-->

Alap-Alap Gunung Gajah Jilid 04

Jilid IV

PEMUDA yang disebut sebagai Sogapati itu bangkit dan menghormat kearah Dewi Cundrik dan Ki Genikantar, kemudian kearah sekalian hadirin, setelah itu menjawab : “Sesungguhnya Dewi terlalu memuji...” barulah kemudian ia duduk kembali dengan dada terangkat tinggi.

Sekalian para hadirin untuk beberapa saat menengok kearah anggota baru itu. Beberapa macam pikiran terlukis diwajah masing-masing, sebagian memandang remeh, sebagian iri hati dan sebagian lagi masa bodoh.

“Masih seorang lagi, saudara-saudara sekalian, tokoh muda yang hendak kami perkenalkan kepada saudara-saudara sekalian. Seorang tokoh muda yang namanya sudah tidak asing lagi, akan tetapi yang baru sekali ini menghadiri pertemuan paguyuban kita, ialah Kebo Sulung seorang penggawa kadipaten bahkan merupakan orang kesayangan adipati sendiri. Nah, dialah orangnya...”

Sekali lagi Dewi Cundrik mengembangkan telapak tangannya kearah seorang pemuda bertubuh kekar yang duduk dibatu kedua, yaitu orang yang sudah tak asing Kebo Sulung putera Jagabaya Karangsari.

“Tidak sedikit pahala yang telah dilakukan untuk kami” begitulah Dewi Cundrik melanjutkan bicaranya. “Tertangkapnya Ki Ageng Tampar Angin, terbasminya perguruan paling sombong yaitu Blimbingwuluh, semuanya itu adalah berkat kerja keras pemuda itu. Sebagai juga sahabat kita Sogapati, juga telah membuat kebajikan untuk paguyuban kita seperti halnya pengacauan dikademangan Petanjungan. Membuat pahala adalah syarat pasti untuk memasuki paguyuban kita, dan kedua anggota baru kita ini telah melakukannya. tak usah cemas...” Dan bicaranya ini diakhiri oleh Dewi Cundrik dengan senyumnya yang bangga.

Untuk sejenak, sekalian hadirin itu tidak membuka suara. Akan tetapi ketika mereka mendengar berita tentang ditangkapnya Ki Ageng Tampar Angin, dan terbasminya perguruan Blimbingwuluh, beberapa orang tampak berbisik-bisik.

“Walaupun nama Kebo Sulang akhir-akhir ini termashur sebagai pembunuh Kaki Gagak Rawe, akan tetapi kalau dikatakan ia dapat menangkap Ki Ageng Tampar Angin, rasa-rasa banyak membualnya daripada sungguh-sungguh“.

“Siapa yang tidak tahu dia murid Dewi Cundrik? Gurunya sendiri belum tentu mampu menandingi ilmu silat Suci Hati dan pusaka tongkat Pancaloka. Apa lagi muridnya!”

“Ada akal busuk apakah bocah gede kemarin diketengahkan diantara kita!”

Demikianlah bisik-bisik hati para hadirin sebenarnya. Mereka mendengar nama Kebo Sulung. Akan tetapi apabila nama baru itu dideretkan dengan sebutan orang yang dapat menangkap Ki Ageng Tampar Angin, sulit orang untuk mempercayainya. Agaknya pertanyaan itu menjalar juga dihati Ki Genikantar. Kakek sakti menyeramkan itu mendehem. 

Rupanya, Dewi Cundrik dapat juga menduga isi hati orang-orang yang hadir itu. Sebab ia selanjutnya berkata :

“Memang tidak mudah untuk mempercayai kabar dahsyat itu. Akan tetapi muridku Kebo Sulung akan dapat membuktikannya kepada kalian, dan akan mempertunjukkan beberapa jurus maut pukulan tongkat pancaloka.” Dan Dewi Cundrik tersenyum lagi penuh keangkuhan.

Apabila tadi berita tentang tertangkapnya Kiai Teger merupakan berita yang mengejutkan maka tidak kalah mengejutkan lagi adalah tentang adanya pusaka Blimbingwuluh ditangan Kebo Sulung. Bukan hanya berarti bahwa Kebo Sulung telah benar-benar menangkap Ki Ageng Tampar Angin tetapi ada suatu masalah yang lebih penting, yaitu perguruan Telagasona atau perguruan Guha Gempol akan merupakan perguruan yang merajai setiap kalangan rimba persilatan?

Pusaka tongkat Pancaloka, telah sejak sekian lamanya menjadi incaran para tokoh persilatan, baik dari kalangan kaum lurus ataupun kaum sesat. Dengan adanya pusaka itu perguruan Guha Gempol membuka kemungkinan perguruan itu akan merasa tinggi diri atau terutama. Dan apabila satu paguyuban terdapat golongan yang menganggap dirinya berada pada tempat diatas orang lain, maka keseimbangan dan kerukunan akan terancam bahaya.

Pikiran demikian juga terjadi pada diri Ki Genikantar. Selama ini Ki Genikantar ataupun perguruan Batarkawung selalu menghindari perselisihan dengan Blimbingwuluh, adalah kecuali segan terhadap ketinggian ilmu Ki Ageng Tampar Angin juga jeri menghadapi tongkat pancaloka, siapa sangka sekarang bahkan pusaka itu jatuh ditangan murid Dewi Cundrik.

Ada suatu ketegangan lain yang mempengaruhi pikiran Genikantar, yang ia tidak berani mengutarakannya. Hanya tampak pada perubahan wajah kakek itu yang kini melukiskan sikap iri hati dan cemas.

Sedang dalam ketegangan itu, tiba-tiba laki-laki tinggi besar berewokan yang berada pada tempat duduk paling kanan tampak berdiri.

“Aku Toh Kecubung bergembira sekali dapat melahirkan isi hatiku dalam pertemuan paguyuban ini. Pertama sekali bertambahnya kekuatan kita, berartti jalan menuju kemenangan semakin datar. Kedua dengan masuknya Kebo Sulung dalam serikat kita, berarti kita mempunyai tangan yang kuat dikalangan kadipaten. Akan tetapi ada sedikit ganjelan pertanyaan pada hatiku, kalau tidak kulahirkan berarti aku tidak berani jujur ”

“Katakanlah sahabat Kecubung,” sahut Genikantar dengan kening berkerut ditegangkan oleh

harapan.

Setelah menelan ludah laki-laki yang memperkenalkan diri bernama Toh Kecubung atau yang sebenarnya telah di kenal adalah ketua perguruan Gunung Kelir mulai bicara.

“Lima belas orang muridku, termasuk murid kepala Toh Badar telah pergi memenuhi undangan sahabat Kebo Sulung untuk melakukan pahala, menghancurkan Blimbingwuluh. Ki Ageng Tampar Angin telah dibekuk, dan perguruan Blimbingwuluh telah rata dengan tanah. Jumlah muridku yang dapat kembali ke perguruan tidak Iebih dari empat orang, itupun tidak satupun yang sehat dan waras. Namun, iket gluduk pitu itu tidak kami peroleh, bahkan pusaka pancaloka yang kabarnya sangat dahsyat, kiranya telah dapat dimiliki sahabat Kebo Sulung dengan begitu ayem- ayem tampaknya. Itu menandakan bahwa murid-murid kami tidak becus, dan sudah seyogyanya sahabat Kebo Sulung memberikan beberapa petunjuk kepada kami untuk dijadikan pelajaran pada hari-hari yang akan datang!”.

Kata-kata Toh Kecubung yang tampaknya begitu blak-blakan dan merendah itu dapat juga dirasakan mengandung suatu perasaan protes, menuduh dan mencurigai bahkan juga menantang.

Dewi Cundrik tersenyum kecil. “Kita adalah sesama saudara, secita-cita dan setujuan. Apabila sahabat Toh Kecubung

menghendaki, biarlah nanti muridku mempertunjukkan ketidakmampuan dirinya!”. 

“Memang boleh jadi demikian” tiba-tiba seorang kakek yang duduk di tengah deretan para hadirin itu menyeletuk.

“Demikian bagaimana, Ki Tambarekso! Harap suka berkata jelas” kata Genikantar dengan

wajah yang kian menegang.

Ki Tambarekso adalah seorang ketua sintern atau kumpulan kesenian sejenis ledek atau degung ditanah Sunda. Sintern dari Limbangan yang dipimpin oleh Ki Tambarekso ini bukan hanya sekedar mencari sumbangan uang, menyanyi dan menari akan tetapi didalam rombongannya terdapat juga beberapa orang berkepandaian tinggi yang biasanya mencari tambahan penghasilan dengan cara mencopet atau mengeret.

Di tegur oleh Ki Genikantar demikian, Ki Tambarekso seakan-akan melihat orang yang menyuruhnya berkata terus terang. Atau dengan kata lain, Ki Tambarekso dapat merasakan nada ucapan Ki Genikantar yang seakan-akan memberikan dukungan.

“Pendapatku orang tua, hanya sekedar kelahiran rasa cinta dan bersaudara antara kita sesama anggota paguyuban, tadi aku dengar bawa sahabat Toh Kecubung telah kehilangan lebih dari sepuluh orang dengan mengharap akan diperolehnya iket kepala geluduk pitu. Tapi harapannya kosong. Sebaliknya sahabat Kebo Sulung mendapatkan tongkat pancaloka tanpa pengorbanan. ltu boleh jadi memang Kebo Sulung jauh lebih unggul dari pada Toh Badur ataupun seluruh murid Gunung Kelir.

