-->

Wesi Adji Belambangan

Pengarang : Harjanto PS
W E S I A J I B E L A M B A N G A N

■■■■■

Sore itu disebelah selatan gunung Wilis, dijalanan yang diapit oleh hutan terlihat seekor kuda putih dipacu dengan pesat oleh penunggangnya. Penunggang kuda itu seorang pemuda yang berpakaian keprajuritan.

Siapakah dia. Kenapa ia melarikan kuda tunggangnya seperti dikejar setan.

Pemuda itu adalah Jaka Prasetya, seorang prajurit Matatam yang terkenal gagah berani.

Waktu itu tahun 1625. Kerajaan Mataram diperintah oleh Sri Sultan Agung, yang bercita-cita mempersatukan daerah diseluruh pulau Jawa.

Dan pada tahun itu Sri Sultan Agung memimpin penyerangan ke kuta Surabaya. Pertarungan sengit dengan patsukan adipati Surabaya tak terhindarkan. Semula kota itu sukar dikalahkan, tetapi berkat pertolongan Tuhan akhirnya tunduklah pasukan Surabaya.

Dalam penyerangan kekota Surabaya Jaka Prasttya ikut ambil bagian. Dan satelah kemenangan itu mendiadi kenyataan Sri Sultan Agung lantas menyuruh Jaka Prasetya ntuk menyampaikan kabar kemenangan pasukan Mataram itu ke Karta.

Tanpa diperintah dua kali Jaka Prasetya lantas berangkat, karena sebetulnya iapun sudah rindu pada ayah bundanyaa jang ia tinggalkan didesa Butuh.

Sementrara itu sang Surya semakin condong kebarat. Pada saat itu terbayang dipelupuk mata Jaka Prasetya wajah ibunya. Ah, betapa gembira ibunya bila melihat kehadirannya kembali dengan selamat dan membawa beaita kemenangan.

Sekonyong-konyong lamunannya terganggu oleh ringkik kudanya.

Kuda itu tiba-tiba berhenti berlari.

Ia mencambuk kuda itu untuk berjalan lagi, tetapi si-kuda tak mau berlari. Jangankan berlari, berjalanpun dia tak mau. Ringkiknya bertambah keras dan meronta-ronta.

Alangkah heran hati Jaka melihat kudanya menunjukkan kelakuan yang sedemikian rupa. Belum pernah kuda itu membangkang terhadap perintahnya. Sekali ini meskipun telah dicambuk berkali-kali, kuda itu tetap tidak mau berjalan. Ada apa gerangan?

Ketika Jaka sedang keheran-heranan, sekonyong-konyong dari semak-semak ditepi jalan itu keluar seseorang. Orang itu bertubuh tinggi besar. Dimukanya tumbuh cambang yang tebal. Janggut orang itu tumbuh dengan lebatnya. Orang itu mungkin seorang pemburu; karena ditangan kanannya dia menjinjing seekor kijang yang terikat. Ditangan kirinya terlihat busur bersama anak panahnya. Demi dilihat kuda putih yang berontak-rontak itu. ia berhenti berjalan. Diperhatikannya kuda itu dengan teliti, Kini kuda itu berhenti memberontak dan kemudian meringkik dengan perlahan. Setelah beberapa saat orang tadi memperhatian kuda itu, ia tertawa terbahak- bahak :

„Ha, ha, ha, ha, ha, ha. Hari ini betul-betul sial aku. Dikala perut sedang lapar, ditengah jalan terpaksa harus meringkus seorang pencuri”.

„Semuda itu usiamu sudah beani mencuri kuda orang”, kata orang itu selanjutnya.

Alangkah heran Jaka demi mendengar kata orang itu. Meskipun dia sangat gusar, tetapi ditahan sedapat mungkin, agar kegusarannya tidak tampak dimukanya.

„Bapa, baru kali ini saya berjumpa dengan bapa, bagaimana mungkin bapa menuduh saya seorang pencuri. Kuda ini sudah kupelihara sejak saya berumur 10 tahun”.

„Baiklah. Kalau begitu saya ingin bertanya. Adakah ayahmu bernama Anggara?" tanya orang itu sambil meletakkan hasil buruannya.

,,Anggara? Saya tidak kenal nama itu. Ayah saya bernama Rangga", jawab Jaka.

„Kalau begitu kamu pencuri kuda".

Demikian kata „kuda” selesai diucapkan, orang itu bergerak dengan cepat kearahnya dan sebuah cengkeraman mengarah kaki kanannya.

Jaka sangat terkejut, cambuknya segera disabatkan ketangan kanan orang yang hendak mencengkeram kakinya, tetapi orang itu tidak menarik tangannya kembali, tetapi orang itu mengubah cengkeramannya untuk mencengkeram cambuk Jaka. Cambuk itu terpegang dan suatu tenaga yang kuat menarik cambuk itu. Tentu saja Jaka mempertahankan cambuknya, tetapi ketika dia sedang menggunakan tenaga untuk mempertahankan cambuknya dari rebutan orang itu, sekonyong-konyong orang itu melepaskan cambuk itu dengan mendadak dan bersama itu sebuah pukulan dilancarkan. Oleh karena Jaka tidak menyangka sama sekali akan terjadi peristiwa itu, ia menjadi limbung dan karena limbung pukulan yang dilancarkan orang itu mengenai dengan telak didadanya.

Demi dilihatnya Jaka terpelanting dari kuda, dengan cepat orang itu menyambar kjang (hasil burunnnya) yang dibiarkan terletak ditanah dan dengan cepat ia meloncat keatas kuda itu.

Pada saat orang itu akan memacu kuda putih itu. Jaka telah dapat berdiri dengan tetap dan keris yang terselip dipingganmja ditarik dengan cepat. Ditusuk-kannya keris itu kearah dada orang itu. Maksudnya supaya orang itu menghindar serangannya dan kemudian meloncat dari kudanya sehingga kudanya dapat direbut kembali. Tetapi dugaannya meleset orang itu tidak menghindar dari serangan itu. Malahan ia membusung- kan dadanya sambil bergelak-gelak dan berseru:

„Keris Mataram! Keris Mataram!" Jaka terkesiap, karena bukan maksudnya membunuh orang itu.

Dengan cepat tenaga yang dikerahkan diku

kurangi. Tetapi terlambat keris itu telah menyentuh kulit orang itu dan

………… mata Jaka terbelalak. Keris itu bukannya menembus kulit orang itu, bahkan menjadi bengkok dibuatnya dan Jaka merasa seperti menusuk besi. Ketika masih belum tersadar dari kekagetannya, sekonyong-konyong terasa tangannya kesemutan dan kemudian dadanya seperti ditolak oleh suatu tenaga yang dahsyat dan tanpa tertahankan ia jatuh terduduk. Saat itu dirasakan bumi disekitarnya gelap gulita

Ketika ia sadar, orang itu bersama kudanya — si Putih — telah jauh berlari dengan kencang. Dengan lesu Jaka bangkit berdiri sambil memandang si Putih kesayangannya, yang berlari semakin jauh dan akhirnya hilang dari pandangan matanya. Ia sangat heran mengapa si Putih demikian jinak pada orang itu. Kini ia seorang diri disitu. Suasana disekitarnya sudah mulai gelap.

Diambilnya kerisnya yang telah bengkok. Kemudian berjalanlah ia dengan lesu. Ia berjalan menyusur jalan tadi dengan maksud mencari rumah penduduk. Hari bertambah gelap, tetapi tak sebuahpun rumah penduduk yang dijumpai. Namun ia tak berputus asa. Ia berjalan terus.

Tiba-tiba ia seperti melihat cahaya lampu dari kejauhan. Hal ini membangkitkan semangatnya. la segera mendekati arah cahaya itu. Akhirhja sampai juga ia ditempat asal cahaya tadi. Cahaya itu datang dari sebuah rumah.

Diketuknya pintu rumah itu. Agak sesaat ia menanti didepan pintu.

Ketika pintu terbuka seorang kakek tampak berdiri diambang pintu. Kakek itu tampak terkejut, demi dilihatnya, bahwa yang mengetuk pintu rumahnya adalah secrang pemuda yang mengenakan pakaian keprajuritan.

„Bapa. Saya adalah seorang prajurit Mataram. Tak berapa jauh dari sini. sore tadi saya menjumpai seorang perampok telah berhasil merampas kuda saya. Maka jika bapa memperkenankan saya akan bermalam disini.”

Kakek itu nampak heran. mendengar cerita pemuda tamunya itu.

Bagaimana mungkin seorang prajurit dapat dirampok kudanya oleh seorang perampok, tetapi akhirnya ia berkata juga :

„Tentu boleh, nak. Mari silahkan masuk.”

Mendengar jawaban itu, Jaka segera melangkah masuk.

„Rumah ini buruk nak. Saya hanya tinggal seorang diri dirumah ini, Disudut itu ada sebuah balai-balai. Anak tidur disitu malam ini. Saya biar tidur menggelar tikar dilantai'', kata orang tua itu.

„Tidak bapa, biar sayalah yang tidur dilantar.

„Jangan nak. Jangan. Saya tahu anak terluka berat. Anak membutuhkan tempat yang lebih hangat''. „

Dari mana bapa tahu bahwa saya terluka berat?,'' tanya Jaka dengan terheran-heran.

„Jalanmu tampak lesu nak dan suaramu terdengar lemah. tidak seperti seorang prajurit pada umumnya dan samar-samar didadamu terlihat biru bengkak. Agaknya anak berjumpa dengan perampok yang sakti. Pukulnn ini agaknya bukan sembarang pukulan", demikian kakek itu menjelaskan.

Mendengar penjelasan itu. Jaka semakin heran. Kakek yang dihadapinya itu tentunya bukan orang sembarangan.

„Jangan heran nak, saya seorang dukun. Sudah ber-kali-kali saya dapat menyembuhkan penyakit orang. Jadi jangan heran kalau mendengar saya dapat melihat apa yang anak derita", kata kakek itu. Kini Jaka tidak begitu heran lagi.

„Bapa tadi saya sampai lupa memperkenalkan diri. Saya Jaka Prasetya, Orang biasa memanggil saya „Jaka”.

„Orang2 biasa memanggil saya „pak Samun” Nah sekarang (ekaslah anak membaringkan diri, saya akan menyiapkan ramuan jamu untuk luka nak Jaka”.

Oleh karena badannya betul-betul sangat lesu. Jaka mematuhi nasehat Pak Samun. Ia segera membaringkan dirinya dibalai-balai yang ditunjukkan.

Saat itu kembali terbayang pengalamannya sore tadi.

Siapakah gerangan orang berjanggut yang telah merampas kudanya itu? Kenapa si-Putih demikian patuh padanya? Sehabis pulang ke Mataram ia berjanji akan mencari si Putih, hingga dapat diketemukan kembali.

Sementara itu Pak Samun telah datang dengan dua buah cangkir ditangannya. Diletakkannya dua cangkir itu dimeja dekat balai-balai dan ia kembali kedapur lagi dan sesaat kemudian ia kembali dengan membawa piring berisi nasi.

„Nak Jaka makanlah nasi ini dahulu sehabis memakannya minumlah jamu buatanku itu. Dirumahku ini nak Jaka tak usah malu-malu.

Anggaplah seperti dirumah sendiri”, demikian Pak Samun menyilahkan.

,,Terima kasih, bapa. Budi bapa yang sebesar ini sangat sukarlah saya membalasnya”.

Hidangan Pak Samun itu sebetulnya sangat sederhana, yaitu nasi putih dengan dua potong tempe, tetapi karena Jaka sangat lapar hidangan itu dengan cepat dihabiskannya. Setelah itu diminumnya jamu yang telah disediakan oleh tuan rumah itu. Jamu itu sangat pahit. Sehabis meminum, dia merasa bahwa kelesuan badannya banyak berkurang.

Selama Jaka makan dan minum, tanpa dirasainya Pak Samun memperhatikannya. Terutama tangan kanan Jaka dihiasi oleh sebentuk cincin ular-ularan. Yang menarik perhatiannya ialah permata yang terdapat pada mata ular itu. Permata itu bersinar sangat cemerlang dan merupakan permata yang jarang didapat dan sudah barang tentu mahal harganya.

„Cincin itu jauh lebih berharga dari pada harga seekor kuda kenapa perampok itu tidak merampas cincin itu. Tidak melihatkah dia'", pikir Pak Samun.

Tiba-tiba ia seperti tersentak.

„Nak Jaka", demikian katanya. „Siapa nama ayahmu?” „Nama ayah saya Rangga pak. Orang didesa biasa memanggilnya dengan nama Ki Rangga, pak".

„Pernahkah ayahmu menyebut-nyebut nama „Anggara"

„Anggara? Tidak bapa, saya tidak kenal nama itu. Ayah beium pernah menyebutnya'', jawab Jaka dengan heran.

Tiba-tiba ia teringat bahwa nama itu juga yang disebut perampok itu sore tadi. Dalam waktu yang tidak berselisih lamanya telah mendengar nama itu disebut oleh dua orang yang berlainan.

Siapakah Anggara? Apa hubungannya dengan ayahnya? Mengapa nama itu selalu dihubungkan dengan diri ayahnya?

Melihat tamunya agak tertegun Pak Samun segera berkata:

„Sudahlah, nak. Jangan terlalu dipikirkan pertanyaan bapa tadi.

Kamu membutuhkan waktu mengaso. Tetapi sebelum mengaso akan saya urut dulu tubuh nak Jaka. Itu kalau nak Jaka tak berkeberatan”.

„Mengapa tidak, bapa. Saya percaya bahwa usaha bapa itu berhubungan dengan kesehatan saya, Silahkan bapa memulai"

Pak Samun segera memulai mengurut-urut tubuh Jaka. Mula-mula dibagian yang terluka, kemudian seluruh tubuh Jaka dipijat-pijat. Sambil memijat-mijat orang tua itu menceriterakan berbagai peristwa yang terjadi diseskitar rumahnya. Tentang kehidupan yang dialami setiap harinya.

Setelah se!esai memijit-mijit tubuh Jaka, Pak Samun menyilahkan tamunya untuk tidur. Sehabis dipijit-pijit Jaka merasakan tubuhnya agak segar. la segera membaringkan tubuhnya. Saat itu terdengar Pak Samun berkata:

„Nak Jaka, tadi saya telah merendam param. Silahkan nak Jaka memaramkan".

Pak Samun memberikan param yang dikatakan itu. Jaka menerima param itu dan segera memaramkan keseluruh tubuhnya terutama dibagian dadanya. Sesudah itu, ia segera membaringkan diri dan tak lama kemudian tertidurlah ia.

Dia dijagakan oleh kicauan burung-burung disekitar rumah itu. Jaka segera bangkit. Dirasakaanya badannya telah pulih kesegarannya. Ketika dilihat keadaan tubuhnya ia tersenyum sendiri. Sekujur badannya putih semua, sehingga mirip tokoh Hanuman dalam cerita Ramayana. Didapur terdengar Pak Samun sedang menjerang air. Maka pergilah ia kedapur untuk menanyakan pada Pak Samun dimana sumur terletak. Setelah diberi tahu tempatnya ia segera mandi. Sehabis mandi kesegaran badannya terasa bertambah-tambah.

Ketika ia kembali kerumah, dilihatnya sepiring nasi yang masih hangat, telah tersedia berikut secangkir kopi dan selain itu juga ketela bakar. Melihat ini perutnya terasa lapar. Ketika Pak Samun menyilahkan, ia segera memakan hidangan itu dengan lahapnya. Hanya sebentar saja sepiring nasi itu telah dihabiskannya. Demi dilihatnya Jaka selesai makan Pak Samun berkata:

„Apakah nak Jaka akan melanjutkan perjalanan pagi ini juga?”

„Betul bapa. Terhadap semua pertolongan bapa sangat besarlah rasa terima kasih saya dan sebagai tanda terima kasih saya, marilah bapa terima cincin ini. Disamping sebagai tanda terima kasih saya, juga sebagai kenang-kenangan”. kata Jaka sambil mencabut cincin di jari manis tangan kirinya, jadi bukan cincin ular yang dise-but diatas.

Mula-mula Pak Samun menolak, tetapi setelah dipaksa oleh Jaka. akhirnya diterima juga. Kemudian Jaka segera memohon diri.

Disebuah desa yang tak seberapa jauh dari rumah pak Samun, Jaka berhasil menukarkan pendok dari kerisnya yang telah bengkok kemarin, dengan seekor kuda yang cukup kuat, meskipun tidak sekuat si Putih.

Dengan kuda itulah Jaka melanjutkan perjalanan ke Karta.ibu koka Mataram. Walaupun kuda itu tidak sekuat si Putih, tetapi perjalanan ke Karta tidak memayahkannya.

X X X

„Mataram menang! Mataram menang!'"

„Hidup Sri Sultan Agung! Hidup Sri Sultan Agung!"

Teriak kemenangan berkumandang diseluruh penjuru Karta. Semua penduduk kelihatan bergembira.

Berita kemenangan yang disampaikan oleh Jaka, disambut dengan gembira oleh penduduk Karta. Kabar itulah yang dinanti-nantikan. Dalam sekejap teriakan kemenangan menjalar keseluruh penjuru Karta.

Adapun Jaka segera menghadap putra mahkota, Sri Amangkurat, untuk menyampaikan pesan Sri Sultan Agung tentang kemenangan yang telah dicapai. Tentu saja Sri Amangkurat merasa gembira pula mendengar kabar itu.

Setelah menunaikan tugasnya, Jaka memohon diri untuk pulang kedesa Butuh untuk meninjau ibu dan bapa-nya.

Sri Amangkurat mengizinkan.

Kedatangan Jaka Prasetya didesa Butuh pun disambut dengan meriah oleh rakyat didesa itu. Apalagi ketika mereka mendengar keterangan Jaka, bahwa pasukan Mataram memperoleh kemenangan yang gilang gemilang dalam penyerbuan ke Surabaya.

Teriakan teriakan : „Mataram menang! Mataram menang!” terdengar diseluruh penjuru desa. Orang-orang tua yang mendengar kabar kemenangan itupun bergembira juga. Dalam hati mereka mendo'a

,Ya Tuhan. berilah Sri Sultan Agung berusia panjang”.

Lain halnya dengan anak-anak kecil. Mereka berteriak:

„Hidup kak Jaka! Hidup kak Jaka!''

Pendek kata seluruh desa diliputi kegembiraan. Sungguh gembira hati Jaka menyaksikan kegembiraan warga desanya. Oleh karena penyambutnya berjalan kaki terpaksa Jaka turun dari kudanya dan berjalan kaki. Begitu ia turun orang-orang desa Butuh itu segera meng- hujani dengan pertanyaan-pertanyaan. sehingga Jaka kewalahan dibuatnnya. Sekonyong-konyong dari kumpulan orang banyak itu terdengar teriak seseorang.

„Hai Sari, mengapa kamu menangis? Coba lihat. bagaimana kita menyambut kakakmu. Jasa kakakmu terhadap Mataram tidak kecil. Dia pasti akan mendapat anugerah pangkat yang tinggi dari Sri Sultan. Apa yang kamu tangisi. Ayolah sambut kakakmu ”

Belum habis kata-kata orang itu, Jaka Prasetya sudah datang mendekati mereka. Demi dilihatnya bahwa adiknya berada disitu, ia segera berseru.

„Hai Sari, kiranya kamupun datang menjemputku'''.

Ketika dilihatnya kakaknya datang mendekatnya, Sari pun lekas- lekas berlari kearah datangnya sang kakak. Tak berapa lama kemudian, dua kakak beradik itu sudah berpeluk-pelukan.

„Kak Jaka, tahulah kakak, bahwa t!ada suatu kegembiraan pun yang pernah kualami yang seperti hari ini. Betapa tidak? Kakak telah kembali dari medan juda dengan selamat dan menggondol kemenangan yang gilang gemilang. Tetapi kak ………..” demikian kata Sari sambil terisak-iaak.

„Kenapa Sari menangis? Bukankah tadi Sari mengatakan sedang bergembira?" tanya Jaka dengan heran.

„Tetapi kak, kulihat si Putih tak bersamamu. Apakah si Putih meninggal dimedan juda. Mendengar kata-kata adiknya Jaka merasa sedih. Kiranya demikian sayang Sari pada kudanya, si Putih. Hal ini tidak mengherankan, karena pergaulan mereka dengan si Putih sudah berlangsung sejak kecil.

„Tidak, Sari. Si Putih tidak mati. Kamu tak usah khawatir. Nanti setelah aku beristirahat, akan kuceritakan keadaan si Putih padamu”.

Mendengar jawab kakaknya. tangis Sari menjadi reda. Ia melepaskan diri dari pelukan kakaknya, dan menghapus air mata yang mengalir dipipinya.

Kemudian sambil menuntun Sari. Jaka berjalan menuju rumahnya, diikuti oleh orang-orang desa. Dari jauh sudah dilihat, ibu dan ayahnya berdiri dipintu pekarangan. Jaka berlari mendapatkan mereka dan ketika sudah dekat dipeluknya ibunya.

„lbu, lihatlah! Akhirnya aku kembali juga.”

Setelah itu ia melepaskan diri dari pelukan ibunya dan berlari untuk memeluk ayahnya.

„Ayah, Jaka sangat terkenang padamu''.

Sambil menepuk punggung Jaka, Ki Rangga berkata:

„Jaka, kegembiraan ayahmu kali ini sukar dilukiskan. Siang dan malam tiada lain pekerjaanku selain berdoa semoga kamu dapat pulang dengan selamat. Dan sekarang ternyata, bahwa doaku terkabul. Kamu pulang dengan membawa kemenangan”.

Demikianlah Ki Rangga dan isterinya serta kedua orang anaknya masuk kedalam rumah. Sementara itu sorak-sorai kemenangan masih berkumandang diseluruh desa. Orang-orang desa yang tidak berkesempatan menjemput Jaka, berbondong-bondong datang kerumah Ki Rangga. Kebanyakan dari mereka menanyakan berita sanak keluarganya yang ikut menyerbu ke Surabaya. Tentu sa ja tidak semua orang bergembira. Ada diantara mereka yang kehilangan ayah, suami atau anak. Tetapi meskipun bersusah hati mereka bangga, karena kematian sanak keluarga mereka itu untuk kepentingan perjuangan Sri Sultan Agung yang bercita-cita mempersatukan daerah-daerah dipulauan Jawa.

Malam itu didesa Butuh diadakan perayaan yang cukup besar.

Perayaan itu untuk merayakan kemenangan Mataram. Berpuluh-puluh ekor ayam disembelih, bahkan beberapa ekor kerbau juga. Pesta itu berlangsung pagi hari. Sepanjang malam itu rakyat desa Butuh makan dan minum sepuas hati mereka.

Malam hari yang berikutnya, setelah mengaso sehari penuh Jaka Prasetya datang menjumpai ayahnya yang sedang duduk makan sirih dibalai-baai dimuka rumahnya. (Pada jaman itu makan sirih juga menjadi kebiasaan orang laki-laki)

„Ayah ada sedikit pertanyaan yang akan kuajukan pada ayah''. kata Jaka setelah duduk didekat ayahnya.

„Katakanlah lekas. Jaka-“

„Ayah, kenalkah ayah pada seorang yang bernama Angara?”

Mendengar pertanyaan anaknya muka Ki Rangga sedikit berubah. Lalu katanya:

„Anggara? Anggra? Betulkah nama itu yang kau tanyakan-.

„Betul, ayah". Kemudian Jaka segera menceriterakan semua pengalamannya, selama diperjalanan pulang. Setelah anaknya selesai berbicarara Ki Rangga segera bertanya:

„Bagaimana wajah perampok kuda itu?"

„Ayah. Orang itu berjanggut lebar dan berkumis tebal. Seluruh giginya dihitamkan. Badannya tinggi besar jauh lebih tinggi dari orang biasa”.

„Tidak salahkah katamu tentang wajah orang itu".

Tidak, ayah. Hal itu masih segar dalam ingatan saya. Saya tidak mungkin melupakan wajah orang itu".

Jaka melihat bahwa wajah ayahnya seperti diliputi kesedihan.

Kegembiraa, diwajah ayahnya kemarin hilang lenyap. Kemudian samar- samar didengarnya ayahnya tidak mengucapkan sesuatu. Jaka menjadi heran melihat sikap ayahnya.

„Jaka”, demikian ayahnya berkata. „Kisah tentang Anggara sangatlah panjang. Besok malam akan kuceritakan hal itu padamu". Sehabis berkata demikian Ki Rangga bangkit berdiri. Tanpa menoleh pada Jaka, ia berjalan masuk kerumah. Jaka sangat heran melihat sikap ayahnya. Saat merasakan kesunyian yang sering kali dirasakannya. Dari hiruk pikuknya pertempuran yang dijalaninya di Surabaya. ia seperti dicampakkan ketempat yang sunyi senyap. Saat itu, ia baru menyadari. bahwa apa yang dilihatnya disekelilingnya pada hari-hari yang telah lalu, merupakan suatu keanehan. Ayahnya, ibunya dan adiknya wajahnya selalu diliputi kesedihan. Kesedihan itu seolah-olah tak terhibur lagi. Apa gerangan sebabnya ?

Jaka Prasetya, seorang prajurit Mataram yang gagah berani dan Pantang mundur menghadapi musuh yang bagaimanapun juga kini termenung seorang diri dimuka rumahnya.

Ya. la seorang prajurit Bukan hanya itu. Namanya juga dikenal sebagai pendekar muda pembela kebenaran. Kepandaiannya menggunakan cambuk jarang terkalahkan. Kepandaiannya bersilat menggetarkan setiap lawan.

Ayahnjalah yang mengajarkan semua kepandaiannya itu. Tak dapat disangkal lagi ayahnyapun seorang „berisi" pula, tetapi mengapa wajahnya selalu murung. Sampai lama Jaka termenung.

Untuk menghibur dirinya yang sedang kesunyian, ia segera bangkit berdiri menuju kepekarangan belakang, tempat yang sering dipergunakan untuk melatih diri. Dari kandang kudanya yang berada didekat pekarangan itu, diambilnya sebuah cambuk. Dengan sungguh-sungguh diyakinkannya permainan cambuknya. Begitu ia memainkan cambuknya ia merasa heran. Ia dapat menggerakkan cambuknya dengan cepat, lebih cepat dari biasanya. Tenaganyapun dirasakannya bertambah sangat besar. Belum pernah ia menggunakan cambuk secepat itu. Bunyi pecutannjapun sangat keras. Suatu kali ujung cambuknya menyentuh pohon kelapa dan kulit pohon kelapa itu terbekah sedikit, bagaikan bekas terbelah disambar petir.

„Kak Jaka, kepandaianmu ternyata maju dengan pesatnya", terdengar suara Sari yang mungkin telah lama berada disitu.

„Sari, saya sendiripun merasa heran menyaksikan kepandaian saya maju sepesat ini”.

„Kak Jaka tak perlu heran. Dengan tidak sadari kepandaian kakak bertambah dengan pesatnya selama pertempuran di Surabaya itu", kata Sari sambil meninggalkan kakaknya. Kata-kata Sari itu memang beralasan, tetapi ketika ia bertempur dengan orang yang merampas kudanya itu kepandaiannya belum seperti ini. Ia yakin kalau ia sudah memilikj kepandaian seperti ini tak mudahlah orang itu mengalahkannya.

Sekali lagi ia termenung memikirkan kepandaiannya yang maju dengan pesat itu. Tetapi ia lekas-lekas menghentikan lamunannya. la terus berlatih. Ia merasa gembira karena yakin dengan kepandaian yang seperti itu, ia akan dapat merebut kembali si Putih dari tangan orang berjanggut yang telah merampas kudanya.

Jaka berlatih hingga jauh Ketika dirasakan nya bahwa latihannya sudah cukup, ia segera menghentikannya. Setelah beristirahat sebentar ia segera masuk kedalam rumah dan kemudian membaringkan diri dikamarnya. Tetapi malam itu ia tidak dapat lekas-lekas memicingkan matanya. Berbagai-bagai pikiran mengganggunya. Siapakah sebenarnya Anggara itu? Apa hubungannya dengan diri ayahnya? Kenapa ayahnya tampak termenung mendengar pertanyaan tentang diri Anggara? Kenapa ayahnya selalu berwajah sedih? Tetapi oleh karena sangat lelah akhirnya dapat jugo ia terlena.

Keesokan harinya ……….

Sepanjang hari itu Jaka bertambah heran menyaksikan keadaan ayahnya. Tiada satu katapun keluar dari mulut ayahnya. Bahkan ketika sore harinya, dilihatnya sang ayah duduk termenung dibalai-balai dimuka rumahnya. Mukanya tunduk menekur seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. Hingga bedug mahrib berbunyi ayahnya baru bangkit meninggalkan tempat duduknya dan masuk kerumah untuk sembahyang dikamarnya. Sehabis itu Jaka melihat ayahnya lagi.

Kentong Imsa’ telah berbunji. Sehabis bersolat Jaka segera keluar rumah untuk menanti ayahnya. Tiba-tiba dilihatnya ayahnya keluar dari pintu rumah.

„Jaka. ikutlah aku”, demikian kata sang ayah.

Jaka tidak berani membantah. Ia mengikuti ayahnya keluar pekarangan dan terus berjalan menuju keselatan desa. Ki Rangga berhenti dibawah sebuah pohon randu alas. Jaka menantikan apa iang akan dikatakan ayahnya dengan penuh tanda tanya. Tiba-tiba kesunyian dipecah-kan oleh suara Ki Rangga.

„Jaka, tentunya kamu heran melihat sikap ayahmu hari ini.

Ketahuilah, nak. Sikapku itu berhubungan dengan kisah yang akan kuceriterakan”.

Setelah berhenti sebentar maka mulailah ki Rangga dengan kisahnya.

