Alap-Alap Gunung Gajah Jilid 01

Jilid I

DALAM musim paceklik seperti ini tidaklah mengherankan apabila terdengar berita disana sini tentang pencurian, perampokan ataupun perampasan. Ada saja orang yang malas bekerja. segan mencari nafkah dijalan kebenaran lalu mengambil jalan cepat untuk memperoleh banyak harta dan kekayaan dengan jalan dursila semacam ini.

Akan tetapi berita pencurian di kademangan Ampelgading lain daripada yang lain. Pak Kerto dari dusun Kemuning menemukan kambingnya memekik-mekik semalam suntuk, kiranya binatang itu telah hilang sebelah kakinya. Pak Supari penduduk dukuh Dronjong sejak pagi bersedih hati karena sapi jantan yang biasa dipergunakan menarik bajak, pagi itu kedapatan monggelotak akibat daging pinggulnya belah selebar topi. Ada pula yang lebih menggelikan tetapi juga menjengkelkan adalah berita yang datang dari dusun Kepuh.

Beberapa orang dalam waktu semalam, telah kehilangan alat kelamin binatang piaraannya. Adapula pemilik ternak ayam yang tiba-tiba harus memotong seluruh piaraannya itu, karena seluruh ayam miliknya hilang sebelah sayapnya masing-masing.

Nyata sekali bahwa durjana atau maling yang melakukan penganiayaan terhadap binatang- binatang seperti itu bukankah maling yang sewajarnya. Tetapi mengandung sikap yang kejam, dan terlalu memandang remeh terhadap para petugas keamanan kampung.

Hal ini semuanya telah didengar oleh Demang Ampelgading yang segera memerintahkan kepada para bekel (lurah) agar memperketat dan mempergiat adanya ronda malam. Termasuk juga melepaskan beberapa petugas sandi untuk melakukan penangkapan terhadap maling yang kurang ajar dan sombong itu.

“Ini adalah suatu kejahatan ganda? Demikianlah kata Demang Ampelgading dengan muka bersungguh-sungguh didepan suatu rapat selapanan (tiap  hari sekali) dikelurahan Kemuning. “Yaitu mencuri, menyiksa dan menghina! Kita masih bisa mengerti apabila maling itu mencuri seekor kambing, atau sepuluh ekor kerbau sekalipun.

Akan tetapi kalau hanya sebelah kaki kambing, atau hanya alat kelamin kerbau, ataupun sayap ayam hidup, itulah keterlaluan! Jagabaya dan para bebahu! Kalian harus tingkatkan keamanan dusun, pertinggi kewaspadaan. Setiap orang yang mencurigakan atau yang bisa dicurigai, segera tangkap dan bawa mereka kembali!”

Kumpulan-kumpulan pamong semacam itu telah berulang-ulang kali diadakan. Dan petugas ronda malam dipergiat dan diperbesar jumlahnya, akan tetapi pencuri sombong itu masih belum dapat mereka temukan. Bahkan pencurian yang aneh dan menusuk perasaan itu semakin mengganas.

Beberapa orang yang bila dicurigai diantaranya adalah para bekas maling ataupun orang- orang yang diduga masih melakukan perbuatan durjana itu telah beberapa orang dijebloskan dalam tahanan kademangan. Seperti Gering Blanggur dari Sepait. Rasman Teglong dari Pagergunung, dan Geweng dari dukuh Pucung, semuanya telah hampir sebulan dirantai dikamar tahanan. Sekian lamanya para benggolan maling itu menderita siksaan akan tetapi maling sombong yang mereka maksudkan tidak juga ditemukan jejaknya! Berita terakhir sejak diringkusnya ketiga benggolan maling itu, lebih-lebih menusuk perasaan terutama bagi para petugas keamanan isteri Jagabaya Karangsari Nyi Tratih, kedapatan pingsan  dikamarnya dalam keadaan pakaian yang awut-awutan dan payudaranya berlamuran darah akibat gigitan!

“Aku bersumpah didepan Ki Demang dan didepan saudara-saudara semua.” Begitu seru Jagabaya Karangsari dengan suara setengah meratap. “Bahwa sejak hari ini aku takkan menggauli isteriku, atau perempuan yang manapun, sebelum aku dapat membekuk batang leher maling keparat itu?”

Memang Nyi Tratih, isteri Jagabaya Karagsari itu adalah wanita tercantik diseluruh kademangan Ampelgading. Bahkan isteri Demang sendiri, Nyai Kuncorowati masih kalah menarik bila dibanding dengan isteri Jagabaya itu.

Tidaklah mengherankan apabila Jagabaya Karangsari itu begitu dendamnya terhadap maling aguna yang dimaksud, sebab kecuali ia sangat menderita akibat penghinaan yang begitu menusuk perasaan, masih ditambahi dengan perubahan sikap isterinya yang ganjil sejak peristiwa aib itu.

Sejak peristiwa itu Nyi Tratih selalu merenung seorang diri. Melamun, bahkan kadang-kadang tersenyum simpul seorang diri. Apabila hal ini ditanyakan oleh Ki Jagabaya maka jawaban wanita itu lebih-lebih menikam perasaan. Ia tentu akan mengoceh tak keruan : “Ah, betapa tampannya engkau.. betapa menyenangkan engkau... tapi, mengapa kau gigit payudaraku mengapa? Aduuuh. “

Sepekan sejak kejadian itu, Ki Jagabaya Karangsari menghilang dari rumahnya. Ada seorang peronda yang pernah melihat kepergian Jagabaya, melapor bahwa Ki Jagabaya pergi pada hari Anggara Kasih (Selasa Kliwon) dini hari, dengan menunggang si Demung.

Beberapa hari setelah itu, kademangan Ampelgading dikejutkan lagi oleh suatu kejadian yang lebih-lebih mengherankan. Ki Jagabaya Karangsari telah kembali ke kademangan sambil menyeret seorang laki-laki dibelakang kudanya disepanjang jalan!

Laki-laki yang diseret dibelakang kuda itu kira-kira sebaya dengan Ki Jagabaya sendiri, kira- kira empatpuluh tahun usianya. Wajahnya tampan dan kelimis, tetapi kotor akibat debu-debu jalanan pakaiannya awut-awutan dan robak-robek disana sini.

Sambil membalapkan kudanya, Ki Jagabaya berseru sepanjang jalan dengan suaranya yang parau. “Maling keparat. Inilah maling adiguna! Kita sempal kakinya. Kita robek pinggulnya. Kita beset sayap dan alat kelaminnya! Saudara-saudara. Hai orang kampung! Inilah maling keparat itu!

Tak ampun lagi, penduduk satu kademangan seakan-akan berubah menjadi lautan banjir berduyun mendatangi kantor kademangan. Sebagian penduduk merasa kegirangan hati karena dendamnya akan segera terbayar lunas. Sebagian lagi hanya ingin melihat seperti apa tampangnya maling yang kurang ajar itu! Tetapi sebagian lagi, ada pula yang bertanya-tanya dalam hati : “Mungkinkah begitu mudah dan cepat Ki Jagabaya dapat meringkus si maling aguna itu?”.

Memang Ki Jagabaya Karangsari tergolong orang yang memiliki kepandaian, ilmu, dan banyak disegani orang. Akan tetapi... apabila orang telah melihat siapa adanya orang yang diseret dibelakang kuda itu orang akan lebih tidak percaya, dan bertanya-tanya.

Hampir setiap orang yang tinggal di kademangan Ampelgading mengenal siapa adanya “maling aguna” yang berwajah tampan kelimis itu. Dia adalah Kiai Teger atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Tampar Angin, guru mengaji dan guru perkumpulan silat Blimbingwuluh.

Ki Ageng Tampar Angin dikenal orang sebagai seorang bekas perwira Mataram yang pernah membantu Untung Suropati dalam pertempuran melawan tentara kompeni yang dipimpin oleh Kapiten Tack.

Sejak Untung Suropati menyingkir ketimur, maka Ki Ageng Tampar Angin lantas pulang kampung, hidup sebagai penyiar agama yang baik yang memiliki murid tidak sedikit. Kecuali itu, juga Kiai Teger atau Ki Ageng Tampar Angin ini mendirikan perkumpulan silat yang di sebut sebagai perkumpulan “Suci hati” yang banyak pengikutnya hingga ke lain  kademangan. Jadi kecuali sebagai penyiar agama, Kiai Teger juga bertindak sebagai seorang pengajar ilmu kanuragan, kaprawiran maupun kecantikan lainnya. Sehingga apabila orang

mengingat ini semua tidaklah mustahil apabila orang kurang mempercayai kemampuan Ki Jagabaya Karangsari.

“Mustahillah bila dikatakan bahwa Ki Jagabaya Karangsari dapat merangket Kiai Teger begitu saja tanpa adanya latar belakang yang tersembunyi...” demikianlah pikir Demang Ampelgading ketika menyambut kedatangan Ki Jagabaya.

Tetapi Ki Jagabaya yang telah dimabuk dendam kesumat itu tidak dapat membaca pikiran orang, sambil langsung menjebloskan Kiai Teger kedalam tahanan kademangan, Ki Jagabaya berseru dengan suara lantang :

“Ki Demang! Bajingan hina ini adalah musuh Ampelgading! Dia harus diadili oleh kita dan

dirampungi oleh kita sendiri!”.

Di pendopo kademangan telah berkumpul sekian banyak para sesepuh, para pemuda bahkan juga tidak sedikit wanita-wanita yang ingin melihat maling aguna yang telah membuat geger seisi kademangan juga yang telah merusak pager ayu, memperkosa Nyi Tratih, isteri Jagabaya Karangsari.

Ki Demang Ampelgading gelisah ditempat duduknya. Berkali-kali ia memandang kian kemari sambil mendesis-desis seperti orang kepedasan. Berkali-kali pamong tua itu memandang kearah para Bebahu, seakan minta bantuan pikiran, akan tetapi para Bebahu itupun agaknya tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Apabila Ki Demang memandang kearah para sesepuh kademangan segera terlihat olehnya. Kiai Kenis Kenistan suami isteri yang berdiri acuh tak acuh di pojokan seakan-akan kedatangan mereka ketempat itu hanya untuk menonton sesuatu yang tidak menarik saja.