“Bicara mutar-mutar toh maksudnya tidak suka muridku mendapatkan pusaka Blimbingwuluh bukan?” Dewi Cundrik berkata mengejek. “Saat itu Kebo Sulung belum menjadi anggota paguyuban, berarti tata cara bagi rata diantara kita belum berlaku atas dirinya. Lagi pula...” Dewi Cundrik semakin bersemangat. “Siapa dapat merawat keselamatan orang? Dalam pertarungan, nyawa orang berada pada jasad masing-masing dan tiap masing-masing itulah yang bertanggung jawab atas keselamatan dirinya sendiri!”

“Tentu saja Kebo Sulung belum menjadi anggota kami, memang.” kata Toh Kecubung mulai penasaran. “Akan tetapi andaikata ia tidak datang bersama pesanmu Dewi, apakah manusia seperti aku Toh Kecubung patut mendengarkan permintaannyar?”

“Jadi maksudmu?” ketegangan bertambah memanas, ketika kini Dewi Cundrik mulai bangkit dari tempat duduknya.

“Sebagai juru penengah, aku mempunyai pendapat” seotang laki-laki setengah mengantuk disamping Ki Tambarekso menyelak bicara, “apabila para hadirin sudi mendengarnya. Aku lurah loho (ketua kumpulan penangkap ikan yang mempergunakan alat menangkap ikan seperti kerai) Ki Tambakeso mengusulkan agar pusaka tongkat pancaloka disayembarakan diantara kami heheh”.

Toh Kecubung manggut-manggut. Ki Tambarekso mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedangkan Ki Genikantar walaupun tidak melahirkan perasaannya dalam perbuatan, namun dapat diduga ia pasti menyetujuinya. Sayembara macam apapun yang akan diselenggarakan dalam paguyuban mereka ini, ketua perguruan Bantarkawung ini boleh berharap akan beroleh kemenangan. Tetapi tokoh tua ini cukup berhati-hati, dan ia tak mau jalan pikirannya diketahui oleh Dewi Cundrik.

“Itu cukup adil. Tetapi ada suatu cara yang lebih baik”, demikianlah Sogapati yang agaknya mulai tertarik dengan sengketa benda pusaka itu mulai menimbrung bicara. “Kalau tidak salah pendengaranku, tongkat pancaloka itu merupakan jimat yang sakti apabila berada ditangan Kiai Teger. Berarti pusaka itu baru sesuai apabila dipergunakan oleh orang yang mampu mempergunakannya. Dengan kesimpulan ini, maka bagaimana para hadirin, apabila aku mengusulkan agar sahabat Kebo Sulung mempermainkan tongkat pusaka itu, dan kita sekalian menjajagi keampuhannya.” “Licik!” Dewi Cundrik memotong sambil memperdengarkan suara dengusan dari hidung. “Anak murid. Guha Gempol tak pernah takut menghadapi lawan akan tetapi sejak kapan paguyuban  kita menganjurkan pengeroyokan atas diri seorang anggotanya?”

Dewi Cundrik cukup cerdik. la yakin boleh jadi muridnya akan menjadi berlipat ganda ilmu kepandaiannya dengan adanya pusaka Blimbingwuluh ditangannya. Akan tetapi untuk menghadapi sekalian hadirin itu secara keroyokan itu tidak mungkin, Dewi Cundrik melihat Toh Kecubung. Manusia bekas benggolan penyamun itu tidak rendah ilmu tombaknya. Ki Tambarekso ketua kumpulan sintern itu, terkenal Iihay dengan ilmu cambuknya. Dan Tambakeso dikenal pandai memainkan sepasang trisula. Belum terhitung beberapa hadirin yang lain dan yang terutama dikuatirkan adalah Ki Genikantar. Secara keroyokan andaikata Kebo Sulung dibantu oleh Dewi Cundrik sendiripun belum tentu memenangkan pertarungan.

“Kalau begitu paling tepat adalah disayembarakan Ki Tambakeso mengulangi usulnya.

“Tidak mungkin! Apabila paguyuban ini hanya berisi orang-orang yang hanya bisa iri hati, dergki dan serakah terhadap rejeki orang lain, biarlah muridku tak usah masuk sebagai anggota...!”

“Tunggu! Sabar!” Ki Genikantar memberi isyarat agar suasana yang mulai panas itu dapat dikendalikan. “Mengapa pembicaraan kita menyimpang dari pokok pembicaraan yang sebenarnya kami maksudkan? Saudara-saudaraku marilah kita kembali ketujuan semula! Kita masih mempunyai kewajiban-kewajiban utama yang belum kita selesaikan! Perguruan Pucung masih ada. Sepasang suami isteri Kenistan itu masih hidup. Walaupun kita mempersoalkan perihal tongkat pusaka itu sampai lusa, kukira takkan ada artinya apa-apa. Berarti tujuan kemenangan yang kita kejar masih mendapatkan banyak hambatan dan halangan. Apalah artinya sepuluh tongkat pancaloka, apabila benda pusaka itu bahkan menjangkitkan perselisihan diantara kita?”.

Ki Genikantar memag cerdik. Dalam hati bukan main hasratnya untuk memiliki pusaka yang sangat mashur itu.

Akan tetapi untuk melahirkannya ia kuatir akan bentrok dengan Dewi Cundrik dan muridnya. Berarti ia akat kehilangan bantuan tenaga yang sangat bermanfaat. Dengan cara menunggang angin seperti itu sesungguhnya Ki Genikantar memperoleh banyak keuntungan. Pertama ia dapat menguasai situasi kembali. Kedua dapat tetap mempertahankan Dewi Cundrik dan muridnya tetap sebagai saudara secita-cita. Ketiga, pada detik-detik tertentu ia boleh berharap akan dapat merampas pusaka itu dari tangan Kebo Sulung. Dengan cara diam-diam tanpa sepengetahuan anggota paguyuban berarti itu jauh lebih aman. Itulah yang disebut orang dengan pepatah menangguk di air keruh.

Ketua perguruan Bantarkawung melanjutkan bicaranya :

“Kita menghendaki perubahan seluruh Mataram, setidak-tidaknya seluruh kadipaten Pemalang ini. Harap saudara-saudaraku tidak menyimpang dari tujuan. Cita-cita yang besar, janganlah dibiarkan kabur oleh hal-hal kecil.”

Yang lainnya semua diam.

Dewi Cundrik diam merenggut. Terutama Kebo Sulung yang bolak balik pandangannya menatap gurunya dan menengok dirinya sendiri.

“Itulah baru bijaksana, namanya!” Tambarekso yang memang tidak menghendaki adanya perpecahan cepat-cepat menyambungi pembicaraan Ki Genikantar. “Aku ingin sintrenku diperkenankan main dialun-alun kadipaten, dan pertunjukan jaran-ilir (di Jakarta Kuda Lumping) tidak lagi dikekang dengan banyak aturan-aturan yang menjemukan.

“Dewi!” Genikantar berusaha menimbulkan perhatian pada hati wanita itu, dan mencairkan kemarahannya. “Kabar terakhir yang sampai pada kami ialah utusan Betawie akan segera singgah dikadipaten kita. Bukankah kesempatan itu lebih baik tidak kita lewatkan?”. 

Dewi Cundrik mendehem, menghilangkan lendir dilehernya. Sedangkan Ki Genikantar juga mendehem, akan tetapi tentu didalamnya terkandung beberapa macam jenis maksud yang tersembunyi. “Menurut hematku, adalah lebih baik mimpi tidak terlalu besar dan keliwat mengawang.

Mungkin karena hematnya aku ini hanyalah seorang tukang loho”, demikian Tambakeso yang 

selalu mengantuk bicara dengan mata setengah terpejam pula. “maka aku lebih condong pada hal- hal yang seukuran dengan kita. Loho kami biasanya hanya dapat menangkap ikan lele, udang dan ketam kadang-kadang. Tapi kami tak pernah berharap akan memperoleh bandeng, apalagi cucut. Demikianlah pepatahku. Garapan mengenai Mataram tak usah kita pikirkan sekarang, akan tetapi cukup Pemalang saja. Apakah sahabat-sahabatku dapat memahami maksud pembicaraanku!”

“Menilai pendapatmu, agaknya untuk cita-cita memenangkan Pemalang itu saja kita belum cukup mampu Tambakeso?” Tanya Genikantar.

“Tentunya tidak salah. Kita belun memperhitungkan anak murid perguruan Pucung termasuk didalamnya puteri Mbah Pucung sendiri Cunduk Putri mempunyai nama yang boleh disejajarkan dengan sahabat Kebo Sulung sebelum memperoleh tongkat pancaloka. Perguruan Kenistan tidak boleh dilupakan juga. Dan kademangan Ampelgading serta kademangan-kademangan yang lain? Apakah kita telah memikirkan siapa yang akan sanggup menghadapi Gusti Kanjeng Adipati sendiri? Betapa banyak batu karang yang tertegak menghalangi cita-cita sebenarnya”

Suasana semakin sunyi saja. Satu-satu kata yang meluncur dari mulut tukang tangkap ikan kali itu seakan bagai tetesan embun yang menitik diatas pinggan menggenang tak kunjung lenyap.

Sekalian hadirin seakan-akan sedang dihadapkan pada suatu kenyataan pahit yang akan memuntahkan seluruh cita-cita dan impian. Mereka dapat menghitung mengira-ngirakan, berapa ribu tokoh pengawal dan tentara kadipaten, dan berapa ratus orang-orang dari golongan persilatan yang berkepandaian. Kiai Kenistan dan Nyai Kenistan harus masuk bilangan. Juga Mbah Pucung dan puterinya. Dan kenyataan-kenyataan seperti ini tak mungkin diperhitungkan dengan sebatang pusaka tongkat pancaloka belaka.