„Kira-kira dua puluh lima tahun yang lalu adalah seorang pertapa yang sakti. Pertapa itu berdiam dipuncak gunung Lawu. Oleh karena tempat kediamannya didekat kawah Candradimuka, maka dia dikenal dengan nama Kyai Ageng Candradimuka.

Pada waktu itu usia Kyai Ageng Candradimuka sudah sangat lanjut.

Usianya sudah mencapai 80 tahun.

Dia mempunyai tiga orang murid.

Murid yang pertama bernama Anggara. Wataknya sangat keras. Dia sangat mahir menggunakan cambuk. Wajahnya sangat keren sehingga dua orang saudara seperguruannya takut padanya.

Muridnya yang kedua bernama Krepa. Wataknya sangat halus dan tekun. Ia putra seorang empu. Sesuai dengan bakatnya ia dididik oleh Kyai Ageng Candradimuka dalam ilmu keris.

Muridnya yang ketiga bernama Waja Cempani. la berasal dari Ponorogo. Wataknya Ca blaka dan berangasan. Ia sering kali bercekcok dengan orang lain dengan alasan yang sangat sepele. Oleh karana keberangasannya itu Kyai Ageng Candradimuka tidak mengajarkan ilmu senjata pada muridnya yang ketiga ini. la hanya diberi pelajaran pukulan.

Pada suatu hari Kyai Ageng Candradimuka memanggil ketiga orang muridnya dan berkatalah pada mereka:

„Murid-muridku. Ilmu-ilmu yang kupelajarkan padamu saya kira sudah cukup. Maka tibalah waktunya bagimu untuk mengamalkan kepandaianmu pada masyarakat, untuk menjalankan darma bakti pada masyarakat dan negara".

Sehabis berkata demikian Kyai Ageng Candradimuka segara memberikan petua-petua. nasehat-Trahat dan petunjuk-petunjuk yang sangat diperlukan dalam menjalankan darma bakti pada masyarakat.

Ketiga orana murid itu memperhatikan semua kata-kata gurunya itu. Mereka berjanji untuk memenuhi semua kata-kata itu.

Demikianlah mulai saat itu ketiga orang murid itu menjalankan darma baktinya kenada masyarakat. Dalam waktu yang tak lama nama mereka telah menjadi terrkenal sebagai pendekar yang pantang mundur dalam membela kebenaran.

Dalam menjalankan darma bakti itu mereka tidak berjalan

bersama-sama melainkan sendiri-sendiri. Setiap tahun, pada bulan Puasa mereka berkumpul dikaki gunung Lawu dan kemudian bersama-sama menghadap guru mereka untuk melaporkan segala perbuatan yang telah mereka lakukan selama setahun dan sebagai kebiasaan orang Jawa pada tanggal 1 Syawal mereka berhalal-bihalal dengan gurunya. Setelah itu mereka kembali menurununi gunung Lawu untuk menjalankan darma baktinya lagi kepada masyarakat seperti yang telah mereka perbuat pada tahun yang telah lalu.

Pada suatu hari, Anggara, murid pertama dari Kyai Ageng Candradimuka, melewati sebuah desa dikaki gunung Kawi sebelah utara. Oleh hari telah malam maka ia terpaksa bermalam didesa itu. Waktu itu adalah malam Jum'at Kliwon.

Entah karena apa, malam itu Anggara sangat sukar untuk memicingkan mata. Suasana diluar rumah tempat ia bermalam sunyi senyap.

Tiba-tiba kesunyian malam dipecahkan oleh lengkingan jeritan itu datang dari rumah disebelah. Kemudian susui oleh teriakan:

„Jangan ambil anakku! Jangan ambil anakku!"

Mendengar twriakan itu Anggara cepat-cepat bangkit dari tempatnya berbaring, tetapi ketika ia akan mencapai pinta terdengar tuan rumahnya berkata :

„Jangan kesana nak kalau kamu ingin selamat". „Mengapa. paman".

„Rumah itu didatangi hantu yang biasa mengganggu desa kami.

Hantu itu sangat gemar makan bayi. Setiap orang yang berani mencegahnya tentu dibunuh olehnya".

Namun Anggara tidaklah mundur, bahkan menjadi ingin menyelidik peristiwa itu. Saat itu terbayang dimatanya peristiwa yang dialaminya ketika masih kecil. Tetapi hanya sessat, karena ia harus segera menolong orang yang dalam bahaya itu.

Anggara segera membuka pintu dan melangkah keluar. Ia berlari dengan cepat menuju kearah dari mana suara itu datang. Tiba-tiba Anggara melihat sesosok bayangan melesat keluar dari pintu rumah sebelah. Bayangan itu seperti sedang memondong sesuatu. Dan teriakan dari dalam rumah masih terdengar dengan sayunya.

„Jangan ambil anakku! Jangan ambil anakku!"

Dengan cepat Anggara meloncat untuk mengejar bayangan tadi. Bayangan tadi berlari dengan cepatnya, tetapi oleh karena membawa beban larinya kurang leluasa hingga dapat terkejar oleh Anggara.

„Berhenti!" teriak Anggara. Suaranya menggeledek.

„Kembalikan anak itu pada ibunya". Namun bayangan bagaikan tidak mendengar. Ia bahkan mempercepat larinya. Anggara tidak tinggal diam. Dengan loncatan „Kidang Kercana'", ia meloncat kearah bayangan itu.

„Hmmm …….” Hanya suara itu sebagai bunyi jawaban. Bayangan itu ternyata adalah seorang yang berusia empat puluhan tahun. Wajahnya tampak ramah. Betulkah orang ini yang disangka hantu oleh penduduk desa itu. Tetapi Anggara tidak sempat berfikir. Orang itu mencoba untuk menerobos hadangan Anggara.

Tiba-tiba dengan gerakan yanga neh orang itu meloncat kebelakang dan dengan cepat diletakkannya bayi itu ditanah. Oleh karena merasakan hawa yang dingin bayi itu menangis.

Orang itu tidak menghiraukannya. Ia menerjang kearah Anggara.

Semula Anggara bermaksud menggunakan kesempatan itu untuk merebut si bayi, tetapi sebelum dapat mencapai tempat si bayi tadi, ia melihat orang itu datang menyerangnya. Sambaran angin itu datang dari orang tadi. Untunglah Anggara dapat menghindarinya. Orang itu terus menghujani pukulan pada Anggara. Anggara tidak tinggal diam. Ia membalas serangan-serangan itu dengan pukulan-pukulan yang tidak kurang hebatnya. Tiba-tiba Anggare terkejut, Ia memandang degan tajam kearah tangan kanan orang itu. Mengapa? Dengan pertolongan sinar bulan Anggara melihat bahwa pada punggung tangan kanan orang itu terdapat noda (toh) yang sangat besar dan ditumbuhi rambut.  

Tiba-tiba Anggara berseru :

„Apakah kamu Kyai Candraketu ”

„Hmmm ”

Sejak tadi setiap kali Anggara berkata orang itu tidak pernah menjawab selain menggeram. Meskipun demikian geraman itu menggetarkan hati yang mendengarnya. Kalau Anggara tidak mendapat gemblengan dari Kyai Ageng Candradimuka tentu akan roboh dibuatnya.

„Lekas jawab! Apakah kamu Kyai Candraketu”. Sekali lagi Anggara mengulangi pertanyaannya.

„Kalau betul kamu mau apa'', eordengar jawab orang itu.

Kini Anggara mendapat kepastian. Dialah Kyai Candraketu. Dialah orang yang selalu dicari-carinya. Dialah orang yang telah merenggut dirinya dari kasih sayang orang tuanya.

„Kyai bangsat, terimalah pembalasanku”. Demikian pekik Anggara dengan penuh dendam. Ya. Dendam kesumat yang telah lama terpendam, kini berkobar dengan mendadak. Dengan tenaga yang ada padanya, Anggara melancarkan berbagai pukulan kearah Kyai Candraketu. Dalam sesaat pertempuran antara kedua orang itu berjalan dengan hebatnya. Tiba-tiba Kyai Candraketu melancarkan sebuah pukulan dan dari kepalan tangannya itu keluarlah asap hitam berkepul-kepul. Asap itu semakin tebal. Dan ….. kepala Anggara menjadi pusing dibuatnya.

Anggara terhuyung kebelakang. Jiwa Anggara bagaikan telur diujung tanduk. Disaat yang soperti itu, disaat bahaya mengancam dirinya tiba- tiba Kyai Candraketu lari meninggalkannya. Bayi yang dicurinyapun ditinggalkan disitu. Walaupun demikian akibat dari asap hitam masih terasa. Untuk sesaat Anggara tak dapat berdiri dengan tetap. Ketika rasa pusingnya lenyap, Anggara segera mendekati bayi itu. Ia merasa heran melihat Kyai Candraketu melarikan diri. Dipondongnya bayi yang malang itu. Kemudian ia berjalan kembali menuju kedesa tempat dia bermalam. Sesampai ditempat kediaman si bayi, ia segera menyerahkan bayi itu pada ibunya. Kegirangan si ibu tidak terkira. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih pada Anggara.

Disamping kegembiraannya, si ibu beserta semua penghuni rumah itu merasa heran bercampur kagum terhaciap Anggara, Namun Anggara tidak memperhatikan itu. Ia lekas-lekas kembali kerumah tempat ia menginap.

Si tuan rumah merasa heran melihat tamunya kembali dengan selamat.

„Apakah kamu bertemu dengan hantu itu. Bagaimana rupanya".

„Dia bukan hantu. Dia manusia seperti paman".

„Apa .......? Dia manusia …..? Tak mungkin! Kalau dia manusia, untuk apa dia memakan jantung bayi itu?"

„Dia seorang dukun pengabdi ilmu hitam. Jantung bayi yang dimakannya itu untuk memperkuat ilmunya”.

„Oh …… betulkah ada manusia yang sekejam itu”.

„Adikku juga pernah menjadi korban kebiadabannya"

Sebetulnya orang itu belum dapat mempercayai kata-kata Anggara, tetapi ia tak berani menanyakan lagi, karena dilihatnya wajah Anggara yang muram.

Malam itu Anggara tak dapat tidur. Diruang matanya kembali terbayang peristiwa yang dialaminya dimasa kecilnya. Ia ingat betapa ganasnya Kyai Candraketu ketika itu. Saat itu kedua orang tuanya berusaha untuk mempertahankan adiknya yang masih bayi dari rebutan kyai itu. Tetapi kedua orang tuanya bukan lawan kyai itu. Sekali pukul robohlah sang ibu dan sebuah tendangan merobohkan ayahnya. Kalau dia tidak ditolong oleh Kyai Ageng Candradimuka. tentu diapun menjadi korban tangan kejam dari Kyai Candraketu.

Ia telah bersumpah untuk membunuh Kiai Candraketu, tetapi setelah ia berkesempatan untuk melakukan pembalasan dendam itu ia dapat dikalahkan oleh musuhnya. Bahkan hampir dibunuhnya. Ia merasa mengkal dapat dikalahkan oleh Kyai itu. Namun ia merasa bersukur dapat terhindar dari bencana kematian. Apakah sebabnya Kyai Candraketu melarikan diri pada saat melancarkan erangan yang begitu berbahaya? Ia tak dapat memecahkan teka-teki itu.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar, Anggara sudah minta izin pada tuan rumahnya, untuk melanjutkan perjalanannya. Ia bertekad untuk mencari tempat tinggal Kyai Candraketu. Ia bertekad untuk melakukan pertempuran yang mati-matian dengan kyai itu.

Mulai hari itu setiap hari, pekerjaannya tak lain dari pada mencari tempat kediaman musuhnya. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan ia menjalankan usahanya itu, tetapi usahanya menemui kegagalan.

Akhirnya datanglah bulan Puasa. Ia harus kembali ke gunung Lawu untuk menghadap gurunya. Ketika dia sampai ditempat kediaman gurunya, dilihatnya Krepa, telah menghadap sang guru. Sesampai dihadapan sang guru, ia segera menceriterakan pertemuannya dengan Kyai Candraketu. Anggara juga menceriterakan tentang usahanya yang gagal dalam mencari tempat tinggal musuhnya itu.

„Kak Anggara betulkah kakak telah bertemu dengan kyai itu.

Akupun demikian, kak”.

„Jadi kamupun telah berjumpa dengannya".

„Betul, kak. Bahkan saya telah mengetahui tempat kediamannya. Aku juga hampir dibunuhnya ketika menjumpainya sedang melakukan perbuatan jahatnya. Aku hampir binasa dibawah asap hitamnya. Disaat yang sangat berbahaya bagi diriku datanglah seseorang menolongku. Aku tidak dapat melihat orang yang menolongku itu dengan jelas”.

„Orang yang menolongmu itu adalah kakak Kyai Candraketu", terdengar Kyai Candradimuka menyela. Kedua orang itu terkejut.

Meskipun dia kakak kyai itu, tetapi wataknya bagaikan bumi dan langit. Mula-mula dia tak mengetahui sepak-terjang. Akulah yang memberitahukannya padanya. Ia sangat sedih mengetahui perbuatan adiknya. Sejak itu ia selalu mengawasi gerak-gerik adiknya".

Setelah berhenti sebentar Kyai Ageng Candradimuka melanjutkan :

„Anggara, Krepa, ketahuilah olehmu, bahwa kepandaian orang itu amat tinggi. Untuk mempelajari ilmu hitamnya dia telah membunuh berpuluh-puluh bayi. Kamu berdua tak dapat menandinginya''.

„Tetaou walau bagaimanapun saya harus membalas dendam ayah- bunda sayaa, bapa”.

„Anggara. Kamu tak usah khawatir. Saya pasti membantumu". Anggara merasa lega mendengar janji gurunya.

Tetapi dengan tak diduga-duga beberapa hari kemudian Kyai Agen] Candradimuka jatuh sakit. Sakitnya kian hari bertambah berat. Dan beberapa hari menjelang Idul Fitri, Kyai Ageng Candradimuka dipanggil ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.

Alangkah sedihnya Anggara dan Krepa ditinggalkan oleh guru yang amat mereka cintai. Dengan upacara sederhana mereka berdua memberi penghormatan terachir pada arwah sang Guru. Sementara itu baik Anggara maupun Krepa, merasa heran bercampur khawatir, karena hingga saat itu Waja Cempani belum juga datang menghadap sang guru.

Kemanakah gerangan dia? Apakah dia tertimpa bencana?

Tujuh hari telah lampau. Waja Cempani belum datang. Mereka semakin khawatir.

Pada suatu hari tiba-tiba Krepa berata pada Anggara:

„Kak Anggara, tahukah kakak bahwa Kyai Candraketu memiliki ilmu hitam juga memiliki ilmu weduk yang luar biasa".

Dan apa hubungan hal itu dengan lenyapnya Waja Cempani".

„Waja Cempani sering kali berkata, bahwa ia ingin benar memiliki ilmu wedug. Ia ingin memiliki tubuh yang kebal. Aku merasa khawatir jangan-jangan ia berguru pada kiai itu. Dan lagi kyai itu juga mempunyai anak gadis yang amat cantik”.

„Apakah kamu khawatir, kalau Waja Cempani terpikat oleh gadis

itu.

„Betul, kak. Gadis itu meskipun cantik parasnya, tetapi mempunyai

watak yang sangat buruk''.

„Kalau begitu kita harus lekas-lekas membuktikan hal ini. Kalau benar, kita harus mencegah Waja Cempani berguru pada Kyai Candraketu".

Keesokan harinya setelah membersihkan makam gurunya, Anggara dan Krepa berangkat kegunung Kawi. Mereka berdua langsung menuju ketempat kediaman Kyai Candraketu".

„Pada suatu malam sampailah mereka ditempat kediaman kyai itu'', demikian Ki Ranggga melanjutkan ceritanya.

Malam itu adalah malam yang tak pernah dilupakan oleh mereka berdua. Bulan sabit yang menghiasi angkasa dan angin sepoi-sepoi basa menambah kesunyian malam. Dengan mengenakan pakaian hitam mereka berjalan menuju kerumah Kyai Candraketu.

Sesampai ditempat kediaman kyai itu, Anggara menyuruh Krepa mendekati rumah itu. Dia sendiri mengawasi dari belakang dan akan memberi pertolongan pada saat yang dibutuhkan.

Krepa berjalan mendekati rumah kyai itu dengan hati yang berdebar-debar. Betulkah ia akan menjumpai Waja Cempani disitu? Tiba- tiba dari sebuah kamar disudut rumah itu, ia seperti mendengar suara orang ber-cakap-cakap.

„Warsi, besok pagi aku minta izin padamu, untuk pergi kegunung Lawu. Aku sangat rindu pada bapa guru dan saudara-saudaraku.

Perkenankanlah wahai manisku"

„Terserah padamu, kak". Terdengar suara seorang wanita.

„Warsi, mengapa kamu tampak tidak senang setiap kali aku minta izin untuk pulang".

„Aku hanya memperingatkan padamu. Kalau kakak masih cinta padaku jangan pergi kesana. Lagi pula bukankah pelajaran yang diberikan oleh ayah pada kakak belum selesai''.

„Tetapi aku sudah sangat rindu pada bapa guru".

Mendengar suara percakapan itu, Krepa terkejut. Suara laki-laki itu adalah suara Waja Cempani. Mula-mula ia tak percaya. Tetapi setelah diperhatikan benar-benar yakinlah ia. Suara itu benar-benar suara Waja Cempani.

„Kak Waja'', terdengar suara watnita itu. „Kalau kamu ingin pergi kegunung Lawu. Janganlah kembali kesini”.

„Baiklah Warsi; kalau begitu saya tak jadi pergi".

Alangkah panasnya hati Krepa mendengar percakapan itu. Ia segera berseru:

„Waja Cempani, kakak ingin bertemu denganmu".

„Wahai, kak Krepa ……" terdengar jawaban dari dalam rumah. Pintu rumah segera terbuka dan terlihat seseorang berdiri diambang pintu.

Krepa memperhatikan orang itu. Tetapi orang itu bukan Waja Cempani melainkan Kyai Candraketu.

„Apa maksudmu datang kesini pada waktu malam seperti ini. Tidak punya kesopanankah, kau". Orang itu menyapa. Suaranya melenggking tajam.

„Meskipun saya tak punya kesopanan, tetapi toh sih mempunyai peri kemanusiaan ……….” jawab Krepa tidak kurang tajam.

„Oh ….. Kiranya kamu, Krepa''.

Sementara itu terlihat Waja Cempani keluar dari rumah itu. Melihat adiknya keluar, Krepa segera menyapa:

„Waja Cempani, sadarlah kamu. Tinggalkan rumah ini dengan segera. Jangan berguru pada orang ini”.

„Tetapi kak. Bapak Candraketu sangat baik terhadapku. Dan lagi aku telah dipungut menantu".

„Waja Cempani. sadarlah adikku. Kamu teah keliru memilih isteri. Wanita itu tak sepadan menjadi isterimu, Dia adalah wanita setan seperti ayahnya".

Alangkah marahnya Kyai Candraketu mendengar kata-kaka Krepa, Ia sangat takut kalau rahasianya dikatakan pada menantunya. Dengan menggeram diterkamnya Krepa. Tetapi Krepa sudah bersiap-siaga.

Secepat kilat dia menghindarkan dari terkaman kyai itu.

„Ayah! Kakak! Berhenti! Apa artinya semua ini?"'

Waja Cempani sudah kena „pekasih" bikinan Kyai Candraketu. Ia tidak menyadari, bahwa mertuanya itu seorang Kyai pengabdi ilmu hitam. Ia tak sadar, bahwa ia menjadi menantu seorang juru tenung.

Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring bagaikan guntur : „Krepa, jangan khawatir. Aku datang membantu”.

„Kak Anggara, kiranya kamupun datang teriak". Waja Cempani.

„Betul Waja Cempani, aku datang untuk membebaskanmu”. Kemudian Anggara segera menyiapkan cambuknya. Tak berapa lama terdengar bunyi cambuk memecah kesunyian malam.

Oleh karena mengetahui kekebalan Kyai Candraketu, Krepa tidak dapat menggunakan kerisnya. Ia hanya melancarkan pukulan-pukulan dengan sepenuh tenaga setiap ada lowongan.

Pertempuran antara ketiga orang itu segera berjalan dengan serunya. Cambuk Anggara menggeletar, pukulan-pukulan Krepa datang bertubi-bertubi dan serangan-serangan Kyai Candraketu mendatangkan angin yang sangat dingin.

Waja Cempani sangat bingung. Ia tidak mengetahui mengapa kedua orang saudaranya begitu benci pada mertuanya. Dimata Waja Cempani. Kyai Candraketu seorang yang ramah tamah. Tak sedikitpun kekejaman tampak diwajah orang itu. Memang inilah keistimewaan dari Kyai Candraketu. Meskipun dia mengabdi pada ilmu hitam tetapi untuk menyembunyikan rahasianya. dia menggunakan bermacam obat-obatan, untuk menghindarkan perubahan mukanya. Sehingga wajahnya kelihatan ramah-tamah.

Waja Cempani tidak menyadari hal ini. Kini ia bingung. Mana yang akan dibantu? Yang satu mertuanya, yang lain saudara seperguruan.

Sementara itu pertempuran antara Kyai Candraketu dengan Anggara dan Krepa semakin hebat. Kepandaian mereka seimbang. Tetapi tiba-tiba Kyai Candraketu berseru. Suaranya terdengar menyeramkan dan dengan tidak diduga-duga dari tangan Kyai Candraketu yang dipergunakan untuk menyerang kelihatan asap berkepul-kepul. Asap itu berwarna hitam. Anggara dan Krepa sudah bersiap-sedia. Dengan sepenuh tenaga mereka mempertahankan diri dari serangan asap itu.

„Bapa Candraketu, jangan bunuh saudara-saudaraku", terdengar Waja Cempani berteriak.

Namun terlambat …..

Dua buah pukulan dari Kyai Candraketu menghantam kedua pendekar itu. Pada saat itu tiba-tiba terlihat sebuah bayangan yang bergerak luar biasa cepatnya. Bayangan itu menerobos ketengah gelanggang. Dengan gerakan yang aneh bayangan itu menangkis sebuah pukulan kyai itu yang dilancarkan pada kedua pendekar itu. Tetapi pukulan yang lain sudah terlanjur menyentuh tubuh Krepa. Krepa terhuyung-huyung kemudian jatuh roboh.

Sementara itu Kyai Candraketu pun juga terpental oleh tolakan dari bayangan tadi.

„Kakak Candrakusuma, mengapa kakak selalu meng-halang-halangi gerak-gerikku".

„Candraketu. Korban karena kebiadabanmu sudah bertumpuk. Kalau aku mengetahuinya sejak dulu tentu aku sudah mencegahnya. Tetapi aku datang terlambat. Korban sudah bertumpuk. Aku hanya dapat menyadarkanmu. Namun kiranya kamu tak mau sadar. Kali ini peringatan terakhir bagimu. Sekali lagi kalau aku melihatmu melakukan kejahatan, aku akan membunuhmu".

„Kak Candrakusuma, ampunilah aku''.

„Kalau kamu dapat merobah kelakuanmu, tentu aku akan mengampunimu".

Sementan itu Waja Cempani mendekati kakaknya.

Ia tidak memperhatikan apa yang dipercakapkan oleh kedua orang itu. Dia bermaksud untuk menolong kakaknya yang sedang terkapar ditanah.

Tiba-tiba Anggara membentak.

„Jangan sentuh dia. dengan tanganmu yang kotor”, kata Anggara sambil mengangkat tubuh Krepa dan kemudian menggendongnya untuk dibawa pergi meninggalkan tempat itu.

Alangkah sedihnya Waja Cempani. Ia tegak termangu menyaksikan kepergian Anggara. Ia tidak tahu apa yang akan diperbuatnya.

„Waja Cempani”, terdengar Kyai Candraketu berkata. „Kalau kamu mau pergi bersama kakakmu, pergilah, Saya tidak melarangnya”. Suara itu sangat aneh kedengarannya.

„Tidak bapa. Saya tak akan meninggalkan Warsi”. Demikian jawab Waja Cempani sambil menoleh kepada mertuanya.

Tiba-tiba pandangannya bertemu dengan pandangan mata orang yang telah menolong kakaknya. Orang itu lebih tua sedikit dibanding dengan Kyai Candraketu. Cahaya matanya tajam berkilat dan sangat tajam seakan-akan menembus lubuk hatinya.

Memang orang itu adalah Resi Candrakusuma. Dia adalah kakak Kyai Candraketu. Saat itu Resi Candrakusuma menatap Waja Cempani dengan tajam. Aneh! Pandangan mata Waja Cempani tak dapat menghindar dari pandangan mata resi itu. Ia merasa bahwa pikirannya menjadi tenteram dan jernih. Makin lama makin jernih. Tetapi ……

„Kak Waja Cempani, kemarilah. Mengapa aku kau tinggalkan begitu lama”, terdengar suara seorang wanita. Kalau orang lain yang mendengarkannya tentu akan mual dibuatnya. Nada suara itu aleman dan genit. Namun pada pendengaran Waja Cemnani, suara itu sangat merdu merayu. Ah, sungguh malang nasib pendekar itu. Ia telah menjadi korban ilmu hitam Kyai Candraketu.

Semula Resi Candrakusuma bermaksud untuk menolongnya.

Dengan pandangan matanya ia bermaksud memunahkan ilmu hitam yang menyelubungi diri Waja Cempani telah gagal. Kemudian ia menoleh pada Kyai Candraketu sambil berkata:

„Ingatlah akan kataku tadi. Sekali lagi aku melihatmu melakukan kejahatan, aku tak akan tinggal diam”. Setelah itu ia kembali menoleh pada Waja Cempani.

„Selamat tinggal. nak.. Baik-baiklah, kau disini”,demikian katanya. Kemudian ia segera melangkahkan kaki meninggalkan semua penghuni.

Sementara itu, dengan mendukung Krepa. Anggara berjalan. Betapa pedih rasa hatinya, dendamnya terhadap Kyai Candraketu belum juga terbalas. Ini dijumpainya adik seperguruannya dalam keadaan yang sangat menyedihkan dibawah kekuasaan ilmu hitam Kyai Candraketu.

Kepedihan hatinya semakin bertambah. Apa lagi ketika dilihatnya Krepa dilukai oleh Kyai itu. Kalau ia tidak bersama Krepa, tentu ia sudah bertempur mati-matian dengan Kyai itu. Tetapi Krepa membutuhkan pertolongan ia tidak ingin melihat Krepa mati karena membelanya.

la terus berjalan dengan cepat menuruni gunung Kawi. Maksudnya untuk mencari dukun yang dapat menolong Krepa.

Tiba-tiba ia merasakan angin dingin menyambar tengkuknya.

Dengan cepat ia menoleh kebelakang. Ketika itu dilihatnya seorang yang berdiri sambil memandangnya dengan wajah yang menaruh belas kasihan. Orang itu ternyata adalah orang yang telah menolongnya., Lekas-lekas ia menyapa:

„ Bapa. saya Anggara, mengucapkan terima kasih terhadap pertolongan bapa. Budi sebesar ini rasanya tak akan dapat membalasnya.

„Nak Anggara seharusnya sayalah yang harus meminta maaf padamu. Karena disebabkan perbuatan jahat adikku maka kau menjadi menderita ….

„Jadi ….. Kyai Candraketu itu adik bapa”.

Saat itu ingatlah Anggara akan kata gurunya. Kiranya orang itulah Kyai Candrakusuma yang telah disebutkan oleh gurunya.

„Meskipun aku saudaranya, namun aku tidak menyukai perbuatannya. Aku berjanji padamu, nak. Kalau Candraketu masih melakukan kejahatan sayalah yang akan menghukumnya", begitulah resi itu berjanji.

„Terima kasih, bapa".

„Dan sekarang, marilah pergi mencari dukun untuk mengobati luka nak Krepa. Luka yang dideritanya tidaklah ringan. Tenaga hitam yang dilontarkan oleh Candraketu sangatlah hebat. Dia harus lekas-lekas mendapat pertolongan".

„Dikaki gunung Kawi sebelah selatan saya mempunyai seorang sahabat. Dia seorang dukun sakti".

Demikianlah, Resi Candrakusuma segera memimpin Anggara berjalan menuju ketempat kediaman dukun sakti itu.

Dukun sakti itu bernama Resi Mandraguna. Dia adalah sahabat Resi Candrakusuma dimasa muda. Alangkah terkejutnya resi itu melihat kedatangan bekas kawan karibnya.

„Mandraguna, hari ini kawanmu datang untuk meminta pertolonmin padamu”. Kemudian Resi Candrakusuma mengutarakan maksud kedatangannya. Ia menunjukkan luka yang diderita Krepa. Melihat luka bekas pukulan itu Resi Mandraguna terkejut.

„Untung, anak muda ini lekas-lekas kamu bawa kesini. Kalau tidak jiwanya sukar tertolong". „Sangat berbahayakah luka itu bagi jiwanya, Bapa?” tanya Anggara dengan khawatir.

„Memang. Kalau tidak diobati secara tepat akan berbahaya bagi jiwanya. Tetapa percayalah padaku, nak”.

Anggara merasa puas mendapat jawaban itu. Tiba-tiba resi itu memanggil seseorang.

„Sariwati. Kemarilah kamu!"

Dari pintu yang menghubungkan ruangan itu dengan ruang belakang keluarlah seorang gadis.

„Ha, ha, ha, ….. Sariwati. Kiranya kamu sudah sebesar ini. Kemarilah, nak. Aku ingin berbicara denganmu”, Terdengar Resi Candrakusuma berkata.

