Ajal Sang Penyebar Maut Bab 07 : Siaw Sian Gap

Bab 07 : Siaw Sian Gap

Sebetulnya tindakan yang telah dilakukan oleh Putih sudah benar, andaikata ia memberikan suatu isyarat kepada Jaka Pratama untuk mau memeriksa isi pelana kudanya. Lantaran hal itu tidak dikerjakannya, Jaka sama sekali tidak mengetahui peruhahan rencana semula, sebab dari Kiai ia telah memperoleh beherapa petunjuk tentang apa-apa yang mesti dilaksanakannya. Dan berdasarkan petunjuk Kiai itulah Jaka kini memacu Karbala sekencang mungkin. Jalan yang ditempuhnya juga herpedoman kepada petunjuk Kiai. Ke mana gerangan, sehingga ia hams berkendara bagaikan dikejar setan kesiangan? Sungguh amat mencurigakan. Perasaan semacam itu pula yang sekarang menghinggapi sesosok manusia yang semenjak Jaka keluar dari hutan kecil tadi sempat memergokinya dan menjadi terperanjat karenanya. "Setan," umpatnya lirih. "Kunyuk itu muncul juga kemari."

"Siapa?" tanya orang di sebelahnya. Kedua orang itu sama- sama menunggang kuda, tetapi sebelumnya tidak tergesa- gesa.

"Santri Putih Bertangan Besi." Jawab yang ditanya.

“Hem, jadi diakah yang disebut Santri Putih Bertangan Besi?" ulang yang bertanya, seorang pria bermata kecil namun tajam. Orang-orang yang lama tidak muncul di rimba persilatan pasti tidalk akan mengenalnya karena ia orang baru di kalangan para pendekar Tanah Jawa. Ia adalah seorang pekelahi tenar yang baru dua bulan mendarat dari Tiongkok. Namanya Siauw Sian Giap, kelahiran Pati tapi dibesarkan di Tanah Leluhur. "Kukira seperti apa orangnya, tahu-tahu cuma seperti itu," lanjut Siauw Sian Giap dengan sikap menganggap remeh.

"Jangan anggap enteng dia, kawan, tegur rekannya, lelaki kekar bertubuh gesit. Umurnya sekitar empat puluh lima tahun.

"Kita harus segera melaporkan hal ini kepada Wong Pamungkas."

"Lakukanlah sendiri," ujar Siauw Sian Ginp. "Aku mau kejar si Santri Putih. Aku mau buktikan bahwa ksatria muda itu tak kan berkutik di tangan Siauw Sian Giap."

"Jangan gegabah. Kita harus memberitahukan soal ini kepada Wong Pamungkas dahulu sebelum bertindak lebih lanjut," bantah yang satu, agaknya seorang pendekar berdarah Jawa Timur.

"Itu kan pekerjaanmu. Aku disewa jauh-jauh bukan untuk sekadar melakukan pekerjaan lapor-melapor. Aku datang kemari buat berkelahi. Kau tahu, makin banyak jago silat yang kukalahkan, apalagi yang punya nama beken, makin terkenal namaku, dan makin mahal hargaku."

Selepas berkata demikian, Siauw Sian Giap langsung tancap kudanya secepat kilat tanpa mempedulikan larangan rekannya yang sangat penasaran. Namun petarung Jawa Timur itu tidak dapat berkutik, mengingat alasan yang dikemukakan oleh Siauw Sian Giap cukup mempunyai dasar yang kuat. Ia hanya mampu memandangi Cina yang gila nama itu memacu kudanya dengan laju di belakang Jaka Pratama dalam jarak cuma sekitar sepuluh menit. Tentu saja sebagai pendekar yang telah banyak makan garam, Jaka tidak menyepelekan bunyi tapak kuda yang tiba-tiba terdengar lebih nyaring dari- pada sebelumnya, walaupun ia tidak berani memastikan bahwa pengendara di belakangnya itu mengandung niat buruk kepadanya. Ia hanya perlu bersikap waspada, berhubung suara lari kuda itu menjadi lebih nyaring semenjak ia melewati dua orang pengendara kuda barusan. Dan anehnya, yang tengah lari menuju ke arahnya hanya satu orang saja. Yang lainnya bahkan kedengaran tambah menjauh.