Tetapi Ki Genikantar  masih dapat tertawa bekakakan. Dan diantara  suara tawanya yang

mengguntur, ia memberikan pertimbangan “

“Kita hanya memerlukan satu tambahan kekuatan, yaitu Ki Cucut Kawung. Dengan terikatnya tokoh tua itu dengan kita, kita yakin perhitungan kita takkan luput. Sahabat Tambakeso tak perlu cemas. Susunan kita telah rapi dan teratur. Dan kekuatan kita sudah ibarat tinggal meniup terompet saja. Hanya...”.

“Itu bagianku!” Sogapati memotong dengan kata-kata yang tegas.

“Bagus!” Dewi Cundrik tampak gembira. “Apabila adi Sogapati sanggup melakukan pahala lagi, kukira muridku takkan segan-segan untuk menghancurkan perguruan gurem yang bernama kosong seperti Pucung dan Kenistan! Setelah perguruan besar seperti Blimbingwuluh dapat dihancur-leburkan, apakah saudara-saudara ragu-ragu untuk melepas muridku melakukan pahala yang serupa?”

Ki Genikantar tertawa gembira. Sepasang matanya berkilat-kilat, mengerling kearah Kebo Sulung.

“Semua rencana kecil harus berhasil untuk kemenangan rencana besar!” Toh Kecubung yang belum hilang penasarannya terhadap Kebo Sulung menyeletuk. “Tugas adi Sogapati adalah mengusulkan setitik akal kedalam kepala gurunya, kalau tidak boleh dibilang mudah, katakanlah itu tidak terlalu sukar. Akan tetapi menghancurkan Pucung dan Kenistan, agaknya masih banyak berbentuk angan-angan daripada mewujudkan jadi kenyataan. Setelah penghancur-leburkan Blimbingwuluh terjadi dengan begitu mudah, tentulah baik Pucung dan Kenistan akan berada dalam suasana siaga!” Toh Kecubung memandang secara berkeliling, setiap wajah hadirin dipandanginya, seakan-akan minta persetujuan. Maka, satu dua, dan beberapa orang tampak menganggukkan kepalanya.

“Kebo Sulung!” Dewi Cundrik melirik tajam kearah Toh Kecubung. Perguruan Guha Gempol

tak mengenal pelit. Ada orang menghendaki sedikit jurusmu, apakah dirimu tidak keberatan?”. Kebo Sulung yang sejak tadi mendengarkan sikap Toh Kecubung memang sudah tersinggung

dan marah. Sekarang gurunya memberi perintah untuk memberi ajaran adat kepada bekas 

benggolan penyamun itu tentu saja hal itu sangat kebetulan.

“Guru!” Kebo Sulung mengangkat dada, kemudian membungkuk hormat hanya kepada gurunya. “Untuk nama baik Guha Gempol, apa saja murid sanggup melakukannya.

Toh Kecubung tertawa besar. Tambakeso dan Tambarekso setengah tertawa setengah tak acuh. Sedangkan Sogapati yang ingin sekali melihat pusaka tongkat pancaloka, tampak wajahnya bersinar-sinar gembira.

“Tak usah mempergunakan pancaloka Sulung!” kata Dewi Cundrik selanjutnya. “Kalah menang toh tidak menjadi soal dan itu harus menjadi pegangan bahwa kekalahan dan kemenangan adalah lahir dari keberanian dan kemampuan...!”.

Pesan wanita itu tentu saja berarti memandang rendah kepada Toh Kecubung, seolah-olah Dewi Cundrik hendak berkata bahwa menghadapi Toh Kecubung apalah perlunya mempergunakan tongkat pancaloka?

Toh Kecubung melompat dari tempat duduknya siap dengan senjata tombak pendek ditangan kanan dan perisai ditangan kiri. Sedangkan Kebo Sulung mengikuti dengan dada terangkat dan bibir mengulum senyum penuh ejekan.

“Saudara-saudaraku?” Ki Genikantar beseru lantang, suaranya jelas terdengar oleh sekalian yang hadir. “Lakukanlah sekedar menguji Toh Kecubung bukannya perlombaan ataupun melampiaskan ganjalan hati. Hendaklah selalu diingat, bahwa cita-cita paguyuban adalah cita-cita bersama, bukan cita-citaku ataupun cita-cita para anggota.”

Perkataan “menguji” yang diucapkan oleh Ki Genikantar dengan nada penuh tekanan itu mendapatkan banyak penafsiran pada kepala para anggota, anggota paguyuban Banjardawa. Mungkin menguji sekedar kemampuan Kebo Sulung yang akan menghancurkan perguruan Pucung dan Kenistan. Boleh juga ditafsirkan menguji kemampuan Kebo Sulung mempermainkan senjata pusaka tongkat pancaloka.

Tetapi mungkin juga dimaksudkan menguji kebenaran kata-kata Dewi Cundrik, bahwa Kebo Sulung adalah orang yang benar-benar telah mampu mengalahkan Kiai Teger.

“Kau orang muda dan anggota baru. Maka tidak perlu segan-segan untuk memberikan pelajaran, hahahah...” Toh Kecubung tertawa bengis. “Telah sejak lama aku mendengar nama besarmu. Tentunya akan menjadi dahsyat sekali namamu apabila kau suka mempergunakan senjata pusaka yang baru kau dapat itu Kebo Sulung!”

“Tak perlu mengusir ayam dengan cemeti, cukup dengan lidi.“ Jawab Kebo Sulung penuh

ejekan.

“Itu kesombonganmu. Terserahlah. Tapi jangan katakan tombakku Kiai Galis terlalu ganas!”. “Banyak mulut!! Kakau aku mampu melakukan pencurian, masakah aku jadi seorang

kesayangan kadipaten!”. “Bocah sombong!”

Bersamaan dengan suara bentakannya yang terakhir ini, Toh Kecubung telah menggerakkan tombak pendeknya perlahan-lahan menusuk pundak si penggawa kadipaten ini.

Wuutt! Plak... Kebo Sulung telah sejak semula bernafsu sekali ingin memberikan hajaran terhadap guru Gunung Kelir itu. Maka begitu serangan pertama Toh Kecubung telah membuka lowongan kelemahan pada diri sendiri. Kebo Sulung telah mempergunakan kesempatan itu sebaik- baiknya. Dengan cepat tangannya digerakkan dibawah sinar tombak, mendahului serangan lawan. Dengan mudah iga sebelah kanan Toh Kecubung akan dapat dihajar remuk, andaikata Toh Kecubung tidak segera menekuk lengannya. Toh Kecubung selamat dari serangan balasan yang berbahaya itu, akan tetapi tak urungan lengan kanannya terkena tamparan, tombaknya hampir terlepas dari cekalannya. 

Gebrakan pertama ini sama sekali tidak menarik sebab mirip seperti permainan orang-orang yang tidak mengerti silat sama sekali. Hal ini terjadi karena baik Toh Kecubung maupun Kebo Sulung terlalu menganggap enteng pada lawan. Sebenarnya Toh Kecubung dapat saja merubah letak ujung tombaknya dan melukai lengan Kebo Sulung. Begitu pula Kebo Sulung dapat merubah serangan balasannya dengan mencengkeram kearah perut lawan.

Semua itu dilakukan oleh mereka sehingga permulaan itu sama sekali tidak menarik perhatian sekalian yang melihat.

Untuk selanjutnya, Toh Kecubung tidak main-main lagi gebrakan pertama yang hampir merusakan nama perguruan Gunung Kelir itu segera disusulnya dengan serangan cepat dan ganas. Perisai ditangan kiri menyabet dan tombaknya mambarengi pada lowongan yang terbuka oleh karena serangan perisai tersebut.

Tentang perisai Toh Kecubung, lawan tak boleh memandang ringan. Sebab benda itu tidak berbentuk biasa sebagaimana perisai seorang perajurit. Akan tetapi dibentuk sedemikian rupa oleh Toh Kecubung dalam bentuk setengah lingkaran yang sangat tajam pada pinggirnya, sehingga benda itu dapat memutar bolak balik, melakukan tangkisan atau melancarkan sekaligus.

Tajamnya mata perisai agaknya akan dapat memotong sebatang besi, nyata dari sinar kilat kebiru-biruan yang terpancar dari tempat itu.

Kebo Sulung tidak lalai. Perisai lawan berdesing, seketika penggawa muda itu menggeser sebelah kaki, dan tangannya menyambut jojohan tombak dengan sebuah gerakan mencengkeram kearah pergelangan tangan lawan, untuk merampas senjata.

Andaikata dalam dua gebrakar itu saja Kebo Sulung dapat merampas senjata lawan, tentulah bukan Toh Kecubung orang yang mampu membuat hutan Unggaran sangat angker dan ditakuti orang.

Dalam waktu yang singkat, keduanya telah melewati puluhan jurus, Toh Kecubung sangat dahsyat dalam permainan tombak dan perisainya, begitupun Kebo Sulung ternyata cukup syarat untuk diakui sebagai seorang jago muda yang dapat kepercayaan dari adipati Pemalang.

Pertarungan meningkat semakin seru. Suara tombak dan perisai berdesing-desing tajam, menimbulkan angin serangan yang mengerikan. Namun permainan tangan kosong murid Guha Gempol itu masih dapat mengimbangi dengan baik.