Terlihat pula oleh Ki Demang Mbah (kakek) Pucung, seorang sesepuh dari perguruan Pucung, seorang kakek yang sangat dihormati dan disegani hampir oleh seluruh penduduk kademangan. Akan tetapi orang tua itupun terlalu asyik dengan pekerjaannya mengurut-urut dagunya yang kempot dan nyaprut. Kakek itu hanya berdiri menyandar pada sebuah tepi pendopo, sambil sesekali memperlihatkan senyumnya yang lucu. Ketika suatu saat tertatap oleh kakek ini pandangan Ki Demang yang seakan minta pertimbangan maka kakek itu hanya manggut-manggutkan kepalanya sambil tersenyum lebar penuh pengertian.

Baru saja Ki Demang bermaksud memperpanjang pertemuan pandang dengan sesepuh dari Pucung itu tiba-tiba terdengar suara gemerincingnya rantai besi yang terseret, berbareng bentakan- bentakan Ki Jagabaya Karangsari yang lantang dan nyaring.

Tak lama kemudian, para pengunjung pendopo kademangan menyibak, memberi jalan kepada Ki Jagabaya yang sedang menyeret tawanan, dan menggusurnya kelantai pendopo.

Dalam hal kedudukan, tentu saja Ki Demang Ampelgading adalah atasan dari Jagabaya. Akan tetapi demang ini dikenal orang sebagai seorang pamong yang penyabar, pendiam dan lemah lembut berlawanan dengan sikap Jagabaya yang kasar dan ganas, sesuai dengan bentuk orangnya yang kekar dan menyeramkan.

“Ki Demang!” Seru Jagabaya seraya menatap ke arah tawanan dengan sinar mata penuh kebencian. “Mumpung disini sedang berkumpul sekalian penduduk kademangan agar dapat disaksikan oleh mereka segera putuskan hukuman siksa macam apakah yang harus dijatuhkan terhadap penjahat hina dina ini!”.

Untuk sejenak, suasana pendopo itu jadi sunyi. Akan tetapi setelah itu, meletuslah bisik-bisik, kasak-kusuk kegaduhan, yang agaknya ditimbulkan oleh orang-orang yang masih meragukan kebenaran kata-kata Ki Jagabaya. Apabila dihitung-hitung banyaknya orang yang mengenal Kiai Teger atau Ki Ageng Tampar Angin itu, jagabaya mereka. Hampir setiap orang, besar kecil, tua muda, lelaki dan perempuan  mengenal benar, siapa adanya guru Blimbingwuluh yang ramah dan santun itu. Dan tidak sedikit diantara para pengunjung itu yang pernah berhutang budi kebaikan dari guru tersebut terutama

mereka yang pernah menderita sakit campak yang pernah melanda kademangan itu.

Kecuali sebagai guru mengaji dan guru silat, Kiai Teger adalah seorang tabib sakti yang pemurah. Tidak sedikit korban-korban wabah yang tertolong jiwanya oleh kemanjuran obat guru ini. Sehingga akhir-akhir ini, orang menganggap Kiai Teger sebagai seorang budiman nomor satu yang belum ada duanya diseluruh kademangan. Bagaimana mungkin sampai terjadi keanehan hebat seperti ini? Kiai Teger, atau Ki Ageng Tampar Angin guru dan tabib sakti dari Blimbingwuluh diringkus sebagai seorang maling aguna maling keji yang menggegerkan kademangan?

“Tunggu dulu, Ki Jagabaya! Apakah kau tidak melakukan kekeliruan! Bukankah dia ini Kiai Teger dari Blimbingwuluh?” kata Ki Demang dengan suara masih tergetar.

Mendengar teguran yang mengandung sikap meragukan akan kemampuannya, maka Ki Jagabaya tersinggung hebat. la menghapus bibirnya yang kering sambut mengkerutkan kening.

“Apakah Ki Demang hendak melindungi anjing keji ini? Dia jelas seorang guru murtad,

maling rendah! Tukang ngrusak pager ayu! Kalau Ki Demang hendak membela berarti...”

“Nanti dulu, Ki Jagabaya.” Ki Demang memotong dengan nada kurang senang. “Bagaimana kau dapat berkata begitu? Aku seorang demang dan kau seorang jagabaya mana boleh bertindak menurutkan hawa nafsu belaka? Terhadap maling keji yang merusak ketentraman kademangan, mengganggu kehormatan penduduk, tentu kita akan menjatuhkan hukuman berat. Akan tetapi kita adalah pamong! Pamong berarti pengasuh dan pendidik! Mana boleh kita bertindak tanpa pertimbangan akal pikiran dan keadilan yang sejalan dengan kebenaran? Menghukum orang tentu tahu kesalahannya. Dan untuk tahu kesalahan orang tentu diperlukan bukti! Nah! agaknya sejak tadi kau lupa bahwa kau belum menunjukkan kepada kami bukti kesalahan tawanan itu!”

“Bukti?” Ki Jagabaya mendengus dan tergagap sejenak! Bibirnya yang kering tambah mengering, dan dendam yang berkobar dalam dadanya membuat wajah laki-laki ini menjadi kaku dan menghitam. Agaknya kemarahannya yang belum tersalur itu menyebabkan dia berani menatap Ki Demang dengan terbelalak seakan-akan protes terhadap teguran Ki Demang yang teratur dan menatap itu.

“Ya, bukti! Bukti itu perlu. Jawaban!” Sambung Ki Demang dengan suara datar seakan-akan ia dapat menanggapi arti pandangan mata bawahannya itu. “Supaya kita puas! Agar penduduk kademangan yang merasa telah dirugikan oleh maling itu dapat berlega hati Kiai Teger!” Panggil

Ki Demang kepada tawanan.

Kiai Teger yang terikat kaki dan tangannya dengan rantai besi yang besar dan kokoh itu, sedikit mengangkat muka. Dengan pandang mata yang kosong, tidak melukiskan suatu perasaan apapun memandang kearah Ki Demang sejenak, kemudian menunduk lagi.

“Coba kata sejujurnya. Kiai, kau adalah seorang penganjur agama! Tentunya mengerti artinya

dusta dan kebenaran! Katakanlah, mengapa sampai terjadi begini?”

Suasana menjadi sangat hening. Setiap telinga penduduk terpasang lebar, seakan menanti bagaimana Kiai itu akan mengucapkan kata-kata pembelaan untuk dirinya.

Tidak semua orang beranggapan bahwa Kiai Teger tidak bersalah. Diantaranya juga ada pula orang-orang yang telah dirugikan oleh perbuatan si maling aguna ingin segera melihat dendam kemarahannya terlampiaskan. Siapapun maling jahanam itu, bila sudah ada orang yang telah tertawan begini rupa, mengapa tidak harus segera menyiksanya? Begitulah pikir mereka.

Kiai Teger masih belum mamperdengarkan jawaban tubuhnya yang tegap dan gagah itu duduk menunduk dengan sikap penuh hormat dan tazim. Terlukis benar betapa mengertinya ia akan peradatan, tetapi juga melukiskan keangkuhan seorang laki-laki yang berjiwa gagah. Walaupun tampak sebelah kiri tubuhnya seakan lumpuh, akan tetapi nyata benar bahwa guru sakti itu memiliki keteguhan jelas dari kulit tubuhnya yang sama sekali tidak lecet-lecet, sedangkan ia telah menderita digusur sepanjang jalan. Sesungguhnya dengan sikapnya yang  gagah tetapi  penuh hormat  itu,  banyak menimbulkan kekaguman orang.

“Mohon dimaaf Ki Demang. Aku sendiri tidak mengerti mengapa Ki Jagabaya memperlakukan diriku demikian rupa ”, hanya demikianlah jawab Kiai Teger pada akhirnya.

“Ki Demang!” Ki Jagabaya Karangsari menyelak bicara...“ Tadi Ki Demang menghendaki bukti! Nah, bukti itu aku katakan sekarang! Hendaknya ketahuilah hai seluruh penduduk Ampelgading, bahwa Nyi Tratih isteriku dulu adalah bekas murid mengaji guru cabul ini. Sejak semula jahanam hina ini telah tergila-gila pada Nyi Tratih isteriku! Ketika isteriku yang pertama meninggal dunia dan aku mengambil Nyi Tratih menjadi isteri maka guru jahanam ini telah mendendam! Sehingga terakhir dengan menyombongkan sedikit lepusnya, bajingan hina dina ini memaksa... kian lama suara Ki Jagabaya semakin serak, hingga akhirnya ia tak dapat menyelesaikan kalimatnya karena ia harus terbatuk-batuk, dan bertahak.

Ki Demang menatap tajam kearah tawanan. Juga sekalian mata pengunjung tertuju kearah Kiai itu untuk melihat perubahan muka macam apa yang akan terjadi pada tawanan itu setelah dirinya ditelanjangi rahasianya didepan umum seperti itu.

Akan tetapi setiap orang segera akan kecelik! Kiai Teger tersenyum damai. Sedikitpun tidak terlukis suatu kejutan pada air mukanya!

Setelah menghela napas, Ki Demang berkata :

“Yang kau jelaskan itupun belum dapat disebut sebagai bukti, Ki Jagabaya! Baru berbentuk

tuduhan!

Dan tuduhan yang didasari oleh rasa cemburu pribadi bagaimana boleh dianggap sebagai

bukti?”

“Buktinya jelas Ki Demang!” Sela Ki Jagabaya cepat-cepat dengan napas memburu. “Kerbau yang hilang kakinya! Kambing yang hilang moncongnya! Dan ayam yang hilang sayapnya itu semua bukti-bukti! Dan bukti yang terakhir dikamar tidurku!”

“Ah. ” Ki Demang Ampelgading mengeluh.

“Tampaknya Ki Demang hendak membelanya...” Gerutu Ki Jagabaya dengan muka yang

gelap guram.

Karena suara gerutu itu tampaknya sengaja diucapkan agak keras maka jelas terdengar oleh Ki Demang. Dan orang tua itu tampak terkejut lalu terbelalak ke arah Jagabaya.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk yang sangat nyaring. Bahkan agaknya sengaja disuarakan oleh seseorang yang berilmu tinggi sehingga suara batuk itu sangat nyaring, mirip suara benturan senjata tajam.

Ketika Ki Demang menoleh kearah datangnya suara batuk itu maka segera terlihat olehnya Mbah Pucung sedang asyik mencabuti jenggotnya dengan sepasang uang gobangan tembaga.