Anggara memandang kearah gadis itu. Tiba-tiba perasaan aneh menguasai dirinya. Perasaan demikian ini belum pernah dialaminya. Darah didalam tubuhnya serasa lebih cepat mengalir. Jantungnya serasa berdenyut lebih keras. Pada pandangan matanya gadis itu sangat cantik jelita. Kulitnya kuning langsat, matanya bersinar dengan cemerlang, hidungnya yang mancung dan bibirnya bak delima merekah. Lesung pipit yang menghias di pipinya menambah kemanisannya.

Anggara tidak berani memandang wajah gadis itu lebih lama lagi. la segera mengalihkan pandangan pada Krepa. Dilihatnya Resi Mandraguna sedang mengurut-urut dada Krepa. Setelah cukup lama memijit-mijit, ia pergi keruang belakang. Ia keluar dengan membawa sebuah bungkusan.

„Sariwati, masaklah jamu ini-. Sariwati mengiakan. Diterimanya bungkusan itu dari tangan ayahnya. Kemudian pergilah ia kebelakang. Ia kembali dengan membawa sebuah cangkir yang telah dimasak dengan air panas. Diberikan cangkir itu pada ayahnya. Resi Mandraguna menyuruh Anggara untuk membantu Krepa minum jamu itu apabila Krepa telah sadar.

Sementara itu Resi Candrakusuma mohon diri pada Resi Mandraguna untuk melanjutkan perjalanannya. Tak lupa ia meminta pertolongan Resi Mandraguna, untuk merawat Krepa hingga sembuh. Resi Mandraguna menyanggupinya, Anggara tinggal untuk membantu Resi Mandraguna mengobati adiknya.

Selang beberapa hari luka Krepa dapat disembuhkan. Tetapi tiba-tiba terjadilah peristiwa yang tak diduga-duga. Anggara telah jatuh hati pada Sariwati.

Pada suatu hari ketika Anggara mendapat kesempatan untuk mengutarakan isi hatinya, ia segera menjumpai Sariwati.

Saat itu Sariwati sedang menanam sayur dikebun. Ketika dilihatnya Anggara datang ia menyambutnya dengan senyuman, Dada Anggara semakin berdebar.

„Sariwati, ada sesuatu yang akan kukatakan padamu".

„Katakanlah, kak”. „Sariwati ……..” Anggara tak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia seperti terbungkam. Kata-kata yang telah dirangkaikannya seolah-olah hilang.

„Sariwati …..Tahukah kamu betapa perasaan hatiku padamu.

Selama hidupku belum pernah aku merasakan perasaan yang seperti ini. Sariwati ……. aku ……. aku …….. mencintaimu dengan sepenuh hatiku

……..”.

Anggara merasa lega telah dapat mengatakan isi hatinya. Tetapi tiba-tiba Sariwati memandangnya dengan aneh.

„Kak Anggara ”

„Sariwati katakanlah terus terang. Adakah kamu menerima cintaku''.

„Kak Anggara ……… Aku tak dapat menjawabnya”.

„Mengapa tidak, Sariwati''.

Tetapi Sariwati tidak menjawab. la hanya menggelengkan kepala dan kemudian berlari masuk kedalam rumah. Alangkah herannya Anggara melihat tingkah laku gadis itu. Apakah ia menolak cintanya?

Malam harinya, Resi Mandraguna memanggilnya. Anggara merasa heran. Ia menjumpai resi itu dengan penuh tanda tanya.

Ketika dilihatnya Anggara telah datang, ia menyuruhnya datang mendekat.

„Nak Anggara ada sesuatu yang akan kukatakan padamu”.

„Silahkan bapa mengatakannya”.

„Nak Anggara. Sejak Sariwati dilahirkan. Aku lalu bercita-cita untuk menjodohkannya dengan seorang pemuda yang penuh tanggung jawab. Seorang pemuda yang gagah berani. Seorang pemuda pembela keadilan. Kiranya permintaan saya terkabul. Seorang pemuda datang melamarnya. Pemuda itu memenuhi syarat yang kuinginkan dan Sariwati juga mencintainya".

Anggara berdebar-debar mendengar kata-kata resi itu

„Tetapi, nak, Tiba-tiba datanglah pemuda lainnya. Dia juga mengutarakan maksud yang sama dengan pemuda tadi”.

„Pemuda yang pertama adalah Krepa. Dan pemuda yang kedua adalah kamu, nak”.

Alangkah terkejutnya Anggara mendengar kata-kata resi itu.

„Alangkah beratnya rasa hatiku nak. Baik kamu maupun Krepa adalah pemuda yang kuidam-idamkan. Tak kusangka keduanya datang melamar".

„Bapa …….. Kalau Krepa memang mencintai Sariwati, bapa tak usah bingung. Dengan rela saya menyetujuinya”, demikian kata Anggara walau pada saat itu hatinya remuk redam.

„Bagus nak Anggara itulah ksatria sejati'', kata Resi Mandraguna. Ia tahu betapa remuk perasaan hati pemuda itu.

„Namun pesanlah Sariwati supaya jangan mengatakan tentang maksud saya melamarnya kepada Krepa. Tidak baik jadinya kalau, dia mengetahuinya".

„Betul, nak. Aku faham akan maksudmu''.

Malam itu juga Anggara memohon izin pada resi itu untuk melanjutken perjalanan. Ia memesan pada Resi Mandraguna untuk memamitkan pada Krepa.

Resi Mandraguna memahami betapa perasaan Anggara nada saat itu. Ia menyanggupi semua kehendak Anggara. Ia melepaskan Anggara dengan hati yang berat.

„Nak Anggara, hanya satu pesanku padamu. Janganlah kamu berputus asa''.

„Terima kasih, bapa Mandraguna. Saya pasti akan ingat selalu pesan bapa", jawab Anggara.

Kemudian pergilah ia. Ia pergi dengan membawa luka dihati.

Demikianlah Ki Rangga mengakhiri kisahnya. Jaka merasa kasihan pada pendekar itu.

„Ayah, tadi ayah mengatakan bahwa kisah ini berhubungan dengan diri ayah, Lantas apa hubungannya?" tanya Jaka.

„Jaka, kisah ini memang erat hubungannya dengan diriku, karena

….. Anggara ….. yang kusebutkan dalam cerita itu adalah …… aku sendiri".

„Ayah, jadi …… Anggara ….. itu ……. ayah ….. sendiri …..”.

„Betul, Jaka".

Alangkah terkejutnya mendengar perkataan ayahnya. Tak diduganya sama sekali bahwa Anggara adalah ayahnya.

„Jaka”, terdengar ayahnya berkaa, „Orang berjanggut yang merampas si Putih itu adalah Waja Cempani. Kuda putih itu diberikan padaku beberapa tahun sebelum ia berguru pada Kyai Candraketu.

Mungkin dia mengira bahwa kamu telah mencuri si Putih itu dari tanganku".

Sekali lagi Jaka terkejut.

Tetapi Ki Rangga seperti tidak menghiraukan keadaannya.

„Jaka"', demikian katanya. „Semenjak aku bersama Krepa gagal merobohkan Kyai Candraketu, aku menjadi berputus asa. Aku tak mungkin membalas dendam pada Kyai Candraketu. Betapa tidak. Ia adalah adik Candrakusuma yang tefah menolongku. Tetapi semenjak itu aku tidak mendengar kabar beritanya lagi".

Ki Rangga berhenti sejenak. Kemudian katanya :

„Jaka, kemarin malam aku melihat bahwa permainan cambukmu maju dengan pesat. Hal itu tidak perlu kamu herankan. Pak Samun yang kamu katakan itu adalah saudara Resi Mandraguna. Salah satu keistimewaan dari Pak Samun adalah kepandaian pijatnya. Kamu telah beruntung bertemu dengannya. Tanpa kau sadari dia telah membantu melancarkan jalan darahmu. Ini sangat besar pengaruhnya pada gerak tubuhmu". „Dan sekarang aku akan mempelajarkan padamu sebuah ilmu keris hasil ciptaanku sendiri. Ilmu keris ini mengutamakan kecepatan bergerak. Maka mempelajarinya bukan merupakan suatu hal yang sulit bagimu.

Marilah Jaka kuajarkan ilmu itu padamu”.

Sehabis berkata demikian Ki Rangga mengambil sepotong ranting sebagai pengganti keris. Maka mulailah Ki Rangga mengajarkan ilmu Keris ciptaannya pada Jaka.

Oleh karena Jaka telah memiliki dasar kecepatan bergerak maka ilmu keris itu mudah difahaminya. Sejak malam itu selama berada didesa Butuh, pekerjaan Jaka tak lain daripada berlatih Ilmu Keris ciptaan ayahnya. Dalam beberapa hari saja Ilmu Keris itu sudah dapat diyakinkannya.

Pada suatu hari berkatalah Jaka pada ayahnya.

„Ayah, besok pagi saya akan kembali ke Karta”.

„Baik, Jaka. Jalankanlah tugasmu sebagai prajurit Mataram dengan sebaik-baiknya”.

Setelah memohon diri pada ibunya dan pada Sari. Jaka segera berangkat ke Karta.

Dengan jatuhnya Surabaya ditangan Mataram, beban Sri Sultan Agung masih tetap berat, Dua musuh kuat masih menantang beliau. yang pertama adalah benteng V.O.C, di Jayakarta, yang kedua adalah Kerajaan Belambangan.

Pada suatu hari Sultan Agung memanggil Jaka Prasetya menghadapnya. Ketika Jaka telah menghadap berkatalah beliau :

„Jaka, aku bermaksud untuk memberikan tugas padamu. Pertama Didaerah Timur sering timbul kekacauan yang disebabkan oleh penyamun-penyamun yang meraja-lela disitu. Sehingga banyak rakyat yang menderita karenanya. Maka kutugaskan padamu untuk meringankan penderitaan Rakyat dengan jalan membasmi penyamun- penyamun itu.

Kedua Perhatikanlah gerak-gerik Belambangan. Kaau ada sesuatu yang mencurigakan segeralah laporkan padaku''.

„Bafk, Gusti. Sayaa memohon berkah Gusti agar dapat menjalankan tugas ini dengan sebaik-baiknya".

Setelah mendapat penjelasan lobih lanjut, Jaka segera memohon diri untuk berangkat meninggalkan Karta.

Untuk melakukan perjalanan ini Jaka dipinjami kuda milik Sri Amangkurat. Kuda itu berbulu hitam.

Kuda hitam itu, meskupun tidak sekuat si Putih, tetapi termasuk kuda pilihan.

Jaka Prasetya segera mengendarai kuda itu. Dan memacunya keluar Karta. Dia sangat gembira mendapat tugas itu. Dengan demikian ia dapat kesempatan untuk mencari pamannya Waja Cempani dan Krepa.

Jaka menjalankan tugas yang diberikannya dengan baik. Disepanjang jalan, sangat banyak pertolongan Jaka yang diberikan kepada setiap orang yang membutuhkannya Setiap kali melihat ketidakadilan, ia selalu turun tangan. Segala kejahatan yang dijumpai ditengah jalan diberantasnya. Banyak sarang berandal yang telah didobraknya. Tak sedikit begal-begal yang sungsang balik karena tendangannya dan tidak sedikit lintah darat yang memohon minta ampun kepadanya. Jaka sengaja mengambil jalan berputar-putar. Dengan demikian ia lebih banyak mendapat kesempatan untuk menjalankan darma baktinya pada rakyat Mataram.

Kemudian ia menuju kegunung Kawi. la bermaksud mencari pamannya Krepa.

Pada suatu hari, ketika dia sedang menyusuri sungai Berantas. tiba- tiba ia mendengar suara orang bertembang. Suara itu sangat merdu dan sedap didengar ditelinga. Suara tembang itu dapat membangkitkan semangat orang yang mendengarkannya. Suara itu sudah terang adalah suara seorang wanita. Mendengar suara tembang itu Jaka seperti berada ditempat yang menggembirakan.

Tanpa terasa ia turun dari punggung kudanya. Ditambatkannya kudanya disebuah pohon dan pergilah ia menuju kearah suara gadis yang bertembang itu. Suara tadi ternyata datang dari sekelompok gadis yang sedang mencuci kain disebuah anak sungai yang jernih airnya.

Oleh karena takut kalau gadis tadi berhenti bertembang, jika melihatnya, maka Jaka bersembunyi disebuah belukar didekat sungai itu.

Gadis-gadis yang sedang mencuci kain itu berjumlah lima orang, Diantara mereka. terdapat dua orang gadis yang paling menyolok kecantikannya dibanding dengan ketiga gadis yang lainnya. Kulit mereka kuning langsat. Sinar mata mereka tajam. Dilihat dari wajahnya kedua gadis itu mungkin dua orang saudara. Yang bertembang adalah gadis yang dalam pandangan mata Jaka adalah lebih muda dari gadis yang satunya. Melihat gadis yang bertembang itu, Jaka menjadi terpesona.

Dadanya berdebar-debar dan jantungnya dirasa-kan berdenyut lebih keras, Dia merasa bahwa darahnya mengalir lebih cepat.

Tiba-tiha gadis itu berhenti bertembang. Dia seperti sedang memperhatikan sesuatu. Jaka menjadi terkejut setengah mati. Dikiranya gadis itu mengetahui kalau sedang diperhatikannya. Tetapi rasa terkejutnya menjadi hilang ketika diketahuinya bahwa pandangan gadis itu tidak ditujukan kearahnya. Melainkan kearah sebuah belukar yang letaknya lebih dekat dengan mereka.

Tak berapa lama meloncatlah seseorang dari belukar itu. Orang itu adalah seorang pemuda yang berwajah tampan, tubuhnya kekar dan agak besar sedikit dibandingkan dengannya. Hanya sayang ada suatu cacat yang menyedihkan menurut pandangan Jaka. Sorot mata pemuda itu menandakan sifatnya yang kejam.

Perhatian Jaka segera dialihkan kearah kelompok gadis itu. Kali ini gadis yang lebih tua dari dua orang gadis yang menarik perhatian Jaka, tampil kedepan. Wajahnya menundjukkan kegusarannya

„Apa masudmu datang kesini”, demikian gadis tadi berkata. „Belum puaskah kamu menggodaku lagi. Kalau adikku tahu kamu menggodaku lagi. Dia tak akan tinanal diam. Kemarin kamu telah dihajarnya, tetapi kini kau telah berlagak lagi. Huh dasar tak tahu malu”. 

Mendengar kata-kita gadis tadi, pemuda iu hanya tersenyum- senyum dan kemudian berkata .

„Candra, apakah kau kira aku betul kalah melawan adikmu.

Kemarin aku mengalah terhadapnya. Aku tak mau menyakiti hati adikmu. Bukankah dia calon iparku”.

„Cih, tak tahu malu. Orang semacammu tak mungkin mampu mengalahkan adikku.”

Mendengar kata-kata gadis itu tampaknya pemuda itu tidak marah.

Katanya:

„Candra. betapapun aku sangat cinta padamu''.

„Huh, dasar orang tak tahu malu. Lekas pergi! Kalau tidak tentu kamu akan ditertawakan teman-temanku. Apa kau kira aku ini orang tolol? Hanya orang yang tolollah yang mau menerima cintamu. Cerita tentang dirimu sudah banyak dibicarakan. Bukan nama yang baik yang kamu peroleh, tetapi nama yang busuk".

„Candra, tutup mulutmu. Berani benar kamu menghinaku dihadapan orang sebanyak ini'.

„Siapakah yang menyuruhmu datang kemari.”

Saat itu keempat gadis yang lainnya terdengar tertawa cekikikan sambil berbisik-bisik. Merasa bahwa dialah yang ditertawakan pemuda itu berubah mukanya.

„Diaml Apa yang kamu tertawakan. Aku tidak bicara dengan kalian.

Lekas pergi! Aku ingin berbicara berdua dengan Candra”.

„Siapa yang akan kau ajak berbicara. Aku? Jangan harap akan terkabul keinginanmu”. Sarentak keempat temannya tertawa.

Dari wajahnya tampak bahwa pemuda itu sangat marah.

„Candra, kamu semakin berani menghinaku".

„Kalau kamu, tak ingin dihina segeralah pergi dari sini".

„Baik, Candra. Aku akan pergi. Tetapi sebelum pergi aku ingin menghajar mulutmu …….”. Demikian kata itu selesai diucapkan, ia segera meloncat kearah Candra. Tentu saja Candra ketakutan setengah mati.

Dan keempat temannyapun terdengar menjerit-jerit.

Tak disangka sama sekali oleh Candra, bahwa pemuda itu berani berbuat seperti itu.

Tetapi ketika tubuh pemuda itu hampir sampai ditempat Candra berdiri, sekonyong-konyong sesosok bayangan melesat kearah pemuda tadi dan …… pandangan semua gadis yang berada disitu menjadi kabur. Dan tahu-tahu mereka melihat pandangan yang mengejutkan. Pemuda yang mengganggu Candra terlihat terperosok disebuah belukar ditepi sungai itu dan seorang pemuda lain yang bertubuh kekar dan berwajah keren berdiri dimuka pemuda yang tidak tahu malu itu. Pemuda itu tak lain adalah Jaka Prasetya. Jaka Prasetya yang menyaksikan peristiwa tadi menjadi tidak tahan untuk tidak memberikan pertolongan. Untung pertolongannya tidak terlambat datangnya. Dia meloncat kearah pemuda pemuda itu dan dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dipegangnya lengan pemuda yang hendak dipergunakan untuk menampar Candra dan dilemparkannya tubuh pemuda yang tidak sopan itu ketengah semak.

Sambil memandang pemuda itu, dia berkata dengan tandas.

„Pemuda yang tak tahu malu., Pemuda tidak sopan. Pemuda muka tebal. Lekas enyah dari sini …….” .

Tetapi tiba-tiba terdengar suana yang menggeledek dari samping

Jaka.

„Panji Jatmika, muridku. Jangan takut. Aku datang. Akan kucoba

betapa kesaktian orang yang berani menghinamu”.

Jaka menoleh kearah suara itu datang. Ketika orang yang mengeluarkan suara yang menggeledak itu terkejutlah ia. Orang itu tak lain adalah Waja Cempani.

„Paman Waja Cempani ……” teriaknya.

Ketika Waja Cempani melihat pada Jaka. iapun berteriak:.

„Oh, kiranya kamulah orangnya. Tidak kusangka bahwa aku bertemu lagi denganmu disini, pencuri kuda".

„Paman ……”

„Apa katamu? Paman? Siapa mau mempunyai kemenakan pencuri kuda".

Sehabis berkata demikian Waja Cempani menerjang Jaka. Tetapi Jaka yang sekarang lain dengan Jaka yang dulu. Ia dapat menghindar dari terjangan Waja Cempani. Tetapi baru saja ia berhasil menghindar dari serangan, serangan kedua datang. Serangan inipun dapat dihindarkan. Oleh karena tidak mengira kalau akan mengalami pertempuran, cambuknya ditinggalkan dikudanya. Maka apa yang dapat diperbuat hanya serangan-serangan itu. Serangan Waja Cempani datang bertubi-tubi. Dengan menggunakan kelincahannya Jaka menghindari setiap serangan itu.

Tetapi walau bagaimapun, kepandaian Jaka belum dapat mengatasi kepandaian Waja Cempani. Apalagi ia bertangan kosong. Maka lama kelamaan ia kewalahan juga. Serangan-serangan pamannya semakin gencar. Kelima gadis yang menyaksikannya merasa khawatir terhadap keselamatan penolong Candra. Sebaliknya Panji Jatmika merasa gembira.

Dan datanglah saat yang menentukan Sebuah pukulan dari tangan kanan Waja Cempani datang mengarah dada Jaka. Jalan satu-satunya bagi Jaka adalah menangkisnya. Tangkisan itu berhasil, tetapi dengan tak tersangka-sangka pukulan kedua datang. Pukulan ini datang dari tangan kiri Waja Campani. Yang diarahnya adalah dada bagian atas.

Tadi ketika menangkis serangan pukulan tangan kanan Waja Cempani ia menggunakan segala kekuatan yang ada. Maka kini menghadapi serangan pukulan Wadia Cempani. Jaka menjadi panik. Ia menangkis dengan sekenanya. Dan ….. duk …. pukulan itu mengenai sasarannya. Untunglah tangkisan Jaka mengurangi sebagian besar tenaga pukulan lawan. Walau demikian, ia merasakan seolah-olah bumi disekitarnya gelap dan dia sudah tidak memperhatikan serangan lawan lapi. Tetapi sayup-sayup ia seperti mendengar suara bentakan yang keras laksana geledek.

„Hentikan serangan!"

Namun pada saat itu. ia sudah roboh terpelanting. Dilain saat ia saperti merasa bahunya dipegang oleh sepasang tangan yang halus. Kemudian ia tak sadarkan diri.

Tang …. Tang …… Tang ……

Demikian suara yang didengar Jaka untuk pertama kali ketika dia mulai siuman. Suara yang demikian itu sering kali didengar Jaka. Itu adalah suara besi ditempa yang sering didengarnya ditempat kediaman para empu.

„Mengapa aku ada disini", demikian pikirnya. Ia membuka mata.

Kemudian ia akan bangkit berdiri. Tetapi rasa sakit dibadannya mencegahnya. Pada waktu itu pintu dari kamar tempat ia berbaring dibuka orang. Ketika orang yang membuka pintu itu masuk, ia segera ingat kejadian yang baru dialaminya. Ia ingat bahwa yang membuka pintu itu adalah salah seorang gadis yang dihumpainya ditepi sungai itu. Gadis itu adalah gadis yang akan ditampar oleh Panji Jatmika murid Waja Cempani.

Ketika dilihat oleh gadis itu, bahwa Jaka telah tersadar berkatalah

ia:

„Raden, menurut kata ayah luka raden tidaklah ringan. Maka ayah

menasehatkan agar raden jangan banyak bergerak dulu. Dan tak lupa ayah mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan yang diberikan pada saya".

Jaka sangat terpesona mendengar nada suara yang empuk itu. ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi suara yang dikeluankan sangat lemah.

Melihat bibir Jaka bergerak-gerak gadis itu segera berkata :

„Raden. saya harap jangan berbicara dulu. Hal ini sangat tidak baik bagi kesehatan raden".

„Bambang", tiba-tiba ia berteriak. Dari luar terdengar suaara jawaban.

„Apakah kak Candra memanggil saya?"

„Betul, Bambang. Lekas ambilkan makanan dan minuman yang telah kusediakan untuk raden ini". Terdengar jawab mengiakan.

Tak berapa lama kemudian, pintu dari kamar itu kembali dibuka orang dan terlihat seorang pemuda masuk kedalam kamar. Agaknya pemuda inilah yang bernama Bambang. Pemuda itu tak begitu tinggi, badannya sangat kekar. Wajahnya masih kekanak-kanakan. Jaka hanya dapat menyambutnya dengan senyuman.

„Kak Candra, makanan itu kusuruh Dewi yang mengambilnya".

Baru saja Bambang berhenti berkata, terdengar pintu terbuka lagi dan masuklah seorang gadis dengan baki ditangannya. Gadis itu adalah gadis yang bertembang ditepi sungai kemarin. Ketika gadis itu memandang arah Jaka bertemulah pandangan matannya dengan pandangan mata Jaka. Gadis itu tampak tersipu-sipu. Pipinya menjadi kemerah-merahan. Ia segera berjalan kedekat meja dan diletakkannya baki yang berisi piring dan cangkir itu.

„Dewi'', terdengar Candra berkata. „Kemarin ayah berkata bahwa dia akan membuat ramuan jamu itu sudah tersedia. Dan jangan lupa katakan pada ayah bahwa raden ini telah siuman".

Dewi mematuhi suruhan kakaknya. Dia segera meninggalkan kamar

itu.

Oleh karena Jaka belum dapat bangkit. maka Candra menyuruh

Bambang untuk membantu melayani Jaka makan dan minum. Tak berapa lama Dewi datang dengan membawa sebuah cangkir. Isi cangkir itu adalah jamu yang disebut oleh Candra tadi.

„Kak Cndra. inilah ramuan jamu yang dikatakan oleh ayah kemarin.

Pesan ayah sehabis minum jamu ini raden itu sebaiknya tidur saja'', demikian Dewi menyampaikan pesan ayahnya.

Demikianlah sehabis makan dan minum Jaka meminum habis jamu yang disediakan dan setelah itu dia terlena.

Entah berapa lama ia terlena Ketika dia siuman lagi ia mendengar suara burung berkicau. Cahaya matahari menerobos sela-sela dinding yang dibuat dari bambu.

Dirasakannya badannya telah jauh terlebih segar. Dicobanya untuk bangkit. Meskipun dadanya masih agak sesak, tetapi sakitnya sudah banyak berkurang dan ia dapat bangkit.

Pada saat itu pintu dibuka orang dan terlihat Bambang masuk kedalam kamar. Demi dilihatnya Jaka telah duduk berkatalah ia sambil tertawa.

„Oh …… Kiranya raden telah bangun. Sudah dua kali saya menengok, tetapi kiranya raden masih tidur. ”

„Adik, janganlah memanggil „raden" padaku. Panggillah kakak padaku. Namaku Jaka Prasetya. Panggillah Kak Jaka padaku''.

„Amboi. Kiranya raden ….. oh …. kakak adalah kak Jaka Prasetya.

Nama itu sudah lama kudengar, bahkan sangat kukagumi''.

Sementrra itu Candra dan Dewi juga masuk kedalam kamar itu. „Kak Candra, kiranya orang yang telah menolongmu itu adalah kakak Jaka Prasetya".

„Betulkah katamu itu, Bambang.”

„Hai, kak Bambang. Berani benar kamu memanggil „kakak'' padanya”, sela Dewi.

„Kak Jakalah yang menyuruhnya. Dia tak mau di-panggil „raden".

Betulkah begitu, kak Jaka".

„Betull, Bambang”.

„Nah. Sekarang kuperkenalkan pada Kak Jaka namna lengkap saudara-saudaraku. Ini kakakku Candrawati"' katanya sambil menunjuk pada Candra dan sambil merunjuk pada Dewi ia berkata „Dan ini adalah Dewiningsih. Saya sendiri adalah Bambang Suteja".

„Adik Candra, Bambang dan Dewi. Alangkah berhutang budiku padak kamu sekalian yang telah merawat-dengan penuh perhatian", kata Jaka Prasetya.

„Sayalah yang harus berterima kasih, kak'', demikian kata Candra.

„Kalau kakak tidak menolongku, entah bagaimana dengan diriku".

Demikianlah dalam sesaat saja suasana menjadi meriah. Ketiga orang saudara itu ternyata sangat ramah. Terutama Bambang yang paling banyak mulut. Dalam kesempatan ini Jaka bertanya pada mereka tentang akhir dari peristiwa ditepi sungai itu.

Ternyata pada saat yang sangat berbahaya bagi diri Jaka datanglah pertolongan dari ayah Candra. Dialah yang menyuruh Waja Cempani menghentikan serangan.

Tiba-tiba pintu kamar dibuka orang dan masuklah seseorang kedalam kamar. Orang itu sudah setengah umur. Menurut pandangan Jaka, orang itu setarap dengan usia ayahnya. Tanda-tanda kegagahan dimasa mudanya masih dimiliki olehnya.

„Kak Jaka'', kata Bambang. Dia adalah ayah".

Orang itu memandang Jaka dari kaki hingga keujung rambut.

„Paman, terimalah hormatku". Demikian kata Jaka pada orang itu.

Tetapi orang itu diam saja. Ia terus memandang Jaka. Tentu saja Jaka amat heran. Tiba-tiba seperti ada kekuatan gaib yang menariknya. Jaka juga memandang orang tua itu.

„Jaka, dari mana kamu peroleh keris itu'', kata orang itu dengan menunjuk pada keris yang terselip dipinggang Jaka.

„Keris ini adalah pemberian ayah".

„Kenalkah kamu pada Anggara?"

„Anggara adalah ayah saya, paman".

Disaat itu Jaka sedang memandang ketelinga orang tua itu.

Alangkah terkejutnya Jaka demi memandang ketelinga itu. Ditelinga orang itu ada tohnya. (toh = noda hitam pada kulit).

„Adakah, paman pernah mengenal ayah".

„Anggara adalah saudara seperguruanku". „Jadi …. kalau begitu …. paman ……”

„Saya adalah Krepa".

Sukarlah dilukiskan perasaan apakah yang berkecamuk dalam diri Jaka Prasetya pada waktu itu. Perasaan gembira bercampur dengan rasa haru menjadi satu. Orang yang dicarinya selama berhari-hari dengan tanpa hasil dapat dijumpai dengan secara tak diduga-duga.

Tanpa menghiraukan rasa sakit yang sedang dideritanya Jaka bangkit berdiri dan memeluk pamannya.

„Paman, telah lama kemenakamnu mencari-cari paman. Kiranya Tuhan memperkenankan kita bertemu. Paman ayah sangat rindu padamu".

„Jaka, tidak kecewalah kakak Anggara mempunyai putera seperti kamu”. Sang paman berkata sambil menepuk-nepuk bahu kemenakannya. Meskipun Anggara dan Krepa bukan saudara kandung tetapi hubungan mereka sudah seperti saudara kandung. Sayang bahwa cinta telah memutuskan hubungan mereka.

Candra, Bambang dan Dewi yang memperhatikan adegan itu hanya terlongong-longong.

„Ayah! Kak Jaka! Apa apaan ini. Bukankah kamu berdua sedang bergembira. Mari bagi kegembiraan itu pada kami”. Bambang berkata sambil tertawa. Mendengar kata-kata Bambang itu. keduanya berhenti berpelukan.

„Tidak Bambang kegembiraan ini tidak kami borong sendiri. Paman Krepa katakanlah padanya siapakah saya". demikian kata Jaka.

„Bambang, ketahuilah. Dia adalah putra kak Anggara. Masih ingatkah kamu siapa kak Anggara itu”.

„Ai, kiranya bulan telah jatuh dirumah kami. Tentu. tentu tentu saya masih ingat cerita ayah tentang uwa Anggara. Maha besarlah Tuhan yang telah mempertemukan kita”, kata Bambang dengan gembira.