Tiba-tiba Toh Kecubung merubah gerakannya. Sambil membentak-bentak sangat nyaring, tombaknya digerakkan semakin cepat dan tak terduga. Di dalam ilmu bertarung, biasanya orang mempergunakan tombak untuk melakukan serangan, sedangkan perisai berguna untuk melindungi diri dari serangan balasan lawan, tetapi Toh Kecubung itu dengan amat sangat anehnya telah merubah serangan, perisainya menyerang sebaliknya tombaknya melindungi badan.

Gerakan kedua tangannya sangat lincah dan mantap, dapat saling mengisi sesamanya, sehingga tidak tertampak ada kelemahan padanya.

Kebo Sulung terkejut. Baru saja Toh Kecubung melancarkan serangan-serangan aneh itu, beberapa kali murid Guha Gempol ini hampir kena dilukai lawan.

Sedikit demi sedikit Kebo Sulung mulai terdesak, berada dalam tekanan bayangan tombak dan perisai lawan.

“Hahaha... walaupun sepuluh tahun lagi aku berguru tak mungkin aku dapat mengalahkan Kiai Teger dalam pertarungan yang adil!” Terdengar Toh Kecubung tertawa penun ejekan, sambil terus memberikan tekanan hebat terhadap lawan. Dari nada kata-katanya itu saja cukuplah diketahui bahwa Toh Kecubung ingin berkata bahwa apabila Kebo Sulung dikatakan telah dapat menangkap Kiai Teger, itu hanyalah omong besar saja!  Harus berapa kali sepuluh tahun murid Guha Gempol itu belajar untuk dapat membekuk Kiai Teger.

Kebo Sulung bertambah marah. Setidak-tidaknya ia telah dicurigai melakukan pertarungan yang tidak adil waktu menangkap Kiai Teger. Memangnya bukan tidak adil lagi, bahkan berisi tipu muslihat keji belaka. Akan tetapi siapakah diantara anggota paguyuban Banjardawa yang pernah melihat bagaimana Dewi Cundrik dan Jagabaya Karangsari memperdaya Kiai Teger?.

Nama yang kian menanjak dengan berhasilnya menangkap Kiai Teger harus dapat dipertahankan, setidak-tidaknya harus dapat menimbulkan kepercayaan pada kepala masing-masing para hadirin. Tetapi siapa kira, permainan tombak dan perisai Toh Kecubung begini dahsyat?

Ketika tiba-tiba tombak Toh Kecubung menyelusup ke bawah, menusuk kearah lambung kanan dan perisai dengan gerakan sangat cepat menyabet leher Kebo Sulung, maka setiap haditin menahan napas. Apabila dalam detik itu Kebo Sulung tidak terbinasa, setidak-tidaknya akan menderita luka berat. Memangnya sebagian besar para hadirin mengharapkan hal itu terjadi, sekaligus untuk mengajar adat guru dan murid Guha Gempol yang sombong itu, juga agar kemungkinan memperebutkan pusaka pancaloka makin terbuka lebar.

Akan tetapi, sedang senua orang berharap Kebo Sulung akan dapat dilukai mendadak mereka mendengar suara genta yang sangat nyaring bersamaan dengan tampaknya sinar putih kecil berkelebatan. Dan pada detik yang bersamaan pula terdengar gaduh berkelentrangan, perisai terlempar dari tangan Toh Kecubung sedangkan kakek itu melompat mundur dengan muka mengucurkan keringat dingin dan tangan kiri lumpuh kesemutan.

Kiranya Kebo Sulung tampak tersenyum-senyum penuh ejekan sambil mempermainkan senjata yang berujud sebatang tongkat pendek sepanjang dua jengkal berwarna coklat kehitaman, dimana pada sebelah ujungnya tampak dibanduli lima buah keliningan kecil dari baju putih yang berkilauan.

“O... Kiai Pancaloka?” Seseorang berseru kaget.

“Kiai Pancaloka!” Yang lain terbelalak kagum memandangi senjata ditangan Kebo Sulung. “Apabila Kiai Teger berada bersama pusakanya itu dapat orang meramalkan berapa orang

sakti mengeroyok untuk mengalahkannya?” Ki Tambakeso menyeletuk.

Dewi Cundrik tahu-tahu telah melayangkan tubuhnya, maju menerjang kearah kakek lurah

loho yang baru bicara itu.” Heh tua bangka penyakitan! Mulutmu tajam seperti sembilu.”

“Lho Dewi kok jadi marah-marah begitu?” Ki Tambakeso dan pucat wajahnya. Dalam ucapan tadi maksud sebenarnya dari kakek ini hanyalah untuk melahirkan rasa kagumnya belaka. Namun kiranya wanita sakti guru Guha Gempol itu talah demikian gusar menahan sindiran sejak tadi. Maka begiru tiba pada saat yang naas, Ki Tambakeso kiranya yang akan mendapatkan hajaran dari Dewi Cundrik.

“Semua orang telah melihat pusaka itu ada ditangan muridku. Sekali gerak Toh Kecubung sendiri boleh pulang berguru sepuluh tahun lagi. Tetapi kau orang tua sudah terlalu biasa menghadapi ikan lele dan ketam. Berhadapan dengan ratu paguyuban Banjardawa masih berani kojah dan ngaco apa lagi?” Dewi Cundrik benar-benar gusar. Wajahnya yang tembem buruk itu bergerak menyeramkan. Dan telapak tangan kanannya mulai dijalari warna kemarahan.

Ki Tambakeso semakin pucat wajahnya. la menyadari bahwa ilmu pukulan Dewi Cundrik bukanlan barang main-main apalagi bila tangan wanita itu sudah mulai kemerah-merahan. Siapa tidak mengenal racun pacet-wulung dan pacet-brorno?

Racun pacet-wulung atau lintah hitam kekuatannya lebih jahat dari pada racun pacet-merah. Pukulan yang dilancarkan dengan tenaga beracun hitam biasanya membuat lawan mati ditempat, membusuk sedikit demi sedikit, kecuali bagi orang-orang yang mempunyai kekuatan batiniah yang telah sempurna. Racun pacet-bromo yang berwarna merah, biasanya membuat lawan dijangkiti oleh suatu perasaan yang aneh-aneh, atau hasrat birahi yang terkobar-kobar yang bisa membuat perderita jadi  gila!

Teringat sampai pada hal itu, maka Ki Tambakeso dengan sikap rendah hati dan takut-takut berkata penuh hormat :

“Harap Dewi suka maafkan aku si tua bangka. Memang mulutku seperti loho banyak omong

sekali...”.

Kalimat Ki Tambakeso hampir menimbulkan ledakan suara tawa, andaikata suasananya tidak sedang demikian tegangnya.

Ki Genikantar yang melihat suasana bisa bertambah kacau, cepat-cepat mengangkat tangan sambil berkata lantang :

“Beruntung sekali, kini dipihak kita telah memiliki sebuah pusaka sakti yang tiada tandingan. Sungguh merupakan bantuan kekuatan yang sangatlah besarnya. Adi Kebo Sulung dan sahabat Toh Kecubung. Kukira cukup sekian saja kalian main-main!”.

Dewi Cundrik mendengus. Kebo Sulung yang sadar akan keunggulan dirinya ikut pula mendengus sambil memandang kearah lain. Sedangkan para hadirin sudah mulai bersiap-siap untuk meninggalkan tempat pertemuan.

Akan tetapi mereka melihat bahwa langit diufuk timur mulai kemerahan, pertanda fajar akan segera terserak. Angin kecil semilir melintasi padang menggoyangkan daun-daun ilalang hingga bergoyang-goyang dengan lemah. Bergoyang-goyang pulalah setiap bayangan orang yang berada dalam padang datar dan gundul di tengah hutan itu, karena mereka mulai meninggalkan pertemuan.

Pertemuan dan perpisahan adalah dua pengertian yang saling tolak belakang sesamanya, tetapi juga memiliki hakekat yang sejajar saling mengisi sesamanya. Tak ada perpisahan bila tak ada pertemuan, dan de mikian pula sebaliknya.

Kiranya hal itu merupakan kenyataan hakiki yang langsung hidup diseluruh alam semesta dengan segala gerak-geriknya. Ada pertemuan ada perpisahan. Ada malam ada siang, panas dingin, susah senang, hidup dan mati, hal itu merupakan kenyataan alamiah yang berkisar dan saling mengisi dengan sendirinya, tak ada tangan yang menggerakkannya, kecuali Yang Maha Kuasa jua yang mampu mengatur segalanya.

Semua mobah mosik saisining jagat raya, kiranya bukanlah sesuatu yang tanpa awal dan akhir, akan tetapi ada Tangan Yang Menggerakkan, ada kekuatan yang telah mengaturnya sesuai dengan Kehendak Agung Sang Maha pencipta alam raya ini.

Begitupun dengan nasib yang dialami oleh Joko Bledug, dibawah lantai istana Telagasona itu. Demi tubuhnya meluncur kebawah dengan kecepatan angin, pemuda cilik ini insyaf bahwa maut akan segera menyambutnya, dalam bentuk tubuh hancur gepeng membentur batu besar atau hancur berkeping-keping tersate oleh pucuk-pucuk karang.

Tetapi tidak demikian kehendak Sang Pencipta Kehidupan. Joko Bledug dapat mati, tetapi juga dapat hidup. Pada saat-saat yang demikian, walaupun Joko Bledug memiliki ilmu kepandaian sepuluh kali lipat yang dimilikinya sekarang, ia hanya akan memiliki satu-satunya kawan hidup, ialah harapan. Walaupun harapan itu sesungguhnya sangat tipis dan sekedar pengisi waktu sebelum tiba pada benturan maut.