“Jangan membikin kabur persoalan Jagabaya! Aku tiada hubungan apa-apa dengan tawanan ini. Kau harus segera menarik tuduhanmu! Coba. Mbah Pucung aku meminta sedikit bantuan pikiranmu orang tua! Juga kalian Kiai Kenistan suami isteri! Kemarahan penduduk Ampelgading ini agar jangan sampai terlampias menyeleweng dari salurannya “.

Mbah Pucung terbatuk-batuk lagi dan masih tetap asyik dengan sepasang duwit gobangannya. Sedangkan Kiai Kenistan suami isteri tampak menengadahkan muka sejenak tapi tidak melakukan sesuatu.

Tentang suami isteri dari dukuh Kenistan ini memang orangnya terkenal sangat angkuh dan sikapnya agung-agungan. Walaupun mereka bukan seorang berpangkat ataupun penggawa praja akan tetapi terhadap seorang demang saja sikapnya tidaklah terlalu hormat. Namun demikian Ki Demang menyadari begitupun para penduduk kademangan, bahwa orang-orang berilmu seperti suami isteri Kiai Kenistan itu ada saja sikapnya yang aneh-aneh dan juga kebanyakan tidak suka  mencampuri urusan orang.

Namun demikian karena mereka justru dipanggil oleh seorang demang tidak seyogyanya sepasang suami isteri itu bersikap begitu dingin dan angkuh. Itulah tidak sopan namanya! Kiai Kenistan adalah Kiai Kenistan dan hanya orang-orang yang belum mengenal sajalah yang akan tersinggung oleh sikap kedua guru itu.

Mbah Pucung yang orangnya selalu periang itu telah memperdengarkan suara tawanya yang terkekeh-kekeh kemudian berkata :

“Aku toh cuma seorang tua bangka tiada guna! Apalah yang dapat disumbangkan olehku, seorang tua tukang dawet (cendol) ini? Akan tetapi bila Ki Demang yang terhormat menghendaki sedikit pendapatku yang tidak becus ini, baiklah kukatakan. Sesungguhnya apa yang telah dikatakan dan dilakukan oleh Ki Demang adalah benar belaka. Ki Jagabaya belum memberikan bukti atas kesalahan orang...”

“Ki Demang apakah hari ini hari kumpulan? Tanya Ki Jagabaya tiba-tiba”. “O, iya bukan, Ki Jagabaya. Mengapa?”.

“Bukan waktunya untuk meminta pendapat pikiran orang luar! Soal kejahatan adalah urusan penggawa praja! Mengapa kita bertele-tele? Aku dapat bertindak membuka mulut guru cabul ini agar membuat pengakuan semestinya! Dimana ada maling yang mengaku sebelum digebuki? Dipaksa dulu barulah bukti-bukti itu datang dengan sendirinya!”.

“Tapi Mbah Pucung bukan orang luar...” keluh Ki Demang.

“Orang luar! Tepat! Orang luar tak berhak mencampuri urusan!” Tiba-tiba dari halaman kademangan terdengar suara sahutan yang sangat lantang dan berpengaruh.

Dan apabila sekalian pengunjung berpaling keluar mereka segera melihat seorang pemuda yang sedang mendatangi.

Pemuda itu mengenakan pakaian kebesaran seorang penggawa praja yang sangat mewah. Mengenakan blangkon wulung berbatik gambar naga kembar. Jas tutupnya, hitam berkilau terbuat dari beludru, dan kainnya parang rusak barong. Dipinggangnya terselip sebilah keris berpendok emas yang bertahtakan berlian dengan hulu keris dari kayu cendana hitam berbentuk membuka mulut. Pada ukir-ukiran hulu keris itupun tersalut emas dan beberapa butir berlian. Sekali pandang saja orang akan tahu bahwa pemuda itu tentulah seorang bangsawan kaya.

Tetapi bukan! Pemuda itu mempunyal bentuk muka dan tubuh yang mirip persis dengan Ki Jagabaya Karangsari seakan-akan bayangan Ki Jagabaya diwaktu mudanya saja! Dahinya yang lebar, matanya yang bundar besar dengan alis hitam lebat, serta hidung mulut dan kumisnya semuanya sama seperti apa melekat dimuka Ki Jagabaya. Apalagi bila melihat pada rahangnya persegi bertonjolan kaku itu, sungguh mengingatkan orang bagaimana keadaan Ki Jagabaya Karangsari diwaktu marah.

Semua orang segera mengenalnya. Penggawa muda itu adalah Joko Sulung, yang sekarang telah merubah namanya dengan sebutan Kebo Sulung. Dia adalah putra tunggal Ki Jagabaya dari isterinya yang terdahulu. Karena pemuda ini pernah membuat jasa, membunuh seorang benggolan penyamun kawakan. Kaki Gagak Rawe dari Bengkelung, maka ia telah diangkat menjadi seorang penggawa dikadipaten Pemalang, bahkan kini telah menjadi seorang kepercayaan adipati Pemalang itu sendiri.

Melihat datangnya penggawa atasan dari mereka, maka segera Ki Demang beserta sekalian bawahannya menyambut penuh hormat. Kecuali Ki Jagabaya yang mengikuti langkah Ki Demang menuju pintu dengan dada terangkat menyombong sekali seakan-akan ia hendak mengatakan bahwa penggawa terhormat itu adalah anaknya! Sejak kecil memang Joko Sulung atau Kebo Sulung sangat dimanja. Dan kemanjaannya itu, telah berkembang menjadi kesombongan dan tinggi hati, sejak ia menjadi orang kepercayaan  adipati.

Kebo Sulung memasuki pendopo kademangan dengan langkah yang diagung-agungkan, seakan-akan ia telah berubah menjadi pangeran. Dan tanpa mengacuhkan para penyambut yang menghormat, ia langsung mengambil tempat duduk sambil mulai berkata :

“Orang luar siapapun adanya, jangan mencampuri urusan praja! Kudengar sejak tadi, Ki Demang menghendaki bukti-bukti perbuatan maling keparat hina itu. Sejak dulu aku tak pernah gagal membekuk macamnya maling maupun benggolan penjahat. Nah, bukti itu ada padaku lihatlah kemari, semuanya!”

Seraya berkata demikian. Kebo Sulung merogoh kantong jasnya. Lalu, apabila tangannya ditarik kembali telah terpegang olehnya sebuah benda, yaitu sebatang rotan pendek berwarna coklat hitam berkilat yang pada sebelah ujungnya tampak dibanduli lima buak bola baja kecil berkilau- kilauan berupa sebuah keliningan.

Sekalian yang hadir seketika terbelalak kaget terutama adalah Kiai Teger sendiri sebab orang ini mengenal benar benda itu, yang tidak lain adalah benda pusaka kesayangannya sendiri.

“Pusaka tongkat pancaloka” ini kutemukan dikamar ibuku... eeh-eh, dikamar ibu ti-ti... tiriku!” Begitulah Kebo Sulung memperbaiki kata-katanya sendiri. Betulkah tongkat kecil macam ini yang namanya Tongkat pancaloka, Kiai Teger? sambung Kebo Sulung dengan senyum penuh ejekan.

Wajah Kiai Teger seketika jadi merah padam. Lalu dengan pandang mata penuh kemarahan ia berkata :

“Bagaimana pusakaku dapat berada ditangan orang... hemm?”

“Sudah kukatakan tadi bahwa benda ini kudapatkan dikamar ibuku, ee-eh ibu tiriku!” Sekali lagi ucapan Kebo Sulung tidak lampias setiap mengucapkan kata “ibu tiriku”. Beberapa orang tampak mengerutkan alis tidak terkecuali Ki Jagabaya Karangsari sendiri.

“Tidak mungkin!” Seru Kiai Teger dangaa suara lantang. “Tentu orang telah mencurinya dari perguruan kami dan sengaja menfitnah diriku! Tidak mungkin! Tidak! Tidak mungkin!” Dahi guru Blimbingwuluh itu berkeringat dan dia tampak sangat gelisah.

Kebo Sulung tertawa nyaring.

“Kau memutar balikkan kenyataan Kiai! Kau yang mencuri masuk kamar ibuku, eeeh ibu tiriku! Kau yang ketinggalan pusakanya dikamar itu tetapi aku seorang penggawa kadipaten yang kau curigai! Apakah seperti itu watak seorang guru, begitu plintat plintut, tak tahu malu dan tak bertanggung jawab? Katakan sajalah terus terang bahwa karena tergesa-gesa maka benda ini tertinggal dibawah jendela kamar ib...ibu...tiriku!” Kebo Sulung tertawa lagi penuh ejekan.

Krumpyaangg! Kiai Teger berusaha melompat berdiri sehingga rantai yang membelenggu kaki dan tangannya menimbulkan suara nyaring. Akan tetapi belum juga ia sempat berdiri tegak, tampak guru ini mengernyitkan kening penuh rasa sakit, untuk kemudian tubuhnya ambruk kembali. Hanya sepasang matanya yang berkobar-kobar dibakar kebencian dan kemarahan seakan- akan hendak menambus tubuh penggawa kadipaten yang masih muda itu.

Di saat itu, Kiai Teger melihat pandang Ki Demang yang mengandung teguran, maka ia merundukkan wajahnya sambil memperdengarkan kata-kata geram :

“Aneh sekali..... Orang yang mempunyai kamar tidak dapat menemukan benda itu dikamarnya sendiri, tetapi malahan anak tirinya ”.

Plak! Plak! Deesss! Ki Jagabaya telah melompat maju dan melancarkan beberapa kali pukulan keras kearah muka Kiai Teger. Kiai Teger mengernyitkan keningnya dengan wajah yang makin merah padam. Ki Jagabaya sendiri cepat-cepat menurunkan tangannya yang baru dipergunakan untuk memukul itu untuk kemudian mengebas-ngebaskannya karena seluruh tubuhnya seakan kesemutan. 

Akibat kejadian yang ganjil dan menggelikan itu, kiranya hanya orang-orang yang berilmu saja yang dapat mengetahuinya. Mbah Pucung memperdengarkan suara batuknya yang sangat nyaring lagi, sedangkan Kiai Kenistan bersama isterinya sudah tidak tampak lagi, entah sejak kapan mereka meninggalkan pendopo itu. Rupanya seluruh kejadian didalam pendopo kademangan itu dianggap hanya menyebalkan belaka dan tak ada harganya untuk dilihat maka tanpa dehem dan bersin mereka telah menyelinap pergi.

