-->

Alap-Alap Gunung Gajah Jilid 02

Jilid II

SEMENTARA Kiai Kenistan bicara dengan penuh semangat seperti itu maka Nyai Kenistan mesem-mesem dengan sangat mesranya sambil melirik kearah suaminya.

Kebo Sulung tergentak mundur setindak saking kaget. Tetapi pemuda ini tak mau begitu saja diusir dengan gertakan. la balas menggertak :

“Akan kuadukan hal ini kepada dipati dan guruku!”

Nyai Kenistan tertawa. “Suruh Dewi Cundrik ke mari! Nenek iblis dari Telagasona itu memang aku sudah ingin menjumpai untuk membeset bibirnya yang genit!”

“Kau berani menghina guruku!”

Baru sekian bicara Kebo Sulung, tahu-tahu ia merasa ada kesiur angin dingin yang menyambar. Cepat-cepat Kebo Sulung berkelit mengelak, akan tetapi serangan aneh itu tahu-tahu telah mendesak terus.

Kiranya Kiai Kenistan telah meluncurkan ujung cambuknya yang terbuat dari benang sutera emas itu, mencecar kearah Kebo Sulung.

Kemana saja Kebo Sulung menghindar tentu sambaran cambuk aneh itu telah menyambar tiba. Dan akibatnya Kebo Sulung tak mempunyai kesempatan untuk bersiap-siap bahkan berdiri tegakpun tidak sanggup lagi.

Akhirnya Kebo Sulung makin terdesak keluar. Terus menerus penggawa muda itu harus berjumpalitan mundur hingga akhirnya : tasss! Tahu-tahu tubuh penggawa muda itu telah terlempar keluar pekarangan.

“Bagaimana isteriku?” Seru Kiai Kenistan sambil tersenyum kearah isterinya. “Aku tadi bilang, sekali ia berani melawan bicaramu maka aku akan melemparkannya keluar pekarangan. Nah sekarang Kebo cilik itu sudah tengkurap disana!”

“Ilmu cambukmu semakin hebat suamiku!” Sahut Nyai Kenistan sambil tersenyum mesra.

Dalam hal ilmu cambuk maupun ilmu bersenjata yang apa saja dimana dapat melakukan serangan tanpa bersuara itu berarti orang yang melakukan penyerangan telah memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi bukan sebaliknya!

Begitupun Kiai Kenistan dapat melancarkan serangan cambuknya tanpa bersuara. Bahkan kesiur anginnyapun sangat lemah. Namun jangan dikira bahwa cambuk yang terpintal dari benang sutera itu tidak sangat berbahaya. Sebatang pohon dapat dibikin hancur oleh sabetan cambuk ini.

Kebo Sulung yang menyadari hal itu, maka ia berusaha setengah mati agar jangan sampai terkena sabetan cambuk lawan, walaupun akibatnya dirinya terlempar keluar pekarangan perguruan.

“Tapi jangan lupa suamiku. Kau bukan melemparkan keluar anjing cilik itu, tetapi mendesaknya!” Kata Nyai Kenistan selanjutnya.

“Oo. jadi kau ingin melihat aku melemparkan orang dengan cambukku, sayang? Lihatlah!”

Begitu Kiai Kenistan bicara, begitu tampak di udara selembar cahaya berwarna merah. Tahu- tahu seluruh sisa murid Gunung Kelir yang masih menjogrok disitu telah memekik-mekik ketakutan tubuhnya terlempar melayang keluar pekarangan. Termasuk juga yang terluka, semuanya dilemparkan keluar tanpa ampun! Terdengar bunyi tubuh jatuh berdebukan dan berbareng jerit dan pekik ketakutan serta caci maki kalang kabut. “Hai Kebo cilik! Kami, tak punya cukup waktu untuk melayani urusan sepelemu itu!”

Terdengarlah Nyai Kenistan berseru. 

“Iket Wulung gluduk pitu ada ditanganku! Kalau gurumu mau cari mati, suruh dia menyusulku!” Demikianlah begitu lenyap suara seruan wanita itu maka bayangan mereka kedua suami isteri itu telah berkelbat pergi.

Sementara itu, api menjalar terus dari satu pondok kepondok yang lain. Bau anyir darah dan sangitnya kulit tubuh manusia yang terbakar menyesak udara. Hancurlah sudah perguruan Blimbinwuluh sebuah perguruan yang sejak semula dikagumi orang, perguruan yang menganjurkan belas kasih sesamanya itu. Hancur dengan cara yang biadab dan mengerikan!

X

XX

SEBENARNYA, kemana Joko Bledug, anak angkat Kiai Teger itu? Betulkah ia pergi menjual pusaka Pancaloka kepada Kebo Sulung?

Jika benar demikian halnya demikian, tentulah dia bukan Joko Bledug anak angkat dan murid yang patuh dan taat dari guru sakti sebagai Kiai Teger atau Ki Ageng Tampar Angin.

Pada hari yang sial bagi Kiai Teger itu, adalah demikian halnya yang terjadi.

Pada pagi-pagi buta sebelum seperti biasanya Joko Bledug pergi mengembala dombanya, maka bocah empat belas tahun usia itu telah terjaga dari tidurnya dalam keadaan sangat gelisah, dan seluruh tubuhnya bermandi keringat dingin seperti orang ketakutan.

Joko Bledug buru-buru keluar, berjalan menuju kekandang domba untuk pergi mengembala sebagai biasa. Baru saja ia menuntun binatang kesayangannya itu keluar kandang ia melihat ayahnya sedang keluar rumah juga sambil menyandang jala dipundaknya.

“Ayah!” Cepat-cepat Joko Bledug memburu kearah ayah angkatnya yang disambut oteh senyum ramah oleh Kiai Teger.

“Ayah. Gejala buruk apakah yang akan menimpa Blimbingwuluh saya mendapat mimpi buruk, ayah?”

Kiai Teger tertawa lepas, sebagai biasa guru itu selalu tertawa lepas dan bebas. “Kau masih Joko Bledug anakku bukan? Mengapa begitu gelisah anakku, kalau hanya karena mimpi?”

“Tidak ayah. Aku melihat seakan ada kabut hitam yang bergulung-gulung menuju keperguruan. Dan tak lama antaranya ternyata perguruan kita terendam banjir ayah. Sekalian saudara-saudara seperguruanku terhanyut oleh banjir termasuk juga ayah. Oh.”

Ki Ageng Tampar Angin terdiam sejenak, mengerutkan kening. Akan tetapi sebentar kemudian sudah tertawa kembali.

“Anakku!” Kiai Teger mengusap rambut kepala anak angkatnya. “Kalau tidurmu masih bisa mimpi berarti kau sehat wal afiat, anakku! Tentang mimpimu itu, anggaplah itu cuma kembangnya orang tidur bencana apakah yang mungkin menimpa perguruan Blimbinwuluh? Tidak, anakku! Tidak. Seingatku selama ini perguruan kami selalu melakukan dharma bakti kebajikan. Kalau toh ada juga datang kesusahan, itu adalah cobaan Allah semata anakku! Kita harus tabah menghadapi Tuhan gembira pada umatNya yang tawakal dan tabah. Dan kesusahan maupun penderitaan sesungguhnya itu hanyalah garamnya kehidupan!”

Dalam ucapannya itu terasa bahwa Kiai Teger sendiri menduga bahwa perguruan Blimbingwuluh bakal tertimpa kesusahan. Hal ini dirasakan juga oleh Joko Bledug yang berotak cerdas, dan perasaan halus itu. Serta merta bocah ini mengangkat muka memandang kearah ayahnya! Pada saat itu tepat Kiai Teger sedang menatap kearah Joko Bledug sehingga bocah itu dapat melihat perubahan muka pada ayah angkatnya itu!

Tetapi Kiai Teger cepat-cepat berkata. “Tak ada apa-apa anakku! Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Tuhan mengasihi umatNya

yang setia dan berbakti. Kau mengerti anakku?” 

Joko Bledug menganggukkan kepalanya. Selanjutnya Kiai Teger berkata :

“Jangan lupa anakku, rajin-rajinlah berlatih, dan melatih diri. Sekarang musim along (banyak ikan). Aku hendak pergi menjala”

Joko Bledug hanya manggutkan kepala. la masih berdiri ditempatnya ketika Kiai Teger telah pergi menghilang diantara rumpun-rumpun pisang yang tumbuh subur ditepian kali Blimbingwuluh.

Hingga sore itu kegelisahan Joko Bledug tak kunjung hilang. Bocah itu duduk-duduk dibawah pohon mahani sambil mempermainkan cambuk gembalanya sedangkan dombanya masih asyik melahap rumput-rumput muda yang tumbuh dibentengan kali.

Pemandangan ditempat itu memang indah. Dari tempat duduknya yaitu sebuah padang kecil yang berada dibawah bentengan kali Joko Bledug dapat melepaskan pandang ke segala penjuru. Dihadapannya terbentang ladang jagung dan ketela pohon yang subur menghijau dimana disebelah kanannya adalah bentengan kali Blimbingwuluh yang memanjang tidak lurus dipandang dari jauh seperti badan ular yang menggak menggok.

Dan dibelakang ladang subur itu terbentang lukisan lembut sebuah dusun diantara hutan-hutan dan talun dimana tempat itu merupakan lereng pegunungan.

Disebelah barat daya sana tampak tinggi menjulang Gunung Slamet yang besar dan kokoh, berselimut awan putih pada puncaknya. Sore itu awan gemawan yang bergumpal-gumpal bersemu merah akibat pantulan matahari sore yang sudah condong dilereng gunung.

Sekian lama Joko Bledug terpesona oleh keindahan alam itu sekonyong-konyong bocah itu dikejutkan oleh pekikan dombanya yang melolong.

Joko Bledug terlompat bangur. Dan betapa terkejutnya bocah itu demi dilihatnya ada tiga ekor binatang piaraannya yang berguling-guling dirumput sambil memekik-mekik kesakitan. Pabila bocah itu telah melihat dekat maka terlihat olehnya bahwa ketiga ekor domba itu kiranya telah kehilangan sebelah kakinya masing-masing.

“Keparat! Binatang apakah yang telah mencelakai domba-dombaku!”