Gedubyaaarrr! Tubuh kecil Joko Bledug terjatuh keras, terbanting diatas air. Sebentar tubuh itu tenggelam bagai dihempas kedasar air, selanjutnya terayun keatas permukaan sebagai yang diam, muncul di antara air yang berpusar-pusar, untuk selanjutnya sebagai hempasan gelombang laut, tubuh kecil itu terlempar hanyut.

Dalam pengertian susunan lapisan bumi, terdapat suatu lapisan yang disebut sebagai sungai dalam tanah atau lapisan mengandung air. Kiranya dibawah istana Telagasona ini terdapat sebuah kali dalam tanah yang mengalir sangat deras, menggelegak-gelegak. Dan begitu tubuhnya terhempas, dalam keadaan pingsan Joko Bledug terbawa arus. Entah berapa lama tubuh bocah itu terbanting-banting antara batu-batu dan tebing kali, akhirnya tibalah  pada sebuah belokan yang sangat tajam, dimana ditepinya terdapat sebuah batu yang menjorok kedalam air kali.

Joko Bledug sadarkan diri. Pabila ia membuka matanya, maka terlihat olehnya bahwa dirinya tergeletak ditepi sebuah sungai yang dangkal berbatu-batu. Disebelah balakang tubuhnya, tertegak sebuah tebing kali yang merupakan bukit berbatu, sangat tinggi, tegak menjulang entah berapa tingginya untuk mencapai permukaan atas bumi. Yang tampak olehnya diatas adalah bayangan langit samar-samar yang merupakan garis memanjang sepanjang sungai itu.

Di seberang kali berbatu, tampaklah sebuah dataran batu karang yang tidak terlampau luas, kering dan gundul. Pada batas dataran itupun didinding oleh sebuah tebing yang tinggi menjulang seakan mencakar langit hampir sama dengan tebing yang ada dibelakang si bocah.

Apabila si bocah mengamati keatas, maka terlihat adanya beberapa tumbuhan merambat yang rimbun dan rungkut yang tumbuh kira-kira pada pertengahan tebing sampai keatas.

Sunyi dan hening tiada terdengar suara, kecuali irama gemerciknya air kali, Joko Bledug berusaha untuk bangkit, akan tetapi terasa seluruh tubuhnya nyeri-nyeri bukan kepalang, dadapun kurang lega untuk berna pas.

Dengan susah payah, akhirnya si bocah dapat juga menggeser sebagian tubuhnya keluar dari air. Tetapi, segera terasa olehnya pada bagian tubuh yang berada diluar air itu, bahwa hawa sangatlah dinginnya. Maka si bocah sadar, bahwa tentu air kali itulah yang hangat sehingga nyaman rasanya merendamkan badan.

Jika Joko Bledug mengingat-ingat setiap kejadian hingga tibanya pada keadaan yang demikian, maka ia heran bercampur sedih. Timbullah pertanyaan dihatinya :

“Mengapa aku tidak mati? Bukankah mati lebih baik daripada hidup dalam keadaan serba terasing seperti ini?”.

Hiduppun sebenarnya sudah tidak diinginkan oleh Joko Bledug. Sebab apalah artinya hidup lebih lama beberapa saat, setelah itu mati dalam keadaan yang menderita yang sedikit demi sedikit terasakan nyeri dan sakitnya? Atau barangkali inilah siksa dan azab yang harus diterimanya, akibat semua perbuatan hina rendah, memalukan yang telah dilakukan?

Terpikir yang demikian, Joko Bledug merasa tenteram juga. Biarlah kematian datang secara perlahan-lahan, biar terasa olehku manusia tak tahu membalas budi ini, betapa sakitnya siksa dan azab sengsara.

Sedikit demi sedikit Joko Bledug teringat pada seluruh peristiwa yang terjadi pada hari-hari terakhir ini. dan seketika tubuhnya gemetaran, napasnya terhenti dicekik oleh tikaman rasa malu, duka dan kecewa!. Ah, semuanya terjadi hanya untuk menjatuhkan diriku pada kehinaan yang makin dalam. Mungkin aku masih dapat dimaafkan oleh karena keterlambatan dan keteledoranku tidak sempat memberikan bantuan. Akan tetapi kedosaan yang lain, main asmara birahi dengan Dewi Cundrik, dan membunuh Sawung dan Galing dapatkah itu orang memaafkan? Apa pula artinya maaf, jika sebenarnya aku memang harus tidak bisa dimaafkan?.

Joko Bledug terbatuk dan pingsan kembali. Begitu tak lama antaranya dia siuman, terasa olehnya bahwa hidup ini terlalu menyiksa dan bertele-tele. Joko Bledug memukuli dadanya, mencakar-cakar mukanya kemudian merenggut rambutnya. Seluruh tubuhnya terasa sakit, akan tetapi ia belum mati. Ia ingin mati? Mati! Agar semua kedosaan yang mengotori seluruh hidupnya dapat segera dipertanggungjawabkan dihadapan pengadilan Yang Maha Kuasa.

Agaknya bocah itu takkan tertolong lagi, ketika secara serentak ia merentakkan tubuhnya, dan menghujamkan batok kepalanya kearah ujung karang.

Wuuuut! Joko Bledug merasa ada kesiur angin dingin yang menyambar diatas tubuhnya. la telah memejamkan mata, mematikan rasa untuk menerima kematian dengan kepala terpantek kearah ujung karang. Namun sekian detik ia menunggu renggutan tangan maut itu, belum juga datang. Kepalanya belum menubruk ujung batu karang, belum pecah dan nyawanya belum terbang. Tetapi anehnya ia tahu, tubuhnya dalam keadaan melayang diudara seperti barung terbang. 

Sasaat selanjutnya adalah tubuh Joko Bledug tertarik mundur, kemudian keciprak jatuh kembali keatas air. Si bocah belum mangangkat mukanya akan tetapi dari balik bulu mata ia dapat melihat bahwa disebelahnya terdapat sepasang kaki manusia sangat besar hitam dan berbulu-bulu.

Dengan terkejut, Joko Bledug menyusurkan pandangannya pada kaki orang itu, naik keatas perlahan dengan penuh debaran jantung yang bergoncang sangat keras.

Akhirnya penuhlah terlihat olehnya sesosok tubuh laki-laki tinggi besar yang hampir lipat dua ukuran manusia biasa, yang warna kulitnya hitarn legam bersemu biru seperti sayap kumbang.

Sulit untuk menyebutkan berapa usia mahluk tinggi besar ini, karena semua ukuran anggota tubuhnya serba besar dan panjang. Rambutnya panjang dan kotor, bergumpal-gumpal, gimbal berjuraian lepas hingga ke bawah pinggul. Ukuran mukanya, mungkin lebih dari dua jengkal, dengan dahi, mata, hidung, mulut dan telinga serba berukuran besar. Alis matanya seperti pilinan tambang ijuk. Kumis dan jenggotnya terpilin pula, dan agaknya Joko Bledug tidak membual apabila ia katakan kumis dan jenggot mahluk laki-laki itu sebesar lengannya.

Dadanya yang terbuka tidak berbaju juga ditumbuhi rambut yang lebat, hingga kepusarnya. Melihat keseluruhan bentuk yang demikian maka Joko Bledug teringat akan juranggrawah atau Padasgempal dalam tokoh cerita pewayangan, yaitu seorang raja raksasa.

Mengkirik rasanya, bergidik ngeri Joko Bledug menyaksikannya. Dan diam-diam hatinya mengeluh :

“Mau mati susah cari jalannya, kiranya harus mati dimakan raksasa...” Walaupun si bocah bukan seorang penakut, akan tetapi mengingat cara mati yang begitu mengerikan seketika tubuhnya jadi lemas dan mendeprok ditanah, tulang-tulang sendinya bagai dilolosi. Dan dengan nada putus asa, si bocah merintih.

“Mau bunuh, bunuhlah cepat. Aku... Joko Bledug tidak takut ”.

Ketika mendengar kalimat Joko Bledug yang sok berani tetapi merintih itu, seketika mahluk tinggi besar itu membuka mulutnya. Terdengarlah suara tawa yang mengakak berkumandang seolah-olah hendak meruntuhkan tebing-tebing batu.

Setelah sepasang matanya bergerak-gerak, maka mahluk itu berkata :

“Mengapa kau hendak membunuh diri, bocah?”.

Mendengar nada ucapan yang bernada tidak mengandung ancaman itu, timbul keinginan Joko Bledug untuk berbicara.

“Hiduppun takkan ada gunanya. Aku seorang anak durhaka, seorang murid murtad, dan seorang manusia kejam yang tak mengenal budi. Andaikata dihukum mati sekalipun belum tentu lunas hutang-hutangku!”.

Mahluk tinggi besar itu memperdengarkan tawanya yang mengakak pula. Kepalanya menggeleng-geleng, hingga rambutnya yang gimbal berombak-ombak menggeliat seperti tubuh ular.

“Kau bocah tahu apa tentang hukuman mati apa segala? Di dunia ini apabila ada hukuman mati, maka itu sudah bukan berarti hukuman lagi. Kalau kau melakukan kejahatan sebagai yang kau sebutkan tadi masih belum waktunya untuk dihukum mati! Kecuali hukuman mati yang dilakukan oleh manusia, yang hakekatnya bukan diputuskan oleh keadilan dan pertimbangan akal sehat, akan tetapi adalah oleh pertimbangan dendam dan kepentingan pribadi manusia. Kau tahu, betapa cinta kasihnya Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan dirimu, dan menciptakan umat manusia dan alam semesta beserta isinya. Dia itulah Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Pengadilan! Pemegang Neraca Agung ada ditangannya, bukan ditangan manusia, apa lagi ditangan bocah cengeng sepertimu!” 