Tanpa menoleh Jaka memperkirakan jarak di antara mereka sudah kian dekat. Tidaklah bijaksana jika ia menggebah Karbala lebih cepat untuk menghindari penunggang kuda di belakangnya, walaupun dalam hal berpacu ia percaya Karbala sulit dikalahkan.

Dengan pikiran semacam itu Jaka bersikap sewajar mungkin dengan jalan tidak memper-cepat dan tidak melambatkan, sampai akhirnya Siauw Sian Giap sudah kian dekat kepadanya.

“Kisanak, berhenti," teriak Siauw Sian Giap kemudian, setelah jaraknya dengan Jaka hanya tinggal dua tombak lagi. Jaka menoleh pun tidak. Ia terus memacu Karbala dengan tenang.

"Thayhiap! Kalau engkau betul-betul ksatria, tunggu aku!" kembali Siauw Sian Giap berseru.

Jaka masih tetap pura-pura tidak peduli walaupun tidak meninggalkan kewaspadaannya, hingga akhirnya penunggang kuda bermata sipit itu telah menyusul di sebelahnya. Jaka terus menatap ke depan, dan Siauw Sian Giap melompat dari punggung tunggangannya, lantas berdiri menghadang kira-kira tiga depa di muka Jaka.

"Berhenti!" teriaknya seraya berkacak pinggang. Bukan Jaka yang berhenti, tetapi kudanya yang mengangkat kedua kaki depan ke atas sambil dari mulutnya menghambur lengkingan panjang sehingga kuda si sipit tergebah kabur.

"Kurang ajar!" pekik si sipit murka seraya mencabut cemeti di pinggangnya dan melecut Karbala. Andaikata bukan Karbala yang jadi sasaran, Jaka belum akan marah dan bertindak. Namun kalau sudah binatang yang selalu jujur dan setia tanpa pamrih itu terancam keselamatannya, tak ada lagi yang mampu menghalangi letupan si Santri Putih Bertangan Besi. Jaka yakin sekiranya sambaran cemeti itu menimpa leher Karbala, kuda kesayangan itu pasti tidak akan sanggup bertahan hidup lebih dari dua atau tiga detik. Karena itulah Jaka Pratama dengan cepat menjulurkan kaki kanannya, dan begitu cemeti si sipit membelit, Jaka meminjam tenaga yang tersimpan di dalam lecutan itu untuk melayang dari punggung Karbala, langsung menendang ke arah kepala lawan.

Siauw Sian Giap ternyata hanya besar mulutnya saja. Ia sudah limbung sebelum kaki Jaka menimpa kepalanya. Dan ia bakal celaka jika kaki Jaka menimpa kepalanya. Jaka pun menyadari bahwa lawannya bukan jago kelas satu yang tangguh. Dengan dua pertiga tenaga yang dikerahkannya, Siauw Sian Giap pasti remuk dalam sekejap. Tapi kalau ia urungkan serangan itu, dirinyalah yang akan jadi korban, sebab dapat rnenimbulkan arus balik yang memakan habis sepertiga tenaga yang tertinggal. Dirinya akan remuk dari dalam oleh hantaman tenaga sendiri.

Ia harus mencari sasaran lain. Dan untung buat Jaka serta untung buat Siauw Sian Giap. Di sebelah kiri Jaka ada gundukan batu semacam  

bukit karang kecil yang menantang. Dengan serta merta Jaka mengarahkan tendangannya ke sana. Dan… brak! Bunga- bunga api memercik mewarnai hancurnya bukit itu berkeping- keping.