Adapun Candra dan Dewi tidak kurang gembira. Tak disangkanya sama sekali bahwa orang yang telah menolongnya adalah putera seorang pendekar besar. Nama Anggara yang selalu didengung dengungkan oleh ayahnya kepada mereka sebagai seorang pendekar besar sangat berkesan dihati mereka. Kini putera pendekar besar berada dirumah mereka

„Jaka". terdengar Krepa berkata. „Sebetulnya kedatanganmu kesini merupakan suatu hal yang sangat kebetulan”.

„Akhir-akhir ini saya merasakan adanya sesuatu yang tidak beres didesa ini. Bantuanmu sangat kuperlukan dalam hal ini".

Pernyataan Krepa itu tidak hanya mengejutkan Jaka Prasetya tetapi juga Candra dan saudara-saudaranya.

„Apa gerangan yang terjadi, paman".

„Hari ini aku belum dapat mengatakannya. Nanti setelah kesehatanmu pulih kembali akan kukatakan hal itu padamu. Kulihat badanmu sudah tidak pucat lagi. Saya kira besok lusa kesehatanmu akan pulih kembali dan sudah dapat mulai berlatih silat lagi. Berlatihlah bersama-sama dengan adikmu Bambang. Dan kuberi padamu ramuan jamu untuk memulihkan kesehatanmu. Suruhlah Dewi menjerang air untuk menggodok jamu ini. Nah, kerjakanlah perintahku. Aku akan menlanjutkan pekerjaanku". Setelah berkata demikian Krepa menyerahkan sebuah bungkusan pada Dewi dan kemudian pergi meninggalkan mereka.

„Bambang., apakah sebetulnya pekerjaan paman Krepa".

„Didesa ini ayah bekerja sebagai empu. Ayah dikenal dengan nama Empu Krepa".

Sementara itu Dewi segera mengerjakan apa yang dperintahkan ayahnya. Untuk itu Dewi pergi kedapur.

„Kak Jaka", tiba-tiba Candra berkata. „Turutilah, perintah ayah tadi.

Saya akan pergi kesungai dulu untuk mencuci kain".

„Kak akupun juga akan pergi kehutan untuk berburu”, kata Bambang sambil mengikuti kakaknya yang melangkah pergi. „Biarlah Dewi yang melayanimu"

Tak berapa lama Dewi telah kembali dari dapur dengan membawa sebuah cangkir.

„Kak Jaka ramuan jamu pemberian ayah tadi. Setelah meminumnya turutilah perintah ayah tadi". Pada waktu Dewi menyerahkan cangkir itu dia memandang pada Jaka. Tak disangkanya Jaka pun memandangnya.

Seketika dua pasang mata bertemu pandang dan terlihat oleh Jaka betapa pipi gadis itu kemerah-merahan. Jaka segera menerima cangkir itu. la merasakan cangkir itu agak bergetar. Sehabis menyerahkan cangkir itu pada Jaka, Dewi segera memalingkan mukanya sambil berkata

:

„Kak Jaka, izinkanlah saya pergi kedapur untuk menyiapkan makanan untuk siang nanti". Tanpa menanti jawaban Jaka, ia segera pergi meninggalkan Jaka seorang diri.

Kini tingggalah dikamar itu Jaka termenung seorang diri. Disaat itu kembali terbayang peristiwa tadi. Kenapakah ketika menyerahkan cangkir kepadanya tangan Dewi agak bergetar. Dan kenapakah setiap kali ia melihat Dewi darahnya seperti bertambah cepat menimpanya. Dan kini Dewi telah pergi meninggalkannya. Dia merasakan kesunyian amat sangat dikamar itu. Dan dia sangat ingin untuk berjumpa lagi dengan Dewi. Kenapakah begitu ?

Tetapi tiba-tiba dirasakan tangannya yang memegang cangkir itu terasa panas. Maka tahulah ia kalau tadi ia sedang melamun. Jamu pemberian Empu Krepa tadi segera diminumnya. Sehabis meminum jamu itu Jaka segera membaringkan diri. Agak lama ia tidak dapat memicingkan mata. Bayangan wajah Dewi selalu terpeta dimatanya terutama senyumnya yang sangat menawan hatinya. Tetapi ketika diingatnya pesan pamannya tadi yaitu supaya dia lekas tidur sehabis meminum jamu itu demi pemulihan kesehatannya tertidurlah ia.

Betul juga kata Empu Krepa. Dua hari kemudian kesehatan Jaka Prasetva telah pulih seperti sediakala. Tetapi dengan sembuhnya dari luka-luka yang dideritanya penyakit baru timbul.

Penyakit semacam ini memang sudah sewajarnya timbul pada pemuda-pemuda seusia Jaka. Selama dua hari Jaka selalu dilayani oleh Dewi: Kesempatan tidak dibiarkan lalu begitu saja. Selama itu Jaka selalu mengajak Dewi bercakap-cakap. Mereka saling berceritera tentang pengalamannya masing-masing.

Dewi sangat senang mendengar ceritera Jaka tentang pengalamannya sebagai pendekar. Dan dari Dewi, Jaka mengetahui keadaan rumah tangga Dewi sehari-hari. Ketika Jaka menanyakan pada Dewi tentang ibunya, Dewi tampak mencucurkan air mata. Dikatakan oleh Dewi bahwa ibunya sudah tiada lagi didunia. Bahkan dia tidak berkesepatan melihat wajah ibunya.

Alangkah terkejutnya Jaka mendengar kisah itu. Saat itu teringatlah ia akan ayahnya. Dan terbayang di matanya wajah sang ayah yang selalu muram. Kemuraman yang disebabkan patah hati. Dan sekarang wanita yang menyebabkan ayahnija patah hati itu telah tiada lagi. Tetapi ia

lekas-lekas menghentikan lamunannya. karena takut kalau dicurigai Dewi.

Mereka segera melanjutkan percakapan. Dari Dewi tahulah Jaka bahwa Candra telah dipertunangkan dengan seorang pemuda bernama Kartika.

Demikianlah selama dua hari itu pergaulan antara Dewi dengan Jaka kian rapat. Selama dua hari itu pula perasaan aneh dalam diri Jaka terhadap Dewi semakin menghebat. Diwaktu perasaan demikian itu berkobar Jaka bertanya dalam hatinya apakah gerangan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya itu. Mengapa jika ia bertemu dengan Dewi jantungnya berdebar-debar. Dan mengapa jika tidak berjumpa dengan Dewi sesaat saja perasaannya seperti tersiksa?

Walaupun perhatian Jaka sebaglian besar dicurahkan pada Dewi namun terhadap Candra dan Bambang tidaklah berkurang keramahannya.

Pada hari yang ketiga ,ketika dirasakannya bahwa kesehatannya telah pulih seperti sedia kala maka ketika Bambang datang kekamarnya maka ia segera mengutarakan maksudnya. Kak Jaka, ayah mengatakan padaku agar supaya kita berdua berlatih bersama. Dengan demikian kita dapat saling tukar menukar pengalaman”.

Mendengar perkataan Jaka wajah Bambang nampak riang

„Dan kapan ,kita mulai”.

„Bagaimana kita mulai sekarang".

Ajakan Jaka itu menyebabkan kegembiraan Bambang bertambah- tambah. Telah lama ia menginginkan hal itu dan kini keinginannya akan terlaksana. Bambang segera mengajak Jaka menuju kelapangan dimana dia sering berlatih. Lapangan itu tiada berapa jauh letaknya dari rumah Empu Krepa.

Sesampai dilapangan itu Bambang dan Jaka segera saling menjajal kepandaian. Ternyata kepandaian Bambang cukup ampuh juga tetapi sudah barang tentu bukan tandingan Jaka. Dan oleh karena Jaka telah berjanji akan memberi bimbingan pada Bambang. ia pun segera melaksanakannya. Bambang pun tidak malu-malu menanyakan pada Jaka terhadap kekurangannya. Sehingga dengan demikian kepandaian Bambang dalam sehari saja sudah maju dengan pesat.

Tengah mereka berlatih datanglah Empu Krepa kelapangan itu bersama dengan dua orang laki-laki usia pertengahan.

„Jaka, mari kuperkenalkan kamu dengan dua orang pembantuku yang setia. Mereka adalah Suta dan Naya”.

Demikian kata Empu Krepa sambil menunjuk pada kedua orang itu.

Jaka mendekati kedua orang itu dan mengajak bersalaman. Suta dan Nayapun menyambut salam Jaka dengan hangat.

„Jaka maksudku mengajak mereka kemari adalah agar mereka dapat ikut serta berlatih dengan kamu dan Bambang". Kata Empu Krepa selanjutnya.

„Sudah barang tentu hal ini sangat menggembirakan hati saya paman". Jaka menjawab dengan wajah yang riang.

Dalam beberapa hal ia sangat membutuhkan bimbinganmu, tetapi kepandaiannya memanah lumayan juga".

Setelah berhenti sejenak Empu Krepa menyambung bicaranya: Selain itu aku ingin mencoba kepandaianmu Jaka. Dahulu kak

Anggara sangat terkenal dengan kepandaiannya memainkan cambuk.

„Kepandaian saya bukan tandingan ayah . Sebetulnya sangat memalukan apabila hal ini dipertunjukkan disini", kata Jaka merendah.

„Jaka”, Tiba-tiba Empu Krepa berkata dengan keras. „Dalam hal ini kamu tidak boleh sungkan-sungkan lagi padaku. Peristiwa yang akan kita hadapi tidak boleh dipandang ringan. Kamu harus berlatih dengan sungguh-sungguh. Nah marilah kita mulai”.

„Kalau begitu silahkan paman menyerang dulu”, kata Jaka sambil mempersiapkan cambuknya.

Dengan cepat Empu Krepa mempersiapkan kerisnya dan dengan cepat pula ditusukkannya keris itu kedada Jaka. Tetapi gerak cambuk Jaka tidak kurang cepatnya. Pergelangan tangan Empu Krepa yang memegang keris terancam. Melihat datangnya bahaya dari cambuk Jaka dengan cepat Empu Krepa merubah serangannya. Kali ini yang diarah perut Jaka. Namun Jaka sudah bersiaga. Cambuknya segera mengikuti arah bergeraknya pergelangan tangan pamannya.

Dalam beberapa saat saja pertempuran antara Empu Krepa dengan Jaka berlangsung dengan serunya. Serangan keris dari Empu Krepa yang datang bertubi-tubi dibalas dengan serangan cambuk yang tidak kurang tangkas.

Seluruh lapangan itu seolah-olah djgetarkan oleh bunyi cambuk Jaka. Serangan keris Empu Krepa dapat diumpamakan bagaikan hujan lebat sedang permainan cambuk Jaka laksana petir yang menyambar- nyambar.

Tiba-tiba Empu Krepa memperlambat serangannya. Jaka merasa heran, tetapi demi cambuknya akan mengarah pada pergelangan tangan Empu Krepa seakan-akan terhalang oleh sesuatu kekuatan yang tidak nampak.

Maka tahulah Jaka bahwa sang paman akan menjajal kesaktiannya.

Dengan segera Jaka merobah serangan cambuknya. Cambuknya digerakkan dengan cepat, dengan menggunakan tenaga batin didikan ayahnya. Kekuatan gaib yang menyelubungi tangan pamannya dapat ditembusnya. Walaupun demikian oleh karena tertahan oleh tenaga gaip dari sang paman maka serangan cambuk itu tidak dapat mengenai sasaran. Namun hal ini sudah mengejutkan Empu Krepa karena kurang serambut saja pergelangan tangannya akan terserempet oleh cambuk Jaka.

Empu Krepa segera menambah tenaganya. Serangannya dipercepat. Jaka merasakan suatu tekanan yang maha dahsyat. Meskipun demikian ia tidak menyerah bulat-bulat. Cambuknya segera diputar dengan cepat untuk melindungi tubuhnya. Dengan segala kekuatan yang ada Jaka menangkis serangan pamannya. Kemudian ia meloncat keatas. Dari atas ia melanjutkan serangannya mengancam bahu sang paman.

Dan ketika kakinya menginjak tanah ia merobah serangannya kearah kaki pamannya.

Empu Krepa tidak menyangka kalau akan mendapat serangan cambuk Jaka ia juga melihat Jaka meloncat keatas dan dari atas menyerang bahunya. Serangan ini dapat dihindarkan dengan berjongkok. Tetapi sungguh tak dikira sama sekali bahwa serangan itu tidak diteruskan melainkan diarahkan kekakinya. Padahal ia sedang berjongkok, hingga sulit untuk menghindar. Walaupun demikian ia bukan Empu Krepa jika tidak dapat menghindari serangan Jaka. Dalam keadaan berjongkok ia meloncat kebelakang. Setelah berdiri ia segera berkata :

„Cukup Jaka, kepandaianmu menggunakan cambuk sudah dapat menyamai ayahmu. Bahkan ada kelebihannya yaitu kecepatan gerakmu, tetapi ada pula kekurangannya yaitu tenaga seranganmu kurang kuat.

Namun sudah cukuplah ini untuk menghadapi musuh-musuh kita nanti. Nah sekarang lanjutkanlah latihanmu''. Sehabis berkata begitu Empu Krepa segera meninggalkan Jaka dengan teman-temannya.

„Kak Jaka kepandaianmu ternyata setarap dengan kepandaian ayah " Kata Bambang sepeninggal ayahnya.

„Mana mungkin, Bambang''. Walaupun berkata demikian ia merasa gembira juga dapat mengimbangi pamannya yang pernah menggetarkan bumi Mataram.

Begitulah Jaka, Bambang, Suta dan Naya segera melanjutkan latihan mereka dan baru berhenti berlatih ketika Dewi datang memanggil mereka untuk makan siang.

Dari hari mereka makin giat berlatih. Bahkan Candra dan Dewi juga turut berlatih, Candra berlatih memanah, sedangkan Dewi mempergiat berlatih cambuk. Disamping itu tidak lupa Empu Krepa menilik mereka yang sedang berlatih.

Ketika Empu Krepa menyaksikan ilmu keris ciptaan Anggara yang dipertunjukkan oleh Jaka ia merasa takjub. Maka ia membantu Jaka untuk memperbaiki kekurangan dari ilmu keris itu. Sehingga Jaka mengalami kemajuan yang pesat.

Selama berlatih Jaka selalu bertanya dalam hatinya. Kenapakah Empu Krepa menyuruhnya untuk berlatih dengan hiat? Peristiwa apa yang akan menimpa desa ihi? Apakah Kyai Candraketu akan mendatangi desa itu disebabkan pengaduan Panji Jatmika? Walau pertanyaan itu belum terjawab, namun Jaka terus berlatih dengan giat.

Selama itu pula perhubungan antara Jaka dengan Dewi semakin rapat. Pada suatu hari ketika Jaka mendapat kesempatan untuk berbicara dengan Dewi berdua iapun mengutarakan perasaan dalam hatinya. Ia yakin bahwa apa yang berkecamuk dalam dadanya terhadapDewi itu tak lain dan tak bukan adalah perasaan cinta pada gadis itu.

Pagi ityu kedua orang muda-mudi itu berjalan2 ditepi sebuah sungai. Dibawah sebuah pohon yang rindang duduklah merela melepas lelah.

„Dewi ………”. Demikian kata Jaka membuka percakapan.

Dewi memandang kearah Jaka. Pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Jaka yang bersinar aneh.

„Bagaimana pendapatmu tentang dua ekor kupu-kupu yang sedang terbang itu?" Jaka melanjutkan pembicaraannya sambil menunjuk sepasang kupu-kupu yang sedang beterbangan. Dewi menoleh kearah yang ditundjuk oleh Jaka.

„Ah kak Jaka, bagi mereka seakan-akan dunia ini hanya milik mereka berdua …….." Demikian jawab Dewi.

„Dewi …………” Sekali lagi terdengar Jaka berkata, tetapi hanya kata itu yang terdengar. Kerongkongannya serasa tersumbat untuk melanjutkan pembcaraannya.

Ketika Dewi menoleh kearah Jaka sekali lagi pandangan matanya terbentur pada pandangan mata Jaka yang aneh. Kali ini Dewi menundukkan kepala. Tak berani beradu pandang dengan pemuda itu. Disaat itu dirasakannya seolah-olah darahnya bertambah cepat mengalirnya.

Tiba-tiba didengarnya Jaka berkata :

„Dewi. Tahukah engkau perasaan apakah yang tersembunyi dalam dadaku. Apabila aku berhadapan dengan engkau sendirian seperti ini aku merasa sangat gembira. Dan seperti halnya dua ekor kupu-kupu tadi disaat seperti ini, kurasakan bahwa dunia imi seperti aku sendiri yang punya”.

Dewi hanya diam ketika mendengar semua dikatakan oleh Jaka.

„Dewi. Baiklah aku berterus terang padamu. Apakah engkau mempunyai perasaan demikian terhadapku?

Sesungguhnya Dewi juga menanti kata-kata yang demikan itu dari Jaka. Meskipun benar ia mempunyai perasaan demikian terhadap Jaka, tetapi diingat bahwa perkenalannya dengan Jaka baru berlangsung beberapa minggu tidak selayaknya ia mengutarakan perasaannya itu.

Walaupun demikian ia memberi jawaban pula.

„Kak Jaka. bila kamu menanyakan hal itu padaku maafkanlah kak tak dapat aku memberi jawaban pada saat ini. Tetapi dari sinar mataku kau akan tahu betapa perasaanku padamu".

Mendengar jawab yang demikian itu kegembiraan Jaka tiada terkira. Dipegangnya kedua iengan Dewi seakan-akan tiada dilepaskan lagi.

Peristiwa itu memberi dorongan yang tidak kecil pada Jaka. Ia semakin giat berlatih.

Tetapi sementara itu ia melihat Candra tampak bersusah hati.

Bahkan pada hari yang akhir-akhir ini tampak selalu termenung. Sekonyong-konyong ingatlah Jaka akan sesuatu. Ketika ia berjumpa dengan Bambang berkatalah ia

„Bambang. Bukankah kamu belum memperkenalkan aku pada tunangan Candra.

Mula-mula Bambang diam tiada mengucapkan sepatah katapun, tetapi akhirnya berkatalah ia :

„Itulah yang akan kubicarakan dengan kak Jaka”.

Bambang diam sejenak kemudian lanjutnya. „Adakah pada akhir- akhir ini? Pada waktu aku akan memperkenalkan kak Kartika tunangan kak Candra pada kak Jaka kudapati rumahnya terkunci. Kucari dia kemana mana tetapi tak kujumpainya. Mlula mula aku mengira bahwa kepergiannya tidak lama. tetapi hingga kini tak muncul-muncul. Tentu saja kak Candra menjadi khawatir, jangan2 Kartika dicelakakan oleh Panji Jatmika. Padahal kepandaian kak Kartika tidak seberapa. Ia hanya memiliki kepandaian yang cukup ampuh dipergunakan berburu. Oleh karena itu apabila menghadapi Panji Jatmika akan celakalah kak Kartika. Itulah yang menyebabkan kak Candra bersedih hati".

Mendengar jawab Bambang timbullah rasa heran pada diri Jaka.

Sejak ia datang didesa itu ia selalu menjumpai keanehan. Dan dalam hal kepergian Kartika inipun ia yakin akan adanya sesuatu hal yang tersembunyi. Jaka merasa heran bahwa ia merisa tertarik akan orang yang belum pernah dikenalnya itu. Apakah gerangan sebabnya?

Pada suatu sore Empu Krepa memanggil mereka berempat. Dengan wajah yang diliputi kesedihan Empu Krepa berkata:

„Jaka, Candra, Bambang dan Dewi. Telah hampir sebulan aku membiarkan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam hatimu tentang peristiwa apa yang akan terjadi didesa ini. Aku membiarkan pertanyaan itu tak terjawab. Kini tibalah saat aku memberi tahukan hal itu padamu''.

Empu Krepa berhenti sebentar.

„Anak-anak. Ketahuilah olehmu. Rumah ini sudah tidak aman lagi bagi kita. Aku sudah melihat bahwa ada beberapa orang musuhku memata-matai rumah kita ini. Kalau mereka telah berhasil mendatangikan kawan2nya maka celakalah kita. Sebetulnya sudah lama aku mencurigakan hal ini, tetapi baru hari ini aku mendapat kepastian”.

Sekali lagi Empu Krepa berhenti bicara. Dari raut mukanya tampak kesedihan yang membayang. Berkali-kali ia terlihat menghela nafas. Tiba- tiba ia memandang keempat orang muda-mudi dihadapannya. Dan kemudian berkata :

Oleh karena itu rumah ini terpaksa harus kita tinggalkan”. Mendengar perkataan itu terkejutlah keempat orang muda-mudi itu.

Ayah mengapa kita harus meninggalkan rumah ini. Tidak ada jalan lain yang lebih baik" kata Dewi sambil menangis terisak-isak.

„Betul ayah'', demikian Bambang menyambung. „Kita dapat mengusir musuh-musuh ayah''.

„Bambang. Kamu jangan memandang rendah musuh-musuh saya.

Memang kepandaian musuh-musuh saya tidak seberapa. Tetapi kekebalan mereka amat mengesalkan. Coba tunjukkan bagaimana menghadapi tiga puluh orang prajurit Belambangan”.

„Perajurit Belambangan?” Desis Bambang dan Jaka hampir bcrsama.

„Betul. Mereka adalah prajurit Belambangan. Pada saat ini pemimpinnya belum datang, mereka tidak berani bergerak sembarangan. Maka lekas-lekaslah kamu se-kalian ber-siap2. Candra bungkuslah sekedar bekal makanan. Dewi bantulah kakakmu. Jaka dan Bambang siapkanlah kudamu masing-masing. Tadi Suta dan Naya telah kusuruh mempersiapkan kudaku dan kuda mereka. Kita berangkat malam ini

juga-.

„Malam ini". Bambang menegaskan.

„Ya. Malam ini juga". Jawab ayahnya dengan tegas. Turutlah nasehatku sebelum musuh keburu bergerak. Jangan membuang waktu untuk bermenung. Lekas kerjakan perintahku”, Kata Empu Krepa dengan suara keras.

Mendengar perintah itu mereka tak berani membantah. Tetapi ketika mereka akan meninggalkan Empu Krepa terdengar Empu Krepa berseru.

„Jaka sehabis mempersiapkan perbekalanmu lekas-lekaslah datang kemari. Ada sesuatu soal yang akan kubicarakan padamu". Demikian kata Empu Krepa pada Jaka ketika pemuda itu akan melangkahkan kakinya untuk mengerjakan perintah sang paman. Demikianlah keempat pemuda-pemudi itu mengerjakan semua perintah sang Empu dengan penuh tanda tanya.

Dimuka belum kita jelaskan bahwa rumah tinggal Empu Krepa terdiri atas dua buah rumah. Sebuah rumah tinggal dan sebuah rumah dimana sang empu melakukan pekerjann sehari-hari. Dirumah yang tersebut paling akhir inilah Empu Krepa mengutarakan maksudnya hendak meninggalkan rumah beserta semua anak-anaknya.

Adapun ,Jaka setelah selesai mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk perjalanan segera bergegas-gegas mejumpai sang paman.

„Jaka masuklah", terdengar suara Empu Krepa ketika dilihatnya Jaka berdiri diambang pintu, Jaka segera masuk mendekati pamannya. Tanpa membiarkkan Jaka menanti Empu Krepa berkata :

„Jaka. Sebetulnya sangat berat rasa hatiku untuk meninggalkan rumah ini. Tetapi oleh karena tempat ini Sudah tak aman lagi bagi kami sekeluarga, maka terpaksa harus saya tinggalkan. Desa ini dengan secara diam-diam telah kedatangan tiga puluh prajurit Belambangan. Mereka datang kemari dengan menyamar. Ada yang menyamar sebagai perantau. Ada yang menyamar pedagang. Mereka mengira bahwa aku tak mengetahuinya. Huh. Mereka terlalu memandang rendah Sebetulnya kita tak perlu takut pada mereka, tetapi tak boleh kita abaikan. Untunglah bahwa waktu yang lalu aku telah berhasil membuat keris dari wesi aji yang berasal dari Belambangan. Hanya dengan keris semacam itulah, mereka dapat dilawan. Marilah kuperlihatkan keris itu padamu".

Sambil berkata Empu Krepa berjalan mendekati almari tempat menyimpan berbagai senjata. Diambilnya sebuah keris berikut rangkanya. Dihunusnya keris itu untuk diperlihatkan pada Jaka.

„Inilah keris itu Jaka".

Jaka menerima keris itu dari tangan pamannya. Diperhatikannya keris itu. Keris itu biasa saja tidak terlihat sesuatu yang menonjol.

„Jaka, Jika usaha kita untuk menyingkir itu ketahuan oleh mereka,

,maka sangatlah besar bahaya yang kita hadapi.Oleh karena itu keris ini dapat kau pergunakan untuk melindungi adik-adikmu. ……… Hai siapa itu?" Tiba-tiba Emmi berteriak sambil menoleh kearah pintu jendela. Jaka ikut mengawasi ke arah jendela. Tetapi pada saat itu dari arah pintu muka melayang sesosok tubuh kearah Jaka dengan pesat dan dilain saat Jaka merasa tangannya kosong. Keris yang dipegang Jaka tadi telah berpindah tangan. Dan ketika Jaka menyadari hal itu bayangan tadi telah kembali kearah pintu. Jaka terkesiap. Keris yang dibuat dengan susah payah oleh pamannya kini lenyap dengan  

begitu mudah. Tentu saja Jaka tak tinggal diam. Tetapi sebelum dia sempat bertindak terjadi perkembangan lain.

Pada saat bayangan itu akan mencapai pintu dengan tidak disangka-sangka Bambang muncul diambang pintu.

Waktu itu keadaan sudah hampir gelap meskipun demikian secara samar-samar Bambang melihat apa yang terjadi didalam ruangan itu. Ia merasa belum kenal bayangan itu. Dengan tidak diperintah oleh ayahnya ia segera mengayunkan tinjunya kearah orang itu. Karena tidak menyangka akan mendapat serangan, orang itu menghindar kebelakang. Kesempatan ini tidak dibiarkan begitu saja oleh Empu Krepa. Cepat bagaikan kilat Empu Krepa melancarkan sebuah pukulan kepunggung orang tadi dan kearah pergelangan tangannya. Pukulan pertama dapat dihindarkan, tetapi pukulan yang kedua tepat mengenai sasarannya. Keris yang tadi dirampasnya terlempar kesaamping dan Jaka yang terus memperhatikan keadaan itu segera menyambar keris yang sedang melayang itu. Dan keris Belambangan itu kembali ketangan Jaka.

„Waja Cempani berani benar kamu berbuat seperti ini dirumahku''.

Memang orang tadi adalah Waja Cempani. Pada saat itu dengan beringas ia sedang memandang kearah keris yang dipegang oleh Jaka.

„Bukankah keris itu kau buat untuk membunuh bapa Candraketu kak”. „Kalau betul kamu mau apa”. Jawab Empu Krepa.

„Lihatah apa yang akan aku perbuat ………” Sahut Waja Cempani dan kemudian sambil menggeram ia menerjang kearah Jaka. Kedua tangannya dikemukakannya dan setelah dekat pada Jaka dirubah menjadi cengkeraman, untuk merebut keris yang dipegang Jaka. Tetapi kali ini Waja Cempani ketemu batunya. Demikian cekereman Waja Cempani datang secepat kilat Jaka menggerakkan kerisnya untuk menghindari cengkeraman dan kemudian dan kemudian melancarkan serangan kearah perut Waja Cempani.

Waja Cempani menangkap angin. Ketika ia sedang keheranan serangan Jaka datang. Ia menghindar. Tetapj serangan berikutnya datang mengarah bahunya. Ini pun dapat dihindarkan. Namun serangan Jaka datang bertubi-bertubi dengan cepatnya.

Sementara itu Empu Krespa tidak memperhatikan keadaan Jaka yang diperhatikan adalah jendela yang mengbadap kejalan. Tiba-tiba ia berseru:

„Bambang suruhlah Suta dan Naya untuk bersiap-siap. Demikian pula Candra dan Dewi.”

Dengan cepat Bambang menuruti nasehat ayahnya. Sepeninggal Bambang Empu Krepa segera memperhatikan keadaan Jaka. Saat itu dengan sepenuh tenaga Jaka sedang melancarkan serangan-serangan dengan ilmu keris ciptaan ayahnya. Oleh karena keris yang dipegang Jaka itu terbuat dari wesi aji Belambangan, maka kekebalan Waja Cempani tidak dapat dipergunakan. Dengan repot ia menghindar kesana kemari tanpa dapat melakukan serangan balasan. Kecepatan bergerak Jaka tak dapat diatasinya. Dan tiba-tiba ….. krek ….. terdengar suara kain yang sobek. Kemudian terlihat Waja Cempani meloncat mundur dan setelah itu meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah perkataanpun.

Ternyata sebagian dari kain yang dipakai Waja Cempani sobek.

Jaka agak termangu menyaksikan apa yang telah terjadi. Ia agak menyesal telah melakukan perbuatan itu. Walau bagaimanapun Waja Cempani adalah bekas saudara seperguruan ayahnya.

„Bagus Jaka. Ilmu keris ciptaan ayahmu sudah dapat kamu yakinkan dengan sempurna”, Kata Empu Krepa. „Jangan menyesali perbuatan yang baru kau lakukan itu. Orang seperti Waja Cempani harus diberi peringatan". Rupanya Empu Krenn mengetahui apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran Jaka.

Sementana itu terlihat Bambang datang dengan bergegas-gegas.