Joko Bledug tidak pernah memaki. Kali ini terlompat makiannya agaknya karena ia sangat terkejut dan marah. Ia menduga bahwa tentu ada binatang buas yang kurang ajar yang telah menganiaya dombanya!

Mungkin Joko Bledug takkan begitu marah dan penasaran andaikata ia melihat dombanya diterkam macan atau dimakan serigala sebab hal itu hanyalah soal wajar saja.

Akan tetapi bila membandel sebelah kaki saja hingga membuat domba-domba itu setengah mati setengah hidup bukankah itu menyiksa namanya? Bukan main sedihnya si bocah ketika melihat binatang-binatang piaraannya itu memekik-mekik sampai serak sambil bergulingan dan mengucurkan air mata kesakitan. Ia dapat merasakan betapa rasanya siksa itu, selama perjuangan nyawa menentang datangnya maut.

Sama sekali si bocah tidak menduga bahwa ‘binatang’ yang telah melukai domba-dombanya itu kini telah berada dibelakangnya.

Mendadak, ‘wuuus’ Pancaindra Joko Bledug memang sudah sangat terlatih. Begitu terasa ada sesuatu yang bergerak dibelakangnya maka ia telah melancarkan tendangan kilat kebelakang. Tetapi sayang ‘binatang’ yang dimaksud itu dengan sangat gesitnya telah menghindar kesamping seraya memperdengarkan suara tawa mengikik.

Begitu membalikan tubuh, seketila Joko Bledug tergentak kebelakang saking kagetnya. Dihadapan si bocah tampak berdiri seorang wanita tinggi kurus yang wajahnya sangat aneh, sangat buruk menyeramkan. Jidatnya lebar, pipinya tembem, hidungnya pengek, sedangkan mulutnya monyong menjijikan seperti monyong babi. Seluruh rambut dikepalanya beruban, putih seperti  kapas, pantasnya ‘wanita setan’ berusia tujuhpuluhan. Tetapi, bila melihat kulit tangannya yang keluar dari baju begitu putih halus dan lembut sekali tidak pantas apabila wanita setan itu seorang

nenek?.

Apa lagi bila melihat dandanannya yang serba merah dengan warna warni bunga merah, sesungguhnya wanita menyeramkan itu lebih patut menjadi seorang dara remaja daripada seorang nenek yang berambut kapas.

Ketika terlihat oleh Joko Bledug tiga batang kaki domba yang masih mengucurkan darah tergenggam di tangan wanita itu, cepat-cepat si bocah menegur :

“Maaf apakah kau yang telah menganiaya binatang piaraanku?” Walaupun gusarnya sudah tak terlukiskan lagi, tetapi Joko Bledug masih dapat mengeluarkan kata-kata yang bernada sabar. Dan tak lupa si bocah membungkukkan badan memberi hormat kepada orang yang lebih tua.

“Kalau iya. mau apa kau?” Sahut wanita itu seraya memperdengarkan suara tawanya yang merdu. Masya Allah! Joko Bledug sendiri tak percaya bahwa seorang nenek siluman yang bentuknya menakutkan itu masih memiliki suara yang merdu dan renyah seperti perawan belasan tahun.

“Nenek yang baik. Harap kau suka mengganti tiga ekor dombaku dengan...”

Baru begitu kata-kata Joko Bledug wanita buruk rupa itu telah memperdengarkan suara dengusan dingin.

“Mana ada nenek? Panggil aku Dewi!”

Si bocah terheran-heran. Masalah dewi atau nenek bagi Joko Bledug tak jadi urusan. la hanya memikirkan ketiga dombanya yang sekarang sudah tak berkutik, mati akibat kehabisan darah.

“Baiklah Dewi, harap kau suka mengganti dombaku dengan tiga dombamu...”

“Jangan panggil aku Dewi! Panggil kekasih!” Bentak wanita setan itu seraya menggoyangkan kepalanya sehingga anting-anting ditelinganya yang berujut sebuah rantai gelang bergoyang berdering-dering.

Meringkik rasanya si bocah mendengar istilah kekasih. Sedang sebutan itu belum pernah diucapkan oleh Joko Bledug. Bocah dibawah umur itu belum mengenal apa maknanya sebutan kekasih itu. Maka dengan kesabaran yang dipaksakan si bocah berkata pula lagi :

“Baiklah kekasih. Harap kau mengganti ketiga dombaku itu!”

Si wanita setan memperdengarkan tawa merdunya. Lalu dengan lenggang yang gemulai menghampiri si bocah sambil mengulurkan ketiga batang kaki yang ada ditangannya.

“Bukan hanya tiga kaki domba ini saja yang akan kuberikan kepadamu. Bahkan lebih daripada tiga ekor domba, seratus hektar sawah dan sebuah istana akan kuberikan kepadamu asal kau benar-benar mau jadi kekasihku...”

Bukan main. Kalau ada setan gila agaknya wanita setan itulah setan yang paling gila.

Walaupun samar-samar, sebutan kekasih, Joko Bledug juga mengerti maksudnya. Dan bocah itu seakan jijik untuk memikirkannya, apalagi terhadap diri seorang wanita mengerikan itu.

Tetapi Joko Bledug insyaf bahwa dikalangan rimba persilatan tidak sedikit orang-orang yang memiliki sifat aneh dan yang mokal-mokal. Si bocah menduga bahwa tentu wanita setan itu tergolong tokoh persilatan yang bersifat aneh-aneh itu. Si bocah ingat bahwa wanita itu telah menyerang domba-domba itu tanpa diketahui oleh si bocah dan ketika si bocah melancarkan tendangan kilat wanita itu dapat menghindari dengan mudah dan tanpa bersuara pula. Tendangan yang tadi dilancarkan spontan oleh Joko Bledug adalah jurus serangan ‘angin barat memindahkan bukit’ satu tendangan yang sangat cepat dan bertenaga besar yang dapat membikin seekor macan atau banteng roboh terpental. Siapa duga ternyata “binatang” itu telah menghindarinya dengan

mudah. 

“Harap kau tidak main-main. ” kata Joko Bledug.

“Siapa main-main? Kalau benar kau mau jadi kekasihku sekarang juga akan kau peroleh lebih dari tiga ekor domba, seratus hektar sawah dan sebuah istana! Kalau tidak mau! Tentu aku akan memaksamu kau bocah bisa berbuat apa terhadapku”

“Ganti dombaku!” Bentak si bocah kehabisan sabar. Mendongkol bukan buatan ia dipermainkan seperti itu.

“Huh? Wanita setan itu memperdengarkan dengusan dingin. “ Kau bernama Joko Bledug bukan? anak angkat sijahanam itu akan kubeset-beset dan kucabuti kakinya! Aku benci! Benci! Semua akan kuhancurkan hanya kau tidak itupun kalau kau benar-benar mau jadi kekasihku! Dan wanita setan itu tertawa dingin, bikin bulu rona bergidik.

“Sewenang-wenang. Kau membenci dan memaki ayahku yang tanpa dosa tanpa perkara. Memusuhi ayah, memusuhi diriku itu masih agak masuk akal sebab benci dan permusuhan itu adalah sebagian dari sikap jelek manusia. Tetapi menganiaya domba, menyiksa binatang lemah seperti itu bukankah itu termasuk keterlaluan dan lebih jahat daripada setan sirajanya kejahatan?”

“Eeeeeh! Bocah ingusan mau menggurui diriku? Kalau aku mau membunuh ayahmu, membedoli semua kaki dombamu kau bisa berbuat apa?”

“Aku harus minta ganti domba!” “Kalau aku tidak mau mengganti?” “Terpaksa aku minta ganti kakimu!”

“Boleh kau ambil sendiri bocah bagus!” Sahut si wanita seraya maju selangkah kedepan serta

menyodorkan kakinya kehadapan Joko Bledug.

Terlihatlah oleh Joko Bledug betis yang kuning mulus keluar dari dalam kain. Si bocah hendak menggerakkan tangannya akan tetapi segera ia mengurungkan maksudnya. Pantaskah tiga batang kaki domba ditukar dengan sebatang kaki wanita yang kuning mulus itu?

“Hmm kiranya kau tidak seperti ayahmu si jahanam itu. Mengerti sayang juga kau bocah pada barang yang cantik. Hihik!” Dan wanita itu menurunkan kembali kakinya ketanah. Setelah itu tiba- tiba ia berseru memanggil : “Murid! Keluarlah! Cukup puas aku main-main dengan bocah ini. Dia menyenangkan sekali!”

Begitu terdengar suara panggilan si wanita maka dari dalam semak belukar tampak meloncat sesosok tubuh laki-laki yang berjumpalitan diudara beberapa kali. Ketika meluncur turun laki-laki itu sekaligus melancarkan serangan kearah Joko Bledug.

Duk! Joko Bledug mendorongkan kedua tangannya kedepan, berbenturan dengan pukulan laki-laki itu dengan sangat keras Joko Bledug tergentak mundur beberapa tindak, sedangkan laki- laki itu berjumpalitan balik beberapa kali.

Laki-laki itu kini telah membungkuk hormat kepada wanita setan itu sambil berkata :

“Mungkin ayah sudah terlalu lama menunggu, guru. ” “Hm!” Wanita itu mendegus!

Untuk kali ini kagetnya Joko Bledug seperti disambar geledek. la mengenal siapa adanya laki- laki yang mengaku sebagai murid wanita setan itu. Dia seorang pemuda berperawakan kekar tegap sikapnya kasar, wajahnya kaku dan berdandanan sebagai seorang penggawa terhormat!

Terhadap orang ini tentu saja Joko Bledug mengenalnya, sebab pemuda itu adalah Kebo Sulung atau nama aslinya Joko Sulung anak Jagabaya Karangsari itu! “Kiranya kau denmas Kebo Sulung. Kalau begitu dia ini...“ kata Joko Bledug terhenti

sedangkan jarinya, menunjuk kearah wanita setan itu dengan tergetar. 

Si wanita tertawa renyah.

“Ya aku Dewi Cundrik, guru Kebo Sulung. Setelah kau mengetahui namaku apakah kau

masih minta ganti kaki dombamu?”