Siauw Sian Giap dudukk lewas. Kepalanya basah, bukan dengan darah, welainkan bersimbah keringat, dingin bagaikan Gurun gobi diguyur hujan seratus tahun. Matanya berkunang- kunang, kepalanya seperti terputar ke belakang. Dengan tangan menggigil ia memegangi kepalanya, membayangkan betapa nasib semacam bukit batu itu akan menimpanya seandainya Jaka Pratama tidak berhati welas-asih sesuai dengan sifat kesantriannya yang penuh jiwa ibadat. Jelas ia tadi tak kan mampu mengelak dari kecepatan gerak Jaka, dan tak kan mampu menghindar dari kesaktian Jaka. Andai-kata . .

. , andaikata Oh, Thian yang mahaagung, yang menguasai kekuatan Naga dan menggenggam arwah para leluhur. Berkatilah thayhiap yang bernama Jaka Pratama, begitu gumam Siauw Sian Giap dalam kengeriannya.

Oh, Thian yang mahaperkasa. Limpahkanlah kurnia Dewi Kwan Im memimpin jalannya. Berikan kekuatan kepada Jaka Pratama untuk mengalahkan Gian Lo Ong di negeri keabadian. Lalu Cina sipit itu mengepalkan tangannya di depan dada sembari berlutut dan mencium bumi. Adapun Jaka Pratama juga sedang sujud mencium bumi, sebagai tanda syukur kepada Tuhan bahwa pada hari itu ia berhasil menahan diri sehingga terhindar dari mencabut nyawa sesama manusia, meskipun manusia itu tidak seagama dan berusaha merintangi jalannya. Dan alangkah indah serta bersihnya alam tatkala darah tidak tertumpah. Dan alangkah harum serta beningnya langit manakala udara tidak diracuni dengus permusuhan. Dan alangkah dalam serta lapangnya hati apabila yang bersemi hanya kasih sayang atau saling memaafkan.

Rasanya Siauw Sian Giap belum pernah menikmati kedamaian jiwa seperti yang dialaminya hari ini. Ia datang di negeri ini dengan nafsu ingin mengalahkan, ingin menaklukkan, kalau perlu membinasakan manusia sebanyak- banyaknya. Karena dengan modal senjatanya, cemeti dan pedang pendek, dilengkapi pendalaman ilmu berkelahi selama berpuluh-puluh tahun, pekerjaan yang dibanggakannya adalah menewaskan orang lain. Hari ini ia telah dikalahkan bukan oleh pedang atau kesaktian, melainkan oleh kelembutan hati seorang pendekar yang ingin dikalahkannya. Kekalahan semacam ini lebih telak, jauh lebih berat dibandingkan dengan seandainya tubuhnya remuk menjadi bubur daging, lantaran hatinya tidak remuk oleh nuraninya. Tidak seperti sekarang, ketika telah menguncup semua nafsu dan gairahnya yang menggebu-gebu, yang dengan kekuatan itu ia telah banyak menghitung korban- korban di ujung pesangnya.

Namun aneh, ia bahagia dengan kekalahannya ini. Sebab ada sesuatu yang tiba-tiba mengalir ke dalam dadanya. Sesuatu yang belum pernah dirasakannya senikmat hari ini. Ia amat sejuk dengan keinginannya yang serentak mencuat, ingin berkorban, bukan ingin menjatuhkan korban-korban seperti sebelumnya.

Maka dengan melangkah pelan-pelan ia mendekati Jaka, sesudah dilihatnya Jaka berdiri kembali dari sujudnya untuk menaiki Karbala yang tidak sabar menunggu majikannya.

“Boleh saya mengganggu Tuan sebentar?” ia bertanya sopan , suatu sikap yang tidak dikenalnya. Bahkan ia terkejut. Ternyata berlaku sopan membuat hatinya mendadak lebih tenang.

“Saya rasa Tuan sudah mengganggu saya tidak sebentar.” Jawab Jaka sebentar," jawab Jaka yang tengah diburu waktu dan kewajiban.