“Sudah jelas kesalahan dan dosamu! Mau bilang apalagi, kau guru cabul...?” Ejek Ki

Jagabaya.

“Kembalikan tongkatku! Dia milikku. ” Kiai Teger menggeram.

“Sudah sengaja ditinggal dikamar orang masakah hendak dijabel kembali?” Kebo Sulung

berkata penuh ejekan.

“Ki Demang! Aku mohon keadilan...! seru Kiai Teger. “Tentang kedosaanku aku tidak tahu apa, silahkan Ki Demang menjatuhkan hukuman atas diriku bila hal itu dianggap harus dilakukan! Tetapi tongkat itu adalah milikku! Penggawa muda itu telah mengambil milikku. !”.

Ki Demang menggeleng-gelengkan kepala tanpa sepatah kata.

Sementara itu Kebo Sulung telah mengeluarkan sebuah amplop dari dalam kantong jasnya. Lalu sambil berpaling bengis kearah Kiai Teger, penggawa kademangan itu memberikan amplop tersebut kearah Ki Demang.

“Tawanan hendak kuseret kekadipaten! Ki Demang harap menyiapkan beberapa orang pengawal!”

Ki Demang Ampelgading membuka isi amplop itu dengan tangan gemetar. Orang tua ini cukup maklum apalah artinya bila seseorang telah dijebloskan kedalam tahanan kadipaten. Rumah tahanan yang terdapat di Kebondalem adalah neraka dunia paling jahanam, jarang ada orang yang dapat bertahan hidup beberapa hari ditempat itu.

Dalam hati Ki Demang yang cerdik dan arif itu timbul pula suatu dugaan, bahwa telah terjadi suatu permainan celaka yang telah diperankan oleh orang tertentu dengan tujuan mencelakakan guru Blimbingwuluh itu. Akan tetapi dia tak berdaya. Seorang penggawa kadipaten telah menyerahkan surat titah adipati sendiri. Bagaimana seorang bawahan seperti dirinya dapat melakukan sesuatu?

Selesai membaca surat dalam amplop utusan kadipaten itu, maka dengan muka berkeringat Ki Demang menyuruh Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu untuk menyiapkan segala pelengkapan pengawalan tawanan kadipaten.

Kiai Teger masih juga bersikap gagah, walaupun ketika mendengar isi surat titah kadipaten itu agak tampak tergetar. Lalu dengan kata-kata yang lantang berwibawa, Kiai ini berkata :

“Ki Demang! Hidup manusia adalah ibarat sampan ditengah samudra raya. Sampan itulah hidup dan samudera raya itulah kodrat! Tidak banyak sampan yang dapat bertahan terhadap damparan gelombang samudera, akan tetapi bukanlah samudera semata-mata diciptakan Tuhan untuk memecahkan sampan belaka ”

Demikianlah Kiai Teger telah memperdengarkan ucapannya yang mengandung perbawa besar serta makna yang dalam membekas. Dengan sikapnya yang gagah dan angkuh itu sungguh mengingatkan orang pada nama Ki Ageng Tampar Angin, perwira Mataram yang namanya dikagumi dan sangat mashur, yang dapat mengimbangi kehebatan pasukan Kapiten Tack dari Batavia. Ki Demang tak berkata barang sepatah katapun. Ia mencoba mencari kalimat pada wajah Mbah Pucung akan tetapi orang tua kempot itu kini telah tak tampak lagi entah sejak kapan ia  meninggalkan tempat itu.

Dan pada ambang pintu senja hari itu tampaklah sebuah iring-iringan meninggalkan kademangan Ampelgading. Sebuah kereta kerangkeng besi yang dihela oleh dua ekor kuda, dikawal oleh beberapa orang berkuda yang sikapnya garang dan ganas. Itulah kereta tawanan ‘maling aguna’ dikawal Ki Jagabaya Karangsari, ditemani oleh ketiga bekas benggolan kenamaan yaitu Gering Blanggur, Rasman Teglong dan Geweng yang kini setelah maling aguna itu dapat ditemukan mereka lantas dibebaskan.

Kecuali pengawal-pengawal pilihan itu masih tampak pula mengiringi beberapa pemuda yang membawa senjata lengkap ditangan.

Derap kaki kuda dan keriut-meriut suara roda kereta terdengar membahana, memecah kesunyian baru yang ditimbulkan sejak telah berhasil dibekuknya maling aguna yang telah merusak ketentraman penduduk.

oooOooo

TIDAK SULIT untuk menemukan tempat perguruan Blimbingwuluh, karena letaknya yang ada diujung dusun berada pada sebuah dataran  kecil meninggi, pada  sebuah bukit kecil yang bentuknya mirip punuk (kelasa) sapi.

Bada malam hari markas perguruan itu tampak sebagai sebuah gumuk (bukit) hitam yang angker, yang diterangi dengan lentera-lentera kecil yang terdapat pada tiap-tiap pondok tempat para murid tinggal menuntut ilmu.

Juga pada tiap sudut pekarangan sepanjang batas pintu perguruan ini dipasang orang sebuah lampu gantung (sejenis tenglong) yang terbungkus kertas warna hijau hingga pada malam-malam yang sunyi, pekarangan perguruan itu tampak seakan-akan telah berubah menjadi sebuah padang hitam yang bertaburkan bintang-bintang warna-warni.

Keangkeran dan kesunyian perguruan itu akan lebih terasa bila terlihat adanya deretan pohon- pohon beringin jenggot yang rindang yang tertanam disepanjang tepi pekarangan. Sesungguhnya perguruan Blimbingwuluh lehih mirip dengan sebuah kuburan daripada sebuah dedukuh (dusun) perguruan.

Berita tentang dibawanya guru mereka kerumah tahanan kademangan Ampelgading diterima oleh para murid sebagai sebuah berita bencana yang sangat menusuk perasaan. Banyak para murid yang menangis tersedu-sedu karena duka memikirkan nasib buruk yang menimpa gurunya. Akan tetapi kebanyakan dari mereka menerima berita itu dengan api kemarahan yang berkobar karena berita duka itu bukanlah sekedar berita duka akan tetapi lebih tepat disebut sebagai penghinaan dan penganiayaan, dimana guru mereka di tuduh sebagai seorang maling hina dina yang suka nyolong kaki kambing dan menodai isteri orang!

Pada saat itu juga Tugeni murid kepala perguruan Blimbingwuluh telah mengirimkan dua orang adik seperguruannya untuk menyelidiki kebenaran berita itu sekaligus melakukan penyelidikan darimana asal datangnya fitnah yang sangat keji itu.

Hingga malam ini kedua murid yang dikirim Tugeni belum juga kembali. Tugeni bersama- sama para murid yang lain telah menjadi sangat gelisah menunggu-nunggu kepulangan kedua utusan itu. Dan mereka melakukan penantian dengan cara duduk-duduk diluar pondok, dibawah bayangan pohon-pohon beringin yang menghitam.

Sedang mereka diterkam dalam kelelahan dan kuatir, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara derap kaki kuda yang sangat riuh, diseling dengan suara cambuk yang meledak-ledak diudara. Nyata sekali bahwa suara rombongan berkuda itu sedang mendatangi perguruan Blimbingwuluh. Para murid perguruan jadi heran dan terkejut, menduga-duga siapa kiranya yang  sedang mendatangi itu.

Akan tetapi, mereka lebih dikejutkan lagi oleh munculnya seseorang yang dengan sangat tiba- tiba telah berada didepan pintu pekarangan perguruan, berjalan mengipas-ngipas sambil tertawa- tawa.

Terdengar hati Tugeni. Murid kepala itu cepat-cepat meloncat bangun dan berjalan memapaki tamu yang sangat mengejutkan itu.

Tamu itu adalah seorang pemuda bertubuh kekar, yang berdandan serba mewah dan sikapnya sangat angkuh sombong. Demi telah mengenal siapa adanya orang yang sedang menerobos masuk kedalam pekarangan perguruan itu mama Tugeni membungkukkan badan menyambut, sambil berkata :

“Ah, kiranya denmas Joko Sulung telah sudi mengunjungi perguruan kami.”

“Tidak salah Tugeni.” Jawab tamu itu, yang tidak lain memang Joko Sulung atau Kebo Sulung penggawa kadipaten yang masih muda itu. Sambil mengipas-ipas lehernya dengan kipas gading penggawa muda ini melanjutkan bicara dengan mulut menyungging senyum penuh ejekan. “Tentu kalian sudah mendengar berita tentang perbuatan guru kalian, bukan?”

Seketika merahlah wajah murid kepala itu. Untunglah keadaan malam yang serba suram itu, dapat melindungi perubahan wajahnya sehingga tamu itu tidak melihat perubahan air mukanya. Bahkan dengan sekuat-kuatnya Tugeni berusaha menekan rasa tersinggung dan mendongkol yang ditimbulkan oleh sikap tamunya itu. Tugeni insyaf bahwa tamunya adalah seorang yang terhormat, yang kecuali mempunyai kedudukan yang tinggi juga terkenal sebagai seorang tokoh yang di takuti.

“Aku tidak melihat adi Joko Bledug, dimana dia?” Tanya Joko Sulung pula.

Mendengar pertanyaan yang sangat tiba-tiba itu, seketika Tugeni terkejut. Joko Bledug adalah putera angkat Kiai Teger yang diberi kepercayaan oleh ayah angkatnya itu untuk menjaga kamar pusaka, yaitu tempat penyimpanan pusaka perguruan!

Sejak hari kemarin Joko Bledug belum pulang dari menggembala. Hal itu tidak menimbulkan kecurigaan pada diri para murid Blimbingwuluh sebab memang Joko Bledug sering tidak pulang kerumah, perlu untuk berlatih diri dan memperdalam ilmu. Dan hal ini dianggap oleh para murid Blimbingwuluh sebagai suatu kebetulan sebab mereka kuatir bila Joko Bledug mendengar berita tentang musibah yang menimpa ayahnya mungkin akan menyebabkan bocah itu mengamuk kalap ke kademangan.