Dewi Cundrik, adalah wanita sakti dari perguruan Telagasona yang letaknya dilereng Gunung Slamet. Tentang wanita ini, tentu saja hampir setiap orang mendengarnya dengan bulu kuduk meremang, sebab kecuali memang terkenal berwatak keji dan telengas, juga kesaktian dan ilmu kepandaiannya sulit dicari bandingannya. Mungkin Ki Ageng Tampar Angin atau beberapa tokoh sakti lainnya saja yang boleh disejajarkan dengan wanita ini.

Tetapi sungguh diluar dugaan bahwa wanita yang namanya sangat tersohor sebagai wanita kejam dan sakti itu tidak hanya seperti setan belaka, tetapi adalah bentuk dari biangnya para setan iblis yang buruk menyeramkan, tetapi juga biangnya aneh, karena seperti wewe yang memiliki kulit tubuh yang kuning putih berkilauan dan lembut seperti gadis remaja.

Joko Bledug mengeraskan hatinya menjawab :

“Ganti kaki dombaku!”

“Murid. Kau layani dia. Aku pergi mengambil tongkat pancaloka, baru kemudian aku kembali kemari?”

Mendengar ucapan orang yang bermaksud mengambil pusaka perguruannya, Joko Bledug makin gusar. Jelas bahwa orang berniat sangat keji terhadap ayah dan perguruan. Cepat Joko Bledug menerkam maju, untuk mencegah kepergian wanita setan Dewi Cundrik itu, akan tetapi Kebo Sulung telah menubruknya pula, membarengi.

Sedang badan melayang kedepan tahu-tahu kedua pukulan beruntun dari Kebo Sulung telah meluncur datang Joko Bledug mengempos semangatnya, begitu tahan napas seketika tubuhnya menjadi berat berlipat dan seketika tubuhnya meluncur turun secara cepat. Kedua pukulan Kebo Sulung melayang lewat, sementara itu secara kecepatan yang hanya dimiliki oleh anak murid perguruan Blimbingwulu. Joko Bledug telah merubah pukulannya kearah kampungan Dewi Cundrik, jadi totokan kearah bawah lutut wanita itu.

Dewi Cundrik tak sempat menghindar. Dess! Wanita itu bergoyang-goyang tubuhnya sejenak akan tetapi Joko Bledug sendiri yang terlempar bergulingan.

Ketika serangan tiba. Dewi Cundrik hanya sedikit menekuk kakinya akibatnya totokan Joko Bledug tidak mengenai sasaran yang dimaksud akan tetapi menghantam tempurung Iutut wanita itu. Si bocah merasa seakan tangannya membentur bukit baja yang sangat keras seketika tangannya tergetar dan sebagian tubuhnya terasa seakan kesemutan.

“Bagus! Tidak percuma kau jadi anak angkat Tampar Angin jahanam itu!” Kata Dewi Cundrik seraya memandang tajam. “Murid kau boleh pergunakan jurus maut itu. Tetapi ingat jangan bunuh bocah ini. Aku demen kepadanya!”

Sehabis berkata Dewi Cundrik terus berkelebat pergi seakan menghilang.

Joko Bledug tak mungkin mengejar wanita itu sebab kini Kebo Sulung telah menghadangnya. “Apakah dosanya ayahku, dosa perguruan Blimbingwuluh sehingga kau memusuhi kami?” “Dosa? Dosa ada dipundak dan gendonganmu! Kalian seluruh perguruan Blimbingwuluh

harus dilenyapkan dari muka bumi!” “Mulutmu sombong!”

“Aku penggawa kadipaten, apakah kau berani melawan Bledug?” “Bukan aku melawan pangkatmu tetapi melawan kejahatanmu!”

“Sama saja! Rasakan kelihayanku!”

“Majulah!” Dan Joko Bledug telah bersiap siaga.

Betul Joko Bledug hanyalah seorang bocah yang boleh dikata belum hilang bau kencurnya. Akan tetapi berkat ketekunan Kiai Teger mengajar dan mendidik, serta bakat dan semangat si bocah yang sangat besar kiranya Joko Bledug tidaklah mudah untuk di tundukkan oleh Kebo Sulung yang namanya sudah tersohor itu.

Pertarungan seru segera terjadi antara bocah yang mempertahankan hak hidupnya melawan keangkaramurkaan.

Kecuali gesit kiranya setiap serangan Joko Bledug sangat mantap. Berkali-kali Kebo Sulung terkurung oleh pukulan Joko Bledug yang kecuali sangat cepat juga memiliki perubahan-perubahan gerak yang tak terduga.

Selekasnya Kebo Sulung telah menguras seluruh kemampuannya. Setiap pukulannya menimbulkan angin yang menderu-deru dan menyiarkan hawa panas. Numun, kecepatan gerak Joko Bledug kiranya dapat selalu mengimbangi.

Akhirnya Joko Sulung segera mengambil senjatanya yaitu sepasang lingkaran baja yang berbentuk seperti punggung kepiting, yang diberi bebandul beberapa gelang rantai.

Senjata itu, disebut “batok bumi”. Tangan Kebo Sulung dapat terlindung oleh bentuk punggung kepiting yang agak mencembung, dimana bagian dalamnya diberi pegangan. Kemanapun Kebo Sulung menyerang ia tidak kuatir pergelangan tangannya akan dapat di lukai lawan. Lebih- lebih dari itu, rantai gelang yang tergantung pada tujuh itu dapat berpancaran ke segala arah dimana lawan berada.

Joko Bledug memang tidak membekal senjata. Ia hanya membawa sebatang cambuk ranting yang biasa dipergunakannya untuk menghalau domba bila binatang-binatang itu hendak merusak ladang orang.

Tentu saja ranting tak mungkin dibandingkan dengan rantai gelang yang tipis dan tajam berkilat itu.

Kemana saja rantai gelang itu menyambar, memperdengarkan bunyi berdesing berbareng dengan dering-dering nyaring yang ditimbulkan oleh pergerakan setiap ruas gelang-gelang tersebut.

Namun dengan mengandalkan pada kelincahannya Joko Bledug berharap akan dapat membuat lawannya terdesak dan mencari kesempatan untuk berlari pulang membela keselamatan perguruan.

Kencreng! Kencreng! Tujuh rantai gelang Kebo Sulung berpencar meluncur kearah bagian- bagian tubuh Joko Bledug pada tempat-tempat yang berbahaya, telinga, mata, leher dan ulu hati.

Dengan sangat lincahnya tahu-tahu Joko Bledug telah menekuk tubuhnya kebelakang sejauh- jauhnya sambil tangan kanannya menyabetkan cambuk rantingnya kearah bawah iga lawan.

Kebo Sulung melompat mundur menghindari. Tetapi tiba-tiba Joko Bledug telah membuat gerakan meletik dan sekonyong-konyong cambuk rantingnya menyabet kearah leher.

Kebo Sulung menjerit kaget. Mungkin sabetan itu takkan dapat membuat penggawa kadipaten itu terbinasa. Akan tetapi kecepatan geraknya itulah yang membuat Kebo Sulung gugup dan terdesak itu.

Dengan menggoyangkan keatas senjata “batok bumi” itu Kebo Sulung dapat membuat rantai- rantai gelang. Senjatanya menyambar keatas menyambar cambuk lawan. Akan tetapi cambuk itu justru telah berubah gerakannya, bukannya menyabet kearah leher, tetapi terus meluncur kebawah untuk  menghajar kaki.

Bret! Kebo Sulung hanya sempat menahan napas, mengerahkan tenaga melindungi kakinya dengan pengerahan tenaga dalamnya. Pangkal pahanya terhajar cambuk ranting. Kebo Sulung terguling roboh sebaliknya ranting itupun patah hancur jadi pecahan.

Betapapun serangan itu tidak melukai, akan tetapi cukup membuat Kebo Sulung kehilangan muka untuk berlagak didepan bocah Blimbingwuluh itu.

Tak terkatakan betapa gusarnya Kebo Sulung karena kejadian itu. Seketika mukanya jadi merah membara hingga ketelinga. Dan tangannya bergetar hebat sial untuk melakukan pembunuhan.

Terdengar lengkingan nyaring ketika penggawa muda itu telah menotok kakinya ketanah dan seperti balon karet tubuhnya melambung keudara dengan cepat.

Sebaik tubuhnya meluncur kebawah, maka Kebo Sulung telah menentang kedua tangannya seperti sayap burung elang, sehingga kedua senjata ditangannya menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.

Setelah dekat dengan Joko Bledug maka Kebo Sulung cepat-cepat menutupi kedua lengannya maka seluruh rantai gelang senjatanya telah memutar bolak balik bersambaran kearah Joko Bledug!

Semua itu terjadi begitu cepat dan dahsyat sehingga Joko Bledug hanya mampu membuang diri kesamping sambil mengeluh dalam hati : “Tamatlah sudah riwayatku. Duhai betapa nasib perguruanku...”

Pada saat Joko Bledug membuang diri, maka rantai-rantai gelang yang berputar-putar bolak balik itu dua diantaranya menyambar tepat kearah rusuk. Si bocah telah meramkan matanya menunggu datang elmaut mencabut nyawanya.

Akan tetapi kiranya kematian belum waktunya menghampiri bocah itu. Dari tengah padang tampak meluncur sepotong kayu dengan kecepatan seperti anak panah. Langsung gerakan kayu itu menyambar ke bawah bacokan gelang rantai itu. Crap! Kedua rantai gelang yang sedianya membacok rusuk Joko Bledug jadi menancap pada potongan kayu itu sedangkan Kebo Sulung sendiri tubuhnya ikut terlempar ke samping beberapa depa jauhnya oleh dorongan tenaga lemparan kayu yang sangat dahsyat itu.

“Kau hendak membunuh bocah itu hai?” Seru seorang yang bersuara merdu. Dan ditempat itu

telah muncul Dewi Cundrik yang bertolak pinggang penuh teguran.

“Anak haram itu terlalu sombong guru” sahut Kebo Sulung seraya menyapu-nyapu pakaiannya dari debu-debu yang menempel.

Dewi Cundrik mendengus. “Betapapun kau tak boleh melukai dia? Sudah kukatakan bahwa aku suka kepadanya.”

Kebo Sulung terdiam.

Joko Bledug hendak bangkit dari tanah, akan tetapi Dewi Cundrik telah mendorongkan telapak tangannya sambil mulutnya kemak-kemik. Seketika Joko Bledug merasa seakan ada benda seberat gunung yang menindih badannya dan ia terguling roboh lagi.