“Sebaiknya Tuan jangan meneruskan perjalanan ke desa Cuplak," ucap pendekar Cina itu tanda menganggap terhalang oleh sindiran Jaka. Jaka berusaha mengaburkan tanda keterkejutannya, tetapi wajahnya masih menyisakan tanda itu meskipun tinggal sekilas. Dari mana Cina ini tabu bahwa ia sedang bergegas ke desa Cuplak? "Maksud Tuan?" tanya Jaka seolah tidak acuh. "Barusan kami sedang mengadakan perjalanan untuk persiapan mengepung rumah Mbah Bungkuk, juru kunci makam Suran Sebo-lampar," jawab Siauw Sian Gian.

Apa pun tujuan yang hendak dicapai oleh Cina tersebut, Jaka percaya semua yang disampaikannya itu benar, bahwa setidak-tidaknya rahasia pertemuan mereka yang direncanakan selepas Maghrib malam nanti di rumah Mbah Bungkuk telah terbongkar oleh pihak musuh. Keadaan semacam ini saja sudah amat berbahaya. Belum lagi kalau makar orang-orang busuk itu memang terbukti, paling tidak gerakan mereka bakal tercerai-cerai, malah tidak mustahil akan memakan korban tidak sedikit.

Jaka terdiam mendengar laporan bekas lawannya tersebut. Ia telah menang, yaitu mengalahkan kemarahan yang tadi hampir menyobek pertimbangan nuraninya, dan hasilnya kini ia menangkan perang tanpa kekerasan. Ia sangat berterima kasih kepada gurunya, Kanjeng Sunan Bonang, yang telah membekalinya dengan pelajaran kesabaran mengikuti sifat yang diteladankan oleh Nabi Muhammad saw. Sebab Sunan Bonang pernah menceritakan suatu peristiwa kemuliaan yang tiada tara bandingannya dari Sang Rasul yang agung itu.

Pada suatu hari Nabi sedang berkumpul di dalam masjid bersama para sahabat terdekat. Tiba-tiba seekor unta menerobos masuk dengan penunggangnya, seorang Badui hitam pemimpini sebuah suku terpencil penghuni gunung batu.

Seraya tetap hernia di punggung untanya, Badui itu menghardik sambil berkacak pinggang, menampilkan sikap paling kurasig ajar:

"Hai, siapa di antara kalian yang bernama Muhammad?"

Tentu saja para sahabat naik darah melihat pemimpin mereka dihina, masjid mereka dikotori kaki-kaki unta. Ali akan mencabut pedang, tetapi Nabi mencegah, lalu menjawab ramah:

"Sayalah yang bemama Muhammad."

"Hem," Badui itu mendengus lebih kurang ajar. Dan Nabi tersenyum lebih ramah, sementara amarah para sahabat lebih membeludak.

"Engkaukah yang mengajari manusia agar mempersaksikan tidak ada Tuhan kecuali Allah dan engkau adalah Utusan- Nya?" tanya Badui itu seraya mencibirkan bibir.

"Betul, saya," sahut Nabi tetap sabar.

"Engkau juga yang menyuruh manusia untuk sembahyang lima kali sehari?" tanya Badui itu makin kasar.

"Betul, saya," sahut sang Rasul makin sabar.

"Engkau pulakah yang menyuruh manusia supaya berpuasa dalam bulan Ramadan?"

"Betul, saya."

"Engkau juga yang menyuruh orang-orang kaya membayar zakat bagi fakir-miskin?" tanya si Badui kian tajam.

"Betul, saya," jawab Nabi kian sopan. Kalau begitu aku akan kembali kepada kaumku, dan menyuruh mereka supaya beriman dan menjadi pengikutmu.” Ucap si Badui sembari mengeprak untanya dan melesat pergi tanpa pamit lagi.

