-->

Alap-Alap Gunung Gajah Jilid 08

Jilid VIII

KI TAMBAREKSO tersentak kaget dan bulu kuduknya meremang karena ngeri. Bukan main hebatnya pembawa sikap si jembel ini. Manusia kawakan sebagai Ki Tambarekso ini, adalah seorang kakek yang sudah terlalu sering mengalami pertarungan dan pertempuran yang bagaimanapun dahsyatnya. Tapi si kakek tidak tergetar nyalinya sebagai sekarang menghadapi seorang jembel kotor yang menyeramkan itu.

Dengan suara gemetar dan parau Ki Tambarekso memerintahkan anak buahnya untuk mengerubut maju.

Beberapa anak buah romboagan sintren itu, yang tergolong si penunggang kuda lumping, telah berlompatan maju dengan gerak yang sangat mentakjubkan dan hebat.

Penari kuda lumping itu ada tujuh orang. Mereka terdiri dari pemuda-pemuda yang bertubuh kekar dan tegap, dan berilmu silat tinggl. Mereka bukannya menyerang begitu saja, akan tetapi berlompatan sebagaimana kuda liar, setelah itu barulah secara bergantian mereka melancarkan pukulan dan tendangan berruntun-runtun.

Untuk sejenak si jembel tampak keheranan. Lompatan-lompatan para anggota sintren itu, menyilaukan mata dan membingungkan. Dan suara ringkikan mereka yang mirip benar dengan ringkikkan kuda, seakan hendak memecahkan telinga. Sebelum si jembel menyadari bahaya apa yang akan terjadi, maka tendangan dan pukulan para ‘penunggang kuda lumping’ telah bertubi-tubi mengenai tubuhnya.

Si jembel terjatuh bangun, untuk beberapa saat menjadi bola sepak ataupun bola tangan. Untungnya ia memiliki keuletan tubuh yang sudah sangat terlatih, tenaga dalam batinnya telah gemblengan lima tahunan dalam jurang raksasa. Kecuali itu, pukulan dan serangan para penunggang kuda lumping itu hanyalah pukulan tenaga kasar belaka, sama sekali tidak membahayakan.

Beberapa saat kemudian, si jembel merentak bangkit tenggorokannya memperdengarkan suara lengkingan menyayat. Seketika tubuhnya berubah menjadi bayangan, dan sepasang lengannya seakan telah menjadi tak terbilang banyaknya.

Tujuh orang penunggang kuda lumping itu memperdengarkan jeritan ngeri bersahut-sahutan, menyusul tampak tubuh mereka terlempar berhamburan kesegala penjuru.

Tidak satu pun diantara mereka yang masih bernyawa, ketujuh orang itu telah mati dengan dada pecah berlubang lima jari yang mengucurkan darah.

Ki Tambarekso yang melihat seluruh anak buahnya tertumpas ludes menjadi tambah gusar.

Dari balik bajunya ia mengeluarkan sebuah kipas baja. Dengan tangan kanan pegang cambuk dan tangan kiri pegang kipas baja, maka kakek itu menerjang maju.

Si jembel masih juga memekik-mekik dengan suara yang mengheak-heak seperti suara elang.

Kedua tangan terangkat dengan jari-jari menekuk seperti cakar. Rambutnya yang panjang riap-riapan berkibar-kibar diudara.  

Sabetan cambuk dielakkan dengan mendoyongkan badan kesamping, sedangkan bacokan kipas baja Ki Tambarekso yarg datang hampir bersamaan dengan cambuk itu, terpaksa harus ditangkis. Kelima jari si jembel mcnjentik secara bergantian, terdengarlah bunyi nyaring seperti benda keras beradu, mana kipas baja itu terpental kesamping.

Saat itu, Ki Jagabaya Karangsari yang melihat bahwa pihaknya akan segera dihancurkan oleh si jembel sakti yang seperti kesetanan itu, segera hendak mencemplak kudanya, sambil masih menggigil, meratap-ratap kesakitan.

Tampaknya Jagabaya itu akan segera dapat meninggalkan tempat pertarungan itu. Akan tetapi dendam kesumat yang tampak membakar mata si jembel menunjukkan bahwa ia tidak membiarkan Jagabaya itu tinggal hidup.

Demi melihat perbuatan Jagabaya, maka si jembel menggerung seperti macan. Kemudian kedua tangannya yang gemetar itu membacok dan membelah kedepan. Melihat itu Ki Tambarekso segera menyabet dengan cambuknya.

Kiranya itulah yang dimaksudkan oleh si jembel. Dengan cepat ditangkapnya tali cambuk, kemudian dikedutkannya dengan sangat keras sekali. Saat itu tangan kiri Ki Tambarekso sedang menikamkan tepian kipas kearah dada si jembel.

Ujung cambuk berubah arah, meluncur secepat anak panah menyambar kearah Ki Jagabaya yang sedang membungkuk dipunggung kuda hendak kabur. Baru saja kuda si Demung hendak sekali mencongklang, terdengar jerit Jagabaya melengking kesakitan. Tubuh laki-laki berkumis baplang melayang jatuh dari punggung kuda, dengan ujung cambuk menembus punggung hingga kedada.

Lebih-lebih sengsara lagi nasib Ki Jagabaya ini. Sedang tubuhnya jatuh tertarik oleh tali cambuk, saat itu si jembel telah menangkis lengan kiri Tambarekso, dan langsung ketika tubuh kakek itu terbanting kesamping si jembel menikamkan kelima jarinya kerusuk kanan kakek itu.

Sekali menjerit, maka kakek pemimpin rombongan sintren itu tewas. Tidak cukup begitu saja dia mati. Tubuhnya yang ambruk kesamping itu, masih memegang erat kipas yang berada ditangan kirinya. Dan kipas yang tajamnya serupa pisau itu membelah muka Ki Jagabaya yang menggeletak dengan mata mendelik. Tak ampun lagi, muka Ki Jagabaya yang sudah mengerikan seperti setan itu terbelah kontan, pecah muncratkan darah.

Agaknya, setan jahanam benar-benar telah merasuk kedalam tubuh pemuda jembel itu. Seluruh pengeroyok telah habis dibunuhnya, masih juga kurang puas. Kuda-kuda dan semua binatang bergerak yang terlihat oleh matanya dibasminya habis!

Bangkai berkeleparan, berpencaran karena beberapa anggota sintren yang bermaksud melarikan diripun di bunuh pula.

Darah manusia, darah kuda membanjir, mengalir menyusuri jalan berbatu. Bau amis tersebar keudara.

Untuk beberapa saat pemuda itu masih memperdengarkan pekikan-pekikan seperti burung elang. Kelima jari tangannya penuh berlepotan darah yang masih menetes-netes. Napasnya memburu sementara gelegak nafsu ingin membunuh masih memancar dikedua bulu matanya yang berputar-putar liar.

Akan tetapi, ketika disekitarnya sudah tak ada lagi barang bergerak. Tiba-tiba ia menjerit kaget.

Tubuhnya menggigil sejenak untuk kemudian tampak jatuh mendeprok dengan sangat letih.

Dan... pembunuh kejam itu telah menangis tersedu-sedu.

Sambil menutupi mukanya dengan dua tangannya yang masih berdarah si jembel terus menangis, penuh duka dan penyesalan. Wajahnya berubah pucat pasi, dan sinar matanya yang semula liar jalang itu, kini tampak guram dan putus asa.  

Di bawah langit biru, awan mengambang seperti kapas yang dihalau angin. Angin malam yang lembut semilir menyapu dedaunan, juga tubuh si jembel yang masih berlutut.

Mendadak pemuda jembel itu melompat pergi. Dengan tiga kali lompatan maka ia telah sampai pada tebing yang membukit tempat dimana ia menyembunyikan sintren si Renggong Manis.

Tiba-tiba ia tertegun. Di tempat itu, dilihatnya seorang pemuda tampan dengan sepasang golok terhunus sedang berdiri gagah, seakan hendak menyambut kedatangan si jembel dengan terjangan maut.

“Siapa kau?” tanya si jembel dengan suara lemah dan keheranan. Tadi ia rasa-rasanya pernah melihat wajah pemuda tersebut ikut serta bersama-sama rombongan Ki Tambarekso memburu. Akan tetapi mengapa dia tidak mati, juga tidak mengeroyok.

“Jangan dekati! Awas, berani menjamah Renggong Manis, kucincang tubuhmu yang busuk itu!” sahut pemuda tampan itu penuh ancaman.

Si jembel terdiam. Entah mengapa, ancaman pemuda tampan itu tidak menimbulkan kejengkelannya, bahkan menurut telinganya, suara pemuda itu terdengar merdu, dan seakan-akan ia pernah mengenalnya.