“Ikatkan didalam semak-semak itu. Kita pergi menjumpai ayahmu murid! Kita kuatir ayahmu

yang dungu itu akan membuat kesalahan?”

Tanpa dehem tanpa batuk cepat-cepat. Kebo Sulung mengeluarkan seutas tali kulit menjangan yang agaknya telah dipersiapkan terlebih dahulu. Tidak lupa Kebo Sulung menyumbat mulut Joko Bledug sehingga bocah itu takkan dapat berteriak-teriak. Kemudian menyeretnya kedalam semak belukar dan Kebo Sulung mengikatkan si  bocah pada sebatang pohon dimana dibawahnya terdapat sarang semut api.

Semua yang dilakukan oleh Kebo Sulung itu dapat dilihat oleh Joko Bledug sebab bocah ini dalam keadaan sadar tidak kurang suatu apa.

Hanya ia merasa bahwa seluruh tubuhnya kejang dan tidak bisa digerakkan sama sekali sehingga ia dapat membelalakkan mata kearah Kebo Sulung dengan sinar mata berapi-api.

Selesai mengikatkan si bocah didalam belukar maka kedua guru dan murid berkelebat lari sangat cepat menyusuri bawah tebing kali.

Demikianlah tak lama kemudian antaranya Dewi Cundrik telah dapat menjumpai orang yang dicarinya yaitu Kiai Teger atau Ki Ageng Tampar Angin yang sedang si buk menebarkan jala.

“Begitu asyiknya menangkapi ikan sampai tak melihat orang yang datang menyambangi...”

ltulah suara teguran merdu yang didengar oleh Kiai Teger.

Guru sakti itu tidak memutar pandang mencari orang yang bicara. Akan tetapi dengan tangan tetap mengambili ikan yang bergeleparan dalam jala. Kiai Teger menyahut :

“Sekian lamanya kita tak berjumpa apakah keadaanmu baik-baik saja Cundrik?”

Dewi Cundrik mendengus dan memberenggut.

“Apakah aku sudah tak ada harganya untuk kau pandang barang sebelah matamu Tampar Angin?” Walaupun nada kalimat itu mengandung rasa kecewa akan tetapi suara yang dikeluarkan olen wanita itu penuh mengandung getaran rasa mesra.

“Oh... “ Ki Ageng Tampar ingin membalikkan tubuh memandang kearah orang yang baru datang kemudian tertawa. “Apa-apaan kau ini Cundrik? Walaupun kau lapis wajahmu dengan seribu macam topeng masakah aku tidak dapat mengenal suaramu?”

“Bukankah kau menghendaki aku berwajah demikian Tampar Angin?”

“Tentu saja tidak begitu Cundrik” sahut Kiai Teger seraya tertawa lepas. “Kau akan lebih, menyenangkan bila dalam keadaan seperti biasa sebagaimana Cundrik yang pernah menjadi adik angkatku!”

“Ngomong ah!” Dewi Cundrik membentak sambil merentakkan kakinya seperti gadis remaja. “Kalau kau senang kepadaku mengapa kau tidak mengambil diriku jadi isterimu sehingga aku seumur hidup menderita seperti ini!”

Kiai Teger naik kedarat. Lalu mengambil tempat duduk disisi Dewi Cundrik yang saat itu duduk bersimpuh sambil terisak-isak, benar-benar seperti menangisnya seorang gadis yang ditinggal pergi kekasihnya.

“Urusan yang sudah lama apakah tidak lebih baik kita lupakan saja Cundrik? Tentang jodoh toh bukan kekuasaan manusia tetapi Tuhan yang menentukan. Sudahlah Cundrik, jangan menangis. Kita sudah sama-sama tua, kalau kita membicarakan hubungan masa muda kita aku kuatir ada orang yang mentertawakan kita...”

Dewi Cundrik mengangkat kepalanya memandang. Sepasang matanya yang tampak legok kedalam terlindung oleh pipinya yang tembem itu menitikkan air mata. Maka dengan tarikan napas sedih Kiai Teger lantas menyeka air mata wanita itu.

“Cundrik, masih ingatkah kau pada kali Rambut? Nah coba ingat-ingat olehmu, berapa butir

batu mustika yang kuberikan kepadamu?”

Kruluk! Ketika Dewi Cundrik membuka tangannya maka dari dalam genggaman telah runtuh turun beberapa butir batu mustika berwarna warni yang sangat indah. Agaknya benda-benda itulah yang baru saja di tanyakan oleh Kiai Teger. “Masih utuh semuanya Cundrik! Enam butir! Cempaka keling! Kecubung wulung! Biduri pandan! Biduri bulan! Dan dua buah akik darah! Ah kau begitu cermat merawat benda-benda ini  Cundrik?”

“Tentu saja. Aku takkan pernah melupakanmu kecuali kau yang selalu mengingat lonte (pelacur) Tegalsari itu! Ayo jawab Teger! Bukankah seluruh jiwamu selalu terikat pada Dewi Lestari yang sudah menjadi ratu rayap itu!”

Ki Ageng Tampar Angin menghela napas berat tampak ia berduka sekaIi. Diwajahnya yang biasanya terang gemilang penuh pancaran sifat bijaksana itu, kini tampak bergurat-gurat deigan kerut kedukaan.

“Jangan kau memaki orang yang sudah mati, Cundrik. Bukankah tanganmu juga yang menyebabkan kematiannya”

“Ngaco! Sebabnya kau juga! Salahmu sendiri!”

“Ya, sudahlah Cundrik. Yang sudah lalu biarlah lalu. Kita yang diperkenankan hidup oleh Allah, saat ini seharusnya kita melanjutkan cita-cita bakti Dewi Lestari yang telah ditakdirkan mendahului kita...”.

“Sudah... sudah... sudah...! khotbah! Jemu aku! Pokoknya memang kau selalu memenangkan dia! Segala tindak tandukku selalu salah, kalau lonte Lestari itu baru benar. Sudah, sudah, menyesal aku berbicara denganmu”.

Kiai Teger tersenyum sedih.

“Jadi ada kabar gembira apakah yang kau bawa, Cundrik?”

Dewi Cundrik tampak terperanjat. Sejenak ia tampak gelisah, tetapi sesaat kemudian ia tampak tenang kembali.

“Teger.....“, panggil Dewi Cundrik dengan mesra. “Usia kita sudah lebih separuh umur manusia apakah kita tidak lebih baik bersatu saja. Teger  ”

“Untuk melawan Kompeni?”

“Ngomong! Buat apa memikirkan urusan geblek itu! Persetan dengan Kompeni bule ataupun para partisan! Aku hanya memikirkan dirimu dan diriku, Kita bersatu dalam rumah tangga yang bahagia Teger?”

Sekilas ada gurat kebencian tersirat dalam wajah Kiai Teger alias Ki Ageng Tampar Angin itu. Laki-laki ini toh seorang pejuang, bekas perwira Mataram yang ikut membantu Untung Suropati melawan pasukan kapiten Tack. Walaupun saat sekarang ia tak sedang mengangkat senjata akan tetapi darah patriot selalu mengalir ditubuhnya. Setiap kata-kata yang menyinggung Kompeni atau Partisan, selalu mengobarkan semangatnya belaka. Dan ucapan Dewi Cundrik yang terakhir itu tidak masuk dalam perhatiannya.

“Andaikata dia hidup terus... sampai sekarang... ah... Andaikata tidak ada si bangsat Genikantar yang berjiwa rendah itu, agaknya ah!”

Mendengar kalimat bisikan Kiai Teger. Dewi Cundrik menangis.

“Sudah. sudahlah Dewi jangan menangis?”

“Tak perlu hiraukan aku! Aku toh tidak cantik seperti Lestari! Tidak gagah berani seperti Lestari?”

Kiai Teger tertawa rendah. Suara tawanya melukiskan bayangan masa lalu yang penuh dengan liku-liku duka dan gembira yang pernah dialami dimasa mudanya. Dan guru itu menengadahkan mukanya kelangit, seakan-akan mencari kenangan-kenangan hidupnya pada awan yang berarak atau matahari yang sedang doyong ke Barat. “Teger.”

“Bagaimana Cundrik?”

“Maukah kau pulang ke Telagasona?”

“Aku sudah   punya   Blimbingwuluh   Cundrik?   Bagaimana   anak-anak   murid   itu   jika

kutinggalkan...”

“Baiklah tidak untuk selamanya. Tetapi setahun atau sebulan atau seminggu atau sehari atau

sejam!”

Mendengar kalimat yang berapi-api dari Dewi Cundrik, Kiai Teger agaknya jadi bimbang. Ada sesuatu yang terbangkit dari dalam dasar hatinya ketika mendengar kalimat yang begitu macam. Ya, kenangan tentang sikap Dewi Cundrik yang serba riang gembira. Sikap Dewi Cundrik yang manja tapi keras hati. Tapi itu dulu. Dulu semuanya terjadi! Kenangan itu sudah terpendam, bersama tenggelamnya masa demi masa.

“Sejampun kau tak sudi menginjak tanah Telagasona. Teger! Biarlah aku menbunuh diri

sekarang!”

Bersamaan dengan ucapannya itu. Dewi Cundrik telah mengayunkan tangan sendiri dengan jari-jari terbuka seperti cakar, dijojohkan kearah leher.

“Tapi” Tangan Kiai Teger sempal menangkap pergelangan tangan Dewi Cundrik sehingga maksud si wanita untuk membunuh diri itu dapat digagalkan. “Tak perlu kau berputus asa Cundrik” kata Kiai Teger mengandung nada kasihan.

“Kau tak perduli atas hidup dan matiku?”

“Jangan membunuh diri Cundrik. Aku tentu akan menyambangi istanamu...”

Seketika Dewi Cundrik melonjak gembira sambil berseru-seru :

“Kita kawin Teger! Kakandaku, sejampun cukup hahagia bagiku?”

Kiai Teger menggelengkan kepalanya.

“Bukan kawin Cundrik..... Aku akan menyambangi istanamu, sebagai seorang kakak yang beranjangsana kerumah adiknya.”

