Ajal Sang Penyebar Maut Bab 04 : Pendekar Muda

Bab 04 : Pendekar Muda

Jaka Pratama dengan lunglai kembali ke gua persembunyiannya. la merasa lebih tenang bergaul dengan kudanya. la lebih suka berbincang-bincang dengan Karbala, sebab ia lebih bebas, mengemukakan seluruh isi hatinya. Binatang itu cuma mendengarkan, tanpa sikap pura-pura yang pada manusia sulit untuk menebak kebenarannya.

Selepas shalat Maghrib ia berbisik kepada kuda itu, "Karbala, sahabatku. Apa yang mesti kulakukan?"

Karbala hanya memandang lurus. la menggeleng-geleng, namun Jaka tidak mampu menangkap isyarat apa yang diberikannya. Jaka terdesak, ingin tahu, sebetulnya hingga ke mama tingkat herpikir seekor hinatang yang cerdas macam Karbala? Apakah ia dapat merasakan seperti yang diranakan manusia, hanya ia tidak bisa mengutarakannya dengan kata- kata? ia sering menyakaikan Karbala tampak sedih, panik, takut, malahan marah. la sering melihat Karbala begitu kehilangan dan rindu jika berpisah lama dengan dirinya. Mungkin jugakah Karbala mampu berpikir seperti manusia? Bukankah ia kadang-kadang dapat menentukan jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi bersama? Bahkan pada saat ia sendiri tidak tahu jalan keluar itu?

"Ah, Karbala, sayang engkau tidak bisa berbicara. Boleh jadi jika engkau mempunyai kesanggupan selengkap manusia, yang pantas jadi pemimpin adalah kuda, dan bukan makhluk yang bernama manusia. Sebab, pada Karbala, Jaka tidak melihat nafsu mementingkan diri sendiri. Karbala tidak pernah serakah. Ia makan seperlu-nya. Ia minum seperlunya. Ia tidak takut kehabisan bahan pangan atau minuman sehingga harus mengumpulkan dan menimbun sebanyak-banyaknya seperti yang dilakukan oleh manusia. Ia mengambil sekadarnya. Lebihnya dibiarkan untuk yang lain.

"Karbala," bisik Jaka seterusnya. "Agaknya aku masih harus coba-coba karena tidak ada yang bisa kuperbuat selain coba- coba. Rupanya kehidupan sekarang telah dipenuhi dengan teka-teki, sehingga manusia tidak dapat memahami hidupnya sendiri. Buat apa ia hidup. Akan kemana ia pergi nanti. Kami, manusia, lebih celaka daripadamu, Karbala, akibat ketamakan dan hawa nafsu. Seharusnya kami lebih baik dari-padamu lantaran kami mempunyai rongga otak yang lebih luas dan daya pikir yang lebih cerdas. Namun, semehtara hawa nafsumu hanya sebatas kebutuhanmu, kami, manusia, telah melampaui garis itu. Kami bahkan memperkosa akal untuk memperturutkan keinginan hawa nafsu. Inilah yang membuat kami binasa dalam pertarungan, persaingan, dan kedengkian. Oh, Karbala, seandainya manusia adalah kuda dan kuda adalah manusia, barangkali kehidupan akan lebih baik dari yang kita alami hari ini."

Anehnya, Karbala manggut-manggut, dan sekali-sekali menggelengkan kepala.

"Engkau paham, Karbala? Tapi kami tidak boleh putus asa, bukan, sebagaimana Tuhan juga tidak putus asa mengirimkan para Nabi dan orang-orang suci, untuk menata kembali keadaan dunia yang porak-peranda ini. Demi itulah, Karbala, jika perlu aku bersedia mengorbankan diri sendiri."

Sesudah mencurahkan seluruh isi hatinya kepada Karbala, rasanya puaslah jiwa Jaka, ter-bebas dari beban yang sering menyiksa malam-malamnya menjelang terpulas tidur. Karena itu ia kini sudah dapat mengambil keputusan. Apa-pun yang bakal terjadi, ia harus menghubungi agen ketiga, si penjaga bajigur yang kaki kirinya agak terpincang-pincang. Ia harus melindungi nyawanya supaya tidak menjadi korban keganasan musuh berikutnya. Lebih dari itu, ia harus bisa memergoki dan menangkap pem-bunuh itu untuk mengorek keterangan serta asal-usulnya.