Si bocah terdiam. Dia teringat pada pelajaran dan nasehat yang selalu dianjurkan oleh ayahnya, yaitu tentang cinta kasih sesamanya, tentang keadilan dan kewajiban.

Apabila diresapi ucapan mahluk tinggi besar itu, tampaknya tidak jauh berbeda dengan ayah angkatnya dalam hal ini menganjurkan cinta kasih sesama umat manusia. Tetapi tentang keadilan?

Murid murtad, anak durhaka harus dihukum berat! Dan tentang membunuh sesama saudara seperguruan tentu tak ada hukuman lain yang akan dijatuhkan oleh gurunya, kecuali hukuman mati! Apalagi membunuh saudara seperguruan yang sama sekali tidak bersalah sebagai terhadap Sawung dan Galing.

Tetapi mahluk besar ini tampaknya sebagai penganjur keadilan yang tidak berpegangan sifat adil sama sekali. Mana bisa hukuman mati tak boleh di sebut sebagai hukuman?

“Tidak mudah memang, dijajagi oleh akal pikiranmu yang masih hijau dan cetek. Hai bocah...

Tuhan menciptakan isi dunia ini dengan curahan cinta kasih bukan dendam kesumat atau

pertimbangan kepentingan pribadi.”

“Tuhan yang menciptakan kau, menciptakan kita, mengapa kau dan kita yang melakukan hukuman atas diri umat ciptaan Tuhan! Apakah kau kira Tuhan tidak memegang Neraca Agung, tidak mempunyai pertimbangan keadilan yang maha adil diatas segala-galanya yang adil?”

“Harap maafkan aku lancang bicara” kata si bocah. “Kalau menurutkan hakekat pertimbangan

kakek ini agaknya orang jahat tak perlu dihukum. Apakah itu tidak menyalahi kodrat hidup?”.

“Kodrat hidup adalah berbenih, besar dan tumbuh berbuah untuk menghasilkan bibit dan benih. Bertunas, berkembang, mekar layu dan membangkitkan tunas kembali. Orang yang jahat adalah orang yang merintangi putaran kodrat hidup, tentu harus dihukum! Siapa bilang tidak perlu dihukum? Tetapi tentang hukuman pernahkah umat manusia dapat menyelami hukuman yang telah dituliskan untuk diazabkan kepada umatnya yang berdosa?”.

Mahluk tinggi besar itu tiba-tiba tertawa.

“Sudahlah sudah, bocah. Kalau kecekokkan juga anjuran ini kedalam kepalamu agaknya takkan termakan oleh otakmu yang terlalu penuh dengan perasaan bukan pikiran! Hanya kujelaskan bocah, berputus asa, menjatuhkan hukuman terhadap dirinya sendiri itupun termasuk sebuah dosa besar!”.

Apa? Membunuh diri termasuk sebuah dosa besar? Seketika tambah bingunglah Joko Bledug. Ia merasa dirinya sendiri telah melakukan kedosaan dan kehinaan, habis dengan cara apa kejahatan- kejahatan itu harus dihukum? Jadi siapakah yang berhak menjatuhkan hukuman?

“Kakek yang baik...” runtutlah kebimbangan dan keraguan didalam hati Joko Bledug.

“Kuharap kau sudi menghukum diriku yang penuh dengan dosa ini ”

Dengan tidak memberi kesempatan kepada mahluk tinggi besar itu untuk memberikan jawaban, maka si bocah telah mulai menceritakan seluruh kejadian demi kejadian yang membawa dirinya pada rasa berdosa yang begitu besar.

Mahluk tinggi besar itu mendengarkan dengan penuh perhatian. Tubuhnya tidak bergerak, hanya biji matanya saja yang bergerak-gerak tak ada henti-hentinya.

Tak ada satu halpun yang dilewatkan dari awal ia menggembala domba hingga akhirnya dibawa oleh Dewi Cundrik dan sebagai terjadinya sekarang ini.

“Walau alasan apapun”. demikian Joko Bledug mengakhiri ceritanya. “yang dapat aku kemukakan terhadap dunia luar, tetapi dua orang murid perguruan Blimbingwuluh oleh serangan ‘garuda anggunting layung’ hanya dapat dilakukan oleh seorang murid Blimbingwuluh pula yaitu aku yang berada dalam keadaan sadar. Sebab adalah mustahil orang berada dalam keadaan tidak sadar dapat melancarkan jurus sakti tersebut”. 

Hingga Joko Bledug mengakhiri ceritanya, mahluk tinggi besar itu masih termangu-mangu seakan-akan sedang terlibat dalam suatu pergulatan batin. Barulah selang beberapa saat ia tampak menghela napas dan berkata :

“Tanda umat manusia yang disayang oleh Penciptanya adalah manusia yang sering menghadapi cobaan hidup. Bocah, tentu kau ingin mengetahui siapa aku dan mengapa aku berada pada tempat demikian bukankah, dengarkanlah, dan supaya dapat kau ambil pertimbangan daripadanya?”

Keduanya diam sejenak.

“Tentang siapa aku agaknya tidak penting, sebab aku tidak bedanya dengan kau, juga dengan manusia yang lain. Tetapi Tuhan sangat mengasihi diriku, dan itu kuserahkan dengan hati tulus. Cobalah kau perhatikan kedua mataku. Aku memiliki mata yang sama denganmu, tetapi aku tidak dapat membedakan terang dan gelap, tidak dapat memandang mana cantik dan mana buruk dan tidak dapat menikmati mana hijau segar dan yang merah membakar. Semuanya adalah kegelapan bagi mataku?”

Joko Bledug baru tahu bahwa mahluk tinggi besar itu kiranya adalah seorang buta melek. Biji mata dan kelopaknya utuh dan segar tampaknya tetapi justeru tak dapat melihat.

“Karena kebiasaanku semula selalu menurutkan hawa dan hasrat yang dibangkitkan oleh mata, sehingga tidak sedikit korban wanita baik perawan dan isteri orang yang ternoda oleh perbuatanku, maka Tuhan dengan penuh kasih-Nya telah merobah semua yang bercahaya dan berwarna menjadi kegelapan bagiku. Kusebut itu adalah cinta kasih karena Tuhan kiranya telah menyelamatkan aku dari kesesatan yang lebih jauh, dan memberikan waktu bagiku untuk memperbaiki diri. ltulah hukuman bocah, hukuman yang sebenarnya, yang tentu saja kuterima dengan lapang dada dan hati tulus!”

“Maksud kakek, Tuhan memberimu kesempatan untuk bertobat?”

“Tidak salah?” Mahluk tinggi besar itu meneruskan bicaranya. “Kebiasaan burukku yang lain, yaitu memasuki rumah orang ditengah malam atau siang melalui jendela pintu atau menerobos galur, untuk mengambil milik orang, memiliki harta orang, bahkan terkadang meniduri juga isteri orang... hal ini adalah kemarahanku nomor satu waktu itu...... bahkan terakhir aku melakukan kekerasan mencabut nyawa orang, merusak jasad orang lain hingga orang jadi mati. Lalu Tuhan dengan cinta kasihnya merubah tubuhku menjadi demikian besar, melebihi ukuran dua orang dijadikn satu, sehingga aku malu muncul dimata orang. Tak ada pintu ataupun jendela rumah manusia yang muat dilewati tubuhku! Cukuplah ini semua merupakan dorongan tangan Tuhan pada diriku menuju jalan selamat. Dan selamatlah aku tinggal ditempat ini, tempat yang tidak membenturkan cabang-cabang pohon ataupun atap-atap rumah dijidatku!”

Sehabis bicara demikian, mahluk tinggi besar itu tertawa lepas, suara tawa yang mengandung ketulusan hati yang penuh penerima.

“Aku mengerti kakek.” sahut si bocah.

“Dan kau takkan mencoba bunuh diri lagi bukan?” Mahluk itu tertawa lagi. “Tuhan membutakan mataku tetapi tidak membutakan mata hatiku. Tuhan membesarkan jasadku tetapi tidak membesarkan kepala (kesombongan) ku!”.

Setelah itu, mahluk itu mengajak si bocah meninggalkan tempat itu. Keduanya berjalan menuju kearah sebuah guha yang luas, dan Iangit-langitnya sangat tinggi rupanya benar-benar disediakan buat mahluk raksasa itu, agaknya.

Guha itu seluruhnya terdiri dari batu karang yang mengelilingi. Di dalam suasana sangat gelap, ada sedikit cahaya yang menerobos masuk merupakan cercah-cercah kecil yang membias lewat rengat-rengat pada langit-langit guha, dan itu tidak berarti sama sekali. Memasuki guha itu makin kedalam, maka guha itu semakin sempit, seolah-olah akan bertemu pada suatu sudut yang runcing. Tetapi sebelum tiba pada ujung guha, mereka telah melintasi sebuah  pintu. Dan ketika si bocah melangkah masuk maka mahluk tinggi besar itu berkata :

“Tinggallah kau disini, diruangan ini bocah, untuk menyucikan diri. Bukan menyucikan jasad belaka, akan tetapi juga batin. Segala dasar kesucian batin dapat diperoleh dengan latihan tawakal, tulus ikhlas, dan narima ing pandum. Baru setelah itulah manusia dapat membedakan mana cita-cita dan mana cinta, mana cinta dan mana nafsu hasrat dan keinginan”.