Kesabaran sejenis itulah yang ditanamkan oleh para wali kepada segenap santri mengingat kedatangan Islam adalah untuk menyeberluaskan pesan-pesan perdamaian di antara seluruh umat manusia sehingga, menurut Sunan Bonang, di tengah-tengah Alquran presia, dalam surat Al Kahfi, terdapat sebuah kalimat pendek, ‘wal yatalatthof’, yang artinya berlaku lembutlah. Kalimat itu merupakan inti Alquran, buktinya tetletak pada suatu tempat yang membagr Alquran menjadi penggal pertama dan penggal kedua bila dihitung dari jumlah ayat-ayatnya.

Itulah yang sekarang disematkan Jaka di dadanya sebagai pegangan perjuangannya. la tidak pernah membenci sesama manusia karena berbeda agama. Dan ia tidak mau mengangkat senjata karena alasan berbeda agama. Nabi, menurut para wati, tidak pernah berperang hanya karena masalah perbedaan agama. Nabi berjihad dengan senjata untuk memerangi kelaliman yang mengancam nilai-nilai peri- kemanusiaan atau melindungi si lemah dari aniaya kaum durjana. Nabi juga cuma bersedia mencanangkan seruan perang untuk membela rakyat serta tanah air tercinta dari kesewenang-wenangan musuh yang membahayakan pemerintahan demi tegaknya kedaulatan dan hukum yang telah disepakati bersama.

Demikianlah pula yang dijadikan pedoman oleh Raden Patah atas bimbingan senopatinya, Suna Kalijaga. Kalau ia berniat memberangkatkan armada laut untuk memerangi kaum peringgi, bukan lantaran mereka menganut agama yang berbeda, melainkan semata-mata untuk memerangi kekafiran mereka, yakni kafir harbi yang gerak upayanya mengancam keutuhan bangsa dan integritas Nusantara yang suci ini.

Maka dengan pikiran semacam itu, Jaka Pratama lalu membuka bibirnya untuk tersenyum tatkala ia menjawab tulus, "Terima kasih atas keterangan Tuan"

Siauw Sian Gin, bahkan dengan lebih tulus menyahut, “Terima kasih atas kepercayaan Tuan."

Namun mendadak Jaka terpana di tempatnya tanpa bisa berbuat apa-apa, pada waktu tiba-tiba Siauw Sian Giap mencahut pedang tipisnya dan dengan gerakan kilat menusukkannya hingga menembus bagian belakang perutnya. Tatkala darah menyemhur dan Jaka berniat menolong, Siauw Sian Giap, sembari tersenyum puas mencegah: "Jangan, jangan tolong saya. Percuma," begitu ucapannya terpatah- patah sambil menyeringai menahan nyeri yang tamhah memuncak.

"Tapi .. tapi .. , mengapa Tuan melakukan itu? Untuk apa . . .

?" tanya Jaka malah lebih terpatah-patah dan lebih nyeri, di relung hatinya.

Biarkan saya menghadap Thian Yang Maha Agung secara ksatria. Saya .. saya… bahagia dapat berjasa bagi tuan… namun saya harus mempertanggung-jawabkan pengkhianatan saya kepada kawan-kawan…. sebagai bukti bahwa perbuatan saya itu tidak untuk melindungi nyawa saya…, sungguh, semata-mata saya harus melakukannya, oleh panggilan hati saya…” Kemudian… “hek!” terdengar lenguhan terakhir dan orang cina itupun mati setelah meregang sebentar.