"Karbala, sekali lagi engkau mesti bersabar untuk tetap bersembunyi di sini. Itu lebih baik, Karbala, daripada engkau akan bertemu dengan ulah manusia yang sering kali tidak mempunyai lagi kemanusiaannya. Aku pergi dulu, ya!"

Lalu Jaka pun keluar menyelinap dari gua yang di pintunya bergantungan akar-akar besar dan dedaunan rimbun. Ia harus menyibak-nyibak dengan susah payah sebelum dapat bernapas dengan lega di luarnya.

Tiba di hutan, malam telah menyembunyikan keindahan alam di dalam kegelapan tanpa purnama. Bulan sudah menggelinding tinggal separo. Biasnya lebih banyak menimbulkan bayang-bayang tanpa bentuk.

Ia tidak menjumpai halangan hingga ke batas desa, selain perasaan pepat menghadapi semua kemungkinan yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Menurut jadwal, jika sudah di atas jam tujuh ia harus menunggu si penjaja bajigur di dekat rumah Pak Lurah, yang kebetulan malam itu tampak sangat sepi. Ke mana mereka pergi, bajingan-bajingan Keris Bersilang itu?

"Wedang santan, wedang santan," tiba-tiba Jaka mendengar penjaja bajigur menawarkan jualannya.

Dari kejauhan, dalam samar-samar cahaya lampu yang lolos dari rumah-rumah penduduk, ia melihat seorang laki-laki jangkung berjalan ter-pincakig-pincang menuju ke tempat ia duduk menunggu.

Jaka kembali terperanjat seketika, tatkala mendadak penjaja pincang itu terjatuh sebelum separo jalan ke arahnya. Kali ini Jaka tidak mau diperbodoh. In harus mengejar dan menangkap bayangan yang melayang dan pohon sawo itu. Pasti dia pembunuhnya. Siapakah dia sebenarnya? Kelompok manakah yang berdiri di belakangnya?

Jaka tidak mau dihantui bermacam-macam praduga dan sangka-sangka. la hams mendapatkan kejelasan dari serangkaian pembunuhan yang terang-terangan merintangi gerakannya. la harus menjawab tantangan itu dengan tindakan yang lebih cekatan dan bijaksana. Artinya, ia tidak boleh melibatkan hatinya dalam pengarui, emosi atau balas dendam. la harus murni semata-mata demi perjuangan. Sebab emosi atau dendam hanya akan membuat tindakannya seram- pangan dan tanpa perhitungan. Karena itu, seraya menggumamkan bismillah tiga kali, ia cepat melayang, menyusul bayangan itu dengan mengerahkan puncak ilmu ringan tubuhnya. Bayangan itu cukup gesit melompati gundukkan demi gundukan, dan sekali-kali melayang ke pucuk pepohonan. Andaikata Jaka tidak memiliki kecepatan tiga kali lipat, ia pasti sudah kehilangan jejak.

Malam memang cukup pekat untuk menyembunyikan bayangan yang mengenakan pakaian serba hitam itu, seperti yang dipakai Jaka. Dan tentunya kegelapan yang sama menghilangkan bayangan Jaka pada orang yang dikejarnya, sehingga nampaknya ia mulai bergerak ayal-ayalan, tidak seburu-buru sebelumnya. Mungkin ia menyangka Jaka tidak mengejarnya, sebab baik dari pakaian maupun gerakannya, Jaka hampir tidak menimbulkan kecurigaan sedikit pun. Kemahiran ilmu dalamnya telah melampaui puncak tertinggi dari yang dapat dikuasai oleh orang biasa, sehingga pergeseran tubuhnya dengan udara malam atau dengan benda-benda lain nyaris tidak menyebabkan bunyi sama sekali. Karena itulah bayangan tadi sangat terperanjat tatkala mendadak sesosok tubuh berpakaian serba hitam melompat turun di mukanya.

"Siapa engkau, merintangi jalanku?" tanya bayangan tersebut.

"Aku yang harus bertanya kepadamu, Saudara Muda. Siapakah engkau, selalu menjegal rencana kerjaku?" balas Jaka membalikkan pertanyaan pembunuh itu.