Kegembiraan Dewi Cundrik yang tadi terpancar dari matanya yang bersinar-sinar, tiba-tiba lenyap bertukar dengan kekecewaan dan kemarahan. Lalu dengan suara mengandurg kebencian wanita itu berkata :

“Betul-betul kau takkan sudi memperistrikan diriku Teger, walaupun hanya untuk sejam?”

Kiai Teger menjawab gagap.

“Persaudaraan yang tulus ikhlas jangan dikotori dengan nafsu Cundrik. Aku terlanjur mencintaimu sebagaimana seorang kakak kepada adik masakah aku tega mengawinimu?”

“Bagus. Bicara ngalor ngidul, kesimpulannya toh kau masih tergila-gila pada Lastari yang sudah modar! Tapi baiklah Teger. Kau tidak mencintaiku sebaliknya aku mencintaimu sepenuh hatiku! Sekarang kau sudi mengunjungi tempat tinggalku hanya untuk sejam. Terima kasih Teger, terima kasih atas budi kebaikanmu. Mari berangkat!”

“Jangan sekarang! Aku harus memberitahu pada murid-muridku!”

“Hmm” Dewi Cundrik menggeram dongkol. “Alasan lagi! Bilang saja kau membatalkan kata- katamu tadi Teger!” Kiai Teger terdiam. Betapapun juga dia adalah seorang laki-laki sehat dan manusia biasa.

Sikap manja dan merengek ngambul seperti dilakukan oleh Dewi Cundrik itu tentu saja 

menggoyahkan hatinya. Dan setelah memikir sejenak laki-laki itu menjawab :

“Baiklah Cundrik! Mari kita pergi sekarang!” “Untuk apa?” Tanya Cundrik tiba-tiba.

Kiai Teger keheranan.

“Dijalan tentu kau akan mengajukan banyak alasan lalu mernbatalkan maksudmu!” “Habis dengan cara apa aku harus membuatmu percaya Cundrik?”

“Kugendong kau!”

Kiai Teger tersenyum sedih.

“Kau masih seperti dulu Dewi! Mana pantas gendong-gendongan, kita sudah tua Cundrik!” “Bilang saja tidak mau kenapa pakai malu apa segala!”

“Ya sudahlah, sekehendakmulah Cundrik...”

Begitu selesai Kiai Teger mengucapkan kata-katanya itu maka Dewi Cundrik telah merangkul Kiai Teger untuk menggendongnya. Sama sekali guru itu tidak menyadari bahwa pancaran mata Dewi Cundrik berubah dari sinar kecewa menjadi kebencian yang menyala-nyala. 

Dan Kiai Teger menyadari adanya suatu muslihat keji bila ia merasa ada sesuatu yang menyakitkan yang menyelusup kedalam daging pinggangnya.

“Apa yang kau lakukan Cundrik?” Tegur Kiai Teger kaget.

Tapi terlambat sudah sebab secepat itu Kiai Teger menegur, wanita itu telah melemparkan guru itu dari gendongannya. Kiai Teger terguling diatas tanah berumput. Ketika ia berusaha untuk bangkit berdiri maka separuh tubuhnya sebelah kiri telah kaku atau lumpuh sama sekali.

“Jarum berisi racun pacet wulung telah kutancapkan dipinggangmu Teger. Katanya sekali lagi, maukah kau mengawini diriku?” Kata Dewi Cundrik dengan pandang mata mengandung kebencian.

Kiai Teger mengeluh dalam hati. Menyesalpun tak ada gunanya kini sebab muslihat keji Dewi Cundrik telah membuatnya tak berdaya. Maka guru itu hanya memandang kecewa kearah si wanita tapi sikapnya penuh teguran.

“Tak mungkin aku mengawinimu Cundrik. Kau adalah adik angkatku!”

“Tak perlu pakai angkat-angkat apa segala! Pokoknya kau tak sudi menjadi suamiku maka kau harus menanggung akibatnya. Kau sudah mengenal watakku bukan? Aku adalah seorang bocah yang pernah menyuruh orang menghancurkan wajah Lestari karena ia memiliki wajah cantik melebihi diriku. Akan kuhancurkan semua yang ingin kumiliki tapi tak bisa. Kau harus mati menyusul lonte Lestari itu!”

Kiai Teger menghela napas. Sedang Dewi Cundrik bersikap baik saja laki-laki ini tak mau mengawini apalagi sekarang bila telah dirasakan akal keji wanita itu. Dengan suara keras Kiai Teger menjawab :

“Mau bunuh. bunuhlah aku Cundrik!”

“Tidak mudah begitu saja Teger! Setelah memalingkan muka kearah semak-semak maka Dewi Cundrik berseru : “Jagabaya goblok! Bawa manusia hina ini!”

Begitu suara Dewi Cundrik berkumandang maka dari dalam belukar tampak meluncur keluar Jagabaya Karangsari yang menunggangi kuda si Demung. “Teger! Sekali lagi kutanyakan maukah kau mengawiniku? Racun jarum itu akan menghancurkan daging dan tulangmu sampai membusuk! Hanya aku yang memiliki obat  penawarnya!”

Kiai Teger menjawab tegas :

“Biarlah aku mati membusuk karena racun jarummu, Cundrik!”

“Seret!” Seru Dewi Cundrik kemudian, seraya memperdengarkan suara ratapan yang meringkik. Wanita itu mengangkat mukanya, punggungnya bergerak-gerak melukiskan tangis pedih yang sengaja ditahan.

Kiai Teger tak dapat melawan ketika Ki Jagabaya Karangsari meringkusnya, mengikat seluruh tubuhnya dengan tali kulit, kemudian dengan mempergunakan sebuah tali dadung yang besar Ki Jagabaya mengikat tubuh guru itu pada pinggang kuda sedemikian rupa sehingga apabila kuda itu berlari maka tubuh Kiai Teger akan terseret sepanjang jalan.

“Tegeeeeer.” Dewi Cundrik berteriak sangat keras seperti orang kesetanan.

“Hanya Tuhan yang Maha Tahu...” hanya itulah jawaban Kiai Teger yang kemudian

memejamkan matanya untuk menerima nasib.

“Pergi! Pergi semua...” Teriak Dewi Cundrik pula.

Segera Ki Jagabaya naik kepunggung kuda. Cambuknya bergetar diudara maka kuda itupun melompat maju, berlari kencang mencongklang. Dari dalam belukar tampak Kebo Sulung berlarian mengejar Ki Jagabaya, ayahnya. Pemuda itu sadar bahwa perintah pergi oleh gurunya itupun dialamatkan kepada dirinya.

Bersamaaan dengan kuda Ki Jagabaya yang berderap lari dan menyeret tubuh Kiai Teger diatas jalan, maka Dewi Cunchik memperdengarkan suara lengkingan nyaring yang mirip suara tawa tetapi juga suara ratapan. Dan tubuh wanita itu akhirnya berkelebat pergi untuk menjumpai Joko Bledug yang masih terikat didalam semak belukar.

Demikianlah liku-liku dan anehnya cinta yang tumbuh bertunas dihati manusia. Cinta itu suci apabila didalamnya tanpa terkandung rasa pamrih atau nafsu pribadi. Yaitu nafsu untuk mendapat kesenangan sendiri, kenikmatan sendiri dan nafsu untuk berbahagia sendiri.

Kebanyakan manusia awam mendengungkan kata cinta dalam pengertian ingin memiliki, memiliki sesuatu memiliki barang yang dicintai itu. Apabila seorang perjaka ingin memiliki seluruh milik kekasihnya maka ia akan berkata : “aku cinta padamu...” padahal sebenarnya hal itu lebih tepat dikatakan : “aku cinta diriku sendiri...”

Jenis cinta yang demikian adalah sebenarnya cuma nafsu belaka. Bila tidak sampai pada keinginannya menyalurkan nafsu dijalan yang dimaksud maka cintanya berubah jadi kebencian sebagaimana yang dimiliki Dewi Cundrik.

Betulkah wanita itu mencintai Kiai Teger? la mencelakakan laki-laki itu karena ia tidak berhasil memilikinya. Ia menangis dan bersedih kecewa dan mendendam, karena laki-laki itu tidak mau mengabulkan keinginan “cintanya” walaupun sejam! Jadi wanita itu menangisi dirinya sendiri, mengecewai dirinya sendiri ataukah menyedihi dirinya sendiri.

Begitulah, cinta yang memyembunyikan nafsu ingin memiliki sebenarnya adalah rasa cinta diri belaka! cinta kepada diri sendiri! Sebab einta yang sebenarnya adalah suatu hasrat yang suci yang menimbulkan keinginan untuk berkorban demi barang yang dicintainya itu.

Cinta seorang ibu kepada anaknya, adalah bentuk pengorbanan jasmani dan rohani seorang wanita yang diberikan kepada seorang manusia yang pernah dilahirkannya.

Cinta seorang partisan kepada bumi tanah airnya, adalah ujud pengorbanan seorang putra pertiwi yang berbentuk jiwa ataupun raga yang diserahkan untuk tanah airnya bila tanah air itu menderita “lara”. Cinta manusia kepada alam, adalah lukisan sebuah pengorbananan berbagai ragam bentuk, tenaga dan pikiran dan segala-galanya demi kesegaran alam ataupun keindahan alam yang abadi,  walaupun dia harus mengucurkan keringat darah.

Begitulah... cinta yang tulus dan suci dari seorang perjaka baru dapat dikatakan apabila seorang perjaka dengan tulus ikhlas membiarkan gadis yang dicintainya itu mencari jalan bahagia dengan caranya sendiri.

Bolehkah disebut cinta murni apabila si Dul menjadi gila karena mendengar Minah gadis yang dicintainya itu memilih kawin dengan juragan Anen yang kaya raya misalnya?

Baiklah, kita takkan menenggelamkan diri dalam pengertian cinta yang penuh liku-liku dan keganjil-ganjilannya. Kita kembali pada Joko Bledug yang kini berada dalam kempitan Dewi Cundrik dibawa menuju kearah Telagasona yaitu tempat tinggal Dewi Cundrik.

Sebenarnya saat ini Joko Bledug sudah tidak berada dalam pengaruh totokan sakti wanita itu. Akan tetapi si bocah belasan tahun itu tidak dapat menggerakkan badannya karena kempitan lengan Dewi Cundrik begitu kuat menjepit seperti jepitan tang baja saja.