“Aku harus pulangkan, sintren itu kerumahnya. Kau ini siapa dan ada hubungan apakah dengan dia?” Suara si jembel tetap halus dan lemah. Agaknya nafsu membunuhnya sudah lenyap entah kemana.

“Huh!” Pemuda tampan itu mendengus. “Tampangmu yang kotor busuk dan keji itu hendak mengantar sintren mungil ini? Pantasnya orang lebih baik mempercayakan diantar anjing geladak daripada diantar oleh manusia buas sepertimu!”

“Kau siapa?”

“Aku kakaknya, kau mau apa?” sahut pemuda tampan itu pula.

Si jembel tahu bahwa pemuda tampan itu tidak berkata jujur, akan tetapi dalam hatinya mengakui bahwa pemuda tampan itu memang sesuai bila mengaku sebagai kakak sintren yang mungil dan jelita itu.

“Ya, sudahlah, kalau kau menggantikan kewajibanku mengantarkan sintren itu pulang.

Kebetulan sekali...” kata si jembel seakan mengeluh.

Ketika melihat si jembei hendak berlalu pergi, pemuda tampan itu memanggil.

“Tunggu!” Apakah kau jembel yang pernah membunuh Dadamanuk itu?”

“Ya, mengapa?” Di mulut si jembel menjawab iya, akan tetapi kepalanya menggeleng-geleng. “Namun si pepriman?”

“Betul!” jawab si jembel dengan lesu.

“O, kiranya... kau hanya seorang pemberontak hina dan pembunuh keji...”.

Si jembel meringis. Ia insyaf bahwa gelar yang di berikan oleh pemuda tampan itu memang cocok.

Si jembel melangkahkan kaki hendak berlalu. Akan tetapi inderanya yang sangat tajam mengingatkan dirinya akan datangnya bahaya. Cepat sekali tubuhnya bergerak, badannya digoyangkan kekanan, kemudian secepat kilat meletikkan kedua kakinya, sehingga kini tubuh pemuda jembel itu melayang seperti elang yang sesungguhnya.

Dua kali sabetan golok berdesing lewat.

“Aiiih, bukankah itu jurus ‘Alap-alap menyelusupi pelangi’?” Seru si pemuda tampan kaget

dan heran. Dua serangan golok kembarnya yang membacok leher dan kempungan itu dapat  

dihindarkan oleh si jembel dengan cara yang begitu mengagumkan. Dan jurus itu ia kenal benar sebagai jurus alap-alap menyelusupi pelangi dari perkumpulan silat Suci Hati di Blimbingswuluh.

Si jembelpun terkejut juga. Dan menjawab gagap :

“Mana... mana... ada... alap-alap menyelusupi pelangi?”.

Memang gerakan si jembel tidak sepenuhnya persis seperti jurus yang dimaksud itu, ada sedikit gerak aneh yang tak terduga. Akan tetapi pemuda tampan yang sebenarnya Dewi Yoni itu mengenal benar ilmu silat Suci Hati. Hingga walaupun jurus itu telah tampak perubahan, masih juga terlihat aslinya.

“Sebenarnya ada hubungan apakah dengan perguruan Blimbingwuluh?” Desak Dewi Yoni.

Si jembel menggelengkan kepala.

Dewi Yoni diam sejenak, agaknya berpikir dan mengingat-ingat. Selang beberapa saat barulah berkata :

“Sebenarnya begini, Pepriman...”, suaranya halus tidak galak lagi. “Kalau harus mengantar sendirian, aku takut juga. Perbuatanmu membunuhi anggota sintren dan Jagabaya itu tentu akan menimbulkan kemarahan penduduk! Sekarang kaupun harus pergi bersamaku mengantarkan sintren ini...”  

Pepriman memutar-mutar matanya seperti orang gendeng. Kemudian peringas-peringis mengerikan. Barulah sejenak kemudian ia mengangguk tanda setuju.

Adapun sintren si Renggong Manis itu sebenarnya adalah puteri seorang kamituwa di desa Pagergunung jadi masih termasuk wewengkon kadipaten Pemalang juga.

Karena perjalanan itu ditempuh dengan berjalan kaki biasa, maka selang lima hari baru sampailah sintren itu diantarkan tiba dirumahnya.

Kedatangan mereka itu disambut oleh orang tua Renggong Manis dengan gembira bercampur tangis. Ayah ibu dan anak saling berpelukan dan saling mencurahkan keharuannya dengan ratap tangis yarg memilukan.

Akhirnya, baik si jembel maupun si pemuda tampan mengetahui, bahwa biasanya seorang gadis yang telah diculik oleh rombongan sintren Limbangan tak pernah kembali dengan selamat. Kecuali mereka selalu diperas sebagai alat untuk mengeruk harta laki-laki hidung belang juga biasanya, di kemudian hari akan menjadi mangsa anggota rombongan sintren itu. Gadis itu akan menjadi ‘Piala bergilir’ diantara para penunggang kuda lumping dalam melampiaskan nafsu cabulnya.

Tak pernah ada sintren yang pulang kembali dengan selamat, sebab biasanya, gadis-gadis yang telah ternoda itu, akan malu untuk pulang kampung, dan lebih baik mengikuti rombongan itu kemana pergi sambil menanti datangnya ajal, sementara mereka kawin bergantian tanpa nikah. Jadi para gadis-gadis penyanyi sintren itupun semuanya terdiri dari janda-janda yang belum pernah nikah.

Mungkin orang tua Renggong Manis telah memeriksa puterinya, sehingga mereka bisa mengatakan bahwa puterinya masih suci. Dan rasa terima kasih dan syukurnya itu berkali-kali dihaturkan kepada si pemuda tampan yang mengantarkannya itu.

Malam itu, ketika si pemuda tampan sedang duduk di pelataran melamun, datanglah ayah Renggong Manis sambil tertawa jengah.

“Pemuda... terima kasih, beribu terima kasih atas budi pertolonganmu.”

“Sungguh budimu ini tak terkira besarnya, sehingga rasanya takkan puas aku menutup mata dikemudian hari andaikata belum sempat membalas budimu itu...” “Jangan berterima kasih kepadaku paman. Yang menolong puterimu adalah si Pepriman, bukan aku.” jawab si pemuda tampan seraya menunjuk kearah si jembel yang sedang nongkrong mengail dipinggir kali.

Tampaknya kamituwa itu tidak puas mendengar jawaban itu.

Walaupun kenyataan yang menolong puterinya mungkin seribu kali si jembel, akan tetapi siapa orang yang akan mempercayai? Yang tampak sebagai pemuda pendekar adalah si pemuda tampan ini. Sedangkan pemuda jembel itu, kecuali pantas sebagai tukang lap sepatu pemuda ini mana patut?

“Bagaimana kalau... heheh... kalau puteriku itu... heheh kuhadiahkan kepadamu, anak muda...

heheh”.

Si pemuda tampan tersentak kaget dengan wajah pucat. “Jangan! Jangan!” Sahutnya gugup.

Tampaknya kamituwa itu sangat kecewa.

“Pemuda... walaupun puteriku itu tidak cantik dan tidak sesuai untuk menjadi teman hidupmu, akan tetapi sesungguhnya itulah pertanda terima kasih yang dapat kusampaikan kepadamu. Biarlah, andaikata dia tidak kau inginkan jadi sisihanmu, jadi bujang pun boleh asal...”.

“Jangan! Jangan! Jangan!” Si pemuda tampan itu makin gugup.

Tentu saja bukan ia menganggap Renggong Manis kurang cantik, akan tetapi untuk jadi isteri siapa?

“Ah... menyesal sekali...” kamituwa itu sedih benar-benar.

Melihat kedukaan yang sungguh-sungguh dari kamituwa itu timbul juga keharuan dihati si pemuda tampan. Maka akhirnya ia berkata :

“Begini saja, paman. Aku belum dapat menjawab pertanyaanmu itu sekarang, sebab masih banyak urusan yang harus kuselesaikan, dan aku masih harus mengembara kemana-mana. Sebaiknya, sambil menunggu puterimu bertambah besar, setahun lagi aku akan menyambangi kemari.”

Walaupun jawaban itu belum merupakan kepastian akan tetapi sukur mengobati kekecewaan kamituwa itu. Dan hari itu merekapun bergembira sekali.

Malam itu, si pemuda tampan tidur sekamar dengan jembel.

Hanya bedanya si pemuda tampan tidur diatas balai berkasur sedangkan si jembel mendengkur dipojok kamar.

Mereka membisu sepanjang malam. Tetapi tidak berarti si tampan itu telah tidur. Berkali-kali ia memutar baringnya, gelisah dan resah.

Permintaan si kamituwa, cukup membingungkan baginya. Dan mengenai si jembel ini, agaknya perhatian si pemuda tampan tidak kunjung lenyap.