"Pantas!" gumam orang muda itu, yang mukanya ditutup topeng. Lantaran ucapan itu tidak ada hubungannya dengan pertanyaan yang dikemukakannya, Jaka jadi penasaran dan kebingungan. "Apanya yang pantas? Kekejamanmu membunuh manusia seperti membunuh binatang saja?"

"Cocok!" gumam pendekar muda itu kembali tanpa memperhatikan pertanyaan dan kutukan dari Jaka Pratama.

“Apa-apaan engkau ini, Saudara Muda, pertanyaanku sama sekali tidak kau jawab. Engkau malah ngomong semaumu sendiri. Siapakah engkau sebenarnya? Atas suruhan siapa engkau melakukan semua ini?” cecar Jaka mendesak anak muda itu untuk menjawab, namun masih tetap dengan sikap lemah lembut dan air muka yang ramah.

“Persis!” lagi-lagi bayangan bertopeng itu bergumam semaunya.

“Dengan cara apa aku mesti mengorek keterangan darimu?” ucap Jaka mengeras bahna kedongkolannya.

"Keterangan apa? Malah saya yang sebetulnya ingin minta. penjelasan dari Tuan. Sebab masih banyak perkara gelap yang belum saya ketahui rahasianya," jawah pembunuh itu dengan nada wajar, tanpa kesan kurang ajar seperti tadi, atau tekanan dingin sebagai pemnunuh. "Aneh. Bukankah engkau yang telah membunuh si penjual cendol tadi pagi, si pedagang jagung bakar tadi siang, dan si penjaja bajigur harusan?" hardik Jaka kian mendongkol.

"Betul," jawah anak rnuda itu makin tenang.

"Jadi, mengapa kau bunuh mereka, padahal ketiga orang itu amat penitng bagiku?" tanya Jaka.

"Justru hal itulah yang ingin saya tanyakan kepadamu"

Jaka tambah tidak mengerti di samping makin geregetan. "Maksudmu?"

"Maksud saya, apakah Tuan tahu sebabnya, mengapa saya disuruh membunuh ketiga orang itu?" sahut si pembunuh menjengkelkan.

"Jangan membuat teka-teki, anak muda. Sebetulnya apa maumu dengan jawaban ber-putar-putar itu?" damprat Jaka Pratama hampir habis persediaan kesabarannya.

"Tuan kenapa naik pitam? Saya bertanya sungguh-sungguh. Mengapa sebenarnya saya disuruh membunuh mereka?" jawab anak muda itu masih tetap dengan ketegarannya.

"Duh Gusti, apa yang mesti saya lakukan terhadap anak ini," akhirnya Jaka mengeluh lan-taran kesalnya. Kalau ia menuruti hawa nafsu-nya, sudah pasti anak itu tak kan berberita lagi. Namun ia menganggap terlalu gegabah bila hams mencelakakannya. Terlalu mudah dan tak kan menghasilkan apa-apa.

"Betul-betulkah Tuan tidak tahu, atau cuma berlagak pilon?" tanya anak muda itu, juga mulai menampakkan tanda kesal.

"Baiklah, aku akan mencoba menganggap engkau tidak main- main. Jawab dulu pertanyaanku. Siapakah engkau?" akhirnya Jaka mengalah. "Untuk menerangkan siapa saya, apakah Tuan cukup mempunyai kesabaran buat mendengarkan cerita saya?" ucap anak muda itu. Kini nadanya melemah. Kedengarannya ada semacam rasa sedih di dalamnya.

“Aku memang sedang dikejar waktu. Tetapi untuk membuangnya sekadar satu jam dua jam, barangkali masih bisa dimaafkan, daripada rahasiamu tiduk terbongkar," sahut Jaka terpaksa.

“Sebetulnya tidak ada rahasia di antara kita. mungkin hanya kesalahpahaman belaka,” tegas anak muda itu.

Lalu ia pun segera membuka topeng yang menutupi wajahnya.

“Apakah Tuan ingat, mirip siapakah wajah saya?" tanya anak muda itu seraya mendekatkan dirinya lebih ke muka.