Sehabis berkata, maka sebuah batu besar, sebesar pondok jimat diperguruan Blinbingwuluh, didorong oleh tangan mahluk itu, menutup pintu rapat-rapat. Dan Joko Bledug sepenuhnya terpisah dari ruangan luar, ruangan yang berada didepan yang menghubungkan antara guha itu dengan alam luar.

Tak ada yang bisa dikerjakan oleh si bocah selanjutnya kecuali memeriksa ruangan itu, seakan-akan memperkenalkan diri pada suatu tempat yang baru dan yang masih asing baginya, ruangan yang hanya berujud batu karang belaka.

Tidak putus-putusnya Joko Bledug melakukan semadhi, memusatkan perhatian, memeras indera dalam suatu titik hening yang paling bening yang bisa tumbuh dihati manusia.

Terasa lapar, maka Joko Bledug akan memakan segala lumut-lumutan yang melekat pada dinding karang. Bila haus, maka ia akan membuka mulutnya, dan meneguk tetesan-tetesan air yang terkadang menitik-nitik perlahan dari langit-langit guha.

Ketika suatu malam si bocah sedang duduk bersila mulai dalam semadhinya, tiba-tiba telinganya menangkap suara orang menyanyikan sebuah lelagon. Tergerak hati Joko Bledug, sebab ia mengenal suara itu adalah suara mahluk yang tinggi besar itu.

Demikianlah kira-kira bila diterjemahkan bebas :

jiwa dan raga adalah dua yang esa dua berarti satu yang satu berarti dua tak ada satu berdiri sendiri

keduanya harus dirawat

baru terdapat pribadi yang kuat kebesaran jiwa kerdil raga-itulah gila kebesaran raga kerdil jiwa-itulah singa!

Si bocah tersenyum mendengarkan. Setisp patah kalimat dalam lelagon itu sepenuhnya berisi pelajaran tingkat tinggi yang hanya dengan mempergunakan alam cipta yang hening saja dapat meresapi maknanya. Dalam dan dalam sekali, dan sayup-sayup si bocah seakan-akan dapat menikmati hakekat dan kebenaran dari kata-kata dalam lelagon tersebut.

Kian hari kian akrab pergaulan antara Joko Bledug dengan mahluk tinggi besar itu. Hingga akhitnya si bocah tahu bahwa mahluk itu bernama Turonggo Benawi seorang murid dari perguruan Pulau Maceti yaitu sebuah pulau kecil disebelah tenggara Nusakambangan.

Tidak sedikit ilmu pelajaran yang telah diberikan oleh kakek Turonggo Benawi kepada Joko Bledug baik berujud ilmu-ilmu Wadag (ilmu-ilmu mengenai jasmaniah, silat dlsb.) maupun ilmu- ilmu yang bersifat batiniah.

“Murid!” Demikian suatu ketika Turonggo Benawi menasehati Joko Bledug yang telah menjadi muridnya.

“Pedang bisa tumpul karena kokohnya batiniah yang dibentengi oleh keyakinan. Dan sebaliknya jari tangan dapat berubah setajam tombak yang bisa menembus tembok baja karena kekuatan keyakinan pula. Keadaan lahir mempengaruhi gerak batin, begitupun gerak bathin mempengaruhi keadaan lahir. Keduanya saling mempengaruhi. Maka haruslah seimbang antara satu dengan lainnya. Sebab kepincangan salah satu diantaranya, akan menimbulkan bencana, ya bencana yang dibangkitkan oleh perbuatan kita sendiri. Tapi tak ada manusia yang sempurna, muridku, maka tak usah engkau dibayangi oleh rasa waswas dan ragu, sebab rasa bimbang semacam itu hanya akan memperbesar kepincangan antara gerak batin dan lahir, yang tentu akibatnya hanya  menyulitkan hidupmu belaka.

Lima tahun kemudian. Lima tahun adalah sekian jangka waktu yang bisa disebut panjang tetapi juga pendek. Musim sudah sekian kali berganti. Bunga telah membuah dan buah telah entah berapa kali membangkitkan benih dan bunga. Bocah bertambah gede, para remaja meningkat dewasa. Dan Joko Bledug sudah tak dapat disebut sebagai bocah lagi, sebab usianya telah mencapai duapuluh tahun.

Joko Bledug telah berkembang menjadi seorang pemuda yang berperawakan kukuh, berwajah tampan dan gagah. Ketampanan yang telah terlukis diwajahnya sejak kecil, kini tampak menjadi matang dan jantan. Matang oleh gemblengan jasmaniah dan rokhaniah yang diperoleh dari Turonggo Benawi.

Sesaat sebelum meninggalkan tempat perguruannya Joko Bledug masih sempat menanyakan tentang keadaan dunia luar.

Yang seluruhnya secara gamblang telah dijelaskan oleh gurunya.

“Peperangan berkobar dimana-mana. Perang kecil dan perang besar, muridku?” kata Turonggo Benawi saat itu. “Sepanjang pantai Utara pulau ini, sedang dilanda oleh iklim perang yang dibangkitkan oleh adanya orang-orang jahat dan bodoh yang berkuasa. Kebenaran disana hanya diartikan sebagai kekuasaan dan keadilan tinggal menjadi impian para rakyat jelata. Apabila kau hendak memberikan dharma bhaktimu sebagai manusia, maka berdirilah kau pada pihak yang benar, pada pihak si lemah, dan pada pihak orang yang digantung oleh harapan belaka. Tetapi itu tidak mudah muridku, sebab didalam perang sendiri, pada tiap pribadi manusianya, sesungguhnya juga sedang diamuk oleh perang besar, yaitu perang dengan hawa nafsu.

Selama engkau berpegarg pada hak dan kebenaran yang sejati muridku, maka biarlah banjir

bandang menutup sebuah kota, Tuhan akan menyelamatkan dirimu...“

Dengan dibekali oleh tekad yang membulat dan keyakinan yang membaja, Joko Bledug meninggalkan pintu pergaruan.

Ia menyusuri kali yang mengalir dalam jurang raksasa itu, menghanyut terkadang juga merayap. Tetapi ia terus mengikuti arah air yang menuju keutara dimana nanti sebagai pernah dijelaskan oleh gurunya tentu akan tiba pada muara. Tak ada hulu yang tiada bermuara.

Beberapa kali pemuda itu harus melewati terowongan kali dibawah tanah. Dan tidak terbilang berapakali ia melintasi pusaran-pusaran maut yang sering terdapat pada kali itu. Tetapi pada kesemuanya itu hanya menambah kekuatan batinnya belaka.

Sebulan kemudian, pada suatu senja berkabut, Joko Bledug baru saja terlempar dari trowongan dibawah tanah, tahu-tahu ia merasa bahwa kini ia telah tiba pada muara kali bawah tanah itu, yang berujud sebuah telaga.

Joko Bledug tidak tahu dimana dia berada sekarang. Setelah ia memandang keliling, maka dihadapan telaga tersebut segera terlihatlah olehnya batu yang sangat besar, besar sekali juga bararti sebuah gunung yang sangat kecil, yang dilihat dari jauh berbentuk sebagai seekor gajah.

Joko Bledug melompat naik dari telaga, Gunung Gajah, Gunung Gajah tentu saja tidak akan dilupakannya, sebab tempat itu tidaklah jauh tempatnya dari asal Joko Bledug yaitu Blimbingwuluh.

Dengan ilmu ringankan tubuhnya yang tinggi, Joko Bledug berlompatan mendaki keatas puncak gunung itu yang berupa sebuah dataran, ya seperti punggung gajah.

Perasaan si pemuda jadi sangat gembira. Setelah sekian lama terasing dalam kehidupan dibawah jurang bersama seorang “raksasa” akhirnya ia kembali ketempat asal ia dibesarkan. Keinginannya untuk cepat-cepat menjenguk perguruan Blimbingwuluh seakan tak dapat ditahan lagi. Akan tetapi ia segera teringat, bahwa perguruan itu tentu sudah musnah, dan ia sendiri  sebenarnya apakah masih patut mengaku sebagai murid Blimbingwuluh setelah membunuh Sawung Galing?

Keinginannya ini segera ditahannya. Dan si pemuda untuk sementara akan tinggal ditempat itu, untuk melihat-lihat keadaan dunia luar juga melakukan penyelidikan.

Mendadak telinganya yang sangat peka itu mendengar sesuatu. Si pemuda cepat-cepat menyelinap bersembunyi diantara batu-batu karang.

Tak lama antaranya, maka suara itu makin nyata mendatangi. Suara seseorang yang berkuda, dengan derap kaki yang tak teratur.

Akhirnya tampaklah jelas orang berkuda itu, yang kiranya adalah seorang wanita bertubuh tinggi langsing dengan kepala ditutupi oleh kerudung hitam.

Wanita itu tampaknya sangat letih, begitu juga dengan kudanya yang sebentar terhuyung- huyung, dan seluruh tubuhnya bermandi keringat dan busa.

Setelah turun dari kudanya, maka wanita itu bersama kudanya mengokop minum air telaga dengan sangat rakusnya, rupanya mereka sangat kehausan.

Sehabis puas minum barulah wanita itu tampak bersemangat kembali. Ia tampak berjalan cepat menuju sekelompok batu yang bertonjolan tinggi. Setelah memandang sekelilingnya, maka perlahan-lahan wanita itu melepaskan pakaiannya satu persatu, hingga akhirnya tinggallah pakaian dalam tipis yang melekat ditubuhnya, sehingga melukiskan bayangan tubuhnya yang padat dan segar. Selang beberapa saat, maka wanita itu telah merendam diri kedalam air telaga.