„Ayah. Si bangsat Panji Jatmika itu kiranya berani mengacau dirumah ini. Tadi ketika aku akan mengajak kak Candra dan Dewi bersiap-siap dari arah kamar kak Candra kudengar suara jeritan. Aku segera datang ke kamar itu. Kulihat Panji Jatmika tampak sedang

menyeret kak Candra. Untung aku datang sebelum terlambat, Kuhajar dia hingga pingsan dan kini kubiarkan dia terkapar disana", Demikian Bambang melapor pada sang ayah. Dibelakang Bambang tampak Candra dan Dewi mengikuti dengan wajah yang diliputi ketakutan.

„Dan bagaimanakah dengan Suta dan Naya. Sudah siap?”

„Sudah ayah …….”

Tetapi kata Bambang diputus oleh suara terbahak-bahak.

Kesemuanya terkejut mendengar suara itu. „

„Ha ….. Ha …. Ha …. Krepa. Jangan kamu kira begitu mudah melarikan diri dari prajurit Belambangan. Pekarangan ini sudah dikepung rapat-rapat. Tak kurang dari tiga puluh prajurit Belambangan telah siap menunggu perintahku untuk bertindak. Maka demi keselamatanmu dan keselamatan anak-sanakmu menyerahlah”.

„Apa? Menyerah? Empu Krepa sangat pantang melakukan hal itu". Jawab Empu Krepa dan kemudian berseru „Bambang lindungi kakakmu. Jaka lindungilah Dewi”.

Empu Krepa berlari kearah pintu pekarangan dimana menanti seorang tinggi besar dan berwajah menakutkan.

„Santa Jaya, Menyingkirlah". Kata Empu Krepa.

„Empu Krepa. Menyerahlah”. Jawab orang tinggi besar itu.

Empu Krepa merasa dipermainkan. Ia menjadi geram. Secepat kilat ia meloncat kearah orang yang dipanggil dengan nama Santa Jaya Sebuah pukulan dilancarkan kearah Santa Jaya. Santa Jaya tidak tinggal diam. Dia menghindar dan kemudian membalas menyerang.

Jaka mengikuti pamannya. Dan seperti yang diperintahkan pamannya ia berdiri disamping Dewi. Sementara itu terdengar derap kuda menuju pintu pekarangan. Kiranya Suta dan Naya yang mengetahui adanya gelagat tidak baik segera menyiapkan semua kuda yang akan diperlukan dalam perjalanan. Kuda Jaka Prasetya tidak dilupakannya.

„Jaka, Bambang. Lekaslah meloncat kekuda, Terjanglah kepungan musuh. Bawalah Candra dan Dewi beserta kalian. Biarlah saya beserta Suta dan Naya melindungi kalian dari belakang". Jaka dan Bambang segera melaksanakan perintah Empu Krepa.

Tetapi baru saja mereka duduk diatas pelana kuda dan sedang membantu Candra dan Dewi naik kepunggung kuda. tiba-tiba dari berbagai arah meluncur beberapa anak panah. Meskipun anak panah-anak panah itu dapat ditangkis oleh mereka tetapi mereka terpaksa melepaskan tangan Candra dan Dewi.

Tiba-tiba terdengar jeritan. Dari atas pohon beringin yang berada diseberang jalan berjatuhan dua sosok tubuh. Ternyata Suta dan Naya yang mengetahui arah datangnya beberapa anak panah musuh segera mementang gendewa.

Oleh karena sudah menduga akan berhadapan dengan pasukan Belambangan maka Empu Krepa membuat beberapa puluh anak panah yang ujungnya terbuat dari aji Belambangan. Memang prajurit Belambangan sangat terkenal kekebalannya. Mereka kebal terhadap segala macam senjata asalkan senjata itu tidak dibuat dari wesi aji Balambangan. Untuk memperoleh kekebalan mereka setiap hari makan daun Rajeg Wesi.

Walaupun sudah ada dua orang yang dirobohkan, namun bahaya belum lewat. Hujan anak panah datang lagi. Jaka dan Bambang terpaksa menangkis anak panah yang berdatangan. Kali ini Suta dan Naya membantu menaikkan Candra dan Dewi kepunggung kuda.

Setelah selesai membantu Suta dan Naya segera membalas serangan anak panah itu. Prajurit Belambangan ketemu batunya. Mereka menghadapi pemanah yang ulung. Menghadapi Suta dan Naya pemanah- pemanah Belambangan menjadi tidak berkutik. Mereka terpaksa menghentikan serangannya. Melihat kesempatan itu Jaka dan Bambang segera menerjang keluar.

Suta dan Nayapun segera meloncat kepunggung kuda dan mengikuti dari belakang. Pada waktu itu datang lagi hujan anak panah, tetapi sudah tidak berarti banyak. Kesemuanya dapat ditangkis oleh Jaka dan Bambang yang menggerakkan kerisnya masing-masing dengan cepatnya. Suta agak lengah. Sebuah anak panah menancap dilengannya.

Tiba-tiba dari kiri kanan jalan itu berloncatan beberapa orang yang menghadang mereka. Melihat itu Jaka berkata pada Dewi yang berada dipunggung kuda bersama dengan dia.

„Dewi pergunakan cambukku ini sedapat mungkin". Sambil berkata demikian ia menyerahkan cambuk pusakanya pada Dewi.

Ketika itu seorang prajurit Belambangan melancarkan serangan kearah Jaka. Tetapi keris Jaka bergerak lebih cepat ……….dan crat

Keris itu tepat mengenai dada prajurit. Prajurit jtu tidak mengira kalau keris yang dipegang Jaka adalah keris Belabangan. Sementara itu seorang prajurit datang lagi. Kini yang diarah adalah Dewi. Namun Dewi tidak tinggal diam. Dengan cepat cambuknya diayunkan tar …… ujung cambuk itu tepat kena dipipi prajurit itu. Demikianlah prajurit yang menghalang didepan Jaka dan Dewi dapat dipukul mundur.

Lain halnya dengan Bambang yang kepandaian memainkan keris tidak semahir Jaka. Apalagi keris yang dipakai adalah keris biasa dan ia harus melindungi kakaknya. Suatu ketika seorang prajurit Belambangan melancarkan sebuah pukulan. Pada saat itu Bambang sedang menggunakan kerisnya untuk mengancam biji mata seorang prajurit.

Pukulan yang berikut ini tak dapat dihindarkan. Padahal Jaka, Suta dan Naya sedang menghadapi lawannya masing-masing, hingga tak mungkin memberikan pertolongan. Melihat datanganya serangan yang mengancam adiknya Candra menjerit. Tetapi pada saat pukulan itu hampir sampai tiba-tiba prajurit tadi jatuh terjerembab sambil memegangi kepalanya.

„Jangan khawatir anakku. Santa Jaya telah kurobohkan. Ayo terjang terus. Jangan mundur setapak langkahpun". Terdengar Empu Krepa berseru dari belakang.

Kiranya Santa Jaya bukan tandingan Empu Krepa. Sehabis membereskan musuhnya maka Empu Krepa segera meloncat kepunggung kuda. Sebelum itu tak lupa disambarnya beberapa butir batu yang cukup besar. Batu itulah yang dipergunakan untuk menyerang prajurit tadi.

Dengan adannya Empu Krepa kepungan prajurit Belambangan dapat didobrak. Kemudian mereka segera memacu kuda mereka. Empu Krepa berada dimuka untuk memimpin perjalanan. Kirannya jalan2 yang akan ditempuh itu telah direncanakan oleh Empu Krepa. Suta dan Naya ada dibelakang sendiri sambil mengawasi ke belakang.

Desa demi desa telah dilampau. Mereka terus memacu kuda-kucla mereka. Yang dipikir oleh mereka hanyalah maju, terus maju. Tiba-tiba Bambang berseru :

„Ayah. Apakah prajurit Belambangan itu tidak mengejar?"

„Inilah yang menjadikan diriku heran, Kemarin saya lihat seorang pedagang kuda datang kedesa kami. Ini suatu hal yang aneh bagiku.

Bukankah desa kifa tidak seberapa besar? Suatu hal yang aneh. Bahwa desa sekecil itu kedatangan pedagang kuda dengan berpuluh-puluh kuda dagangannya. Untung aku sempat memperhatikan pedangnya. Dia kukenal sebagai seorang perwira pasukan berkuda dari Belambangan".

Sambil berkata demikian Empu Krena terus melarikan kudanya.

„Kuda kuda mereka adalah kuda pilihan. Hal inilah yang mempercepat niatku untuk meloloskan diri. Dan satu-satunya yang kukhawatirkan adalah pengejaran mereka. Tetapi hingga kini mereka belum nampak mengejar".

„Paman. Apakah sebabnya paman dikejar-kejar oleh prajurit Belambangan?" Terdengar Jaka menyela.

„Jaka, bukan disini tempatnya berbicara. Sabarlah ! Krepa memutus.

Tiba-tiba Jaka menahan kudanya dan terdengar ia berteriak Paman:

„Marilah kita berhenti sebentar''. „Kenapa Jaka?” Empu Krepa segera menghentikan kudanya; begitu pula Bambang, Suta dan Naya. Mereka semua terheran-heran.

„Bukankah Suta sedang terluka. Marilah kita bebat luka itu. Dan keduanya disini saya mempunyai sahabat yang dapat saya mintai pertolongan untuk membendung kejaran prajurit Belambangan".

„Candra. Dewi. Suta. Naya. Tutuplah telingamu rapat-rapat“.

Dengan terheran-heran mereka mematuhi perintah Jaka. Apa gerangan yang akan dikerjakan oleh Jaka. Tiba-tiba Jaka bersiul. Mula-mula perlahan, tetapi makin lama makin nyaring dan achirnya sangat nyaring dan tajam lengkingannya. Jika Candra, Dewi. Suta dan Naya tidak mematuhi perintah Jaka tadi entahlah apa jadinya. Siulan itu sangat panjang dan bergelombang Empu Krepa dan Bambang sangat heran memperhatikan tingkah laku Jaka.

Tiba-tiba dari jauh terdengar suara aneh.

Tuuu . . . . Tuuu …… Tuu . . Mula-mula mereka mengira itu suara burung tuhu.

„Kolik ..... kolik, kolik, kolik…… “ Terdiengar jawaban dan kemudian dua macam suara itu balas membalas, se-akan2 suasana malam dirajai oleh bunyian2 itu

„Kolik, kolik, kolik ……….. Tuuu, tuuu, tuuu ……….. Kolik, kolik, Tuuu, tuuu ………… Kolik, kolik ………. Tuuu tuuu ”

Suara itu sangat mirip bunyi burung Kolik dan burung Tuhu. Tetapi kenapa demikian banyak dan timbulnya dengan tiba-tiba. Mereka semua keheranan kecuali…….. Empu Krepa yang dapat menanggapi kejadian itu.

„Astaga. Jaka kiranya Penyamun-penyamun Burung Kolik dan Burung Tuhu telah berhasil kamu tundukkan. Kamu memang pantas menjadi putra kak Anggara”.

Tak berapa lama dari kejauhan terlihat sinar api…….dan kemudian terus bertambah, seluruh dataran itu dipenuhi oleh cahaya yang berkelip- kelip. Cahaya bergerak kearah mereka.

Sementara itu Jaka telah berhenti bersiul dan suara yang mirip burung Kolik dan burung Tuhu yang saling sahut menyahut itu sudah lenyap pula.

Tiba-tiba sebuah obor tampak bergerak dengan cepat kearah mereka dan terdengar suara yang keras bagaikan guntur.

„Rangga Wulung dengan anak buahnya datang menghadap tuanku Raden Jaka Prasetya …..". Demikian suku kata terakhir selesai diucapkan terlihat seorang yang bertubuh besar meloncat dari galengan sawah.

Ditangan kiri orang itu memegang obor dan sebuah golok yang berkilat- kilat berada ditangan kanannya.

„Rangga Wulung menanti perintah Raden". Terdengar orang itu berkata sambil membungkukkan badannya. Melihat sikap menghormat yang berlebih-lebihan itu semua kawan Jaka merasa heran. Sedangkan Candra dan Dewi yang tadinya merasa takut kini ketakutan mereka sudah berkurang banyak.

Rangga Wulung. Ketahuilah olehmu. Malam ini kami di-kejar-kejar kira2 tiga puluh orang prajurit Belambangan. Tahanlah mereka supaya tidak dapat mengejar lagi. Cegah! Jangan sampai anak buahmu tidak jatuh korban yang banyak setelah cukup lama mengganggu tinggalkan mereka”. Demikian Jaka Prasetya memberi perintah pada orang tadi.

„Rangga Wulung telah memahami perintah raden. Raden Jaka Prasetya tak usah khawatir. Percayalah pada kemampuan kami”.

„Kalau begitu selamat bekerja. Sampai berjumpa lain waktu''.

Setelah itu Jaka segera memberi isyarat pada pamannya untuk melanjutkan perjalanannya meninggalkan kawanan penyamun itu.

Kawanan penyamun yang telah ditaklukkan oleh Jaka beberapa minggu yang lalu ketika Jaka dalam perjalanan menuju perbatasan Kerajaan Belambangan.

X X X

Marilah kita tengok keadaan prajurit Belambangan yang gagal menangkap Empu Krepa. Hajaran Empu Krepa menyebabkan Santa Jaya jatuh terjerembab hingga sukar untuk bangkit apalagi apa yang terjadi dihadapannya disaksikan dengan kemarahan. Ia melihat betapa para calon tawanannya menerjang kepungan dari anak buahnya. Alangkah marahnya Santa Jaya. Dengan mata merah membara bangkitlah ia.

Dirasakan betapa ngilunya seluruh tubuhnya.

Keadaan prajurit Belambangan ternyata sungguh mengenaskm. Empat orang mati terpanah, tiga orang mati dibawah keris Jaka tiga orang luka berat dan beberapa orang luka ringan. Menyaksikan keadaan anak buahnya yang seperti itu kemarahan Santa Jaya bertambah- tambah.

„Lekas siapkan kuda. Kejar bangsat-bangsat itu. Bakar saja rumah mereka”. Demikian terdengar Santa Jaya berteriak-teriak memberi perintah.

Beberapa prajurit segera melaksanakan perintah pemimpinnya menyiapkan kuda dan sebagian lagi menyulut api untuk membakar rumah Empu Krepa.

Tetapi kiranya prajurit-prajurit Belambangan itu sedang sial. Ketika api sedang, berkobar-koba, dari rumah tinggal Empu Krepa meloncat keluar seseorang, seorang pemuda yang berwajah cakap. Gerakan pemuda itu sangat gesit.

„Bangsat Bambang! Berani benar kamu menyuruh orang untuk membakarku hidup-hidup". Sehabis berkata demikian ia melancarkan pukulan-pukulan pada prajurit Belambangan itu.

Pemuda itu tak lain dan tak bukan adalah Panji yang dipukul hingga pingsan oleh Bambang. Panji Jatmika dibiarkan oleh Bambang terkapar disitu oleh karena Bambang sedang sibuk melaksanakan perintah ayahnya. Ketika Panji Jatmika siuman terlihat olehnya api yang menyala- nyala. Tanpa berfikir panjang ia mengira bahwa Bambanglah yang membakarnya.

Dihadapan Panji Jatmika pada waktu itu berdiri tiga orang prajurit yang sedang keheran-heranan melihat munculnya musuh yang tidak terduga- duga. Tetapi serangan Panji Jatmika telah melenyapkan keheranan Sebuah pukulan Panji Jatmika kena telak dihidung salah seorang prajurit itu. Pukulan yang kedua kena telak didada prajurit yang lainnya. Untung prajurit yang ketiga sempat menghindar dan kemudian membalas menyerang. Adapun kedua prajurit yang kena pukul itu segera rasa sakitnya hilang ia segera membantu temannya. Kini Panji Jatmika menghadapi tiga orang prajurit yang telah waspada. Meskipun demikian dia tetap ia unggul. Prajurit yang lainnya ketika menyaksikan keadaan itu segera membantu temannya untuk mengeroyok. Pemuda itu dikiranya keluarga dari Empu Krepa.

Sementara itu orang-orang desa disekitar rumah Empu Krepa telah mendengar suara hiruk-pikuk dari rumah Empu Krepa. Mereka memandang Empu Krepa sebagai anggauta terhormat. Kini terlihat oleh mereka adanya sesuatu yang tidak beres dirumah itu. Salah seorang dari mereka menjenguk kerumah itu. Dan Empu Krepa sedang bertempur dengan seorang. Maka oleh orang itu segera dipukul kentongan Kentongan ditabuhnya bertalu-talu. Bagi yang mendengarnya sudah merupakan berita, bahwa ada perampok sedang beraksi di-desa. Mereka semuanya keheranan. Perampok dari manakah yang berani mendatangi desa ini? Apakah mereka tidak tahu bahwa didesa ini tinggal pendekar yang sakti? Demikian pikir mereka.

Pemuda-pemuda didesa itu kebanyakan telah dilatih dilatih dalam ilmu perang oleh Empu Krepa. Mereka sudah terlatih menggunakan senjata dan mengatur bermacam barisan. Mendengar bunyi kentongan itu para pemuda desa itu segera berkumpul ketempat asal datangnya suara kentongan itu. Alangkah heran dan marahnya mereka demi mengetahui, bahwa rumah Empu Krepalah yang diserang perampok. Namun mereka tidak panik. Seorang pemuda tampil kedepan sebagai pemimpin. Dengan segera membentuk barisan „Supit Urang” untuk mengepung perampok2 itu, Dalam waktu singkat terbentuklah sudah barisan itu. Dan dengan teratur barisan itu bergerak menuju rumah Empu Krepa bertambahlah kemarahan mereka demi dilihatnya rumah Empu yang mereka hormati itu dibakar oleh „perampok2” itu.

„Serbu!" Demikian terdengar teriak pemimpin barisan. Seketika barisan „Supit Urang" yang terdiri atas kurang lebih 100 orang pemuda desa itu segera menyerbu kearah rumah Empu Krepa.

Memang, rupanya prajurit2 Belambangan itu sedang sial. Sehabis dihajar oleh Empu Krepa dan sedang menghadapi Panji Jatmika yang berangasan, kini diserbu oleh barisan pemuda desa. Walaupun prajurit2 Belambangan itu terdiri dari prajurit2 pilihan, namun menghadapi sekian banyak pemuda mereka kewalahan juga.

Apalagi pemuda2 desa itu menyerang dalam formasi „Supit Urang" dan banyak diantara para prajurit itu yang sedang luka-luka. Untunglah bahwa mereka kebal-,kebal terhadap senjata tajam. Kalau tidak demikian entahlah bagimana akibatnya.

Panji Jatmika ketika melihat datangnya pemuda2 desa itu segera melarikan diri karena mengira bahwa dirinya yang akan diserbu. Hal ini sangat menguntungkan prajurit2 Belambangan. Mereka dapat memusatkan perhatian pada serbuan rakyat desa yang sedang marah- marah itu.

Dalam beberapa saat saja prajurit2 Belambangan itu telah dikepung oleh barisan pemuda  desa itu.

Alangkah herannya penduduk desa itu ketika mereka mulai menyadari bahwa mereka menghadapi suatu kenyataan yang aneh. Perampok yang mereka hadapi itu ternyata tidak mempan oleh senjata tajam.

Difihak lain Santa Jaya semakin gemas. Ia mengamuk dengan hebat. Sehingga dalam sekejap banyaklah pemuda desa yang luka parah.

Tiba-tiba terdengar suara yang melengking tajam.

„Santa Jaya! Tinggalkan saja mereka. Ingatlah akan pesan terakhir ayahanda”.

„Aduhai. Kiranya gusti Cinde Seta. Ampunilah Santa Jaya, raden.

Tawanan yang raden kehendaki telah berhasil meloloskan diri”. Demikian jawab Santa Jaya sambil mencari jalan keluar dari kepungan.

„Santa Jaya! Memang sudah kusangka dari semula bahwa menangkap Empu Krepa bukan pekerjaan yang mudah”. Terdengar suara yang melengking tajam tadi. Suara yang melengking tajam itu memberi pengaruh yang besar pada para prajurit. Semangat mereka bertambah.

Tiha-tiba terdengar suara tadi:

„Cepat! Cepat! Tinggalkan pemuda2 tolol itu! Lekas! Susullah aku!

Mendengar perintah itu mereka segera berusaha untuk menembus kepungan itu. Dalam singkat para prajurit Belambangan itu telah dapat menembus kepungan dan kemudian segera mengendarai kuda yang telah mereka persiapkan. Pemuda2 desa itu tidak mengejar karena menurut mereka lebih penting menolong Empu Krepa. Disamping itu juga teman- teman mereka yang luka juga membutuhkan pertolongan. Berkat kerja sama yang erat diantara mereka tidak ada korban jiwa. Mereka yang tidak luka cepat-cepat memadamkan api yang sedang berkobar-kobar itu. Tetapi alangkah herannya mereka ketika ternyata bahwa orang yang mereka tolong tidak mereka temukan. Dimanakah gerangan Empu Krepa? Diculikkah? Siapa demikian berani menculiknya? Bahkan penghuni juga tidak mereka temukan, Kemanakah mereka semua itu? X X X

Biarkan kita tinggalkan mereka yang sedang keheran-heranan itu. Kita mengikuti Santa Jaya yang sedang memacu kudanya menuju arah datangnya suara yang melengking tajam tadi dengan diikuti oleh anak buahnya. Tidak berapa lama sampailah mereka ditepi desa dimana menanti seorang penunggang kuda. Penunggang kuda itu seorang pemuda yang berbadan tegap. Matanya bersinar tajam. Alisnya tebal.

Diatas bibirnya tumbuh kumis yang teratur rapi.

„Raden Cinde Seta, maki-makilah hamba. Hukumlah hamba, Hukumlah hamba yang tidak berhasil menjalankan tugas yang diberikan". DemiKan sapa Santa Jaya dengan tidak berani memandang penunggang kuda itu.

Raden Cinde Seta, demikian nama pemuda penunggang kuda itu memandang Santa Jayaa dengan tajam. Santa Diaja menundukkan kepala tidak berani memandang junjungannya.

„Sudahlah Santa Jaya. Tak ada gunanya aku menegurmu. Kini sebelum orang2 itu terIalu jauh melarikan diri marilah kita mengejarnya”. Selesai berkata demikian tanpa menanti jawaban, Raden Cinde Seta segera memacu kudanya menuju kebarat untuk mengejar Empu Krepa.

Kuda-kuda prajurit2 Belambangan itu lari dengan pesatnya. Pada waktu mereka membungkam. Tak ada satupun yang berbicara.

Telah lebih dari sepemakan nasi mereka mengejar, tetapi musuh yang mereka kejar belum juga terlihat. Setiap melalui sesuatu desa lima orang prajurit disuruh menyelidiki adakah orang yang mereka cari ber- sembunyi disitu. Bila ternyata tak ada mereka segera meneruskan pengedjaran menyusur jalan desa.

Hari semakin gelap tetapi musuh yang mereka kejar beum juga terkejar. Tiba-tiba Raden Cinde Seta menghentikan kudanya dan memandang kedepan dengan taja. Kemudian berseru :

„Lekas kembali! Cari sebuah tikungan!”.

Para prajurit Belambangan merasa heran mendengar perintah itu.

Tetapi mereka tidak berani membantah. Dan disaat mereka sedang membalikkan kuda mereka, dari arah depan berlari berpuluh-puluh ekor kerbau. Jalan yang tidak begitu lebat itu dipenuhi oleh barisan itu. Kerbau itu seperti sedang marah. Seketika keadaan dalam barisan berkuda menjadi kacau. Tanpa diperintah oleh penunggangnya kuda-kuda itu segera dan melarikan diri dengan pesat. Setiap kali Para prajurit itu menoleh kebelakang setiap kali mereka bahwa barisan kerbau itu maasih berlari dibelakang mereka. Milik siapakah kerbau-kerbau gila itu? Kenapa malam-malam dibiarkan terlepas?

Lama mereka berlari kembali. barulah berhasil mereka menemukan sebuah tikungan. Dan mereka menarik nafas lega. ketika dlihatnya kerbau-kerbau menggila itu membelok. „Santa Saya, saya merasa yakin kalau hal iri diatur oleh seseorang.

Agaknya mereka menginginkan kita menghentikan pergejaran terhadap Empu Krepa". Demikian Raden Cinde Seta berkata, ketika dilihatnya bahaya telah lampau. Kemudian Raden Cinde Seta segera memerintahkan melanjutkan perjalanan.

Tetapi malam itu prajurit Belambangan memang sedang sial. Belum lama mereka melarikan kudanya sekoyong-koyong dimuka mereka terdengar dua buah benda jatuh.

„Bluk …. Bluk …….”

Mereka terus berlari tanpa menghiraukan suara benda jatuh tadi, tetapi tiba-tiba seorang prajurit berteriak:

„Awas lebah! Aduh ...... Aduh ….. Aku disengatnya".

„Aduh aku juga disengat".

Seketika itu timbullah kepanikan lagi dikalangan para prajurit itu.

Beratus-ratus ekor lebah beterbangan didalam kelompok prajurit itu sambil menyengati. Kiranya dua buah benda jatuh itu adalah dua buah sarang Lebah-lebah itu merasa diganggu oleh karena itu sangat marah. Kuda-kuda dari prajurit itu dengan tak sengadja telah mengindjaknya. Seketika beterbanganlah lebah-lebah itu dari dalam sarangnya. Tetapi kekacauan tidak berhenti sampai disitu. Ketika mereka dapat menghindar dari bahaya amukan2 lebah itu tiba-tiba beberapa ekor kuda yang dikendarai oleh prajurit2 Belambangan itu roboh ketanah dan ketika diselidiki kiranya beberapa anak panah menancap ditubuh kuda-kuda yang malang itu. Alangkah marahnya Raden Cinde Seta. Seketika ia berteriak:

„Hai jahanam! Keluarlah kalau kamu benar-benar ksatria!"

Suara pekikan yang melengking tajam itu memecah kesunyian malam. Mula-mula teriakan itu tidak mendapat jawaban tetapi tiba-tiba terdengar suara yang nadanya bagaikan grungan singa.

„Kamu bukan ksatria. Kami adalah penyamun-penyamun".

Demikian jawaban itu. Kalau para prajurit Belambangan merasa sakit telinganya mendengar suara itu maka bagi Raden Cinde Seta lebih sakitlah hatinya. Ketika ia akan mengejar kearah suara itu tiba-tiba terdengar suara teriakan saut-menyaut.

„Kolik, kolik,kolik,……… Tuuu tuuu....... tuuu ……… Kolik ……..

kolik …….. kolik ….. Tuutt ……. tuuu ……. tuuu ……” Demikian suara saut- menyaut yang didengar oleh Raden Cinde Seta.

Maka sadarlah Raden Tiinde Seta siapa yanq sedang dihadapinya.

Kalau ia nekat mengejar makin lamalah ia terlibat disitu. Penyamun Burung Kolik dan Burung Tuhu bukan lawan yang boleh dipandang, ringan.

„Astaga! Kiranya kawanan Buruno Kolik dan Burung Tuhu. Pantas mereka demikian pandai mengatur jeba-  

kan'', kata Santa Jaya.

„Huh'', desis Raden Cinde Seta. Perasaan mengkal gemas, marah dan bingung campur aduk menjadi satu. Kematian ayahandanya yang sangat dicintainya kembali terbayang dipelupuk matanya. Peristiwa itulah yang menggoncangkan hatinya serta menimbulkan pertanyaan- pertanyaan yang belum terjawab, Peristiwa itu pulalah yang membawanya sampai kemari. Diruang matanya kembali terbayang wajah ayahnya, ketika akan menghembuskan nafasnya yang penghabisan.

„Seta …. anakku …. kamulah ….. satu-satunya …. harapanku …. harapan ibumu dan …. harapan Belambangan ….. Pesanku ….. padamu adalah ….. pertama …… pertahankan ...... kerajaan Belambangan ….. mati matian ….. dari ….. serbuan manapun juga. Kedua ….. carilah …. Empu Krepa …. dialah …. yang …. menyuruh …. seseorang …… untuk membunuhku. Balaskan nak. Balaskan …. dendamku ”

Demikian kata-kata terakhir yang diucapkan ayahnya. Yang selalu berkumandang ditelinganya. Sehabis mengatakan itu ayahnya segera pergi, pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Pergi dengan meninggalkan teka-teki bagi dirinya. Siapakah Empu Krepa? Kenapa ayahnya dibunuh olehnya? Dimana tempat tinggalnya?

Untunglah bahwa Santa Jaya dapat memberi keterangan padanya siapakah Empu Krepa itu sebenarnya. Berdasarkan petunjuk Santa Jaya maka ia segera mengatur siasat untuk menangkap Empu Krepa. Tetapi segala usahanya telah gagal dan musuh yang hendak ditangkapnya telah melarikan diri.

Tetapi walau bagaimanapun ia harus menangkap Empu itu. Maka dengan sisa kuda yang masih hidup ia bermaksud meneruskan pengejaran.

Untunglah bahwa masih ada sepuluh ekor kuda yang selamat.

Dengan sisa tenaga yang ada itu Raden Cinde Seta bermaksud melanjutkan pengejaran.

Sedang sebagian yang lain yaitu prajurit yang luka atau yang kudanya terpanah disuruh kembali ke Belambangan.

Kini tinggallah Raden Cinde Seta dan Santa Jaya beserta delapan orang prajurit pilihan melanjutkan pengejaran.

X X X

Kini marilah kita ikuti Waja Cempani.

Waja Cempani sangat marah bercampur malu ketika ternyata, bahwa dia tidak dapat merampas keris ciptaan Empu Krepa dari tangan Jaka Prasetya. Bukan saja dia gagal merampas keris itu, bahkan sebagian dari kain yang dikenakannya menjadi sobek karena tusukan keris itu, bahkan sebagian dari kain yang dikenakannya menjadi sobek karena tusukan keris itu. Dengan membawa kemarahan yang berkecamuk dalam dadanya ia berlari meninggalkan rumah Empu Krepa.