Para murid tahu betapa kasih dan sayangnya guru mereka terhadap putra angkatnya itu dan betapa patuh dan bhaktinya bocah itu terhadap ayah angkatnya. Siapa berani tanggung bahwa bocah itu tidak akan nekad menyerbu ke kademangan Ampelgading.

Sedang berita tentang ditangkapnya guru mereka saat ini barulah pada soal tuduhan belaka. Sebentar lagi guru mereka tentu akan dibebaskan sebab orang yang jujur tak bersalah tak mungkin dihukum, begitulah pendapat para murid itu. Andai kata secara tiba-tiba Joko Bledug membuat onar di kademangan bukankah itu hanya akan menambah ruwetnya persoalan belaka? Apalagi hingga saat ini kedua murid utusan yang dikirim ke kademangan belum kembali sehingga belum dapat diambil tegas sikap yang bagaimana yang harus mereka lakukan.

Dengan pertimbangan yang demikianlah maka Tugeni dan para murid lain sengaja tidak mencari Joko Bledug dan menyampaikan berita malapetaka yang menghinakan itu.

Dan sungguh tak terlukis betapa kagetnya Tugeni serta teman-temannya bila melihat Kebo Sulung tertawa terbahak-bahak seraya dari dalam balik bajunya tamu itu mengeluarkan sebuah benda yang langsung diperlihatkan kepada mereka.

“Lihatlah benda apakah ini?”. Benda itu adalah sebatang rotan berwarna coklat kehitaman yang berukuran pendek kira-kira

satu setengah jengkal dimana pada sebelah ujungnya terdapat lima buah bandul kecil yang terbuat 

dari baja putih berkilat yang serupa dengan kliningan. Tentu saja benda itu sangat dikenal oleh para murid Blimbingwuluh sebab tidak lain dan tidak bukan adalah pusaka perguruan itu sendiri.

“Bagaimana.. benda pusaka itu... bisa berada ditanganmu?” Bentak Tugeni seraya melangkah maju dengan wajah berubah-ubah sebentar pucat sebentar merah. “Kiai pancaloka... Kiai pancaloka...“. Tugeni setengah meratap. “Adi Suro! Suro!” Serunya kemudian, memanggil- manggiI. “Cobalah kau lihat barangkali adi Joko Bledug ada dikamarnya?”.

Yang dipanggil sebagai Suro itu buru-buru berlari kearah sebuah pondok yang paling besar yang berada pada sebelah selatan pekarangan pondok itu adalah sebuah bangunan menyendiri, tempat Kiai Teger tinggal dan juga tempat kamar pusaka berada.

Tetapi Kebo Sulung telah berseru mencegah : “Tak perlu! Tak perlu! Joko Bledug takkan ada

dikamar jimat! Sebab dia yarg telah menjual benda ini kepadaku. Dia pergi sejak kemarin hahaha...”

“Suro cepat!” Tugeni mengulangi perintahnya, ketika terlihat olehnya Suro ragu-ragu waktu mendengar ucapan tamu itu. Dan Suro cepat-cepat berlalu melanjutkan larinya.

Kemarahan telah membakar Tugeni hingga merah keleher-lehernya. Lalu sambil melangkah maju setindak, murid kepala itu berkata tegas.

“Apakah kedatangan denmas Joko Sulung ini cuma sekedar bermaksud hendak menghina kami, perguruan Blimbingwuluh? Adi Joko Bledug adalah putera guruku, dan sahabat kami, tidak mungkin berbuat sehina itu!”

Joko Sulung atau Kebo Sulung hanya mengangkat pundak sambil tersenyum mengejek.

“Terserah. Cobalah kau tanyakan kepada Suro, ada tidakkah Joko Bledug dikamar jimat? Heheh. ”

Pada saat itu Suro telah keluar dari pondok tempat kamar jimat, dan sedang berjalan cepat menghampiri. Melihat wajah Suro yang pucat pias, maka dapatlah diterka apa yang telah terjadi.

“Mana dia. Suro?” Tegur Tugeni dengan suara tergetar. “Tidak ada kang ?” Suro hampir menangis.

“Haaaa... haaaa...” Kebo Sulung tertawa dengan nada sengaja dibikin menjengek, hingga terdengar sangat menusuk telinga. “Masakah kau tidak mempercayai mulutku penggawa kadipaten. Tugeni!”

Memang Joko Bledug mempunyai kebiasaan pula yang lain, yaitu menyembunyikan diri dikamar jimat selama berhari-hari. Tadi Tugeni menyuruh Suro untuk melihat kekamar jimat sebelumnya juga sudah tahu bahwa sejak kemarin Joko Bledug belum pulang. Perintahnya itu, sesungguhnya hanyalah sekedar harapan tipis belaka yang ternyata itupun hanya sia-sia saja.

Menghadapi kenyataan yang demikian bukan main sakitnya hati Tugeni terpukul oleh kejadian mengejutkan dan menyakitkan itu. Sehingga dalam luapan kemarahannya itu, murid kepala ini lantas memperdengarkan suara gemeluk giginya yang beradu kemudian melompat garang kehadapan tamunya seraya bentaknya.

“Manusia sombong! Kembalikan pusaka perguruan kami!” “Aku beli mana boleh dijabel begitu saja?” Jengek Kebo Sulung.

“Bohong! Mustahil!” Tugeni bertambah gusar dan penasaran. “Mustahil adi Joko Bledug menjual pusaka itu! Tentu kau telah mencurinya dari kamar pusaka!”

“Tutup mulutmu bocah kotor!” Kebo Sulung balas membentak. “Kau ini mahluk macam apa berani bersikap kasar terhadapku? Kalau kau mau bilang ada maling, gurumu itulah maling kotor maling hina dina, maling cabul!” Ubun-ubun Tugeni sampai tergetar karena menahan hawa amarah yang meluap dari dadanya.

Tangannya gemetar kumitir ingin menghantan. Akan tetapi ia insyaf dengan siapa ia berhadapan.  Melawan seorang penggawa kadipaten tidak hanya mengakibatkan dirinya dijebloskan kedalam kamar siksa tetapi bahkan mungkin seluruh perguruan Blimbingwuluh akan di hancurkannya.

Dalam keadaan menekan luapan amarah itulah maka Tugeni berkata tergagap-gagap :

“Tidak perduli beli atau mencuri! Yang jelas pusaka perguruan kami adalah hak kami! So...sosoal... adi Joko Bledug...menmenjual kepadamu itu.. adalah urusan nanti apabila guru sudah...pulang...”

“Gurumu pulang?” Kebo Sulung tertawa. “Mungkin gurumu sudah pulang ke rachmatullah!” “Tutup mulutmu!” Tugeni sudah tak dapat mengendalikan hawa amarah. Orang yang paling

dihormati olehnya adalah gurunya. Kini orang yang paling dikagumi itu dihina orang didepan

matanya! Bagaimana ia dapat menahan sabarnya?. “Ayo cepat kembalikan pusaka kami!”

“Kau berani melawan aku Kebo Sulung? Hei... Tugeni! Aku Kebo Sulung yang pernah membunuh Kaki Gagak Rawe bebenggolannya para bajingan, kau berani melawanku? Berapa jumlah kalian semua?”.

“Tidak perduli!”

“Bagus! Kau lawan dulu anak buahku!” Seru Kebo Sulung seraya melambaikan tangannya kebelakang. Seketika dari balik bayangan pohon beringin berlompatan keluar beberapa penunggang kuda yang sikapnya garang dan buas.

Jumlah penunggang kuda itu tidak kurang dari lima belas orang. Dengan senjata terhunus ditangan mereka menyerbu kearah pintu gerbang dan mendobraknya dengan kasar.

“Kau sanggup menghadapi anak murid Gunung Kelir?” Ejek Kebo Sulung seraya melangkah kesamping memberi jalan kepada para penunggang kuda itu.

“Tunggu!” Teriak Tugeni dengan gusar penasaran.

“Kami tiada sangkut paut apapun dengan perguruan Gunung Kelir! Apakah kalian hendak lancang tangan mencampuri urusan kami?”.

Gunung Kelir adalah sebuah gunung kecil atau tepatnya disebut sebagai gunung anakan yang ada didaerah Boja, sebelah barat Semarang. Di daerah itu memang telah sejak lama berdiri satu perguruan yang didirikan oleh seorang bekas benggolan bandit yang bernama Toh Kecubung. Tetapi perguruan ini selamanya menutup diri dari pergaulan ramai, sehingga namanya jarang dikenal orang.

Seruan Tugeni yang lantang berkumandang itu sejenak membuat para murid Gunung Kelir. Namun sejenak kemudian mereka telah memperdengarkan suara tertawanya yang sombong dan serentak mereka berlompatan turun dari kudanya untuk mengurung Tugeni.

Demikian pula para anak murid Blimbingwuluh juga telah bersiap sedia. Mereka tinggal menunggu komando Tugeni belaka. Rupanya aturan perguruan yang keras telah membuat mereka sangat patuh maka walaupun hati mereka telah muak melihat tingkah laku para pendatang yang menyebalkan itu mereka tetap diam ditempatnya.

“Kami tiada permusuhan dengan perguruan Blimbingwuluh! Akan tetapi kami menghendaki ikat kepala ‘gluduk pitu’ (tujuh geledek) milik gurumu! Kalau kami  menghendaki siapa akan menghalangi?” Seorang diantara para murid perguruan Gunung Kelir itu yang agaknya adalah kepala rombongan, menjawab dengan nada yang sangat angkuh.

“Bagus! Kalian juga tidak lain para pegundal rampok juga! Kami para murid Blimbingwuluh juga tahu siapa adanya. Toh Kecubung guru kalian itu” Tugeni bertambah geram. Dalam hati ia menduga, bahwa maksud perampokan sekalian pendatang ini, kiranya sudah mereka perhitungkan sebelumnya. Mereka datang mengacau justeru pada waktu guru dan Joko Bledug tidak dirumah. “Anak kecil besar mulut. Kalau kalian cepat menyerahkan benda yang kukehendaki itu sekarang, biarlah kami berlalu sekarang.. hahaha...” Kepala rombongan murid Gunung Kelir itu  menyambung bicaranya.

“Manusia-manusia rendah sombong! Selagi guru dan adi Joko Bledug tidak dirumah kalian

datang menyerbu kemari. Tapi jangan harap kami akan membiarkan kalian mengacau disini?”