Malam itu Dewi Cundrik berlarian tanpa berhenti, sambil kadang-kadang mulutnya memperdengarkan suara lengkingan-lengkingan nyaring yang memekakkan telinga.

Selama perjalanan itu sama sekali Dewi Cundrik tidak memberi kesempatan Joko Bledug untuk berbicara atau meluruskan punggung. Secara terus menerus berlari dan melompati kali-kali, mendaki bukit ataupun menerabas hutan.

Apabila tiba waktunya makan maka Dewi Cundrik menjejalkan makanan kemulut si bocah meminuminya sekaligus. Bila datang waktunya mandi maka Dewi Cundrik akan membenam- benamkan tubuh si bocah beberapa saat kedalam air sungai.

Bukan main tersiksanya Joko Bledug. Bocah itu bersedih hati bukan karena memikirkan pengalaman sedih bagi dirinya akan tetapi ia ingat pada perguruan, ingat pada ayah yang sangat dicintainya.

Akhirnya si bocah tak tahan untuk diam. Katanya :

“Dewi Cundrik! Kau kemanakan pusaka tongkat pancaloka kami? Dan dimanakah ayahku

sekarang?

Dewi Cundrik cuma mendengus belaka.

“Aku percaya kau bersama muridmu tentu sudah! dihajar sungsang sumbel oleh ayahku!” Si bocah terus berkata memancing-mancing. Namun Dewi Cundrik benar-benar tidak mau menggubris.

“Kemarin kudengar kau memaki ayahku. Padahal kalau sudah ketemu mustahil kau tidak tergila-gila pada ayahku yang masih tampan itu.. “

Kata-kata ini sebenarnya diucapkan oleh Joko Bledug dengan maksud mengejek dan memancing kemarahan Dewi Cundrik. Siapa duga begitu mendengar kata-kata si bocah tiba-tiba Dewi Cundrik memperdengarkan suara terisak.

“Nah kau menangis karena ayahku tentu tak sudi melihat mukamu yang buruk seperti setan

itu!”

“Diam!” Bentak Dewi Cundrik dengan suara mengguntur. Sementara itu, tangannya yang

menjepit pinggang si bocah dikeraskan sehingga si bocah merasa seakan pinggangnya mau patah.

“Dia tampan memang tapi pengecut. Pengecut sialan! Pengecut berhati busuk!”

“Siapa berhati busuk? Siapa pengecut? Kau yang busuk, kau yang pengecut, beraninya mengganggu anak kecil sererti aku! Joko Bledug girang sekali bila ternyata ia telah berhasil membuat Dewi Cundrik mau bicara. Setidak-tidaknya ia ingin memancing berita mengenai nasib ayahnya. “Teger jahanam pengecut? Biar dia mati. Biar dia mampus...”

“Bagaimana ayahku?”

“Dia harus mampus!” “Mengapa ayahku harus mati?”

“Pengecut harus dihukum mati! Dia telah membuat hatiku keracunan cinta. Setelah sekarang sekian tahun lamanya aku merindu, dia masih tetap secara pengecut menghindari tanggung jawab!”

Joko Bledug tidak begitu paham mengerti artinya cinta maupun tanggung jawab. Akan tetapi samar-samar, bocah yang berotak cerdik itu dapat meraba bahwa wanita itu tentu mempunyai hubungan luar biasa dengan ayahnya. Terpikir hal yang demikian maka semakin bersemangatlah si bocah memancing berita.

“Tidak ada orang yang mampu menghukum mati. Dia terlalu bijaksana dan berbudi! Setiap

manusia mencintai dan menghormati, kecuali manusia busuk sepertimu!”

“Iya memang aku manusia busuk, kau mau apa? Kalau tidak masakah Teger jahanam itu menolak tanggung jawabnya? Biar dia merasakan betapa pedihnya dikamar siksa sebagaimana hatiku tersiksa oleh pedihnya cinta yang ditolak!”

Wah, wah, wah runyem. Makin didengarkan makin ruwet urusan. Si bocah tentu saja tidak pernah mengetahui ada hubungan bagaimana antara wanita itu dengan ayahnya, sebab ayahnya tidak pernah sekalipun menceritakan rahasia dirinya.

Tapi, sama-sama si bocah dapat menduga bahwa ayahnya tentu telah mengalami bencana.

Memikir hal yang demikian teriris rasanya hati si bocah, dan dengan suara serak ia menanya :

“Kau apakan ayahku?”

“Kuserahkan kekamar siksa! Biar dirasakan! Biar dirasakaaann!” Setelah menjerit demikian, maka Dewi Cundrik sungguh-sungguh menangis. Suara tangisnya nyaring dan lepas, seperti suara lengkingan seruling.

“Tetapi selanjutnya wanita itu sudah tak mau bicara lagi. Menangis dan menangis terus, Kalau si bocah mengajaknya bicara lagi, selekasnya wanita itu mengeraskan kempitannya dan si bocah harus tahan napas menekan rasa sakit.

Sore hari, pada hari yang ketiga mereka telah tiba dikaki gunung Slamet. Dan perjalanan kini mulai mendaki benar.

Jalan yang ditempuh hanyalah jalan setapak yang licin dan dipagari sebelah kanan kiri oleh hutan belantara. Joko Bledug berusaha untuk mengingat-ingat jalan yang ditempuhnya tadi, tetapi sia-sia. Agaknya Dewi Cundrik sengaja menerabas hutan belukar agar sulit dikenali jalan-jalan yang bekas dilaluinya.

Tepat ketika senjakala turun melingkupi bumi maka mereka telah tiba pada sebuah lereng gunung yang sempit. Jalanan berbatu dan mendaki seperti batang pohon. Kanan kiri, merupakan dinding gunung terdiri dari batu-batu cadas yang keras. Dengan berloncat-loncatan akhirnya Dewi Cundrik dapat juga sampai keatas.

Persis pada pertengahan jalan mendaki itu, jalan itu putus sama sekali, karena adanya sebidang telaga yang airnya hitam berminyak menyeramkan.

Si bocah memandang keliling. Dalam hatinya mengalah. Apabila telah melewati telaga, agaknya orang tak mungkin dapat keluar lagi, sebab dinding kanan kiri sangat terjal dan berbatu- batu karang, sedangkan telaga itu agaknya ada apa-apanya.

Persis si bocah tiba pada dugaan yang demikian maka Dewi Cundrik telah berhenti berlari, lalu berkata : “Lihatlah itu, telaga pacet istana Telagasona! Sebenarnya aku ingin sekali melihat kau dikerubut pacet (lintah) hingga mati karena kehabisan darah. Percuma saja kau dibiarkan tambah  gede, sebab tak urungan juga akan mati kupelintir lehermu!”

Joko Bledug memandang kedepan. Bergidik ia, ketika ternyata bahwa yang tadi kelihatan berwarna hitam berminyak itu kiranya adalah tubuh lintah yang bergerak-gerak menjijikkan. Begitu padat dan banyaknya lintah hitam itu terapung diatas air, sehingga seluruh permukaan air seakan tertutup sama sekali.

“Maukah kau mati dikoroyok lintah?”

Kalau ditanya begitu tentu saja tak seorangpun yang mau mati dengan cara yang sangat mengerikan itu. Melihat tubuh lintah yang berdempet-dempet itu saja, rasanya sudah mengkirik bulu kuduk, apa lagi digigiti oleh mereka.

“Hai kau dengar? Maukah kau mati dikeroyok lintah?” Seru Dewi Cundrik mengulangi

pertanyaannya.

“Kalau mau mudah saja aku akan menceburkan dirimu kedalam telaga itu, dan dalam tempo

kurang dari lima menit tentu bangkaimu akan terapung dan hitam seperti lintah itu!” “Kalau tidak mau?”

“Kalau tidak mau, kau harus menerima syaratku!”

“Katakanlah syaratmu Dewi?” Dalam hati si bocah mengharap mudah-mudahan syarat wanita itu tidak ada hubungannya dengan lintah-lintah yang mengerikan itu.

“Syaratnya, kau harus mengawini diriku...”

Bukan main terkejutnya si bocah. Memang harapannya terkabul tidak dijerumuskan kedalam telaga lintah akan tetapi mengawini wanita setan itu? Pernah terlintas sekalipun tidak, pikiran gendeng semacam itu pada benak si bocah. Sedang melihat mukanya saja sudah jijik seperti melihat lintah-lintah itu ba gaimana ia harus mengawini?”

“Gila! Kau perempuan gila! Aku tidak mau!” Jawab si bocah dengan suara teriakan yang gemetar.

“Bagus! Kaupun memilih mampus seperti bangsat Teger! Boleh kau merasakan betapa nikmatnya nanti digigiti oleh lintah yang kelaparan itu!”

Kalau dikatakan lintah kelaparan itu memang benar. Binatang-binatang itu selamanya jarang mencium bau darah manusia, kecuali Dewi Cundrik satu-satunya orang yang pernah menyebrangi telaga itu. Sebab begitu ada dua orang manusia ditepi telaga seketika binatang-binatang itu menggeliatkan badannya yang kempes sambil mengangkat-angkat kepalanya ketengah udara seperti kuda kehausan.

“Bagaimana?” Tanya Dewi Cundrik menyeringai.

Tergetar tubuh si bocah  menghadapi pergolakan bathin. Mungkinkah ia harus menerima kehinaan mengawini wanita setan itu, wanita yang telah mencelakai ayahnya? Apa itu kawin? Mengerti duduknya urusan juga tidak. Maka si bocah lantas mengeraskan hatinya dan menjawab :

“Tidak sudi...!”

“Bagus !” Dan Dewi Cundrik menurunkan tubuh si bocah dari kempitannya setelah sebelumnya menotok si bocah lebih dulu.

Joko Bledug didekatkan ketepi telaga. Dan ampun hampir saja si bocah menjerit saking ngerinya. Lintah-lintah itu berloncatan ke udara sampai terdengar suara berdesis-desis. Betapa garang dan buasnya mereka, Joko Bledug melihatnya. “Hanya dengan sekali lempar maka kau akan melolong-lolong seperti orang mati dipicis.

