanya kita perlu mengasihani dirinya juga cucu! Dia tak usah kau bunuh, rupanya dia memiliki juga sedikit kepandaian, dan lebih baik jadikan dia sebagai cantrikmu! Dia memiliki bakat setia untuk menjadi seorang hamba...”

Selama hidupnya, Cunduk Puteri tak pernah mempunyai seorang hamba sahaya. Lelaki bermuka loreng itu. kecuali tampaknya sangat hormat dan takut kepadanya, juga tak ada manfaatnya untuk dibunuh. Dalam kehidupan sunyi dan terasing sebagai didasar sumur ini, memang terasa lebih baik mempunyai seorang kawan, dari pada menyendiri selama-lamanya.

Selanjutnya, maka Cunduk Puteri mempunyai seorang cantrik yang benar-benar patuh dan setia. Cunduk Puteri tak pernah menanyakan siapa adanya laki-laki bermuka loreng menyeramkan itu, yang ia tahu bahwa dia sangat setia dan patuh mencarikan makanan, menyiapkan segala sesuatu keperluan si dara dengan sikap penuh takzim dan hormat. Bahkan diantara hormat dan taatnya itu, cantrik ini menunjukkan sikap-sikap penyesalan maupun takut.

Untung sajalah demikian kejadiannya. Cantrik itu sendiri, juga kelihatannya tidak berani untuk berada dekat dengan si gadis. Ia akan mendekat bila dipanggil untuk disuruh menyiapkan apa saja keperluan gadis, dan akan pergi menyendiri, setiap tugas itu diselesaikannya dengan baik.

Telah sekian lamanya, Cunduk Puteri tidak melihat wanita tua itu, entah kemana perginya. Dan latihan-latihan yang dilakukan berdasarkan petunjuk kitab malaikat papat itu, telah memberikan hasil yang memuaskan. Kini Cunduk Puteri sudah bukan Cunduk Puteri beberapa minggu yang lalu. Akan tetapi ia telah menjadi seorang gadis perkasa yang memiliki indera rangkap, seakan dibelakang tubuhnya juga punya mata dan telinga. Jangankan senjata rahasia akan dapat menyerang tubuhnya, sedangkan semilirnya angin kecil saja tak luput dari tangkapan inderanya yang menjadi luar biasa pekanya.

Suatu hari, Cunduk Puteri bermaksud mencoba ilmunya yang baru itu. Dipanggilnya si cantrik yang segera datang tergopoh-gopoh sambil membungkuk sangat hormat.

“Cantrik!” Kata Cunduk Puteri, kemudian. “Cobalah, kau sambit aku dengan golok yang berada dipinggangmu!”

Cantrik itu terkejut bukan kepalang. Bahkan juga gemetar ketakutan sekali. Ia melihat puteri majikannya itu sedang duduk bersila membelakangi, bagaimana akibatnya bila ia menyambit dengan golok? Apakah puteri itu sedang menguji kesetiaannya? Cantrik itu masih gugup dan tidak melakukan sesuatu ketika Cunduk Puteri telah menegurnya lagi.

“Apakah kau hendak mencoba-coba menentang perintahku, cantrik?”

“Bukan dewi, bukan. Sama sekali aku tak berani menentang perintahmu. Akan tetapi...”,

cantrik itu menjawab dengan lutut gemetaran.

“Atau kau mengira aku akan kena cidera dengan sambitan golokmu?” Cantrik itu rn manggut- manggut. Walaupun Cunduk Puteri membelakangi, akan tetapi ia dapat membaca sikap pelayannya itu. Maka ia berkata dengan tegas.

“Tak perlu takut! Andaikaka aku kena celaka karena golokmu itu, eyangkupun takkan marah!

Sudahlah cepat lakukan!!”

Di desak demikian maka cantrik itu menurut. Walaupun dengan tangan gemetar, ia melolos goloknya yang ternyata sangat tajam berkilatan. Begitu mengangkat senjatanya, maka cartrik itu berseru dengan suara menggigil : “Ampuni aku nona... aku tak bersalah”.

Dan singngng! Golok itu meleset dengan sangat cepat, secepat anak panah. Cunduk Puteri tidak bergerak. Hanya begitu golok berada sangat dekat dengan dirinya, maka ia tampak  

menggoyangkan kepalanya. Seketika rambutnya yang panjang berkibar naik, menggeliat seperti gerakan lintah.

Srrreeeeettt!! golok itu terlibat sangat erat oleh rambut Cunduk Puteri. Akan tetapi sikap duduk dara itu agak bergeser, akibat tenaga lontaran golok itu yang sangat besar.

Cunduk Puteri melompat bangun. Sepasang matanya mengawasi cantrik itu dengan sangat tajam. Ia tahu, bahwa tenaga tangkapan rambutnya itu menurutkan petunjuk dari ilmu kitab Malaikat Papat itu, yang memiliki kekuatan tidak kurang dari seribu kati. Lemparan golok itu dapat menggeserkan letak duduk si nona, berarti tenaga sambitan itu lebih dari seribu kati.

“Siapa kau sebenarnya!” Tegur Cunduk Puteri dengan kening berkerut.

Mendapat teguran demikian, maka cantrik itu menjadi sangat ketakutan. Dengan serta merta ia menjatuhkan diri berlutut, sambil berseru :

“Ampunkan aku dewi. Aku hanya seorang dusun belaka...”

“Seorang dusun?” Cunduk Puteri tertawa dingin”. Siapa yang menyuruhmu menyelundup

kemari?

“Tuan Puteri......”, cantrik itu makin ketakutan. “Tidak ada orang yang menyuruhku. Aku adalah Sogaklenting, cuma seorang pencari kayu hutan. Aku terjatuh kemari karena perbuatan binatang-binatang itu. Dua ekor harimau mengejarku, aku tidak sanggup melawannya, dan aku mencari tempat sembunyi. Kukira sumur ini tidak begini dalam, kiranya...”

Cunduk Puteri diam. Keterangan cantrik itu boleh tujuh kali benar. Akan tetapi sebatang golok yang sangat tajam seperti golok pusaka yang dipegangnya itu, dan tenaga sambitan yang sangat besar itu, tak mungkin dimiliki oleh seorang pencari kayu yang tidak mampu menghadapi dua ekor harimau.

“Huh, kau kira, kau dapat mengakali aku?” Bentak Cunduk Puteri. Sejak tadi dara ini mengingat-ingat, musuhnya yang mana yang memiliki bentuk sebagai cantrik itu. Ada beberapa pemuda yang memiliki raut tubuh seperti dia, misalnya Kebo Sulung, Sogapati, bahkan juga Pepriman! Akan tetapi lorek-lorek bekas siksaan ditubuhnya itu tampaknya bukan main-main, tetapi sungguh-sungguh. Adalah mustahil, andaikata ada orang yang mau memata-matai si dara, lalu dengan sengaja melukai dirinya hingga meninggalkan bekas yang dalam, lorek-lorek dan menyeramkan hingga kemuka-mukanya apa segala.

“Siapa yang telah menyiksamu, cantrik?”