Sekian lamaaya pemuda tampan itu menatap kearah si jembel yang mendengkur pulas dipojokan kamar.

Saat tidur seperti itu, tampaklah keadaan wajar dari si pemuda jembel ini. Tubuhnya, tegap dan kokoh patut menjadi seorang pendekar perkasa yang jantan sekali.

Kulihat yang kotor itu, andaikata sempat dibersihkan, akan jelas terlihat bahwa ia kuning keputih-putihan. Dan rambutnya riap-riapan itu, andaikata disisir dan dirapihkan, tidak mustahil akan menunjukan keasliannya yang menarik. Apabila memperhatikan wajahnya.

Raut wajah si jembel adalah merupakan keseluruhan yang memgambarkan bentuk yang tampan.  

Dahinya sedang dan berkilauan. Sepasang alisnya hitam dan lebat. Hidung mulut dan dagunya, merupakan perpaduan bentuk yang serasi sekali, yang melukiskan keseleraan seorang jantan.

Matanya itu, apabila tidak sedang liar seperti serigala keranjingan, sebenarnya memancarkan daya tarik romantis untuk gadis-gadis yang pernah melihatnya.

Hanya, dalam keseluruhan bentuk wajah tampan itu tergurat suatu cahaya orang yang putus asa, keeewa dan duka.

Gurat-gurat pada dahi, bawah dahi mata dan pipinya, melukiskan semua itu.

Ada suatu keganjilan dalam pikiran Dewi Yoni atau si pemuda tampan itu. Raut wajah jembel itu, raut tubuh dan langkah-langkahnya seakan dikenal benar, dan tak pernah dilupakan, ialah gabungan gerak gerik dan Joko Bledug, jurus-jurus silatnya mirip-mirip dengan Blimbingwuluh. Mungkinkah? Mungkinkah dia?

Tapi Joko Bledug sudah mati. Hiduppun tak ada artinya untuk menjumpai seorang anak durhaka, murid murtad dan penghianat.

Andaikata si jembel itu sebenarnya adalah Joko Bledug, dengan kesaktian yang dimilikinya mengapa ia tidak membalas dendam ayah angkatnya?

Kegalauan pikiran ini semua mengaduk-aduk perasaan Dewi Yoni.

Dan sepanjang malam, walaupun ia telah berusaha untuk memejamkan matanya, tetap terganggu oleh bayangan-bayangan khayalan sendiri.

Di lain pihak, si jembel sendiri sebenarnyapun belum tidur barang sekejap. Hidung mulut boleh mendekur akan tetapi otak bekerja terus.

Sejak pertama melihat ‘pemuda tampan’ itu, seketika hancur luluhlah seluruh keliaran si pemuda jembel ini. Ia merasa, seakan samar-samar dibalik wajah tampan berkumis tipis itu, terbayang wajab jelita yang selalu mengisi hatinya, yaitu puteri Ki Gede Ayom, demang Moga.

Di saat jalan bersama, si jembel mencium hawa segar dan wangi yang keluar dari tubuh si pemuda tampan.

Segenit-genitnya seorang pemuda, tak mungkin keringat tubuhnya segar dan wangi sebagai seorang gadis.

Dan hal lain, yaitu sikap si pemuda tampan yang menjadi panik waktu ditawari Renggong Manis untuk menjadi isterinya.

Seluruh pembicaraan Kamituwa Pagergunung dengan pemuda tampan itu, dapat ditangkap oleh pendengaran si jembel yang sangat tajam dan terlatih itu.

Memangnya si jembel mancingpun sebenarnya hanyalah pura-pura. Ia melihat jelas, dan mendengar nyata, semua kegugupan si pemuda tampan.

Apabila pemuda tampan itu adalah sebenarnya pemuda, meskipun tidak jatuh hati kepada Renggong Manis, tapi tak perlu sepanik itu. Kepanikan si pemuda tampan sore tadi adalah kepanikan seorang gadis yang kehabisan akal.

Ya, semuanya inilah yang sebenarnya mengikat diri si jembel hingga ia tidak segera meninggalkan rumah kamituwa itu.

Menjelang subuh hari, seperti orang yang sudah berjanji dulu, keduanya menyelinap pergi meninggalkan rumah kamituwa itu tanpa pamit.

Dengan tanpa bicara barang sepatah, keduanya berlari menuju kearah barat, yaitu suatu arah yang sebenarnya tidak mereka rencanakan sebelumnya.

Mereka hanya mengikuti jalan desa belaka.  

Kemana saja belak belok dusun itu, mereka jejaki tanpa perduli.

Sengaja Dewi Yoni mengerahkan seluruh kepandaian lari cepatnya. Maksudnya, tentu saja menguji kawan seperjalanannya itu. Akan tetapi si jembel masih juga membuntuti dengan leluasa.

Lewat lagi tiga dusun, maka mereka tiba dihutan Bengkelung, sebuah hutan besar yang termashur sebagai sarang penyamun. Di hutan itu pula dulu Kaki Gagak Rawe menjalankan rollnya sebagai raja penyamun hingga tiba pada akhir hidupnya terbunuh oleh Kebo Sulung.

Tepi hutan Bengkelung merupakan sebuah rawa-rawa yang luas. Sehingga setiap orang yang hendak melintasi hutan itu harus menyeberangi rawa itu.

Pada saat menyeberangi rawa, maka si pemuda tampan terpaksa harus menyingsingkan kain gringsingnya. Untuk sejenak si jembel berdebar jantungnya.

Terlihat olehnya betis si pemuda tampan yang putih mulus dan berkilau, dan tidak tampak berbulu-bulu. Walaupun bagaimana maka si jembel yakin, bahwa pemuda tampan itu adalah seorang gadis. Dewi Yoni? Si jembel tak berani mengucapkannya, walaupun di dalam batin belaka.

Ketika melewati rerumpunan mendong, mendadak si pemuda tampan menjerit-jerit sambil berlompatan sangat panik. Terlihatlah beberapa ekor lintah melekat pada betis dan kainnya.

Ternyata lintah dirawa itu tidak sedikit. Begitu si pemuda tampan membunuhi lintah-lintah yang melekat di kulitnya, maka darah tercecer diatas air. Mencium bau amisnya darah itulah agaknya yang menyebabkan lintah-lintah yang lain bermunculan, banyak-banyak menyerbu ke arah kedua orang yang sedang melintasi rawa itu.

Si jembel tenang membunuhi lintah-lintah itu dengan pukulan-pukulan telapak tangannya.

Sebaliknya si pemuda tampan semakin panik. Tidak aneh, dia bukannya takut, akan tetapi sebagaimana seorang gadis akan merasa geli setiap melihat benda-benda yang ‘mengerikan’ itu. Jadi bukannya membunuhi binatang itu, bahkan tanpa sadar ia telah menjerit-jerit sambil berlompatan panik, menunjukkan keasliannya belaka.

Si jembel bergerak cepat. Dengan sebuah lompatan panjang, disambarnya tubuh pemuda tampan itu, lalu dengan beberapa kali loncatan ia telah tiba sebuah pohon besar. Si jembel menggenjotkan kakinya maka keduanyapun telah melesat naik, dan hinggap disebuah cabang.

Beberapa saat, si jembel terpaksa menolong membunuhi lintah-lintah yang kebanyakan telah menggigit di kedua betis kaki si pemuda tampan. Sedangkan si pemuda tampan sendiri tak henti- hentinya merintih-rintih keperihan dan ngeri.

Begitu selesai mengadakan pembasmian lintah itu, mendadak si pemuda tampan mendorong tubuh si jembel dengan keras.

Si jembel meringis bingung.

“Apa yang kau lakukan tadi?” Bentak si pemuda tampan merengut.

Si jembel ingat. Dalam saat merangkul tubuh pemuda tampan itu dan membawanya naik keatas pohon lengannya telah menyentuh sesuatu yang lembut didada pemuda itu. Betis yang berkilau, kulit yang lembut dan dada yang empuk lembut, semuanya itu adalah milik tubuh seorang gadis. Bagaimanapun juga kini si jembel telah yakin, bahwa pemuda tampan itu harus seorang gadis.  

“Memangnya kenapa?” si jembel meringis.

Si pemuda tampan ingat bahwa penyamarannya kini telah diketahui oleh jembel itu, maka sejenak wajahnya memerah jambu hingga keleher.

“Kurang ajar!” Bentak si pemuda tampan. Dan plak! Tangannya telah menampar muka si jembel. “Mengapa kau menyamar?” Si jembel bertanya meringis.

“Sudah tahu aku bukan seorang pemuda, kenapa kau...?” Dan sekali lagi plak! Pipi si jembel

kena tamparan.

Dengan pengakuan pemuda tampan itu, maka si jembel jadi gugup dan kikuk. Ia tahu bahwa perbuatannya menolong tadi itu memang patut mendapat ganjaran beberapa kali tamparan.