Sejak semula munculnya wanita itu, telah timbul keraguan dan keheranan Joko Bledug yang sempat melihat seluruh gerak geriknya. Pemuda ini seakan-akan telah mengenal siapa adanya wanita itu yang pada atas ubun-ubunnya mengenakan perhiasan berbentuk sebagai cunduk. Usianya sekitar hampir sama dengan si pemuda sendiri yaitu duapuluh tahun. Wajahnya yang sebenarnya kuning lembut itu, agak kehitaman terbakar oleh sinar matahari, tetapi justeru menambah kemanisannya belaka.

Joko Bledug sendiri suatu saat terpaksa harus memejamkan matanya ketika terlihat olehnya wanita atau gadis itu mengganti pakaian dengan pakaian kering yang diambil dari kudanya.

Akhirnya, si gadis membawa kudanya ketempat yang teduh dan agak tersembunyi, barulah kemudian ia tampak membaringkan diri disamping binatang itu.

Terlintas dalam pikiran Joko Bledug untuk munculkan diri dan menjumpai gadis itu, sebab gadis itulah orang pertama kali dilihatnya sejak ia meninggalkan perguruan jurang raksasa itu.

Keinginannya untuk bertemu kembali dan bergaul dengan manusia secara wajar tumbuh mekar, akan tetapi Joko Bledug cepat-cepat mengurungkan maksudnya.

Keberaniannya untuk berjumpa dengan penduduk pantai utara ini jadi mengecil, sebab ia teringat kembali pada dirinya bahwa ia adalah anak angkat Kiai Teger, bocah yang tak tahu membalas budi, bodoh durhaka. murid murtad yang membunuh saudara seperguruannya?

Joko Bledug masih tetap berada dalam persembunyiannya. Dan agaknya ia akan tetap berada ditempat itu, andaikata tidak terjadi sesuatu yang mengejutkan pula.

Mendadak sekali terdengar derap kaki kuda yang sangat riuh, dan sangat cepat mendatangi dan tidak lama antaranya, telah muncul tiba beberapa orarg laki-laki yang sikapnya sangat garang, begitu tiba didekat telaga mereka lantas berlompatan turun dari kudanya.

Sambil memperdengarkan suara mengancam, maka mereka telah mengurung gadis yang sedang mengantuk disamping kudanya. Melihat munculnya laki-laki yang sikapnya penuh ancaman itu, kuda si gadis membeker- beker sambil menggaruk-garukkan kakinya ketanah. 

Tetapi gadis yang mengantuk itu agaknya terlalu pulas tertidur, sehingga tidak dapat mendengar isyarat bahaya yang dilakukan oleh kudanya.

Ketika mendapatkan si gadis yang masih terpulas di samping kuda maka para lelaki yang baru datang itu saling berpandangan, lalu salah seorang diantara mereka yang agaknya adalah kepala rombongan telah melangkah maju.

Lalu setelah mengeraskan tali pinggang dan merapihkan pakaian, kepala rombongan itu nyengir sejenak kearah teman-temannya barulah kemudian ia menubruk kedepan dengan kedua lengan terpentang lebar.

Apa yang terjadi? Kepala rombongan itu memekik kesakitan ketika kuda yang berada disamping si gadis telah mementilkan kakinya dan kepala rombongan itu terlempar jatuh mengaduh-aduh. Sedangkan si gadis yang tertidur, masih juga terpulas seoleh-olah ia begitu tuli tidak dapat mendengar kegaduhan itu.

Kepala rombongan itu bangkit berdiri dengan mata beringas, kini ia bukannya bernafsu untuk menubruk kearah si gadis akan tetapi segera mencabut pedangnya dan mengayunkan kuat-kuat kearah kuda si gadis.

Trang! Pedang ditangan kepala rombongan itu terbang ke udara sedangkan orangnya tertegun berdiri dengan mata terbelalak. Ia tidak tahu apa yang terjadi kecuali baru saja dia melihat antara jelas dan tidak ada sebutir benda kecil meletik dari tubuh si gadis dan menyambar kearah pedang. Entah mengapa kepala rombongan itu merasa lengannya kaku dan pedangnya terpental jauh.

Akhirnya kepala rombongan yang baru datang ini memberi isyarat kepada teman-temannya untuk berbareng maju, mengerubut kearah kuda dan si gadis yang masih tertidur.

Akan tetapi mereka jadi lebih terkejut, ketika tanpa diketahui darimana asalnya, tahu-tahu didepan mereka tampak berdiri seorang pemuda berpakaian compang-camping dan kotor dengan rambutnya yang riap-riapan menghadang mereka.

Untuk sejenak mereka tertegun kaget dan bingung akan tetapi selanjutnya kepala rombongan yang telah dua kali mendapat malu, mengira bahwa pemuda jembel inilah yang melakukannya semuanya tadi. Segera kepala rombongan itu membentak dengan suara seram.

“Bedebah! Jembel busuk, pengemis kotot! Aku tidak biasa memberi derma kepada tampang

malas sepertimu! Ayo pergi atau tunggu kugebah dengan sepakan kaki?”.

Pemuda jembel itu hanya cengar cengir belaka tampaknya seakan ketakutan melihat rombongan itu, akan tetapi sikap berdiri tetap menghadang, melindungi si gadis yang sedang tertidur.

“Ho, jembel tak tahu dikasihani! Minggir!” Berkata begitu, kepala rombongan itu menjambret lengan pemuda berpakaian compang-camping itu untuk melemparkan kesamping. Akan tetapi sungguh tak terduga bahwa pemuda jembel yang peringas peringis itu begitu kokoh berdiri. Jangankan terlempar bergemingpun tidak.

Kepala rombongan itu menarik-narik terus, mengerahkan seluruh tenaganya untuk melemparkan pemuda jembel itu. Keringatnya sampai berbiji-biji diseluruh mukanya, akan tetapi pemuda jembel itu masih juga cengar cengir peringas peringis, seakan-akan kakinya berakar kedalam tanah.

Akhirnya dengan marah kepala rombongan itu meluncurkan beberapa kali pukulan. Kepalan tangannya yang besar sebesar kelapa gading dan berotot-otot menyambar, membawa suara angin menderu, menghantam bertubi-tubi kearah muka si pemuda jembel.

Entah dengan cara bagaimana pemuda jembel itu tampaknya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya akan tetapi kepala rombongan itu merasa tinjunya hanya mengenai angin belaka. “Bangsat busuk! Siapa kau ha? Ada hubungan apakah dengan nona Cunduk hei” Bentak si kepala rombongan bertambah gusar dan penasaran. 

Pemuda jembel berpakaian compang-camping dan serta rambut riap-riapan itu adalah Joko Bledug.

Selama lima tahun tinggal menghuni jurang raksasa pemuda ini tak pernah sempat mengganti pakaiannya hingga pakaian yang cuma selembar-lembarnya itu sudah tak keruan bentuknya. Rambutnya panjang riap-riapan sampai kepunggung, bahkan sebagian menutupi mukanya, sehingga membuat ia seakan-akan sebagai seorang jembel yang sebenarnya.

Begitu ditanya namanya, Joko Bledug jadi gelagapan. Ia ingat namanya sendiri, sudah barang tentu akan tetapi untuk menyebutkannya didepan orang merasa berat. Ia memandang perlu untuk berahasia maka setelah memikir sejenak barulah ia menjawab :

“Namaku si Pepriman (pengemis). Dan nona itu adalah majikanku, maka kalian jangan

mengganggu.“

“Ngaco!” Si kepala rombongan itu membentak marah. “Cunduk puteri tidak punya jongos

sepertimu! Awas! Tak mau berterus terarg kukeset mulutmu.”

“Lho kok cari enaknya sendiri! Kau ini siapa aku belum tahu, datang-datang main bacok main

hantam terhadap orang?”

Si kepala rombongan tertawa sombong. Sambil menunjuk kedada sendiri ia menjawab :

“Aku Dadamanuk! Dan itu aank buahku adalah murid-murid perguruan Bantarkawung, murid Ki Genikantar, jembel hina berani menjual lagak di depan kami?”

“O, kiranya rombongan munyuk dari Bantarkawung! Sekarang baiknya kalian pergi sebab nona besarku sedang istirahat, nanti kalau dia kaget kalian semua akan dipelintir lehernya, sampai murid-murid Bantarkawung habis ludes semuanya!”

Tentang nama perguruan Bantarkawung dan Ki Genikantar memang Joko Bledug sudah pernah mendengarnya. Yaitu sebuah perguruan yang menghasilkan murid-murid bajingan dan orang-orang berkepandaian yang biasa mengandalkan kepandaian untuk mengejar kesenangan pribadi. Walaupun antara Joko Bledug atau Blimbingwuluh belum pernah bentrok dengan Bantarkawung, akan tetapi dalam tubuh hati si pemuda telah tertanam benih tidak suka terhadap mereka. Apalagi demi melihat bahwa perbuatan mereka memang benar-benar kotor dan kasar, rasa tidak suka itu berkembang jadi benci.

Dadamanuk dan sekalian murid Bantarkawung mendengar ejekan Joko Bledug yang demikian, seketika melonjak kaget saking gusarnya. Seumur-umur belum pernah ada orang berani menghina perguruan Bantarkawung masakah ini hari seorang jembel berani memandang rendah?

“Begundal busuk disambar geledek! Tidak perduli namamu Pepriman atau pengemis kotor, ini hari kau harus dihukum mati! Orang yang berani menghina perguruan Bantarkawung harus mati!” Dadamanuk dibarengi anak buahnya menerjang maju, menyerang dengan garang.