“O, tidak ada, dewi. Sejak dilahirkan, nasibku sudah demikian. ”

Cunduk Puteri insyaf, bahwa lelaki bermuka loreng itu tak mungkin mengaku begitu saja.

Maka terpikir olehnya untuk menyelidiki ilmu silatnya.

Sambil menggerakkan kakinya melangkah maju, Cunduk Puteri berseru : “Aku hanya mau berkawan dengan seorang manusia yang jujur. Seorang penipu hina sepertimu, buat apa dibiarkan hidup!”

Tahu-tahu, dengan gerakan yang menimbulkan suara menderu, Cunduk Puteri telah menggerakkan kakinya menendang kearah ulu hati cantrik itu.

Cantrik itu tampak terbelalak kaget. Sebenarnya ia dapat menghindari tendangan itu, akan tetapi sebaliknya dari menghindar, ia bahkan membungkukkan tubuhnya sambil berseru : “Ampunkan aku... dewi oh!”

Dan, bukkk! Tak ampun lagi, tendangan Cunduk Puteri mengenai tubuh cantrik itu, hingga tubuh lorek-lorek itu terpental sejauh tujuh langkah bergulingan, membentur dinding ruangan dengan keras.  

Masih untung Cunduk Puteri telah menggeser letak kakinya waktu menendang, hingga tendangannya tidak tepat mengenai ulu hati, akan tetapi cukup juga mematahkan sebuah rusuk cantrik itu.

Dengan penuh rasa takut, tetapi tidak dendam, cantrik itu merayap bangun. Lalu katanya :

“Terima kasih dewi hukuman ini memang setimpal sekali ”

“Namaku Cunduk Puteri! Aku bukan dewi apa segala!” Bentak Cunduk Puteri. “Lekas mengaku, kalau tidak aku takkan mengampuni jiwamu lagi!”

Diancam demikian si cantrik bukankah takut. Bahkan dengan tersenyum-senyum, ia menjawab sambil membungkuk dalam-dalam :

“Akan aku terima kematian dengan hati lega, tuan Puteri. Agaknya dosaku memang patut

diberi hukuman mati ”

“Bagus!” Cunduk Puteri mendengus dingin. Tampaknya dara ini benar-benar telah marah. Ketika sekali lagi kakinya melayang, maka tubuh cantrik yang malang itu terlempar kembali membentur dinding dengan keras.

Sebagai juga tadi, tanpa mengeluh, cantrik itu merayap bangun sambil membungkuk penuh hormat. Dagunya berlepotan darah yang keluar dari mulutnya, sehingga membuat ia tampak lebih menyeramkan.

Tampaknya Cunduk Puteri akan membuktikan kata-katanya. Tangan kanannya terangkat tinggi-tinggi, siap untuk digaplokkan keatas batok kepala cantrik itu. Si cantrik itu sendiri menyadari hal itu, sekali dara itu menurunkan tangannya, maka nyawa si cantrik pasti melayang. Namun cantrik itu benar-benar bandel, dan ia cuma membungkuk-bungkuk hormat tanpa berkata.

Cunduk Puteri sendiri tarnpaknya benar-benar hendak membunuh cantrik itu. Tangannya telah digerakkan kebawah menghantam. Angin pukulannya berkesiur, tiba-tiba “wuuutt!”

Segumpal benda hitam, meluncur cepat menyambar dibawah tangan Cunduk Puteri, langsung menghantam kearah dinding, dan nemplok disana.

Ketika si dara menoleh kearah datangnya benda hitam itu yang ternyata adalah sesobek kain, maka terlihat olehnya si nenek sedang berdiri dengan muka muram.

“Jangan membunuh orang yang tak melawan. Hanya akan menurunkan pamor kitab Malaikat

Papat belaka, cucuku!” kata wanita itu seraya melangkah memasuki ruangan belajar ilmu silat itu.

“Eyang. Dia bandel sekali. Kalau tak salah dugaanku, dia tentu orangnya Paguyuban Banjardawa yang memusuhi kita...” Cunduk Puteri menjawab sambil matanya tetap mengawasi si cantrik penuh selidik.

Si nenek tertawa gelak-gelak seakan-akan nama Paguyuban Barjardawa hanyalah sekedar barang yang lucu belaka.

“Perduli dia datang dari mana, cucuku. Sekarang ada urusan yang lebih hebat yang harus kau hadapi, yaitu kau harus dapat menyelamatkan kadipaten Pemalang dari ancaman penjahat-penjahat ulung, orang-orang golongan hitam yang kenamaan, untuk apa menggubris bangsa cempeng- cempeng seperti dia? Biarlah dia ikut bersama kita, siapa tahu dibelakang hari ada juga manfaatnya.”

Memangnya kecurigaan Cunduk Puteri sendiri hanyalah berdasarkan pada sangkaan belaka. Ia tidak menemukan hal-hal lain yang dapat menguatkan kecurigaannya itu. Maka terpaksa ia tidak dapat menolak maksud si nenek. Dan walaupun dengan hati mendongkol, ia membiarkan cantrik itu mengikuti mereka.

Kira-kira empat bulan lamanya, Cinduk Puteri meyakinkan isi kitab Malaikat Papat, dengan petunjuk si nenek. Tanpa terasa, sesungguhnya si dara telah mencapai tingkat ilmu kepandaian yang sangat tinggi, yang agaknya takkan berada dibawah tingkatan Dewi Cundrik ataupun Kebo Sulung.  

Ketika pada suatu hari mereka meninggalkan kamar didasar sumur mati itu, Cunduk Puteri merasakan beberapa hal yang aneh, yang beberapa lamanya akhir-akhir ini sangat mengganggu pikirannya. Perutnya lebih kembung dari biasanya, dan agaknya ada sesuatu yang mengisi didalamnya. Sudah beberapa bulan lamanya ia tidak, nggaarap sari (datang bulan), dan hal ini sama sekali tidak dihiraukannya. Bahkan waktu bulan-bulan pertama ia merasa letih-letih dan lesu, serta suka makan buah-buahan asam-asaman, diduganya hal itu sebagai hal yang biasa saja.

Si nenek sendiri, karena ia jarang ditempat, maka sama sekali tidak menyadari adanya perubahan dalam tubuh Cunduk Puteri, hanya Sogaklenting orang saja yang tidak pernah lalai memperhatikan majikannya itu.

Dari sejak bulan pertama Cunduk Puteri gemar makan asam-asaman, sampai kepada tindak tanduk si dara yang banyak berubah, sering letih-letih, lesu, marah-marah dan lemah. Sogaklenting telah menduga bahwa nona itu telah mengandung. Tetapi ia tidak berani mengutarakan dugaannya itu, takut akan akibatnya, bila nona itu akan menjadi kalap.