Si jembel, ya si Pepriman atau Joko Bledug duduk agak menjauh, pada ujung cabang yang berdaun rimbun. Kemudian dengan sinar matanya yang berubah kuyu ia berkata :

“Siapakah nona sebenarnya? Maafkan kelancanganku tadi...”.

Plak! Masih juga ada hadiah sekali tamparan.

“Siapa aku tak perlu kau tanyakan! Aku orang yang sedang mencari seorang anak durhaka yang bernama Joko Bledug!” Tajam sekali, bagai sembilu sinar mata Dewi Yoni menatap wajah Pepriman.

Berguncang jantung si Pepriman, karena terkejut dan bingung. Ia telah yakin kini, bahwa dara menyamar itu tentulah Dewi Yoni. Akan tetapi untuk mengaku sebagai Joko Bledug. Pepriman tak sanggup lagi.

Anak durhaka yang bernama Joko Biedug? Seluruh dunia, semua orang rimba persilatan menuduh dirinya sebagai anak durhaka, murid murtad dan pengkhianat! Dan semua tuduhan itu benar semata! Dengan kenyataan semua ini, adakah keberanian Joko Bledug untuk berterus terang?

Peristiwa mesum bersama Dewi Cundrik, dan pembunuhan atas diri Sawung Gading, berpeta didepan matanya. Kehancuran perguruan Blimbingwuluh, dan kehancuran ayah angkatnya Kiai Teger, semuanya itu muncul dalam ingatan bagaikan ledakan-ledakan perasaan yang menggoncangkan hati.

Si jembel merundukkan mukanya. Untuk beberapa saat ia terbungkam.

“Tak usah kau mengelak, aku tahu bahwa kaupun sebenarnya tentu Joko Bledug,” Dewi Yoni melanjutkan bicaranya. “Ikan mas besar masih berenang riang dikolam tamanku. Dan persahabatan kekal yang pernah kita jalin, masih erat mengikat hatiku. Akan tetapi aku hendak bertanya kepadamu, Bledug. Betulkah semua tuduhanorang-orang itu, bahwa kau telah melakukan segala kebusukan semua itu?”

Bibir Joko Bledug gemetar. Dari matanya mengalir turun beberapa titik air mata. Ucapan gadis itu, seluruhnya meruntuhkan harga dirinya belaka.

Kisah mesum dan keji yang pernah dilakukannya, membuat pemuda itu kehilangan keberanian untuk mengakui kenyataan.

“Dewi Yoni. aku bukan Joko Bledug...”

Mendengar jawaban itu, mata Dewi Yoni terbelalak. Sebagai puteri tunggal seorang demang ia memiliki sifat yang agak tinggi hati dan manja. Kecintaannya kepada Joko Bledug adalah akibat pergaulan yang terjalin sejak kecil, yang tumbuh oleh rasa kagum, kekaguman seorang gadis kepada kehebatan seorang pemuda.

Kekaguman itu, mengendap begitu lama dalam hati merupakan suatu ciri sendiri yang mewarnai dirinya.

Dan selama berita mengenai Joko Bledug hanya merupakan kebenaran-kebenaran yang menarik, sebagai scorang pemuda gagah berani, jujur, dan berilmu tinggi serta suka melakukan kebajikan terhadap sesama manusia.

Akan tetapi kini si dara menghadapi kenyataan yang sangat pahit dan mengejutkan.  

Joko Bledug tak menjawab seperti apa yang ditanyakan oleh Dewi Yoni, itu suatu pertanda bahwa pemuda jembel itu benar-benar mengakui kebenaran tuduhan orang-orang itu.

Joko Bledug cuma seorang anak durhaka, anak yang tidak bisa membalas guna, anak yang tidak berprihatin walaupun ayah angkat yang mengasihinya tertimpa bencana hebat.

Cuma seorang murid murtad, murid yang berbuat mesum terhadap perempuan siluman yang telah mencelakai gurunya sendiri.

Cuma seorang penghianat perguruan, penghianat yang telah membunuh dengan cara keji kedua saudara seperguruannya!

O, kenyataan ini semua, ibarat ledakan sebuah gunung yang telah melanda sekalian cinta yang membukit dihati si dara! Segala kekaguman yang tumbuh rimbun dihati, lenyap tersapu oleh segala perbuatan hina yang telah dilakukan oleh Joko Bledug!

Mungkinkah puteri seorarg demang mencintai seorang jembel gila, seorang pemuda mesum, durhaka dan penghianat?

Dalam goncangan pikiran yang menghebat itu Dawi Yoni tampak menggigil. Wajahnya sebentar pucat, sebentar merah saga.

“Yoni... maafkan semua itu. ”

Bres! Jawaban Dewi Yoni atas ucapan Joko Bledug yang merintih penuh penyesalan itu ialah sebuah tendangan yang tepat mengenai leher pemuda itu.

Tak ampun lagi, pemuda jembel itu terlempar jauh, jatuh kecebur kedalam rawa kembali.

“Yoniii...Yonii Yoniii ” Joko Bledug berseru-seru tetapi tidak melangkah dari tempatnya.

Sedangkan Dewi Yoni alias pemuda tampan telah berkelebat pergi menghilang entab kemana.

“Yoni!” Suara Joko Bledug bergetar. Tampak ia sedang berusaha untuk mengendalikan pukulan-pukulan yang mengendor batinnya. “Aku memang Joko Bledugmu, Joko Bledug yang selalu mencintaimu. Akan tetapi aku sekarang adalah Joko Bledug yang durhaka, murtad dan khianat! Andaikata kau masih tetap mencintai diriku sekalipun, terlalu hina aku untuk mendekatimu...

Hutan Bengkelung tetap sunyi. Dan suasana yang gelap-gelap remang karena sinar matahari tak mampu menembuskan sinarnya kebumi hutan, terasa menghitam, tampak menghitam, sehitam hati pemuda itu.

Agaknya, hari itu, atau seluruh hari-hari yang akan datang akan dihabiskan oleh Joko Bledug dengan berendam diri didalam rawa Bengkelung itu, andaikata tidak terjadi sesuatu yang mengejutkan di sekitar tempat itu.

Sedang si jembel berdiri termangu dengan kaki digigiti lintah-lintah yang lapar, tiba-tiba ia mendengar suara jeritan seorang wanita, diseling suara bentrokan senjata yang riuh dan nyaring.

Si jembel tidak ingin melihat pertempuran yang mungkin terjadi didalam hutan itu, sebab hatinya seakan sedang membeku. Akan tatapi suara jeritan wanita yang agaknya terancam bahaya, menggugah jiwa kepahlawanannya. Sehingga walaupun perlahan, akan tetapi kaki pemuda itu melangkah maju menghampiri tempat pertarungan itu terjadi.

Agaknya ditengah hutan ini terdapat sebuah sumur mati yang lebar dan dalam, dulu dipergunakan oleh Kaki Gagak Rawe untuk membunuh korban-korbannya yang membangkang.

Di sekeliling sumur mati itu, tampak tidak kurang dari seratus orang laki-laki bersenjata lengkap, yang sedang mengerumuni sesuatu yang bergerak-gerak diatas tanah berumput.

Kiranya sesuatu yang bergerak-gerak itu adalah Dewi Yoni yang sedang terkena jerat.  

Adapun seratus orang laki-laki yang bersenjata lengkap itu adalah para murid Kiai Kenistan yang sedang berburu. Hutan Bengkelung ini, didalamnya terdapat juga beberapa ekor menjangan, atau kijang dan kancil. Dan sebagai kita ketahui, sejak perguruan Kenistan dimusuhi oleh paguyuban Banjardawa, maka para muridnya bercerai berai, sedangkan Kiai Kenistan guru mereka, menghilang sejak sekian lamanya, hampir bersamaan dengan lenyapnya berita tentang nasib Ki Ageng Tampar Angin atau Kiai Teger.

Sepanjang hidupnya, para murid itu, menggerombol-gerombol dihutan-hutan, atau sebagian dibukit-bukit karang.

Dan pekerjaan berburu bagi mereka ialah merupakan penghidupan.

Siang ini, jerat mereka yang dipasang untuk menjangan atau kijang, kiranya hanya menghasilkan seorang pemuda yang sedang berlarian gugup dan sempoyongan.

Ketika terkena jerat, Dewi Yoni menjerit kaget, dan hal itulah yang membuat para pemburu itu buru-buru menghampiri dengan keheranan. Mereka melihat seorang pemuda yang terkena jerat, tetapi suara jeritan yang mereka dengar adalah suara seorang gadis.

Akan tetapi, rupanya kedatangan para murid Kenistan itu mendapatkan sangkaan lain dihati si dara. Mereka yang bermaksud hendak membuka jerat itu, kiranya disambut oleh Dewi Yoni dengan sabetan kedua goloknya.