Rumah Empu Krepa adalah dikaki gunung Kawi sebelah Selatan sedangkan rumah kediaman Kyai Candra Ketu dilereng gunung Kawi bagian Utara.

Semenjak perkawinannya dengan Warsi maka Waja Cempani berdiam dirumah kediaman Kyai Candra Ketu. Semenjak itulah ia hidup bersama dengan Warsi. Semenjak itulah pula ia melatih ilmu kekebalan yang diidam-idamkannya, ilmu kekebalan ajaran Kyai Candra Ketu. Ilmu itulah yang sangat diingininya semendjak ia mulai belajar pencak dan silat. Segala macam jalan ditempuhnya untuk memperoleh ilmu itu.

Dahulu ketika ia memohon pada Kyai Candra Ketu untuk mengajarinya ilmu kekebalan. Kyai itu menyanggupinya asalkan ia mau diambil menantu. Syarat itu diterimanya.

Kiranya sjarat itu tidak seringan dugaan Waja Cempani semula.

Oleh karena perkawinannya dengan Warsi maka ia terpaksa bertentangan dengan saudara2 seperguruannya yaitu Anggara dan Empu Krepa. Karena semenjak saat itulah mereka tidak mau menjumpainya.

Sejak kedua orang kakaknya meninggalkan dirinya setiap kali Waja Cempani bertanya dalam hatinya. Mengapa kedua orang kakaknya demikian benci pada mertuanya?

„Waja Cempani. Sadarlah adikku. Kamu telah keliru memilih isteri.

Wanita itu tak sepadan bersuamikan engkau. Dia adalah wanita setan seperti juga ayahnya”. Demikian Krepa berkata dulu. Kata2 itu selalu terngiang-ngiang ditelinganya. Betulkah perkataan kakaknya itu. Telah lebih dari dua puluh tahun ia hidup bersama Warsi, tetapi tidak pernah dia mendapatkan suatu bukti yang menguatkan perkataan kakaknya itu Selama itu Warsi menunjukkan sikap yang baik kepadanya Dan iapun mencintai Warsi sepenuh hati.

Tidak ada tanda2 bahwa Warsi berlaku serong. Tidak!

Warsi adalah seorang isteri yang setia. Tak mungkin ia mau melakukan perbuatan yang rendah itu. Dan bagaimana halnya dengan Kyai Candra Ketu. Betulkah ia manusia setan seperti yang disangkakan kakaknya. Dalam hal inipun ia tidak pernah mendapat bukti.

Tetapi kalau pendapat kakak2nya itu tiada beralasan mengapa mereka sampai hati meninggalkannya. Ia tidak pernah mendengar kakaknya berdusta. Ataukah tnereka mendapat hasutan dari orang yang membenci mertuanya, Kemungkinan inilah yang menghibur hatinya.

Walau bagaimanapun dimata Waja Cempani Warsi adalah seorang isteri yang setia dan Kyai Candra Ketu adalah seorang mertua yang ramah tamah dan pemurah.

Disaat ini hatinya sedang tiada keruan rasanya. Ia sedang merasakan bahwa jerih payahnya selama bertahun-tahun menjadi tiada berarti. Ia dapat dikalahkan oleh seorang pemuda yang baru berumur dua puluh tahun. Hatinya merasa pedih dan marah. Ia merasa heran melihat kemajuan Jaka Prasetya yang demikian pesat. Dalam waktu yang kurang dari setengah tahun sudah sedemikian kemajuannya. Dulu ketika bertemu untuk pertama kali dengan mudah Jaka Prasetya dapat dikalahkannya. Tetapi kini berbalik dialah yang dengan mudah dapat dikalahkan oleh Jaka Prasetya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa sebab utama dari kekalahannya adalah sikap terlalu memandang rendah pada Jaka Prasetya.

Dengan membawa kemarahan yang berkobar-kobar ia berlari menuju kerumah tinggalnya. Ia berlari terus. Terus. Akhirnya sampailah ia kerumahnya.

Ketika itu dijumpainya rumah tinggalnya dalam kesunyiann yang mencekam. Memang pada bulan-bulan yang akhir-akhir ini Kyai Candra Ketu sering meninggalkan rumah dan beberapa hari yang lalu Kyai Candra Ketu pulang sebentar dan kemudian pergi lagi dengan mengajak dua orang muridnya Tuluh Braja dan Candra Mawa.

Ketika Waja Cempani memauki rumah ia merasakan sesuatu yang aneh. Entah kenapa hatinya tiba-tiba berdebar-debar. Dan kesunyian yang mecekam dirumahnya itu menambah kegelisahannya. Apakah gerangan sebabnya? Ia merasa heran karena selamanya belum pernah mengalami perasaan yang demikian itu.

Dimanakah Warsi, isterinya? Ketika ia akan memanggilnya untuk membuka pintu tiba-tiba ia mendengar suara orang berbicara dari arah kamarnya.

Bukan. Bukan orang yang berbicara yang didengarnya. Melainkan orang yang berbisik-bisik. Telinga Waja Cempani cukup terlatih sehingga suara yang bagaimana halusnya dapat didengar.

Dengan perlahan-lahan dan hati-hati ia berjalan mendekati kamarnya. Ketika ia sampai didekat kamarnya suara yang didengarnya tadi semakin jelas. Dan …… apa yang didengarnya membangkitkan kembali kemarahannya yang sebetulnya sudah hampir reda. Mula-mula ia tidak percaya akan apa yang didengarnya, tetapi ketika telinganya dirapatkan kedinding dan mendengar lebih jelas lagi ia menjadi percaya. Tetapi inipun belum memuaskan hatinya. Ia mengintai dari celah-ceelah dinding. Dan ….. kini ia betul-betul marah. Apa yang dilihat Waja Cempani dari celah-celah dinding itu? Mengapa ia menjadi marah?

Apa yang dilihatnya tak pantas diceritakan disini. Waja Cempani betul-betul tak dapat menahan kemarahannya. Dengan sekuat tenaga dihantamnya jendela kamarnya. Sesaat kemudian terdengar suara yang menggeledek. Seakan lakan hendak robohlah rumah itu dibuatnya.

„Warsi! Sudah berapa kalikah perbuatan laknat ini kamu lakukan?"

Saat itu juga dari didalam kamar Waja Cempani bangkitlah dua tubuh manusia dengan pakaian yang tidak teratur. Dua tubuh yang berlainan jenis. Seorang wanita dan seorang laki-laki.

Kini jelaslah bagi kita apa ang telah terjadi. Warsi telah tertangkap basah oleh Waja Cempani, suaminya ketika sedang berbuat serong dengan laki-laki lain.

„Suradental Kiranya wajahmu yang tampan itu hanya untuk menyelimuti jiwa anjingmu''. Demikian bentak Waja Cempani kepada orang laki-laki itu yang ternyata adalah Suradenta murid termuda Kyai Candra Ketu.

Disaat itu kembali mendengung ditelinganya suaranya. Wanita setan ….. wanita setan …. Wanita … sekakaknya.

….. Dia adalah wanita setan seperti juga ayahnya. Disiram minyak kemarahan Waja Cempani semakin orang yang dcarinya itu bersembunyi disalah sebuah hentinya bagaikan mengejeknya. Seumpama api yang menghebat. Kini wanita yang sedang berdiri dimukanya itu menjelma menjadi seseorang yang belum dikenalnya. Dengan sinar mata yang menyala-nyala dipandangnya Warsi. Ketakutan yang amat sangat membayang dimata Warsi. Ia segera berjongkok didepan suaminya.

„Kak Waja Cempani ampunilah aku kak. Ampunilah isterimu sekali ini. Tetapi andaikan Warsi memohon maaf seribu kali pada Waja Cempani tidak mungkin ia memperolehnya.

Dengan berteriak tajam Waja Cempani menendang tubuh Warsi yang sedang berjongkok dihadapannya. Terdengar jerit yang mengerikan dan …….. brak ….. dinding papan yang memisahkan ruang itu dengan ruang lain, berantakan diterjang oleh tubuh Warsi yang melayang oleh tendangan Waja Cempani.

Sesudah membereskan isterinya yang menyeleweng itu Waja Cempani menoleh kearah Suradenta. Dilihatnya Suradenta sedang berlari kearah pintu.

„Suradenta! Berhenti!" Bentak Waja Cempani. Suaranya tajam dan berpengaruh. Sungguh aneh. Ketika mendengar bentakan itu Suradenta berhenti berlari. Hanya sesaat ia berhenti, tetapi saat itu merupakan saat yang menentukan.

Dengan geraman yang mengerikan Waja Cempani meloncat kearah Suradenta berdiri. Sebuah pukulan yang bagaikan geledek dihantamkan kepunggung Suradenta. Pukulan itu dilancarkan dengan tenaga penuh dan …. duk ….. pukulan itu tepat mengenai sasarannya dan …. duk ….. sekali lagi sebuah pukulan tepat didagu Suradenta. Kedua pukulan itu dibarengi oleh jerit tertahan. Tetapi hanya jeritan tertahan itu.

Sesudahnya kamar itu sunyi.

Warsi dan Suradenta telah pergi meninggalkan dunia yang fana ini.

Warsi dan Suradenta telah pergi sama-sama kealam baka untuk memperhitungkan segala dosa yang telah diperbuatnya didunia. Tak berapa lama terdengar helaan nafas yang panjang dari kamar itu. Tak berapa lama terdengar seruan yang bernada pilu:

„Kak Anggara! Kak Krepa! Aku akan kemball padamu!"

Sehabis itu terlihat sebuah bayangan meloncat keluar jendela. Kini Cempani telah memperoleh bukti yang dicarinya. Kini Waja Cempani telah menyadari bahwa kata-kata kakak2nya betul belaka.

Demikian kakinya menginjak tanah ia terus berlari, berlari , berlari meninggalkan rumah terkutuk itu, berlari meninggalkan segala-galanya yang ada dirumah itu. Tempat yang ditujunya adalah rumah Empu Krepa.

Belum berapa lama ia berlari dari muka terlihat seseorang berlari mendatanginya. Ketika diperhatikan ternyata adalah Panji Jatmika.

„Bapa guru! Hendak kemanakah, bapa".

Waja Cempani tidak mnenyaut melainkan terus berlari. Panji Jatmika merasa heran melihat tingkah gurunya yang aneh itu. Kenapakah tengah malam begini sang guru berlari-lari bagaikan orang gila.

Namun Waja Cempani tidak memperhatikan apa yang sedang dipikirkan oleh sang murid. Ia terus berlari, secepat angin. Sedangkan Panji Jatmika terus mengekor dibelakang. Tak berapa lama kemudian Panji Jarmika mulai dapat menduga arah yang dituju oleh gurunya.

Kiranya sang guru menuju ketemat kediaman Empu Krepa. Ia merasa girang. Dikirannya gurunya akan melabrak Empu Krepa. Tak disangkanya sama sekali bahwa dugaannya itu meleset. Ketika ia sedang berfikir itu gurunya telah berlari jauh meninggalkannya.

Alangkah terkejutnya Waja Cempani ketika ia sampai dirumah Empu Krepa. Yang dijumpai olehnya hanya puing-puing dari rumah yang habis terbakar. Apakah gerangan yang telah terjadi? Waja Cempani segera memeriksa keadaan dipekarangan itu. Namun ia tidak mendapatkan apa yang dicarinya. Pekarangan rumah Empu Krepa terpendam dalam kesunyian. Kemanakah gerangan kak Krepa? Demikian katanya dalam hati. Maka pergilah Waja Cempani menanyakan pada seorang penduduk yang berumah didekat situ. Penduduk yang ditanya lantas menceriterakan apa yang telah terjadi. Tetapi ketika ditanya kemanakah Empu Krepa pergi orang itu tidak dapat menjawab. Diantara mayat-mayat yang bergelimpaingan disitu, tidak terdapat mayat Empu Krepa beserta keluarganya.

Dengan lesu Waja Cempani segera berbalik kembali kerumahnya. Ia bermaksud untuk mengambil si putih kuda kesayangannya. Ia bertekad untuk mencari kakak-kakaknya bersama dengan kuda putih itu. Ketika ia sedang berlari menuju rumahnya sekali lagi dijumpainya muridnya.

Melihat gurunya berlari kembali ia merasa heran. Tentu saja ia segera memutar tubuh untuk berlari mengikuti gurunya dengan penuh tanda tanya. Tetapi baru saja ia melangkahkan kakinya terdengar sang guru berteriak:

„Panji Jatmika! Mulai sekarang kamu bukan muridku lagi. Aku jijik melihat wajahmu. Lekas pergi''. Mendengar bentakan itu tidak beranilah Panji Jatmika membantah. Ia segera pergi meninggalkan gurunya dengan dendam berkobar-kobar. Ia sama sekali tidak insyaf terhadap kesalahannya.

Kini kita ikuti perjalanan Empu Krepa dalam usahanya untuk membebaskan diri.

Mereka terus melarikan kudanya dengan pesat. Setelah melewati lima buah desa mereka segera berhenti untuk beristirahat. Kebetulan didesa yang terakhir ini Empu Krepa mempunyai sahabat yang karib sehingga mereka dapat mengaso dirrumah sahabat itu. Setelah dirasanya cukup lama beristirahat maka Empu Krepa dengan ketiga orang putranya beserta Jaka Prasetya. Suta dan Naya segera melanjutkan perjalanan.

Selama beristirahat itu Empu Krepa tampak membisu.

Mereka kembali memacu kuda mereka supaya berlari lebih cepat. Dalam saat yang seperti itu Jaka Prasetya teringat akan kuda putihnya yang telah direbut oleh pamannya karena kesalah fahaman. Kalau kuda2 yang mereka pergunakan itu seperti kuda putihnya alangkah mudahnya menghindarkan diri dari kejaran musuh.

Mereka terus terus melanjutkan perjalanan menempuh sepanjang malam.  

Ketika ayam jantan terdengar berkokok disebuah desa yang dilalui tiba-tiba Bambang Sutejo yang berada dibarisan yang paling belakang berteriak: „Celaka! Orang Belambangan itu ternyata dapat mengejar kita …..” Jaka Prasetya dan yang lain-lain segera menoleh ke belakang.

Pada waktu itu fajar mulai menyingsing. Cahaya kemerah-merahan terlihat disebelah timur. Dengan samar-samar terlihat oleh Jaka Prasetya, bahwa dibelakang mereka terlihat beberapa penunggang kuda. Betulkah mereka itu Prajurit Belambangan?

Tiba-tiba terdengar suara yang melengking tajam menusuk-nusuk telinga.

„Empu Krepa. Lekas kembali".

Mendengar suara itu Empu Krepa segera berseru:

„Lekas pacu kuda. Mereka betul-betui prajurit2 Belambangan".

„Paman", terdengar Jaka berkata. „Mengapa tidak kita lawan saja mereka. Dengan mendengarkan, bunyi telapak kuda mereka dapat saya pastikan bahwa jumlah mereka tidak lebih dari sepuluh orang".

„Jaka. Jumlah mereka tidak seberapa tetapi tidakkah kamu dengar suara yang melengking tajam itu. Dia adalah Raden Cinde Seta.

Kesaktiannya tidak boleh diremehkan".

„Raden Cinde Seta???"

Pada waktu itu Empu Krepa terus-menerus mencambuk kudanya. Kuda itu berlari dengan pesat diikuti oleh ketiga orang anaknya beserta Jaka Prasetya, Suta dan Naya.

Mereka terus melarikan kudanya. Namun kuda-kuda mereka sudah mulai payah. Kuda-kuda itu tidak sekuat yang dipergunakan prajurit Belambangan. Jarak antara mereka dengan prajurit2 Belambangan bukannya semakin jauh, tetapi bahkan semakin dekat.

Tiba-tiba terdengar teriakan mengaduh dari belakang Jaka Prasetya segera menoleh kebelakang. Apa yang dilihatnya? Jaka Prasetya melihat Suta menebah dadanya. Sebuah anak panah menancap didadanya.

Apa yang sebetulnya telah terjadi? Suta dan Naya yang melihat bahwa jarak orang2 Belambangan itu dengan mereka semakin dekat bersepakat untuk menahan gerakan musuh itu. Mereka segera menyiapkan busumya beserta anak panahnya. Kuda mereka segera dipacu berbalik. Jarak antara Suta dan Naya dengan orang2 Belambangan itu semakin dekat. Suta dan Naya segera memencang busur. Dua batang anak panah se gera meluncur. Dan ……. terdengar pekikan tadi. Tetapi pekikan itu datangnya justru datangnya dari Suta. Kenapa? Anak panah yang meluncur kearah orang2 Belambangan itu dapat disambar oleh Raden Cinde Seta dan tanpa menggunakan busur anak panah itu dilempar kembali kearah sipemanah. Meskipun demikian anak panah itu meluncur dengan pesatnya. Sebelum Suta dan Naya menyadari hal itu anak panah tadi telah datang. Untung bagi Naya Dia sempat menghindar. Tetapi Suta yang belum sembuh dari lukanya agak lambat dan ….. anak panah itu menancap didadanya. Seketika itu Suta menebah dadanya dan jatuhlah ia dari kudanya. Ketika Jaka menoleh pemandangan itulah yang dilihatnya.

Jaka Prasetya segera menarik les kudanya dan memutar kuda itu kembali. Dan kemudian melarikannya kearah Suta dan Naya berada.

Ketika melihat Suta jatuh dari kudanya Nayapun segera datang mendekat. Naya segera meloncat dari kuda untuk menolong temannya. Pada saat itulah prajurit jaraknya. Naya terancam keselamatannya.

Sampai di-Belambangan yang datang mengejar semakin dekat dekat Naya terdengar Raden Cinde Seta berseru:

„Tangkap orang itu!"

Dua orang prajurit Belambangan meloncat turun dari kuda. Disaat itulah Jaka datang. Cambuknya se-

Tetapi tiba-tiba tangan yang memegang cambuk itu bergetar.

Cambuk yang dipegang oleh Jaka Prasetya hampir terlepas dari pegangan. Apa yang telah terjadi?

Raden Cinde Seta melihat dua orang prajuritnya terancam oleh cambuk Jaka Prasetya. Dengan sepenuh tenaga ia segera mencentikkan dua buah jarinya. Jentikan itu tepat pada sasarannya. Itulah yang menyebabkan tangan Jaka Prasetya tergetar.

Jaka Prasetya segera mengalihkan serangannya kearah Raden Cinde Seta.

„Jaka!“ Terdengar seruan. „Dia bukan tandinganmu. Mundurlah”.

Seruan itu adalah seruan Empu Krepa yang telah menyusul.

„Empu Krepa! Memang kamulah yang kucari!” kata Raden Cinde Seta sambil menahan serangan cambuk Jaka Prasetya. Sekali lagi tangan Jaka Prasetya bergetar. Maka tahulah ia bahwa kata2 Empu Krepa tadi benar adanya. Maka mundurlah ia untuk memberi kesempatan pada Empu Krepa.

Disaat itu terdengar Dewi berteriak :

„Kak Jaka! Lekas tolonglah Naya!” Jaka Prasetya segera menoleh kearah yang ditundjuk oleh Dewi. Naya telah diikat prajurit Belambangan tadi.

„Santa Jaya! Tangkap dua orang pemuda itu!" terdengar perintah Raden Cinde Seta pada Santa Jaya. Jaka Prasetya tahu, bahwa yang dimaksud dengan dua orang pemuda itu adalah dia dan Bambang Suteja. Betul juga dugaannya. Santa Jaya dengan prajurit2 Belambangan itu menyerbu kearah mereka. Andaikata Jaka Prasetya dan Bambang Suteja tidak melindungi Dewi dan Candra maka serbuan dari beberapa prajurit Belambangan itu bukan merupakan masalah yang penting bagi mereka. Namun demikian Jaka Prasetya tetap tabah. Ia segera bertindak.

Dilarikannya kudanya kedekat Bambang Suteja.

„Bambang! Lindungilah saudara2mu! Biar kulawan mereka!”. Tanpa menanti jawaban Bambang Suteja dia segera meloncat dari kudanya. Dan diturunkannya dari punggung kuda. Kemudian dengan cambuk ditangannya ia menghadang Santa Jaya yang datang menyerang dengan anak buahnya. Sesaat kemudian terjadilah pertempuran yang dahsyat. Jaka Prasetya dengan kecepatan yang sukar dilukiskan menggerak- gerakkan cambuknya. Setiap prajurit yang dekat dipukul dengan cambuknya.

Sementara itu pertempuran antara Raden Cinde Seta dengan Empu Krepa juga berlangsung dengan hebat.

Mereka beldua menggunakan tangan kosong. Mula-mula mereka saling serang menyerang dipunggung kuda. Tetapi oleh karena merasa kurang bebas kemudian turun dari kuda dan melanjutkan pertempuran itu diatas tanah. Pertempuran semakin menghebat. Dengan segala kesaktian yang ada pada mereka, mereka berjuang untuk merebut kemenangan. Tetapi lama kelamaan serangan Raden Cinde Seta semakin hebat. Tiba2 Raden Cinde Seta membentak:

„Butalah kamu!"

Apa yang terjadi kemudian? Tangan Raden Cinde Seta yang ditamparkan kemuka Empu Krepa mengeluarkan asap yang berwarna ungu dan …… asap itu mengenai mata Empu Krepa. Terdengar suara keluhan Empu Krepa. Saat itu Empu Krepa merasakan kepedihan yang amat sangat pada matanya. Disaat itu Raden Cinde Seta melancarkan pukulan dengan sepenuh tenaga.

„Kak Bambang. Lekas tolong ayah". Terdengar Dewi berteriak pada kakaknya. Padahal jarak antara mereka dengan ayah mereka cukup jauh. Disaat yang genting itu tiba-tiba sesosok bayangan yang bergerak luar biasa cepatnya menerjang kearah Raden Cinde Seta. Pukulan yang dilancarkan oleh Raden Seta ditahan oleh bayangan itu. Dan Raden Seta merasakan tangannya seolah-olah lumpuh. Kemudian sebuah dorongan pada dadanya membuatnya terhuyung-huyung.

„Raden Cinde Seta, kalau kamu akan menuntut balas pada pembunuh ayahmu selidikilah dahulu masa lampau ayahmu. Adakah perbuatan2 yang dilakukan ayahmu dimasa lampau pantas kamu bela". Terdengar suara yang halus tetapi berpengaruh.

„Paman Samun. Adakah kamu yang datang?" teriak Empu Krepa.

Kala itu matahari menjelang terbit. Keadaan disekitar tempat itu sudah mulai terang.

„Kak Bambang. Lihatlah Kakek Samun yang datang”. Terdengar Dewi berseru.

Adapun Raden Cinde Seta menyadari, bahwa kakek yang dihadapinya itu bukan lawannya. Pada pikirnya jika melawan percuma. Maka segera ia berseru :

„Santa Jaya! Berhentilah bertempur! Musuh bukan lawan kita”. Santa Jaya beserta anak buahnya mematuhi perintah itu dan segera mengundurkan diri. Kemudian Cinde Seta berkata:

„Baiklah Empu Krepa. Akan kuselidiki dahulu tentang kematian ayahku. Adakah ayahku yang bersalah ataukah kamu. Lain kali kita bertemu kembali".

Sehabis demikian ia segera meloncat kepunggung kuda dan diikuti oleh Santa Jaya beserta anak buahnya. Naya yang dalam keadaan terikat juga mereka tinggalkan. Sepeninggal pradiurit2 Belambangn itu maka Jaka Prasetya segera menghampiri Empu Krepa. Ia merasa heran melihat kehadiran orang yang pernah menolongnya. Saat itu dilihatnya pak Samun sedang sibuk merawat Empu Krepa.

„Paman Samun. Apa yang terjadi atas diri paman Krepa?” Ki Samun menoleh pada Jaka Prasetya sambil berkata :

„Nak Jaka, pamanmu Krepa telah dilukai matanya oleh Raden Cinde Seta. Luka itu akan membawa akibat yang tidak baik bagi mata pamanmu. Tetap, kamu tidak usah khawatir. Karena beruntung bahwa aku datang tepat pada waktunya". Ki Samun berhenti sejenak „Bila aku tidak melihat pukulan jaing dilancarkan oleh pemuda Belambangan itu tak akan dapat aku menyembuhkannya”.

Memang ki Samun, orang yang baru datang itu mempunyai hubungan keluarga yang erat dengan Empu Krepa. Dia adalah adik dari mertua Empu Krepa, yaitu Resi Mandraguna. Dismping pengetahuan yang luas dalam dunia ketabihan ternyata dia memiliki tenaga batin yang sudah sampai dipuncaknya. sehingga Raden Cinde Seta dapat diusir dengan mudah.

Jaka Prasetya sangat girang mendapat jawaban yang menyenangkan itu. Kemudian dia mendekati Naya untuk menolongnya dan ….. dilihatnya Suta yang terlentang ditengah jalan dengan anak panah menancap didadanya. Jaka segera mendekati Suta. Diperiksanya tubuh yang malang itu. Maka mengeluhlah ia.

„Bagaimana raden? Dapatlah ia ditolong". Terdengar Naya berkata dalam keadaan masih terikat. Jaka mendekati Naya untuk membuka ikatannya.

„Sudahlah, Naya. Relakan dia. Dia telah pergi.” Mendengar jawaban itu Naya menggigit bibir untuk menahan keluarnya air mata.

Sementara itu Ki Samun sibuk menolong Empu Krepa. Candra dengan saudara2nya memperhatikan dengan penuh rasa khawatir. Oleh karena luka yang dideritanya itu maka mata Empu Krepa terpaksa dibebat. Menurut nasehat Ki Samun bebat itu baru boleh dibuka selang dua hari.

Sehabis memberikan pertolongan berkatalah Ki Samun pada Empu Krepa:

„Krepa! Lekas pergi kedesa Butuh! Kakakmu Anggara yang menyembunyikan diri disitu kini sedang terancam bahaya”.

Jaka Prasetya agak terkejut mendengar berita itu.

„Bahaya apakah gerangan yang mengancam diri ayah?”

„Nak Jaka! Jadi Anggara ayahmu”.

„Betul paman. Didesa Butuh ia dikenal dengan nama Ki Rangga.

Dahulu ketika paman menanyakan tentang diri ayah saya belum mengetahui bahwa Anggara adalah sama dengan Ki Rangga itu …. bahaya apakah yang mengancam ayah''. „Jaka”. Demikian Empu Krepa berkata. „Sebetulnya aku sudah tahu bahaya apakah yang dimaksud oleh paman Samun. Tetapi jangan mengkhawatirkan hal itu. Pada saat ini Kyai Candra Ketu dengan dua orang muridnya datang kedesa Butuh. Dia akan mengatur siasat untuk merobohkan kak Anggara. Telah lama kak Anggara dicari oleh Kyai Candra Ketu. Tetapi seperti tadi telah kukatakan tak usah khawatir, karena gerak-geriknya Kyai Candra Ketu telah dibayangi oleh seorang berilmu. Kepandaian orang itu cukup untuk menghadapi Kyai Candra Ketu beserta murid2nya".

„Siapakah orang itu, paman?"

„Nanti kamu akan mengetahui sendiri. Sabarlah''.

„Dan sekarang marilah kita segera meninggalkan tempat ini. Paman Samun adakah paman juga bermaksud kedesa Butuh?''

„Tentu! Tetapi sayang saya tak dapat pergi bersama dengan kalian Saya masih mempunyai sedikit urusan. Pergilah dulu. Saya akan segera menyusul setelah menyelesaikan urusan saya'', jawab Ki Samun.

Saat-saat berikutnya merupakan saat-saat prihatin yaitu ketika Ki Samun memimpin upacara penguburan jenazah Suta yang telah membela Empu Krepa tanpa menghiraukan keselamatan dirinya. Candra dan Dewi menangis terisak-isak. Hubungan mereka dengan Suta sangat akrabnya. Kini orang itu meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Pengawal yang setia itu dikubur disebuah belukar ditepi sebuah jalan. Kuburannya sangat sederhana. Setelah tanda sekedarnya pada kuburan itu mereka segera melanjutkan perjalanan.

Kali ini Empu Krepa berkuda disamping Naya. Dan Jaka Prasetva serta Bambang Suteja berkuda bersama dengan Dewi dan Candra seperti semula. Sedang kuda si Suta diserahkan pada Ki Samun.

Jaka Prasetya melakukan perjalanan ini dengan peruh kekhawatiran terhadap keselamatan ayahnya. Sesekali ia ingat akan si Putih kuda kesayangannya. Kalau kuda itu masih ada padanya maka dapatlah ia mempercepat perjalanannya. Tetapi walaupun demikian berkuda bersama Dewi kekhawatirannya banyak berkurang.

Desa Butuh ……

Keadaan rumah Ki Rangga tetap seperti dahulu. Tak ada suatu perubahanpun dirumah itu. Wajah Penghuni penghuninyapun tetap tanpa suatu perubahan. Wajah-wajah yang masam tanpa senyum tetap menghiasi rumah itu.

Sejak Jaka Prasetya pergi meninggalkan desa Butuh, maka sikap Ki Rangga bertambah aneh. Ia jarang keluar rumah. Tetangga-tetangga disekelilingnya semakin heran.

Apa sebetulnya dikerjakan Ki Rangga? Semenjak Jaka Prasetya pergi pekerjaan Ki Rangga hanyalah bersemedi dan berlatih mempermainkan ilmu keris. Diwaktu pagi hingga sore hari ia bersemedi untuk mempertinggi tenaga batinnya. Sedangkan diwaktu malam ia giat menyempurnakan ilmu keris yang diciptakannya. Begitulah yang dikerjakan setiap hari. Ia merasa seperti kekuatan gaib yang mendorongnya untuk melakukan semua hal itu. Dalam hatinya seperti ada yang membisikkan bahwa jerih payahnya itu akan berguna.