Mereka menempuh lorong-lorong dibawah tanah yang becek mendaki dan gelap, tidak kurang dari tiga jam lamanya. Akhirnya mereka mendapatkan sebuah sungai kecil, yang merupakan sebuah tikungan. Ujung lorong itu merupakan sebuah guha, yang ditutup dengan sebuah batu besar. Sambil mendorong batu penutup itu, si nenek berkata :

“Pintu ini sudah tak berguna lagi! Ratusan tahun aku membuat lorong dibawah tanah ini, akhirnya aku sendiri yang harus memusnahkannya. Ketahuilah olehmu cucu, bahwa tempat kita sembunyi sudah diketahui orang. Bangsat-bangsat itu kini sedang mempersiapkan pertemuan dilembah Pegat-sih, untuk memperebutkan kedua pusaka leluhurku, Kiai Tanjung dan Nyai Tanjung ”

Berbicara sampai disitu, si nenek tampak sangat bersedih hati, suatu bayangan tentang masa silam yang tidak menyenangkan terbayang diwajahnya, sehingga kulit wajahnya yang putih halus itu menimbulkan beberapa kerut-kerutan.

“Manusia berjiwa iblis seperti Catursuda, Sri Naga Dumung dan manusia paling licik sebagai Wigendro pun kini mulai memunculkan diri. Suatu pertanda bahwa keselamatan pesisir utara ini akan terancam bencana hebat. Bukan pengrusakan-pengrusakan ataupun pengacauan-pengacauan mereka saja yang mengganggu pikiranku sesungguhnya adalah kedua pusaka leluhur itulah, cucu, yang hingga saat ini menjadi pikiran! Semula kuduga bahwa disumur mati itulah terdapat pusaka yang kumaksudkan, kiranya tidak! Dan semua perhatian orang tertuju pada lembah pegat-sih, bukankah kira-kira disitu letaknya, disimpan kedua barang itu?”

Berbicara sampai disini, maka si nenek bersedakap sejenak. Kemudian, ketika ia telah puas memandangi pintu batu yang menutup lorong, si nenek menghantamkan tangannya kedepan. Terdengar letusan yang sangat dahsyat! Tanah diatas lorong itupun longsor, menimbun batu pintu, sehingga bekas-bekas gua itupun lenyap dengan seketika.

Cunduk Puteri dan Sagoklenting tertegun, menyesali kejadian itu. Mereka sama sekali tidak dapat menduga jalan pikiran si nenek, mengapa tempat yang merupakan istana, bahkan juga rumah perguruan yang berisi banyak benda-benda berharga dan tidak ada ditempat-tempat lain, kini dihancurkan begitu saja.

Sedang kedua orang ini menyesali, maka tampak si nenek tersenyum lega. Lalu tanpa menghiraukan keadaan kedua pemuda itu si nenek berkata seraya menghampiri tebing sungai.

“Kita harus melewati jalan ini untuk sampai kelembah Pegat-sih. Jalan!”

Sambil mengakhiri kata-katanya, maka si nenek menggerakkan tangannya. Maka walaupun Cunduk Puteri atau pun Sogaklenting bertahan pada tempatnya, tetap saja mereka tertarik maju, dan mencebur kedalam kali.

“Hmm..... lucu sekali! Orang belum tahu apakah mati itu menyenangkan atau tidak, akan tetapi rata-rata manusia takut untuk menjumpainya ”  

Cunduk Puteri tak sempat memperhatikan kata-kata si nenek, ia kini menyelam atau berenang di sungai, sambil mengikuti arus air yang ternyata sangat deras.

Sedangkan si nenek itu sendiri, beberapa saat kemudian menyelam mengikuti mereka. Matahari sedang condong dibalik bukit sebelah barat, sinarnya yang tidak garang, menerobos daun- daun hutan yang memagari tebing berjatuhan keatas arus kali seperti mata-mata uang tembaga, yang mengapung.

Ketika bulan tanggal muda mulai muncul diatas pepohonan, maka lembah Pegit-sih yang tampak sebagai hutan belantara itu, tersepuh oleh sinar emas yang lembut.

Angin malam semilir menari diantara dedaunan. Batang pohon yang tegak menghitam membuat bayangan sebagai tokoh hitam yang menakutkan.

Demikianlah nama Pegat-sih itu sendiri telah menakutkan, apalagi dengan keadaan panoramanya yang serba gelap, liar dan ganjil. Bunyi-bunyi serangga yang menyambut datangnya sang malam, engkuk burung hantu ataupun segala hewan rimba yang mengaum, semuanya itu merupakan ciri-ciri tersendiri dari lembah maut ini.

Kira-kira agak ditengah lembah, terdapat tanah lowong yang pohon-pohonnya telah tumbang, agaknya sengaja ditebas oleh tangan orang. Beberapa batang pohon raksasa saling melintang, Dahan-dahan dan daun-daunnya yang masih utuh, tampak seperti gerombolan semak-semak terdapat disana sini.

Dan pada sebuah akar yang tercabut dari tanah mencuat keatas, tampaklah sesosok bayangan hitam tinggi besar, yang sedang duduk bersila seperti patung Buddha. Sedangkan dihadapan tubuh tinggi besar itu, tampak pula seorang pemuda berpakaian compang-camping yang juga duduk bersila, sambil merundukkan muka seakan hendak mencium tanah.

Terdengar mahluk tinggi besar hitam itu berkata dengan suaranya yang berat :

“Tak perlu kecewa murid, tak perlu lagi kau membunuh diri pula!” Begitulah mahluk tinggi besar itu memulai pembicaraannya. “Kau telah berusaha melakukan bhakti seorang anak, itu tentu saja lebih baik dari pada kedurhakaanmu kau terus-teruskan. Di terima atau tidak bhaktimu itu, mengapa kau pikirkan? Apakah kau melakukan kebaikan, berusaha mengobati ayah angkatmu dari keganasan racun pacet wulung itu dengan suatu pamrih, atau pengharapan?”.

Si pemuda berpakaian compang-camping itu diam. Akan tetapi jelas bahwa ia tidak menyangkal.

Dan laki-laki tinggi besar itu tertawa besar, suaranya mengakak seakan mengguncang- guncang pohon dan daun-daun hutan.

“Agar kau tidak kecewa, lenyapkanlah itu, pamrih dan pengharapan dari hatimu. Pamrih sering memenjara jiwa orang, dan membawa pada kekecewaan, sebab pamrih itu sendiripun termasuk nafsu. Nafsu menginginkan atau mendapatkan sesuatu! Selama perbuatan manusia masih didorong oleh nafsu ingin mendapat sesuatu, maka selama itu pula ia akan menjumpai kekecewaan yang tak pernah ada ujungnya. Sebab nafsu tak pernah kenal kesuidahan! Ia akan menyeretmu pada keinginan untuk mendapat dan mendapatkan sesuatu terus-terusan!”

“Lihatlah, bulan dilangit itu. Ia menyinari bumi dan hutan, gunung dan kampung-kampung, tanpa pamrih dan pengharapan. Maka ia tidak pernah kecewa. Dan ia akan tetap bersinar dan tersenyum, setiap saat dan ketika baginya telah tiba! Yah, janganlah mengharap kalau tidak ingin kecewa. Lakukanlah setiap perbuatanmu dengan niat, bukan dengan pamrih.”

“Guru.....”, pemuda berpakaian compang-camping itu berkata sambil mengangkat mukanya

yang pucat. “Apakah keinginanku untuk diampuni oleh ayah itupun termasuk nafsu?”