Memangnya pikiran si dara sedang kalut, jengkel, kecewa, menyesal menjadi satu, maka sekali ia melampiaskan kemarahannya itu tersalur dalam gerakan goloknya yang ganas dan kilat.

Untungnya murid-murid Kenistan adalah pemuda-pemuda yang terlatih dan rata-rata berkepandaian tinggi. Beberapa orang diantara mereka yang terkena sambaran golok yang tak terduga itu sempat mengelak, akan tetapi tidak urung beberapa orang terkena luka berdarah pula.

Hal itu membuat murid-murid itu naik darah. Dan seorang diantara mereka yang menjadi murid kepala, maju menerjang.

Murid kepala itu bernama Walikukun, sesuai dengan senjatanya yaitu sebatang tongkat hitam yang terbuat dari kayu walikukun. Terjangan murid kepala inipun disambut dengan beberapa kali sabetan golok oleh Dewi Yoni.

Walikukun hanya menggerak-gerakan tongkatnya, maka sabetan goloknya itu berkali-kali terpental membalik. Kayu walikukun, adalah sejenis kayu jimat yang sangat keras, seperti galih asem. Dengan tenaga dalam yang dimiliki murid kepala itu, agaknya golok Dewi Yoni dibikin tak berdaya.

Sejak semula, memang murid Kenistan itu tidak bermaksud mencelakai orang.

Akan tetapi sulitlah baginya sekarang untuk menaklukan pemuda liar itu, karena permainan goloknya pun tergolong hebat.

Dalam beberapa kali gebrakan, akhirnya kedua golok Dewi Yoni dapat dibikin terlepas dari cekalan, akan tetapi terpaksa Walikukun harus meremukkan pergelangan tangan lawannya.

Sebelah goloknya yang terbang, menyerempet ikat kepalanya sehingga kini rambutnya Dewi Yoni terurai terlepas kepunggungnya. Melihat kenyataan, bahwa yang terkena jerat adalah seorang dara jelita, walaupun mereka sudah menduga sebelumnya. akan tetapi mereka tidak pernah mengira gadis itu begini cantik. Malahan tadi samar-samar mereka menduga yang menjerit itu cuma anak jin. Maka murid-murid Kenistan itu jadi gugup. Sebagian ingin menjauh, tetapi sebagian pula, sebagaimana laki-laki yang lapar berbulan-bulan dihutan tak pernah kenal wanita, segera mengerubut maju hendak menyentuh.

Dewi Yoni menjerit-jerit dan meronta-ronta. Tetapi jerat dikakinya tidak mungkin dapat terlepas. Bahkan kini murid-murid Kenistan itu lupa pada maksudnya semula untuk melepaskan jerat itu.  

Beberapa pemuda berebutan menjamah, menyentuh ataupun mencubit dagu Dewi Yoni, sementara gadis itu jadi panik dan gugup, cuma menjerit dan menjerit belaka.

Walikukun yang selalu patuh pada ajaran gurunya segera berseru memerintah :

“Mundurrr! sekali lagi berani mencubit atau menyentuh tubuh gadis itu, kubuntungi tanganmu!”

Ancaman murid kepala itu cukup berpengaruh. Walaupun para murid yang lain sebenarnya belum puas menyentuh kulit daging wanita, akan tetapi mereka takut melanggar perintah. Maka walaupun sambil menggerutu, akhirnya mereka menyipak mundur pula.

“Lepaskan jerat!” Perintah Walikukun pula.

Seseorang bergegas melepaskan tali jerat dikaki gadis itu. Lumayan juga dapat mengusap betis si dara yang putih berkilau itu, akan tetapi sebagai upahnya sebuah tendangan Dewi membuat dia terlempar mengaduh-aduh.

Begitu lepas dari jerat, buru-buru Dewi Yoni mengambil kedua goloknya itu. Setelah itu, bukannya berlalu pergi, akan tetapi mengamuk dengan kalap.

Gemparlah para murid Kenistan. Ilmu golok dari Loning adalah ilmu golok yang terkenal dan tersohor. Dewi Yoni tergolong murid kesayangan Ki Cucut Kawung, tentu saja ilmu goloknya terlalu hebat, dan sebentar saja beberapa murid Kenistan itu kena dilukai.

Satu hal yang menyulitkan bagi murid-murid Kenistan itu adalah mereka tidak mau melukai si  

gadis.

Mereka selalu suka menjunjung tinggi sifat gagah, tidak suka main keroyok ataupun melukai

seseorang tanpa sebab. Padahal Dewi Yoni menyerang dengan sungguh-sungguh.

Melihat ilmu golok si gadis. Walikukun segera berseru nyaring :

“Mundur! Bukan lawanmu!”

Dan kini murid kepala yang gagah itu telah melompat kedepan si gadis.

“Hentikan gila-gilaan itu!” Bentak Walikukun.

Akan tetapi disambut dengan tiga kali bacokan si gadis. Kali ini Dewi Yoni dapat bergerak bebas, hanya pergelangan tangannya saja yang masih terasa nyeri sekali.

Andaikata tidak, agaknya korban akan jauh lebih banyak berjatuhan.

Walikukun memutar tongkatnya cepat-cepat, membentuk bayangan hitam sebagai benteng yang sangat kokoh. Kemanapun golok lawan berkelebat, selalu membentur tongkat dan akibat memental balik.

“Nona jangan terlalu mendesak! Kami tidak bermaksud jahat!” Kata Walikukun bermaksud menyadarkan si dara. Akan tetapi sikap Walikukun yang agaknya sangat tenang itu, agaknya diterima lain oleh si dara.

“Banyak bacot! Siapa tidak kenal perguruan Kenistan yang isinya cuma bangsa maliag dan

pemberontak!!”

“Jaga mulutmu nona! Kami menghormati perguruan Loning, sclama mereka menghormati kami sebagai mana semua golongan rimba persilatan. Akan tetapi kami bocah-bocah Kenistan tak sudi dihina?”

“Memangnya kalian maling dan pemberontak, mau apa!”

“Trang! Trang! Sing! Dewi Yoni membabatkan golok ditangan kirinya kearah leher,

sedangkan golok yang sebelah lagi, digetarkan membelah dari atas ke bawah. Dahsyat dan ganas sekali serangan ini. Andaikata lawan bukannya Walikukun, agaknya ia akan buntung lehernya, atau setidak-tidaknya belah kepalanya.

Walikukun terpekik kaget. Tongkat kayunya menangkis, sedangkan serangan golok belakangan, bermaksud hendak dihindarinya dengan melangkah mundur. Siapa kira, tiba-tiba golok yang bergerak membelah dari atas kebawah itu, tiba-tiba telah berubah jadi menohok kedepan.

Walikukun terkejut bukan main. Mengelak tak mungkin lagi, menangkispun akan terlambat. Pada saat itulah dari arah sebatang pohon menyambar datang sebutir batu, membentur golok. Golok Dewi Yoni tergetar kesamping, terputar bersama orangnya.

“Jahanam! Kau lagi...” Bentak Dewi Yoni dengan mata membara memandang kearah seorang

jembel yang berjalan mendekati.

“Kau bukan pembunuh. Jangan belajar menumpahkan darah. Orang bermaksud baik, kau

malah hendak melukainya...”, si pemuda jembel berkata penuh teguran.

“Siapa tidak tahu kau seorang anak durhaka, murid murtad..... pengkhianat aiiihhhh!” Dan

Dewi Yoni. berkelebat pergi sambil memperdengarkan suara tangisan amarah.

Si jembel tidak mengejar. Hanya berdiri terpaku memandang kepergian gadis itu dengan mata sayu guram. Ucapan Dewi Yoni kali ini terasa lebih menusuk, menikam jantung, sebab kata-kata hinaan itu agaknya diucapkan dengan sungguh-sungguh.

Melihat munculnya seorang pemuda jembel itu, sekalian murid Kenistan tercengang heran. Terutama sekali Walikukun yang dapat memaklumi bahwa pemuda berpakaian compang-camping dan kotor itu tentulah seorang tokoh muda dan sakti, karena pertolongan tadi. Melemparkan sebutir batu yang tepat mengena pada saat-saat berbahaya dia memiliki tenaga sangat besar sebagai tadi, tak mungkin dilakukan oleh ahli silat kelas kampungan.

“Sahabat, terima kasih atas budi pertolonganmu. Apabila kami boleh bertanya, siapakah gelaranmu pemuda?” Walikukun menyapa sambil membungkuk penuh hormat.

Akan tetapi si jembal masih terpukau perhatiannya pada kepergian Dewi Yoni. Hingga beberapa saat setelah Walikukun mengulangi tegurannya, barulah si jembel menjawab dengan tergopoh-gopoh.