“Banyak mulut... Serbuuuu!” Berbareng dengan seruannya itu maka Kebo Sulung telah menerjang kedepan melancarkan tendangan kearah Tugeni, yang segera diikuti oleh serbuan anak murid Gunung Kelit terhadap para murid Blimbingwuluh.

Tugeni melihat walaupun sekalian murid Gunung Kelir itu tampangnya ganas dan menyeramkan namun ia tahu bahwa para adik seperguruannya akan mampu melawan. Terpikir demikian maka agak tenang juga hati murid kepala ini. la cukup tinggal menghadapi seorang Kebo Sulung saja. Walaupun lawan terkenal sangat tangguh dan berilmu tinggi. Tugeni masih boleh berharap akan dapat menahan serangan mereka.

Segera terdengar bentrokan senjata. Terjangan para anak murid Gunung Kelir disambut oleh parlawanan murid-murid Blimbingwuluh dengan gigih, terutama sekali adalah Suro yang merupakan orang kedua sesudah Tugeni, gerak-geriknya sangat tangkas, langkah dan serangannya mantap.

Tugeni yang melihat serangan pertama dari Kebo Sulung tidak bertindak ceroboh. la tahu bahwa tendangan itu hanyalah sekedar pancingan maka ia hanya sedikit menggeser letak kuda- kudanya, bersamaan dengan itu serangan Kebo Sulung yang sesungguhnya telah meluncur datang yaitu sebuah hantaman kilat menyambar kearah kempungan.

Ilmu silat “Suci Hati dari perguruan Blimbingwuluh pada dasarnya mengutamakan kecepatan gerak, dimana kelambatan sedikit pada pihak lawan selalu akan dimanfaatkan dengan sebaik- baiknya. Hal inilah yang Kebo Sulung tidak mengetahuinya.

Pada detik Kebo Sulung melancarkan pukulan justru Tugeni telah mendahului merapatkan tubuh kedepan dan secara beruntun melancarkan dua kali pukulan kilat kearah pusar lawan.

Walaupun Kebo Sulung bisa terbang sekalipun ibaratnya tak mungkin ia dapat merghindarkan serangan balasan Tugeni. Kebo Sulung masih sempat membuang diri sambil menjerit kaget tetapi tak urung pinggul kirinya terserempet pukulan dan penggawa kadipaten itu terpelanting jatuh.

Dalam segebrakan Kebo Sulung hampir dapat dibikin kecundang. Hal itu sesungguhnya disebabkan karena ia terlalu memandang rendah pada lawan. Dan kini penggawa muda itu telah melompat berdiri dengan cepat, matanya beringas, bengis memandang kearah lawan.

“Bagus! Kutubusuk kecil sepertimu berani melawan aku Raden Mas Kebo Sulung! Jangan harap aku akan mengampunimu... Awas!”

Dan Kebo Sulung menerkam lagi dengan ganasnya. Perang tanding kedua pemuda segera berlangsung sangat sengit. Kalau Kebo Sulung yang berperawakan tegap kekar itu berlompatan garang seperti harimau maka Tugeni yang berperawakan tinggi kurus itu berlompatan kian kemari atau berloncatan lincah seakan burung camar yang menyambar buih laut.

Di lain pihak pertarungan antara lima belas murid Gunung Kelir melawan anak murid Blimbingwuluh telah menjatuhkan korban. Kepala rombongan murid Gunung Kelir yang orangnya tinggi besar keliwat ukuran, dikerubuti oleh tiga anak murid Blimbingwuluh tetapi tampaknya dedengkot Gunung KeIir itu terlalu tangguh untuk murid Blimbingwuluh yang masih kurang pengalaman itu. Kemana saja orang tinggi besar itu mengayunkan senjata penggadanya yang sangat besar selalu disusul oleh suara pekik dan jerit kesakitan dari anak murid Blimbingwuluh.

Melihat hal yang demikian, maka Suro jadi gelisah. Sementara ini walaupun dirinya dikerubut dua orang masih dapat memberikan perlawanan dengan baik.

Dengan mengempos semangatnya maka Suro cepat-cepat melolos senjatanya yang berupa sebuah ikat pinggang yang disebut “sabuk nogorojo”. Ikat pinggang ini terbuat dari kulit badak yang sangat ulat sekali dengan timang yang terbuat dari baja putih berkilau yang berbentuk gigi runcing dan tajam. Begitu digerakkan seketika terdengar bunyi gemerincing seperti naga runting  menyebrangi bengawan. Sinar kemilau berkilatan. Seketika kedua lawannya memperdengarkan jeri ngeri tahu-tahu tubuhnya terjengkang roboh dengan muka masing-masing hancur tak berbentuk

alias dedel duwel!

Murid Ki Ageng Tampar Angin atau Kiai Teger dari Blimbingwuluh ini ada tiga orang yang boleh digolongkan sebagai murid pilihan. Pertama adalah anak angkat guru itu sendiri Joko Bledug. Kedua Tugeni si murid kepala dan ketiga adalah Suro pemilik sabuk nogorojo itu.

Dalam menurunkan ilmu-ilmunya Kiai Teger tidak pilih kasih, akan tetapi masing-masing murid diberi pelajaran yang berbeda-beda yang agaknya disesuaikan dengan bakat masing-masing.

Sebagai Joko Bledug yang berperawakan kurus gagah dan bersifat lemah lembut, Kiai Teger lebih mengutamakan pelajaran ilmu bathin yang didahulukan untuk anak itu. Walaupun tidak berarti bahwa Joko Bledug tidak diajari ilmu silat tetapi sesungguhnya bocah belasan tahun usia itu memiliki bakat alam bathiniah yang sangat kuat, kecerdasan yang luar biasa. Sehingga dalam hal pengisian kekayaan bathin yang berujud ilmu kesaktian Joko Bledug seakan-akan mampu mengejar-ngejar kemampuan gurunya atau ayah angkatnya tersebut.

Tugeni, lain pula halnya. Pemuda dua puluh tiga tahun usia ini berperawakan tinggi kurus, tampaknya seperti orang penyakitan. Tapi berkat pendidikan yang keras dan disiplin para murid Blimbingwuluh itu semuanya boleh dikata memiliki keberanian yang luar biasa. Tetapi, lebih luar biasa lagi adalah Tugeni.

Tugeni ini tergolong seorang pemuda yang agak berangasan. Keberaniannya sudah diukur. Apalagi kalau dilihat dari pancaran matanya yang cemerlang dan tajam seakan sembilu menyayat, pemuda ini seolah-olah seperti pemuda yang bengis. Tetapi sebenarnya tidak. Para murid Blimbingwuluh selalu dijejali ajaran belas asih sesamanya. Saling hormat dan menghargai.

Dan agaknya Kiai Teger yang berpandangan luas itu melihat bakat si pemuda yang seakan ingin bergerak tidak mau diam itu. ltulah sebabnya maka Tugeni lebih menonjol dalam ilmu gerak kilat. Ilmu meringankan badan murid ini telah cukup tinggi. Dan dibanding dengan Kebo Sulung, walaupun lawannya itu memiliki kesaktian yang sudah termashur tetapi dalam hal kegesitan dan kelincahan, Tugeni boleh tidak usah cemas.

Lain kali dengan Suro si murid yang menduduki urutan nomor tiga. Karena pemuda duapuluh tahun ini berperawakan pendek tegap dan berotot-otot, maka kepadanya telah diturunkan ilmu kuda-kuda yang sempurna apabila pemuda ini telah siap berdiri, agaknya seekor kuda belum tentu sanggup menggoyahkan tubuh pemuda ini.

Karena bentuk tubuhnya yang pendek itu, maka Kiai Teger telah melengkapi kelemahan muridnya ini dengan memberikan sebuah senjata yang panjang yaitu sabuk nogorojo tersebut.

Begitu pula Tugeni telah pula dihadiahi sebuah senjata andalannya yaitu sepasang tongkat pendek yang disebut ‘Sepasang paku redi’.

Hanya kepada Joko Bledug, tidak diberikan sanjata karena bocah itu adalah murid yang termuda yang usianya masih dibawah lima belas tahun. Lagi pula selama ini Joko Bledug lebih diutamakan melatih diri dengan ilmu pukulan tangan kosong!

Begitulah, ketika mendengar pekik kematian kedua kawannya maka kepala murid Gunung Kelir itu menjadi sangat gusar. Serta merta diputarnya penggada bajanya keras-keras, sambil membentak-bentak. Dan ketika pengeroyoknya mundur terdesa murid tinggi besar itu telah menerjang kearah Suro.

Bukankah kau Suro anak pengemis dari Kesesi itu? Bentaknya dengan suara menggereng.

“Ya, aku Suro anak pengemis dari Kesesi! Setelih mendengar namaku kenapa tidak kau lari.

Toh Badur? maling pitik Gunung Kelir!” Kedaannya sama-sama saling mengejek tetapi belum mulai bertarung agaknya sedang saling menduga kekuatan lawan. 

Memang Suro mempunyai riwayat yang menyedihkan, sejak kecil ia adalah seorang piatu yang terlantar sebagai gelandangan dipasar Kesesi. Dan karena melihat keadaan yang menyedihkan serta bakat baik yang ada pada Suro, maka Kiai Teger mengambilnya sebagai murid.

Kiranya tidak seorangpun dari ketiga murid pilihan Blimbingwuluh yang bukan berasal dari anak terlantar, yatim pintu. Tugeni ditemukan oleh Kiai Teger sebagai seorang bocah kudis-kudisan yang kerjanya menuntun pengemis buta. Sedangkan Joko Bledug adalah tadinya, ditemukan oleh Kiai Teger sejak masih bayi, bayi yang tergeletak dipinggir kali, sedangkan orang tuanya kedapatan membunuh diri, terbenam di kali tersebut.

Mengenai murid Gunung Kelir yang tubuhnya tinggi besar, kasar dan bercambang bauk itu, bernama Toh Badur. Ia merupakan murid kepercayaan Toh Kebung. Semula Toh Badur ini adalah seorang begal tunggal yang bergerak disekitar gunung Ungaran. Sejak ia dikalahkan oleh Toh Kecubung maka ia lantas mengangkat guru, dan menakluk tinggal di Gunung Kelir sebagai murid dan orang kepercayaan Toh Kecubung.