Jaka tertunduk dalam tegaknya. la memandangi mayat Siauw Sian Giap tanpa berkedip. Namanya pun belum ia tahu. Yang jelas, bagaimanapun membunuh diri sendiri adalah dosa besar melebihi membunuh orang lain. Namun ia harus menghargai keyakinan keyakinan orang Cina itu, yang dalam pandangannya, tindakan tersebut adalah jalan keluar bagi sifat keksatriaan. Ia wajib menghargainya dengan menguburkannya secara terhormat. Atas dasar itulah Jaka segera mengangkat jenazah yang masih hangat itu, memondongnya ke tengah hutan yang berjajar memagari jalan tiga tapak yang sepi itu. Sesudah selesai dengan menghabiskan waktu sekitar satu jam, Jaka jadi kebingungan, tindakan apa yang harus diamhilnya setelah is tahu bahwa rencana pertemuan nanti malam telah tersadap oleh musuh. Tentu saja bukan dengan membatalkan kepergiannya ke Desa Cuplak, dengan lari terbirit-birit hanya karena musuh akan mengepung mereka. Lalu akan dikemanakan nasib para kawula Demak yang lain, jika ia mencari selamat untuk sendiri dan membiarkan mereka terperangkap ke dalam kebuasan musuh? Seolah minta pertimbangan Karbala, Jaka menatap kuda itu dengan tajam. Presis pada waktu Karbala tengah mendengus-denguskan moncongnya ke arah pelana. Tiba-tiba Jaka teringat, sudah waktunya mengisi perut, baik buatnya maupun buat Karbala. Dan tiba-tiba pula perutnya menabuh gamelan, bahkan bunyi kecrek seakan-akan berdebam-debam, bagaikan adegan goro-goro tatkala Ki Dalang tengah memainkan perang Bharata Yudha.

"Engkau lapar, Karbala?" bisik Jaka. Kuda itu mengangguk- angguk, dan Jaka menjawab, "Kasihan. Aku juga sudah lapar."

Jaka kemudian melepas pelana Karbala serta kantung yang tergantung di bawahnya, untuk membiarkan kudanya lebih bebas merumput dan mencari air. Kawasan yang masih lebat itu berada di daerah agak tinggi, kurang-lebih sekitar setengah hari perjalanan sebelum tiba di Desa Cuplak. Udara melembut dalam siliran angin sejuk yang mengalir pelan-pelan. Jaka merenung, andaikata udara dalam dada manusia selembut tiupan slam, andaikata siliran angin dalam dada manusia sesejuk yang mengalir dalam kedamaian alam, betapa indahnya kehidupan melata di kulit bumi.

Sayang sekali, mahluk yang bernama manusia tidak mau menyatu dengan suasana alam tempat mereka berada di dalamnya, sehingga sering alam pun menunjukkan kemurkaannya dengan meletupkan bencana demi bencana. Tangan-tangan kotor manusia sendirilah yang membuat bumi bersimbah dengan darah, yang membuat langit menjadi merah oleh angkara murka.

Sebab, pada hakikatnya, apabila manusia banyak dilanda kelaparan, justru kelaparan itu tidak berasal dari tuntutan badaniah, melainkan kelaparan yang berhulu dari keserakahan jiwa. Sebab, pada hakikatnya, apabila manusia seakan tidak tahu jalan, yang buta bukanlah mata, melainkan hati yang bermukim di dada mereka.

Jaka melenguh kesal. Tidak oleh ubi bakar yang akan dilahapnya karena telah berubah jadi lebih keras, namun oleh hati manusia yang telah berubah menjadi lebih keras. Yang membuatnya terus terlunta-lunta dalam ketegangan hampir tanpa akhir. Bilakah saling pengertian terjalin sampai ketenteraman hidup akan merupakan keseharian yang nikmat dari rangkaian umur manusia yang singkat di muka bumi ini? Pria muda itu nyaris tanpa rasa mengunyah makanan bekalnya itu.

Dan ketika ia merogoh kantung pelananya untuk mengambil batang yang kedua dari ubi bakarnya, tangannya menyentuh sebuah bungkusan kertas. Pikiran Jaka dengan sigap mengambil kesimpulan, yakni mengurungkan makannya untuk mencari tahu lebih dulu bungkusan apa itu. Jangan-jangan racun yang dipasang oleh musuh.

Sebagai seorang pendekar ia harus waspada terhadap sesuatu yang ditemuinya mendadak. Ia harus dengan cermat mengetahui semua isi kantung, pelananya, agar tidak ada yang kurang atau yang lebih. Kurang berarti ada yang mengambil, dan lebih berarti ada yang menaruh. Dengan maksud apa?