“Aaaa... aaa tidak, tidak!” Walikukun, namaku Pepriman?”

Mendengar orang telah mengenal namanya, maka Walikukun terperanjat.

Untuk beberapa saat ia mencoba mengingat-ingat siapakah gerangan pemuda barpakaian compang-camping yang mengaku bernama Pepriman itu. Pepriman berarti pengemis, masakan nama itu seperti nama yang sesungguhnya?

“Kau telah mengenal namaku, berarti kalau tak salah kaulah pengenal kami semua.” kata

Walikukun pula.

Si jembel menghela napas. Sudah terlanjur mengelakpun tak guna lagi, sejak masih diam diperguruan Blimbingwuluh, nama Walikukun murid kepala perguruan Kenistan telah dikenalnya. Sekarang si jembel melihat keadaan para murid sahabat perguruannya itu dalam keadaan begitu menderita, maka timbullah keharuan dihatinya.

“Ya aku telah mengenal kalian semua, ialah murid-murid perguruan Kenistan”.

Siapa orang tidak kenal nama Walikukun dan perguruan Kenistan yang besar itu? sahut si jembel kemudian.

Sementara itu Walikukun telah melangkah maju, seraya menjabat tangan si jembel.

“Sahabat! Namun sudah kuingat sekarang. Bukankah kau orangnya yang telah membunuh

Dadamanuk murid Bantarkawung di Gunung Gajah?”  

Rupanya berita itu demikian luas tersebar, dan si Pepriman tak ingin menyangkal.

“Berarti kau orang sendiri. Sahabatku, mari kita kerumah...” seraya berkata begitu, maka

Walikukun telah rnenarik tangan Pepriman diajak berlalu.

Apa yang dimaksud dengan rumah oleh Walikukun adalah sebuah barak yang sangat panjang dan sederhana, yaitu sebuah bangunan yang bertiang-tiangkan batang-batang pohon, dan atapnya adalah dedaunan yang di gabung-gabungkan dengan ikatan tali.

Suguhan sederhana sebagai air nira dan dendeng kering mulai dihidangkan. Memangnya Pepriman telah beberapa hari sejak kepergiannya dari rumah kamituwa Pagergunung hingga sekarang belum makan, maka begitu dipersilahkan suguhan itu, Pepriman lantas melahapnya.

Nasi yang kemudian dihidangkan tidak lebih dari kotak yang dikukus, akan tetapi agaknya karena pengaruh orang banyak, makan terasa enak saja.

Selesai hidangan, maka hari telah mulai malam. Beberapa pemuda yang berkewajiban berjaga, telah mulai mengganti giliran temannya Walikukun telah membawa Pepriman rnemasuki sebuah barak kecil yang terpencil, letaknya agak diluar barak besar itu.

Agaknya barak kecil itu adalah markas para pemimpin mereka.

Pepriman diperkenalkan kepada adik-adik seperguruan Walikukun, yaitu Sembodo seorang pemuda berbadan kecil ramping, dan Sogo, seorang pemuda berwajah kemerahan seperti buah saga. Tampaknya ke dua bawahan Walikukun itu tergolong pemuda yang dapat dipercaya, sebab dalam pembicaraan yang dianggap penting itu, mereka diajak serta.

Setelah membesarkan nyala lampu dilepak, Walikukun mulai bicara :

“Kami hampir putus asa... sahabat Pepriman! Berkali-kali murid-murid Bantarkawung dari paguyuban Banjardawa, melancarkan serangan dan penyerbuan terhadap kami. Jumlah kami terlalu kecil dan persenjataanpun sangat kurang, sehingga berkali-kali kami tercerai berai dan berkali-kali korban berjatuhan dipihak kami. Sementara itu guru kami menghilang entah kemana...”.

Pepriman dan yang lain diam.

“Tentu kau yang telah mengembara bebas menjelajahi rimba dan ngarai, lembah dan gunung

pernah mendengar berita dimana kedua guru kami berada...”.

“Maaf sahabat Walikukun. Kabar duka inipun baru sekarang kudengar pasti. Dan selama ini, akupun tidak pernah mendengat berita itu. Atau...”, Pepriman menghentikan kata-katanya, berpikir. “Setahuku hubungan antara Kenistan dan Pucung sangat baik, apakah kau sudah mencari berita kesana!”

Walikukun menggelengkan kepala.

“Menyedihkan sekali, perguruan Pucung sendiri juga telah pecah berpencaran, diserbu oleh orang-orangnya Kebo Sulung. Guru Pucung sendiripun tidak terdengar kabar beritanya, entah masih hidup atau mati.

Kami hanya pernah bertemu dengan puterinya. Cunduk Puteri yang kabarnya kinipun menjadi

pengembara buron...”

Lengkaplah sudah berita duka ini menikam hati Pepriman. Ia menyadari kenyataan dengan sesungguhnya, bahwa tiga perguruan, Blimbingwuluh, Kenistan dan Pucung telah hancur berantakan, akibat perbuatan ganas orang-orang Banjardawa.

“Sahabat Pepriman... Beberapa hari yang lalu, Cunduk Puteri melintasi tempat ini, dan kami sempat bercakap-cakap dengan leluasa. Ia bersama seorang murid Loning yang namanya Sogapati. Dari mereka itulah kami mendengar namamu secara tegas, dan mengenal dirimu, walaupun kami baru melihat sekarang. Sahabat, maukah kau berterus terang kepada kami, siapakah kau sebenarnya? Kami ini orang-orang dari angkatan terdahulu merasa selama ini seakan berada dalam kebimbangan yang tidak kunjung berakhir.....  

Penjajah sedang mengulurkan tangan kotornya untuk menjangkau tanah air kita kedalam cengkeraman mereka. Mataram, sejak wafatnya sang Maharaja Sultan Agung, hingga kini agaknya bersikap terlalu lunak terhadap mereka!”

Duka sekali membayang diwajah Walikukun. Demikianlah agaknya sikap seorang patriot yang sejati, sebagian besar jiwa dan kecintaannya tertumpah pada tanah air.

“Masih tidak cukup demikian saja, tampaknya tidak sedikit bangsa kita yang sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan. Mereka, sebagai paguyuban Banjardawa itu, secara tak tahu malu merendahkan diri, berpihak pada kompeni. Ia membunuh bangsanya mereka mengeruk kekayaan diatas keringat dan darah bangsanya, bahkan lebih dari itu, melihat tanda-tandanya, mereka akan merebut tanah Pemalang!”

Semua pembicaraan Walikukun ini, sebelumnya telah diketahui oleh Pepriman alias Joko Bledug itu. Namun kini tumbuh satu perasaan dan keyakinan yang baru yang lahir dari kalimat- kalimat Walikukun yang diucapkan dengan semangat menyala-nyala itu, yaitu suatu keinginan untuk membawa dirinya kedalam satu pihak. Ya pihak Walikukun atau Cunduk Puteri, yaitu pihak yang mencintai tanah air diatas segala-galanya.

Rasa kagum terhadap sikap para pejuang Kenistan ini, rasa malu diri yang timbul akibat perbuatan-perbuatan tidak keruan yang selama ini telah dilakukannya, membuat Pepriman tersedu- sedu didalam dada.

Hingga tanpa   terasa,   terlahirlah   ucapan   perlahan   tetapi   pasti   dari   mulut   Pepriman.

“Walikukun... Biarlah aku akan membela kalian.”

Mendengar kalimat Pepriman yang demikian, seketika Walikukun, Sembodo dan Sogo bertepukan tangan kegirangan.

Mereka bergantian menjabat tangan Pepriman sambil tak henti-hentinya meagucapkan syukur.

“Demi Tuhan”, Walikukun berkata penuh semangat “dengan sahabat Pepriman ada dipihak kami, maka bumi kami akan berseri kembali. Ladang kami akan bernyanyi, pengembala kita akan meniup suling, dan cakar-cakar musuh yang selalu merusak ketentraman rakyat akan dapat kami patahkan satu persatu”.

Yang lain tertawa gembira.

“Bagaimana saudara begitu yakin?” Tanya Pepriman.

“Aku telah mendengar siapa anda....”, sebutan Walikukun berubah lebih hormat. “Anda adalah paduan dari sifat Joko Bledug Blimbingwuluh dan Turonggo Benawi dari pulau Maceti. Hal ini Cunduk Puteri yang mengatakannya, dan kami percaya! Ilmu kepandaianmu yang menggegerkan kalangan paguyuban Banjardawa adalah percampuran dari Suci Hati dan Nusa Reca Sakti dari pulau dewata itu, mengapa anda tak menyadari?”

“Kami telah percaya, kami melihat dan kami yakin! Bukankah Nusa Reco Sakti itulah silat

dewata yang berpusat di pulau Maceti?”