“Mengapa tidak?” mahluk tinggi besar yang dipanggil sebagai guru itu menjawab dengan tegas, keinginanmu untuk mendapatkan pengampunan itupun sebuah pamrih. Pamrih, biar kau mendapatkan ketenangan batin, ketenangan untukmu sendiri, ketenangan batinmu sendiri.  

Apakah juga kau pikirkan, bila kau telah diampuni dan jiwamu tenteram, bagaimana batin orang yang mengampunimu? Dapatkah kau menduga, bahwa orang yarg mengampunimu itu akan menyesali diri seumur hidup, merasa telah berbuat terlalu kejam misalnya. Apakah membuat orang lain tidak tenteram batinnya, itu bukan termasuk mencari senang dan menang sendiri. dan bukan tergolong sebagai nafsu pula?”.

Ah, terlampau jauh dan mendalam penuturan mahluk tinggi besar itu. Tampaknya si pemuda memerlukan waktu untuk merenung dan memikirkan kebenaran kata-kata yang melit-melit itu.

“Sudahlah Pepriman. Apabila kau hendak menjadi murid Turonggo Benawi yang patuh, hendaklah tulus disetiap perbuatanmu! Kau melakukan sesuatu karena kau harus melakukan sesuatu itu. Dan kau berbuat apapun, karena perbuatan itu harus kau lakukan. Pengampunan, pengakuan ataupan pujian orang, hakekatnya itupun hanyalah pulasan lahir belaka. Pulasan lahir kukatakan, sebab manusia sering berbicara dengan bahasa nafsunya. Ia mengampunimu, karena iapun ingin dihargai sebagai orang yang lebih benar darimu. Ia mengakuimu, karena diapun ingin diakui lebih ‘terakui’ daripadamu. Dan dia memuji, karena diapun merindu akan pujian. Dan semuanya itu tak ada artinya apa-apa...”.

Memang benar, mereka ini adalah Turonggo Benawi penghuni jurang raksasa, bersama muridnya Pepriman si pemuda jembel itu.

Ketika pada beberapa bulan yang lalu, Pepriman yang alias Joko Bledug itu mengobati ayah angkatnya, Ki Ageng Tampar Angin dari amukan racun pacet wulung, karena penolakan dan penghinaan para sesepuh rimba persilatan, maka Pepriman membuang dirinya kekali bawah tanah.

Memangnya tubuhnya sedang kehabisan tenaga, lagi pula terpukul oleh rasa malu dan sedih yang tak kepalang, maka Pepriman bermaksud menghabisi jiwanya dengan cara membuang diri itu. Dia pikir, selesailah sudah penyesalannya selama hidup, sebab ia telah melakukan bhakti, walaupun diterima ataupun tidak.

Tidak diduga, bahwa pada saat itu, sesuai dengan pesannya yang telah disampaikan kepada Pepriman... yang kemudian Pepriman kirimkan kepada Cunduk Puteri... telah tiba waktunya Turonggo Benawi berjanji untuk mengadakan pertemuan dengan Ki Cucut Kawung.

Sebagai diketahui, bahwa antara ilmu golok dari Loning dan ilmu sakti tangan kosong, Nusa resa sakti dan jurang raksasa, sebenarnya mempunyai banyak persamaan, seperti terjadinya pembunuhan Dadamanuk oleh Pepriman (baca jilid V). Orang menduga bahwa pemuda jembel itu memiliki ilmu langkah ajaib ‘delapan langkah membunuh naga’ yang sangat termashur dari perguruan Loning.

Demikianlah, memang sebenarnya, antara ilmu sakti Nusa-resa-sakti dan ilmu golok Loning, berasal dari satu sumber, yaitu perguruan Pulau Maceti yang letaknya disebelah tenggara Nusakambangan.

Antara Turonggo Benawi dengan guru Ki Cucut Kawung, sebenarnya adalah kakak beradik kandung. Guru Ki Cucut Kawung yang bernama Turonggo Petak, adalah adik Turonggo Benawi, yang gugur ketika dalam pertempurannya sebagai laskar Untung Suropati yang melarikan diri dari daerah Parahiyangan ke Cirebon.

Sejak itu, Ki Cucut Kawung yang saat itu masih bocah belasan tahun, berharap akan berguru kepada Turonggo Benawi.

Akan tetapi, karena Turonggo Benawi adalah seorang pengembara, bahkan juga penjahat ulung, petualang asmara yang tidak mengenal ampun, maka kecuali Ki Cucut Kawung sendiri tidak menyukai ilmu kepandaian yang diajarkan oleh Turonggo Benawi, juga Turonggo Benawi sendiri tidak berhasrat untuk mendidik murid keponakan itu!

Akhirnya Turonggo Benawi sendiri pernah bersumpah takkan mencari murid. Dan ilmu yang sedikit-sedikit diberikannya kepada Ki Cucut Kawung itupun dilakukan dalam pertempuran bersama murid keponakan itu Ki Cucut Kawung boleh memetik ilmu pelajaran itu atau tidak, itu terserah. Tetapi mereka pasti akan mengadakan pertarungan setiap lima tahun sekali.  

Demiklanlah, karena Ki Cucut Kawung sedang dalam usahanya mengobati Kiai Teger, maka ia tidak mengadakan pertemuan dengan Turonggo Benawi. Sebaliknya Turonggo Benawi yang tidak mengerti duduknya perkara, lantas melakukan pencarian terhadap murid keponakan itu.

Dalam waktu mencari Ki Cucut Kawung itulah Turonggo Benawi menemukan Pepriman yang sedang terapung diatas air kali bawah tanah.

Turonggo Benawi telah menyelamatkan Pepriman. Dalam pada itu, ia sudah mengetahui bahwa Ki Cucut Kawung masih hidup. Bahkan berita tentang pesan yang dibawa oleh puteri Mbah Pucung, yang berakhir dengan ‘kebinasaan’ Cunduk Puteri itu, juga sudah di ketahui oleh Turonggo Benawi melalui penuturan Pepriman. Bagitu pula, ia telah mengetahui bahwa di perguruan Loning telah timbul pergolakan baru.

“Itupun suatu contoh, murid...” kata Turonggo Benawi memulai pembicaraannya kembali. “Diantara sekian banyak manusia yang sok memamerkan kesuciannya, kejujurannya ataupun keagungannya, semuanya itu hanyalah topeng belaka”.

“Kedok saja, tidak lebih dan tidak kurang. Siapa orangnya yang tidak mengagumi kebesaran nama perguruan Loning? Siapa orangnya yang tidak mengakui keagungan sikap kedua guru Loning, termasuk si Windupati itu? suatu kenyataan bahwa guru kedua itu justeru berhati lebih busuk dari pada seekor serigala siluman! Dia perkosa seorang dara pahlawan. Mungkin akibatnya hanya kebinasaan dan kehancuran dara akan tetapi barapa ribu jiwa yang menjadi patah harapan, dalam merindukan kebebasan bumi pertiwi, dan nusa Jawa ini?”

“Kehancuran nama Loning hanya disebabkan perbuatan yang hanya sesaat itu belaka.

Perbuatan yang hanya menurutkan nafsu!”