Dengan tanpa disadari dua bulan telah berlalu.

Malam ini bulan sabit menghias angkasa. Keadaan desa Butuh sunyi senyap. Tanpa memperhatikan keadaan sekelilingnya. Tiada satupun yang dilihatnya.

Ia meneruskan latihannya.

Sekonyong-konyong didaun telinganya bergetar suatu suara yang memanggil-manggilnya.

„Anggara ….. Anggara …… Anggara ”

Alangkah terkejutnya Ki Rangga. Pertama ia dipanggil dengan nama Anggara. Kedua suara panggilan itu sangat halus tetapi sangat aneh bunyinya. Suara itu seakan-akan mengandung kekuatan gaib dan bergetar lama didaun telinganya. Diperhatikannya arah datang suara itu.

„Anggara ….. Anggara ….. Anggara ……”

Sungguh aneh. Setiap panggilan itu datang dari tempatnya. Tetapi sesudah ia tidak mendengar lagi suara panggilan itu. Ia meneruskan latihan dengan hati yang tidak tenang.

Sesudah malam itu setiap malam ia selalu mendapat ganggguan dari suara aneh itu. Suara yang menganggu latihannya. Suara yang selalu mengganggu ketenangan jiwanya. Karena kini ia mulai mengenal siapa gerangan orang yang telah mengganggunya.

Pada suatu hari ketika ia sedang bersemedi tiba-tiba, ia mendengar suara memanggil-manggilnya, Ia terkejut. Ketika ia membukakan matanya ternyata Nyi Rangga yang berdiri dihadapannya.

„Kak Anggara ”

„Ada apa …… Nyi ”

Nyi Rangga tidak menjawab melainkan menangis terisak-isak. Ki Rangga terkejut bercampur heran.

„Apa gerangan yang telah terjadi. Jawablah yang jelas. Bila kamu tidak berkata dengan jelas bagaimana aku dapat mengetahui kesukaranmu”.

Dengan menahan tangisnya Nyi Rangga mulai ber-kisah:

„Tadi ketika aku sedang mencuci ditepi sungai aku seperti mendengar suara orang memanggilku. Ketika kutoleh tak ada seorangpun yang berada disekitar tempat itu. Padahal arah datangnya suara itu sangat dekat, tetapi kak, yang kutakutkan bukan itu.” Nyi Rangga behenti berkata sambil menangis terisak-isak. Kemudian sambungnya :

„Suara panggilan itu memanggilku …. dengan nama kecilku …. Aku takut kak …. Aku takut…..Ketakutanku menjadi-jadi ketika aku kembali dari sungai dalam perjalanan kerumah. Ah kak …. tak dapat aku menceriterakannya ” „Kuatkan hatimu. Ceriterakan, apa yang telah terjadi''. Desak Ki Rangga.

„Kak ….. Apa yanq kulihat disepanjang jalan …. Menjadikan diriku merana. Setiap….. setiap orang …. Yang kujumpai dijalan ….. memandangku dengan aneh …. dan ….. tanpa menyapaku …. mereka meludah dihadapanku……”

Nyi Rangga berhenti sebentar untuk menyaksikan reaksi Ki Rangga.

Ki Rangga tampak mengerutkan dahinya mendengar laporan isterinya.

„Kak …. Aku takut kak ….. Jangan-jangan rahasia kita sudah ketahuan oleh mereka…… Dan aku semakin takut …… mereka salah faham …….

Kalau mereka menyangka yang tidak tidak tentang diri kita berdua …..” Mendengar semua kata-kata Nyi Rangga maka tertegunlah Ki

Rangga. Pada saat itu terbayanglah diruang matanya semua pengalamannya dimasa lampau. Pengalaman yang pahit. Pengalaman yang getir. Pengalaman yang digenangi oleh tetesan air mata. Tiba-tiba ia ter-ingat sesuatu.

„Lastri …….”. Tanpa disadarinya ia berseru. Berseru dengan menyebut nama kecil Nyi Rangga.

„Kenapa kak …..

„Aku tahu siapa yang telah menggodamu dengan panggilan itu. Dan ketahuilah bahwa suara memanggil-manggil itu juga telah menggangguku selama beberapa malam

„Jadi kakak juga mengalami hal seperti itu …. dan siapa orang itu menurut dugaan kakak?"

„Nanti akan kau ketahui duga hal ini. Dan sekarang tenangkanlah hatimu". Demikian kata Ki Rangga. Nyi Rangga tidak mendesak.

Keduanya terbungkam dalam kesunyian. Dalam saat yang seperti itu, tiba-tiba Sari masuk dalam ruangan itu. Kedua orang tuanya menoleh mtenghadapi sang anak. Demikian pandangan mereka bertemu dengan pandangan mata Sari terkejutlah mereka. Muka Sari merah padam. Tiba- tiba menghamburlah Sari kedalam pelukan ibunya.

„Ibu …… Ayah….. Berterus teranglah padaku. Katakan padaku.

Apakah yang sebetulnya telah terjadi. Apa sebabnya mereka memandangku seperti itu. Dosa apa yang kita tanggung terhadap mereka. Ayah …… ibu ….. Saya tidak tahan terhadap hinaan

„Sari … Anakku …. Tenanglah nak. Ceritakanlah apa yang baru kau alami”.

Setelah meredakan tangisnya berceriteralah Sari. Ternyata pengalamannya sama dengan pengalaman ibunya. Ketika ia sedang berada ditengah ladang tiba-tiba ia mendengar suara memanggil-manggil namanya „Sari……. Sari ….. Sari ……” Ketika ia menoleh kekiri dan kekanan tak dilihatnya seorangpun yang berada disitu. Ia segera melanjutkan pekerjaaanya, Tiba-tiba ia mendengar suara panggilan. Panggilan itu sangat menyakitkan hatinya.

„Sari anak haram ...... Sari anak haram ……” Ia menoleh dan melihat kekiri dan kekanan dan sekali lagi ia tidak mendapatkan seorangpun berada disekitar itu. Ia segera mengelilingi ladanginya. Tetapi tak seorangpun dijumpainya. Ia mulai takut. Ini diluar kebiasaannya.

Biasanya ia tidak mudah takut. Namun kali ini ia merasakan ketakutan itu.

„Sari anak haram ….. Sari anak haram …..”

Sekali lagi ia mendengar suara itu. Dengan menggigit bibir ia menuju kearah datangnya suara tadi tetapi sekali lagi ia mendapatkan tempat kosong. Tak ada seorangpun diketemukan disitu. Dengan setengah berlari ia segera pulang dan …. ditengah perjalanan itullah ia menjumpai sesuatu yang lebih menyebabkan-nya merana. Ditengah perjalanan ke rumah, setiap orang yang didjumpainya memandang dengan sinar mata yang aneh. Ada yang meludah dan ada yang membicarakannya dengan tertawa-tawa. Dengan mengeraskan hati ia terus berjalan kerumah.

Itulah yang dialami Sari. Mendengarkan cerita anaknya sang ibu tak dapat nenahan tangisnya.

„Ibu ……Ayah ….. Betulkah aku ….. anak ….. seperti yang telah disebutkan oleh suara yang kudengar itu …….”

„Sari!” Tiba-tiha Ki Rangga berseru. Suaranya bercampur kepiluan hati. „Dengarlah. Sekali-kali jangan percayai hal itu. Semua itu hanya fitnahan belaka. Nah sekarang tenangkan hatimu, Sari".

Sari merasa berkurang kesedihannya mendengar kata-kata ayahnya. Tangisnya menjadi agak reda. Nasib apa yang telah menimpa keluarga itu? Apa yang sebetulnya telah terjadi?

Malam itu ketika kesunyian merejainya terlihat seseorang dengan langkah yang gesit keluar dari pekarangan Ki Rangga. Orang itu tak lain dari pada Ki Rangga yang bertekad bulat untuk mencari orang yang telah mengganggu ketenteraman rumah tangganya. Ia bermaksud mencari keseluruh pelosok desa itu. Ia yakin bahwa orang yang dicarinya itu bersembunyi disalahsebuah rumah penduduk.

Setiap rumah didatanginya tanpa sepengetahuan penghuninya, Tetapi orang yang dimaksud tak dijumpainya. Tiba-tiba ia berhenti berjalan. Ia mendengar suara memanggil-manggilnya.

„Anggara …. Anggara …. Anggara …..”

Pada hari-hari yang belakangan ini ia telah memperhatikan dan mempelajari sifat-sifat dari ilmu mengirim getaran dari orang yang memanggil-manggilnya itu. Maka pada waktu ia mendengar suara panggilan itu ia dapat mengira-kira dimana lawannya berada. Secepat kilat ia berlari kearah datangnya suara itu.

Tiba-tiba ia mendengar suara orang mencaci maki. Suara itu datangnya dari tanah lapang yang sering digunakan untuk mengembala ternak pada siang harinya.

„Setan alas! Berani benar kamu menggangguku!"

Ki Rangga segera mempercepat langkahnya menuju ketempat datangnya suara itu. Apa yang dijumpainya? Ditanah lapang itu dijumpainya dua orang yang sedang bertempur dengan hebatnya. Ki Rangga segera mendekati dua orang itu. Mereka bertempur dengan tangan kosong. Seorang dari padanya adalah seorang yang sudah agak lanjut usianya. Dari cahaya bulan yang remang-remang terlihat betapa rambut orang itu telah mulai memutih. Ki Rangga memandang orang itu dengan beringas. Kenapa? Orang itu adalah orang yang paling dibencinya. Orang itu adalah orang yang pernah merusakkan kebahagiaan hidupnya. Orang itu adalah orang yang disangkanya telah mengganggunya pada akhir-aihir ini. Dia tak lain dan tak bukan adalah Kyai Candra Ketu. Tetapi siapakah orang yang bertempur dengan Kyai Candra Ketu itu? Orang itu mengenakan pakaian yang serba hitam.

Rambutnya dibiarkan tidak terurus dan seluruh mukanya ditumbuhi rambut sehingga wajahnya sukar dikenal.

„Siapa kamu sebenarnya …..” kata Kyai itu sambil melancarkan sebuah pukulan. Pukulan itu mengeluarkan asap yang berwarna hitam.

„Candra Ketu! Terlalu banyak orang yang menjadi korban karena keganasanmu. Pantas kalau kamu tidak mengenal salah seorang dari padanya". Orang itu menjawab sambil menangkis pukulan Kyai Candra terhuyung-huyung. Sedangkan orang aneh itu tetap tegak berdiri.

Alangkah terkejutnya Ki Rangga menyaksikan kejadian itu. Sebab ia tahu bahwa tenaga pukulan yang dipergunakan Kyai Candra Ketu adalah tenaga hitam yang luar biasa dahsyatnya dan orang aneh itu berani menangkisnya dengan tangan, bahkan dia dapat mendorong Kyai itu beberapa langkah kebelakang. Kesaktian itu tak dapat diukur tingginya. Siapakah sebenarnya orang itu? Selama hidupnya Ki Rangga belum pernah melihat orang itu. Apalagi mengenalnya.

Sebetulnya apa yang disaksikan Ki Rangga itu bukan suatu pertempuran, karena semua serangan datangnya dari Kyai Candra Ketu sedangkan orang aneh itu hanya menghindari atau menangkis. Ia tidak melakukan serangan pembalasan. Namun Kyai Candra Ketu tak dapat berbuat banyak pada orang itu. Setiap serangan Kyai Candra Ketu dapat dipatahkan dengan mudah oleh orang itu.

Serangan Kyai Candra Ketu semakin ganas. Setiap serangan dilakukan dengan cepat dan mengarah tempat-tempat yang mematikan. Namun kesemuanya itu dapat dipatahkan dengan mudah oleh orang aneh itu dengan gerakan-gerakan yang aneh serta membingungkan lawan.

Ki Rangga terkejut menyaksikan kemajuan Kyai Candra Ketu. Kalau dia yang menghadapinya sukarlah untuk memperoleh kemenangan, meskipun kemajuannyapun tak kurang pesatnya.

Kini dia menyaksikan sendiri bahwa Kyai Candra Ketu dengan mudah dipermainkan oleh orang yang belum dikenalnya. Sementara itu serangan Kyai Candra Ketu semakin hebat. Tiba-tiba orang itu berteriak :

„Candra Ketu. Sudah puaskah kamu. Kini tiba giliranku untuk menyerangmu”.

Orang itu berkata sambil menghindar dan menangkis serangan Kyai Candra Ketu.

„Pukulan pertama untuk membalaskan dendam dari bayi-bayi yang telah menjadi korban kebiadabanmu yang menjadi korban dari usahamu mompelajari ilmu hitam”.

Kyai Candra Ketu mendengus sambil melancarkan serangan mematikan.

„Lihat pukulan pertama!"

Dengan gerakan yang aneh dan sukar diduga orang itu melancarkan sebuah pukulan kearah Kyai itu. Ki Rangga merasakan angin yang sangat dingin menyambar mukanya. Kyai Candra Ketu mencoba menghindari tetapi pukulan itu sangat anah gerakannya dan …… terdengar jeritan tertahan. Dan dilain saat Ki Ranggga melihat Kyai Candra Ketu meloncat kebelakang hendak melarikan diri.

„Candra Ketu! Jangan lari!”

Dengan gerakan yang sangat cepat orang itu mengejar Kyai Candra Ketu menerobos kedalam hutan yang terdapat didekat lapangan itu.

Orang aneh itu dengan tanpa ragu ragu mengejar kedalam hutan itu. Ki Rangga mula-mula agak ragu-ragu tetapi hanya sebentar, kemudian segera mengikuti kedua orang itu.

Namun ia telah kehilangan jejak. Kedua orang itu bagaikan lenyap kedalam hutan. Lama dia berlari-lari didalam hutan itu untuk mencari mereka. Ternyata bahwa usahanya tak berhasil. Ki Rangga berhenti dibawah pohon randu untuk beristirahat. Kini ternyata bahwa dugaannya tentang orang yang mengganggunya setiap malam ternyata betul. Dia menduga bahwa orang itu adalah Kyai Candra Ketu. Orang itulah yang menyebarkan kabar yang memburukkan namanya. Dan rakyat didesanya terpengaruh oleh Kyai itu.

Sayup-sayup sampai ia mendengar ayam jantan berkokok. Ia terkejut. Tanpa dirasainya semalam suntuk telah ia lewati dengan mengejar-ngejar musuh besarnya. Ki Rangga memutuskan untuk pulang. Ia segera berjalan keluar dari hutan. Tiba-tiba ia mendengar suara saling mencaci. Ia segera mempercepat langkahnya. Ditengah sebuah jalan ditepi hutan itu melihat seseorang bertempur melawan tiga orang musuh.

Orang yang dikeroyok itu ternyata adalah orang aneh yang dilihatnya tadi malam. Yang mengeroyok adalah Kyai Candra Ketu dengan dua orang yang belum pernah dikenalnya.

Meskipun orang aneh itu sangat tinggi kepandaiannya tetapi pengeroyoknya adalah orang2 yang tak boIeh dipandang ringan. Ia melihat bahwa orang aneh itu agak kewalahan. „Jangan kuatir sahabat. Aku akan membantumu”. kata Ki Rangga. la segera menyiapkan cambuknya dan terjun kemedan perkelaian.

„Tuluh Braja bereskanlah si Anggara manusia haram itu. Bersama dengan Candra Mawa aku cukup kuat untuk melawan orang ini.” terdengar Kyai Candra Ketu berseru.

Seorang yang bertubuh jangkung menghadang Ki Rangga. Orang inilah kiranya yang dipanggil dengan nama Tuluh Braja. Dia adalah murid kedua Kyai Candra Ketu. Orang ini bersenjatakan golok, Diayunkannya cambuknya kearah Tulur Braja.

Gerakan Ki Rangga sangat cepat sehingga Braja terpaksa menghindar dan tak dapat melanjutkan serangan. Seketika ditempat itu terjadi pertempuran yang maha hebat.

Pada saat itu disebelah timur langit sudah mulai bersinar merah.

Kyai Candra Ketu bersama muridnya yang pertama bertekad untuk membunuh orang aneh itu. Segala macam kepandaian yang telah dipelajari dikeluarkan sedangkan Candra Mawa muridnya juga membantu gurunya dengan sepenuh hati.

Namun setelah pengeroyokan berkurang seorang maka orang aneh itu dapat bergerak dengan leluasa. Apalagi Kyai Candra Ketu sudah terluka oleh sebuah pukulan orang aneh itu.

Adapun pertempuran antara Tuluh Braja dengan Ki Rangga berlangsung dengan seimbang.

Pertempuran dikedua kalangan itu terus berlangsung dengan serunya, Tiba-tiba dari sebelah Timur terlihat beberapa penunggang kuda. Pada saat itu suasana sudah agak terang. Seorang dari penunggang2 kuda itu berlari mendahului teman2nya.

„Ayah! Jangan khawatir! Jaka datang membantu!" Terdengar orang tadi berteriak. Memang penunggang kuda yang mendahului teman2nya itu adalah Jaka Prasetya. Dan rombongan penunggang kuda itu adalah rombongan Empu Krepa.

Mendengar teriakan itu tahulah Ki Rangga. bahwa anaknya datang.

Sesaat serangannya agak kendor. Kesempatan ini dipergunakan oleh Tuluh Braja untuk melarikan diri.

Melihat Tuluh Braja melarikan diri Candra Mawa menjadi tidak bersemangat. Ia segera mengikuti adik seperguruan itu melarikan diri, Tentu saja Kyai Candra Ketu sangat marah melihat pengkhianatan para muridnya.

„Murid pengecut! Berhenti!” Tetapi kedua orang orang muridnya itu telah menerobos kedalam hutan.

„Ha … ha …. ha …. Candra Ketu. Rasakanlah pembalasanku”.

Terdengar orang aneh itu tertawa dan dengan bertubi-tubi melancarkan pukulan2 yang aneh.

Sementara itu Ki Rangga yang ditinggalkan lari lawannya semula akan mengejar, tetapi segera dibatalkannya. karena ia merasa belum kenal pada musuhnya tadi. Tak ada gunanya menguber-uber orang yang belum jelas kejahatannya.

„Ayah! Anak datang bersama paman Krepa”. Terdengar Jaka Prasetya berkata pada ayahnya.

Ki Rangga seakan-akan tidak mendengar. Saat itu perhatiannya sedang tertuju pada pertempuran yang terjadi dihadapannya. Demikian pula orang2 yang baru datang itu. Candra, Bambang Suteja dan Dewi serta Naya juga memperhatikan peteempuran itu, Hanya Empu Krepa yang tak dapat menyaksikan perisiwa dihadapannya. Luka dimatanya belum sembuh

Kyai Candra Ketu tidak berdaya menangkis serangan- serangan orang aneh itu. Segala macam ilmunya seakan-akan tidak mempan dipergunakan untuk menjatuhkan lawannya. Ia bermaksud melarikan diri tetapi jalan untuk itu tertutup.

Keadaan Kyai Candra Ketu seperti tikus yang dipermainkan kucing.

Kemarahan terhadap kedua orang muridnya yang telah melarikan diri mengurangi kewaspadaannya.

Tiba-tiba orang aneh itu mengayunkan sebuah pukulan yang luar biasa dahsyatnya. Angin yang menderu-deru membarengi pukulannya. Dan …… terdengar jeritan yang ngeri. Kyai Candra Ketu nampak terhuyung-huyung kebelakang dan kemudian jatuh terlentang. Jatuh terlentang tanpa berkutik.

„Ayah …… Ibu …… ananda telah membalaskan dendammu". Orang aneh itu terdengar berseru dengan nada yang pilu. Kemudian segera berlari meninggalkan tempat itu tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya.

Baik Ki Rangga maupun Jaka Prasetya dan semua yang ada disitu merasa heran terhadap sikap yang aneh dari orang itu. Siapa gerangan dia?

„Akhirnya jahanam itu telah memetik buah dari perbuatannya yang jahat", demikian terdengar Ki Rangga berkata seorang diri. Ia terpaku menyaksikan tubuh Kyai Candra Ketu yang terlentang tak berkutik dihadapannya. Kyai Candra Ketu orang yang paling dibencinya kini telah mati. Sayang bukan binasa dibawah tangannya. Walau demikian ia merasa lega bahwa dengan meninggalnya Kyai Candra Ketu berkuranglah sebuah kejahatan.

Tiba-tiba Ki Rangga tersadar bahwa ia tidak seorang diri disitu. Ia cepat-cepat menoleh. Mula-mula nya anaknya kemudian …..

„Krepa …. adikku …. Kiranya kamu yang datang”.

„Kak Anggara betul katamu. Sayalah yang datang mengunjungimu.

Saya amat rindu padamu.

„Hai kenapa matamu …..” kata Ki Rangga ketika melihat mata adik angkatnya yang dibebat. Kemudian Jaka Prasetya segera menceriterakan apa yang telah mereka alami bersama pamannya. Empu Krepapun segera memperkenalkan ketiga orang anaknya.

„Dan mana ……. Sariwati'', kata Ki Rangga tiba-tiba. Yang dimaksud adalah isteri Empu Krepa. Ketika itu teringatlah ia pengalamannya dimasa lampau. Tadi ketika ia melihat Candra dia mengira itulah Sariwati. Tetapi ternyata bukan. Ketika Empu Krepa ditanya tentang Sariwati maka berkatalah ia dengan lesu:

„Sariwati telah tiada lagi. Ia telah pergi meninggalkan daku bersama ketiga orang anaknya. Dan ……”

„Sudahlah Krepa nanti sajalah hal itu kau ceriterakan padaku. Sekarang marilah kita bersama-sama kerumahku. Jaka, bereskanlah mayat Kyai jahanam ini”.

Demikianlah Ki Rangga segera menggandeng tangan adik angkatnya. Orang yang pernah ditinggalkannya. orang yang pernah melukai hatinya. Mereka berjalan bersama menuju kerumah Ki Rangga diikuti oleh Candra dan Dewi. Adapun Bambang Suteja dan Naya membantu Jaka Prasetya mengubur jenazah Kyai Candra Ketu.

Sehabis mengubur jenazah kyai itu Jaka Prasetya beserta Bambang Suteja dan Naya segera berjalan menuju kerumahnya.

Pada saat itu matahari sudah mulai terbit. Desa itu mulai sibuk.

Petani2 sudah mulai berbondong-bondong pergi kesawah.

Sudah agak lama Jaka Prasetya meninggalkan desanya. Ia merasa rindu pada penghuni desa itu. Oleh karena itu disapanya setiap orang yang dijumpainya.

Disaat itulah ia merasakan suatu keanehan. Setiap kali ia menyapa orang yang dijumpainya orang itu selalu memalingkan muka dan meludah.

Betapa heran dan kecut perasaan Jaka Prasetya. Mengapa mereka bersikap demikian? Apa gerangan sebabnya?

Jaka Prasetya segera mempercepat langkahnya menuju kerumah untuk segera menanyakan hal itu pada ayahnya.

Sesampai dirumahnya Jaka Prasetya melihat ayahnya sedang asyik berbicara dengan pamannya, Disaat ia hendak menanyakan keadaan yang aneh itu tiba-tiba ia melihat seorang penunggang kuda menghentikan kudanya dimuka halaman rumahnya.

Jaka Prasetya segera memperhatikan si penunggang kuda itu.

Betapa gembira hatinya ketika mengetahui bahwa penunggang kuda itu ternyata adalah Ki Samun. Jaka Prasetya segera memberitahukan kedatangan Ki Samun pada ayahnya. Betapa girang Ki Rangga mendengar kedatangan Ki Samun. Dengan cepat menyambut kedatangan Ki Samun dukun sakti itu.

Setelah bercakap sejenak dengan Ki Rangga berkatalah Ki Samun pada Empu Krepa.

„Krepa,hari ini tiba saatnya kamu membuka bebat matamu.

Bukankah kamu ingin melihat wajah kakakmu”.

„Betul katamu, paman, Aku betul-betul ingin melihat wajah kak Anggara. Dan akupun sangat ingin melihat wajah kakak iparku".

Tiba-tiba Ki Rangga nampak gemetar. Tetapi tidak diperhatikan oleh semua orang yang hadir disitu. Nyi Rangga yang berada disitupun agak gemetar.

Ki Samun segera bertindak. Dibukanya bebat yang menutupi mata Empu Krepa.

Kini terbukalah sudah tutup mata itu. Empu Krepa memperhatikan keadaan sekelilingnya. Matanya menjadi silau menghadapi cahaya matahari pagi yang menyerang matanya. Agak sejenak ia menguasai pandangan matanya setelah itu berkatalah ia pada Jaka Prasetya.

„Jaka, mana ibumu?”

Itulah yang ditanyakan pada Jaka Prasetya. Jaka Prasetya merasa heran. Bukankah ibunya ada dimuka pamannya?

„Dialah ibuku", kata Jaka sambil menunjuk ibunya. Empu Krepa memperhatikan arah yang ditunjuk. Dan tiba wajahnya berubah.

„Jaka, jangan bergurau ”

„Mengapa saya mesti bergurau. Dialah Ibuku”.

Tiba-tiba Ki Rangga mencela „Krepa, betul apa yang dikatakan oleh Jaka. Jaka Prasetya tidak pernah bergurau''.

Dan disaat itu diwajah Empu Krepa terlihat raut keheranan.

Ditatapnya wajah Nyi Rangga.

„Kak Anggara …… apakah artinya ini”.

„Krepa, apa yang kau herankan. Dialah ibu Jaka Prasetya''.

Tiba-tiba Empu Krepa berkata setengah berteriak: „Kak Anggara …..

tidak tulikah saya ….. Atau mataku yang salah melihat orang".

„Tidak! Sekali-kali tidak!”

Empu Krepa menatap wajah Ki Rangga dan Nyi Rangga silih berganti. Ki Rangga melawan tatapan Empu Krepa dengan tabah, tetapi Nyi Rangga tunduk tak berani memandang Empu Krepa. Mukanya nampak kemerah-merahan. Pemandangan diruangan itu menimbulkan rasa heran pada sekalian hadirin. Kesunyian mencekam ruangan itu.

,,Ayah! Apakah artinya semua ini?'' terdengar cetusan kata dari mulut Jaka Prasetya.

Tiba-tiba terdengar sedu yang tertahan.

„Krepa! Janganlah memandangku seperti ini. Kak Anggara mengapa kau tak membunuhku saja. Bunuhlah saya kak! Karena sayalah kamu menderita”. Demikian kata Nyi Rangga sambil menahan tangisnya.

„Lastri! Tenangkan hatimu! Aku akan mencoba untuk menerangkan hal ini pada Krepa”.

Tetapi sebelum Ki Rangga membuka mulut untuk memulai keteranaannya tiba-tiba dari arah luar terdengar suara sorak-sorai.

Semua orang yang ada didalam rumah itu segera bangkit menuju pintu rumah. Apa yang mereka lihat betul-betul mengejutkan. Dari jalan dimuka pekarangan itu mereka melihat berpuluh-puluh orang petani yang memandang mereka dengan sinar mata yang berapi-api. Mereka berteriak-teriak sejadi-jadinya.

„Usir manusia haram itu!"

„Rangga jahanam. Enyah kamu dari sini!"

„Rangga! Enyah kamu dari rumah yang telah kamu kotori”.

„Bunuh saja binatang itu!"

Alangkah marahnya Jaka Prasetya mendengar caci maki yang ditujukan pada ayahnya itu. Dengan sigap ia segera meloncat kearah gerombolan orang itu.

„Hai diam! Apakah kamu semua telah menjadi gila?”

„Ha, ha, ha, ha, ha …… Ha ha ha ….. Orang desa yang berkumpul didepan rumah Ki Rangga itu tertawa bersaut-sautan.

„Amboi …… Lihat anak haram itu …… Tentu saja ia membela ayahnya …… Ha ha ha ha ……. ha ha ha …..”

Bermacam-macamlah olok-olok petani2 itu pada Jaka. Kemarahan Jaka tak dapat ditahan lagi. Dia segera meloncat kearah orang yang paling ceriwis. Ditamparnya orang itu.

„Apa yang kamu katakan. Lekas ulangi!”

Melihat temannya ditampar oleh Jaka Prasetya petani2 itu menjadi marah. Mereka bergerak untuk mengeroyok pemuda itu.

Pada saat dari jauh terlihat dua orang penunggang kuda yang melarikan kudanya dengan pesat kearah rumah Ki Rangga. Melihat keributan dimuka rumah Ki Rangga tiba-tiba salah seorang dari padanya berteriak.

„Berhenti! Berhenti! Apakah kamu semua telah gila".

Suara itu bagaikan geledek kerasnya dan berwibawa. Semua orang segera menoleh kearah suara itu. Seorang dari pada penunggang kuda itu sangat aneh nampaknya. Rambutnya tak terurus. Sebagian besar dari mukanya ditumbuhi rambut. Dialah orang aneh yang membunuh Kyai Candra Ketu.

Yang seorang lagi seorang yang usianya sudah setengah umur.

Wajahnya sangat berwibawa. Matanya bersinar tajam. Dialah orang yang berteriak tadi.

Tiba-tiba Jaka Prasetya berlari kearah orang itu dan kemudian menyembah berkata:

„Gusti Pangeran Hamba Jaka Prasetya berdatang sembah”.