Keadaan sudah terlanjur begini rupa, mengelakpun takkan ada gunanya lagi. Tetapi untuk mengaku dirinya sebagai Joko Bledug secara terang-terangan, si Pepriman masih segan dan berat. Sebaliknya, ia hanya diam dan tersenyum-senyum masam.

Hari berikutnya, maka terjadilah boyongan, atau hijrah secara besar-besaran. Semua murid Kenistan yang bermarkas di hutan Bengkelung ini, melakukan perjalanan jauh, yaitu pindah markas ke gunung Gajah, sebagaimana dianjurkan oleh Pepriman.

Mereka berangkat dikala senja tiba, setelah membereskan segala perbekalan dan persenjataan yang ada.  

Pasukan hijrah itu menempuh perjalanan memutar, keliling kearah tenggara, lalu kebarat untuk kemudian membelok lagi keutara barat daya.

X

X X

MURID-MURID Kenistan sedang melakukan hijrah ke Gunung Gajah. Begitulah pula yang terjadi atas diri Cunduk Puteri diperguruan Loning sedang diboyong kedalam sebuah kamar oleh Sogapati bersama paman gurunya Windupati.

Cunduk Puteri dalam keadaan antara sadar dan tidak. Matanya memejam rapat, akan tetapi mulutnya memperdengarkan suara rintihan yang menggigil, dan tubuhnya sesekali menggeliat- geliat seperti cacing kepanasan.

Sinar mata yang buas memancar dari mata Sogapati yang berbinar-binar mengerikan, melahap seluruh tubuh Cunduk Puteri yang berada dalam bopongannya. Dalam saat-saat seperti ini, Sogapati murid Loning yang tergolong murid kelas satu itu, lebih mirip sebagai seekor serigala lapar dari pada seorang murid perguruan yang bernama besar sebagai Loning itu.

Pakaian Cunduk Puteri yang tak teratur itu, sebelah dadanya membuka, dan sebelah ujung kainnya menyingkap, menunjukkan bahwa sebelum itu si dara telah menderita perlakuan tak senonoh dari tangan dan nafsu Sogapati. Melihat semua pemandangan yang menerbitkan selera ini, hasrat Sogapati kian membusa, setitik liur membulat diujung mulutnya.

Dan dengan nafsu yang terlalu menggelora itulah, Sogapati membuka sebuah pintu kamar, kemudian masuk kedalam kamar itu. Demikianlah nafsu yang tak terkendali sering membuat manusia lengah. Sebagai kini terjadi atas diri Sogapati.

Begitu ia meletakkan tubuh Cunduk Puteri keatas pembaringan, dan begitu ia bersiap untuk melampiaskan hasrat hatinya yang rendah, tiga butir biji jagung tiba-tiba datang menyambar, tepat mengenai punggung, pinggang dan rusuk kirinya.

Tanpa sempat mendengarkan jeritan, Sogapati telah terjengkang roboh jatuh dari pembaringan dengan mata mendelik.

Siapakah orang sakti yang telah menyerang Sogapati secara menggelap itu? Dia adalah seorang laki-laki baya bertubuh tegap, berwajah persegi dan kukuh, melukiskan kekerasan, keangkuhan dan kekejaman wataknya.

Orang ini adalah orang kedua setelah Cucut Kawung, yaitu adik seperguruan guru Loning, yang bernama Windupati!!

Sejak kedatangan Sogapati bersama Cunduk Puteri memasuki perguruan Loning, telah timbul rasa sir hati Windupati terhadap diri Cunduk Puteri yang cantik manis itu.

Sebenarnya, Ki Cucut Kawung sendiri, telah menghilang sejak beberapa tahun yang telah lalu, kira-kira sudah lewat lima tahun lamanya sampai kini.

Semua pekerjaan perguruan saat itu, seluruhnya dipimpin oleh Windupati, sebab tokoh ini memang satu-satunya tokoh paling kuat sesudah Ki Cucut Kawung dari Loning ini.

Menghilangnya Ki Cucut Kawung dari perguruan, tentu saja dirahasiakan oleh Windupati, juga oleh seluruh para murid Loning, sebab mereka kuatir hal itu akan berpengaruh besar terhadap sikap kalangan rimba persilatan terhadap mereka.

Setiap ada murid yang menanyakan dimana guru berada, atau ada tamu yang bermaksud menjumpai Ki Cucut Kawung, selalu dijelaskan oleh Windupati bahwa Ki Cucut Kawung sedang dalam semedhi, dan semua urusan boleh dibicarakan dengannya. Hal inilah kiranya yang menyebabkan Sogapati tak pernah berhasil menjumpai gurunya, apalagi mendesak kakek sakti itu untuk berpihak kepada paguyuban Banjardawa atau kepada Cunduk Puteri.  

Munculnya Sogapati kali ini kepintu perguruan kembali, sebenarnya telah diduga sebelumnya oleh Windupati, sebab laki-laki baya ini telah mendengar berita-berita sebelumnya dari bakul sinambirawa, bahwa Sogapati telah menggabungkan diri pada paguyuban Banjardawa, akan tetapi kini telah terbalik pihak.

Orang sebagai Windupati mana sudi mencampuri urusan pihak ini atau pihak itu atau apa segala.

Sebagai ia sendiri mengetahui bahwa kakak seperguruannya yaitu Ki Cucut Kawung tak pernah menentukan sikap dalam pergolakan ditanah jawa ini.

Maka kedatangan Sogapati bersama Cunduk Puteri itu, sesungguhnya ibarat ular mencari pentungan! Windupati bermaksud untuk membuat seluruh perguruan Loning merupakan pintu perguruan yang bersih, bersih dari adanya persengketaan besar yang sedang terjadi. Dan rencana busuk yang disediakan untuk menyambut kedatangan murid keponakannya ini, sudah disiapkan.

Sogapati dan Cunduk Puteri disambut sendiri langsung oleh Windupati dalam ruang perjamuan.

Dan upacara sederhana itu dihidangkan untuk ‘pahlawan wanita’ Cunduk Puteri yang mereka ‘kagumi’ itu.

Setelah memerintahkan semua pelayan berlalu keluar, maka Windupati berkata perlahan :

“Nama Cunduk Puteri telah menggoyangkan setiap daun dihutan rimba, dan membisikkan puji-pujian pada setiap bibir manusia. Kiranya orangnya memang mengagumkan, bukan sekedar nama kosong...”.

“Ah, paman guru terlalu memuji. Aku hanyalah segelintir kecil diantara nama-nama besar sebagai pendekar-pendekar Loning yang termashur...” sahut Cunduk Puteri dengan nada merendah, tetapi juga cukup mengandung keangkuhan.

“Tentu kalian bermaksud menjumpai kakang guru bukan?” Tanya Windupati kearah Sogapati,

akan tetapi matanya mengerling kearah bibir Cunduk Puteri yang memerah basah.

“Paman guru...” Sogapati menyahut.

“Bukan murid berlaku kuminter, ataupun lancang pikiran, akan tetapi murid telah sekian lama meyakinkan bahwa pihak Banjardawa bukanlah pihak kaum lurus...”.

Windupati mengangguk-angguk.

“Murid telah pernah menderita fitnah dari mereka. Hampir saja murid mendapat celaka andaikata tidak sempat tertolong oleh nona Cunduk Puteri ini. Dia ini adalah puteri tunggal guru Pucung, paman.”

“Ya, ya, ya, aku telah mendengar.” dan Windupati mengangguk-angguk terlalu banyak kali sambil tersenyum kagum kearah Cunduk Puteri. “Nama Cunduk Puteri lebih terkenal dari pada namamu, tentu saja aku telah mendengar sejak lama...”

“Paman guru. kedatangan kami berdua ini, sebenarnya mengandung maksud. ”

“Untuk menarik kakang guru kepihak Cunduk Puteri bukan?” Cegat Windupati memotong bicara Sogapati sambil tertawa. “Hal itu menarik perhatianku benar. Dan sejak kemarin-kemarin aku telah memikirkannya.

Siapalah lagi yang akan membela ketenteraman padang gembala dan laut nelayan kita, kecuali kita-kita sendiri. Menarik sekali, murid. Menarik hatiku sekali”, dan Windupati membasahi bibirnya yang kering.

Mendengar jawaban itu, tampak sinar kegirangan diwajah Sogapati maupun Cunduk Puteri. Terutama Cunduk Puteri, sebagai seorarg dari pahlawan yang terlalu merindu pada ketentraman dan  

damainya padang gembala bumi Jawa, merjadi kurang waspada, dan menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh Windupati adalah apa yang diucapkan oleh hati laki-laki itu.

“Seluruh pejuang seluruh pulau Jawa tentu sangat bersyukur atas berita ini.”