“Sejauh itu muridku, nafsu menghancurkan peradaban manusia! Selama manusia masih suka menggunakan topeag atau kedok untuk menutupi nafsunya yang menyiarkan bau busuk, maka selama itu pula bumi ini terancam bencana...”

“Tua bangka kejemur, kojah apa?”

Tiba-tiba saja terdengar suara yang melengking tajam seperti suara gangsir yang memotong pembicaraan Turonggo Benawi. Dan didekat guru dan murid itu duduk, kini telah bertambah satu orang.

Orang yang baru muncul itu, adalah seorang lelaki berperawakan kekar, dan tampak kepalanya besar dengan rambut riap-riapan terurai kebawah hingga menyapu pinggang. Kaki kirinya besar dan ototnya bergumpal-gumpal, sebaliknya kaki kanan yang tampak dari dalam celana setengah tiangnya, kecil seakan tulang dibalut kulit belaka. Mata orang ini jereng kedua-duanya bersatu bola hitamnya didekat pangkal hidung. Sedang hidungnya itu sendiri membendul besar dengan sebuah anting-anting melingkar pada sebuah lubang hidungnya yang lebar.

Laki-laki cacad itu tidak mengenakan baju agaknya ia ingin memamerkan dadanya yang bidang dan berotot merongkil-rongkol seperti punggung tikus.

Sekali melihat, Pepriman menyadari bahwa orang yang baru datang itu bukanlah orang baik.

Dan walaupun ia tidak memutar duduknya menghadapi akan tetapi dia telah bersiap-siap. Di tegur dengan ejekan demikian, Turonggo Benawi tertawa gembira. Lalu katanya.

“Aku pernah mendengar nama orang yang memiliki sikap licik seperti gangsir, suaranya lantang, tetapi orangnya ngumpet didalam liang. Dan kata orang dia berasal dari pesisir barat, yang bernama Wigendro. Apakah kau orangnya?”.

“Tidak salah!” sahut orang yang baru datang itu. Dialah yang terkenal sebagai si raja dari Sindanglaut, Wigendro. “Setelah matamu yang lolong itu tidak melihat diriku, apakah kau masih juga tidak segera menyerahkan Kiai dan Nyai Tanjung?”

Pepriman tersentak, marah. Ejekan terhadap gurunya tentu saja menyakitkan hatinya. Akan tetapi Turonggo Benawi sendiri malah tertawa.  

“Kau cuma jereng (kero). Sedangkan aku malah buta melek. Masakah ada orang yang meminta sesuatu kepada orang buta Wigendro? Apakah kakimu yang kegedean sebelah itu sudah tak mau diajak jalan mencari sendiri pusaka milik orang itu?”.

Bukan main banyaknya jawaban penuh ejekan yang diucapkan oleh Turonggo Benawi.

Kalau Turonggo Benawi adalah seseorang yang boleh diibaratkan sudah kekenyangan hidup, kenyang pengalaman dan kenyang penderitaan, sebaliknya Wigendro adalah seorang setengah umur yang biasa menurutkan setiap nafsu dan kemauan seenak hatinya. Di ejek begitu rupa, seketika meluaplah kemarahannya, dan kejerengan matanya kian menjadi-jadi.

“Setan jahanam! Kukira Turonggo Benawi itu mahluk yang boleh disebut pertapa, tidak tahunya cuma, seorang mahluk hina yaug biasanya mengandalkan ilmunya buat menghina orang, dan menyerakahi barang malik orang lain. Aku Wigendro, jauh-jauh datang kemari menerabas hutan dan jurang, adalah untuk menghukum manusia busuk bermulut besar seperti kau! Turonggo Benawi! Jangan dikira aku tak dapat menghancurkan ilmumu Nusa reca sakti!”.

“Sabar... sabar...” Turonggo Benawi mengembangkan kedua telapak tangannya sambil tertawa. “Yang menghina kau itu siapa? Aku hanya bilang, matamu kero dan kakimu kegedean sebelah. Itu kenyataan. Dan kalau kau merasa terhina, sebenarnya yang menghinamu adalah perasaanmu sendiri...”.

“Tutup mulut! Mana serahkan Kiai dan Nyai Tanjung!” Wigendro membentak sambil

menggoyangkan badannya, menghantam tanah. Maka bumi disekitarnya terasa gempa.

Pepriman bangkit hendak mendamperat orang sombong itu, akan tetapi Turonggo Benawi telah mencegahnya.

“Wigendro. Degan kaki yang mana kau menggejog bumi. Mati-mati ibu pertiwi tak mau

dihantam dengan kaki yang kananmu!”

Bukan alang kepalang murkanya jago dari Sindanglaut ini, sampai berjingkrak, seperti orang dirayapi cacing.

“Hai tua bangka buta! Jangan banyak mulut. Mau serahkan pusaka itu atau tidak?”

“Tak perlu marah-marah terlalu, Gendro! Bukankah kau masih menunggu teman-temanmu datang? Dengan kau sendiri, walaupun kau menggertak seribu kali, apakah kau berani bertindak?”

Dugaan Turonggo Benawi ternyata jitu sekali! Dan entah dari mana datangnya kini tampak enam orang menghampiri, berjalan dengan sangat hati-hati sekali. Namun begitu toh mereka tak dapat luput dari indera Turonggo Benawi.

Dua orang yang datang dari arah kanan, adalah seorang laki-laki berhidung bengkok dan seorang wanita cantik yang bibirnya selalu tersenyum simpul. Mereka adalah Ki Genikantar dan Dewi Cundrik.

Dan empat orang lagi yang datang dari arah kiri, mereka adalah seorang kakek bongkok bermuka buruk yang duduk dipundak seorang laki-laki tinggi besar mengenakan gelang-gelang tembaga dilengannya, dua orang ini adalah Agung Catursuda dan Bala, guru dan cantrik dari pertapaan Catursuda di puncak gunung Slamet.

Yang seorang lagi, adalah seorang laki-laki baya berwajah tampan dan pucat, yang memegang kipas ditangannya, dia adalah Sri Naga Dumung dari hutan Kedu. Dan yang seorang yang terakhir, adalah seorang laki-laki, gagah dan pendiam, yang menyoren sebuah golok pusaka dipinggangnya, adalah orang kedua perguruan Loning, dialah Windupati!

Sebuah riwayat yang tersembunyi, rahasia yang sama sekali Ki Cucut Kawung sendiri tidak mengetahui, WIndupati adalah adik kandung bungsu Wigendro sejak kecil, karena Windupati adalah satu-satunya keluarga yang tidak cacat dari keturunan jago Sindanglaut itu maka ia diusir dan dibenci oleh saudara-saudaranya. Dan sejak kecil pula, lelaki bernama Windupati itu menjadi murid kesayangan, bahkan satu-satunya orang kepercayaan Loning.  

Ketika mendapatkan undangan dari Ki Genikantar atas nama Paguyuban Banjardawa, maka secara diam-diam Wigendro menyelundup lebih dulu kedalam perguruan Loning. Disana ia menjumpai Windupati yang kebetulan sedang berkuasa.

Tidak sedikit keterangan yang diperoleh oleh Wigendro dari adik bungsunya itu, hingga ia tahu benar keadaan sepanjang pesisir utara Pemalang itu, maupun berita-berita yang lain, termasuk dimana adanya dua pusaka Mataram itu.