Jaka melihat seorang pemuda remaja, berusia menjelang tujuh belas tahun dengan roman yang tampan dan lembut. Alisnya hitam tebal, hampir bertaut di antara keduanya. Rasa- rasanya ia ingat akan seseorang, namun ia ragu-ragu.

“Lupakanlah tebakan ini. Nanti Tuan juga akan ingat terhadap seseorang yang wajahnya mirip saya.”

“Sudahlah, soal itu kita bicarakan nanti. Sekarang mulailah engkau menceritakan tentang dirimu. Dan jangan coba-coba bersiasat, sebab aku tidak sehalus yang kaubayangkan. Aku juga bisa berlaku keras,” ucap Jaka sedikit mengancam.

“Saya. pun tahu, Tuan. Kalau tidak, tak kan Tuan diberi julukan Santri Putih Bertangan Besi,” sahut si pemuda agak gentar.

Jaka terperanjat. Ternyata anak muda ini mengenal julukannya, padahal ia sudah lebih dari dua tahun tidak muncu] di kalangan persilatan. Bahkan juga tidak di lingkungan dunia ramai. Dari mana ia memperoleh pengetahuan itu?

“Tuan heran, mengapa saya bisa mengenali Tuan?” tanya anak muda itu bangga.

Jaka diam. Ia tak mau memperlihatkan keheranannya.

“Ah, berarti Tuan telah kalah dari saya satu penggal. Apa pula pendapat Tuan kalau saya bisa mengatakan bahwa Tuan sedang mendapat tugas untuk mengusut kasak-kusuk kaum pemberontak yang tengah berusaha menunggangi keresahan para pengikut Syeh Siti Jenar guna membebaskan diri dari kekuasaan Demak?”

Jaka tambah tersudut. Betul-betul ibarat main watur ia sudah hampir kena bunuh. Lawan sudah mengetahui identitas dirinya, sedangkan ia masih buta sama sekali.

“Itulah sebabnya Tuan mesti bersedia kerja sama dengan saya,” ujar pembantai muda itu langsung menusuk ke pusat tujuannya.

“Oh, jadi itu kehendakmu?” jawab Jaka manggut-manggut. Ia kini ingin mengorek rahasia yang sebenarnya di balik semua peristiwa ini. Jadi sebaiknya ia temskan sikap mengalahnya. ”Baiklah, soal itu bisa kita atur belakangan.”

Kaluu begitu, Tuan ikutilah saya. Di suatu tempat nanti Tuan akan saya beritahu siapa saya sebenarnya.” Ujar pemuda itu seraya melayang tanpa pamit lagi.

Hati Jaka sebetulnya amat mendongkol. Masakan ia dipermainkan begini hanya untuk mengetahui siapa anak muda itu? Sepenting itukah dirinya sehingga buat mengetahui riwayatnya saja ia mesti berlelah-lelah mengekor dibelakangnya. Awas, tahu rasa nanti jika ia hendak mempermainkannya. Dengan pikiran seperti itulah Jaka Pratama kemudian melayang mengikuti bayangan si pemuda.

Anehnya, setelah berputar-putar di luar Desa Baos Wangi, Jaka akhirnya dibawa memasuki desa itu kembali. Dan yang lebih aneh lagi, ternyata yang dituju anak muda itu justru rumah Ki Lurah Brajanala yang sekarang dijadikan sarang kaum pembangkang Keris Bersilang.

Namun mereka talak menuju ke bangunan utama yang kelihatan amat sepi, melainkan ke sebuah rumah gubuk dekat kandang kerbau.

Tanpa ragu-ragu atau minta permisi, anak muda   itu segera masuk ke dalam gubuk dan mempersilakan Jaka melalui isyarat tangannya agar melakukan yang sarna. Artinya, gubuk itu adalah tempat tinggal anak muda yang misterius tersebut. Hal ini membikin rasa ingin tahu Jaka kian membesar. Ada hubungan apakah antara si pemuda dengan para pembangkang?