“Dengan Loning berbaris dipihak kita, rasanya pantai utara pulau Jawa akan segera berseri kembali, bebas dari segala rerungkutan maupun kekotoran yang menyampah. Paman Windupati, andaikata ayahku mendengar hal ini, tentu aku yakin dia akan terkekeh gembira.

Dan dalam hati Cunduk Puteri menyambung bicaranya : “Siapa bilang perguruan Loning banci! tak mempunyai sikap dan kepahlawanan?”.

Sungguh dara polos itu tidak menduga, bahwa apa yang sebenarnya timbul dihati Windupati adalah sebuah rencana busuk yang akan mencelakakan dirinya.

Akibat kegembiraan Cunduk Puteri itu, rasa jemu dan benci, Windupati menggelegak, Akan tetapi seorang berilmu tinggi sebagai dia tentu saja dapat memulas wajahnya tetap damai dan berseri-seri, seolah-olah benar-benar sedang bergembira.

Rencana keji itu akan segera dimulai, ketika Windupati bertepuk tangan tiga kali, dan tak lama antara beberapa bumbung atau tabung tuak tua, didatangkan oleh pelayan.

Cangkir tempurung disediakan didepan mereka, dan mulailah tuak wangi yang telah ditanam dalam tanah berbulan-bulan itu dituangkan.

Sambil mengangkat cangkir tempurungnya, Windupati berkata gembira “Selamat, untuk pahlawan wanita kita, Cunduk Puteri......!” Sambil tertawa terbahak-bahak kearah tamunya itu. Windupati telah menggerakkan ujung jarinya. Tampak dua butir benda kecil warna ungu yang meluncur kearah dua cangkir dihadapannya, tanpa diketahui oleh Sogapati maupun Cunduk Puteri.

Saat itu, kedua wajah tamu itu memang sedang terangkat dan memandang gembira kearah tuan rumah. Dan ketika ada sesuatu yang mengaduk dalam minumannya mereka tidak menyadari. Sogapati minum beberapa teguk. Cunduk Puteri mencicipi seteguk, sedangkan Windupati secara demonstratif meneguk tuaknya tandas-tandas.

Windupati menuangkan tuak pula kedalam cangkirnya, minum lagi menenggaknya habis sambil mempersilahkan tamunya itu minum.

Demikianlah secangkir demi secangkir tuak wangi memasuki perut Windupati. Dan seteguk demi seteguk, tuak bercampuran itu melewati tenggorokan Sogapati maupun Cunduk Puteri.

Dalam hal minum tuak, agaknya Windupati akan mabuk apabila ia telah menghabiskan setidak-tidaknya tiga tabung besar. Sebaliknya Sogapati yang kurang biasa dan Cunduk Puteri yang sama sekali tak pernah, sudah menimbulkan pengaruh yang aneh.

Memangnya dalam cangkir kedua orang itu telah bekerja suatu larutan yang disengaja oleh Windupati. Apa yang terasa oleh Sogapati adalah jalan darahnya semakin cepat, semangatnya berkobar dan tubuh hangat-hangat segar, walaupun ada sedikit puyeng.

Jauh berbeda dengan apa yang terjadi atas diri Cunduk Puteri. Dara ini merasa seakan-akan minuman manis-manis getir yang melintasi tenggorokannya, telah berubah menjadi senut-senut galak yang hilir mudik dalam darahnya. Dan seluruh hawa hangat-hangat dingin, menjalari tubuh. Muka terasa panas, pandangan mata sering berubah-ubah seolah-olah dunia ini bertukar-tukar bentuk dan rupa. Kepalanya terasa mekar mingkus, sebentar mengembang, sebentar seperti mengempes.

Dan ketika puyeng kepalanya kian memberat, maka ada sesuatu yang aneh, itu mengalir dari endapan hati.

Sesuatu itu, adalah hasrat yang selama ini ada mengendap dan terpendam dalam hati, berbentuk sebagai keinginan yang membusa untuk dijamah. Dijamah oleh tangan laki-laki yang jantan, dan menjamah apa yang menggelora dalam angan-angannya.  

Cunduk Puteri segera sadar, bahwa kejadian ini tidak sepatutnya.

Betapapun, dia adalah seorang dara gemblengan yang kokoh memegang susila dan adat.

Ia berusaha sekeras-kerasnya untuk menguatkan seluruh tenaga bathinnya, guna untuk menekan pengaruh ‘jahat’ yang mengalir bersama tuak wangi itu. Akan tetapi si dara jadi terkejut bukan kepalang, ketika mendadak seluruh tenaga batinnya seakan kandas. Begitu perhatian dipusatkan untuk menghimpun tenaga batin yang menggolong, kiranya terasa seakan gumpalan hinpunan tenaga batinnya itu terjerumus kedalam laut yang terlalu dalam tak berdasar, sebagai batu kecil tercemplung kejurang.

Sementara itu, pengaruh tuak dan larutan yang dilontarkan oleh Windupati bekerja semakin hebat.

Cunduk Puteri tampak terhuyung kekiri dan kekanan, sedangkan wajahnya yang manis jelita itu tambah semringah kemerah-merahan menggemaskan.

Dan Windupati yang melihat bahwa perbuatannya telah membawa hasil, tertawa sambil menenggak tuak secangkir.

“Tunggu!” Serunya seraya tangannya merampas cangkir batok dari tangan Sogapati.

“Bukankah kau mencintai dara pahlawan itu, muridku?”

Sogapati tercengang. Pengaruh tuak yang memasuki perutnya belum terlalu berat beraksi seperti Cunduk Puteri. Dan yang terasa hanyalah pening-pening nyaman, gembira-gembira bersemangat.

Maka demi mendengar pertanyaan paman gurunya ia tersenyum malu kemudian menjawab serak :

“Paman guru.. benar...”.

Windupati selalu tertawa, menyemprot-nyemprotkan hawa tuak dari mulutnya.

“Hari ini adalah hari pesta. Pesta besar untuk kemenanganmu, dan kemenangan pahlawan wanita kita. Mengapa tidak kau rayakan secara selayaknya? Maukah kau kukawinkan dengan pahlawan cantik itu?”.

Sogapati menoleh kearah Cunduk Puteri, yang saat itu sedang bergoyang-goyang setengah pingsan.

Terlihat oleh Sogapati wajah jelita dan pipi yang merah jambu itu. Terlihat pula napas si dara yang memburu, dan bibir yang basah kemerahan. Dan tangan Sogapati jadi lancang, dicubitnya dagu Cunduk Puteri.

Cunduk Puteri memperdengarkan keluhan yang merintih. Sogapati tertawa kegirangan. Sebaliknya suara tawa Windupati yang bergelak-gelak itu memperdengarkan nada bengis dan keji.

Lalu dengan mata buas bersinar, laki-laki baya itu menarik pundak keponakan muridnya.

“Pergilah... Kalian sudah kunikahkan...”.

Suara tawa Windupati masib berderai-derai, ketika Sogapati yang sudah berubah menjadi seekor serigala lapar membopong tubuh Cunduk Puteri sambil meremas-remas, atau memasuk- masukan tangan ataupun mencium dan mengigit.

Selama itu, Cunduk Puteri merasa seakan tubuhnya sedang diayun kedalam suatu alam yang aneh, alam asing yang isinya penuh bahagia dan bergairah.

Begitulah, karena sibuk dan bernafasnya Sogapati menjamahi bagian-bagian tubuh Cunduk Puteri ia tidak melihat bahwa sesosok bayangan, kekar dan tegap selalu membuntuti dengan mata memancarkan kebuasan.  

Demikianlah semuanya yang terjadi, yang mengakibatkan Cunduk Puteri terdampar diatas tempat tidur dengan napas memburu.

Demikian itu pula yang kemudian mengakibatkan Sogapati menggeletak tertotok dengan mata mendelik.

Dan begitu pulalah asat mula kejadian, hingga akhirnya Windupati berhasil menggagahi kesucian Cunduk Puteri.....

Cunduk Puteri tersadar, ketika hari sedang merangkak mendekati pagi. Terasa olehnya ada sesuatu yang ganjil yang terasa pada tubuhnya, Cunduk Puteri menjerit!!

.................... sebagian teks hilang ....................

atas tempat tidur.

Sedikit demi sedikit, setiap tkiji yang baru saja berlalu, melintas kembali dalam ingatannya. Sesal, takut, ngeri dan kecewa berhamburan menerkami hatinya dan tubuhnya yang gemetar itu menggigil dalam api kemarahan yang mendadak berkobar.

Dara yang semula riang gembira dan ceria itu, mendadak telah berubah, sebagai singa betina yang terluka. Sepasang tnatanya melebar, bersinar buas. Giginya menggigit-gigit bengis. Dan kedua tangannya mengepal keras kumintir, gemetaran. Dengusan napas panas menyembur-nyembur dari hidungnya yang kembang kempis dengan cepat.