Demikianlah karena Windupati sendiri bercita-cita untuk menjadi orang pertama diperguruan Loning, maka secara diam-diam ia meninggalkan perguruan bersama kakaknya untuk mencari pusaka itu.

“Terlalu lengkap, sudah! Lengkap sekali!” Kata Turonggo Benawi bernada mengejek. “Semua manusia bernafsu besar, sekarang telah berada disini, berkumpul untuk mengadakan pesta. Ha, tentu pesta ini akan meriah sekali. Hai... Catursuda, apakah kaupun menginginkan pusaka milik orang lain itu pula? Apakah ilmu tenungmu sudah tidak manjur lagi sekarang?”

Catursuda yang merasa kena ejek, lantas saja menggereng, dan suaranya itu menggentarkan rimba dan lembah.

Pepriman terkejut, dihitung-hitung, tampaknya ketujuh orang yang baru datang itu, kiranya orang-orang kenamaan yang si pemuda sendiri baru cuma mendengar ketenaran nama mereka belaka. Catursuda dan Wigendro adalah dua buah nama yang ibaratnya dapat menggetarkan bumi menggoncangkan langit. Belum terhitung Genikantar dan Dewi Cundrik yang ilmu kesaktiannya juga jarang tandingan.

Sedangkan yang tiga oraag lagi, yaitu orang yang menggendong Catursuda, lelaki yang bersenjata kipas maupun yang bersenjata golok, tampaknya juga bukanlah orang-orang sembarangan.

“Pertapa cabul haram jadah seperti kau, masih punya muka untuk mengungkap-ungkap soal nafsu apa segala, Benawi! Walaupun aku Catursuda bukan orang suci, akan tetapi kebiasaan buruk untuk merampas kehormatan rumah tangga orang, merusak pager ayu, tak pernah kulakukan!” kata Catursuda.

“Mana bisa kau merusak pager ayu, Catursuda? Kakimu lumpuh dan mukamu buruk seperti raja ketek ogleng (topeng monyet). Jangankan main cinta denganmu, sekali wanita melihat mukamu, kontau mereka akan kele...”.

“Tutup bacot!” Bala, cantrik Catursuda yang berangasan itu membentak marah. Dia belum pernah mengenal Turonggo Benawi, baru dengar namanya belaka, maka ia berani berkata begitu kasar, sampai mengejutkan majikannya sendiri. “Majikanku adalah yang dimuliakan diseluruh wewengkon gunung Slamet. Kau ini sebangsa sisa neraka berani menghina, aku Bala yang akan menghentikan napasmu nanti!”.

Sambil membentak-bentak demikian, Bala menggoyangkan lengannya sehingga gelang- gelang tembaganya gemerincing memekakkan telinga.

Bukan main, keluh Pepriman dalam hatinya. Cantriknya saja demikian hebat tenaga batinnya, apa lagi si bongkok buruk majikannya itu.

“O, kiranya kau seorang cantrik!” Sahut Turonggo Benawi sambil tertawa. “Jadi kau ini benar-benar tidak bisa berjalan, Catursuda? Untuk mencari tukang gendong saja kau memilih orang bermulut begitu besar, pertandanya bahwa perguruan Catursuda hanya berisi gentong kosong belaka ”

“Apakah kau masih mengenal suaraku, Benawi? Sri Naga Dumung berkata seraya mengipas- ngipas dadanya, disebelah sana, Dewi Cundrik tersenyum genit, melihat bulu dada begal Kedu itu.

“Bagus! sebangsa maling pitik saja dibawa kemari-mari. Naga Dumung biasanya kau tidak suka membagi rejekimu kepada orang lain. Tetapi kali ini kau datang bersama rombongan, apakah kau telah berubah kebiasaanmu?”  

Turonggo Benawi yang mengucapkan sindiran itu. Akan tetapi yang mendengus dingin adalah Catursuda dan kawan-kawannya yang lain, seakan-akan hendak berkata, bahwa andaikata Naga Dumung tetap menuruti kebiasaan menyerahi hasil perbuatan ini hari, apalah susahnya untuk meringkusnya?

“Aku tidak mengandalkan pada rejeki bagus belaka, Benawi” sahut Naga Dumung.

Terkadang juga perlu aku menunjukkan kelihayan permainan kipasku!”

“Haih, haih, haih...” Turonggo Benawi seakan menyesali diri. “Masih ada tiga orang yang belum memperdengarkan suaranya. Aku Turonggo Benawi adalah seorang tuan rumah buta. Kalau kalian tidak mendengarkan suara mana aku bisa memberikan penghormatan? Aku hanya bingung, kepada siapa kedua pusaka itu harus diberikan”

“Kepadaku Benawi!” Genikantar membuka mulut sambil menyeringai.

“Dengan menyerahkan pusaka itu kepada ketua paguyuban Banjardawa, sudah berarti kau

menyerahkan kepada kami bertujuh. Bukankah itu sempurna namanya?” “Betul, sempurna juga”, sahut Turonggo Benawi seraya tertawa.

“Tidak bisa!” Dewi Cundrik menyanggah. “Pusaka Kiai dan Nyai Tanjung adalah milik orang yang berdarah Mataram. Dan orang itu, adalah aku! Aku Dewi Cundrik, cucu tunggal Dewi Gandri, sahabat dekat dan.  ”

“Dan babu Roro Tanjung yang tak tahu membalas guna!” Windupati yang merasa tidak berdarah Mataram itu menyelutuk jengkel. Memang kalau diurut-urut, pusaka Mataram sebagai Kiai Tanjung dan Nyai Tanjung adalah warisan bagi orang-orang yang masih berdarah perajurit Mataram.

Windupati tahu, dari kabar-kabar dan cerita orang, bahwa Dewi Gandri, atau Ni Gandri adalah inang pengasuh Roro Tanjung dan Joko Tanjung dimasa kecil. Sehingga sudah sepatutnya, apabila pusaka itu hendak diwariskan, tentulah orang yang paling dekat, adalah Dewi Cundrik keturunan Ni Gandri.

Dewi Cundrik berjingkrak marah. Dibukanya rahasia keturunannya dimuka umum seperti itu, tentu saja dipandang sebagai menurunkan derajat. Bagaimana dia mau tinggal diam, dia seoraog ratu keraton Telagasona mau ditelanjangi sebagai keturunan seorang hamba sahaya.

“Monyet palasan! Kau ini Windupati, setelah seumur hidup menjilati sesajen di Loning sekarang hendak buka mulut busuk disini. Siapa sudi mendengar kojah anjing kikik sepertimu?” Dewi Cundrik sudah lantas menyemprot.

“Haha... haha...” Turonggo Benawi tertawa menyelak. “Windupati! Bagaimana kau tidak mengenal sopan santun didepanku?”

Windupati sudah terlanjur mendongkol dan ditegur oleh Turonggo Benawi kiranya hanya menambah kejengkelannya belaka.