Setelah itu daging tubuhmu akan tercecer-cecer dijarah rayah oleh binatang-binatang itu” 

Betapapun gagahnya semangat si bocah, dia adalah seorang bocah. Dan menghadapi bahaya kematian yang sangat mengerikan itu seketika tumbuh rasa sedih dan takutnya. Diluar sadar mulutnya mengeluh.

“Ya Allah! Maut macam apa ini?” Dewi Cundrik tertawa cekikikan. “Takut?”

Seumur hidup Joko Bledug tidak pernah kata takut. Ayah angkatnya selalu mendengungkan kata-kata “takut karena salah, berani karena benar”. Dan kini si bocah sadar bahwa ia tidak melakukan kesalahan mengapa harus takut.

Maka pertanyaan wanita itu sesungguhnya hanyalah mengorbankan semangat kejantanan bocah itu belaka. Seketika Joko Bledug menjawab mantap.

“Tidak! Tidak takut! Daripada mengawini wanita iblis sepertimu, lebih baik mati, dengan cara apagun.”

“Besar mulut! Biarlah kulihat bagaimana kau melolong-lolong minta ampun!”

Sehabis berkata begitu Dewi Cundrik lantas melepaskan tali pinggangnya dan mengikatkannya ketubuh si bocah. Setelah itu diputar-putarnya tubuh si bocah dulu diudara seperti kitiran.

Joko Bledug mengeraskan hatinya. Bayangan ayah angkat yang sangat dicintainya muncul dimata seakan mengulang-ngulang nasihatnya. Berani karena benar, takut karena salah!

“Aku tidak takuttt !” Pekik si bocah seraya meramkan mata.

“Masih ada kesempatan untuk memilih. ”

“Tidak sudii...! Tidak sudii...!” Sesungguhnya si bocah telah bertekad bulat pasrah jiwa raganya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Byuuurrr! Cuma sekali tubuh si bocah disambarkan kepermukaan air. Tetapi jumlahnya lintah yang melekat ditubuhnya tidak akan kurang dari seratus ekor lintah yang kontan menggigiti kulit daging bocah itu dengan sangat rakusnya.

Joko Bledug telah bulat-bulat pasrah diri pada nasib. Seluruh indera ditubuhnya dipadamkan dan hanya satu keheningan cipta yang dicari yaitu mencari sinar penuh kasih sayang sejati yang dapas dinikmati dengan nuraninya.

Dalam heningnya sang cipta itu dalam hati yang tulus ikhlas itu maka Joko Bledug seakan melihat kehadiran gurunya yang tersenyum simpul sambil berseru-seru : “Anakku yang baik! Anakku yang soleh! Orang yang berbudi adalah kesayangan Tuhan. ”

Dan benar-benar Joko Bledug tidak merasakan sakitnya gigitan lintah-lintah buas itu yang mengakibatkan kulitnya luka-luka dan mengucurkan darah. Bahkan yang terasa olehnya adalah samar-samar seperti tangan ayahnya yang penuh kasih sayang itu sedang mengusap-usapi lengan dan kakinya.

“Bocah celaka! Sekecil ini sudah sejahanam ayah angkatnya si Teger bangsat itu! Kepala

batu! Sombong! Sialan!”

Seraya mencaci maki kalang kabut seperti itu Dewi Cundrik menggerakkan tangannya mengusap tubuh si bocah. Seketika sekalian lintah yang sedang rakus-rakusnya itu berpelantingan jatuh dan mati kontan! Setumpukan lintah berkulit warna hitam merah berserakan ditanah. Lalu... crat! Crat! Crat! Beberapa kali wanita itu menggerakkan kakinya maka sekalian lintah itu telah hancur lebur. 

Joko Bledug masih pingsan, berada dalam pondongan wanita itu. Dan kini Dewi Cundrik menyingsingkan letak kainnya sehingga betisnya yang memang putih berkilau itu tampak bersinar- sinar.

Dari dalam bajunya Dewi Cundrik mengeluarkan sebuah bungkusan kecil yang berisi bubuk warna kuning. Bubuk itu lantas diurapkan pada kakinya. Barulah setelah itu Dewi Cundrik melompat kedepan sambil tak lupa memperdengarkan suara lengkingannya yang meratap-ratap.

Apabila lompatan-lompatan Dewi Cundrik diperhatikan maka akan terlihatlah bahwa semua gerakannya itu seakan-akan sudah diatur. Dua kali wanita itu melompat kedepan sejauh dua langkah kemudian melompat kekiri dua langkah juga, lalu kekanan. Begitulah kedepan, kekiri dan kekanan, lompatan-lompatan wa nita itu menurutkan cara yang tersendiri.

Pantaslah apabila jarang sekali ada orang yang mampu menyeberangi telaga itu. Sebab telaga itu sebenarnya sangatlah dalam. Pada tempat-tempat tertentu tampak ujung batu yang berwarna hitam sama dengan warna lintah itu sehingga kalau orang tidak seksama memperhatikan tak mungkin ia akan dapat melihatnya.

Batu-batu tersebut memang Dewi Cundrik yang meletakkan dan menyusunnya secara rahasia.

Maka kiranya hanya wanita itu sajalah yang akan mampu menyeberangi dengan selamat.

Beberapa saat kemudian Dewi Cundrik telah keluar dari telaga pacet itu untuk kemudian berlari cepat menuju kearah sebuah mulut guha.

Mulut guha itu kecil saja, hanya berukuran lima langkah penuh dengan tumbuhan merambat yang menutupi sehingga orang sulit untuk menemukan tempat itu, karena hampir sama dengan tempat-tempat disekitarnya.

Begitu menyingkap tumbuh-tumbuhan merambat itu. Dewi Cundrik terus menerobos masuk kedalam suatu ruangan yang kiranya adalah sebuah Istana dibawah tanah, yang diterangi dengan bokor? berisi nyala api.

Lantai guha (Istana) itu terbuat dari batu pualam yang halus berkilauan. Dinding guha juga terbuat dari batu pualam yang diukir-ukir mirip bangunan yang indah milik keluarga raja-raja.

Lantai ruang itu luasnya kira-kira hampir ada setengah Bouw, yang terbagi-bagi dalam beberapa ruangan kecil atau sekat. Ruangan kecil itu ada berpintu juga dan agaknya terkunci rapat. Rupanya tidak hanya satu orang saja penghuni istana dalam guha itu.

Obor-obor yang menyala pada bokor-bokor kuningan itu memantulkan cahaya kemerahan yang selalu bergerak-gerak, sehingga menyebabkan setiap bayangan dapat bergerak menakutkan.

Sunyi dan hening sekali, menyeramkan istana itu! Walaupun terbangun dari bahan yang serba indah mengagumkan seperti itu, toh tidak melukiskan keindahan, bahkan sebaliknya yaitu menyeramkan.

Joko Bledug telah dimasukan kedalam sebuah ruangan kecil yang pintunya lantas dikunci dari luar. Setelah itu barulah Dewi Cundrik meninggalkan tempat itu untuk berjalan lesu menuju kebelakang.

Entah berapa lamanya si bocah berada dalam keadaan pingsan, si bocah sendiri tidak dapat menerkanya. Ia terjaga ketika kemudian terasa olehnya seluruh tubuhnya sangat panas, kepala seperti mekar hendak meledak, dan seluruh tulang-tulang tubuhnya retak-retak.

Joko Bledug mencoba untuk menyadari diri. Diperhatikannya keadaan sekelilingnya, maka terlihatlah olehnya bahwa ia berada dalam sebuah kamar yang sempit berukuran duakali satu meter yang berlantai dari tanah yang selalu lembab! Perlahan-lahan si bocah mulai dapat mengingat-ingat seluruh peristiwa yang telah menimpa dirinya. Dan seketika ia bergidik ngeri setelah terpikir olehnya bahwa ia tentu berada dalam  tawanan wanita setan yang kejam itu.

Belum lama ia menderita dikeroyok oleh lintah-lintah, ia berharap akan mati. Kiranya tidak! Nyatanya Joko Bledug sadar bahwa ia masih hidup. Hukuman apa lagi yang bakal diterimanya bila wanita setan itu datang memaksanya lagi.

Tetapi Joko Bledug bocah gemblengan itu tetap bertekad bulat untuk tetap melindungi nama baik perguruan BlimbingwuIuh dan nama baik ayah angkatnya.

Joko Bledug mencoba untuk bergerak. Ia terheran-heran ketika menyadari bahwa seluruh tangan dan kakinya bahkan seluruh anggota tubuhnya dapat digerakkan bebas. Hanya ada gangguan rasa panas dan sakit saja, itu tidak penting.

Segera timbulnya keinginan si bocah untuk melarikan diri. Teringat olehnya bahwa ayahnya tentu sedang menghadapi ancaman hukum siksa. Entah hukuman siksa dimana saja tapi si bocah harus dapat memberikan pertolongan. Setidak-tidaknya dapat melaporkan bahwa pusaka pancaloka jimat perguruan telah dicuri oleh seorang wanita yarg bernama Dewi Cundrik bersama muridnya.

Tetapi baru saja si bocah sedang meneliti keadaan dan kemungkinan sekelilingnya, terdengar olehnya suara kunci dibuka dan pintu ruangan itu segera menjeblak bersama munculnya Dewi Cundrik diambang pintu.

“Sudah kau temukan jalan untuk melarikan diri?” Tanya Dewi Cundrik sambil tertawa mengejek. “Apalah artinya... Joko Bledug bila aku membiarkan kau meninggalkan tempat ini? Kemana kau hendak lari? Kedepan sana? Disana menunggu lintah-lintah kelaparan yang tak terbilang banyaknya. Ketimur? Disitu terdapat dinding gunung yang menjulang tinggi dan terjal. Setiap orang yang mencoba mendaki tebing itu selalu akan menjumpai kematian dengan tubuh hancur dirobek-robek karang. Atau barangkali keselatan, mendaki punggung istanaku ini? Kesana kau akan tejebak ke dalam kawah gunung yang panasnya menandingi api neraka. Barangkali kebarat?” Wanita itu tertawa.