Jaka membuka bungkusan tersebut. Ternyata hanva segulung kertas yang berisi pesan-nesan. Dengan teliti Jaka membaca seluruh isinya, lantas meremas-remas dan menyobeknya sampai menjadi serpihan-serpihan kecil. Diam-diam ia memuji kecerdasan dan kecergasan Putih Wewangi, putri lurah Janur Kemukus yang centil itu. Ia yakin gadis mungil yang baru berusia remaja itu kelak akan menjadi Srikandi apabila berada dalam bimbingan seorang tokoh yang pandai dan bijaksana. Ia bakal mampu memimpin kaumnya supaya tidak hanya merupakan calon-calon janda dari Para suami yang tidak bertanggung jawab, atau jadi permainan kaum lelaki yang berkuasa. Jaka Pratama kemudian bangkit dan memasang pelana, lalu memacu Karbala. Ia harus berada di Jepara sebelum fajar pagi terbit kembali.

Di tangannya telah tergenggam kekuatan, di dadanya telah tersemat kepercayaan, bahwa anak-anak muda yang kelak akan menggantikan kedudukan orang-orang tua, ternyata sudah siap mengambil alih tugas-tugas itu dari mereka. Ia telah melihat beberana di antaranya, Pandu Nayarana, Akas Lelaras, putra lurah Desa Ambarsari, dan Putih Wewangi. Berarti perjuangan dan pengorbanannya selama ini bagi kejayaan Merah Putih Majapahit melalui pengabdiannya terhadap Sultan Demak tidak nanti sia-sia dan tidak pula tanpa kelanjutan.

Itu pula yang tengah direnungkan oleh Kiai Dolah Pekih, pada saat menginjakkan kakinya di sempadan bandar Jepara.

Tertatih-tatih ia berjalan sendirian, sesuai dengan senario yang telah direncanakan. Namun alharndulillah, tanpa perasaan yang tertatih-tatih ia yakin bahwa masa depan Pertiwi Nusantara tidak akan terbengkalai di tangan kaum pemuda.

Ia sangat tertarik kepada Putih Wewangi, dan bermaksud melamarnya untuk menjadi menantu. Rasanya, putra sulungnya, cocok sekali dengan gadis tersebut. Apalagi Kembar Ula memang sudah matang untuk mempunyai istri. Sedangkan ia sendiri sudah lama pantas menimang cucu. Tapi apakah mereka mau?

Selaku seorang ayah, Kiai Dolah Pekih adalah ayah. Ia mengetahui apa yang tersimpan di hati anaknya tiap kali Kembar Ula menatap tajam ke arah Putih Wewangi dengan pandangan yang berubah-ubah. Ia mempunyai firasat bahwa anak sulungnya itu tidak sekadar memandang kagum, melainkan juga menyimpan harapan. Lirikannya begitu penuh gairah, dan selalu kemalu-maluan apabila kepergok oleh kerlingan si gadis. Artinya, dari pihak Kembar Ula keinginan Kiai Dolah Pekih telah ditanggapi baik, sebelum ia mengungkapkan mat sucinya tersebut. Namun bagaimana pendapat gadis itu sendiri?

Putih Wewangi terlalu terbuka sikapnya sehingga susah ditebak. la hanya bisa dibaca, dan tidak dapat ditafsirkan. la seperti cerita bergambar, dan tidak menyimpan rahasia seperti kidung karangan para wali, yang sarat dengan ibarat dan perumpamaan. Atau semacam tembang Pangkur yang tengah dilagukan oleh Putih Wewangi tatkala akhirnya mereka tiba dan berkumpul di rumah Mbah Buyut, nenek si gadis, di tengah bandar Jepara yang sibuk, pada tengah malam yang senyap. Ternyata suara gadis itu sangat merdu, sampai Kembar Ula, yang mendengarkannya di luar kamar si gadis, terpukau presis monyet kehilang-an anaknya. Kemudian Kembar Ula menjadi kian terbengong ketika seharusnya ia tertawa geli manakala dengan jenakanya gadis centil yang menawan itu menyanyikan dolanan rekaan Sunan Kalijaga.