Jaka sadar, risiko dari perbuatannya ini bisa merupakan tindakan gegabah seandainya kedatangannya ke dalam gubuk sudah direncanakan sebagai jebakan. Tapi telah kepalang. Jika identitasnya sudah dikenali, apa lagi yang mesti dikuatirkan? Ia cuma berharap, mudah-mudahan apabila ternyata nanti ia dikepung oleh komplotan Keris Bersilang, kemampuannya dalam ilmu bela diri dan kedigjayaannya dalam ilmu jaya-kawijayan dapat menyelamatkan dirinya untuk meneruskan perjuangan yang sedang dituntut oleh Kerajaan atas setiap para kawulanya. Ia tidak mau mati sia-sia di tempat ini.

"Silakan duduk, Tuan, di mana saja," ucap anak muda itu. Ia maksudkan dengan di mana saja karena keadaan di dalam gubuk memang memungkinkan untuk duduk di mana saja atau untuk tidak bisa duduk di mana saja. Sebab  tidak ada tempat duduk yang pantas diduduki, dan tidak ada tempat yang tidak pantas diduduki.

Jaka tersenyum geli dan agak lega melihat perubahan sikap anak muda itu  yang  kini  menjadi ramah dan sopan. Namun Jaka harus tetap waspada, siapa tahu perubahan sikap yang mendadak itu justru merupakan isyarat tentang rencana untuk menjebaknya!?

"Tuan ingin minum?" tanya anak muda itu menawarkan. Ketika Jaka menggeleng, anak muda itu bertanya pula, "Mau makan? Saya masih punya persediaan makan malam."

"Tidak,  terima kasih,"  sahut   Jaka   berusaha  menahan diri dari ketidaksabarannya. Lewat jawaban pendek itu sebenarnya ia menginginkan agar si pemuda segera memenuhi janjinya, menceritakan siapa dia sehetulnya. Karena makin lama Jaka teringat akan wajah dan pembawaan seseorang yang amat dekat dengannya tiap kali ia memperhatikan anak muda tersebut dengan saksama.

"Saya tahu Tuan sudah tidak sabar menunggu cerita saya. Dan saya tahu Tuan mulai teringat akan seseorang, walaupun masih samar-samar," ucap anak muda itu menebak dengan jitu. Jaka bagaikan ditelanjangi oleh anak kemarin.

Tapi Jaka senang dan kagum akan berhagai macam bakat yang dimiliki anak muda tersebut. Susunan tulang-tulang di badannya amat sempurna untuk menjadi pesilat yang tangguh. Ketenangan dan kesabarannya menghadapi suatu persoalan adalah modal untuk dapat mendalami ilmu kanuragan secara tuntas. Napasnya yang panjang merupakan benih yang subur guna mempelajari ilmu tenaga dalam yang ampuh. Kelincahannya yang alamiah sudah menunjukkan tanda-tanda yang   baik   buat   dikuasainya ilmu ringan tubuh. Oh, mudah-mudahan anak muda ini tumbuh di dalam lingkungan kaum putih pada jalan yang bersih supaya kelak tidak menjadi sumber malapetaka terhadap masyarakat luas.

"Baiklah, Tuan, saya akan memulai cerita atau riwayat hidup saya, semoga ada gunanya buat Tuan dan buat saya," kata si anak muda dengan sungguh-sungguh.

Setelah berhenti sebentar untuk menarik napas panjang, ia pun kemudian melanjutkan penuturannya: "Saya dilahirkan oleh seorang ibu yang berusia empat belas tahun dari tetesan darah ayah yang berumur delapan belas tahun."

Hingga di sini Jaka Pratama masih belum mampu menduga ke arah mana anak muda itu hendak bercerita. Ia dilahirkan oleh seorang ibu yang berusia empat belas tahun. Berarti waktu menikah perempuan itu belum lebih dari tiga belas tahun, dengan suami yang berumur sekitar tujuh belas tahun. Apa anehnya? Untuk penduduk kampung, perkawinan yang lebih awal dari itu banyak juga dilakukan orang.

"Tatkala terjadi geger Majapahit, yaitu peristiwa huru-hara menjelang pecahnya perang melawan Prabu Girindrawardhana dari negeri Keling, ibu saya terbunuh dan saya terpisah dari ayah saya. Sejak itu saya dipelihara oleh seorang resi yang baik hati, Panembahan Gede Dalem, tanpa teringat jelas seperti apa ayah saya," cerita si anak muda selanjutnya.

Pada bagian ini, Jaka merasa ikut tergetar memandangi pemuda itu yang tiba-tiba berwajah duka.