Siapakah gerangan orang itu? Orang itu adalah Pangeran. Danureja seorang pangeran dari Mataram. Pangeran tadi memandang Jaka Prasetya dengan tajam. Jaka Prasetya merasakan pandangan yang aneh dari sinar mata Pangeran itu. Ia terpaksa menunduk tak berani beradu pandang dengan mata Pangeran itu. Orang2 yang berkumpul disitu memandang kedua orang itu dengan keheranan. Mengapa? Wajah kedua orang itu —wajah Pangeran Danureja dengan wajah Jaka Prasetya sangat mirip. Meraka hanya berbeda dalam usia. Tetapi ksemuanya itu tak diperhatikan oleh sang Pangeran. Dengan nada tajm ia berkata

„Apakah kamu semua sudah gila? Apa yang kamu perbuat atas pemuda ini? Tidak ingatkah kamu pada jasanya. Tak adakah diantaramu yang mengenal siapa Jaka Prasetya itu? Kiranya kamu balas air susu dengan air tuba”.

Keadaan dipekarangan itu sunyi senyap. Sunyi seperti dikuburan, Semua petani2 tadi tunduk tak berani memandang Pangeran Danureja.

„Lekas minta ampun pada pemuda itu”. Terdengar teriakan yang menggeledek.

„Ampun gusti pangeran. Ampunilah kami yang bodoh ini”. Demikian terdengar salah seorang dari petani2 itu berdatang sembah. Kemudian sambungnya. „Tetapi berilah kami keadilan pada orang yang telah mengotorkan desa kami”.

Mendengar kata2 itu timbullah rasa heran dihati Danureja. Ia segera membuka mulut untuk menanyakan hal itu. Tetapi sebelum ia sempat berkata terdengar suara menyaut:

„Danureja! Pandai betul kamu memilih waktu untuk datang kesini.

Sungguh tepat kamu memilih waktu. Betul-betul tepat”.

Semua orang heran mendengar nada ucapan Ki Rangga yang seperti memandang rendah pangeran Danureja. Pangeran Danureja seperti tidak menghiraukan kata2 yang diucapkan oleh Ki Rangga. Ia segera turun dari kuda dan berjalan mendekati Ki Rangga.

„Kak Anggara. Mana Lastri?

„Apa maksudmu menanyakan dia”.

„Aku ingin mengatakan sesuatu padanya".

Ki Rangga menyambut kata2 Pangeran Danureja dengan wajah tawar.

„Lastri”. Terdengar Ki Rangga memanggil Nyi Rangga. Nyi Ragaga nampak muncul diambang pintu dan …. bertemulah pandangan matanya dengan pandangan mata Pangeran Danureja. Dengan cepat ia berbalik kembali kedalam rumah.

„Lastri……. kasihanilah aku”. Terdengar Pangeran Danureja berkata dengan nada memohon tanpa menghiraukan martabatnya sebagai seorang pangeran yang diagung-agungkan dibumi Mataram. Semua orang heran menyaksikan tindak tanduk Pangeran Danureja yang aneh itu. 

Lastri berhenti melangkah tetapi tidak menoleh.

„Apa yang akan kamu katakan padaku“.

„Sebetulnya tak ada muka bagiku untuk bertemu dengamu Tetapi sekali ini aku harus memberanikan diri''.

Pangeran itu berhenti sejenak.

„Lastri apa yang akan kukatakan padamu hanyalah ……Berilah ampun terhadap semua dosaku padamu". Sekali lagi Pangeran itu berkata dengan nada memohon. Sekali lagi Pangeran itu berkata tanpa menghiraukan martabatnya sebagai seorang Pangeran. Sekali lagi semua orang nampak keheranan.

„Ampun? Mengapa kamu memintanya padaku' .

„Demi Allah, Lastri. Ampunilah segala dosaku padamu”.

„Mengapa kamu meminta ampun padaku. Dosaku belum mendapat ampun, kini kau datang meminta ampun padaku''.

Pangeran Danureja terdiam.

Jaka Prasetya heran mendengar percakapan itu. Ki Rangga tegak berdiri disamping isterinya. Semua orang yang ada disitu mendengarkan semua percakapan itu dengan tidak mengerti.

Tiba-tiba terdengar Jaka Prasetya berkata setengah berteriak.

„Ayah. Apakah artinya semua ini? Jangan biarkan anakmu menjadi gila menyaksikan semua ini”.

Ki Rangga tetap diam. Dia tetap berdiri tegak disamping Nyi Rangga. Perhatian semua orang dicurahkan padanya. Kesunyian tetap mencekam pekarangan rumah itu.

Tiba-tiba terdengar Ki Rangga berkata. Suaranya menggeledek.

„Betul katamu, Jaka. Kini tiba saatnya aku akan menjelaskan semua hal ini padamu. Rahasiaku, rahasia ibumu dan rahasia kita”.

Ki Rangga diam sejenak. Kemudian :

„Jaka. Ketahuilah olehmu, Sebetulnya ….. aku …. bukan ayahmu ......” „Apa kata ayah?”

„Aku bukan ayahmu”.

„Ayah ”

„Tulikah kamu Tidak mendengarkah kamu Ataukah suaraku yang kurang keras".

„Ayah       ”

„Aku bukan ayahmu”.

Jaka Prasetya bagaikan orang yang linglung. Ia tidak percaya pada pendengarannya. Ia memandang sekelilig seakan-akan hendak bertanya pada setiap orang yang hadir disitu.

„Jaka”. Terdengar Ki Rangga memecahkan kesunyian.

„Tahukah kamu siapa dia?" Berkata begitu sambil menunjuk pada Nyi Rangga. Nyi Rangga tetap tidak beranjak dari tempat berdirinya.

„Dia. Lastri. Ibumu. Adalah adik kandungku".

Jaka Prasetya semakin bingung mendengar kata2 ayahnya yang terakhir ini.

Kemudian sambil menunjuk pada orang2 yang habis memaki- makinya Ki Rangga berkata :

„Inilah sebabnya mengapa mereka memandangmu dengan aneh.

Inilah sebabnya mengapa mereka mencaci makimu. Jaka, kalau Kyai jahanam itu masih hidup ingin benar aku merobek-robek mulutnya. Dialah yang menyebarkan kabar beracun ini, Huh. kiranya aku tiada mengetahuinya. Dia mengatakan bahwa aku sampai hati ….. hidup …… sebagai ….. suami isteri ….. dengan …… adikku — adik kandungku sendiri”.

Ki Rangga diam sejenak. Kemudian : „Kyai jahanam itu menghambur-hamburkan fitnahannya dengan mengatakan pada mereka bahwa kamu dengan adikmu Sari adalah hasil dari perkawinan kami kakak beradik. Mereka percaya. Mereka percaya pada setiap kata yang diucapkan oleh Kyai keparat itu …….”

Kata-kata Ki Rangga itu betul-betul mengombang-ambingkan perasaan Jaka Prasetya. Jika perasaan Jaka Prasetya dapat diumpamakan sebuah perahu maka kata Ki Rangga itu bagaikan ombak bagaikan gelombang samudra yang mempermainkan perahu tadi. Berbagai perasaan silih berganti merajai diri Jaka Prasetya. Bigung, heran, terkejut dan marah bercampur aduk jadi satu.

Sementara itu Ki Rangga masih terus berbicara dengan suara yang tetap menggeledek.

„Sekarang kamu telah mengetahui mengapa mereka memanggil

„anak-haram” padamu”. Berhenti sebentar.Kemudian sambungnya dengan nada yang rendah:

„Jaka. Kalau kamu ingin tahu sipa ayahmu yang sejati. Dialah orangnya ”

Jaka Prasetya memandang arah yang ditunjuk olaeh Ki Rangga.

Betapa terkejutnya. Orang yang ditunjuk oleh Ki Rangga itu tak lain dan tak bukan adalah Pangeran Danureja.

Jaka Prasetya memandang ayahnya dengan bingung.

„Dialah ayahmu yang sejati”. Demikian kata Ki Rangga selanjutnya.

„Dialah ayahmu yang sejati ….. Dialah ayahmu yang sejati……..

Dialah ayahmu yang sejati ……….” Demikian kata-karta itu terngiang- ngiang didaun telinga Jaka Prasetya. Betulkah kata-kata yang didengarnya itu. Sekali lagi ia tak percaya pada pendengarannya

„ Jaka! Mengapa tidak lekas-lekas kamu memberi hormat pada ayahmu”.

Keadaan disekitar itu bertambah hening. Semua perhatian dicurahkan pada adegan itu.

Jaka Prasetya tak tahu apa yang akan diperbuatnya. Dipandangnya Pangeran Danureja, Dilihatnya Pangeran itu bagaikan orang yang termenung. Jaka melihat wajah yang aneh pada Pangeran itu. Tak tahulah ia perasaan apa yang terkandung didalamnya. Dengan langkah yang ragu dia berjalan kedekat Pangeran itu.

„ Ayah …… Ayah ……. Terimalah sembah sungkemku”.

Jaka Prasetya berkata berlutut dihadapan Pangeran Danureja.

Tetapi pangeran itu tidak menunjukkan suatu reaksipun. Dari wajahnya terlukis suatu perasaan yang hampa.

„Ayah? Kamu panggil ayah padaku” Jawab Pangeran Danureja. Suara itu demikian perlahan sangat perlahan. Kalau pada saat itu disekeliling tempat itu tidak sunyi senyap dan semua perhatian ditujukan pada kedua orang itu maka suara itu tentu tiada terdengar.

„ Jaka!” Tiba-tiba Pangeran Danureja berkata dengan keras.

Suaranya berwibawa.

„Kamu orang tolol. Kau panggil ayah padaku? Salah! Sama sekali salah. Bukankah seorang ayah itu harus memberi didikan pada anaknya? Bukankah seorang ayah itu harus membceri bimbingan pada anaknya?''

Pangeran Danureja berhenti sejenak. Suasana tetap hening.

„Apa yang telah kuberikan padamu? Didikan? Bimbingan? Tidak. Tidak Jaka. Tak satupun kuberikan padamu. Hanya derita dan air mata yang kuberikan padamu. Kamu terlalu suci untuk memanggilku ayah. Menyingkirlah. Jangan dekat-dekat padaku. Kalau tidak badanmu yang suci itu akan dikotori oleh badanku yang penuh dosa ini …….”

Tiba-tiba pangeran mencabut keris yang diselipkan dipinggangnya. Sebuah bayangan yang laksana kilat cepatnya bergerak menyambar keris itu.

„Gusti Pangeran. Mengapa Gusti mengambil jalan sependek ini?" Demikian bayangan tadi yang tak lain adalah orang aneh itu berkata.

„Mengapa kau halang-halangi maksudku? Bukankah tak berguna lagi hidupku didunia inir”

„Gusti. Pendapat Gusti sama sekali tak benar. Bukankah tenaga Gusti masih dibutuhkan oleh Sri Sultan Agung. Bila Gusti Pangeran mengambil jalan yang sependek ini maka Sri Sultan Agung akan merasa kehilangan. Bukan. Bukan hanya Sri Baginda. Bahkan seluruh Mataram akan merasa kehilangan”.

Pangeran Danureja termenung mendengar kata-kata itu. Akhirnya berkatalah beliau.

„Terima kasih, nak. Kamu telah membangkitkan kembali semangatku”.

Kemudian berkatalah pangeran itu pada Ki Rangga:

„Kak Anggara. Peliharalah Jaka Prasetya seperti anak kakak sendiri.

Aku tidak cukup berharga untuk menjadi ayahnya. Demikian juga Sari anakku yang kedua. Nah selamat tinggal, kak. Sampai berjumpa lagi”.  

Kemudian tanpa menoleh lagi Pangeran Danureja berjalan menuju kekudanya dan segera meloncat punggung kuda itu. Setelah itu dipacunya kudanya untuk berlari meninggalkan desa Butuh.

Kemudian orang aneh itu segera membangkitkan Jaka Prasetva masih berlutut.

„ Kartika. Sudahilah sandiwaramu”. Tiba-tiba terdengar Empu Krepa berkata.

Mendengar perkataan Empu Krepa itu, orang aneh itu segera mengusap-usap mukanya dan ……. muka yang penuh rambut itu seketika menjadi bersih. Semua rambut yang „tumbuh" dimuka itu rontok.

Kemudian rambut dikepalanya diaturnya. Seketika disitu berdiri seorang pemuda yang gagah dan berwajah tampan.

Tiba-tiba terdengar Dewi berkata : „Kak Kartika. Tega benar kamu mempermainkan kak Candra”.

„Maafkan Dewi. Bukan maksudku untuk mempermainkannya”. Ternyata pemuda itu adalah Kartika, tunangan Candra.

Jaka Prasetyapun terkejut. „Oh kiranya kakak Kartika. Alangkah besarnya rasa terima kasihku padamu. Kamu telah menolong ayah dari ancaman Kyai Candra Ketu".

„Sudahlah, adik. Jngan kita sebut-sebut soal budi''.

Sementara itu orang2 dari desa Butuh semula bermaksud mengusir Ki Rangga sekeluarga karena hasutan Kyai Caindra Ketu kini telah mulai memahami duduknya perkara. Mereka segera meminta maaf pada Ki Rangga. pada Lastri dan pada Jaka Prsetya. Tentu saja Ki Rangga menyambut permintaan maaf itu dengan ramah. Kemudian mereka segera bubaran.

Malam harinya……

Rumah kediaman Ki Rangga nampak meriah. Para tetangga Ki Rangga berdatangan di rumah pendekar itu. Disamping menyatakan perasaan bersalahnya mereka juga bermaksud menjamu tamu Ki Rangga yang datang dari Brang Wetan. Alangkah gembira mereka demi mengetahui bahwa tamu itu tidak lain daripada saudara angkat Ki Rangga.

Sari, Candra dan Dewi dengan dibantu oleh gadis2 didesa Butuh sibuk menyiapkan santapan malam untuk dipenjamukan malam itu.

Sungguh berlainan suasana malam itu jika dibandingkan dengan suasana pagi tadi. Dibandingkan dengan hari-hari kemarin Ki Rangga nampak lebih gembira. Agaknya Ki Rangga merasa sedikit lega karena beban yang menghimpitnya selama bertahun-tahun telah mulai terungkap. Kabut yang meliputi diri Ki Rangga telah menipis. Dan apa yang diceriterakan Ki Rangga malam itu akan mempertipis kabut itu.

Awal dari cerita Ki Rangga kepada para tetangganya sama dengan apa yang pernah diceritakan pada Jaka Prasetya. Dan marilah kita ikuti lanjutannya.

Kepedihan hati Anggara tak terkirakan. Kenyataan yang dihadapinya betul-betul menyiksa dirinya. Sungguh tak pernah terpikir olehnya, bahwa saingannya dalam bercinta justru laki-laki yang sangat disayanginya.

Dengan pikiran yang tiada menentu pergilah ia menuruti kehendak langkahnya. Hari demi hari dilampaunya diperantauan. Ia mengembara terus mengembara selama luka dihatinya belum sembuh.

Pada suatu hari ketika sedang berjalan disebuah jalan didekat desa Butuh Anggara melihat seorang wanita yang sedang duduk dibawah sebuah pohon ditepi jalan itu. Entah karena apa ia merasa tertarik untuk memperhatikan keadaan wanita ittu. Anggara segera berjalan mendekati wanita tadi. Wanita itu ternyata sedang menyusui anaknya yang nampaknya baru berusia beberapa bulan. Disamping wanita itu terbaring tubuh seorang anak laki-laki. Anak itu menyandarkan kepalanya diatas pangkuan wanita itu.

Keadaan wanita itu menimbulkan rasa haru dihati Anggara.

Diperhatikannya wanita itu. Tetapi betapa terkejutnya. Ia tak percaya pada pandangan matanya. Selagi diperhatikannya wanita itu. Wanita itu merasa kalau sedang diperhatikan. Iapun menengadah memandang Anggara. Bertemulah pandang mareka, Dan kedua-duanya nampak terkejut.

„Lastri ….. Adikku ……”

„Kak Anggara. Betulkah kamu ini kak?"

Wanita itu segera bangkit berdiri tanpa menghiraukan anaknya yang sedang tidur nyenyak dipangkuannya. Dengan mengemban anaknya yang baru disusuinya ia hendak berjalan mendekati Anggara. Anggara segera mencegah.

Pertemuan sungguh mengejutkan mereka berdua. Wanita itu ternyata adalah Lastri adik kandung Anggara. Anggara amat heran bercampur terkejut menyaksikan keadaan adiknya.

Ia ingat perpisahan dengan adiknya tiga tahun yang telah lalu.

Lastri dipinang oleh seorang putra pangeran. Ia bernama Raden Danureja. Tak lama sesudah itu kawinlah kedua orang muda-mudi itu. Lastri dibawa ke Karta. Tetapi mengapa sekarang ia ada disini dalam keadaan seperti itu.

Tetapi rasa heran itu segera berubah menjadi kemarahan setelah mendengar cerita Lastri.

Setahun setelah Lastri hidup bersama-sama dengan Raden Danureja ia dianugerahi Tuhan seorang putra. Tetapi disaat ia sedang mengandung putranya yang kedua datanglah malapetaka baginya.

Raden Danureja mengambil seorang selir. Selir ini sangat jahat sifatnya. Ia telah difitnahmja. dikatakan oleh selir itu bahwa anak yang dikandungnya adalah hasil perhubungan gelap antara dia (Lastri) dengan laki-laki lain. Entah karena apa Raden Danureja mempercayai fitnahan itu. Raden Danureja sangat marah pada Lastri. Ia segera diusir oleh Raden Danureja.

Dalam keadaan hamil tua ia segera berjalan pulang kedesa tempat kelahirannya. Tetapi rumah itu ternyata dalam keadaan kosong. Tidak hanya rumahnya saja bahkan rumah para tetangganya dalam keadaan kosong.

Kiranya desa itu telah diserbu perampok. Cepat-cepat ia segera meninggalkan desa itu dan bermaksud mencari kakaknya.

Segala macam penderitaan dialaminya disepanjang jalan. Tetapi semua itu tak dihiraukannya. Hasratnya untuk berjumpa dengan kakaknya sangat besar. Disebuah dusun ia mendapat pertolongan seorang laki-laki untuk menginap dirumahnya.

Disitulah ia melahirkan putranya yang kedua. Bayi itu seorang perempuan. Laki-laki itu sangat baik sikapnya. Tetapi ketika laki-laki itu bermaksud mengambilnya sebagai isterinya maka malam harinya bersama kedua orang anaknya dengan diam-diam ia meninggalkan laki- laki itu. Dan kiranya Tuhan mempertemukan kedua orang kakak beradik itu.

Alangkah sedihnya Anggara mendengar kisah adiknya itu. Maka

bersama-sama dengan adiknya beserta kedua orang kemenakannya, ia segera menuju kedesa didekat tempat itu. Dan desa itu adalah desa Butuh.

Mereka mengaku sebagai suami isteri. Anggara mengaku bernama Rangga.

Pada suatu hari Anggara berjasa mengusir serombongan perampok. Maka oleh kepala desa Butuh dihadiahi sebuah rumah. Selama duapuluh tahun Anggara berdiam didesa Butuh. Dan selama itulah ia dapat menyimpan rahasia tentang dirinya.

„Aku terpaksa mengaku Lastri sebagai isteriku. Hal ini terutama untuk kepentingan Jaka Prasetya dan Sari. Lastri sangat takut kalau anaknya menanyakan ayahnya. Untuk menjaga kemungkinan itu maka aku harus mengaku sebagai suaminya. Aku harus mengaku sbagai bapak dari anak-anak itu”. Demikian Ki Rangga menutup cerita.

Malam itu perjamuan dilanjutkan dengan penuh kegembiraan.

Setelah larut malam maka pulanglah para tetangga itu.

Setelah para tetangga pulang maka bertanyalah Ki Rangga tentang Sariwati pada adik seperguruannya.

Karena Ki Rangga merasa tidak leluasa untuk menanyakan hal itu dimuka para tetangga.

„Kak Anggara", demikian Empu Krepa memulai ceriteranya. „Tak kusangka sama sekali kak bahwa kamu meninggalkan aku karena Sariwati. Namun hal itu telah lampau dan sekarang Sariwati sudah tiada lagi.

„Semenjak perkaiwinanku dengan kami hidup berumah tangga dikaki gunung Kawi. Kami dianugerahi Tuhan tiga orang putera. Dialah Candra, Bambang dan Dewi. Kami merasakan suatu keluarga yang bahagia.

Tetapi datanglah mala petaka menimpa keluargaku. Pada suatu hari didesa itu lewat sepasukan prajurit Belambangan. Mereka sedang dalam keadaan marah. Agaknya pasukan itu habis dipukul mundur oleh tentara Mataram. Pemimpin pasukan itu bernama Pangeran Cinde Kusuma.

Pada waktu itu Sariwati sedang berada ditepi sungai. Pangeran Cinde Kusuma terkenal sebagai pangeran yang mata keranjang. Melihat wajah Sariwati tertariklah ia. Tanpa sepengetahuanku Sariwati mereka culik.

Dapatlah kau bayangkan betapa kemarahanku. Aku segera menyusul ke Belambangan. Tetapi sesampai di Belambangan aku mendengar kabar bahwa Sariwati telah membunuh diri ketika dipaksa oleh Cinde Kusuma untuk dijadikan isteri.

Pada mulanya aku akan mendatangi gedung Pangeran Cinde Kusuma. tetapi pada saat itu saya ingat bahwa pangeran mata keranjang itu memiliki kekebalan yang hanya dapat dipecahkan oleh senjata yang berasal dari wesi Belambangan. Maka tindakan itu segera kubatalkan.

Mulai saat itu aku segera berusaha untuk mendapatkan wesi aji itu. Bertahun-tahun usahaku selalu gagal. Baru tahun yang lalu aku berhasil memperolehnya. Aku membuatnya menjadi keris dan beberapa anak panah. Baru saja keris itu selesai kubikin, datanglah seorang pemuda dengan dendam kesumat yang berkobar-kobar didadanya. Dia juga bermaksud membunuh Pangeran Cinde Kusuma. Pemuda itu juga menjadi korban kebandotan Pangeran Cinde Kusuma. Sedang ayahnya mati secara mengenaskan disebabkan memakan racun buatan Kyai Candra Ketu atas perintah Pangeran Cinde Kusuma.

Dengan rela kuserahkan keris itu padanya untuk melaksanakan pembunuhan itu, Usahanya berhasil. Tetapi apa lacur Kyai Candra Ketu yang pada waktu itu kebetulan ada di Belambangan mengetahuinya. Ia segera menghasut Raden Cinde Seta putra Pangeran Cinde Kusuma untuk membunuhku dan membunuh pemuda tadi. Oleh karena itulah aku terpaksa pergi meninggalkan desa dikaki gunung Kawi itu. Cerita selanjutnya tanyakan pada Jaka”.

„Mengapa kamu rela menyerahkan keris yang kau bikin selama bertahun-tahun itu pada pemuda tadi?" tanya Ki Rangga.

„Karena pemuda itu adalah Kartika”.

„Kartika?"

„Ya. Kartika. Calon menantuku", kata Empu Krepa. Dia diam sejenak. Kemudian :

„Kartika beruntung bertemu dengan Resi Candra Kusuma kakak Kyai Candra Ketu. Meskipun saudara kandung tetapi Resi Candra Kusuma tidak menyetujui sepak terjang adiknya. Oleh karena tidak tega berhadapan dengan adiknya maka resi yang malang itu menurunkan semua kepandaiannya pada Kartika. Kartikalah yang disuruh menghadapi Kyai Candra Ketu. Dan jerih payah Resi Candra Kusuma itu tiada sia-sia. Kartika berhasil menyingkirkan Kyai Candra Ketu''.

Tiba-tiba bertanyalah Ki Rangga pada Kartika.

„Kartika. Aku merasa heran mengapa Danureja dapat mengetahui bahwa aku berdiam disini. Dan aku merasa heran mengapa ia datang hanya untuk meminta ampun. Peristiwa apakah yang mendorong dirinya untuk berbuat hal yang menjatuhkan martabatnya sebagai seorang bangsawan.

„Paman Anggara. Peristiwa ini kujumpai dengan tidak terduga-duga.

Selama beberapa hari yang akhir-akhir ini saya selalu mengikuti gerak- gerik Kyai Candra Ketu. Pada mulanya saya mengira kalau dia akan menuju kerumah paman. Dugaanku itu ternyata meleset. Dia menuju ke Karta. Apa gerangan yang akan diperbuatnya disana? Aku sangat heran. Tetapi setelah aku mengetahui apa yang diperbuatnya di Karta terkejutlah saya”. Sesampai di Karta Kyai Candra Ketu segera mendatangi gedung Pangeran Danureja. Disana, ia langsung menjumpai Raden Ayu Sarwitri. Hal yang mengejutkan saya ialah bahwa mereka merencanakan untuk membunuh Pangeran Danureja. Mendengar maksud mreka itu aku segera memberi kisikan pada Pangeran Danureja. Pada saat itu saya jumpai Pangeran sedang melatih prajurit2nya. Beliau segera kubawa ketempat kedua orang pengkhianat itu berunding. Untunglah perundingan itu belum selesai. Alangkah marahnya Pangeran Danureja mendengar perundingan itu. Hari itu juga beliau segera mengusir isterinya yang busuk itu. Adapun Kyai Candra Ketu mula-mula akan melawan tetapi saya tidak tinggal diam. Dia berhasil kuusir dan kukejar hingga sampai didesa ini.

Kartika diam sejenak. Setelah itu berkatalah ia :

„Semua peristiwa didesa ini saya ikuti. Selanjutnya paman mengetahui sendiri. Namun saya masih tetap heran mengapa Gusti Pangeran Danureja mengetahui bahwa bibi Lastri berada disini”.

„Akulah yang memberitahukan padanya", sela Ki Samun dengan tiba-tiba.

Kini jelaslah sudah jalan peristiwa yang berbelit-belit itu. Jelas bagi semua orang yang hadir disitu. Kabut yang meliputi keluarga Ki Rangga telah musnah.

Keesokan harinya.

Suara ringkik kuda yang memecahkan kesunyian dipagi harl itu betul-betul mengejutkan Jaka Prasetya. Ketika itu ia sedang berlatih dengan Bambang Suteja.

Dia segera berlari kearah suara ringkik kuda itu. Ringkik kuda itu sudah sangat dikenalnya. Dipekarangan dengan rumahnya Jaka Prasetya segera berhadapan dengan seorang penunggang kuda. Orang itu mengendarai seekor kuda yang berbulu putih. Alangkah terkejutnya Jaka Prasetya demi mengetahui bahwa penung-gang kuda itu tak lain dan tak bukan dari pada pamannya Waja Cempani.

Sementara itu ia melihat „ayahnya" muncul diambang pintu rumah dibelakangnya terlihat Sari mengikuti.

„Putih ….. Oh Putih. Akhirnya kita berjumpa pula". Sari berlari kearah kuda itu.

„Sari berhenti". Terdengar Ki Rangga membentak. Sari berhenti berlari. Dipandangnya penunggang kuda putih itu. Mukanya segera menjadi kemerah-merahan ketika ternyata bahwa penunggang kuda itu belum dikenalnya.

Sementara itu Waja Cempani telah turun dari kuda putih itu.

„Biarkan dia melepaskan rindunya pada kuda ini kak".

„Apa maksudmu datang kesini.”.kata Ki Rangga dengan keras.

„Kak Anggara. Bila kakak masih mau menerimaku sebagai adik maka akan kujalani sisa hidupku ini menurut nasehat kakak. Saya telah memperoleh keyakinan bahwa semua kata2 kakak yang dulu itu benar belaka”.

Ki Rangga terharu mendengar kata2 Waja Cempani.

„Waja Cempani. Bukankah dulu aku berkata padamu bahwa setiap waktu aku bersedia menerimamu kembali?"

Mendengar jawab Ki Rangga segeralah Waja Cempani berlari mendapatkan kakak seperguruannya itu. Sesampai dimuka Ki Rangga ia segera merobohkan diri untuk memeluk kaki Ki Rangga.

„Kak Anggara. Saya tahu, kak. Bahwa dosaku ini tiada ampun.

Tetapi rupanya kakak masih mau memberi kesempakan untuk menebus dosaku.itu".

„Waja Cempani. Tuhan adalah Maha Asih. Dia selalu memberi penerangan kepada mahluknya yang tersesat untuk kembali kejalan yang benar”. Terdengar Empu Krepa berkata. Agaknya dia telah terbangun mendengar keriuhan pagi hari itu.

„Kak Krepa kiranya kamupun berada disini”.

Demikiainlah hari itu tiga saudara seperguruan yang dulu telah bercerai-berai kini telah berkumpul kembali.

Hari-hari berikutnya rumah Ki Rangga yang tadinya sunyi kini selalu diliputi oleh suasana yang gembira. Pendekar2 besar pada jaman itu berkumpul dirumah itu.

Waja Cempani mengutarakan maksudnya untuk mengabdikan diri pada Mataram. Hal ini disambut dengan gembira oleh Jaka Prasetya.

Keinsyafan Waja Cempani untuk berjuang membela negara akan merupakan sumbangan yang tidak kecil bagi kekuatan pasukan Mataram.

Sementara itu baik Ki Rangga maupun Empu Krepa mengetahui bahwa antara Jaka Prasetya dan Dewi terjalin hubungan asmara. Kedua orang itu segera berunding untuk menentukan nasib kedua remaja itu. Pendek kata Ki Rangga mengajukan lamaran pada Empu Krepa untuk menjodohkan Dewi dengan Jaka Prasetya. Lamaran itu diterima dengan gembira oleh Empu Krepa. Dan sudah barang tentu kedua muda-mudi itupun menyetujuinya.

Dan berdasarkan persetujuan kedua belah fihak maka hubungan antara Bambang dan Sari pun dibicarakan. Keputusan terakhir Bambang dipertunangkan dengan Sari. Hal inipun disetujui oleh kedua orang muda- mudi itu.

Sekali lagi suasana gembira meliputi rumah Ki Rangga. Mereka betul-betul merasakan kegembiraan Kegembiraan yang mereka peroleh setelah mengarungi berbagai-bagai kegetiran.

—TAMAT—