Lalu lanjutnya :

“Kearah barat memang lereng agak mudah didaki. Akan tetapi kau akan terjurumus kedalam jurang yang dalamnya sama dengan tebalnya bumi ini. Semua jalan buntung kesana, berakhir dengan mulut jurang, bahkan disitu diam seorang raksasa yang..... sudahlah. Barangkali kau mengira mengomong bohong, lihatlah kubuka pintu ini untukmu!

Joko Bledug menatap wanita itu, seakan mencari jawaban atas pertanyaan yang timbul dihatinya, ya itu benarkah tak ada jalan keluar?

Wanita itu justru seorang wanita setan yang tak mungkin dapat dibaca air mukanya kecuali melukiskan kekejaman dan keseraman.

“Apakah tubuhmu terasa sakit-sakit dan panas?” Tanya Dewi Cundrik selanjutnya.

Joko Bledug tidak bermaksud menunjukan kelemahan banthinnya akan tetapi ia mengangguk.

“Lapar?” Tanya wanita itu Iagi.

Tentu saja. kata Joko Bledug dalam hati. Dapatlah dibayangkan betapa perih dan keroncongnya perut si bocah bila dalam beberapa hari terakhir ini ia hanya memakan apa-apa yang dijejalkan sesuap oleh Dewi Cundrik.

Dewi Cundrik telah berlalu pergi dan benar-benar ia tidak mengunci pintu kamar. Joko Bledug tidak mau gegabah. la meragu, siapa tahu ada jebakan lain. Kalau tidak mustahil wanita itu akan begitu berbaik hati!

Tidak lama si bocah memikir-mikir, maka Dewi Cundrik telah memasuki kamar itu, sambil membawa masakan yang masih mengepulkan asap. Bau gurih sedap memenuhi ruangan. Dan si bocah merasa perutnya tambah keroncongan.

Begitu dihidangkan, maka masakan yang serba hangat itu langsung dilahap oleh si bocah. 

Dewi Cundrik menemani makan dengan cermat. Menyiapkan ikan dan sayurnya menyendokan nasi ke piring si bocah dan lain sebagainya seperti lagaknya seorang istri yang setia!

Ketika perutnya sudah agak kenyang barulah si bocah tersadar dan bertanya kaget :

“Masakan ini serba merah, daging apakah ini?”

Dewi Cundrik tersenyum. Maksudnya tersenyum mesra barangkali tetapi yang tampak bahkan lebih menjijikkan.

“Itulah yang disebut sayur rumput merah rendang lintah merah dan panggang sate ular merah!

Semuanya serba merah, tetapi nikmat to?”

Tersedak rasanya Joko Bledug. Seluruh makanan yang telah masuk kedalam perutnya tiba- tiba meronta mencari jalan keluar. Akan tetapi Dewi Cundrik cepat menggerakkan tangan mengusap leher bocah itu. Rasa mual dan mau muntah segera berhenti dan makanan-makanan dalam perut itu masih tetap bergolak.

“Sayang kalau makanan istimewa itu kau muntahkan! Masakan itu kecuali berkhasiat untuk menyehatkan badan dan menambah darah juga menambah tenaga untuk. hihihik!” Dan wanita itu

tertawa memuakkan.

“Kau telah meracuni aku!” Bentak Joko Bledug.

“Gampang, kalau sudah mati baru boleh kau mendamperatku? Tapi kalau tidak, bahkan nyaman rasa tubuhmu, aku menagih uang jasa...” Dan wanita setan itu bangkit berdiri untuk mengemasi piring dan mangkuk bekas makan.

Dewi Cundrik telah meninggalkan kamar itu Joko Bledug duduk diam, mengasah otak maksudnya. Akan tetapi segera ia diserang oleh rasa kantuk. Rupanya karena kekenyangan makan, atau memang ada sebab lain yang telah termakan bersama masakan itu. Nyonya si bocah begitu menguap langsung tubuhnya menggeletak dan pulas.

X

X X

KITA tinggalkan Joko Bledug yang sedang terpulas tidur karena kekenyangan akibat pengaruh masakan serba merah itu.

Kini kita menengok pada perjalanan Ki Ageng Tampar Angin alias Kiai Teger yang menjadi tawanan kademangan Ampelgading, dan kini digiring kekadipaten Pemalang.

Kiai Teger berada dalam kerangkeng besi yang di tarik oleh sepasang kuda, dijaga oleh Jagabaya Karangsari sendiri, tiga orang bekas benggolan maling Gering Blanggur, Rasman Teglong dan Geweng, serta beberapa pemuda lain yang bersenjata lengkap.

Ketika hari mulai malam, maka iring-iringan itu telah memasuki kebulak yaitu pesawahan yang sangat luas. Semuanya tak ada yang membuka suara kecuali tinggal suara derap kaki kuda yang sangat riuh dibarengi gaduhnya roda kereta yang mengangkut tawanan itu. 

Dalam keadaan biasa, tertu Kiai Teger dapat merusakkan kerangkeng besi yang mengurungnya itu. Akan tetapi dalam keadaan setengah Iumpuh seperti sekarang, dimana racun jarum yang ditusukan ambles oleh Dewi Cundrik mulai mengamuk. Kiai Teger tak dapat berbuat apa-apa. Dalam hati guru yang tawakal itu hanya berdo'a, agar Tuhan menurunkan pengadilan buat Umat-Nya.

Sedang dalam do'a Kiai Teger yang lemah berbisik itu tiba-tiba dari bawah kereta kerangkeng itu tampak ada sesuatu yang bergerak. Selanjutnya, secara cepat terdengar suara kusir kereta yang terpekik seperti orang dicekik kemudian tubuhnya terkulai kebawah ambruk kelantai kereta. 

Dan dari bawah kolong kereta itu melompat keluar dua orang pemuda yang langsung menguasai les kereta.

Semua kejadian itu berlangsung sangat cepat akan tetapi tidak luput dari penglihatan Jagabaya Karangsari yang merasa sangat bertanggung jawab atas keselamatan rombongan itu!

“Bajingan! Siapa kau!” Bentak Jagabaya seraya mengeprak kudanya, menerjang maju.

Kedua pemuda yang baru merampas kendali kereta itu mempercepat lari kuda, mengedut kendali keras-keras sehingga sepasang kuda yang menghela kereta itu melompat panjang kedepan dan berlari dengan sangat kencangnya.

“Kejar! Tangkap! Tangkap maling-maling ituuu! Seru Ki Jagabaya sekali lagi. Maka sekalian pengawal lantas mengeprak kudanya mengejar.

Semakin riuh rendah suara derap kaki kuda dan gemeritnya roda kereta. Debu mengepul sangat tinggi memenuhi udara dan agaknya kedua pemuda yang merampas kereta itu tergolong ahli sebab kereta itu dapat berlari sangat cepat, mengimbangi kuda-kuda yang memburunya.

Ki Jagabaya berteriak-teriak setengah gila dan kalap :

“Kejar! Tangkap! Basmi maling-maling itu!”.

Rupanya dua orang yang melarikan kereta tawanan itupun tergolong orang yang pandai menjadi kusir. Walaupun kereta seakan terbang, terbanting-banting sepanjang jalanan berbatu, tetapi kedua kuda yang menghela kereta dapat dikuasai dengan baik. Bahkan kini tampak mereka mulai memperbesar jarak dengan para pengejarnya.

“Bajingan!” Seru Ki Jagabaya dengan kalap. “Panah kudanya.”

Bersamaan dengan seruannya itu maka Ki Jagabaya dan ketiga bekas raja begal itu telah menyambar panah dari punggungnya, mementangkan sekaligus, seketika terdengar suara menjeperet nyaring.

Anak panah berdesingan diudara. Kereta tampak berlari sengaja membelak-belok, sebentar menepi kekiri sebentar kekanan. Akan tetapi karena jumlah panah yang dilepaskan semakin banyak terdengarlah suara kuda meringkik, menyusul kereta tampak berhenti dengan mendadak.

Kedua kusir kereta berloncatan turun. Siap dengan senjata masing-masing yaitu sebatang tongkat yang disebut tongkat ‘kuro-isin’. Tongkat itu terbuat dari baja, panjangnya hanya dua jengkal yang tajam runcing pada kedua ujungnya.

“Sawung dan kau Galing. Mengapa kalian mengurusi aku sedangkan bencana yang lebih

besar agaknya akan menimpa perguruan kita ”

Kedua kusir itu berlutut sambil menjawab terhiba-hiba :

“Guru... Di perguruan masih ada kakang Tugeni dan kakang Suro. Kami ditugaskan kemari atas perintah kakang murid kepala untuk mengadakan penyelidikan. Setelah kami melihat guru dalam keadaan demikian bagaimana kami murid dapat tinggal diam. Guru, harap maafkan murid yang tak becus ini  ”

Kedua kusir itu adalah sepasarg pemuda kembar yang bentuk dan roman mukanya sangat mirip. Mereka adalah Sawung dan Galing murid Kiai Teger yang telah diutus oleh Tugeni untuk mencari berita mengenai keadaan guru mereka.

Terdengar Kiai Teger menggerutu agaknya kurang senang.

“Setelah kau bersumpah untuk takluk dan mengangkat guru kepadaku apakah patut kalian menyangkal perintahku?” “Guru...” kedua pemuda itu membungkukkan badan. Tubuhnya gemetar ketakutan.

“Ya. Kalian memang bukan murid yang penurut! Keadaanku sudah tidak ubahnya orarg mati

belaka. Kalau kalian dapat menyelamatkan diriku apalah artinya sedangkan racun “pacet wulung” sudah demikian hebat menggerogoti tubuhku ini adalah ujian terakhir bagimu? Cepat kalian kembali selamatkan perguruan Blimbingwuluh...”

Kedua murid itu tampak seperti sangat terkejut. Dengan ketakutan keduanya lantas menyembah setelah itu keduanya berlompatan lari sambil berteriak-teriak seperti orang gila.

“Guruuu...!” Apalah artinya perguruan kami selamatkan kalau kau sendiri dalam keadaan demikian. Hai orang-orang Ampelgading! Rasakan pembalasanku!” Dan kedua murid itu bukannya berlari pulang, akan tetapi menyambut para pengejar yang saat itu telah menerjang tiba!

Ki Jagabaya Karangsari, Gering Blanggur, Rasman Teglong dan Geweng maupun seluruh pengawal yang lain segera mengurung kedua pemuda Sawung dan Galing itu.