Yang sangat terkejut dan jengkel, bukanlah Turonggo Benawi. Akan tetapi adalah Pepriman, Tidak nyana sama sekali, bahwa dialah orangnya kepercayaan Ki Cucut Kawung, orang yang telah merusak kehormatan seorang dara pahlawan Cunduk Puteri. Kiranya orangnya cukup gagah dan angker sikapnya, bertentangan dengan sifatnya yang kotor dan biadab.

Diam-diam, dalam hati Pepriman bertekad untuk mencekuk guru Loning itu, untuk membalaskan sakit hati dara pahlawan itu. Di cari tak mungkin begitu mudah ditemukan, sekarang pada kesempatan begini bisa ditemukan orangnya mana boleh dibiarkan pergi!

“Benawi.” Catursuda berseru, “Jumlah kami tidak kurang dari tujuh orang. Walaupun kau

bertangan seribu, apakah dapat menghadapi kami?”

Turonggo Benawi mengangguk. Lalu dari bawah rambutnya yang gimbal, diambil keluar sebuah tusuk konde emas yang mematakan berlian.  

Sambil meletakan benda itu ditelapak tangannya, Turonggo Benawi berkata :

“Siapakah yang dapat mengenali benda ini?”

Semuanya terdiam. Setiap orang hampir pernah mendengar ada tusuk konde emas yang bentuknya sangat indah dan bertahtakan berlian itu. Namun tidak seorangpun diantara mereka yang dapat memberikan keterangan asal usulnya benda itu.

Hanya seorang Windupati, yang kebetulan memang orang kepercayaan Ki Cucut Kawung samar-samar dapat mengingat riwayat benda itu. Dengan segera ia menjawab dengan suara menyombong :

“Apa susahnya mengenali benda semacam itu. Itulah tusuk konde ‘lintang kemukus’ milik mendiang Roro Tanjung yang kabarnya dihadiahkan kepada seorang puterinya yang bernama Dewi Manik! Dewi Manik itu sendiri kabarnya telah menghilang, atau terbunuh dalam sumur mati Bengkelung ketika sedang dalam pertarungannya melawan Dewi Gandri! Entah kemudtan bagaimana caranya. aku tidak tahu, benda itu sekarang bisa berada ditangan orang lain”

“Haha... haha....” Turonggo Benawi tertawa. “Mau bilang terus terang, kenapa pakai plintat- plintut, Windupati. Katakan saja bahwa kau mencurigai aku merampas benda ini dari pemiliknya bukan? Nah, bukan begitu duduknya perkara. Dengarkan olehmu sekalian baik-baik!”

Setelah mengatur duduknya, dan menghela napas barulah Turonggo Benawi melanjutkan penuturannya.

“Yang berhak memiliki Kiai Tanjung dan Nyai Tanjung atau Nini Tanjung, adalah pemilik tusuk konde pusaka lintang kemukus ini. jadi menurut pantasnya, kedua pusaka itu adalah milikku. Akan tetapi hendaklah kalian ketahui, bahwa orang yang sebenarnya harus memiliki tugas tusuk konde ini, yaitu Dewi Manik. Dan yang agar kalian ketahui, bahwa sesungguhnya Dewi Manik belum mati! Dia masih hidup! Dia masih berhak untuk memiliki barang pusaka warisan leluhurnya!”

“Benawi!” Catursuda menbentak, seraya tertawa bergelak. “Tusuk konde itu milik Dewi Manik. Tetapi sekarang berada ditanganmu. Kukira penjahat keji sepertimu, dari mana lagi asalnya kalau tidak boleh merampas atau membujuk wanita itu. Nah, sekarang tusuk konde itu serahkan kepadaku, dari padat aku harus turun tangan kejam atas dirirnu.”

“Mudah saja, Catursuda! Terang tusuk konde ini akan kuserahkan kepada seorang diantara

kalian!” Benawi bicara sampai disini, maka sekalian pendatang itu tampak saling pandang.

“Tetapi ingat, bahwa tak mungkin begitu saja aku bisa menyerahkan benda ini tanpa dengan cara yang sebaik-baiknya!” Turonggo Benawi menyambung bicaranya. “Tadi Windupati telah dapat menjawab jitu pertanyaanku yang pertama. Apabila pertanyaanku yang kedua dapat dijawabnya dengan tepat pula, pasti benda ini akan kuserahkan kepadanya.

Selama berbicara, Turonggo Benawi menunjukkan sikapnya yang sungguh-sungguh. Sehingga sekalian yang hadir lantas saling pandang, untuk kemudian memandang penuh kecurigaan kearah Windupati.

Setiap orang tahu, bahwa Turonggo Benawi takkan mengingkari kata-katanya. Dia memang seorang bekas penjahat dan petualang yang ulung, namun dia adalah seorang dari angkatan tua yang bersikap angkuh. Orang berilmu tinggi sebagai dia, tak pernah memandang perlu untuk menjilat ludah yang telah keluar dari mulutnya.

“Coba katakanlah pertanyaanmu itu, paman Benawi! kata Windupati.

“Mengapa tusuk konde ini begini keramat, dan dikatakan bahwa yang memiliki benda inilah, yang mempunyai hak untuk memiliki Kiai Tanjung dan Nyai Tanjung?” Kata Turonggo Benawi mengajukan pertanyaannya yang kedua.

Seketika, sekaliannya terdiam. Termasuk Windupati sendiri, menundukkan kepala untuk memeras otaknya, menjawab pertanyaan itu.  

“Yang lainpun boleh menjawab!” Kata Turonggo Benawi menambahi keterangan.

Tetapi jangankan yang lain sedangkan Windupati sendiri agaknya tak mampu menjawab teka- teki itu.

Semua orang ini tahu, bahwa pemilik tusuk konde lintang kemukus adalah pewaris kedua pusaka Mataram itu. Akan tetapi bagaimana caranya? Masakah seperti barang sulapan, begitu memegang tusuk konde lantas sudah mendapatkan kedua pusaka itu?

Windupati yang pada dasarnya memiliki kecerdasan yang melebihi sekalian teman-temannya, akhirnya menjawab :

“Tidak boleh tidak, pada tusuk konde itu tentu terdapat peta yang menunjukkan dimana adanya kedua pusaka Mataram itu disimpan!”

Mendengar jawaban demikian, Turonggo Benawi tertawa. Sebaliknya sekalian para pendatang itu terkejut. Mereka menduga bahwa jawaban itu, Windupati tentu jitu.

Belum habis tawanya, Turonggo Benawi telah berkata :

“Dugaanmu sama dengan dugaanku, Windupati. Tetapi telitilah kemari. Perhatikanlah tusuk konde ini. Dimana kira-kira terdapat peta itu?”

Bukan hanya Windupati sendiri yang segera bertindak maju akan tetapi semuanya, termasuk Bala yang menggendong Catursuda itu telah berebut maju untuk memeriksa. Begitu pula, Pepriman tidak mau ketinggalan.

Akan tetapi, setelah sekian lama mereka memeriksa ternyata mereka tidak menemukan suatu apapun yang dapat diduga rnerupakan sebuah peta, ataupun petunjuk yang lain.

Tusuk konde itu terbuat dari emas gligen sebesar jari kelingking, tidak berlubang didalamnya. Dan seluruh permukaannya, berkilau-kilau belaka, tidak terdapat sebuanpun garis apa saja yang dapat diduga sebagai petunjuk sebuah peta.