Dalam hal berkelahi, ternyata Toh Badur lebih banyak pengalaman dibanding dengan Suro sejak kecil sangat dilarang oleh gurunya untuk main kekerasan. Maka berhadapan dengan bekas begal yang tubuhnya hampir dua kali lipat lebih besar itu, Suro agak jatuh dibawah angin.

Penggada baja ditangan Toh Badur yang besarnya melebihi paha itu menderu-deru diudara berkali-kali mengancam maut atas diri lawannya. Beruntung sekali Suro memiliki senjata yang panjang dan hebat maka walaupun Toh Badur sudah berusaha sekuatnya untuk memberikan tekanan berat akan tetapi tak mungkin begitu mudah untuk mengalahkannya.

Di lain pihak lagi beberapa anak murid Gunung Kelir yang lain melakukan pengejaran dan penganiayaan terutama terhadap para murid baru atau gadis-gadis yang belajar mengaji. Kegaduhan segera menghebat jerit dan pekik anak-anak serta gadis-gadis yang mendapat perlakuan kurang ajar berbaur dengan suara tawa lawan membahana.

“Adik-adik sekalian! Cepat kalian menyelamatkan diri.” Tugeni berseru memperingatkan. Pintu pekarangan perguruan bagian belakang dibuka maka berhamburanlah anak-anak, gadis-gadis cilik dan perawan-perawan mencari jalan untuk melarikan diri.

Akan tetapi murid-murid Gunung Kelir yang kebanyakan adalah pemuda bekas begal bekas penyamun yang jarang melihat gadis-gadis, segera melakukan pengejaran. Terutama gadis-gadis remajanya yang cantik-cantik manislah menjadi sasaran mereka. Dengan cara yang sangat kasar, maka gadis-gadis pengajian mengalami penganiayaan dan pemerkosaan.

Suara jerit kesakitan, anak-anak yang terbunuh, dianiaya, dan pekik-pekik ngeri gadis-gadis yang direjang, seperti kambing dihadapkan kepembantaian, membuat para murid persilatan ‘Suci Hati’ jadi kalut dan gelisah.

Terutama sekali bagi Tugeni yang bertanggung jawab atas keselamatan perguruan dan keselamatan anak-anak pengajian. Karena kegelisahan inilah permainan silatnya jadi tak teratur dan Kebo Sulung yang pada dasarnya lebih unggul dari Tugeni segera dapat mendesak dengan hebat.

Tugeni telah berusaha mempermainkan senjatanya sepasang tongkat pendek yang disebut sebagai “sepasang paku redi” dengan cepat untuk mencari kesempatan meloloskan diri dari lawan, untuk memberikan pertolongan kepada para murid pengajian, ternyata tidak berhasil.

Bahkan kini Kebo Sulung yang agaknya dapat menduga maksud lawan, telah mempercepat serangannya sambil berseru mengejek :

“Hendak minggat kemana kau?”

“Jahanam! Kau telah melepas serigala-serigala kedalam kandang perguruanku. Kubikin habis

kalian!” “Terbalik Tugeni! Aku yang akan membikin habis riwayatmu!”

Sambil berkata demikian tahu-tahu tangannya telah menarik keluar pusaka “Tongkat

pancaloka” milik Kiai Teger dari dalam bajunya langsung disabetkan kearah kepala lawan.

Tugeni terperanjat. Seketika terdengar suara kelining-kelining sangat nyaring yang berasal dari keliningan pada ujung tongkat pusaka tersebut. Dan bersamaan dengan itu berdesir-desir hawa dingin yang sangat menusuk, menyambar kearah murid kepala Blimbingwuluh ini.

Menghadapi tongkat pusaka perguruan sendiri, walaupun bagaimana tabahnya Tugeni, seketika hatinya seakan dirontoki dan tulang belutang bagai dilolosi. Ketika ia mengangkat sepasang tongkat pendeknya untuk menangkis, gerakannya kurang cepat.

Trak! Tringtring!!

Sepasang tongkat paku redi milik Tugeni terlambat menjepit tongkat lawan bahkan kena dibentur oleh sebuah bola keliningan pada ujung tongkat pancaloka itu. Tubuh Tugeni tergetar hebat hawa sangat dingin tiba-tiba telah menusuk kejantung dan pemuda inipun terhuyung.

Belum sempat Tugeni berdiri tegak, kiranya dua kali tendangan Kebo Sulung telah beruntuk mengenai dada dan rusuknya sehingga murid kepala Blimbingwuluh itu terpelantirg mengaduh. Dari mulutnya tertumpah darah segar.

Sekali lagi Kebo Sulung yang ingin segera memperoleh kemenangan menggerakkan tongkat pancaloka. Ser-ser-ser! Krincing!

Hanya dengan ketabahan luar biasa yang menyebabkan Tugeni masih sadar. Melihat serangan yang terakhir itu ia berusaha melindungi mukanya dengan sepasang tongkatnya yang masih tergenggam. Terdengar suara gemelotok, kiranya tongkat ditangan Tugeni hancur bersama tangan pamuda itu sekalian hancur ketulang dagingnya!

“Toh Badur! Basmi habis! Bakar!” Teriak Kebo Sulung seraya mengangkat dadanya dengan

angkuh menyombong.

Dengan robohnya Tugeni sesungguhnya membuat semangat lawan seakan jadi berlipat ganda sebaliknya bagi murid Blimbingwuluh, mereka seperti putus asa.

Suro yang melihat kakak seperguruannya telah roboh tak berkutik menjadi kalap. Dan sambil berteriak-teriak seperti orang gendeng, ia memutar pusaka sabuk nogorojo sekuatnya mengamuk dengan hebat.

Penggada baja Toh Badur yang sedang datang menyambar disambutnya dengan sabetan sabuk itu. Seketika itu juga gada kena dilibat, tak bisa digerakkan lagi, sementara itu timang sabuk yang runcing tajam sebagai kuku naga itu telah bergerak seperti hidup, mematok kearah muka Toh Badur.

“Kakang Geni. Jangan kuatir kubela kematianmu!” Teriak Suro dengan suara meratap.

Crass! Rupanya entah dengan tenaga setan macam apa, timang sabuk itu begitu cepat gerakannya tak sempat dihindari oleh lawan. Muka Toh Badur retak ditancap timang sabuk dan bekas begal itu memekik serak seperti babi disembelih, tubuhnya ngejeblak kebelakang.

Tapi dalam sisa hidupnya itu Toh Badur belum mau melepaskan penggadanya. Dan Suro tak dapat melepaskan senjatanya dari melibat penggada itu.

Tahu-tahu, ser! Ser! Krincing! Lima buah kelenengan tongkat pancaloka tahu-tahu telah menyambar diatas kepala, Suro terpekik kaget sambil mengangkat sebelah tangan untuk melindungi kepala. Tapi apalah artinya gerakan Suro yang demikian terhadap serangan pusaka perguruan yang gaib dan penuh perbawa itu. Terdengar bunyi nyaring, tahu-tahu kepala murid yang perkasa itu mengucurkan darah, rengat dibeberapa tempat. Suro telah tewas dengan tubuh masih berdiri, sebelah tangan memegangi sabuk nogorojo yang ujungnya masih menancap dimuka Toh Badur, dan sebelah tangan lagi terangkat dibelakarg kepala. Kedua murid pilihan itu telah dapat dikalahkan maka selanjutnya terjadilah pembantaian dan penjagalan manusia yang sangat kejam. Beberapa murid Blimbingwuluh yang masih melakukan  perlawanan berusaha melawan sekuatnya. Akan tetapi apalah artinya mereka yang lebih terbiasa mengaji dari pada mempelajari ilmu silat? Dalam tempo yang tidak lama seluruh murid

Blimbingwuluh yang gagah perkasa itu menerima kematian satu demi satu. Hingga semuanya tewas dalam membela kehormatan perguruannya. Tidak satupun diantara mereka yang dibiarkan hidup oleh lawannya.

“Hai para anak murid Gunung Kelir! Lihat kamar pusaka?” Kebo Sulung berseru

mengingatkan.

Yang sangat mengenaskan adalah nasib para gadis-gadis itu. Mereka berteriak ngeri ketakutan, takut menghadapi kebiadaban dari para penyerbu yang sikapnya sangat buas seperti harimau menghadapi kelinci lemah. Makin nyaring gadis-gadis itu memekik, makin gemetaran gadis-gadis itu ketakutan maka makin menyenangkan agaknya. Dan murid-murid biadab dari Gunung Kelir itu tertawa sambil menerkam-menerkam sambil tertawa.

Sudah tak ada yang mampu berusaha melindungi nasib gadis-gadis itu. Mereka jadi tontonan dan bahan tertawaan ditelanjangi dan dikejar-kejar.

Perguruan Blimbingwuluh yang beberapa hari yang lalu masih merupakan tempat yang tenteram dan damai bagi para remaja menuntut ilmu, kini telah berubah menjadi neraka berdarah, dimana disana-sini terdapat bangkai malang melintang, darah membanjir menyiarkan bau amis, berbaur dengan suara erangan-erangan mengerikan dari mereka yang sedang berada diambang maut.

Kebo Sulung sedang berdiri berkacak pinggang di tengah-tengah halaman perguruan, memandangi hasil pembasmian terhadap perguruan Blimbingwuluh dengan sikap sombong. Beberapa orang anak murid Gunung Kelir sedang mengobrak-abrik pondok-pondok, untuk menemukan tempat penyimpanan pusaka perguruan sebagian lagi menyalakan api dan mulai menyulut pondok itu satu demi satu.

Api berkobar dan asap hitam mengepul keudara. Ketika tiga orang murid Gunung Kelir sedang memasuki pondok yang paling besar yaitu dimana kamar pusaka berada tiba-tiba terdengar suara nyaring seperti orang mengebutkan kain. Bat! Bat! Bat! Menyusul terdengar lolongan orang yang direnggut maut bersahut-sahutan. Dan tak lama antaranya dari dalam pondok besar itu tampak melayang tiga sosok tubuh. Ketiga, tubuh itu telah jatuh berdebug ketanah, kiranya adalah ketiga murid Gunung Kelir yang sedang mencari iket pusaka “geledek pitu” itu, yang kesemuanya telah terbinasa dengan kepala remuk.