Sluku-sluku bathok Bathoke ela-elo

Si Romo menyang Solo Leh-olehe payung motha Tak jenthit lolo lomah Wong mati ora obah Nek obah edeni bocah

Semua bagaikan tersihir selama mendengarkan suara lembut itu. Tidak cuma karena yang menembangkannya seorang gadis remaja cantik dengan suara amat renyah, tetapi terutama lantaran di dalam dolanan yang sederhana itu ter- kandung peringatan dan nasihat berharga ten-tang hakikat kehidupan di slam maya yang fana ini.

Dolanan itu berisi filsafat yang dalam, yang surasannya sangat menyentuh hati nurani terdalam.

"Hai, manusia, hidup ini sekadar seperti permainan yang remeh, terbuat dari tempurung kelapa. Tempurung itu bergerak oleng tidak menentu. Mengembaralah Ayah hingga ke tempat yang jauh, dari Demak ke Solo, namun pulangnya hanya membawa hadiah berupa payung pengantar jenazah. Hidup sesungguhnya bagaikan perrnainan ciluk-ba, sebentar nampak tetapi sebentar lagi bakal lenyap tanpa bekas. Karena itu berbuat jasalah, dan jangan angkuh, sebab orang, kalau sudah mati, tidak akan bergerak. Andaikata bergerak pun, hanya akan membuat anak-anak kecil mati ketakutan."

Pandu Nayarana yang menikmati dengan cermat suara dan isi dolanan itu, serasa diingatkan tentang perjalanan hidupnya yang sengsara semenjak kanak-kanak. Ia dilahirkan dari rahim seorang ibu dengan bibit mulia dari ayahnya, Pandu Dewabrata. Akibat pergolakan kehidupan, ia tidak sempat menikmati masa kecil dalam asuhan dan kasih sayang orang tuanya. Ayahnya yang konon ksatria sejati, telah gugur pada waktu ia membutuhkan gemblengan dan bimbingan sepasang tangan jantan yang berjiwa pahlawan, dari mata keras milik sebuah hati yang pasti dipenuhi keprihatinan kepadanya.

Pandu mencoba menghilangkan kerut duka nya, namun air mata yang ditatahan tidak sanggup melenyapkan kesedihan yang menundukkan kepalanya. la memandangi tanah di bawah kakinya, tanah dari mana manusia berasal dan ke mana manusia akan kemhali. Tanah yang telah melebur jasad ibu-bapaknya menjadi kenangan panjang di dalam jiwanya. Pandu tersedu-sedu walaupun isaknya tidak terdengar orang lain.

Sementara itu Kiai Dolah Pekih mempunyai kesan yang amat jauh sepanjang Putih Wewangi melantunkan dolanan itu di dalam biliknya. Kakek yang bijak dan ikhlas itu terbawa kepada bunyi firman Tuhan dalam Alquran, tentang hakikat dan makna kehidupan.

"Apalah arti hidup ini, kecuali sekadar kesenangan fatamorgana yang menyesatkan? Karena itu janganlah engkau terlalaikan oleh kehidupan dunia, dan jangan Pula engkau mau disesatkan oleh penipu-penipu yang membawa-bawa nama Allah."

Kiai Dolah Pekih makin tepekur di tikar sembahyangnya tatkala is membaca pada ayat yang lain, peringatan dari Allah Azza wa Jalla: "Berikan perumpamaan kepada manusia, bahwa kehidupan di dunia ini bagaikan air yang ter-curah dari langit. Air itu masuk ke dalam tanah, lalu diisap oleh akar tanam-tanaman. Menghijaulah dedaunan, bermekaran bunga- bunga. Nanti yang hijau akan layu, yang kembang akan kering, gugur diterbangkan angin. Sungguh Allah mahakuasa atas segala sesuatu."