"Tetapi ketika saya sudah berusia empat belas tahun, Panembahan Gede Dalem yang telah membekali saya dengan berbagai ilmu, mengungkapkan rahasia masa silam saya. Dari beliau saya tahu hahwa ayah saya saat itu sedang bergabung dengan gerakan almarhum Tumenggung Wirayuda, bekas panglima pasukan istimewa Majapahit, Macan Ireng, yakni dalam usaha hendak merebut kembali kejayaan wangsa  Raden  Wijaya, cikal bakal raja terakhir Prabu Brawijaya yang kala itu telah menyerah kepada Raja Girindrawardhana."

Jaka tersentak. Tumenggung Wirayuda adalah ayahandanya. la ingin segera mengetahui siapa ayah anak muda ini. Namun si pemuda sudah keburu meneruskan riwayatnya.

"Maka dengan kelancangan saya tanpa seijin restu Panembahan Gede Dalem, saya minggat turun gunung untuk mencari ayah saya. Ternyata beliau telah gugur sehagai pahlawan, tumbal kehancuran total keagungan Majapahit. Saya pun luntang-lantung tanpa tujuan selama kurang lebih satu tahun penuh."

Jaka mulai mencoba mengira-ngira. Ia hendak memhuka mulut untuk bertanya, tapi anak muda itu kembali memotongnya.

"Dalam keadaan putus asa dan terlunta-lunta, tanpa mengetahui apa yang sebaiknya saya kerjakan, seorang tua yang bijaksana, bangsawan Majapahit, putra Adipati Wilwatikta dari Tuban, mengajak saya untuk ngenger kepadanya dan bergabung menjadi santrinya. Tentu saja tawaran itu saya terima dengan sukacita, karena nama besar bangsawan itu sangat termasyhur dan sering disebut-sebut dengan penuh kehormatan oleh resi Panembahan Gede Dalem. Orang tua yang baik hati itu adalah Sunan Kalijaga."

"Hem," Jaka hanya sempat menggumam, sebab, sebagaimana sebelumnya, seolah-olah anak muda itu tidak mau   ceritanya   dipenggalpenggal   dengan pertanyaan.

"Maka alangkah gembiranya hati   saya   manakala akhirnya saya dipercaya oleh Ki Wiryoprakoso untuk berangkat dari pesantren atas izin Kanjeng Sunan Kalijaga untuk melaksanakan tugas saya yang pertama, yaitu membantu missi rahasia yang sedang   dilakukan oleh Tuan, Raden Mas Jaka Pratama."

"Jadi . . . ?" lagi-lagi niat bertanya pada Jaka tersekat di tengah jalan. Karena lagi-lagi anak muda itu sudah memotongnya sebelum ia selesai menyampaikan   apa yang ingin diketahuinya.

"Atas petunjuk dan bantuan tiga agen Demak di Bagus Kuning, terdiri atas penjual cendol, pedagang jagung, dan penjaja bajigur, saya dapat diterima bekerja oleh Ki Lurah Brajanala almarhum, yaitu sebagai tukang kebun dan penggembala ternaknya. Saya memang sengaja di- selundupkan lebih dulu ke Desa Bagus Kuning sebelum Tuan tiba di sini, untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan seandainya terjadi perubahan situasi."

"Tapi . . . ?" Jaka lupa bahwa anak muda itu tidak perlu ditanya. Ia pasti akan memberi penjelasan terhadap yang ingin ditanyakannya. Maka ia pun memotong ucapannya hanya samPai pada kata "tapi."

Tapi di sini anak muda itu malah diam lama, seakan-akan memberi kesempatan kepada Jaka untuk bertanya, hingga Jaka nyaris tidak sabar lagi. Begitu kelihatan tanda-tanda Jaka hendak bertanya, si pemuda segera melanjutkan ceritanya.