Dugaan terjatuh pada butiran-butiran berlian pada ujung tusuk konde itu, namun kalau meneliri berlian itu yang hanya sebesar-besar beras, masakah dapat untuk menyembunyikan sebuah peta?  

“Mungkin kalian menduga, peta itu berada dibawah berlian. Nah, lihatlah!” Kata Turonggo

Benawi seakan dapat membaca isi hati para pendatang itu.

Seraya berkata Turonggo Benawi menjentikkan jarinya. Maka lima butir berlian itu beterbangan dari tempatnya, jatuh ketangan kakek raksasa itu yang masih juga tertawa.

Apabila orang memeriksa tempat bekas berlian-berlian itu disitupun tidak terdapat sesuatu yang aneh atau yang menarik perhatian. Hai ini tentu saja mengherankan mereka.

“Tidak hanya kalian yang akan keheranan melihat kenyataan ini. Sedangkan aku yang tidak punya mata juga dapat menduga bahwa benda ini...”

Turonggo Benawi sedang bicara sampai disini, tiba-tiba saja Catursuda mengulurkan tangannya, menyambar kearah tusuk konde itu.Tetapi Sri Naga Dumung yang berada lebih dekat dengan Turonggo Benawi telah bertindak lebih cepat. Tangan kanan mengebaskan menghantam lengan Catursuda, sedangkan tangan kirinya diperguuakan untuk menyambar tusuk konde di tangan Turonggo Benawi.

“Curang!” Windupati membentak, seraya mengembangkan kedua tangannya, menghantam kearah kedua orang yang hendak mendahului itu. Akibataya, dua tenaga melawan satu, Windupati tergentak mundur beberapa tindak, sedangkan Catursuda maupun Naga Dumung hanya terpaksa harus mengurungkan maksudnya mengambil benda pusaka itu.

“Eh, bocah kemarin sore hendak jual lagak didepan Catursuda! Apakah kau menghendaki

perguruan Loning tumpas ludes oleh tanganku?” Catursuda membentak penuh ancaman. Kedua tangaa kakek bongkok itu terulur panjang sekali kedepan, mulur seerti karet tahu-tahu hendak menotok dengan cakar-cakarnya kearah tenggorokan Windupati.

Windupati cukup waspada. Guru kedua Loning ini walaupun belum pernah bergebrak dengan jago tenung gunung Slamet itu, akan tetapi cukup maklum akan kemampuan si kakek bongkok yang menyeramkan itu. Ia tak mau mengadu tenaga, sadar benar bahwa dalam hal kekuatan tenaga batin, mungkin hanya Turonggo Benawi yang dapat menandingi Catursuda.

Maka di serang secara demikian mendadak, Windupati sekaligus hendak memperlihatkan hebatnya ilmu golok dari Loning. Sekali tangannya bergerak, maka selembar bayangan berkilat menyambar kearah lengan Catursuda yang sedang mengejar.

“Aiit!” Catursuda terkejut. Tangannya mendadak dapat mengkeret, dan sabetan golok lawan

mengenai angin. Namun begitu cukup untuk membuat ahli tenung itu terkejut setengah mati.

“Ilmu golok Loning kiranya bukan main-mainan!” Kata Catursuda seraya menyeringai. “Akan tetapi orang tua sebagai aku masakah harus melelahkan diri dengan alat pemotong bebek seperti itu. Bala! Waktumu sekarang untuk memperdalam latihan ilmu pukulan gelang tembaga.

Selesai berkata, maka tubuh Catursuda melayang pergi dari pundak Bala, untuk selanjutnya kakek itu mendarat diatas sebatang pohon, dan duduk bersila lelenggutan, seakan-akan tidak tertarik pada setiap persoalan.

Selama ini, Bala belum pernah menemui tandingan ilmu gelang tembaga dari perguruan Catursuda belum pernah gagal. Dan kesombongan yang memang tela menjadi waktunya semakin besar, didepan gurunya tentu saja ia bermaksud unjuk kegagahan. Maka tanpa Catursuda mengulangi perintahnya. Bala telah melangkah maju memapak Windupati.

“Membabat lompong (keladi) tak perlu dengan kapak!” Bentak cantrik itu sambil tertawa sombong. Maksudnya, melawan bangsa kroco, tak perlu orang kosen sebagai Catursuda turun tangan, cukup cantriknya pun sudah memadai.

Windupati adalah seorang guru, orang kedua dipeguruan Loning yang sangat termashur. Kecuali Ki Cucut Kawung, Windupati adalah tergolong orang kosen nomor wahid dipesisir utara ini. Masakah harus bertarung melawan seorang cantrik belaka!

Apalagi dengan sikap Bala yang begitu sombong Windupati jadi sangat gusar. Boleh jadi ia akan berhati-hati melawan Catursuda, akan tetapi seorang cantrik mana dipandang mata olehnya?

Dengan lompatan yang garang. Windupati yang berangasan itu membabatkan goloknya, sekali gerak, tujuh jalan darah cantrik itu kena diincernya.

Disaat ini, Windupati benar-benar hendak memamerkan kelihaian ilmu golok dari Loning, dengan maksud dua atau tiga jurus saja cantrik itu akan menjadi berkedel.

Akan tetapi, ia lupa, bahwa walaupun seorang cantrik, Bala juga murid kepercayaan kaket bongkok itu. Bala demikian disayang oleh majikannya setelah ia telah dijadikan sepasang kaki kakek itu. Tentu saja hampir seluruh ilmu kesaktian kakek itu diwariskan kepadanya.

Crang! Crang! Terdengar benturan senjata yang nyaring dan lelatu api berpercikan menyilaukan mata.

Bala hanya menggeserkan sebelah kakinya kebelakang dan tangan kanannya digoyangkan menangkis kedepan, maka golok Windupati yang berkelebatan hanya dapat menyerempet gelang- gelang tembaga itu belaka.

Sementara kedua orang itu sedang siap untuk melanjutkan pertarungan maka yang lain bergerak mundur, seakan-akan sengaja membuat gelanggang bagi mereka yang sedang bertarung.

Turonggo Benawi masih juga duduk diam, setengah tertawa setengah berduka. Telapak tangannya terbuka dengan tusuk konde lintang kemukus tergeletak diatasnya.  

Pepriman hanya sesekali melihat kearah pertarungan, untuk memperhatikan ilmu golok Loning dari Windupati. Diam-diam ia telah berpikir dengan cara bagaimana ia nanti akan menghadapi tokoh kosen itu.

Wigendro, dan Naga Dumung berdiri berdampingan. Sama sekali mereka tidak tertarik pada pertarungan itu. Perhatian mereka justeru tertuju pada tusuk konde pusaka itu.

Lain sekali halnya dengan Dewi Cundrik maupun Ki Genikantar. Kedua tokoh paguyuban Banjardawa ini tampak sangat gelisah. Dalam hal ini mereka sependapat, bahwa bila pertarungan kedua orang itu dibiarkan berlangsung terus, sesungguhnya mereka inilah yang akan merugi.