Murid-murid Gunung Kelir yang masih hidup jumlahnya tinggal sebelas orang, termasuk yang terluka parah. Melihat kejadian itu, seketika mereka melengak kaget dan untuk sesaat mereka terbelalak diam.

Kebo Sulung sendiri juga bukan tidak terkejut. Ketika murid Gunung Kelir itu, walaupun mereka belum tergolong murid-murid kelas satu akan tetapi tidak begitu mudah untuk dibunuh, hanya dengan tiga kali suara kain yang dikebutkan. Kalau tidak dilakukan oleh orang yang berkepandaian tinggi mustahil mereka dapat dibinasakan sakaligus. Dan memikir hal yang demikian, Kebo Sulung jadi meragu.

“Sifat orang gagah tidak suka main gelap-gelapan! Ini aku Kebo Sulung banteng kadipaten!” Seru Kebo Sulung memancing. Sesungguhnya ia sendiri ragu-ragu untuk menerjang masuk kedalam pondok besar itu.

Suasana hening belaka. Tidak terdengar jawaban. Kebo Sulung jadi penasaran. Serunya :

“Hai! Apakah kau Joko Bledug! Pengecut... Keluar kau, mengadu kepandaian ilmu dengan aku Kebo Sulung!” Sengaja penggawa muda kadipaten ini menyebut-nyebut nama dirinya agar orang yang bersembunyi dipondok besar itu setidak-tidaknya dapat keder. Nama Kebo Sulung cukup tenar, kecuali sebagai seorang kepercayaan adipati Pemalang juga orang tentu belum lupa akan keperkasaan pemuda ini membinasakan Kaki Gagak Rawe, raja begal dari Bengkelung itu. 

Akan tetapi untuk yang kedua kalinya inipun tidak terdengar jawaban.

“Hai bocah Gunung Kelir. Apakah kalian sudah jadi pengecut? Serbu!” Seru Kebo Sulung

pula memerintah.

Empat orang murid Gunung Kelir segera menyerbu kedalam pondok besar. Walaupun sebenarnya mereka takut akan tetapi dibawah perintah Kebo Sulung mana berani mereka menolak.

Secepat empat orang murid itu menyerbu kepintu pondok, secepat itu pula terdengar suara kain dikebutkan yang sangat nyaring berbareng dengan pekikan menyayat keempat murid itu secara serempak dan sesaat kemudian empat batang bangkai manusia melayang keluar dari dalam pintu pondok seperti kapal terbang. Langsung keempatnya jatuh ketanah susul menyusul dan tersusun seperti tumpukan pindang.

“Keparat!” Bentak Kebo Sulung. “Siapa pamer ilmu didepan Kebo Sulung!” Dada pemuda ini seakan hendak meledak karena marah dan penasaran. Tetapi tetap ia tidak bermaksud untuk menyerbu orang yang bersembunyi itu. Terdengar ia mengomando lagi : “Serbuuu!”

Satu orang pun tak ada yang berani bergerak. Walaupun hakekatnya para murid Gunung Kelir itu sangat takut akan kekejaman Kebo Sulung, akan tetapi bagaimana ia mau menyerahkan nyawa kedalam pintu pondok begitu saja? Sedang mereka melihat, kawan-kawan mereka begitu melongok pintu begitu langsung nggembor kepati! (teriak mati).

“Serbuuu!'' Teriak Kebo Sulung dengan suara mirip gludug menakutkan.

“Cukup!” Sekonyong-konyong terdengar sahutan yang merdu dari arah dalam pondok besar itu. Dan ketika sekalian yang ada disitu memandang seketika mereka melihat sesosok tubuh yang tinggi semampai berdiri angkuh diambang pintu.

Kiranya dia adalah seorang wanita baya usianya takkan lebih dari empat puluh tahunan. Perawakannya tinggi lencir, langsing menarik. Mengenakan kain dan baju serba berkembang hijau. Juga mengenakan selendang berwarna hijau berkilau.

Rambut dikepalanya digelung rapi lengkap dengan sebuah tusuk konde emas dan beberapa putik-putik bunga yang terbuat dari emas pula. Pesolek benar tampaknya ia, seperti seorang wanita yang genit. Akan tetapi bila orang memandang wajah wanita itu akan tergetar hatinya melihat bentuk muka yang lonjong dan putih itu, melukiskan watak yang keras, nyata pada tarikan bawah dagunya yang dalam dan pancaran matanya yang sangat tajam, angkuh dan berwibawa.

Walaupun wanita itu selalu mengulum senyum di bibir, akan tetapi sekalikan yang melihatnya merasa seakan sedang berhadapan dengan hakim wanita. Kebo Sulung sendiri baru beberapa saat kemudian mampu berbicara : “Kiranya Nyai Kenistan.  ”

Memang benar wanita baya yang masih cantik dan sikapnya sangat angkuh itu adalah Nyai Kenistan isteri Kiai Kenistan. Kedua pendekar baya itu disebut orang sebagai suami isteri Kenistan.

Dimana seorang diantara mereka muncul pasti yang seorang lagi berada ditempat yang tidak jauh dan situ.

Maka Kebo Sulung celingukan mencari dimana adanya suami wanita itu.

“Setelah melihat aku mengapa tidak cepat mengingat?!” Sahut Nyai Kenistan dengan

suaranya yang merdu seperti perawan remaja, tetapi penuh dengan nada ancaman.

“Sejak kapan Kiai dan Nyai Kenistan memberontak terhadap kadipaten?” Kebo Sulung

sengaja mempergunakan nama kadipaten dengan maksud menggertak orang tentunya.

“Huh! Segala munyuk-munyuk tanpa guna begini kau sebut orang kadipaten! Hai Kebo cilik!

Apakah tindakanmu ini atas perintah Adipati?” Bagaimanapun mashurnya nama Kiai dan Nyai Kenistan sebagai sepasarg perdekar sakti berilmu tinggi, tetapi Kebo Sulung adalah tangan kanan adipati Pemalang. Tentu saja penggawa  muda itu segan untuk kehilangan muka didepan para murid Gunung Kelir maka katanya.

“Jelas aku adalah Kebo Sulung, pengawal pribadi adipati! Kukira tidak seorangpun penghuni daerah kadipaten tidak mengenal siapa aku. Segala tindakanku tentu atas titah adipati! Kalian Nyai dan Kiai Kenistan telah membunuhi orang-orangku berarti melawan aku Kebo Sulung, berarti melawan kekuasaan kadipaten? Dan kalian pemberontak!”

Diancam secara begitu Nyai Kenistan malah tertawa.

“Kau ini Kebo cilik sedang ngaco apa? Mana ada adipati Pemalang memberi perintah kepada bawahannya untuk melakukan pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan dan perampokan! Awas! Jangan kau mencatut nama adipati untuk kepentingan peribadimu Kebo cilik!”.

“Kebo cilik! Kebo cilik! Aku Kebo Sulung!” Kebo Sulung membentak gusar dan penasaran.

Akan tetapi Nyai Kenistan masih juga tertawa penuh ejekan.

“Sombongmu! Mentang-mentang kau bisa mengalahkan maling pitik si Gagak Rawe lantas kau merasa berhak untuk sewenang-wenang. Kebo cilik? Perbuatan biadabmu ini sudan sepatutnya cukup alasan bagiku untuk menghukummu! Tapi biarlah asal kau mau bertobat, merawat jenazah orang-orang yang kau bunuhi itu lalu menyesali diri seumur hidup aku akan mengampunimu!”

“Kuntilanak somhong!” Bentak Kebo Sulung. “Kebo Sulung tak pernah mundur terhadap pemberotak”.

“Hai mana kuntilanak!” Tahu-tahu telah muncul seorang laki-laki baya berwajah tampan yang sikapnya agung-agungan disisi Nyai Kenistan. Dan laki-laki ini tidak lain adalah Kiai Kenistan. ''Wanita ini adalah wanita yang paling cantik diatas dunia! Dia Nyai Kenistan isteriku, tahu? Awas kurobek mulutmu. Kebo cilik, baru rasa !”

Demikianlah begitu muncul Kiai Kenistan langsung nyap-nyap. Menarik sekali hubungan suami isteri sepasang pendekar itu. Mereka sangat runtut akur. Bahkan keliwat akurnya mereka selalu bersikap mesra walaupun ditempat mana juga.

“Kakang Kiai, jangan ikut ngomong dulu?” Nyai Kenistan menegur. “Bocah baru gede itu mau mencoba kesaktian “selendang layungku”!”

Mendengar disebutkan selendang layung seketika nyali Kebo Sulung jadi ciut. Benar ia belum pernah merasakan kelihaian ilmu selendang wanita sakti itu akan tetapi dengan melihat tujuh orang murid Gunung Kelir yang terbinasa dengan tujuh kali kebutan agaknya untuk maju menempur wanita itu sih harus hitung-hitung seratus kali dulu.

“Jangan campuri urusanku. Perguruan cabul Blimbingwuluh ini sudah seharusnya dibasmi. Perguruan ini hanya merupakan sarang bajingan, sarang manusia-manusia bejad yang suka merusak pager ayu! Apakah kalian Kiai dan Nyai Kenistan hendak membela maling hina dina itu?”

“Tidak ada perlunya aku membela Kiai Teger atau perguruan Blimbingwuluh! Aku harus menyelamatkan pusaka iket wulung gluduk pitu dari tangan manusia-manusia rendah seperti kalian ini!”

“Kami yang mengalahkan Blimbingwuluh. Kami yang berhak atas segala barang miliknya?”

Kata Kebo Sulung tegas.

“Kau ini bocah macam apa? Sudah membunuh, menganiayai, memperkosa, masih hendak merampok juga. Perampok yang paling keji sekalipun belum tentu sebiadab kalian? Ayo pergi!” Dan tangan Nyai Kenistan bergerak seperti orang mengusir ayam.

“Manusia sombong. Orang yang melindungi maling hina itu harus...”

“Tunggu!” Kiai Kenistan menyela bicara. “Tentang sebutan maling hina itu belum waktunya

dikatakan sekarang Kiai Teger belum mendapat putusan hukuman dari adipati. Tapi kau sudah secara lancang melakukan penumpahan darah secara keji ini. Awas... Tanganku sudah gatal-gatal

ini. Sekali lagi kau melawan bicara isteriku, kulempar kau keluar pekarangan.”