"Karena kesibukan saya bekerja di kebun dan menggembala ternak, saya belum pernah bertemu muka dengan ketiga agen tersebut. Lagipula memang saya dilarang mengadakan kontak dengan mereka. Sampai pada suatu hari, seorang anggota Santri Pitulas yang sudah lebih lama menggabungkan diri sebagai anak buah almarhum Ki Brajanala, yang saat itu sudah enam belas hari dibunuh oleh Raka Jinangkar, memberi perintah kepada saya menjelang ia meloloskan diri dari perangkap yang direncanakan oleh gerombolan Keris Bersilang,   bahwa saya harus membunuh si penjual cendol, si pedagang jagung, dan si penjaja bajigur apabila Tuan telah muncul dan sedang akan menghubungi mereka,   supaya kecurigaan tidak jatuh kepada saya, karena kerahasiaan dan tenaga saya masih diperlukan di Desa Bagus Kuning."

Kembali anak muda tersebut diam  untuk beberapa lamanya, seperti amat menyesal terhadap apa yang telah dilakukannya.

"Saya tidak habis mengerti, mengapa saya harus membunuh ketiga agen itu? Apakah perbuatan saya ini tidak keliru? Atau…, apakah mungkin anggota Santri Pitulas yang menyampaikan perintah itu ternyata seorang peng- khianat yang sengaja hendak mengacau gerakan kita dari dalam? Kalau demikian, mengapa tidak turun berita agar saya tidak lagi mempercayai petunjuk Santri Pitulas itu? Malah berita terakhir yang saya terima dari agen yang kemudian saya hunuh, justru saya harus mengikuti pe- tunjuk dari anggota Santri Pitulas tersebut dan tidak kepada yang lain, sampai kedatangan Tuan."

Ketika anak muda itu diam agak lama, Jaka nyelonong bertanya, "Apa aku boleh membantumu?"

"Dalam hal apa?" Tentu saja harus, bukankah kita satu golongan?" tanya si anak muda keheranan. "Maksudku aku ingin membantumu dengan beberapa pertanyaan, karena   aku   pun   harus   menyimpan kecurigaan kepada siapa saja, termasuk kepadamu," sahut Jaka.

Tatkala Jaka mengungkapkan hal ini, yang terbetik dalam pikiran Jaka adalah, jangan-jangan malah anak muda ini yang pengkhianat. Namun melihat penampilan dan sikapnya, rasanya mustahil. Jika benar, mengapa tidak ada kontak bahwa ia harus berhubungan dengan pemuda ini?

Agaknya si anak muda mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh Jaka. 'Fiba-tiba ia merogoh   kantong bajunya dan mengeluarkan secarik kain hijau kecil dengan tulisan Allah dalam huruf Arab di atasnya.

"Apakah benda ini yang ingin Tuan tanyakan?"

Jaka agak malu,  merasa  kebimbangannya dengan telak telah ditebak anak muda itu. Sungguh seorang pemuda yang peka dn cepat tanggap. Memang benda kecil tipis itu yang menjadi tanda, apakah orang bersangkutan betul-betul agen Demak atau  bukan, selain  beberapa kata sandi yang tadi telah dijawah dengan tepat oleh si anak muda pada waktu mereka sedang berlompatan menuju ke gubuk ini.

"Tidak, bukan itu yang paling penting," ujar Jaka mengelak.

"Jadi, masalah  apa? Bukankah  saya  sudah menceritakan semuanya?"

"Belum." "Maksud Tuan?" "Siapa namamu? Sungguh tidak adil jika engkau telah mengetahui siapa aku, tetapi aku belum tahu siapa engkau," sahut Jaka mencoba mencairkan ketegangan dengan agak berseloroh.

"Riwayat saya kan sudah Tuan ketahui," bantah anak muda itu.

"Namun apa gunanya kalau  namarnu  tidak kausebutkan?"

"Oh iya. Nama saya Pandu Nayarana." "Apa barangkali ayahmu adalah . . ."

"Betul. Ayah saya adalah almarhum Raden Pandu Dewabrata, abang angkat Raden Mas Jaka Pratama," potong anak muda itu sambil  menunduk, menyembunyikan air matanya.

"Oh, anak muda," teriak Jaka terharu seraya bangkit, lalu memeluk Pandu Nayarana dengan "Ngger, jadi engkau putra Kangmas Pandu!"

Jaka Pratama masih sempat teringat sebentar akan hubungannya yang sangat akrab dan tulus dengan Pandu Dewabrata. Baru hari ini ia mengerti kenapa Kangmas Pandu dulu sering termenung sendirian tiap kali berada di luar penglihatannya. Rupanya saat itu ia sedang mengenangkan anak satu-satunya yang hilang tanpa ketahuan rimbanya. Namun kesempatan itu tidak berlangsung cukup panjang untuk melantur di dalam rasa sedih, karena tiba-tiba terdengar grabak-grubuk langkah kaki kuda yang dipacu buru-buru.

Jaka cepat keluar. Hampir tidak tertangkap mata telanjang, ia melayang ke wuwungan rumah Ki Lurah sambil berbisik sebelumnya: "Tenanglah engkau di situ, aku akan melindungi- mu dari atas." Pandu Nayarana menjawab dalam nada amat kagum, "Terima kasih, Paman."

Ternyata yang datang adalah anggota Santri Pitulas yang dua hari lewat berhasil meloloskan diri dari kepungan para bajingan Keris Bersilang. Ia menuntun seekor kuda di samping yang di-tungganginya. Tanpa turun dari punggung kuda-nya ia berteriak :

"Pandu. Larilah engkau dengan Jaka. Di kuda ini ada peta. Pelajarilah. Jejakmu tercium oleh Raka Jinangkar. Pergilah kalian ke bulatan hijau dalam peta itu. Dua hari Iagi, pukul sembilan malam kalian harus tiba di sana.

Tanpa menunggu sepatah jawaban pun ia secepat mungkin menerbangkan tunggangannya ke dalam bayangan malam. Jaka segera turun, disambut oleh Pandu dengan mempersilakannya naik kuda bersama-sama. Jaka menggeleng. Ia memberi. isyarat singkat agar Pandu mengikutinya dengan naik kuda. Mula-mula Pandu heran, mengira Jaka bercanda. Masak kaki manusia dapat berpacu dengan lari seekor kuda. Terbukti keheranannya herubah menjadi setengah tidak percaya tatkala kudanya tidak mampu mengejar kecepatan ilmu ringan tubuh paman angkatnya, Jaka Pratama.

Betapapun, situasi mungkin telah begitu gawat, terbukti dari suara gelegar serombongan pengendara kuda yang tertangkap oleh pendengaran tajam Jaka Pratama yang menggunakan aji Wasis Rungu. Agaknya mereka tengah berpacu menuju rumah Ki Lurah. Namun Jaka yakin, buat sementara waktu mereka belum akan dapat mengejarnya. Karena itu, meskipun terpaksa harus bergegas-gegas, Jaka menuntun Pandu Nayarana menuju ke tempat persembunyiannya di dalam gua sebelah atas hutan Setan Gundul. Ia harus menjemput Karbala, baru melenyapkan diri dari tempat itu.

Untunglah gelap kian hitam dan tiba-tiba hujan tercurah dengan lebat tanpa tanda mendung dari siangnya, sehingga Jaka Pratama dan Pandu Narayan bisa dengan leluasa meninggalkan wilayah desa Bagus Kuning.

“kurang ajar! Cecurut itu sudah menyingkir!" ungkap Raka Jinangkar yang kebetuan belum sampai kebasahan.

"Hujan keparat. Akan sulit kalian menapaki jejak mereka. Sudahlah. Kita bersenang-senang saja malam ini. Panggil tayuban meskipun bumi tenggelam dalam hujan. Cepat!"

Hanya suara air yang mencuat di tengah malam buta yang dingin dan kuyup itu, mengisyaratkan keputusasasaan atas kegagalan dan rintangan yang kian membengkak.

"Besok kalian gerebek sekujur desa. Siapa pun yang kedapatan mencurigakan, seret ke tengah hutan, dan habisi di sana. Kita tidak boleh memberi hati lagi kepada lawan. Cara sopan tidak bakal mematangkan buah. Dengar?"

Raka Jinangkar masih terus mencak-mencak sampai akhirnya, sekitar pukul tiga, rombongan tayuban datang, dilengkapi dengan dua orang ronggeng muda yang cantik-cantik. Karena terguyur hujan, gadis-gadis tayuban dan kedua ronggeng yang kebasahan itu disuruh membuka pakaian dan menggantinya di depan mata Raka Jinangkar sendirian, sementara para lelakinya serta seluruh anak buahnya diperintahkan menyingkir.